ForumKristen.com

Iman Kristen => Renungan => Started by: who_am_i on February 19, 2013, 07:31:15 AM

Title: renungan harian online
Post by: who_am_i on February 19, 2013, 07:31:15 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_02_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/02/pelajaran-dari-belalang-2.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/02/pelajaran-dari-belalang-2.html[/url])

Pelajaran dari Belalang (2)

Ayat bacaan: Amsal 30:27
"The locusts have no king, yet they go forth all of them by bands"


Satu ekor belalang kecil bisa terlihat lemah. Jika mau, kita bisa menghabisinya dengan sangat mudah hanya dengan sedikit tenaga saja. Tapi coba bayangkan apa yang terjadi jika belalang itu tidak sendirian melainkan membawa teman-temannya, datang dalam satu kelompok besar. Apa jadinya jika kita diserbu ratusan bahkan ribuan belalang sekaligus? Bagi para petani, itu merupakan bencana. Serbuan belalang seperti ini bisa sangat merepotkan dan merugikan. Maka belalang pun dikategorikan ke dalam hama yang bisa merusak hasil pertanian mereka.

Saya ingin melanjutkan renungan kemarin mengenai pembelajaran yang bisa kita dapatkan dari belalang. Jika kemarin saya menyoroti masalah keteraturan atau taat peraturan termasuk didalamnya peraturan yang langsung berasal dari Tuhan, hari ini mari kita lihat mengenai kekuatan lewat sebuah kebersatuan dimana kerjasama merupakan faktor yang penting didalamnya.

Ada baiknya jika kita melihat sejenak mengenai apa yang terjadi ketika Firaun tetap mengeraskan hatinya untuk melepaskan Israel dari perbudakan di Mesir. Meski sudah diingatkan Tuhan lewat Musa dan Harun, nyatanya Firaun tetap membandel. Dan serangkaian tulah pun hadir menimpa bangsanya sebagai konsekuensinya. Tulah ke delapan yang dijatuhkan adalah segerombolan belalang dalam jumlah yang begitu besar. Apa yang terjadi tepatnya sebagai berikut. "Datanglah belalang meliputi seluruh tanah Mesir dan hinggap di seluruh daerah Mesir, sangat banyak; sebelum itu tidak pernah ada belalang yang demikian banyaknya dan sesudah itupun tidak akan terjadi lagi yang demikian. Belalang menutupi seluruh permukaan bumi, sehingga negeri itu menjadi gelap olehnya; belalang memakan habis segala tumbuh-tumbuhan di tanah dan segala buah-buahan pada pohon-pohon yang ditinggalkan oleh hujan es itu, sehingga tidak ada tinggal lagi yang hijau pada pohon atau tumbuh-tumbuhan di padang di seluruh tanah Mesir." (Keluaran 10:14-15). Terdengar sangat mengerikan bukan? Jika kita pernah melihat bagaimana kesulitan yang dihadapi penduduk di suatu daerah ketika menghadapi serangan belalang, disini dikatakan bahwa pada saat itu serangan jauh lebih besar dari yang pernah ada, dan tidak akan pernah ada serangan belalang yang lebih besar lagi setelahnya. Dalam sekejap mata Mesir berubah menjadi lautan belalang yang mengubah Mesir menjadi gurun gersang dalam waktu singkat.

Satu belalang mungkin tidak akan berpengaruh apa-apa, tapi dalam jumlah banyak belalang bisa sangat merepotkan bahkan beresiko membawa bencana. Agur bin Yake mengatakan: "belalang yang tidak mempunyai raja, namun semuanya berbaris dengan teratur." (Amsal 30:27). Dalam versi Bahasa Inggris (Amplified) dikatakan: "The locusts have no king, yet they go forth all of them by bands". Meski belalang  tidak memiliki raja, namun mereka bisa bersatu dengan kuat dalam kelompoknya secara kolektif untuk satu tujuan tertentu. Apa yang kita lihat belakangan ini adalah situasi dimana manusia semakin lama semakin sulit untuk bersatu, terus mementingkan ego dan selalu memperbesar jurang perbedaan. Bahkan seringkali kita menyaksikan betapa sulitnya kita yang seiman sekalipun untuk bersatu. Karenanya kita patut malu terhadap belalang ini. Mungkin di dunianya, masing-masing belalang punya kepentingan dan pendapatnya sendiri-sendiri juga, tetapi mereka bisa mengesampingkan itu semua demi kepentingan bersama. Mereka bisa bekerja sama dalam mencapai tujuan tertentu, dan hasilnya bisa sangat luar biasa besar. Jika belalang yang tidak memiliki raja bisa bersikap demikian, betapa memalukannya kita yang memiliki Raja tidak bisa melakukannya.

bersambung
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on February 19, 2013, 07:32:32 AM
Quote
Walaupun Perjanjian Baru banyak memberi penekanan kepada pertumbuhan iman kita masing-masing, tetapi Tuhan tidak pernah menginginkan kita untuk menjadi individu-individu yang eksklusif. Gereja tidak akan pernah bisa menjadi terang dan garam jika hanya dibatasi oleh dinding tembok kita sendiri tanpa pernah berpikir untuk menjangkau lebih banyak jiwa yang berada di luar dinding itu. Penulis Ibrani menyampaikan Firman Tuhan yang berbunyi: "Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik." (Ibrani 10:24). Prinsip saling yang positif harus terus kita kembangkan, karena kita harus menyadari bahwa kita ini terbatas dan lemah seperti belalang. Menghadapi hari-hari yang semakin sukar ini, sudah seharusnya kita lebih menekankan kebersamaan, membangun hubungan kekeluargaan dan persaudaraan erat dengan saudara-saudari kita lainnya. Apa yang diinginkan Tuhan sesungguhnya jelas. Berhentilah menjadi pribadi yang eksklusif! "Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat." (ay 25).

Demikian pentingnya persekutuan, karenanya itu jangan sampai kita abaikan atau nomorduakan. Disana kita bisa saling menguatkan, menegur dan meneguhkan. Apabila kita menyadari bahwa kita hanyalah manusia yang lemah, seharusnya kita menyadari kekuatan yang bisa hadir lewat sebuah kerjasama. Firman Tuhan berkata: "Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!" (Pengkotbah 4:9-10). Lalu selanjutnya dikatakan: "Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan."(ay 12). Belalang jika hanya seekor akan mudah dipatahkan, tetapi akan memiliki kekuatan yang luar biasa ketika mereka bersatu. Hari-hari yang kita jalani sesungguhnya sulit. Oleh karena itu marilah kita lebih giat lagi bersekutu, saling support, saling bantu, saling dorong, agar kita bisa sama-sama terus bertumbuh dalam Tuhan.

Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on February 20, 2013, 04:56:34 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_02_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/02/menyampaikan-dengan-ramah.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/02/menyampaikan-dengan-ramah.html[/url])

Menyampaikan dengan Ramah

Ayat bacaan: 2 Timotius 2:24
=======================
"sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang.."

Guru killer adalah istilah yang sering diberikan terhadap guru yang cepat tersulut amarahnya, cenderung bersikap kasar atau dingin. Untuk murid-murid bandel, mungkin seorang guru killer bisa efektif dalam meredam sikap mereka. Tapi dari pengalaman saya dan banyak teman lainnya, kita sulit menangkap pelajaran secara baik karena sikap tidak bersahabat mereka bisa mengganggu konsentrasi dan membuat orang anti pati terhadap mereka dan pelajarannya. Sebagai seorang pengajar saya mencoba menempatkan diri seperti siswa-siswa saya. Saya berbaur dengan mereka, duduk bersama di kantin, mengobrol dan mengajar dengan santai. Sebagai manusia biasa, ada kalanya saya merasa lelah baik secara fisik atau ketika menghadapi pertanyaan yang berulang-ulang, tetapi saya segera mengatasinya. Tidak ada gunanya saya membiarkan rasa lelah atau kesal menguasai saya, karena saya yakin kekesalan tidak akan menyelesaikan masalah, malah sebaliknya akan membuat mereka akan semakin tidak mengerti. Justru dengan ketenangan dan keramahan, mereka akan bisa menangkap pelajaran dengan lebih baik, meskipun saya harus meluangkan lebih banyak waktu.

Dalam menyampaikan kabar gembira pun demikian. Paulus dalam suratnya mengingatkan Timotius, dan tentu berlaku pula bagi kita semua, bahwa sebagai seorang hamba Tuhan, ia tidak boleh mudah terpancing emosi, tetapi haruslah ramah kepada semua orang. Timotius juga dituntut untuk cakap mengajar, sabar dan dengan lemah lembut menuntun orang dalam pelayanannya. "sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang.." (2 Timotius 2:24). Mengapa demikian? "sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran, dan dengan demikian mereka menjadi sadar kembali, karena terlepas dari jerat Iblis yang telah mengikat mereka pada kehendaknya." (masih pada ayat 24). Ketika dunia mempertontonkan sikap pemaksaan yang justru cenderung mengarah kepada kekerasan, kita justru diingatkan untuk bersikap sebaliknya. Dalam menghadapi orang yang keras melawan dan menentang kebenaran, kita haruslah memperbaikinya dengan ramah, sabar dan lemah lembut, karena Tuhan selalu bersikap adil dalam memberikan kesempatan bagi siapapun untuk bertobat, tanpa terkecuali, tanpa pandang bulu.

Tidak ada pilih kasih bagi Tuhan, karena siapapun manusia itu adalah hasil ciptaanNya yang Dia kasihi. "Atau adakah Allah hanya Allah orang Yahudi saja? Bukankah Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain? Ya, benar. Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain!" (Roma 3:29). Perhatikan bahwa Tuhan tidak menganak-emaskan suatu bangsa tertentu, Dia akan memberi berkat melimpah dan keselamatan bagi siapapun yang berseru kepadaNya. "Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya. Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan." (Roma 10:12-13).

bersambung
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on February 20, 2013, 04:57:08 AM
Quote
Petanyaannya sekarang, bagaimana orang bisa mengenal Tuhan jika mereka belum percaya? Bagaimana orang bisa mengenal Tuhan tanpa ada yang memberitakan-Nya? (ay 14). Oleh sebab itulah Kristus sendiri mengutus kita lewat Amanat Agung untuk mewartakan kabar gembira bagi semua orang. "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan ROH KUDUS,dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:19-20). Persoalannya adalah bagaimana kita bisa memberitakan tentang kebenaran dan keselamatan dalam Kristus jika kita bersikap keras, menunjukkan sikap bermusuhan, apalagi jika mengandalkan emosi, pemaksaan dan kekerasan? Disinilah kita melihat pentingnya sebuah kelemah-lembutan, kesabaran dan keramahan yang berpusat pada kasih.

Kita tidak akan mampu mewartakan kabar gembira apapun jika kita memakai pola pemaksaan, kasar dan bentuk-bentuk kekerasan lainnya. Selain hal tersebut tidak akan membawa manfaat apa-apa, sikap seperti itu malah hanya semakin menjauhkan orang dari kebenaran. Cara-cara begitu sangatlah bertentangan dengan Firman Tuhan. Kita justru diajak untuk bersabar dan tetap bersikap ramah. Dengan cara demikianlah kita bisa melepaskan mereka dan mengenalkan mereka kepada kebenaran. Orang-orang yang melawan dan menolak kebenaran bukanlah musuh sesungguhnya yang harus kita perangi, karena mereka adalah korban-korban si jahat. Jika anda rindu pada mereka agar bisa diselamatkan, wartakanlah kabar gembira dengan ramah, sabar dan lemah lembut. Kenalkan Kristus dengan kasih, karena kebenaran tanpa kasih adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa menyentuh hati. Ada kesempatan bagi siapapun untuk bertobat dan kembali kepada Tuhan, dan itu bisa terjadi jika kita mampu menjadi anak-anakNya yang rindu untuk mengenalkan Kristus dengan keramahan yang tulus dan penuh kasih.

Kebenaran dinyatakan dengan sikap mengasihi akan menyentuh hati dan membawa keselamatan bagi orang lain
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on February 21, 2013, 05:00:55 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_02_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/02/orang-bijak.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/02/orang-bijak.html[/url])


Orang Bijak

Ayat bacaan: Amsal 1:5
=================
"baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan"

orang bijakKata bijak semakin jarang kita dengar, kecuali lewat bibir pemerintah dalam bentuk kata 'kebijakan'. Orang yang bijak dalam kamus bahasa Indonesia didefenisikan sebagai orang yang selalu menggunakan akal budinya, pandai, atau juga bijaksana. Semakin jarangnya kata ini sejalan pula dengan manusia yang semakin jarang mempergunakan akal budinya. Hampir setiap hari di berbagai media kita melihat orang-orang yang sumbu emosinya pendek, mudah tersulut atau terpancing, tidak sabar dan hanya mementingkan diri sendiri atau kelompok masing-masing. Melihat kualitas tinggi dari orang yang bijak, tentu kita semua ingin bisa menjadi salah seorang diantaranya. Seperti apa sebenarnya orang yang bijak itu? Apakah Alkitab mengatakan siapa orang yang dikatakan bijak itu? Jawabannya tentu saja ada. Jauh-jauh hari Salomo sudah mengatakan siapa yang sebenarnya disebut sebagai orang bijak, dan apa yang harus kita miliki agar bisa menjadi seperti itu.

Salomo di awal kitab Amsal mengatakan: "baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan" (Amsal 1:5). Disini kita bisa melihat bahwa agar bisa menjadi bijak, hendaklah kita mau mendengar dan senantiasa haus akan ilmu pengetahuan. Selanjutnya orang yang bijaksana hendaknya selalu punya bahan pertimbangan yang luas dan tidak terlalu cepat menyimpulkan sesuatu hanya menurut pendapatnya sendiri. Masih ada begitu banyak hal yang belum kita ketahui, yang dapat menambah pengetahuan kita akan segala sesuatu, dan akhirnya bisa menjadikan kita sebagai orang dengan wawasan pemikiran luas serta bijaksana. Ketika menghadapi suatu persoalan, kita akan mampu melihat dari berbagai sisi dengan lebih tenang. Terkadang kita hanya ingin mendapat jawaban yang cepat, tapi sesungguhnya untuk membuat hidup menjadi lebih kuat, kita membutuhkan lebih banyak lagi pengetahuan dan kebijaksanaan yang bisa kita peroleh dengan banyak mendengar dan mau tetap belajar.
bersambung
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on February 21, 2013, 05:02:07 AM
Quote
Jangan lupa pula bahwa Alkitab sudah memberitahukan darimana hikmat sebenarnya berawal. "Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian." (Amsal 9:10). Dan lihatlah kaitannya antara hikmat dan bijak seperti yang tertulis dalam kitab Mazmur. "Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik. Puji-pujian kepada-Nya tetap untuk selamanya." (Mazmur 111:10).  Awal dari hikmat itu adalah takut akan Tuhan, dan semua orang yang memilikinya akan tampil menjadi orang-orang bijak, orang yang selalu mau mendengar nasihat orang lain terutama nasihat atau teguran Tuhan, dan mau terus belajar untuk lebih baik lagi. Tidak ada orang yang sudah tahu segalanya. Kita masih harus terus belajar selama kita masih mampu untuk itu. Jangan pernah gengsi untuk bertanya kepada orang lain. Kemudian dengarkan lawan bicara dengan baik, dan berilah kesempatan pada mereka untuk mengungkapkan ide,

Ada kalanya kita perlu menyampaikan pendapat, ada kalanya kita harus diam dan memberi kesempatan pada orang lain untuk berbicara. Di saat kita diam dan mendengar, disana kita menghargai mereka dan memiliki kesempatan untuk menyerap dan memahami hal-hal baru. Memasang gengsi terlalu tinggi atau bersikap sok tahu hanya akan merugikan kita sendiri. Terhadap suara Tuhan pun demikian. Jangan berdoa hanya satu arah, hanya menjadikan doa sebagai sarana untuk menyampaikan berbagai keinginan dan permintaan ini-itu saja, tapi pakailah doa sebagai saat-saat indah dalam hubungan dengan Tuhan, dimana kita mendengarkan apa kata Tuhan, pesan, nasihat maupun teguran dengan hati yang lapang. "...Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu!" (Ibrani 4:7). Ingatlah bahwa sesungguhnya Tuhan terus berbicara mengingatkan diri kita agar jangan sampai tersesat dan terjatuh, baik lewat hati nurani, nalar ataupun dari pengalaman kita sendiri atau orang lain. Jangan sampai kita lalai,melewatkan banyak kesempatan untuk bertumbuh dan menjadi orang bebal. "Sebab orang yang tak berpengalaman akan dibunuh oleh keengganannya, dan orang bebal akan dibinasakan oleh kelalaiannya." (Amsal 1:32). Miliki roh yang peka agar kita selalu bisa mendapat berbagai masukan dari hal disekeliling kita maupun dari orang lain. Ketika kita berpura-pura tahu segalanya, disitulah kita melewatkan kesempatan untuk ditambahkan.Ingin menjadi orang bijak? Jadilah orang yang takut akan Tuhan, mau mendengar dan punya kerinduan untuk terus belajar.

Belajarlah dengan mendengar lewat hati yang lembut
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on February 22, 2013, 04:59:27 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_02_01_archive.html[/url]
renungan-harian-online.blogspot.com/2013/02/keputusan-yang-membawa-perubahan-1.html

Keputusan yang Membawa Perubahan (1)

Ayat bacaan: 2 Korintus 3:5-6
=======================
"Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah. Ialah membuat kami juga sanggup menjadi pelayan-pelayan dari suatu perjanjian baru, yang tidak terdiri dari hukum yang tertulis, tetapi dari Roh, sebab hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan."

Dari seorang pencandu kemudian tampil menjadi hamba Tuhan yang aktif melayani dimana-mana. Itulah sebuah perubahan signifikan dari seseorang yang saya kenal. Pertobatannya ternyata membawa perubahan radikal dalam sikap dan keputusan-keputusan yang ia ambil dalam hidupnya. Dan dia selalu bercerita bahwa perubahan itu membawa sukacita dalam dirinya. Ia kemudian bersaksi pula bahwa meski ia sudah ingin meninggalkan segala yang buruk, adalah ROH KUDUS yang kemudian mampu memulihkan sepenuhnya, bahkan kemudian mengubahnya menjadi pekerja yang luar biasa di ladang Tuhan jauh lebih cepat dari yang ia kira.

Setiap hari dalam hidup ini kita dihadapkan pada berbagai keputusan yang harus diambil, mulai dari keputusan besar maupun yang kecil atau sangat sederhana. Apakah kita mau terus tidur atau kita bangun, melakukan saat teduh atau tidak, apakah kita memilih untuk bekerja sungguh-sungguh atau malas-malasan, apakah kita memilih untuk jujur atau menipu, apakah kita memilih untuk mengasihi atau membenci, mendendam atau mengampuni, dan sebagainya. Setiap hari dalam masalah-masalah yang mungkin sepele dan tidak kita pikirkan, sebenarnya kita berhadapan dengan pengambilan keputusan, dimana sadar atau tidak, apa yang kita putuskan itu akan berpengaruh pada masa depan kita atau bahkan bisa mempengaruhi lebih luas lagi hingga mungkin saja bisa mengubah dunia.

Kita bisa melihat contoh nyata dari Bunda Teresa. Keputusan yang ia ambil tidaklah mudah, tapi keputusan untuk melayani di Kalkuta ternyata bisa memberkati begitu banyak orang, bahkan masih dan akan selalu dikenang dunia sampai kapanpun. Bayangkan jika beliau mengambil keputusan yang berbeda, maka sejarah dunia pun akan berbeda. Ada begitu banyak keputusan yang pada awalnya kecil atau sederhana, tapi kemudian bisa berakibat pada perubahan besar.

bersambung
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on February 22, 2013, 04:59:53 AM
Quote
Mari kita lihat bagaimana reaksi awal Musa ketika ia hendak dipakai Tuhan. Musa adalah nabi yang luar biasa dan dihormati oleh begitu banyak orang dari kepercayaan yang berbeda, dari generasi ke generasi.Tapi lihatlah bahwa untuk menjadi besar seperti itu, Musa terlebih dahulu harus melewati sebuah proses. Alkitab mencatat dengan jelas bahwa pada awalnya Musa sempat berbantah-bantahan dengan Tuhan. Ia terus mencari alasan, berkelit agar tidak perlu menurut untuk dipakai Tuhan. "Lalu sahut Musa: "Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku, melainkan berkata: TUHAN tidak menampakkan diri kepadamu?"(Keluaran 4:1). Tuhan pun kemudian menunjukkan beberapa mukjizat. Patuhkah Musa? Belum. Ia terus berbantah. "Lalu kata Musa kepada TUHAN: "Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah." (ay 10). Tuhan kemudian mengatakan bahwa semua itu adalah ciptaanNya, termasuk mulut dan lidah Musa, dan bukan "ringan" mulut Musa yang Tuhan minta namun kesediaannya. Sebab Tuhan sendiri yang akan menyertai lidah dan mengajar apa yang harus ia katakan. (ay 11). Cukup? Tidak juga. Musa terus berkelit. "Tetapi Musa berkata: "Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kau utus." (ay 13). Maka Tuhan pun murka. Musa menjadi takut, dan ia memilih untuk mengikuti perintah Tuhan. Dalam ayat 18 kita membaca akhirnya Musa mengambil keputusan untuk taat menjalani apa yang diperintahkan Tuhan, dan setelah itu kita tahu bagaimana Tuhan memakai Musa secara luar biasa, dimana hasilnya masih tetap dikenang orang hingga hari ini dan menjadi salah satu bagian terpenting dalam sejarah dunia.

Masalah berkelit dan berbantah ini tidak hanya dilakukan Musa. Ada beberapa nabi lainnya yang juga melakukan hal ini. Nabi Yeremia misalnya. Ia berkelit dengan alasan bahwa ia masih terlalu muda dan belum saatnya untuk tampil di depan. (Yeremia 1:6). Atau Yunus yang memilih untuk melarikan diri dari tugas yang disematkan Tuhan kepadanya. Pada akhirnya kita tahu bagaimana mereka dipakai Tuhan secara luar biasa. Lihatlah bahwa semua itu berawal dari sebuah keputusan. Tuhan boleh mengutus, namun jika orang yang bersangkutan tidak mengambil keputusan maka tidak akan bisa membawa perubahan apa-apa. Singkatnya kita bisa belajar bahwa keputusan yang kita ambil hari ini akan sangat menentukan masa depan kita.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on February 23, 2013, 04:54:30 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_02_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/02/keputusan-yang-membawa-perubahan-2.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/02/keputusan-yang-membawa-perubahan-2.html[/url])

Keputusan yang Membawa Perubahan (2)

(sambungan)

Seringkali kita sulit untuk melepaskan diri dari zona kenyamanan kita. Kita terbiasa untuk punya seribu satu alasan untuk menghindar dari apa yang diinginkan Tuhan untuk kita perbuat. Jangankan melayani, membantu orang yang susah saja rasanya sudah berat. Padahal Tuhan ingin kita semua menjadi perpanjangan tanganNya untuk mewartakan Injil, menjadi garam dan terang, agar dunia bisa mengenal Kristus dan selamat lewat diri kita masing-masing. Selalu saja ada alasan yang bisa kita kemukakan untuk mengelak dari itu. Terlalu muda, terlalu tua, tidak pandai bicara, terlalu sibuk, sulit menghadapi orang, kekhawatiran ini dan itu, bagaimana jika begini dan begitu, semua kita pakai sebagai excuse untuk menghindar dari kewajiban melakukan pekerjaan Tuhan. Musa, Yeremia, Yunus, mereka ini pada awalnya tidak menyadari bahwa sebenarnya bukan kekuatan dan kehebatan mereka yang Tuhan minta, namun kesediaan mereka. Karena Tuhan sendirilah yang sebenarnya bekerja. Kepada Yeremia, Tuhan memberikan jawaban demikian: "Tetapi TUHAN berfirman kepadaku: "Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan." (Yeremia 1:7). Apa dasarnya? "Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah Firman Tuhan." (ay 8).
Lihatlah bahwa sebenarnya Tuhan sendiri yang bekerja. Siapapun bisa dipakai Tuhan secara luar biasa, karena Tuhan tidak butuh ahli-ahli melainkan butuh hati yang rindu untuk mengasihi orang lain, seperti halnya Tuhan telah mengasihi kita. Mereka, dan juga kita, anda dan saya, hanyalah perantara-perantara dimana Tuhan rindu untuk melakukan pekerjaanNya melalui kita. Tuhan tahu persis kekurangan dan kelemahan kita masing-masing. Tapi itu semua tidaklah menjadi penghalang bagi kita untuk mampu bekerja di ladang Tuhan. Bukankah seharusnya kita menganggapnya sebagai sebuah kehormatan jika Tuhan mau memakai kita?

bersambung
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on February 23, 2013, 04:55:00 AM
Quote
"Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?" (Mikha 1:8). Kata "mencintai kesetiaan" dalam bahasa Inggris disebut: "to love kindness and mercy". Tuhan telah memberikan segala sesuatu yang baik kepada kita, dan oleh karena itu sangatlah wajar jika Tuhan menuntut kita pula untuk selalu suka berbuat baik, mengasihi orang lain, membantu mereka dan memperkenalkan kebesaran Tuhan pada mereka yang belum mengenalNya. Tuhan menghendaki setiap orang bisa diselamatkan dan bisa memperoleh pengetahuan akan kebenaran. (1 Timotius 2:4). Tidak ada satupun manusia di kolong bumi ini yang Dia inginkan untuk binasa. Karenanya Tuhan mau memakai kita semua untuk melakukan pekerjaan yang bisa membawa keselamatan bagi banyak orang.

Ayat bacaan renungan yang panjang ini berisi penjelasan Paulus mengenai prinsip seorang pengerja. "Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah. Ialah membuat kami juga sanggup menjadi pelayan-pelayan dari suatu perjanjian baru, yang tidak terdiri dari hukum yang tertulis, tetapi dari Roh, sebab hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan." (2 Korintus 3:5-6). Ya, bukan kekuatan dan kemampuan kita yang diandalkan dan membuat kita sanggup, tapi Tuhan sendiri yang bekerja melalui kita. Ketika Tuhan memilih anda dan saya untuk sebuah pekerjaan penting di ladangNya, itu artinya Tuhan pasti sudah memberi kita kemampuan untuk melaksanakannya. Ada ROH KUDUS yang akan terus membimbing kita untuk bekerja.Saya bukanlah lulusan teologia dan penulis. Namun keputusan yang saya ambil untuk mau bekerja bagi Dia membawa begitu banyak perubahan dalam diri saya, dan semoga juga bisa memberkati teman-teman sekalian. Saya menyaksikan sendiri berkali-kali bagaimana kuasa Tuhan begitu luar biasa, saya begitu bersukacita melihat banyak orang mengalami pemulihan. Itu sangat indah. Jangan sampai ada di antara kita yang menolak tugas yang telah Dia berikan bagi kita. Tidak harus selalu menjadi pengkotbah, pengerja, diaken, pemimpin pujian, pemusik, tapi bisa dalam bentuk apapun, bahkan di luar lingkungan gereja. Di market place, di kantor, di kampus, akan ada perubahan nyata ketika kita mau mengambil keputusan untuk mengikuti apa yang diinginkan Tuhan. Melayani merupakan kewajiban kita sebagai anak-anak Tuhan. Akan ada konsekuensinya ketika kita menolak apa yang Tuhan gariskan untuk kita. "Siapa menutup telinganya bagi jeritan orang lemah, tidak akan menerima jawaban, kalau ia sendiri berseru-seru." (Amsal 21:13) Dari kisah Musa pun kita melihat bahwa membantah Tuhan akan mendatangkan murkaNya. Yang pasti, apa yang kita putuskan hari ini akan sangat menentukan masa depan kita, orang lain bahkan bisa pula dunia. So, find your calling, and follow what God wants you to do. Make the right decision today!

Keputusan kecil yang anda ambil saat ini mampu mendatangkan perubahan besar
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on February 24, 2013, 04:45:36 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_02_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/02/setia.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/02/setia.html[/url])

Setia

Ayat bacaan: Amsal 20:6
===================
"Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?"

Seorang teman yang berulangkali kecewa terhadap pasangannya bercerita bahwa ia mulai merasa putus asa dalam menanti kehadiran pria yang bisa dipercaya dan setia. "Jujur, sekarang saya trauma dan sulit untuk bisa percaya." katanya. Berkali-kali ia dikhianati sehingga ia cenderung menutup diri jika ada pria yang mulai mendekatinya. "Orang baik itu banyak mas.. tapi yang setia itu langka.. mungkin malah tidak ada lagi." katanya. Apa yang ia katakan mungkin ada benarnya jika melihat tendensi di jaman modern ini. Lewat berbagai media hiburan seperti lagu, film dan kejadian sehari-hari kita seolah diajarkan bahwa ketidaksetiaan adalah  sesuatu yang manusiawi dan lumrah. Tidak heran maka semakin lama semakin sulit saja menemukan sosok manusia yang bisa setia, baik dalam pekerjaan, pertemanan, organisasi dan tentu saja seperti yang dialami teman saya, dalam hubungan seperti berpacaran atau pernikahan. termasuk tentunya pada Tuhan. Ada banyak alasan yang bisa dijadikan dasar untuk melegalkan ketidaksetiaan itu. Membesar-besarkan kekurangan pasangan, mencari-cari kejelekan misalnya, sampai kepada menyalahkan pihak ketiga, itu contoh alasan klasik yang sering dikemukakan. Padahal soal setia atau tidak itu tergantung pilihan dan keputusan kita sendiri.

Mencari orang baik mungkin mudah, tapi mencari orang yang setia sama sulitnya dengan mencari jarum ditumpukan jerami. Seperti itu hari ini, dahulu pun sama. Itu persis seperti apa yang dikatakan Salomo dalam salah satu Amsalnya. "Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?" (Amsal 20:6). Mengaku teman itu mudah, namun menjadi sahabat yang setia baik dalam suka maupun duka susahnya minta ampun. Mencari orang yang baik itu jauh lebih muda ketimbang orang yang setia, bisa dipercaya. Dari masa ke masa kita akan terus berhadapan dengan masalah ini, bahkan diantara kita sendiri pun mungkin sulit untuk setia. Padahal seharusnya tidak demikian, karena kesetiaan merupakan salah satu kualitas utama yang diharapkan ada dalam diri orang percaya. Lihatlah  pesan Paulus kepada Timotius. "...kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan." (1 Timotius 6:11). Sementara Salomo mengingatkan "Sifat yang diinginkan pada seseorang ialah kesetiaannya; lebih baik orang miskin dari pada seorang pembohong." (Amsal 19:22).

Kepada sesamanya manusia sulit setia, kepada Tuhan demikian. Sementara Tuhan memberikan kasih setiaNya yang begitu besar, untuk setia sedikit saja kita susah. Banyak alasan yang bisa kita kemukakan. Mulai dari merasa permintaan tidak didengarkan Tuhan, tidak kunjung lepas dari kesulitan, uang, jabatan bahkan jodoh. Tidak jarang kita melihat orang yang rela menyangkal imannya demi keuntungan-keuntungan pribadi dan sesaat. Tuhan begitu mengasihi kita. Bahkan anakNya yang tunggal pun rela Dia berikan agar kita semua selamat. Kurang apa lagi? Kehadiran Yesus di dunia ini untuk menggenapkan kehendak Bapa pun sudah menunjukkan sesuatu yang seharusnya bisa kita teladani. Yesus membuktikan kesetiaanNya menanggung segala beban dosa kita sampai mati. Tanpa itu semua mustahil kita bisa menikmati hadirat Tuhan hari ini dan mendapat janji keselamatan setelah episode kehidupan di dunia ini. Kita mengaku sebagai anak Tuhan, tapi kita tidak kunjung bisa meneladaniNya. Disamping itu sering pula kita terus meminta perkara besar dalam doa-doa kita, sementara perkara kecil saja kita tidak bisa menunjukkan kesetiaan dan tanggung jawab. Apa yang dijanjikan Tuhan kepada orang setia sesungguhnya jauh lebih besar daripada berkat dalam kehidupan dunia yang sementara ini. "Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan." (Wahyu 2:10c). Ada mahkota kehidupan yang siap dikaruniakan kepada semua orang yang mau taat dan setia sampai mati.

bersambung
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on February 24, 2013, 04:46:29 AM
Quote
Dalam perumpamaan tentang talenta kita bisa melihat bagaimana pandangan Tuhan tentang kesetiaan. Saat kita diberi perkara kecil, kita harus sanggup mempertanggungjawabkan itu dan melakukannya dengan baik sebelum menerima perkara yang lebih besar lagi. Lihat apa kata Tuhan kepada hamba yang mampu setia kepada perkara kecil yang dipercayakan Tuhan. "Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu." (Matius 25:21,23). Bagaimana reaksi Tuhan kepada orang yang tidak setia? Apakah Tuhan harus tetap mempercayakan sesuatu yang lebih besar kepada orang yang tidak sanggup bertanggungjawab dalam perkara kecil? Tentu tidak. "Campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi."(ay 30). Itulah yang akan menjadi bagian dari orang yang tidak setia. Maka benarlah nasihat yang diberikan Lukas. "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar." (Lukas 16:10).

Sejak sekarang, mulailah setia dari perkara-perkara kecil. Ketika ada sesuatu yang dipercayakan Tuhan kepada kita, lakukanlah dengan benar dan dengan setia. Lantas bersyukurlah senantiasa, meski apa yang ada saat ini dipercayakan masih terlihat seolah kecil. Ingatlah bahwa Tuhan pasti menghargai kesungguhan, kejujuran dan kesetiaan anda. Pada saatnya nanti, Dia akan mempercayakan sesuatu yang lebih besar. Menjadi baik saja tidak cukup, kita harus mampu pula meningkatkan kapasitas diri kita untuk menjadi pribadi yang setia, yang bisa dipercaya. Untuk menerima janji dan berkat Tuhan dibutuhkan usaha serius dan perjuangan kita untuk terus setia. Dan semua itu berawal dari hal yang kecil. Tuhan akan melihat sejauh mana kita bisa dipercaya untuk sesuatu yang lebih besar lagi. Tidaklah sulit bagi Tuhan untuk memberkati kita, tapi kita dituntut untuk membuktikan dulu sejauh mana kita mampu setia kepadaNya. Disamping itu, saya pun percaya bahwa lewat hal-hal yang kecilpun Tuhan mampu memberkati kita secara luar biasa. Apapun yang ada pada kita saat ini, bersyukurlah untuk itu, dan lakukan sebaik-baiknya dengan kesetiaan dan kejujuran. Tuhan mampu memberkati itu menjadi luar biasa, dan mempercayakan kita untuk hal-hal yang lebih besar lagi pada suatu saat nanti.

Setia dalam perkara kecil adalah awal dari hadirnya perkara besar
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on February 25, 2013, 05:52:03 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_02_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/02/ujian-iman-1.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/02/ujian-iman-1.html[/url])

Ujian Iman (1)

Ayat bacaan: Daniel 1:5
===================
"Dan raja menetapkan bagi mereka pelabur setiap hari dari santapan raja dan dari anggur yang biasa diminumnya. Mereka harus dididik selama tiga tahun, dan sesudah itu mereka harus bekerja pada raja."

Orang mengikuti ujian biasanya untuk bisa naik ke jenjang yang lebih tinggi. Bisa lulus, bisa juga tidak. Agar bisa lulus maka kita harus mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin. Sebaliknya apabila kita menyepelekan untuk bersiap, maka kemungkinan besar kegagalanlah yang menjadi akibatnya.

Dalam kehidupan kita di dunia, ada saat dimana iman kita harus pula mengalami ujian. Itu bisa lewat tekanan, intimidasi atau bahkan ancaman dari orang-orang sekitar kita baik di lingkungan tempat tinggal, kota atau pekerjaan. Takut dikucilkan, takut ditolak, takut tidak naik jabatan, diperlakukan tidak adil dan sejenisnya seringkali membuat sebagian orang memilih untuk menyembunyikan identitas dirinya dalam hal keimanan. Jatuh cinta kepada seseorang pun bisa menjadi penyebab lunturnya keimanan. Ada banyak orang yang akhirnya meninggalkan iman mereka akan Kristus demi mendapatkan pujaan hatinya. Ironis, tapi faktanya memang demikian. Tidaklah mudah hidup sebagai minoritas di tengah mayoritas. Namun sesungguhnya pada saat-saat seperti itulah iman dan ketaatan kita akan Kristus tengah diuji. Lulus atau tidak, itu semua tergantung keputusan kita sendiri, bagaimana kita menyikapinya. Apakah kita mau berkompromi mengorbankan Tuhan yang telah begitu mengasihi kita dan menebus dosa-dosa kita, menghadiahi kita yang sebenarnya tidak layak ini dengan keselamatan kekal, atau memilih untuk terus setia apapun resikonya.

Hari ini saya rindu mengajak teman-teman melihat kisah Daniel dan Hananya, Misael, Azarya yang lebih dikenal sebagai Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Kisah tentang Daniel dibuka dengan kekalahan bangsa Yehuda di tangan bangsa Babel, bangsa penyembah berhala. Layaknya bangsa yang kalah, harta dan kehidupan mereka dirampas masuk ke dalam bangsa yang menang. Pada saat itu raja Babel memerintahkan kepala istana untuk mengambil sebagian orang Israel yang berasal dari keturunan raja dan bangsawan untuk dilatih mengenai bahasa, budaya dan cara hidup Babel sampai identitas mereka sebagai orang Yehuda bisa terkikis habis. "Lalu raja bertitah kepada Aspenas, kepala istananya, untuk membawa beberapa orang Israel, yang berasal dari keturunan raja dan dari kaum bangsawan, yakni orang-orang muda yang tidak ada sesuatu cela, yang berperawakan baik, yang memahami berbagai-bagai hikmat, berpengetahuan banyak dan yang mempunyai pengertian tentang ilmu, yakni orang-orang yang cakap untuk bekerja dalam istana raja, supaya mereka diajarkan tulisan dan bahasa orang Kasdim." (Daniel 1:3-4). Ini termasuk juga mengenai makanan. Mereka harus makan dari makanan yang sama yang dipersiapkan bagi anggota keluarga raja. Mereka juga harus siap dilatih selama 3 tahun dan dipersiapkan untuk bekerja bagi raja. "Dan raja menetapkan bagi mereka pelabur setiap hari dari santapan raja dan dari anggur yang biasa diminumnya. Mereka harus dididik selama tiga tahun, dan sesudah itu mereka harus bekerja pada raja." (ay 5).
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on February 25, 2013, 05:52:33 AM
Quote
Dari kriteria ini, terdapatlah 4 orang pemuda Yehuda, yaitu Daniel, Hanaya, Misael dan Azarya. (ay 6). Nama mereka pun kemudian diganti. "Pemimpin pegawai istana itu memberi nama lain kepada mereka: Daniel dinamainya Beltsazar, Hananya dinamainya Sadrakh, Misael dinamainya Mesakh dan Azarya dinamainya Abednego." (ay 7). Tapi walaupun nama mereka diganti dan mereka diwajibkan untuk menjalani proses pencucian identitas sebagai bangsa Yehuda, ternyata hati mereka tidak berubah sedikit pun. Padahal ujian yang mereka alami tidaklah mudah. Mereka menghadapi ancaman kematian dengan cara mengerikan jika masih terus mempertahankan iman mereka dan menolak menyembah berhala-berhala Babel dan rajanya.

Menyikapi ancaman mengerikan yang diberikan, Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab: "Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini.Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu." (3:16-18). Sadrakh, Mesakh dan Abednego memutuskan untuk menolak menyembah berhala-berhala yang menjadi tuhan bangsa Babel. Konsekuensinya, merekapun dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala. Apa yang dialami Daniel pun sama. Ketika ia dijebak dari ketaatannya menyembah Allah setiap hari sebanyak tiga kali, ia pun diancam untuk mati dengan cara dilempar ke dalam gua singa. (6:16). Ini ujian iman yang sungguh tidak main-main. Tapi apa yang terjadi? Kita tahu Sadrakh, Mesakh dan Abednego disertai malaikat dan tidak cedera sedikitpun. Apa yang mereka alami bahkan menjadi kesaksian luar biasa akan kuasa Tuhan yang mereka sembah. (3:24-30). Lantas mengenai Daniel, kita tahu pula bagaimana Daniel selamat dari gua Singa tanpa kekurangan suatu apapun lewat penyertaan malaikat pula. "Allahku telah mengutus malaikat-Nya untuk mengatupkan mulut singa-singa itu, sehingga mereka tidak mengapa-apakan aku, karena ternyata aku tak bersalah di hadapan-Nya; tetapi juga terhadap tuanku, ya raja, aku tidak melakukan kejahatan." (6:22). Ujian iman yang berat dilalui oleh Daniel, Hanaya (Sadrakh), Misael (Mesakh) dan Azarya (Abednego) dengan gemilang. Mereka membuktikan ketahanan imannya dan keluar menjadi pemenang.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on February 26, 2013, 04:58:42 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_02_01_archive.html[/url]
renungan-harian-online.blogspot.com/2013/02/ujian-iman-2.html

Ujian Iman (2)

(sambungan)

Apakah ada di antara teman-teman yang tengah menghadapi pergumulan mengenai iman? Mungkin ditolak atau diusir dari keluarga karena mengikuti Kristus, mungkin disingkirkan oleh lingkungan, bahkan mungkin pula mengalami ancaman atau aniaya, mendapatkan berbagai kesulitan, penderitaan, dan sebagainya. Seperti halnya Daniel dan ketiga pemuda lainnya, itu semua mungkin kita alami juga di hari-hari yang penuh bahaya seperti sekarang ini. Bukankah kita pun berhadapan dengan orang-orang yang suka memaksakan kehendak bahkan tega membunuh sesamanya karena perbedaan ideologi, kepercayaan maupun kepentingan-kepentingan lainnya?

Adalah penting bagi kita untuk terus memastikan kesetiaan kita meskipun apa yang dihadapi mungkin sungguh berat. Setiap saat kita harus mampu memastikan bahwa diri kita tetap ada bersama dengan Kristus. Paulus mengingatkan: "Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji." (2 Korintus 13:5). Dalam kesempatan lain, Yakobus justru berkata bahwa kita seharusnya malah merasa beruntung jika kita mengalami berbagai macam cobaan. "Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan," (Yakobus 1:2). Mengapa? "sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun." (ay 2-3). Lihatlah ada buah yang matang yang akan kita petik sebagai hasil jika kita lulus dari ujian iman itu. Petrus mengatakan hal yang sama. "Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu--yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api--sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya." (1 Petrus 1:6-7).

 Ingatlah bahwa tujuan iman adalah keselamatan jiwa. (ay 9). Keteguhan dan kesetiaan iman kita akan menentukan seperti apa kita kelak di kehidupan selanjutnya. Apakah keselamatan kekal atau kebinasaan kekal yang kelak kita peroleh sebagai hasilnya tergantung dari keseriusan kita dalam menjaga kesetiaan kita pada Yesus. Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego telah membuktikan kesetiaan mereka dan lulus dengan gemilang. Menghadapi hari-hari yang mungkin kurang lebih sama, penuh tekanan, ancaman dan bahkan aniaya, mampukah kita memiliki iman seperti mereka?

Jangan pernah tergoda untuk meninggalkan Kristus dalam menghadapi berbagai tekanan dan ujian
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on February 27, 2013, 04:24:04 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_02_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/02/anak-anak-juga-butuh-yesus.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/02/anak-anak-juga-butuh-yesus.html[/url])

Anak-Anak Juga Butuh Yesus

Ayat bacaan: Matius 19:14
======================
"Tetapi Yesus berkata: "Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga."

Bagi para orang tua dengan anak-anak yang masih kecil, kewaspadaan dalam mengawasi apa yang mereka dengar atau tonton menjadi hal yang sangat krusial di jaman sekarang. Berbagai tayangan atau lirik-lirik lagu yang menyesatkan atau berisi hal-hal buruk seperti kekerasan, pornografi, ketidaksetiaan dan sebagainya jika tidak diperhatikan bisa membuat mereka mendapatkan pengajaran yang salah mengenai cara hidup yang benar. Begitu banyak hal jahat yang bisa menyesatkan mereka sejak dini. Kasihan sekali melihat anak-anak yang masih polos dan lugu kemudian terkontaminasi dengan hal-hal yang berpotensi besar merusak masa depan mereka. Anak kecil butuh bimbingan, karena mereka masih seperti kertas kosong yang akan berisi tergantung apa yang ditulis di atasnya. Seorang pendeta mengatakan bahwa kita sebagai orang tua seharusnya tahu pentingnya menanamkan nilai-nilai kebenaran akan Firman Tuhan sejak dini agar mereka bisa memilah sendiri apa yang baik dan menghindari hal buruk. Para orang tua, dengarlah, anak-anak anda butuh bimbingan, dan mereka pun perlu untuk mengenal Yesus sejak dini.

Ada banyak orang tua yang melupakan pentingnya hal ini. Mereka terlalu sibuk dan menganggap anaknya masih terlalu kecil sehingga belum saatnya dibawa ke Gereja, tidak perlu sekolah minggu atau bahkan diajarkan kebenaran Firman Tuhan. Ada banyak yang tidak mau karena merasa terganggu karena membawa anak, atau mungkin terlalu sibuk sehingga tidak punya waktu untuk mengantar jemput atau menunggui anaknya atau untuk mengenalkan  Yesus kepada mereka. Padahal sebuah keputusan yang kita ambil saat ini bagi mereka bisa sangat menentukan seperti apa mereka di masa depan.

Hari ini mari kita lihat bagaimana reaksi Yesus ketika ada orang-orang yang membawa anak mereka kepada Yesus untuk diberkati. Pada saat itu, murid-murid Yesus bertindak seperti pasukan pengaman atau security dan memarahi mereka yang membawa anak. "Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu."(Matius 19:13). Lantas bagaimana reaksi Yesus? "Tetapi Yesus berkata: "Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga."(ay 14). Luar biasa. Anak-anak yang dianggap tidak ada apa-apanya oleh dunia ternyata di mata Tuhan disebut sebagai yang empunya Kerajaan Sorga. Anak-anak kecil masih belum terkontaminasi dengan logika-logika manusia, yang masih polos tanpa topeng, jujur dan sederhana pikirannya. Dan karena itulah mereka yang putih bersih ini dikatakan Tuhan sebagai yang empunya Kerajaan Surga.

Berkaca dari ketulusan dan kejujuran anak-anak, seperti itulah kita seharusnya dalam menyambut Kerajaan Allah. Anak kecil tidak khawatir apabila mereka ada dekat orang tuanya, mereka akan merasa aman dan percaya penuh pada orang tuanya, dan menuruti orang tuanya tanpa banyak tanya. Dan Yesus pun mengingatkan kita untuk berbuat demikian. "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya."(Lukas 18:17). Dan kemudian, Yesus meletakkan tangan-Nya di atas kepala anak-anak itu dan memberkati mereka. (Matius 19:15). Yesus tidak saja mengasihi kita yang sudah dewasa, namun juga mengasihi anak-anak kecil, bahkan memandang mereka secara istimewa, dan mengingatkan kita untuk memandang Kerajaan Allah dengan mata anak kecil. Through the eyes of a child, through their perspective, their point of view. Hidup kita yang sudah dewasa ini sudah terkontaminasi dengan begitu banyak hal, sehingga kita menjadi sulit untuk mengerti kehendak Tuhan dan percaya sepenuhnya pada Tuhan. Terlalu sering kita memaksakan logika-logika kita sendiri, sehingga sadar atau tidak kita menutup pintu dari berkat-berkat yang disediakan Tuhan bagi kita.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on February 27, 2013, 04:24:31 AM
Quote
Kembali kepada anak-anak, sebagai orang tua kita harus mampu menjadi sumber bagi mereka untuk mengenal Yesus. Apakah anda sudah menyadari pentingnya membagi kebenaran kepada mereka? caranya bisa bermacam-macam. Misalnya dengan menceritakan hal-hal tentang Yesus sebelum mereka tidur, sambil bermain atau lewat banyak lagi cara-cara yang menyenangkan buat mereka. Lantas, apakah anda sudah menyadari pula pentingnya untuk mengajak anak-anak untuk membangun mesbah Tuhan bersama-sama dan memuliakan Tuhan? Apakah anda masih sering merasa terlalu sibuk untuk mengantarkan anak-anak anda ke sekolah Minggu atau kelas-kelas balita yang disediakan oleh banyak Gereja? Jika pada saat itu Tuhan Yesus melarang siapapun untuk menghalang-halangi anak-anak itu untuk datang kepadaNya, apalagi saat ini ketika lingkungan sekitar dalam segala aspek kehidupan mereka bisa setiap saat memberi pengaruh negatif dan merusak masa depan mereka. Lebih jauh Yesus mengingatkan sesuatu yang penting mengenai hal ini.
"Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka: Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku." (Markus 9:36-37). Dan lihat apa kata Yesus pada setiap orang yang tidak menerima anak-anak kecil atau yang menghalang-halangi mereka. "Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya ini, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut." (Markus 9:42). Pesan yang sama diingatkan Tuhan Yesus juga kepada anda, para orang tua, agar tidak menghalang-halangi anak-anak anda untuk datang kepada Yesus. Anak-anak kita butuh Yesus, sama seperti kita juga. Dan Yesus mengasihi mereka juga, menganggap mereka sangat penting, sepenting orang  yang dianggap empunya Kerajaan Surga.

Seperti kita butuh Yesus, demikian pula anak-anak kita. Jangan jauhkan mereka dari kebenaran Kristus
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on February 28, 2013, 05:48:33 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_02_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/02/menghadapi-komentar-negatif.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/02/menghadapi-komentar-negatif.html[/url])

Menghadapi Komentar Negatif

Ayat bacaan: Roma 4:18
================
"Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu."

Mendengar komentar miring seenaknya dari orang lain memang tidak enak. Mereka tidak melihat betapa kerasnya usaha kita sebelum mengeluarkan komentar yang seringkali hanya sambil lalu saja mereka ucapkan. Bagi mereka mungkin terasa biasa saja tetapi sanggup melukai rasa percaya diri kita dan berbekas hingga waktu yang lama bagi kita. Saya kenal dengan banyak orang yang mengalami kesulitan dengan rasa percaya dirinya akibat selalu dikatakan bodoh sejak kecil oleh orang tuanya, atau selalu dibandingkan secara negatif dengan saudara-saudaranya yang lain. Kata-kata atau komentar negatif jika hanya ditelan dan tidak disikapi dengan lapang hati bisa melemahkan bahkan menghancurkan kita. Sayangnya kita lebih suka percaya terhadap apa kata orang dibanding janji-janji yang Tuhan berikan. Kita lupa bahwa Tuhan telah menciptakan kita dengan sangat istimewa dan kepada kita masing-masing Tuhan sudah menyusun rencana indah lengkap dengan masa depan yang gemilang. Whoever we are, no matter how limited we are, God has provided such a lovely plan for us. Kita lupa akan hal itu dan cenderung lebih peduli terhadap komentar melemahkan dari orang lain. Ini harus kita perhatikan sebelum hidup kita menjadi hancur hanya karena orang-orang tidak bertanggungjawab seperti itu.

Hari ini mari kita lihat kisah Abraham. Abraham menerima janji Tuhan ketika ia sudah sangat tua. Di usia yang sangat lanjut seperti itu Tuhan menjanjikan sesuatu yang tidak masuk akal menurut logika manusia. "Lalu TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman: "Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya." Maka firman-Nya kepadanya: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu." (Kejadian 15:5). Janji itu bagi orang awam tentu tidak masuk akal. Bayangkan itu diberikan bukan di saat Abraham masih dalam usia produktif, tetapi ketika ia sudah tua renta dengan istri yang sudah lama menopause. Jika kita yang menerima janji itu mungkin kita akan tertawa, atau bahkan marah. Dan mungkin saja Abraham akan diejek dan ditertawakan oleh orang lain yang mendengar akan hal itu. Tetapi Abraham menunjukkan sikap yang berbeda. Dikatakan: "Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran." (ay 6). Abraham percaya akan janji Tuhan meski logika tidak mendukung, dan Tuhan menganggap ketaatan dan kepercayaan Abraham itu sebagai sebuah kebenaran. Apakah kemudian Tuhan segera merealisasikan janjinya? Ternyata tidak. Ujian iman Abraham berlangsung hingga lebih dua dasawarsa sampai pada akhirnya ia memperoleh seorang anak dari Sara, istrinya, yang diberi nama Ishak. Meski janji itu mulai ditepati lewat kehadiran seorang anak kandung, ternyata ujian tidak berhenti sampai disitu. Kita tahu kemudian iman Abraham diuji lebih berat lagi dengan perintah Tuhan untuk mengorbankan Ishak sebagai korban bakaran. Lagi-lagi Abraham menunjukkan imannya. Setelah ujian itu ia lewati dengan gemilang, Tuhan pun kembali menegaskan janjinya. " Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya." (Kejadian 22:17). Tuhan meneguhkan kembali janjinya karena Abraham mendengarkan firmanNya. (ay 18). Kelak kepada Ishak Tuhan mengulangi kembali janji ini. "Aku akan membuat banyak keturunanmu seperti bintang di langit; Aku akan memberikan kepada keturunanmu seluruh negeri ini, dan oleh keturunanmu semua bangsa di bumi akan mendapat berkat." (26:4). Perhatikan bahwa Tuhan juga menyebutkan kembali alasannya. "karena Abraham telah mendengarkan firman-Ku dan memelihara kewajibannya kepada-Ku, yaitu segala perintah, ketetapan dan hukum-Ku." (ay 5). Tuhan memberi janji, tetapi itu hanya bisa kita tuai apabila kita mendengarkan firmanNya, mematuhi segala perintah, ketetapan dan hukumNya dalam aplikasi nyata dalam hidup kita. Jika kita memilih mendengarkan perkataan orang lain dan ragu terhadap janji Tuhan, kita tidak akan pernah bisa menerima janji-janji luar biasa yang sebenarnya dari jauh hari sudah Dia berikan.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on February 28, 2013, 05:49:12 AM
Quote
Iman yang teguh, yang percaya sepenuhnya kepada Tuhan dan menyisihkan logika manusia yang terbatas. Itulah yang membedakan Abraham dengan kebanyakan orang termasuk kita. Dalam kitab Roma hal ini disebutkan dengan jelas. "Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu." (Roma 4:18). Selanjutnya dikatakan "Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan." (ay 19-21). Kuncinya ada pada iman. Dan Firman Tuhan berkata bahwa "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." (Ibrani 11:1). Iman adalah sesuatu yang mampu melebihi logika-logika manusia, dan merupakan bukti dari apa yang belum terjadi, yang belum kita lihat.  Faith is the assurance of the things we hope for, the proof of things we do not see and the conviction of their reality. Dan Firman Tuhan pun sudah memberikan kunci bagaimana kita bisa memperoleh iman itu, dari mana iman itu sebenarnya timbul. "Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus." (Roma 10:17). Dari sanalah iman itu timbul, dan ketaatan kita untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata akan membuat kita mampu menuai janji-janji luar biasa dari Tuhan, meski logika manusia yang terbatas mungkin menyatakan sebaliknya.

Jika hari ini anda mudah terpengaruh untuk percaya kepada pendapat negatif yang melemahkan dari orang lain, mengapa tidak mengubah sikap itu dan kembali menggantungkan kepercayaan kepada Tuhan lewat sebentuk iman? Jika kepada Abraham janji yang mustahil itu bisa dipenuhi, mengapa tidak bagi kita? UCapan-ucapan negatif orang lain bisa membuat kita terpuruk dan hancur berantakan, kehilangan pengharapan, tetapi kembali berpegang kepada Tuhan dan janji-janjiNya akan mengembalikan kita kepada jalur yang benar. Ketaatan, kepercayaan teguh kepada Tuhan seharusnya tidak tergantung oleh situasi, kondisi dan logika kita. Meski saat ini anda belum melihat jawabannya, tetapi iman sebenarnya sudah memberi jawaban bahkan bukti dari janji itu. Tetaplah melangkah dengan yakin dalam iman. Pada saatnya nanti anda akan melihat bagaimana kuasa Tuhan mampu menjungkirbalikkan segala logika manusia dan komentar-komentar negatif dari mereka yang tidak bertanggungjawab itu.

Iman yang teguh merupakan kunci menuai janji Tuhan
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on March 01, 2013, 04:42:31 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_02_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/02/menguji-diri.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/02/menguji-diri.html[/url])

Menguji Diri

Ayat bacaan: 2 Korintus 13:5
======================
"Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji."

Banyak yang kesal bahkan muak melihat bagaimana para politikus di negara ini mempertontonkan tingkah politisnya secara norak. Mengatasnamakan rakyat; entah rakyat yang mana; mereka secara bebas menghakimi lawan politiknya yang seringkali sudah tidak lagi memakai tata krama dan etika sopan santun secara terbuka. Memang benar siapapun harus terbuka pada kritik, tetapi cara menyampaikannya pun harus pula diperhatikan. Yang sering terjadi adalah mereka secara bebas menghakimi hanya karena berada di luar. Jika mereka direkrut untuk bergabung dengan pemegang kekuasaan mayoritas, merekapun mendadak diam. Belum tentu mereka bisa lebih baik dari yang dikritiknya, tapi mereka tanpa rasa bersalah menunjukkan seolah merekalah yang paling hebat, paling benar dan lain-lain sehingga merasa berhak pula untuk menghakimi. Ini adalah tontonan sehari-hari kita di berbagai media. Saya selalu berpikir, alangkah baiknya apabila mereka berhenti berpikir sempit hanya untuk kepentingan pribadi atau golongan lantas duduk bersama memikirkan kepentingan rakyat. Itu hanyalah utopia, kata banyak orang yang sudah terlanjur pesimis melihat polah atau tingkah orang-orang yang mengatasnamakan dirinya sebagai wakil rakyat, dan rakyat hanya bisa terus menanti dan berharap, semoga pada suatu hari ada pemimpin yang bisa benar-benar tampil memperjuangkan kepentingan mereka secara serius. Sebenarnya tidak adil juga jika kita hanya menyalahkan mereka yang duduk di kursi tinggi ini, karena faktanya manusia memang cenderung lebih mudah menuduh atau menghakimi orang lain ketimbang melakukan introspeksi terhadap diri sendiri.

"Menilai keburukan orang lain itu tidak sulit. Yang sulit justru menilai diri sendiri."  kata seorang teman saya pada suatu kali yang merupakan kesimpulan dari perenungan yang ia lakukan. Menjadi komentator itu mudah, tetapi mampukah kita melakukan yang lebih baik ketika menjadi pelaku secara langsung? Atau pertanyaan lainnya, ketika kita menilai keburukan orang lain, sudahkah kita memeriksa diri kita sendiri?

Akan hal ini, marilah kita lihat apa yang dianjurkan oleh Paulus kepada jemaat di Korintus. Katanya: "Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji." (2 Korintus 13:5). Dari ayat ini kita bisa mencermati bahwa kita harus lebih memprioritaskan untuk menyelidiki diri kita sendiri terlebih dahulu ketimbang menilai orang lain. Dalam kondisi fisik kita saja seharusnya begitu. Bayangkan bagaimana rawannya kelangsungan hidup kita jika kita tidak pernah memeriksa kesehatan kita, tidak pernah berolahraga tapi terus membiarkan hal-hal yang merusak kesehatan kita silih berganti masuk menghancurkan diri kita, apalagi jika kita mengacu kepada kondisi rohani kita. Bayangkan ada berapa banyak bahaya yang tidak tersaring apabila kita tidak pernah memperhatikan dengan seksama segala sesuatu yang masuk ke dalam diri kita. Ketika kita menguji atau memeriksa diri sendiri, itu artinya kita melihat segala sesuatu dari diri kita dengan jujur dan menyeluruh, yang baik maupun yang buruk. Itu artinya kita berani melihat kelemahan kita sendiri. Dengan mengetahui kelemahan kita, disitulah kita akan dapat mengambil langkah untuk melakukan perbaikan. Dan hasilnya jelas, kita akan lebih kuat, lebih tahan uji dibandingkan orang yang tidak pernah peduli terhadap keselamatan dirinya sendiri, terlebih orang yang hanya suka menilai kelemahan atau keburukan orang lain.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on March 01, 2013, 04:43:01 AM
Quote
Yesus sendiri juga pernah menegur hal yang sama. "Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?" (Matius 7:3). Bagaimana kita bisa menilai keburukan orang lain jika diri kita sendiri masih belum sempurna? Dan Yesus pun menyebut orang yang demikian sebagai orang yang munafik. "Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu." (ay 5). Kita harus berhati-hati dalam mengeluarkan perkataan mengenai orang lain, karena salah-salah kita akan terjebak kepada proses menghakimi yang akan merugikan diri kita sendiri. "Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu." (ay 2).

Sudah menjadi sifat banyak manusia untuk cenderung merasa lebih pandai untuk menilai orang lain ketimbang memeriksa dirinya sendiri. Atau lebih parah lagi, mencari kambing hitam dengan menyalahkan orang lain untuk menutupi kelemahan diri sendiri. Oleh karena itulah kita harus benar-benar menjaga diri kita untuk tidak terjebak kepada perilaku seperti ini. Hal ini sungguh penting, begitu pentingnya bahkan Tuhan pun mau membantu kita untuk menyelidiki hati kita, apakah kita masih menyimpan banyak masalah atau tidak. Firman Tuhan berkata "Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin.." (Yeremia 17:10). Dan Daud pun pernah meminta Tuhan untuk menguji dan memeriksa dirinya. "Ujilah aku, ya TUHAN, dan cobalah aku; selidikilah batinku dan hatiku." (Mazmur 26:2). Dalam kesempatan lain ia berkata "Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!" (139:23-24). Daripada sibuk melihat keburukan orang lain, sebaiknya kita mau dengan segala kerendahan hati dan kejujuran memeriksa diri kita sendiri. Apabila kita masih menemukan hal-hal yang bisa menghambat pertumbuhan dan merusak kesehatan rohani di dalam diri kita, seharusnya kita dengan tulus mengakuinya dan membereskannya secepat mungkin agar hati kita bisa tetap terjaga bersih. Ingatlah bahwa ketika kita menunjuk orang lain, satu jari mengarah kepada mereka tetapi ada tiga jari lainnya yang mengarah kepada diri kita sendiri. Mari kita periksa dan uji sampai dimana ketaatan dan iman kita hari ini, lakukan perbaikan pada bagian-bagian yang kita dapati masih belum berjalan dengan benar dan terus tingkatkan agar lebih baik lagi.

Daripada sibuk menganalisa keburukan orang lain lebih baik memeriksa diri kita sendiri

Follow us on twitter: [url]http://twitter.com/dailyrho[/url] ([url]http://twitter.com/dailyrho[/url])
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on March 02, 2013, 04:54:04 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_02_01_archive.html[/url]
renungan-harian-online.blogspot.com/2013/02/kesempurnaan.html

Kesempurnaan

Ayat bacaan: Matius 19:21
=====================
"Kata Yesus kepadanya: "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."

Kesempurnaan, itu ditawarkan berbagai iklan dan akan selalu diinginkan setiap manusia. Apa yang kita anggap sebagai bentuk kesempurnaan dalam hidup? Banyak dari kita yang, entah karena terpengaruh iklan atau pandangan dunia sejak kecil, memandang kesempurnaan itu adalah kondisi atau saat dimana kita hidup tanpa masalah, berlimpah harta, punya segalanya, tidak sedang sakit dan sebagainya. Sempurna adalah ketika kita punya pasangan paling ganteng atau cantik, punya anak sepasang, mencapai prestasi/kedudukan tertinggi dalam pekerjaan, punya usaha super laris dan seterusnya. Semua ini dipandang dunia sebagai ukuran kesuksesan. Tapi apakah itu semua yang menjadi ukurannya? Tuhan Yesus tidak mengatakan itu semua sebagai ukuran kesuksesan.

Apakah kita memang diinginkan Tuhan untuk menjadi sempurna? Jawabannya ya. Jika kita ingin sempurna, Tuhan pun sesungguhnya demikian. Firman Tuhan berkata kita harus mengejar kesempurnaan seperti yang dimiliki oleh Bapa. "Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna." (Matius 5:48). Tapi bagaimana kita bisa memperoleh kesempurnaan yang sesuai dengan pengertian Tuhan akan hal itu? Harta berlimpah jelas bukan bentuknya. Firman Tuhan sudah menyebutkan bahwa tanpa kuasa menikmati semua itu hanyalah akan berakhir sia-sia (bacalah Pengkotbah 6:2), dan itu semua sudah begitu sering terbukti. Keluarga yang hancur berantakan meski mereka kaya raya bukanlah hal aneh lagi untuk kita lihat disekitar kita. Pada suatu saat kita akan sadar bahwa uang bukanlah segalanya dan tidak akan pernah bisa membeli kebahagiaan sejati, juga tidak akan pernah bisa menjadi solusi atas segalanya. Kembali kepada pertanyaan di awal paragraf ini, bagaimana agar kita bisa menjadi sempurna? Jawabannya bisa kita temukan dalam kisah perjumpaan seorang pemuda kaya dengan Yesus dalam Matius 19:16-26.

Ada seorang pemuda kaya yang datang kepada Yesus dan menanyakan cara agar ia bisa menerima hidup yang kekal, to possess the eternal life. Yesus kemudian mengatakan bahwa untuk memperolehnya ia harus menuruti segala perintah Allah. Dan kemudian Yesus memberi garis besarnya satu persatu. Tapi si pemuda kaya itu tampaknya menyadari bahwa masih ada sesuatu yang belum ia lakukan. Dia sudah merasa melakukan itu, but something's still missing. Ia merasa sudah baik, tapi belum sempurna. Dan perhatikan jawaban Yesus. "Kata Yesus kepadanya: "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." (Matius 9:21). Ternyata si pemuda tidak sanggup untuk meninggalkan hartanya yang berlimpah, maka ia pun kemudian lebih memilih hartanya ketimbang mengikut Yesus. (ay 22).

Ayat ini sering disalah tafsirkan banyak orang sebagai keharusan bagi orang percaya untuk hidup miskin. Padahal bukan itu maksudnya. Kita bisa melihat ayat berikut untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas. "Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka." (1 Timotius 6:10). Dari sini kita bisa melihat bahwa yang salah bukanlah uangnya, tetapi cinta terhadap uang yang melebihi segalanya. Itulah masalahnya, dan itu pula yang menjadi akar permasalahan si pemuda kaya dalam kisah diatas. Ia menolak menyerahkan segala harta miliknya, itu artinya ia menganggap hartanya sebagi hal terpenting dalam hidupnya, dan bukan Tuhan. Firman Tuhan pun mengingatkan "Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." (Matius 6:24). Tuhan telah menjanjikan berkat berlimpah kepada kita, tetapi jangan sampai itu menjadi fokus terutama kita melebihi ketaatan berdasarkan kasih dan rasa takut akan Tuhan. Ketika itu terjadi, artinya kita telah mengabdikan diri kepada harta, menghamba kepada harta dan menomorduakan Tuhan dibawahnya. Ketika itu terjadi, artinya kita sedang meninggalkan panggilan untuk menuju kesempurnaan dan membawa diri kita kedalam kehancuran.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on March 02, 2013, 04:54:38 AM
Quote
Pemuasan terhadap keinginan daging mungkin bisa terpenuhi lewat harta, tetapi itu adalah sebuah perlawanan (hostile) di hadapan Allah. "Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya." (Roma 8:7). Selanjutnya dengan tegas dikatakan "Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah." (ay 8). Apalah artinya kekayaan berlimpah yang kita miliki jika hanya bisa dipakai dalam jangka waktu yang amat sangat singkat dibanding sebuah kekekalan yang akan datang kelak? Sebuah kesempurnaan hanya akan mungkin kita peroleh apabila kita rela menyerahkan segala sesuatu yang kita miliki untuk takluk kepada kehendak Tuhan, bahkan yang kita anggap penting bagi kita sekalipun. Abraham sudah membuktikannya ketika ia taat dan rela menyerahkan anaknya yang sangat ia kasihi, Ishak untuk dijadikan korban bakaran. Tidak heran jika Abraham pun diakui sebagai Bapa orang beriman karena ketaatan dan imannya yang luar biasa. Dan itulah yang Tuhan kehendaki, karena sudah seharusnya posisi Tuhan berada di atas segalanya dalam hidup kita. Adalah tidak benar apabila kita mengakui beriman kepada Kristus namun masih terus lebih mementingkan segala hal lain selain Dia dalam hidup kita. Bagaimana mungkin kita mengaku beriman tetapi tidak menyertainya dengan perbuatan nyata?

Ada banyak orang yang ternyata jauh lebih mementingkan miliknya yang berharga ketimbang Tuhan dalam hidup mereka. Bagi si pemuda dalam Matius 19 itu adalah harta kekayaan, mungkin bagi orang lain itu bisa berupa hal lain. Kita harus rela menyerahkan itu semua jika Tuhan meminta itu, dan itulah yang bisa membawa kita untuk mencapai kesempurnaan. Kita harus kembali ingat bahwa semua berasal dari Tuhan. Dibanding apapun yang kita miliki saat ini, tentu Sang Pemberi harus berada dalam posisi teratas. Keberadaan dan penyertaan Tuhan, kebersamaan kita berjalan bersama Tuhan seturut kehendakNya, itulah yang seharusnya kita kejar lebih dari apapun juga. Panggilan untuk menjadi sempurna hanyalah akan bisa kita capai apabila kita rela menyerahkan segala sesuatu untuk mengikuti Tuhan sepenuhnya tanpa berbantah, tanpa bersungut-sungut, tanpa syarat. Are we willing to surrender everything we have in order to follow Him?

"Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah, usahakanlah dirimu supaya sempurna. Terimalah segala nasihatku! Sehati sepikirlah kamu, dan hiduplah dalam damai sejahtera; maka Allah, sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu!" (2 Korintus 13:11)

Follow us on twitter: [url]http://twitter.com/dailyrho[/url] ([url]http://twitter.com/dailyrho[/url])
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on March 03, 2013, 04:19:24 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_02_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/02/kesempurnaan.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/02/kesempurnaan.html[/url])

Kesempurnaan

Ayat bacaan: Matius 19:21
=====================
"Kata Yesus kepadanya: "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."

Kesempurnaan, itu ditawarkan berbagai iklan dan akan selalu diinginkan setiap manusia. Apa yang kita anggap sebagai bentuk kesempurnaan dalam hidup? Banyak dari kita yang, entah karena terpengaruh iklan atau pandangan dunia sejak kecil, memandang kesempurnaan itu adalah kondisi atau saat dimana kita hidup tanpa masalah, berlimpah harta, punya segalanya, tidak sedang sakit dan sebagainya. Sempurna adalah ketika kita punya pasangan paling ganteng atau cantik, punya anak sepasang, mencapai prestasi/kedudukan tertinggi dalam pekerjaan, punya usaha super laris dan seterusnya. Semua ini dipandang dunia sebagai ukuran kesuksesan. Tapi apakah itu semua yang menjadi ukurannya? Tuhan Yesus tidak mengatakan itu semua sebagai ukuran kesuksesan.

Apakah kita memang diinginkan Tuhan untuk menjadi sempurna? Jawabannya ya. Jika kita ingin sempurna, Tuhan pun sesungguhnya demikian. Firman Tuhan berkata kita harus mengejar kesempurnaan seperti yang dimiliki oleh Bapa. "Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna." (Matius 5:48). Tapi bagaimana kita bisa memperoleh kesempurnaan yang sesuai dengan pengertian Tuhan akan hal itu? Harta berlimpah jelas bukan bentuknya. Firman Tuhan sudah menyebutkan bahwa tanpa kuasa menikmati semua itu hanyalah akan berakhir sia-sia (bacalah Pengkotbah 6:2), dan itu semua sudah begitu sering terbukti. Keluarga yang hancur berantakan meski mereka kaya raya bukanlah hal aneh lagi untuk kita lihat disekitar kita. Pada suatu saat kita akan sadar bahwa uang bukanlah segalanya dan tidak akan pernah bisa membeli kebahagiaan sejati, juga tidak akan pernah bisa menjadi solusi atas segalanya. Kembali kepada pertanyaan di awal paragraf ini, bagaimana agar kita bisa menjadi sempurna? Jawabannya bisa kita temukan dalam kisah perjumpaan seorang pemuda kaya dengan Yesus dalam Matius 19:16-26.

Ada seorang pemuda kaya yang datang kepada Yesus dan menanyakan cara agar ia bisa menerima hidup yang kekal, to possess the eternal life. Yesus kemudian mengatakan bahwa untuk memperolehnya ia harus menuruti segala perintah Allah. Dan kemudian Yesus memberi garis besarnya satu persatu. Tapi si pemuda kaya itu tampaknya menyadari bahwa masih ada sesuatu yang belum ia lakukan. Dia sudah merasa melakukan itu, but something's still missing. Ia merasa sudah baik, tapi belum sempurna. Dan perhatikan jawaban Yesus. "Kata Yesus kepadanya: "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." (Matius 9:21). Ternyata si pemuda tidak sanggup untuk meninggalkan hartanya yang berlimpah, maka ia pun kemudian lebih memilih hartanya ketimbang mengikut Yesus. (ay 22).

Ayat ini sering disalah tafsirkan banyak orang sebagai keharusan bagi orang percaya untuk hidup miskin. Padahal bukan itu maksudnya. Kita bisa melihat ayat berikut untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas. "Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka." (1 Timotius 6:10). Dari sini kita bisa melihat bahwa yang salah bukanlah uangnya, tetapi cinta terhadap uang yang melebihi segalanya. Itulah masalahnya, dan itu pula yang menjadi akar permasalahan si pemuda kaya dalam kisah diatas. Ia menolak menyerahkan segala harta miliknya, itu artinya ia menganggap hartanya sebagi hal terpenting dalam hidupnya, dan bukan Tuhan. Firman Tuhan pun mengingatkan "Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." (Matius 6:24). Tuhan telah menjanjikan berkat berlimpah kepada kita, tetapi jangan sampai itu menjadi fokus terutama kita melebihi ketaatan berdasarkan kasih dan rasa takut akan Tuhan. Ketika itu terjadi, artinya kita telah mengabdikan diri kepada harta, menghamba kepada harta dan menomorduakan Tuhan dibawahnya. Ketika itu terjadi, artinya kita sedang meninggalkan panggilan untuk menuju kesempurnaan dan membawa diri kita kedalam kehancuran.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on March 03, 2013, 04:19:54 AM
Quote
Pemuasan terhadap keinginan daging mungkin bisa terpenuhi lewat harta, tetapi itu adalah sebuah perlawanan (hostile) di hadapan Allah. "Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya." (Roma 8:7). Selanjutnya dengan tegas dikatakan "Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah." (ay 8). Apalah artinya kekayaan berlimpah yang kita miliki jika hanya bisa dipakai dalam jangka waktu yang amat sangat singkat dibanding sebuah kekekalan yang akan datang kelak? Sebuah kesempurnaan hanya akan mungkin kita peroleh apabila kita rela menyerahkan segala sesuatu yang kita miliki untuk takluk kepada kehendak Tuhan, bahkan yang kita anggap penting bagi kita sekalipun. Abraham sudah membuktikannya ketika ia taat dan rela menyerahkan anaknya yang sangat ia kasihi, Ishak untuk dijadikan korban bakaran. Tidak heran jika Abraham pun diakui sebagai Bapa orang beriman karena ketaatan dan imannya yang luar biasa. Dan itulah yang Tuhan kehendaki, karena sudah seharusnya posisi Tuhan berada di atas segalanya dalam hidup kita. Adalah tidak benar apabila kita mengakui beriman kepada Kristus namun masih terus lebih mementingkan segala hal lain selain Dia dalam hidup kita. Bagaimana mungkin kita mengaku beriman tetapi tidak menyertainya dengan perbuatan nyata?

Ada banyak orang yang ternyata jauh lebih mementingkan miliknya yang berharga ketimbang Tuhan dalam hidup mereka. Bagi si pemuda dalam Matius 19 itu adalah harta kekayaan, mungkin bagi orang lain itu bisa berupa hal lain. Kita harus rela menyerahkan itu semua jika Tuhan meminta itu, dan itulah yang bisa membawa kita untuk mencapai kesempurnaan. Kita harus kembali ingat bahwa semua berasal dari Tuhan. Dibanding apapun yang kita miliki saat ini, tentu Sang Pemberi harus berada dalam posisi teratas. Keberadaan dan penyertaan Tuhan, kebersamaan kita berjalan bersama Tuhan seturut kehendakNya, itulah yang seharusnya kita kejar lebih dari apapun juga. Panggilan untuk menjadi sempurna hanyalah akan bisa kita capai apabila kita rela menyerahkan segala sesuatu untuk mengikuti Tuhan sepenuhnya tanpa berbantah, tanpa bersungut-sungut, tanpa syarat. Are we willing to surrender everything we have in order to follow Him?

"Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah, usahakanlah dirimu supaya sempurna. Terimalah segala nasihatku! Sehati sepikirlah kamu, dan hiduplah dalam damai sejahtera; maka Allah, sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu!" (2 Korintus 13:11)
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on March 09, 2013, 05:03:22 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_03_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/sea-heart.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/sea-heart.html[/url])

Sea Heart

Ayat bacaan: Pengkotbah 3:11
=========================
"Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir."
Ada sebuah tanaman unik yang tumbuh di hutan pedalaman Costa Rica yang diberi nama sea heart. Bentuknya unik seperti bentuk hati dengan biji di dalamnya dan termasuk dalam keluarga kacang-kacangan. Tanaman ini tumbuh di tempat tinggi dan mengulir ke bawah mencapai jarak 3 sampai 6 kaki. Mengapa disebut sea heart? Apa hubungannya dengan laut? Tampaknya nama sea heart itu diambil dari banyaknya tanaman ini yang mengambang di lautan luas sebelum mencapai sebuah tempat baru dan tumbuh subur disana. Seperti inilah kira-kira prosesnya. Curah hujan yang tinggi di hutan tropis membuat sea heart ini jatuh ke laut dan terbawa arus untuk waktu yang cukup lama. Sea heart terus mengambang dibawa arus selama berbulan-bulan, bahkan tidak jarang bertahun-tahun, mengikuti ombak naik dan turun, lautan yang tenang dan berombak bahkan badai sekalipun hingga akhirnya pada suatu ketika mendarat di pantai yang jauh jaraknya dari tempat asalnya. Di sebuah tempat baru ini biji sea heart itu akhirnya akan tumbuh menjadi sebuah tanaman baru yang subur.

Ketika membaca fakta yang sangat menarik dari sebuah tanaman unik ini saya mendapat sebuah analogi darinya yang menggambarkan perjalanan hidup kita. Tidakkah kita pun seringkali harus menempuh perjalanan yang panjang, terkadang penuh riak dan gelombang dalam kehidupan kita, untuk sampai kepada sesuatu yang indah pada akhirnya?  Seringkali kesabaran kita diuji. Seringkali kita harus terus bersabar menantikan Tuhan, menantikan pertolonganNya, menantikan yang terbaik buat kita sesuai waktu Tuhan dan bukan waktu kita. Terkadang ombak bisa begitu tinggi, badai bisa menerpa dengan ganas dalam hidup kita. Datangnya pertolongan Tuhan yang kita nantikan bisa jadi terasa sangat lama dalam ukuran waktu kita. Ada banyak orang yang tidak sabar akhirnya terjatuh kepada berbagai hal yang semakin memperparah keadaan. Bersungut-sungut, patah semangat, hilang harapan, putus asa dan menyerah, atau bahkan mulai ragu dan mempertanyakan keberadaan Tuhan. Tidak jarang pula ada yang malah kemudian mengalami kekecewaan, kepahitan dan akhirnya menghujat Tuhan.

Ayat hari ini akan menegaskan kembali bagaimana ukuran waktu Tuhan dibanding waktu kita, bagaimana kemampuan kita yang terbatas ini seringkali sulit dipakai untuk melihat dan memahami rencana Tuhan. Ayatnya berbunyi sebagai berikut: "Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir." (Pengkotbah 3:11). Meski kita sudah menjalani hidup benar sekalipun ada kalanya kita harus mengalami masa-masa menangis dalam penderitaan. Mengapa demikian? Karena ada rencana Tuhan yang indah, ada sebuah "grand design" yang telah dipersiapkan Tuhan di depan, dimana kita mungkin belum mampu melihatnya pada saat ini, dan penderitaan kita itu merupakan bagian dari prosesnya. It's a part of the process. Mungkin Tuhan sedang melatih kekuatan otot rohani kita, mungkin Tuhan sedang mengajarkan kita untuk berhenti mengandalkan kekuatan sendiri dan kembali mengandalkanNya, mungkin Dia sedang menguji iman kita apakah kita masih berada dalam keyakinan teguh ketika berada dalam kesusahan atau tidak, mungkin kita sedang diajar Tuhan untuk bersabar dan tetap teguh dalam pengharapan. Tapi satu hal yang pasti, meski hidup kita tengah bergejolak hari ini, selama kita tetap berada dalam firmanNya dengan taat, selama kita tetap setia berpegang teguh kepadaNya, ada rencana Tuhan yang indah di balik semua itu. We are in the process of a grand design, one perfect concept from the loving Father, and in the end it's going to be beautiful.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on March 09, 2013, 05:03:54 AM
Quote
Kita tidak bisa berharap bahwa hidup ini akan selamanya tanpa masalah. Ada kalanya kita harus masuk ke dalam kesukaran. Sebuah ayat yang menjelaskan konsep Tuhan akan hal ini. "Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya." (Pengkotbah 3:1). Dalam versi bahasa Inggrisnya dikatakan "TO EVERYTHING there is a season, and a time for every matter or purpose under heaven." Selanjutnya kita bisa melihat berbagai "season" atau masa ini dalam rangkaian ayat selanjutnya, dan lihatlah bahwa tidak semuanya menyenangkan. Namun di ayat ke sebelas kita melihat tujuan Tuhan dibalik musim atau masa itu: "Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya." Pada suatu ketika kita akan sampai kepada sesuatu yang indah yang telah dirancangkan Tuhan. Tidak peduli kita berada di musim apa saat ini, suatu ketika nanti kita akan mengalami rancanganNya yang indah. Karena itulah kita harus bersabar dan terus menanti-nantikan Tuhan dengan tekun.

Sebuah benih sea heart tidak memiliki kemampuan untuk bersabar atau menyerah. Ia hanya mengikuti kemana arus membawanya. Tetapi kita punya itu, dan Tuhan sudah berjanji akan selalu menyertai kita dalam setiap langkah. Jika benih-benih itu sanggup menempuh jarak ribuan mil selama bertahun-tahun untuk ahirnya sampai kepada sebuah destinasi dan tumbuh dengan subur, mengapa kita tidak? Firman Tuhan mengajarkan kita demikian: "Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah  dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!" (Roma 12:12). Sabarlah, dan terus bertekun, tetaplah dalam sukacita, dan itu bisa kita lakukan karena kita tahu ada rancangan yang indah dari Tuhan menanti kita di depan. Kita bisa meneladani seruan Daud berikut:"Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari." (Mazmur 25:5). Ini sebuah bentuk kesabaran yang harus kita miliki. Sementara menanti, kita bisa belajar banyak. Belajar mengandalkan Tuhan, belajar menahan diri dan bersabar, belajar untuk tetap bersukacita meski dalam kesesakan, dan semua itu akan menumbuhkan iman kita lebih lagi. Mungkin saat ini kita sedang menghadapi ombak besar bahkan badai, tetapi seperti benih-benih sea heart itu, pada suatu saat kita akan sampai kepada tujuan yang indah. Karena itu bertahanlah, jangan menyerah dan raihlah apa yang direncanakan Tuhan untuk anda dan saya di depan sana.

Pakailah saat-saat sukar sebagai kesempatan untuk menumbuhkan iman
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on March 10, 2013, 05:01:10 AM
Quote
Behind the Stage

Ayat bacaan: 1 Korintus 15:58
============================
"Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia."

Ketika anda menikmati sebuah sajian pertunjukan panggung musik, pernahkah anda memikirkan peran orang-orang yang berada di belakang panggung? Seringkali kita terfokus pada apa yang tampak di atas panggung dan lupa terhadap mereka yang berperan baik dalam persiapan menjelang acara, soundmen, lighting men dan lain-lain. Artis yang tampil di panggung memang menjadi daya tarik tersendiri, tetapi mereka yang dibelakang pangggung pun punya peran yang tidak kalah pentingnya. Tanpa mereka, sehebat apapun artis yang tampil, hasilnya tidak akan bisa maksimal. Bayangkan band tanpa sound memadai, tanpa sorot lampu dan tata panggung yang baik, itu bisa membuat sebuah konser kehilangan daya tarik. Atau bayangkan apabila tidak ada yang menyapu dan membersihkan area penonton atau sekedar menggulung kabel-kabel yang berseliweran di belakang panggung, itu tentu akan membuat kualitas konser menurun.

Dalam hidup pun kita seringkali bertindak seperti itu. Kita lebih mementingkan penampakan luar ketimbang pembenahan dalam. Kita terlalu lelah mematut diri agar terlihat indah di mata orang dan tidak lagi punya waktu untuk mengurus bagian dalam diri kita. Kita membiarkan dosa-dosa berada dalam diri kita dan tidak segera diselesaikan, masih menyimpan dendam, iri, dengki, atau pikiran-pikiran jahat. Di luar kita tampak sempurna, tapi dibalik itu semua, hati kita masih kotor penuh debu. Kita hanya mementingkan bagian-bagian tertentu saja dan merasa tidak penting untuk membenahi seluruhnya secara total. Contoh lain misalnya dalam bekerja. Kita merasa tidak perlu total melakukannya karena mungkin merasa bahwa tidak ada gunanya melakukan sebaik-baiknya, toh tidak ada yang memperhatikan, imbalan yang kita anggap kecil dan sebagainya. Padahal selalu ada perbedaan signifikan dari hasil sebuah pekerjaan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh sepenuh hati dibandingkan melakukan ala kadarnya, seadanya saja.

Mungkin saja bahwa apa yang kita lakukan tidak mendapat perhatian dari manusia, tapi ingatlah bahwa tidak ada satupun yang luput dari pandangan Tuhan. Dia tahu bagaimana sikap hati kita. Bagi sesama manusia mungkin saja apa yang kita lakukan mungkin dipandang tidak istimewa sebagai sesuatu yang layak dipuji, tapi sesuatu yang kita lakukan dengan tulus, serius dan sungguh-sungguh akan selalu istimewa di mata Tuhan. Sekecil apapun yang kita lakukan, jika disertai dengan kerinduan memuliakan Tuhan didalamnya, itu akan merupakan hadiah besar yang sangat bermakna bagiNya. Tidak mudah memang untuk bekerja sungguh-sungguh, karena pasti waktu, tenaga atau mungkin biaya akan terpakai lebih banyak. Dalam hal membereskan masalah-masalah di dalam diri kita pun seringkali tidak gampang. Sulit sekali melepaskan pengampunan kepada orang yang telah begitu menyakiti kita, sulit sekali untuk senang melihat orang lain sukses ketika kita masih pas-pasan dan sebagainya. Tapi semua usaha itu tidak akan pernah sia-sia. Dan Paulus pun mengingatkan: "Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia." (1 Korintus 15:58).
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on March 10, 2013, 05:01:39 AM
Quote
Sepanjang Alkitab Tuhan selalu mengingatkan kita untuk melakukan segala sesuatu, baik itu membenahi diri kita sendiri, dalam membina keluarga, menjalankan pekerjaan atau pelayanan dengan sebaik-baiknya. "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia." (Kolose 3:23). Mengapa harus demikian? Karena sesungguhnya upah yang terutama kita terima bukanlah berasal dari manusia tetapi justru dari Tuhan sendiri. "Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya." (ay 24). Artinya, kita selayaknya melakukan segala sesuatu dengan serius dan sungguh-sungguh untuk kemuliaan Tuhan, bukan untuk mencari upah atau penghargaan dari orang lain. Jika itu yang menjadi fokus pikiran kita, maka kita akan melakukan segalanya secara total dan tidak akan menyisakan bagian-bagian tertentu untuk diabaikan. Apa yang kita lakukan mungkin tidak mendapat apresiasi di mata orang, tapi jika itu yang Tuhan tugaskan bagi kita, kita perlu melakukannya dengan segenap hati sebagai bagian dari panggilan Tuhan untuk saling mengasihi dengan sungguh-sungguh (1 Petrus 4:8). Kita bisa menawarkan bantuan kepada yang memerlukan dengan tulus (ay 9) dan melayani orang lain sesuai karunia yang telah kita peroleh (ay 10). Kita bisa melakukan itu semua sebagai persembahan dari diri kita untuk kemuliaan Tuhan, dan bukan untuk diri kita sendiri. Tuhan telah memperlengkapi kita semua untuk itu, dan tugas kita adalah mempergunakan semua itu dengan sebaik-baiknya untuk Tuhan. Jika itu kita lakukan, maka jerih payah kita tidak akan pernah sia-sia.

Apapun yang anda lakukan hari ini, meski itu mungkin tidak mendapat penghargaan dari orang lain, tetaplah lakukan dengan sebaik-baiknya karena mengasihi Tuhan. Tuhan selalu menghargai jerih payah yang kita lakukan dengan tulus dan ikhlas. Dan Tuhan bisa memberkati anda berkelimpahan meskipun pekerjaan anda saat ini mungkin kecil dalam penilaian manusia. Lakukan pula pembenahan diri secara total, bersihkan segala noda yang masih menempel. Jangan sisa-sisakan ruang yang masih bisa dimanfaatkan iblis untuk me dosa ke dalam diri anda. Apa yang penting bukanlah menurut pandangan manusia, tetapi pandangan Tuhan. Yang penting adalah Tuhan berkenan atas apa yang Dia lihat dan dapati dari diri kita. Biarkan Tuhan bersukacita lewat segala sesuatu yang kita lakukan.

Tidak satupun usaha kita yang luput dari mata Tuhan
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on March 11, 2013, 04:41:56 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_03_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/to-be-or-not-to-be.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/to-be-or-not-to-be.html[/url])

To Be or Not To Be

Ayat bacaan: 2 Korintus 1:8-9a
============================
"Sebab kami mau, saudara-saudara, supaya kamu tahu akan penderitaan yang kami alami di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami. Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati."

Bagi anda penggemar karya William Shakespeare, kalimat "To be or not to be, that is the question" tentu tidak asing lagi. Kalimat yang sangat terkenal ini berasal dari naskah sandiwara Hamlet yang legendaris. Kalimatnya populer, tetapi tidak banyak yang mengetahui artinya atau untuk apa kalimat itu ditujukan. Jika membaca naskahnya atau pernah melihat drama di panggung atau layar lebar, anda akan tahu bahwa kalimat itu diucapkan oleh sang tokoh utama, seorang pangeran bernama Hamlet. Kalimat ini muncul ketika ia merasakan kepedihan luar biasa sewaktu pamannya membunuh ayahnya, dan menikahi ibunya. Begitu sakit rasanya, hingga ia sempat berpikir haruskah ia terus hidup ("to be") atau mengakhiri saja hidupnya, ("or not to be").

Apakah anda pernah atau mungkin sedang merasakan rasa sakit dan penderitaan yang begitu hebat yang rasanya tidak lagi tertahankan? Ada kalanya dalam hidup ini kita merasakan rasa sakit yang tidak terperi, begitu perihnya sehingga kita mulai merasa putus asa dan kehilangan harapan. Kenyataannya ada banyak orang yang memilih seperti Hamlet, yaitu mengakhiri hidupnya karena tidak tahan lagi menderita. Tapi sikap berbeda bisa kita temukan dari Paulus. Seorang Paulus yang dikenal militan dalam menjalankan tugasnya mewartakan Injil setelah bertobat pada suatu ketika merasakan hal ini. Tekanan begitu berat. Ancaman ia dapati dimana-mana. Dia didera, ditangkap, diancam akan dibunuh. Paulus pernah merinci berbagai penderitaan yang ia alami dalam pelayanannya. "..Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut. Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut. Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu. Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian." (2 Korintus 11:-23-27). Sehebat-hebatnya dan sekuat-kuatnya Paulus, tekanan bertubi-tubi ini pada suatu ketika pun membuatnya lemah. Ia mengakui hal itu kepada jemaat di Korintus. "Sebab kami mau, saudara-saudara, supaya kamu tahu akan penderitaan yang kami alami di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami. Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati." (2 Korintus 1:8-9a). Sebagai manusia biasa sama seperti kita, Paulus pun pernah mengalami keputus-asaan. Bedanya, ia tidak membiarkan dirinya dikuasai rasa putus asa dan kehilangan harapan terus menerus. Paulus dengan cepat mengubah fokusnya. Ia kembali kepada pemikiran positif yang berpegang sepenuhnya kepada Allah. Paulus mampu melihat sisi lain dari sebuah penderitaan, yaitu sebagai pelajaran agar kita tidak bergantung kepada diri sendiri melainkan kepada Tuhan. "Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati." (ay 9b).

Penderitaan memang menyakitkan, dan terkadang ketika itu terasa begitu berat, kita merasa tidak sanggup lagi memikulnya. Tapi seperti yang terjadi pada Paulus, Tuhan sesungguhnya telah memberikan kasih karuniaNya secara cukup, yang akan memampukan kita untuk bisa bertahan ketika sedang berjalan dalam lembah penderitaan. "Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku." (2 Korintus 12:9). Renungkanlah. Justru dalam tekanan beratlah sebenarnya kita bisa melihat kuasa Tuhan yang sempurna. Dalam kelemahan kitalah kita akan mampu menyaksikan kuasa Tuhan yang sesungguhnya, yang mampu menjungkirbalikkan segala logika manusia.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on March 12, 2013, 05:37:09 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_03_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/mengemban-tanggung-jawab.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/mengemban-tanggung-jawab.html[/url])

Mengemban Tanggung Jawab

 Ayat bacaan: 1 Samuel 17:34-35
==========================
"Tetapi Daud berkata kepada Saul: "Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya..."

Seberapa besar kita berani menerima tanggung jawab? Ada banyak orang yang menolak peluang besar karena takut terhadap faktor resiko yang berada dibalik sebuah tanggung jawab yang besar. Di sisi lain ada pula orang yang nekad mengambil tanggung jawab besar tanpa berpikir dan tanpa persiapan. Ketika gagal mengemban tanggung jawab, mereka segera lari dari tanggung jawab mereka dengan segera. Para pejabat korup di negara kita tentu paling ahli akan hal ini. Mereka menerima tanggung jawab atau amanat dari rakyat tapi bukannya mengembannya dengan baik malah mempergunakannya sebagai kesempatan untuk meraup untung sebanyak-banyaknya dengan berbagai cara curang. Ketika ketahuan dan diblow-up media, mereka pun sebisa mungkin berkelit. Jika sepertinya kurang berhasil, maka jalan lari keluar negeri atau bersembunyi di negara lain pun menjadi alternatif yang mereka ambil.

Kita sering lupa bahwa dalam menerima sebuah amanat kita bukan saja bertanggung jawab terhadap orang, badan atau lembaga yang memberi, tetapi kita pun punya  tanggung jawab kepada Tuhan atas setiap amanat yang kita terima. Tanggung jawab terhadap Tuhan itu seharusnya lebih utama ketimbang hal lain. Kita mempertanggung jawabkan pekerjaan kita di depan sesama manusia, kelak kita pun harus mempertanggung jawabkannya di hadapan Tuhan. Jika di dunia ini kita bisa berkelit dengan cerdik, menyuap agar lepas dan sebagainya, nanti di hadapan Tuhan semua itu tidak akan ada gunanya. Sebuah amanat, besar atau kecil adalah tetap amanat yang harus kita pertanggung jawabkan sebaik mungkin. Seringkali ada pengorbanan dan berbagai hal yang bisa membuat kita khawatir atau bahkan takut, tetapi itu semua harus berani kita hadapi. Kabar baiknya, kita tidak dibiarkan menghadapinya sendirian, tetapi Tuhan sudah berjanji tidak akan meninggalkan kita dan akan menyertai kita dalam setiap langkah yang kita ambil.

Mari kita lihat saat kisah Daud muda yang bekerja sebagai penggembala kambing domba ayahnya. Dari beberapa ayat kita mengetahui bahwa Daud muda diperlakukan tidak sama seperti saudara-saudaranya yang lain. Ia dipekerjakan sebagai gembala oleh ayahnya, sementara beberapa dari saudaranya maju bertempur di garis depan sebagai prajurit Israel. Dibandingkan status prajurit, status gembala pada saat itu tidak ada apa-apanya. Tapi Daud tidak berkecil hati dengan pekerjaan itu. Berapa jumlah yang ia gembalakan saya tidak tahu pasti, tapi rasanya tidak banyak. Dan saya rasa ia pun tidak dibayar untuk itu. Meski tidak banyak dan tidak dibayar, perhatikan bagaimana keseriusan Daud dalam mempertanggung jawabkan pekerjaannya seperti yang ia utarakan kepada Saul. "Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya.." (1 Samuel 17:34-35). Lihatlah ia rela mempertaruhkan nyawanya demi sekumpulan domba, yang notabene hanyalah hewan. Di mata manusia mungkin itu merupakan hal yang aneh, bahkan bodoh. Untuk apa manusia harus rela mempertaruhkan nyawa demi hewan? Bukankah lebih baik jika ia lari saja dan membiarkan ternaknya dimangsa ketimbang harus beresiko seperti itu? Tapi tidaklah demikian bagi Daud. Ia rela menghadapi singa dan beruang dalam melakukan pekerjaannya. Ia tidak ingin satupun dari dombanya binasa, dan untuk itu ia harus siap berhadapan dengan maut.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on March 12, 2013, 05:37:36 AM
Quote
Tuhan menghendaki kita untuk serius dalam melakukan segala hal, baik itu bekerja, belajar maupun aktivitas lainnya termasuk ketika melayani. Lihatlah seruan ini: "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia." (Kolose 3:23). Ini menyatakan bentuk kerinduan Tuhan agar anak-anakNya selalu bekerja dengan serius dan sungguh-sungguh. Bukan untuk manusia, tapi lakukanlah seperti melakukannya untuk Tuhan. That's the state He does want us to reach. Dalam pelayanan pun demikian. Ada banyak orang yang bersungut-sungut dan tidak serius jika hanya melayani sedikit orang, apalagi satu orang saja. Itu bukanlah gambaran yang diinginkan Tuhan untuk kita lakukan! Bacalah Lukas 15, ada tiga perumpamaan disana yang sudah tidak asing lagi bagi kita mengenai hal ini. "Perumpamaan tentang domba yang hilang" (ay 4-7), "Perumpamaan tentang dirham yang hilang" (ay 8-10) dan "Perumpamaan tentang anak yang hilang" (ay 11-32). Semua ini menunjukkan kerinduan Tuhan untuk menemukan kembali anak-anakNya yang hilang. Tidak peduli berapa yang kembali, meski hanya satu sekalipun, Tuhan akan sangat bersukacita. Bahkan dikatakan: "Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat." (ay 10). Satu jiwa bertobat, itu sudah merupakan kebahagiaan besar bagi Tuhan dan seisi Surga.

Lakukanlah apapun yang dikehendaki Tuhan bagi kita secara serius dan sungguh-sungguh, dan peganglah tanggung jawab dengan sebaik-baiknya.  Mungkin kita tidak mendapat upah sepantasnya menurut ukuran dunia, tapi bukankah Tuhan mampu memberkati kita lewat banyak hal? Mungkin apa yang kita terima tidak sebanding dengan jerih payah kita hari ini, tapi apakah tidak mungkin kelak kita akan menuai secara luar biasa? Atau tidakkah mungkin Tuhan menurunkan berkatNya dalam kesempatan lain? Bisa jadi ada banyak tekanan atau resiko dalam mengemban tanggung jawab, tetapi ketika kita melakukannya dengan sungguh-sungguh dan melakukannya dalam nama Kristus, Tuhan akan berada di atasnya, menjaga kita dari segala hal buruk dan membawa kita keluar sebagai pemenang. Segala sesuatu yang kita lakukan secara sungguh-sungguh dan sesuai dengan rencana Tuhan tidak akan pernah ada yang sia-sia. Firman Tuhan berkata: "Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia." (1 Korintus 15:58). Daud tahu itu, dan dia sudah membuktikannya sendiri. Lewat keteladanan Yesus pun kita bisa belajar mengenai hal yang sama. Kerjakanlah semuanya dengan sebaik-baiknya dalam nama Yesus, seriuslah dalam mengemban tanggung jawab dan  Tuhan akan memperhitungkan segalanya, tidak akan ada satupun yang jatuh sia-sia.

Sekecil apapun pekerjaan anda hari ini, lakukanlah dengan sebaik-baiknya dengan tanggungjawab penuh kepada Tuhan
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on March 13, 2013, 04:50:16 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_03_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/sikap-sombong.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/sikap-sombong.html[/url])

Sikap Sombong

Ayat bacaan: 1 Korintus 4:7 (BIS)
=======================
"Siapakah yang menjadikan Saudara lebih dari orang lain? Bukankah segala sesuatu Saudara terima dari Allah? Jadi, mengapa mau menyombongkan diri, seolah-olah apa yang ada pada Saudara itu bukan sesuatu yang diberi?"

Adakah alasan yang cukup untuk membuat kita punya hak untuk bersikap sombong? Mungkin kita akan tahu untuk menjawab tidak, tapi pada kenyataannya banyak orang yang dengan mudahnya bisa menunjukkan sikap itu ketika mereka merasa di atas angin. Ketika mereka hidup relatif lebih berlimpah dibanding orang lain pada umumnya, ketika mereka mendapatkan posisi-posisi atau jabatan yang tinggi, ketika berprestasi membanggakan, terkenal dan sebagainya. Ada pula yang menunjukkan sikap seperti itu hanya karena ingin dihormati orang lain atau malah untuk sekedar menjaga image saja. Itu jelas bukan merupakan gambaran dari kehidupan ideal orang percaya. Kalaupun kita termasuk beruntung memiliki sesuatu yang lebih dari orang lain pada umumnya, perlukah kita menyombongkan diri karenanya? Bukankah semua itu pun berasal dari Tuhan dan tidak pernah boleh dipakai untuk menjadikan kita pribadi yang angkuh, sombong, atau arogan?

Sebuah sikap sombong alias tinggi hati bertolak belakang dengan sikap rendah hati yang justru seharusnya diadopsi dalam kehidupan Kekristenan. Sikap ini sayangnya kerap muncul saat kita terlalu terlena dengan apa yang kita miliki, lantas secara berlebihan menyikapi keistimewaan talenta, kondisi atau keadaan  yang lebih dari orang lain. Tuhan dengan tegas menentang sikap seperti ini. Sebagai contoh kita bisa melihat sikap buruk dari jemaat Korintus dahulu kala ketika Paulus hadir disana.

Jemaat Korintus pada masa itu merupakan gambaran jemaat yang sombong. Ada banyak ayat yang mengindikasikan hal ini seperti yang bisa kita lihat beberapa kali dalam 1 Korintus 4:6-21, 5:2, 8:1, 13:4 dan lain-lain, dimana kita melihat Paulus memberikan teguran atas kesombongan mereka. Lihatlah misalnya dalam ayat ini. "Saudara-saudara, kata-kata ini aku kenakan pada diriku sendiri dan pada Apolos, karena kamu, supaya dari teladan kami kamu belajar apakah artinya ungkapan: "Jangan melampaui yang ada tertulis", supaya jangan ada di antara kamu yang menyombongkan diri dengan jalan mengutamakan yang satu dari pada yang lain". (1 Korintus 4:6). Mereka lupa akan jati diri mereka dan tenggelam dalam kesombongan, sehingga merasa tidak lagi memerlukan apa-apa, termasuk tidak lagi membutuhkan hamba Tuhan dalam hidup mereka. "Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?" (ay 7). Cukup keras bukan tegurannya? Dalam versi BIS dikatakan: "Siapakah yang menjadikan Saudara lebih dari orang lain? Bukankah segala sesuatu Saudara terima dari Allah? Jadi, mengapa mau menyombongkan diri, seolah-olah apa yang ada pada Saudara itu bukan sesuatu yang diberi?" Perilaku mereka menunjukkan seolah-olah mereka tidak lagi memerlukan apa-apa. "As if you are already filled and think you have enough (you are full and content, feeling no need of anything more)!" Itu yang tertulis dalam versi bahasa Inggris untuk ayat 8. Mereka lupa diri dan tidak lagi menyadari bahwa semua yang mereka miliki sesungguhnya berasal dari Tuhan, dan karenanya tidak boleh ada orang yang menyombongkan dirinya. Berulang kali pula Paulus pun mengingatkan dengan tegas bahwa keselamatan itu adalah pemberian Tuhan, (1:18, 15:10). Paulus mengingatkan mereka bahwa Tuhanlah yang memilih (1:27-28), mengaruniakan RohNya sendiri untuk menyingkapkan rahasia-rahasia Ilahi (2:10-12), serta memberikan berbagai anugerah atas kasih karuniaNya (1:4-5). Semua berasal dari Tuhan, dan kerenanya tidak seorangpun punya hak untuk menyombongkan diri.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on March 14, 2013, 04:54:19 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_03_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/yefta-1.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/yefta-1.html[/url])

Yefta (1)

Ayat bacaan: Hakim Hakim 11:1
=========================
"Adapun Yefta, orang Gilead itu, adalah seorang pahlawan yang gagah perkasa, tetapi ia anak seorang perempuan sundal; ayah Yefta ialah Gilead."

Saya mengenal beberapa teman yang sempat tidak diinginkan untuk lahir. Kebanyakan alasannya adalah karena mereka hadir akibat kecelakaan dari hubungan diluar nikah, dan kedua orang tuanya tidak menginginkan kehadiran mereka karena merasa belum sanggup untuk memiliki anak. Ada yang sempat mengalami proses aborsi, tetapi ternyata Tuhan masih menghendaki mereka hidup. Tapi satu hal yang rata-rata sama, anak-anak yang tidak diinginkan ini tumbuh dengan kepahitan. Hidup mereka sulit untuk menjadi normal, dan ada  yang baru tahu belakangan karena hidupnya kacau, penuh rasa benci justru sebelum mereka mengetahui latar belakang mereka sendiri. Ada pula yang mengalami pertumbuhan tanpa mendapat kasih sayang dari orang tuanya. Mereka kerap dibanding-bandingkan dengan saudaranya yang lain, dikata-katai bodoh atau malah diberikan kepada orang lain sejak kecil. Proses menangani mereka biasanya butuh waktu lama, karena luka yang timbul sudah lama berada dalam diri mereka. Hanya beberapa dari mereka yang kemudian bisa mengampuni dan kemudian pulih dari kepahitan mereka. Sebagian lagi masih dalam proses, dan ada pula yang belum bisa lepas dari kepahitan mereka.

Apa yang menjadi kisah masa lalunya pernah pula dialami oleh seorang tokoh dalam Alkitab bernama Yefta. Nama ini mungkin tidak sering kita dengar, tapi ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari dirinya. Ia terlahir sebagai anak haram, hasil dari hubungan perzinahan sang ayah dengan seorang pelacur. Tentu tidak seorangpun ingin  dilahirkan dalam kondisi seperti itu, namun begitulah kenyataan yang harus ia terima.

Kisah Yefta dalam kitab Hakim Hakim dibuka dengan sebuah kenyataan kontras. "Adapun Yefta, orang Gilead itu, adalah seorang pahlawan yang gagah perkasa, tetapi ia anak seorang perempuan sundal; ayah Yefta ialah Gilead." (Hakim Hakim 11:1). Lihat pendahuluan kisah Yefta, menggambarkan bahwa Yefta, anak Gilead dan seorang pelacur. Kalau di jaman sekarang orang akan mengatakannya anak haram. Tetapi ia juga dikatakan terlebih dahulu sebagai pahlawan yang gagah perkasa. Kalau kita lihat dalam kitab Ibrani, penulisnya pernah pula menyinggung Yefta. "Dan apakah lagi yang harus aku sebut? Sebab aku akan kekurangan waktu, apabila aku hendak menceriterakan tentang Gideon, Barak, Simson, Yefta, Daud dan Samuel dan para nabi, yang karena iman telah menaklukkan kerajaan-kerajaan, mengamalkan kebenaran, memperoleh apa yang dijanjikan, menutup mulut singa-singa, memadamkan api yang dahsyat. Mereka telah luput dari mata pedang, telah beroleh kekuatan dalam kelemahan, telah menjadi kuat dalam peperangan dan telah memukul mundur pasukan-pasukan tentara asing." (Ibrani 11:32-34). Kita bisa lihat bahwa Yefta digolongkan ke dalam sekumpulan pahlawan/saksi iman bersama-sama dengan Daud, Samuel, Gideon, Barak dan Simson.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on March 14, 2013, 04:54:39 AM
Quote
Mari kita lihat lebih jauh kisah hidupnya. Yefta adalah sosok "the unwanted child". Karena ia lahir dari hasil perzinahan, maka kedua orang tuanya mengusir Yefta. Pahit memang. Dia tidak meminta untuk dilahirkan. Justru ayahnya yang bersalah, tapi ia yang harus menanggung. "Katanya kepadanya: Engkau tidak mendapat milik pusaka dalam keluarga kami, sebab engkau anak dari perempuan lain." (Hakim Hakim 11:2). Maka Yefta yang sudah terlahir dalam kondisi tidak mengenakkan ini pun harus pula menanggung beban yang justru bukan karena kesalahannya. Ia terbuang, menanggung kebencian seisi keluarga dan masyarakat akibat perbuatan ayahnya yang harusnya tidak ditimpakan kepadanya. Tapi itulah yang terjadi. Ia dianggap tidak lebih dari sampah dan harus dibuang, hingga ia pun bergabung dengan segerombolan penjahat/perampok. (ay 3) Inilah hidup yang harus ia pikul akibat dosa ayahnya. Hidup begitu pahit, tapi sepahit apapun, ia memilih terus menjalaninya.

Pada suatu hari datanglah serangan terhadap bangsa Israel yang dilakukan oleh bani Amon. Bangsa Israel terancam lalu menjadi ketakutan. Rupanya rasa takut yang begitu besar ini membuat para tua-tua di Gilead tidak lagi punya malu untuk menjilat ludahnya sendiri. Mereka memutuskan untuk menjemput Yefta, memintanya menjadi panglima untuk memerangi bani Amon. Yefta yang pernah mereka singkirkan, kini diminta kembali untuk menjadi pemimpin mereka. Yefta bertanya: "Tetapi kata Yefta kepada para tua-tua Gilead itu: "Bukankah kamu sendiri membenci aku dan mengusir aku dari keluargaku? Mengapa kamu datang sekarang kepadaku, pada waktu kamu terdesak?" (ay 7). Dan setelah mendapat jawaban para tua-tua itu, kita pun melihat sesuatu yang menarik dilakukan Yefta, yang membawanya menjadi sosok pahlawan dengan nama harum yang dikenang sepanjang masa.

(bersambung)
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on March 15, 2013, 05:00:51 AM
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_03_01_archive.html (http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_03_01_archive.html)

gak nyambung
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on March 16, 2013, 05:08:52 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_03_01_archive.html[/url]
renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/surat-cinta-dari-tuhan.html

Surat Cinta dari Tuhan

Ayat bacaan: Mazmur 104:31
========================
"Biarlah kemuliaan TUHAN tetap untuk selama-lamanya, biarlah TUHAN bersukacita karena perbuatan-perbuatan-Nya!"

Berteman dengan banyak fotografer membuat saya bisa melihat foto-foto pemandangan yang unik dan sangat menakjubkan hasil jepretan mereka. Itu sangat berbeda jika saya yang memotret. Bukan saja karena gear atau perangkat kamera mereka yang hebat, tapi sebagai fotografer mereka bisa mengambil angle, menangkap momen, mengatur fokus dan sebagainya yang bisa menghasilkan sebuah fotografi yang bisa berbicara banyak mengenai keindahan. Banyak dari mereka yang pergi ke banyak tempat-tempat baru bahkan yang terpencil seperti hutan dan sebagainya untuk memotret alam disana, dan itu semua memang mencengangkan. Beda tempat, beda nuansanya, beda tumbuhannya dan beda indahnya. Sunset di Bali terlihat berbeda dengan sunset di atas gunung Bromo, itu misalnya. Bagi saya, foto-foto ini menjadi seperti sebuah surat cinta tersendiri dari Tuhan untuk kita, anak-anakNya.

Di tengah perjuangan kita di dunia ini, kita sering lupa menyadari bahwa alam semesta ini diciptakan Tuhan begitu indahnya. Bintang-bintang berkelip, bulan purnama, langit biru diselimuti awan putih, rerumputan hijau dengan bunga warna warni mekar dimana-mana dan sebagainya. Semua itu tentu sangat indah untuk kita nikmati, tapi kesibukan dan berbagai beban hidup membuat kita jarang punya waktu untuk menikmati hasil ciptaanNya yang indah itu. Kita seringkali terlalu sibuk kepada permasalahan kita, kita berkeluh kesah dan mengira Tuhan berlama-lama untuk melakukan sesuatu, padahal jika kita mau mengambil waktu sebentar untuk melihat sekeliling kita, maka kita akan menyadari bahwa Tuhan sebenarnya telah melakukan begitu banyak hal yang indah bagi kita. Seperti keindahan alam misalnya, bukankah itu juga berkat yang luar biasa dari Tuhan yang seharusnya kita syukuri?

Meski kamera belum ditemukan pada masa Daud, tapi mungkin apa yang dilihat Daud kurang lebih sama dengan apa yang ditangkap oleh para teman-teman fotografer lewat lensa kameranya. Ketika Daud menuliskan Mazmur 104 misalnya, mungkin ia sedang mengagumi keindahan alam yang tersaji di depannya. Rasanya itu yang ia alami pada saat itu karena dalam Mazmur ini ia menggambarkan keindahan alam ciptaan Tuhan dengan sangat puitis. Alam yang indah itu jelas merupakan buah tangan Tuhan, sebuah bukti keiahian Tuhan yang bisa kita saksikan dengan amat sangat nyata. Hal tersebut disinggung Paulus pada suatu kali. "Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih." (Roma 1:20). Daud begitu mengagumi apa yang ia lihat, sehingga ia pun berkata "Biarlah kemuliaan TUHAN tetap untuk selama-lamanya, biarlah TUHAN bersukacita karena perbuatan-perbuatan-Nya!" (Mazmur 104:31).

"Biarlah Tuhan bersukacita karena perbuatan-perbuatanNya, lewat ciptaan-ciptaanNya.." kata Daud. Tapi melihat apa yang terjadi hari-hari ini rasanya tidak akan bisa membuat Tuhan tetap bisa bersukacita lewat ciptaan-ciptaanNya. Lihatlah bagaimana manusia terus saja merusak kelestarian lingkungan. Buang sampah sembarangan, sungai-sungai tercemar limbah industri dan buangan dari rumah-rumah pemukiman penduduk, asap yang keluar dari knalpot kendaraan dan pabrik-pabrik, penebangan liar, semua itu merusak segala keindahan yang Tuhan sediakan bagi kita. Kerusakan lingkungan membuat dunia ini semakin lama semakin hancur. Manusia yang diciptakan Allah secara istimewa ternyata tidak menghargai dan mensyukuri karya Penciptanya. Mereka membuang dan merobek-robek surat cinta dari Tuhan. Selain merusak lingkungan, menghancurkan ekosistem dan lain-lain, manusia pun masih sanggup saling membinasakan satu sama lain. Padahal semua manusia ini ciptaan Tuhan, yang berharga dimataNya. Tapi di mata sesama manusia, nyawa itu tidaklah penting, letaknya masih sangat jauh di bawah ego dan kepentingan diri sendiri. Dia sudah begitu baik dengan menganugerahkan keselamatan kepada kita lewat Kristus, tapi kita begitu sulit untuk sekedar menghargai kebaikanNya. Jika semua ini terjadi, bagaimana Tuhan bisa bersukacita karena perbuatan-perbuatanNya?
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on March 16, 2013, 05:10:48 AM
Quote
Segala yang ada di alam semesta merupakan ciptaan Tuhan yang luar biasa indahnya. Itu adalah anugerah yang amat besar yang telah ia sediakan sebelum Dia menciptakan manusia, agar ketika manusia hadir, keindahan itu bisa dinikmati secara langsung. Tuhan menyatakan bahwa apa yang Dia ciptakan adalah baik. Tanaman, pohon-pohon berbuah, tunas-tunas muda, itu diciptakan dengan baik (Kejadian 1:11-12). Matahari, bulan dan bintang, cakrawala, semua itu diciptakan Tuhan dengan baik. (ay 14-18). Segala jenis hewan, baik burung-burung di udara, ikan-ikan di laut dan hewan-hewan darat, semua Dia ciptakan dengan baik. (ay 20-22). Dikatakan bahwa bumi beserta segala isinya adalah milik Tuhan (Mazmur 24:1), tapi otoritas untuk menguasai diberikan kepada kita. (Kejadian 1:28). Menguasai bukanlah berarti bahwa kita boleh bertindak semena-mena dan merusak seenaknya, it's not meant to be the right to be abusive, tapi justru sebaliknya, kita diminta untuk menjaga dan melestarikan alam dan lingkungan hidup. Tuhan menitipkan itu semua kepada kita. Idealnya kita bersyukur. Idealnya kita bersukacita bersama-sama dengan Tuhan menikmati segala keindahan itu. Tapi apakah kita sudah melakukannya? Apakah Tuhan bisa bersukacita atas segala ciptaanNya hari ini? Apakah surat cinta dari Tuhan itu sudah kita tanggapi dengan sepantasnya?

Foto yang diambil teman-teman fotografer saya adalah gambaran kasih Tuhan yang sungguh besar buat kita. It's the love letter from God. Saya bersyukur jika hari ini masih bisa melihat alam yang indah seperti itu dari berbagai belahan dunia lewat jepretan mereka. Apakah anak cucu kita kelak masih bisa menyaksikannya? Tuhan menitipkan milikNya kepada kita untuk dikelola, dijaga, dilestarikan dan dikembangkan. Jika kita mau melakukannya, disanalah Allah akan bersukacita melihat seluruh ciptaanNya di muka bumi ini dapat saling bekerjasama dalam menghormati hasil karyaNya yang agung. Jika anda melihat sekeliling anda hari ini dan masih mendapati sesuatu yang indah, bersyukurlah untuk itu dan mari kita jaga bersama-sama agar anak cucu kita kelak masih bisa menyaksikan keindahan seperti yang kita lihat saat ini.

Alam yang indah merupakan milik Tuhan yang dititipkan kepada kita untuk dilestarikan
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on March 17, 2013, 04:11:41 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_03_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/lagu-merdu-tanpa-makna.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/lagu-merdu-tanpa-makna.html[/url])

Lagu Merdu Tanpa Makna

Ayat bacaan: Yehezkiel 33:32
======================
"Sungguh, engkau bagi mereka seperti seorang yang melagukan syair cinta kasih dengan suara yang merdu, dan yang pandai main kecapi; mereka mendengar apa yang kau ucapkan, tetapi mereka sama sekali tidak melakukannya."

Suka terhadap sebuah lagu belum tentu menjamin kita untuk menangkap makna dibalik lirik dari lagu tersebut. Banyak dari kita yang mungkin hanya menyukai rangkaian melodi yang tersusun dari musiknya saja tanpa mempedulikan lirik atau bahkan judulnya. Seorang teman misalnya, hanya menyukai lagu barat dari melodi dan beatnya karena ia tidak mengerti bahasa Inggris. Ada juga yang memang tidak menganggap penting lirik yang terkandung meski hafal dengan lagu tersebut. Sebagai pendengar atau penikmat lagu, kita pun bisa memilih apakah kita mau memperhatikan lirik-liriknya dan kemudian melakukan apa yang dinyanyikan, atau hanya menyukai musiknya tanpa memperhatikan apa yang dikatakan disana. Bicara soal syair atau lirik lagu, isinya bisa bermacam-macam. Ada yang berisi pesan yang membangun, inspirasional, ada pula yang mengajarkan hal-hal jahat. Apapun bentuknya, kita sendiri yang memutuskan apakah kita memperhatikan isi lagu itu dengan cermat atau tidak. Seyogyanya kita bisa mendapat bahan perenungan, pelajaran dari lagu-lagu yang berisi pesan yang baik atau setidaknya termotivasi untuk hal-hal baik lewat pesan tersebut, sebaliknya menjaga agar tidak terpengaruh pesan-pesan yang buruk. Tetapi sekali lagi semua tergantung dari kita, karena kita pun bisa saja hanya menjadi pendengar pasif yang cuma menikmati melodi atau merdunya suara yang bernyanyi tanpa mempedulikan isinya.

Saat ini bagaimana kerajinan anda dalam membaca Firman Tuhan yang ada di dalam Alkitab? Banyak di antara kita yang punya keinginan untuk semakin dekat dan taat lagi kepada Tuhan, dan itu bisa dibangun lewat ketekunan kita dalam mendalami Firman Tuhan. Adalah sangat baik jika kita rajin membaca Firman, karena itu akan membuat kita terhubung dengan Tuhan, mendengar suaraNya, mengenal pribadi Tuhan dan mengetahui kehendakNya sehingga lebih kuat menghadapi kesulitan-kesulitan yang mungkin menghadang di depan. Tapi akan jauh lebih baik lagi agar kita tidak berhenti sampai di situ saja. Sebab alangkah sia-sianya jika kita hanya membaca dan menganggap firman-firman itu bagaikan "lagu merdu" yang terdengar indah tapi tanpa makna, karena tidak ada iman yang menyertai kita dalam menerima Firman-Firman Tuhan tersebut. Hanya berhenti sampai membaca tapi tidak menjadi pelaku Firman itu akan menjadikan semuanya sia-sia saja. Dan Yakobus sudah mengingatkan hal itu. "Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri." (Yakobus 1:22).

Ada yang hanya suka membaca Firman tapi terlalu malas untuk meresapi dan merenungkan, apalagi melakukan. Dalam beribadah, ada banyak orang yang suka mendengar kotbah tapi tidak mau melakukan. Mereka senang dan tertawa ketika kotbah terdengar lucu tapi tidak berminat menangkap esensi Firman Tuhan yang terkandung di dalam kotbah tersebut, atau malah hanya pindah tidur saja. Tidaklah heran jika sejam setelahnya mereka ini sudah lupa dengan apa yang dikotbahkan, alih-alih mewujudkan Firman yang disampaikan dalam kehidupan sehari-hari. Yehezkiel adalah seorang nabi yang pernah mengalami hal tersebut pada masanya. Ia berbicara dan terus berbicara pada sekelompok orang yang suka mendengar tapi tidak mau melakukan. Dan Tuhan pun berkata pada Yehezkiel: "Dan mereka datang kepadamu seperti rakyat berkerumun dan duduk di hadapanmu sebagai umat-Ku, mereka mendengar apa yang kauucapkan, tetapi mereka tidak melakukannya; mulutnya penuh dengan kata-kata cinta kasih, tetapi hati mereka mengejar keuntungan yang haram. Sungguh, engkau bagi mereka seperti seorang yang melagukan syair cinta kasih dengan suara yang merdu, dan yang pandai main kecapi; mereka mendengar apa yang kau ucapkan, tetapi mereka sama sekali tidak melakukannya." (Yehezkiel 33:31-32). Jemaat yang ada di depan Yehezkiel waktu itu suka mendengar pesan Tuhan. Mereka duduk berkerumun seperti kita yang tengah mengikuti ibadah hari Minggu di gereja. Mereka familiar dengan suara Tuhan, bahkan mereka bisa mengatakan kata-kata berisikan cinta kasih, tetapi sesungguhnya semua itu hanya berhenti di telinga dan paling jauh di bibir saja. Mereka terus mencari keuntungan dengan hal-hal yang haram, mereka tetap tidak menuruti atau melakukan Firman yang mereka dengar tersebut. Apa yang mereka perbuat dalam kehidupan nyata mereka sehari-hari tidaklah mencerminkan apa yang mereka dengar sama sekali. Mereka hanya suka mendengar Yehezkiel menyampaikan Firman Tuhan, tapi semua berlalu begitu saja.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on March 17, 2013, 04:12:40 AM
Quote
Ingatlah bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong (Yakobus 2:20), bahkan dikatakan berarti mati. (ay 26). Adalah baik apabila kita rajin membaca Firman Tuhan, tapi jauh lebih baik lagi jika kita mau melakukannya. Menjadi pelaku Firman akan membuat iman kita hidup dan mengalami Tuhan dalam setiap langkah kita. Ini merupakan hal yang penting karena kita tidak tahu bagaimana kondisi yang akan kita hadapi dalam setahun ke depan. Dunia semakin sulit, hidup semakin sulit. Dengarlah pesan Kristus berikut ini: "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya." (Matius 7:24-27).

Perhatikan bahwa Yesus tidak berhenti pada perkataan "mendengar", tapi melanjutkan kalimat dengan "melakukannya". Inilah yang akan membuat kita kokoh, kuat, tegar dan mampu bertahan menghadapi badai kesulitan yang menghadang di depan. Kita tidak perlu takut akan masa depan, karena bagi orang yang mendengar dan melakukan selalu ada jaminan penyertaan Tuhan. Di dalam Kristus selalu ada pengharapan, pertolongan dan keselamatan. Perhatikan bahwa janji Tuhan ini tidak tergantung dari besar kecilnya masalah, tidak tergantung dari tingkat kesulitan yang harus kita hadapi. Tidak ada hal yang mustahil bagi Tuhan, dan Dia sanggup mengangkat kita tinggi-tinggi melewati kesulitan ekonomi dan kesulitan lainnya yang sedang menimpa dunia. Jangan berhenti hanya pada komitmen untuk lebih rajin membaca Alkitab, tapi miliki tekad untuk melakukan Firman Tuhan dengan lebih dalam pula. Berjalanlah dan hiduplah sebagai pelaku firman agar kita semua mampu melewati hari-hari kita dengan penuh sukacita bersama Tuhan.

Jangan biarkan Firman Tuhan berlalu hanya bagai lagu yang merdu tanpa makna, tetapi hidupilah dalam setiap langkah yang kita ambil
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on March 18, 2013, 04:59:09 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_03_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/the-three-little-pigs.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/the-three-little-pigs.html[/url])

The Three Little Pigs

Ayat bacaan: Matius 7:25
=====================
"Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu."

Anda tentu tidak asing lagi dengan sebuah kartun Walt Disney yang berjudul "The Three Little Pigs". Kartun pendek yang diproduksi tahun 1933 ini menceritakan kisah tentang tiga babi kecil bersaudara yang harus membangun tempat perlindungan paling aman dari ancaman seekor serigala jahat yang ingin memangsa mereka. Ketiganya sama-sama membangun rumah dengan bahan baku dan cara yang berbeda. Kedua babi yang paling kecil menganggap remeh sang serigala dan malah bernyanyi lagu yang mungkin masih anda ingat berjudul "Who's Afraid of the Big Bad Wolf?". Yang satu membangunnya dari jerami. Cepat, ringkas dan murah.  yang kedua memilih bahan dasar kayu, yang lebih kokoh tapi memerlukan modal dan waktu yang lebih lama. Anak babi tertua memilih untuk membangun dengan batu bata dan semen. Kedua adiknya yang membangun dengan jerami dan kayu tentu pekerjaannya lebih cepat selesai sehingga mereka sempat menertawakan saudara tertuanya yang masih tekun menumpuk batu bata demi batu bata dan menyatukannya dengan semen secara perlahan. Tapi si abang tertua tetap dengan tekun membangun tanpa mempedulikan cemoohan adik-adiknya. Pada satu hari serigala jahat pun datang. Rumah dari tumpukan jerami dengan mudah diluluh lantakkan dengan sekali hembus, dan kaburlah si adik terkecil dengan ketakutan. Ia lari berlindung di rumah kakaknya yang dibangun dari kayu. Ternyata rumah kayu itu juga masih mudah dirobohkan oleh si serigala jahat. Seketika mereka berdua berhamburan ketakutan, dan akhirnya bersembunyi ke rumah abang tertuanya. Di sana mereka aman dari kejaran serigala jahat karena sang serigala tidak mampu merubuhkan rumah yang kokoh dibangun di atas dasar kuat.

Ada makna penting yang terkandung di dalam kartun pendek ini yang sangat alkitabiah. Seperti halnya tiga babi kecil, demikianlah kita dalam kehidupan harus senantiasa mewaspadai iblis yang terus mengaum-aum mencari mangsa. (1 Petrus 5:8). Untuk mengahadapi itu, dasar yang kita pilih untuk menghindari serangan iblis itu tentu menjadi sangat penting. Apa yang harus kita lakukan? Apakah cukup dengan rajin mendengar Firman Tuhan? Alkitab berkata tidak cukup. Seperti yang sudah saya bahas kemarin, Yesus mengingatkan kita bahwa sekedar mendengar tidaklah cukup. Ada banyak di antara kita yang sejak lahir sudah dengan setia beribadah ke Gereja, rajin mendengar kotbah, kerap mengunjungi kebaktian-kebaktian rohani, membaca buku-buku rohani atau membeli CD/kaset/DVD kotbah, namun ternyata mereka masih belum menunjukkan pribadi yang sesuai dengan apa yang telah bertahun-tahun mereka pelajari dan dengar.

Perumpamaan singkat mengenai "Dua Macam Dasar" yang diajarkan oleh Yesus sendiri menggambarkan hal ini dengan jelas. Yesus berkata: "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya." (Matius 7:24-27).

Mari kita telaah bunyi ayat ini. Perhatikan bahwa kedua orang yang membangun rumah ini sama-sama orang yang mendengar perkataan Yesus. Artinya keduanya adalah orang yang sudah menerima Yesus dan mengetahui pengajaranNya. Tapi ada perbedaan nyata di antara keduanya. Keduanya sama-sama mendengar, tapi hanya satu yang mempraktekkannya dalam hidup, sementara yang satu berhenti pada mendengar saja. Akibatnya, ketika hujan dan banjir masalah datang, si orang bijaksana yang melakukan apa yang telah ia dengar tidak tergoncang dan tidak rubuh karena didirikan di atas batu yang kokoh. Sebaliknya si orang yang bodoh yang mendirikan kehidupannya di atas pasir, hidupnya akan rubuh dan porak poranda karena pondasi dan ketahanannya tidak cukup kuat. Perumpamaan sederhana yang sangat singkat ini merupakan penutup dari rangkaian kotbah Yesus di atas bukit. Memang singkat, namun maknanya sungguh dalam dan sangat penting sehingga patut kita cermati baik-baik dalam proses perjalanan kehidupan kita di dunia ini.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on March 18, 2013, 04:59:33 AM
Quote
Yesus mengingatkan bahwa apa yang telah Dia katakan, Dia ajarkan, Dia firmankan hendaklah tidak berhenti hanya pada sebatas mendengar saja, melainkan justru harus dilanjutkan dengan melakukannya, mempraktekkannya dalam hidup sehari-hari. Yakobus mengingatkan agar kita menjadi para pelaku firman. "Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu. Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri...Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya." (Yakobus 1:21-25). Sebuah kehidupan yang kokoh haruslah diletakkan di atas dasar Yesus Kristus, Sang Batu Penjuru. (Efesus 2:20). Lalu lihat pula ayat berikut: "Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus." (1 Korintus 3:11). Kehidupan yang dibangun dasar iman kuat dalam Kristus akan kokoh dari segala situasi. Untuk mencapai itu, kita harus melakukan lebih dari sekedar pendengar yang baik. Kita harus menjadi pelaku firman, menerapkan segala Firman Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Dengan membangun di atas dasar Kristus, kita tidak akan gampang goyah ketika angin ribut, badai hujan dan banjir datang menerpa kita. Kita akan tetap kuat, tetap penuh oleh ucapan syukur, tidak harus kehilangan sukacita dan berubah menjadi takut karena kita bukan hanya mendengar, tapi sudah melakukannya dalam kehidupan kita. Setiap Firman yang kita aplikasikan secara nyata itu seperti kita menumpuk satu batu kokoh dalam membangun rumah kita. Satu persatu batu itu kita susun hingga kita pun akhirnya bisa membangun hidup di atas sebuah dasar kokoh dengan tembok yang kokoh pula. Itu akan membuat kita aman dari keadaan sesulit apapun yang terjadi dalam kehidupan kita. Pemahaman akan Firman Tuhan, rajin beribadah, rajin mendengar kotbah, rajin membaca buku-buku rohani, rajin membaca Alkitab, semua itu adalah sungguh baik, namun tidaklah cukup untuk menghasilkan sebuah kedewasaan rohani dan pertumbuhan iman yang baik. Itu juga tidak akan cukup untuk mengatasi berbagai persoalan, kecuali dengan mempraktekkan dan menerapkannya dalam kehidupan kita sehari-hari secara nyata. Hidup tidaklah hanya ditentukan oleh pengalaman, kekayaan, pendidikan, status dan sebagainya,tetapi yang terpenting adalah di atas dasar apa kita membangunnya. Seperti kisah ke tiga anak babi di atas, kita memang tidak perlu takut kepada iblis, tapi bukan berarti bahwa kita boleh mengabaikan dan menyepelekan ancamannya sehingga kita menjadi lengah dan lemah. Perhatikan betul di atas dasar apa kita membangun kehidupan dan iman kita, karena itu akan menentukan sejauh mana kita akan bisa tetap aman hingga akhir.

Jangan berhenti jadi pendengar, jadilah pelaku Firman
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on March 19, 2013, 04:55:56 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_03_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/cinta-dan-relatifnya-waktu.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/cinta-dan-relatifnya-waktu.html[/url])

Cinta dan Relatifnya Waktu

Ayat bacaan: Kejadian 29:20
======================
"Jadi bekerjalah Yakub tujuh tahun lamanya untuk mendapat Rahel itu, tetapi yang tujuh tahun itu dianggapnya seperti beberapa hari saja, karena cintanya kepada Rahel."

Kecepatan waktu itu sama dari dahulu sampai sekarang, dan berlaku sama pula bagi semua orang tanpa terkecuali. Tapi perasaan kita dalam merasakan cepatnya waktu berjalan bisa berbeda-beda, tergantung apa yang sedang kita alami atau rasakan. Ketika anda tengah terkantuk-kantuk dalam ibadah raya di gereja atau merasa kotbah yang disampaikan membosankan, waktu rasanya begitu lama berlalu. Tapi ketika anda antusias mendengarkannya, apalagi kalau pendetanya punya cara yang menyenangkan dalam menyampaikan Firman Tuhan, maka anda pun akan merasa waktu berjalan dengan sangat cepat. Ketika sedang menunggu atau mengantri, waktu terasa begitu lambat berjalan. Begitu juga bagi anda yang masih kuliah atau sekolah, pelajaran yang bagi anda membosankan akan membuat waktu terasa berjalan begitu lambat. Tapi sebaliknya waktu terasa begitu cepat ketika kita sedang mengerjakan sesuatu yang menyenangkan. Kita sering lupa waktu ketika sedang bermain, ngobrol dengan sahabat dan sebagainya. Apalagi ketika sedang bersama kekasih, waktu terasa seperti berlari sprint saja. Baru saja bertemu, tiba-tiba sudah harus berpisah. Waktu seakan begitu kencang berjalan. Sebaliknya ketika anda tengah menanti antrian, waktu bisa terasa panjang.

Berbicara mengenai cinta dan waktu, sangat menarik melihat sekelumit kisah percintaan antara Yakub dan Rahel yang tertulis dalam Kejadian 29. Ayat bacaan hari ini diambil dari pasal tersebut, bunyinya: "Jadi bekerjalah Yakub tujuh tahun lamanya untuk mendapat Rahel itu, tetapi yang tujuh tahun itu dianggapnya seperti beberapa hari saja, karena cintanya kepada Rahel." (Kejadian 29:20). Bukan tujuh jam, bukan tujuh hari, tapi tujuh tahun lamanya Yakub harus bekerja di rumah Laban, ayah Rahel agar bisa menjadikan pujaannya sebagai istri. Tujuh tahun itu merupakan waktu yang sangat lama. Jika kita bisa menggerutu di saat menunggu antrian dua jam saja, bayangkan jika harus bekerja cuma-cuma untuk menanti sebuah harapan hingga tercapai. Tapi Yakub nyatanya melakukan itu dengan senang hati. Apa yang menggerakkannya? Ayat tersebut secara jelas menyebutkan alasannya, yaitu "karena cintanya kepada Rahel". Karena cinta. Betapa relatifnya waktu itu bagi kita. Yakub merasa tujuh tahun itu bagaikan beberapa hari saja, dan adalah dorongan cinta yang bisa membuat waktu itu serasa cepat berlalu. Cinta ternyata dapat memperpendek waktu. Meskipun waktu dalam keadaan nyata waktu berjalan sama cepatnya bagi setiap manusia, tapi waktu bisa terasa seolah cepat atau lambat, tergantung perasaan kita. Yang jelas, jatuh cinta bisa membuat waktu terasa sangat pendek. Saya yakin kita semua pun pernah merasakan hal yang sama ketika tengah jatuh cinta.

Kalau dalam hubungan antar manusia hal itu bisa kita rasakan, bagaimana dengan hubungan kita dengan Tuhan? Terasa singkat atau lamakah rasanya waktu yang kita gunakan untuk bersekutu dengan Tuhan di saat-saat teduh kita? Misalnya setengah jam saja sehari saja yang kita pergunakan secara teratur untuk bersaat teduh, terasa cepat atau lambatkah itu bagi kita? Apakah kita memiliki kerinduan terus menerus untuk bersekutu denganNya atau malah sekarang terasa membosankan? Ini adalah pertanyaan yang sesungguhnya sangat penting dan sangat menentukan seperti apa kuatnya kita berjalan dalam hidup ini dan dimana kita berdiri saat ini.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on March 19, 2013, 04:56:17 AM
Quote
Kekuatan dan kesetiaan kasih Tuhan bagi kita sesungguhnya sudah jelas. Tuhan selalu rindu berada dekat dengan kita. Dia sudah berulang-ulang berjanji tidak akan pernah meninggalkan kita, dan Tuhan selalu dan akan selalu memegang janjinya. Jika dalam lembah kekelaman saja Tuhan tidak meninggalkan kita, bagaimana mungkin Dia membiarkan kita sendiri menghadapi berbagai kesulitan hidup? Yakobus menyadari hal itu. Karenanya ia pun menyatakan "Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu." (Yakobus 4:8a). Daud sudah membuktikan itu jauh sebelumnya. Kita bisa melihat bagaimana keintiman atau kekariban yang terbangun antara Daud dengan Tuhan hampir disepanjang kitab Mazmur. Terasa begitu harmonis, begitu dekat, begitu indah. Lihatlah bagaimana Daud menggambarkan kedekatannya dengan Tuhan. "Sebab kasih setia-Mu lebih baik dari pada hidup; bibirku akan memegahkan Engkau." (Mazmur 63:3). Bagi Daud, kasih setia Tuhan lebih besar dari hidup itu sendiri. It's larger than life. Jika anda mencintai seseorang dengan begitu besar, hingga rela mengorbankan nyawa anda sekalipun demi dia, Tuhan mengasihi anda seperti itu. Kehadiran Yesus untuk menebus dosa-dosa kita menjadi bukti yang tidak terbantahkan. Jika anda merasa waktu berjalan singkat ketika anda tengah berada dekat dengan orang yang anda cintai, seharusnya seperti itu pula yang anda rasakan dalam setiap momen-momen pribadi yang anda ambil untuk bersekutu dengan Tuhan.

Apa yang penting untuk kita renungkan adalah sejauh mana saat ini kita mengasihi Tuhan, yang sudah mengasihi kita sedemikian besar terlebih dahulu justru di saat kita masih berdosa. "Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa." (Roma 5:8). Kita diangkat menjadi anak-anakNya sejak semula oleh Kristus, dan itu merupakan bentuk kasih Tuhan yang nyata bagi kita. "Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya." (Efesus 1:5-6). Kalau begitu, sekarang semuanya tergantung kita sendiri. Mari kita periksa diri kita apakah kita masih merasakan kasih mula-mula atau sebenarnya tanpa kita sadari kasih kita itu sudah mulai mendingin atau membeku? Apakah saat ini anda masih merasakan gairah dalam bersaat teduh atau merasa bosan, terpaksa atau bahkan sering tertidur? Apakah anda masih mengisi banyak waktu dengan doa sebagai saluran dialog dengan Tuhan atau merasa bahwa itu bukan lagi hal yang penting dibandingkan aktivitas-aktivitas lainnya sehari-hari? Dari ukuran kecepatan waktu yang kita rasakan ketika bersekutu dengan Tuhan  sebenarnya kita bisa mengetahui dimana posisi kita saat ini. Bila kasih kita kepada Tuhan berkobar-kobar, setengah jam akan terasa terlalu singkat. Sedangkan jika kasih itu mulai pudar, maka setengah jam akan terasa sangat lama dan seperti buang-buang waktu. Bagi yang mulai merasa jauh dari Tuhan, mulai kehilangan motivasi, kehilangan semangat untuk bersekutu denganNya, Tuhan masih membuka kesempatan untuk berbenah. "Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat." (Wahyu 4:5). Ini saatnya kita pulihkan kembali kasih mula-mula kita. Kembalilah miliki kasih yang begitu besar, menggelora dan berkobar kepada Tuhan, dan rasakan kembali betapa waktu seolah terlalu singkat bagi kita dalam menikmati kedamaian berada di hadiratNya yang kudus.

Cepat lambatnya waktu bisa terasa sangat relatif, tergantung dari perasaan kita
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on March 20, 2013, 05:01:37 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_03_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/membuka-mata.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/membuka-mata.html[/url])

Membuka Mata

Ayat bacaan: Mazmur 119:18
=====================
"Singkapkanlah mataku, supaya aku memandang keajaiban-keajaiban dari Taurat-Mu."

Berjalan dengan dan tanpa Firman Tuhan setiap hari sangatlah berbeda. Ini bisa menjadi kesimpulan saya karena saya telah merasakan keduanya dalam perjalanan hidup saya. Dahulu sebelum saya bertobat saya sama sekali tidak mengetahui apa-apa mengenai kebenaran. Lantas setelah saya bertobat, saya ternyata masih butuh waktu lagi untuk dibentuk hingga akhirnya sampai kepada sebuah kesadaran penuh akan pentingnya hidup bersama Firman Tuhan. Apa yang saya alami selama setidaknya empat atau lima tahun terakhir bersama Firman Tuhan tidaklah sedikit. Ada begitu banyak pengalaman dimana saya bisa melihat betapa besarnya kuasa Tuhan, dan bagaimana Tuhan ternyata masih bekerja dalam begitu banyak hal hingga hari ini. Berbagai mukjizat yang menunjukkan kebesaranNya pun sudah tak terhitung saya alami. Masalah hidup memang tidak serta-merta hilang seluruhnya. Ada saat-saat dimana saya masih berhadapan dengan berbagai pergumulan. Tapi luar biasanya, saya tidak perlu khawatir tentang apapun. Ketika saya menyerahkan hidup saya dan keluarga ke dalam tanganNya, saya tahu bahwa saya tidak akan pernah menghadapi apa-apa sendirian. Tuhan selalu ada berjalan bersama-sama. Luar biasanya lagi, ada begitu banyak rahasia yang disingkapkanNya seiring perjalanan saya menulis renungan buat anda setiap harinya. Ayat yang sama aplikasinya bisa berbeda di waktu lain, dan hebatnya sangat-sangat membantu dalam menghadapi masa-masa sulit. Ada begitu banyak rahasia-rahasia KerajaanNya yang disingkapkan Tuhan lewat ayat demi ayat, yang akan sayang sekali jika terlewatkan begitu saja. Itu akan kita lewatkan apabila kita mengabaikan pentingnya untuk terus membaca, merenungkan dan menghidupi FirmanNya setiap hari secara teratur.

Ada banyak orang percaya yang tidak menyadari pentingnya hidup bersama Firman Tuhan ini. Jikapun harus membaca Alkitab, tidak sedikit orang yang hanya membacanya selintas saja tanpa direnungkan, dicerna apalagi dilakukan secara nyata atau aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. Padahal apa yang terkandung di dalam Firman Tuhan itu sungguh luar biasa. Ada kuasa Ilahi dibalik setiap Firman Tuhan yang bukan saja sanggup menjawab segala permasalahan kita tetapi juga mampu menghasilkan sesuatu yang bahkan tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Kita perlu membuka mata, baik sepasang mata yang kita pergunakan untuk membaca maupun mata hati kita agar bisa melihat keajaiban demi keajaiban yang terkadung di balik setiap Firman Tuhan. Pemazmur menyadari pentingnya hal itu. Lihatlah doa Pemazmur berikut: "Singkapkanlah mataku, supaya aku memandang keajaiban-keajaiban dari Taurat-Mu." (Mazmur 119:18). Versi bahasa Inggrisnya berbunyi: "Open my eyes, that I may behold wondrous things out of Your law." Saya menyukai ayat ini dan sering saya bawa dalam doa. Bukan saja agar saya bisa mendapat penyingkapan Tuhan di balik FirmanNya untuk dibagikan kepada teman-teman, tetapi juga berguna bagi saya untuk terus memperbaiki diri agar bisa bertumbuh lebih lagi dari hari ke hari.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on March 20, 2013, 05:02:01 AM
Quote
Semakin banyak dan semakin dalam kita mengenal Firman Tuhan itu bermakna mengenal pribadi Tuhan lebih jauh. Semakin lama kita akan semakin menyadari betapa besarnya kasih Tuhan kepada kita, betapa Tuhan peduli dan telah mempersiapkan segala pedoman atau panduan yang kita butuhkan untuk bisa terus hidup sesuai kehendakNya hingga selamat sampai di akhir. Paulus mengatakan hal ini dengan jelas. "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran." (2 Timotius 3:16). Dan lewat segala yang diilhamkan Allah dalam alkitab ini kita bisa diperlengkapi dengan sempurna pula untuk setiap pekerjaan yang baik. "Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik." (ay 17). Kita tidak akan bisa mengetahui kebenaran yang hakiki apabila kita tidak menganggap serius pentingnya untuk berakar dalam FirmanNya dalam menghadapi kehidupan di muka bumi ini.

Firman Tuhan itu penting, begitu penting sehingga dikatakan lebih tajam dari pedang bermata dua manapun. "Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita." (Ibrani 4:12). Firman Tuhan memiliki kekuatan, keajaiban, dan kuasa yang sangat besar, yang alangkah sayangnya apabila kita abaikan. Oleh karena itu jangan pernah malas membaca Firman Tuhan. Teruslah bertekun di dalamnya, renungkan, perkatakan dan lakukan. Jika itu yang kita buat, maka kuasa Firman Tuhan itu akan begitu nyata bagi kita. Firman Tuhan telah disediakan secara lengkap untuk menjadi panduan bagi kita untuk menjalani hidup. Ada banyak tuntunan, arahan, nasihat, teguran, pelajaran, contoh dan berbagai hal lainnya yang akan sangat berguna bagi kita yang hidup di dunia yang sulit ini. Ada banyak janji Tuhan dan penunjuk jalan agar kita tahu bagaimana untuk terus melangkah menuju keselamatan. Dan ada banyak keajaiban dan rahasia-rahasia Kerajaan Allah yang akan membuat kita tidak pernah berhenti terpesona di dalamnya. Jangan abaikan Firman Tuhan, jangan sepelekan. Galilah terus dan temukanlah berbagai hal menakjubkan yang terkandung dalam setiap Firman yang mengandung kebenaran yang berasal dari Tuhan.

Merujuklah kepada Alkitab dalam menjalani segala aspek kehidupan
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on March 21, 2013, 04:58:34 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_03_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/membuka-mata.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/membuka-mata.html[/url])

Membuka Mata

Ayat bacaan: Mazmur 119:18
=====================
"Singkapkanlah mataku, supaya aku memandang keajaiban-keajaiban dari Taurat-Mu."

Berjalan dengan dan tanpa Firman Tuhan setiap hari sangatlah berbeda. Ini bisa menjadi kesimpulan saya karena saya telah merasakan keduanya dalam perjalanan hidup saya. Dahulu sebelum saya bertobat saya sama sekali tidak mengetahui apa-apa mengenai kebenaran. Lantas setelah saya bertobat, saya ternyata masih butuh waktu lagi untuk dibentuk hingga akhirnya sampai kepada sebuah kesadaran penuh akan pentingnya hidup bersama Firman Tuhan. Apa yang saya alami selama setidaknya empat atau lima tahun terakhir bersama Firman Tuhan tidaklah sedikit. Ada begitu banyak pengalaman dimana saya bisa melihat betapa besarnya kuasa Tuhan, dan bagaimana Tuhan ternyata masih bekerja dalam begitu banyak hal hingga hari ini. Berbagai mukjizat yang menunjukkan kebesaranNya pun sudah tak terhitung saya alami. Masalah hidup memang tidak serta-merta hilang seluruhnya. Ada saat-saat dimana saya masih berhadapan dengan berbagai pergumulan. Tapi luar biasanya, saya tidak perlu khawatir tentang apapun. Ketika saya menyerahkan hidup saya dan keluarga ke dalam tanganNya, saya tahu bahwa saya tidak akan pernah menghadapi apa-apa sendirian. Tuhan selalu ada berjalan bersama-sama. Luar biasanya lagi, ada begitu banyak rahasia yang disingkapkanNya seiring perjalanan saya menulis renungan buat anda setiap harinya. Ayat yang sama aplikasinya bisa berbeda di waktu lain, dan hebatnya sangat-sangat membantu dalam menghadapi masa-masa sulit. Ada begitu banyak rahasia-rahasia KerajaanNya yang disingkapkan Tuhan lewat ayat demi ayat, yang akan sayang sekali jika terlewatkan begitu saja. Itu akan kita lewatkan apabila kita mengabaikan pentingnya untuk terus membaca, merenungkan dan menghidupi FirmanNya setiap hari secara teratur.

Ada banyak orang percaya yang tidak menyadari pentingnya hidup bersama Firman Tuhan ini. Jikapun harus membaca Alkitab, tidak sedikit orang yang hanya membacanya selintas saja tanpa direnungkan, dicerna apalagi dilakukan secara nyata atau aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. Padahal apa yang terkandung di dalam Firman Tuhan itu sungguh luar biasa. Ada kuasa Ilahi dibalik setiap Firman Tuhan yang bukan saja sanggup menjawab segala permasalahan kita tetapi juga mampu menghasilkan sesuatu yang bahkan tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Kita perlu membuka mata, baik sepasang mata yang kita pergunakan untuk membaca maupun mata hati kita agar bisa melihat keajaiban demi keajaiban yang terkadung di balik setiap Firman Tuhan. Pemazmur menyadari pentingnya hal itu. Lihatlah doa Pemazmur berikut: "Singkapkanlah mataku, supaya aku memandang keajaiban-keajaiban dari Taurat-Mu." (Mazmur 119:18). Versi bahasa Inggrisnya berbunyi: "Open my eyes, that I may behold wondrous things out of Your law." Saya menyukai ayat ini dan sering saya bawa dalam doa. Bukan saja agar saya bisa mendapat penyingkapan Tuhan di balik FirmanNya untuk dibagikan kepada teman-teman, tetapi juga berguna bagi saya untuk terus memperbaiki diri agar bisa bertumbuh lebih lagi dari hari ke hari.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on March 21, 2013, 04:58:55 AM
Quote
Semakin banyak dan semakin dalam kita mengenal Firman Tuhan itu bermakna mengenal pribadi Tuhan lebih jauh. Semakin lama kita akan semakin menyadari betapa besarnya kasih Tuhan kepada kita, betapa Tuhan peduli dan telah mempersiapkan segala pedoman atau panduan yang kita butuhkan untuk bisa terus hidup sesuai kehendakNya hingga selamat sampai di akhir. Paulus mengatakan hal ini dengan jelas. "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran." (2 Timotius 3:16). Dan lewat segala yang diilhamkan Allah dalam alkitab ini kita bisa diperlengkapi dengan sempurna pula untuk setiap pekerjaan yang baik. "Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik." (ay 17). Kita tidak akan bisa mengetahui kebenaran yang hakiki apabila kita tidak menganggap serius pentingnya untuk berakar dalam FirmanNya dalam menghadapi kehidupan di muka bumi ini.

Firman Tuhan itu penting, begitu penting sehingga dikatakan lebih tajam dari pedang bermata dua manapun. "Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita." (Ibrani 4:12). Firman Tuhan memiliki kekuatan, keajaiban, dan kuasa yang sangat besar, yang alangkah sayangnya apabila kita abaikan. Oleh karena itu jangan pernah malas membaca Firman Tuhan. Teruslah bertekun di dalamnya, renungkan, perkatakan dan lakukan. Jika itu yang kita buat, maka kuasa Firman Tuhan itu akan begitu nyata bagi kita. Firman Tuhan telah disediakan secara lengkap untuk menjadi panduan bagi kita untuk menjalani hidup. Ada banyak tuntunan, arahan, nasihat, teguran, pelajaran, contoh dan berbagai hal lainnya yang akan sangat berguna bagi kita yang hidup di dunia yang sulit ini. Ada banyak janji Tuhan dan penunjuk jalan agar kita tahu bagaimana untuk terus melangkah menuju keselamatan. Dan ada banyak keajaiban dan rahasia-rahasia Kerajaan Allah yang akan membuat kita tidak pernah berhenti terpesona di dalamnya. Jangan abaikan Firman Tuhan, jangan sepelekan. Galilah terus dan temukanlah berbagai hal menakjubkan yang terkandung dalam setiap Firman yang mengandung kebenaran yang berasal dari Tuhan.

Merujuklah kepada Alkitab dalam menjalani segala aspek kehidupan
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on March 22, 2013, 04:52:45 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_03_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/air-dan-api-1.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/air-dan-api-1.html[/url])

Air dan Api (1)

Ayat bacaan: Yesaya 43:2-3a
=====================
"Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau."

Mana yang lebih parah, mati tenggelam atau terbakar? Ini pertanyaan yang cukup menjebak, karena tentu saja keduanya sama-sama tidak enak dan menyakitkan. Seringkali dalam menghadapi permasalahan hidup kita berhadapan dengan situasi-situasi dimana kita merasa 'tercekik' seperti orang yang tenggelam atau perih bagaikan terbakar api. Yang lebih menyakitkan lagi adalah ketika kita merasa menghadapinya hanya sendirian saja. itu adalah salah satu ketakutan yang terbesar manusia yang sudah dialami oleh begitu banyak orang. Betapa menyakitkan ketika harus menghadapi masalah sendirian tanpa teman, saudara, keluarga dan lain-lain.Mungkin benar bahwa kita tidak bisa sepenuhnya berharap kepada orang lain untuk menolong kita setiap kali kita menghadapi masalah. Tapi apakah benar kita memang sendirian? Are we really alone when we are in the times of trouble? Alkitab tidak pernah mengatakan demikian. Ada Tuhan yang sudah berjanji tidak akan pernah meninggalkan kita, dan kita tahu bahwa Dia akan selalu setia terhadap janjiNya.

Situasi yang begitu sulit hingga bisa membuat orang kehilangan akal dan putus asa bahkan terasa mengerikan ketika berhadapan dengan air dan api keduanya pernah digambarkan di dalam Alkitab, yaitu dalam kisah pelarian bangsa Israel yang terbentur pada bentangan Laut Teberau dan Sadrakh, Mesakh dan Abednego yang menghadapi ancaman dibakar hidup-hidup karena menolak menyembah berhala.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on March 22, 2013, 04:53:09 AM
Quote
Pertama mari kita lihat kisah indah penyelamatan Tuhan terhadap bangsa Israel ketika tengah terjepit antara laut yang membentang luas dengan ratusan bala tentara Firaun yang mengejar dari belakang dalam kitab Keluaran pasal 14. Situasi seperti itu tak pelak membuat siapapun termasuk bangsa Israel pada waktu itu panik. Mereka berpikir bahwa itulah akhir pelarian mereka. Sebentar lagi tentara Firaun akan mendapati mereka di tepi laut dan mereka semua pasti akan dibantai habis oleh bala tentara yang besar itu. Tapi lihatlah apa yang terjadi kemudian. Laut Teberau terbelah sehingga mereka bisa berjalan di tengah-tengah laut di tempat kering. Air menjadi tembok buat mereka (ay 15 - 22). Selanjutnya ketika bala tentara Firaun mengejar hingga ke tengah laut, air pun kembali berbalik ke posisi semula dan menenggelamkan Firaun dan seluruh pasukannya. (ay 26-28). Mereka pun akhirnya selamat sampai ke seberang (ay 30). Dengan kuasaNya yang ajaib Tuhan membuat air laut terbelah, berdiri tegak bak dinding di kedua sisinya, sehingga orang Israel bisa berjalan melintasi lautan yang terbelah bagaikan berjalan di tanah yang kering. Tidak masuk akal, tetapi nyata. Sebagai bukti kuatnya, kisah ini pun disebutkan berulang kali dalam kitab-kitab lainnya dalam rentang masa yang jauh sesudah kejadian tersebut seperti dalam Mazmur 106:7-12 dan Nehemia 9:9-11.

Selanjutnya mari kita lihat sejenak kisah Hanaya, Misael dan Azarya yang juga dikenal dengan nama Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Kisah ini tertulis dalam kitab Daniel. Mereka menghadapi ancaman kematian dengan cara mengerikan jika masih terus mempertahankan iman mereka dan menolak menyembah berhala-berhala Babel dan rajanya. Menghadapi ancaman, Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab: "Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini.Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu." (Daniel 3:16-18). Sadrakh, Mesakh dan Abednego menolak menyembah berhala-berhala yang menjadi tuhan bangsa Babel, dan akibatnya merekapun dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala. Tapi apa yang kemudian terjadi? Sadrakh, Mesakh dan Abednego disertai malaikat dan tidak cedera sedikitpun. Apa yang mereka alami bahkan menjadi kesaksian luar biasa akan kuasa Tuhan yang mereka sembah. (ay 24-30).

(bersambung)
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on March 23, 2013, 04:53:09 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_03_01_archive.html[/url]
renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/air-dan-api-2.html

Air dan Api (2)

 (sambungan)

Sebuah ayat yang menarik bisa kita baca di dalam kitab Yesaya. Disana dikatakan: 
"Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau." (Yesaya 43:2-3a).

Air dan api, demikian dua elemen yang dipakai dalam ayat tersebut, itu menggambarkan penderitaan atau kesulitan-kesulitan yang kita lalui dalam hidup kita. Dalam menghadapi gelombang air yang ganas atau di tengah nyala api yang panas, Tuhan ternyata menjanjikan penyertaanNya yang menyelamatkan. Ada kalanya kita memang harus melalui air yang terkadang bisa berombak tinggi atau terkadang harus menempuh api yang panas. Tetapi Tuhan berkata bahwa meski harus menyeberang air kita tidak akan hanyut, dan kalaupun harus melalui api kita tidak akan terbakar. Tuhan menjanjikan penyertaanNya yang menyelamatkan. Seperti itulah janji Tuhan, dan itu menunjukkan dengan jelas bahwa dalam kondisi sesulit apapun Tuhan tetap ada bersama kita, dan Dia siap untuk selalu melindungi kita.

Kembali kepada kisah Tuhan yang membelah Laut Teberau agar bangsa Israel bisa selamat dari kejaran pasukan Mesir pimpinan Firaun, dalam Keluaran 15:1-21 kita bisa melihat bunyi nyanyian Musa bersama dengan bangsa Israel yang selamat. "Karena nafas hidung-Mu segala air naik bertimbun-timbun; segala aliran berdiri tegak seperti bendungan; air bah membeku di tengah-tengah laut." (ay 8). Dengan kuasa yang tak terbatas Tuhan membuat hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Dia membelah air hingga berdiri pada kedua sisi bagai tembok, dan disanalah kemudian bangsa Israel berjalan bagai melintasi tanah kering. Dalam ayat 19 kita bisa membacanya: "Ketika kuda Firaun dengan keretanya dan orangnya yang berkuda telah masuk ke laut, maka TUHAN membuat air laut berbalik meliputi mereka, tetapi orang Israel berjalan di tempat kering dari tengah-tengah laut." Itulah bukti kasih setia Tuhan yang sungguh nyata. Bangsa Israel sudah mengalaminya, dan jika demikian, mengapa tidak buat kita?
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on March 23, 2013, 04:53:30 AM
Quote
Berkali-kali Tuhan sudah mengingatkan kita akan penyertaanNya. Lihatlah Firman Tuhan ketika Yosua baru diangkat menggantikan Musa. "Seorangpun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau seumur hidupmu; seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau." (Yosua 1:5). Lalu Penulis Ibrani pun mengingatkan hal yang sama: "Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." (Ibrani 13:5b). Yesus sendiri juga berkata: "Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:20b). Demkian seringnya Tuhan mengulangi hal yang sama, itu menunjukkan bahwa janji ini adalah sesuatu yang sangat penting untuk selalu kita ingat.

Gelombang air pasang mungkin tengah kita hadapi atau sewaktu-waktu harus kita lewati. Nyala api yang panas pada suatu ketika tidak bisa kita hindari. Tuhan tidak berjanji bahwa kita bisa hidup 100% tanpa kesulitan, tetapi Tuhan berjanji bahwa apapun yang kita hadapi tidak akan membinasakan kita. Seperti apa yang terjadi pada bangsa Israel, Tuhan sanggup membelah lautan masalah sehingga kita bisa melewatinya bagai berjalan di tanah kering dan sampai ke ujungnya dengan selamat. Demikian pula ketika berhadapan dengan api, kita bisa melewatinya tanpa terbakar, seperti yang dialami oleh Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Masalah boleh datang, tetapi ingatlah bahwa kita tidak pernah sendirian menghadapinya. Jika anda tengah berhadapan dengan situasi seperti itu, datanglah kepadaNya dan percayakan semuanya ke dalam tanganNya. Lakukan segalanya tepat seperti yang telah Tuhan firmankan, dan anda akan menyaksikan bagaimana kuasa Tuhan yang tak terbatas itu sanggup membawa anda melintasi masalah dengan penuh kemenangan.

Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan yang akan senantiasa menyertai kita
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on March 24, 2013, 04:57:46 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_03_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/perdamaian.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/perdamaian.html[/url])

Perdamaian

Ayat bacaan: Roma 12:18
========================
"Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!"

Rasanya semua orang tentu menginginkan kehidupan dunia yang damai. Tidak ada peperangan, tidak ada kerusuhan, tidak ada kekerasan, kejahatan dan tidak ada perselisihan. Bayangkan betapa indahnya jika semua manusia hidup berdampingan secara harmonis. Tidak ada yang mengedepankan perbedaan tapi mencari persatuan di atas keragaman. Itu bentuk dunia yang diimpikan oleh banyak orang. Sayangnya itu hanyalah utopia saja, karena ada banyak sekali orang yang berhenti hanya pada bermimpi dan berharap. Dalam menjalani kehidupannya mereka masih menerapkan begitu banyak sekat-sekat pembatas. Mereka terus fokus pada perbedaan dan akibatnya hidup dikuasai permusuhan. Ada pula yang bahkan bertindak lebih jauh dengan menghalalkan kekerasan terhadap orang-orang yang berbeda pandangan dengan mereka. Apakah itu didasari oleh perbedaan keyakinan, perbedaan ideologi, perbedaan suku, bangsa, budaya, perbedaan pendapat, dan lain-lain, semua itu akan semakin mempersulit terciptanya kedamaian. Make love not war, slogan yang kencang dikumandangkan di akhir tahun 60 an sampai awal 70an ketika Amerika memutuskan perang terhadap Vietnam, lalu ada pula slogan peace on earth, akhirnya berhenti hanya sebatas slogan dan harapan yang tidak akan pernah bisa diwujudkan.

Kita berharap hidup dalam tatanan dunia yang damai. Tapi pikirkanlah, apakah mungkin kita mencapai dunia yang damai jika kita yang hidup di dalamnya tidak pernah bisa belajar untuk berdamai? Apakah sekat-sekat pembatas yang kita ciptakan akan membantu membuat dunia semakin baik? Apakah betul ada kalanya Tuhan menginginkan kita untuk saling bermusuhan berdasarkan segala perbedaan itu? Apakah memang Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda karakter, sifat dan sebagainya dengan tujuan agar kita hidup bermusuhan? Tentu tidak. Tuhan tidak hanya penuh kasih, tapi Dia adalah kasih itu sendiri. (1 Yohanes 4:16). Jika demikian, tentu tidak ada alasan apapun bagi kita yang percaya kepadaNya untuk menciptakan berbagai bentuk permusuhan di muka bumi ini.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on March 24, 2013, 04:58:12 AM
Quote
Serangkaian pesan penting Paulus buat perdamaian tercatat pada Roma 12:9-21. Jangan pura-pura baik (ay 9), saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului memberi hormat (ay 10), berkomitmen menolong orang yang kesusahan (ay 13), memberkati yang jahat kepada kita, dan dilarang mengutuk (ay 14), memiliki empati terhadap orang lain (ay 15), hidup rukun dan rendah hati (ay 16), tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan dengan kebaikan (ay 17,21), tidak menuntut balas (ay 19), tetap memberi bantuan bahkan kepada musuh sekalipun (ay 20). Ini pesan luar biasa yang menggambarkan bentuk ajaran Tuhan Yesus yang penuh kasih. Mari kita lihat ayat berikut ini: "Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!" (Roma 12:18). Perhatikan bahwa tidak ada diajarkan untuk membenci orang yang berbeda keyakinan. Kita tidak diajarkan untuk tidak membalas salam, malah dianjurkan untuk lebih dulu menyampaikan salam. Kita tidak diajarkan untuk menutup mata atas kesulitan hidup mereka yang berbeda kepercayaan, tapi kita diminta untuk membantu dan ber-empati. Kita tidak diijinkan untuk bergembira atas penderitaan orang lain, bahkan yang dianggap musuh sekalipun. Tidak boleh mengutuk, namun harus memberkati mereka. Kesimpulannya adalah, kehidupan penuh damai di dunia ini baru memungkinkan untuk terjadi jika komponen penting pengisi dunia, yaitu kita, manusia, mau memulai dari diri kita sendiri untuk belajar hidup rukun dan damai dengan semua orang, tanpa terkecuali.

Ketika banyak orang belum mampu menghayati hakekat perdamaian dalam kehidupan untuk mencapai dunia yang lebih baik, ketika masih banyak orang yang lebih memilih jalan-jalan permusuhan dan kekerasan, perdamaian dunia hanyalah akan menjadi sebuah utopia belaka. Dan apabila kita orang percaya saja masih menerapkan permusuhan, bukan hanya terhadap orang lain tapi bahkan terhadap sesama kita sendiri, jangan bermimpi kita bisa memiliki sebuah dunia yang penuh kedamaian. Sebagai anak-anak terang, hendaklah kita mulai dari diri kita sendiri terlebih dahulu untuk menerapkan bentuk kasih yang penuh damai dengan orang-orang disekitar kita. Semua haruslah dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu. Sedapat mungkin, selama kita masih bisa, selama itu tergantung kita, berdamailah dengan semua orang. Hanya dengan demikian kita bisa menunjukkan bentuk kasih seperti yang diajarkan Kristus secara nyata kepada sesama, dan hanya demikian kita bisa turut serta untuk memperbaiki dunia yang carut marut kondisinya agar bisa menjadi tempat yang lebih baik untuk kita tinggali.

Runtuhkan tembok permusuhan dan ulurkan persahabatan dengan semua orang
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on March 25, 2013, 05:01:54 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_03_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/home-heaven-on-earth-or-hell-break-lose.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/home-heaven-on-earth-or-hell-break-lose.html[/url])

Home: Heaven on Earth or Hell Break Lose? (1)

Ayat bacaan: Yakobus 3:16
======================
"Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat."

Bagaimana perasaan anda di rumah hari ini? Apakah anda betah dan nyaman atau justru malas untuk pulang? Apakah rumah terasa hangat dan nyaman atau malah begitu panas sehingga anda tidak tahan berada di dalamnya?
Rumah bisa menjadi tempat yang ternyaman dan terhangat bagi kita, tapi sebaliknya bisa pula menjadi tempat terpanas di muka bumi ini. It can be like heaven on earth, but can also be hell break lose. Ada rumah tangga yang tingkat pertengkarannya begitu parah sehingga hubungan menjadi hambar atau bahkan menjadi pahit. Tidak lagi ada kasih di rumah, sehingga pulang ke rumah pun menjadi alternatif paling akhir, kalau sudah terpaksa saja. Bahkan tidak jarang yang kemudian dengan ringan berkata bahwa tidak ada lagi rasa kepada pasangannya. Bagaimana kata-kata seperti itu mungkin keluar dengan mudah dari orang yang sudah memutuskan untuk menikah, menjadi satu dengan pasangannya? Tapi semakin lama hal seperti ini semakin dianggap lumrah terjadi dalam keluarga. Tidak heran jika tingkat perceraian pun semakin lama semakin tinggi. Berbagai alasan dikemukakan, bahkan tidak sedikit pula yang berani-beraninya menyalahkan Tuhan dengan mengatakan bahwa sudah merupakan takdir Tuhan bahwa mereka harus bercerai. Tuhan yang menyatukan, tapi Dia pula yang menginginkan perceraian di antara ciptaanNya? Masuk akalkah itu?

Rumah biasanya merupakan tempat dimana kita bisa sebebasnya menjadi diri sendiri. Ketika di luar, kita biasanya memperhatikan betul untuk menjaga image, juga menjaga perasaan orang lain. Ada dorongan untuk menjaga perilaku dan sikap terhadap orang lain. Namun ketika berada bersama keluarga sendiri, jika tidak hati-hati kita bisa tergoda untuk bertindak seenaknya. Kita bisa lebih mementingkan hak istimewa yang serakah daripada menjalankan kewajiban. Kita tidak lagi menganggap penting untuk melakukan hal-hal yang digariskan Tuhan untuk dilaksanakan dalam keluarga. Tidakkah kita sering melihat bahwa orang-orang yang begitu ramah, penuh canda, ceria dan royal di luar ternyata di rumah menjadi sosok egois, pemarah dan pelitnya bukan main terhadap keluarga sendiri? Atau orang yang selalu tersenyum dan baik di luar menjadi bagai petinju atau petarung di rumah? Singkatnya, ada banyak orang yang menganaktirikan keluarganya sendiri, lebih peduli terhadap perasaan orang lain ketimbang istri/suami dan anak-anaknya. Di rumah sifat aslinya keluar, dan itu bukanlah sifat asli yang baik. Seringkali manusia terjebak untuk lebih banyak menuntut penghargaan dan penghormatan, untuk dikasihi, daripada mengasihi. Jika itu yang terjadi, tidaklah mengherankan apabila suasana rumah menjadi panas.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on March 25, 2013, 05:02:27 AM
Quote
Rumah tangga Kristen seharusnya jauh dari bentuk-bentuk demikian. Orang percaya yang sudah terlanjur melakukannya seharusnya sadar bahwa semua itu harus berubah. Yakobus mengatakan "Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat." (Yakobus 3:16). Ayat ini tidak saja berlaku dalam hubungan kita dengan orang lain di luar, tapi terlebih lagi berlaku dalam hubungan dalam rumah tangga. Ketahuilah bahwa dalam pernikahan sesungguhnya Tuhan sendiri yang langsung memateraikan hubungan antara suami dan istri. Itu adalah bentuk ikatan yang kuat, begitu kuatnya sehingga Firman Tuhan mengatakan bahwa tidak ada satupun manusia yang berhak memutuskannya. "Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." (Matius 19:6). Ini bentuk hubungan dua menjadi satu, begitu menyatunya sehingga dikatakan selayaknya menjadi satu daging. (ay 5). Dengan demikian, ketika kita menyakiti pasangan kita, bukankah itu artinya sama saja dengan menyakiti diri sendiri?

Keharmonisan dan kesepakatan dalam keluarga adalah hal mutlak yang harus bisa kita capai. Sayangnya hal ini menjadi semakin langka di jaman sekarang, dimana suami dan istri seringkali memilih jalannya sendiri-sendiri. Padahal Tuhan Yesus dengan tegas berkata "Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka." (Matius 18:19-20). Ini adalah bentuk kuasa dari kesepakatan yang begitu penting, dan seharusnya bekerja dalam hidup setiap pasangan kristiani. Maka sudah selayaknya pasangan-pasangan yang dimateraikan langsung oleh Tuhan ini tidak boleh membiarkan pertengkaran berada di dalam rumah.

(bersambung)
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on March 27, 2013, 04:33:31 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_03_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/home-heaven-on-earth-or-hell-break-lose_24.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/home-heaven-on-earth-or-hell-break-lose_24.html[/url])

Home: Heaven on Earth or Hell Break Lose? (2)

(sambungan)

Kasih menjadi kunci yang sangat vital disini. Dan lihatlah apa saja yang terdapat di dalam sebuah kasih itu seperti yang disampaikan Paulus kepada jemaat Korintus. "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu." (1 Korintus 13:4-7). Semua elemen ini apabila anda terapkan di rumah tentu akan mampu membuat suasan rumah yang nyaman, hangat dan penuh cinta. Jangan lupa pula pesan penting lainnya tentang bagaimana besarnya peran kasih itu. "Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa" (1 Petrus 4:8). "For love covers a multitude of sins [forgives and disregards the offenses of others]."  Kasih bisa menutupi banyak sekali dosa. Seberapa jauh kita mengingat hal itu? Pertengkaran sesungguhnya meruntuhkan perisai iman, menghambat hasil doa dan yang lebih parah bisa mengundang iblis ke tengah-tengah rumah tangga. Amsal 17:14 berkata "Memulai pertengkaran adalah seperti membuka jalan air". Seperti yang belum lama saya bahas, perselisihan sekecil apapun bisa tidak terkendali dan akhirnya bisa menghancurkan. Pertengkaran di rumah akan melumpuhkan kuasa Tuhan dalam hidup kita.

Jangan pernah membiarkan iblis merusak keharmonisan rumah tangga anda dengan membiarkan pertengkaran atau perselisihan bercokol di dalamnya. Rumah tangga selayaknya menjadi tempat di mana terdapat hubungan yang harmonis, saling dukung, saling support, dimana kasih menjadi dasar yang kuat di dalamnya. Berlakulah bijaksana dan adil, jangan bersikap otoriter dan menuntut perlakuan berlebihan dari pasangan anda. Pasangan kita adalah sosok yang akan melengkapi dan menyempurnakan kita, mengisi berbagai kekurangan kita untuk menjadi lebih baik lagi. Pasangan bukanlah sosok yang pantas untuk dijadikan "sansak tinju", kambing hitam atau tempat kita menumpahkan emosi seenaknya. Singkatnya Firman Tuhan memberikan gambaran "Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya." (Efesus 5:33). Dan ingatlah pesan ini: "Hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri." (Filipi 2:2-3). Ini pesan yang penting agar kuasa Tuhan tidak terhalang dan doa-doa yang kita panjatkan bisa menemukan jawaban. Yakobus mengatakan dimana ada iri hati dan egoisme, disanalah akan timbul kekacauan dan segala macam perbuatan jahat. Tetapi sebaliknya, "hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik." (Yakobus 3:17). Itulah bentuk kebijaksanaan yang berasal dari atas, yang seharusnya mengisi kehidupan setiap pasangan dalam rumah tangga masing-masing. "Dan buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai." (ay 18).

Apakah rumah tangga anda saat ini termasuk heaven on earth atau hell break lose? Hari ini mari kita belajar untuk lebih lagi membangun keharmonisan dan kehangatan dalam rumah, sehingga anda akan selalu rindu untuk segera pulang ke rumah karena disanalah anda akan merasakan kedamaian dan kenyamanan tak terhingga. Jangan jadikan rumah tangga sebagai tempat memanjakan ego diri sendiri dan melakukan segala sesuatu seenaknya. Jadikan rumah tangga kita sebagai contoh bagaimana hangat dan damainya sebuah hubungan yang memiliki kasih dan damai Kristus di dalamnya.

Let God's values live at our home, let's have peace at home
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on March 27, 2013, 04:34:26 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_03_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/menjadi-terang-di-dunia-usaha-dan.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/menjadi-terang-di-dunia-usaha-dan.html[/url])

Menjadi Terang Di Dunia Usaha dan Pekerjaan (1)

Ayat bacaan: Daniel 6:2-3
=====================
"Lalu berkenanlah Darius mengangkat seratus dua puluh wakil-wakil raja atas kerajaannya; mereka akan ditempatkan di seluruh kerajaan; membawahi mereka diangkat pula tiga pejabat tinggi, dan Daniel adalah salah satu dari ketiga orang itu; kepada merekalah para wakil-wakil raja harus memberi pertanggungan jawab, supaya raja jangan dirugikan."

Sebagai orang percaya kita diminta untuk bangkit dan menjadi terang, sebab terang Tuhan sudah terbit atas kita. Ini dikatakan dalam Yesaya 60:1. Dimana kita bisa menjadi terang ketika terang kemuliaan Tuhan itu terbit atas kita? Tentu saja kita bisa memulainya dari lingkungan sekitar kita, dan itu termasuk pula dalam dunia pekerjaan dimana kita ditempatkan. Kita harus paham bahwa ditempat kita bekerja, berusaha dan menjalankan profesi kita, ada banyak jiwa yang membutuhkan terang Tuhan. Ini yang sering kita lupakan. Kita berpikir bahwa menjadi terang itu hanya bisa dilakukan lewat pelayanan-pelayanan di gereja atau persekutuan, tetapi kita lupa bahwa di tempat kita bekerja (market place) pun kita harus pula bisa menjadi terang yang memberkati banyak orang.

Akan hal ini kita bisa belajar lewat Daniel, bagaimana melalui kehidupannya ia mampu membuat raja Darius pada akhirnya memerintahkan seluruh rakyatnya untuk takut dan gentar terhadap Allahnya Daniel.

Perhatikanlah ayat bacaan hari ini. "Lalu berkenanlah Darius mengangkat seratus dua puluh wakil-wakil raja atas kerajaannya; mereka akan ditempatkan di seluruh kerajaan; membawahi mereka diangkat pula tiga pejabat tinggi, dan Daniel adalah salah satu dari ketiga orang itu; kepada merekalah para wakil-wakil raja harus memberi pertanggungan jawab, supaya raja jangan dirugikan." (Daniel 6:2-3). Pada masa pemerintahan raja Darius, Daniel diangkat menjadi satu dari tiga pejabat tinggi yang bertugas mengawasi seratus dua puluh wakil raja. Diantara ketiga pejabat tinggi ini, raja bermaksud untuk mengangkat Daniel sebagai yang tertinggi (ay 4) sehingga itu menimbulkan iri di hati kedua pejabat lainnya. (ay 5). Mereka pun mencari akal untuk menjebak Daniel. Salah satunya adalah dengan memaksa raja membuat peraturan yang dapat menjadi perangkap buat Daniel, yaitu lewat hal ibadah Daniel kepada Allahnya. (ay 6). Raja Darius ternyata menyetujui untuk membuat peraturan itu tanpa mengerti rencana jahat dibelakangnya. Meski kelihatannya Daniel terperangkap dan akan kalah, tapi lihat bahwa Tuhan memunculkan kebenarannya dan membuat raja akhirnya mempermuliakan Allah Daniel.

Dari kisah singkat ini ada tiga hal yang bisa kita pelajari dan teladani dari Daniel.

1. Daniel tetap setia beribadah kepada Tuhan
Dikatakan dalam kitab Daniel bahwa ia setiap hari berlutut, berdoa dan memuji Tuhan tiga kali secara teratur. Hebatnya Daniel tetap setia melakukan itu meski muncul peraturan yang menghalanginya untuk beribadah. (ay 5-10). Meski ada hukuman yang harus ia terima, dan hukuman itu sangat mengerikan yaitu dilemparkan ke gua singa, ia tidak bergeming dalam hal iman dan kepercayaannya kepada Tuhan. Dalam lingkungan sehari-hari termasuk dalam lingkungan usaha dan pekerjaan kita, bisa saja ada tekanan-tekanan dan perlakuan tidak adil yang harus kita terima karena iman kita kepada Kristus. Bisa jadi ada tawaran-tawaran yang diberikan agar kita menyangkal iman kita atau setidaknya untuk tidak melakukan hal-hal sesuai Firman Tuhan. Seperti Daniel, hendaklah kita tetap setia meskipun mungkin kita harus menapak jalan yang lebih berat dan terjal. Apa yang akan menjadi ganjarannya apabila kita setia? Firman Tuhan berkata: "..Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan." (Wahyu 2:10). Lalu lihat pula pesan Paulus kepada Titus: "...hendaklah selalu tulus dan setia, supaya dengan demikian mereka dalam segala hal memuliakan ajaran Allah, Juruselamat kita." (Titus 2:10). Biarlah kita juga seperti Daniel yang tetap mempermuliakan tuhan dan melakukan Firman serta kehendakNya. Pada suatu ketika mereka yang menolak akan bisa melihat kebenaran apabila kita tetap dengan sungguh hati dan setia mengikuti kehendak Tuhan.

(bersambung)
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on March 28, 2013, 04:46:02 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_03_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/menjadi-terang-di-dunia-usaha-dan_26.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/menjadi-terang-di-dunia-usaha-dan_26.html[/url])

Menjadi Terang Di Dunia Usaha dan Pekerjaan (2)

(sambungan)

2. Daniel tidak membalas kejahatan dengan kejahatan
Daniel tahu bahwa kedua pejabat tinggi lainnya yang notabene teman sekerja sendiri sedang menyediakan perangkap baginya. Tapi Daniel tidak tertarik untuk menyerang, mengkonfrontir atau membalas mereka. Bahkan ia tidak mengelak sama sekali karena ia terus mengandalkan Tuhan dengan sepenuh hati. Benar bahwa Alkitab mengatakan bahwa kita harus cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati di dunia yang jahat (Matius 10:16), tapi ingatlah bahwa cerdik tidaklah sama dengan kejahatan. Ada batas-batas yang tetap tidak boleh kita langgar supaya jangan sampai kita seolah-olah cerdik tetapi ternyata di mata Tuhan itu dinaggap sebagai sebuah kejahatan. Dalam Yesaya 53:7 dinubuatkan bahwa Yesus dalam menghadapi aniaya membiarkan diriNya ditindas, seperti domba yang kelu dibawa ke pembantaian. Itulah tepatnya yang terjadi. Dalam Roma 12 kita mendapati nasihat yang sama lewat Paulus. "Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang....Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya. Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!" (Roma 12:17-21). Lebih dari sekedar tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, kita justru diminta untuk memberkati, mengasihi dan mendoakan orang-orang yang berbuat jahat kepada kita. "Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu." (Matius 5:44)

3. Daniel tetap percaya dan mengandalkan Tuhan
Dalam Daniel 6:17 kita bisa melihat bahwa Daniel sempat dilemparkan ke gua singa. Jika kita menjadi Daniel, tentu itu merupakan saat-saat genting yang sangat berat bahkan mengerikan untuk dihadapi. Tapi kita bisa mengetahui bagaimana reaksi Daniel dalam menghadapi saat-saat genting antara hidup dan mati itu. Kita tahu bagaimana akhir kisah ini. Tapi sebelum itu terjadi, sangatlah menarik melihat apa yang dikatakan raja Darius sebelum Daniel dieksekusi. "Sesudah itu raja memberi perintah, lalu diambillah Daniel dan dilemparkan ke dalam gua singa. Berbicaralah raja kepada Daniel: "Allahmu yang kausembah dengan tekun, Dialah kiranya yang melepaskan engkau!" (ay 17). Darius adalah seorang raja yang sebenarnya tidak menyembah Allah Daniel yang hidup, tetapi ternyata ia bisa melihat bagaimana Daniel selama ini diberkati secara luar biasa oleh Allahnya. Itulah yang persisnya terjadi. Daniel tetap percaya meski dalam situasi hidup dan mati. Imannya tidak goyah sedikitpun, ia tetap percaya dan mengandalkan Tuhan meski situasinya sudah sedemikian gentingnya. Dan buah yang ia petik pada akhirnya pun manis. Allah Daniel, Allah kita semua adalah Allah yang hidup dan berkuasa atas segala sesuatu, dan berkuasa melakukan segala sesuatu. Pada akhirnya, raja Darius menyaksikan kuasa Allah yang besar, hingga ia pun memerintahkan bangsa yang ia pimpin untuk takut dan gentar akan Allahnya Daniel. "Bersama ini kuberikan perintah, bahwa di seluruh kerajaan yang kukuasai orang harus takut dan gentar kepada Allahnya Daniel, sebab Dialah Allah yang hidup, yang kekal untuk selama-lamanya; pemerintahan-Nya tidak akan binasa dan kekuasaan-Nya tidak akan berakhir. Dia melepaskan dan menolong, dan mengadakan tanda dan mujizat di langit dan di bumi, Dia yang telah melepaskan Daniel dari cengkraman singa-singa." (ay 27-28).

Dalam kehidupan kita di market place atau dunia usaha, lingkungan pekerjaan atau usaha kita, biarlah ketiga hal ini kita lakukan dengan tekun dan taat. Mungkin masalah atau pergumulan kita tidaklah seberat yang dihadapi Daniel, tapi Daniel berhasil membuktikan kebesaran Allahnya di tempat dimana ia bekerja. Dan seperti itu pulalah hendaknya kita. Seperti yang Daniel alami setelahnya, kita pun rindu melihat banyak orang bisa menyaksikan kebesaran dan kebaikan Kristus. Disanalah kita bisa menjadi terang yang menyinari dan memberkati banyak orang.

Bersinar bukan hanya di keluarga, tempat tinggal atau gereja, tapi juga di dalam dunia usaha dan pekerjaan

Follow us on twitter: [url]http://twitter.com/dailyrho[/url] ([url]http://twitter.com/dailyrho[/url])
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on March 29, 2013, 04:47:03 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_03_01_archive.html[/url]
renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/kesetiaan.html

Kesetiaan

Ayat bacaan: Wahyu 2:10
==================
"..Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan."

Kemarin kita melihat bagaimana kesetiaan Daniel kepada Tuhan membawa turunnya terang ke dalam bangsa dimana ia tinggal. Kesetiaan sayangnya semakin lama menjadi semakin langka untuk ditemukan di muka bumi ini. Alangkah sulitnya mencari orang yang bisa benar-benar setia untuk waktu yang panjang. Apakah itu dalam sebuah hubungan cinta, pekerjaan dan sebagainya, hampir setiap hari kita menyaksikan orang-orang yang tidak menganggap kesetiaan sebagai sesuatu hal yang penting lagi untuk dipertahankan dan dipegang teguh.  Berita pasangan bercerai, kedapatan selingkuh terjadi dimana-mana. Orang yang berpindah-pindah pekerjaan karena mendapat tawaran yang lebih baik atau sedikit saja tersinggung, itu pun dengan mudah kita dengar. Tidak jarang mereka bahkan tega menghianati tempat mereka bekerja untuk satu dan lain hal. Kesetiaan merupakan sebuah unsur di dalam integritas. Jika kesetiaan saja sudah semakin langka, tidak heran jika integritas pun menjadi hal yang semakin langka pula.

Kesetiaan jelas merupakan aspek yang sangat penting dalam Kerajaan Allah. Pertama-tama kita harus tahu bahwa Allah, Sang Raja di dalam Kerajaan itu merupakan Sosok yang Setia. Alkitab menyebutkan dalam banyak kesempatan mengenai sifat Allah yang setia, misalnya dalam Mazmur 31:5, 48:9, 59:10, 1 Raja Raja 8:23, 2 Korintus 1:18, 1 Petrus 4:19, Ibrani 10:23 dan lain-lain. Lihat pula bagaimana Yesus dengan setia dan taat melakukan semua kehendak Allah dengan tuntas. Dengan keteladanan secara langsung seperti itu seharusnya kita yang merupakan warga Kerajaan pun hidup dengan kesetiaan. Tapi seringkali kita lebih tertarik untuk mengadopsi gaya hidup dunia yang mudah berkhianat ketimbang menjalani hidup kesetiaan seperti yang dikehendaki Tuhan.

Sulitnya mendapati kesetiaan ternyata bukan saja menjadi isu di jaman modern ini. Ribuan tahun yang lalu pun manusia sudah menunjukkan sikap buruk yang sama. Kita bisa melihat bagaimana bangsa Israel yang berulangkali menyaksikan atau mengalami secara nyata penyertaan Tuhan secara langsung, tetapi mereka masih saja tega untuk menyakiti hati Tuhan berulang-ulang lewat tingkah dan polah mereka. Tidak heran jika Salomo berkata "Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?" (Amsal 20:6) Kita bisa melihat bahwa pada masa itu ternyata kesetiaan sudah menjadi sesuatu yang langka untuk ditemukan. Hingga ke dalam Perjanjian Baru pun masalah kesetiaan tetap menjadi pesan penting untuk dimiliki oleh kita. Kesetiaan adalah sebuah kualitas utama yang seharusnya ada di dalam diri orang-orang percaya. "...kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan." (1 Timotius 6:11). Berulang-ulang Tuhan mengingatkan kita untuk setia dalam segala hal, tetapi dari generasi ke generasi manusia masih saja terus menganggap kesetiaan sebagai sesuatu yang tidak penting, yang bisa dikorbankan demi kepentingan lain.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on March 29, 2013, 04:47:24 AM
Quote
Kesetiaan di dalam Kerajaan Allah memiliki peranan yang sangat penting. Kesetiaan penting untuk kita hidupi karena itu akan sangat menentukan bagi keselamatan kita kelak. Firman Tuhan berkata "...Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan." (Wahyu 2:10). Ada mahkota kehidupan yang akan dikaruniakan kepada kita kelak apabila kita bisa mempertahankan kesetiaan sampai selesai. Dan bukan itu saja, karena Allah tetap menjanjikan berkat-berkatNya kepada siapapun yang tetap hidup dengan berpegang pada kesetiaan. "Pada hari ini TUHAN, Allahmu, memerintahkan engkau melakukan ketetapan dan peraturan ini; lakukanlah semuanya itu dengan setia, dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu. Engkau telah menerima janji dari pada TUHAN pada hari ini, bahwa Ia akan menjadi Allahmu, dan engkaupun akan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada ketetapan, perintah serta peraturan-Nya, dan mendengarkan suara-Nya. Dan TUHAN telah menerima janji dari padamu pada hari ini, bahwa engkau akan menjadi umat kesayangan-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepadamu, dan bahwa engkau akan berpegang pada segala perintah-Nya, dan Iapun akan mengangkat engkau di atas segala bangsa yang telah dijadikan-Nya, untuk menjadi terpuji, ternama dan terhormat. Maka engkau akan menjadi umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu, seperti yang dijanjikan-Nya." (Ulangan 26:16-19).

Ada banyak hal yang akan kita peroleh dari hidup dalam kesetiaan. Sebaliknya kita akan mengorbankan banyak hal penting jika kita memilih untuk mencari kenikmatan sesaat dengan mengabaikan kesetiaan. Kehidupan di dunia selalu mengajak kita untuk melupakan kesetiaan, tetapi hari ini marilah kita belajar untuk mengadopsi dengan benar prinsip-prinsip Kerajaan mengenai kesetiaan, sebab tanpa kesetiaan tidak akan pernah ada integritas yang akan mampu membawa perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik.

Tanpa kesetiaan tidak akan ada integritas

Follow us on twitter: [url]http://twitter.com/dailyrho[/url] ([url]http://twitter.com/dailyrho[/url])
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on March 31, 2013, 04:37:44 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_03_01_archive.html[/url]
renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/relatifnya-sebuah-ukuran.html


Relatifnya Sebuah Ukuran

Ayat bacaan: 2 Korintus 4:17
======================
"Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami."

Sebutir nasi itu tentu sangat kecil bagi kita, yang biasanya bisa memakan puluhan atau bahkan ratusan butir itu dalam sekali suap. Tapi ketika anda melihat seekor semut mengangkut sebutir nasi, butiran itu terlihat sangat besar bagi semut. Contoh berikutnya, besar atau kecilkah bola tenis menurut anda? Jawabannya pun bisa beragam. Bola tenis akan terlihat kecil jika dibandingkan dengan bola sepak atau bola bowling, tetapi akan terlihat besar dibanding bola pingpong atau gundu. Sebuah jeruk bisa terlihat besar kalau dibandingkan dengan anggur, tapi kecil kalau berada di dekat buah semangka. Dalam satuan ukur setiap benda punya ukurannya masing-masing, tapi untuk memutuskan besar atau tidaknya benda itu tentu akan sangat relatif. Nilai mata uang pun demikian. Dua puluh tahun yang lalu lima ribu rupiah sudah sangat besar, tapi hari ini kita hanya bisa makan pas-pasan di warung dengan jumlah itu. Seperti itulah gambaran relativitas nilai atau ukuran sebuah benda.

Bagaimana dengan ukuran masalah yang tengah anda hadapi? Seperti apa anda memandang permasalahan hidup hari ini? Besar atau kecil? Saya kira kebanyakan orang akan setuju menilai permasalahan hidup ini besar. Hidup memang tidak mudah. Pergumulan-pergumulan dan tekanan-tekanan hidup akan selalu siap mendorong kita jatuh jauh ke bawah, begitu jauh hingga terkadang kita sulit untuk kembali bangkit dalam waktu yang singkat. Tidak jarang orang yang menyerah setelah diterpa badai, tapi ada pula yang tetap tegar meski badai telah mencoba mengobrak-abrik hidup dalam waktu yang cukup lama. Besar kecilnya masalah pun ternyata relatif. Ada yang sudah pesimis ketika sedikit masalah saja menerpanya. Masalah itu besar jika dibandingkan ketika keadaannya sedang tanpa masalah, namun kecil jika dibandingkan permasalahan yang jauh lebih berat yang mungkin sedang menimpa orang lain. Ada pula orang yang bisa tetap tenang dalam menghadapi masalah besar karena sudah pernah berhasil melewati masalah yang jauh lebih besar lagi. Karena besar kecilnya masalah itu relatif, maka saya beranggapan bukan kadar masalah yang membuat orang jatuh menyerah dalam keputus asaan, namun pola pikir atau cara pandanglah yang sangat menentukan. Fokus kepada masalah, maka masalah itu akan terus bertumbuh semakin besar. Namun jika fokus diarahkan dalam iman yang percaya, niscaya kita akan masih bisa tersenyum dan bersukacita seberat-beratnya masalah menimpa kita.

Sebuah contoh bisa kita lihat dari riwayat Paulus. Kurang besar bagaimana lagi masalah yang dihadapi Paulus? Jika kita yang mengalami, mungkin sepertiga saja dari masalahnya sudah membuat kita mundur dan menyerah. Lihatlah bahaya, ancaman atau penyiksaan yang ia alami baik dari sesama manusia maupun alam. (2 Korintus 11:23-28). Apakah cuma itu? Tidak. Ia juga mendapatkan masalah dari dalam tubuhnya sendiri. (12:7-8). Dalam kesempatan lain Paulus mengatakan "Sampai pada saat ini kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara, kami melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar; kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah; kami telah menjadi sama dengan sampah dunia, sama dengan kotoran dari segala sesuatu, sampai pada saat ini." (1 Korintus 4:11-13). Paulus mengalami semua itu, tapi dia tetap sabar. Dia tetap bisa bertahan dan tetap teguh menjalankan tugas pelayanannya seperti yang telah ditetapkan Tuhan dengan keramahan, kesabaran dan ketabahan. Bagaimana bisa demikian? Seperti yang pernah saya tulis beberapa hari yang lalu, Paulus bisa bersikap seperti itu karena ia mengarahkan pandangannya bukan kepada masalah yang menimpanya, tapi kepada apa yang ada di depannya.


Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on March 31, 2013, 04:38:18 AM
Quote
Bagaimana ia bisa tahan menghadapi semua itu? Semua berasal dari visi atau kemana ia memandang. Visinya adalah memandang kepada apa yang dijanjikan Tuhan lewat Kristus. "..tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus." (Filipi 3:13-14). Dengan pandangan seperti itulah Paulus bisa tetap tegar meski tubuh bahkan nyawanya harus ia pertaruhkan. Ia tidak terfokus kepada penderitaan daging yang fana, tapi ia memusatkan perhatiannya kepada keselamatan roh yang kekal. Jika dipandang dari sudut masalah, jelas masalah yang dialami Paulus amat sangat besar. Dan tentu ia paham itu. Tetapi jika dipandang dari apa yang akan ia terima di depan, semua itu tidaklah ada apa-apanya. Dan itulah sebabnya mengapa Paulus mampu berkata dengan luar biasa seperti ini: "Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami." (2 Korintus 4:17).

Secara manusia, stamina atau daya tahan Paulus dan teman-teman sepelayanan pasti merosot. Tapi disaat seperti itu mereka menyadari bahwa secara batin mereka terus diperbaharui dari hari ke hari. (ay 16). Penderitaan itu terasa ringan karena mereka membandingkannya dengan apa yang dijanjikan Tuhan di depan. Dibanding masa-masa ketika Paulus belum bertobat, penderitaan yang ia alami sekarang tentu besar. Namun itu tidaklah sepadan jika dibandingkan sebuah mahkota kehidupan yang akan ia terima. Mahkota kehidupan, janji keselamatan kekal sebagai ahli waris Allah bisa ia lihat melalui imannya, meski secara kasat mata hal itu tidak bisa dilihat. Seperti itulah yang dikatakan Paulus selanjutnya. "Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal." (ay 18).

Sebuah kunci penting diberikan oleh Penulis Ibrani yang mendefenisikan arti sebuah iman. "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." (Ibrani 11:1). Sesuatu yang belum terlihat dengan kasat mata itu ternyata bisa terlihat jelas dengan memakai kacamata iman. Itulah yang dilakukan Paulus. Ia tidak pernah putus pengharapan, karena sesungguhnya dengan imannya ia sudah melihat semuanya dengan pasti. "Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya? Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun." (Roma 8:24-25). Lihatlah visi Paulus tersebut. Itulah yang memungkinkan dirinya tetap kuat menanggung segala masalah yang dari ukuran manusia rasanya sudah terlalu berat. Seperti apa kita mengukur masalah yang menimpa kita hari ini? Jika dibandingkan dengan orang yang sedang hidup nyaman, atau hidup kita di masa lalu yang tenang, masalah akan terasa berat. Tapi itu semua bisa menjadi tidak berarti ketika kita melihat keselamatan yang telah dijanjikan Tuhan kepada kita. Sebuah hidup yang kekal, yang bebas dari masalah, kesedihan, penderitaan dan dukacita telah dipersiapkan di depan. Apakah kita mampu bertahan untuk mencapainya, atau kita menyerah saat ini dan malah luput dari apa yang Dia janjikan di depan, semua itu tergantung bagaimana kita menyikapi segala permasalahan yang saat ini menimpa kita. Paulus pun mengingatkan kita untuk tetap mengerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar setiap saat, setiap waktu. (Filipi 2:12). Seperti relatifnya ukuran bola tenis diantara bola-bola lain, buah jeruk di antara buah lainnya, seperti itu pula besar kecilnya masalah yang kita hadapi. Seberat apapun itu, semuanya belumlah sebanding dengan besarnya janji yang telah Tuhan berikan kepada kita.

Pakailah kacamata iman dan fokuslah kepada janji keselamatan yang telah Tuhan sediakan di depan

Follow RHO Twitter: [url]http://twitter.com/dailyrho[/url] ([url]http://twitter.com/dailyrho[/url])
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on March 31, 2013, 04:39:04 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_03_01_archive.html[/url]
renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/naik-jabatan.html

Naik Jabatan

Ayat bacaan: Mazmur 75:7-8
==========================
"Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu,tetapi Allah adalah Hakim: direndahkan-Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain."

Segala daya upaya dilakukan orang untuk bisa naik pangkat atau naik jabatan. Menyuap atau memberi uang pelicin, bingkisan-bingkisan, menjilat atasan dan berbagai upaya lain sudah biasa dilakukan agar promosi bisa mengalir lancar pada karir seseorang. Menjegal atau menjelekkan teman sendiri pun jika terpaksa apa boleh buat, yang penting kenaikan jabatan bisa diperoleh. Semua itu sudah dianggap sebagai hal yang lumrah untuk dilakukan di jaman sekarang, apalagi di negara kita yang tingkat korupsinya lumayan 'mantap'. Ada banyak orang berdalih bahwa itu terpaksa dilakukan, karena itu memang sudah menjadi kebiasaan di mana-mana. "Kalau tidak ikut korupsi rugi dong, atau malah kita justru bakal terkena masalah di kantor.." demikian ujar salah seorang pegawai negeri sambil cengengesan kepada saya pada suatu kali.  Kita seringkali terpaku pada kebiasaan dunia dan cenderung menyerah mengikutinya, meski tahu bahwa itu salah di mata Tuhan. Kita melupakan sebuah fakta bahwa masalah mengalami peningkatan atau tidak itu sesungguhnya bukanlah tergantung dari dunia, atau dari manusia, tapi sesungguhnya berasal dari Tuhan. Tanpa berlaku curang dan berkompromi dengan hal buruk yang sudah dianggap lumrah di dunia ini, kita tetap bisa mengalami peningkatan karir, dan saya bisa katakan itu akan terasa luar biasa indahnya jika itu berasal dari Tuhan.

Ayat yang menyinggung mengenai promosi atau kenaikan jabatan ini terdapat dalam kitab Mazmur. Pemazmur mengatakan: "Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu, tetapi Allah adalah Hakim: direndahkan-Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain." (Mazmur 75:7-8). Dalam bahasa Inggris Amplifiednya dikatakan "For not from the east nor from the west nor from the south come promotion and lifting up. But God is the Judge! He puts down one and lifts up another." Inilah hal yang sering kita lupakan. Kita sering tergiur dengan jabatan dan mengira bahwa kita perlu mati-matian menghalalkan segala cara untuk memperolehnya. Kita lupa bahwa peningkatan yang sesungguhnya justru berasal dari Tuhan dan bukan dari manusia. Kita seringkali terburu nafsu untuk secepatnya menggapai sebuah jabatan, padahal Tuhan tidak pernah menyarankan kita untuk terburu-buru. Ketekunan, kesabaran, keuletan, kesungguhan, itulah yang akan bernilai di mata Tuhan, dan pada saatnya, sesuai takaran dan waktu Tuhan, kita pasti akan naik walau tanpa melakukan kecurangan-kecurangan yang jahat di mata Tuhan.

Apa yang diinginkan Tuhan untuk terjadi kepada anak-anakNya sesungguhnya bukanlah sesuatu yang kecil atau pas-pasan saja. Kita telah ditetapkan untuk menjadi kepala dan bukan ekor, terus naik dan bukan turun. Tetapi untuk itu ada syarat yang ditetapkan Tuhan untuk kita lakukan dengan sungguh-sungguh. Hal ini tertulis dalam kitab Ulangan. "TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia, dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya." (Ulangan 28:13-14). Melakukan kecurangan-kecurangan demi kenaikan jabatan mungkin sepintas terlihat menjanjikan solusi cepat, namun ketika itu bukan berasal dari Tuhan, maka cepat atau lambat keruntuhan pun akan membuat semuanya berakhir sia-sia. Lihatlah 'parade' banyak koruptor yang kemudian menangis setelah vonis dijatuhkan. Ada yang masih merasa santai karena mereka beranggapan mereka tetap bisa menyuap untuk bebas atau setidaknya bisa menjalani hukuman dengan lebih nyaman bak di hotel bintang lima, tetapi kelak di hadapan Tuhan tidak ada penyuapan atau apapun lagi yang bisa dibuat. Tidak ada satupun kejahatan di muka bumi ini yang luput dari hukuman Tuhan, dengan alasan apapun.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on March 31, 2013, 04:39:39 AM
Quote
Apa yang dituntut dari kita sebenarnya hanyalah kesungguhan kita dalam bekerja. "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia." (Kolose 3:23). Itu bagian kita, dan masalah berkat, termasuk di dalamnya kenaikan pangkat atau jabatan, itu adalah bagian Tuhan. Mungkin tidak mudah untuk bisa tetap hidup lurus di tengah dunia yang bengkok, namun bukan berarti kita harus menyerah dan berkompromi. Justru Tuhan menjanjikan begitu banyak berkat jika kita mau mendengarkan Firman Tuhan baik-baik dan melakukan dengan setia semua perintahNya tersebut, seperti yang diuraikan panjang lebar dalam Ulangan 28:1-14.

Kita harus berhati-hati untuk tidak masuk ke dalam jebakan dunia dengan segala permainan dan kecurangan yang tersembunyi dibaliknya. Kita bisa memaksakan kenaikan sesuai keinginan kita, namun tidakkah semua itu akan berakhir sia-sia dalam kebinasaan jika itu bukan berasal daripadaNya? Tuhan sudah menjanjikan bahwa kita akan terus meningkat. Tuhan menjanjikan kita sebagai kepala dan bukan ekor, tetap naik dan bukan turun, namun itu hanya berlaku jika kita mendengarkan dan melakukan firmanNya dengan setia, tidak menyimpang dan tidak menghambakan diri kepada hal lain apapun selain kepada Tuhan. Jika anda memberikan kesungguhan 100% dalam pekerjaan kita. Sekecil apapun itu, biar bagaimanapun, itu akan memberikan nilai tersendiri bagi tempat di mana anda bekerja. Sebab perusahaan mana yang mau kehilangan pegawai terbaiknya? Dan tentu saja itu akan sangat dihargai Tuhan. Oleh karena itu, tetaplah bekerja dengan baik, tekun dan sepenuh hati, seakan-akan anda melakukannya untuk Tuhan, maka soal peningkatan hanyalah soal waktu saja. Tuhan sudah menetapkan kita untuk berada di posisi atas biar bagaimanapun. Lakukan bagian kita, dan Tuhan pasti akan mengerjakan bagianNya.

Just do your part and let God do His part

Follow us on twitter: [url]http://twitter.com/dailyrho[/url] ([url]http://twitter.com/dailyrho[/url])
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on April 01, 2013, 05:01:20 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_03_01_archive.html[/url]
renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/yusuf-dari-sumur-menuju-istana-1.html

Yusuf: Dari Sumur Menuju Istana (1)

Ayat bacaan: Ulangan 28:13-14
========================
"TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia, dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya."

Semua orang ingin mengalami peningkatan-peningkatan dalam hidup. Berhasil dalam pekerjaan, karir meningkat, kesejahteraan semakin baik merupakan dambaan semua orang. Tidak ada orang yang mau mengalami stagnasi dalam karirnya, apalagi jika merosot. Tentu menyenangkan jika pekerjaan kita berhasil dan kita terus mendapat promosi untuk naik lebih tinggi lagi. Dalam berusaha apapun kita selalu ingin berhasil. Kita ingin berhasil membangun keluarga yang berbahagia, kita ingin jadi anak yang berhasil di mata orang tua, kita ingin berhasil mendidik anak-anak dan sebagainya. Tidak ada orang yang memimpikan kegagalan. Namun ada banyak orang yang masih bergumul dengan itu. Usaha terus gagal. Bangkrut lagi, lagi-lagi terlilit hutang, keluarga berantakan dan sebagainya. Bukannya mendapatkan promosi, bukannya jalan ditempat tapi malah melorot ke dalam keadaan yang lebih rendah. Tidak apa-apa jika itu merupakan bagian dari proses karena kita tidak bisa selamanya berharap semuanya akan baik-baik saja, tetapi itu seharusnya tidak berlaku selamanya. Apa yang diinginkan Tuhan adalah menempatkan setiap kita menjadi kepala, bukan ekor. Tetap naik dan bukan turun. Jika masih naik turun atau tetap berada di bawah posisi seperti yang dikehendaki Tuhan, itu bisa jadi pertanda bahwa masih ada yang harus kita benahi dari diri kita.

Kepala dan bukan ekor? Ya, seperti itu. Mari kita lihat ayatnya. "TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun.." (Ulangan 28:13). Kita bisa melihat bahwa itulah yang dikehendaki Tuhan untuk terjadi kepada kita. Dalam proses mungkin kita dibentuk melalui fase-fase yang tidak nyaman, bahkan mungkin menyakitkan. Tapi dalam proses itupun sebenarnya kita bisa merasakan perbedaan nyata jika kita berjalan dalam tuntunan Tuhan. Penyertaan Tuhan sudah dinyatakan akan terus bersama kita sampai selama-lamanya (Matius 28:20). Artinya Tuhan berada bersama kita bukan hanya ketika kita dalam keadaan aman tanpa masalah saja , tapi dalam keadaan yang tidak kondusif, bahkan kekelaman yang tergelap sekalipun Tuhan tetap ada bersama kita. Prosesnya mungkin pahit, namun Tuhan ternyata tetap ada bersama kita, membantu kita dalam melangkah hingga pada akhirnya kita bisa menuai janjiNya. Daud merasakan hal itu. Ia mengatakan demikian: "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku." (Mazmur 23:4).

Saya ingin melanjutkan renungan kemarin dari sisi bagaimana kita menyikapi sebuah proses kehidupan untuk akhirnya bisa menjadikan janji Tuhan tersebut sebagai sebuah kenyataan. Jalan hidup Yusuf menjadi sebuah bukti nyata bagaimana penyertaan Tuhan itu berlaku dalam setiap keadaan, dan itu membuat keberadaan dalam situasi sulit sekalipun tetap memiliki perbedaan jika kita menghadapinya bersama Tuhan.

Sejak kecil Yusuf diperlakukan berbeda oleh orang tuanya. Ia dikatakan lebih dikasihi dari anak-anak yang lain. (Kejadian 37:3). Melihat hal ini, cemburulah saudara-saudaranya, dan kehidupan Yusuf pun mulai dipenuhi penderitaan. Ia sempat hampir dibunuh karena menceritakan mimpinya. Selamat dari pembunuhan bukan berarti masalah selesai, karena kemudian ia dilemparkan ke dalam sumur yang gelap gulita. Itu situasi yang mengancam nyawa, karena ia bisa saja mati secara perlahan di sana. Untunglah ia tidak jadi dibiarkan mati disana. Tapi ternyata itupun bukan sebuah kebebasan, karena ia selanjutnya dijual kepada para saudagar Midian dan dibawa ke Mesir dalam status sebagai budak. Budak, ini bukan posisi kepala, tapi posisi ekor, posisi terendah pada masa itu. Apa yang terjadi selanjutnya? Ternyata Yusuf dibeli oleh Potifar, seorang kepala pengawal istana.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on April 01, 2013, 05:02:31 AM
Quote
Dalam posisi budak, apakah ada yang bisa menjadi prestasi? Dari pengalaman Yusuf ternyata ada. Dikatakan disana Yusuf selalu berprestasi dan ia pun mendapat promosi untuk dapat tinggal di rumah mewah tuannya Potifar. Bagaimana bisa demikian? Alkitab mencatat demikian: "Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu." (39:2). Kelihatannya Yusuf tidak memiliki mental yang bersungut-sungut. Ia menjalani "profesi"nya sebagai budak tetap dengan melakukan yang terbaik dari dirinya. Buahnya? Apapun yang ia buat berhasil, sehingga dalam posisi ekor sekalipun ia bisa menjadi kepala. Mengapa bisa demikian? Sebab Tuhan menyertai Yusuf.

Apakah setelah itu perjalanan Yusuf menjadi lebih ringan? Ternyata tidak. Masalah berikutnya datang. Ia lalu digoda oleh istri Potifar. Yusuf dengan tegas menolak. Dia tidak tergoda oleh kenikmatan sesaat karena ia mau hidup taat. Kedagingannya mungkin bisa tergoda, tapi rohnya ternyata lebih kuat. Yusuf pun berkata "Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?" (ay 9). Terus menerus ditolak, lama-lama beranglah istri Potifar. Ia pun memfitnah Yusuf yang mengakibatkan Yusuf dilemparkan ke penjara. Posisi makin anjlok. Yusuf bukan lagi berstatus bukan lagi budak, tapi narapidana, orang tahanan. Putus asa kan Yusuf? Ternyata tidak. Mentalnya tetap sama. Ia tidak mengeluh atau menghujat siapapun termasuk Tuhan, tapi kelihatannya ia tetap menunjukkan sikap luar biasa, sikap yang lagi-lagi berkenan di hadapan Tuhan. Kembali kita menjumpai ayat yang mirip dengan ayat 39:2 di atas, hanya saja kali ini terjadi di dalam penjara. "Tetapi TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya, dan membuat Yusuf kesayangan bagi kepala penjara itu. Sebab itu kepala penjara mempercayakan semua tahanan dalam penjara itu kepada Yusuf, dan segala pekerjaan yang harus dilakukan di situ, dialah yang mengurusnya. Dan kepala penjara tidak mencampuri segala yang dipercayakannya kepada Yusuf, karena TUHAN menyertai dia dan apa yang dikerjakannya dibuat TUHAN berhasil." (ay 21-23). Kesulitan boleh bertambah, tapi kenyataannya Daud tetap menjalaninya dengan sebaik yang ia sanggup. Kembali kita lihat bahwa dalam keadaan di bawah (ekor), yang lebih bawah dari budak, ternyata Yusuf tetap bisa menjadi kepala. Mengapa? "Karena Tuhan menyertai dia, dan apa yang dikerjakannya dibuat TUHAN berhasil."

(bersambung)
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on April 02, 2013, 05:00:59 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_03_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/yusuf-dari-sumur-menuju-istana-2.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/yusuf-dari-sumur-menuju-istana-2.html[/url])

Yusuf: Dari Sumur Menuju Istana (2)

(sambungan)

Kisah hidup Yusuf bukanlah kisah yang asing bagi kita. Kita tahu apa yang terjadi selanjutnya. Singkat cerita, lewat hubungannya dengan seorang juru minuman yang pernah sama-sama dipenjara, dimana orang tersebut pernah melupakannya dan membiarkan Yusuf tetap dipenjara selama dua tahun, ia pun kemudian sukses mengartikan mimpi Firaun dan mendapat lompatan promosi yang menakjubkan diluar logika manusia. Dari tawanan tiba-tiba menjadi orang yang berkuasa atas seluruh tanah mesir. (ay 40-41). Yusuf akhirnya mencapai posisi kepala yang sesungguhnya. Ketika saudara-saudaranya menghadap, Yusuf seharusnya bisa membalas dendam atas segala penderitaannya selama ini yang berawal dari perlakuan buruk dan kejam saudara-saudaranya itu. Tapi itu semua tidak ia lakukan karena ia jauh lebih tertarik untuk memuliakan Tuhan lewat kehidupannya. Itu jauh lebih penting daripada memuaskan nafsu untuk membalaskan sakit hati. Ia pun memaafkan saudara-saudaranya. Perkataan Yusuf kembali menunjukkan mental juara dalam hal ketaatan dan iman. "Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar." (Kejadian 50:20). Sikap terpuji seperti itu tidaklah mudah dilakukan jika kita yang berada di posisi Yusuf. Tapi jika kita melihat bagaimana Yusuf tetap berjalan bersama Tuhan, dan berkali-kali kita menyaksikan adanya Roh Tuhan menyertainya, maka semua itu menjadi mungkin.

Dari sumur gelap, fitnah, penjara, dan pada akhirnya istana. Itu benar-benar rangkaian perjalanan yang begitu penuh liku-liku. Tetapi dalam proses itu ada penyertaan Tuhan yang ternyata mampu membuat segala yang Yusuf lakukan berhasil. Dalam posisi sulit dan di bawah sekalipun Yusuf tetap mampu tampil sebagai kepala. Ini adalah hal luar biasa yang menjadi bukti nyata dari Firman Tuhan yang mengehendaki kita semua untuk berada di "habitat" kita sesungguhnya yaitu kepala. Bahkan masalah sebesar apapun tidak mampu menghentikan Yusuf untuk mencapai posisi kepala!

Apa yang menjadi syarat agar Tuhan selalu menyertai dan memampukan kita mencapai posisi kepala sesungguhnya sudah diberitahukan dengan jelas. Mari kita lihat kembali ayat bacaan dari renungan ini. "TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia, dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya." (Ulangan 28: 13-14).
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on April 02, 2013, 05:01:29 AM
Quote
Dari ayat ini kita bisa mengalami seperti apa yang terjadi pada Yusuf jika:
- kita mendengarkan perintah Tuhan
- menjadi pelaku-pelaku firman yang setia
- tidak menyimpang ke kiri dan ke kanan
- hanya menyembah Allah saja, dan bukan allah lain
Rangkaian kisah Yusuf menggambarkan dengan jelas bagaimana keempat hal ini menjadi pedoman hidup yang ia pegang sepenuhnya. Bukankah Yusuf tetap taat melakukan ke 4 hal tersebut tanpa peduli kondisi apapun yang ia hadapi? Ia tidak kecewa, ia tidak mengeluh,  ia tidak menghujat, ia tidak putus asa, ia tidak hilang harapan, melainkan tetap percaya sepenuhnya untuk berjalan bersama dengan Allah! Dan janji Tuhan pun dengan sendirinya berlaku bagi diri Yusuf.

Tuhan telah menetapkan anak-anakNya untuk menjadi kepala dan bukan ekor. Kita akan senantiasa naik dan bukan turun. Janji yang sudah terbukti pada Yusuf pun berlaku sama buat kita semua hari ini, juga anak-cucu kita di masa yang akan datang. Ini sebuah janji berkat Tuhan yang akan bisa kita dapatkan jika kita melakukan apa yang telah Tuhan tetapkan sebagai syaratnya. Dalam kondisi apapun saat ini anda berada, tetaplah berpegang teguh pada Firman Tuhan, percayalah tanpa ragu sedikitpun, jangan memberi toleransi pada jebakan dosa dan jangan tergoda untuk mengambil alternatif-alternatif lain karena tidak sabar mengalami proses. Sebuah perjalanan yang terkelam sekalipun, jika ada penyertaan Tuhan di dalamnya akan tetap memberikan sebuah hasil yang berbeda. Kita akan tetap berhasil meski ditekan, kita akan tetap maju meski ditahan, tidak ada satupun yang bisa menghentikan keinginan Tuhan jika kita melakukan semua ketetapan yang telah Dia berikan. Proses boleh menyakitkan, namun pada suatu ketika kita akan menuai janji Tuhan dengan sepenuhnya. Dan ingatlah bahwa dalam sepanjang proses itupun Tuhan mampu membuat kita tetap berhasil dan memperoleh pencapaian-pencapaian tersendiri. Yusuf sudah membuktikan dan berhasil. Siapkah kita membuktikannya sama seperti Yusuf?

Kepala dan bukan ekor, tetap naik dan bukan turun, itulah yang dijanjikan Tuhan untuk kita
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on April 03, 2013, 04:52:34 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_04_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/mewaspadai-benda-berbahaya-dalam-hati-1.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/mewaspadai-benda-berbahaya-dalam-hati-1.html[/url])

Mewaspadai Benda Berbahaya Dalam Hati (1)

Ayat bacaan: Amsal 4:23
===================
"Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan."

Secara fisik kita akan dengan cepat belajar mengenai berbagai hal yang bisa menimbulkan rasa sakit terhadap diri kita, yang bisa menghadirkan luka atau penderitaan pada tubuh. Tentu tidak butuh waktu lama bagi kita untuk mengetahui bahwa api, baranya atau bahkan peralatan-peralatan panas lainnya seperti alat panggang menyala atau setrika dapat mengakibatkan luka serius pada bagian tubuh kita apabila terkena. Kita mengajar anak-anak agar tidak bermain dengan benda-benda tajam seperti gunting, pisau, atau korek api dan sebagainya yang bisa menimbulkan masalah serius baik bagi diri mereka sendiri maupun orang lain. Dengan kecepatan yang sama pula kita akan mengetahui hal-hal yang bisa menimbulkan kenyamanan atau kenikmatan fisik. Kedua hal itu seringkali menjadi faktor yang paling memotivasi kita untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.

Tetapi coba bandingkan dengan belajar menjaga hati kita dari hal-hal yang bisa menimbulkan masalah serius dalam hidup. Banyak orang yang lambat atau bahkan sama sekali tidak kunjung belajar dari pengalaman bahwa kemalasan, kebencian, ketidakjujuran atau kebohongan, rasa putus asa, iri hati, ketakutan, kemarahan dan sejenisnya merupakan 'benda-benda berbahaya' yang dapat pula melukai hidup kita. Semua 'benda' ini bukan saja tidak produktif tetapi bisa menimbulkan penderitaan untuk waktu yang panjang, bahkan telah menghancurkan masa depan banyak orang dan menimbulkan kesakitan yang tidak sedikit. Tidak banyak dari kita yang akhirnya menyadari sebuah kesimpulan bahwa semuanya akan sangat tergantung dari satu hal, yaitu hati.

Ada banyak contoh dalam Alkitab yang menunjukkan seberapa fatalnya akibat yang bisa terjadi jika kita tidak menjaga hati kita dari masuknya 'benda-benda' yang merusak di atas. Mari kita ambil satu contoh dalam Alkitab, yaitu ketika Kain membunuh saudara kandungnya sendiri, Habel. Kita bisa mengetahui bahwa asal mula terjadinya pembunuhan itu berawal dari rasa iri. Darimana iri itu muncul? Tentu saja dari hati. Dan Alkitab pun mencatatnya dengan jelas. "Tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram." (Kejadian 4:6). Hatinya panas, itu kemudian membuat wajahnya menjadi muram. Ia menjadi gelap mata, tidak lagi bisa berpikir sehat dan akhirnya ia pun melakukan kekejian, yang rasanya tidak akan mungkin dilakukan oleh manusia normal. Sebuah kejahatan yang fatal terjadi, dan itu semua berasal dari hati yang tidak terjaga dengan baik.

Kepahitan pun bisa timbul dari hati yang kecewa. Dalam hal ini mungkin Naomi bisa menjadi contoh. Tidak tanggung-tanggung, Naomi mengalami kepahitan karena kecewa kepada Tuhan. "Tetapi ia berkata kepada mereka: "Janganlah sebutkan aku Naomi; sebutkanlah aku Mara, sebab Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku." (Rut 1:20). Ayub pun merupakan salah satu contoh yang sempat mengalami kepahitan. Satu kesimpulan yang bisa kita ambil, hati akan sangat menentukan bagaimana kita menjalani hidup. Apakah kita optimis atau pesimis, apakah kita bersukacita atau penuh kepahitan, semua bermuara pada satu hal, yaitu kondisi hati kita.


(bersambung)
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on April 04, 2013, 04:49:51 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_04_01_archive.html[/url]
renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/mewaspadai-benda-berbahaya-dalam-hati-2.html

Mewaspadai Benda Berbahaya Dalam Hati (2)

(sambungan)

Firman Tuhan  sudah mengingatkan akan pentingnya menjaga hati dari berbagai hal yang merusak. "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." (Amsal 4:23). Kehidupan dikatakan terpancar dari hati. Apapun yang ada dalam hati kita akan terlihat jelas dari cara, gaya dan sikap hidup kita. Bahagia tidaknya kita hidup di dunia akan sangat tergantung dari kondisi atau keadaan hati kita, dan itupun akan sangat menentukan kemana kita akan pergi kelak. Itulah sebabnya kita diingatkan untuk menjaga hati dengan segala kewaspadaan. Hati yang tidak terjaga bisa sangat berbahaya, dan itu bisa kita lihat pula ayatnya. "Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat." (Matius 15:19). Dan Firman Tuhan kemudian berkata: "Itulah yang menajiskan orang." (ay 20).

Ketika kita bertobat dan menerima Kristus kita sudah diubahkan menjadi ciptaan baru (2 Korintus 5:17). Hati kita pun ikut diperbaharui sehingga tidak seharusnya segala kepahitan, kekecewaan, keraguan dan keputus-asaan masih bercokol dalam diri kita. Dengan hati yang bersih itulah kita lalu bisa mendekati Allah karena hati kita tidak lagi berisi hal-hal yang jahat tetapi penuh dengan iman yang teguh dan ketulusan. "Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni." (Ibrani 10:22). Pemulihan hati setelah pertobatan ini pun sudah disinggung dalam kitab Ulangan, "Dan TUHAN, Allahmu, akan menyunat hatimu dan hati keturunanmu, sehingga engkau mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, supaya engkau hidup." (Ulangan 30:6).

Satu hal yang harus kita ingat, meski sebentuk hati yang baru sudah diberikan kepada kita, hati tetaplah rentan akan pencemaran. Walaupun sudah dipulihkan dan diperbaharui, kita tetap perlu menjaganya agar tidak kembali kotor seperti sebelumnya. Bagaimana caranya? Caranya adalah dengan tetap berjalan bersama Tuhan, mengandalkanNya dalam setiap langkah dan tetap mengisi hati kita dengan firmanNya. "Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang." (Ibrani 12:15). Hati yang tidak terjaga bisa menjadi tempat subur bagi tumbuhnya akar-akar pahit yang bukan saja menyusahkan kita tetapi juga bisa mencemarkan banyak orang. Adalah penting bagi kita untuk terus tekun menjaga hati kita dengan sungguh-sungguh, karena dari sanalah seluruh kehidupan kita akan terpancar. Mari terus giat menjaga hati agar kita bisa tetap memiliki hati yang lembut, hati yang mau mengampuni, hati yang tidak kehilangan harapan, hati yang penuh ucapan syukur dan bersukacita, terlebih hati yang mengasihi, lalu pancarkan itu untuk memberkati sesama. Jangan biarkan berbagai 'benda asing' yang jahat masuk membuat hati kita tercemar, sakit dan bahkan hancur. Kita bisa memberkati orang lain, bisa pula melukai orang lain. Kita bisa tetap bersukacita dalam segala situasi dan keadaan, kita bisa gelisah, putus asa dan penuh kebencian. Semua itu akan sangat tergantung dari bagaimana kondisi hati kita.

Suasana hati akan sangat mempengaruhi kehidupan kita sekarang dan yang akan datang

Follow us on twitter: [url]http://twitter.com/dailyrho[/url] ([url]http://twitter.com/dailyrho[/url])
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on April 05, 2013, 04:39:36 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_04_01_archive.html[/url]
renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/menyepelekan-sebuah-janji.html

Menyepelekan Sebuah Janji

Ayat bacaan: Matius 5:37
==================
"Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat."

Ada beberapa teman yang suka berjanji hanya karena tidak tega menolak. Mereka mencari gampangnya dengan mengatakan ya ketika diajak atau diminta datang, tapi seringnya mereka tidak hadir pada waktu yang ditetapkan. Semudah mereka berjanji, semudah itu pula mereka melupakannya. Selalu saja ada alasan yang dikemukakan, sehingga lama-lama saya pun tidak lagi menganggap jawaban ya mereka sebagai sebuah janji. Anda pun tentu pernah bertemu orang-orang yang punya sifat seperti ini. Itu kita anggap hanyalah kebohongan kecil yang tidak terlalu merugikan. Mungkin kita kecewa, mungkin kita kesal, tapi biasanya hanya sampai sebatas itu saja, dan itu jauh lebih ringan dibanding banyak kebohongan-kebohongan yang lebih besar dengan daya rusak yang lebih besar pula.

Ada kalanya kita pun bisa terjebak pada situasi demikian. Karena segan, tidak mau membuat orang lain kecewa, atau alasan lain, kita bisa tergoda untuk melakukan "lips-service" dengan membuat sebuah janji atau mengatakan ya. Soal ditepati atau tidak itu soal nanti, yang penting janjikan saja dulu. Toh alasan bisa dicari belakangan. Perilaku ini mungkin kita anggap manusiawi dan wajar apalagi kalau hanya dilakukan dalam keadaan-keadaan tertentu yang mendesak saja. Padahal sikap seperti ini sangatlah tidak dianjurkan dalam Alkitab. Perilaku ingkar janji atau mudah mengatakan ya tanpa diniatkan atau dianggap serius sebenarnya tidak berbeda jauh dengan berbohong. Dan Yesus sudah menyatakan hal itu. "Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat." (Matius 5:37). Atau dalam bahasa Inggrisnya: "Let your Yes be simply Yes, and your No be simply No; anything more than that comes from the evil one."

Yesus mengatakan hal ini dalam konteks menasihati kita untuk tidak bersumpah, yang didasarkanNya dari 10 Perintah Allah: "Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu" (Keluaran 20:16). Kenyataannya, dan ironisnya, manusia terkadang begitu mudahnya bersumpah demi segala sesuatu, bahkan demi Tuhan untuk sesuatu kebohongan. Ini jelas-jelas melanggar Firman Tuhan. Tuhan sangat tidak suka, bahkan dikatakan jijik dengan sikap/kebiasaan seperti ini seperti apa yang dikatakan Daud: "Engkau membinasakan orang-orang yang berkata bohong, TUHAN jijik melihat penumpah darah dan penipu." (Mazmur 5:7). Dari ayat ini kita melihat bahwa penipu disamakan dengan pembunuh. Tidak salah, karena penipu, orang yang bersaksi dusta, orang yang ingkar janji bisa membunuh harapan orang, kepercayaan orang, bahkan karakter orang lain dengan segala kebohongannya. Salomo di kemudian hari mengingatkan lebih lanjut: "Saksi dusta tidak akan luput dari hukuman, orang yang menyembur-nyemburkan kebohongan tidak akan terhindar." (Amsal 19:5). Pada saatnya, orang-orang pembohong tidak akan luput dari hukuman. Begitu seseorang berbohong, maka Tuhan pun akan menjadi lawannya. (Yehezkiel 13:9).
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on April 05, 2013, 04:40:19 AM
Quote
A promise is a promise. Never promise something that you can't keep. Itu kata-kata bijak yang sebenarnya baik untuk kita resapi dan renungkan. Kita harus belajar untuk menepati dan menganggap serius sebuah janji. Orang yang selalu menepati janji dengan sendirinya menjadi saksi kuat akan dirinya sendiri dalam hal kebenaran, sehingga mereka tidak lagi perlu mengucapkan sumpah-sumpah lewat bibirnya untuk meyakinkan orang lain. Kita harus mampu menjalani kehidupan yang bisa mendatangkan kepercayaan orang pada diri kita lewat kesetiaan kita akan sebuah janji, dan itu akan jauh lebih "valid" dibanding kepercayaan yang bisa diperoleh lewat sumpah. Demikian pula dengan nazar, yang merupakan janji kita terhadap Tuhan ketika memohon sesuatu. Jangan pernah menunda atau lupa membayar nazar, karena itu juga akan menjadi sebuah kebohongan yang sangatlah tidak berkenan di hadapan Tuhan. "Kalau engkau bernazar kepada Allah, janganlah menunda-nunda menepatinya, karena Ia tidak senang kepada orang-orang bodoh. Tepatilah nazarmu." (Pengkotbah 5:4).

Seperti apa yang diajarkan Yesus, hendaklah kita mau menghormati janji dan senantiasa menepatinya. Jika ya, katakanlah ya. Jika tidak, katakan tidak. Diluar itu adalah kebohongan yang datang dari iblis. Ketika mengatakan ya, peganglah itu dengan sungguh-sungguh, like you really mean it. Jangan biasakan untuk memberi janji-janji palsu dengan alasan apapun. Belajar membenarkan kebohongan kecil bisa membuat kita terbiasa berbohong, dan pada suatu ketika nanti kita berubah menjadi penipu ulung yang tidak lagi merasa bersalah dalam melakukan kebohongan yang besar. Kebohongan-kebohongan kecil bisa menjadi lahan subur bagi iblis untuk menghancurkan kita. Hendaklah kita selalu mengutamakan kejujuran agar tidak membuka peluang bagi iblis untuk mengacak-acak hidup kita. Ingatlah bahwa janji yang dibuat asal-asalan dan tidak ditepati akan mengakibatkan ketidakpercayaan orang pada kita, dan juga sebuah dosa menjijikkan di hadapan Tuhan.

When you make a promise, be serious with it and make sure to keep it

Follow us on twitter: [url]http://twitter.com/dailyrho[/url] ([url]http://twitter.com/dailyrho[/url])
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on April 06, 2013, 04:53:09 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_04_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/mengatahui-panggilan-dan-maksimal-dalam.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/mengatahui-panggilan-dan-maksimal-dalam.html[/url])

Mengatahui Panggilan dan Maksimal dalam Mengerjakannya (1)

Ayat bacaan: 1 Tesalonika 4:7
========================
"Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus."

Apa yang dimaksud dengan sebuah panggilan, dan apa sebenarnya panggilan kita dalam hidup? Yang jelas kita tidak akan pernah bisa melaksanakan sebuah panggilan denga nbaik apabila kita tidak mengerti atau bahkan tidak tahu apa yang menjadi panggilan Tuhan bagi kita. Kita sering mengira bahwa panggilan hanyalah semata mengenai bentuk-bentuk pelayanan dalam bidang-bidang di gereja lantas lupa bahwa ada panggilan-panggilan yang Tuhan berikan secara spesifik kepada setiap kita. Apakah anda hari ini bekerja sebagai pengusaha, pedaganng, karyawan, guru/dosen, dokter atau berbagai profesi lainnya, ataupun anda adalah seorang hamba Tuhan full time, itupun merupakan sebuah panggilan dimana anda bisa menyatakan Terang Kristus dan memberkati banyak orang. Apa yang diperlukan untuk bisa maksimal dalam melayani panggilan? Apa dasar yang perlu kita pastikan ada dalam diri kita agar kita bisa memberi yang terbaik dalam panggilan kita masing-masing?

Ayat bacaan hari ini sangat jelas menyatakan seperti apa sebenarnya gagasan Tuhan mengenai panggilanNya itu dalam bahasa yang sangat sederhana. "Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus." (1 Tesalonika 4:7). Ayat singkat ini dengan begitu tegas menyatakannya. Kita bukan dipanggil untuk melakukan apa yang cemar, bukan apa yang menyakiti hati Tuhan, apa yang dipandang jahat di mata Tuhan, apa yang mengecewakanNya, melainkan untuk hidup kudus, seturut kehendakNya, sesuai perintahNya. Ini adalah Firman Tuhan yang sederhana dan singkat namun keras, karena ayat selanjutnya menyatakan: "Karena itu siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga Roh-Nya yang kudus kepada kamu." (ay 8). Bayangkan betapa seriusnya jika apa yang kita lakukan justru dinilai sebagai perbuatan yang menolak Allah yang telah memberikan ROH KUDUS kepada kita. Atas kasihNya kita ditebus, diselamatkan dan dianugerahkan ROH KUDUS sebagai Sang Penolong, tapi atas segala kecemaran yang kita lakukan kita justru menolak Allah. Itu jelas sesuatu yang sangat serius.

Selanjutnya dikatakan "Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah." (Roma 3:23). Itulah gambaran manusia yang seharusnya penuh dosa dan sebenarnya jauh dari layak untuk mendapatkan kemuliaan Allah. Tapi oleh kasih karunia Allah yang begitu besar kita sudah ditebus lunas lewat Kristus. "dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus." (ay 24). Firman Tuhan lewat Petrus berkata: "Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat." (1 Petrus 1:18-19). Ini semua telah kita terima, bahkan dikatakan dengan cuma-cuma. Artinya dengan menerima Kristus seharusnya kita bisa memulai sebuah kehidupan yang baru yang benar-benar kudus. Kecemaran akibat dosa bukanlah menjadi bagian dari kita lagi untuk menurut Tuhan. Hidup kudus, dan bukan cemar, itulah yang seharusnya kita lakukan setelah kita ditebus dan dibenarkan lewat darah Kristus.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on April 06, 2013, 04:53:46 AM
Quote
Tuhan telah memberikan, selanjutnya tugas kita untuk mempertahankan. Kita tahu bahwa mempertahankan seringkali jauh lebih sulit dari memperoleh atau bahkan merebut. Inilah yang menjadi masalah, karena arus dunia dengan segala iming-iming yang ditawarkan di dalamnya akan terus menerus berusaha meracuni kita yang lemah ini. Segala bentuk tipu muslihat siap digelontorkan iblis untuk meruntuhkan kita. Menjauhkan kita dari kekudusan dan mengarahkan kita ke dalam berbagai bentuk kecemaran. Kelemahan kita membuat terdapatnya banyak lubang-lubang dalam pertahanan kita yang sangat rentan untuk diserang. Tapi Tuhan tahu bagaimana lemahnya kita. Tidak akan mungkin kita mampu bertahan melawan arus dunia dengan segala penyesatan di dalamnya apabila kita hanya mengandalkan kekuatan kita sendiri atau apapun yang ada di dunia ini. Oleh sebab itu Tuhan memberikan Penolong bagi kita, ROH KUDUS, untuk menyertai, menolong, mengingatkan dan menguatkan kita dalam bertahan dan melawan arus ini. Jangan lupa pula bagaimana besarnya kuasa Firman Tuhan yang tidak saja harus kita baca, renungkan dan perkatakan, tetapi harus diaplikasikan secara nyata pula dalam perbuatan kita. Dengan ini semua seharusnya kita mampu menjalankan apa yang menjadi panggilan Allah bagi kita. Sekali lagi bukan untuk kecemaran, melainkan untuk sebuah kekudusan.

Kita tidak akan bisa melihat Tuhan tanpa adanya kekudusan. Firman Tuhan berkata "..kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan." (Ibrani 12:14). Kita tidak akan bisa mengalami kemuliaan Tuhan apabila kita masih hidup penuh kecemaran. Itulah sebabnya Tuhan mengingatkan kita "Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu" (1 Petrus 1:14-15). Dengan kata lain, lewat ayat selanjutnya Tuhan berpesan "Kuduslah kamu, sebab Aku kudus." (ay 16). Sudahkah kita memperhatikan benar-benar hidup kita untuk melakukan yang kudus sesuai panggilan Tuhan?


(bersambung)
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on April 07, 2013, 04:25:35 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_04_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/mengatahui-panggilan-dan-maksimal-dalam_5.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/mengatahui-panggilan-dan-maksimal-dalam_5.html[/url])

Mengatahui Panggilan dan Maksimal dalam Mengerjakannya (2)

(sambungan)

Menjaga kekudusan merupakan hal yang mutlak untuk kita lakukan agar kita bisa menjalankan panggilan dengan maksimal. Ada beberapa hal lain pula yang juga penting untuk kita perhatikan, yaitu:

1. Memberi respon yang baik terhadap panggilan Tuhan
Tanpa adanya respon dari kita terhadap sebuah panggilan, maka kita tidak akan mengetahui apa yang sebenarnya Tuhan mau untuk kita kerjakan. Merespon itu sama dengan menjawab bahwa kita siap untuk melakukan apa yang Tuhan mau. Mungkin kita tidak pernah membayangkan bahwa kita sanggup, tetapi yang Tuhan mau sebenarnya bukanlah kemampuan atau kesanggupan kita melainkan kesediaan kita untuk melakukannya. Tuhan adalah Allah yang menyediakan, dan Dia akan menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan agar kita bisa melakukannya dengan hasil yang terbaik. Saya bukanlah terlahir dari keluarga Kristen. Bertobat saja saya masih terhitung baru, dan sebelumnya tidak pernah mengenal apa-apa tentang Kristus. Terbayangkah ketika dalam waktu yang singkat saya sudah menerima panggilan untuk menulis renungan setiap hari lewat media online ini? Itu tidak masuk akal. Tetapi hari ini saya sudah menjalankannya hampir 6 tahun. Itu bisa terjadi karena saya menuruti panggilan, memberi respon terhadap panggilanNya sambil mempercayakan segala prosesnya kepada Tuhan. Tanpa itu tidak akan ada apapun yang terjadi, dan renungan harian online ini pun tidak akan pernah ada.

2. Menghidupi Panggilan itu
Panggilan yang diterima tidak otomatis menjadi sesuatu yang langsung jadi. Seperti aspek-aspek kehidupan lainnya, sebuah panggilan pun harus terus dikembangkan agar terus meningkat hingga menjadi sebuah penggenapan seperti yang menjadi tujuan Tuhan dalam hidup kita. Dengan cara terus dilatih dan dikembangkan sesuai dengan karunia dan talenta yang sudah diberikan, panggilan itu nantinya akan menjadi menghasilkan buah yang subur. Seringkali grand design Tuhan akan secara perlahan pula kita ketahui seiring perjalanan atau prosesnya. Setahap demi setahap kita melakukan panggilan Tuhan hingga akhirnya kita bisa mengetahui apa yang sebenarnya Dia mau kita lakukan dan seperti apa sebenarnya yang Dia ingin kita capai.

3. Mengubah cara kita menjadi cara Tuhan
Ingatlah bahwa panggilan yang diberikan Tuhan itu bukanlah milik kita. Bagaimanapun itu adalah milik Tuhan. Karena itu cara terbaik tentu adalah dengan memakai cara Tuhan dalam melaksanakannya, yaitu dengan megiktui tuntunan yang Dia berikan, sesuai dengan kehendakNya. Ambil satu contoh mengenai Daud. Ketika Daud dilantik menjadi raja, ia ternyata tidak langsung naik tahta dan berkuasa. Ia ternyata harus mengikuti cara Tuhan, dengan cara menjadi hamba Saul terlebih dahulu. Disini kita dituntut untuk taat, sabar dan terus memegang komitmen terhadap panggilan yang sudah kita terima.

4. Panggilan harus dilakukan secara serius seperti untuk Tuhan dan bukan manusia
Karena Dia yang memiliki panggilan itu, tentu kita pun diwajibkan untuk melakukan yang terbaik seperti melakukannya untuk Tuhan dan bukan untuk orang lain. "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia." (Kolose 3:23). Ayat ini dengan jelas menyatakan bahwa bukan sebagian saja, tetapi segala sesuatu, apapun yang kita perbuat, kita harus melakukannya dengan segenap hati seperti untuk Tuhan. Jika untuk pekerjaan biasa-biasa saja kita diminta seperti itu apalagi ketika kita menjalankan sebuah tugas mulia yang didasari oleh panggilan dari Tuhan sendiri.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on April 07, 2013, 04:26:23 AM
Quote
5. Panggilan harus dikerjakan dengan iman
Alkitab menegaskan bahwa apapun yang kita kerjakan haruslah berdasarkan iman. Mengapa? Sebab "segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa." (Roma 14:23b). Karena itulah panggilan pun harus dikerjakan dengan iman. Maksudnya adalah ketika kita mengerjakan panggilan itu, kita harus tahu bahwa itu berasal dari Tuhan dan kita harus bertanggung jawab kepadaNya. Semua itu harus ditujukan untuk kemuliaan Tuhan dan bukan untuk kepentingan-kepentingan kita pribadi. Iman yang menjadi "dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat" (Ibrani 11:1) pun akan menjadi pegangan kita dalam melangkah setapak demi setapak dalam memenuhi panggilan. Tanpa itu kita mungkin bisa merasa bosan, capai atau putus asa pada waktu-waktu tertentu.

Sebagai orang percaya kita dipanggil untuk menggenapi rencana Tuhan dalam kehidupan kita. Sudahkah anda mengetahui apa sebenarnya yang menjadi panggilan buat anda dan sudahkah anda mengerjakannya secara maksimal? Jika belum, mulailah hari ini juga. Temukan apa yang menjadi panggilan Tuhan dan kerjakanlah dengan sebaik-baiknya. Tetaplah jaga hidup dalam kekudusan, respon dan hidupi panggilan itu, lakukan dengan maksimal seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia dan lakukan dengan dasar iman. Tampillah menjadi orang-orang yang menyatakan terang Tuhan sesuai panggilan anda masing-masing, kembangkanlah itu semua sesuai talenta dan karunia yang sudah Dia sediakan. It's time to do our best to answer our callings!

Temukan panggilan anda dan lakukan yang terbaik dalam mengerjakannya

Follow us on twitter: [url]http://twitter.com/dailyrho[/url] ([url]http://twitter.com/dailyrho[/url])
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on April 08, 2013, 04:37:34 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_04_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/merespon-panggilan-bukan-kemampuan-kita.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/merespon-panggilan-bukan-kemampuan-kita.html[/url])

Merespon Panggilan: Bukan Kemampuan Kita, Tapi Kemauan

Ayat bacaan: Filipi 4:19
=================
"Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus."

Sewaktu kecil saya sering diminta ayah saya untuk pergi ke warung membeli sayur, bawang atau bumbu masak lainnya yang akan ia pakai untuk memasak telur dadar. Pada waktu itu hari minggu adalah satu-satunya hari yang bisa dipakai oleh ayah saya untuk melakukan kegemarannya sibuk-sibuk di dapur, karena di hari kerja jadwalnya penuh dalam bekerja sebagai dokter. Saya masih ingat betul pada mulanya saya ragu apakah saya mampu melakukan itu. Bagaimana jika saya ditipu harga, diberi kembalian yang tidak benar atau kendala-kendala lainnya seperti salah beli sayur, bumbu dan sebagainya? Satu hal yang ayah saya katakan pada waktu itu juga masih membekas dalam memori saya sampai hari ini. Ia berkata bahwa jika saya ia suruh, itu artinya ia percaya saya mampu. Akan halnya soal berhitung uang kembalian, bukankah saya sudah ia beri kesempatan untuk bersekolah, disamping ia dan ibu saya juga rajin mengajari saya dalam banyak hal termasuk matematika? Dan soal salah beli, kalaupun salah saya tinggal menukarkannya kembali, atau saya bisa bertanya kepada si penjual. Kalau begitu tidak ada yang harus saya khawatirkan. Saya tinggal mengaplikasikannya ke dalam bentuk nyata. Pengalaman hidup nyata yang sederhana ini ternyata teraplikasikan dalam kehidupan saya setelah dewasa, dan ternyata pula merupakan sebuah cerminan tentang bagaimana reaksi kita dalam menanggapi panggilan yang diberikan Tuhan.

Keraguan, itu akan selalu hadir ketika kita dihadapkan kepada sebuah tugas, tantangan dan juga sebuah panggilan. Logika kita akan segera mengukur batas kemampuan kita, dan di saat ukuran kita tidak sebanding dengan besarnya tanggungjawab yang dibebankan, maka keraguan pun segera muncul. Padahal apa yang diminta Tuhan bukanlah soal kemampuan kita, tetapi kemauan kita. Bukan kepintaran, kekuasaan, koneksi, keahlian atau gelar kita yang membuat Tuhan tertarik untuk memberi sebuah tanggungjawab lewat panggilan, tetapi kesediaan kita untuk mengerjakannya dengan taat, itulah sebenarnya yang diinginkan Tuhan. Selebihnya serahkan kepada Tuhan. Dia adalah Tuhan yang menyediakan (Jehovah Jireh), dan oleh karenanya segala keperluan kita butuhkan untuk mengerjakan sebuah panggilan tentu Tuhan sendiri yang akan sediakan. Dan lihatlah ayat yang secara tegas menyatakan hal itu. "Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus." (Filipi 4:19). Jika untuk keperluan-keperluan kecil kita saja Tuhan mau sediakan, apalagi untuk sebuah tujuan besar sesuai rencanaNya yang hadir dalam bentuk panggilanNya bagi kita masing-masing.

Jadi lihatlah bahwa ada perbedaan antara ukuran kesanggupan kita menurut penilaian kita sendiri dan pandangan Tuhan tentang kesanggupan kita menurut hematNya. Kita bisa melihat sebuah contoh akan kebimbangan ini lewat kisah Musa pada saat ia dipilih Tuhan untuk memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan untuk menuju tanah terjanji. Musa seperti kebanyakan dari kita langsung mengarahkan pandangan kepada keterbatasannya sebagai pribadi yang punya kelemahan fundamental yang bagi manusia mungkin akan dianggap sebagai nilai minus atau bahkan penghalang menuju keberhasilan. "Lalu kata Musa kepada TUHAN: "Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah." (4:10). Berat mulut dan berat lidah, slow of speech and have a heavy and awkward tounge dalam bahasa Inggrisnya. Mungkin itu sejenis gagap, atau sekedar bukan orang yang pintar berbicara seperti layaknya orator ulung. Musa segera mengarah kepada kelemahannya dan lupa bahwa Tuhanlah sebenarnya yang menjadi pelaku utamanya, bukan dia. Itulah yang kemudian diingatkan Tuhan. "Firman Allah kepada Musa: "AKU ADALAH AKU." Lagi firman-Nya: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu." (3:14). Dalam versi bahasa Inggrisnya dikatakan "I AM WHO I AM and WHAT I AM, and I WILL BE WHAT I WILL BE." Tuhan secara jelas menyatakan bahwa siapa Tuhan itu jauh lebih penting daripada siapa Musa. "Akulah Aku", itu jauh lebih penting dari 'siapa aku.' Tuhan tidak melihat atau mengukur kehebatan diri kita, tetapi apa yang Dia minta adalah kemauan atau kesediaan kita. Itu saja. Selebihnya, Dialah yang akan melengkapi segala sesuatu yang kita butuhkan agar bisa berhasil menggenapi panggilanNya dengan baik.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on April 08, 2013, 04:38:29 AM
Quote
Sikap sebaliknya kita dapati ketika Yesaya berada dalam situasi mirip dengan Musa saat mendapat panggilan Tuhan. Berbeda dengan Musa, Yesaya langsung menyatakan kesiapannya tanpa menghitung-hitung kemampuannya terlebih dahulu. "Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: "Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka sahutku: "Ini aku, utuslah aku!" (Yesaya 6:8). Singkat namun tegas, demikian reaksi Yesaya. "Here am I, send me." Apakah Yesaya termasuk orang yang percaya diri berlebihan? Narsis? Sok hebat? Saya percaya bukan itu. Saya yakin Yesaya sangat tahu sampai dimana batas kemampuannya sebagai manusia. Tetapi ia menyadari betul bahwa ia hanyalah seorang utusan, seorang hamba. Ia tidak perlu takut. Bukankah ia memiliki "Tuan" dengan kuasa yang tidak terbatas? Bukankah ketika sang tuannya yang menyuruh, itu artinya tuannya tahu ia mampu, dan tuannya pula yang akan melengkapi apapun yang ia perlukan untuk melaksanakan tugas? Ini sebuah sikap yang seharusnya segera muncul dalam diri kita ketika Tuhan memberi sebuah panggilan. Bukan segera melihat kekurangan atau keterbatasan kemampuan kita, tetapi segera mengarahkan pandangan kepada Sang Pemberi tugas. Bukan mengeluh, tetapi sudah sepantasnya kita bersyukur karena kita dipilih Tuhan untuk melakukan pekerjaan yang mulia. Bukan kemampuan kita yang penting, tetapi kemauan kita. Selebihnya biarkan Tuhan yang berkreasi diatas segalanya lewat diri kita.

Dalam dua renungan terdahulu kita sudah melihat bagaimana caranya agar kita bisa mengerjakan panggilan secara maksimal. Hari ini marilah kita sadari bahwa apa yang diminta Tuhan adalah kesediaan kita, what He wants from us is simply our willingness, our obedience, our immidiate positive response based on trust and faith. Adakah panggilan Tuhan kepada anda yang hingga hari ini masih anda tunda karena ragu? Adakah panggilan Tuhan yang masih anda abaikan karena anda masih tidak percaya bahwa anda sanggup? Jangan tunda lagi, terimalah segera dan beranilah berkata seperti Yesaya: "Ini aku, utuslah aku!"

Bukan kemampuan kita, tetapi kemauan kita, itulah yang diminta Tuhan

Follow us on twitter: [url]http://twitter.com/dailyrho[/url] ([url]http://twitter.com/dailyrho[/url])
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on April 09, 2013, 04:33:55 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_04_01_archive.html[/url]
renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/mengenal-tuhan.html

Mengenal Tuhan

Ayat bacaan: Hosea 4:6a
===================
"Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah"

Bagi anda yang bekerja di pabrik dengan banyak mesin, anda tentu perlu mengenal terlebih dahulu bagaimana cara kerja masing-masing mesin, begitu juga dengan proses pengerjaannya mulai dari satu mesin ke mesin lain hingga akhirnya menjadi produk jadi. Tanpa mengetahui itu semua bukan saja kita tidak bisa bekerja dengan baik, tapi juga riskan karena bisa menimbulkan kecelakaan dalam bekerja. Dalam menjaga hubungan dengan orang lain pun demikian. Kita perlu mengetahui banyak hal tentang mereka agar tidak salah bersikap atau salah kata. Ada yang cepat tersinggung, ada yang suka bercanda, ada yang serius, ada yang sensitif perasaannya, sehingga kita perlu benar-benar tahu terlebih dahulu tentang mereka agar bisa menjadi teman yang baik.

Dalam hal kerohanian pun demikian. Alangkah ruginya atau bahkan bisa riskan juga apabila kita tidak mengenal Allah. Mungkin kita berpikir bahwa semuanya sudah cukup kalau kita sudah ke gereja, sudah berdoa, tapi ada banyak orang yang melakukan itu semua bukanlah atas dasar yang benar melainkan sekadar menjalankan rutinitas, karena disuruh orang tua, karena kebiasaan dan tradisi dan alasan lainnya. Bisa saja ketika kita berdoa atau di gereja sebenarnya pikiran kita sedang berada diluar sana. Hal-hal seperti ini jika tidak dicermati akan membuat kita tidak kunjung mengenal Allah dan itu akan sangat merugikan bagi diri kita, bahkan bisa mendatangkan kebinasaan.

Dalam Hosea kita bisa melihat mengapa Israel jadi binasa. Kelakuan mereka yang tidak baik akhirnya mendatangkan murka Tuhan. Alasannya jelas tertulis dalam Alkitab. "Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah" (Hosea 4:6a). Tidak mengenal bagaimana? Mari kita lihat Hosea pasal 4 yang diberi judul "Menentang imam dan bangsa yang tidak setia". Pasal ini dimulai dengan: "Dengarlah Firman Tuhan, hai orang Israel, sebab TUHAN mempunyai perkara dengan penduduk negeri ini, sebab tidak ada kesetiaan dan tidak ada kasih, dan tidak ada pengenalan akan Allah di negeri ini." (ay 1). Tiga alasan penting yang membuat Tuhan marah disebutkan dengan jelas disini, yaitu:
- Tidak setia
- tidak ada kasih
- tidak mengenal Allah

Apa yang dilakukan orang Israel pada masa itu memang sudah keterlaluan, Mereka "hanya mengutuk, berbohong, membunuh, mencuri, berzinah, melakukan kekerasan dan penumpahan darah menyusul penumpahan darah." (ay 2). Dalam ayat 6 disebutkan pula bahwa para imam yang seharusnya jadi tulang punggung justru ikut jadi orang-orang yang melupakan ajaran Tuhan. Kegagalan para imam tidak hanya berbicara mengenai para pendeta, pelayan Tuhan, tapi lebih luas lagi berbicara mengenai semua anak-anak Tuhan seperti yang tertulis dalam Wahyu 1:5-6. "Dan dari Yesus Kristus, Saksi yang setia, yang pertama bangkit dari antara orang mati dan yang berkuasa atas raja-raja bumi ini. Bagi Dia, yang mengasihi kita dan yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya--dan yang telah membuat kita menjadi suatu kerajaan, menjadi imam-imam bagi Allah, Bapa-Nya, --bagi Dialah kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya. Amin." (Wahyu 1:5-6). Perilaku tidak terpuji tersebut membuat Tuhan marah kepada mereka. Dan itu sangat wajar, mengingat betapa besarnya kasih Allah kepada mereka dari generasi ke generasi berikutnya yang ternyata sama sekali tidak mereka hargai. Sikap-sikap itu membuat Israel akhirnya harus menanggung konsekuensinya.

Berkaca dari apa yang dialami bangsa Israel yang tegar tengkuk alias keras kepala dan tidak tahu berterimakasih, kita bisa melihat bahwa menolak pengenalan akan Tuhan bisa mendatangkan bahaya besar. Ada banyak orang yang hanya mengandalkan pendeta atau pelayan Tuhan saja tanpa keinginan untuk mengenal Allah lebih jauh secara pribadi dalam hidupnya. Ada banyak yang menunda-nunda karena masih mau "menikmati" hidup, ada yang menganggap bahwa urusan kerohanian hanya urusan orang yang tua saja. Padahal Tuhan telah memperlihatkan bahwa tanpa keinginan untuk mengenal Dia akan membuat kita menuai bencana.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on April 09, 2013, 04:34:42 AM
Quote
Hanya mengandalkan tata cara peribadatan dan tradisi serta kebiasaan dan rutinitas dalam menjalankan ibadah belumlah mencerminkan usaha kita yang benar untuk mengenal Allah. Yesus menyinggung hal ini dengan tegas. "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga." (Matius 7:21). Hanya rajin berseru tapi tidak mencerminkan terang dalam hidup itu artinya tidak mengenal Tuhan. "Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?" (ay 22). Bahkan jika kita berpikir bahwa kita sudah melakukan banyak pekerjaan Tuhan, tapi hati kita sebenarnya tidak tulus melakukan itu dan bukan berbuat itu demi kemuliaan Tuhan, jika kita rajin beribadah namun sebatas dibibir saja tanpa aplikasi nyata dalam hidup, maka kita pun akan kehilangan kesempatan untuk beroleh keselamatan. "Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" (ay 23).

Pengenalan akan Tuhan bisa kita dapati dengan mengenal diriNya melalui Firman-Firman Tuhan yang terdapat di dalam Alkitab. Alkitab bukanlah sebuah buku usang yang ketinggalan jaman dan membosankan. Ada banyak tuntunan hidup dan rahasia-rahasia keselamatan di dalamnya yang mampu membuat kita semakin dekat mengenal pribadi Tuhan. Jangan berhenti hanya sampai membaca, tapi renungkan dan perbuatlah apa yang telah kita baca itu dalam kehidupan nyata. "Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya."(Yakobus 1:25) Kemudian ingatlah bahwa kita bisa mengenal Bapa lewat Yesus. "Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia." (Yohanes 14:7). Tanpa mengenal Kristus, kita tidak akan pernah bisa mengenal Tuhan, dan dengan demikian kita tidak akan pernah bisa datang menghampiriNya dan menerima janji-janjiNya. Yesus berkata "Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku." (ay 6).

Sekarang waktunya untuk lebih serius lagi dalam mengenal Allah. Teruslah berusaha untuk mengenal pribadiNya baik lewat Alkitab, kotbah, bacaan-bacaan rohani dan sumber lainnya, dan tentu saja, miliki pengenalan yang benar tentang Kristus. Jangan berhenti disana, tapi kemudian aplikasikanlah semua yang telah kita baca, dengar dan tahu itu ke dalam hidup kita sehari-hari. Temukan apa yang menjadi kehendakNya hari ini.

Mengenal Allah akan menghindarkan kita dari kebinasaan

Follow us on twitter: [url]http://twitter.com/dailyrho[/url] ([url]http://twitter.com/dailyrho[/url])
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on April 10, 2013, 04:51:03 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_04_01_archive.html[/url]
renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/kenal-maka-percaya.html

Kenal maka Percaya

Ayat bacaan: Mazmur 9:11
====================
"Orang yang mengenal nama-Mu percaya kepada-Mu, sebab tidak Kautinggalkan orang yang mencari Engkau, ya TUHAN."

Bisakah kita percaya kepada orang tanpa terlebih dahulu mengenalnya? Sebuah contoh, jika anda hendak bepergian lalu ingin menitipkan rumah kepada seseorang, anda tentu hanya akan menitipkannya kepada orang yang sudah anda kenal dengan baik. Dari deretan tetangga anda pun hanya akan memilih tetangga yang sudah akrab dan bisa anda percaya. Anda tidak akan mungkin menitipkan rumah kepada seseorang yang kebetulan melintas di depan pagar bukan? Dalam menjalin hubungan cinta pun sama. Ada masa berpacaran yang bisa dipakai untuk lebih saling mengenal satu sama lain sebelum hubungan itu dilanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Saya melihat sendiri begitu banyak contoh dari sebuah pernikahan yang terburu-buru yang kemudian melahirkan begitu banyak permasalahan dalam rumah tangga mereka. Semua berawal dari ketidaktahuan atau tidak saling mengenalnya mereka dengan cukup sebelum menikah. Kembali kepada masalah bisa percaya atau tidak, semua tentu dimulai dari sebuah proses saling kenal yang bisa jadi memakan waktu cukup lama terlebih dahulu sampai sebuah rasa saling percaya itu bisa timbul. Kesimpulannya,kita bisa percaya apabila kita mengenal seseorang dengan baik.

Hubungan antara kita dengan Sang Pencipta pun sama seperti itu. Bagaimana kita berani mengaku mencintai Tuhan apabila kita tidak mengenalNya secara dekat? Lalu bagaimana kita bisa mengaku kenal Tuhan jika kita tidak mengetahui FirmanNya yang menggambarkan isi hatiNya?  Sejauh mana kita mengenal Tuhan akan akan sangat menentukan seberapa besar tingkat kepercayaan kita kepadaNya. Kalau cuma mengaku percaya di bibir saja mungkin mudah. Tapi ketika dihadapkan pada realita, mungkin hanya sedikit yang benar-benar percaya lewat iman yang kuat bahwa Tuhan itu ada memelihara kehidupan mereka sehari-hari. Itu bisa kita lihat dari reaksi kita ketika tengah menghadapi masalah. Ketika masalah tiba, ketika badai menghadang, disanalah tingkat kepercayaan kita akan diuji. Begitu banyak orang yang saat ini begitu mudahnya didera kekhawatiran/ketakutan terhadap apa yang akan terjadi di masa depan atau ketika sedikit saja digoncang masalah. Mereka dikuasai ketakutan yang timbul dari pikiran mereka sendiri karena melihat situasi hanya lewat mata saja. Pada tingkat tertentu itu bisa membuat orang menjadi stres, paranoid dan sebagainya yang jelas bukan hal yang baik bagi kesehatan dan kehidupan kita sendiri maupun orang lain. Bukannya percaya pada Tuhan, tapi malah lebih mudah untuk menyerah kepada ketakutan dan kekhawatiran yang menghantui pikiran. Mereka hanya terfokus kepada masalah sebagai sesuatu yang sangat besar dan lupa akan besarnya kuasa yang dimiliki Tuhan. Bahkan diantara orang-orang yang melayani Tuhan pun hal seperti ini masih bisa kita dapati. Inilah yang akan terjadi apabila kita belum mengenal Tuhan secara benar.

Untuk bisa percaya kepada Tuhan, tentu terlebih dahulu kita harus mengenalNya. To know is to love. So, to know Him is to love Him. Daud mengatakan sebagai berikut: "Orang yang mengenal nama-Mu percaya kepada-Mu, sebab tidak Kautinggalkan orang yang mencari Engkau, ya TUHAN." (Mazmur 9:11). Kunci penting itu disebutkan disini seperti yang dicetak tebal. Agar kita bisa percaya maka kita harus mengenalNya terlebih dahulu. Dan lihatlah bahwa orang yang percaya kepadaNya tidak akan pernah Dia tinggalkan. Bagaimana caranya agar kita bisa mengenalNya?
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on April 10, 2013, 04:51:42 AM
Quote
Seperti yang sudah kita lihat kemarin, kita bisa mengenal Dia lewat Firman Tuhan. Alkitab mencatat begitu banyak keterangan mengenai Tuhan dan perkataanNya.  Mari kita lihat ayat berikut ini. "Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi; Dia memberi perintah, maka semuanya ada." (Mazmur 33:9). Tuhan adalah pribadi yang menciptakan segala sesuatu lewat Firman. Kisah penciptaan alam semesta beserta isinya di awal Alkitab menjadi sebuah catatan penting mengenai hal ini. Salomo menggambarkan Tuhan sebagai sosok yang jauh lebih tinggi dari segala kepintaran dan kecerdasan bahkan kebijaksanaan manusia. "Tidak ada hikmat dan pengertian, dan tidak ada pertimbangan yang dapat menandingi TUHAN." (Amsal 21:30). Dalam Yesaya dikatakan: "Dengarkanlah Aku, hai kaum keturunan Yakub, hai semua orang yang masih tinggal dari keturunan Israel, hai orang-orang yang Kudukung sejak dari kandungan, hai orang-orang yang Kujunjung sejak dari rahim. Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu." (Yesaya 3-4) Tuhan adalah Bapa yang setia yang akan tetap mau menggendong, menanggung, memikul dan menyelamatkan kita sampai akhir hayat."Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku"(ay 9). Atau lihatlah Mazmur 23, disana Daud menunjukkan seperti apa ia mengenal Tuhan. Dan tentunya banyak lagi Firman Tuhan yang mampu mengenalkan kita secara mendalam kepada siapa Tuhan sebenarnya.

Mengenal pribadi Allah bisa kita peroleh lewat pengalaman kita berjalan bersama-sama denganNya, dengan mengalami langsung kuasa Tuhan dengan penyertaanNya dalam hidup kita. Semakin taat kita menjalani hidup, maka kuasaNya akan semkakin nyata pula kita rasakan. Firman Tuhan berkata: "Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan." (Roma 10:10). Orang yang percaya akan dibenarkan, yang mengaku akan diselamatkan. Ini sejalan dengan ayat bacaan hari ini, bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan orang yang terus berusaha untuk mengenalNya lebih jauh. Orang yang setia mencari dan merindukan Tuhan adalah gambaran dari orang yang percaya kepadaNya, punya pengharapan teguh, tidak mudah terombang-ambing oleh ketakutan dan kekhawatiran. Dan ini semua bisa kita miliki jika kita mengenal siapa Tuhan itu, seperti apa sebenarnya besar kasihNya kepada kita, seberapa besar Tuhan ingin kita selamat dan mendapatkan bagian di KerajaanNya. Janganlah berhenti dengan hanya percaya sebatas bibir saja, mulailah hari ini untuk mengenal pribadi Allah lebih jauh lagi sehingga dengan iman teguh yang bertumbuh semakin besar kita bisa percaya sepenuhnya dan menerima penyertaan Tuhan secara nyata dalam hidup kita.

Kenal merupakan awal dari tumbuhnya rasa percaya
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on April 11, 2013, 04:46:42 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_04_01_archive.html[/url]
renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/komunikasi-dengan-tuhan.html

Komunikasi dengan Tuhan

Ayat bacaan: Efesus 2:18
====================
"karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa."

Sangatlah menarik jika kita melihat bagaimana perkembangan teknologi komunikasi di dunia hingga hari ini. Komunikasi jarak jauh dimulai dengan hadirnya telegram optik oleh Abbe Claude Chappe (1791) yang mendirikan 120 buah menara berjajar dengan jarak tertentu yang mampu mengirim pesan dari Paris dan Laut Tengah dalam waktu kurang dari satu jam yang berarti lebih cepat dari kecepatan kuda yang sebelumnya dipakai untuk mengirim pesan. Dari sana berbagai usaha yang lebih efisien terus dikembangkan hingga pada tahun 1938 Samuel FB Morse merancang sebuah kode yang disebut dengan Kode Morse, yaitu serangkaian ketukan kunci yang membuat kontak listrik. Dalam waktu singkat kota-kota besar di Amerika dan Eropa pun mulai terhubung lewat telegram. Tahun 1850an Inggris dan Swedia dihubungkan dengan Eropa daratan lewat sarana kabel bawah laut, yang kemudian berlanjut dengan dibangunnya hubungan dari Eropa menuju Amerika Serikat. Alexander Graham Bell pada tahun 1876 menciptakan telepon yang semakin mempermudah orang dalam melakukan komunikasi antar pribadi dengan orang yang berada jauh di tempat lain. Komunikasi semakin dipermudah dengan adanya mobile phone atau telepon genggam yang sangat memudahkan untuk berhubungan ketika kita sedang berada di luar rumah. Aplikasi SMS membuat kita bisa mengirim pesan via teks yang jauh lebih murah. Adanya internet membuat kita semakin dipermudah karena bisa chatting atau bahkan berkomunikasi sambil melihat lawan bicara yang berada di belahan bumi lainnya dengan mempergunakan videocam. Kita tidak perlu bingung lagi untuk menghubungi teman atau keluarga yang berada di belahan dunia lain, karena selain kita bisa dengan mudah menghubungi mereka, biaya yang harus dikeluarkan juga sangat minim bahkan bisa gratis.

Dalam hal hubungan kita dengan Tuhan pun sama seperti itu, ada perkembangannya. Dalam Perjanjian Lama kita melihat bahwa manusia butuh perantaraan nabi-nabi yang dipilih Tuhan untuk bisa berhubungan denganNya. Manusia tidak bisa secara langsung melakukan itu akibat dosa yang memutus hubungan antara kita dengan tahta Tuhan yang kudus. Tapi bersyukurlah kepada Yesus, karena berkat Dia hari ini kita bisa datang berbicara kepada Tuhan dengan mudah, kapan saja dan dimana saja. Kita bisa masuk menghampiri tahtaNya dan berhubungan denganNya setiap waktu karena Tuhan Yesus sudah memulihkan hubungan kita yang terputus dari Tuhan akibat dosa. Kita tidak lagi perlu harus melalui perantaraan nabi dalam membangun hubungan dengan Tuhan. Kita tidak perlu mengantri, memasuki gedung-gedung tertentu, atau mempersiapkan segala sesuatu berhari-hari atau berbulan-bulan untuk bisa berkomunikasi dengan Tuhan. Kita tidak perlu dijadwal terlebih dahulu untuk melakukan itu seperti halnya jika kita ingin bertemu dengan seorang pejabat atau orang penting lainnya. Kita bisa secara langsung menumpahkan isi hati kita, memuji dan menyembahNya, mendengar suaraNya, merasakan hadiratNya yang begitu damai atau memohon pertolongan dan menyampaikan keluhan-keluhan kita kapanpun dan dimanapun kita berada. Kita tidak memerlukan perantaraan orang lain untuk menyampaikan suara hati kita. Dan yang lebih luar biasa lagi, Tuhan tidak pernah terlalu sibuk untuk kita. Kapan saja kita membuka hubungan dengan Tuhan, Dia akan selalu berkenan untuk dihampiri, mendengar bahkan menjawab kita. Tidakkah itu luar biasa?

Tanpa Kristus kita tidak akan pernah bisa mengalami semua kemudahan ini. Paulus mengerti benar mengenai hal tersebut seperti yang bisa kita lihat lewat apa yang ia katakan: "karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa." (Efesus 2:18). Karena Dialah kita semua, baik orang-orang Israel secara rohani maupun yang berada diluar, oleh Roh Allah yang satu, dapat mendekati Bapa. Hubungan kita yang telah terputus akibat dosa telah kembali tersambung lewat darah Kristus.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on April 11, 2013, 04:47:06 AM
Quote
Alkitab mencatat jelas tentang terjadinya pemulihan hubungan ini. Tepat ketika Yesus menyerahkan nyawaNya di kayu salib, sesuatu terjadi di Bait suci. "Ketika itu tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah." (Markus 13:38). Itulah pertanda bahwa tidak lagi ada sekat yang membentang antara kita dengan Tuhan. Paulus juga menyinggung hal ini.  "Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu "jauh", sudah menjadi "dekat" oleh darah Kristus." (Efesus 2:13). Artinya, semua manusia memiliki kesempatan yang sama untuk selamat dan berhubungan secara langsung kepada Bapa melalui ROH KUDUS oleh karena Kristus, dengan perantaraan Kristus. Lebih lanjut Paulus mengatakan "Di dalam Dia kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepada-Nya." (3:12). Setiap saat, kapan dan dimana saja, kita bisa berhubungan dengan Tuhan. Ini adalah anugerah yang terlalu besar yang akan sangat bodoh sekali apabila kita abaikan.

Melalui Kristus, semua orang bisa mendapatkan kesempatan yang sama untuk merasakan hadirat Tuhan secara langsung. Tuhan selalu menyambut siapapun dengan tangan terbuka tanpa memandang siapa kita, kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan dahulu atau latar belakang apapun. Dia siap menyucikan kita kembali agar bisa dengan penuh keberanian memasuki tahta kudusNya. Apa yang perlu kita perbuat untuk bisa melakukan itu adalah mengakui dosa-dosa kita dengan melakukan pertobatan secara total dan menyeluruh, karena sesungguhnya yang memisahkan kita dari Tuhan tidak lain adalah dosa-dosa kita. "tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu." (Yesaya 59:2). Menjaga kekudusan menjadi sangat penting dalam hal ini. Sebuah syarat lain tentu saja dengan percaya kepada Yesus dan menerimaNya sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi kita, karena biar bagaimanapun semua itu bisa terwujud karena Yesus. "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku." (Yohanes 14:6).  Dengan melakukan hal-hal tersebut, kita pun akan dapat "dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya." (Ibrani 4:16).

"TUHAN dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan." (Mazmur 145:8). Dan kedekatan itu sudah menjadi begitu nyata melalui hubungan tanpa hambatan, tanpa batas yang telah dimungkinkan lewat darah Kristus. "Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang "jauh" dan damai sejahtera kepada mereka yang "dekat",karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa." (Efesus 2:17). Kalau begitu semuanya tinggal tergantung kita. Apakah kita mau memanfaatkan, mempergunakan anugerah sebesar ini dengan penuh rasa syukur atau menyia-nyiakannya. Apakah kita mau masuk atau masih memilih untuk berada di luar. Yang pasti, pintu sudah dibuka, dan pintu itu terbuka untuk semua orang tanpa terkecuali. Melalui Yesus, kita bisa menghampiri tahta kudusNya kapanpun dan dimanapun. Selama kita mau, tidak ada tempat atau waktu dimana kita tidak bisa menemuiNya.

Tidak ada pembatas lagi untuk berhubungan dengan Tuhan. Kapanpun dan dimanapun kita bisa berkomunikasi denganNya dan merasakan hadiratNya yang kudus
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on April 12, 2013, 04:08:53 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_04_01_archive.html[/url]
renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/hindari-sikap-acuh-tak-acuh.html

Hindari Sikap Acuh tak Acuh

Ayat bacaan: Zefanya 2:1-2
========================
"Bersemangatlah dan berkumpullah, hai bangsa yang acuh tak acuh, sebelum kamu dihalau seperti sekam yang tertiup, sebelum datang ke atasmu murka TUHAN yang bernyala-nyala itu, sebelum datang ke atasmu hari kemurkaan TUHAN."

Acuh itu artinya peduli, mengindahkan. Kebalikannya adalah acuh tak acuh, cuek atau bersikap masa bodoh. Ini jelas sikap yang tidak disukai banyak orang. Bayangkan kita sudah berusaha membantu atau berbuat baik kepada mereka, tapi balasan yang didapat adalah sikap dingin, acuh tak acuh seperti tidak menghargai jerih payah kita. Bukankah itu menyebalkan jika kita alami? Kita menjumpai orang-orang bersikap seperti ini dimana-mana. Bukan saja di luar, tapi juga di lingkungan terdekat kita yaitu keluarga. Orang tua yang berat untuk mengucapkan terima kasih kepada anaknya atau malah masih tega mengkritik usaha anak-anaknya, saudara yang lebih tua terhadap adiknya dan sebagainya. Itu bukanlah hal yang sulit kita jumpai disekitar kita.

Sikap acuh tak acuh atau masa bodoh ini ironisnya juga banyak dilakukan orang terhadap Tuhan yang sudah begitu menunjukkan besar kasihNya kepada kita. Ketika berada dalam keadaan terjepit, orang akan begitu rajinnya berdoa, berseru pada Tuhan, dengan ratap tangis, namun ketika Tuhan mengulurkan tanganNya untuk menolong mereka lepas dari kesesakan, mereka pun akan segera melupakan Tuhan dan sibuk dengan dunia masing-masing berikut kenyamanan di dalamnya. Atau mungkin juga berterimakasih, namun tidak bertahan lama. Doa menjadi semakin jarang dengan beragam alasan. Apalagi jika diminta untuk terlibat dalam pelayanan, wah nanti dulu.. saya masih sibuk dan tidak ada waktu untuk itu. Begitu jawab mereka dengan entengnya. Ada pula yang sama sekali tidak berterimakasih atas berkat, perlindungan, penyertaan atau pertolongan Tuhan atas diri mereka. Begitu seringnya orang percaya segera melupakan Tuhan ketika berada dalam kenyamanan, tetapi tanpa rasa malu mereka akan kembali datang ketika masalah menerpa. Itupun mungkin hanya sebagai alternatif terakhir bila tidak ada lagi kekuatan atau orang yang bisa diandalkan. Ini bukanlah sikap yang baik, dan Alkitab mencatat teguran keras Tuhan terhadap orang-orang yang berikap acuh tak acuh seperti itu.

Teguran Tuhan itu bisa kita lihat dari kisah buruknya kelakuan bangsa Israel di masa Zefanya. Pada saat itu hati mereka dengan Tuhan begitu cepatnya berubah-ubah. Mereka dengan mudah menangis meminta pertolongan, berseru-seru pada Tuhan, namun ketika pertolongan datang, sesaat kemudian mereka sudah menunjukkan sikap tidak puas dan kembali bersungut-sungut. Pada suatu waktu tertentu mereka memuliakan Tuhan, tapi sesaat kemudian mereka kembali malas, bersikap acuh tak acuh, atau malah bersikap mendua dengan ikut menyembah dewa-dewa. Tampaknya perilaku buruk bangsa Israel ini memang terjadi turun temurun karena jauh sebelumnya pun kita sudah berulang kali mendapati mereka berlaku buruk seperti itu. Sikap seperti ini sama sekali bukan sikap yang disukai Tuhan. Maka melalui Zefanya Tuhan pun memberi teguran keras. "Bersemangatlah dan berkumpullah, hai bangsa yang acuh tak acuh, sebelum kamu dihalau seperti sekam yang tertiup, sebelum datang ke atasmu murka TUHAN yang bernyala-nyala itu, sebelum datang ke atasmu hari kemurkaan TUHAN." (Zefanya 2:1-2). Ini teguran keras yang dijatuhkan kepada sebuah bangsa yang memang ignorance, acuh tak acuh, tidak tahu berterimakasih atau bersyukur dan sejenisnya. Walaupun sudah berulangkali mengalami kuasa Tuhan, begitu banyak mukjizat yang terjadi dari satu generasi ke generasi lainnya, namun mereka masih juga berperilaku tidak terpuji dalam berbagai hal.

Dalam beribadah mereka menunjukkan sikap yang sama. Kalaupun mereka beribadah, itu tidak lain hanya seremonial atau rutinitas semata. Untuk masalah ini pun Tuhan pernah menegur tak kalah keras. "Dan Tuhan telah berfirman: "Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan, maka sebab itu, sesungguhnya, Aku akan melakukan pula hal-hal yang ajaib kepada bangsa ini, keajaiban yang menakjubkan; hikmat orang-orangnya yang berhikmat akan hilang, dan kearifan orang-orangnya yang arif akan bersembunyi." (Yesaya 29:13-14). Hal-hal yang ajaib atau keajaiban yang menakjubkan disini bukanlah sesuatu yang baik atau positif, tapi justru sebaliknya. Dalam versi BIS diterjemahkan sebagai "pukulan bertubi-tubi". Sungguh tidak pantas memperlakukan Tuhan yang luar biasa baik dan begitu mengasihi kita dengan sangat setia dengan cara yang acuh tak acuh alias cuek, tidak menghargai atau tidak serius sepenuh hati.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on April 12, 2013, 04:09:23 AM
Quote
Dalam Wahyu kita bisa melihat sebuah teguran lainnya yang tidak kalah keras dialamatkan kepada jemaat di Laodikia. "Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku." (Wahyu 3:16). Sikap acuh tak acuh atau dalam ayat ini disebut dengan suam-suam kuku seperti ini bisa mendatangkan murka Tuhan, dan itu sesungguhnya adalah sesuatu yang sangat wajar mengingat betapa baiknya Tuhan kepada kita semua ciptaanNya yang istimewa. Ada banyak diantara anak-anak Tuhan yang sama sekali tidak memiliki kerinduan untuk melayani Tuhan. Ada banyak yang lebih mementingkan perkara duniawi ketimbang melibatkan diri dalam pekerjaan Tuhan, atau sekedar untuk bersekutu dengan Tuhan sekalipun. Sebesar apa porsi Tuhan dalam hidup kita? Seberapa besar kerinduan kita kepadaNya? Dimana posisi Tuhan dalam hidup kita? Ini adalah pertanyaan penting yang patut kita jadikan bahan introspeksi agar kita jangan sampai menjadi lengah dan kemudian harus menerima teguran keras yang sama dari Tuhan.

Kita harus tetap memiliki rasa takut akan Tuhan. Bukan takut dalam sebuah pengertian negatif, takut seperti bentuk ketakutan duniawi, takut dihukum, takut dilempar ke neraka dan sebagainya, tapi sebuah bentuk takut atau gentar yang berbicara mengenai bagaimana kita patuh pada perintahNya, tidak mau mengecewakan Tuhan karena kita sungguh-sungguh mengasihiNya lebih dari segalanya. Ini adalah bentuk rasa takut yang sehat, yang akan membawa kita lebih dekat lagi kepadaNya. Takut akan Tuhan tidak saja bisa membawa kita untuk menerima keselamatan yang kekal tapi Tuhan juga menjanjikan kita untuk tidak akan berkekurangan, seperti apa yang dikatakan Daud. "Takutlah akan TUHAN, hai orang-orang-Nya yang kudus, sebab tidak berkekurangan orang yang takut akan Dia!" (Mazmur 34:9). Ada begitu banyak pekerjaan menunggu, dan kita bisa turut serta dalam pekerjaan itu sesuai dengan talenta yang telah disediakan Tuhan kepada kita, di tempat dimana kita berada, sesuai dengan rencana Tuhan dalam hidup kita. Yesus mengingatkan kita agar mau bersungguh-sungguh melakukan pekerjaan Tuhan selagi masih ada kesempatan. "Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja." (Yohanes 9:4). Akan datang saat dimana kita tidak lagi bisa bekerja, ketika yang tinggal hanyalah pertanggungjawaban bagaimana sikap dan perbuatan kita selama hidup di dunia. Karena itu janganlah menjadi orang dengan perilaku acuh tak acuh dan tak tahu berterimakasih. Seriuslah dalam menjalani hubungan dengan Tuhan, jadikan Dia sebagai yang utama dalam hidup dan tetaplah bersemangat dalam pelayanan, minimal menjadi berkat buat orang lain dimana nama Tuhan dipermuliakan.

Sikap acuh tak acuh tidak akan membawa hasil apa-apa selalin hanya akan mendatangkan murka Tuhan
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on April 13, 2013, 04:04:26 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_04_01_archive.html[/url]
renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/kesetiaan-kaleb.html

Kesetiaan Kaleb

Ayat bacaan: Yosua 14:17
====================
"Itulah sebabnya Hebron menjadi milik pusaka Kaleb bin Yefune, orang Kenas itu, sampai sekarang ini, karena ia tetap mengikuti TUHAN, Allah Israel, dengan sepenuh hati."

Berapa lama toleransi yang kita berikan dalam menanti sebuah janji digenapi? Masing-masing orang akan memberi jawaban berbeda. Ada yang tidak sabaran, ada yang lebih sabar, itupun biasanya akan tergantung pada situasi dan kondisi kita. Ada kalanya kita bisa bersabar, tapi ada pula waktu dimana kita sulit untuk melakukan itu.Ada banyak pasangan yang akhirnya memilih untuk mengakhiri hubungan karena apa yang mereka harapkan tidak kunjung tiba. Mereka menginginkan pasangannya berubah, tapi ketika itu tidak kunjung terjadi hingga sebuah batas waktu tertentu menurut keinginannya, merekapun memutuskan untuk mengakhiri saja hubungan itu. Ketidak sabaran bisa menjadi salah satu alasan terbesar mengapa kesetiaan akhirnya harus dikorbankan. Terhadap sesama manusia seperti itu, kepada Tuhan pun sama saja. Ketika janji-janji Tuhan terasa terlalu lama menurut standar ukuran waktu kita, maka kepercayaan kita kepadaNya pun bisa goyah. Dan akhirnya, kesetiaan kepada Tuhan pun kita tinggalkan.

Waktu Tuhan seringkali berbeda dengan ukuran waktu kita. Tapi bagi orang yang bersabar akhirnya akan indah. Alkitab mencatat banyak contoh mengenai upah yang diterima yang berawal dari kesetiaan. Yusuf, Abraham, dan Musa misalnya, mereka mengalami rentang waktu panjang dimana kesabaran dan kesetiaan mereka diuji. Untuk hari ini mari kita lihat tokoh lainnya yang bisa kita jadikan teladan, yaitu Kaleb bin Yefune.

Kisah Kaleb mulai muncul ketika Musa menugaskan 12 orang yang mewakili masing-masing suku untuk mengintai situasi dan kondisi di tanah Kanaan, tanah yang dijanjikan Tuhan bagi mereka. (Bilangan 13:1-33), dimana Kaleb merupakan salah satu dari kedua belas pengintai itu. Setelah 40 hari mereka menjalankan tugas itu mereka pun kembali dengan mayoritas dari mereka berkesimpulan seperti ini: "Kami sudah masuk ke negeri, ke mana kausuruh kami, dan memang negeri itu berlimpah-limpah susu dan madunya, dan inilah hasilnya. Hanya, bangsa yang diam di negeri itu kuat-kuat dan kota-kotanya berkubu dan sangat besar, juga keturunan Enak telah kami lihat di sana." (ay 27-28). Tempatnya memang sangat kaya dan subur, tetapi ada orang-orang berukuran raksasa tinggal disana. Sebagian besar dari mereka kecut melihat situasi disana. Bagaimana mungkin masuk berperang melawan raksasa di kota yang dilindungi benteng-benteng kokoh? Itu kata mereka. Bahkan saking kecut hati mereka menilai diri mereka sendiri seperti belalang yang lemah, kecil dan tidak berarti dibanding bangsa Enak yang besar-besar itu. (ay 33). Tetapi ternyata tidak semua pengintai bersikap pesimis. Kaleb adalah salah satu pengintai yang memiliki sikap hati positif selain Yosua. Dengan tegas ia membantah  rekan-rekannya. "Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!" (ay 30). Mengapa Kaleb bisa seyakin itu? Alasannya sederhana. Karena ia percaya apabila Tuhan sendiri yang berjanji untuk memberikan tanah itu kepada bangsanya, maka Tuhan pasti akan membantu dalam prosesnya. Tuhan yang memberi, mungkinkah Tuhan hanya sengaja ingin membiarkan mereka binasa? Kaleb memiliki iman yang teguh, itu membuatnya mampu percaya kepada Tuhan. Dan dari kisah selanjutnya mengenai Kaleb kita tahu bahwa ia berhasil membuktikan kesetiaannya secara luar biasa setelah teruji oleh waktu.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on April 13, 2013, 04:05:06 AM
Quote
Kita bisa melihat kelanjutan kisah Kaleb 45 tahun kemudian dalam kitab Yosua. Pada saat itu Kaleb sudah tua di usia 85 tahun. Hingga saat itu ternyata ia belum juga memperoleh apa yang dijanjikan Tuhan kepadanya. Bayangkan sebuah penantian 45 tahun. Mampukah kita bersabar sepertiga atau seperempat dari waktu sepanjang itu? Rasanya bakal sulit. Tapi Kaleb menunjukkan kesetiaan yang luar biasa. Kaleb berkata "Aku berumur empat puluh tahun, ketika aku disuruh Musa, hamba TUHAN itu, dari Kadesh-Barnea untuk mengintai negeri ini; dan aku pulang membawa kabar kepadanya yang sejujur-jujurnya." (Yosua 14:7). 10 pengintai lain menyampaikan kabar dengan pesimis, sehingga kesimpulan mereka membuat bangsa Israel menjadi tawar hati. Tapi tidak bagi Kaleb, sebab ia "tetap mengikuti TUHAN, Allahku, dengan sepenuh hati." (ay 8). Lantas Kaleb berkata: "Pada waktu itu Musa bersumpah, katanya: Sesungguhnya tanah yang diinjak oleh kakimu itu akan menjadi milik pusakamu dan anak-anakmu sampai selama-lamanya, sebab engkau tetap mengikuti TUHAN, Allahku, dengan sepenuh hati. Jadi sekarang, sesungguhnya TUHAN telah memelihara hidupku, seperti yang dijanjikan-Nya. Kini sudah empat puluh lima tahun lamanya, sejak diucapkan TUHAN firman itu kepada Musa, dan selama itu orang Israel mengembara di padang gurun. Jadi sekarang, telah berumur delapan puluh lima tahun aku hari ini" (ay 9-10). 85 tahun, itu usia yang sudah sangat renta. Pada usia seperti ini kondisi fisik pasti sudah jauh menurun. Tenaga sudah sangat berkurang, berjalanpun mungkin sudah sulit. Tapi ternyata Kaleb memiliki semangat yang luar biasa. Ia berkata "pada waktu ini aku masih sama kuat seperti pada waktu aku disuruh Musa; seperti kekuatanku pada waktu itu demikianlah kekuatanku sekarang untuk berperang dan untuk keluar masuk." (ay 11). Mungkin fisiknya sudah lemah seperti orang lain pada umumnya, tapi semangat hidupnya masih tetap sama seperti 45 tahun yang lalu. Itu menunjukkan bagaimana ia masih tetap berjalan mengikuti Tuhan dengan sepenuh hati meski apa yang dijanjikan belum kunjung ia peroleh setelah sedemikian lama. Itupun menunjukkan bahwa ia tidak pernah menjadi ragu akan janji Tuhan. Sebab bagaimana mungkin orang yang ragu bisa punya semangat sebesar dirinya? Kaleb menunjukkan kesetiaan yang besar yang tidak tergantung oleh situasi, kondisi maupun waktu. Ia hanya tahu, jika Tuhan sudah berjanji, pada waktunya janji itu pasti ditepati. Ia tahu betul bahwa Tuhan bukanlah Pribadi yang suka ingkar janji. Dan pada usia ke 85 itu akhirnya Kaleb bin Yefune menerima apa yang telah dijanjikan untuknya. Ia memperoleh Hebron sebagai milik pusakanya. (ay 13). Sejarah membuktikan bahwa Hebron bukanlah kota yang termudah untuk ditaklukkan. Kota ini justru merupakan sebuah kota yang didiami oleh orang-orang yang paling besar di antara bangsa raksasa, Enak. (ay 15). Keteguhan hati, semangat hidup, kepercayaan penuh dan kesetiaan tak terbatas mewarnai iman dari Kaleb, dan pada akhirnya kisahnya berakhir dengan indah.Alkitab mencatat hal itu dengan gemilang. "Itulah sebabnya Hebron menjadi milik pusaka Kaleb bin Yefune, orang Kenas itu, sampai sekarang ini, karena ia tetap mengikuti TUHAN, Allah Israel, dengan sepenuh hati." (ay 14).

Pertanyaannya sekarang, mampukah kita bersabar seperti Kaleb? Kesabaran yang sesungguhnya akan teruji oleh waktu, begitu pula halnya dengan kesetiaan. Kaleb, seperti halnya Yusuf, Abraham dan banyak tokoh lainnya sudah menunjukkan bahwa kesabaran dan kesetiaan mereka menuju kepada akhir yang indah Jika bagi mereka seperti itu, bagi kita pun sama. Tuhan tidak akan pernah ingkar janji, hanya saja waktuNya mungkin berbeda dengan keinginan kita. Di saat seperti itu, sanggupkah kita tetap bersabar tanpa kehilangan pengharapan? Mampukah kita menunjukkan kesetiaan seperti Kaleb?

Percayalah bahwa janji Tuhan akan selalu digenapi, karena itu bersabarlah dan tetaplah setia
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on April 14, 2013, 04:34:39 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_04_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/learn-from-past.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/learn-from-past.html[/url])

Learn from the Past

Ayat bacaan: Mazmur 77:12-13
=========================
"Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala. Aku hendak menyebut-nyebut segala pekerjaan-Mu, dan merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu."

Sepertinya selalu saja sulit bagi kita, termasuk orang-orang percaya sekalipun, untuk bisa tetap tegar dan teguh dalam memegang pengharapan kepada Tuhan ketika badai menggoncang hidup kita dengan kerasnya. Kita cenderung cepat lemah, merasa khawatir dan takut lalu lupa bagaimana Tuhan dahulu pernah menyertai kita dalam mengalami kemenangan demi kemenangan dalam menghadapi situasi sulit. Kalaupun kita belum pernah mengalami sesuatu yang besar, kita selalu bisa belajar dari kesaksian orang lain karena jika Tuhan bisa berbuat sesuatu yang luar biasa bagi mereka, hal yang sama pun bisa pula berlaku bagi kita. Setidaknya kalau kita mengingat perjalanan hidup kita di masa lalu, kita pasti menemukan pekerjaan Tuhan yang indah atas kita. Lihatlah ucapan seorang petinju ketika hendak menghadapi lawannya. "Ya, sekarang ia jauh lebih kuat..tapi kalau dahulu Tuhan pernah memberiku kemenangan atas dirinya, aku tidak melihat alasan mengapa kali ini itu tidak bisa terjadi." Ada kalanya kita harus terus melangkah meninggalkan masa lalu yang pernah membelenggu kita, tetapi di sisi lain kita harus belajar dari pengalaman-pengalaman di masa lalu, baik yang kita alami sendiri maupun lewat pengalaman orang lain, baik atau buruk, termasuk pula berbagai pengalaman para tokoh yang dicatat dalam Alkitab.Dari kegagalan kita bisa belajar setidaknya kita tidak jatuh lagi ke lubang yang sama, setidaknya kita tahu harus bagaimana untuk lebih baik. Sedang dari kesuksesan kita bisa belajar tentang apa yang seharusnya dilakukan sehingga bisa berhasil.

Kita harus banyak belajar dari para pendahulu kita atau hal-hal yang telah mereka alami, termasuk apa yang sudah pernah terjadi dalam hidup kita atau orang-orang terdekat kita. Benar bahwa kita memang harus selalu menatap ke depan dan meninggalkan pengalaman-pengalaman buruk di masa lalu yang potensial menjadi penghambat bagi kita untuk maju, tapi penting pula untuk belajar dari apa yang telah terjadi di belakang. Ketika kita berada dalam kesesakan misalnya, dan merasa bahwa Tuhan seolah-olah seperti meninggalkan kita sendirian menghadapi semuanya,  kita bisa menoleh sejenak ke belakang untuk melihat begitu banyaknya kemuliaan Tuhan yang Dia nyatakan dalam berbagai kesempatan. Mukjizat-mukjizatNya yang ajaib, berkat-berkatNya, penyertaanNya yang begitu setia, kasihNya yang luar biasa, semua itu tercatat dengan jelas dalam Alkitab dan dialami begitu banyak orang sampai hari ini, termasuk apa yang kita alami sendiri secara pribadi.

Pemazmur sadar betul akan pentingnya hal ini. Ia suatu kali berkata: "Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala. Aku hendak menyebut-nyebut segala pekerjaan-Mu, dan merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu." (Mazmur 77:1-13). Pemazmur mengambil waktu untuk mengenang kembali bagaimana keajaiban-keajaiban yang pernah dilakukan Tuhan sebelumnya, bagaimana Tuhan menyatakan kuasa dan kemuliaanNya turun atas manusia sejak jaman sebelumnya jauh sebelum masanya. Setelah merenungkan segala kebaikan Tuhan, ia sampai pada kesimpulan: "Ya Allah, jalan-Mu adalah kudus! Allah manakah yang begitu besar seperti Allah kami?" (ay 14). Jika kita fokus hanya kepada penderitaan kita saja maka kita akan segera kehilangan sukacita, bahkan iman kita pun akan merosot drastis dalam waktu singkat. Di saat tekanan hidup mendera hebat, itulah saatnya bagi kita untuk  kembali mengingat-ingat segala sesuatu yang telah Tuhan lakukan kepada begitu banyak orang di masa lalu. Jika dulu Tuhan bisa melakukannya, maka hari ini pun Tuhan bisa, karena Tuhan tidak pernah berubah, baik dahulu, sekarang maupun selamanya. (Ibrani 13:8)
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on April 14, 2013, 04:35:16 AM
Quote
Jika anda memperhatikan seluruh isi Alkitab, anda akan menemukan bagaimana perbuatan-perbuatan Tuhan yang telah nyata pernah terjadi dalam begitu banyak kesempatan. Paulus mengingatkan bahwa ada masa-masa dimana penderitaan akan menghampiri kita,bahkan aniaya pun bisa kita alami. Orang jahat akan semakin jahat dan akan terus saling menyesatkan. Menghadapi itu semua, hendaklah kita tidak menjadi kehilangan harapan dan patah semangat. Kita diingatkan untuk terus berpegang kepada kebenaran, dan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepada kita. (2 Timotius 3:14). Ia kemudian berkata: "Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus." (ay 15). Dan Paulus pun menekankan bahwa "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran." (ay 16). Dan dengan itulah kita bisa memperlengkapi diri kita untuk hidup tegar menghadapi kesulitan tanpa harus kehilangan iman kita.

Pesan yang sama diberikan Paulus pula kepada jemaat Roma. "Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci." (Roma 15:4). Alkitab berisi begitu banyak hal yang dapat kita jadikan tuntunan bagaimana kita harus berlaku ketika kita menghadapi sesuatu. Kita bisa mendapatkan berbagai tips dan peringatan agar tetap hidup sesuai kehendak Tuhan, kita juga bisa mendapat penghiburan yang meneguhkan ketika tengah berada dalam kesesakan. Ada begitu banyak pergumulan di dalam Alkitab yang mungkin sedang kita alami hari ini. Para nabi dan tokoh-tokoh Alkitab telah menunjukkan bagaimana akhirnya Tuhan melepaskan mereka dan memberikan kemenangan. Sebaliknya ada pula tokoh-tokoh yang awalnya bersinar tapi kemudian berakhir dengan kehancuran, dan kita pun bisa belajar dari kegagalan mereka. Semua itu bisa kita jadikan pelajaran berharga, menjadi bekal yang sempurna dan lengkap untuk menatap hidup ke depan.

Janganlah terbenam pada penderitaan. Kita harus bisa bangkit dan ingat bahwa ada banyak hal yang bisa kita dapatkan lewat pengalaman-pengalaman para tokoh di Alkitab bersama Tuhan di masa lalu. Pergulatan dan turun naiknya iman banyak tokoh jelas dituliskan dalam Alkitab dan kita bisa belajar dari itu semua. Kita juga bisa belajar dari apa yang pernah kita alami, pengalaman hidup orang tua kita, orang-orang terdekat atau kesaksian-kesaksian banyak orang yang mengalami mukjizat Tuhan di masa sekarang ini. Jika kita menyadari hal ini, kita pun akan tahu bahwa Tuhan mampu melakukan segala hal, bahkan yang paling mustahil sekalipun menurut kemampuan berpikir manusia. Pada akhirnya kita akan bisa menyimpulkan hal yang sama dengan pemazmur ketika ia mengatakan "Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti." (Mazmur 46:1). Tidak akan pernah sia-sia untuk mengandalkan Tuhan. Ketika kita sedang mengalami pergumulan, mari kita ingat kembali bagaimana Tuhan melakukan mukjizat-mukjizatNya di waktu lampau, dan marilah bersyukur sebab Tuhan yang kita sembah saat ini adalah Tuhan yang sama, baik kuasaNya maupun kasihNya.

Menataplah ke depan berbekalkan segala sesuatu yang telah tertulis dahulu
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on April 15, 2013, 04:51:05 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_04_01_archive.html[/url]
renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/berdoa-disertai-ucapan-syukur.html

Berdoa Disertai Ucapan Syukur

Ayat bacaan: Filipi 4:6
=======================
"Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur."

Seperti apa bunyi doa yang kita panjatkan setiap hari kepada Tuhan? Kebanyakan orang hanya mengisi doanya dengan daftar permintaan, keluhan dan hal-hal lain yang dirasa perlu agar hidup bisa lebih baik lagi. Kalau hidup sedang baik-baik saja maka doa pun jarang dilakukan. Buat apa? Toh semua sedang berjalan aman. Begitu masalah muncul, maka doa pun kembali hadir berisikan list permintaan agar kiranya Tuhan menolong mereka keluar dari masalah. Bayangkan seandainya orang yang anda kenal hanya datang mengunjungi anda karena ingin meminta sesuatu atau omongannya hanya berisi keluhan, protes atau hal-hal sejenis lainnya. Tidak kah anda akan kesal dan malas bertemu dengan mereka? Kita sering melupakan hal tersebut dan mengira bahwa doa hanyalah merupakan sarana dimana kita bisa meminta sesuatu, mengeluh atau menyampaikan berbagai keberatan kita dalam menjalani hidup. Apakah itu artinya kita tidak boleh meminta apa-apa dari Tuhan? Atau kita tidak boleh secara jujur mengutarakan isi hati kita kepada Tuhan? Tentu saja tidak. Kapanpun kita boleh datang kepadaNya untuk itu. Tapi jangan biarkan doa kita hanya berisi permintaan dan keluhan saja, karena kita sebenarnya sudah diingatkan agar senantiasa mengisi doa-doa kita dengan ucapan syukur.

Ayat bacaan hari ini menyatakan hal tersebut dengan jelas. "Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur." (Filipi 4:6). Ini merupakan hal penting untuk diingat karena pada kenyataannya ada banyak di antara kita yang lupa untuk mengisi doa-doa kita dengan ucapan syukur. Mungkin kita memang memulai doa kita dengan ucapan terima kasih, tapi seberapa banyak yang benar-benar menghayati ucapan syukur itu secara sungguh-sungguh, yang berasal dari lubuk hati kita yang terdalam? Seringkali kita hanya sekedar terbiasa mengucapkannya, hanya basa basi saja sifatnya sementara isi pikiran kita sudah langsung penuh dengan daftar permintaan sejak awal kita mulai berdoa. Tuhan tidak menginginkan doa yang seperti itu. Dia ingin kita terlebih dahulu percaya lewat iman kita. Dia ingin kita memulai doa kita tanpa diselimuti perasaan khawatir. Tuhan mau kita mengangkat permohonan kita dengan rasa percaya yang penuh, berasal dari kecintaan kita kepadaNya, dan hanya itu yang memungkinkan kita untuk mampu mengisi doa dengan ucapan syukur yang sesungguhnya. Tuhan ingin rasa sukacita dalam diri kita tidak hilang dalam keadaan apapun, dan rasa sukacita itulah yang memampukan kita untuk bisa menaikkan puji-pujian dan rasa syukur kita tanpa terpengaruh kondisi atau situasi apapun yang sedang kita alami.

Seperti apa sukacita itu? Ada banyak orang yang secara sempit mengaitkan sukacita hanya pada kondisi yang tengah dialami saat ini. Tekanan, problema kehidupan, permasalahan dan pergumulan akan membuat sukacita berkurang atau malah hilang sama sekali. Sebaliknya hidup yang sedang tenang akan membuat kita mampu bersukacita. Mungkin pada umumnya orang akan berpikir seperti itu, tetapi sebenarnya itu bukanlah sukacita yang sebenarnya. Alkitab jelas berkata seperti ini: "Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu!" (Nehemia 8:11b). Artinya, sukacita yang sesungguhnya bukanlah yang berasal dari apa yang kita alami, melainkan berasal dari Tuhan. Sukacita karena Tuhan, itulah yang menjadi perlindungan kita. Bukannya kita harus kehilangan sukacita karena tertimpa beban, namun justru sukacita itu seharusnya mampu memberikan sebentuk kekuatan tertentu yang memampukan kita bertahan bahkan keluar sebagai pemenang di tengah kesulitan apapun. Itulah sukacita yang sesungguhnya, dan itulah yang memampukan kita untuk terus mengucap syukur dengan tulus dan sungguh-sungguh dalam penghayatan penuh dalam doa kita, meski situasi dan kondisi sulit sekalipun tengah berkecamuk dalam hidup kita.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on April 16, 2013, 04:23:56 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_04_01_archive.html[/url]
renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/melepaskan-pengampunan.html

Melepaskan Pengampunan

Ayat bacaan: Markus 11:24-25
========================
"Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu. Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu."

Seseorang yang saya kenal sangat dekat baru saja bercerita tentang bagaimana akhirnya ia bisa melepaskan pengampunan. Sesuatu yang ia alami terhadap salah satu keluarga dekatnya membuat hatinya terluka hingga menyimpan dendam. Ia sadar bahwa kebencian itu bisa menimbulkan masalah dalam membangun hubungan dengan Tuhan, tetapi ia merasa tidak mampu menghilangkan rasa itu. Apa yang ia lakukan adalah menyampaikan perasaan apa adanya kepada Tuhan. "Tuhan, saya tahu bahwa rasa ini membuat doa-doa saya terhalang, tapi saya belum mampu melepaskan pengampunan..bantu saya untuk bisa mengampuninya.." demikian kira-kira bunyi doanya. Ternyata hanya dalam hitungan jam ia menjadi sanggup mengampuni orang tersebut dengan ikhlas. Ia merasa bebannya terangkat, hatinya menjadi lapang. Disaat kita tidak sanggup, ROH KUDUS selalu bisa memampukan kita dalam melepaskan pengampunan. Apa yang penting adalah kerelaan kita dalam melakukan itu, karena ada banyak orang yang memilih untuk menyimpan dendam terhadap seseorang meski mereka tahu bahwa itu tidak baik bagi dirinya sendiri.

Ada berapa banyak orang yang masih mengganjal di hati kita karena pernah menyakiti perasaan kita, dan mengapa kita sulit mengampuni mereka? Mungkin bukan satu kali saja mereka melukai perasaan kita, tapi sudah berulang-ulang. Kita bertemu dan bersinggungan dengan begitu banyak manusia dengan berbagai macam sifat yang berbeda. Diantaranya ada yang kasar, tidak peduli, sinis, bersikap merendahkan dan mungkin tidak merasa bersalah jika menyinggung perasaan orang. Persinggungan dengan karakter-karakter seperti ini akan terus menumpuk perasaan sakit hati pada diri kita. Maka tanpa sadar tiba-tiba kita sudah mempunyai daftar yang panjang akan orang-orang yang pernah menyinggung atau menyakiti hati kita. Ironisnya, sebagian besar di antara orang-orang ini merupakan orang yang tidak menyadari kesalahannya sehingga sepertinya mustahil untuk tergerak untuk minta maaf meski telah menyakiti kita. Mereka malah masih saja menambah rasa sakit di hati kita. Seringkali bukan salah kita, dan memang merekalah yang memulai. Rasa kecewa dan sakit hati itu bisa begitu parah, sehingga sulit bagi kita untuk bisa memaafkan apalagi untuk melupakan.

Jika mengacu kepada Firman Tuhan, kita seharusnya siap mengampuni tanpa pandang bulu, tanpa menimbang berat-ringannya "dosa" mereka terhadap kita. Mengapa? Karena masalah sakit hati ini jika dibiarkan maka yang rugi adalah kita sendiri juga. Ada banyak orang yang terikat pada kepahitan terhadap seseorang sehingga sulit maju. Mereka terbelenggu oleh trauma masa lalu akibat perlakuan seseorang sehingga sulit bagi mereka untuk menatap masa depan. Ada banyak yang lebih suka membiarkan dendam membara sehingga sukacita mereka pun hilang. Berbagai penyakit bisa timbul akibat hal ini, mulai dari penyakit ringan sampai yang mematikan. Jika dipikir-pikir, betapa ironisnya ketika kita disakiti orang, kita pula yang menderita kerugian lebih lanjut akibat ulah mereka. Dan seringkali orang tidak menyadari bahwa kebencian, sakit hati atau dendam ini bisa memerangkap iman kita sehingga sulit berkembang. Hanya sedikit orang yang manyadari betapa eratnya hubungan antara iman dan pengampunan.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on April 16, 2013, 04:24:18 AM
Quote
Mari kita lihat ucapan Yesus yang dicatat oleh Markus berikut ini. "Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu." (Markus 11:25). Ini adalah sabda Kristus yang tentunya tidak lagi asing bagi kita. Tapi perhatikan ayat selanjutnya. "Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu." (ay 26). Perhatikanlah bagaimana Yesus merangkai atau menopang dua kalimat tersebut bukan secara kebetulan tetapi dengan sengaja. Saya percaya Yesus mengatakan kedua kalimat ini bukan dalam konteks yang berbeda. Yesus ingin kita tahu bahwa pengampunan merupakan landasan untuk bisa menerima dari Tuhan. Sebelum berdoa, kita harus terlebih dahulu mengampuni orang-orang yang masih mengganjal di hati kita. Bereskan dulu itu, baru berdoa, karena jika tidak, iman kita masih terbelenggu dan doa yang kita panjatkan pun tidak akan bisa membawa hasil apa-apa. Sebelum Yesus mengatakan kedua kalimat di atas, Dia baru saja menjelaskan bahwa iman yang teguh akan mampu mencampakkan gunung sekalipun untuk terlempar ke laut. (ay 23). Iman yang sekecil biji sesawi sekalipun akan mampu melakukan itu. Tuhan siap memberikan apapun yang kita minta dan doakan dengan disertai rasa percaya. Tapi sebelum itu semua terjadi, dan agar itu bisa terjadi, kita terlebih dahulu harus mengampuni orang-orang yang bersalah kepada kita, orang yang telah menyakiti hati kita, orang yang telah melukai perasaan kita. Sebab tanpa itu, iman kita masih terperangkap dalam penjara dan akan terus menghalangi kita untuk menerima segala sesuatu dari Tuhan.

Petrus pernah bertanya berapa kali ia harus siap mengampuni. Dan Yesus pun memberi jawaban. "Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali." (Matius 18:22). Tujuh puluh kali tujuh menggambarkan keharusan kita untuk bisa terus melepaskan pengampunan tanpa batas. Yesus mengingatkan bahwa kita harus siap memberi pengampunan terus menerus, dan jangan pernah tertarik untuk menyisakan dendam dalam hati kita. Dalam doa yang diajarkan Yesus pun kita diingatkan akan hal itu. "dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami." (Matius 6:12) Perihal memberi pengampunan sangat penting dan sangat berkaitan erat dengan pengampunan yang kita terima dari Tuhan. Jika kita mengampuni orang, maka Tuhan pun akan mengampuni kita. (Markus 11:25). Dan permintaan kita dalam doa pun Dia dikabulkan.(ay 24). Tapi hal sebaliknya pun berlaku. "Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu." (ay 26).

Kembali ke ayat bacaan hari ini, sekali lagi ingatlah bahwa Yesus menopang kedua kalimat itu dengan sengaja. Yesus ingin kita tahu bahwa memberi pengampunan adalah landasan untuk mendapat pengampunan Tuhan dan untuk menerima segala sesuatu dari Tuhan. Dia ingin mengingatkan kita bahwa tidaklah mungkin bagi kita untuk menerima pengabulan doa jika kita masih menyimpan dendam di dalam hati kita pada waktu yang sama. Sikap tidak mau mengampuni akan menghambat saluran iman dan membuat kita tidak mampu melangkah maju. Di dalam hidup kita akan menderita, Tuhan sendiri tidak akan berkenan terhadap kita. Saya memahami betul bahwa dalam kasus-kasus tertentu tidak mudah bagi kita untuk mengampuni seseorang. Mungkin hidup kita sudah terasa hancur, mungkin kerugian sudah terlalu banyak, mungkin tidak akan bisa mengembalikan sesuatu yang terlanjur hilang dari hidup kita karena perbuatan mereka. Tapi biar bagaimanapun kita tetap harus melepasnya agar kita bisa melangkah maju. Kita perlu membebaskan diri kita dari belenggu dendam, membebaskan mereka yang bersalah kepada kita, agar kita bisa memerdekakan iman kita sepenuhnya. Kemampuan kita mungkin terbatas untuk itu, tapi seperti apa yang dialami oleh teman saya di awal, ROH KUDUS sanggup memampukan kita untuk memberikan pengampunan dan memerdekakan iman kita. Jika diantara anda ada yang masih menyimpan ganjalan, sakit hati atau dendam terhadap seseorang, berdoalah hari ini dan ijinkan ROH KUDUS bekerja untuk menguatkan kita hingga dapat mengampuni orang-orang itu dan dengan demikian membebaskan iman anda. Buanglah sumbatan pada saluran iman anda, maka anda akan menyaksikan bagaimana doa-doa anda akan dikabulkan, dan hidup anda akan terasa begitu ringan dan kembali dipenuhi sukacita.

Berikan pengampunan agar saluran iman mengalir lancar
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on April 17, 2013, 04:06:10 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_04_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/mengampuni.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/mengampuni.html[/url])

 Mengampuni

Ayat bacaan: Matius 18:35
======================
"Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu."

Kekesalan terhadap seseorang adalah hal yang biasa kita alami dalam kehidupan sehari-hari. Seringkali kekesalan yang awalnya sedikit lama-lama bisa menjadi semakin parah apabila terus dibiarkan berada dalam hidup kita. Sadar atau tidak, kekesalan yang berlarut-larut terhadap seseorang  membuat bisa mengakibatkan kasih yang ada di dalam diri kita semakin compang camping. Hampir setiap hari kita berhadapan dengan orang-orang yang seakan sengaja ingin membuat kita marah. Jika itu terjadi, maka reaksi mengumpat, memaki bahkan mengutuk pun keluar dari diri kita. Bahkan dendam pun bisa timbul apabila kerugian yang kita alami terasa besar sekali. Berhadapan dengan situasi sulit, dengan orang-orang sulit akan membuat kita semakin sulit pula mengampuni. Ada yang dengan sadar tidak kita maafkan, ada pula yang secara tidak sengaja. Kita lupa bahwa mereka belum kita ampuni. Itu bisa saja terjadi. Jika kita tidak mempertebal kasih dalam diri kita dan tidak menyadari betapa besarnya kasih Tuhan kepada kita, maka akan semakin banyak orang-orang yang tidak kita ampuni, dan akibatnya bisa fatal, karena hal itu akan menghambat pengampunan Tuhan untuk turun atas diri kita.

Melanjutkan renungan kemarin mengenai pentingnya melepaskan pengampunan, mari kita lihat sebuah perumpamaan tentang pengampunan pernah diberikan Yesus dalam Matius 18:21-35 yang menjelaskan betapa pentingnya bagi kita untuk membuka pintu pengampunan seluas-luasnya. Disini digambarkan tentang seorang raja yang mau menyelesaikan hutang-hutang dari hamba-hambanya. Ada seorang hamba yang berhutang sepuluh ribu talenta memohon keringanan waktu untuk dapat membayar lunas hutangnya dengan memohon sambil berlutut. Sang raja pun merasa iba. "Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya." (ay 27). Bukan cuma diberi keringanan, tapi hutangnya dihapuskan. Betapa beruntungnya si hamba tersebut. Tapi apa yang terjadi selanjutnya? Ketika si hamba keluar, ia bertemu dengan orang lain yang berhutang kepadanya, dengan jumlah yang jauh lebih kecil dari hutangnya kepada raja. Ia langsung mencekik dan memaksa orang itu untuk segera membayar hutangnya. Orang itu pun memohon dengan berlutut untuk meminta keringanan, sama persis seperti apa yang baru saja si hamba lakukan di hadapan raja. Tapi si hamba tidak mempedulikan hal itu. Ketika mendengar perbuatannya itu raja pun menjadi marah. "Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?" (ay 32-33). "Jika aku mengampuni engkau bahkan menghapuskan hutangmu yang besar, masakan engkau tega melakukan itu kepada temanmu yang hanya berhutang sedikit?" Begitu kira-kira kata sang raja. "Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya." (ay 34). Dan Yesus pun menutup perumpamaan itu dengan sebuah peringatan penting: "Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu." (ay 35).
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on April 17, 2013, 04:06:36 AM
Quote
Memang sulit bagi kita untuk mengampuni orang yang telah bersalah kepada kita atau telah merugikan kita. Tapi pengampunan tanpa batas merupakan hal yang wajib diberikan oleh anak-anak Tuhan kepada mereka yang telah menyakiti kita. Bukankah Tuhan sendiri tidak pernah berpelit pengampunan kepada kita? Coba pikir, ada berapa banyak kesalahan yang kita perbuat dalam hidup kita?  Seringkali kita melakukan pelanggaran-pelanggaran berat  yang seharusnya akan mendatangkan kebinasaan. Jika memakai standar kepantasan, ada banyak kesalahan yang rasanya tidak pantas dimaafkan. Tapi Tuhan begitu mengasihi kita dan selalu siap untuk mengampuni kita begitu kita mengakui semua perbuatan kita lewat pertobatan yang sungguh-sungguh. Itu bentuk kasih Tuhan yang luar biasa. Sebesar apapun dosa kita, Tuhan mengatakan bahwa Dia siap memutihkan bahkan berkata tidak akan mengingat-ingat dosa kita lagi. (Yesaya 43:25). Bayangkan apabila Tuhan sulit mengampuni kita, tidak mendengarkan pertobatan kita dan terus memutuskan untuk mengganjar kita dengan hukuman berat, apa jadinya dengan diri kita? Tapi Tuhan penuh kasih, belas kasihan dan kemurahan. Pengampunan akan segera diberikan kepada kita seketika begitu kita bertobat secara sungguh-sungguh. Kalau kesalahan kita yang begitu banyak dan besar saja tidak henti-hentinya diampuni Tuhan, bukankah sudah sepantasnya kita pun mengampuni orang yang bersalah kepada kita, yang mungkin ukurannya lebih kecil dari dosa-dosa kita kepada Tuhan, seperti apa yang diberikan Yesus dalam perumpamaan di atas?

Ada korelasi yang sangat kuat antara diampuni dan mengampuni. Itu tepat seperti apa yang dikatakan Yesus: "Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu." (Matius 6:14-15). Untuk mendapatkan pengampunan dari Tuhan, kita harus terlebih dahulu menunjukkan kebesaran hati dan kerelaan untuk mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Jika dosa-dosa kita yang begitu banyak dan berat saja Tuhan bersedia mengampuni, siapalah diri kita yang merasa lebih pantas untuk mendendam dan menolak untuk mengampuni? Seringkali kita berlaku seperti si hamba dalam perumpamaan Yesus di atas. Tuhan tidak menuntut kita membayar hutang dosa yang begitu besar. Dia justru membebaskan kita, bahkan rela menganugerahkan AnakNya yang tunggal untuk menggantikan kita di atas kayu salib. Itu sebuah kasih yang besarnya sungguh luar biasa. Tetapi kita tidak menyadari itu, bahkan terus saja tidak mau mengampuni orang-orang yang bersalah, menyinggung, menyakiti atau menipu kita. Apakah orang yang bersalah itu sudah minta maaf atau tidak, itu seharusnya tidak menjadi soal. Ingatlah bagaimana Tuhan menyatakan belas kasihanNya kepada kita. Ingatlah bagaimana Tuhan membebaskan kita, mengampuni kita secara total dan bukan setengah-setengah. Jika Tuhan saja mau berbuat itu mengapa kita tidak? Jika anda masih sulit melakukannya, berdoalah dan minta ROH KUDUS untuk menguatkan anda dalam memberi pengampunan. Jika memakai perasaan sendiri mungkin sulit, tapi kita punya ROH KUDUS yang akan memampukan. Tuhan sudah menyatakan belas kasihNya kepada kita, kini giliran kita untuk menunjukkan belas kasih kepada orang lain.

Ketika Tuhan sudah menghapuskan dosa-dosa kita, mengapa kita harus sulit memberi pengampunan kepada orang lain?
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on April 18, 2013, 05:22:58 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_04_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/besar-pengampunan.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/besar-pengampunan.html[/url])

 Besar Pengampunan

Ayat bacaan: Lukas 7:47
===================
"Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih."

Hari ini saya bertemu dengan seseorang yang bertanya apakah masih ada kesempatan bagi dirinya untuk selamat mengingat serangkaian dosa yang pernah ia perbuat rasanya sudah terlalu besar untuk diampuni. Masa lalunya memang cukup kelam dengan serangkaian catatan buruk, yang rasanya tidak etis apabila saya bagikan disini. "Dosa-dosaku sudah terlalu banyak, saya tidak akan pernah layak untuk diselamatkan... sepertinya semua sudah terlambat" katanya. Ia terus merasa sebagai terdakwa dan membayangkan pintu gerbang surga sudah tertutup rapat bagi dirinya tak peduli meski ia sudah menyesal dan ingin bertobat. Begitulah terkadang manusia sulit menangkap konsep pengampunan yang disediakan Tuhan pada manusia. Maka pertanyaan yang muncul dalam renungan hari ini mungkin menjadi pertanyaan banyak orang. Seberapa besar batas maksimal pengampunan dari Tuhan? Sampai titik mana Tuhan tidak lagi sanggup atau bersedia mengampuni? Jawaban untuk itu sebenarnya sudah berulang kali disebutkan di dalam Alkitab, dan salah satunya adalah lewat ayat bacaan yang saya ambil dari sebuah perikop dalam Lukas pasal 7.

Lukas 7:36-50 berbicara mengenai kisah Yesus yang diurapi oleh seorang perempuan yang penuh dosa. Pada suatu hari Simon orang Farisi mengundang Yesus untuk makan di rumahnya. Yesus datang memenuhi undangannya. Di kota itu ada seorang perempuan yang berkubang dalam lumpur dosa. Ketika ia mendengar kedatangan Yesus ke rumah Simon, dia pun datang membawa buli-buli pualam berisi minyak wangi. Apa yang ia lakukan sangat mengharukan. Dia menghampiri Yesus dari belakang, lalu menangis hingga membasahi kaki Yesus dengan air matanya. Menyadari bahwa kaki Yesus basah karena air matanya yang mengalir deras, ia pun menyeka kaki Yesus dengan rambutnya. Lalu ia mencium kaki Yesus dan meminyaki dengan minyak wangi yang dibawanya. Melihat kejadian itu, Simon orang Farisi pun bergumam dalam hatinya. Katanya: "Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa." (ay 39). Dalam bahasa Inggrisnya kata 'berdosa' ini dijabarkan sebagai "a notorious sinner,a social outcast, devoted to sin."
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on April 18, 2013, 05:23:39 AM
Quote
Maka Yesus memanggil Simon dan memberi sebuah perumpamaan. Ada dua orang yang berhutang. Yang satu berhutang 500 dinar, sedangkan satunya "hanya" 50 dinar. Karena tidak sanggup membayar, orang yang dipiutangi memberi pengampunan, menghapuskan hutang keduanya. Yesus bertanya: "Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?" (ay 42). Dan demikian jawaban Simon: "Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya." (ay 43). Benar. Apa inti pertanyaan Yesus? Mari kita baca penjelasan Yesus berikut. " Dan sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon: "Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi." (Ay 44-46). Lalu kesimpulannya: "Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih." (ay 47). Dan wanita yang penuh dosa, notorious sinner, devoted to sin itu pun diampuni. "Lalu Ia berkata kepada perempuan itu: "Dosamu telah diampuni...Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!" (ay 48,50).

Yesus datang ke dunia untuk menebus dosa-dosa kita, baik besar maupun kecil. Dia disiksa, dipaku dan mati di kayu salib untuk sebuah karya penebusan luar biasa. Sebesar apapun dosa kita, ketika kita datang padaNya dengan hati yang hancur, hati yang remuk, tersungkur di kakiNya mengakui segala dosa-dosa yang telah kita perbuat lewat pertobatan yang sungguh-sungguh, pengampunan pun segera Dia sediakan bagi kita. Ketika kita datang dan mengakui dosa-dosa kita, perkataan yang sama akan Yesus berikan pada kita juga "Dosamu telah diampuni...Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!"

Semakin besar dosa kita, semakin besar pula penghargaan akan sebuah pengampunan. Sebesar apa dosa anda yang anda rasakan memberatkan hidup anda hari ini? Anda anda merasa Yesus tidak berkenan untuk mengampuni anda? Salah. Yesus berkata: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa." (Markus 2:17) Dia justru selalu rindu untuk mengampuni kita, apapun latar belakang kita sebelumnya. Orang yang menyadari dan mengakui dosa-dosaNya sudah diampuni, dan penghargaan akan pengampunan itu akan berbuah kasih yang besar pula pada sesama. Lihat ayat berikut ini: "Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu." (Efesus 4:32). Makna ayat tersebut bisa memiliki efek yang jauh lebih besar bagi mereka yang sudah ditebus dari dosa-dosa yang mungkin bagi manusia sudah terlalu besar dan tidak lagi terampuni. Yang diperlukan adalah pengakuan kita dan pertobatan kita, disertai sebuah komitmen untuk tidak lagi mengulangi hal yang sama. Hati yang remuk dan hancur jika kita bawa ke hadapan tahta Allah akan menjadi sebuah korban sembelihan bagi Dia. "Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah." (Mazmur 51:19). Sukacita sejati adalah mengakui betapa buruknya dan besarnya dosa-dosa kita lalu membandingkannya dengan sebesar apa kita telah diampuni. Maka tidak perduli sebesar apa dosa yang membelenggu anda hari ini, percayalah bahwa pengakuan anda akan membawa anda pada sebuah pengampunan total dari Tuhan yang begitu mengasihi anda. Miliki sukacita sejati hari ini juga!

Lepaskan diri anda dari belenggu dosa hari ini juga, ketahuilah bahwa pengakuan anda dihadapanNya akan berbuah sebuah pengampunan penuh
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on April 19, 2013, 04:59:12 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_04_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/minta-maaf.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/minta-maaf.html[/url])

 Minta Maaf

Ayat bacaan: Matius 5:23-24
=====================
"Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu."

Dalam banyak hal bukan saja memaafkan yang sulit, tapi mengakui kesalahan dan meminta maaf ketika kita bersalah pun seringkali sama sulitnya. Apakah itu dalam hubungan antara orang tua dengan anak, sesama saudara, atasan dan bawahan, antar pasangan suami istri, antar teman dan lain-lain, ada banyak orang yang sulit untuk tetap dengan kerendahan hati meminta maaf jika melakukan kesalahan karena takut wibawanya hilang, malu, gengsi atau alasan-alasan lainnya. Padahal seringkali rasa bersalah itu terasa begitu menyiksa. Kita terus tertuduh, hidup tidak nyaman, tapi demi alasan-alasan tadi kita ternyata lebih suka hidup dengan berbagai perasaan yang tidak nyaman itu ketimbang segera minta maaf dan memperbaiki hubungan dengan orang yang telah kita sakiti. Sehebat-hebatnya kita melawan perasaan bersalah itu, hati kecil kita akan selalu menegur kita yang jika kita abaikan akan membuat kita menjadi gelisah. Belum lagi iblis akan dengan senang hati memanfaatkan itu sebagai celah untuk menyiksa kita. Jika dengan membereskan masalah dan berdamai dengan orang akan membuat hidup kembali damai, jika mengakui kesalahan dengan jujur bisa membuat hubungan yang terluka kembali pulih, mengapa kita harus malu dan gengsi untuk mengambil langkah itu? Bahkan Tuhan pun tidak pernah menganjurkan kita menjadi pribadi-pribadi yang tinggi hati, angkuh dan keras hati. Justru kita diminta untuk menjadi orang-orang yang penuh kasih, memiliki hati yang lembut, jujur dan berani mengakui kesalahan secara jantan.

Sulit mengakui kesalahan dan berat untuk meminta maaf bukan saja membuat hubungan kita dengan orang lain terluka dan membuat hidup kita tidak nyaman, tapi itu juga bisa menjadi penghalang bagi kita untuk dapat berhubungan dengan Tuhan. Lihatlah apa kata Yesus berikut ini. "Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu." (Matius 5:23-24). Lihatlah betapa pentingnya untuk berdamai di mata Tuhan, sehingga kita diminta untuk membereskan terlebih dahulu masalah yang mengganjal dan belum selesai itu sebelum kita datang membawa persembahan di hadapan Tuhan. Siapa yang bersalah terlebih dahulu ternyata bukanlah hal yang penting. Apa yang penting adalah kita membereskan dulu masalah dengan siapapun yang masih mengganjal dalam hati kita sebelum kita datang membawa persembahan dan ucapan syukur kita ke hadapan Tuhan. Dalam ayat berikutnya pun kita dianjurkan untuk langsung menemui mereka yang punya masalah dengan kita dan dengan segera menyelesaikannya. God actually wants it to be done eagerly, quickly and personally.

Keinginan dan kerelaan atau kerendahan hati untuk berdamai sesungguhnya merupakan hikmat yang langsung berasal dari atas. Yakobus mengingatkan itu: "Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik." (Yakobus 3:17). Oleh sebab itulah dikatakan bahwa bagi orang yang cinta damai akan selalu berbuah kebenaran. "Dan buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai." (ay 18). Jika di mata Tuhan saja hal itu sungguh penting, mengapa kita harus menomorduakan hal itu dan lebih memilih untuk mementingkan ego atau harga diri pribadi kita? Jika ada di antara teman-teman tengah mengalami sebuah hubungan yang rusak karena suatu kesalahan yang pernah anda buat atau katakan, ini saatnya untuk mengambil inisiatif. Datangi mereka dan mintalah maaf. Perbaiki segera hubungan itu, berdamailah saat ini juga.

Jagalah perdamaian dengan orang lain sesuai hikmat yang berasal dari atas
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on April 20, 2013, 04:57:22 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_04_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/dimahkotai-kemuliaan-dan-hormat.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/dimahkotai-kemuliaan-dan-hormat.html[/url])

 Dimahkotai Kemuliaan dan Hormat

Ayat bacaan: Mazmur 8:6
===================
"Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat."

Ada begitu banyak orang yang tidak menyadari bahwa dirinya diciptakan dengan teramat sangat istimewa. Entah akibat tekanan hidup, kesulitan ekonomi, tinggal di pelosok terpencil dan sebagainya mereka pun kemudian menganggap bahwa mereka cuma orang yang tidak berharga. Hari ini saya bertemu dengan seseorang yang berasal dari desa. Ia terus menunduk tak berani menatap wajah lawan bicaranya, bahkan lebih parah lagi ia tidak mau duduk di kursi melainkan hanya di lantai. Ketika diminta untuk pindah ke kursi ia berujar, "Saya cuma orang rendahan pak, tidak pantas duduk di atas kursi seperti majikan." Aduh, betapa tidak teganya melihat orang yang berpikir seperti ini terhadap dirinya sendiri. Dalam kesempatan lain saya pun sudah bertemu dengan banyak orang yang mengira bahwa masa lalu yang kelam membuat dirinya sangatlah rendah dan hina. Saya pernah kaget ketika ada seseorang yang berkata bahwa dirinya lebih rendah dari hewan sekalipun. Ini bukan saja tidak sehat bagi hidupnya sendiri, tetapi sebenarnya juga merupakan sebuah pengingkaran terhadap gambaran manusia dalam benak Tuhan ketika Dia menciptakan kita.

Mengapa demikian? Alasannya jelas. Alkitab sudah dengan sangat tegas berkata bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan yang istimewa dalam begitu banyak kesempatan. Salah satunya bisa kita lihat lewat Daud dalam kitab Mazmur. Pada suatu kali ketika Daud sepertinya sedang menerawang memandang langit di malam hari yang dipenuhi bintang-bintang, ia berkata "Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?" (Mazmur 8:4-5). Dibandingkan keindahan langit penuh bintang dan cahaya bulan yang ada di depan mataku, siapakah aku sebenarnya menurutMu dan seperti apa aku dan manusia di mataMu sesungguhnya? Seperti itulah pemikiran Daud pada saat itu. Lalu Daud melanjutkan,  "Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat." (ay 6). Tidak terkira keindahan dan kesempurnaan alam semesta ini diciptakan. Bunga-bunga, bentangan awan biru dan kerlap kerlip bintang di malam hari, pesona keindahan alam di setiap belahan dunia, itu adalah sebuah anugerah yang tidak terbantahkan. Tetapi tetap manusia Dia ciptakan berbeda, teristimewa dibandingkan ciptaan-ciptaan lainnya. Kita diciptakan dengan dimahkotai kemuliaan dan hormat, dibuat mirip Allah, memiliki citra Allah dalam diri kita. Kita dibentuk secara unik dari debu tanah langsung dari tanganNya, lalu Dia sendiri menghembuskan nafas hidup ke dalam kita. (Kejadian 2:7). Itu menyatakan dengan jelas bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan yang teristimewa, jauh lebih istimewa dibanding ciptaan lainnya. Dan kepada kita diberikan kuasa. Daud mengatakannya seperti ini: "Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya." (Mazmur 8:7). Kalau kita menyadari hal ini, tidak seharusnya kita menilai rendah diri kita sendiri atau orang lain.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on April 20, 2013, 04:57:48 AM
Quote
Petrus menyebutkan hal yang sama. "Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib." (1 Petrus 2:9). Lihatlah jati diri kita lewat ayat ini. Kita disebutkan sebagai yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa kudus, milik Allah sendiri. Sebegitu istimewanya kita diciptakan. Tetapi dari ayat ini ingatlah bahwa kita punya tugas untuk menyatakan kemuliaan Tuhan pula di dunia. Menjadi penyampai berita perbuatan-perbuatan besarNya. Menjadi sosok anak-anak terang yang mewakili nama baik Bapa kita, Raja diatas segala raja. Kita dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, kita terpilih sebagai imamat yang rajani, kehidupan kita pun seharusnya mencerminkan prinsip Kerajaan dan menggambarkan citra Sang Raja. Kita diciptakan dengan tujuan mulia secara istimewa.

Karenanya berhentilah menilai rendah siapapun termasuk diri sendiri karena Tuhan tidak pernah menciptakan kita asal-asalan atau tanpa makna. Justru kita diciptakan spesial, dimahkotai kemuliaan dan hormat, ditujukan untuk menjadi imamat yang rajani yang siap untuk memberitakan segala kebaikan Tuhan dan perbuatan-perbuatan besarNya. Oleh karena itu kita harus belajar untuk hidup sesuai prinsip Kerajaan, menjadi anak-anak Allah yang benar-benar menghidupi segala hak-hak yang telah diberikan kepada kita dan melakukan tanggung jawab kita pula. Sudahkah kita benar-benar menghayati jati diri kita sebagai ciptaan spesial yang segambar dengan Allah?

We are the crown of creation
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on April 21, 2013, 04:50:34 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_04_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/buta-rohani.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/buta-rohani.html[/url])

 Buta Rohani

Ayat bacaan: Mazmur 119:130
=======================
"Bila tersingkap, firman-firman-Mu memberi terang, memberi pengertian kepada orang-orang bodoh."

Punya sepasang mata yang berfungsi baik tidak serta merta membuat kita bisa melihat segalanya dengan baik. Ketidak-awasan karena meleng bahkan bisa berakibat fatal. Belum lama saya membaca berita mengenai supir sebuah bus meleng saat menyalakan rokok mengakibatkan busnya jatuh masuk jurang. Berapa lama sih waktu yang dibutuhkan untuk menyalakan rokok? Namun meleng beberapa detik itu ternyata bisa sangat membahayakan. Dalam banyak hal kita pun bisa meleng meski mempunyai sepasang mata yang sempurna. Terpeleset karena tidak melihat lantai yang licin, tersandung batu, bertubrukan dengan orang lain merupakan contoh-contoh lainnya yang mungkin tidak separah supir bus di atas. Saya pernah pula melihat orang yang sibuk melihat wanita berjalan di sisi jalan ketika sedang mengendarai motornya lalu menubruk mobil yang berhenti tepat didepannya. Bukan mata yang salah, tetapi ketika kita tidak mempergunakan mata dengan baik untuk melihat, itu bisa membawa masalah. Dalam hidup sehari-hari seperti itu, dalam kerohanian ketidakmampuan untuk melihat dengan baik pun bisa pula mendatangkan masalah.

Sebuah contoh menarik bisa kita lihat lewat reaksi dari murid-murid Yesus dan orang-orang Farisi terhadap seorang pengemis buta yang menunjukkan kebutaan rohani mereka meski mata jasmaninya berfungsi baik seperti yang tertulis dalam Yohanes 9. Perhatikan reaksi para murid ketika melihat seorang buta yang bahkan tanpa perasaan bersalah mereka utarakan kepada Yesus. "Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?" (Yohanes 9:2). Demikian pertanyaan yang dilemparkan para murid kepada Yesus. Belum kenal, belum tahu orangnya, belum apa-apa mereka sudah langsung menuduh bahwa kebutaan itu akibat dosa. Sementara orang Farisi lebih parah lagi. Mereka lebih mementingkan tata cara dan adat ketimbang membantu orang lain dan mengasihi. Bukan hanya sampai disitu saja, mereka bahkan berani-beraninya menuduh Yesus berdosa hanya karena Yesus menyembuhkan si pengemis buta itu di hari Sabat. (ay 16). Tanpa sadar, mereka menunjukkan bahwa sesungguhnya merekalah yang buta, yaitu buta rohani.

Yesus banyak menyembuhkan banyak kebutaan jasmani ketika Dia turun ke dunia ini. Tapi perhatikanlah bahwa kepedulian terbesar Yesus di muka bumi ini justru kebutaan rohani. Betapa ironisnya ketika kita sudah dianugerahkan segala yang sempurna oleh Tuhan, tapi kita tetap saja buta secara rohani. Ada begitu banyak pemuka agama alias orang-orang Farisi yang menyelidiki kesembuhan si pengemis buta itu ternyata tetap tidak mau percaya terhadap Yesus. Mereka malah menuduhNya berdosa. Bacalah Yohanes 9:13-34 untuk lebih jelasnya. Karena itulah Yesus kemudian berkata: "Yesus pun kemudian mengatakan kepada mereka "Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta." (ay 39). Lucunya lagi, orang-orang Farisi tidak juga sadar bahwa mereka buta secara rohani. Mereka merasa mata rohani mereka paling tajam dan paling awas, sehingga mereka masih bisa menantang Yesus setelah mendengar kata-kata Yesus tersebut. (ay 40). Dan kembali Yesus menegaskan: "Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata: Kami melihat, maka tetaplah dosamu." (ay 41).

Di kemudian hari Paulus kembali menyinggung perihal kebutaan rohani ini. "Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk mereka, yang akan binasa, yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah." (2 Korintus 4:3-4). `Ini menunjukkan bahwa sebuah kebutaan rohani bisa menimpa siapa saja, dan akibatnya bisa sangat fatal. Seperti halnya mata jasmani kita yang walau berfungsi tapi tidak serta merta membuat kita mampu melihat segalanya, mata rohani pun bisa tetap buta meski suara hati Tuhan sudah tertulis dengan jelas di dalam Alkitab. Tuhan ingin mencelikan mata rohani semua manusia agar bisa melihat kebenaran, namun tidak semua orang mau menerima itu. Sebagian orang bertindak seperti orang Farisi yang merasa paling alim, paling benar, paling melihat namun sesungguhnya buta, sebagian lagi seperti murid-murid Yesus yang merasa diri sudah aman sehingga menganggap mereka berhak menuduh atau menghakimi orang dengan begitu mudahnya. Ada banyak yang tetap menolak kebenaran Firman meski Tuhan sudah berulang kali mengetuk pintu hati mereka.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on April 21, 2013, 04:51:05 AM
Quote
Jika kita mundur ke belakang, kita bisa pula menemukan Pemazmur mengatakan: "Bila tersingkap, firman-firman-Mu memberi terang, memberi pengertian kepada orang-orang bodoh." (Mazmur 119:130). Firman hanya bisa memberi terang dan pengertian kepada orang apabila firman itu tersingkap. Jika tidak, maka kita tidak akan bisa menangkap maknanya dan akan seterusnya buta secara rohani, meski firman itu sudah kita baca dengan mata kepala sendiri atau malah sudah kita kenal betul bunyinya. Itu bisa bahkan sering terjadi di kalangan orang percaya sekalipun. Paulus juga mengatakan: "Tetapi pikiran mereka telah menjadi tumpul, sebab sampai pada hari ini selubung itu masih tetap menyelubungi mereka, jika mereka membaca perjanjian lama itu tanpa disingkapkan, karena hanya Kristus saja yang dapat menyingkapkannya. Bahkan sampai pada hari ini, setiap kali mereka membaca kitab Musa, ada selubung yang menutupi hati mereka. Tetapi apabila hati seorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari padanya. Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan." (2 Korintus 3:14-17).

 ROH KUDUS siap menyingkapkan segala rahasia atau kunci Kerajaan Allah dan memberi kemerdekaan kepada kita, mencelikan mata rohani kita yang tadinya buta untuk kemudian dapat melihat. Namun semuanya tergantung kita, apakah kita mau menerima anugerah itu atau menolaknya, apakah kita mau mempergunakan kemampuan mata rohani kita dengan baik atau mau terus meleng dari semua itu. Kedatangan Kristus turun ke dunia membawa kerinduan Tuhan untuk memberi kesembuhan atas kebutaan rohani. Jangan sia-siakan kesempatan yang sudah dibuka Tuhan itu bagi kita.Milikilah mata rohani yang berfungsi dengan benar.

Firman Tuhan memberi terang dan pengertian dan mencelikan kebutaan rohani
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on April 22, 2013, 04:29:25 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_04_01_archive.html[/url]
renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/kebutaan-rohani-para-murid-dan-orang.html

 Kebutaan Rohani Para Murid dan Orang Farisi (1)

Ayat bacaan: Yohanes 9:2
=====================
"Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: "Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?"

Alangkah ironisnya ketika kita mudah menjatuhkan komentar-komentar miring karena merasa diri sudah hidup baik. Melihat orang yang hidupnya susah atau memiliki cacat tubuh, selintas pikiran bahwa itu akibat dosanya atau dosa orang tuanya, akibat kutuk dan sebagainya bisa muncul dengan mudah kalau hati tidak dijaga kondisinya dengan baik. Tanpa melihat lebih jauh mengenai kebenarannya dulu kita sudah buru-buru menghakimi orang lain. Hal seperti ini bukan saja terjadi di antara orang-orang dunia, tetapi juga di antara orang percaya. "Kasihan, dia hidupnya susah..pasti dia atau orang tuanya punya dosa yang belum dibereskan..." begitulah kata seorang teman pada suatu kali dengan ringannya yang membuat saya kaget. Mungkin ia tidak sadar, tapi ucapan itu sama sekali tidak pantas untuk diucapkan, apalagi ketika ia tidak mengenal betul siapa orang yang ia bicarakan. Dalam kesempatan lain ada seorang teman yang mampir ke sebuah persekutuan sahabatnya, dan ia bercerita bagaimana dalam doa sekalipun mereka bisa-bisanya menghakimi orang lain tanpa rasa bersalah. "Tuhan, ampuni si A, karena dosa-dosanya banyak sehingga ia menjadi seperti itu.. bebaskan si B karena pasti ia kena kutuk turunan.." dan lain-lain. Seperti itulah bentuk doa mereka yang membuat teman saya bingung karena ia merasa aneh mendengar doa menghakimi seperti itu. Mendoakan orang lain itu tentu baik, tapi haruskah disertai dengan perkataan-perkataan menuduh seperti itu? Di dunia saja itu tidak pantas dilakukan apalagi ketika disampaikan dalam doa yang notabene kepada Tuhan. Bayangkan jika di gereja ada pola seperti ini, tidakkah itu ironis? Jika dibiarkan, gereja bukan lagi menjadi tempat dimana orang bisa merasakan hadirat Tuhan dan bertumbuh bersama-sama saudara/saudari seiman, tapi akan menjadi sekumpulan orang eksklusif yang merasa diri paling benar dan merasa punya hak untuk menghakimi orang lain seenak hati mereka.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on April 22, 2013, 04:29:52 AM
Quote
Seperti yang sudah saya singgung dalam renungan kemarin, sikap seperti ini nyatanya pernah terjadi di antara murid-murid Yesus sendiri. Pada suatu hari ketika Yesus sedang berjalan bersama murid-muridNya ada seorang pengemis yang buta sejak lahir melewati mereka. Melihat orang buta itu, murid-murid Yesus spontan bertanya kepadaNya: "Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?" (Yohanes 9:2). Bayangkan seandainya kita yang ada di posisi orang buta tadi, pasti hati kita perih mendengarnya. Sudah menderita karena tidak bisa melihat dan karena keterbatasannya ia terpaksa mengemis, masih juga tega-teganya dikomentari seperti itu. Lihatlah sikap para murid itu. Bukannya di bantu, diberi sedekah, disapa dengan ramah, tapi malah dikomentari. Tentu hal itu akan semakin menambah penderitaannya. Betapa menyedihkan melihat komentar seperti ini justru datang dari murid-murid Yesus sendiri. Sepertinya murid-murid itu lupa bahwa meski mereka murid Yesus, mereka pun sama-sama manusia yang tidak sempurna yang belum tentu lebih baik dari si pengemis buta. Mengeluarkan komentar seperti ini menunjukkan bahwa mereka pun buta, buta secara rohani. Mereka tampaknya lupa diri, menjadi pongah dengan status mereka sebagai murid Yesus sehingga merasa berhak mengeluarkan kata-kata seperti itu. Kita sebagai murid-murid Kristus di hari ini pun masih sering terpeleset dalam kesalahan yang sama. Ketika kita merasa diri sudah baik, sudah hidup benar, sudah rajin berdoa, sudah hidup kudus, bukannya mengasihi orang lain tetapi malah tega menghakimi dan mengomentari orang lain, menuduh yang bukan-bukan.

Bagaimana reaksi Yesus akan sikap buruk murid-muridNya ini? Menanggapi komentar murid-muridNya, Yesus memilih untuk melakukan sesuatu secara nyata. Kemudian Yesus pun menyembuhkan pengemis buta tadi sehingga dia bisa melihat, sebuah mukjizat luar biasa yang belum pernah ia alami sejak lahir. Lalu Yesus pun memberi jawaban: "Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia." (ay 3). Yesus mengatakan bahwa pekerjaan Allah harus dinyatakan dalam dia. Bukankah itu sesuatu yang luar biasa bagi seorang pengemis buta yang mungkin tidak ada yang peduli? Sebelum bertemu Yesus, hidup baginya hanyalah kegelapan, dia tidak berguna dan dijauhi orang. Tiba-tiba dia mendapat perhatian, disembuhkan sehingga kini bisa melihat terang, bahkan dilibatkan dalam pekerjaan Allah! Ini sesuatu yang sungguh luar biasa. Perjumpaannya dengan Yesus merubah hidupnya. Ia dipulihkan dan menjadi kesaksian bagi banyak orang.

(bersambung)
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on April 23, 2013, 05:07:56 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_04_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/kebutaan-rohani-para-murid-dan-orang_21.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/kebutaan-rohani-para-murid-dan-orang_21.html[/url])

 Kebutaan Rohani Para Murid dan Orang Farisi (2)

(sambungan)

Selanjutnya mari kita lihat bagaimana reaksi orang-orang Farisi yang merasa paling paham soal agama tepat setelah orang buta itu disembuhkan. Kalau para murid sudah salah dengan mengeluarkan pertanyaan menyudutkan seperti itu, sebagian dari orang Farisi yang superior dan merasa diri paling suci langsung serta merta menuduh. "Maka kata sebagian orang-orang Farisi itu: "Orang ini tidak datang dari Allah, sebab Ia tidak memelihara hari Sabat." Sebagian pula berkata: "Bagaimanakah seorang berdosa dapat membuat mujizat yang demikian?" Maka timbullah pertentangan di antara mereka." (ay 16). Merasa diri paling benar sehingga punya hak untuk menghakimi, itulah sikap orang Farisi yang sudah tidak asing lagi, yang sayangnya masih banyak diadopsi orang percaya hingga hari ini. Yesus pun kemudian mengatakan kepada mereka "Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta." (ay 39). Orang Farisi lalu mengeluarkan sindiran. "Kata-kata itu didengar oleh beberapa orang Farisi yang berada di situ dan mereka berkata kepada-Nya: "Apakah itu berarti bahwa kami juga buta?" (ay 40). Perhatikan bahwa mereka sama sekali tidak merasa bersalah. "Jadi katamu kami pun orang buta?? Kami ini orang-orang paling benar di dunia, tahu??" Itu kira-kira yang ada di pikiran mereka. Kembali Yesus menegaskan kalimatnya. "Jawab Yesus kepada mereka: "Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata: Kami melihat, maka tetaplah dosamu." (ay 41).

Apa yang dimaksud Yesus dengan kalimat diatas? Yesus mengingatkan mereka, termasuk kita, bahwa tidak baik atau bahkan merupakan dosa ketika kita menganggap diri paling benar lalu menghakimi orang lain. Kedatangan Yesus ke dunia untuk membebaskan orang dari dosa dan memberikan gambaran yang sesungguhnya tentang Kerajaan Allah. Yesus menjungkir balikkan pandangan-pandangan keliru. Yesus meluruskan persepsi-persepsi yang salah yang ada di dunia selama ini. Jika kita selama ini merasa paling tahu apa yang benar, maka Yesus membawa kebenaran yang sesungguhnya yang berasal dari Bapa Surgawi. Jika kita menolak kebenaran dan menganggap kita lebih tahu, maka sesungguhnya kitalah yang buta. Kedatangan Kristus pun menjadi sia-sia bagi kita yang keras hati seperti ini, sehingga kita luput dari anugerah keselamatan yang telah diberikan lewat Kristus kepada kita.

Adalah menarik untuk melihat Yohanes 9 ini, dimana kita bisa melihat dua jenis reaksi dari tipe orang yang menganggap dirinya sudah benar. Bukankah masih banyak orang percaya yang masih melakukan kesalahan yang sama seperti ini? Apakah kita termasuk satu diantara mereka yang bersikap seperti ini? Apakah kita masih termasuk yang buta? Apakah ketika melihat orang-orang yang susah kita tergerak untuk membantu dan memberkati atau tergerak mengomentari, menuduh, menghakimi, menghina atau bahkan mengejek? Ini pertanyaan penting yang harus kita renungkan. Yesus berpesan bahwa kita harus melakukan pekerjaan Tuhan selama masih ada waktu dan kesempatan. "Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja." (ay 4). Jangan cuma bicara, apalagi membicarakan dosa orang lain, gosip, mengatai orang dan hal-hal buruk lainnya. Berhentilah melakukan itu. Mulailah mengambil tindakan nyata, selagi "hari masih siang". Mengatai, menggosipkan atau membicarakan orang lain adalah sia-sia dan sama dengan memberi tuduhan palsu. Hal tersebut tajam adanya dan bisa sangat melukai bahkan dalam banyak kesempatan sama kejamnya dengan membunuh. "Orang yang bersaksi dusta terhadap sesamanya adalah seperti gada, atau pedang, atau panah yang tajam." (Amsal 25:18). Bentuk-bentuk perkataan yang tidak pada tempatnya itu pun sama halnya seperti menghakimi orang lain. Apa kata Yesus mengenai hal menghakimi? "Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu." (Matius 7:1-2). Daripada melakukan hal yang mendatangkan masalah bagi kita dan menyakiti orang lain, lebih baik kita mengambil tindakan nyata dengan mengasihi dan memberkati orang lebih banyak lagi. Masih begitu banyak pekerjaan yang bisa kita lakukan di ladang Tuhan, dan lakukanlah itu secara nyata selagi hari masih siang.

Hindari menghakimi orang lain dan merasa diri paling benar, teruslah mengasihi dan memberkati
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on April 24, 2013, 05:20:43 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_04_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/penghalang-pandangan-1.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/penghalang-pandangan-1.html[/url])


Penghalang Pandangan (1)

Ayat bacaan: Lukas 24:16
=====================
"Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia."

Ada beberapa teman saya yang punya kebiasaan melamun ketika tengah berjalan di tengah keramaian, sehingga ia sering tidak melihat orang yang dikenalnya meski orang tersebut berada tepat disampingnya. Bukan matanya yang salah makanya ia tidak melihat, tapi itu terjadi karena matanya tidak terpakai dengan baik sebab tertutupi oleh lamunannya. Ada kalanya mata yang berfungsi normal menjadi berkurang kemampuan melihatnya karena ada sesuatu yang menutupi. Turunnya abu vulkanik akibat kebakaran hutan, kabut tebal yang turun misalnya, itu bisa membuat jarak pandang menurun, bahkan membuat kita tidak bisa melihat apa-apa di dekat kita. Dalam kehidupan rohani, berbagai hal seperti ketakutan dan kekuatiran pun bisa membuat kita tidak lagi bisa melihat janji-janji Tuhan dan kebenaran yang terkandung di dalam FirmanNya. Jika itu yang terjadi, maka kita pun menjadi sulit untuk mengenal Tuhan yang padahal tetap berada bersama dengan kita dalam setiap langkah.

Hari ini saya masih ingin melanjutkan renungan mengenai kebutaan rohani. Mari kita perhatikan apa yang terjadi pada pada murid-murid Yesus setelah Dia disalibkan. Yesus baru saja meninggalkan mereka selama tiga hari. Tiga hari itu waktu yang sangat singkat. Rasanya kita tidak akan mungkin lupa terhadap seseorang yang kita kenal dengan baik jika baru saja meninggalkan kita tiga hari saja. Anda tidak akan mungkin lupa wajah pasangan anda kalau tiga hari tidak ketemu bukan? Aneh, tapi itulah yang terjadi pada murid-murid Yesus.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on April 24, 2013, 05:21:26 AM
Quote
Pada suatu hari, dua dari murid Yesus sedang berjalan menuju sebuah kampung yang lokasinya terletak sekitar  11 kilometer dari Yerusalem. Mereka tengah sibuk membicarakan dan membahas apa yang terjadi. Saya yakin pada saat itu mereka sedang bingung, kalut, ketakutan dan tidak tahu harus berbuat apa setelah mendengar berita simpang siur mengenai hilangnya mayat Yesus dari kubur. Mereka tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Apakah jasad Yesus diculik, atau bangkit seperti kesaksian beberapa perempuan yang bertemu dengan malaikat penyampai kabar itu. Mereka mungkin tengah galau, kehilangan harapan, kecewa dan sedih, bahkan kemungkinan besar tengah dicekam rasa takut membayangkan siksaan seperti apa yang akan mereka terima setelah Yesus tidak ada lagi di dekat mereka secara fisik.  Lalu Alkitab mencatat apa yang terjadi selanjutnya. "Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka." (Lukas 24:15). Yesus tiba-tiba muncul di dekat mereka, bahkan berjalan bersama dengan mereka! Seharusnya mereka bersorak dan menyambut Yesus dengan sangat gembira. Tapi ternyata bukan itu yang terjadi. Mereka malah tidak mengenal Yesus. Bagaimana bisa begitu? Alasannya secara jelas disebutkan pada ayat berikutnya. "Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia." (ay 16). Dikatakan ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, karena itulah mereka tidak mengenal Yesus. Apakah sesuatu yang menghalangi pandangan mereka sehingga mereka seolah buta meski mata mereka sebenarnya masih berfungsi normal? Itu adalah berbagai pikiran penuh ketakutan, kekuatiran atau kecemasan yang sedang melanda mereka. Mereka bahkan belum juga sadar bahkan ketika Yesus sudah menegur mereka dan menjelaskan nubuatan-nubuatan yang tertulis tentang Dia dalam kitab nabi-nabi. (ay 25-27). Baru ketika mereka tiba di kampung dan Yesus mengambil roti dan memecah-mecahkan sambil mengucap berkatlah mereka menyadari bahwa orang yang berjalan bersama mereka sejak tadi ternyata Yesus. Bayangkan dalam perjalanan 11 kilometer panjangnya mereka tidak kunjung menyadari bahwa Yesus yang mereka perbincangkan ternyata ada ditengah-tengah mereka.

11 kilometer dengan berjalan kaki, itu membutuhkan waktu yang sangat lama. Selama itulah mereka tidak menyadari siapa Sosok yang berjalan bersama dengan mereka. Keraguan, kebingungan, kekecewaan, kesedihan, atau ketakutan membuat mereka tidak mengenali Yesus, meski Yesus berada tepat bersama mereka. Ketika Yesus duduk makan dengan mereka dan memecah-mecahkan roti, mereka pun tersadar bahwa orang yang tidak mereka kenal itu ternyata Yesus (ay 30). Ketika itulah mereka baru sadar bahwa sebenarnya ketika orang itu menerangkan kitab suci sepanjang perjalanan, mereka merasakan bahwa sebenarnya hati mereka berkobar-kobar, dan seharusnya mereka bisa mengenali Yesus pada saat itu juga (ay 32).

(bersambung)
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on April 25, 2013, 05:23:47 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_04_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/penghalang-pandangan-2.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/penghalang-pandangan-2.html[/url])

 Penghalang Pandangan (2)

(sambungan)

Hal yang sama sering kita alami sampai hari ini. Berbagai permasalahan hidup, tekanan, beban berat atau pergumulan yang kita alami bisa membuat kita tidak mendengar atau mengenal Tuhan lagi. Kita lupa akan Tuhan, atau malah mungkin mulai meragukan eksistensiNya di tengah-tengah kita. Kita mengira seolah-olah Tuhan tidak lagi ada bersama kita, melupakan dan membiarkan kita di tengah-tengah tekanan. Ketika jalan yang kita lalui penuh liku, kita tidak lagi percaya bahwa di ujungnya Tuhan telah menyediakan segala kebaikan dan segera menyerah. Kita meragukan eksistensiNya atau kalaupun kita percaya, kita ragu bahwa Dia mungkin hanya memberi janji palsu atau tidak peduli terhadap pergumulan kita. Yang seringkali terjadi, kita justru terjebak pada berbagai alternatif yang membinasakan. Padahal bukan Tuhan yang salah, justru fokus kita terhadap beban penderitaan yang terlalu besarlah yang menutupi pandangan kita sehingga kita tidak lagi mengenal Dia. Bahkan setelah mendengar Firman Tuhan sekalipun, orang-orang yang fokus sepenuhnya hanya kepada permasalahan dan beban berat tidak lagi bisa merasakan apapun, sebab awan tebal itu telah terlanjur menutupi hati mereka.

Kepada Yosua Tuhan mengatakan: "Seorangpun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau seumur hidupmu; seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau." (Yosua 1:5). Ini Tuhan sampaikan kepada Yosua sehubungan dengan diberikannya tugas yang sangat berat, yang pasti akan meletakkan Yosua duduk di kursi panas. Situasi yang harus dia hadapi begitu sulit karena harus melanjutkan pekerjaan besar untuk menuntun bangsa Israel yang keras kepala dan tegar tengkuk memasuki tanah yang dijanjikan menggantikan Musa. Pergumulan jelas harus dihadapi Yosua, tekanan dan beban ada bersamanya, tapi disamping itu lihatlah bahwa janji Tuhan yang meneguhkan dan menguatkan pun ada bersamanya. Tuhan berjanji untuk selalu besertanya dan tidak akan meninggalkan dirinya menghadapi itu sendirian. Janji yang sama juga berlaku bagi kita, karena Tuhan tidak pernah senang melihat anak-anakNya menderita. Apa yang Dia berikan adalah rancangan yang terbaik. He wishes to give nothing but the best. Tapi tebalnya awan kelabu yang timbul dari ketakutan, kegelisahan, kesedihan, kebingungan atau kekecewaan kita akan membuat semua itu tidak lagi terlihat. Hal-hal itu akan menutupi pandangan mata kita dari pengenalan akan Tuhan dan kebenaran FirmanNya. Ketika awan kelabu begitu tebal, terang matahari pun tidak lagi terlihat jelas atau bahkan bisa hilang sama sekali dari pandangan kita. Ketika mata kita tertutup oleh berbagai kekuatiran, ketakutan dan ketidakpastian, maka kita pun tidak lagi melihat Terang.

Yesus tahu pergumulan kita, Dia sangat memahami beratnya hidup kita. Dia sudah mengalami itu semua secara langsung ketika Dia mengambil rupa hamba seperti kita dan mengalami penderitaan secara langsung untuk membebaskan kita dari kebinasaan, sesuai kehendak BapaNya. Tidak hanya tahu, tapi Yesus juga peduli, malah sangat-sangat peduli. Karenanya Yesus berkata: "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu." (Matius 11:28). Itu jelas merupakan bentuk kepedulian yang besar karena Dia tahu betul bagaimana beratnya pergumulan-pergumulan yang harus kita hadapi dalam hidup kita. Apa yang harus kita lakukan adalah tetap berpegang teguh kepada janji setia Allah, percaya sepenuhnya kepadaNya dan menjaga diri kita untuk tetap hidup kudus dan taat tanpa kehilangan pengharapan sedikitpun.

Kita harus memperhatikan betul agar jangan ada awan gelap terbentuk yang bisa membuat kita tidak lagi bisa melihat dan mengenalNya. Tak kenal maka tak sayang. Disamping itu, hiduplah dengan benar, karena tumpukan dosapun bisa membuat kita hubungan kita dengan Tuhan menjadi terputus. "tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu." (Yesaya 59:2). Agar bisa tetap melihat dan mengenal Tuhan kita harus memiliki pandangan yang bersih dari segala hambatan yang menutupi pandangan kita. Jika masih ada sesuatu yang menghalangi pandangan kita, singkirkanlah segera semua itu, agar kita bisa selalu memiliki pandangan jernih kepada Tuhan.

Ketakutan, keraguan dan kekecewaan dalam pergumulan menghalangi pandangan kita kepada Tuhan
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on April 26, 2013, 04:09:52 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_04_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/no-man-is-island.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/no-man-is-island.html[/url])

 No Man is an Island

Ayat bacaan: Kejadian 2:18a
======================
"TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja."

Di tahun 1624 seorang penyair bernama John Donne menulis sebait syairnya "no man is an island" yang sampai sekarang masih sangat familiar di telinga kita. Kalimat ini mengacu kepada jati diri manusia yang memang diciptakan bukan untuk hidup sendirian, terisolir dari lingkungannya dan menjadi orang-orang bersifat individualis melainkan untuk hidup dalam hubungan kekerabatan dengan orang lain, berkelompok atau dalam komunitas. Sudah menjadi sifat dasar manusia untuk hidup sebagai mahluk sosial yang harus membangun hubungan dengan orang lain agar bisa maju dan hidup lebih baik. Sulit sekali membayangkan jika harus menjalani hidup sendirian tanpa teman. Keterbatasan-keterbatasan kita sebagai manusia jelas membutuhkan pertolongan orang lain. Tidak ada satupun orang yang bisa bertahan hidup dengan baik jika hanya sendirian. Contoh kecil saja, apabila kita hidup tanpa adanya teman, saudara atau keluarga, tentu sangatlah sulit bagi kita untuk menjalani hidup. Tidak ada yang menegur, tidak ada tempat curhat atau sharing, tidak ada yang mengingatkan, tidak ada yang membantu.

Saya pernah membaca komentar dari seorang mantan narapidana bahwa salah satu bentuk hukuman terberat bagi mereka yang tengah menjalani hukuman dibalik jeruji ternyata bukanlah siksaan fisik melainkan ketika diisolasi dalam sebuah ruang yang gelap untuk sekian waktu tertentu. Diisolasi sendirian, terasing tanpa ada kesempatan untuk bertatap muka dengan orang lain, itu yang ternyata ia rasakan paling menyiksa. Kita adalah manusia yang butuh kasih sayang, perhatian dan dukungan dari orang lain. Bukan hanya membuat hidup jauh lebih sulit, kesendirian itu bisa sangat menyiksa, dan itu pun bukanlah sesuatu yang diinginkan Tuhan bagi kita.

Seperti itu pula jatidiri kita diciptakan Tuhan. Tuhan tidak berniat menciptakan manusia untuk sendiri-sendiri. Interaksi sosial dengan orang lain jelas kita butuhkan dan Tuhan pun menghendaki demikian. Lihatlah apa kata Tuhan di awal penciptaan. "TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja." (Kejadian 2:18). Tuhan mengatakan bahwa sendirian itu tidak baik. "It is not good", He said. Dan itulah landasan Tuhan menciptakan seorang penolong yang sepadan dengan kita. Hawa pun hadir, diciptakan lewat tulang rusuk Adam.

Kemudian Tuhan memberkati dan memberi pesan kepada mereka. "Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." (1:28). Beranak cuculah dan bertambah banyak, lalu berkuasalah atas segala ciptaan Tuhan yang ada di muka bumi ini. Pikirkanlah. Untuk apa kita diminta untuk terus bertambah banyak memenuhi bumi jika kita harus hidup sendiri-sendiri? Tuhan menginginkan adanya interaksi sosial di antara sesama manusia agar kita bisa terus berkembang lebih baik, apalagi dengan diserahkannya tugas untuk menaklukkan dan menguasai seisi bumi yang sama sekali tidak mudah. Secara spesifik kita bisa melihat bahwa manusia diciptakan berpasang-pasangan seperti halnya Adam dan Hawa, namun secara luas Tuhan pun mengingatkan kita untuk hidup berdampingan dengan orang lain, baik dalam komunitas maupun lingkungan tertentu, dimana kita bisa saling membangun, menolong, mengisi, mengingatkan satu sama lain dan sama-sama bertumbuh ke arah yang lebih baik.

Dalam Pengkotbah kita bisa melihat bahwa kita dianjurkan untuk berinteraksi dan menjalin hubungan dengan orang lain. "Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka." (Pengkotbah 4:9) Dalam versi BIS dikatakan "Berdua lebih menguntungkan daripada seorang diri. Kalau mereka bekerja, hasilnya akan lebih baik." Kemudian dilanjutkan dengan: "Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!" (ay 10). Kita butuh kehadiran teman yang bisa menolong kita bangkit ketika terjatuh, teman yang siap menguatkan ketika kita lemah, teman yang sanggup meringankan ketika kita ditimpa beban berat, teman yang siap memberi masukan, menegur apabila kita salah, mengingatkan dan memberi masukan, teman yang mampu memberi penghiburan ketika kita berduka.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on April 26, 2013, 04:10:31 AM
Quote
Bukan hanya kepada sesama kita manusia, jangan lupa pula bahwa kita pun harus membangun sebuah hubungan yang erat dan intim dengan Tuhan. Tuhan juga ingin kita berhubungan dekat dan berinteraksi denganNya. Lihatlah bagaimana sebuah hubungan yang sangat dekat bersama dengan Allah itu, "Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: "Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka." (Wahyu 21:3). Dan hasil dari kebersamaan dengan Tuhan ini pun sungguh indah pula. "Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu."(ay 4).

Tuhan Yesus sendiri pun mengingatkan kita akan pentingnya sebuah persekutuan dalam kehidupan kerohanian. "Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka." (Matius 18:19-20). Jelaslah bahwa kita memang diciptakan sebagai mahluk sosial yang harus terhubung satu sama lain untuk bisa hidup lebih baik. Tapi disamping itu kita juga harus ingat untuk berhati-hati dalam memilih teman, sebab Firman Tuhan sudah mengingatkan:"Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang" (Amsal 13:20), atau "Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik." (1 Korintus 15:33).

Ada saja alasan bagi orang untuk hidup menyendiri. Mungkin karena rasa malu, dosa, depresi, rasa kehilangan, penderitaan akibat sakit dan sebagainya. Tapi apapun alasannya, jawaban Tuhan akan hal itu tetap sama, "it is not good". Oleh karena itu kita diingatkan "Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat." (Ibrani 10:25). Sekali lagi, we are created to build a close relationship with others (Pengkotbah 4:9-12) and with God Himself. (Wahyu 21:3). No man is an island said John Donne, and indeed it is. Let's reach out and develop a tight friendships with others, for our own sake and theirs and let's live a better life together.

Mari membangun hubungan yang baik dengan sesama agar hidup kita menjadi semakin baik
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on April 27, 2013, 04:57:33 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_04_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/peran-umat-tuhan-bagi-pemulihan-negeri.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/peran-umat-tuhan-bagi-pemulihan-negeri.html[/url])

 Peran Umat Tuhan Bagi Pemulihan Negeri

Ayat bacaan: 2 Tawarikh 7:14
========================
"dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka."

Betapa sulitnya membersihkan negara ini dari tikus-tikus koruptor yang tanpa tedeng aling-aling terus mengeruk uang negara tanpa memikirkan nasib bangsa yang semakin carut marut seperti sekarang ini. Ketika kemiskinan melanda, maka tingkat kriminalitas pun menjadi meningkat pula. Kondisi rawan terjadi dimana-mana. Orang bisa membunuh di tempat umum tanpa rasa takut, pencurian disertai kekerasan terus menjadi berita di berbagai media. Lembaga dimana kita mencari keadilan justru menjadi salah satu sarang bercokolnya tikus-tikus ini, yang membuat tidak adanya jaminan keadilan atau keamanan yang cukup bagi warga negara sendiri. "Saya angkat tangan saja...apa yang bisa saya buat? Kondisinya sudah terlalu parah, apalah artinya satu orang dibanding kerusakan yang sudah begitu luas merusak negara ini.." kata seorang teman dengan pasrah. Seperti itulah pemikiran banyak orang yang merasa bahwa tidak ada satupun lagi yang bisa dibuat untuk memperbaiki kerusakan yang sudah sedemikian parah. Tapi benarkah kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi? Apakah kita hanya tinggal pasrah melihat bangsa ini terus meluncur cepat ke dalam jurang kehancuran?

Kita akan dengan mudah beranggapan bahwa akan sulit bagi orang benar untuk bisa melakukan sebuah perubahan. Tapi coba kita balik pertanyaannya. Mungkinkah satu orang jahat bisa mengubahkan sebuah bangsa untuk tujuan buruk? Jawabannya menjadi sangat masuk akal. Ya, itu sangat mungkin seperti yang bisa kita lihat dalam sejarah kehidupan dunia. Adolf Hitler telah membuktikannya. Sangat sulit untuk melepas citra buruk yang ditimbulkan Hitler bagi Jerman,  bahkan hingga berpuluh tahun sesudahnya. Begitu pula para pemimpin diktator kejam sekelas Hitler lainnya yang pernah ada di belahan dunia yang berbeda dalam masa yang berbeda pula. Jika kuasa iblis atas seorang manusia saja dapat mengubahkan sebuah bangsa untuk tujuan buruk, tentu hal sebaliknya pun mungkin terjadi. Sekelompok orang percaya, berapapun jumlahnya, akan mampu menjadi agen-agen Tuhan yang bisa mengubahkan sebuah bangsa ke arah yang lebih baik.

Mari kita simak baik-baik ayat bacaan hari ini. "dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka." (2 Tawarikh 7:14). Lihatlah bahwa Tuhan tidak sedang berbicara mengenai kelompok yang besar. Dia tidak menyebutkan bahwa dibutuhkan setiap individu dalam sebuah bangsa untuk mengubahkan segala sesuatu. Apa yang Tuhan tekankan adalah umatNya, kita anak-anakNya. Bukan soal jumlah, tapi orang percaya, yang berjalan atas nama Tuhan, yang mau merendahkan diri, tekun berdoa dan selalu rindu mencari wajahNya, dan sudah memutuskan untuk bertobat dari jalan-jalan yang salah, sudah memutuskan untuk hidup benar, dan tentu saja peduli dengan kondisi yang dialami bangsanya. Orang-orang seperti inilah yang akan didengar Tuhan, dan pemulihan sebuah negeri akan dapat terjadi. Biarpun jumlahnya sedikit sekali, tangan Tuhan bisa turun memulihkan kondisi yang sudah separah apapun kerusakannya. Syaratnya menurut ayat ini adalah jika ada sekelompok umat Tuhan, yang berjalan atas namaNya, yang mau merendahkan diri, mau berdoa, mencari wajah Tuhan dan mendoakan bangsanya, maka Tuhan akan mendengar seruannya dan memulihkan diri mereka serta negerinya. Orang-orang seperti inilah yang bisa melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Jika orang seperti ini peduli, dan mau mendoakan negerinya, maka Tuhan pasti mendengar. Pengampunan dan pemulihan pun akan segera terjadi.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on April 27, 2013, 04:58:08 AM
Quote
Berdoa bagi bangsa, itulah kuncinya. Berdoalah untuk negeri kita. Sebelumnya pastikan bahwa hidup kita sudah tidak lagi menyimpang dari kebenaran. Jumlah orang bukanlah menjadi prioritas utama Tuhan. Sedikit, tapi benar, itu jauh lebih baik ketimbang banyak tapi suam-suam kuku. Kita bisa melihat contoh lain ketika Tuhan memutuskan untuk melenyapkan Sodom. Bacalah Kejadian 18:16-33 dan lihat bagaimana proses "tawar menawar" Abraham terhadap Tuhan yang memohon agar Sodom jangan sampai dimusnahkan. Abraham memulai dari 50 orang benar. Jika ada 50 orang benar, Tuhan siap mengampuni kota itu.  "TUHAN berfirman: "Jika Kudapati lima puluh orang benar dalam kota Sodom, Aku akan mengampuni seluruh tempat itu karena mereka." (ay 26).  Tapi ternyata tidak ada 50 orangpun yang benar. Abraham terus menawar hingga jumlah orang benar mencapai 10 orang. Dan untuk 10 orang pun Tuhan mau mengampuni Sodom. "Katanya: "Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata lagi sekali ini saja. Sekiranya sepuluh didapati di sana?" Firman-Nya: "Aku tidak akan memusnahkannya karena yang sepuluh itu." (ay 32). Lihatlah, iman 10 orang pun akan mampu membuat perbedaan. Namun sayangnya ternyata 10 orang pun tidak ada disana untuk menopang kotanya dalam doa. Akibatnya, Sodompun dimusnahkan Tuhan.

Tugas ada di pundak kita, orang-orang percaya. Apakah kita ingin negeri kita mengalami pemulihan atau terus membiarkannya menuju jurang kehancuran, itu semua tergantung dari seberapa jauh kepedulian kita untuk mendoakan bangsa ini, dan seberapa jauh kita hidup dengan benar. Itu mungkin dan bisa kita lakukan! Sejauh mana kita bisa menjadi umat Tuhan yang berkenan di hadapanNya, yang peduli terhadap nasib negeri kita akan sangat menentukan nasib bangsa ini ke depan. Doakan, doakanlah terus. Naikkan doa syafaat bagi negeri kita dan para pemimpin, agar mereka bisa memimpin dan mengelola negeri ini dengan baik dan takut akan Tuhan. Paulus pun mengingatkan hal ini. "Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan." (1 Timotius 2:1-2). Bukan kita yang sanggup melakukan pemulihan, melainkan Tuhan. Tapi kita bisa menjadi penggeraknya melalui doa-doa syafaat kita. Tuhan mampu memulihkan negeri kita. Tugas kita adalah berdoa, percaya, hidup benar dan mencari wajahNya. Bukankah Firman Tuhan sudah mengingatkan pula bahwa "Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya" (Yakobus 5:16b)? Jangan tunggu sampai negeri kita harus mengalami hal yang sama seperti Sodom. 10 umat Tuhan yang benar-benar percaya dan peduli pun sudah bisa mendatangkan perubahan positif. Jadi jangan tinggal diam, jangan berpikir pesimis bahwa anda hanyalah minoritas yang tidak bisa berbuat apa-apa, sebab itu bukanlah sikap yang diinginkan Tuhan. Datanglah pada Tuhan hari ini dan berdoalah bagi negeri kita. Tuhan akan mendengar dan siap memulihkan.

Sedikitpun asal benar mampu menggerakkan hati Tuhan untuk mengampuni dan melakukan pemulihan
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on April 28, 2013, 04:50:24 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_04_01_archive.html[/url]
renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/perang-umat-tuhan-bagi-pemulihan-negeri.html

 Perang Umat Tuhan Bagi Pemulihan Negeri: Doa Daniel

Ayat bacaan: Daniel 9:16
====================
"Ya Tuhan, sesuai dengan belas kasihan-Mu, biarlah kiranya murka dan amarah-Mu berlalu dari Yerusalem, kota-Mu, gunung-Mu yang kudus; sebab oleh karena dosa kami dan oleh karena kesalahan nenek moyang kami maka Yerusalem dan umat-Mu telah menjadi cela bagi semua orang yang di sekeliling kami."

Dalam renungan kemarin kita sudah melihat bahwa berpangku tangan jelas bukan pilihan dalam menyikapi kerusakan yang melanda bangsa dan negara kita. Ada banyak orang yang merasa tidak aman dalam melihat bangsanya memutuskan untuk melarikan diri ke luar negeri. Mereka lebih memilih untuk menyelamatkan diri sendiri ketimbang turut memikirkan nasib bangsanya. Itu bukanlah solusi menurut Firman Tuhan, apalagi kalau ditambah dengan keluh kesah, protes atau mengutuki pemimpin dan bangsa sendiri. Bukan itu hal yang harus dilakukan oleh orang percaya. Ada tugas bagi kita semua karena bukanlah kebetulan kita ditempatkan menjadi bagian dari sebuah bangsa yang masih terus bergulat menghadapi begitu banyak masalah. Turun ke jalan dan membuat keonaran? Memukuli orang yang tidak sepaham atau kita anggap salah? Itu kejahatan berat di mata Tuhan. Salah satu yang bisa dan WAJIB kita lakukan adalah terus memanjatkan doa untuk bangsa ini. Berdoa dan terus mendoakan bangsa. Bukan hanya berdoa untuk diri sendiri dan keluarga, tetapi terlebih untuk bangsa ini. Karena selain itu menjadi panggilan wajib bagi kita, tetapi sadar atau tidak sesungguhnya kesejahteraan kita akan sangat tergantung dari kondisi bangsa dimana kita berdiam.

Setelah kemarin kita melihat ayat dalam 2 Tawarikh 7:14, ada sebuah contoh bagus lainnya yang bisa kita jadikan contoh yaitu dengan melihat cara pandang Daniel. Pada masa hidupnya, Daniel menyadari betapa keadaan bangsanya begitu memprihatinkan. Daniel tidak memilih untuk bersikap apatis, ia juga tidak menyalahkan bangsanya terus menerus, mengutuki atau bahkan menghakimi. Itu bisa saja dia lakukan kalau mengingat dia bukanlah termasuk salah satu dari orang yang berbuat kejahatan. Ia hidup kudus dan taat. Ia tidak berbuat apapun yang salah. Tapi biar bagaimanapun ia merupakan bagian dari bangsanya, dan Daniel sadar akan hal itu. Perhatikanlah bahwa Daniel mengambil waktu untuk berdoa, bukan difokuskan untuk dirinya sendiri tetapi secara khusus untuk bangsanya. Bacalah seluruh isi doa Daniel yang tertulis dalam Daniel 9:1-19 maka kita akan melihat bahwa Daniel menggunakan kata "kami" dan bukan "mereka". Daniel memiliki sebuah kerendahan hati untuk tidak bermegah diri meskipun dirinya sudah mengaplikasikan hidup benar dan akrab dengan Tuhan sejak semula. Daniel mengasihi dan peduli terhadap bangsanya. Ia tahu bahwa ia merupakan bagian dari bangsanya. Jika bangsanya menderita, itu artinya ia pun akan turut menderita. Sebaliknya jika bangsanya makmur dan sejahtera, maka ia pun akan menjadi bagian yang bisa menikmati itu. Daniel memahami bahwa meski ia tidak berbuat satupun kesalahan, tapi biar bagaimanapun ia tetap merupakan bagian yang terintegrasi dengan bangsa yang saat itu tengah memberontak, tengah berperilaku fasik, bangsa yang bergelimang perilaku menyimpang dan dosa. Selain itu, Daniel sadar betul bahwa jika bukan dia, siapa lagi yang harus berdoa agar malapetaka dan murka Tuhan dijauhkan dari bangsanya?

Maka lihatlah bagaimana bunyi doanya. "Ya Tuhan, sesuai dengan belas kasihan-Mu, biarlah kiranya murka dan amarah-Mu berlalu dari Yerusalem, kota-Mu, gunung-Mu yang kudus; sebab oleh karena dosa kami dan oleh karena kesalahan nenek moyang kami maka Yerusalem dan umat-Mu telah menjadi cela bagi semua orang yang di sekeliling kami. Oleh sebab itu, dengarkanlah, ya Allah kami, doa hamba-Mu ini dan permohonannya, dan sinarilah tempat kudus-Mu yang telah musnah ini dengan wajah-Mu, demi Tuhan sendiri. Ya Allahku, arahkanlah telinga-Mu dan dengarlah, bukalah mata-Mu dan lihatlah kebinasaan kami dan kota yang disebut dengan nama-Mu, sebab kami menyampaikan doa permohonan kami ke hadapan-Mu bukan berdasarkan jasa-jasa kami, tetapi berdasarkan kasih sayang-Mu yang berlimpah-limpah. Ya Tuhan, dengarlah! Ya, Tuhan, ampunilah! Ya Tuhan, perhatikanlah dan bertindaklah dengan tidak bertangguh, oleh karena Engkau sendiri, Allahku, sebab kota-Mu dan umat-Mu disebut dengan nama-Mu!" (Daniel 9:16-19). Ini sebuah doa yang sangat indah yang dipanjatkan Daniel mewakili bangsanya.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on April 28, 2013, 04:51:20 AM
Quote
Apa yang terjadi apabila kita berpangku tangan dan membiarkan saja bangsa yang kita cintai jatuh ke dalam berbagai kejahatan dan penyesatan? Akan hal ini kita bisa melihat mengapa Tuhan membinasakan Sodom. Alkitab menggambarkan kehancuran yang begitu mengerikan. "Kemudian TUHAN menurunkan hujan belerang dan api atas Sodom dan Gomora, berasal dari TUHAN, dari langit; dan ditunggangbalikkan-Nyalah kota-kota itu dan Lembah Yordan dan semua penduduk kota-kota serta tumbuh-tumbuhan di tanah." (Kejadian 19:24-25). Mengapa itu harus terjadi? Alkitab pun menyebutkan alasannya, sebab "orang Sodom sangat jahat dan berdoa terhadap TUHAN." (Kejadian 13:13). Abraham sempat berusaha untuk meminta keringanan kepada Tuhan, dimana proses tawar menawar antara Abraham dan Tuhan tercatat jelas di dalam Alkitab. Kemarin sudah saya singgung, tapi mari kita lihat sekali lagi prosesnya. Abraham mengatakan "Jauhlah kiranya dari pada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama-sama dengan orang fasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang demikian dari pada-Mu! Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?" (Kejadian 18:25). Dan apa kata Tuhan? "TUHAN berfirman: "Jika Kudapati lima puluh orang benar dalam kota Sodom, Aku akan mengampuni seluruh tempat itu karena mereka." (ay 26). Ternyata tidak ada 50 orang benar disana pada waktu itu. Abraham terus menawar hingga jumlah yang kecil, yaitu 10 orang. "Katanya: "Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata lagi sekali ini saja. Sekiranya sepuluh didapati di sana?" Firman-Nya: "Aku tidak akan memusnahkannya karena yang sepuluh itu." (ay 32). Bayangkan 10 orang benar saja pun sudah tidak ada. Padahal jika ada 10 orang benar, orang peduli dan tidak apatis, tidak berpangku tangan, orang yang taat dan takut akan Tuhan dan peduli terhadap bangsanya sendiri saja, Tuhan akan mengampuni bangsa berikut orang-orang yang tinggal di Sodom.

Melihat keadaan carut marut bangsa kita hari ini, sudahkah kita berperan di dalamnya? Sudahkah kita menjadi orang percaya yang tidak egois tapi peduli terhadap eksistensi dan masa depan bangsa sendiri? Sudahkah kita mendoakan bangsa kita, bergabung bersama-sama saudara-saudari kita lainnya untuk memanjatkan doa mewakili bangsa ini? Sebagai anak bangsa, sudah selayaknya kita peduli dan turut mendoakan bangsa dan negara kita. Seruan untuk doa syafaat bagi para pemimpin sudah disampaikan Paulus dalam 1 Timotius 2:1-2. Bisa tidaknya kita hidup tenang dan tenteram, itu tergantung dari bagaimana keadaan bangsa dan negara kita sendiri. Kepedulian kita merupakan sebuah hal yang wajib. "Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran." (ay 3-4). Tuhan tidak ingin satupun dari manusia ciptaanNya untuk binasa. Dia telah menjadikan segala sesuatu itu amat sangat baik sejak semula. Tidak satupun bagian dunia ini yang sengaja Dia ciptakan dengan tujuan sengaja untuk mengalami kehancuran. Dia tidak pernah bersenang hati melihat runtuhnya sebuah negara dan bangsa. Bukti kasihNya yang sangat besar itu jelas kita lihat dengan hadirnya keselamatan lewat Kristus untuk semua bangsa, semua golongan, semua ras, tanpa terkecuali. Tapi bagi yang sudah selamat, sudahkah kita meluangkan waktu untuk mendoakan bangsa kita sendiri?
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on April 28, 2013, 04:51:41 AM
Quote
Oleh sebab itu anak-anak Tuhan haruslah menjadi warga negara yang baik. Hormati dan tunduklah pada pemimpin kita, jangan hanya mengeluh dan membuat segalanya semakin sulit. "Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu." (Ibrani 13:17). Petrus pun mengingatkan hal yang sama, untuk tunduk kepada pemerintah demi nama Allah. "Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi.." (1 Petrus 2:13). Jika mereka masih belum benar, doakan terus mereka agar memiliki roh yang takut akan Tuhan sehingga mau berbalik dari penyimpangan-penyimpangan untuk kemudian menjadi pemimpin yang benar. Kepedulian kita akan sangat menentukan bagaimana masa depan bangsa ini. Alangkah indahnya jika kita anak-anak Tuhan bersepakat berdoa bagi bangsa bersama-sama tanpa memandang perbedaan apapun. Dimanapun dan apapun gereja anda, ini saatnya kita bersatu. Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang termasuk bagi pemimpin-pemimpin kita dan juga untuk bangsa dan negara kita. Benar, kondisi negeri ini masih jauh dari kondisi ideal. Masih begitu banyak yang harus dibenahi. Mungkin masalah-masalah yang ada terlihat jauh lebih besar dari kesanggupan kita, tetapi sesungguhnya untuk itulah kita harus berperan serta. Doa-doa orang benar sangatlah besar kuasanya dan mampu mengubah kehancuran menjadi kemakmuran. Tuhan mendengar doa anak-anakNya dan siap mengabulkan itu semua. Jadilah orang percaya seperti Daniel yang peduli. Ingatlah bahwa kita diselamatkan untuk menjadi berkat buat orang lain, untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan baik yang bisa menyelamatkan orang lain, (Efesus 2:10) dan ini termasuk bangsa dan negara kita.

Wakili bangsa ini dan berdoalah bagi kesejahteraannya
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on April 29, 2013, 04:58:02 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_04_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/peran-umat-tuhan-bagi-pemulihan-negeri_27.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/peran-umat-tuhan-bagi-pemulihan-negeri_27.html[/url])

 Peran Umat Tuhan Bagi Pemulihan Negeri: Mikha

Ayat bacaan: Mikha 7:7
======================
"Tetapi aku ini akan menunggu-nunggu TUHAN, akan mengharapkan Allah yang menyelamatkan aku; Allahku akan mendengarkan aku!"

Beberapa hari terakhir saya mengajak teman-teman semua untuk merenungkan apa yang sebenarnya bisa dilakukan oleh orang percaya dalam memulihkan kondisi bangsa yang sudah carut marut, retak bahkan hancur di sana-sini. Kita cenderung membandingkan kemampuan kita secara perorangan terhadap kondisi yang sudah terlanjur berantakan sedemikian rupa, sehingga rasanya tidak ada lagi yang bisa kita lakukan untuk memperbaikinya. Doa orang benar dikatakan sangat besar kuasanya (Yakobus 5:16b), sehingga doa-doa syafaat yang dipanjatkan oleh umat Tuhan yang benar akan membawa dampak yang besar bagi terjadinya pemulihan sebuah bangsa. Dalam 2 Tawarikh 7:14 Tuhan sudah mengingatkan: "dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka." Karena itulah Paulus pun mengingatkan akan pentingnya doa syafaat dari para orang percaya dalam 1 Timotius 2:1-2. Kita juga bisa belajar dari kehancuran Sodom yang terjadi karena pada masa itu semua orang sudah begitu jahat sehingga bahkan 10 orang benar pun tidak ada lagi di dalam kota itu. (Bacalah Kejadian 18). Kita sudah melihat dalam renungan terdahulu bagaimana Daniel berdoa bagi bangsanya dengan melibatkan dirinya yang sebenarnya tidak ikut-ikutan hidup buruk sebagai bagian terintegrasi dari bangsanya sendiri. Ini adalah sebuah contoh yang sangat baik tentang bagaimana seharusnya sikap umat Tuhan dalam menyikapi kehancuran bangsanya. Hari ini mari kita lihat contoh lain di masa Mikha yang ada di dalam Alkitab.

Mikha ini adalah seorang nabi dari desa terpencil yang masa pelayanannya berada dalam rentang masa pemerintahan raja Yotam, Ahaz dan Hizkia. Segala kerusakan yang terjadi di negeri kita saat ini sudah pula terjadi pada masa tersebut. Secara rinci Alkitab mencatat segala keburukan atau kejahatan yang ada saat itu. Mari kita lihat apa saja yang terjadi pada masa itu dalam Mikha pasal 7.
- Kelaparan, gagal panen (ay 1),
- kemerosotan moral, hilangnya orang saleh dan jujur, saling jebak, saling tipu, bahkan saling menghancurkan (ay 2)
- sudah begitu terbiasa berbuat jahat, pejabat dan hakim korupsi dan menerima suap, pemimpin memaksakan kemauannya, hukum diputar balikkan (ay 3)
- orang yang terbaik sekalipun di dunia diibaratkan bagai semak duri yang tidak berguna dan menusuk (ay 4)
- tidak ada lagi yang bisa dipercaya (ay 5)
- kehancuran rumah tangga, permusuhan antara anggota keluarga (ay 6).

Bukankah ini yang menjadi problema bangsa kita hari-hari ini? Begitu parahnya, bahkan Mikha menggambarkan semua itu sebagai sebuah luka yang tidak dapat sembuh dan menular (Mikha 1:9).

Apakah Mikha berpangku tangan dan hanya mengeluh melihat situasi gonjang ganjing yang tengah dialami bangsanya? Sama sekali tidak. Ayat bacaan kita hari ini menggambarkan reaksinya untuk menyerahkan sepenuhnya pada Tuhan sekaligus peran aktifnya sebagai umat Tuhan. "Tetapi aku ini akan menunggu-nunggu TUHAN, akan mengharapkan Allah yang menyelamatkan aku; Allahku akan mendengarkan aku!" (Mikha 7:7). Mikha percaya dengan imannya bahwa seberapa hancur moral bangsanya, ia tidak akan pernah kecewa dalam menanti pemulihan yang berasal dari Tuhan. Mikha tahu bahwa Tuhan sanggup memulihkan bangsa yang sudah terlanjur jatuh sedemikian jauh dalam kesesatan, dan ia pun tahu bahwa Tuhan akan mendengarkannya, mendengarkan doa-doa yang ia panjatkan. "Allahku akan mendengarkan aku!" katanya. Itu tepat seperti apa kata Tuhan langsung dalam 2 Tawarikh 7:14 diatas. Mikha, nabi yang hidup benar pada jamannya dan selalu tekun dalam berdoa mencari wajahNya, mau merendahkan diri dengan tidak merasa diri paling benar, maka Tuhan berjanji untuk mendengarkan doa-doanya. Jika Tuhan mendengar doa Mikha, Daniel atau umat-umatNya yang benar lainnya, hari ini Tuhan pun mendengar doa kita, umat-umatNya yang memilih untuk hidup benar. Jika Tuhan mampu menyelamatkan anak-anakNya di masa lalu, jika kita sudah berkali-kali melihat bahwa Tuhan mampu melakukan mukjizat lewat cara-cara yang ajaib, jika dulu Dia sanggup, sekarang pun Tuhan pun sanggup! Tuhan tidak pernah berubah, Dia selalu sama, dulu, sekarang sampai selamanya. (Ibrani 13:8)
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on April 29, 2013, 04:59:10 AM
Quote
Pemazmur juga tahu bahwa dalam kondisi seperti apapun tidak akan pernah sia-sia untuk mengandalkan Tuhan dalam keadaan terburuk sekalipun. "Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut;sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya. Kota Allah, kediaman Yang Mahatinggi, disukakan oleh aliran-aliran sebuah sungai. Allah ada di dalamnya, kota itu tidak akan goncang; Allah akan menolongnya menjelang pagi. Bangsa-bangsa ribut, kerajaan-kerajaan goncang, Ia memperdengarkan suara-Nya, dan bumipun hancur. TUHAN semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub." (Mazmur 46:2-8). Ini janji penyertaan Tuhan yang luar biasa, karenanya kita tidak perlu takut untuk hidup dalam masa suram dan penuh ketidakpastian dan kemerosotan moral serta kejahatan seperti saat ini. Tentu saja kita pun tidak boleh lupa bahwa sesungguhnya keadaan bangsa dan pemulihannya akan sangat tergantung dari seberapa besar kepedulian kita untuk mau mendoakan bangsa ini.

Mikha tetap menanti-nantikan Tuhan, percaya penuh pada kuasa Tuhan yang akan selalu siap memulihkan bangsanya. Mikha tahu bahwa apabila ia hidup kudus dan benar, Tuhan akan mendengar doanya. Yesus sendiri berkata: "Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!" (Markus 9:23). Jadi jangan takut, jangan pula bersikap pesimis, apatis dan hanya menyesali, berpangku tangan tanpa mau berbuat apa-apa. Ini saatnya kita melakukan peran nyata lewat doa-doa kita agar bangsa yang kita cintai ini bisa dipulihkan dan kembali memasuki era yang gemilang. Secara logika manusia itu akan tampak sulit, tapi percayalah bahwa tidak ada satu hal yang mustahilpun bagi Tuhan. Dia selalu siap mendengar doa anak-anakNya yang taat kepadaNya, Dia akan selalu mendengar seruan anak-anakNya yang prihatin terhadap nasib bangsa.

Doa orang benar itu sangatlah besar kuasanya, dan Tuhan akan selalu mendengarnya
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on April 30, 2013, 05:23:34 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_04_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/peran-aktif-bagi-bangsa.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/peran-aktif-bagi-bangsa.html[/url])

 Peran Aktif Bagi Bangsa

Ayat bacaan: Yeremia 29:7
=================
"Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu."

Saya masih ingin melanjutkan peran dari umat Tuhan, orang-orang percaya terhadap kemakmuran kota, bangsa dan negara. Benar, negara ini masih jauh dari kestabilan apalagi kemakmuran. Hampir di setiap lini kita melihat orang tidak malu-malu melakukan korupsi, seakan-akan itu merupakan hal yang wajib dilakukan ketika mendapat kesempatan dengan memangku sebuah jabatan. Kondisi carut marut berlanjut dengan kondisi keamanan yang tidak kondusif di berbagai tempat. Orang-orang bersikap anarkis bisa melenggang bebas dengan mengatasnamakan agama dan pemerintah sepertinya membiarkan saja hal seperti itu terjadi. Lantas apa yang bisa kita buat untuk memperbaiki itu semua? Secara individual mungkin sulit atau bahkan mustahil, tetapi seperti yang sudah saya sampaikan dalam beberapa renungan terdahulu, kita bisa menjadi pendoa-pendoa syafaat bagi bangsa. Itu peran kita yang sangat vital sebagai anak-anakNya. Tapi perhatikan, itu bukan satu-satunya cara bagi kita untuk berperan aktif secara nyata demi kesejahteraan bangsa. Ayat bacaan hari ini menyatakan hal tersebut dengan jelas.

Ayatnya berbunyi: "Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu." (Yeremia 29:7). Ada beberapa hal yang bisa kita cermati dari ayat ini. Mari kita lihat urutannya. Kata "dan" disana menunjukkan adanya dua aktivitas berbeda namun saling berhubungan. Usahakanlah kesejahteraan kota, itu ditempatkan di depan. Artinya terlepas dari panggilan kita sebagai anak Tuhan untuk terus memanjatkan doa syafaat atas kota, bangsa dan negara kita, termasuk para pemimpin di dalamnya, adalah sangat penting pula bagi kita untuk melakukan sesuatu secara nyata demi kesejahteraan kota dimana kita tinggal. Sangat disayangkan melihat tidak banyak gereja yang mau keluar dari balik dinding-dindingnya untuk menjangkau kehidupan di luar tembok gereja dengan melakukan sesuatu secara nyata. Mendoakan tentu jauh lebih mudah untuk dilakukan karena tidak perlu repot-repot mengeluarkan tenaga dan biaya, dan bukankah itu alkitabiah? Benar, tetapi Firman Tuhan dalam Yeremia 29:7 mengajak kita untuk kembali menyadari apa yang sebenarnya diinginkan Tuhan untuk kita lakukan. Seberapa jauh gereja hari ini mau berfungsi nyata dalam kehidupan disekitarnya demi mengusahakan kesejahteraan kota seperti panggilan Tuhan itu? Mendoakan itu tentu sangat penting. Doa punya kuasa yang luar biasa, apalagi jika dilakukan oleh orang benar. (Yakobus 5:16b). Tapi sebuah tindakan nyata yang aktif juga merupakan sesuatu yang sangat penting untuk kita pikirkan dan lakukan, begitu pentingnya bahkan kata "usahakan" itu diletakkan di depan.

Kata "mengusahakan" menurut kamus bahasa Indonesia mencakup 4 hal, yaitu:
- mengerjakan sesuatu
- mengikhtiarkan (berpikir dalam-dalam untuk mencari solusi)
- berusaha sekeras-kerasnya dalam melakukan sesuatu
- membuat dan menciptakan sesuatu

Keempat poin diatas menunjukkan bahwa itu bukanlah sebuah hal yang sepele. Jika Tuhan meminta kita untuk mengusahakan kesejahteraan kota dimana kita ditempatkan, itu artinya keempat hal di atas haruslah menjadi bagian dari fokus kita dalam bekerja. Bukan sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup kita dan keluarga, tetapi berbuat sesuatu sebagai bagian dari kontribusi dan peran serta kita secara aktif untuk pembangunan kesejahteraan di manapun kita ditempatkan.

Kita tidak akan pernah bisa tergerak untuk melakukan peran aktif demi kesejahteraan kota apabila kita tidak mengasihi kota dimana kita tinggal. Mungkinkah kita habis-habisan melakukan yang terbaik jika kita tidak mencintai seseorang? Tentu tidak, bukan?  Sama halnya seperti kota dan bangsa secara keseluruhan. Kita akan memiliki kerinduan untuk mengusahakan sesuatu sesuai dengan kemampuan dan talenta yang kita miliki demi kesejahteraan kota kita hanya apabila kita mengasihi kota, bangsa dan negara kita, termasuk orang-orang yang hidup di dalamnya.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on April 30, 2013, 05:24:14 AM
Quote
Selanjutnya Alkitab juga mengatakan: "Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya." (Efesus 2:10). Perhatikan bahwa segala yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan baik sudah dipersiapkan Allah lewat Kristus. Ini termasuk dalam mengusahakan kesejahteraan dan keselamatan bangsa. Dan Tuhan mengatakan bahwa Dia mau kita hidup di dalamnya. Kesejahteraan bangsa akan sangat menentukan seberapa jauh kesejahteraan kita. Dalam skala kecilnya, kita perlu memikirkan peran serta kita secara nyata di kota dimana kita berada saat ini. Bukan kebetulan bahwa anda dan saya berada di kota kita masing-masing saat ini. Mungkin banyak diantara teman-teman yang seperti saya, merupakan pendatang di kota tempat kita tinggal sekarang. Jika pendatangpun memiliki tugas untuk kesejahteraan kotanya, apalagi jika anda merupakan penduduk asli disana. Dan buat gereja, sudah saatnya bagi anda untuk bergerak keluar dari tembok-tembok pembatas dan mulai melakukan karya nyatanya demi kemajuan dan kesejahteraan kota dimana kita berada saat ini.

Apa yang bisa kita lakukan saat ini untuk mengusahakan kesejahteraan kota kita sangatlah banyak. Menanam pohon untuk penghijauan?, mengurus anak jalanan, membantu orang-orang yang mengalami kesulitan, memberikan ide-ide atau solusi mengatasi problema sosial yang bertumpuk, atau bahkan sekedar berpartisipasi dalam kebersihan lingkungan, ikut ronda malam dan sebagainya, itu merupakan contoh dari bentuk peran serta secara aktif yang bisa dilakukan oleh kita semua. Percayalah bahwa apapun yang anda lakukan atau usahakan atas dasar kerinduan anda untuk mensejahterakan kota tidak akan pernah berakhir sia-sia, meski hal itu mungkin sangatlah kecil menurut penilaian anda pribadi. Bayangkanlah sebuah kota dimana keamanannya baik, orang hidup berdampingan secara damai, anda bisa bekerja dengan rasa tenang, bukankah itu indah? Dan siapa bilang kita tidak bisa memberi sumbangsih apapun untuk itu? Selain memanjatkan doa bagi bangsa, sebuah peran nyata akan memberikan kontribusi besar bagi kesejahteraan, kemakmuran dan keselamatan bangsa kita. Mari hari ini kita sama-sama memikirkan dengan serius apa yang bisa kita usahakan untuk kota kita dan apa yang akan menjadi tindakan kita untuk mewujudkannya secara nyata.

Usahakanlah kesejahteraan kota dimana kita berada, karena kesejahteraan kita tergantung darinya
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 01, 2013, 05:28:05 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_04_01_archive.html[/url]
renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/peran-aktif-bagi-bangsa-2.html

 Peran Aktif bagi Bangsa (2)

Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 17:16-17
=============================
"Sementara Paulus menantikan mereka di Atena, sangat sedih hatinya karena ia melihat, bahwa kota itu penuh dengan patung-patung berhala. "Karena itu di rumah ibadat ia bertukar pikiran dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang yang takut akan Allah, dan di pasar setiap hari dengan orang-orang yang dijumpainya di situ."

Ada sebuah penggalan dari pidato John F Kennedy disaat ia diangkat menjadi Presiden Amerika Serikat ke 35 pada tahun 1961 yang sangat historis, yaitu: "Ask not what your country can do for you - ask what you can do for your country." Tidak banyak yang mengetahui bahwa quote yang sangat terkenal ini sesungguhnya dikutip dari tulisan Khalil Gibran. Kalimat ini penting untuk diperhatikan karena faktanya sebagian besar penduduk suatu negara hanya menuntut haknya tanpa memperhatikan kewajiban mereka sebagai warga negara. Kita mengeluh melihat banyaknya pengemis, gelandangan, pengamen, kita memprotes tingginya tingkat kejahatan, kesemrawutan jalan raya, kondisi jalan yang buruk dan lain-lain tetapi tidak mau berbuat sesuatu untuk itu. Apa yang bisa kita buat? Apa kita semua harus menjadi polisi atau harus terlebih dahulu diberi kekuasaan mutlak atas negara ini baru kita mau berbuat sesuatu? Tidak, bukan begitu seharusnya. Hal sekecil apapun yang kita lakukan sesuai panggilan kita dengan sungguh-sungguh atas dasar kasih bisa dipakai Tuhan untuk berbuah secara luar biasa.

Kemarin kita sudah meilhat panggilan penting bagi setiap orang percaya untuk turut berperan aktif secara nyata dalam mensejahterakan kota dimana kita tinggal. Ayatnya berbunyi: "Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu." (Yeremia 29:7). Secara spesifik dan jelas ayat ini menyerukan pentingnya untuk memberi kontribusi nyata dan berdoa demi kesejahteraan kota. Mengapa? Karena jelas, kesejahteraan kita sesungguhnya tergantung dari kesejahteraan kota tempat tinggal kita. Ada banyak orang yang sebenarnya tahu akan hal ini, tetapi tidak tahu apa yang bisa mereka lakukan untuk itu. Mereka mengira bahwa untuk mengubah nasib sebuah bangsa mereka harus melakukan hal-hal yang besar saja. Padahal itu tidaklah benar. Setiap orang pada dasarnya memiliki panggilannya sendiri-sendiri. Apapun panggilan kita, dimanapun kita bekerja dan tinggal, kita bisa berbuat sesuatu, berkontribusi secara aktif dan nyata demi kesejahteraan bangsa kita. Itu seringkali dimulai dari hal-hal kecil dahulu, yang nantinya akan terus meningkat apabila kita melakukannya dengan sungguh-sungguh. Itu sedikit banyak akan berdampak bagi kesejahteraan kota, bangsa dan negara.

Sebuah kepedulian terhadap bangsa biasanya akan membuat orang merasa gelisah dan ingin berbuat sesuatu untuk memperbaikinya. Sebuah contoh kegelisahan akan panggilan demi kesejahteraan kota bisa kita lihat dari sosok Paulus. Ketika ia sampai di Yunani tepatnya di kota Athena, ia merasa sedih melihat banyaknya patung-patung berhala yang berdiri di sana. "Sementara Paulus menantikan mereka di Atena, sangat sedih hatinya karena ia melihat, bahwa kota itu penuh dengan patung-patung berhala." (Kisah Para Rasul 17:16). Paulus pergi berkeliling dari satu tempat ke tempat lain sebenarnya untuk mewartakan berita keselamatan. Tetapi lihatlah bahwa ia tidak hanya berpuas diri akan hal itu saja, meski apa yang ia lakukan sesungguhnya sudah sangat luar biasa. Mari kita perhatikan apa yang kemudian ia lakukan. "Karena itu di rumah ibadat ia bertukar pikiran dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang yang takut akan Allah, dan di pasar setiap hari dengan orang-orang yang dijumpainya di situ." (ay 17). Paulus tidak berdiam diri. Ia gelisah untuk melakukan sesuatu demi kesejahteraan kota Atena yang disinggahinya. Ia tidak tinggal disana untuk selamanya, tetapi tetap saja ia peduli akan kesejahteraan dan keselamatan kota itu. Ini adalah sebuah contoh yang sangat baik untuk melihat apa yang bisa kita lakukan sesuai kapasitas kita demi kota dimana kita berada saat ini. Paulus tidak meminta dirinya terlebih dahulu untuk menjadi gubernur atau raja disana. Sebagai seorang Paulus yang hanya pendatang pun ia tahu bahwa ia harus peduli, dan ia berbuat sesuai dengan batas kemampuannya.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 01, 2013, 05:28:48 AM
Quote
Pada dasarnya setiap kita didesain dengan cara yang berbeda oleh Tuhan. Kita masing-masing diberi talenta dan panggilan masing-masing, dan semua itu akan sangat bermanfaat bagi kesejahteraan kota. Ambil contoh kecil saja, Tuhan menciptakan binatang sesuai kemampuan dan fungsinya masing-masing. Kuda diciptakan untuk berlari sedang ikan untuk berenang. Burung diciptakan untuk terbang sedang cicak untuk merayap. Agar bisa berlari kencang kuda diberi kaki-kaki yang kuat dan kokoh. Ikan diberi insang dan sirip agar bisa berenang di dalam air, burung memiliki sayap dan cicak memiliki telapak kaki yang bisa merekat di dinding. Masing-masing diciptakan sesuai fungsi dan kegunaannya masing-masing. Dan manusia pun seperti itu. Paulus mengatakan "Tetapi kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus." (Efesus 4:7) Ayat ini mengatakan dengan jelas bahwa siapapun kita telah diberikan talenta-talenta tersendiri menurut ukuran pemberian Kristus yang semuanya bisa dipakai sebagai karya nyata dalam memenuhi panggilan kita. Masing-masing kita diberi fungsi dan karunia masing-masing, dan kebersatuan kita dalam membangun bangsa ini akan menyatakan kemuliaan Tuhan. "Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, --yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota--menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih." (ay 16).

Sebagai manusia kita semua telah dilengkapi Tuhan secara khusus dengan berbagai talenta, bakat dan kemampuan tersendiri yang tentunya bisa kita pakai dalam kehidupan kita, untuk memberkati sesama dan memuliakan Tuhan. Dalam Amsal dikatakan: "Dengan hikmat rumah didirikan, dengan kepandaian itu ditegakkan, dan dengan pengertian kamar-kamar diisi dengan bermacam-macam harta benda yang berharga dan menarik." (Amsal 24:3-4). Rumah disini bukan berbicara hanya mengenai masalah rumah biasa yang didirikan dari batu, pasir, kayu, rangka besi, dan berbagai bahan bangunan lainnya tapi berbicara akan sesuatu yang lebih luas, yaitu sebuah kehidupan. Sebuah kehidupan yang baik haruslah didirikan atas hikmat, ditegakkan dengan kepandaian, dan kehidupan itu selanjutnya diisi dengan berbagai hal berharga. Tidak hanya atas satu hal saja, melainkan berbagai hal berharga, berharga buat hidup kita sendiri, berharga buat sesama, berharga buat bangsa dan negara, dan tentunya berharga di mata Tuhan. Inilah sebuah pelajaran penting dari penulis Amsal akan betapa berharganya sebuah kehidupan.

Apapun pekerjaan kita, semua itu bisa dipakai secara nyata untuk kesejahteraan bangsa. Kita memiliki panggilan dan tugas sendiri-sendiri yang akan sangat bermanfaat untuk itu. Tidak peduli sekecil apapun, dimanapun atau apapun pekerjaan yang sedang ditekuni saat ini. Dengan panggilan yang sudah diberikan Tuhan, dimana kita ditempatkan hari ini, dan dengan talenta-talenta yang sudah Dia sediakan, kita bisa berkarya secara nyata untuk melakukan sesuatu demi kesejahteraan bangsa, dan dengan demikian menegakkan KerajaanNya di muka bumi ini. Anda merasa "cuma" pegaawai kantoran? Anda tetap bisa menjadi role model sebagai sosok yang baik dan cakap dalam bekerja. Tidak korupsi, berlaku sopan dan ramah, disiplin waktu dan menghargai atau mengasihi teman sekerja Itupun sudah merupakan sesuatu yang baik untuk dilakukan. Anda bergelut di dunia hiburan? Anda bisa membawa terang disana dan menunjukkan bahwa dunia hiburan tidak harus selalu negatif. Panggilan anda dalam dunia politik, pendidikan atau kesehatan? Sama, anda bisa berperan banyak disana. Let God use us to transform our city and community, and that will surely give some impacts to our beloved nations.

Kepada kita sudah diberikan panggilan dan talenta masing-masing yang akan sangat bermanfaat untuk kesejahteraan kota, bangsa dan negara kita
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 02, 2013, 04:52:53 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_04_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/keseimbangan-antara-bekerja-dan-berdoa.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/keseimbangan-antara-bekerja-dan-berdoa.html[/url])

 Keseimbangan antara Bekerja dan Berdoa

Ayat bacaan: Yoel 2:17
===================
"baiklah para imam, pelayan-pelayan TUHAN, menangis di antara balai depan dan mezbah, dan berkata: "Sayangilah, ya TUHAN, umat-Mu, dan janganlah biarkan milik-Mu sendiri menjadi cela, sehingga bangsa-bangsa menyindir kepada mereka. Mengapa orang berkata di antara bangsa: Di mana Allah mereka?"

Bisakah anda mengendarai sepeda atau sepeda motor sebelum melatih keseimbangan? Bisa dijamin anda akan terjatuh jika tidak tahu bagaimana agar bisa berada seimbang diatasnya. Bagi pemain sirkus terutama para pemain trapeze atau orang yang memegang galah panjang dalam meniti seutas tali jelas keseimbangan merupakan hal yang mutlak pula untuk mereka miliki. Dalam bingkai yang lebih besar, sebuah keseimbangan dalam banyak hal sangat menentukan keberhasilan seseorang dalam hidupnya. Itu tentu termasuk keseimbangan antara bekerja dan berdoa. Dalam bahasa Latin ada semboyan yang bunyinya Ora et Labora, yaitu "berdoa dan bekerja". Bayangkan jika anda hanya berdoa saja tanpa melakukan apa-apa. Ada banyak orang Kristen yang menerjemahkan berkat-berkat yang turun dari Tuhan itu secara sepihak. Mereka kerap mengharapkan berkat turun dicurahkan dari langit lewat serangkaian mukjizat spektakuler setiap saat, dan tidak melakukan apapun untuk mendapatkan berkat itu, selain berdoa siang dan malam. Atau sebaliknya hanya bekerja terus dari pagi sampai larut malam tanpa memperhatikan keadaan rohani anda. Itu tentu tidak baik. Hanya fokus dalam bekerja atau meniti karir tanpa menjaga sisi rohani akan mengarahkan orang ke dalam keangkuhan, cinta harta, popularitas dan berbagai hal buruk lainnya. Sebuah keseimbangan antara bekerja dan berdoa jelas merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan.

Kita tidak bisa melakukan satu hal saja dan melupakan yang lain. Tuhan memang bisa menurunkan berkatNya dalam keadaan apapun. Benar bahwa Yesus berkata "Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya." (Matius 21:22). Kuasa doa memang besarnya bisa sangat luar biasa. Tetapi ingat pula bahwa Tuhan tidak menginginkan anak-anakNya menjadi orang-orang yang malas dan manja, hanya meminta dan terus meminta tanpa mau melakukan apa-apa. Tuhan sudah berulang kali menyatakan ketidaksukaanNya terhadap orang yang malas. Lihatlah bagaimana kerasnya Tuhan menghadapi orang yang malas dalam "perumpamaan tentang talenta" yang tertulis di Matius 25:14-30. Itu bahkan begitu keras, sehingga Alkitab berkata "Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi." (ay 30).

Lihat pula teguran-teguran yang datang kepada orang malas dalam Amsal 6. Salah satunya berkata: "Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak." (ay 6). Semut adalah serangga yang lemah dan berukuran jauh lebih kecil dibanding manusia, tetapi baiklah jika orang malas belajar dari etos kerja semut. Itu adalah teguran yang sebenarnya cukup keras. Orang malas itu tidak bijak. Dan teguran dari Paulus juga menggambarkan hal yang keras pula. "jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan." (2 Tesalonika 3:10). Rajin berdoa memang baik, dan itu sudah menjadi kewajiban kita. Tetapi jangan lupa pula bahwa kita harus bekerja dengan sungguh-sungguh, bahkan dikatakan seperti melakukannya untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. (Kolose 3:23).
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 02, 2013, 04:53:35 AM
Quote
Sangatlah menarik jika kita melihat sebuah ayat dalam Yoel yang menyiratkan mengenai keseimbangan ini ketika Yoel memberikan seruan untuk bertobat. Mari kita lihat ayatnya. "Baiklah para imam, pelayan-pelayan TUHAN, menangis di antara balai depan dan mezbah, dan berkata: "Sayangilah, ya TUHAN, umat-Mu, dan janganlah biarkan milik-Mu sendiri menjadi cela, sehingga bangsa-bangsa menyindir kepada mereka. Mengapa orang berkata di antara bangsa: Di mana Allah mereka?" (Yoel 2:17). Perhatikan, mengapa para imam dan hamba Tuhan harus menangis di antara balai depan dan mezbah? Tuhan secara spesifik mewahyukan hal ini. Dari ayat tersebut kita bisa melihat perlunya keseimbangan antara mezbah dan balai depan. Bukan hanya di mezbah, dan bukan hanya di balai depan, tapi ditengah-tengah, yang artinya mencakup keduanya secara rata. Bukan hanya berdoa, dan bukan juga hanya bekerja saja. Keduanya haruslah dilakukan secara seimbang. Dari ayat ini kita bisa menangkap sebuah pesan penting, bahwa apapun yang kita lakukan perlu disertai dengan doa. Dan doa-doa juga harus disertai dengan perbuatan nyata. Keduanya harus berjalan beriringan, bersama-sama. Benar bahwa Tuhan mengharuskan kita bekerja, dan Tuhan memberkati pekerjaan kita. Tapi bagaimana Tuhan mau memberkati pekerjaan kita jika kita tidak melibatkanNya dalam pekerjaan kita? Atau lebih luas lagi, bagaimana Tuhan mau memberkati hidup kita jika kita tidak melibatkanNya dalam kehidupan kita? Oleh sebab itu seruan pertobatan yang disampaikan Yoel menyiratkan bahwa antara berdoa dan bekerja, ora et labora, keduanya haruslah dilakukan secara seimbang, beriringan dan berkesinambungan.

Menyambung bahasan dalam beberapa renungan terdahulu, dalam berkontribusi untuk kesejahteraan dan keselamatan bangsa, kita pun juga harus melakukan hal yang seimbang. Dalam Yeremia itu sudah disebutkan dengan jelas. "Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu." (Yeremia 29:7). "Usahakanlah kesejahteraan kota", itu berbicara mengenai peran serta secara aktif dengan melakukan sesuatu yang nyata. Lalu selanjutnya: "dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan.." itu menunjukkan bahwa peran para orang percaya lewat doa-doa pun merupakan hal yang penting pula untuk dilakukan. Lihatlah bahwa keduanya harus dilakukan serentak, bersamaan, dalam sebuah hubungan saling mengisi dan seimbang.

Dalam Efesus 6:18 kita bisa melihat sebuah ayat yang mengingatkan kita agar tidak melupakan atau meniadakan doa dalam langkah kita. Bukan hanya sekedar berdoa sekali-kali, tetapi disana kita diingatkan untuk berdoa setiap waktu. Dalam bahasa Inggrisnya dikatakan "Pray at all times (on every occasion, in every season) in the Spirit, with all [manner of] prayer and entreaty." Pray at all times, on every occasion, in every season. Berdoalah dalam setiap waktu, dalam hal apapun, dalam situasi apapun. Doakan apapun yang kita kerjakan agar Tuhan memberkati usaha kita secara penuh, pada saat yang sama lakukanlah pekerjaan dengan sebaik-baiknya. Keseimbangan seperti inilah yang akan mendatangkan keberhasilan dalam segala sesuatu yang kita lakukan.

Perlu bagi kita untuk melatih dan mendisplinkan diri agar bisa menyeimbangkan keduanya dan terbiasa untuk mengkombinasikan keduanya dalam hubungan yang harmonis. Itu jelas perlu proses dan butuh waktu. Bukan saja dalam pekerjaan atau profesi kita, tetapi pelayanan kita pun butuh terus didukung doa agar bisa berhasil dengan maksimal. Disanalah kita bisa melihat bagaimana luar biasanya hasil yang kita tuai lewat usaha kita yang terus didukung dalam doa. Begitu pula kontribusi kita dalam kesejahteraan, kemakmuran dan keselamatan kota dimana kita ditempatkan saat ini, dan tentu saja dalam skala yang lebih besar itu akan berdampak positif bagi bangsa kita. Jangan korbankan jam-jam doa karena kesibukan pekerjaan, jangan pula memakai waktu doa sebagai alasan untuk bermalas-malasan dan tidak bekerja. Keduanya harus dilakukan secara seimbang dan saling terkait satu dengan lainnya. Sudahkah anda melibatkan Tuhan dalam pekerjaan anda? Atau sudahkah anda berusaha serius seperti apa yang anda minta dalam doa anda?

Jadilah pengikut Kristus yang rajin bekerja dan tekun dalam doa
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 03, 2013, 05:00:27 AM
Quote
Sangatlah menarik jika kita melihat sebuah ayat dalam Yoel yang menyiratkan mengenai keseimbangan ini ketika Yoel memberikan seruan untuk bertobat. Mari kita lihat ayatnya. "Baiklah para imam, pelayan-pelayan TUHAN, menangis di antara balai depan dan mezbah, dan berkata: "Sayangilah, ya TUHAN, umat-Mu, dan janganlah biarkan milik-Mu sendiri menjadi cela, sehingga bangsa-bangsa menyindir kepada mereka. Mengapa orang berkata di antara bangsa: Di mana Allah mereka?" (Yoel 2:17). Perhatikan, mengapa para imam dan hamba Tuhan harus menangis di antara balai depan dan mezbah? Tuhan secara spesifik mewahyukan hal ini. Dari ayat tersebut kita bisa melihat perlunya keseimbangan antara mezbah dan balai depan. Bukan hanya di mezbah, dan bukan hanya di balai depan, tapi ditengah-tengah, yang artinya mencakup keduanya secara rata. Bukan hanya berdoa, dan bukan juga hanya bekerja saja. Keduanya haruslah dilakukan secara seimbang. Dari ayat ini kita bisa menangkap sebuah pesan penting, bahwa apapun yang kita lakukan perlu disertai dengan doa. Dan doa-doa juga harus disertai dengan perbuatan nyata. Keduanya harus berjalan beriringan, bersama-sama. Benar bahwa Tuhan mengharuskan kita bekerja, dan Tuhan memberkati pekerjaan kita. Tapi bagaimana Tuhan mau memberkati pekerjaan kita jika kita tidak melibatkanNya dalam pekerjaan kita? Atau lebih luas lagi, bagaimana Tuhan mau memberkati hidup kita jika kita tidak melibatkanNya dalam kehidupan kita? Oleh sebab itu seruan pertobatan yang disampaikan Yoel menyiratkan bahwa antara berdoa dan bekerja, ora et labora, keduanya haruslah dilakukan secara seimbang, beriringan dan berkesinambungan.

Menyambung bahasan dalam beberapa renungan terdahulu, dalam berkontribusi untuk kesejahteraan dan keselamatan bangsa, kita pun juga harus melakukan hal yang seimbang. Dalam Yeremia itu sudah disebutkan dengan jelas. "Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu." (Yeremia 29:7). "Usahakanlah kesejahteraan kota", itu berbicara mengenai peran serta secara aktif dengan melakukan sesuatu yang nyata. Lalu selanjutnya: "dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan.." itu menunjukkan bahwa peran para orang percaya lewat doa-doa pun merupakan hal yang penting pula untuk dilakukan. Lihatlah bahwa keduanya harus dilakukan serentak, bersamaan, dalam sebuah hubungan saling mengisi dan seimbang.

Dalam Efesus 6:18 kita bisa melihat sebuah ayat yang mengingatkan kita agar tidak melupakan atau meniadakan doa dalam langkah kita. Bukan hanya sekedar berdoa sekali-kali, tetapi disana kita diingatkan untuk berdoa setiap waktu. Dalam bahasa Inggrisnya dikatakan "Pray at all times (on every occasion, in every season) in the Spirit, with all [manner of] prayer and entreaty." Pray at all times, on every occasion, in every season. Berdoalah dalam setiap waktu, dalam hal apapun, dalam situasi apapun. Doakan apapun yang kita kerjakan agar Tuhan memberkati usaha kita secara penuh, pada saat yang sama lakukanlah pekerjaan dengan sebaik-baiknya. Keseimbangan seperti inilah yang akan mendatangkan keberhasilan dalam segala sesuatu yang kita lakukan.

Perlu bagi kita untuk melatih dan mendisplinkan diri agar bisa menyeimbangkan keduanya dan terbiasa untuk mengkombinasikan keduanya dalam hubungan yang harmonis. Itu jelas perlu proses dan butuh waktu. Bukan saja dalam pekerjaan atau profesi kita, tetapi pelayanan kita pun butuh terus didukung doa agar bisa berhasil dengan maksimal. Disanalah kita bisa melihat bagaimana luar biasanya hasil yang kita tuai lewat usaha kita yang terus didukung dalam doa. Begitu pula kontribusi kita dalam kesejahteraan, kemakmuran dan keselamatan kota dimana kita ditempatkan saat ini, dan tentu saja dalam skala yang lebih besar itu akan berdampak positif bagi bangsa kita. Jangan korbankan jam-jam doa karena kesibukan pekerjaan, jangan pula memakai waktu doa sebagai alasan untuk bermalas-malasan dan tidak bekerja. Keduanya harus dilakukan secara seimbang dan saling terkait satu dengan lainnya. Sudahkah anda melibatkan Tuhan dalam pekerjaan anda? Atau sudahkah anda berusaha serius seperti apa yang anda minta dalam doa anda?

Jadilah pengikut Kristus yang rajin bekerja dan tekun dalam doa
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 04, 2013, 04:51:06 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_05_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/bekerja-dengan-hati-gembira.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/bekerja-dengan-hati-gembira.html[/url])

 Bekerja dengan Hati Gembira

Ayat bacaan: Pengkhotbah 3:22
=======================
"Aku melihat bahwa tidak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada bergembira dalam pekerjaannya, sebab itu adalah bahagiannya. Karena siapa akan memperlihatkan kepadanya apa yang akan terjadi sesudah dia?"

Apa yang membuat kita bisa bekerja dengan hasil maksimal, bisa memuliakan Tuhan di dalamnya? Saya bertemu dengan begitu banyak orang yang melakukan pekerjaan hanya karena mereka butuh mencukupi kebutuhan diri dan keluarganya. Malah beberapa orang mengaku terpaksa demi menyambung hidup. "Bagaimana lagi? Cari kerja itu susah.. kami sekeluarga perlu makan, kebutuhan rumah tangga harus dipenuhi, anak-anak harus dibiayai bersekolah. Suka atau tidak, saya terpaksa harus bekerja disana." kata seorang teman suatu hari. Jika keterpaksaan yang menjadi landasan dalam bekerja, tentu sulit bagi kita untuk mengharapkan top performance didalamnya. Bagaimana mau berbuat yang terbaik jika terpaksa? Bergaul di dunia art dan design, saya pun bisa melihat langsung bagaimana hasil yang dilakukan ketika dikerjakan sepenuh hati dan dinikmati dengan yang dipaksakan atau dikejar waktu akan sangat berbeda. Begitu juga dengan di dunia musik yang tidak asing pula bagi saya. Para artis yang melakukan dengan kecintaan penuh dan karena hanya ingin memperoleh uang semata akan membawa hasil yang terasa sangat berbeda. Hari-hari ini saya bahkan semakin sering menjumpai orang yang sulit mensyukuri pekerjaannya. Lantas apa yang harus dilakukan agar bisa membawa hasil yang terbaik? Alkitab mengingatkan kita untuk mencintai pekerjaan, yang artinya bergembira dalam pekerjaannya, melakukan bagian masing-masing dengan hati yang gembira.

Pengkotbah sudah menyatakan hal seperti ini yang berasal lewat perenungan, pengalaman dan kesaksiannya sendiri. "Aku melihat bahwa tidak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada bergembira dalam pekerjaannya, sebab itu adalah bahagiannya. Karena siapa akan memperlihatkan kepadanya apa yang akan terjadi sesudah dia?" (Pengkotbah 3:22). Mencintai profesi atau tidak, Pengkotbah menyimpulkan bahwa tidak ada yang lebih baik daripada bergembira dalam pekerjaannya. Mengapa? Karena itu adalah bagian atau panggilan kita masing-masing. Jika kita tidak berbahagia dengan pekerjaan, jika terpaksa atau melakukannya dengan hati yang berat, apa yang bisa kita dapatkan? Berkeluh kesah sepanjang hari? Mengasihani diri berlebihan, emosi, terus merasa tidak puas dan kehilangan damai sejahtera, adakah itu membawa manfaat atau malah membuat etos kerja kita menurun, mengganggu orang lain bahkan mendatangkan penyakit bagi diri kita sendiri? Apakah baik apabila kita sulit bersyukur dan hanya bersungut-sungut tidak pernah merasa puas? Akankah itu baik bagi diri kita, keluarga kita, atau bahkan bagi Tuhan?
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 04, 2013, 04:51:30 AM
Quote
Satu hal yang perlu kita ingat, soal bahagia atau tidak bukanlah tergantung dari kondisi atau situasi yang kita hadapi, melainkan tergantung dari seberapa jauh kita mengijinkan Tuhan untuk ambil bagian dalam hidup kita. Kebahagiaan atau kegembiraan berasal dari Tuhan dan bukan dari keadaan. "Ya, karena Dia hati kita bersukacita, sebab kepada nama-Nya yang kudus kita percaya." (Mazmur 33:21). Selanjutnya Amsal mengatakan bahwa "Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat." (Amsal 15:13). Atau lihatlah ayat lain: "Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang." (Amsal 17:22). Bekerja dengan hati yang lapang, hati yang gembira, itu adalah obat yang manjur dan menjaga kita agar tetap memiliki semangat untuk melakukan yang terbaik. Dan rasa syukur kita dalam menikmati anugerah Tuhan akan membuat itu bisa terjadi. Apakah kita menikmati pekerjaan dengan penuh rasa syukur sebagai sebuah berkat dari Tuhan atau kita terus merasa kurang puas, itu tergantung kita. Tuhan sanggup membuat pekerjaan sekecil apapun menjadi seindah atau seberharga emas. Saya tidak berbicara mengenai kekayaan materi saja karena itu sangatlah sempit, tetapi mengenai hasil atau pencapaian yang bisa kita peroleh lewat hati yang gembira dalam bekerja. Itulah yang akan membuat kita mampu menghasilkan karya-karya yang 'monumental'.

Mungkin ada saat ini di antara kita yang mulai merasa jenuh dengan pekerjaan anda, mungkin ada yang merasa bahwa pekerjaan saat ini tidak cukup baik, hanya terpaksa untuk mencari nafkah semata, namun saya ingin mengingatkan bahwa Tuhan tidak akan pernah kekurangan cara untuk memberkati kita. Yang dituntut dari kita adalah bekerja sungguh-sungguh dengan segenap hati seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (Kolose 3:23). Itu akan sangat sulit untuk dilakukan apabila kita tidak memiliki hati yang gembira dalam melakukannya. Tinggi rendah pendapatan bukanlah alasan untuk bergembira atau tidak. Saya bertemu dengan orang-orang yang dalam pandangan dunia dianggap melakukan pekerjaan kasar atau bahkan rendah, tapi mereka tetap bisa bersukacita dalam melakukannya dan itu mendatangkan hasil yang baik. Akibatnya merekapun terus meningkat dalam pekerjannya. Sebaliknya, tidak jarang kita melihat keluarga yang hancur, hidup orang yang jauh dari bahagia, padahal mereka memiliki kekayaan yang besar. Jika demikian, mengapa kita tidak mencoba memberikan setitik cinta pada pekerjaan kita, apapun itu, mengucap syukur atas pekerjaan itu kepada Tuhan, memberikan yang terbaik dari kita, dan melihat bagaimana luar biasanya Tuhan bisa memberkati kita lewat apapun yang kita kerjakan? Mari belajar untuk  bersyukur dan menikmati pekerjaan kita bersama Tuhan dengan hati yang gembira. Be happy and thankful with everything you do today!

Syukuri pekerjaan yang diberikan Tuhan, muliakan Dia didalamnya
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 04, 2013, 04:52:25 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_05_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/rasa-cukup.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/rasa-cukup.html[/url])

 Rasa Cukup

Ayat bacaan: Ulangan 16:16
====================
"Beginilah perintah TUHAN: Pungutlah itu, tiap-tiap orang menurut keperluannya; masing-masing kamu boleh mengambil untuk seisi kemahnya, segomer seorang, menurut jumlah jiwa."

Seorang teman saya menceritakan pengalamannya ketika harus dinas di Jakarta untuk beberapa hari. "Saya tidak tahan melihat kehidupan hedonisme mereka. Mereka mengeluarkan beberapa juta rupiah hanya untuk bersenang-senang di klab malam dalam hitungan jam." katanya. Itu bukan hanya dianut oleh banyak orang berada di ibukota saja, tapi sudah menjadi gaya hidup bagi penduduk kota besar lainnya. Kata hedonisme yang ia katakan berasal dari bahasa Yunani yang merupakan pandangan atau ajaran  untuk mengejar kesenangan atau kenikmatan sebanyak mungkin, dan itu merupakan tujuan hidup manusia. Jika demikian, semakin lama semakin sulitlah manusia untuk bisa merasa cukup dengan apa yang mereka miliki saat ini. Dalam segala hal kita sepertinya terus diarahkan untuk menjadi masyarakat yang konsumtif. Kebutuhan tidak akan ada habisnya, terutama untuk hal-hal yang sebenarnya tidaklah esensial atau penting-penting benar, melainkan hanya untuk gengsi atau agar terlihat hebat di mata orang lain saja. Ada begitu banyak kebutuhan yang tiba-tiba dianggap sangat penting untuk dimiliki, tidak bisa tidak karena alasan tersebut. Selalu saja ada barang-barang atau gadget yang rasanya harus kita miliki atau kalau tidak maka kita pun malu dianggap ketinggalan jaman atau takut dianggap orang miskin. Orang cenderung merasa tidak puas dengan apa yang mereka miliki, selalu ingin lebih dan lebih lagi, sering iri melihat apa yang dimiliki oleh orang lain, bahkan tidak sedikit yang malah mencari kambing hitam dengan menuduh Tuhan pilih kasih atau tidak adil. Mudah bagi kita untuk menginginkan lebih banyak tetapi sulit bagi kita untuk merasa cukup dan bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini.

Tuhan tidak menginginkan kita memiliki pola pikir seperti itu. Tuhan ingin kita tahu berterimakasih dan bersyukur atas apa yang kita punya saat ini. Tuhan ingin kita memiliki rasa cukup atas apa yang ada pada kita hari ini, dan kemudian mengucap syukur atasnya. Tidak dipungkiri akan ada kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi kedepannya, tetapi itu bukan berarti kita harus terus-terusan merasa kurang, tidak puas lalu mengeluh atau bahkan mencari alternatif-alternatif agar kita bisa mendapatkan lebih dan lebih banyak lagi uang lewat banyak cara yang salah.

Perbandingan langsung antara cukup dan tamak bisa kita lihat lewat kisah bangsa Israel pada masa pengembaraan mereka dibawah pimpinan Musa menuju tanah ternjanji, Kanaan. Bangsa Israel saat itu terkenalsebagai bangsa keras kepala, tegar tengkuk yang selalu sulit untuk bersyukur atas berkat yang sudah turun atas mereka. Meskipun sudah berkali-kali mereka menyaksikan langsung penyertaan dan mukjizat Tuhan turun atas mereka, tetapi mereka tetap saja bersungut-sungut dan terus menuntut lebih dan lebih lagi. Mereka adalah bangsa yang cepat dalam mengekspresikan kegembiraan mereka ketika menerima mukjizat Tuhan, tapi secepat itu pula mereka berbalik mengeluh dan menyalahkan orang lain atau bahkan berani menunjukkan protes mereka kepada Tuhan. Hari ini bersukacita besok mereka sudah melupakan semua berkat itu dan kembali mengeluh tak habis-habisnya.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 04, 2013, 04:52:50 AM
Quote
Salah satu contoh mengenai hal ini bisa kita lihat dalam Keluaran 16:1-36. Pada bagian ini diceritakan ketika bangsa Israel berangkat dari Elim dan tiba di padang gurun Sin yang terjadi kira-kira setelah mereka menempuh satu setengah bulan perjalanan. Karena kelaparan dan mungkin bekal mereka habis, mulailah mereka mengeluh dan berkata "Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan." (ay 3). Tuhan yang mengasihi mereka lalu menjawab permintaan mereka dengan mengirimkan hujan roti dari langit. Tapi Tuhan memberikan pesan lewat Musa tentang bagaimana mereka seharusnya menyikapi pemberian itu. "Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Sesungguhnya Aku akan menurunkan dari langit hujan roti bagimu; maka bangsa itu akan keluar dan memungut tiap-tiap hari sebanyak yang perlu untuk sehari, supaya mereka Kucoba, apakah mereka hidup menurut hukum-Ku atau tidak." (ay 4). Lihatlah sebuah pesan penting yang ada dalam ayat ini. Meski Tuhan mengabulkan permintaan mereka, namun Tuhan berpesan agar mereka memungut secukupnya saja. Tapi memang dasarnya tamak, ternyata mereka masih juga merasa belum cukup. Tuhan pun kembali menurunkan burung puyuh sampai menutupi perkemahan mereka. (ay 13). Dan kembali Tuhan memberi pesan: "Pungutlah itu, tiap-tiap orang menurut keperluannya; masing-masing kamu boleh mengambil untuk seisi kemahnya, segomer seorang, menurut jumlah jiwa." (ay 16). Segomer itu ukurannya kira-kira dua liter. Segomer seorang, itu sebenarnya sudah lebih dari cukup. Dari kisah ini kita bisa memetik pelajaran bahwa meski Tuhan lebih dari sekedar sanggup memberkati kita secara berkelimpahan, tetapi kita tidak boleh terjebak kepada nafsu ketamakan. Hidup sederhana atau secukupnya tetaplah merupakan gaya hidup yang diinginkan Tuhan untuk dimiliki dan diaplikasikan dalam hidup anak-anakNya.

Dalam kisah turunnya hujan roti dan burung puyuh di atas kita melihat dua kali pesan Tuhan berbunyi sama, agar mereka mengambil secukupnya saja. Tuhan ingin berkata: "Meskipun Aku sanggup memberkati kalian secara berkelimpahan, tetapi hiduplah sederhana!" Jika hari ini ada diantara anda yang merasa masih hidup dalam kekurangan, ingatlah bahwa sesungguhnya Tuhan telah memberikan segala sesuatu di muka bumi ini secara cukup untuk kita olah, manfaatkan dan maksimalkan. Kita harus terus belajar untuk hidup dengan rasa cukup dan tidak perlu harus ikut-ikutan hidup mewah seperti mereka yang mengaplikasikan gaya hidup hedonisme. Lalu jika anda sanggup, ingatlah bahwa anda diminta untuk tetap hidup sederhana. Harta sesungguhnya merupakan titipan Tuhan yang tetap harus dipertanggungjawabkan kelak. Tuhan memberkati kita agar kita bisa memberkati orang lain. Tuhan menolong kita agar kita bisa menolong orang lain.

Seperti apa yang dikatakan 'cukup' oleh Firman Tuhan? Di dalam Alkitab itu sudah disebutkan. "Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah." (1 Timotius 6:8). Dan ingatlah firman berikut: "Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar." (ay 6). Mudah bagi kita untuk terus merasa tidak puas, tapi seringkali sulit bagi kita untuk bersyukur. Tuhan pasti sanggup memberkati kita berlimpah-limpah, tetapi sangatlah penting bagi kita untuk belajar bersyukur terlebih dahulu atas apa yang ada pada kita hari ini. Apapun yang ada pada diri anda hari ini, besar atau kecil, bersyukurlah dan bergembiralah atasnya.

Hidup sederhana merupakan gaya hidup yang harus dimiliki orang percaya
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 05, 2013, 04:54:31 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_05_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/hindari-ketamakan.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/hindari-ketamakan.html[/url])

 Hindari Ketamakan

Ayat bacaan: Yakobus 2:15-16
======================
"Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: "Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!", tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu?"

Tidak seorang pun ingin hidup susah. Kita ingin diberkati Tuhan secara melimpah. Kita bekerja dan berdoa agar Tuhan memberkati pekerjaan kita agar berhasil. Pertanyaannya, ketika kita diberkati melimpah, apa yang kita lakukan? Banyak orang yang berpikir untuk membeli barang-barang yang kita sudah lama kita idam-idamkan. Ada yang langsung merencanakan untuk pergi berlibur ke sebuah tempat yang mungkin sudah lama dibayangkan. Ada yang berpikir untuk mendepositokan, menanam investasi lagi dan sebagainya. Semua itu tentu tidak salah.  Tapi apakah kita hanya berpikir akan hak atas apa yang kita peroleh tanpa memikirkan kewajiban kita? seberapa jauh kita terpanggil untuk membantu sesama kita lewat berkat yang sudah kita terima dari Tuhan? Pada kenyataannya orang yang tidak pernah merasa cukup akan terus tidak puas terhadap apa yang mereka miliki. Mereka akan terus merasa kurang dan akan berusaha mencari lebih banyak lagi melebihi hak mereka. Akhirnya mereka akan terjatuh pada berbagai penyimpangan, penipuan dan kecurangan-kecurangan lainnya. Akankah itu cukup? Tidak, itu tidak akan pernah cukup, apabila rasa tamak sudah menjadi bagian dari hidupnya.

Ada banyak orang yang keliru dalam menyikapi berkat yang diberikan Tuhan. Mereka berpikir bahwa semua itu adalah untuk membuat mereka bisa hidup mewah, berfoya-foya menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yang tidak perlu benar. Di satu sisi memang kita berhak memakai berkat yang kita peroleh untuk membeli keperluan atau kebutuhan kita dan keluarga, tapi di sisi lain kita harus ingat juga bahwa Tuhan memberi berkat bukan untuk kita simpan sendiri atau dihambur-hamburkan sepuasnya tetapi untuk memberkati orang lain. Kita diberkati bukan untuk ditimbun dan dipakai semata-mata untuk kepentingan pribadi, kita diberkati untuk memberkati. Dalam kitab Yehezkiel dikatakan: "Kalau seseorang adalah orang benar dan ia melakukan keadilan dan kebenaran..tidak menindas orang lain, ia mengembalikan gadaian orang, tidak merampas apa-apa, memberi makan orang lapar, memberi pakaian kepada orang telanjang, tidak memungut bunga uang atau mengambil riba, menjauhkan diri dari kecurangan.." dan sebagainya. (bacalah Yehezkiel 18:5-9) Dalam Perjanjian Baru pun pesan seperti ini disampaikan beberapa kali, misalnya lewat Yakobus. "Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: "Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!", tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu?" (Yakobus 2:15-16). Perhatikanlah bahwa Tuhan menginginkan kita untuk menjadi saluran berkatNya. Tuhan memberkati bukan untuk membuat kita menjadi orang-orang yang serakah.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 05, 2013, 04:55:07 AM
Quote
Sebenarnya berapapun yang ada pada kita saat ini bisa sangat bermanfaat untuk membantu orang lain yang tengah berkesusahan. Besar atau kecil nilainya, selama itu diberikan dengan hati yang iklas dan penuh sukacita maka Tuhan pun akan memperhitungkannya dengan sangat tinggi. Lihatlah kisah seorang janda miskin yang memberi persembahan dalam jumlah kecil, hanya dua peser alias satu duit. Dalam bahasa Inggrisnya dikatakan half a cent atau setengah sen. (Markus 12:42). Jumlah itu sangat jauh nilainya dibawah pemberian orang-orang kaya pada saat bersamaan pada waktu itu. (ay 41). Ketika itu Yesus tengah berada disana dan mengamati setiap orang yang memberi persembahannya. Apakah jumlah yang besar itu yang menarik perhatian Yesus? Ternyata tidak. Justru si ibu janda miskin inilah yang mendapat perhatian Yesus. "Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan." (ay 43). Mengapa Yesus mengatakan seperti ini? "Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya." (ay 44). Artinya, berapa pun jumlah yang ada pada kita, kita bisa mulai peduli dan tergerak untuk memberi, karena seringkali bukan masalah ada dan tidak ada atau cukup dan tidak cukup, melainkan masalahnya adalah hati kita, tergerakkah kita untuk menolong orang lain atau tidak? Pada akhirnya kita harus sampai kepada pola pemikiran yang tepat sesuai Firman Tuhan, seperti yang tertulis dalam ayat berikut ini: "Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." (Kisah Para Rasul 20:35).

Apabila anda diberkati hari ini dengan penghasilan yang besar, bersyukurlah untuk itu dan pergunakan untuk memberkati sesama. Membantu yang kekurangan, menolong yang kelaparan, memberi pakaian bagi yang kurang mampu, dan lain-lain. Semua itu adalah tugas dan kewajiban kita sebagai orang percaya. Mahatma Gandhi pada suatu kali mengatakan: "Earth provides enough to satisfy every man's need, but not every man's greed". Jika diterjemahkan, ia mengatakan bahwa bumi cukup untuk memuaskan semua orang, tetapi tidak akan pernah cukup untuk satu orang yang tamak. Bumi ini sudah diciptakan Tuhan dengan begitu baik sehingga lebih dari cukup untuk semua manusia, terlebih ketika kita orang percaya bisa berfungsi secara benar sesuai panggilan Tuhan. Tetapi dunia dan segala isinya ini tidak akan pernah cukup bagi orang-orang yang tamak atau serakah, yang ingin selalu memiliki lebih dan lebih lagi tanpa pernah merasa berterimakasih atas segala yang mereka miliki. Yesus sudah mengingatkan: "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu." (Lukas 12:15). Hendaklah kita semua hidup dengan rasa cukup dan tidak dikuasai oleh sifat serakah. Dalam keadaan apapun tetaplah bersyukur dan ingatlah bahwa di atas segalanya Tuhan sendiri yang akan memelihara hidup kita. Sekarang saatnya untuk menjadi saluran berkat dari Tuhan kepada sesama.

Hiduplah dengan rasa cukup dan hindari sifat tamak
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 06, 2013, 04:52:57 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_05_01_archive.html[/url]
renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/dua-janda-dengan-kemurahan-hati.html

 Dua Janda dengan Kemurahan Hati

Ayat bacaan: Lukas 6:36
==================
"Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati."

Kapan kita bisa menunjukkan kemurahan hati kita untuk membantu sesama? Ada banyak yang menganggap dirinya belum sanggup untuk memberi karena untuk diri sendiri saja belum cukup. Nanti kalau saya sudah kaya, kalau uang sudah berlebih-lebih, kalau sudah tidak tahu mau dibelanjakan kemana lagi, itu menjadi bentuk pemikiran mereka mengenai kapan waktu yang tepat untuk bermurah hati memberi. Kenyataannya manusia cenderung merasa tidak pernah cukup dan tidak pernah puas. Kalau begitu mereka pun tidak akan kunjung tergerak untuk menolong orang lain dengan memberi sebagian yang ada pada mereka. Ada pula orang yang rajin memberi tetapi atas alasan yang salah. Mereka memberi karena mengharapkan sebuah balasan, dengan maksud-maksud atau agenda tertentu alias pamrih. Menjelang pemilihan umum, pilkada dan sebagainya, semua ini bisa dengan mudah kita lihat. Itu bukanlah hal memberi yang didasari oleh kemurahan hati.

Alkitab banyak berbicara mengenai keikhlasan untuk memberi yang didasarkan kepada kemurahan hati, baik lewat firman-Firman Tuhan maupun contoh-contoh dari berbagai tokoh. Hari ini mari kita lihat contoh dari dua orang janda pada dua kesempatan berbeda. Pertama mari kita lihat janda miskin di Sarfat dalam Perjanjian Lama yang memberi Elia makan dalam kekurangannya. (1 Raja Raja 17:7-24). Pada saat itu Elia tiba di Sarfat yang tengah mengalami kemarau panjang. Ia bertemu dengan seorang janda miskin. Ketika Elia meminta roti kepada sang janda, "perempuan itu menjawab: "Demi TUHAN, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikitpun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Dan sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati." (1 Raja Raja 17:12). Itu jelas sebuah potret kehidupan serba kekurangan yang berat yang harus dipikul oleh sang ibu janda di Sarfat ini. Ia cuma punya segenggam tepung dan sedikit minyak serta dua tiga potong kayu api. Itupun masih harus dibagi dua dengan anaknya. Tetapi kemudian kita melihat bagaimana persediaan terakhirnya yang sangat sedikit itu rela ia berikan kepada Elia. Ia membuat roti untuk Elia dan merelakan Elia menghabiskannya. Tuhan ternyata menghargai besar keputusannya itu. Tidak saja ia diberkati dengan persediaan makanan yang cukup untuk berhari-hari lamanya, tidak habis-habis (ay 15-16), tapi anaknya pun dibangkitkan kembali dari kematian. (ay 22).

Dalam Perjanjian Baru kita melihat kisah janda lainnya di Bait Allah yang menarik perhatian Yesus ketika memberikan persembahan. Tidak seperti orang-orang kaya yang mungkin memasukkan amplop besar, janda miskin ini memasukkan dua peser saja ke dalam peti. Tetapi ternyata jumlah kecil itu mendapat reaksi sangat positif dari Yesus. "Lalu Ia berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu." (Lukas 21:3). Mengapa bisa demikian? "Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya." (ay 4). Janda ini rela memberi dalam kekurangannya, bahkan semua uang yang ia miliki ia berikan dengan sukarela. Dua janda dalam dua masa yang berbeda, sama-sama miskin, sama-sama menderita, sama-sama berkekurangan, tetapi keduanya sama-sama memiliki kemurahan hati yang luar biasa.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 06, 2013, 04:53:55 AM
Quote
Namanya kemurahan hati, itu berarti kemurahan jelas merupakan sikap hati. Karena merupakan sebuah sikap hati maka itu tidak tergantung dari berapa jumlah harta yang kita miliki atau kondisi yang kita alami saat ini. Ketika kemurahan mewarnai sikap hati kita, kita akan rela memberi dengan sukacita tanpa peduli apapun keadaan kita atau berapapun yang kita punya. Mengapa kita harus memiliki sikap kemurahan ini? Karena Allah yang kita sembah adalah Bapa yang murah hati. Hal ini ditegaskan Yesus sendiri yang bisa kita baca di dalam Alkitab. "Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati." (Lukas 6:36). Murah hati adalah bagian dari kasih (1 Korintus 13:4). Dan kasih jelas merupakan sesuatu yang mutlak untuk dimiliki oleh orang-orang percaya. Kita harus malu ketika kita mengaku anak Tuhan tetapi tidak memiliki kasih, dimana salah satu bentuknya adalah keengganan atau beratnya dalam memberi. Tepat seperti apa yang dikatakan Yohanes, "Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih" (1 Yohanes 4:8). God is love. Mengaku mengenal Allah artinya kita mengenal kasih. Dan bagaimana kita berani mengaku mengerti akan artinya kasih apabila kita merasa rugi untuk memberi kepada mereka yang hidup berkekurangan?

Tuhan adalah kasih, dan Tuhan murah hati. Dia selalu memberi segala sesuatu yang terbaik bagi kita, bahkan anakNya yang tunggal pun Dia relakan untuk menebus kita semua dari kebinasaan menuju keselamatan yang kekal. Lihatlah bagaimana sikap hati Allah sendiri sebagai The Giver atau Sang Pemberi. Hal seperti inilah yang harus mewarnai sikap hati kita sebagai orang percaya.

Dua janda yang saya angkat menjadi contoh hari ini hendaknya mampu memberikan keteladanan nyata dalam hal memberi. Adakah yang harus ditunggu agar mampu memberi? Tunggu kaya dulu? Tunggu berlebih dulu? Tunggu sampai semua kebutuhan yang tidak pernah ada habisnya itu tercukupi? Sesungguhnya tidak. Kita tetap bisa memberi dalam kekurangan dan keterbatasan kita, kita bisa melakukannya dengan penuh sukacita apabila sikap kemurahan tumbuh subur dalam hati kita. Tidak perlu berpikir terlalu jauh untuk memberi puluhan juta kepada orang lain yang kelaparan, tapi sudahkah kita melakukan sesuatu bagi orang disekitar kita meski nilainya sedikit? Atau sudahkah kita memberikan waktu, perhatian, kasih sayang kepada keluarga kita sendiri? Sudahkah kita berada dengan mereka di saat mereka butuh kehadiran kita? Sudahkah kita memberi senyum kepada orang yang sudah lama tidak merasakan indahnya sebuah senyuman? Sudahkah kita memberi kelegaan kepada mereka yang tengah sesak menghadapi tekanan hidup? Itupun termasuk dalam kategori memberi. Kalau begitu, kapan kita sebaiknya mulai memberi? Mengapa tidak sekarang juga?

Memberi seharusnya merupakan sikap hati orang percaya karena Bapa pun murah hati
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 07, 2013, 05:03:13 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_05_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/kemurahan-hati.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/kemurahan-hati.html[/url])

 Kemurahan Hati

Ayat bacaan: 2 Korintus 8:2
===========================
"Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan."

Dalam renungan kemarin kita sudah melihat bagaimana bentuk kemurahan hati dalam memberi seperti yang ditunjukkan oleh dua orang janda dalam masa yang berbeda, yaitu janda di Sarfat di masa Elia (1 Raja Raja 17:7-24) dan janda yang memberikan persembahan di bait Allah yang diperhatikan Yesus (Lukas 21:1-4/Markus 12:41-44). Hari ini saya masih ingin melanjutkan lagi mengenai hal kemurahan hati lewat beberapa contoh lainnya. Sebuah kesaksian yang belum lama dialami oleh saudara dari tetangga saya mungkin baik untuk dijadikan sebuah contoh. Ia bercerita mengenai pengalamannya ketika ia terpanggil untuk menolong seorang teman sekantornya. Pada saat itu ia sedang mengalami masa sulit. Bahkan uang yang ada pun tidak cukup untuk membayar cicilan kredit motor dan memperpanjang sewa rumah. Tapi pada saat yang sama teman sekantornya mengalami masalah dan butuh bantuan. Ia dengan segera memberikan sisa uang yang ada. "Satu hal yang saya percaya, Tuhan tidak akan pernah membiarkan kita susah karena menolong orang lain." katanya mantap. Hanya berselang satu hari, istrinya mendadak memperoleh bonus di kantor yang lebih dari cukup untuk dipakai melunasi cicilan dan membayar sewa rumah. "Tuhan selalu menepati janji, saya tidak perlu ragu dalam hidup maupun menolong orang lain karena Dia pasti jaga saya dan keluarga." katanya lagi. Ini sebuah kesaksian bahwa janji Tuhan bukanlah hanya pepesan kosong, sekaligus bisa menjadi bukti bahwa bukan soal jumlah harta yang menentukan kerelaan kita untuk memberi, tetapi itu semua tergantung dari kondisi dan sikap hati, apakah memiliki kasih di dalamnya atau tidak.

Hari ini mari kita lihat jemaat Makedonia dahulu kala di jaman Paulus. Kepada jemaat Korintus, Paulus bersaksi mengenai bagaimana pertumbuhan kasih karunia yang terjadi pada jemaat di Makedonia pada masa itu. Mungkin ada banyak orang yang beranggapan bahwa kewajiban memberi hanya berlaku apabila sedang berkelimpahan, tapi jemaat Makedonia menunjukkan sikap yang sama sekali berbeda. Mereka bukanlah jemaat yang kaya raya. Mereka justru dikatakan sebagai jemaat yang sedang bergumul dalam berbagai penderitaan dan hidup dalam kemiskinan. Tapi itu semua ternyata tidak menghalangi mereka untuk tetap memberi dengan penuh sukacita. Paulus pun kemudian bersaksi atas mereka. "Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan." (2 Korintus 8:2). Mereka miskin materi, tapi kaya raya dalam kemurahan. Sekali lagi kita melihat contoh luar biasa dalam hal kemurahan hati lewat jemaat Makedonia yang sama sekali jauh dari kemakmuran secara materi.

Dalam kesempatan lain kita juga  bisa belajar dari bagaimana cara hidup jemaat mula-mula yang dicatat dalam kitab Kisah Para Rasul. "Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing." (Kisah Para Rasul 2:44-45). Tidak dikatakan bahwa yang kekayaannya luar biasa melimpah yang membantu, tapi mereka secara kolektif saling berbagi sesuai kemampuan masing-masing. Ada yang kaya, ada yang cukup, berapapun yang ada pada mereka, semua mereka pergunakan untuk kepentingan bersama dalam kebersatuan yang begitu indah. Hal ini kembali disinggung dalam pasal 4. "Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorangpun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama." (4:32). Kembali kita melihat disini bahwa tidak ada batasan kaya untuk memberi, dan kita bisa melihat bagaimana Tuhan memberkati jemaat mula-mula ini dalam banyak hal. "...Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan." (2:47). Bukan saja mereka disukai orang, tapi Tuhan pun memberkati mereka dengan menambahkan jiwa-jiwa untuk diselamatkan.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 07, 2013, 05:04:59 AM
Quote
irman Tuhan berkata: "Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan." (2 Korintus 9:8). Dalam versi BIS nya dikatakan: "Allah berkuasa memberi kepada kalian berkat yang melimpah ruah, supaya kalian selalu mempunyai apa yang kalian butuhkan; bahkan kalian akan berkelebihan untuk berbuat baik dan beramal." Lihatlah bahwa Tuhan selalu rindu untuk mengucurkan berkat kepada kita, tetapi kita harus tahu untuk apa sebenarnya berkat itu diberikan kepada kita. Dan Petrus mengatakan: "...hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat..." (1 Petrus 3:9). Itulah hakekatnya mengapa kita diberkati, yaitu untuk memberkati orang lain. Banyak sedikit uang yang dimilikinya bukanlah menjadi ukuran, tetapi kerelaan hatinya dalam memberi atas dasar belas kasih, itulah yang seharusnya menggerakkan kita untuk berbuat baik dan beramal. Ini sesuai dengan bunyi Firman Tuhan bahwa kita diminta untuk memberi "menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan." Mengapa? "Sebab Tuhan mengasihi orang yang memberi dengan sukacita." Ini bisa kita baca dalam 2 Korintus 9:7. Artinya, besar kecilnya pemberian kita, dalam bentuk apapun, berapapun yang kita punya saat ini, selama kita memberi dengan kerelaan dan sukacita, maka Tuhan akan menghargai itu dengan sangat besar.

Anda merasa tidak punya sumber cukup untuk diberikan? Anda merasa kemampuan anda terbatas dan anda merasa tidak ada yang istimewa dengan kemampuan anda itu? Berhentilah berpikir seperti itu, karena itu  tidak akan pernah cukup menjadi alasan untuk tidak memberi. Sesungguhnya jika kita mau melihat atau memeriksa kembali apa yang kita punya, Tuhan sudah melengkapi kita untuk melakukan setiap perbuatan baik. (2 Timotius 3:17). Artinya kita tinggal memiliki sebentuk hati yang penuh kasih, yang rindu untuk menolong orang lain, siapapun mereka. Selebihnya Tuhan sendiri yang akan sediakan. Mari luangkan waktu untuk meresapi ayat berikut: "Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati." (Lukas 6:36). Kita tidak akan pernah kekurangan setelah memberi dengan kerelaan hati dan sukacita, Tuhan justru akan terus melipat gandakan agar selain kita mampu mencukupi kebutuhan kita, tetapi terlebih pula agar kita mampu memberkati orang lain lebih dan lebih lagi. Kita diberkati untuk memberkati, kita diberi untuk memberi. Hati yang bersukacita dalam memberi tidak akan memandang kekurangan atau keterbatasan diri sendiri, tetapi mampu melihat dengan penuh rasa syukur bagaimana Tuhan selama ini telah memberkati kita.

Jadilah orang murah hati seperti Bapa adalah murah hati
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 08, 2013, 05:10:58 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_05_01_archive.html[/url]
renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/ikat-pinggang-dan-pelita.html

 Ikat Pinggang dan Pelita

Ayat bacaan: Lukas 12:35
=====================
"Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala."

Bumi gonjang-ganjing.. itu semakin lama semakin kerap kita jumpai bahkan alami. Dunia makin tua dan semakin rentan terhadap goncangan. Musibah, krisis dan berbagai kesulitan lainnya ternyata tidak membuat orang berbalik dari jalan-jalan yang salah tetapi malah semakin jauh tersesat dalam berbagai kegelapan. Banyak orang yang percaya bahwa akhir zaman sudah sedemikian dekat, sehingga seharusnya kita sadar untuk tidak lagi buang-buang waktu untuk mempersiapkan kelayakan diri kita dalam menerima kekekalan yang indah daripadaNya. Seberapa jauh kita sadar akan hal itu? Sesiap apa kita saat ini?

Ini saatnya kita mengimani baik-baik apa yang diperingatkan Tuhan Yesus dalam Lukas 12:35-48. Bacalah seluruh bagian perikop yang berbicara tentang pentingnya untuk meningkatkan kewaspadaan yang tertulis disana. Tuhan Yesus berkata: "Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala." (Lukas 12:35). Ikat pinggang yang tetap berikat menggambarkan  kesetiaan dan ketaatan dalam setiap sisi kehidupan kita, laksana seorang perwira yang akan selalu patuh kepada komandannya. Ikat pinggang juga merupakan tempat pedang melekat, seperti yang digambarkan dalam 2 Samuel 20:8. Berbicara tentang peddang, kita diingatkan untuk selalu siap berjaga-jaga mengenakan ikat pinggang untuk menopang pedang Roh, yaitu firman Allah. (Efesus 6:17). Lebih jauh lagi, dalam Yesaya ikat pinggang digambarkan sebagai sebuah atribut kekuasaan. (Yesaya 22:21). Bukankah kepada kita telah diberikan berbagai kuasa, seperti untuk mengalahkan keinginan daging, mengusir setan, menyembuhkan orang sakit dan sebagainya? Bahkan dikatakan bahwa "Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.". (Yakobus 5:16).

Pelita yang harus tetap dijaga menyala berbicara tentang kesiapan kita untuk terus memastikan roh kita tetap menyala dengan baik untuk melakukan semua seperti yang dikehendaki Tuhan hingga kedatangan Tuhan Yesus untuk kedua kalinya. Amsal menyatakan "Roh manusia adalah pelita TUHAN, yang menyelidiki seluruh lubuk hatinya." (Amsal 20:27). Dan Paulus mengingatkan "Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan." (Roma 12:11). Pelita juga terkait dengan hal terang yang mampu menyinari kegelapan. Kita selalu diminta untuk mampu menjadi terang, menjadi anak-anak terang. Seperti ikat pinggang, kita pun harus selalu sedia dengan pelita yang bernyala, karena pelita yang padam akan membawa kita dalam kebinasaan dalam murkanya. "Betapa sering pelita orang fasik dipadamkan, kebinasaan menimpa mereka, dan kesakitan dibagikan Allah kepada mereka dalam murka-Nya!" (Ayub 21:17).

Menjelang akhir jaman yang semakin dekat, kita semua diingatkan untuk selalu bersiap, berjaga-jaga dengan atribut lengkap ikat pinggang dan pelita yang bernyala. Firman Tuhan sudah mengingatkan: "Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan." (Lukas 12:40). Kepada yang berjaga-jaga dengan giat, Yesus berkata: "Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang." (ay 43). Karena itu penting bagi kita untuk memastikan sejauh mana kesiapan kita menuju kesana, dan Firman Tuhan telah mengingatkan kita untuk terus menerus berjaga kapan saja. Jangan melenceng ke kiri dan ke kanan, jangan lagi memberi toleransi terhadap dosa, karena tidak satupun dari kita yang tahu kapan sesungguhnya waktu itu akan datang.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 08, 2013, 05:11:30 AM
Quote
Kita juga perlu membaca kitab 1 Tesalonika 5:1-11 mengenai nasehat untuk berjaga-jaga. Disana kita diingatkan kembali mengenai hari Tuhan yang akan datang seperti pencuri di malam hari (ay 2). Jika kita terlena dan terus hidup dalam kegelapan, keteledoran itu akan membawa konsekuensi yang membinasakan. "Apabila mereka mengatakan: Semuanya damai dan aman--maka tiba-tiba mereka ditimpa oleh kebinasaan, seperti seorang perempuan yang hamil ditimpa oleh sakit bersalin--mereka pasti tidak akan luput." (ay 3). Lantas apa yang terjadi bagi kita yang sudah hidup dalam terang? "Tetapi kamu, saudara-saudara, kamu tidak hidup di dalam kegelapan, sehingga hari itu tiba-tiba mendatangi kamu seperti pencuri, karena kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan." (ay 4-5). Oleh karena itulah kita diingatkan agar jangan terlena, tertidur dan bermalas-malasan seperti yang dilakukan oleh sebagian orang, tetapi hendaklah kita selalu berjaga-jaga dan sadar. (ay 6). Semua ini penting agar kita semua tidak luput dari janji Tuhan. Berjaga-jagalah selalu sebab waktunya sudah sangat singkat. "Saudara-saudara, inilah yang kumaksudkan, yaitu: waktu telah singkat!" (1 Korintus 7:29a)

Beberapa hari yang lalu saya sudah menuliskan beberapa renungan mengenai peran orang percaya dalam keselamatan bangsa, termasuk di dalamnya lewat doa-doa kita. Berdoalah agar Tuhan mencurahkan belas kasihNya atas bangsa ini. Semua itu tidak bisa kita lakukan apabila kita sendiri masih belum membereskan diri kita. Bagaimana kita bisa berperan aktif bagi keselamatan bangsa apabila kita sendiri masih belum siap? Faktanya Tuhan selalu meminta kita untuk berjaga-jaga kapan saja. Waktu memang sudah singkat. Kita harus bisa berfungsi benar sebagai bagian dari tubuh Kristus yang selalu mendoakan dan memberkati kota dan negara kita, dan tentu saja memastikan bahwa diri kita sudah berjaga-jaga dengan baik agar kita tidak luput dari keselamatan yang dijanjikan Tuhan. Teruslah berjaga-jaga dengan mengenakan ikat pinggang dan pelita yang tetap menyala, sehingga ketika hari Tuhan itu datang, kapanpun itu, kita akan kedapatan tengah melakukan tugas kita dengan penuh kesiapan dan memperoleh hasil yang baik karenanya.

Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar (1 Tesalonika 5:6)
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 09, 2013, 05:07:31 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_05_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/hubungan-antara-diberi-dan-memberi.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/hubungan-antara-diberi-dan-memberi.html[/url])

 Hubungan antara Diberi dan Memberi

Ayat bacaan: 1 Petrus 3:9
====================
"...hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat..."

Berapa uang yang kita keluarkan ketika kita hang out atau have fun bersama kekasih, pasangan atau teman-teman? Untuk ukuran hari ini, mungkin angka seratus ribu rupiah terbilang kecil untuk itu. Nonton, lalu duduk di cafe atau restoran, kemudian belanja sedikit, lihat-lihat butik dimana terkadang ada yang membeli sesuatu karena takut malu jika tidak membeli apa-apa, itu bisa menghabiskan total uang yang jumlahnya bisa cukup besar. Kita berpikir bahwa itu toh hasil jerih payah kita, terserah kita dong bagaimana kita mau memakainya. Benar, itu adalah hasil keringat kita. Tapi terpikirkah oleh kita bahwa ada campur tangan Tuhan dalam keberhasilan itu? Jika ya, pernahkah kita berpikir apa sebenarnya suara hati Tuhan atau keinginanNya terhadap kita untuk mempergunakan berkatNya?

Kenyataannya banyak dari kita yang tidak kunjung juga menyadari hal itu. Kita malah tidak tahu untuk apa kita diberkati. Selain menjalani hidup dalam kemewahan, ada banyak pula yang cenderung terus menumpuk harta untuk diri sendiri. Semakin diberkati malah semakin pelit. Semakin banyak yang dimiliki, semakin banyak yang dirasa belum punya. Untuk berfoya-foya kita tidak merasa pelit, tapi melebihkan sedikit untuk tukang kebun, petugas parkir, tukang atau buruh dan sebagainya beratnya bukan main. Padahal mereka seringkali mengeluarkan tenaga yang jauh lebih besar ketimbang orang-orang yang dengan mudah kita beri tip besar ketika berada di tempat mewah. Berkat membuat kita bukannya semakin terpanggil untuk memberkati orang lain, tetapi justru semakin pelit dalam memberi. Apakah cukup karena kita kerja keras maka semua itu mutlak menjadi hak milik kita dan kita tidak perlu tahu apa yang menjadi keinginan Tuhan kemana berkat itu harus kita pergunakan?

Alkitab menyatakan dengan jelas bahwa ada hubungan sebab akibat dalam hal diberi dan memberi. Alkitab jelas berkata bahwa kita diberi untuk memberi. Kita diberkati untuk memberkati. Kita bekerja keras untuk mencukupi nafkah hidup kita dan keluarga, itu benar, tapi bukan itu saja. Ada pesan Tuhan yang penting pula agar kita memberi, menolong orang-orang lain yang tengah kesusahan. Dan sesungguhnya, untuk itulah kita diberi. Perhatikan kata Petrus berikut ini: "...hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat..." (1 Petrus 3:9). Apabila kita memperoleh berkat tetapi tidak mau memberkati, maka itu artinya kita tidak menghargai berkatNya dan mengabaikan panggilan Tuhan atas berkat yang Dia beri kepada kita.

Selanjutnya kita bisa melihat bagaimana cara Paulus dalam menyampaikan pesan yang sama. Sebuah perikop penting dari surat rasul Paulus menjabarkan lebih lanjut mengenai ini. "Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita."(2 Korintus 9:6-7). Paulus tidak berhenti sampai disitu. Ia lebih jauh menjelaskan bahwa Tuhan sanggup melimpahkan segala kasih karuniaNya bahkan hingga berkelebihan, dan ini semua bukan untuk memperkaya diri, menyombongkan diri dan dinikmati sendiri dengan serakah, melainkan untuk beramal, memberkati orang lain. "Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan." (ay 8). Dalam versi BIS dikatakan "Allah berkuasa memberi kepada kalian berkat yang melimpah ruah, supaya kalian selalu mempunyai apa yang kalian butuhkan; bahkan kalian akan berkelebihan untuk berbuat baik dan beramal."  Tuhan berkuasa memutuskan untuk melimpahi kita dengan berkat, tetapi penting bagi kita untuk mengetahui untuk apa itu diberikan. Selain agar kita mampu memiliki apa yang kita butuhkan dalam hidup, tetapi terlebih pula itu ditujukan agar kita punya sesuatu untuk BERBUAT BAIK dan BERAMAL. Paulus ternyata menegaskan juga tentang hakekatnya mengapa kita diberkati, dan itu sama seperti apa yang dikatakan Petrus dalam kesempatan lain seperti yang bisa kita baca di atas. Tuhan bisa melimpahkan kita dengan berkatNya yang dikatakan bisa sampai melimpah ruah, tapi itu bukan untuk ditimbun atau dihamburkan sia-sia, melainkan untuk berbuat baik dan beramal.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 09, 2013, 05:08:02 AM
Quote
Ingatlah bahwa berkat-berkat yang kita peroleh adalah titipan Tuhan, yang harus kita pakai untuk memberkati sesama kita, untuk menyatakan kemuliaan Tuhan. Apakah itu berkat kekayaan, berkat kesehatan, talenta-talenta yang kita miliki, semua itu hendaklah kita pergunakan untuk menjadi berkat buat orang lain. Apapun yang kita lakukan buat membantu orang lain bernilai sangat tinggi bagi Tuhan. Demikian Firman Tuhan: "Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku." (Matius 25:45). Kita harus mengerti bahwa kekayaan yang ada pada kita sebenarnya merupakan titipan Tuhan. Karena itu kita harus mempergunakannya untuk sesama kita, siapapun mereka, apapun latar belakangnya, dimana Tuhan dimuliakan disana. "Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." (Kisah Para Rasul 20:35). Perhatikan, semakin dalam kita masuk ke dalam hadiratNya, semakin dekat kita pada Tuhan, maka prinsip kebahagiaan pun berubah. Jika dulu kita berbahagia ketika kita diberi, maka kini kita akan jauh lebih berbahagia ketika bisa memberi kontribusi kepada orang lain. Kita akan merasa sangat bahagia ketika bisa membahagiakan orang lain. Itu jauh lebih membahagiakan dibandingkan ketika kita memperoleh sesuatu. Kita memperoleh berkat adalah agar kita bisa memberkati orang lain lewat segala yang kita miliki. Singkatnya, kita diberkati untuk memberkati.

Rugikah jika kita banyak memberi? Percayalah, kita tidak akan pernah kekurangan dan menjadi susah karena itu. Jika kita memberi dengan hati yang tulus semata-mata karena mengasihi Tuhan dan sesama, kita tidak akan menjadi berkekuangan, malah akan semakin banyak lagi menerima berkat. Itu sejalan dengan ayat dalam Amsal berikut ini: "Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan." (Amsal 11:24). Pelit, tamak atau serakah dan sejenisnya tidak akan pernah membawa hasil apa-apa selain kerugian buat diri kita sendiri. Kita harus tahu untuk apa Tuhan memberkati kita, dan kita harus memiliki kerinduan untuk melakukannya. Kita harus menyadari bahwa kita harus mulai melakukan sesuatu, bekerja keras agar kelak mampu membantu sesama, menjadi terang dan garam yang mampu menyampaikan kasih Allah kepada orang lain. Kita harus tahu mengapa kita diberkati dan kemana kita seharusnya mempergunakannya. So, let's work hard, and when God gives you His blessings, use it to help others. Mulailah memberi, maka Tuhan akan terus mencurahkan berkatNya memenuhi lumbung-lumbung anda agar anda bisa memberkati lebih banyak lagi

Kita diberi untuk memberi, kita diberkati untuk memberkati
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 10, 2013, 04:53:44 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_05_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/animal-rescue.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/animal-rescue.html[/url])

 Animal Rescue

Ayat bacaan: Kejadian 1:28
======================
"Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi."

Apakah pelayanan terbatas hanya untuk manusia saja? Saya pernah mendengar sebuah komentar dari seseorang yang mengatakan bahwa seharusnya orang yang mengaku cinta Tuhan mementingkan dulu untuk melayani manusia daripada sibuk mengurusi hewan-hewan yang terlantar. Ia mengacu kepada Amanat Agung yang menugaskan kita untuk menjadikan semua bangsa menjadi muridNya seperti yang tertulis pada Matius 28:19-20. Apakah benar harus demikian? Apakah kita tidak bisa menjadi terang dan menyenangkan hati Tuhan lewat pelayanan kita menyelamatkan hewan-hewan terlantar, doing an animal rescue or animal conservation? Apakah tidak mungkin jika Tuhan memberi panggilan kepada sebagian orang untuk bekerja di ladang yang satu ini, atau yang lebih sederhana, tidakkah mungkin jika kita bisa melakukan Amanat Agung lewat tindakan mulia menyelamatkan hewan-hewan terluka, terbuang dan menderita ini?

Ada begitu banyak hewan yang butuh pertolongan. Di beberapa acara televisi saya melihat langsung hewan-hewan yang diperlakukan dengan sangat kejam yang akan segera mati jika tidak mendapatkan pertolongan. Banyak yang tega menyiksa atau memperlakukan hewan piaraannya secara buruk dan lain sebagainya, atau meracun dan menganiaya hewan-hewan malang ini tanpa perasaan, dengan sangat kejam. Pada kenyataannya kita sering melihat atau mendengar orang memperlakukan hewan piaraannya dengan kejam. Ada anjing yang diikat diluar sepanjang hidupnya, terkena panas terik dan hujan begitu saja, ada yang tidak diberi makan, dibiarkan ketika diserang kutu, sekarat tertabrak mobil atau disiksa orang dan sebagainya. Ada beberapa lembaga yang aktif melakukan pelayanannya dan menunjukkan foto-foto dari hewan-hewan yang bernasib naas seperti ini, dan saya bersyukur karena ternyata masih banyak orang yang mau membantu mereka untuk menolong hewan-hewan ini bersama-sama tanpa memandang latar belakang masing-masing.

Tuhan mengasihi manusia secara istimewa, itu benar. Tetapi bukan berarti bahwa Tuhan tidak mengasihi hewan dan tumbuhan yang notabene merupakan ciptaanNya juga. Manusia merusak lingkungan, menebang pohon sembarangan, merusak habitat hewan bahkan memburu mereka termasuk hewan-hewan langka di dalamnya tanpa merasa bersalah. Padahal ini pun sebenarnya sudah melanggar Firman Tuhan, karena sejak semula Tuhan sudah mengingatkan tugas kita dalam menjaga kelestarian alam beserta isinya.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 10, 2013, 04:54:15 AM
Quote
Sejak di awal penciptaan sesungguhnya kita bisa melihat bagaimana Tuhan telah berpesan langsung kepada kita mengenai hal ini. Lihatlah ayat berikut yang tertulis dalam kitab Kejadian "Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." (Kejadian 1:28). Menaklukkan dan berkuasa disini bukanlah  dimaksudkan bahwa kita bisa seenaknya mengeksploitasi isi bumi tanpa memikirkan kelangsungan hidup atau kelestariannya, tapi justru sebaliknya, kepada kita disematkan sebuah tanggung jawab secara penuh untuk mengurus dan melestarikan segala yang ada di muka bumi ini, termasuk pula di dalamnya berbagai spesies atau jenis hewan yang hidup di bumi terutama yang langka. Mengapa demikian? Sebab Tuhan telah menciptakan segalanya itu bukan sekedar baik saja, tetapi dikatakan "sungguh amat baik." "Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik." (ay 31). Jika Tuhan telah menciptakan segala sesuatu dengan amat sangat baik, dan Dia sudah berpesan agar kita menjaganya dengan baik, bagaimana kita bisa tega memperlakukan alam beserta tumbuhan dan hewan di dalamnya dengan buruk? Dan jika demikian, bukankah Tuhan pun menginginkan kita untuk melakukan hal-hal yang baik bagi ciptaan-ciptaan Tuhan ini?

Selanjutnya mari kita lihat ayat berikut ini. "Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?" (Matius 6:26) lalu ayat ini: "Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu." (10:29). Kedua ayat ini memang berbicara untuk mengingatkan kita bahwa kita tidak perlu takut karena kita semua berada dalam pemeliharaan Tuhan yang penuh kasih. Tetapi perhatikanlah kembali kedua ayat tadi dengan baik, maka kita akan mendapatkan bagaimana Tuhan pun masih meluangkan waktu untuk menjaga kelangsungan hidup burung-burung kecil yang harganya tentu jauh di bawah kita. Ini menunjukkan betapa besarnya perhatian Tuhan bagi hewan-hewan yang bagi manusia mungkin dianggap tidak berguna, atau bahkan hanya dijadikan korban permainan demi kesenangan mereka pribadi.

Sesungguhnya orang-orang yang terpanggil untuk melakukan pekerjaan menyelamatkan hewan dan lingkungan hidup ini pun menunjukkan dedikasi tinggi dengan kasih yang tinggi pula. Ini sejalan dengan Firman Tuhan yang berkata dengan tegas: "Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih!" (1 Korintus 16:14). Disamping itu, ingatlah selalu bahwa "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia." (Kolose 3:23). Apa yang mereka lakukan sejalan dengan ayat-ayat di atas. Jika kita melakukan segala sesuatu dalam kasih dan dengan segenap hati seperti untuk Tuhan maka kita pun tentu menyenangkan hati Tuhan, dan lewat itu ROH KUDUS bisa bekerja untuk menyentuh jiwa-jiwa untuk selamat.

Panggilan untuk menyelamatkan hewan-hewan yang menderita dan terbuang pun merupakan tugas mulia yang akan sangat besar nilainya di mata Tuhan. Kita harus ingat bahwa kelestarian dan kelangsungan hidup satwa menjadi tanggungjawab kita. Ada banyak spesies yang terancam punah, ada begitu banyak hewan yang saat ini terancam kelangsungan hidupnya, ada banyak pula diantara mereka yang saat ini sangat membutuhkan pertolongan dari kita. Melayani manusia dan mewartakan Injil kepada sesama itu penting, tapi melestarikan dan menyelamatkan ciptaan-ciptaan Tuhan seperti hewan dan tumbuhan yang juga Dia nilai baik pun tidak kalah pentingnya. Disana pun Tuhan bisa memakai kita untuk menjadi wakil-wakilNya seperti apa yang diamanatkan Yesus. Jika itu merupakan panggilan anda hari ini, jalankanlah dengan penuh sukacita dan serius. Bentuk kepedulian nyata seperti itu pun merupakan wujud pelayanan yang tidak kalah mulianya ketimbang pelayanan untuk sesama manusia. Tuhan ingin kita melestarikan ciptaan-ciptaanNya di muka bumi ini, dan lewat karya nyata kita bisa mewujudkannya.

Menjaga kelestarian alam beserta tumbuhan dan hewan di dalamnya merupakan tugas mulia yang tinggi nilainya dimata Tuhan
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 11, 2013, 05:27:48 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_05_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/terus-belajar.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/terus-belajar.html[/url])

 Terus Belajar

Ayat bacaan: Titus 3:14
================
"Dan biarlah orang-orang kita juga belajar melakukan pekerjaan yang baik untuk dapat memenuhi keperluan hidup yang pokok, supaya hidup mereka jangan tidak berbuah."

Seorang pianis senior yang saya kenal dekat menceritakan bagaimana prosesnya berlatih menjadi hebat. Ia mulai menyentuh piano di usia 6 tahun. 7 tahun setelahnya ia berguru kepada seorang maestro besar di Surabaya, dan kemudian melanjutkan pendidikannya ke luar negeri. Di salah satu sekolah musik paling ternama di dunia itu ia hanya membutuhkan waktu 2 tahun untuk meraih gelar sarjana musiknya. Kemudian ia kembali ke tanah air dan aktif sebagai pengajar. Disela-sela kegiatan mengajarnya ia pun masih menyempatkan diri untuk tampil di berbagai pentas. Sudah sehebat itu, kita tentu berpikir bahwa ia rasanya tidak lagi perlu untuk belajar. Tapi ternyata hingga hari ini pun ia masih rajin berlatih. Bukan saja agar jari-jarinya tidak menjadi kaku di atas tuts piano, tetapi juga terus belajar hal-hal baru. Ia bahkan belajar menggunakan alat-alat musik lainnya. "Ilmu itu kalau tidak diupdate akan membuat semua talenta dan usaha selama ini menjadi sia-sia." katanya ringan. Apa yang ia katakan itu benar. Sehebat apapun kita saat ini, kita harus terus mengupdate ilmu dan kemampuan kita di bidang apapun kita berada saat ini. Life is a learning process, dan kalau kita berhenti belajar, itu artinya hidup pun berhenti sampai disitu.

Mulai dari bayi kita sudah mengalami proses pembelajaran. Diawali dengan belajar merangkak, belajar duduk, kemudian belajar bicara. Lalu masuk playground, taman kanak-kanak, SD, SMP, SMA, kuliah, lalu ada yang melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Ditengah-tengah proses pendidikan formal kita pun belajar banyak hal lagi, seperti tata krama, sopan santun dan tentu saja terus belajar untuk lebih mengenal hati Bapa lewat Firman-FirmanNya. Semakin banyak ilmu yang kita miliki, semakin banyak yang kita ketahui, semakin besar pula kesempatan kita untuk sukses, tentu saja jika kita tidak menyia-nyiakannya dan mempergunakannya dengan baik, untuk melakukan hal-hal yang baik.

Sangatlah menarik ketika melihat ayat yang saya ambil sebagai bahan renungan hari ini. Dalam suratnya kepada Titus Paulus mengatakan: "Dan biarlah orang-orang kita juga belajar melakukan pekerjaan yang baik untuk dapat memenuhi keperluan hidup yang pokok, supaya hidup mereka jangan tidak berbuah." (Titus 3:14). Ayat ini mengingatkan kita untuk belajar melakukan pekerjaan yang baik, dan untuk melakukan pekerjaan yang baik itu kita perlu terus belajar. Seperti layaknya segala sesuatu dalam hidup butuh proses, kita pun perlu melatih diri kita agar bisa semakin terbiasa untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang baik. We have to learn to apply ourselves to good deeds. Itu adalah sesuatu yang butuh dilatih dan dipelajari, butuh proses dan membutuhkan waktu secara kontinu. Dan Titus mengatakan bahwa itulah yang membuat kita bisa berbuah. Sebaliknya unculvitated and unfruitful life pun menjadi bagian dari orang-orang yang mengabaikan pentingnya hal tersebut.

Dalam beribadah pun diperlukan latihan. Kita tidak bisa malas-malasan dan menunggu sampai Tuhan langsung menyulap roh kita untuk menjadi roh yang taat dalam sekejap mata dengan instan. Tuhan bisa melakukan itu, tapi itu tidak mendidik, sehingga cara demikian bukanlah cara yang disukai Tuhan. Melalui serangkaian peristiwa, kejadian, nasihat atau teguran orang lain dan sebagainya, baik yang indah maupun lewat penderitaan dan kesulitan, Tuhan siap memberi pelajaran bagi kita untuk lebih dekat lagi kepadaNya. Inilah yang dikatakan Paulus lewat suratnya kepada Timotius. "Latihlah dirimu beribadah." (1 Timotius 4:7b). Train yourself toward godliness. keep yourself spiritually fit. Training dan fit, itu terdengar seperti latihan kebugaran alias olah raga, dan memang seperti itulah adanya. Jika sebuah latihan fisik yang  penting untuk menjaga kebugaran kita membutuhkan sebuah proses yang tidak singkat, apalagi sebuah ibadah yang akan berguna jauh lebih banyak. Seperti itulah kata Paulus selanjutnya. "Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang." (ay 8).
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 11, 2013, 05:28:49 AM
Quote
Lantas perhatikan pula bagaimana Tuhan memerintahkan bangsa Israel untuk mengajarkan Firman Tuhan kepada keturunan mereka secara terus menerus dan berkesinambungan. "Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun." (Ulangan 6:6-7). Berulang-ulang itu berbicara mengenai sebuah proses yang berkesinambungan. Apabila untuk kita yang sudah dewasa saja belajar masih merupakan hal yang sangat penting, apalagi buat anak-anak kita di masa pertumbuhan mereka. Dunia yang mereka huni sekarang bukanlah sebuah dunia yang mudah dan selalu bersahabat. Ada kalanya dunia ini kejam dan ada kalanya pula terdapat banyak jebakan di dalamnya. Bahkan kita sering merasa bahwa semakin lama dunia ini semakin dingin, kaku dan tidak bersahabat. Kejahatan dan penyesatan ada dimana-mana. Jika anak-anak kita tidak mengetahui apa-apa tentang kebenaran, setiap saat mereka bisa terjerumus ke dalam kebinasaan bahkan sejak masa kecilnya. Oleh karenanya kita harus mampu terus menanamkan Firman Tuhan secara terus-menerus kepada mereka, baik lewat pengajaran maupun contoh keteladanan. Semua ini akan menjadi bekal yang sangat berharga buat mereka. Tapi itu tidak bisa kita lakukan hanya dalam sekejap saja. Dan jangan lupa, semuanya harus melalui serangkaian proses yang dilakukan secara kontinu.

Bagi pianis senior di atas, belajar merupakan sebuah proses yang membuat hidup menjadi menarik. Menjalani proses memang seringkali tidak mudah. Ada kalanya kita mengalami kesulitan dalam prosesnya, bahkan ada saat-saat dimana kita harus rela mengalami penderitaan. Ada kalanya kita harus berjuang melawan rasa malas, jenuh atau sejenisnya. Tapi itulah bagian dari kehidupan yang harus kita sikapi dengan proses. Tetaplah berpegang teguh kepada Tuhan, tetaplah berusaha, tetaplah belajar dan jangan lupa tetaplah penuhi diri kita dengan ucapan syukur. Firman Tuhan berkata "Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur." (Filipi 4:6). Di balik kelemahan dan keterbatasan kita sebagi manusia, Tuhan akan selalu memberi kelegaan dan kekuatan atas kita. Jika demikian, apa yang harus kita lakukan adalah terus bertekun melatih diri dan terus belajar untuk semakin mengenal, mengerti dan melakukan Firman Tuhan secara lebih mendalam lagi. Tuhan selalu mendorong semua anak-anakNya untuk terus belajar mengenai hal-hal yang bisa meningkatkan kualitas hidup di dunia, tapi juga terutama belajar untuk mengenalNya lebih lagi dan mengetahui apa yang menjadi rencana dan kehendakNya dalam kehidupan kita. Yesus mengingatkan kita untuk terus menyempurnakan diri hingga bisa menyerupai kesempurnaan Bapa. "Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna." (Matius 5:48). Dan hal ini tidak akan bisa kita capai hanya dalam sekejap mata saja. Karenanya marilah kita terus tekun dalam belajar. Berbuat baik pun merupakan sesuatu yang harus dilatih. Masih ada banyak yang belum kita ketahui. Teruslah upgrade diri kita dalam segala hal kalau kita mau terus mengalami pertumbuhan baik dalam pengetahuan, keahlian maupun iman.

Life is a learning process. When you stop learning, life stops right there
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 12, 2013, 04:50:48 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_05_01_archive.html[/url]
renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/air-mata-pertobatan.html

 Air Mata Pertobatan

Ayat bacaan: Lukas 22:62
=================
"Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya."

Ctrl-Z adalah tombol yang sangat sering saya gunakan ketika bekerja dengan Photoshop. Ini adalah shortcut untuk undo, mengulang perintah terakhir satu langkah apabila ada kesalahan dalam bekerja. Yang lebih sering lagi adalah shortcut Ctrl-alt-Z yang bisa mengulang langkah lebih dari satu. Dengan adanya tombol ini kita tidak perlu khawatir salah mengerjakan desain karena kita bisa kembali mundur kapan saja. Selagi saya membuat desain flyer hari ini, saya pun terpikir alangkah mudahnya jika kita memiliki tombol "undo" atau Ctrl-Z ini dalam menjalani hidup. Pernahkah anda berharap seperti itu? Apakah anda pernah berharap bisa kembali mengulang, memperbaiki atau memulihkan sesuatu yang terlanjur hancur akibat dosa?

Hal ini terjadi pada diri Petrus. Sejak semula sebenarnya Petrus adalah seorang murid yang istimewa. Dialah yang mengatakan dengan tegas bahwa Yesus adalah "..Mesias, Anak Allah yang hidup" ketika Yesus bertanya kepada para muridNya mengenai siapa diriNya menurut pandangan mereka. (Matius 16:15-16). Dari sana kemudian Yesus melanjutkan: "Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya." (ay 18). Alangkah ironisnya justru Petrus pula yang tega menyangkal Yesus seperti yang tertulis dalam Lukas 22:54-62). Bukan hanya sekali tapi sampai tiga kali. "Tetapi Petrus menyangkal, katanya: "Bukan, aku tidak kenal Dia!" (ay 57), "Bukan, aku tidak!" (ay 58), "Bukan, aku tidak tahu apa yang engkau katakan." (ay 60). Kemudian terdengarlah suara ayam berkokok. "Lalu berpalinglah Tuhan memandang Petrus. Maka teringatlah Petrus bahwa Tuhan telah berkata kepadanya: "Sebelum ayam berkokok pada hari ini, engkau telah tiga kali menyangkal Aku." (ay 61). Tuhan berpaling dan memandang Petrus. Ia pun terperangah, sadar akan kesalahannya tetapi tidak lagi bisa mengulang kembali. Itu sudah terlanjur terjadi. Dan Petrus pun kemudian "pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya." (ay 62).
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 12, 2013, 04:51:41 AM
Quote
Petrus menangis, mengeluarkan air mata pertobatan. Tentu saja seandainya bisa, pasti Petrus berharap bisa memutar balik waktu untuk memperbaiki tindakannya. Tapi kerusakan sudah terjadi. Tapi lihatlah bagaimana besarnya kasih Tuhan. Setelah Yesus bangkit, Petrus pun kemudian dipulihkan kembali. Tiga kali Yesus bertanya apakah Petrus mengasihiNya, dan tiga kali pula Petrus menjawab dengan tegas bahwa ia mengasihi Yesus. Selanjutnya tiga kali pula Yesus merespon dengan "Gembalakanlah domba-domba-Ku." (Yohanes 21:15-17). Petrus mengalami pemulihan hubungan. Ia diberi kesempatan untuk menyatakan kembali kasihnya kepada Yesus, bertobat dan kembali bangkit untuk berjalan bersama Tuhan. Petrus tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, dan kita tahu bagaimana Petrus tetap teguh melayani sampai akhir hayatnya. Sebuah pemulihan indah penuh pengampunan atas kesalahan Petrus yang begitu besar. Tuhan tidak membuang orang yang bertobat sungguh-sungguh. Dia menerima kembali dengan tangan terbuka tanpa melihat apapun kesalahan yang pernah dilakukan. Akan halnya Petrus, sebuah kalimat singkat dari Yesus mengembalikan retaknya hubungan antara mereka: "Ikutlah Aku." (ay 20).

Firman Tuhan sudah menegaskan hal itu dengan sangat jelas. "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." (1 Yohanes 1:9). Lihatlah disana dikatakan bahwa Tuhan selalu siap mengampuni "SEGALA" dosa kita, dan menyucikan kita dari "SEGALA" kejahatan. Segala, itu artinya seluruhnya. Seperti itulah besarnya kasih Allah yang tak terbatas kepada kita. Pengampunan dan pemulihan atas SEGALA kesalahan ini selalu Dia berikan kepada kita dengan satu syarat, kita harus terlebih dahulu mengakui dosa kita. Sebuah tangis pertobatan yang sungguh-sungguh tidak akan pernah luput dari penglihatan dan pendengaran Tuhan. Tak peduli separah apapun kesalahan yang pernah kita lakukan sebelumnya, setetes air mata pertobatan yang sungguh-sungguh ini akan membawa Tuhan membuka tanganNya untuk memeluk kita kembali, memulihkan, mengampuni dan menyucikan kita dari segala kesalahan di masa lalu, termasuk yang terburuk. Apabila ada di antara anda yang saat ini tengah bersedih akibat dosa yang pernah anda lakukan dalam hidup anda, ingatlah bahwa Tuhan menyediakan pemulihan. Ketahuilah bahwa Dia mendengar pertobatan anda dengan jelas, dan Dia akan dengan senang hati mengulurkan tanganNya dan berkata: "Ikutlah Aku".

Setetes air mata pertobatan yang keluar dari hati hancur akan membawa kita kembali ke dalam tanganNya
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 13, 2013, 05:01:14 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_05_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/cara-hidup-versi-kristus.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/cara-hidup-versi-kristus.html[/url])

 Cara Hidup versi Kristus

Ayat bacaan: Matius 20:25-26a
=========================
"Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu.."

"Kalau orang bersikap keras, kita harus lebih keras lagi." Itu kata seorang teman yang merasa bahwa itu adalah sifat bawaan lahir yang tidak bisa diubah lagi. Ia mengakui bahwa hidupnya tergantung mood, dan ia akan mudah terpancing apabila ada orang yang memprovokasi dirinya. Meski mungkin hanya sedikit saja, ia bisa meledak tak terkendali. Disisi lain ada pula orang-orang yang memerintah bawahannya dengan dingin dan kasar. Itu bagi mereka dianggap sebagai etalase wibawa yang memamerkan posisi mereka kepada bawahan. Bahkan ada banyak orang tua yang menganggap bahwa sikap kasar dan otoriter itu baik untuk diberikan kepada anak-anak mereka. Bahkan sekedar meminta maaf kepada anak pun apabila bersalah dianggap sebagai aib yang memalukan.

Banyak orang yang menganggap bahwa hidup di dunia yang keras dan kejam hanya bisa dimenangkan jika kita lebih keras dan lebih kejam lagi. Lupakan soal moral, lupakan soal menghidupi Firman Tuhan, abaikan kejujuran, kebaikan, keramahan, dan raihlah segalanya sebanyak-banyaknya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Jadilah serakah, arogan, dan usahakan untuk naik jabatan setinggi mungkin dengan cara apapun. Halalkan segala cara, lakukan apa saja yang penting apa yang kita inginkan tercapai. Apa boleh buat kalau harus sikut menyikut, saling menjatuhkan, saling menjelekkan, fitnah, melakukan korupsi dan tindakan-tindakan amoral lainnya. Semua itu tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang salah untuk dilakukan. Justru yang dianggap bodoh adalah orang-orang yang tetap hidup lurus karena itu artinya mereka membuang kesempatan untuk bisa memiliki segalanya. Seperti itulah pandangan banyak orang yang ironisnya semakin mendapat legalitas dari dunia dan dipandang sebagai sebuah hal yang wajar, manusiawi dan biasa.

Apabila hati dan pikiran kita sudah terpengaruh kepada konsep hidup seperti itu, itu tandanya kita sudah sangat jauh dari Tuhan dan belum mengenalNya. Mengapa? Karena konsep kehidupan yang diajarkan Yesus sebenarnya sangat bertolak belakang dengan apa yang dipercaya dunia sebagai tolok ukur keberhasilan atau kesuksesan. Lihatlah pengajaran-pengajaran Kristus tentang cara hidup dalam Kerajaan Allah yang berbeda seratus delapan puluh derajat dengan cara pikir dunia. Beberapa diantaranya malah mungkin terdengar kontroversial bagi yang belum pernah mendengar sebelumnya. Anda ingin menjadi yang terbesar? Dunia berkata kuasai sebanyak-banyaknya, tetapi Yesus justru mengajarkan kita justru merendahkan diri kita sejauh mungkin.

Untuk lebih jelasnya mari kita lihat apa yang tertulis di dalam Alkitab. "Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka." (Matius 20:25) Pemerintah bangsa-bangsa dalam edisi bahasa Inggrisnya disebut dengan "the rulers of the Gentiles", yang artinya para pemimpin bangsa yang tidak mengenal Allah. Ini dilakukan oleh mereka demi kepentingan dan kepuasan pribadi. Posisi orang percaya seharusnya tidak boleh seperti itu. Yesus melanjutkan: "Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu." (ay 26-27). Apakah Yesus hanya memberi teori saja? Sama sekali tidak. Dia sudah mencontohkan langsung dengan cara hidupNya sendiri mengenai hal tersebut ketika turun ke dunia. Dalam kesempatan lain Yesus juga berkata "Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar." (Lukas 9:48).
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 13, 2013, 05:01:50 AM
Quote
Selanjutnya, bagaimana dengan cara menghadapi musuh? Dunia mengajarkan kita untuk membinasakan musuh, kalau perlu menghancurkan mereka berkeping-keping. Tetapi sebaliknya Yesus mengajarkan: "Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu." (ay 38-39). Bukan hanya mengalah dan tidak melawan, tetapi lebih lanjut Yesus mengatakan "Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu."(Matius 5:43-44). Dalam kehidupan Kekristenan, musuh bukan untuk dihancurkan seperti cara pandang dunia, tetapi untuk dikasihi, dibantu dan didoakan. Ini sebuah pengajaran yang mendobrak tatanan atau konsep pemikiran secara radikal pada saat itu yang hingga kini masih dianut oleh banyak orang. Berbeda pandangan apalagi kepercayaan dijadikan banyak orang sebagai alasan untuk melakukan kekerasan, bahkan mereka berani membawa nama Tuhan untuk melegalisir tindakan kekerasan mereka. Itu kita saksikan hingga hari ini, dan itu sama sekali bukan gambaran sikap dari orang-orang yang beriman kepada Kristus.

Konsep kehidupan yang harus kita jalankan sungguh berbeda dengan apa yang dipercaya dunia sebagai kunci kesuksesan. Cara pandang orang percaya dalam menjalani hidup tidak boleh sama seperti cara pandang orang-orang yang tidak mengenal Kristus. Ketika dunia menghalalkan segala cara, kita dituntut untuk melakukan segala sesuatu dengan jujur, tulus dan sungguh-sungguh seperti untuk Tuhan, dan kemudian menyerahkan semuanya sesuai dengan kehendak Tuhan sambil disertai dengan rasa syukur. Dunia boleh membenci, tetapi kita mengasihi. Kesombongan tidak ada dalam kamus kita, dan harus diganti dengan kerendahan hati. Semakin tinggi kita naik, kita harus semakin rendah hati. Memberi bantuan tanpa pandang bulu, termasuk kepada musuh kita. Kita mengucap salam dan mendoakan mereka. Mengasihi tanpa pilih-pilih, dan memuliakan Tuhan dalam segala perbuatan kita. Tidak perlu kalap menimbun uang, tetapi kita justru harus lebih banyak memberi atau menabur,"sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." (Kisah Para Rasul 20:35). Inilah bentuk pengajaran Kristus yang akan membawa kita kedalam damai sukacita sejati menuju kepada keselamatan yang kekal. Mana yang kita pilih, cara pandang dunia atau cara-cara Kristus dalam menyikapi hidup akan sangat menentukan kemana kita menuju kelak. Mari perhatikan baik-baik cara dan sikap hidup kita agar jangan sampai salah langkah.

Cara hidup menurut Kristus berbeda dengan cara pandang dunia, pilih yang mana?
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 14, 2013, 05:19:56 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_05_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/hikmat-melebihi-emas-dan-perak.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/hikmat-melebihi-emas-dan-perak.html[/url])


Hikmat Melebihi Emas dan Perak

Ayat bacaan: Amsal 3:13-14
=====================
"Berbahagialah orang yang mendapat hikmat, orang yang memperoleh kepandaian, karena keuntungannya melebihi keuntungan perak, dan hasilnya melebihi emas."

Dalam persepsi dunia, kekayaan harta dipercaya mampu menjamin kebahagiaan dan kemakmuran. Gaya hidup hedonisme yang banyak dianut oleh orang-orang berada di kota besar berpusat pada pandangan untuk mengejar kesenangan atau kenikmatan sebanyak mungkin lewat segala hal yang ditawarkan dunia. Untuk itu jelas uang merupakan sumber yang sangat krusial, karena kesenangan atau kebahagiaan dunia itu tidak akan pernah bisa diakses tanpa modal harta. Jadi kalau tidak ada uang, kesenangan atau kebahagiaan pun mereka percaya tidak akan bisa mereka peroleh. Tidak heran jika ada banyak orang yang tidak ada habisnya mati-matian menumpuk harta dengan berbagai cara, baik lewat bekerja nonstop dan menomorduakan keluarga dan melakukan berbagai bentuk kecurangan seperti korupsi, penipuan dan lain sebagainya.

Dunia boleh saja mengagungkan harta sebagai sumber kebahagiaan, tapi penulis Amsal justru mengajarkan hal yang sama sekali berbeda. Dikatakan, "Berbahagialah orang yang mendapat hikmat, orang yang memperoleh kepandaian, karena keuntungannya melebihi keuntungan perak, dan hasilnya melebihi emas." (Amsal 3:13-14). Bukan harta, bukan emas dan perak, tapi hikmat. Hikmat ini dikatakan jauh lebih bernilai dibandingkan harta, karenanya inilah yang harus kita prioritaskan lebih dari sekedar menimbun harta duniawi.

Hal ini mungkin agak sulit kita cerna karena kita sudah terlalu terbiasa diajarkan oleh dunia mengenai harta sebagai sumber kebahagiaan. Mengapa kita harus mementingkan hikmat? Bukankah tanpa harta kekayaan kita akan sulit hidup layak? Tentu saja mencari nafkah hidup itu penting. Tuhan sendiri tidak pernah menyuruh kita untuk bermalas-malasan. Kita memang  diharuskan untuk bekerja. Sebegitu kerasnya sehingga dikatakan: "jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan." (2 Tesalonika 3:10). Namun itu bukanlah segalanya. Kita tidak boleh menomorduakan Tuhan, karena selain semuanya pada akhirnya akan sia-sia, kita pun akan kehilangan kesempatan untuk memperoleh hikmat.

Salomo merupakan orang terkaya baik di jamannya dan Alkitab pun sudah mengatakan bahwa tidak ada satu orang pun yang akan sanggup menyamai kekayaan Salomo. Tapi kita juga tahu bahwa Salomo tersohor karena hikmatnya, sesuatu yang ia peroleh dari Tuhan atas permintaannya melebihi hal lainnya. Kita akan membahas hal tersebut dalam kesempatan berikut. Lewat pengalamannya sendiri, Salomo sudah menguraikan manfaat-manfaat yang bisa kita peroleh dari hikmat seperti yang tertulis dalam Amsal 2. Apa saja? Mari kita lihat satu persatu keuntungan yang bisa kita miliki lewat hikmat berikut ini:

- kita akan memperoleh pengertian yang benar tentang takut akan Tuhan (ay 5)
- kita bisa lebih mengenal Allah (ay 5)
- hikmat menjadikan kita orang jujur, tidak bercela, adil dan setia (ay 7-8), sehingga
- dengan demikian kita mendapatkan perlindungan dan pemeliharaan Tuhan. (ay 7-8)
- memampukan kita untuk mengerti tentang apa yang adil, jujur, baik dan benar(ay 9)
- hikmat mendatangkan kebijaksanaan dan pengetahuan (ay 11)
- kita bisa membedakan mana yang baik dan mana yang jahat (ay 12)
- menguatkan kita agar tidak gampang terjebak nafsu kedagingan (ay 16)
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 14, 2013, 05:21:05 AM
Quote
Jika melihat semua ini, kita pun akan menyadari bahwa ternyata ada begitu banyak manfaat yang bisa kita peroleh lewat hikmat, yang jelas berguna bagi kita sebagai bekal untuk menjalani hidup sampai akhir dan memperoleh mahkota kehidupan sebagai pemenang. Itu jelas lebih dari harta yang sifatnya fana dan hanya berlaku sementara saja. Mungkin kebahagiaan bisa kita rasakan dengan kenikmatan hidup yang akan bisa diakses dengan adanya uang, tapi itu adalah sesuatu yang hanya sementara saja. Bahkan dari pemahaman keliru itu kita bisa terjebak dalam begitu banyak hal yang bertentangan dengan Firman Tuhan dan dengan demikian membuat kita kehilangan kesempatan untuk memperoleh sesuatu yang jauh lebih besar yang sudah Tuhan sediakan bagi kita.

Lantas bagaimana kita bisa memperoleh hikmat? Salomo pun sudah memberikan caranya. "jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam, maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan TUHAN dan mendapat pengenalan akan Allah. Karena Tuhanlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian." (ay 4-6). Lihatlah bahwa hikmat bukanlah seperti durian runtuh yang jatuh dari langit begitu saja, bukan pula pembawaan lahir, bukan sesuatu yang berlaku hanya bagi sebagian orang beruntung saja, namun semua itu berasal dari Tuhan dan untuk mendapatkannya dibutuhkan usaha sungguh-sungguh serta keseriusan kita. Lihatlah bahwa ada hubungan atau keterkaitan antara anugerah dari Tuhan dan upaya dari kita sendiri untuk memperoleh hikmat. Jika kita lihat dalam Perjanjian Baru, disana kembali ditegaskan bahwa hikmat ini adalah sesuatu yang berasal dari Tuhan. "sebab di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan" (Kolose 2:3) Tapi untuk memperolehnya dibutuhkan upaya kita yang serius. Yakobus mengatakannya demikian: "Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, --yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit--,maka hal itu akan diberikan kepadanya." (Yakobus 1:5). Lalu Yakobus pun memberikan tips lebih lanjut untuk bisa memperoleh hikmat, yaitu dengan memintanya dalam iman dan percaya. (ay 6). Ini artinya, tanpa iman dan keyakinan teguh, niscaya hikmat tidak akan bisa kita peroleh.

Tuhan siap, bahkan rindu untuk menganugerahkan hikmat kepada anak-anakNya. Dia sangat rindu untuk melengkapi anak-anakNya dengan bekal yang cukup untuk melewati hari-hari yang sulit, sehingga semua anakNya akan mampu mencapai garis akhir dengan baik, menjadi pemenang dengan gemilang dan memperoleh mahkota kehidupan seperti yang Dia janjikan. Tanpa hikmat kita akan kesulitan untuk hidup lurus dan bisa menyerah di tengah jalan. Akibatnya kita pun kehilangan hak kesulungan kita dan berakhir di ujung yang salah. Betapa pentingnya hikmat bagi kehidupan kita. Oleh karena itu kejarlah hikmat dan terimalah semua berkat dan janji Tuhan.

Tuhan memberkati dan melindungi setiap orang yang memiliki hikmat
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 15, 2013, 03:15:49 PM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_05_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_05_01_archive.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_05_01_archive.html[/url])

 Bahaya Dosa

Ayat bacaan: Wahyu 9:21
====================
"Dan mereka tidak bertobat dari pada pembunuhan, sihir, percabulan dan pencurian"

Suatu kali seorang pendeta di gereja saya menyampaikan kotbah akan bahaya bermain-main dengan dosa meski seringkali dosa itu dikemas dengan sebuah kesenangan atau kenikmatan yang rasanya berat untuk dilewatkan. Ditengah kotbah saya mendengar komentar dari seseorang yang duduk dibelakang saya, kira-kira bunyinya begini: "Kalaupun hanya sementara memangnya kenapa? Toh setidaknya saya sempat merasakan kenikmatan itu." Bentuk pemikiran seperti itu ironisnya dialami oleh banyak orang. Betapa beratnya putus dari dosa. Kalau bukan karena pemikiran pendek seperti orang yang duduk dibelakang saya itu, alasannya karena sulit bagi mereka untuk bisa benar-benar lepas dari sesuatu yang sudah terasa nikmat sekian lama. Mereka ini akan terus berkubang dalam lumpur dosa dan sulit mengindahkan nasihat agar cepat berbalik sebelum semuanya menjadi terlambat. Sudah terang-terangan kena konsekuensinya pun mereka masih saja terus melanjutkan tindakan mereka yang salah. Bukankah kita kerap bertemu dengan tipikal orang-orang seperti ini? Jika sekarang ada banyak orang yang terlena dalam dosa dan sulit untuk putus dari dosa, sebenarnya itu bukan lagi hal baru karena hal yang sama sudah terjadi sejak dahulu kala. Begitu berbahayanya hal ini sehingga dalam kitab terakhir yaitu Wahyu yang berisi nubuatan tentang akhir zaman pun pola pikir atau sikap yang sama masih saja ada.

Dalam kitab Wahyu pasal 9 kita bisa melihat contohnya. Dikatakan disana, bahkan setelah sangkakala ke enam ditiup dan penghukuman berlanjut, masih saja ada manusia yang belum kapok dan tidak kunjung berhenti dari perbuatan-perbuatan dosanya.

" Tetapi manusia lain, yang tidak mati oleh malapetaka itu, tidak juga bertobat dari perbuatan tangan mereka: mereka tidak berhenti menyembah roh-roh jahat dan berhala-berhala dari emas dan perak, dari tembaga, batu dan kayu yang tidak dapat melihat atau mendengar atau berjalan, dan mereka tidak bertobat dari pada pembunuhan, sihir, percabulan dan pencurian." (Wahyu 9:20-21).

Lihatlah bahwa hingga di saat-saat terakhir sekalipun masih saja ada orang yang tidak jera dan tidak bisa sadar, meski malapetaka sudah hadir tepat di depan mereka. Fakta berbicara, dalam hidup kita hari ini ada begitu banyak orang yang mengambil keputusan sama seperti mereka. Meski berbagai hukuman berat sudah nyata di depan mereka dan sudah banyak pula yang berakhir sia-sia dalam penjara, meski berbagai bencana seharusnya membuka mata mereka, masih saja ada banyak orang yang tega melakukan kecurangan, mengambil apa yang bukan menjadi miliknya. Korupsi, mencuri dan sebagainya masih dengan sadar mereka lakukan tanpa peduli orang lain menderita atau melarat. Begitu pula dengan dosa-dosa lainnya seperti pornografi, memasukkan benda-benda asing yang berbahaya ke dalam tubuh hingga mengakhiri nyawa orang lain tanpa ragu. Betapa keras sudah hati mereka sehingga apapun tidak lagi bisa membuat mereka bertobat. Mereka tidak lagi mendengar hati nurani mereka, atau mungkin hati nuraninya pun sudah berhenti berbicara. Bisa dibayangkan apa jadinya orang-orang seperti ini kelak. Di dunia mereka bisa berkelit, tetapi di tahta penghakiman Allah tidak satupun yang luput dari setiap kejahatan atau penyimpangan yang dilakukannya.

Bentuk ketidakpedulian yang tega berbuat jahat demi keuntungan diri sendiri ini sudah diingatkan sejak dahulu dalam Alkitab. "sedangkan orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan." (2 Timotius 3:13) Orang yang terbiasa berbuat jahat akan membuat orang semakin dingin dan tidak lagi bisa mendengar teguran Tuhan. Tuhan Yesus sejak jauh hari sudah mengingatkan akan hal ini. "Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin." (Matius 24:12).
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 15, 2013, 03:16:16 PM
Quote
Sangatlah besar resikonya apabila kita terus membiarkan dosa terus menumpuk hingga membuat kita tidak lagi peka atau menjadi tuli terhadap teguran Tuhan. Jika kita terbiasa atau membiasakan diri untuk terus melakukan dosa, pada suatu saat hati kita bisa menjadi dingin, mengeras membatu dan ketika itulah kita tidak lagi memiliki kontrol atas diri kita. Kita tidak lagi bisa membedakan yang salah dan benar, baik dan buruk, dan ketika itu terjadi maka dosa pun memiliki kuasa penuh atas hidup kita. Itu jelas hal yang sangat serius. Hati tidak lagi peka, bahkan berbagai kesaksian yang jelas-jelas menyatakan kuasa Kristus pun tidak lagi bisa membuka mata orang-orang seperti ini. "Tetapi Aku telah berkata kepadamu: Sungguhpun kamu telah melihat Aku, kamu tidak percaya." (Yohanes 30:36). Berhati-hatilah, karena Firman Tuhan dengan tegas berkata "Siapa bersitegang leher, walaupun telah mendapat teguran, akan sekonyong-konyong diremukkan tanpa dapat dipulihkan lagi." (Amsal 29:1).

Bersyukurlah jika ini kita masih punya kepekaan untuk menyadari jalan-jalan yang salah. Langkah selanjutnya adalah memastikan agar kita jangan terus keraskan hati. Jangan terus menunda, ambillah keputusan sekarang juga untuk bertobat, mumpung kesempatan masih ada. Firman Tuhan berkata: "..Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu.." (Ibrani 3:7-8). Lewat perantaraan nabiNya Tuhan juga bersabda: "Kata mereka: Bertobatlah masing-masing kamu dari tingkah langkahmu yang jahat dan dari perbuatan-perbuatanmu yang jahat; maka kamu akan tetap diam di tanah yang diberikan TUHAN kepadamu dan kepada nenek moyangmu, dari selama-lamanya sampai selama-lamanya." (Yeremia 25:5). Ambil keputusan untuk putus total dari dosa dan jangan beri toleransi lagi sekecil apapun. Konsekuensinya bukan main-main. Bagi yang bertobat akan diberikan hak sebagai ahli waris Tuhan, namun yang terus menolak akan dibuang selamanya dari tanah yang diberikan Tuhan. Sesungguhnya ini merupakan hal serius karena apa yang dikatakan Tuhan bukan hanya sekedar berbicara mengenai hilangnya berkat akibat dosa, tapi juga berbicara mengenai hilangnya keselamatan dan kasih karunia Tuhan bagi kita.

Kedatangan Yesus ke dunia adalah karena ada dosa kita. Tuhan merasa perlu untuk menganugerahkan apa yang sesungguhnya tidak layak kita terima, yaitu keselamatan. Tuhan Yesus sudah membereskan itu semua. Bersyukurlah untuk itu, jangan sampai penebusan Kristus menjadi sia-sia karena kita terus menerus membiarkan dosa berkuasa dalam hidup kita. Kita tidak akan pernah bisa berjalan bersama Kristus dan menerima janji-janjinya jika sementara pada saat yang sama masih terus hidup di dalam dosa.

Say no to sin in whatever condition
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 16, 2013, 04:58:54 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_05_01_archive.html[/url]
renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/penundukan-diri.html


Penundukan Diri

Ayat bacaan: Lukas 2:51
=======================
"Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya."

Ada banyak orang yang bermasalah dengan penguasaan diri. Belum apa-apa mereka sudah menunjukkan keengganan untuk setia dan taat kepada instansi dimana mereka bekerja atau kepada pimpinan. Mereka melanggar peraturan seenaknya, dan malah tersinggung atau marah ketika mendapat teguran. Harga diri disetel terlalu tinggi tapi disisi lain mereka berbuat sesuka hati. Kita sering bertemu dengan orang-orang yang bersikap seperti ini, mudah-mudahan kita tidak termasuk di dalamnya. Masalah penundukan diri, sikap kerendahan hati itu menjadi isu yang penting untuk kita perhatikan. Dan hari ini kita bisa belajar langsung dari keteladanan Yesus sendiri ketika masih kecil.

Pada suatu kali Yesus yang masih berusia 12 tahun pergi ke Yerusalem untuk merayakan Paskah bersama kedua orang tuanya. Setelah perayaan usai, Maria dan Yusuf baru sadar bahwa ternyata Yesus tidak berada bersama mereka, dan ketika itu mereka sudah ditengah perjalanan. Mereka pun segera berbalik kembali Yerusalem untuk mencari Yesus. Saya bisa membayangkan betapa cemasnya orang tua yang kehilangan anaknya di tempat ramai seperti itu. Dan perjalanan kembali untuk mencari itu pun makan waktu yang lama. Alkitab mencatat bahwa tiga hari kemudian barulah mereka berhasil menemukan Yesus yang ternyata ada di dalam Bait Allah. "Sesudah tiga hari mereka menemukan Dia dalam Bait Allah; Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka." (Lukas 2:46). Kecerdasan Yesus dalam menjawab para alim ulama itu sungguh mencengangkan mereka, termasuk pula Maria dan Yusuf. Seperti orang tua pada umumnya, saat itu Maria dan Yusuf pasti diliputi perasaan campur aduk, antara lega dan marah. Maka mereka pun menegur Yesus karena menghilang diam-diam seperti itu. Dan lihatlah, meski dalam Alkitab tercatat bahwa Yesus sempat mengatakan bahwa memang disanalah Dia harus berada, yaitu di dalam rumah Bapa (ay 49), tetapi Yesus mengambil keputusan untuk taat dan tunduk kepada orang tuanya di dunia ini. Ayat selanjutnya menggambarkan hal tersebut. "Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya." (ay 51). Yesus memutuskan untuk taat mengikuti permintaan keuda orang tuaNya. Ia pulang ke Nazaret mengikuti mereka dan tetap hidup dalam asuhan mereka. Yesus tahu benar bahwa penundukan diri adalah hal yang pertama sekali harus dilakukan sebelum menerima sebuah otoritas.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 16, 2013, 05:01:36 AM
Quote
Hidup dengan penundukan diri seringkali merupakan hal yang tersulit untuk kita lakukan. Kita akan berhadapan dengan ego kita, kebanggaan diri atau bagi sebagian orang dianggap bisa merendahkan harga diri mereka. Dengan sikap seperti ini, bukan saja kita akan mendapat masalah dalam karir, keluarga atau hubungan sosial dalam masyarakat, tetapi kita pun melanggar Firman Tuhan yang ternyata banyak berbicara mengenai soal penundukan diri ini. Kita bisa melihat sebuah Firman Tuhan yang turun atas diri sang Penulis Ibrani berbunyi demikian: "Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu." (Ibrani 13:17). Lihatlah bahwa mentaati pemimpin dan tunduk atas otoritas mereka merupakan sesuatu yang sangat penting di mata Tuhan. Jika tidak dilakukan maka Firman Tuhan berkata kita tidak akan mendapatkan keuntungan dalam hidup kita. Dan itupun harus dilakukan dengan sukarela dan gembira dan bukan atas keterpaksaan. Pemimpin disini menyangkut pemimpin baik di rumah, kantor, kota, negara maupun gereja. Titus 3:1 mengingatkan hal yang sama. "Ingatkanlah mereka supaya mereka tunduk pada pemerintah dan orang-orang yang berkuasa, taat dan siap untuk melakukan setiap pekerjaan yang baik." Ayat yang serupa bisa kita lihat pula melalui Paulus dalam Kolose 3:22 dan Efesus 6:5 yang menyebutkan bahwa kita harus taat kepada tuan di dunia sama seperti kita taat pada Kristus. Petrus berkata: "Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi, maupun kepada wali-wali yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat baik." (1 Petrus 2:13-14). Penundukan terhadap otoritas atasan bahkan dikatakan bukan saja kepada yang baik tetapi kepada yang berlaku kejam sekalipun. "Hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan kepada tuanmu, bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada yang bengis." (1 Petrus 2:18).

Selain kepada atasan, penundukan diri juga menyangkut bentuk-bentuk hubungan lainnya. Anak-anak hendaklah tunduk kepada orang tuanya (Efesus 6:1, Kolose 3:20), istri tunduk kepada suami (Kolose 3:18, Efesus 5:22, 1 Petrus 3:1), anak muda tunduk kepada yang lebih tua (1 Petrus 5:5) dan tentu saja di atas segalanya kita harus menundukkan diri kepada Kristus. Firman Tuhan berkata: "Maka sekarang, hai orang Israel, apakah yang dimintakan dari padamu oleh TUHAN, Allahmu, selain dari takut akan TUHAN, Allahmu, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, mengasihi Dia, beribadah kepada TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, berpegang pada perintah dan ketetapan TUHAN yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, supaya baik keadaanmu." (Ulangan 10:12-13). Semua ini merupakan hal yang penting untuk kita perhatikan. Kita harus mampu meredam ego agar kita bisa mengaplikasikan sikap penundukan diri seperti yang diinginkan Tuhan. Untuk itu jelas diperlukan sebuah kerendahan hati untuk bisa mempraktekkan sikap ini dalam hidup kita. Apakah hari ini diantara teman-teman ada yang sedang bermasalah dengan sikap penundukan diri ini, baik dengan anggota keluarga, orang tua, dalam pekerjaan, sekolah atau pelayanan? Jika ya berdoalah dan berusahalah untuk memperkuat sikap rendah hati sehingga anda bisa belajar tunduk kepada otoritas orang yang berada di atas anda. Yesus sendiri sudah mencontohkan bahwa penundukan diri merupakan hal yang sangat penting untuk kita lakukan sebelum menerima otoritas yang lebih tinggi lagi. Percayalah bahwa kasih karunia Allah akan memberikan kekuatan bagi anda untuk dapat melakukannya dan mengalahkan ego dalam kehidupan anda.

"..Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati." (1 Petrus 5:5)
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 17, 2013, 04:50:49 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_05_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/belajar-dari-jemaat-efesus.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/belajar-dari-jemaat-efesus.html[/url])

 Belajar dari Jemaat Efesus

Ayat bacaan: Wahyu 2:2-4
========================
"Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta. Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah. Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula."

Melayani Tuhan dan melakukan pekerjaanNya merupakan pekerjaan mulia yang sebenarnya menjadi kewajiban kita sebagai orang percaya. Karena itu, adalah sangat baik apabila anda saat ini sudah masuk ke dalam pelayanan dalam bentuk apapun dan memuliakan Tuhan di dalamnya. Sayangnya, ada banyak yang kemudian malah menjadi terfokus pada kesibukan pelayanan dan tidak lagi punya waktu untuk mengenal pribadiNya secara lebih jauh. Atau ada pula yang melayani karena takut tidak selamat dan bukan karena mengasihi Tuhan. Maria dan Marta mungkin menjadi contoh yang paling baik dalam hal ini. Keduanya melakukan hal yang baik, tapi lihatlah bagaimana tanggapan Yesus terhadap keduanya. Ketika Marta dikatakan sibuk sekali melayani (Lukas 10:40), Maria justru memilih untuk diam di kaki Tuhan dan terus mendengar perkataanNya. (ay 39). Dan Yesus pun berkata demikian: "Tetapi Tuhan menjawabnya: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya." (ay 41-42). Adalah baik ketika kita melakukan pekerjaan Tuhan, tapi kita harus melakukannya atas dasar atau tujuan yang benar, dan diatas segalanya jangan lupakan pula pentingnya untuk berdiam di kaki Tuhan dan mendengarkan perkataanNya.

Hari ini mari kita lihat contoh lain lewat kehidupan jemaat di Efesus. Kota Efesus terletak di Asia Kecil, yaitu kawasan di Asia Barat Daya yang letaknya saat ini kurang lebih di Turki bagian Asia. Kota Efesus merupakan kota tua yang dikenal punya peradaban tinggi selama berabad-abad dan merupakan kota perdagangan yang kaya. Di kota ini pula, seperti halnya daerah Asia Kecil lainnya penduduknya menyembah berhala. Mereka menyembah patung dewi Artemis yang dipercaya jatuh dari langit (Kisah Para Rasul 19:35). Disana kekuatan sihir berkembang pesat, sesuai pengakuan beberapa tukang sihir yang bertobat (ay 19). Keadaan ini membuat usaha pewartaan Injil di Efesus menjadi jauh lebih sulit. Paulus bahkan menggambarkan itu sebagai pelayanan yang banyak mencucurkan air mata, banyak percobaan dan usaha pembunuhan (20:19). Tetapi berkat tuntunan ROH KUDUS, Alkitab mencatat pelayanan Paulus membuahkan hasil luar biasa. Selama 2 tahun Paulus mengajar dengan berani (19:8-10) mulai dari rumah ibadat hingga ruang kuliah Tiranus (19:8-10). Ia juga melakukan mukjizat-mukjizat yang luar biasa (19:11). Semua ini membuat Firman Tuhan terdengar oleh semua orang (ay 10) dan makin berkuasa (ay 20).

Jemaat di Efesus dikenal sebagai jemaat yang setia dan penuh semangat penginjilan. Mereka tidak terpengaruh pada lingkungan disekeliling mereka yang menyembah berhala. Meski mungkin sulit, mereka dikatakan selalu menjaga integritas mereka, mereka punya karunia mampu membedakan rasul palsu dari yang asli. "Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta." (Wahyu 2:2). Mereka rela menderita dan tidak kenal lelah. (ay 3). Semua ini diketahui benar oleh Tuhan. Luar biasa bukan? Tapi lihatlah ayat selanjutnya, Tuhan menegur mereka. Mengapa demikian? Firman Tuhan berkata: "Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula." (ay 4). Meski mereka giat dalam pelayanan, tetapi Tuhan menegur mereka karena mereka meninggalkan kasih mula-mula. Artinya mereka lebih memprioritaskan "pekerjaan Tuhan" daripada kerinduan untuk mengenal lebih jauh "pribadi Tuhan" dan mengasihiNya seperti semula.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 17, 2013, 04:51:28 AM
Quote
Dari jemaat Efesus kita bisa belajar bahwa memang penting untuk melakukan pekerjaan Tuhan, namun lebih penting lagi bagi kita untuk menjaga keintiman dengan Tuhan secara konsisten. Kita harus tetap mengarahkan fokus pada kasih yang semula agar fokus tidak berpindah kepada "sekedar menjalankan tugas dan kewajiban" dan akibatnya kehilangan kasih yang semula, kasih yang meluap-luap ketika kita pertama kali menerima Kristus. Menjaga keintiman dengan Tuhan akan membuat kasih mula-mula tetap ada dalam diri kita. Tekun berdoa, tidak meninggalkan saat teduh, meluangkan waktu-waktu khusus untuk berdiam di hadiratNya, memanjatkan pujian/penyembahan dengan penuh rasa syukur dan suka cita, semua itu akan membuat roh kita tetap menyala dalam kasih mula-mula. Agar pelayanan kita berkenan bagi Tuhan, marilah kita tetap menjaga bahwa apapun yang kita kerjakan adalah semata-mata demi kemuliaanNya, karena kita begitu mengasihiNya, bukan karena sekedar sebuah tuntutan semata.

Tetapkan prioritas yang benar agar semua yang kita lakukan berkenan dihadapan Tuhan
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 18, 2013, 05:30:44 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_05_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/tetap-bersyukur-dan-bersukacita-dalam.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/tetap-bersyukur-dan-bersukacita-dalam.html[/url])

 Tetap Bersyukur dan Bersukacita Dalam Situasi Sulit

Ayat bacaan: Mazmur 52:11
======================
"Aku hendak bersyukur kepada-Mu selama-lamanya, sebab Engkaulah yang bertindak; karena nama-Mu baik, aku hendak memasyhurkannya di depan orang-orang yang Kaukasihi!"

Ada sebuah kalimat yang pernah saya baca bunyinya begini. "Rasa sakit itu sifatnya pasti, namun menderita itu adalah pilihan". Coba renungkan baik-baik perkataan ini. Kita memang tidak bisa menghindari berbagai rasa sakit untuk mendera kita pada saat-saat tertentu, apakah itu rasa sakit secara fisik atau psikis seperti sakit hati, kecewa, patah hati, sedih dan sebagainya. Tapi apakah kita menderita karenanya, itu dikatakan sebagai sebuah pilihan alias optional. Kedagingan kita memang membuat kita harus merasakan rasa sakit dan itu tidak bisa kita anggap tidak ada, tetapi kita bisa memilih apakah kita harus dikuasai rasa menderita atau tetap bersukacita, karena itu semua tergantung keputusan kita dalam menyikapinya.

Saya ingat seorang hamba Tuhan di gereja saya dan sekarang sudah kembali ke rumah Bapa. Di saat-saat terakhir masa hidupnya ia ternyata masih setia melayani di gereja. Meski kondisinya terlihat semakin menurun, wajahnya tetap menyiratkan sukacita dan tetap tersenyum dan memuji Tuhan kepada setiap orang yang menyalamnya. Apa yang ia hadapi pada waktu itu bukanlah penyakit ringan, melainkan penyakit serius yang akan membuat siapapun yang mengalami akan merasa kehilangan harapan, yaitu kanker. Penyakit yang ia derita membuatnya harus bolak balik ke Singapura pada waktu itu untuk menjalani kemoterapi. Dari hasil pemeriksaan terakhir, diketahui bahwa kankernya sudah meluas dan menyebar ke beberapa bagian tubuh. Itu sangat berat. Tapi lihat bagaimana beliau masih terus setia melayani dengan penuh sukacita. Wow, itu luar biasa! Dia terus bersaksi bahwa Tuhan itu baik. Ia berkata bahwa ia tetap percaya Tuhan akan selalu memberikan yang terbaik kepadanya dan keluarga, dan Tuhan pun akan selalu menguatkan dirinya untuk tetap teguh dalam pelayanan. Ketika sebagian orang sudah menyerah, putus asa dan tidak lagi memiliki hasrat untuk melakukan apapun, ia tetap setia tampil di depan melakukan pekerjaan Tuhan. Ini sebuah sikap yang sungguh mengagumkan. Saya terharu dan merasa sangat diberkati lewat sikap beliau. Sakit atau tidak, ia tetap tampil seperti tanpa beban. Ia tetap bersukacita, ia tetap tersenyum, meski apa yang sedang ia derita sangatlah serius. Mengingat masa-masa akhir beliau membawa saya kembali kepada ayat-ayat dalam kitab Mazmur yang berasal dari keteguhan iman Daud. Daud tidak pernah berhenti untuk bersyukur dalam kondisi separah apapun.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 18, 2013, 05:31:11 AM
Quote
Daud pada suatu kali mengatakan "Aku hendak bersyukur kepada-Mu selama-lamanya, sebab Engkaulah yang bertindak; karena nama-Mu baik, aku hendak memasyhurkannya di depan orang-orang yang Kaukasihi!" (Mazmur 52:11). Dalam banyak kesempatan lain pun Daud berulang kali menyatakan ucapan syukurnya. Daud bukanlah orang yang hidup tanpa masalah. Justru sebaliknya ia berkali-kali mengalami situasi sulit bahkan yang mengancam nyawanya selama masa hidupnya sejak kecil hingga tua. Tentu tidak gampang untuk bisa mencapai tingkat seperti Daud, karena seringkali rasa sakit itu menyiksa, penderitaan terasa berat, beban masalah melemahkan diri maupun rohani kita. Itu akan kita alami sewaktu-waktu. Tetapi jangan biarkan kita menyerah dan menuruti segala kelemahan daging.

Bagaimana caranya? Paulus memberikan tips penting yaitu dengan mengarahkan fokus pandangan ke arah yang tepat. "Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal." (2 Korintus 4:18) Inilah kunci bagaimana Paulus dan rekan-rekannya tidak tawar hati meski mereka kerap mengalami penyiksaan dan penderitaan dalam menjalankan pelayanan mereka. Paulus dan teman-teman sepelayanannya tidak memfokuskan diri mereka kepada sesuatu yang kelihatan, hal-hal duniawi, namun mereka terus fokus mengarahkan pandangan kepada yang tidak kelihatan, kepada perkara-perkara Surgawi, segala sesuatu yang mengarah kepada kehidupan selanjutnya yang kekal. Paulus dan kawan-kawan tahu bahwa mengarahkan pandangan hanya kepada yang kelihatan hanyalah akan membuat mereka lemah dan kemudian menyerah. Namun mengarahkan pandangan kepada kehidupan yang kekal kelak bersama Kristus dimana tidak ada lagi yang namanya penderitaan dan tangisan, itu akan membuat mereka terus bersemangat dan tidak kehilangan harapan. Dalam suratnya untuk jemaat Kolose, ia mengulangi hal ini. "Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah." (Kolose 3:1). Dan dengan tegas ia berkata "Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi." (ay 2). Ini sebuah kunci penting yang patut kita teladani dalam menjalani hidup. Dan itulah yang diamini pula oleh bapak penderita kanker di atas semasa hidupnya.

Kembali kepada kutipan di awal renungan ini, "Rasa sakit itu sifatnya pasti, namun menderita itu adalah pilihan", ingatlah bahwa meski rasa sakit itu pasti dan nyata, tetapi menderita atau tetap bersukacita tergantung dari keputusan kita. Apa yang dikatakan Paulus pun menjadi begitu relevan dan baik untuk kita cermati, bahwa tidaklah tepat untuk mengarahkan fokus kepada hal-hal di dunia yang hanya sementara sifatnya. Mengarahkan kepada kekekalan, dimana tidak lagi ada penderitaan dan ratap tangis, dimana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah, itu jauh lebih penting. Dan untuk menuju kesana, kita harus tetap mengarahkan pandangan kita kepada apa yang kekal itu. Untuk itu, hendaklah kita senantiasa mengucap syukur dalam segala hal, baik suka maupun duka, senang maupun susah, sehat maupun sakit. "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu." (1 Tesalonika 5:18). Tidak ada yang mustahil bagi Allah, namun di atas itu semua, apapun yang menjadi rencanaNya tetap yang terbaik bagi kita. No matter what it may be. Allah itu setia, dan telah menyediakan segalanya sesuai janjiNya. Sementara hidup ini hanya sementara, kekekalan jelas lebih penting. Itulah yang menjadi pegangan iman dari sang bapak di atas untuk tetap terus bersukacita dan tidak henti-hentinya bersyukur mengatakan bahwa Tuhan itu baik meski ia waktu itu tengah berada dalam masa-masa tersulit dalam hidupnya. Ia terus mengatakan itu hingga akhir hayatnya. Mampukah kita berdiri tegar seperti dirinya dan keluar sebagai pemenang pada akhir perjalanan hidup kita? Mari kita teladani sikap beliau. Teruslah berjuang dengan pengharapan penuh dipenuhi ucapan syukur hingga akhir agar segala yang dijanjikan Tuhan tidak menguap sia-sia.

Dunia ini hanya sementara, tapi Surga itu kekal
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 19, 2013, 05:11:23 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_05_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/pernikahan-yang-kekurangan-anggur.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/pernikahan-yang-kekurangan-anggur.html[/url])

 Pernikahan yang Kekurangan Anggur

Ayat bacaan: Yohanes 2:3
=================
Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: "Mereka kehabisan anggur."

Sebuah pernikahan seyogyanya merupakan sebuah jenjang kehidupan yang membawa kebahagiaan dan damai sejahtera. Bagi saya, keluarga seharusnya membuka kesempatan bagi kita untuk memahami nilai-nilai kebersatuan, apalagi Tuhan sendiri sudah menyatakan bahwa "...di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka." (Matius 18:20). Bayangkan betapa indahnya ketika kedamaian hadir di dalam keluarga dengan merasakan kehadiran Tuhan tepat ditengah kita. Sayangnya yang sering terjadi justru sebaliknya. Keluarga bukan lagi dianggap sebagai surga tetapi malah neraka dunia. Perselisihan, ketidakcocokan, perang ego dan sejenisnya kerap membuat keluarga tidak lagi sejuk tetapi sangat panas. Di televisi kita melihat pasangan-pasangan selebritis yang selama ini dikagumi banyak orang akhirnya berakhir di tahun yang sedang kita jalani sekarang, melanjutkan 'trend' dari lusinan pasangan lain pada tahun-tahun sebelumnya. Komunikasi antar anggota keluarga menjadi semakin jarang, masing-masing sibuk dengan dunianya. Meski hadir dekat secara fisik, belum tentu jiwanya pun dekat. Pertanyaannya, pentingkah keluarga di mata Tuhan? Dan jika penting, bagaimana caranya kita bisa membentuk sebuah keluarga yang penuh kasih, atau memeliharanya agar tetap kokoh?

Dengarlah: keluarga merupakan hal yang sangat penting di mata Tuhan. Lihatlah bagaimana Tuhan mengatakan kesedianNya untuk secara langsung menjadi saksi dalam pernikahan (Maleakhi 2:14-16), yang merupakan awal dari terbentuknya sebuah keluarga. Jika keluarga itu tidak penting, buat apa Tuhan repot-repot memateraikannya secara langsung? Bukti lain akan pentingnya keharmonisan keluarga di mata Tuhan bisa kita lihat pula dari fakta bahwa mukjizat yang menyertai pelayanan Kristus dalam kehadiranNya di muka bumi ini justru berawal dari sebuah pesta pernikahan yang kekurangan/kehabisan anggur.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 19, 2013, 05:11:52 AM
Quote
Ayat bacaan hari ini saya ambil dari Injil Yohanes yang menceritakan sebuah kisah tentang kehadiran Yesus dalam pesta perkawinan di Kana. Dikisahkan pada waktu itu Yesus dan murid-muridNya hadir disana, begitu pula ibu Yesus. Normalnya sebuah pesta, tentu persiapan untuk mampu memenuhi kebutuhan sesuai jumlah tamu seharusnya sudah dipersiapkan dari jauh hari. Tetapi yang terjadi adalah kedua mempelai justru kehabisan anggur. "Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: "Mereka kehabisan anggur." (Yohanes 2:3). Kita tentu sudah tahu apa yang terjadi selanjutnya, Yesus mengubah air menjadi anggur, bukan sekedar anggur biasa tetapi anggur yang baik (ay 8). Kisah ini tidak lagi asing bagi kita dan bisa diaplikasikan dalam banyak hal. Tapi untuk hari ini, mari kita fokus kepada ayat bacaan kita. Sebuah pernikahan yang kekurangan, lalu kehabisan anggur. Ini merupakan sebuah gambaran yang cukup jelas mengenai sebuah pernikahan yang tidak lagi punya sukacita dan damai sejahtera. Pernikahan yang tidak lagi manis tetapi kering dan tawar, atau mungkin malah pahit.

Tuhan menganggap penting hal ini dan mengangkat tema kebersatuan dalam begitu banyak bagian Alkitab. Jika anda membaca Yohanes 7:9-11 anda akan menemukan bahwa Tuhan Yesus secara khusus berdoa bagi kita semua agar bisa menjadi satu sama seperti Yesus dan Bapa. Lantas dalam ayat 21-23 Yesus menekankan bahwa kebersatuan dalam keluarga bahkan bisa membawa kesaksian kepada dunia bahwa Yesus diutus langsung oleh Allah dan bahwa Allah mengasihi kita semua sama seperti Dia mengasihi Kristus. Selanjutnya dalam Mazmur kita juga bisa melihat bahwa kehidupan bersama dengan rukun mampu menurunkan berkat yang melimpah. "...Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya. eperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya."  (Mazmur 133:1-3). Ini pun menunjukkan bagaimana pentingnya keharmonisan dalam keluarga di mata Tuhan.

Bagaimana apabila sebuah pernikahan atau keluarga sudah terlanjur kekurangan atau bahkan kehabisan anggur? Kembali kepada kisah pernikahan di Kana, kita bisa melihat bahwa tidak pernah ada kata terlambat. Yesus mampu memulihkan sebuah pernikahan yang sudah keburu hancur untuk kembali pulih atau malah jauh lebih manis dari sebelumnya. Itu bukanlah hal yang sulit bagiNya. Apa yang sulit adalah bagi kita untuk mempercayai janji Tuhan dan menuruti FirmanNya agar bisa mengalami pemulihan. Hari ini saya secara khusus berdoa buat teman-teman yang sedang mengalami masa-masa sulit dalam hubungan keluarga, baik antara suami-istri, orang tua-anak, antar saudara dan sebagainya. Percayalah, Yesus mampu memulihkan dan memberkati keluarga anda dengan limpahan anggur terbaik.

Keluarga harmonis itu penting di mata Tuhan, pastikan agar tidak kehabisan anggur!
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 20, 2013, 05:01:53 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_05_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/prinsip-saling.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/prinsip-saling.html[/url])

 Prinsip Saling

Ayat bacaan: Kolose 3:14
================
"Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan."

Kemarin kita sudah melihat bagaimana pentingnya kebersatuan dan keharmonisan dalam keluarga di mata Tuhan. Kisah tentang pernikahan di Kana yang dihadiri Kristus, dimana Dia melakukan mukjizat dan menyelamatkan pernikahan tersebut dari tragedi kehabisan anggur menggambarkan hal tersebut secara jelas dan menunjukkan pula bahwa Tuhan sanggup menyelamatkan pernikahan yang sudah terlanjur hancur untuk kembali manis. Benar, Tuhan sanggup melakukan itu. Tapi adakah yang bisa kita lakukan selain hanya mengharap campur tangan Tuhan saja? Apakah kita cukup hanya berdoa dan berpangku tangan?

Sesungguhnya ada begitu banyak cara yang bisa kita temukan di dalam Alkitab untuk memastikan agar hubungan keluarga tetap berlangsung hangat dan indah, penuh sukacita dan damai sejahtera.
Hari ini saya ingin membagikan 5 Prinsip Saling yang saya harap bisa membantu untuk membangun sebuah kesatuan yang harmonis dalam sebuah keluarga. Mari kita lihat satu persatu.

1. Saling mengasihi
Kasih merupakan hal yang krusial, begitu krusialnya hingga dikatakan bahwa diantara tiga hal penting yaitu "...iman, pengharapan dan kasih, yang paling besar diantaranya ialah kasih." (1 Korintus 13:13). The Bible says, the greatest of those is love. Lalu lihatlah apa yang dikatakan Paulus dalam surat Kolose 3:13-14. "Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan." Perhatikan bahwa kesabaran, rendah hati untuk mengampuni belumlah cukup, karena di atasnya haruslah ada kasih supaya bisa menjadi kuat. Kasih mampu menjadi tali pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan, the bond of perfectness which binds everything together, completely in ideal harmony. Jadi apabila anda mengatasi setiap permasalahan dalam hubungan keluarga dengan didasari kasih, anda bisa terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

2. Saling mengaku dosa dan mendoakanTumpukan rahasia antar pasangan dan ego yang menghalangi kita untuk mengakui kesalahan lalu meminta maaf seringkali menjadi pemicu retaknya sebuah keluarga. Firman Tuhan mengatakan "Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya." (Yakobus 5:16). Dari ayat ini kita bisa melihat bahwa keharmonisan keluarga pun bisa terjaga apabila para anggotanya terbiasa untuk saling meminta maaf, dengan rendah hati mengakui kesalahan dan kemudian saling mendoakan. Sebuah mesbah keluarga yang rutin dijalankan setiap hari bisa menjadi tempat yang baik dipakai untuk hal ini.

3. Saling mengampuni
Ada kalanya kita sulit mengampuni. Adalah jauh lebih mudah untuk menghakimi ketimbang memaafkan, itu sudah merupakan sifat manusia pada umumnya. Kita bahkan merasa puas jika bisa menyiksa mental orang yang sudah terjatuh lebih lagi hanya demi kepuasan pribadi semata. No, that's not the way. Apa yang dikatakan Tuhan adalah agar kita bersedia atau terbuka untuk saling mengampuni. "Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu." (Efesus 4:32). Tentu tidak seorangpun dari kita mau untuk tidak diampuni Tuhan bukan? Jika kita berani mengharapkan pengampunan dari Tuhan, mengapa kita harus berat untuk memberi pengampunan kepada orang lain, apalagi keluarga sendiri? Ingatlah bahwa sebagai manusia kita tidak sempurna dan tidak luput dari berbuat kesalahan. Once in a while people make mistake, we do too, jadi sangatlah penting bagi kita untuk bisa berbesar hati untuk saling mengampuni agar mampu menikmati hubungan keluarga yang bahagia.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 20, 2013, 05:02:20 AM
Quote
4. Saling Menghargai dan Memuji
Satu hal lainnya yang seringkali bisa menghancurkan sebuah keluarga adalah kurangnya penghargaan antar anggotanya. Bayangkan ketika suami terus menerus merendahkan istrinya, melecehkan atau menyalahkan secara terang-terangan di depan anak-anak, sebaliknya istri yang terus merendahkan suaminya baik dari segi pekerjaan atau peran dalam rumah tangga. Orang tua yang begitu mudahnya mengeluarkan kata-kata negatif kepada anaknya seperti bodoh atau kepada bentuk-bentuk fisik. Tidak terbiasa memuji ketika mereka berbuat benar tapi langsung marah ketika mereka melakukan kekeliruan. Ini bisa menjadi palu yang menghancurkan tembok-tembok keluarga yang tadinya sudah kita bangun dengan kokoh. Perhatikan ayat berikut: "Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat." (Roma 12:10). Dalam bahasa Inggrisnya dikatakan "Love one another with brotherly affection [as members of one family], giving precedence and showing honor to one another." Pesan ini tentu berlaku luas, tetapi tentu sangat baik jika diberlakukan dalam keluarga.

5. Saling SupportJangan pernah mengharapkan keluarga yang harmonis apabila anggotanya berjalan sendiri-sendiri. Kalau sikap cuek atau tidak peduli saja sudah buruk, apalagi jika saling menjatuhkan satu sama lain. Ini tentu bukan cerminan keluarga yang baik. Firman Tuhan sudah mengingatkan kita untuk saling memperhatikan dan saling mendorong/men-support. "Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik." (Ibrani 10:24a). Empati, kepedulian dan kerelaan untuk membagi waktu, materi atau apapun yang ada pada kita menjadi sangat penting dalam hal ini. Sebaliknya kebiasaan untuk tidak peduli, selalu merasa diri paling tahu/paling benar dan suka memaksakan kehendak menjadi hal yang sangat tidak produktif.

Ada begitu banyak prinsip saling lainnya yang mungkin bisa diangkat untuk membangun keluarga yang harmonis, tetapi kelima prinsip yang saya kemukakan di atas bisa menjadi awal yang baik untuk dijadikan dasar. Tidaklah mudah untuk menjaga kehidupan keluarga agar tetap penuh dengan sukacita. Itu memerlukan usaha yang serius dari kita dan jangan pernah lupa untuk meletakkannya dalam tangan dan rencana Tuhan. Satu hal yang pasti, Alkitab sudah menuliskan banyak kunci penting dalam menjaga keindahan rumah tangga. Saya pun masih terus belajar menyempurnakan lagi hubungan dalam keluarga kecil saya, dan berkaca dari pengalaman saya sendiri, kelima point di atas sangatlah besar manfaatnya. Semoga bisa menginspirasi teman-teman lainnya.

Sebuah hubungan yang harmonis dalam keluarga memerlukan usaha serius dan nyata dari para anggotanya
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 21, 2013, 05:21:26 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_05_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/dasar-hidup-suami-istri_20.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/dasar-hidup-suami-istri_20.html[/url])

 Dasar Hidup Suami Istri

Perikop bacaan: Efesus 5:22-33
========================
"Kasih Kristus adalah dasar hidup suami istri."

Salah seorang teman saya menghabiskan masa pacaran selama 10 tahunan dan akhirnya lewat perjuangan berat mereka berhasil masuk ke jenjang pernikahan. Ketika sepertinya kisah mereka berakhir happy ending atau bahagia, perselisihan demi perselisihan ternyata muncul sejak awal pernikahan mereka. Tidak sampai setahun mereka pun mengambil keputusan bercerai, dan sampai hari ini setelah hampir setahun proses itu tidak juga kunjung selesai.

Tidakkah ironis rasanya jika melihat banyak pasangan yang menghabiskan masa pacarannya jauh lebih lama dibandingkan masa pernikahannya? Ini bukan lagi hal baru untuk kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, dan tidak lagi terasa aneh. Ada begitu banyak pasangan yang tidak memiliki dasar kokoh dalam membina bahtera rumah tangganya. Mereka tidak tahu harus berbuat apa dan cenderung untuk meneruskan kebiasaan hidup sehari-hari ketika masih single ketika sudah memasuki hubungan yang tidak lagi sendirian. Bisa dibayangkan, akibatnya bisa runyam bahkan fatal. Tidak heran kalau hari-hari ini kita begitu sering mendengar pernikahan yang berakhir dengan perceraian.

Jika kemarin saya sudah membagi 5 Prinsip Saling yang akan sangat baik jika diaplikasikan dalam keluarga, hari ini mari kita melihat apa sebenarnya yang bisa dijadikan dasar dalam kehidupan rumah tangga, terutama antara suami dan istri. Benar, ada kalanya kita berbeda pendapat dalam mengambil keputusan, itu wajar dan lumrah. Tetapi itu tidak akan pernah boleh menjadi alasan untuk menjerumuskan keharmonisan/kehangatan sebuah pernikahan ke jurang kehancuran. Seharusnya suami dan istri dalam Kekristenan bisa menjadi pasangan yang kokoh, penuh cinta dan sanggup menginspirasi banyak orang, bukan pasangan yang bagaikan sparring partner saling tonjok, menjatuhkan dan melukai dengan disaksikan banyak orang.
Tidak mudah untuk mencari titik temu antara dua pribadi yang berbeda. Semirip-miripnya sifat dua manusia, pasti tetap ada saja hal yang bebeda di antara keduanya.  Sulit, itu pasti. Tetapi bukan berarti tidak bisa. Yang menjadi titik permaslaahan adalah kecenderungan kita menempatkan ego secara berlebihan, atau malah berlindung di balik firman-Firman Tuhan yang diinterpretasikan sendiri dan dipenggal-penggal seenaknya sesuai kebutuhan pribadi tanpa memahami keseluruhan pesan yang telah disampaikan Tuhan, tanpa hikmat tetapi menyalahgunakannya demi kepentingan diri sendiri.

Alkitab memberi sebuah kunci rahasia kesuksesan hubungan rumah tangga yang harmonis seperti yang diuraikan panjang lebar di dalam Efesus 5:22-33. Berbeda dari biasanya, kali ini saya tidak memberi satu ayat bacaan melainkan menganjurkan teman-teman untuk membaca satu perikop dalam Efesus 5.
Perikop dalam Efesus 5:22-33 diberi judul: "Kasih Kristus adalah dasar hidup suami istri" yang secara langsung mengungkapkan dasar yang seharusnya bagi kehidupan suami istri. Bagian ini secara jelas mengungkapkan kunci rahasia dari kesuksesan hubungan. Jika anda membacanya secara lengkap, nyatalah bahwa kedua belah pihak, suami dan istri, sama-sama punya tanggung jawab masing-masing.

Pertama-tama, mari kita lihat kewajiban para istri.  "Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan." (Efesus 5:22). Mengapa harus tunduk? Ayat selanjutnya berkata "karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh." (ay 23). Bagi anda para istri, hendaklah anda tunduk kepada suami seperti halnya anda tunduk kepada Tuhan. Ini adalah hal yang tidak bisa ditawar-tawar atau diberi pengecualian dengan alasan apapun. Kita tidak bisa tunduk pada Tuhan tergantung kondisi bukan? Seperti itu pula seharusnya penundukan diri seorang istri terhadap suaminya. Apapun alasannya, apakah istri yang berpenghasilan lebih besar, istri berperan lebih banyak dalam keluarga, atau alasan lainnya, sebenar-benarnya alasan yang dikemukakan itu tidak serta merta bisa menjadi dalih untuk berlaku sebaliknya. Istri tunduk kepada suami, seperti halnya kepada Tuhan, itu kunci rahasia dari pihak istri. Tapi apakah itu hanya berlaku sepihak? Bolehkah suami menuntut haknya saja tanpa melakukan kewajibannya? Tentu saja tidak. Sebab ayat berikutnya menjabarkan kewajiban-kewajiban dari suami.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 21, 2013, 05:21:52 AM
Quote
Giliran para suami, dengarlah ini: "Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya." (ay 25). Wow, pasti terdengar sangat berat, sebab kita tahu bagaimana cara Kristus mengasihi jemaat. Yesus tidak menyayangkan nyawaNya atau kenyamananNya, bahkan statusNya demi keselamatan para jemaat. Dia rela menyerahkan diri demi kita semua, menggantikan kita semua yang seharusnya terpancang di atas kayu salib dan membawa kita kepada pintu keselamatan. Seperti itulah bentuk dari kasih Kristus. Seperti itulah yang bisa menjadi kunci rahasia kesuksesan hubungan dari pihak suami. Seorang suami harus bisa mengasihi istri anda seperti bagaimana Yesus mengasihi jemaat hingga rela mengorbankan diriNya sendiri. Bersikap kasar dengan meluaki secara fisik atau psikis, membentak, menghina atau mengejek, menjelek-jelekkan istri di hadapan orang lain, bersikap kasar dan perbuatan-perbuatan negatif lainnya tentu berseberangan dengan cara Kristus mengasihi jemaat.

Ternyata syarat berat bagi suami tidak berhenti sampai disitu saja karena kita bisa melihat tambahan lainnya. "Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, karena kita adalah anggota tubuh-Nya." (ay 29-30). Tentu tidak ada satu pun orang pun yang mau menyakiti atau menghancurkan bagian tubuhnya sendiri selama masih punya pikiran waras. Kristus selalu memperhatikan dengan seksama keselamatan kita masing-masing sebagai anggota tubuhNya. Roma 12:1-8 dan 1 Korintus 12:12-31 yang berbicara jelas mengenai kita sebagai anggota dari tubuh Kristus. Seperti itulah seharusnya sang suami harus mengasihi istrinya yang tidak lain adalah bagian yang tidak terpisahkan dari mereka, pasangan kita dimana Tuhan sendiri yang telah menjadi saksi atas janji setia yang diucapkan pada saat menikah seperti yang ditegaskan dalam Maleakhi 2:14.Pernikahan akan menjadikan suami dan istri bukan lagi dua, melainkan satu seperti yang tertulis dalam Matius 19:5-6. Artinya, apabila kita tega menyakiti istri sendiri, itu sama saja dengan menyakiti tubuh sendiri. Itu bukanlah hal yang dilakukan oleh orang waras, dan itu tentu saja bertentangan dengan cara Kristus mengasihi jemaatNya.

Selanjutnya perhatikan bahwa Paulus mengatakan pesan mengenai dasar hidup suami istri ini sebagai sebuah rahasia besar. "Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat." (Efesus 5:32). Rahasia besar? Tidakkah itu berlebihan? Mungkin bagi sebagian orang terdengar seperti itu, tetapi apabila kita melihat banyaknya hubungan pernikahan yang hancur di tengah jalan, yang secara umum diakibatkan oleh ketidakpahaman akan fungsi, tugas, tanggung jawab, posisi, hak dan kewajiban masing-masing, kita bisa mengerti betapa besar rahasia kunci kesuksesan hubungan ini. Ayat ini sudah tertulis sejak ribuan tahun yang lalu, tetapi betapa mengherankannya jika hari ini ternyata masih saja menjadi rahasia besar bahkan di antara orang-orang percaya sekalipun.

Secara ringkas, mari kita lihat kunci rahasia besar tadi. Istri tunduk kepada suami seperti kepada Tuhan (ay 22) dan suami mengasihi istri seperti Kristus mengasihi jemaat (ay 25). Bagi anda yang sudah menikah, mari kita renungkan bersama-sama Efesus 5 ini. Sudahkah kita menjalankannya tepat seperti yang dikatakan disana? Tidak ada hubungan yang seratus persen tanpa masalah, tetapi kunci yang disebut sebagai rahasia besar ini seharusnya mampu menjadi alat yang mampu mencegah pertengkaran, menyelesaikan keretakan, lalu merekatkan kembali hubungan untuk ikatan yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Keharmonisan rumah tangga bukanlah tergantung dari lamanya usia pernikahan, kondisi, situasi dan lain-lain, tetapi seringkali itu tergantung dari bagaimana kita sendiri menyikapi atau menghidupinya. Kita bisa menikmati sebuah keindahan hubungan yang harmonis, puitis penuh romansa, karena kunci rahasianya sudah diberikan Tuhan bagi setiap anda dan saya.

Suami mengasihi istri seperti Yesus mengasihi jemaat, istri tunduk pada suami seperti tunduk kepada Tuhan adalah rahasia besar yang merupakan kunci kesuksesan sebuah hubungan pernikahan
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 22, 2013, 05:15:57 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_05_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/talenta-dan-cakap-1.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/talenta-dan-cakap-1.html[/url])

 Talenta dan Cakap (1)

Ayat bacaan: Amsal 22:29
===================
"Pernahkah engkau melihat orang yang cakap dalam pekerjaannya? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri, bukan di hadapan orang-orang yang hina."

"Anak saya tampaknya punya bakat musik.." demikian kata teman saya mengenai anaknya yang masih berusia 6 bulan. Di usia sedemikian kecil ternyata bakat sudah mulai terlihat. Si bayi sangat suka mendengar musik. Ia akan tersenyum bahkan mengeluarkan suara seperti sedang bernyanyi sambil menggoyang-goyangkan kaki dan terkadang tangannya. Itu terjadi hampir setiap kali ia mendengar lagu, sehingga sang ayah bisa mengetahui bahwa anaknya memiliki ketertarikan istimewa terhadap musik. Tapi meski demikian, bisakah ia langsung menjadi penyanyi atau musisi tanpa pernah belajar? Setelah belajar, apakah mereka bisa langsung sukses atau harus terus berlatih dengan tekun agar kemampuannya bisa terasah baik? Tentu saja, sehebat-hebatnya talenta yang dihadiahkan, kita harus tetap mengasah dan melatih agar apa yang dipercayakan Tuhan kepada kita itu bisa berbuah dan selanjutnya bisa memberkati banyak orang.

Adalah penting untuk mencari tahu atau mengenali talenta-talenta yang sudah disediakan Tuhan dalam hidup kita, tapi tidak kalah penting pula untuk menyadari bahwa anda tidak akan bisa berbuat banyak tanpa terlebih dahulu mengolah talenta atau keahlian-keahlian khusus yang telah Dia berikan. Talenta seringkali hadir dalam bentuk "raw material" yang masih harus lebih dulu diasah agar bisa menghasilkan potensi luar biasa. Kita perlu terlebih dahulu memeriksa dengan seksama apa sebenarnya yang telah Tuhan sediakan bagi kita, berdoa untuk mengetahui apa yang menjadi rencana Tuhan sesungguhnya untuk kita masing-masing. Setiap orang punya panggilan masing-masing sesuai dengan talenta-talenta yang telah disediakan sejak semula. Agar bisa berbuah, kita harus serius dalam mengolahnya. Mengetahui, mengasah, mengembangkan dan mempergunakan potensi yang ada untuk mencapai kesuksesan sehingga mampu memberkati orang lain dan memuliakan Tuhan dalam setiap yang kita lakukan, itulah singkatnya point yang harus kita perhatikan.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 22, 2013, 05:16:16 AM
Quote
Tuhan tidak pernah menginginkan kita untuk menjadi orang yang bekerja setengah-setengah. Tuhan tidak menginginkan kita untuk menjadi orang yang biasa-biasa saja. Jika anda terus mengasah potensi yang ada dalam diri anda, mengasah keterampilan, bakat atau kemampuan-kemampuan khusus dalam diri anda dan dengan sungguh-sungguh mempergunakannya, maka anda akan tampil menjadi orang-orang yang cakap di bidangnya. Itulah yang Tuhan inginkan. Seperti itulah kita seharusnya, menjadi orang-orang yang cakap di bidang masing-masing.

Seperti apa orang yang cakap itu dan dimana posisi seorang yang cakap di masyarakat? Mari kita lihat ayat bacaan hari ini. Salomo mengajukan sebuah kalimat penting akan hal ini. "Pernahkah engkau melihat orang yang cakap dalam pekerjaannya? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri, bukan di hadapan orang-orang yang hina." (Amsal 22:29). Perhatikan kata "cakap" yang disambungkan dengan kata pekerjaan. Dalam versi bahasa Inggris kata cakap disebut dengan "dilligent and skillful" alias "rajin dan ahli." Itulah yang dimaksudkan lewat kata "cakap", seperti itulah seharusnya gambaran dari orang-orang percaya. Bukan setengah-setengah, bukan asal jadi dan bukan pula pas-pasan. Di sini tercakup hal mengetahui potensi dalam diri kita, lalu mengolah, mengasah dan mempergunakannya dengan baik, untuk tujuan baik. Inilah gambaran orang-orang yang cakap, dan orang cakap tentu akan berdiri di posisi terhormat.

(bersambung)
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 23, 2013, 04:58:43 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_05_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/talenta-dan-cakap-2.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/talenta-dan-cakap-2.html[/url])


Talenta dan Cakap (2)

(sambungan)

Melanjutkan apa yang telah dibahas kemarin, ingatlah bahwa Tuhan memandang penting akan keseriusan kita dalam mengasah bakat atau talenta yang telah dipercayakan kepada kita. Tuhan menghargai usaha keras yang dilakukan secara serius dan sungguh-sungguh dan siap memberkati kita yang selalu berupaya memberikan yang terbaik. "TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia." (Ulangan 28:13). Lihatlah bahwa Tuhan menjanjikan keberhasilan, bukan kegagalan. Tuhan menjanjikan masa depan yang gemilang bukan yang amburadul. Kita didesain sejak semula sebagai kepala dan bukan ekor, dimaksudkan untuk terus naik dan bukan turun. Semua ini akan kita peroleh apabila kita mau mendengarkan perintah Tuhan dan melakukannya dengan setia. Mencari tahu apa yang ada pada diri kita, bekerja secara serius dan sungguh-sungguh, itu pun merupakan cerminan dari melakukan perintah Tuhan dengan setia, dan itu akan membuat kita memperoleh keberhasilan demi keberhasilan dalam karir, keluarga, pelayanan atau dalam apapun yang sedang kita lakukan.

Perumpamaan tentang talenta  dalam Matius 25:14-30 dengan jelas menggambarkan bahwa Tuhan telah memberikan kita keistimewaan-keistimewaan tersendiri. Berapapun jumlahnya, semua itu ia titipkan kepada kita untuk dilipatgandakan. Semua itu merupakan bekal yang sangat besar gunanya bagi kita untuk dipergunakan demi kebaikan kita dan kemuliaan Tuhan. Dari ayat ini juga kita diingatkan bahwa semua itu harus siap kita pertanggungjawabkan kelak.

Perhatikan rangkaian berikut ini: Tuhan ingin kita sukses, untuk itu Tuhan memberikan bekal buat kita  lalu siap memberkati pekerjaan kita. Bukankah itu merupakan sebuah kesatuan yang luar biasa indahnya? Dengan bekerja serius maka berarti kita menghargai Tuhan, sebaliknya bagaimana mungkin kita mengaku sebagai orang yang bersyukur kalau kita tidak serius dalam bekerja? Menjadi cakap itu artinya kita memuliakanNya, tetapi bagaimana kita berani mengaku mengasihi Tuhan kalau kita masih malas untuk mengasah dan mengolah potensi diri kita, apalagi jika tidak mengetahui potensi diri sama sekali?
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 23, 2013, 04:59:17 AM
Quote
Kemudian lihatlah bahwa Tuhan pun sudah menegaskan kita agar bekerja serius seperti melakukan itu untuk Tuhan dan bukan untuk manusia, "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia." (Kolose 3:23). Tuhan sangat peduli akan keseriusan kita. Jika kita memberi yang terbaik seperti untuk Tuhan, tentu Tuhan pun tidak akan sungkan-sungkan untuk memberkati kita. Jika anda sangat bangga punya anak yang berprestasi baik dalam pendidikan maupun pekerjaan, seperti itu pula senangnya Tuhan ketika melihat anak-anakNya menjadi orang-orang yang cakap: berpengaruh dalam bidangnya masing-masing, menjadi teladan bagi orang lain serta rajin, jujur dan setia dalam setiap yang dikerjakan.

Temukan potensi apa yang kita miliki, lalu mengasah dan mengolahnya, dan pergunakan dengan baik, untuk tujuan baik. Cari tahu apa rencana Tuhan sesungguhnya atas diri kita masing-masing dan doakan terus setiap langkah yang diambil agar seturut kehendak Tuhan. Ini akan membuat anda tampil sebagai orang yang dikatakan cakap, dan disanalah anda akan menggenapi posisi anda yang sesungguhnya seperti yang diinginkan Tuhan.

Mari kita renungkan hari ini, sudahkah kita memberikan yang terbaik baik dalam pekerjaan, karir, pelayanan atau pendidikan? Sudahkah kita memberikan yang terbaik bagi keluarga? Sudahkah kita peduli akan tingkat kecakapan yang mampu kita capai?  Siapkah kita untuk terus melatih dan mengasah diri agar menjadi orang-orang cakap yang menduduki posisi-posisi terhormat? Ketahuilah bahwa Tuhan akan selalu dengan senang hati memperbesar kapasitas dari orang-orang yang cakap di bidangnya masing-masing. Keberhasilan merupakan bagian dari kehidupan anak-anakNya, dan itu akan bisa dicapai apabila kita mau menghargai segala talenta yang diberikan Tuhan dengan sungguh-sungguh dan mempergunakannya dengan baik dalam pekerjaan kita.

Talenta-talenta dari Tuhan yang sudah terasah dengan baik akan menjadikan kita orang-orang cakap yang sukses
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 24, 2013, 05:08:51 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_05_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/perihal-talenta.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/perihal-talenta.html[/url])

 Perihal Talenta

Ayat bacaan: Matius 25:15
===================
"Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat."

Saya bertemu dengan begitu banyak musisi multi talenta yang sanggup memainkan begitu banyak alat musik bahkan tidak jarang yang bisa pula bernyanyi. Di sisi lain ada banyak pula yang penguasaan instrumennya tidak sebanyak mereka, tetapi orang-orang ini pun bisa berhasil bahkan sangat sukses dalam karirnya. Kita sering merasa heran melihat orang-orang yang memiliki segudang kemampuan dan merasa bahwa kita tidak ada apa-apanya. Tapi apakah kita sudah sadar bahwa talenta, meski sedikit, tetap bisa menghasilkan sesuatu yang luar biasa? Ingatkah kita bahwa talenta sedikit itu pun nanti akan diminta pertanggungjawabannya, sama seperti yang jumlahnya banyak, dan bahwasanya Tuhan menghargai pertanggungjawaban yang baik akan talenta yang telah Dia berikan itu sama, tak peduli berapapun jumlahnya?

Melanjutkan renungan kemarin tentang menjadi orang yang cakap dengan mengolah dan megasah talenta, mari kita lihat ayat bacaan hari ini mengenai perumpamaan tentang talenta yang tentu sudah tidak asing lagi bagi kita seperti yang tertulis dalam Matius 25:14-30. Perikop ini dibuka dengan perumpamaan seorang tuan yang mempercayakan hartanya kepada para hambanya. "Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya.." (Matius 25:15).

Mari kita lihat beberapa poin penting dari ayat ini. Pertama, kita melihat bahwa semua orang diberikan talenta. Tidak ada yang tidak. Jadi apabila anda masih belum merasa punya kemampuan apa-apa, artinya anda harus memeriksa kembali talenta apa sebenarnya yang telah diberikan Tuhan kepada anda. Mungkin karena terlalu silau melihat keistimewaan orang lain anda belum melihat keistimewaan yang ada dalam diri anda sendiri.

Berikutnya, ayat ini menggambarkan bahwa jumlah talenta yang diberikan itu berbeda-beda, dan dikatakan disana bahwa pemberian itu didasari kesanggupan masing-masing. Apakah itu artinya Tuhan berlaku tidak adil? Tentu saja tidak. Secara khusus bagian ini akan saya ulas dalam renungan esok hari.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 24, 2013, 05:09:42 AM
Quote
Ayat-ayat berikutnya berbicara tentang bagaimana ke tiga hamba tadi menyikapi harta yang dipercayakan tuannya. Hamba yang beroleh lima dan dua talenta pergi menjalankan uang lalu beroleh laba, sedang yang menerima satu talenta ternyata hanya menimbunnya dalam tanah tanpa diusahakan sama sekali. Reaksi sang tuan terhadap kedua hamba yang menjalankan ternyata sama. Artinya, mau lima atau dua, pujian yang diterima persis sama (bacalah ayat 21 dan 23). Seandainya hamba dengan satu talenta menjalankan seperti kedua hamba yang lain, tentu reaksi yang ia terima pun akan sama. Sayang ia memutuskan untuk mengambil jalan yang berbeda. Akibatnya ia pun menuai murka dan dihukum sangat berat.

Talenta, apapun itu, berapa banyak atau besarnya, semua itu punya nilai istimewa yang sama. Meski awalnya kecil, itu bisa menjadi besar dan bernilai tinggi apabila kita mau mengoptimalkannya dengan serius dan sungguh-sungguh. Talenta yang kecil bisa menjadi permulaan untuk menerima kepercayaan yang lebih besar lagi. Artinya Tuhan menjanjikan sesuatu yang bertumbuh, dinamis dan progresif, sekiranya kita memutuskan untuk mempertanggungjawabkan talenta yang telah dipercayakan kepada kita. Berapapun talenta yang telah diberikan, itu sesuai dengan kesanggupan menurut penilaian Tuhan. Tunjukkan kesanggupan anda, maka anda akan diberikan tanggung jawab yang lebih besar lagi. Satu hal lagi yang harus diingat adalah bahwa pujian Tuhan tidaklah tergantung dari berapa jumlah talenta, melainkan dari bagaimana kita menyikapinya. Mungkin talenta yang ada pada kita kelihatannya sepele, tapi itu bisa berlipat ganda secara luar biasa kalau kita tahu apa yang harus kita lakukan. Atau mungkin kita belum melakukan hal-hal yang kelihatannya besar pada saat ini, namun sekecil apapun itu, akan berharga sangat besar di mata Tuhan ketika lewat hal-hal kecil yang kita lakukan kita bisa memberkati orang lain. Dan Tuhan pun akan mempercayakan lebih besar lagi.

Sudahkah anda menemukan potensi atau talenta yang ada di dalam diri anda? Sudahkah anda memakai dan mengolahnya semaksimal mungkin? Sudahkah anda mempergunakannya demi menyatakan kemuliaan Tuhan di mana anda berada hari ini? Jika belum, mulailah sekarang, dan lihatlah bagaimana Tuhan memberkati dan melipatgandakan itu semua secara luar biasa.

Talenta sekecil apapun bisa bertumbuh luar biasa dan membawa anda ke dalam sesuatu yang gemilang
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 25, 2013, 05:14:50 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_05_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/jumlah-talenta-dan-pengembangan.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/jumlah-talenta-dan-pengembangan.html[/url])

 Jumlah Talenta dan Pengembangan Kapasitas

Ayat bacaan: Matius 25:21
=======================
"Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu."

Anak teman saya masih berusia 10 tahun dan duduk di kelas 4 SD, tetapi ia ternyata mendapat pendidikan yang sangat baik dari orang tuanya sehingga ia tidak merasa iri melihat ada anak-anak seusianya yang mendapat benda-benda mewah atau uang lebih dari apa yang ia terima. "Itu bagiannya, ini bagian saya, saya bersyukur untuk apa yang saya miliki." kira-kira seperti itu katanya kepada saya pada suatu hari sambil tersenyum. Ada banyak dari kita yang masih harus belajar dari cara berpikir anak kecil ini. Ia mensyukuri apa yang ia miliki, sesuai dengan kesanggupan orang tuanya dan sesuai pula dengan kesanggupannya untuk mempertanggungjawabkan pemberian. Sebagian dari kita masih mudah merasa iri melihat orang lain yang memiliki sesuatu yang lebih banyak, termasuk mengenai masalah bakat, kemampuan atau talenta.

Kemarin kita sudah melihat bahwa Tuhan tidak membeda-bedakan jumlah talenta, melainkan memperhatikan betul bagaimana kita mengelola, mengembangkan atau mempertanggungjawabkannya. Sesuai janji, hari ini mari kita lihat lebih jauh mengenai jumlah talenta. Sekilas, perumpamaan tentang talenta dalam Matius 25:14-30 berbicara mengenai seorang tuan yang menitipkan hartanya kepada tiga orang hamba yang ia miliki, masing-masing diberi 5, 2 dan 1 sesuai kesanggupan masing-masing menurut penilaian sang tuan yang tentu kenal dengan perilaku para hambanya. Hamba dengan 5 dan 2 talenta melipatgandakan, sedang yang 1 talenta hanya menimbun. Mengapa menimbun? Melihat reaksinya yang tertulis dalam ayat 24 dan 25, kita bisa melihat kekecewaannya yang diluapkan dengan marah dan menuduh tidak pada tempatnya. Sepertinya ia merasa bahwa apa yang ia miliki terlalu sedikit sehingga ia kecewa dan menganggap bahwa itu tidaklah cukup untuk membuatnya berhasil. Atau mungkin ia merasa malas dan mencari alasan untuk pembenaran? Pada kenyataannya, ada banyak orang berpuas diri dengan talenta yang dimilikinya sehingga tidak lagi merasa perlu untuk meningkatkannya, atau mempergunakannya demi kemuliaan Tuhan. Talenta-talenta itu hanya ditimbun dan dinikmati sendiri tanpa ada kemajuan atau malah dibiarkan sia-sia. Ini bisa membuat Tuhan marah. Mengapa? Coba letakkan posisi anda pada posisi Tuhan. Anda memberikan sejumlah modal untuk dikembangkan, tetapi orang yang diberikan ternyata hanya membiarkannya begitu saja. Anda pun tentu akan kesal atau marah bukan?

Maka wajarlah apabila hamba dengan 5 dan 2 talenta yang memutuskan untuk menjalankan talenta yang dipercayakan itu mendapat reaksi positif dari tuannya. Perhatikan kedua ayat bagi hamba-hamba ini persis sama. "Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu." (Matius 25:21,23). Sebaliknya bagi sang hamba yang hanya menimbun, hukuman berat diberikan kepadanya.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 25, 2013, 05:15:20 AM
Quote
Sekarang mari kita lihat lagi ayat terakhir di atas. Ada kalimat yang berbunyi: "engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar." Ini berbicara jelas mengenai adanya pentingnya meningkatkan atau mengembangkan kapasitas. Artinya, talenta adalah sesuatu yang tidak statis melainkan dinamis, bukan sesuatu yang final tetapi progresif atau bertumbuh, bisa meningkat sesuai dengan reaksi kita dalam pertanggungjawaban atas apa yang telah dipercayakan Tuhan kepada kita. Talenta yang diberikan Tuhan kepada kita jelas bukan hasil akhir, melainkan modal awal bagi kita untuk maju dan berhasil dalam hidup ini. Karena itu sangatlah penting untuk terus meningkatkan kapasitas kita baik lewat terus menerus mengasah dan mengolah talenta agar tidak tumpul dan membuat kita menjadi orang-orang cakap yang berada di posisi tinggi dan terhormat (Amsal 22:29) dan tentunya terus berdoa, selalu rajin bersekutu dengan Tuhan, agar hikmat kebijaksanaan akan terus Tuhan limpahkan bagi kita.

Peringatan yang persis sama bisa kita temukan dalam kitab Yesaya. Yesaya menyampaikan Firman Tuhan yang bertujuan untuk mengingatkan kita agar selalu meningkatkan kapasitas kita. "Lapangkanlah tempat kemahmu, dan bentangkanlah tenda tempat kediamanmu, janganlah menghematnya; panjangkanlah tali-tali kemahmu dan pancangkanlah kokoh-kokoh patok-patokmu! Sebab engkau akan mengembang ke kanan dan ke kiri.." (Yesaya 54:2-3a). Ini sebuah pesan penting bagi kita untuk tidak berhenti mengembangkan kemampuan kita berdasarkan talenta yang telah Tuhan sediakan bagi kita. Dalam Amsal disebutkan: "Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya." (Amsal 10:4). Kemalasan hanyalah mengarahkan kita pada kemiskinan, tapi kerajinan akan membawa kita kepada kekayaan. Hal ini bukan hanya berbicara mengenai rajin bekerja, namun juga rajin untuk terus belajar, memperkaya diri dengan ilmu pengetahuan, mengikuti perkembangan jaman berikut kemajuan-kemajuannya, dan tentu saja terus rajin membaca Firman Tuhan agar kita jangan sampai mengalami kemiskinan rohani dan mudah disusupi iblis untuk menjatuhkan kita.

Berapa talenta yang diberikan Tuhan kepada anda? Sudahkah anda mengembangkannya untuk menghasilkan berkat bagi sesama? Siapkah anda untuk mempertanggungjawabkannya di hadapan Tuhan seandainya saatnya tiba? Jika anda bisa mempertanggungjawabkan hal-hal kecil, Tuhan akan mempercayakan hal-hal yang lebih besar lagi buat anda. Tuhan tidak pernah menempatkan kita dalam wadah yang terlalu sempit bagi kita untuk bertumbuh. Masih begitu banyak kesempatan tersedia di depan kita, dimana kita bisa terus mengembang ke kiri atau ke kanan. Mari kita tidak berpuas diri. Teruslah meningkatkan kapasitas diri agar talenta-talenta yang berasal dari Tuhan tidak terbuang sia-sia dan bisa meningkat lebih dan lebih lagi.

Perbesar kapasitas untuk menerima hal-hal yang lebih besar lagi
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 26, 2013, 04:47:58 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_05_01_archive.html[/url]
renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/belajar-meningkatkan-kapasitas-lewat.html

 Belajar Meningkatkan Kapasitas lewat Ezra

Ayat bacaan: Ezra 7:10
===============
"Sebab Ezra telah bertekad untuk meneliti Taurat Tuhan dan melakukannya serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang Israel."

Masih ingatkah anda pada media penyimpan yang disebut dengan floppy disk alias disket? Sekitar 25 tahun yang lalu disket berukuran besar dan tipis berwarna hitam merupakan satu-satunya media penyimpan baik data maupun program agar komputer atau pc bisa difungsikan. Kapasitasnya hanyalah sekian ratus kilobyte saja. Kemudian muncul disket yang berukuran lebih kecil namun mampu menampung hingga 1.4 Mb. Hari ini kita dengan mudah bisa menemukan flashdisk, SD card maupun micro SD dengan ukuran jauh lebih besar hingga mencapai hitungan giga. Bisa dikantongi, tapi ukurannya luar biasa besar. Hard disk pun demikian, sekarang sudah mencapai ukuran terra. Semakin besar kapasitasnya, semakin banyak pula yang bisa kita simpan disana. Jika kita membeli disk berkapasitas besar, rasanya sayang jika hanya diisi sedikit sekali. Semakin banyak yang kita simpan di dalamnya maka disk itu pun akan semakin tinggi nilai kegunaannya bagi kebutuhan kita. Teknologi mengembangkan ukuran kapasitas disk sehingga makin besar dan makin tinggi nilai gunanya.

Saya ingin melanjutkan sedikit lagi mengenai peningkatan kapasitas dalam hubungannya dengan talenta. Jumlah talenta yang diberikan dalam perumpamaan di Matius 25 ayat 14 sampai 30 bukan menunjukkan Tuhan sedang pilih kasih, ada yang diberi sedikit, ada yang banyak, tapi perhatikan bagian kalimat "menurut kesanggupannya", atau dengan kata lain sesuai kapasitas kita. Artinya, bagaimana mungkin Tuhan mempercayakan talenta besar pada kapasitas kecil? Jika diilustrasikan dengan disket atau disk diatas, bisakah kita mengisi disk tersebut melebihi batas kapasitasnya? Kalau begitu, jika ingin memperoleh kepercayaan lebih, kita harus memiliki kapasitas yang memadai agar mendapat kepercayaan untuk menerima sebuah tanggung jawab dari Tuhan. Bukan hanya kapasitas mengenai kemampuan saja, seperti keahlian, bakat-bakat tertentu, tapi juga kapasitas yang berhubungan dengan karakter kita seperti jujur, sabar, tidak sombong, mampu bekerja sama dan lain-lain. Ada panggilan untuk mengembangkan kapasitas kita lebih lagi, agar Tuhan dapat mempercayakan hal-hal yang lebih besar pula bagi kita.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 26, 2013, 04:48:52 AM
Quote
Hari ini mari kita lihat contoh lain melalui kisah Ezra. Ezra adalah salah satu yang berangkat pulang dari Babel. Ezra bukanlah orang sembarangan melainkan orang terpelajar dan tahu banyak mengenai hukum-hukum Taurat. "Ezra ini berangkat pulang dari Babel. Ia adalah seorang ahli kitab, mahir dalam Taurat Musa yang diberikan TUHAN, Allah Israel."(Ezra 7:6a).  Tapi lihatlah fakta berikut. Meski Ezra mahir dalam hukum Tuhan, dia ternyata bukan sosok yang cepat berpuas diri. Ia mengerti betul akan pentingnya terus bertumbuh dan meningkatkan kapasitas pengetahuannya. Kita bisa melihat hal tersebut dalam ayat 10 yang bunyinya: "Sebab Ezra telah bertekad untuk meneliti Taurat TUHAN dan melakukannya serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang Israel." Ayat ini menunjukkan bahwa Ezra terus meningkatkan kapasitasnya, baik dalam hal kemampuan (meneliti Taurat Tuhan) maupun karakter (melakukannya). Ayat 10 ini dimulai dengan kata "Sebab", menunjukkan sebuah hubungan sebab-akibat. Apa yang ia peroleh dari Tuhan atas sikapnya? Ayat sebelumnya menyebutkan dengan jelas bahwa "tangan murah Allahnya itu melindungi dia." (ay 9). Kalimat yang sama bisa kita lihat pula dalam ayat 6.

Dari sekilas kisah Ezra ini kita bisa melihat dengan jelas bahwa untuk memperoleh hal-hal yang lebih besar dari Tuhan, kita harus meningkatkan kapasitas kita terlebih dahulu. Jika kita tidak memperhitungkan hal ini, maka kitapun dapat kehilangan banyak kesempatan untuk memperoleh sesuatu yang besar dalam hidup kita.Seorang tokoh sukses dunia pernah berkata: "Are you green and growing or ripe and rotting?" Apa yang ia maksud adalah jika hidup diibaratkan sebagai buah. Apakah kita masih hijau dan terus bertumbuh atau masak dan membusuk? Apa yang ia maksud adalah, selama kita masih hijau itu artinya kita akan terus bertumbuh, namun begitu kita merasa sudah matang/masak, maka kita pun tinggal menunggu waktu untuk membusuk dan tidak lagi berarti. Ini dikatakan oleh seorang tokoh sukses yang ternyata tidak berhenti belajar dan memperbesar kapasitasnya. Sehebat-hebatnya pengetahuan dan/atau kemampuan kita, kita tidak boleh berhenti dalam berproses untuk menjadi lebih baik lagi. Oleh karena itu, mari kita sama-sama terus bertumbuh baik dalam kemampuan maupun karakter sesuai Firman Tuhan, memperbesar kapasitas kita sehingga kita akan siap ketika Tuhan mempercayakan sesuatu yang besar dalam hidup kita serta mampu melipatgandakannya.

Terus asah dan kembangkan kapasitas supaya siap menerima tanggung jawab yang lebih besar lagi
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 27, 2013, 05:41:42 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_05_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/mengenal-potensi-diri-5-roti-2-ikan.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/mengenal-potensi-diri-5-roti-2-ikan.html[/url])

 Mengenal Potensi Diri: 5 Roti 2 Ikan

Ayat bacaan: Markus 6:38
================
"Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!"


Seberapa jauh kita mengenal potensi diri kita masing-masing? Saya bertemu dengan banyak orang yang di usia dewasanya ternyata belum kunjung mengetahui apa sebenarnya talenta yang telah dianugerahkan Tuhan pada diri mereka. Jangankan talenta, hobby saja kalau ditanya mereka bisa bingung menjawabnya. Ada yang terus belajar, dan itu tentu baik. Tapi itupun tidak menjamin orang untuk bisa mengetahui potensi diri mereka. Ada banyak orang yang sudah melalui jenjang pendidikan tinggi tetapi mereka tidak kunjung menghasilkan apa-apa. Hidupnya tetap tidak produktif bahkan sebagian masih bergantung kepada orang tuanya. Malah ada yang menjadikan proses belajar sebagai pelarian, maksudnya mereka ini terus melanjutkan pendidikan bukan karena ia ingin lebih pintar atau mendapat kesempatan kerja lebih baik, tapi justru untuk mengelak dari bekerja. Ada banyak juga yang bingung harus memilih apa dalam melanjutkan pendidikan di perguruan tingi. Bingung mau jadi apa, karenanya bingung pula harus mengambil jurusan apa. Cari yang favorit, padahal itu bukan panggilannya. Atau memilih jurusan bukan karena mengetahui tujuan melainkan karena desakan orang tua, ikut-ikutan teman atau asal pilih. Akibatnya ada banyak orang yang menjadi tidak tentu arah setelah tamat kuliah.
Saya masih ingin melanjutkan pembahasan diseputaran talenta. Tidak mengenali potensi diri sendiri ternyata menjadi permasalahan umum begitu banyak orang. Banyak diantara mereka yang merasa kecil dan tidak akan mampu melakukan apapun. Jangankan yang besar, yang kecil saja sudah terasa sulit. Mengukur dirinya terlalu rendah dibanding potensi mereka yang sesungguhnya pun kemudian sering menjadi penyebab.

Tuhan sebenarnya menciptakan kita begitu lengkap. Bukan secara sempit hanya mengenai organ tubuh, bukan saja nafas kehidupan, tapi Tuhan telah mempersiapkan rancanganNya yang terbaik bagi kita untuk mencapai hari depan gemilang seperti yang bisa kita baca dalam Yeremia 29:11. Dalam menyiapkan rancangan yang terbaik, Tuhan pun  melengkapi kita dengan talenta-talenta khusus lengkap dengan keunikan dan kemampuan yang berbeda-beda bagi setiap orang. Lengkap bukan? Jika kita menyadari ini, sudah seharusnya kita bersyukur. Seharusnya kita bisa mulai berbuat sesuatu dengan bakat-bakat kita. Seharusnya kita bisa menggenapi rencana Tuhan lewat talenta yang telah Dia anugerahkan kepada kita. Seharusnya kita bisa terhubung dengan orang-orang lain, saling melengkapi untuk melakukan terobosan-terobosan besar bersama-sama. Seharusnya kita sudah bisa berkontribusi untuk memberkati kota dan bangsa atau bahkan dunia. Sayangnya yang sering terjadi justru sebaliknya. Banyak diantara kita lebih suka duduk diam lalu mengeluh macam-macam. Mudah merasa sirik dengan kemampuan orang lain, berkata negatif dan sibuk mengutuki orang lain atau diri sendiri. Padahal jika saja mau melihat potensi diri, pasti ada sesuatu yang bisa diolah dan menghasilkan sukses, karena Tuhan telah membekali setiap kita dengan talenta masing-masing. Mungkin anda tidak pintar jualan seperti saya tapi panggilannya mengajar. Ada yang tidak pintar memasak tapi ahli mengoperasikan komputer. Tidak pintar berbicara, tapi pintar menyusun strategi, tidak suka memimpin tapi cekatan bekerja, dan seterusnya. Apapun itu, satu hal yang pasti adalah bahwa sesuatu yang anda miliki bisa sangat bermanfaat jika diolah dan diasah.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 27, 2013, 05:42:01 AM
Quote
Tuhan ingin kita harus berhenti menjadi manusia pengeluh, bersungut-sungut, gampang kecewa dan segera memeriksa terlebih dahulu apa yang ada pada kita. Dari mana kita tahu itu? Kita bisa melihatnya lewat kisah Yesus yang menggandakan lima roti dan dua ikan. Pada waktu itu ada 5000 orang pria (jumlah tersebut belum termasuk wanita dan anak-anak yang ikut) untuk mendengar pengajaran Yesus. Setelah semua berjalan lancar, masalah muncul ketika hari sudah larut malam, semua orang yang ikut belum makan sama sekali. Apa yang terjadi selanjutnya menarik untuk kita perhatikan. Dalam Markus 6:37 Yesus memerintahkan murid-muridNya untuk memberi semuanya makan. Reaksi para murid mungkin sama dengan reaksi kita jika berada disana. Mereka begitu cepat mengeluh sebelum mulai berbuat apa-apa, memandang pada kesulitan ketimbang memeriksa terlebih dahulu apa yang ada pada mereka. Lihat jawaban mereka. "Kata mereka kepada-Nya: "Jadi haruskah kami membeli roti seharga dua ratus dinar untuk memberi mereka makan?" (ay 37b). Perhatikan jawaban Yesus selanjutnya. "Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!" (ay 38a). Dan setelah memeriksa, mereka pun kemudian mendapati ada lima roti dan dua ikan (ay 38b) milik seorang anak yang ada disana.

Pertanyaannya, apakah Yesus tidak bisa mendatangkan makanan sama sekali? Sama sekali tidak sulit bagi Yesus untuk menurunkan hujan makanan dari langit, itu pasti. Tetapi Dia tidak melakukan itu. Yesus memilih untuk meminta kita untuk memeriksa terlebih dahulu apa yang ada pada kita, dan dengan Yesus semua itu bisa menjadi berkat yang berlimpah-limpah. 5000 orang bisa memperoleh makan malam, itu baru jumlah pria saja belum termasuk wanita dan anak-anak. Ini adalah pelajaran penting bagi kita agar tidak menjadi orang-orang manja dan mau berubah menjadi pribadi yang giat berusaha. "Periksalah!" kata Yesus.  Periksa ada berapa "roti dan ikan" yang kita miliki, dan Tuhan siap melipatgandakan itu menjadi berkat yang melimpah.

Periksa apa yang ada, kembangkan, serahkan ke dalam tangan Tuhan dan jadilah berkat untuk banyak orang
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 28, 2013, 05:01:08 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_05_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/mengenal-potensi-diri-sebilah-tongkat.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/mengenal-potensi-diri-sebilah-tongkat.html[/url])

 Mengenal Potensi Diri: Sebilah Tongkat

Ayat bacaan: Keluaran 4:2
=================
"TUHAN berfirman kepadanya: "Apakah yang di tanganmu itu?" Jawab Musa: "Tongkat."

Kemarin kita sudah melihat pentingnya mengetahui potensi diri lewat kisah Yesus menggandakan lima roti dan dua ikan. Tuhan ingin kita memeriksa terlebih dahulu talenta apa yang telah ia berikan kepada kita, apa yang kita miliki saat ini, potensi diri kita, dan Dia akan bekerja secara luar biasa lewat itu. Hari ini mari kita lihat contoh lainnya dari kisah Musa.

Pada kitab Keluaran pasal 4 kita bisa melihat keraguan yang berkecamuk dalam pikiran Musa ketika diutus Tuhan. Musa merasa tugas yang diberikan terlalu berat dan tidak mungkin sanggup ia lakukan. "Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku, melainkan berkata: TUHAN tidak menampakkan diri kepadamu?" (Keluaran 4:1) demikian katanya. Lalu bagaimana jawaban Tuhan untuk mengatasi keraguan Musa? "TUHAN berfirman kepadanya: "Apakah yang di tanganmu itu?" Jawab Musa: "Tongkat." (ay 2). Selanjutnya, "Firman Tuhan: "Lemparkanlah itu ke tanah." Dan ketika dilemparkannya ke tanah, maka tongkat itu menjadi ular, sehingga Musa lari meninggalkannya." (ay 3). Kekagetan Musa hanya sesaat karena Tuhan selanjutnya meminta Musa untuk menangkap ular itu kembali."Musa mengulurkan tangannya, ditangkapnya ular itu, lalu menjadi tongkat di tangannya." (ay 4). Perhatikan bahwa Musa sibuk memikirkan apa yang tidak ia punya sampai ia melupakan apa yang ada ditangannya, yaitu sebilah tongkat. Atau mungkin Musa tahu ada tongkat ditangannya, tetapi apa gunanya sebatang tongkat dalam tugas maha berat yang harus ia emban? Musa menganggap itu tidak cukup berguna untuk menjalankan tugas dari Tuhan. Tetapi Tuhan menunjukkan bahwa tongkat yang ditangannya itu lebih dari cukup untuk menjadi alat dimana mukjizat Tuhan turun atasnya.

Kita butuh hikmat untuk mengetahui potensi diri kita. Amsal berkata "Mengerti jalannya sendiri adalah hikmat orang cerdik, tetapi orang bebal ditipu oleh kebodohannya." (Amsal 14:8). Orang cerdik yang penuh hikmat akan mampu mengetahui kemampuannya sendiri, apa yang menjadi potensi dalam diri mereka, tapi sebaliknya orang yang bebal akan terus dikuasai oleh keraguan, kekhawatiran dan ketidakberanian mereka untuk melangkah dan akibatnya tidak kunjung maju. Orang yang bebal hanya akan sibuk melihat kekurangan mereka dan buta akan potensi yang mereka miliki. They don't realize what they actually possess inside.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 28, 2013, 05:01:35 AM
Quote
Kembali dalam perumpamaan talenta di Matius 25:14-30 kita bisa melihat bahwa Tuhan telah membekali kita dengan talenta tersendiri seperti yang sudah saya sampaikan dalam beberapa renungan terdahulu. Jumlahnya bisa jadi berbeda, namun yang terkecil sekalipun, satu talenta, itu pun sebenarnya sudah merupakan pemberian yang besar dari Tuhan. Coba lihat ukuran satu talenta, itu sebenarnya digambarkan setara dengan 1000 uang emas. 1000 uang emas, bukankah itu sesungguhnya sudah cukup layak dan jauh lebih dari cukup untuk memulai sesuatu? Pemberian Tuhan ini harus mampu kita asah dan olah hingga bisa menghasilkan buah-buah yang bermanfaat baik buat kita sendiri maupun buat orang lain. Itulah yang Tuhan kehendaki, bukan sebaliknya hanya ditimbun dan malah bersungut-sungut melihat kesuksesan orang lain. Dalam perumpamaan ini si hamba yang memiliki satu talenta merupakan gambaran orang yang tidak menghargai pemberian Tuhan, tidak hanya menolak tapi malah menuduh dan mencari pembenaran. Hatinya diliputi ketakutan akan kegagalan dan memilih untuk diam saja tanpa berbuat apa-apa.

Talenta yang sekecil apapun merupakan berkat luar biasa dari Tuhan. Jika diolah akan berbuah, dan Tuhan siap memberi lebih lagi jika kita sudah mampu bertanggungjawab atas perkara kecil. "Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya." (ay 29). Dan lihatlah Firman Tuhan ini: "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar." (Lukas 16:10).

Mari mulai serius untuk mencari tahu potensi diri kita yang sebenarnya. Yesus berkata, "Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!" (Markus 6:38). Ayo, periksalah talenta apa yang Tuhan berikan kepada kita, dan mari kita kembangkan, asah dan olah. Kini Saatnya untuk mempergunakan talenta yang kita miliki untuk sukses, dan memakainya untuk kemuliaan Tuhan. Sesungguhnya semua orang dirancang Tuhan untuk sukses. Tidak satupun yang dirancang sia-sia tanpa tujuan besar, dan untuk itu Tuhan telah menyediakan segala sesuatu yang diperlukan. Jangan biarkan berkat Tuhan berlalu begitu saja. Mulailah hari ini untuk menjadi orang cerdik yang penuh hikmat yang mengetahui kemampuan atau potensi diri sendiri.

Tanpa mengetahui potensi diri jangan berharap untuk sukses
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 29, 2013, 05:08:45 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_05_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/menemukan-panggilan_28.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/menemukan-panggilan_28.html[/url])

 Menemukan Panggilan

Ayat bacaan: Efesus 2:10
=================
"Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya."

Setelah beberapa hari kita melihat bagaimana pentingnya mengetahui talenta yang telah dititipkan Tuhan dalam diri kita dan mengenal potensi diri serta mengasah dan mengolahnya agar bisa membawa hasil gemilang, hari ini kita akan melihat perihal panggilan atau calling. Panggilan tentu berbeda bagi setiap orang. Untuk memberkati bukan berarti anda harus menjadi pendeta, berkotbah, menjadi tim musik gereja, pemimpin pujian, usher atau berbagai posisi tugas lainnya di gereja. Anda mungkin memiliki panggilan yang berbeda, karena Kerajaan Allah seharusnya bisa
menjangkau luas hingga ke seluruh penjuru bumi dan tidak berakhir hanya di balik tembok gereja saja.

Sebelum kita membahas lebih jauh, mari kita ambil contoh sederhana mengenai benda yang sehari-hari saya lihat sehubungan dengan pekerjaan saya di dunia musik yaitu microphone/mikrofon alias mike atau mic. Benda ini diciptakan sebagai alat bantu dengar untuk suara berintensitas rendah.  Mikrofon berfungsi luas misalnya buat penyanyi, penyiar radio dan televisi, alat perekam dan fungsi lainnya untuk membantu komunikasi atau hiburan. Pada perkembangannya di industri musik, mikrofon yang bagus mampu membuat suara penyanyi terdengar jauh lebih baik. Itu secara ringkas deskripsi akan alat ini. Ketika mikrofon diciptakan, penciptanya tentu memiliki tujuan tersendiri dalam membuatnya. Dengan kata lain, mikrofon seharusnya berfungsi sesuai tujuan penciptanya. Jika itu yang terjadi, maka mikrofon akan dikatakan sukses. Tapi apabila kita menggunakannya sebagai tujuan lain seperti melempar kepala orang lain atau menjadikannya sebagai ulekan, tentu mikrofon akan melenceng dari fungsinya seperti saat dibuat.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 29, 2013, 05:09:28 AM
Quote
Mengapa saya mengambil contoh mikrofon di atas? Contoh ini bisa menggambarkan bagaimana kita seharusnya menemukan panggilan tepat sesuai dengan garis tujuan penciptaan dari Sang Pencipta kita, yaitu Tuhan. Ketahuilah bahwa kita semua sebenarnya memiliki jalan hidup sendiri yang telah ditetapkan Allah dengan tujuan utama untuk membangun KerajaanNya di muka bumi ini. Artinya, masing-masing dari kita memiliki panggilan seperti yang telah Dia rancang jauh sebelum kita ada. Pernahkah anda berpikir mengapa anda berada di tempat anda ada saat ini, pada waktu yang sedang dijalani saat ini? Apa tugas anda, tujuan anda, atau singkatnya, panggilan anda? Apakah mungkin kita diciptakan tanpa rencana sama sekali?

Semua pertanyaan ini punya jawaban seperti yang tertulis dalam Efesus 2:10. "Karena kita ini  buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus  untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya." Kita ini diciptakan Tuhan (we are God's own handiwork). Dirancang dalam Kristus (Recreated in Christ Jesus). Untuk melakukan pekerjaan baik (doing those good works). Yang sudah diciptakan Tuhan sebelumnya (which God predestined or lanned beforehead). Dan Tuhan mau kita hidup di dalamnya, dalam rencananya. (we should walk in the good life which He has prearranged and made ready for us to live). Artinya, ketika kita berjalan dalam 'destiny Ilahi', kita akan mengalami pemeliharaan Ilahi, perlindungan Ilahi dan penyediaan Ilahi. Jadi, penting bagi kita untuk menemukan apa yang menjadi panggilan, menjalankannya dan kemudian bukan hanya mengetahui tapi juga mengalami Tuhan. Bukan hanya berhenti bermimpi, tapi juga menduduki apa yang telah digariskan sejak semula bagi kita masing-masing.

Dari mana kita harus mulai? Firman Tuhan dalam Matius 6:33 akan menjadi awal yang baik untuk memulai semuanya. "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." Kebanyakan orang akan terus mencari hal lainnya seperti harta, karir, popularitas dan sebagainya. Ayat ini jika digabungkan dengan ayat bacaan hari ini akan memberi kesimpulan berbeda dari pandangan dunia. Kita harus mengejar rencana Tuhan untuk kita, agar kita mampu membangun Kerajaan Tuhan di muka bumi ini. So, our destiny is our divine calling, that's our promised land.

Sekarang pertanyaannya, bagaimana kita bisa mencari tahu apa yang menjadi panggilan kita? Apa ciri utama agar kita bisa tahu itu? Dalam renungan berikutnya saya akan menuliskan beberapa poin agar anda bisa terbantu untuk mengetahui panggilan anda.
Agar mengalami Tuhan, merasakan pemeliharaan, perlindungan dan penyediaan secara Ilahi serta mengalami hidup seperti rencana yang telah Dia sediakan sejak semula, kita perlu tahu apa yang menjadi panggilan kita
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 30, 2013, 05:11:02 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_05_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/mengenali-panggilan.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/mengenali-panggilan.html[/url])

 Mengenali Panggilan

Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 17:16
=======================
"Sementara Paulus menantikan mereka di Atena, sangat sedih hatinya karena ia melihat, bahwa kota itu penuh dengan patung-patung berhala."

Dalam renungan kemarin saya sudah mengangkat topik mengenai menemukan panggilan alias finding our callings, yang tentu saja berbeda antar orang per-orang. Hari ini mari kita lanjutkan pembahasan ini dengan melihat ciri-ciri utama untuk mengenal atau menemukan panggilan dalam hidup kita.

Sebagai dasar, mari kita mengacu kepada kisah Paulus di Atena dalam Kisah Para Rasul 17:16-34. Pada saat itu Paulus tengah menunggu Silas dan Timotius di Atena dan menyaksikan betapa kota itu ternyata dipenuhi patung berhala. Bacalah perikop ini dengan lengkap terlebih dahulu, lalu mari kita lihat satu persatu poinnya dengan mengacu ke bagian ini.

1. Rasa Sedih/Gelisah ketika mengalami atau menyaksikan sesuatu
"Sementara Paulus menantikan mereka di Atena, sangat sedih hatinya karena ia melihat, bahwa kota itu penuh dengan patung-patung berhala." (Kisah Para Rasul 17:16). Perhatikan bagaimana reaksi Paulus ketika melihat sesuatu yang bersinggungan dengan panggilannya. Dalam ayat ini dikatakan bahwa Paulus merasakan rasa sedih yang mendalam. His spirit was grieved and roused to anger. Seperti inilah rasa yang akan muncul ketika panggilan kita menemukan tempatnya. Ada rasa sakit, sedih dan kasih yang bersinggungan satu sama lain dalam perasaan kita. Ada beberapa orang di gereja saya yang panggilannya untuk anak-anak jalanan. Mereka mengatakan bahwa apa yang mereka rasa adalah rasa sakit yang muncul bersamaan dengan rasa kasih. Mungkin anda tidak punya panggilan terhadap anak jalanan, tapi ada begitu banyak masalah lain yang bisa jadi merupakan panggilan bagi anda seperti yang direncanakan Tuhan. Apakah itu rasa sedih melihat ketidak adilan, terhadap anjing-anjing atau hewan yang terlantar kelaparan atau bahkan meregang nyawa di jalan, pengemis, anak yatim piatu dan lain-lain, anda biasanya akan merasa gelisah apabila tidak melakukan apa-apa untuk menjawab rasa sedih itu. Anda bisa menemukan panggilan dengan memperhatikan bagaimana perasaan anda ketika melihat hal-hal yang masih butuh pembenahan di sekeliling anda.

2. Gairah
Ciri lainnya adalah adanya gairah atau desire/passion untuk melakukan sesuatu terhadap rasa sedih tadi. Dari kisah di atas, ayat 17 merupakan lanjutan dari sebuah rasa duka yang dialami Paulus. Ayatnya berbunyi demikian: "Karena itu di rumah ibadat ia bertukar pikiran dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang yang takut akan Allah, dan di pasar setiap hari dengan orang-orang yang dijumpainya di situ." Lihatlah bahwa Paulus tidak berhenti hanya pada rasa sedih dan marah saja, tetapi ia punya gairah untuk memikirkan dan mencari solusi bersama saudara-saudara seiman yang berada di rumah ibadat di Atena. Bukan hanya di sinagoga tapi ia juga melakukan hal itu di pasar alias marketplace. Sebuah panggilan selain membuat hati anda sedih, biasanya akan diikuti dengan rasa untuk bisa terjun langsung mengerjakan sesuatu atasnya, walaupun tidak dibayar atau meski harus mengorbankan sesuatu.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 30, 2013, 05:11:34 AM
Quote
3. Mengambil Tindakan
Selanjutnya adalah kerinduan untuk turut ambil bagian dengan bertindak langsung atau action, meski sedikit demi sedikit dengan grafik yang meningkat naik. Paulus melanjutkan langkahnya dengan berdiri di atas Areopagus (tempat pertemuan penduduk Atena) dan langsung berkotbah mengingatkan mereka agar bertobat, kembali kepada Allah. Hasilnya? Memang banyak yang tidak mengindahkannya, tapi Paulus berhasil membawa beberapa orang untuk bertobat dan menerima Yesus. Sebuah panggilan biasanya tidak tergantung dari seberapa besar tingkat keberhasilannya tapi lebih kepada hati yang terus gelisah apabila hanya diam dan tidak melakukan apa-apa untuk menjawab rasa sedih yang muncul ketika melihat sesuatu yang belum beres.

Panggilan saya adalah membawa terang dan kasih Tuhan di dunia entertainment. Bukan tugas yang mudah, tetapi berhubung panggilan saya memang disitu, saya melakukannya dengan sukacita. Hingga hari ini tidak sedikit pemusik yang konseling dengan saya baik dengan bertemu langsung maupun lewat telepon, berbalik dari kehidupan gemerlap penuh tipu daya ke dalam kasih Kristus. Bahkan ada seorang pengamen yang dalam 10 menit pertama langsung saya doakan di tempat. Hari ini dia dan istrinya tengah saya bimbing untuk lebih dekat lagi dengan Tuhan. Mungkin nanti suatu saat kesaksian ini akan saya angkat dalam salah satu renungan. Puji Tuhan, panggilan yang saya jalani ternyata mendapat anugerah penyertaanNya, hingga hal-hal yang sepertinya mustahil bisa terjadi dalam hidup saya. Istri saya punya panggilan lain, yaitu terhadap anjing-anjing jalanan  dan hewan lainnya yang terlantar. Tidak jarang ia mengajak saya berkeliling hanya untuk sekedar memberi makan buat mereka atau menghubungi pet shelter apabila ada yang butuh bantuan lebih seperti terluka, sekarat dan sebagainya.

Sebuah panggilan tidaklah memerlukan pujian, penghormatan atau popularitas atasnya melainkan sebuah reaksi atas apa yang telah direncanakan Tuhan sejak awal dalam diri kita, jauh sebelum kita diciptakan. Satu hal yang pasti, berita Kerajaan Allah harus bisa menjangkau hingga ke seluruh penjuru bumi. Itu artinya kita tidak boleh berhenti hanya pada ruangan gereja yang dibatasi oleh tembok-tembok saja.Marketplace, dunia hiburan, kantor, lingkungan anda atau dimanapun anda ditempatkan juga memerlukan jamahan Tuhan. Tidaklah kebetulan anda berada di tempat anda ada saat ini. Temukan panggilan anda dan jalani dengan sungguh-sungguh. Disanalah anda akan melihat indahnya berjalan bersama Tuhan, mengalami sebuah hubungan yang sangat indah dengan Tuhan lengkap dengan keajaiban-keajaiban Surgawi yang mengatasi segala kemustahilan.

Your calling is the way God plans to make an impact through you
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 31, 2013, 05:07:47 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_05_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/keputusan-yang-mengubah-dunia.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/keputusan-yang-mengubah-dunia.html[/url])

Keputusan yang Mengubah Dunia

Ayat bacaan: 2 Korintus 3:5-6
=======================
"Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah. Ialah membuat kami juga sanggup menjadi pelayan-pelayan dari suatu perjanjian baru, yang tidak terdiri dari hukum yang tertulis, tetapi dari Roh, sebab hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan."

Sepanjang dunia berjalan, selalu ada keputusan-keputusan yang mengubah dunia, apakah menjadi lebih baik atau buruk. Ambil satu contoh kecil saja mengenai Perang Dunia Kedua. Dalam buku berjudul Fateful Choices: Ten Decisions that Changed the World, 1940-1941 kita bisa melihat ada setidaknya 10 keputusan yang diambil para pemimpin dunia saat itu seperti Churchill, Hitler, Mussolini, Roosevelt, Stalin dan sebagainya. Entah mereka sadar atau tidak, serangkaian keputusan ini ternyata berdampak sangat berat terhadap kehidupan dunia. Jutaan orang meninggal dunia bahkan meninggalkan luka yang sangat dalam bagi keluarga dan keturunan banyak orang hingga hari ini.

Kita mungkin tidak berhadapan dengan keputusan-keputusan besar seperti itu, tapi sebenarnya kita pun hidup dengan mengambil begitu banyak keputusan setiap harinya. Mulai dari mau bangun tepat waktu atau menundanya, datang ke kantor atau sekolah tepat waktu atau terlambat, mau sarapan atau tidak, berangkat naik apa, siang mau makan apa, setelah urusan selesai mau kemana, mau tidur jam berapa dan sebagainya. Bagi anda yang menempati posisi atau jabatan, anda tentu tidak asing lagi dengan pengambilan keputusan atau decision making. Itu bisa membuat perusahaan tempat anda bekerja menjadi mampu mencapai target, melebihi atau sebaliknya merosot. Jika lebih baik, anda bisa mendapat promosi, sebaliknya peringatan atau pemecatan bisa terjadi jika keputusan yang diambil keliru.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on May 31, 2013, 05:08:31 AM
Quote
Ayat bacaan hari ini berisi penjelasan Paulus mengenai prinsip seorang pekerja-pekerja Allah. "Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah. Ialah membuat kami juga sanggup menjadi pelayan-pelayan dari suatu perjanjian baru, yang tidak terdiri dari hukum yang tertulis, tetapi dari Roh, sebab hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan." (2 Korintus 3:5-6). Seringkali kita memutuskan untuk diam saja karena kita merasa tidak cukup sanggup untuk mengerjakannya. Kita tidak mau rugi waktu, rugi tenaga atau materi, mengira bahwa semua itu terlalu berat untuk dilakukan ditengah tumpukan pekerjaan lainnya. Padahal lewat ayat ini jelas dikatakan bahwa kita sanggup bukan karena kuat dan hebat kita sendiri melainkan karena Tuhan, dengan RohNya yang menghidupkan. Apa yang Tuhan cari bukanlah kehebatan kita melainkan kemauan atau kesediaan kita. Jika kita memutuskan untuk ambil bagian, Tuhan sendiri yang bekerja melalui kita untuk pekerjaan penting di ladangNya. Artinya, Tuhan akan memberikan kita kemampuan untuk melaksanakannya. Sebuah keputusan yang mungkin terlihat sederhana tetapi akan membawa dampak luar biasa baik dalam kehidupan anda maupun dalam memberkati kota, bangsa atau bahkan suatu saat bisa berpengaruh luar biasa terhadap dunia. Lewat keputusan ini anda akan mengalami begitu banyak kuasa Tuhan yang luar biasa. Bukan lagi mendengar melainkan menyaksikan dan mengalami sendiri secara langsung.

Dengarkan panggilan anda dan jalanilah. Meski mulai sedikit demi sedikit, anda akan terkaget-kaget melihat pencapaian demi pencapaian yang dimungkinkan oleh kekuatan Tuhan sendiri. Apakah itu dengan mengambil bagian dalam tugas pelayanan di gereja atau di luar seperti di marketplace, dunia seni, musik, sinema atau hiburan lainnya, kampus, kantor dan lain-lain, akan ada perubahan nyata ketika kita memutuskan untuk mengikuti apa yang diinginkan Tuhan sejak semula bagi setiap kita. Tuhan bukan Sosok yang suka memaksa. Dia memanggil kita semua untuk melakukan pekerjaan Tuhan dimanapun kita berada, tapi keputusan kitalah yang akan menentukan langkah kehidupan kita ke depan. Keputusan kecil yang anda ambil hari iniakan mendatangkan perubahan besar, transformasi diri anda sendiri maupun ekses yang lebih luas lagi bagi orang-orang di sekitar anda. So, don't wait anymore, let's make the right decision today.

Keputusan kecil yang anda ambil hari ini bisa menentukan masa depan anda
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on June 01, 2013, 05:00:31 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_05_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/berawal-dari-keputusan.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/berawal-dari-keputusan.html[/url])

 Berawal dari Keputusan

Ayat bacaan: Keluaran 4:11-12
======================
"Tetapi TUHAN berfirman kepadanya: "Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni TUHAN?  Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan."

Menulis renungan setiap hari untuk teman-teman berawal dari sebuah keputusan yang mulanya saya anggap cukup nekad. Pada saat itu saya bukanlah orang yang paham mengenai berita kebenaran di dalam buku tebal yang disebut alkitab. Saya baru bertobat beberapa tahun sebelumnya dan masih sering ketiduran ketika mencoba membaca Alkitab. Mungkin anda pun pernah mengalami masa-masa seperti itu. Pada suatu hari sepulang gereja, tiba-tiba saja di dalam hati saya terdengar panggilan untuk menulis renungan untuk kalangan peselancar internet, yang kebetulan memang menjadi dunia yang saya geluti. Renungan harian, ditulis oleh saya? Saya waktu itu belum pernah menulis, berdoa masih bolong-bolong dan membaca Alkitab pun masih malas. Apa yang mau ditulis jika seperti itu? Sebulan sekali saja susah dibayangkan, apalagi setiap hari. Itu yang saya jawab dalam hati, tapi kembali suara tertanam di dalam hati saya yang masih saya ingat sampai sekarang: "Aku bukan menanyakan kemampuanmu, tapi kemauanmu." Saya tidak tahu apakah itu sanggup saya lakukan atau tidak, tapi saya segera memutuskan untuk patuh. "Saya mau, Tuhan. Pakai saya." itu jawaban saya selanjutnya. Sesampainya di kosan (saya masih nge-kos pada saat itu), saya langsung membuka blog ini dan mulai menulis. Hari ini saya sudah menulis hari perhari di tahun ke 7. Betapa luar biasa rasanya mendapat pengetahuan singkapan setiap hari untuk kebutuhan menulis tanpa jeda. Pertumbuhan luar biasa, feedback-feedback yang terasa membahagiakan, bukan untuk kepuasan saya melainkan ketika melihat orang bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan lewat firmanNya. Ada banyak kesaksian yang datang. Dan buat saya pribadi,  saya mengalami banyak keajaiban Tuhan yang sebelumnya belum pernah saya alami. Sebuah rumah yang tidak pernah terbayangkan bisa saya miliki kemudian menjadi milik saya tanpa kredit, seorang istri cantik yang sangat sempurna buat saya, pintar dan takut akan Tuhan, dan yang terpenting, penyertaanNya begitu kuat terasa setiap harinya. Tidak sekalipun Dia membiarkan kami terjatuh dan kekurangan. Masalah memang tetap ada, tapi penyertaanNya membuat kami bisa melewatinya tanpa kehilangan sukacita. Dan pada saatnya ketika tangan Tuhan turun, kami bisa menjadi saksi langsung bagaimana Tuhan mampu melakukan hal yang diluar logika. Itu bukan hanya sekali dua kali terjadi, tapi sudah terlalu sering untuk disebut sebagai kebetulan. All glory to God, saya bersyukur dan bangga telah Dia pilih untuk menjadi salah satu pekerjaNya di dunia internet.

Melanjutkan renungan terdahulu mengenai making decision atau mengambil keputusan, hari ini mari kita lihat kepada siapa atau bagaimana Tuhan memilih pekerja-pekerjanya. Jika anda membaca Alkitab, maka anda akan mendapati bahwa Tuhan ternyata lebih suka memakai orang-orang yang bagi dunia mungkin dipandang sebelah mata ketimbang orang-orang yang ahli Taurat, menguasai hukum, orang kaya, jenius dan sebagainya. Tentu saja saya tidak bermaksud mengatakan bahwa orang yang pintar dan hebat tidak akan Dia pakai. Tuhan rindu memakai setiap anak-anakNya karena tugas yang diberikan bukanlah tugas yang mudah. Tapi yang ingin saya katakan adalah seberapa kecil pun kemampuan yang anda rasa anda miliki, itu bukan penghalang untuk menjadi pekerja yang berhasil.

Adalah menarik jika melihat reaksi awal Musa ketika mendapat tugas berat dari Tuhan. Kita tahu bahwa Musa adalah nabi besar dan dihormati oleh begitu banyak orang dari kepercayaan yang berbeda, namanya harum dan menginspirasi dari generasi ke generasi hingga hari ini.Tapi lihatlah bahwa untuk menjadi besar seperti itu, Musa terlebih dahulu melewati sebuah proses pengambilan keputusan. Alkitab mencatat bahwa pada awalnya Musa ragu dan sempat berbantah-bantahan dengan Tuhan. Ia terus mencari alasan (bahasa sekarangnya ngeles), berkelit karena merasa tugas yang dibebankan terlalu berat buat dirinya yang tidak lagi muda dan tidak ada apa-apanya.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on June 01, 2013, 05:05:09 AM
Quote
Mari kita lihat reaksi Musa ketika ia hendak diutus Tuhan. "Lalu sahut Musa: "Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku, melainkan berkata: TUHAN tidak menampakkan diri kepadamu?" (Keluaran 4:1). Tuhan pun kemudian menunjukkan beberapa mukjizat dengan mengubah tongkatnya menjadi ular. Patuhkah Musa? Ternyata belum. Ia kembali mengeluarkan alasan. "Lalu kata Musa kepada TUHAN: "Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah." (ay 10). Tuhan kemudian mengingatkan Musa bahwa semua yang ada pada Musa itu Dia sendiri yang menciptakan. "Tetapi TUHAN berfirman kepadanya: "Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni TUHAN?  Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan." (ay 11). Ayat ini jelas mengatakan bahwa Tuhan sendiri yang akan menyertai dan mengajar kita dalam melakukan tugas-tugas Kerajaan. Bukan kehebatan dan kekuatan kita yang Tuhan minta, tetapi kepatuhan kita. Tapi Musa masih ragu dan berkelit lagi. "Tetapi Musa berkata: "Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kauutus." (ay 13). Ketika Tuhan marah melihat reaksi Musa,  Musa kemudian takut, dan memutuskan untuk ikut perintah Tuhan. Dalam ayat 18 kita bisa melihat keputusan Musa untuk taat menjalani apa yang diperintahkan Tuhan. Kita tahu bagaimana Tuhan kemudian memakai Musa secara luar biasa, dimana hasilnya masih tetap dikenang orang hingga hari ini dan menjadi salah satu bagian terpenting dalam sejarah dunia.

Masalah berkelit dan berbantah ini tidak hanya dilakukan Musa. Ada beberapa nabi lainnya yang juga melakukan hal ini. Nabi Yeremia misalnya. Ia berkelit dengan alasan bahwa ia terlalu muda untuk menjalani tugas berat dan belum saatnya untuk tampil di depan. (Yeremia 1:6). Kepada Yeremia Tuhan mengatakan: "Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan." (Yeremia 1:7). Apa dasarnya? "Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah Firman Tuhan." (ay 8). Atau Yunus yang memilih untuk melarikan diri dari tugas yang disematkan Tuhan kepadanya. Pada akhirnya kita tahu bagaimana mereka dipakai Tuhan secara luar biasa. Dari contoh-contoh ini jelas terlihat bahwa semua itu berawal dari sebuah keputusan. Tuhan boleh mengutus, namun jika orang yang bersangkutan tidak mengambil keputusan maka tidak akan bisa membawa perubahan apa-apa. Keputusan yang kita ambil hari ini akan sangat menentukan di masa depan. Dampaknya seringkali bukan hanya untuk diri sendiri melainkan menyangkut kehidupan banyak orang dalam skala berbeda tapi sangat mungkin untuk meningkat atau bertumbuh.

Kita terbiasa untuk punya seribu satu alasan untuk menghindar dari apa yang diinginkan Tuhan untuk kita perbuat. Jangankan melayani, membantu orang yang susah saja rasanya sudah berat. Padahal Tuhan ingin kita semua menjadi perpanjangan tanganNya untuk mewartakan Injil, menjadi garam dan terang, agar dunia bisa mengenal Kristus dan selamat lewat diri kita masing-masing. Terlalu muda, terlalu tua, tidak pandai bicara, terlalu sibuk, sulit menghadapi orang, kekhawatiran ini dan itu, bagaimana jika begini dan begitu, semua ini selalu menjadi alasan kita untuk melakukan pekerjaan Tuhan. Apa yang menjadi kendala bagi anda untuk masih belum bekerja untuk Tuhan? Percayalah bahwa ketika anda menjalaninya, anda akan melihat sendiri bahwa yang diinginkan Tuhan hanyalah kerelaan kita untuk membagi sedikit waktu. Siapapun bisa dipakai Tuhan secara luar biasa, karena Tuhan tidak butuh ahli-ahli melainkan butuh hati yang rindu untuk mengasihi orang lain, seperti halnya Tuhan telah mengasihi kita. Tuhan tahu persis kekurangan dan kelemahan kita masing-masing. Tapi itu semua tidaklah menjadi penghalang bagi kita untuk mampu bekerja di ladang Tuhan. Bukankah adalah sebuah kehormatan jika Tuhan mau memakai kita?

Tuhan tidak memerlukan kuat dan hebat kita, yang Dia inginkan hanyalah kemauan kita
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on June 02, 2013, 10:29:03 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_06_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/06/hati-keras-membatu-1.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/06/hati-keras-membatu-1.html[/url])

 Hati Keras Membatu (1)

Ayat bacaan: Ibrani 3:15
===============
"Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman"

"Musik kegemaran boleh cadas, tapi hati harus tetap lembut, bro!" ujar seorang teman saya yang sangat menggemari genre musik rock sambil tertawa. Ia berkata demikian karena sebagai penggemar musik rock, ia sering dianggap sebagai orang yang keras atau kasar, apalagi jika melihat penampilannya dengan rambut panjang dan berbagai aksesoris/atribut seperti rocker. Sah-sah saja memang menyukai aliran musik tertentu termasuk musik rock. Meski sering dituduh sebagai musik yang mengusung kekerasan atau hal-hal yang buruk, saya dan teman saya sepakat bahwa semua itu seharusnya dikembalikan kepada orang yang mempergunakan aliran musik ini. Benar, ada banyak band rock yang seperti terlihat memuja hal-hal yang keliru, tetapi tidak kalah banyak pula band rock yang memakainya untuk tujuan baik, termasuk di dalamnya untuk memuliakan Tuhan. Musik, apapun jenisnya tetaplah musik yang bisa dipakai sebagai sarana apresiasi, media meluapkan perasaan dan hiburan. Jadi bukan salah musiknya, tapi tergantung siapa yang memakai dan untuk apa ia memakainya. Teman saya menyukai jenis musik rock yang cadas, tapi ia benar karena mengatakan bahwa hati harus tetap lembut, karena begitu hati mengeras, efeknya bisa sangat merugikan.

Bagaimana ciri orang yang keras hati? Biasanya mereka sangat sulit menerima pendapat orang lain. Mereka merasa paling benar sendiri, mau menang sendiri, lebih suka berdebat meski tanpa ujung ketimbang mendengar terlebih dahulu. Mereka hobi membantah dan anti nasihat. Orang yang keras hati juga biasanya sulit diubahkan. Meski dalam hati terdalamnya mereka mungkin setuju terhadap nasihat atau pendapat lawan bicaranya, apa yang tampak diluar akan berbeda 180 derajat. Hati yang sudah keras bagai batu sering tampil memberontak terhadap segala hal. Banyak diantara orang yang keras hati ini mengira bahwa dengan tampil seperti itu mereka bisa terlihat hebat. Sebenarnya mereka sedang mengekspos kelemahan mereka dan pada akhirnya menghancurkan diri sendiri.

Pertama, mari kita lihat contoh ketika Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat dalam Markus 3:1-6. Pada saat itu ada sekelompok orang Farisi disana. Orang Farisi memiliki kedegilan hati yang sungguh teramat sangat mengecewakan. Mereka merasa paling tahu hukum, paling suci, paling rohani, paling tahu dan sebagainya. Mereka akan dengan mudah menghakimi orang lain tapi tidak pernah memeriksa diri mereka sendiri. Tingkat kekerasan hati mereka sudah sedemikian rupa sehingga mereka tidak lagi peka terhadap kebenaran.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on June 02, 2013, 10:29:49 AM
Quote
Ketika Yesus bertemu dengan orang yang sebelah tangannya lumpuh di rumah ibadat, orang-orang Farisi disana tahu bahwa Yesus pasti akan melakukan sesuatu. Bukannya bersyukur, mereka malah merasa bahwa ada peluang untuk mencari perkara terhadap Yesus. "Ini kan hari Sabat, tidak ada yang boleh melakukan apapun termasuk menyembuhkan. Ini saatnya untuk memerangkap dan mempersalahkan Yesus." begitu mungkin yang ada di benak mereka. Seharusnya mereka senang karena mendapat kesempatan untuk bertemu langsung dengan Yesus dan menyaksikan kuasaNya, tapi yang terjadi adalah mereka memutuskan untuk mencari-cari kesalahan. "Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia." (Markus 3:2). Lihatlah bagaimana kerasnya hati dan kepala para orang Farisi ini. Bukan saja mereka sudah tidak lagi peka terhadap tangisan orang-orang di sekitar mereka dalam memohon pertolongan, hati mereka juga ternyata sudah terlalu keras untuk menerima Yesus. Mereka lebih mementingkan tata cara dan tradisi ketimbang berbuat sesuatu untuk orang lain. Sekelompok orang Farisi yang ada menyaksikan Yesus pada saat itu lebih suka untuk melindungi tradisi keagamaan secara sempit daripada mematuhi Firman Tuhan. Mereka tidak peduli permasalahan orang lain karena toh mereka baik-baik saja dan merasa sudah sempurna.

Lalu bagaimana reaksi Yesus?  "Ia berdukacita karena kedegilan mereka dan dengan marah Ia memandang sekeliling-Nya kepada mereka.." (Markus 3:5) Kedegilan ternyata mendukakan hati Yesus. Sikap ini membuatnya kecewa dan marah. Bayangkan bagaimana parahnya jika di antara orang percaya masih saja banyak yang bersikap seperti ini. Mudah menghakimi orang lain, bahkan tidak jarang ada yang menghujat saudara seiman lainnya karena merasa paling benar. Menuduh gereja lain tidak baik, sesat dan sejenisnya dan menganggap hanya tempatnya beribadat yang paling sempurna. Jika orang percaya masih bersikap seperti ini dan terus saja menjadi batu sandungan, bagaimana mungkin kita bisa memimpikan melihat sebuah transformasi total?

(bersambung)


(http://4.bp.blogspot.com/-3_dRbUewJds/UYf7WSnWjpI/AAAAAAAAAlM/C_D5Up9Cl-A/s1600/batu.jpg)
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on June 03, 2013, 04:58:02 AM
Quote
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_06_01_archive.html[/url]
[url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/06/hati-keras-membatu-2.html[/url] ([url]http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/06/hati-keras-membatu-2.html[/url])

 Hati Keras Membatu (2)

(sambungan)

Jika melihat kitab Perjanjian Lama, ada satu tokoh yang dikenal memiliki kekerasan hati luar biasa, yaitu Saul. Salah satu contoh bisa kita lihat dalam 1 Samuel 23:1-13 ketika Daud mendapat mandat dari Tuhan untuk menyelamatkan kota Kehila dari serangan orang Filistin. Ketika Daud sukses melakukannya, Saul kemudian mendengar bahwa Daud sedang ada di Kehila. "...Lalu berkatalah Saul: "Allah telah menyerahkan dia ke dalam tanganku, sebab dengan masuk ke dalam kota yang berpintu dan berpalang ia telah mengurung dirinya." (ay 7).

Lihatlah betapa fatalnya kekerasan hati yang diderita Saul sampai-sampai ia tidak lagi bisa membedakan mana kehendak Tuhan dan mana yang tidak. Yang lebih parah, ia bahkan membawa-bawa nama Tuhan sebagai pembenaran akan tindakannya sendiri.

Ada banyak di antara orang percaya sekalipun yang bertingkah laku dan punya pola pikir seperti ini. Mereka akan dengan mudah menghakimi bahwa orang yang terkena masalah atau bencana sebagai akibat dari dosanya sendiri walau tidak tahu apa-apa tentang orang itu. Atau lihatlah orang-orang yang berlaku jahat dengan mengatasnamakan Tuhan agar mendapat legitimasi atas perbuatannya. Semua ini berawal dari sikap keras hati yang terus dibiarkan sehingga membatu sampai sulit dilembutkan kembali.

Kita pun diingatkan: "Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif" (Efesus 5:15). Firman Tuhan juga berkata: "Tetapi apabila pernah dikatakan: "Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman" (Ibrani 3:15). Ingatlah bahwasanya hati merupakan pusat kontrol dari segalanya, dan Alkitab juga sudah mengingatkan bahwa segala kecemaran itu timbul dari hati yang tidak terjaga dengan baik. "Sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan." (Markus 7:21-22).

Apabila ada diantara teman-teman yang masih keras hatinya, hari ini juga, segera gantikan hati yang membatu itu dengan sebuah hati yang lembut agar Firman Tuhan bisa masuk dan tertanam dengan baik disana. Jika kita menginginkan pencurahan ROH KUDUS dalam hidup kita dan melihat langsung manifestasiNya dalam gereja dimana anda bertumbuh, kita harus terlebih dahulu memeriksa kembali keadaan hati kita masing-masing. Periksa hati kita masing-masing, jika masih ada bagian-bagian yang keras di dalamnya, bertobatlah dan lembutkan secepatnya, karena itu hanya akan merugikan diri kita sendiri dan membawa kita kepada kehancuran.

Kekerasan hati bisa menghancurkan hidup dan masa depan kita
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on October 18, 2013, 07:40:44 AM
http://www.renunganharianonline.com/2013/10/
http://www.renunganharianonline.com/2013/10/kurang-percaya-2.html (http://www.renunganharianonline.com/2013/10/kurang-percaya-2.html)

(sambungan)

Sekarang mari fokus kepada perkataan Yesus "Hai orang-orang yang kurang percaya!" Kalimat ini pun dikatakan Yesus ketika angin ribut melanda perahu yang sedang Dia tumpangi bersama murid-muridNya. Para murid ketakutan melihat angin ribut dan gelombang badai. Dan Yesus menegur dengan kalimat yang sama: "Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?"(Matius 8:26). Sebanyak Yesus mengingatkan, sebanyak itu pula para murid ketakutan. Ini mencerminkan kita yang hari ini masih sering diliputi ketakutan meski sudah menerima Yesus sebagai Juru Selamat. Coba bayangkan jika kita ada di pihak Yesus, tidakkah itu mengecewakan juga bikin kesal? Kita mengaku percaya, tetapi iman kita tidak cukup kuat untuk benar-benar percaya secara nyata. Kita mengaku punya Yesus, tapi kita terus saja dibelenggu ketakutan. Murid-murid Yesus seperti itu, kita pun sama. Meski kita sudah berulang kali menyaksikan kebaikan Tuhan melepaskan kita dari berbagai masalah, tetap saja kita takut dan takut lagi dalam menatap hidup. Akibat dari kekurangan iman atau kurang yakin ini kita bisa terombang ambing dalam memahami kebenaran Firman Tuhan. Kita akan sulit menangkap esensinya, gagal atau malah salah. Dan itu tentu membawa kerugian bagi kita.

Berapa besar sebenarnya iman untuk bisa memperoleh atau melakukan sesuatu yang besar? Apakah sebesar gedung pencakar langit, gunung tertinggi, sebesar bola dunia? Ternyata Yesus mengatakan bahwa iman sebesar biji sesawi saja, yang ukurannya terkecil dari segala jenis benih, itu sudah bisa membawa hal-hal ajaib dalam hidup kita. "Ia berkata kepada mereka: "Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, --maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu." (Matius 17:20).
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on October 18, 2013, 07:41:39 AM
Nothing is impossible to us anymore if we have faith in the size of one mustard seed. Apa dasar pijakan kita untuk percaya? Manusia biasanya perlu bukti. Dan bukti itu sebenarnya hadir lewat iman. Dalam Ibrani 11:1 ini sudah disebutkan. "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." Dengan mata iman, kita akan bisa memiliki dasar kuat untuk berharap dan bukti dari apa yang belum kita lihat atau alami. Itu adalah pijakan yang kokoh untuk bisa percaya. Tanpa iman sulit bagi kita untuk percaya, tanpa iman yang cukup maka keyakinan kita pun tidak akan bisa mencapai jumlah yang tepat alias kurang. Jika kita masih berada dalam bentuk seperti ini, tidaklah heran apabila kita belum juga mengalami sesuatu dari Tuhan. Kita akan terus gagal menangkap rencana Tuhan, berkat-berkatNya, pesan-pesan dan teguran-teguranNya, yang bisa membawa kita tidak kunjung berhasil menjalani sekuens demi sekuens hidup kita sesuai jalan yang sudah Dia rancang bagi kita sejak semula.

Anda merasa lemah sebagai manusia? Tentu, kita manusia yang terbatas kemampuan dan kekuatannya. Tapi jangan lupa bahwa Tuhan sudah mengatakan bahwa di dalam kelemahan itulah justru kuasaNya menjadi sempurna. (2 Korintus 12:9). Dan itu menunjukkan betapa cukupnya karunia Tuhan bagi kita. Jika iman masih belum cukup, anda bisa membolak balik Alkitab anda dan menemukan betapa penyertaan Tuhan memberi kemenangan lewat kesaksian begitu banyak tokoh disana. Berbagai kesaksian yang dialami banyak orang hingga hari ini pun bisa menjadi bukti nyata bahwa Tuhan masih terus bekerja hingga kini. Mungkin memang sudah menjadi sifat dasar manusia untuk cepat khawatir, tapi justru karena itulah baik bagi kita untuk mengingatkan diri sendiri tentang segala sesuatu yang pernah dibuat Tuhan di waktu lalu. Kita harus tetap percaya dengan iman yang teguh, terus bersyukur dan memuliakan Tuhan, bertekun dalam doa, rajin membaca, merenungi dan melakukan Firman Tuhan, sambil terus melakukan pekerjaan dan tanggung jawab kita dengan sebaik mungkin. Percayalah, Tuhan tidak akan membiarkan satu pun anak-anakNya terlantar. Jika anda merasa khawatir, serahkanlah semuanya pada Tuhan dan pegang janjiNya. "Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu." (1 Petrus 5:7).

Apa yang dialami oleh tokoh-tokoh Alkitab yang berhasil memperoleh kedahsyatan penyertaan Tuhan dan kesaksian dari banyak orang hingga hari ini bisa menjadi milik anda. Pada suatu hari nanti anda bisa mengalami sendiri, tidak lagi hanya bergantung kepada apa kata orang dan apa yang anda baca. Untuk itu diperlukan keyakinan atau rasa percaya dan iman yang cukup. Ingatlah bahwa sekedar percaya ala kadarnya itu belum cukup untuk menuai segala yang baik yang Dia sediakan bagi kita.  Tingkatkan terus rasa percaya anda, latih terus dengan iman yang cukup sehingga anda tidak lagi mudah digoncangkan oleh berbagai masalah dalam hidup.

"Jangan takut, percaya saja!" (Markus 5:36)
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on October 19, 2013, 05:39:36 AM
Quote
[url]http://www.renunganharianonline.com/2013/10/[/url] ([url]http://www.renunganharianonline.com/2013/10/[/url])

Friday, October 18, 2013
Tuhan itu Baik

 Ayat bacaan: Mazmur 107:1 Ayat bacaan: Mazmur 107:1
"Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya."

Apakah Tuhan itu baik? Ada seseorang yang pernah berkata bahwa Tuhan itu baik hanya untuk orang-orang yang sedang berada dalam keadaan tanpa masalah, beruntung dan/atau sedang berkelimpahan. Ketika itu ia tengah mengalami banyak masalah, sehingga sulit baginya untuk mengamini bahwa Tuhan itu baik, "Tidak ada sama sekali kebaikan Tuhan bagi saya." katanya lagi. Benarkah demikian? Rata-rata dari kita sulit mengenali kebaikan Tuhan disaat kita tengah bergumul. Jika pergumulan biasa saja sudah membuat kita sulit merasakan hal itu, apalagi jika yang tengah dihadapi itu sangat berat. Wah, bisa-bisa kita marah kalau ada orang yang datang menghampiri dan mengatakan bahwa Tuhan itu baik. Tapi kita bisa belajar dari seorang pendeta yang beberapa waktu lalu sudah kembali kepada Sang Pencipta.

 Tidak kurang dari setahun ia bergumul dengan penyakit kanker yang ia derita. Kesehatannya merosot, berat badannya turun drastis dan berkali-kali ia harus bolak balik dirawat di rumah sakit menjalani pengobatan yang tidak mudah dan murah. Ia sempat merayakan ulang tahunnya yang terakhir sebelum ia koma dan kemudian meninggal. Dalam sebuah perayaan sederhana itu, saya ingat betul bahwa ia justru menyampaikan rasa syukurnya kepada kebaikan Tuhan. Didepan anak-anaknya ia berkata: "hidup papa tidak mudah. Kesulitan datang dan pergi. Tapi satu hal yang pasti, dan kalian harus ingat, adalah bahwa sepanjang hidup papa, tidak pernah ada satu haripun dimana Tuhan tidak memelihara." Kata-kata ini masih melekat dalam benak saya dan saya rasa sangat baik untuk kita teladani, bahwa kebaikan Tuhan tidaklah tergantung dari berat-ringannya atau ada tidaknya masalah yang menghampiri kita pada saat ini. Ketika kita kelimpungan dan merasa susah hati dalam menghadapi masalah, kita lupa bahwa dalam banyak hal kebaikan Tuhan masih bekerja buat kita dan keluarga. Pemeliharaan Tuhan tetap ada sampai kapanpun. Hidup dan mati hanyalah masalah waktu, karena memang kita tidak akan pernah selamanya berada di dunia. Tapi ada kekekalan yang telah disediakan Tuhan setelah fase dunia ini berakhir, dan itu pun merupakan anugerahNya yang luar biasa besar berdasarkan besarnya kasih dan kebaikan Tuhan kepada kita manusia.

 Daud menulis banyak sekali ucapan syukur atas kebaikan Tuhan. Salah satunya adalah ayat bacaan hari ini yang tidak asing lagi bagi kita, bahkan pernah dijadikan refrain sebuah lagu rohani yang sangat terkenal. "Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya." (Mazmur 107:1). Tuhan itu baik, kasih setiaNya kekal abadi. For all the goodness He gives, for His mercy and loving-kindness which endure forever, we should always give thanks to the Lord. Ini sulit kita terima disaat kita tengah menghadapi kesulitan atau penderitaan. Kita serta merta lupa bagaimana penyertaanNya sudah melepaskan kita dari begitu banyak masalah. Bagi bapak pendeta yang saya ceritakan diatas, ia merasakan hal itu meski disaat ia tengah menghadapi penyakit yang membuatnya tahu bahwa ia tidak akan lama lagi berada di dunia. Mengingat waktunya sudah singkat, ia pun menyampaikan hal sederhana kepada anak-anaknya tapi sangat penting untuk diingat, yaitu jangan pernah lupakan kebaikan Tuhan meski dalam kondisi apapun. Anak-anaknya sudah tumbuh dewasa dan bekerja, aktif dalam pelayanan, hidup bahagia dengan pasangan masing-masing, punya anak-anak yang sehat dan pintar, bukankah itu juga bukti kebaikan Tuhan atas dirinya? Ia yang hidup susah di masa kecil kemudian bisa menghidupi keluarga dengan baik, memiliki istri yang setia dan menjalankan perannya dengan baik, bukankah itu juga bukti kebaikan Tuhan yang tidak boleh disepelekan? Ditengah sakit yang ia derita, ternyata beliau memilih untuk mengingat penyertaan dan pemeliharaan Tuhan atas dirinya dan keluarga, yang menurutnya tidak pernah lewat seharipun. Ia memilih untuk tetap bersyukur dan melihat Tuhan sebagai sosok yang baik, yang mengasihi dan setia selama-lamanya.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on October 19, 2013, 05:41:46 AM
Quote
Dalam Mazmur 145 dikatakan "TUHAN itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya." (ay 9). Daud mengatakan bahwa Tuhan itu baik bukan hanya bagi beberapa orang saja, tetapi kepada semua orang. apa saja kebaikan Tuhan itu? Sangatlah banyak, tapi Daud menyebut beberapa diantaranya dalam ayat-ayat setelah itu seperti:
- "TUHAN itu penopang bagi semua orang yang jatuh dan penegak bagi semua orang yang tertunduk." (ay 14)
- "..Engkaupun memberi mereka makanan pada waktunya" (ay 15)
- "Engkau yang membuka tangan-Mu dan yang berkenan mengenyangkan segala yang hidup." (ay 16)
- "TUHAN itu adil dalam segala jalan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya." (ay 17)
- "TUHAN dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan." (ay 18)
- "Ia melakukan kehendak orang-orang yang takut akan Dia, mendengarkan teriak mereka minta tolong dan menyelamatkan mereka." (ay 19)
Sekali lagi seruan untuk bersyukur mengingat kebaikan Tuhan disampaikan dalam Mazmur 100:4-5. "Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya! Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun."

Bukti lain mengenai kebaikan Tuhan jelas tergambar dari apa yang dikatakan oleh Yesus langsung. Tuhan adalah Allah "..yang menerbitkan  matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar." (Matius 5:45). Kalau sampai orang yang jahat saja tetap Dia pelihara dan beri kesempatan untuk bertobat agar tidak binasa dalam penderitaan yang kekal, meski itu merupakan ganjaran yang rasanya adil, bukankah itu merupakan bukti nyata akan kebaikan Tuhan? Kita juga harus menyadari bahwa segala yang diciptakan Tuhan itu adalah baik. Itu bisa kita lihat dalam Kejadian pasal 1 dan juga disampaikan Paulus dalam 1 Timotius 4:4.

 Ada begitu banyak ayat yang menyatakan kebaikan Tuhan. Itu tidak sulit untuk dirasakan oleh kita yang sedang berada dalam keadaan baik, tetapi bisa jadi susah diterima oleh yang sedang ditimpa masalah. Bagi yang sedang sulit menerima hal itu, ambillah waktu untuk merenung sejenak dan ingat-ingat lagi bukti kebaikan Tuhan lewat penyertaanNya, pertolonganNya, kasih setiaNya dan berbagai anugerahNya yang lain yang anda rasakan, baik terhadap diri sendiri, keluarga anda, orang-orang terdekat disekitar anda, baik di waktu lalu maupun saat ini. Disana anda akan melihat bahwa meski ditengah masalah yang tengah menimpa anda, selalu ada bukti penyertaan Tuhan yang bisa anda temukan dalam berbagai bentuk. Untuk itu semua, mengucap syukurlah. Inilah yang dianjurkan Paulus kepada jemaat Tesalonika. "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu." (1 Tesalonika 5:18). Mengucap syukur harus dilakukan bukan hanya pada saat dimana kondisi sedang aman-aman saja, tetapi juga pada saat kita tengah bergumul dengan kesulitan. Sadari dan rasakan bahwa dalam keadaan apapun Tuhan itu baik. God is good, all the time. For that we should be thankful.

He's so good to you and me
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on October 20, 2013, 05:19:40 AM
Quote
[url]http://www.renunganharianonline.com/2013/10/[/url]

Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 14:17
========================
"namun Ia bukan tidak menyatakan diri-Nya dengan berbagai-bagai kebajikan, yaitu dengan menurunkan hujan dari langit dan dengan memberikan musim-musim subur bagi kamu. Ia memuaskan hatimu dengan makanan dan kegembiraan."

Saya masih ingin melanjutkan pembahasan kita kemarin tentang pentingnya mengingat kebaikan Tuhan dan mengucap syukur atasnya. Kebanyakan orang sulit merasakan kebaikan Tuhan ketika permasalahan baik besar maupun kecil tengah menimpa. Menantikan pertolongan Tuhan terasa sebagai sesuatu yang menyiksa, dan waktu pun seperti berjalan lebih lambat dari biasanya. Setiap saat kita meminta pertolongan, lalu menjadi tawar hati ketika pertolongan itu tidak kunjung datang. Jika kita tidak sabar, kemana kita akan pergi? Masalahnya muncul disini, karena ada banyak alternatif yang menjanjikan pertolongan padahal bertentangan dengan ketetapan Tuhan, baik yang nyata-nyata maupun yang terselubung. Kita tidak boleh lupa bahwa iblis bisa menyamar menjadi malaikat terang (2 Korintus 11:14). Artinya, iblis bisa meniru berbagai mukjizat dalam banyak bentuk imitasi, tetapi dibalik itu ada jebakan-jebakan yang bisa sangat merugikan bahkan menghancurkan kita. Bersabar dalam menanti-nantikan Tuhan sangat mutlak untuk dilakukan agar kita tidak tergiur dengan berbagai penawaran yang berlawanan dengan ketetapanNya. Dan tentu saja, kita harus selalu mengucap syukur baik dalam keadaan suka maupun duka, ketika hidup sedang baik atau kurang baik, dalam keadaan senang maupun sedih, atau bahkan ketika kita kehilangan orang yang kita cintai.

Beban masalah bisa sangat menekan kita. Begitu intens tekanannya sehingga seringkali kita melupakan kebaikan Tuhan dan malah terjerumus ke dalam berbagai keputusan-keputusan atau memilih alternatif-alternatif yang salah. Itu harus kita hindari agar jangan sampai karena ingin bebas dari masalah kita malah membuka pintu masuk bagi masalah lebih banyak dan lebih besar lagi.

Mari kita lihat kisah Paulus dan Barnabas yang dicatat dalam Kisah Para Rasul 14. Disana terekam betapa kecewanya mereka ketika melihat rakyat Likaonia malah menyembah dewa saat mukjizat Tuhan dinyatakan atas orang yang sakit. Begitu kecewa dan kesalnya sampai-sampai Paulus dan Barnabas mengoyak pakaian mereka dan meloncat ke tengah untuk menegur orang-orang disana. "Hai kamu sekalian, mengapa kamu berbuat demikian? Kami ini adalah manusia biasa sama seperti kamu. Kami ada di sini untuk memberitakan Injil kepada kamu, supaya kamu meninggalkan perbuatan sia-sia ini dan berbalik kepada Allah yang hidup, yang telah menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya." (ay 15) Lalu mereka melanjutkan:
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on October 20, 2013, 05:20:26 AM
Quote
"Dalam zaman yang lampau Allah membiarkan semua bangsa menuruti jalannya masing-masing, namun Ia bukan tidak menyatakan diri-Nya dengan berbagai-bagai kebajikan, yaitu dengan menurunkan hujan dari langit dan dengan memberikan musim-musim subur bagi kamu. Ia memuaskan hatimu dengan makanan dan kegembiraan." (ay 16-17). Orang-orang di Likaonia waktu itu tidak menyadari bagaimana kebaikan Tuhan yang sudah hadir dari generasi ke generasi. Mereka melupakan semuanya dan malah memilih menyembah dewa-dewa. Kita bisa melihat betapa kebenaran sudah begitu kabur bagi orang disana dan mereka sudah tidak lagi merasakan kebaikan Tuhan. Ini terjadi bahkan hingga hari ini. Ada yang mengaku beriman pada Kristus tapi masih 'berselingkuh' dengan berbagai alternatif lain di luar sana. Mereka mengira keduanya bisa berjalan beriringan, menganggap bahwa Tuhan hanyalah satu dari sekian alternatif sehingga jika lebih banyak yang dicoba, maka kemungkinannya makin besar.

Mungkin kita tidak menyembah ilah lain, mungkin kita tidak terjebak pada dukun, paranormal dan sejenisnya, tetapi apakah kita masih ingat akan semua kebaikan Tuhan baik dalam suka maupun duka, baik dalam keadaan baik maupun buruk? Sudahkah kita benar-benar menaruh pengharapan dalam kesetiaan kita akan Tuhan sepenuhnya atau kita akan pergi kepada alternatif-alternatif yang bertentangan dengan iman kita yang seolah-olah mampu memberi solusi atas persoalan kita ketika Tuhan terasa lambat menurut penilaian kita sendiri? Kita akan sulit untuk bisa setia dengan iman kuat kepada Tuhan dan tetap hidup dalam pengharapan apabila kita tidak menyadari betapa baiknya Tuhan selama ini kepada kita.

Daud berseru: "Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!" (Mazmur 34:9). Seruan Daud ini mengingatkan kita agar tidak melupakan betapa baiknya Tuhan kepada kita. Tidak saja kita diminta agar mau terus melihat kebaikan Tuhan, tetapi Daud juga mengingatkan kita untuk merasakan sendiri pengalaman demi pengalaman mengenai hal ini. Kita harus melatih diri untuk peka terhadap kebaikan Tuhan yang hadir dalam hidup kita, dari apa yang kita lihat dari sekitar kita, dan kemudian kita harus membiasakan diri untuk mengucap syukur atasnya.

Kesulitan boleh hadir, dan itu adalah bagian dari kehidupan setiap orang, tetapi itu bukan berarti bahwa itu diberikan karena Tuhan ingin bertindak kejam atau jahat dan gemar menyiksa kita. Jika anda merenung sejenak, saya percaya anda akan menemukan begitu banyak kebaikan Tuhan yang mungkin luput dari perhatian kita. Dia sudah memberikan begitu banyak termasuk kehidupan, kemampuan dan kesempatan yang masih diberikan kepada kita saat ini. Bahkan ketika kita masih berdosa pun kasih Tuhan tidak lekang dari kita. Oleh sebab itu jangan lupa mengucap syukur, "Sebab Engkau, ya Tuhan, baik dan suka mengampuni dan berlimpah kasih setia bagi semua orang yang berseru kepada-Mu." (Mazmur 86:5). Kita bahkan terus menerima kasih karunia demi kasih karunia (one grace after another, spiritual blessing upon spiritual blessing and even favor upon favor and gift upon gift) dari kepenuhanNya. (Yohanes 1:16). Mari renungkan segala kebaikan Tuhan dalam hidup kita, ambil keputusan untuk menyia-nyiakan kebaikanNya dan ucapkanlah syukur atas kebaikanNya. Jika itu anda lakukan, anda akan bisa mengatakan tepat seperti gambar diatas: "God is good so I don't have to look elsewhere."

"Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!" (Mazmur 103:2)
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on October 21, 2013, 06:04:41 AM
Quote
[url]http://www.renunganharianonline.com/2013/10/[/url]

Sunday, October 20, 2013
Berbuat Kebaikan Jangan Ditunda-tunda

Ayat bacaan: Amsal 3:27
===================
"Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya."

Pada suatu hari teman baik saya meng-sms saya dan mengatakan bahwa ia perlu meminjam uang yang jumlahnya tidak sedikit. Ketika saya tanya untuk keperluan apa, ia hanya menjawab bahwa itu untuk sesuatu yang penting. "Kalau tidak penting gue gak bakalan minjem.. elo kan tau gimana gue." katanya. Pada saat itu saya sedang pas-pasan, tetapi saya memang kenal betul sifatnya sehingga apabila ia meminjam, itu tentu untuk sesuatu yang sangat penting. Setelah saya bicarakan kepada istri, akhirnya kami berdua memutuskan untuk meminjamkan sesuai yang ia minta, meski konsekuensinya kami harus mengirit betul pengeluaran setelahnya. Tidak lama berselang, saya menerima kabar yang membuat saya sangat terpukul. Sahabat baik saya meninggal dunia di sebuah rumah sakit di Jakarta. Ternyata uang itu ia pinjam untuk biaya berobat dan opname. Ia berasal dari keluarga broken home, hanya ada ibu yang hidup berkekurangan dan seorang kakak tiri yang biasanya justru hanya meminta kepadanya meski sudah punya suami yang tidak bekerja. Sahabat saya ini meninggal di usia 23 tahun, usia yang masih sangat muda. apa yang membuat saya kaget adalah bahwa ia tidak pernah punya catatan menderita penyakit apapun. Sehari-hari ia kelihatan baik-baik saja, tetap ceria walau hidupnya tidak mudah. Dokter mengatakan bahwa ia meninggal karena penyakit lever, tapi sejauh yang saya tahu ia bukan pemabuk dan bukan pemakai obat-obat apapun. Sampai saat ini saya tidak tahu apa persisnya, tetapi ia sudah tidak ada lagi. Saya merasa sangat kehilangan karena ia adalah satu-satunya teman terdekat saya waktu itu. Meski demikian, saya merasa lega sebab setidaknya sudah membantunya. Saya membayangkan entah seperti apa rasa bersalah akan menghantui saya apabila pada waktu itu saya memilih untuk menunda memberi pinjaman atau menolak.

Ada banyak orang yang lebih suka menunda-nunda untuk melakukan sesuatu. Sifat ini sudah dibiasakan sejak masa-masa mengenyam pendidikan dengan menunda belajar atau mengerjakan tugas-tugas. Lantas setelah bekerja, mereka akan menunda menyelesaikan pekerjaan hingga mepet. Jika untuk hal-hal seperti ini saja orang sudah terbiasa menunda, apalagi dalam hal berbuat baik yang seringkali merupakan perbuatan tanpa imbalan apa-apa, sebuah pekerjaan sukarela yang justru menyita waktu dan pengorbanan-pengorbanan lainnya.

Salomo menyampaikan: "Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya." (Amsal 3:27). Ayat selanjutnya berkata "Janganlah engkau berkata kepada sesamamu: "Pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi," sedangkan yang diminta ada padamu." (ay 28). Kita sangat pintar mencari alasan untuk menghindari kewajiban kita untuk menolong orang lain. Tidak punya cukup uang, belum sanggup membantu dan sebagainya. Mungkin benar bahwa kita tidak berada dalam kelimpahan alias pas-pasan, tetapi bukankah seringkali dengan jumlah yang sedikit saja kita bisa memberi kelegaan kepada mereka yang tengah membutuhkan? Atau bahkan sedikit perhatian dan kepedulian kita saja sudah sangat membantu bagi mereka yang membutuhkan. Kata sanggup atau tidak sering menjadi hal yang subjektif, karena pada satu sisi saya melihat ada banyak pula orang yang hidup pas-pasan tetapi ternyata masih mau berusaha untuk menolong orang lain. Sebaliknya di sisi lain ada banyak juga orang yang kaya tetap saja merasa masih kurang, semakin banyak hartanya malah semakin pelit dan sulit menolong orang lain.

 Ketika kita bisa berbuat baik, sudah sepantasnya kita tidak menunda-nunda untuk melakukan itu. Saya memberi contoh mengenai bantuan secara finansial atau keuangan, tetapi berbuat kebaikan tidak hanya berbicara mengenai itu melainkan bisa hadir lewat berbagai bentuk. Perhatian, kasih sayang, kesabaran, dukungan moril, memberi masukan/pertimbangan atau nasihat, meluangkan sedikit dari waktu kita dan sebagainya, itupun merupakan bentuk dari kebaikan. Ketika kita memiliki hal itu, meski sedikit, kita sudah bisa melakukan sesuatu yang akan sangat bermakna bagi orang lain yang membutuhkannya, dan pada situasi demikian kita tidak seharusnya menunda-nunda untuk melakukan sesuatu. Untuk hal-hal diluar bantuan finansial kita pun pintar mencari alasan. Tidak cukup mengerti, sedang sangat sibuk, tidak mau ikut campur dan sebagainya, padahal alasan sesungguhnya adalah karena malas. Jangan tunda untuk melakukan sesuatu untuk orang-orang yang membutuhkan, jangan mengelak, jangan mengaku tidak mampu padahal kita sebenarnya tahu bahwa kita mampu untuk melakukannya.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on October 21, 2013, 06:07:00 AM
Quote
Kita harus sadar bahwa kita bukanlah diselamatkan OLEH perbuatan baik, tetapi kita diselamatkan UNTUK melakukan perbuatan baik. Perbuatan baik tidak menjamin keselamatan melainkan merupakan buah dari keselamatan yang telah kita terima lewat Yesus Kristus. Surat Paulus kepada jemaat Filipi pasal 2 juga memberi penekanan mengenai masalah kerelaan atau kerendahan hati untuk mendahulukan kepentingan orang lain daripada diri sendiri.  "..hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga." (Filipi 2:3b-4). Mengapa? Karena sebagai pengikut Kristus kita seharusnya mencerminkan pribadi Kristus. Penghiburan kasih, kasih mesra dan belas kasihan, itu semua ada dalam Kristus. (ay 1). Dan sebagai pengikut Kristus, kita seharusnya memiliki hati yang sama sepertiNya juga. Kita melihat sendiri dbagaimana Yesus terus bekerja untuk melakukan kehendak Bapa tanpa menunda-nunda sedikitpun. Dia terus berjalan melakukan tugasNya hingga selesai, dan itulah yang membawa keselamatan kepada kita.  Jika Yesus melakukan seperti itu, mengapa kita justru gemar menunda-nunda untuk melakukan kebaikan ketika pada saat yang sama mengaku sebagai muridNya?

Kerelaan memberi/mengulurkan tangan untuk membantu sebagai salah satu aspek dari perbuatan baik merupakan cerminan kedewasaan rohani kita. Orang yang imannya dewasa akan terus berusaha memberi, sebaliknya yang masih belum akan cenderung mengambil atau meminta. Lihatlah ayat berikut:  "Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." (Kisah Para Rasul 20:35). Orang yang sudah dewasa secara rohani akan sampai kepada pemahaman bahwa memberi ternyata lebih membahagiakan ketimbang menerima. Selanjutnya Alkitab mencatat perkataan Yesus seperti ini: "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi." (Yohanes 13:34). Yesus begitu mengasihi manusia sehingga Dia rela menanggung segala dosa-dosa kita untuk ditebus dengan cara yang sungguh luar biasa besar. Dia bahkan memberikan nyawaNya untuk keselamatan kita. "Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya." (Yohanes 15:13) kata Yesus, dan tidak sebatas wacana, Dia sudah membuktikan itu secara langsung. Mengacu kepada Firman Tuhan itu, seharusnya kita terus berusaha untuk mencapai sebuah tingkatan seperti apa yang telah dilakukan Yesus untuk kita, para sahabatNya. Jika nyawa kita pun seharusnya siap untuk diberikan, mengapa kita sulit sekali untuk mengeluarkan sedikit dari tabungan kita, usaha kita, tenaga atau sebagian dari waktu kita untuk melakukan kebaikan bagi sesama?

Aspek memberi/melakukan kebaikan merupakan hal yang sangat penting di mata Tuhan untuk kita lakukan. Begitu pentingnya hingga Tuhan berkata "sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku." (Matius 25:40). Kita tidak akan pernah mampu membayar kebaikan Tuhan dengan harta milik kita, berapapun besarnya. Tapi apabila kita ingin membalas kebaikan Tuhan, Alkitab mengatakan bahwa kita bisa melakukannya melalui berbuat kebaikan  kepada orang lain yang membutuhkan.

Dalam Yesaya 60:1-3 dikatakan demikian: "Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu. Bangsa-bangsa berduyun-duyun datang kepada terangmu, dan raja-raja kepada cahaya yang terbit bagimu." Ayat ini menunjukkan sebuah pesan penting bahwa menjadi terang adalah sebuah ketetapan dari Tuhan dan bukan merupakan pilihan. Ketika kita berfungsi benar sebagai terang, maka dengan sendirinya kita harus berhadapan dengan orang-orang yang datang kepada kita. Di lain waktu saya akan membahas hal menjadi terang ini secara lebih detail. Tapi untuk saat ini sadarilah bahwa anda ditetapkan sebagai terang oleh Tuhan, dan itu akan mengharuskan kita untuk rela meluangkan waktu, tenaga, pikiran dan berbagai bantuan lainnya untuk membantu orang-orang yang datang kepada kita. Itu adalah sebuah konsekuensi yang harus kita syukuri dan jalani dengan penuh sukacita. Jika ini kita tunda, itu sama saja dengan melepas tanggungjawab yang telah ditetapkan Tuhan, dan itu tentu sesuatu yang seharusnya tidak kita lakukan.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on October 21, 2013, 06:07:32 AM
Quote
Tuhan sudah mengasihi kita dengan kasih setia yang begitu luar biasa besarnya. Sekarang giliran kita, apakah kita mampu menyalurkan kasih Tuhan yang ada dalam diri kita itu lewat kepedulian kita terhadap sesama? Apakah kita sudah melakukan perbuatan baik kepada mereka yang membutuhkan atau kita masih terus mengelak dan menunda-nunda untuk melakukannya dengan berbagai dalih? Mari periksa diri kita, apakah ada yang mampu kita berikan hari ini kepada mereka yang kesulitan, mereka yang sebenarnya berhak menerimanya? Apakah itu untuk orang di lingkungan kita, untuk kota, bangsa dan negara, periksalah kontribusi apa yang bisa anda lakukan. Jika ada, jangan tunda lagi, lakukan hari ini juga.

Helping makes the world a happier place

Follow us on twitter: [url]http://twitter.com/dailyrhoTuhan[/url] ([url]http://twitter.com/dailyrhoTuhan[/url]) sudah mengasihi kita dengan kasih setia yang begitu luar biasa besarnya. Sekarang giliran kita, apakah kita mampu menyalurkan kasih Tuhan yang ada dalam diri kita itu lewat kepedulian kita terhadap sesama? Apakah kita sudah melakukan perbuatan baik kepada mereka yang membutuhkan atau kita masih terus mengelak dan menunda-nunda untuk melakukannya dengan berbagai dalih? Mari periksa diri kita, apakah ada yang mampu kita berikan hari ini kepada mereka yang kesulitan, mereka yang sebenarnya berhak menerimanya? Apakah itu untuk orang di lingkungan kita, untuk kota, bangsa dan negara, periksalah kontribusi apa yang bisa anda lakukan. Jika ada, jangan tunda lagi, lakukan hari ini juga.

Helping makes the world a happier place

Follow us on twitter: [url]http://twitter.com/dailyrho[/url] ([url]http://twitter.com/dailyrho[/url])
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on October 22, 2013, 05:16:23 AM
Quote
[url]http://www.renunganharianonline.com/2013/10/[/url]

Monday, October 21, 2013
Three Kingdoms (1)

Ayat bacaan: 1 Petrus 3:15
==================
"Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan!"

Salah satu literatur sastra dunia yang paling mengagumkan berasal dari daratan Cina, berjudul Romance of the Three Kingdoms. Karya epik terkenal ini selain dalam bentuk novel juga sudah dihadirkan dalam banyak bentuk lainnya seperti film dan game. Romance of the Three Kingdoms ditulis oleh Luo Guanzhong pada abad ke 14, mengisahkan tiga negara bagian/kerajaan pada masa-masa menjelang kejatuhan Dinasti Han sekitar tahun 169 sampai kepada penyatuan daratan Cina di tahun 280 sesudah Masehi. Novel ini sangat luar biasa karena memiliki ratusan tokoh dan sub-plot yang sangat banyak. Ada intrik, skandal, perang, politik dan sebagainya disana sehingga novel historis tebal ini begitu menarik untuk dibaca.

Tiga kerajaan yang saling bertikai untuk menjadi pemenang digambarkan secara detail oleh Luo Guanzhong. Sadarkah anda bahwa dalam hidup kita pun ada tiga kerajaan yang bisa berkuasa atas diri setiap kita? Kerajaan-kerajaan itu adalah the kingdom of myself (kerajaan diri sendiri), the kingdom of evil (kerajaan iblis) dan the kingdom of God (Kerajaan Tuhan).

Seringkali kita terlalu mudah menganggap bahwa iblis sebagai biang kerok segala kesengsaraan di muka bumi ini. Itu tidak sepenuhnya salah, karena iblis memang selalu berusaha menjauhkan kita dari keselamatan, terus mencoba menjerumuskan kita ke dalam berbagai bentuk dosa. Peringatan jelas disampaikan pada kita bahwa "...Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya." (1 Petrus 5:8). Iblis akan selalu mencoba memporak-porandakan tatanan kehidupan, pemikiran dan perasaan kita ketika ada celah baginya untuk masuk. Bagaimana jika tidak ada celah? Maka iblis sebenarnya tidak akan bisa menelan kita. Tidak ada satupun yang bisa dibuat iblis apabila kita tidak memberinya kesempatan untuk mempermainkan kita. Anda bahkan seharusnya tidak perlu takut untuk berada di tempat yang kata orang angker karena Roh Allah yang ada di dalam anda lebih besar dari semua lainnya (1 Yohanes 4:4).

Jika demikian masalahnya adalah ketidakwaspadaan atau kelengahan kita mengawasi hidup sehingga ada celah-celah yang baik disadari atau tidak bisa muncul. Disanalah iblis akan mencoba menyerang kita. Oleh karena itulah saya mengangkat tiga bentuk kerajaan dan bukan dua. Satu lagi, selain kerajaan iblis dan Kerajaan Allah adalah kerajaan diri sendiri. Orang yang didalamnya berkuasa kerajaan diri sendiri (the kingdom of myself) akan menganggap dirinya sebagai raja diatas segala raja. Keputusan-keputusannya absolut, mutlak, pendapatnya tidak ada yang boleh menyanggah. Mereka akan mementingkan dirinya sendiri jauh di atas orang lain dan tidak akan segan-segan merugikan atau bahkan menghancurkan orang lain jika itu menyangkut kepentingannya. Tidak ada kebenaran Tuhan yang bisa masuk ke dalam pemahaman mereka karena mereka menganggap dirinyalah yang paling benar. Sifat ke-akuan begitu tinggi sehingga untuk bisa diterima oleh mereka, tidak ada jalan lain selain kita mutlak patuh kepada mereka dan setuju terhadap apapun yang mereka katakan. Inilah bentuk orang yang didalamnya berkuasa kerajaan diri sendiri. Kerajaan diri sendiri ini sangatlah berbahaya karena mereka yang berada di dalamnya bisa terjebak pada pemikiran-pemikiran yang keliru sehingga mudah tersesat. Pemikiran-pemikiran mereka hanyalah bersumber dari apa yang mereka anggap benar dan logika mereka biasanya mudah menolak atau menyanggah kebenaran Firman Tuhan. Apakah lewat logika, tingkat keilmuan mereka yang tinggi, kepintaran atau kejeniusan mereka. Pendek kata, jika itu tidak sesuai dengan pendapatnya, maka semua itu pasti salah. Tidak jarang pula mereka ini akan terlebih dahulu menyanggah meski dalam hati mereka tahu itu benar, hanya karena ego mereka menolak untuk menerima. Merasa diri paling hebat, paling kuasa dan merasa orang lain hanya sebagai suruhan atau alat yang bisa diperintah untuk memenuhi kebutuhan mereka atau menjalankan keputusan mereka. Kerajaan ini bisa diperalat oleh iblis untuk melakukan banyak hal kejahatan sekaligus lahan bermain yang sangat menyenangkan bagi si jahat untuk terus menyesatkan orang yang mengadopsi kerajaan ini dalam hidup sehingga semakin jauh dari kebenaran dan akhirnya binasa.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on October 22, 2013, 05:17:07 AM
Quote
Orang yang didalamnya berkuasa kerajaan iblis (kingdom of evil> akan terus hidup dalam berbagai dosa. Mereka menikmati benar dosa-dosa dan berbuat kejahatan tanpa rasa bersalah. Hati nurani tertutup dan berbagai pelanggaran dianggap wajar. Mereka ini bahkan sanggup bersikap kejam terhadap orang lain dan akan selalu berusaha menyesatkan. Perhatikan bahwa Efesus 6 sudah mengatakan tentang struktur kerajaan iblis ini. "karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara." (Efesus 6:12). Kerajaan iblis tampil mulai dari pemerintah tertingginya hingga jajaran dibawahnya sampai ke penghulu-penghulu. Itulah yang harus kita waspadai, karena bentuk-bentuk terkecil yang bisa luput dari perhatian kita justru bisa menjadi penghancur utama. Kerajaan yang tidak kelihatan (the unseen world) ini berisi banyak tipu muslihat yang membawa dampak kerusakan parah pada manusia. Kita sering kali memperhatikan kondisi tubuh dan jiwa, tetapi manusia juga dibangun atas roh, yang akan menjadi titik serang paling rawan. Perjuangan melawan kuasa si jahat akan terus berlangsung. Oleh karenanya sangatlah penting untuk mengetahui strategi dan prinsip-prinsip iblis untuk memenangkan pertarungan.

(bersambung)
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on October 23, 2013, 06:02:43 AM
Quote
[url]http://www.renunganharianonline.com/2013/10/[/url]

Tuesday, October 22, 2013
Three Kingdoms (2)

(sambungan)

Hari-hari ini iblis mencoba menyerang lembaga terkecil manusia yaitu keluarga. Suasana panas, rasa bosan, benci, cepat marah bisa merusak keutuhan lembaga keluarga. Ini bisa menjadi salah satu celah untuk menghancurkan kita. Oleh karena itu kita harus benar-benar mewaspadai serangan lewat celah ini. Jika anda mulai merasakan ketidakharmonisan dalam rumah tangga, perbaiki segera sebelum kerajaan ini terlanjur berkuasa atas diri anda. Dalam ayat Efesus 6:11 dikatakan bahwa mengenakan senjata Allah adalah cara bagi kita untuk dapat bertahan melawan tipu muslihat iblis.

Kerajaan satu lagi adalah Kerajaan Allah, The Kingdom of God. Kerajaan ini menempatkan Tuhan diatas segalanya, sebagai Raja atas segala raja. Jika Kerajaan Allah yang berkuasa, maka ketaatan dan kepatuhan kita tanpa syarat kepada Allah sebagai Raja adalah hal yang mutlak. Kita tidak memberi kompromi sedikitpun atas pelanggaran meski sangat kecil dan sering dianggap boleh diabaikan, terus berjalan dalam koridor yang berkenan di hadapan Tuhan dan memuliakanNya lewat segala yang kita kerjakan. Mengasihi orang lain dengan tulus, bekerja serius, sungguh-sungguh dan penuh kejujuran, punya kerinduan untuk terus mendengarkan Tuhan dan tunduk secara total atas otoritas Tuhan dalam segala aspek kehidupan, itulah yang menjadi sikap orang-orang yang menjadikan Allah sebagai Raja atas hidupnya.

Kerajaan Allah adalah kerajaan yang tak tergoncangkan (Ibrani 12:26-28). Kita berhak untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah lewat lahir baru, menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Orang yang berjalan bersama Yesus dan dipenuhi Roh Allah akan terlihat dari buah-buah hidupnya. Ketika Allah yang memerintah sebagai Raja, maka hidup pun akan mencerminkan kasih dan kesetiaan yang merupakan sifat utama Allah. Kita tidak lagi hanya ingin menerima tapi terus rindu untuk memberi. Kita akan menghormati Tuhan dalam apapun yang kita lakukan. Melakukan semua kebajikan dan menghindari kejahatan. Melakukan apa yang benar dan menolak yang salah.

Anggaplah diri kita seperti bagian dari sebuah kerajaan, maka siapa yang memimpin akan sangat menentukan perjalanan hidup kita. Yes, there's a kingdom in our hearts, dan kita harus menentukan siapa yang menjadi pemimpin di dalamnya. Ada sebuah ayat yang dengan tegas menyebutkan apa yang seharusnya kita lakukan, dan itu disampaikan Petrus dengan singkat, padat namun jelas: "Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan!" (1 Petrus 3:15). "But in your hearts set Christ apart as hold (and acknowledge Him) as Lord." Versi lain yang menyebutkan ayat ini dengan "Sanctify the Lord God in your hearts." Rangkuman dari keduanya berarti kita harus menguduskan, menjadikan atau mendedikasikan Yesus sebagai Penguasa tertinggi dalam hidup kita. Dan Petrus jelas mengatakan bahwa itu semua bermula dari hati. Hatilah yang menjadi pusat kerajaan, dan siapa yang berkuasa disana akan sangat menentukan siapa dan bagaimana diri kita hari ini, juga akan sangat menentukan ke arah mana kita menuju kedepannya.

Oleh karena itulah alkitab berbicara banyak mengenai pentingnya menjaga hati. Sebuah ayat dalam Amsal berkata: "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." (Amsal 4:23). Mengapa hati harus dijaga dengan segala kewaspadaan? Karena dari sanalah kehidupan itu sesungguhnya terpancar. Yesus pun menyebutkan alasannya dengan rinci. "sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan." (Markus 7:21-22). Ini merupakan daftar yang bisa membuat kita bergidik ngeri. Dan lanjutannya, Yesus mengatakan secara jelas pula bahwa "Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang." (ay 23). Kalau begitu, sangatlah penting bagi kita untuk menguduskan hati kita lalu terus mempertahankan dan menjaga kekudusannya. Dan hal tersebut tidak mungkin kita lakukan jika kita membiarkan hal-hal selain Tuhan Yesus untuk menjadi Penguasa di dalamnya. Nasib sebuah negara atau kerajaan akan sangat tergantung dari siapa pemimpin atau rajanya, dan sama seperti itu pulalah hidup kita. Dan hati, sebagai pusat dari kehidupan butuh Sosok Pemimpin yang benar, atau semuanya akan berakhir dalam kehancuran.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on October 23, 2013, 06:03:35 AM
Quote
Kembali kepada seruan Petrus, sebuah ayat lain mengingatkan pentingnya menjaga kekudusan ini. "sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus." (1 Petrus 1:16). Kita harus mengejar kekudusan, "sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan." (Ibrani 12:14). Untuk menjadikan Yesus sebagai Raja yang bertahta dalam hati kita, kita harus mematikan segala sesuatu yang bisa merusak atau menggagalkan hal itu. Keinginan daging, hawa nafsu, godaan-godaan, membiarkan pengaruh-pengaruh buruk meracuni kita atau berbagai penyebab kerusakan lainnya haruslah bisa kita tundukkan dan matikan. Tanpa itu hati kita tidak akan pernah bisa memiliki Raja yang tepat yang akan membawa kita masuk kedalam keselamatan dalam kepenuhan.

 Ada banyak hal di dalam diri kita yang mencoba untuk memegang kendali penuh, menjadi penguasa atas kita. Jangan-jangan Tuhan sudah terpinggirkan sejak lama dalam hati kita, kalaupun ada mungkin hanya menempati sebagian kecil saja disana atau bahkan sudah sama sekali tidak punya tempat lagi. Kita mungkin merasa itulah kebebasan yang membawa kenikmatan dalam hidup, tetapi sesungguhnya sebuah kebebasan sejati hanya akan datang jika kita mengijinkan Yesus sendiri untuk berkuasa atas hati dan hidup kita. Siapakah yang menjadi raja atas diri anda hari ini? Apakah the kingdom of myself, kingdom of evil/satan atau the Kingdom of God? Saatnya bagi kita untuk bersama-sama memeriksa hati. Make sure that Kingdom of God is the one that rules, or destructions is only a matter of time. Hidup yang sepenuhnya tunduk kepada otoritas Tuhan akan membawa kita menuju jalan keselamatan

Follow us on twitter: [url]http://twitter.com/dailyrho[/url] ([url]http://twitter.com/dailyrho[/url])
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on October 24, 2013, 05:46:11 AM
Quote
[url]http://www.renunganharianonline.com/2013/10/[/url]

 Wednesday, October 23, 2013
Waspadai Lidah

Ayat bacaan: Yakobus 3:5
===================
"Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar"

Semua orang ingin damai, tapi sedikit yang mempraktekkan. Kekerasan terus terjadi bahkan yang mengatasnamakan Tuhan dengan tujuan yang mereka anggap baik. Dengan kata lain, ada orang-orang yang bermimpi untuk menciptakan perdamaian justru lewat jalan kekerasan. So be it, masing-masing orang punya caranya sendiri. Tapi sadarkah kita bahwa kerusakan terbesar seringkali bukan lewat tindakan-tindakan kekerasan yang ekstrim tapi justru lewat organ kecil bagian tubuh kita yaitu lidah. Dan yang lebih parah, awal persoalan seringkali bukan hal yang berat, tapi lewat gesekan-gesekan kecil yang seharusnya mudah diredakan. Bagaikan nyala api yang mulainya kecil, itu bisa cepat dipadamkan. Tetapi ketika api didiamkan maka ia akan terus membesar dan membakar lebih banyak lagi. Ketika api sudah sedemikian besar, maka api bisa menghancurkan dan menimbulkan kerusakan yang tidak sedikit. Bukan saja bagi satu orang tapi bisa menyangkut sebuah bangsa bahkan eksesnya bisa panjang hingga menembus batas-batas wilayah.

Alkitab mengingatkan dengan jelas mengenai potensi bahaya yang bisa ditimbulkan oleh lidah yang ukurannya relatif kecil dibanding tubuh kita dan menariknya menghubungkannya dengan api yang membakar. Yakobus mengatakan: "Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar." (Yakobus 3:5). Ini adalah sebuah analogi yang sungguh tepat, karena efek atau dampak kerusakan yang ditimbulkan bisa sama parahnya seperti kebakaran besar. Sepercik api itu sangatlah kecil dan sama sekali tidak kita anggap berbahaya. Jika anda nyalakan korek, api itu sama sekali tidak akan membahayakan. Tapi apa jadinya jika kita mulai mendekatkan itu kepada kulit? Atau bagaimana jika api itu kita letakkan membakar sedikit bagian hutan dan dibiarkan selama beberapa waktu? Dampaknya bisa sangat berat bahkan fatal. Bisa menghilangkan nyawa orang, kalaupun tidak sampai nyawa, untuk memperbaikinya bisa membutuhkan tahunan, puluhan tahun, atau malah tidak akan pernah bisa dikembalikan lagi ke kondisi semula.

Yakobus melanjutkan: "Lidahpun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka.Semua jenis binatang liar, burung-burung, serta binatang-binatang menjalar dan binatang-binatang laut dapat dijinakkan dan telah dijinakkan oleh sifat manusia, tetapi tidak seorangpun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan." (ay 6-8). Jika Yakobus menyorot tentang kebuasan lidah, yang begitu sulit dijinakkan, tak terkuasai dan penuh racun, seperti itulah tepatnya. Kita sudah terlalu sering melihat kehancuran hubungan antar manusia, antar suku bangsa bahkan negara yang berasal dari kebuasan lidah yang tak terkendali ini, sama seperti api yang membakar dan menghancurkan. Ironisnya, lidah sebenarnya bisa dipakai untuk memuji Tuhan, tapi lidah yang sama ini pula bisa menjadi senjata penghancur yang lebih dahsyat dari senjata termuktahir hari ini. "Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi." (ay 9-10). 
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on October 24, 2013, 05:48:22 AM
Quote
Setiap saat kita berhadapan dengan begitu banyak orang dengan tingkah, polah dan gayanya sendiri-sendiri, bahkan dikalangan keluarga atau orang-orang terdekat. Gesekan bisa terjadi kapan saja dan perselisihan pun bisa timbul. Seperti yang saya sebut tadi, penyebabnya biasanya bukanlah masalah besar tetapi dimulai dari hal-hal yang kecil atau sepele, namun kemudian meluas sehingga pada akhirnya sulit untuk dikendalikan. Itulah sebabnya kita dianjurkan untuk bersabar dan bisa menahan diri, tidak terbujuk atau terpengaruh oleh emosi sesaat yang pada akhirnya kita sesali juga tetapi sudah terlanjur menghancurkan banyak hal. Hubungan keluarga hancur, hubungan pertemanan, hubungan bertetangga, hubungan antar manusia, dan jika ini yang terjadi, jangan pernah harapkan lagi ada perdamaian di muka bumi. Iblis akan berusaha menghancurkan manusia, dan biasanya itu dilakukan dengan menyerang sel terkecil yaitu keluarga. Dari kehancuran keluarga, semua impian iblis bisa diwujudkan, dan ketika itu yang terjadi, maka kita sendiri yang akan menanggung kerugian besar. Tidak ada tempat bagi kebencian apalagi dendam dalam Kekristenan. Kita selalu diminta untuk mengasihi, mengerti dan mengaplikasikan bagaimana kasih Tuhan yang tanpa batas itu untuk diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Apakah orang yang bersalah itu mau mengakui kesalahannya atau tidak, kita diminta untuk bisa memberi pengampunan. Firman Tuhan berkata: "Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni." (Lukas 6:37). Jika itu kita terapkan, maka kita bisa berharap untuk melihat perdamaian semakin bertumbuh di dunia ini. Sayangnya kita justru sering memakai hukum sebab akibat sebagai alasan pembenaran atas permusuhan yang terjadi antara kita dengan orang lain. Kita mengira bahwa dengan mengeluarkan emosi lewat kata-kata maka kita bisa lebih tenang. Tetapi yang justru sering terjadi, lidah yang tidak terjaga akan terus membakar sehingga pada suatu ketika tidak lagi bisa dipadamkan.

Itulah sebabnya Firman Tuhan berkata: "Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!" (Roma 12:18). Ini penting karena kita sering lupa bahwa keputusan untuk berdamai atau bertikai seringkali bukan tergantung dari orang, tetapi justru berasal dari diri kita sendiri. Mungkin memang orang lain yang memulai, tetapi bukankah keputusan untuk mengampuni atau tidak itu datangnya dari diri kita sendiri? Apa yang harus kita jaga adalah memiliki kasih dalam diri kita, dan ada elemen kecil yang seharusnya kita jaga dan perhatikan karena sering luput dari perhatian kita, yaitu lidah.

Lidah itu cuma bagian kecil dari keseluruhan tubuh kita. Bandingkan dengan tubuh kita, lidah tidak ada apa-apanya. tetapi kehancuran yang bisa ditimbulkan oleh lidah yang tidak terkawal bisa begitu hebat. Bukan saja menghancurkan diri kita, tetapi bisa berdampak jauh lebih besar daripada itu. Masa depan orang lain bahkan kelangsungan kehidupan manusia secara luas bisa berakhir hanya karena lidah yang tidak terkendali. Sejarah mencatat banyak peristiwa yang mengubah kehidupan manusia menjadi porak poranda, dimana dibutuhkan puluhan bahkan ratusan tahun untuk bisa pulih dari kerusakan yang berawal dari lidah. Untuk itu kita perlu menyerahkan lidah kita ke dalam tangan Tuhan, mengisi hati kita sebagai sumber kehidupan dengan Firman Tuhan dan menghidupi kasih secara nyata dalam diri kita. Kemampuan manusia tidak akan sanggup menguasai lidah, tetapi kita bisa belajar untuk mengandalkan Tuhan dalam mengendalikannya.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on October 24, 2013, 05:49:20 AM
Quote
Sebuah pesan yang tidak kalah penting mungkin baik pula untuk diangkat dalam menyikapi kebuasan lidah ini. "Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah" (Yakobus 1:20). Jangan terburu-buru melempar kata-kata, apalagi dalam keadaan yang gampang tersulut emosi. Jangan sampai emosi sesaat yang terlontar lewat perkataan itu menjadi sesuatu yang kita sesali kelak, yang bisa jadi sudah terlambat untuk diperbaiki. Sebuah "amarah manusia tidak mengajarkan kebenaran di hadapan Allah" (ay 20), karena dampak yang ditimbulkan bisa sangat parah dimana lidah biasanya menjadi ujung tombak dalam mewakili kemarahan ini. Disamping itu peran lidah sebagai pintu keluar produk kemarahan juga menunjukkan bahwa meski kecil, organ tubuh ini benar-benar harus kita jaga baik. Oleh karena itu, marilah kita waspadai dengan secermat-cermatnya segala sesuatu yang keluar dari mulut kita. Jangan sampai ada kutuk dalam bentuk apapun yang keluar dari mulut kita, jangan sampai lidah kita berlaku begitu bebas berlaku buas dan membunuh masa depan banyak orang. Apa yang baik adalah mempergunakan lidah untuk memuji dan menyembah Tuhan, dan pakai pula untuk memberkati sesama. Itulah tujuan utama Tuhan memberi lidah bagi manusia selain untuk merasa. Tuhan bisa pakai lidah kita untuk menjadi terang dan garam bagi dunia, maka pergunakanlah itu sesuai dengan kehendakNya.

 Lidah yang tidak terkawal bisa menghancurkan, maka waspadai baik-baik
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on October 25, 2013, 05:10:45 AM
Quote
[url]http://www.renunganharianonline.com/2013/10/[/url]

 Thursday, October 24, 2013
Cemungud

Ayat bacaan: 2 Tawarikh 15:7
======================
"Tetapi kamu ini, kuatkanlah hatimu, jangan lemah semangatmu, karena ada upah bagi usahamu!"

Generasi berbeda tampaknya punya bahasa gaul yang berbeda. Beberapa tahun terakhir kita mengenal bahasa sangat gaul yang banyak disebut orang sebagai bahasa alay, yang akan sulit dimengerti bagi orang awam. Salah satunya adalah seruan semangat yang dalam bahasa mereka dikatakan dengan "cemungud". Karena saya berhubungan dengan berbagai kalangan usia, tidak jarang saya menerima pesan teks dalam gaya bahasa ini, sehingga saya tidak terlalu asing dengan istilah-istilah mereka. Misalnya kemarin saya menerima teks "Cmungudh ea kk!", yang artinya "semangat ya kakak!" dari seorang teman yang usianya jauh dibawah saya. Saya tersenyum geli membacanya tapi menghargai betul karena itu adalah bentuk perhatian dan penerimaannya terhadap saya yang lebih tua.

Semangat akan menampilkan raut muka dan gerak tubuh kita berbeda. Orang yang bersemangat akan terlihat sangat kontras dengan yang tidak. Saat orang patah semangat biasanya terlihat lesu dan murung, air muka keruh, loyo dan lemas, orang yang bersemangat akan terlihat antusias dengan wajah bersinar ceria. Senyum pun akan rajin menghiasi wajah mereka. Selalu menyenangkan melihat orang-orang bersemangat. Mereka bisa membuat kita termotivasi dalam mood yang baik. Coba kita pikirkan, apakah orang-orang yang bersemangat ini hidup tanpa masalah? Mereka pun pasti punya masalahnya sendiri. Semua manusia sama-sama berhadapan dengan masa-masa sulit sekali waktu. Tetapi reaksi dalam menanggapinya akan berbeda jika disertai semangat atau tidak. Penampilan dan performa orang bersemangat akan jauh di atas orang yang hidupnya layu tanpa semangat. Dan itu tidak tergantung dari lama-sebentarnya orang berjuang. Ada yang baru mencoba sebentar tapi cepat kehilangan semangat, ada yang terus mencoba tanpa kehilangan semangat meski mereka sudah berulang kali gagal.

Sepenggal kisah dicatat dalam kitab 2 Tawarikh tentang seorang raja bernama Asa yang melakukan reformasi terhadap bangsa Yehuda yang ia pimpin. Sebelum ia melakukannya, ia terlebih dahulu didatangi oleh nabi Azarya bin Oded yang diberikan mandat oleh Allah untuk menyampaikan pesan khusus. Dari serangkaian pesan kepada Asa oleh Azarya, salah satunya menyangkut soal semangat. mengenai semangat. "Tetapi kamu ini, kuatkanlah hatimu, jangan lemah semangatmu, karena ada upah bagi usahamu!" (2 Tawarikh 15:7). Dari ayat ini kita bisa melihat bahwa Tuhan menjanjikan upah bagi orang-orang yang memiliki semangat. Asa mendengar pesan itu, dan proses reformasi menyeluruh pun ia lakukan. Hasilnya ternyata sangat baik dan dicatat dalam Alkitab, yaitu "Tidak ada perang sampai pada tahun ketiga puluh lima pemerintahan Asa." (ay 19). Ini sebuah pencapaian luar biasa baik mengingat situasi dan kondisi pada masa itu yang sarat dengan peperangan.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on October 25, 2013, 05:11:41 AM
Quote
Ayat bacaan: 2 Tawarikh 15:7
======================
"Tetapi kamu ini, kuatkanlah hatimu, jangan lemah semangatmu, karena ada upah bagi usahamu!"

Generasi berbeda tampaknya punya bahasa gaul yang berbeda. Beberapa tahun terakhir kita mengenal bahasa sangat gaul yang banyak disebut orang sebagai bahasa alay, yang akan sulit dimengerti bagi orang awam. Salah satunya adalah seruan semangat yang dalam bahasa mereka dikatakan dengan "cemungud". Karena saya berhubungan dengan berbagai kalangan usia, tidak jarang saya menerima pesan teks dalam gaya bahasa ini, sehingga saya tidak terlalu asing dengan istilah-istilah mereka. Misalnya kemarin saya menerima teks "Cmungudh ea kk!", yang artinya "semangat ya kakak!" dari seorang teman yang usianya jauh dibawah saya. Saya tersenyum geli membacanya tapi menghargai betul karena itu adalah bentuk perhatian dan penerimaannya terhadap saya yang lebih tua.

Semangat akan menampilkan raut muka dan gerak tubuh kita berbeda. Orang yang bersemangat akan terlihat sangat kontras dengan yang tidak. Saat orang patah semangat biasanya terlihat lesu dan murung, air muka keruh, loyo dan lemas, orang yang bersemangat akan terlihat antusias dengan wajah bersinar ceria. Senyum pun akan rajin menghiasi wajah mereka. Selalu menyenangkan melihat orang-orang bersemangat. Mereka bisa membuat kita termotivasi dalam mood yang baik. Coba kita pikirkan, apakah orang-orang yang bersemangat ini hidup tanpa masalah? Mereka pun pasti punya masalahnya sendiri. Semua manusia sama-sama berhadapan dengan masa-masa sulit sekali waktu. Tetapi reaksi dalam menanggapinya akan berbeda jika disertai semangat atau tidak. Penampilan dan performa orang bersemangat akan jauh di atas orang yang hidupnya layu tanpa semangat. Dan itu tidak tergantung dari lama-sebentarnya orang berjuang. Ada yang baru mencoba sebentar tapi cepat kehilangan semangat, ada yang terus mencoba tanpa kehilangan semangat meski mereka sudah berulang kali gagal.

Sepenggal kisah dicatat dalam kitab 2 Tawarikh tentang seorang raja bernama Asa yang melakukan reformasi terhadap bangsa Yehuda yang ia pimpin. Sebelum ia melakukannya, ia terlebih dahulu didatangi oleh nabi Azarya bin Oded yang diberikan mandat oleh Allah untuk menyampaikan pesan khusus. Dari serangkaian pesan kepada Asa oleh Azarya, salah satunya menyangkut soal semangat. mengenai semangat. "Tetapi kamu ini, kuatkanlah hatimu, jangan lemah semangatmu, karena ada upah bagi usahamu!" (2 Tawarikh 15:7). Dari ayat ini kita bisa melihat bahwa Tuhan menjanjikan upah bagi orang-orang yang memiliki semangat. Asa mendengar pesan itu, dan proses reformasi menyeluruh pun ia lakukan. Hasilnya ternyata sangat baik dan dicatat dalam Alkitab, yaitu "Tidak ada perang sampai pada tahun ketiga puluh lima pemerintahan Asa." (ay 19). Ini sebuah pencapaian luar biasa baik mengingat situasi dan kondisi pada masa itu yang sarat dengan peperangan.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on October 25, 2013, 05:12:27 AM
Quote
Apapun masalah yang anda hadapi hari ini, hadapi dan selesaikanlah dengan semangat. Percayalah kepada janji-janji Tuhan, rasakan kebaikan dan penyertaanNya dan terus pegang itu dengan iman. Itu akan membuat hati kita tetap memiliki sukacita yang sejati, dan dari sana kita akan mampu bersemangat dan tetap bersikap positif, penuh rasa antusias dalam melakukan pekerjaan kita. Orang-orang yang berpikir positif dan bersemangat tidak akan menyerah meski batu yang harus mereka loncati terlihat besar dan tinggi. Kesempatan akan berlalu sia-sia jika kita menyikapinya tanpa semangat, hidup akan sulit berkembang, kita sulit maju apabila kita menyikapi kehidupan tanpa dibarengi semangat. Sebaliknya setiap kesempatan kecil sekalipun bisa sangat berharga jika kita sikapi dengan semangat yang besar. Ada banyak orang pintar yang terus berjalan di tempat karena mereka tidak memiliki semangat, sebaliknya ada orang-orang biasa yang tumbuh menjadi luar biasa karena mereka memiliki semangat juang tinggi. Mana yang kita pilih hari ini? Ayo semangat!

Hidup dengan semangat akan mendatangkan upah dari Tuhan
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on October 26, 2013, 05:23:54 AM
Quote
[url]http://www.renunganharianonline.com/2013/10/[/url]

 Friday, October 25, 2013
Tongkat Mati Bertunas Baru

Ayat bacaan: Bilangan 17:8
===================
"Ketika Musa keesokan harinya masuk ke dalam kemah hukum itu, maka tampaklah tongkat Harun dari keturunan Lewi telah bertunas, mengeluarkan kuntum, mengembangkan bunga dan berbuahkan buah badam."

Tentu tidak sulit membedakan orang yang hidup dengan mati. Orang yang sudah mati tidak akan merespon kontak dari kita dan tidak lagi bisa berinteraksi. Secara fisik, tubuh pun akan kaku, mulai menghitam dan mengalami pembusukan. Tapi ada banyak orang pula yang meski raganya masih hidup, mereka sesungguhnya sudah mati. Mati dalam artian sudah tidak lagi punya harapan, tidak lagi punya semangat, merasa bahwa mereka tidak akan pernah bisa bangkit dari keterpurukan, sembuh dari penyakit, bebas dari masalah atau merasa semuanya sudah terlambat. Banyak yang sudah begitu lama hidup dengan kekosongan atau kehampaan dalam diri mereka. Secara fisik mereka masih hidup, tapi tidak ada lagi vitalitas yang menjadi salah satu ciri jiwa yang hidup dalam diri mereka.

Mari kita lihat sebuah kisah menarik yang terjadi pada masa Musa dan Harun dalam Bilangan 17. Pada sutau kali Tuhan memerintahkan Musa untuk mengumpulkan tongkat dari pemimpin-pemimpin tiap suku dan menuliskan nama pemimpin pada masing-masing tongkat. Secara spesifik Tuhan menyuruh nama Harun ditulis pada tongkat suku Lewi. Tongkat itu kemudian harus diletakkan di dalam Kemah Pertemuan dimana peti yang berisi tabut Perjanjian diletakkan. Tuhan lalu bersabda: "Dan orang yang Kupilih, tongkat orang itulah akan bertunas; demikianlah Aku hendak meredakan sungut-sungut yang diucapkan mereka kepada kamu, sehingga tidak usah Kudengar lagi." (Bilangan 17:5). Keesokan harinya, ternyata tongkat Harunlah yang mengeluarkan tunas. "Ketika Musa keesokan harinya masuk ke dalam kemah hukum itu, maka tampaklah tongkat Harun dari keturunan Lewi telah bertunas, mengeluarkan kuntum, mengembangkan bunga dan berbuahkan buah badam." (ay 8). Kemudian Tuhan berfirman kepada Musa, "Kembalikanlah tongkat Harun ke hadapan tabut hukum untuk disimpan menjadi tanda bagi orang-orang durhaka, sehingga engkau mengakhiri sungut-sungut mereka dan tidak Kudengar lagi, supaya mereka jangan mati." (ay 10).

Tongkat biasanya terbuat dari kayu yang sudah mati. Akan aneh apabila kita melihat tongkat yang tiba-tiba mengeluarkan tunas, daun bahkan bunga. Apa yang dialami oleh Harun menjadi sebuah momen yang baik dalam menyaksikan kuasa Tuhan yang ajaib, yang bisa memperteguh iman agar bangsa itu tidak lagi bersungut-sungut dan karenanya tidak harus menerima hukuman. Di sisi lain, tunas dan bunga badam yang tumbuh di tongkat yang merupakan sebuah benda mati berbicara mengenai kehidupan yang kembali muncul dari sesuatu yang sudah mati. Ya, Tuhan bisa memberikan itu. Memulihkan anda dari masalah yang tersulit, menyembuhkan anda dari penyakit mematikan, mengangkat anda keluar dari pergumulan dan meletakkan anda di tempat yang aman. Tuhan punya kuasa lebih dari cukup untuk melakukan itu. Kita bisa melihat bahwa Daud mengerti akan hal ini dan bisa dengan yakin berkata: "Aku sangat menanti-nantikan TUHAN; lalu Ia menjenguk kepadaku dan mendengar teriakku minta tolong. Ia mengangkat aku dari lobang kebinasaan, dari lumpur rawa; Ia menempatkan kakiku di atas bukit batu, menetapkan langkahku." (Mazmur 40:2-3). Singkatnya, Tuhan bisa memulihkan anda dari kondisi mati jiwa, menumbuhkan tunas-tunas baru bahkan bunga sehingga anda bisa kembali berjalan mantap dengan pengharapan kuat.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on October 26, 2013, 05:24:40 AM
Quote
Dengan memberi diri dibaptis dan kemudian menerima Kristus pun sebenarnya kita menerima anugerah untuk kembali lahir baru, menjadi ciptaan baru, becoming the whole new creation. "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." (2 Korintus 5:17). Seperti itulah kita yang dimatikan dari dosa, lalu keluar kembali menjadi ciptaan baru, persis seperti tongkat Harun yang kemudian bertunas dan berbunga. Ini adalah sebuah anugerah yang memberi kita kesempatan besar untuk memulai sesuatu yang baru dengan jaminan keselamatan apabila kita menjalaninya dengan benar. Sebenarnya dengan hidup baru ini kita tidak perlu kehilangan harapan, putus asa dan mengalami mati jiwa. Tapi sekalipun ada orang-orang yang mati semangat, gairah dan harapannya, Tuhan selalu sanggup menumbuhkan tunas baru dalam hidup anda.

Adakah diantara anda saat ini yang mengalami bentuk-bentuk 'kematian' seperti kekeringan rohani, kehilangan kasih mula-mula, tidak lagi merasa damai sukacita, merasa pekerjaan anda saat ini mentok sehingga kehilangan gairah dan semangat, kepahitan dalam hubungan keluarga maupun berbagai kekecewaan lainnya yang merampas harapan-harapan dalam hidup anda, ingatlah bahwa anda bisa kembali hidup, bertunas, berbunga dan berbuah pada saat kita kembali menggantungkan hidup kita ke dalam tangan Tuhan. Tongkat harun yang berbunga menunjukkan bagaimana Tuhan punya kuasa membangkitkan sebuah kehidupan baru dari sesuatu yang sudah mati. Bukan sekedar tumbuh, tetapi lihatlah bahwa tunas-tunas segar dan bunga yang indah bisa keluar dari sana. Periksa diri anda saat ini, jika anda menemukan hal-hal yang menjadi sumber permasalahan itu, bertobatlah dan atasi segera. Memilih untuk mengeluh, bersungut-sungut atas situasi buruk tidak akan membawa apa-apa selain malah mendatangkan hukuman seperti yang terjadi pada masa Musa dan Harun di atas. Tidak peduli sesulit, sepahit atau separah apapun yang kita hadapi, kita bisa mengalami pemulihan secara luar biasa apabila kita mau kembali kepada Tuhan dan menaati perintah-perintahNya. Mungkin kita sudah mengalami berbagai "kematian" baik dalam pekerjaan, usaha dan bahkan mengalami mati rohani, tetapi percayalah bahwa Tuhan mampu membalikkan itu semua dan kembali menumbuhkan tunas, buah dan bunga dalam sebuah kehidupan yang benar-benar baru.

Tuhan sanggup memulihkan dari beragam kematian dengan menumbuhkan tunas-tunas baru dalam hidup anda
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on October 27, 2013, 10:20:40 AM
Quote
[url]http://www.renunganharianonline.com/[/url]

 Saturday, October 26, 2013
Hidup seperti Pohon Badam
webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!

Ayat bacaan: Bilangan 17:8
=====================
"Ketika Musa keesokan harinya masuk ke dalam kemah hukum itu, maka tampaklah tongkat Harun dari keturunan Lewi telah bertunas, mengeluarkan kuntum, mengembangkan bunga dan berbuahkan buah badam."

Mari kita lanjutkan renungan kemarin mengenai tongkat Harun yang mengeluarkan kuntum, mengembangkan bunga dan berbuahkan buah badam seperti ayat bacaan di atas. Jika kemarin kita memfokuskan ayat ini sebagai pengingat bahwa Tuhan punya kuasa lebih dari cukup untuk mengembalikan kehidupan yang penuh pengharapan dari apa yang sudah mati, hari ini mari kita lihat yang tumbuh di tongkat Harun, yaitu buah badam. Kita bisa menemukan pohon badam dalam beberapa kesempatan berbeda di Alkitab. Ini adalah pohon yang mungkin jarang sekali disebut namanya, sehingga kita akan mengetahui lebih jauh mengenai makna buah badam yang tumbuh di tongkat Harun ini jika mengenal karakteristik pohon tersebut.

Pohon Badam adalah jenis pohon yang berbeda dari kebanyakan pohon karena mampu tumbuh pada keempat musim. Bahkan ketika musim salju saat pohon-pohon lainnya kebanyakan meranggas, pohon badam malah berbunga dengan indahnya. Bunganya berwarna putih, sehingga serasi dan menambah keindahan ketika dipandang pada musim salju. Selain mampu berbunga pada keempat musim, pohon badam ini juga seringkali diasosiasikan dengan pohon yang berbunga lebih awal, karena kemampuannya untuk berbunga disaat pohon-pohon lain masih "tidur" pada musim ini. Tidak banyak pohon yang bisa bertahan selama empat musim penuh dan terus berbunga, tetapi pohon badam bisa. Itulah sebabnya sangat menarik melihat pohon badam ini berulang kali disebutkan di dalam Alkitab, dan tentu ada tujuannya mengapa pohon ini diangkat untuk menyampaikan dan mengajarkan sesuatu bagi kita.

Selain dalam kisah Harun di atas, pohon badam juga disebutkan dalam kitab Yeremia. Pada suatu hari saat Yeremia mendapatkan tugas dari Tuhan, Tuhan memberikannya dua buah penglihatan. Yang pertama ia lihat adalah sebatang dahan pohon badam. Ayatnya berbunyi demikian: "Sesudah itu Firman Tuhan datang kepadaku, bunyinya: "Apakah yang kaulihat, hai Yeremia?" Jawabku: "Aku melihat sebatang dahan pohon badam." (Yeremia 1:11). Apa yang dilihat oleh Yeremia merupakan visi dari Tuhan. Dan Tuhan pun membenarkan apa yang ia lihat (ay 12). Setelah itu datanglah penglihatan kedua. "Firman Tuhan datang kepadaku untuk kedua kalinya, bunyinya: "Apakah yang kaulihat?" Jawabku: "Aku melihat sebuah periuk yang mendidih; datangnya dari sebelah utara." (ay 13). Kontras dengan penglihatan pertama, penglihatan kedua menunjukkan datangnya periuk yang mendidih dari utara. Ini menunjukkan bahwa akan ada malapetaka yang menimpa penduduk yang jahat di mata Tuhan berasal dari utara. Bahkan Tuhan sendiri memberi penjelasan tentang penglihatan ini. "Lalu Firman Tuhan kepadaku: "Dari utara akan mengamuk malapetaka menimpa segala penduduk negeri ini. Sebab sesungguhnya, Aku memanggil segala kaum kerajaan sebelah utara, demikianlah Firman Tuhan, dan mereka akan datang dan mendirikan takhtanya masing-masing di mulut pintu-pintu gerbang Yerusalem, dekat segala tembok di sekelilingnya dan dekat segala kota Yehuda." (ay 14-15). Ini bentuk hukuman Tuhan atas segala kejahatan bangsa Yehuda yang sudah sangat keterlaluan pada masa itu. Keterlaluan seperti apa? Ayat berikutnya kesalahan mereka pun disebutkan. "Maka Aku akan menjatuhkan hukuman-Ku atas mereka, karena segala kejahatan mereka, sebab mereka telah meninggalkan Aku, dengan membakar korban kepada allah lain dan sujud menyembah kepada buatan tangannya sendiri." (ay 16). Lihatlah kesalahan mereka yang berani menduakan Allah. Dan itu membawa akibat serius dan fatal. Bagi mereka yang jahat ini Tuhan menghukum dengan kemurkaanNya seperti periuk mendidih. Sebaliknya di sisi lain, dahan pohon badam yang berbunga indah tersedia bagi Yeremia dan siapapun yang tetap teguh, taat dan setia kepada Tuhan.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on October 27, 2013, 10:21:21 AM
Quote
Tuhan mengatakan kepada Yeremia: "Tetapi engkau ini, baiklah engkau bersiap, bangkitlah dan sampaikanlah kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadamu. Janganlah gentar terhadap mereka, supaya jangan Aku menggentarkan engkau di depan mereka!" (ay 17). Inilah tugas Yeremia yang jelas sangat tidak gampang, menyampaikan bahwa saatnya sudah tiba bagi hukuman Tuhan untuk jatuh kepada bangsa itu atas kejahatan mereka. pesan Tuhan agar mereka segera berbalik dari kejahatan mereka, kembali kepada Bapa yang telah begitu banyak menunjukkan kasih dan kebaikanNya kepada mereka. Mereka harus segera bertobat agar jangan sampai periuk mendidih ini jatuh atas mereka. Janganlah periuk mendidih yang menjadi bagian mereka, tetapi hendaknya pohon badam, pohon yang terus tumbuh, berbunga dan berbuah empat musim penuhlah yang terjadi atas mereka.

Kalau kita lihat, janji lewat pohon badam ini sejalan dengan apa yang tertulis pada awal kitab Mazmur. "Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi Kaliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil." (Mazmur 1:1-3). Pohon badam memiliki karakteristik tepat seperti itu. Pohon ini tidak layu dan terus berhasil tumbuh meski dalam iklim atau musim yang berbeda. Dan kitab Mazmur ini memberikan kunci bagi kita agar bisa memiliki karakteristik yang sama, sama seperti seruan dari Tuhan yang diberikan kepada Yeremia untuk mengingatkan bangsa Yehuda pada saat itu agar bertobat, berbalik dari jalan-jalan yang salah dan kembali kepada jalan Tuhan.

Orang percaya seharusnya hidup seperti pohon badam. Di tengah badai apapun, ditengah kesulitan atau lingkungan yang tidak kondusif sekalipun bisa tetap mengeluarkan tunas, berbunga dan berbuah. Itulah gambaran umat Tuhan yang ideal seperti rencana Tuhan atas kita. Tuhan sendiri telah menyediakan segala yang dibutuhkan agar kita bisa seperti itu. Kita bisa lelah dalam menghadapi masalah, tapi Tuhan siap untuk terus gendong kita sampai tua, "Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu." (Yesaya 46:4), Bukan itu saja, Tuhan bahkan siap untuk berperang bagi kita. "Janganlah takut kepada mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berperang untukmu." (Ulangan 3:22). Atau lihat pula apa yang dikatakan Yahaziel ketika ia dihinggapi Roh Tuhan dalam kitab 2 Tawarikh: "Camkanlah, hai seluruh Yehuda dan penduduk Yerusalem dan tuanku raja Yosafat, beginilah Firman Tuhan kepadamu: Janganlah kamu takut dan terkejut karena laskar yang besar ini, sebab bukan kamu yang akan berperang melainkan Allah." (2 Tawarikh 20:15). TAda banyak lagi janji-janji Tuhan lainnya yang akan memampukan kita untuk terus tumbuh berbunga dan berbuah subur sepanjang musim, baik pada musim yang tenang maupun sulit. Semua itu akan luput apabila kita tidak tertarik untuk mencari tahu, merenungkan dan melakukan ribuan janji Tuhan yang terdapat di dalam Alkitab. Bagian mana yang akan hadir pada kita dari penglihatan Yeremia, apakah pohon badam atau periuk yang mendidih, semua tergantung dari keputusan kita sendiri. Oleh karena itu mari kita perhatikan baik-baik cara hidup kita.  Sudah sejauh mana kita mengaplikasikan Firman Tuhan dalam hidup, sudah seberapa jauh kita taat dan setia kepadaNya. Itu akan sangat menentukan apa yang akan menjadi bagian kita, apakah periuk mendidik atau pohon badam yang mampu bertunas, berbunga indah dan berbuah subur pada segala keadaan.

Tuhan ingin kita hidup kuat dan subur bagai pohon badam
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on October 31, 2013, 05:17:28 AM
Quote
[url]http://www.renunganharianonline.com/2013/10/[/url]

 Wednesday, October 30, 2013
Tergesa-gesa Mengambil Keputusan

Ayat bacaan: Amsal 21:5
===================
"Rancangan orang rajin semata-mata mendatangkan kelimpahan, tetapi setiap orang yang tergesa-gesa hanya akan mengalami kekurangan."

Hanya karena terlalu cepat mengambil keputusan, orang bisa mengalami kerugian besar yang mungkin bisa sulit dipulihkan dalam waktu singkat. Ini terjadi pada seorang teman saya. Ceritanya begini. Pada suatu kali ia ditawari rekannya untuk berinvestasi pada sesuatu. Karena tergiur oleh janji keuntungan, ia buru-buru mengiyakan, meski istri dan anak-anaknya sudah mencoba mengingatkannya untuk berpikir baik-baik terlebih dahulu mengingat uang yang harus diinvestasikan tidaklah sedikit. Ironisnya belakangan ia mengaku kepada saya bahwa sebenarnya hatinya juga kurang sreg setiap kali berdoa tentang investasi ini. Tapi itu tadi, karena keuntungan yang dijanjikan tampaknya besar, ia takut tawaran keburu diambil orang lain dan mengambil keputusan untuk melakukan itu. Ia menjual tanah, mobil dan menggadaikan beberapa benda berharga bahkan sempat berhutang demi melunasi sesuai kesepakatan. Tidak butuh waktu lama baginya untuk menyadari bahwa ia melakukan kesalahan besar. Investasi gagal dan uangnya dibawa lari. Ia pun sadar sudah ditipu, tetapi penyesalan datang terlambat. Hingga saat ini ia masih berjuang menutupi hutangnya dan harus rela kehilangan begitu banyak harta, belum lagi rasa bersalah yang harus ia pikul di depan istri dan anaknya yang harus pula ikut menanggung dan menderita akibat kecerobohan yang ia lakukan.

Ada seorang lagi yang saya kenal terus gagal dalam bisnis. Selama setidaknya 10 tahun terakhir, ia terus mencoba membangun usaha tapi terus bangkrut. Kerugian yang ia alami sudah sangat banyak, bahkan rekan dan saudaranya pun sudah ikut menjadi korban karena berinvestasi bersamanya. Selidik punya selidik, ternyata ia merupakan tipe orang yang tidak hati-hati. Ia tidak suka berpikir dan merencanakan matang-matang terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu, tidak mau repot dan terlalu tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Dan sebagai akibatnya, ia terus berganti-ganti usaha dan terus jatuh. Meski ia bukan tipe yang mudah menyerah, tapi kerugian baik waktu, uang, tenaga dan sebagainya sudah begitu besar.

Sebuah sikap tergesa-gesa selalu tidak membawa kebaikan atau keuntungan, tapi kerugian dan kemalanganlah yang seringkali menjadi akibatnya. Mengenai kerugian dari orang-orang yang suka tergesa-gesa atau terburu-buru mengambil keputusan, Salomo sudah mengingatkan sejak ribuan tahun yang lalu. "Rancangan orang rajin semata-mata mendatangkan kelimpahan, tetapi setiap orang yang tergesa-gesa hanya akan mengalami kekurangan." (Amsal 21:5). Orang yang tergesa-gesa dalam mengambil keputusan atau melakukan sesuatu tidak akan pernah memperoleh hasil baik, melainkan hanya akan mengalami kerugian. Seperti itulah orang-orang yang tidak memperhatikan pentingnya perhitungan yang matang sebelum melangkah. Mereka cenderung tergesa-gesa, bertindak serampangan tanpa hikmat, tanpa pertimbangan, tidak cermat dan sebagainya. Dan akibatnya kerugian atau kejatuhanlah yang menjadi hasilnya. Untuk menutupi kerugian yang timbul bisa jadi jauh lebih mahal ketimbang apabila itu dikerjakan sejak awal dengan pertimbangan matang dan cermat. Bahkan tidak menutup kemungkinan pula bahwa konsekuensinya akhirnya harus ditanggung sepanjang sisa hidup dan tidak bisa lagi diperbaiki. Salomo mengatakan bahwa rancangan orang rajinlah yang mendatangkan kelimpahan, bukan orang yang tergesa-gesa. Ada kata rancangan disana yang berarti perencanaan, pertimbangan yang matang dan cermat, lalu ada kata 'rajin' disana. Rajin dalam hal apa? Dalam banyak hal, seperti rajin berpikir, rajin memperhitungkan dengan baik, rajin menimbang, rajin belajar, rajin bekerja, rajin mendengar nasihat atau masukan dari orang lain dan sebagainya, termasuk tentu saja rajin berdoa.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on October 31, 2013, 05:18:41 AM
Quote
Firman Tuhan juga berkata: "Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif...Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan." (Efesus 5:15,17). Kita harus arif, penuh hikmat dan tidak bebal atau bodoh dalam memahami kehendak Tuhan atas diri kita, karena itulah yang terbaik. Kita harus ingat bahwa "TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya." (Mazmur 37:23). Ini janji Tuhan yang sudah disampaikan pada kita jauh-jauh hari. Kepekaan kita terhadap suara Tuhan akan membuat kita mampu menjaga setiap langkah agar rencana Tuhan tergenapi dalam sekuens demi sekuens hidup kita. Ini tepat seperti yang dilakukan oleh Pemazmur: "Aku memikirkan jalan-jalan hidupku, dan melangkahkan kakiku menuju peringatan-peringatan-Mu." (119:49). Lebih jauh lagi dalam Amsal dikatakan, "Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana." (Amsal 19:21). Itu artinya penting bagi kita untuk menyelaraskan setiap langkah sesuai rencana Tuhan agar kita tidak membuang-buang waktu secara sia-sia dan terus menerus mengalami kerugian. Kita harus mau mendengar dulu baik-baik apa sebetulnya rencana Tuhan bagi hidup kita, lalu melakukannya tepat seperti itu dengan pertimbangan yang matang dalam setiap langkah perencanaannya. Dan Salomo pun berkata: "Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka terlaksanalah segala rencanamu." (Amsal 16:3).

 Hindarilah bertindak ceroboh dan tergesa-gesa dalam mengambil keputusan, baik yang berhubungan dengan pekerjaan, investasi, keluarga dan sebagainya. Apakah anda seorang pemimpin di pekerjaan, di lingkungan, di organisasi, lembaga atau cuma dalam keluarga, anda perlu kemampuan untuk mengambil keputusan yang tepat. Keragu-raguan dalam mengambil pertimbangan, bingung dalam menghadapi banyak opsi atau seperti yang menjadi tema kita hari ini, tergesa-gesa atau terburu-buru dalam memutuskan sesuatu hanya akan membawa kerugian, penyesalan dan penderitaan, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Sebelum anda mengambil sebuah keputusan, lakukan pertimbangan menyeluruh terlebih dahulu dengan memikirkan berbagai aspek yang terkait termasuk orang-orang baik yang terlibat secara langsung maupun yang tidak langsung. Pikirkan masak-masak, jangan tergesa-gesa. Ambil waktu untuk tenang dan diam, sabar dan berdoalah. Tanyakan pada Tuhan mengenai langkah yang akan anda ambil, dengarkan baik-baik dan pastikan agar jangan ada keinginan-keinginan pribadi yang menghalangi suara Tuhan untuk bisa anda dengar. Meski anda rajin dan gigih dalam memperjuangkan sesuatu, tanpa pertimbangan matang, sebuah keputusan yang tergesa-gesa bisa membuat anda salah langkah dan akibatnya menderita kerugian yang tidak sedikit. "Tanpa pengetahuan kerajinanpun tidak baik; orang yang tergesa-gesa akan salah langkah." (Amsal 19:2). Jangan jadi orang yang ceroboh, tetapi jadilah orang bijak, berhikmat yang akan selalu berpikir matang dan berhati-hati dalam melangkah dan patuh menuruti kehendak Tuhan. Kecerobohan akibat tergesa-gesa dalam mengambil keputusan bisa menjadi awal dari datangnya banyak masalah dan bencana. Perhatikan baik-baik setiap langkah, selaraskan dengan rencana Tuhan dan tetap berpegang pada ketetapan-ketetapanNya. Menunda-nunda pengambilan keputusan memang bukan hal yang baik, tetapi tergesa-gesa pun bisa membawa konsekuensi berat untuk kita pikul. Terutama untuk sebuah keputusan besar, jangan buru-buru. Ambillah waktu untuk mempertimbangkan dan menyerahkan kepada Tuhan sebelum anda ambil.

Tergesa-gesa mengambil keputusan tanpa pertimbangan yang baik bisa membawa kerugian besar

Follow us on twitter: [url]http://twitter.com/dailyrho[/url] ([url]http://twitter.com/dailyrho[/url])
[url]http://www.renunganharianonline.com/2013/10/[/url] ([url]http://www.renunganharianonline.com/2013/10/[/url])
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on November 01, 2013, 05:18:54 AM
Quote
[url]http://www.renunganharianonline.com/2013/10/[/url]
 Thursday, October 31, 2013
Beribadah Tapi Tidak Percaya

Ayat bacaan: 2 Timotius 3:5
=====================
"Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya."

Ada seseorang yang saya kenal pernah menceritakan keheranannya terhadap cara berpikir dari teman-teman gerejanya. Setiap kali saya menceritakan mukjizat Tuhan yang saya alami, mereka menanggapinya dengan sinis. Ia ditertawakan malah dikatakan gila. "ah, kamu mengada-ada..mana ada yang seperti itu?" kata teman-temannya. Okelah kalau yang diceritakan itu mukjizat besar yang sulit diterima akal, tapi untuk yang sederhana sekalipun sulit mereka cerna. Ini adalah gambaran bahwa di kalangan orang percaya pun ternyata masih sangat banyak orang yang belum punya iman yang cukup untuk mempercayai kuasa dan kekuatan Tuhan. Mereka menganggap bahwa itu tidak mungkin dialami secara langsung dalam kehidupan nyata, sehingga apa yang dialami orang lewat kesaksian mereka tidak mengubahkan mereka untuk hidup lebih baik. Tidaklah heran apabila kita melihat orang-orang percaya yang masih saja hidup penuh kecemasan, kekhawatiran atau terus takut. Mereka mengukur kemungkinan untuk lepas dari masalah hanya dari besar kecilnya masalah yang mereka hadapi dan tidak menyadari bahwa Tuhan sanggup melakukan apa-apa. Kalau masalahnya kecil mungkin bisa, tapi kalau sudah terlalu berat maka berdoa pun pasti tidak membawa hasil apa-apa. Mereka beribadah rutin, mereka berdoa, tapi hanya sebatas liturgi atau kebiasaan saja. Ada yang berpikir bahwa itu harus dilakukan hanya karena takut masuk neraka, bukan karena ingin membangun hubungan yang erat dengan Tuhan sehingga memiliki kehidupan yang kuat ditengah badai kehidupan. Meski rajin menjalankan ibadah mereka tetapi mereka sendiri sulit atau bahkan tidak bisa percaya kepada kekuatan yang bisa hadir di dalamnya. Betapa ini merupakan hal yang ironis. Di satu sisi orang berharap mukjizat terjadi dalam hidupnya, tetapi di sisi lain mereka sendiri ragu dan memungkiri kekuatannya.

Sikap seperti ini sebenarnya bukanlah hal yang baru. Kebiasaan memakai logika manusia yang terbatas dalam memahami kuat kuasa Tuhan yang tak terbatas bukan hanya masalah bagi orang percaya hari ini tapi sudah terjadi sejak jaman dahulu. Paulus menggambarkan hal ini sebagai salah satu fenomena yang akan semakin marak menjelang akhir jaman. "Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya." (2 Timotius 3:5) Ini adalah satu dari sekian banyak hal serius yang digambarkan Paulus sebagai "masa yang sukar". (ay 1). Masa yang sukar, dalam benak kita itu berarti ada banyak krisis, bencana, peperangan, tekanan dan sebagainya. Benar, itu memang kerap terjadi akhir-akhir ini. Tetapi apa yang dikatakan oleh Paulus sebagai masa yang sukar ternyata bukan sekedar mengacu kepada kerusakan lingkungan atau bahkan krisis ekonomi. Masa-masa yang sukar menurut hemat Paulus adalah pada saat kejatuhan manusia semakin jauh dalam mementingkan dirinya sendiri. "Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah." (ay 2-4). Perhatikan bahwa sikap-sikap seperti ini bukan lahir dari orang tidak percaya tapi justru lahir dari orang-orang yang rajin menjalankan ibadah seperti yang disebutkan dalam ayat 5 di atas. Secara lahiriah mereka beribadah, tapi mereka sebenarnya menolak kekuatannya. They deny and reject it, they are still strangers to the power of it. ini merupakan teguran buat kita juga yang secara fisik hadir di gereja tetapi hanya sebagai sebuah ritual atau kebiasaan atau tradisi semata tanpa mengalami pertumbuhan iman apapun lewat itu semua. Kita memang beribadah, tetapi kita sendiri malah memungkiri kekuatannya. We pray but we reject the power of praying.

Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on November 01, 2013, 05:19:48 AM
Quote
Beribadah sangatlah penting. Paulus mengatakan "Latihlah dirimu beribadah". (1 Timotius 4:7b). Mengapa harus dilatih? Karena latihan rohani itu bisa membawa manfaat yang jauh lebih besar dari latihan badani/jasmani. "Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang." (ay 8). Latihan jasmani akan sangat berguna bagi kesehatan dan daya tahan tubuh kita. Itu berguna bagi kehidupan kita di dunia saat ini, tetapi tidak akan ada gunanya lagi untuk hidup yang akan datang. Sedangkan melatih diri untuk beribadah akan berguna baik untuk hidup saat ini maupun yang akan datang nanti. Jadi jelas beribadah itu penting. Tapi jangan lupa bahwa kita pun harus tahu hakekatnya kita beribadah. Paham tujuannya, kegunaannya, kekuatannya, agar ibadah yang kita lakukan tidak menjadi sia-sia, tidak berhenti hanya sebatas menjalankan tradisi, sesuai kebiasaan atau tata cara liturginya saja. Ibadah yang dilakukan dengan benar akan mampu membangun iman kita untuk bertumbuh makin besar, berakar dalam Kristus semakin dalam, sehingga kita lagi terjebak memungkiri sendiri kekuatan di balik ibadah-ibadah yang kita lakukan itu.

 Kalau untuk percaya terhadap pengalaman orang saja kita sulit, bagaimana mungkin kita bisa mengalaminya sendiri? Ibadah yang dilakukan hanya pada titik lahiriah saja tidak akan membawa manfaat apa-apa bagi kita. Kita akan terus semakin jauh dari pengalaman-pengalaman luar biasa bersama Tuhan. Kita tidak akan bisa merasakan mukjizatNya, penyertaan dan pertolonganNya yang ajaib, serta berbagai kuasa Tuhan yang terus dinyatakan hingga hari ini secara nyata. We can see it, feel it, experience it for real. Kita harus terus maju memahami kekuatan dari ibadah hingga pada suatu ketika nanti bisa mengalaminya langsung, bukan lagi hanya kata orang tetapi kita sudah mengalami sendiri. Semua orang percaya harus sampai kepada tingkatan seperti itu, dan itu akan sulit sekali apabila kita sendiri masih memungkiri kekuatannya.

 Ibadah tidak boleh terbatas pada seremonial yang penuh dengan hafalan tanpa memahami esensinya. Ibadah tidak boleh berhenti pada tata cara, gerak tubuh, posisi dan ucapan yang sama berulang-ulang. Ibadah seharusnya diarahkan untuk membangun hubungan yang intim dengan Tuhan. Ibadah bukanlah tempat dimana kita hanya meminta dan terus meminta, mengeluh dan merengek tetapi lebih dari itu seharusnya dipergunakan untuk bersekutu denganNya, merasakan hadiratNya, mendengar suaraNya dan mengetahui kehendak dan rencanaNya yang terbaik atas kita, atau mendengar teguranNya ketika kita melakukan sesuatu yang salah. Tuhan tidak suka dengan orang-orang yang hanya menjalankan ibadah sebagai sebuah rutinitas atau ritual belaka. "Dan Tuhan telah berfirman: "Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan, maka sebab itu, sesungguhnya, Aku akan melakukan pula hal-hal yang ajaib kepada bangsa ini, keajaiban yang menakjubkan; hikmat orang-orangnya yang berhikmat akan hilang, dan kearifan orang-orangnya yang arif akan bersembunyi." (Yesaya 29:13-14). Perhatikan bahwa bahkan akan ada hukuman Tuhan yang jatuh kepada orang-orang yang hanya sebatas bibir saja memuliakan Tuhan, hanya sebatas hafalan, seremonial, kebiasaan, sementara hatinya tidak memancarkan kasih sama sekali kepada Tuhan. Sebaliknya kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Tuhan dalam tiap ibadah yang mereka lakukan, Tuhan memberikan seperti ini: "TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau; TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera." (Bilangan 6:24-26). Ini akan diberikan sebagai berkat kepada kita jika kita meletakkan nama Tuhan di atas segalanya, termasuk dalam ibadah kita. (ay 27). Dan lihat pula Firman Tuhan berikut: "beribadahlah kepada TUHAN dengan segenap hatimu" (1 Samuel 12:20b). Beribadah harus dilakukan dengan segenap hati, dengan serius dan sungguh-sungguh dengan memiliki tujuan yang benar.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on November 01, 2013, 05:20:16 AM
Quote
Tuhan tidak suka apabila kita mementingkan tata cara dan hal-hal lain di luar membangun kedekatan hubungan denganNya. Tuhan tidak suka ketika kita hanya ingin terlihat hebat rohani dari luar sementara di dalam iman kita malah tidak jelas bentuknya. Sebaliknya Tuhan akan disenangkan hatiNya kala melihat anak-anakNya yang rajin beribadah karena haus merasakan saat-saat teduh bersamaNya, rindu untuk terus bertemu dan mendengar pesan-pesanNya, dan tentu saja yang menunjukkan imannya dengan mengaplikasikan Firman Tuhan secara nyata di dalam kehidupannya sehari-hari. Kita bukanlah hidup untuk terlihat hebat di depan manusia, tetapi justru yang terpenting adalah menghidupi sebuah kehidupan yang berkenan di mata Tuhan. Jika kita sudah beribadah tetapi masih juga meragukan atau menolak kuasa Tuhan, itu artinya masih ada yang harus kita perbaiki dalam melakukan ibadah kita. Percayalah bahwa Tuhan punya kuasa jauh melebihi segalanya dan mampu menjungkir-balikkan logika manusia. Itu masih terjadi secara nyata sampai hari ini, masih akan terjadi nanti, dan itu pun bisa kita alami secara langsung dalam kehidupan kita sendiri.

Jangan sia-siakan ibadah dengan hanya mementingkan tata cara dan kebiasaan saja

Follow us on twitter: [url]http://twitter.com/dailyrho[/url] ([url]http://twitter.com/dailyrho[/url])
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on November 02, 2013, 07:14:44 AM
Quote
[url]http://www.renunganharianonline.com/2013/11[/url]
 Friday, November 1, 2013
Hindari Sikap Tak Acuh

Ayat bacaan: Zefanya 2:1-2
====================
"Bersemangatlah dan berkumpullah, hai bangsa yang acuh tak acuh, sebelum kamu dihalau seperti sekam yang tertiup, sebelum datang ke atasmu murka TUHAN yang bernyala-nyala itu, sebelum datang ke atasmu hari kemurkaan TUHAN."

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering bertemu dengan tipe orang yang acuh tak acuh. Mereka ini adalah orang-orang yang tidak peduli terhadap orang lain, biasanya hanya diam ketika diajak berbicara dan tidak menunjukkan respon atas apa yang dikatakan oleh lawan bicaranya. Sikapnya dingin, sulit memuji dan seperti tidak 'konek'. Ini tentu bukan tipe orang yang enak untuk diajak ngobrol apalagi jika mengharap penghargaan hadir dari mereka. Jika anda memiliki atasan yang punya sikap seperti ini, anda tentu tahu bahwa anda tidak akan bisa mendapat apresiasi lewat ucapan dari mereka. Pokoknya kalau anda masih bekerja hari ini disana, tentu itu artinya anda masih dianggap baik dan layak, itu saja. Di rumah pun kita bisa saja berhadapan dengan orang-orang yang acuh tak acuh. Ada banyak orang tua yang terlalu sibuk bekerja dan diwaktu luangnya menghabiskan waktu dengan berbagai gadget mewahnya sehingga tidak punya waktu lagi untuk anak-anaknya. Mereka ini hanya dingin, tidak mentolerir kesalahan atau keributan, tapi tidak peduli terhadap kebutuhan anak-anak mereka untuk diperhatikan dan didengarkan. Sebuah sikap tidak acuh memang mengesalkan, tetapi sadarkah kita bahwa sikap ini bisa membawa dampak yang kurang baik bagi perkembangan kapasitas orang bahkan mampu merusak masa depan generasi selanjutnya?

Jika terhadap sesama orang bisa acuh tak acuh, kepada Tuhan ada banyak orang yang menunjukkan perilaku yang sama. Bayangkan meski Tuhan sudah begitu baik memberikan segala yang kita butuhkan, mengasihi, melindungi, menolong dan melimpahi kita dengan rahmat dan karuniaNya, meski Tuhan peduli dan menjawab doa kita, bersedia mengeluarkan kita dari kesesakan dan memberikan kita sukacita dengan pertolonganNya, tetapi banyak orang yang masih saja bersikap acuh tak acuh terhadap Tuhan. Begitu masalah selesai, mereka segera melupakan Tuhan dan sibuk dengan dunia masing-masing. Doa menjadi semakin jarang dengan beragam alasan, lupa mengucap syukur dan berterimakasih. Hanya kepentingan sendiri yang penting, orang lain bukan urusan. Melayani sesama? Nanti dulu, masih ada banyak alasan yang bisa dikemukakan. Meski orang disekitar kita tengah butuh bantuan, kita tak bergeming. Toh itu urusannya, kenapa kita harus repot? Begitu seringnya orang percaya terlena dalam kenyamanan dan melupakan Tuhan hingga nanti menghadapi masalah baru dan kembali butuh bantuan. Itupun mungkin hanya sebagai alternatif terakhir bila kekuatan diri sendiri atau orang lain beserta berbagai alternatif duniawi sudah mentok. Ketidakpedulian atau sikap acuh seperti ini tentu sangat mengecewakan Tuhan, bahkan bisa mendatangkan teguran atau hajaran yang tentu sama-sama tidak kita inginkan.

Ini pun bukan merupakan masalah yang cuma ada di jaman sekarang, karena bangsa Israel sejak dahulu sudah menunjukkan sikap seperti ini berulang-ulang. Hati mereka terhadap Tuhan begitu cepatnya berubah bagai arah angin. Sebentar mereka dengan mudah meratap minta pertolongan, berseru-seru memohonkan bantuan, sesaat kemudian ketika sudah mendapat, mereka kembali menunjukkan sikap tidak puas dan kembali bersungut-sungut. Ada saat mereka memuliakan Tuhan, namun di waktu lain kembali malas, bersikap acuh tak acuh, atau malah berani-beraninya menduakan Tuhan dengan menyembah ilah lain. Maka melalui Zefanya Tuhan kemudian memberi teguran keras. "Bersemangatlah dan berkumpullah, hai bangsa yang acuh tak acuh, sebelum kamu dihalau seperti sekam yang tertiup, sebelum datang ke atasmu murka TUHAN yang bernyala-nyala itu, sebelum datang ke atasmu hari kemurkaan TUHAN." (Zefanya 2:1-2). Ini merupakan teguran sangat keras yang dijatuhkan kepada sebuah bangsa yang keras kepala dan tidak kunjung mengerti. Meski sudah berulangkali mengalami kuasa Tuhan, begitu banyak mukjizat, namun mereka masih juga menunjukkan sikap-sikap tidak terpuji dalam segala hal. Seperti yang kita bahas kemarin, mereka beribadah, tapi hanya seremonial atau rutinitas semata. Untuk masalah ini pun Tuhan pernah menegur tak kalah keras.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on November 02, 2013, 07:15:25 AM
Quote
"Dan Tuhan telah berfirman: "Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan, maka sebab itu, sesungguhnya, Aku akan melakukan pula hal-hal yang ajaib kepada bangsa ini, keajaiban yang menakjubkan; hikmat orang-orangnya yang berhikmat akan hilang, dan kearifan orang-orangnya yang arif akan bersembunyi." (Yesaya 29:13-14). Perhatikan bahwa apa  yang dikatakan 'hal-hal yang ajaib' dan 'keajaiban yang menakjubkan' dalam ayat ini bukanlah sesuatu yang positif melainkan negatif. Dalam Alkitab versi bahasa Indonesia sehari-hari rangkaian kata tersebut diterjemahkan sebagai "pukulan bertubi-tubi".

Sangatlah tidak pantas memperlakukan Tuhan dengan cara yang acuh tak acuh atau tidak serius sepenuh hati. Teguran yang keras dari Tuhan juga pernah dialamatkan kepada jemaat di Laodikia akan hal ini. "Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku." (Wahyu 3:16). Sikap acuh tak acuh atau suam-suam kuku seperti ini bisa mendatangkan murka Tuhan, dan itu wajar mengingat betapa baiknya Tuhan kepada ciptaanNya sendiri.

Kita harus tetap memiliki rasa takut akan Tuhan. Takut akan Tuhan bukanlah bentuk-bentuk takut seperti takut dihukum, takut dilempar ke neraka dan sebagainya, tapi bentuk rasa takut yang mengarah kepada menghormati Tuhan, menghargaiNya, bagaimana kita patuh pada perintahNya, tidak ingin mengecewakan Tuhan karena kita mengasihiNya, mengenal pribadiNya dan memuliakanNya. Ini adalah bentuk rasa takut yang sehat, yang akan membawa kita lebih dekat lagi kepadaNya. Takut akan Tuhan tidak saja bisa membawa kita untuk menerima keselamatan kekal, tapi juga mengacu kepada pemenuhan kebutuhan-kebutuhan kita selama fase hidup di dunia ini. "Takutlah akan TUHAN, hai orang-orang-Nya yang kudus, sebab tidak berkekurangan orang yang takut akan Dia!" (Mazmur 34:9).

Ada begitu banyak pekerjaan sebagai ahli waris Kerajaan yang menanti, dimana kita harus berperan dalam pekerjaan itu sesuai dengan talenta atau bakat yang telah disediakan Tuhan kepada kita, dimanapun kita hari ini ditempatkan. Yesus mengingatkan kita agar mau bersungguh-sungguh melakukan pekerjaan Tuhan selagi kesempatan masih ada. "Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja." (Yohanes 9:4). Akan datang saat yang disebut "malam", dimana kita tidak lagi bisa bekerja, ketika yang tinggal hanyalah pertanggungjawaban bagaimana kita hidup di dunia ini. Karena itu jangan bersikap acuh tak acuh. Seriuslah dalam menjalani hubungan dengan Tuhan, seriuslah pula dalam menjalankan ibadah baik di gereja, dalam pelayanan, di pekerjaan terlebih dalam kehidupan sehari-hari. Mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah merupakan ibadah yang sejati (Roma 12:1) yang tidak mungkin terbangun lewat sikap malas-malasan, asal-asalan, acuh tak acuh. Jadikan Allah sebagai yang utama dalam hidup. Bangun hubungan yang erat, lakukan firmanNya, layanilah Tuhan dan pekerjaanNya dengan bersemangat. Jangan pernah berhenti menjadi saluran berkat buat orang lain. Kepedulian kita akan mendatangkan kebaikan bagi orang lain dan bagi kita sendiri.

Bersikap acuh tak acuh kepada Tuhan merupakan sikap yang sangat tidak pantas dan bisa mendatangkan hukuman

Follow us on twitter: [url]http://twitter.com/dailyrho[/url] ([url]http://twitter.com/dailyrho[/url])
[url]http://www.renunganharianonline.com/2013/11[/url] ([url]http://www.renunganharianonline.com/2013/11[/url])
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on November 03, 2013, 02:00:52 PM
Quote
[url]http://www.renunganharianonline.com/2013/11[/url]
 Saturday, November 2, 2013
Keyakinan Teguh dalam Injil

Ayat bacaan: Roma 1:16
==================
"Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani."

 Hidup adalah sesuatu yang kompleks. Ada begitu banyak aspek didalamnya yang harus kita cermati apabila kita mau mendapatkan yang terbaik dalam perjalanan meniti kehidupan. Selain sisi-sisi hidup yang tenang dan nyaman, sebuah kehidupan sejatinya penuh tantangan. Ada berbagai hal yang menuntut kemampuan kita dalam mengatasi dan menyelesaikannya. Kesulitan hidup, tekanan, godaan, terpaan problema yang datang dan pergi, semua itu merupakan bagian-bagian dari kehidupan setiap orang, siapapun dia. Semua ini membuat hidup itu seringkali hadir sebagai sesuatu yang tidak mudah untuk dijalani. Hidup bukanlah hanya main-main. Hidup adalah sesuatu yang nyata, yang harus kita perjuangkan untuk bisa memperoleh yang terbaik di dalamnya. Jika hidup secara umum saja sudah demikian, apalagi untuk menjalani hidup di dalam Kekristenan. Setiap saat ada begitu banyak pola kehidupan dunia yang akan siap menjerat dan menjerumuskan orang-orang percaya untuk tersesat di dalamnya. Sebagai contoh sederhana, bayangkan apabila kita berlayar dalam perahu. Ada kalanya angin tenang, tapi ada saatnya angin bertiup kencang bahkan badai. Disaat angin sedang tidak bersahabat, kita bisa terombang ambing tak tentu arah, jika sangat kencang kita bahkan bisa terbalik dan tenggelam. Hidup di dunia pun seperti itu. Agar bisa selamat dan tidak goyah, kita tentu butuh pegangan. Sebuah pegangan kokoh yang bisa kita cengkram kuat untuk bertahan agar selamat.

 Apa yang bisa kita jadikan pegangan kuat? Dalam surat Roma kita bisa menemukan jawabannya. "Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani." (Roma 1:16). Menurut kesaksian Paulus, Keyakinan yang kokoh dalam Injil inilah yang terbukti mampu menguatkan dirinya dalam melakukan pelayanan kemana-mana. Mengingat bahwa Paulus punya masa lalu yang kelam, tentu ia tahu betul pentingnya sebuah pegangan agar ia tidak kembali jatuh ke dalam jurang kebinasaan. Berkaca dari pengalamannya, Paulus rindu untuk membagikan hal ini kepada orang lain sebanyak mungkin. Jika ia bisa kuat dan selamat, ia yakin orang lain pun tentu bisa. Selain Injil ia katakan sebagai sebuah KEKUATAN ALLAH YANG MENYELAMATKAN, ia juga mengingatkan bahwa tu berlaku bagi semua orang percaya tanpa terkecuali. Mengapa demikian? "Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: "Orang benar akan hidup oleh iman." (ay 17). Lihatlah bahwa Injil punya kekuatan yang menyelamatkan sebab di dalamnya nyata tertulis segala sesuatu tentang kebenaran Allah, yang akan bisa kita mengerti lewat iman dan itu pun mengarahkan kita kepada pertumbuhan iman. Injil punya kekuatan yang akan menumbuhkan, mengokohkan atau menguatkan iman kita. Dan orang benar akan selalu hidup oleh iman. Sebuah iman yang teguh dan kuat akan membuat kita tidak mudah terombang ambing dan terjerumus. Iman yang teguh akan membuat kita mampu berjalan dengan sukacita meski yang kita alami sedang tidak kondusif. Iman yang teguh mampu memimpin kita berjalan sesuai kehendakNya hingga menerima anugerah keselamatan. Dari mana iman ini muncul? Alkitab mengatakan bahwa "iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus." (Roma 10:17).

 Jika demikian, tentu akan sangat merugikan apabila kita masih saja malas membaca dan merenungkan Firman Tuhan. Itu membuat kita tidak tahu apa saja janji Tuhan, apa yang telah dan akan Dia sediakan, berbagai teguran, nasihat, larangan dan ketetapanNya. Bagi yang sudah tahu, alangkah sayangnya jika firman-Firman Tuhan ini masih tetap diragukan kekuatannya. Meski tahu tapi masih hidup dalam keraguan, itu pun tidak boleh terjadi. Jika diibaratkan sebagai pegangan seperti ilustrasi di atas, kita bisa melihat bahwa tidak sedikit dari orang-orang percaya hari ini yang memang sudah punya pegangan tapi pegangannya masih sangat lemah.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on November 03, 2013, 02:01:30 PM
Quote
Mereka masih hidup dalam keraguan, kecemasan, gampang takut, mudah terpengaruh oleh berbagai macam pengajaran yang seolah terlihat baik namun di dalamnya terkandung begitu banyak penyesatan. Mereka ini biasanya memberi batas toleransi yang begitu longgar, mencari pembenaran-pembenaran bukan sesuai Firman Tuhan tetapi berdasarkan anggapan mereka sendiri. Memberi pengertian keliru akan Firman Tuhan yang hanya menguntungkan diri sendiri untuk bertoleransi dengan kedagingan, dan jika ini yang dilakukan, maka itu bisa mengancam keselamatan yang sesungguhnya telah dianugerahkan Tuhan atas kasih karuniaNya. Yakobus menyinggung mengenai orang yang terus mendua hati, hidup terombang-ambing di dalam keraguan ini. "...sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan." (Yakobus 1:6-7).

 Yesus pun mengingatkan kita agar terus membangun kehidupan dengan mendengarkan dan melakukan firmanNya, yang Yesus ibaratkan dengan membangun rumah. "Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya--Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan--, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun. Akan tetapi barangsiapa mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya." (Lukas 6:47-49). Mendasarkan perjalanan hidup pada perkataanNya kemudian tampil sebagai pelaku-pelaku firman itu bagaikan membangun rumah di atas pondasi batu karang yang kuat.

Injil berasal dari Kerajaan Allah. Itulah pegangan yang hidup, berisi kekuatan Allah dan itu tidak berasal dari dunia. Itu seperti yang dikatakan Paulus: "Sebab aku menegaskan kepadamu, saudara-saudaraku, bahwa Injil yang kuberitakan itu bukanlah injil manusia. Karena aku bukan menerimanya dari manusia, dan bukan manusia yang mengajarkannya kepadaku, tetapi aku menerimanya oleh penyataan Yesus Kristus." (Galatia 1:11-12). Di dalam Injil terkandung keselamatan, itu disediakan buat kita selama kita bisa teguh berpegang kepadanya. "Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu--kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya." (1 Korintus 15:2). Jika demikian, apakah kita bisa berpegang teguh pada Injil kalau kita masih saja malas membacanya? Hidup tanpa pegangan akan sangat berbahaya. Kita tidak akan punya kekuatan untuk bertahan dan melawan berbagai godaan dan tekanan, demikian juga dalam menghadapi berbagai masalah dalam kehidupan. Oleh karenanya dengar baik-baik firmanNya, dan aplikasikan secara nyata dalam kehidupan. Sadari bahwa Injil mengandung kuasa Allah yang hidup, jadikanlah pegangan agar anda mampu menjalani hidup yang berkenan dihadapanNya dan tidak mudah tergoyahkan meski badai sedang kencang menerpa anda.

Injil merupakan kekuatan Allah yang menyelamatkan

Follow us on twitter: [url]http://twitter.com/dailyrho[/url] ([url]http://twitter.com/dailyrho[/url])
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on November 04, 2013, 05:53:23 AM
http://www.renunganharianonline.com/2013/11/believe-1.html
 Sunday, November 3, 2013
Believe (1)

Ayat bacaan: Yohanes 11:40
====================
"Jawab Yesus: "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?"

Anda tentu masih ingat lagu yang dinyanyikan oleh Mariah Carey dan mendiang Whitney Houston yang menjadi hit besar pada tahun 1998 berjudul "When You Believe". Lagu yang dipakai sebagai soundtrack/themesong dari film animasi The Prince of Egypt berisi pesan yang sangat bagus, mengingatkan kita untuk percaya meski kita belum bisa melihat apa yang akan terjadi di depan. Awal refrainnya berbunyi: "There can be miracles, when you believe". Mukjizat bisa terjadi ketika kita percaya. Bagian dari refrain ini bagi saya sangat menarik, karena masalah percaya seringkali menjadi sumber penyebab gagalnya kita menyaksikan mukjizat Tuhan turun atas kita. Mukjizat Tuhan gagal terjadi bukan karena Tuhan enggan mendengar permohonan kita, tetapi justru karena keragu-raguan atau kekurangpercayaan kita sendiri.  Meski Alkitab sudah berulang kali menegaskan agar kita menepis keraguan dari hati kita, Yesus berulang kali mengingatkan kita agar percaya, bahkan menegur kita yang tidak atau kurang percaya, tetapi kita masih saja sulit melangkah dengan iman, percaya kepada Tuhan dengan segenap hati, lalu lebih tertarik untuk terus membiarkan keraguan menguasai hidup kita. Logika-logika kita yang terbatas seringkali kita kedepankan, kita sibuk memandang dan menimbang beratnya masalah, lalu membatasi sendiri terjadinya kuasa-kuasa keajaiban Tuhan yang sesungguhnya justru tidak terbatas oleh apapun.

Jika anda membaca Alkitab yang tebal itu, maka anda akan mendapati ribuan janji Tuhan tersebar dari awal sampai akhir. Begitu banyak janji-janjiNya yang luar biasa yang sanggup memberikan jaminan keselamatan hingga akhir, juga kehidupan yang berkemenangan selama di dunia ini. Alkitab juga membeberkan cara atau langkah agar semua itu bisa menjadi milik anda. Ada banyak orang yang kurang sabar, mengira bahwa seketika janji itu harus terjadi sesuai maunya mereka atau setiap kali mereka butuhkan. Mereka malas menunggu. Maka ketika janji-janji itu tidak kunjung terjadi maka Tuhan pun segera disalahkan karena dianggap memberi janji palsu. Benar, ada banyak penyebab terhalangnya mukjizat Tuhan turun atas diri seseorang. Bisa karena dosa, masih ada sesuatu yang merintangi dan harus terlebih dahulu dibereskan, masih menyimpan dendam terhadap seseorang dan sebagainya, tapi salah satu penyebab yang paling sering adalah akibat ketidak/kekurang percayaan kita terhadap janji Tuhan itu. Kita berharap mukjizat terjadi, tetapi kita malah membatasi atau menghalanginya sendiri.

Mari kita lihat sejenak mengenai Lazarus, Marta dan Maria dalam Yohanes 11:1-44. Pada saat itu Marta dan Maria berharap Yesus mau datang ketika Lazarus masih hidup dan terbaring sakit. Mereka tahu bahwa Yesus sanggup menyembuhkan, tetapi ternyata iman mereka hanya sampai disitu, bisa menyembuhkan tapi sudah tidak bisa apa-apa lagi kalau keburu meninggal. Lihatlah apa kata Marta. "Maka kata Marta kepada Yesus: "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati." (ay 21). Maria pun berpikiran sama. "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati." (ay 32). Lihatlah bahwa mereka percaya, tapi sayangnya terbatas, hanya pada kesembuhan, dan bahwa Yesus akan membangkitkan orang-orang mati pada akhir zaman. (ay 24). Tetapi membangkitkan orang yang sudah terlanjur meninggal? Iman mereka tidak sampai kesana. Itu sulit diterima akal. Oleh karena itulah kita kemudian mendapati seruan Yesus yang menegur rendahnya kepercayaan manusia akan kuasa Allah. "tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat belajar percaya." (ay 15). Kemudian Yesus berkata kepada Marta: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?" (ay 25-26). Dan akhirnya Marta pun berkata bahwa ia percaya.

(bersambung)
http://www.renunganharianonline.com/2013/11 (http://www.renunganharianonline.com/2013/11)
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on November 04, 2013, 05:55:25 AM
Setelah mendengar jawaban Marta, Yesus pun kemudian datang kesana. Tapi benarkah kepercayaan Marta sudah penuh? Ternyata belum. "Kata Yesus: "Angkat batu itu!" Marta, saudara dari Lazarus yang sudah meninggal itu, berkata kepada-Nya: "Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati." (ay 39). Lazarus sudah empat hari mati, itu artinya mayat sudah mengeluarkan bau busuk dan mengalami dekomposisi. Secara logika itu berarti semuanya sudah terlambat. Yesus mengetahui pikiran mereka dan kemudian berkata:"Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?" (ay 40). Dan benar, terjadilah mukjizat luar biasa. Lazarus bangkit kembali dari kematiannya.

http://www.renunganharianonline.com/2013/11 (http://www.renunganharianonline.com/2013/11)
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on November 05, 2013, 05:11:36 AM
Quote
[url]http://www.renunganharianonline.com/2013/11[/url]
 Monday, November 4, 2013
Believe (2)

(sambungan)

Mengapa mukjizat atau keajaiban Tuhan tidak bisa terjadi pada diri kita? Mengapa kita tidak kunjung melihat kemuliaan Tuhan? Kata Yesus, itu "Karena kamu kurang percaya." (Matius 16:20a).  Yesus tidak mengatakan bahwa Tuhan pilih-pilih dalam menurunkan mukjizatNya. Yesus tidak berkata itu tergantung giliran atau nasib baik, tetapi dengan singkat, padat dan jelas Yesus berkata itu terjadi karena kita kurang pecaya. Masih dalam ayat yang sama selanjutnya Yesus mengatakan: "Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, --maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu." (ay 20b). Dalam versi Markus, ucapan Yesus berbunyi: "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya." (Markus 11:23). Perhatikanlah bahwa sesuatu yang tidak mungkin, seperti melemparkan gunung ke dalam laut, itu bisa terjadi pada kita, tetapi kuncinya adalah tidak bimbang hatinya, melainkan percaya.

Ada banyak problema dalam hidup yang siap mendatangkan rasa takut. Tapi kalau kita membiarkan rasa takut berkecamuk dalam hidup kita, apakah ada gunanya? Tidak ada. Justru Yesus berkata bahwa takut itu berasal dari kurang atau tidak percayanya kita terhadap Tuhan. (Matius 8:26). Oleh sebab itu, kuncinya adalah percaya. Yesus juga sudah berkata "Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu." (Markus 11:24). Lihatlah betapa pentingnya percaya itu dalam menerima kuasa Tuhan yang ajaib yang jauh melebihi segalanya.

Dasar yang kuat untuk bisa percaya sesungguhnya sudah diberitahukan pula kepada kita, yaitu iman. "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." (Ibrani 11:1). Iman merupakan dasar dari yang kita inginkan dan merupakan bukti dari apa yang belum kita lihat. Iman seharusnya bisa menjadi dasar bagi kita untuk percaya, tempat kita menggantungkan pengharapan tanpa putus kepada Tuhan. Meski sesuatu belum terjadi, bukti sebenarnya sudah ada lewat iman kita. Iman yang hanya seukuran biji sesawi saja sudah bisa memberikan perbedaan nyata dalam kehidupan orang percaya.

Logika boleh saja dipergunakan, tetapi jangan sampai logika membelenggu kepercayaan kita akan Tuhan. Kita mengaku sebagai orang percaya, tetapi sejauh mana sebenarnya kita percaya kepada Tuhan? Pada tahap mana kita hari ini, apakah masih menjadi orang yang tidak atau sulit percaya atau sudah percaya tapi masih kurang? Saya sudah mengalami begitu banyak mukjizat Tuhan secara langsung dan menyaksikan itu terjadi secara nyata pada banyak orang. Firman Tuhan itu ya dan amin. FirmanNya hidup dan punya kuasa. Hari ini, marilah kita perbaharui keyakinan kita sepenuhnya kepada Tuhan. Jangan sampai anda luput dari itu semua hanya karena terus menghalanginya dengan keragu-raguan.

There can be miracle, when you believe

Follow us on twitter: [url]http://twitter.com/dailyrho[/url] ([url]http://twitter.com/dailyrho[/url])
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on November 06, 2013, 05:03:05 AM
Quote
[url]http://www.renunganharianonline.com/2013/11[/url]
 Tuesday, November 5, 2013
Taat Seperti Prajurit yang Baik
webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Matius 8:9
================
"Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya."

Apa kriteria prajurit yang baik? Melakukan yang terbaik dan rela mengorbankan nyawa demi negara dan bangsa itu tentu merupakan kriteria yang baik. Tidak melakukan pelanggaran hukum, disiplin, melindungi dan mengayomi warga negara, itu juga merupakan syarat utama. Jika anda penggemar film, maka anda bisa saja mengira bahwa prajurit yang baik adalah tokoh-tokoh seperti yang anda tonton, berani mati, tidak terkalahkan di medan pertempuran, gagah berani, tahu dan pintar menyusun strategi perang, menguasai jenis-jenis senjata dan hebat dalam bertarung dengan tangan kosong, dan terus bertempur meski sudah terluka. Itu pun bisa jadi menunjukkan kehebatan seorang prajurit. Tapi ada satu hal lagi yang mungkin sering luput dari kriteria kita, terutama apabila kita bukan tentara, yaitu ketaatan. Baik tidaknya seorang tentara atau prajurit bisa dilihat dari ketaatan mereka terhadap perintah atau instruksi komandannya. Mereka harus patuh mengikuti atasan sesuai garis komando. Jika diperintahkan maju mereka harus siap, jika disuruh mundur mereka pun harus melakukannya. Tidak protes, tidak membantah, tidak membangkang. Seperti itulah prajurit yang baik. Good soldiers obey orders/commands. 

Sejauh mana seorang prajurit taat pada perintah komandannya akan menunjukkan kualitas mereka.Jika prajurit bertindak seenaknya dengan hanya mengikuti kehendak sendiri, itu bisa membawa akibat fatal menggagalkan seluruh strategi yang sudah dirancang sebelumnya. Kehidupan Kekristenan juga seharusnya mengacu kepada bentuk ketaatan prajurit seperti ini. Benar, sebagai manusia bisa saja sang komandan salah dalam memberi instruksi atau perintah. Dalam perjalanan sejarah ada beberapa prajurit yang dipuji karena mereka memilih untuk menolak perintah atasannya karena perintah itu bertujuan jahat seperti yang beberapa kali terjadi pada masa Hitler misalnya. Tetapi secara umum diluar kasus-kasus pemimpin kejam, seorang prajurit haruslah mentaati perintah atasannya. Jika manusia masih bisa memberi perintah yang salah, ketetapan dan perintah Tuhan tidak akan pernah salah. Tuhan tidak akan pernah memberikan perintah dengan tujuan menyusahkan atau menghancurkan kita, tetapi justru agar tidak satupun dari kita binasa melainkan agar kita tidak luput dari keselamatan yang sudah Dia anugerahkan lewat Yesus Kristus. Jadi kita perlu mengadopsi ketaatan ala prajurit ini dalam mematuhi ketetapan dan perintah Tuhan.

Ada sebuah contoh menarik tentang seorang perwira Roma mendatangi Yesus untuk memohon kesembuhan hambanya di Kapernaum yang menderita sakit lumpuh dalam Matius 8:5-13. Katanya: "Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita." (Matius 8:6). Yesus pun setuju untuk menyembuhkan hamba itu dan bermaksud untuk segera ikut menuju rumah sang perwira. Tapi perwira itu menolak. "Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: "Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh." (Matius 8:8). Ia melanjutkan dengan memberi alasan penolakannya, yaitu "Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya." (ay 9).
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on November 07, 2013, 04:33:13 AM
Quote
[url]http://www.renunganharianonline.com/2013/11[/url]
 Wednesday, November 6, 2013
Menjadi Prajurit Kristus

Ayat bacaan: 2 Timotius 2:3
======================
"Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus."

Hari ini saya masih ingin melanjutkan mengenai sikap prajurit yang baik yang harus kita jadikan teladan. Dalam dunia ketentaraan kita ada sebuah sumpah yang disebut dengan Sumpah Prajurit,  berisi 5 butir janji. 5 butir itu adalah: (1) Setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang Berdasarkan Pancasila dan UUD 45, (2) tunduk pada hukum dan memegang teguh disiplin, (3) taat penuh kepada atasan dan tidak membantah perintah atau putusan, (4) menjalankan segala kewajiban dengan penuh tanggung jawab dan (5) memegang rahasia ketentaraan sekeras-kerasnya. Dalam pelaksanaannya tentu saja ada oknum-oknum yang perilakunya menyimpang dari sumpah yang telah mereka ucapkan, namun itu semua adalah perbuatan orang perorang dan bukan mewakili kelembagaan. Dari sudut kelembagaan, prajurit yang baik haruslah memegang teguh Sumpah Prajurit ini, termasuk juga Sapta Marga dan Delapan Wajib TNI.

Jika kita kemarin telah menyoroti sebuah bentuk ketaatan dari seorang perwira yang menjumpai Yesus dengan tujuan agar hambanya disembuhkan (Matius 8:5-13), hari ini saya ingin menyampaikan mengenai sosok kehidupan kita sebagai orang Kristen yang digambarkan Paulus seperti seorang prajurit. Ada 3 contoh yang disampaikan Paulus kepada Timotius untuk menggambarkan bentuk kehidupan pengikut Kristus, yaitu melalui contoh prajurit (2 Timotius 2:3-4), olahragawan (ay 5) dan petani (ay 6).

Dalam suratnya Paulus mengatakan: "Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus. Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya." (2 Timotius 2:3-4). Seorang prajurit yang terlatih dan berdisplin baik tentu wajib tunduk sepenuhnya kepada komandannya, meski membahayakan nyawanya sekalipun. Mereka harus siap dan rela mengabaikan kepentingan diri sendiri demi kepentingan yang lebih besar. Ini bukanlah hal yang mudah. Agar bisa melakukannya dibutuhkan ketaatan penuh dan kesetiaan total kepada komandannya disertai kerelaan untuk berkorban. Sebuah keteladanan bisa kita peroleh lewat Yesus sendiri yang melakukan ketaatan penuh seperti itu. "...melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib." (Filipi 2:7-8). Ini gambaran ketaatan penuh yang langsung dipraktekkan secara nyata oleh Yesus.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on November 07, 2013, 04:34:32 AM
Quote
Hidup prajurit tergantung penuh kepada komandannya. Mereka harus taat, dan mengenai kebutuhan mereka, sang komandanlah yang akan bertanggungjawab atas itu. Dalam kehidupan Kekristenan hal yang sama berlaku, dan Paulus sudah mengatakan bahwa kita harus siap setiap waktu untuk menjadi prajurit Kristus yang baik. Artinya, Kristus menjadi sosok "Komandan" yang akan selalu mencukupi kebutuhan kita, sangat memperhatikan kita pribadi demi pribadi bahkan telah menjanjikan kita sebuah keselamatan yang sifatnya kekal. Kita bisa belajar dari bentuk ketaatan perwira Roma yang menemui Yesus yang sudah kita bahas kemarin, dimana ia menyadari sepenuhnya otoritas Kristus sebagai atasannya. Katanya: "Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya." (Matius 8:9). Kalau Yesus mengatakan sepatah kata saja untuk kesembuhan bawahannya maka orang itu pun akan sembuh, tanpa Yesus perlu repot-repot untuk pergi langsung ke rumahnya. Sang prajurit Roma ini menunjukkan ketaatan penuh kepada Kristus yang berada di atasnya. Dari kisah ini kita mendapatkan gambaran yang baik mengenai hubungan yang baik antar tingkat kepemimpinan. Yang di atas memperhatikan bawahan, sedang yang dibawah patuh kepada atasannya.

 Sekarang mari kita lihat alasan mengapa kita harus dibentuk menjadi prajurit Kristus. Apakah kita diharuskan untuk memusuhi atau memerangi saudara-saudari kita yang tidak seiman? Sama sekali tidak. Kita tidak diminta untuk menyerang siapa-siapa. Bahkan memusuhi saja pun kita tidak diperbolehkan. Kita justru harus bisa mengasihi sesama kita, siapapun mereka dan apapun latar belakang mereka. Apa yang harus kita perangi bukanlah manusia, melainkan kuasa-kuasa atau roh-roh jahat di udara. "karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara." (Efesus 6:12). Bentuk prajurit yang digambarkan Paulus sangat tepat jika kita menyadari bahwa hidup di dunia ini seperti berada di medan perang. Kita harus menghadapi terus peperangan menghadapi iblis dan siasat-siasat gelapnya. Kita senantiasa harus berjuang mempertahankan iman kita, melawan kedagingan kita. Karena itulah kita harus selalu siap untuk menderita dan tetap patuh kepada Komandan kita yaitu Yesus Kristus sendiri. Dan untuk itulah kita diminta agar terus mengenakan "seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis." (ay 11). Perlengkapan senjata Allah itu adalah "Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah." (ay 14-17).

 Kehidupan Kekristenan bukanlah bentuk kehidupan yang berleha-leha, santai dan tanpa masalah. Jika itu yang ada dalam benak kita mengenai menjadi pengikut Kristus, itu keliru. Hidup tetap membutuhkan perjuangan, pengorbanan dan kerja keras tanpa henti dari kita, hanya saja kita tidak melakukannya sendirian melainkan bersama dengan penyertaan Tuhan yang tidak pernah meninggalkan kita. Untuk bisa menjadi prajurit yang baik kita bahkan diminta untuk siap menyangkal diri dan memikul salib (Matius 16:24). Tentu dibutuhkan ketekunan dan keseriusan untuk terus melatih diri kita. Seperti apa yang diingatkan Paulus pula, "Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah. Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang." (1 Timotius 4:7-8). Seperti halnya prajurit di tiap negara terus dilatih dan dipersiapkan agar bisa menjadi prajurit yang baik, secara keimanan kita pun kita harus terus melatih diri kita dari hari ke hari agar bisa menjadi lebih baik lagi sebagai prajurit Kristus yang kuat dan loyal. Ijinkan ROH KUDUS untuk terus membimbing setiap langkah anda agar siap dibentuk menjadi prajurit Kristus yang baik.

Jadilah prajurit Kristus yang memegang teguh iman menghadapi peperangan dengan kuasa kegelapan dan segala tipu muslihatnya
[url]http://www.renunganharianonline.com/2013/11[/url] ([url]http://www.renunganharianonline.com/2013/11[/url])
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on November 08, 2013, 05:42:54 AM
Quote
[url]http://www.renunganharianonline.com/2013/11[/url]
 Thursday, November 7, 2013
Belas Kasih Perwira dari Kapernaum

Ayat bacaan: Matius 8:6
====================
"Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita."

Ketika ada orang yang datang memohon bantuan, seberapa pedulikah kita? Semakin lama semakin sedikit orang yang mau mengulurkan tangan membantu sesama. Jangankan orang yang tidak dikenal, orang yang dekat pun enggan ditolong. Seribu satu macam alasan bisa dikemukakan. Ada yang langsung curiga, ada yang merasa tidak mampu, ada pula yang tega dengan mengusir langsung orang yang memohon bantuan karena merasa terganggu. Bahkan untuk membagi sedikit waktu untuk mendengarkan keluh kesah seseorang pun sudah terasa seperti buang waktu. Bantuan tenaga pun sama saja, berat rasanya berkeringat untuk orang lain. Ada tetangga yang mau pindah? Kunci pintu dan pura-pura tidak di rumah supaya tidak harus ikut repot. Kita pun tidak terkejut lagi ketika melihat orang bisa tega berlaku demikian terhadap saudara sendiri. Kalau terhadap yang dekat sudah begitu, jangan harap orang yang tidak dikenal bisa mendapat sedikit bantuan. Singkatnya, rasa belas kasih sudah semakin menipis, termasuk di kalangan orang-orang percaya yang sebenarnya tidak punya hak untuk menutup mata karena kasih Kristus yang mengalir seharusnya membuat hati penuh dengan belas kasih.

Jika dua hari kemarin kita melihat sosok ketaatan prajurit, hari ini saya ingin menyorot sisi lain dari kisah perwira Kapernaum yang menghadap Yesus. Mengapa ia mau jauh-jauh datang menghampiri Yesus? Alasannya ditulis jelas di dalam Alkitab. "Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita." (Matius 8:6). Perwira Kapernaum itu mendatangi Yesus bukan karena ia sendiri yang sakit, tetapi ia digerakkan oleh rasa belas kasih atas penderitaan hambanya yang sedang terbaring akibat sakit lumpuh. Jika melihat posisinya sebagai tuan, tentu ia bisa saja memecat sang hamba dan mencari hamba baru yang lebih sehat. Bukankah posisinya sebagai tuan membuatnya punya hak untuk itu? Tetapi sang perwira Roma tidak melakukan itu. Ia justru bergegas ditengah-tengah menjalani tugasnya sebagai tentara untuk pergi menemui Yesus. Perhatikan, meski apabila ia menunjukkan rasa kasihan saja sebenarnya sudah cukup baik, ia tidak berhenti sampai disitu saja. Dia memilih untuk berbuat sesuatu, he chose to do some action. Perjumpaannya dengan Yesus membawa hasil nyata dengan turunnya mukjizat kesembuhan atas hambanya. Lebih dari itu, sang perwira pun berhasil membuat Yesus kagum akan imannya yang percaya bahwa Yesus sanggup menyembuhkan hanya lewat perkataan saja tanpa perlu pergi menemui si hamba.  (Matius 8:9-10). Sikap belas kasih yang diikuti oleh sebuah tindakan nyata oleh perwira Roma ini sangat baik untuk kita jadikan teladan. Hatinya ternyata penuh dengan belas kasih. Dan yang lebih penting lagi, hati penuh kasihnya disertai dengan sebuah perbuatan nyata.

Dalam Amsal, Salomo berkata: "Siapa menghina sesamanya berbuat dosa, tetapi berbahagialah orang yang menaruh belas kasihan kepada orang yang menderita." (Amsal 14:21). Ingatlah bahwa Tuhan akan memperhitungkan segala belas kasih yang kita tunjukkan kepada sesama kita, tak peduli sekecil apapun. Yesus sendiri berkata: "... Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku." (Matius 25:40). Selain itu, sebagai murid Yesus, bukankah kita harus meneladani atau mencontoh sikap hatiNya? Yesus sudah menunjukkan bagaimana sikap hatiNya secara langsung selama masa pelayananNya di muka bumi ini. Berulang kali dalam begitu banyak kesempatan Yesus menunjukkan kelembutan hati yang penuh belas kasih setiap kali melihat penderitaan manusia, misalnya dalam Matius 9:36, 14:14, 15:32, 18:27, 20:24 dan sebagainya. Itu baru Injil Matius. Anda akan menemukan banyak lagi dalam Injil lainnya. Kalau Yesus saja begitu, siapa kita yang berani merasa punya hak untuk tidak berempati dan bersimpati kepada orang lain? Bagaimana kita bisa tega menutup mata dan keberatan membagi sedikit dari apa yang kita punya untuk meringankan penderitaan sesama?
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on November 08, 2013, 05:43:47 AM
Quote
Apa yang sering kita temui justru sikap yang bertolak belakang dengan apa yang dilakukan sang perwira dari Kapernaum. Akan sangat mudah bagi kita untuk menemukan atasan/majikan yang betindak kasar, semena-mena dan merendahkan bawahannya, orang-orang yang menolak menolong bahkan tega tertawa di atas penderitaan orang lain. Sebaliknya kita akan sulit menemukan orang-orang yang digerakkan oleh belas kasih dan turun membantu orang yang membutuhkan. Oleh sebab itu maka apa yang ditunjukkan oleh perwira dari Kapernaum ini hendaknya mengingatkan kita agar memiliki rasa belas kasih tanpa memandang jabatan, status, kepercayaan atau tingkatan/strata sosial lainnya. Sebab, bukankah Tuhan saja menaruh rasa belas kasih yang begitu besar kepada kita orang berdosa? "Sebab Aku akan menaruh belas kasihan terhadap kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa-dosa mereka." (Ibrani 8:12). Selain itu, saling tolong menolong pun berarti kita memenuhi hukum Kristus. (Galatia 6:2). Sebagaimana Tuhan mengasihi kita, marilah kita juga mengasihi sesama kita, tanpa terkecuali, siapapun mereka, bukan hanya berhenti pada rasa kasihan tetapi lanjutkanlah dengan sebuah tindakan nyata. What can you do today? Who can you help? How can you help them? Alirkanlah kasih Tuhan lewat belas kasih anda terhadap sesama.

Miliki belas kasih yang tidak berhenti hanya pada rasa kasihan tetapi juga disertai perbuatan nyata

Follow us on twitter: [url]http://twitter.com/dailyrho[/url] ([url]http://twitter.com/dailyrho[/url])
[url]http://www.renunganharianonline.com/2013/11[/url] ([url]http://www.renunganharianonline.com/2013/11[/url])
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on November 09, 2013, 05:10:58 AM
Quote
[url]http://www.renunganharianonline.com/2013/11[/url] ([url]http://www.renunganharianonline.com/2013/11[/url])
 Friday, November 8, 2013
Intan

Ayat bacaan: Yehezkiel 3:8-9a
========================
"Lihat, Aku meneguhkan hatimu melawan mereka yang berkepala batu dan membajakan semangatmu melawan ketegaran hati mereka. Seperti batu intan, yang lebih keras dari pada batu Kuteguhkan hatimu.."

Berlian merupakan sebuah permata yang indah yang sering dihubungkan dengan pernyataan cinta, dianggap mampu mewakili keindahan perasaan dan kemewahan. Berbagai strategi pemasaran berlian biasanya akan mengacu kepada ketiga ide ini. Berlian sebagai permata punya banyak keistimewaan. Kemampuannya mendispersikan cahaya membuat kemilaunya sulit ditandingi permata lainnya. Tidak jarang pula orang kemudian memberi nama Intan kepada anaknya dengan harapan anaknya akan menjadi seseorang yang berharga, indah dan berkilau dalam hidupnya. Bahan baku berlian adalah intan. Berlian muncul sebagai bentuk olahan intan yang melewati proses penggosokan dan cutting oleh ahli. Sebagai logam berharga, intan tidaklah terbentuk dalam waktu singkat melainkan memerlukan waktu yang sangat panjang. Intan berasal dari substansi karbon yang mengalami tekanan dan panas yang sangat tinggi pada kerak bumi selama jutaan tahun. Untuk mendapatkannya pun bukan hal yang mudah. Tidaklah mengherankan jika intan atau bentuk olahannya berlian punya nilai yang sangat tinggi di pasaran. Selain indah, intan dan berlian memiliki keistimewaan lainnya yaitu tingkat kekerasan yang tinggi, bahkan merupakan kekerasan dengan skala tertinggi yang bisa dijumpai di alam (10 MOHs) karena memiliki atom yang luar biasa padat. Cara memotong intan baru ditemukan manusia pada abad ke 15 dengan menggunakan intan lainnya.

 Sangatlah menarik jika melihat bahwa Tuhan menggunakan intan bukan untuk menunjukkan keindahan, kemewahan atau harganya, tetapi justru dijadikan contoh untuk menggambarkan keteguhan hati yang mampu diberikanNya bagi kita untuk bisa menghadapi berbagai situasi sulit selama hidup kita. Ayatnya bisa kita baca dalam kitab Yehezkiel. Pada masa hidupnya, Yehezkiel dipakai Tuhan untuk menghadapi sebuah bangsa yang keras, yang memberontak terhadap Allah. Sama sekali bukan tugas yang gampang bagi Yehezkiel, tapi ketika Tuhan memberi tugas, Tuhan juga menyediakan segala sesuatu yang diperlukan. Apa yang dianggap Tuhan perlu untuk memperlengkapi Yehezkiel adalah sebuah hati yang sekeras batu intan, jenis batu yang terkeras yang akan mampu menghadapi keras kepala dan hati mereka. "Lihat, Aku meneguhkan hatimu melawan mereka yang berkepala batu dan membajakan semangatmu melawan ketegaran hati mereka. Seperti batu intan, yang lebih keras dari pada batu Kuteguhkan hatimu." (Yehezkiel 3:8-9a).
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on November 09, 2013, 05:12:34 AM
Quote
Hati yang keras seperti batu intan tentu berbeda dengan bentuk keras hati dalam artian sulit menerima pendapat orang lain dan kebenaran Firman Tuhan. Jika mengacu kepada hal seperti ini, kita tentu harus memiliki sebentuk hati yang lembut agar Firman Tuhan dapat tertanam dengan baik dan kita bisa menjadi orang-orang yang mau mendengar. Apa yang diberikan Tuhan kepada Yehezkiel adalah hati yang bisa bersabar dan tetap kuat dalam menghadapi orang-orang yang sulit, yang susah berterima kasih, tidak mau menghargai orang lain, suka membantah atau melawan, hobi menimbulkan masalah dan menyulitkan orang lain dan sukar diperingatkan atau diubahkan. Jika satu-dua orang saja yang berkarakter seperti ini bisa menyusahkan kita, apalagi kalau yang dihadapi adalah sebuah bangsa dengan kedegilan yang sama. Wah, itu tentu sangat berat. Hati yang lemah dan tidak teguh tidak akan mampu mengatasi orang, kelompok apalagi bangsa seperti itu. Kita akan kelelahan, kalah dan lalu gagal dalam menjalankan tugas yang diberikan Tuhan untuk menjangkau dan membawa mereka untuk mengenal kebenaran.

Betapa kita memerlukan hal yang sama dalam menghadapi hari demi hari di jaman yang berat ini. Sudah disebutkan bahwa "seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat" (1 Yohanes 5:9). Kita hidup di dunia dimana "orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan." (2 Timotius 3:13). Kita akan terus berhadapan dengan orang-orang sulit yang akan terus menambah masalah baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Orang-orang yang mengatasnamakan kekerasan, berpikir bahwa mereka punya legitimasi Tuhan untuk menghakimi orang yang berbeda pendapat atau keyakinan dengan mereka. Orang-orang yang meski sudah tahu salah tapi masih saja keras kepala. Tidak mau mendengar, tidak suka dinasihati, tetap melakukan hal jelek yang sama berulang-ulang, hari ini bertobat besok kumat lagi, kambuhan dalam macam-macam dosa dan sebagainya. Tidak usah jauh-jauh mencari di luar, di rumah pun kita kerap bertemu karakter seperti ini dari anggota keluarga sendiri. Di sisi lain, kita akan terus berhadapan dengan saat-saat dimana iman kita diuji. Dunia terus menawarkan kenikmatan yang setiap saat mampu membuat kita terjatuh dalam dosa. Betapa seringnya kita gagal dalam perjalanan karena kita tidak memiliki keteguhan hati yang cukup. Kita sering terbawa arus pergaulan, begitu cepat terpengaruh akan hal-hal duniawi dan sulit untuk mengatakan "tidak" kepada hal-hal yang bertentangan dengan kehendak Tuhan.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on November 09, 2013, 05:13:05 AM
Quote
Sebentuk hati yang ada di dalam diri kita sesungguhnya lemah dan rentan untuk disusupi berbagai hal yang akan meruntuhkan kita cepat atau lambat. Hati kita itu akan mudah lelah ketika terus mendapat tekanan baik dari orang-orang yang sulit maupun berbagai situasi di dunia yang sudah tercemar sedemikian parah oleh si jahat. Oleh karena itu kita memerlukan hati yang teguh, sekeras batu intan, yang akan selalu siap memotivasi kita, memberi kita kekuatan dan kesabaran dalam menjalankan amanat agung dan membuat kita awas terhadap berbagai kesesatan dan terus menjalani hidup untuk kemuliaan Tuhan. Puji Tuhan, Dia telah menyediakan itu buat kita. Kita butuh hati sekeras intan. Kita tidak akan pernah bisa menjadi terang dan garam apabila kita memiliki hati yang lembek, yang gampang terpengaruh arus dunia dan mudah menyerah ketika menghadapi tekanan. Hati yang teguh, sekeras intan yang jauh lebih keras dari batu apapun Tuhan sediakan buat kita. Oleh sebab itu sangatlah penting bagi kita agar tetap menjaga dan memelihara diri kita dalam sebuah hubungan yang erat dengan Allah dan taat kepada perintah-perintahNya. Hati seteguh intan akan memampukan kita untuk berbuat yang terbaik bagi kemuliaan Tuhan, bahkan di tempat,situasi atau ketika menghadapi orang-orang tersulit sekalipun.

Tuhan memberi hati seteguh kerasnya batu intan untuk menghadapi hidup yang sulit

Follow us on twitter: [url]http://twitter.com/dailyrho[/url] ([url]http://twitter.com/dailyrho[/url])
[url]http://www.renunganharianonline.com/2013/11[/url] ([url]http://www.renunganharianonline.com/2013/11[/url])
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on November 10, 2013, 11:05:40 AM
Quote
[url]http://www.renunganharianonline.com/2013/11[/url]
 Saturday, November 9, 2013
Bermasalah dengan Mood Jelek (1)

Ayat bacaan: 2 Korintus 10:5b
========================
"..Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus"

Apakah anda termasuk orang yang moodnya swing alias naik turun? Jika ya, tahukah anda bahwa mood seperti itu tidak saja merusak bagi anda sendiri tapi juga bisa berpengaruh kepada mood orang lain? Seorang teman saya tengah diambang perceraian bukan karena masalah-masalah besar seperti selingkuh, kondisi ekonomi yang tidak baik dan sejenisnya, tapi hanya karena sudah tidak tahan lagi menjalani bahtera rumah tangga yang terus panas. Saya menanyakan apakah ia sudah mencoba memeriksa dirinya sendiri, karena seringkali masalah justru hadir lewat perilaku kita sendiri yang mengganggu pasangan hidup kita tanpa kita sadari. Tapi menurutnya ia sudah berusaha memberi yang terbaik. Menurut pengakuannya ia telah menekan egonya sampai ke titik terendah, terus mengalah dan berusaha keras membuat suasana di rumah kembali harmonis dalam keseimbangan yang baik. "Setiap saya mengalah, ia akan terus menginjak lebih jauh lagi. Kalau saya melawan, ia malah makin keras. Ia tidak mau meminta maaf meski jelas-jelas salah, sayalah yang terus-terusan harus membujuknya walaupun saya yang tersinggung." kata teman saya. Mood istrinya yang swing membuat suasana rumah ia rasakan seperti ditimpa bara api. "Ada banyak hal yang sebenarnya seharusnya saya peroleh lewat istri. Ada kalanya saya butuh comfort jika sedang susah pikiran, tapi bukan comfort yang saya dapat melainkan sikap ego lewat emosinya yang liar. Yang lebih disayangkan lagi, ini terjadi bukan setelah pernikahan puluhan tahun, tetapi baru menginjak tahun ke 5. Saat ini saya masih berusaha agar ia mengurungkan niatnya karena perceraian biar bagaimanapun tidak akan mendapat pembenaran di hadapan Tuhan, tetapi hari ini mari kita belajar untuk menguasai mood agar tidak naik turun tanpa terkendali sehingga pada akhirnya hanya akan merugikan diri anda dan orang-orang yang anda sayangi.

Mood alias suasana hati adalah bentuk olahan pikiran yang berhubungan dengan perasaan. Mengapa saya katakan demikian? Karena seringkali mood seseorang akan sangat tergantung dari pola pikirnya. Jika ia terus memikirkan hal negatif atau buruk, maka mood akan down dan emosi bisa cepat terbakar bagai rumah yang dilalap api. Apakah itu karena memikirkan masa depan yang tampak suram, terus merasa kekurangan, depresi atas pekerjaan, cemas atas berbagai persoalan hidup atau karena stres menghadapi sibuknya aktivitas sehari-hari, suasana hati akan terbentuk dengan mengikuti pola pikiran yang sedang hinggap dan berdiam di benak seseorang. Lewat pengamatan saya dan pengalaman-pengalaman baik diri sendiri maupun menghadapi orang-orang yang bermasalah dengan mood, soal  mood yang jelek adalah sesuatu yang tumbuh membesar seiring waktu. Maksud saya, apabila mood yang tidak stabil terus dibiarkan merajalela dalam diri kita, kondisinya bisa terus membesar dan semakin parah, hingga pada suatu ketika tidak lagi bisa dikendalikan. Kita mungkin merasa wajar jika sekali waktu suasana hati kita sedang buruk, tetapi coba pupuk maka kita akan begitu mudah mengalami mood jelek meski lewat situasi yang tidak parah-parah amat atau malah ketika segalanya sebenarnya cenderung tanpa masalah. Ada orang yang sedang bernyanyi disebelah kita, kita bisa merasa terganggu, ada yang bicaranya agak keras kita terganggu, ada mobil yang menyalip atau berjalan lamban di depan bisa membuat kita marah. Pendeknya sedikit-sedikit marah, kesal dengan mood yang langsung berantakan. Dalam kehidupan rumah tangga ini bisa menjadi momok yang meretakkan dan menghancurkan. Anda bisa bayangkan sosok suami yang otoriter, pulang dengan suasana hati buruk, membawa kekesalan kerja ke rumah, hanya memerintah dan menuntut, bersikap kasar baik lewat kata-kata maupun ringan tangan. Sebaliknya suami yang berhadapan dengan istri yang mau menang sendiri, gampang tersinggung, menolak dinasihati, sulit untuk berbaikan, tidak peduli perasaan suami tapi selalu menuntut dimengerti, mudah menyalahkan suami jika tidak sesuai dengan pendapatnya, gemar memerintah dan suka melarang apapun yang ingin dilakukan suaminya tanpa alasan jelas, kesal melihat suaminya santai dan sebagainya. Ini akan membuat rumah menjadi panas bagai medan perang terbuka. Tidak ada lagi yang sadar bahwa disana sebenarnya iblis akan berpesta pora membuat semuanya menjadi hancur habis-habisan. Ini adalah habitat yang sangat disenangi si jahat, yang seharusnya tidak boleh kita biarkan berkembang dalam kehidupan kita. Pada akhirnya semua berakhir, bahkan penyesalan tidak lagi bisa mengembalikan situasi sama seperti sebelum semua itu terjadi.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on November 10, 2013, 11:07:09 AM
Quote
Jika demikian, bisakah mood dikendalikan? Tentu saja bisa, malah seperti itulah seharusnya. Kita tidak boleh membiarkan mood merusak performance kehidupan kita sehingga kita tidak bisa tampil baik, baik dalam hal bekerja maupun dalam hubungan sosial antar manusia, pertemanan terlebih keluarga. Agar bisa melakukan ini, Alkitab mengajarkan kita lewat Paulus dan rekan-rekan sekerjanya yang terus berusaha untuk menghancurkan berbagai pola pemikiran yang dibangun lewat keangkuhan/kesombongan yang sebenarnya menentang pengenalan akan Allah yang penuh kasih. "..Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus" (2 Korintus 10:5b). Menaklukkan, menangkap hingga menyerah total, menundukkan, to make it fully surrendered into the obedience of Christ. Itu yang dianggap Paulus merintangi pengenalan akan kebenaran Firman Tuhan terlebih pengaplikasiannya dalam kehidupan manusia. Jadi untuk bisa mengendalikan mood yang naik turun tak karuan, kita harus menawan segala pikiran kita dan menaklukkannya kepada Kristus. Make them all fully surrendered, take away all the power and force of our thoughts into Christ.

Lewat Yesaya Firman Tuhan berkata: "dimana ada kebenaran disitu akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran adalah ketenangan dan ketenteraman." (Yesaya 32:17) Perhatikan baik bahwa damai sejahtera tumbuh sebagai efek atau dampak dari kebenaran, dan itu bukan hanya untuk sementara tapi dikatakan selamanya. Jadi jelas bahwa damai sejahtera akan tumbuh apabila manusia hidup dengan kebenaran Allah,  mematuhi dan melaksanakan ketetapan-ketetapan Tuhan dengan sepenuh hati, sungguh-sungguh dan tidak pilih-pilih. Selanjutnya dalam bagian lain di kitab Yesaya kita bisa melihat ayat lainnya yang jugabberhubungan, "Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya."(26:3). Orang yang teguh hati, yang pikiran dan perbuatannya selalu melekat pada Tuhan, berserah dan bergantung kepada Tuhan dan terus berharap kepada Tuhan, itulah yang akan dijaga Tuhan dengan damai sejahteraNya. Sebuah damai sejahtera yang sejati berasal dari Allah dan tidak bisa digantikan dengan yang lain, itulah yang akan mendatangkan ketentraman dan ketenangan.

(bersambung)
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on November 11, 2013, 05:14:50 AM
Quote
[url]http://www.renunganharianonline.com/2013/11[/url]
 Sunday, November 10, 2013
Bermasalah dengan Mood Jelek (2)
(sambungan)

Pikiran dan perasaan adalah titik-titik lemah yang rapuh yang sangat rentan untuk diserang. Segala pikiran negatif bisa meracuni pola pikir dan hati/perasaan kita sehingga lama-lama kita tidak lagi merasakan damai sejahtera didalamnya. Sangatlah ironis bila kita yang sudah percaya masih juga terus dihantui masalah pikiran dan perasaan seperti ini. Ingatlah bahwa Tuhan sudah menyediakan damai sejahtera dan ketenangan pikiran bagi kita, yang akan memampukan kita untuk menghadapi segala sesuatu tanpa harus kehilangan sukacita. Yang dibutuhkan adalah iman kita untuk percaya kepadaNya dengan sepenuh hati, teguh menuruti ketetapan-ketetapanNya.

Tidak ada janji Tuhan yang tidak Dia genapi. Benar bahwa situasi sulit akan selalu ada dalam hidup kita. Tetapi kita akan mampu untuk senantiasa tenang jika bersama Tuhan. Tuhan membekali kita dengan damai sejahtera, ketentraman dan ketenangan sebagai produk dari kebenaranNya. Apa yang mengganggu mood/perasaan/suasana hati anda saat ini? Anda merasa takut? Tuhan sudah mengatakan "jangan takut, percaya saja." (Markus 5:36). Anda tengah lelah akibat ditimpa beban berat pada pundak anda? Tuhan mengatakan akan memberi kelegaan (Matius 11:28). Anda tengah menghadapi masalah yang membutuhkan pertolongan? Tuhan sudah mengatakan bahwa tanganNya tidak kurang panjang untuk menyelamatkan dan pendengaranNya tidak kurang tajam untuk mendengar tangisan anda. (Yesaya 59:1). Anda termasuk orang yang cepat marah? Sadarilah Firman Tuhan sudah mengingatkan bahwa "amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah." (Yakobus 1:20). Anda merasa masa depan anda suram? Tuhan mengatakan bahwa Dia telah memberi rancangan damai sejahtera kepada anak-anakNya yang menjamin hari depan yang penuh harapan. (Yeremia 29:11). Bahkan apabila anda merasa bahwa terlepas dari masalah merupakan sesuatu yang mustahil karena sudah terlalu parah, Tuhan sudah berseru bahwa "Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya" (Markus 9:23), "Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil." (Lukas 1:37). Semua ini seharusnya bisa dijadikan dasar bahwa mood sesungguhnya bisa dikendalikan dan bukan merupakan sesuatu yang liar. Tidak ada alasan bagi kita untuk mengadopsi pemikiran-pemikiran yang negatif, karena orang percaya seharusnya menawan dan menaklukkan pikirannya kepada Kristus.

Jika ada diantara anda yang saat ini mengalami permasalahan dengan suasana hati atau mood yang naik turun/swing, baik yang mengalaminya secara langsung maupun punya hubungan dekat dengan orang-orang berperilaku seperti ini, ingatlah bahwa mood seperti itu itu bisa dikendalikan dan tidak boleh dibiarkan tumbuh bebas. Suasana hati yang tak terkendali akan membuat etos kerja kita menurun, membuat kita tidak melakukan berbagai peran, fungsi dan tanggung jawab kita dengan baik dan merintangi kita untuk menuai segala kebaikan dari Tuhan sesuai janjiNya. Don't let your mood overcome you, but gain a full control of it by leading it into Christ. Jangan biarkan pikiran-pikiran buruk berkecamuk dalam diri anda dan membuat perasaan anda tak terkendali, karena pada suatu ketika nanti kerugian yang anda derita bisa begitu besar, korban sudah terlanjur jatuh dan kerusakan terlanjur parah sehingga kalaupun masih bisa dibenahi akan memerlukan waktu, usaha dan lainnya yang tidak sedikit

Never, ever let your mood dictate your manners, because it's very dangerous and destructive

Follow us on twitter: [url]http://twitter.com/dailyrho[/url] ([url]http://twitter.com/dailyrho[/url])
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on November 12, 2013, 05:30:21 AM
Quote
[url]http://www.renunganharianonline.com/2013/11[/url]
 Monday, November 11, 2013
Pelaku Bukan Penonton

Ayat bacaan: 1 Petrus 2:9
==================
"Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib"

Siapa aktor atau aktris kesayangan anda? Ada yang ngefans karena penampilan atau wajah yang cantik/ganteng, dari perawakan tubuh yang sempurna, ada pula yang lebih mementingkan kehebatan berakting. Saya lebih tertarik kepada aktor watak yang bisa memerankan tokoh berbeda-beda dengan pendalaman sangat baik, yang bisa membawa penonton untuk masuk mendalami karakter kemudian lupa bahwa itu adalah hasil olah peran dari aktor yang bersangkutan. Ambil contoh peran almarhum Heath Ledger sebagai Joker dalam The Dark Knight sebagai tokoh antagonis dari seri Batman era baru. Ia melebur sempurna, mencekam dan terlihat menakutkan meski wajahnya dicat seolah badut sirkus. Atau lihat pula peran-peran Johnny Depp yang meski berwajah tampan tapi kerap menomorduakan penampilan secara fisik dan lebih mengedepankan seni peran. Teman saya masih tetap memfavoritkan Sylvester Stallone dan sangat bergembira dengan kembali suksesnya sang aktor lewat seri The Expandables dengan membawa segudang artis laga dari masa lalu digabung dengan tokoh-tokoh laga masa kini. Jika anda masih muda, mungkin anda akan lebih tertarik melihat aktor/aktris remaja baik dalam dan luar negeri. Anda tentu punya pilihan sendiri. Saya bukan hendak bercerita mengenai para pelaku industri perfilman Hollywood, Bollywood, Asia atau dalam negeri sendiri. Tapi ijinkan saya bertanya: bagaimana rasanya jika anda bukan hanya menonton aksi aktor/aktris kesayangan anda, tapi terlibat beradu akting secara langsung dengan mereka? Anda bukan lagi duduk di kursi empuk bioskop atau sambil mengunyah pop corn di depan televisi, tetapi anda ada di dalam layar, turut serta sebagai bagian dari cerita? Apakah anda berani atau tidak, itu soal lain. Tapi saya yakin itu akan anda rasakan sebagai sebuah pengalaman yang luar biasa membanggakan. Bagi saya yang berkecimpung di dunia musik, saya pernah tampil di atas panggung yang sama dengan para musisi luar biasa yang sebelumnya hanya saya lihat di layar kaca atau dengar lewat rekaman album mereka saja. Meski saya berada di sana bukan bermain musik bersama mereka, berada pada posisi seperti itu, bukan dari tempat penonton melainkan dari panggung melihat mereka yang bersorak dan bernyanyi, memberikan sebuah pengalaman baru yang sulit untuk dilupakan.

Hari ini saya ingin mengajak anda merenungkan sebuah pertanyaan yang penting. Dalam kehidupan kerohanian kita dimanakah posisi kita berdiri? Apakah kita berada di posisi pelakuatau masih sebagai penonton? Apakah kita hanya mendengar berbagai kesaksian orang lain atas mukjizat ajaib Tuhan yang terjadi atas mereka atau kita sudah mengalaminya sendiri secara langsung? Apakah kita sudah berkontribusi dan berperan langsung sebagai saluran berkat, menjadi duta-duta Kerajaan yang menyampaikan Amanat yang Agung secara nyata atau masih pada posisi yang hanya menyaksikan dari kejauhan? Apakah kita sudah memberi atau masih hanya menerima saja? Pada kenyataannya lebih banyak orang Kristen yang puas dengan hanya berada di bangku penonton ketimbang aktif secara langsung dalam melakukan pekerjaan Tuhan di dunia ini.  Kebanyakan lebih suka untuk berpangku tangan, hanya ingin menerima berkat buat diri sendiri dan tidak mau terlibat langsung untuk menjadi agen-agen Tuhan. Melayani Tuhan itu hanya tugas pendeta atau para pengerja. Urusan duniawi seringkali dianggap jauh lebih penting ketimbang menerima panggilan Tuhan yang menurut kita hanya buang-buang waktu. "Buat apa? Mending saya kerja siang malam supaya banyak uang, pelayanan itu ribet dan enggak ada duitnya..." kata seorang yang saya kenal pada suatu kali sambil tertawa. "Saya sih karunianya jemaat bro, bukan melayani." kata seorang lagi. Bukankah banyak orang yang memiliki pola pikir seperti itu?
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on November 12, 2013, 05:32:49 AM
Quote
Pertanyaan selanjutnya, apakah benar hanya sebagian yang punya tugas sementara yang lain boleh berpangku tangan sambil tetap menerima segala curahan berkat dan anugerahNya? Apakah Tuhan hanya menginginkan sebagian orang saja buat berperan secara aktif mewartakan Injil? Alkitab tidak berkata seperti itu. Firman Tuhan secara tegas berkata: "Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib" (1 Petrus 2:9). Sebuah bangsa, itu bicara tentang keseluruhan orang percaya dan bukan hanya segelintir pribadi. "Kamulah bangsa yang terpilih", demikian Firman Tuhan berkata, itu artinya anda dan saya berada dalam bangsa yang terpilih itu, sebuah bangsa yang kudus, yang berisi umat kepunyaan Allah sendiri. Selanjutnya kita dikatakan imamat yang rajani. Imamat yang rajani, itu berarti dimata Tuhan kita adalah sebagai imam-imam yang melayani raja atau dalam bahasa Inggrisnya disebut dengan royal priesthood. Gelar sebesar ini tentulah bukan tanpa maksud. Itu menunjukkan panggilan bagi setiap kita untuk memberitakan perbuatan-perbuatan besar Tuhan secara aktif lewat berbagai kesaksian akan karya nyata Tuhan dalam hidup kita. Ini adalah sebuah panggilan untuk semua anak-anak Tuhan tanpa terkecuali, bagi anda dan saya. Yesus sendiri sudah berpesan dengan sangat jelas agar kita menjadi rekan sekerjaNya lewat Amanat Agung yang Dia berikan tepat sebelum kenaikanNya kembali ke Surga. "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan ROH KUDUS, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:19-20).

 Untuk menjalankan itu semua kita pun sudah dipersiapkan secara baik. selain Yesus sudah berjanji untuk senantiasa menyertai kita, Dia juga telah membekali kita dengan kuasa-kuasa luar biasa. Tidak mudah? Sulit? Repot? Ribet? Mungkin ya, tapi ketahuilah bahwa Tuhan tidak pernah hanya menyuruh kita tanpa menyediakan sarana dan prasarana dalam menjalankan tugas. Ketika Tuhan memberi tugas, Dia pula yang menyediakan segala kebutuhan untuk itu. Lihatlah ayat berikut ini: "Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu." (Lukas 10:19). Yesus juga berkata "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau ROH KUDUS turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." (Kisah Para Rasul 1:8). Kuasa tidak ditahan tapi diberikan agar kita mampu berperan langsung menjadi saksi Kristus baik di lingkungan kita bahkan bisa meningkat sampai ke ujung bumi. Semua ini dengan jelas menyatakan bahwa tidak satupun dari kita yang dipanggil hanya untuk berpuas diri dengan berada di kursi penonton saja. Kita semua dituntut untuk menjadi pemain-pemain yang siap berbuat yang terbaik dengan segala yang kita miliki, berperan secara langsung dan nyata sesuai dengan panggilan kita masing-masing, untuk menjadi rekan-rekan sekerja Tuhan di muka bumi ini. Disanalah anda akan mengalami berbagai perbuatanNya yang ajaib, bukan untuk disimpan sendiri melainkan untuk disiarkan kepada orang lain sebagai bentuk kesaksian akan kuasa Allah yang tak terbatas yang berlaku dalam kehidupan kita secara nyata hingga hari ini.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on November 12, 2013, 05:33:30 AM
Quote
Kerajaan Allah tidak akan turun di muka bumi ini tanpa peran orang-orang percaya. Anda tidak bisa berharap untuk sebuah dunia yang damai, aman, sejahtera, sentosa jika anda tidak mulai berpikir untuk melakukan sesuatu yang nyata. It's our job, we ought to do something according to our callings. Jika anda rindu untuk melihat Kerajaan Allah terus diperluas di dunia ini, maka itu artinya anda harus pula terjun dan berperan secara langsung di dalamnya. Bukan lagi sekedar menempatkan diri sebagai jemaat biasa yang datang ke gereja hanya sebagai penonton saja, hanya mencari berkat bagi diri mereka sendiri dan tidak mempedulikan keselamatan orang-orang di sekitarnya, hanya mau menerima tanpa pernah mau memberi, melainkan harus mulai berpikir untuk tampil secara langsung sebagai pelaku-pelaku yang menyandang gelar imamat yang rajani. Yesus sendiri sudah menyatakan, "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit." (Matius 9:37). Seharusnya kita tersentil mendengar kata-kata Yesus ini dan mulai mau berpikir untuk melakukan karya nyata kita secara langsung.

Saatnya menjadi terang yang bercahaya bagi sekitar kita. Yesus menghimbau kita "Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." (Matius 9:16). Tidak ada terang yang akan berfungsi jika hanya disimpan dibawah kolong atau ditutup rapat dalam kotak. Terang hanya akan bercayaha jika diletakkan di atas dalam kegelapan. Jika terang sudah berfungsi sebagaimana mestinya, maka tidak ada satupun kegelapan yang mampu menelan terang. Demikian pula kita semua, anak-anak Tuhan hendaklah bertindak sebagai pemain-pemain andalan Tuhan secara langsung dan tidak berhenti hanya sebagai penonton saja, apalagi hanya sibuk mengomentari, mengeluh, memprotes dan mencela tanpa mau berbuat sesuatu yang nyata. It's time to go out of the box, time to play our part, to go and do something real. Kita dipersiapkan Tuhan untuk menjadi pelaku-pelaku, rekan sekerjaNya dalam menuai di dunia ini dan bukan penonton yang tidak pernah merasakan apa-apa daripadaNya. Siapkah anda berperan sebagai pelaku langsung dalam arena Kerajaan Allah? Siapkan diri anda, jadilah pelaku-pelaku tangguh sebagai rekan sekerjaNya, sandanglah gelar imamat yang rajani dengan penuh tanggung jawab dan rasa syukur, dan beritakanlah betapa besar perbuatan-perbuatanNya.

Sebagai bangsa terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus dan umat kepunyaan Allah, kita seharusnya menjadi pelaku-pelaku tangguh yang aktif, bukan penonton pasif

Follow us on twitter: [url]http://twitter.com/dailyrho[/url] ([url]http://twitter.com/dailyrho[/url])
[url]http://www.renunganharianonline.com/2013/11[/url] ([url]http://www.renunganharianonline.com/2013/11[/url])
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on November 13, 2013, 05:05:13 AM
Quote
[url]http://www.renunganharianonline.com/2013/11[/url]
 Tuesday, November 12, 2013
Kesaksian (1)

Ayat bacaan: Markus 5:19
========================
"Yesus tidak memperkenankannya, tetapi Ia berkata kepada orang itu: "Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!"

Masihkah mukjizat Tuhan yang ajaib terjadi atas orang-orang yang hidup di jaman ini? Jika ya, darimana anda tahu? Ada yang akan menjawab bahwa mereka tahu dengan mendengar cerita orang, ada yang tahu karena mengalami sendiri, atau keduanya. Adalah sangat baik apabila anda termasuk yang sudah mengalami secara nyata bahwa kuasa Tuhan yang ajaib itu nyata, tapi mendengar dari cerita orang lain pun tidak apa-apa, terutama jika itu bisa menjadi berkat yang menguatkan diri anda. Bagi yang sudah mengalami langsung, sejauh mana kerinduan anda untuk membagikan kesaksian? Ada banyak orang yang tidak berani, ada yang merasa tidak pandai bercerita. Ada yang tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya, ada pula yang mengira bahwa itu tidak perlu. "Yang penting saya mengalami, lalu bersyukur. Itu kan sudah cukup? Buat apa harus repot-repot lagi menceritakan itu kepada orang lain? Nanti dikira sombong atau malah bohong." Itu menjadi bentuk pemikiran banyak orang pula dalam menyikapi pengalaman mereka akan kuasa Tuhan yang nyata. Apakah benar demikian? Pentingkah untuk membagikan kesaksian kepada orang lain?

Membagikan kesaksian itu sesungguhnya sangat penting. Bahkan Yesus sendiri menunjukkan bahwa bersaksi itu bukanlah sebuah opsi yang bisa dipilih mau dilakukan atau tidak. Kita bisa melihat hal itu dalam perikop yang berjudul "Yesus mengusir roh jahat dari orang Gerasa" (Markus 5:1-20). Bagian ini menceritakan bagaimana Yesus mengusir orang yang tengah dirasuk roh jahat yang keluar dari area pekuburan. Begitu banyaknya roh jahat yang masuk ke dalam orang Gerasa itu, dikatakan sebagai sebuah legiun, hingga tidak ada satupun orang yang sanggup melepaskannya. Bahkan rantai sekalipun tidak mampu menahannya. Yesuslah yang akhirnya sanggup melepaskan orang Gerasa itu. Sebagai ungkapan rasa syukurnya, orang Gerasa ini kemudian meminta agar ia diperkenankan mengikuti Yesus kemanapun Dia pergi. Tapi apa kata Yesus? "Yesus tidak memperkenankannya, tetapi Ia berkata kepada orang itu: "Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!" (Markus 5:19). Bukannya menyetujui orang yang dilepaskan dari roh jahat, Yesus malah memintanya untuk kembali ke kampungnya, lalu bersaksi disana. Orang Gerasa yang disembuhkan itu pun menurut. "Orang itupun pergilah dan mulai memberitakan di daerah Dekapolis segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya dan mereka semua menjadi heran." (ay 20).

Mengapa Yesus tidak setuju orang itu mengikutinya? Apakah karena Yesus merasa jumlah muridNya sudah overload atau melebihi batas maksimal? Tentu saja tidak. Yesus tentu merasa senang sekali melihat orang yang berbalik untuk mengikutiNya. Tapi ada sebuah hal yang akan jauh lebih bermanfaat yang bisa dilakukan oleh orang yang dilepaskan itu ketimbang sekedar mengikuti kemanapun Yesus pergi, yaitu bersaksi. Apa yang ia alami adalah sebuah pengalaman luar biasa mengenai bagaimana besarnya belas kasihan Tuhan yang turun atasnya yang mampu memulihkan keadaan yang tadinya sudah sangat buruk. Itu akan menjadi sebuah kesaksian indah yang akan mampu memberkati orang-orang lain dan membawa mereka untuk mengenal Kristus. Bukankah itu merupakan sesuatu yang besar manfaatnya? Karena itulah Yesus kemudian memintanya untuk kembali dan menyampaikan kesaksian tentang apa yang baru saja ia alami. Sekedar informasi, area Dekapolis terdiri dari 10 kota, dan dari ayat 20 kita bisa melihat bahwa orang yang disembuhkan itu ternyata berkeliling ke 10 kota untuk menyampaikan kesaksiannya. Kita tidak tahu berapa orang yang kemudian bertobat setelah kesaksian itu, tidak ada catatan lebih lanjut akan hal itu, tapi saya percaya ada banyak yang diberkati lalu memutuskan untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi mereka lewat kesaksian orang Gerasa yang disembuhkan.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on November 13, 2013, 05:06:59 AM
Quote
Yesus mengajarkan pentingnya untuk bersaksi dan kekuatan/kuasa di dalamnya. Lihatlah apa yang Yesus sampaikan kepada murid-muridNya tepat sebelum terangkat naik kembali ke tahtaNya. "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau ROH KUDUS turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." (Kisah Para Rasul 1:8). Ada tugas yang diberikan kepada kita semua. Kita diminta bertindak menjadi saksi Kristus baik di Yerusalem, (berbicara tentang lingkungan tempat tinggal atau pekerjaan), Yudea (di kota dimana kita tinggal), Samaria (menjangkau saudara-saudara kita yang belum mengenal Kristus) bahkan hingga ke seluruh bumi.

(bersambung)
[url]http://www.renunganharianonline.com/2013/11[/url] ([url]http://www.renunganharianonline.com/2013/11[/url])
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on November 14, 2013, 06:38:21 AM
Quote
[url]http://www.renunganharianonline.com/[/url]
 Wednesday, November 13, 2013
Kesaksian (2)
(sambungan)

Dalam 1 Petrus 2:9 dikatakan: "Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib." Dari ayat ini kita juga bisa melihat bahwa sebagai bagian dari bangsa yang terpilih dan menyandang gelar imamat yang rajani (artinya imam-imam yang melayani Raja), merupakan bangsa yang kudus kepunyaan Allah sendiri, kita diminta untuk memberitakan, menyampaikan, membagi kesaksian atas perbuatan-perbuatan Tuhan yang besar yang kita alami. Siapapun kita, sebagai bagian dari bangsa yang terpilih kita harus terjun langsung menjadi rekan sekerja Allah lewat panggilan kita masing-masing. Memberi kesaksian merupakan hal sederhana yang bisa langsung anda lakukan saat ini juga. Meski sederhana, sebuah kesaksian memiliki kekuatan yang sangat besar dalam membawa jiwa-jiwa untuk mengenal Kristus.

Dalam Wahyu kita bisa membaca bahwa kesaksian adalah salah satu alat yang mampu membunuh iblis dan perbuatan-perbuatan jahatnya. "Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut." (Wahyu 12:11). Ini juga menggambarkan betapa pentingnya sebuah kesaksian untuk menghancurkan tipu muslihat iblis yang sangat ingin membuat lebih banyak lagi orang untuk dilemparkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Sebuah kesaksian nyata akan keajaiban perbuatan Tuhan dalam hidup manusia akan mampu berbicara banyak mengenai kebaikan Tuhan. Sebuah kesaksian yang paling sederhana sekalipun malah bisa lebih efektif ketimbang mengkotbahi orang panjang lebar tanpa disertai contoh nyata. Pada akhirnya kita akan sampai pada kesimpulan bahwa sebuah pengalaman pribadi yang dibagikan akan memiliki kekuatan tersendiri untuk menggerakkan seseorang.

Sebuah kesaksian tidak harus selalu berisikan mukjizat-mukjizat seperti kesembuhan sakit penyakit, pelepasan, pemulihan, berkat-berkat dan sebagainya. Sebuah kesaksian kecil mengenai bagaimana kita bisa tetap hidup tenang, damai dan penuh sukacita dalam pengharapan di kala kesesakan, bagaimana kita bisa tetap teguh dalam iman di saat sulit, itupun bisa menjadi berkat yang memberi kekuatan tersendiri bagi orang lain. Tidak ada satu orangpun yang tidak memiliki satupun kesaksian. Masalahnya adalah, maukah kita membagikannya kepada orang lain agar mereka bisa mengenal siapa Yesus sebenarnya? Bukan kemampuan kita berbicara atau ilmu yang kita miliki yang dibutuhkan, tetapi pakailah kuasa Allah yang bekerja di dalam diri kita. Kalau begitu, maukah anda menceritakan kebaikan Tuhan yang pernah anda alami kepada orang lain?

Kesaksian sesederhana apapun akan sanggup memberkati orang lain

Follow us on twitter: [url]http://twitter.com/dailyrho[/url] ([url]http://twitter.com/dailyrho[/url])
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on November 15, 2013, 07:28:27 AM
Quote
[url]http://www.renunganharianonline.com/[/url]
 Thursday, November 14, 2013
Ada Umat Tuhan Lainnya Disekitar Kita

Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 18:10
==================
"...banyak umat-Ku di kota ini."

Menjadi bagian dari minoritas mungkin tidak mengenakkan, bahkan bisa mendatangkan kesulitan-kesulitan tersendiri. Ada seorang teman yang baru saja pindah ke sebuah daerah yang sama sekali asing baginya, dan ia pun bercerita bahwa ia merasa kesepian karena sulit mencari teman untuk berbagi terutama mengenai masalah keimanan. Mungkin ada diantara anda yang saat ini berada dalam lokasi-lokasi dimana anda kerap tersudut dan terpinggirkan. Mungkin anda mengalami hak-hak anda dibatasi/dikebiri atau malah mengalami beberapa tekanan. Di dunia hari ini situasi seperti itu bukan lagi hal baru. Meski diatur dalam undang-undang, pemerintah semakin lemah dalam melindungi warganegara minoritas dan cenderung membiarkan masalah-masalah kemanusiaan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang punya hak untuk mengatur, membatasi bahkan mengakhiri hidup orang yang berbeda dengan mereka. Kalau bukan seperti itu, mungkin anda berada dalam profesi-profesi tertentu yang cenderung banyak godaan. Saya sendiri berkecimpung di dunia entertainment yang dianggap banyak orang sebagai lingkungan yang tidak baik bagi kelangsungan pertumbuhan iman kita. Benar, ada banyak hal disana yang jika tidak hati-hati bisa cepat membuat kita jatuh dan hancur, bahkan dalam sekejap mata. Kita bisa melihat orang-orang yang tadinya hidup taat tapi kemudian menjadi korban akibat godaan dari kehidupan di dunia hiburan. Tapi percayakah anda, apabila saya berkata bahwa meski dunianya banyak godaan bahkan penyesatan, tetap saja ada orang-orang percaya yang tetap memilih untuk hidup lurus sesuai Firman Tuhan? Percayakah anda meski sudah terlanjur mendapat cap buruk lewat banyak selebritis yang mempertontonkan sikap-sikap buruk, Tuhan masih memiliki 'orang-orang'Nya  untuk berkecimpung disana, dan masih akan terus menempatkan umatNya untuk menjadi lentera yang menerangi kegelapan? Listen to this: no matter where you are right now, wherever you're being placed, God still has His people to walk side by side with us. God still has his people wherever you go.

Perasaan terasing di sebuah lingkungan baru juga pernah dialami Paulus dalam menjalankan misi pelayanannya ketika sampai di Korintus, sebuah kota yang terletak di Yunani. Pada masa itu Korintus dikenal sebagai kota yang memiliki moral buruk dan gemar melakukan kejahatan termasuk didalamnya korupsi. Itu tentu bukan tempat yang bersahabat bagi orang percaya, apalagi mengingat Paulus memiliki panggilan untuk mewartakan kabar keselamatan. Melakukan itu di kota yang terkenal buruk akhlaknya? Salah-salah hidupnya bisa berakhir disana. Paulus merasakan hal itu, sama seperti kita apabila dihadapkan pada situasi yang sama. Tapi Tuhan mengetahui perasaannya kemudian mengambil tindakan untuk meneguhkan Paulus lewat sebuah penglihatan. "Pada suatu malam berfirmanlah Tuhan kepada Paulus di dalam suatu penglihatan: "Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam!" (Kisah Para Rasul 18:9). Jangan takut, kata Tuhan, teruslah berjalan dan jangan menyerah. Kira-kira seperti itu pesan Tuhan kepada Paulus. Tuhan mendorong Paulus untuk meneruskan misinya. Untuk itu Tuhan menjanjikan seperti ini: "Sebab Aku menyertai engkau dan tidak ada seorangpun yang akan menjamah dan menganiaya engkau, sebab banyak umat-Ku di kota ini." (ay 10). Selain Tuhan berjanji bahwa Dia tidak akan mampu menyentuh Paulus, Tuhan juga mengingatkan Paulus bahwa dia tidaklah sendirian di kota itu. Bukan saja Tuhan sendiri berada bersamanya dan berjanji melindungi, tetapi ada banyak umat Tuhan lainnya yang sesungguhnya berada di sana. Hanya saja Paulus mungkin belum bertemu atau melihat mereka, karena ia baru saja tiba disana. Oleh karena itu Paulus tidak perlu merasa was-was dan sendirian berada di sebuah kota dengan kondisi moral yang buruk seperti itu.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on November 15, 2013, 07:29:32 AM
Quote
Dari situasi Paulus ini kita bisa belajar bahwa meskipun kita berada dalam sebuah kota atau lingkungan yang sama sekali asing bagi kita, meski situasinya terlihat buruk, sesungguhnya Tuhan tetap berada bersama kita. Disamping itu kita juga harus menyadari bahwa ada saudara-saudari seiman yang bisa dijumpai disana. Apa yang perlu kita lakukan adalah menemukan dimana mereka berada, membuka diri untuk berkenalan dan mulai membangun hubungan, menjauhi sikap-sikap eksklusif, segan, malu dan sebagainya. Kita harus mau membuka diri, dan sesama orang percaya yang berdiam di sebuah tempat yang sama bisa saling dukung, saling bantu, saling mengingatkan dan sebagainya sehingga bisa tumbuh bersama. Dengan semangat persaudaraan kita akan jauh lebih kuat dalam menghadapi arus deras penyesatan dan rupa-rupa tekanan atau hal lainnya yang berlawanan dengan ketetapan Tuhan. Lewat membangun hubungan sinergi dengan rekan-rekan seiman, kita akan mampu berbuat sesuatu bagi Kerajaan Allah , menjadi terang dan garam yang akan memberkati orang, lingkungan, kota atau bahkan negara.

Jika ada diantara teman-teman yang mungkin baru pindah ke sebuah tempat baru dan merasa kesepian disana, atau mungkin anda merasa hak-hak hidup anda dibatasi, atau mungkin profesi anda ada dalam lingkungan yang tidak kondusif, ingatlah bahwa anda tidak pernah sendiri. Secara khusus Tuhan sudah berkata bahwa anda sebenarnya tidaklah pernah sendirian. Selain Tuhan berdiri disamping anda, selalu ada saudara-saudari seiman yang akan anda temukan seandainya anda mau membuka diri, berkenalan dan bersahabat dengan mereka. Ingatlah bahwa di dalam Kristus kita semua bersaudara, terlepas dari denominasi apa yang anda anggap mampu mendukung pertumbuhan iman anda hingga kini. Anda berada pada tempat anda saat ini bukanlah sebuah kebetulan atau tanpa makna. Tuhan punya rencana yang indah atas penempatan anda disana, ada tugas yang menanti untuk dikerjakan. Kita tidak pernah direncanakan Tuhan sebagai mahluk individual yang anti-sosial, Tuhan justru menginginkan kita untuk menjadi orang-orang yang mau mengulurkan jabat persahabatan dengan siapapun tanpa terkecuali. Jika anda baru saja pindah atau memasuki dunia yang sama sekali asing bagi anda, pergunakan waktu-waktu yang ada untuk berkenalan dengan banyak orang. Temukanlah umat Tuhan lainnya dan bertumbuhlah bersama. Jangan khawatir, cemas apalagi takut, karena Tuhan sudah berkata "Jangan takut...sebab banyak umatKu di kota ini."

Even when the world go against you, God still have His people to help you out

Follow us on twitter: [url]http://twitter.com/dailyrho[/url] ([url]http://twitter.com/dailyrho[/url])
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on November 16, 2013, 02:51:01 PM
Quote
[url]http://www.renunganharianonline.com/[/url]
 Friday, November 15, 2013
Sulit Bersosialisasi

Ayat bacaan: Pengkotbah 4:12
=================
"Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan."

Saya mengenal beberapa orang yang sulit beradaptasi dengan lingkungan atau orang-orang baru. Mereka sulit bersosialisasi, merasa tidak nyaman ketika bertemu atau berada dengan orang-orang yang belum atau baru dikenal. Mereka memiliki 'lingkaran demarkasi' sendiri yang tidak boleh dilalui oleh orang yang tidak dekat dengan mereka. Mereka mudah terganggu dengan kehadiran orang lain dan akan sangat segan meminta bantuan. Bagi mereka, sendiri lebih baik. Menutup diri rapat-rapat jauh lebih baik. Kalaupun memang harus berada ditengah orang-orang baru mereka biasanya menyendiri mengambil posisi-posisi sudut yang relatif lebih sunyi. Dan energi mereka pun terkuras dengan cepat. Mereka lelah berada dalam situasi seperti itu meski tidak melakukan apa-apa. Bentuk sikap introvert yang berlebihan membuat orang sukar bersosialisasi dan pada akhirnya bisa saja berujung pada blocking diri atau mental yang menghambat mereka untuk meraih cita-cita, tujuan dan impian. Jika ingin merubah orang seperti ini dibutuhkan usaha yang tidak sedikit. Kitalah yang harus mencoba meraih mereka, membuat mereka perlahan-lahan merasa nyaman. Salah seorang yang dekat dengan saya hari ini bisa bersosialisasi dengan sangat baik setelah saya tangani. Saya mulai dengan sering berada di dekatnya tanpa menyentuh 'lingkaran demarkasi'nya, kemudian secara perlahan membawa beberapa teman lain untuk membuka hubungan. Pelan-pelan ia mulai membuka diri karena mulai merasa nyaman dengan orang-orang baru ini. Saya pun membawanya mengenal lebih banyak lagi, membawanya hang out ramai-ramai dan ia pun terbiasa dengan kehadiran orang. Meski ia masih mudah lelah setelahnya, ia tidak lagi punya masalah bertemu dengan orang-orang baru. Dan ia pun mengakui bahwa bersosialisasi ternyata jauh lebih bermanfaat ketimbang hidup sendiri menutup diri. Kalau tadinya ia hanya diperangkap oleh pola pikir sendiri, mau mengurus apa-apa harus sendiri, menghadapi masalah juga sendiri saja, sekarang ia merasakan bahagianya punya teman-teman yang mau saling bantu. Ia punya tempat sharing, tempat bertanya, bahkan untuk refreshing seperti nonton dan main game bareng, jalan-jalan, hang out dan sebagainya.

Sikap introvert yang berlebihan bisa merugikan. Cakrawala pemikiran mereka biasanya sempit, cenderung sulit menerima pandangan orang lain alias hanya merasa diri paling benar. Mereka mudah stres karena tidak punya teman sharing atau berbagi cerita. Mereka akan lebih sulit untuk maju karena kekuatan manusia itu sesungguhnya terbatas. Kita tidak mungkin sanggup melakukan segalanya sendirian. Manusia pada hakekatnya diciptakan Tuhan bukan sebagai individu-individu eksklusif melainkan sebagai mahluk sosial yang harus saling terhubung agar bisa maju dan bertumbuh. Sangatlah penting bagi kita untuk membangun hubungan dengan orang lain, tentunya hubungan positif dengan orang-orang yang benar yang bisa saling peduli, saling bantu, saling mengingatkan atau kalau perlu saling menegur agar kita tidak terperangkap oleh kelemahan-kelemahan kita sendiri.

Firman Tuhan berulang kali mengingatkan kita agar tidak berjalan sendiri. Lihatlah ayat berikut ini: "Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya...Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan." (Pengkotbah 4:9-10,12). Cobalah ambil satu batang lidi dan patahkan, itu pasti sangat mudah. Tapi seikat sapu lidi akan sulit untuk dipatahkan. Tidak hanya dalam berbagai aspek kehidupan hal ini berlaku, tapi juga dalam hal kerohanian. Kita butuh membangun hubungan yang kokoh dengan orang lain yang bukan saja bermanfaat untuk kepentingan kita sendiri, kelompok atau sesama manusia secara umum, tetapi juga untuk menyatakan terang Allah dan memperluas KerajaanNya di muka bumi ini.

Kita tidak pernah sanggup berjalan sendirian, karena tekanan dan godaan akan selalu ada disekitar kita setiap saat. Dunia yang kita hidupi ini bukanlah tempat mudah. Cepat atau lambat kekuatan kita akan habis. Kita akan mengalami kelelahan dan menjadi lemah. Berbagai titik lemah kita pun rawan untuk menjadi santapan empuk baik oleh iblis atau orang-orang yang berhati jahat. Disaat seperti itulah kita butuh dukungan dari teman-teman terutama yang seiman agar kita bisa tetap kuat. Kalaupun sudah sempat jatuh kita akan punya kekuatan untuk kembali bangkit dengan adanya dukungan teman-teman.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on November 16, 2013, 02:52:56 PM
Quote
Sebuah network yang baik adalah kumpulan orang-orang yang memiliki tujuan yang sama, berjalan ke arah yang sama dan berisi orang-orang yang saling peduli satu sama lain dan tidak mementingkan diri sendiri serta diarahkan kepada tujuan-tujuan yang positif, baik dan membangun. Itulah yang ideal. Saling menasihati, memberi masukan, menegur jika perlu, dan saling mengulurkan tangan untuk membantu, itu akan membuat kita semua bisa bertumbuh dengan baik dan dapat kembali bangkit dari keterpurukan. Dikala kita butuh ada teman, dikala teman butuh ada kita. Bukankah itu terasa sangat indah?

Akan hal ini kita bisa mengacu pada sebuah ayat dalam surat Ibrani. "Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik." (Ibrani 10:24) Saling memperhatikan, saling mendorong. Dalam hal apa? Dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Karena itulah kita diingatkan agar tidak menjauh dari pertemuan-pertemuan dimana kita bisa saling mengisi dan menguatkan lewat Firman Tuhan, saling mengingatkan akan janji-janji Tuhan termasuk apa yang harus kita lakukan untuk menuainya. Ayat selanjutnya berbunyi: "Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat." (ay 25). Cara hidup jemaat mula-mula yang dicatat dalam Kisah Para Rasul 2:41-47 menjadi contoh yang sangat baik akan hal ini.

Memperluas Kerajaan Allah dan menyatakan kemuliaanNya di muka bumi tidak bisa dilakukan sendirian. Tuhan telah mengaruniai talenta atau bakat-bakat tersendiri kepada setiap anakNya yang akan bisa menjadi sesuatu yang luar biasa jika dihubungkan dengan orang-orang lain yang memiliki talenta berbeda untuk mencapai tujuan yang sama, berjalan ke arah yang sama. Talenta-talenta itu tidak akan pernah bisa dipakai maksimal apabila kita hanya berjuang sendirian. Paulus telah mengingatkan hal tersebut dalam surat Roma. "Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama, demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain. Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita.." (Roma 12:4-6). Dan ingatlah bahwa kita semua adalah anggota-anggota tubuh dengan Kristus sendiri sebagai Kepala (Efesus 4:15), "Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, --yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota--menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih." (ay 16).

Menghadapi hari-hari yang sulit, kita perlu mengisinya dengan merenungkan Firman Tuhan. Akan jauh lebih baik jika kita tidak hanya melakukan sendirian tetapi membahasnya bersama teman-teman dalam persekutuan, saling mempehatikan dan saling bantu agar kita tidak lemah dan bisa terus bertumbuh meski dalam kondisi apapun. Kita harus mau mengakui bahwa kita adalah manusia yang terbatas dan punya kelemahan. Menjalani hidup tertutup dan sendirian tidak akan membawa manfaat bagi kita. Jangan biarkan kelemahan menggerogoti kita dan terus menjauhkan kita dari janji-janji Tuhan. Jangan biarkan kelemahan kita menghilangkan damai sukacita dalam diri kita. Oleh karena itu jangan abaikan kesempatan untuk saling berbagi dan menguatkan selagi kesempatan masih ada. Selain agar kita bisa bertumbuh bersama-sama mengatasi kelemahan-kelemahan kita, temukanlah potensi-potensi yang telah diberikan Tuhan. Pergunakan dan kembangkanlah secara bersama-sama, sehingga masing-masing potensi yang berbeda itu bisa bersatu menjadi sebuah kekuatan yang luar biasa.

Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh

Follow us on twitter: [url]http://twitter.com/dailyrho[/url] ([url]http://twitter.com/dailyrho[/url])
[url]http://www.renunganharianonline.com/[/url] ([url]http://www.renunganharianonline.com/[/url])
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on November 18, 2013, 02:23:29 PM
http://www.renunganharianonline.com/
 Sunday, November 17, 2013
Tangan yang Bersih dan Hati yang Murni: Jujur dan Tulus

Ayat bacaan: Mazmur 24:4-5
=======================
"Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia."

Apa kriteria yang sering muncul dalam lowongan-lowongan kerja? Yang paling umum ada tiga, yaitu jenjang pendidikan, pengalaman dan batas usia. Ada beberapa lagi yang juga sering muncul yaitu sanggup bekerja sama secara tim dan bersedia ditempatkan dimanapun sesuai kebutuhan perusahaan, juga penguasaan beberapa kemampuan lain seperti menggunakan komputer dan bahasa. Seandainya saya membuka lowongan, maka yang akan saya jadikan syarat utama bukan itu semua melainkan jujur dan tulus. Mengapa? Karena ini merupakan kualitas manusia yang semakin lama semakin langka. Kejujuran dan ketulusan bukan lagi menjadi hal penting. Korupsi dan penipuan terjadi di setiap lini pekerjaan mulai dari atas sampai ke bawah. Orang pun tidak lagi tulus dalam mengerjakan sesuatu tapi pamrih. Hasil kerja tergantung bayaran, kalau tidak dibayar tidak dikerjakan, pendeknya semuanya tergantung uang. Selain langka, tulus dan jujur merupakan kualitas yang bagi saya tidak bisa dibeli dengan uang. Yang lain-lain bisa dipelajari seiring waktu.

Jaman sekarang orang yang jujur dan tulus justru dipandang aneh atau malah bodoh. Orang semakin cenderung berpikir pendek dan mementingkan urusan duniawi. Apa yang dikatakan Daud dahulu: "Orang bebal berkata dalam hatinya: "Tidak ada Allah." Busuk dan jijik perbuatan mereka, tidak ada yang berbuat baik" (Mazmur 14:1), kini dilakukan semakin banyak. Orang tidak lagi memikirkan pertanggungjawaban kelak di hadapan Tuhan. Atau kalaupun tahu bahwa Allah itu ada, tetapi mereka mengira bahwa Tuhan tidak akan menghukum karena mereka menyalah artikan bentuk kasih dan kesabaran Tuhan yang besar dan panjang. Bentuk ilusi rohani seperti inipun sudah disinggung dalam Alkitab. "Kamu menyusahi TUHAN dengan perkataanmu. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami menyusahi Dia?" Dengan cara kamu menyangka: "Setiap orang yang berbuat jahat adalah baik di mata TUHAN; kepada orang-orang yang demikianlah Ia berkenan--atau jika tidak, di manakah Allah yang menghukum?" (Maleakhi 2:17). Bukankah kita menyaksikan banyak orang dengan pola pikir seperti itu hari-hari ini?

Dalam Mazmur Firman Tuhan berkata demikian: "Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia." (Mazmur 24:4-5). Orang yang bersih tangannya (jujur) dan murni hatinya (tulus), yang tidak tergoda pada kecurangan, itulah yang berkenan di hadapan Tuhan. Bersih tangannya, berarti menjauhi bentuk-bentuk penipuan, menjauhi kecurangan dan tidak gampang tergoda oleh keuntungan-keuntungan lewat jalan yang salah. Murni hati itu artinya hati tidak terkontaminasi/tercemar oleh berbagai motif-motif tersembunyi dalam melakukan sesuatu, tidak pamrih, tidak ada politik kepentingan dalam perbuatan, bersih hatinya. Kepada mereka-mereka yang seperti ini akan diganjar berkat juga akan diselamatkan dengan keadilan yang langsung berasal dari Tuhan. Inilah upah besar yang dijanjikan Tuhan bagi orang yang hidup jujur dan tulus.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on November 18, 2013, 02:25:37 PM
Kasih dalam tingkatan seperti yang diinginkan Tuhan mengandung kebaikan-kebaikan yang mencakup kedua hal ini. Lihatlah rinciannya yang disampaikan Paulus. "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu." (1 Korintus 13:4-7). Di dalam kasih itu ada bentuk-bentuk hidup dengan hati yang murni, penuh ketulusan dan kejujuran. Artinya jika kita mengaku hidup dalam kasih Tuhan, seharusnya kedua hal ini pun terpancar dari kehidupan kita. Bagaimana mungkin orang yang tidak jujur dan tidak tulus masih berani mengaku punya kasih dalam dirinya? Dan bagaimana mungkin orang yang tidak memiliki kasih mengaku mengenal Allah? "Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih." (1 Yohanes 4:8).

Kita harus selalu ingat bahwa segala sesuatu itu berasal dari Tuhan. Kita tidak perlu takut kekurangan dan khawatir akan hari depan sehingga merasa harus melakukan tindakan-tindakan yang tidak jujur atau curang agar bisa hidup. Kita tidak perlu merasa iri melihat orang lain, dan harus bisa belajar untuk mendahulukan kepentingan orang lain ketimbang kepentingan diri sendiri. Yakobus mengingatkan "Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat." (Yakobus 3:16). Kita harus selalu menghindari berbuat curang yang mencermarkan hati kita. Ketahuilah bahwa meski mungkin kita berhasil mengelabui manusia, tapi Tuhan akan selalu melihat segala perbuatan kita. Dan Firman Tuhan berkata: "Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab." (Ibrani 4:13). Secara tegas Tuhan juga berfirman:  "Seharusnya mereka merasa malu, sebab mereka melakukan kejijikan; tetapi mereka sama sekali tidak merasa malu dan tidak kenal noda mereka. Sebab itu mereka akan rebah di antara orang-orang yang rebah, mereka akan tersandung jatuh pada waktu mereka dihukum, Firman Tuhan." (Yeremia 8:12). Orang bisa saja menganggap bahwa Tuhan tidak menghukum mereka saat ini dan berpikir bahwa mereka aman dari hukuman. Orang-orang jahat ini bisa saja pintar dalam menipu manusia, atau menghamburkan uangnya untuk menyuap penegak hukum agar terlepas dari jerat hukum. Sekarang mungkin lepas, tapi pada suatu ketika nanti hukuman Tuhan itu tetap akan tiba biar bagaimanapun. Akan datang waktunya dimana semua harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan, dan disana tidak akan ada yang bisa berkelit lagi. Kepentingan sesaat di dunia fana diprioritaskan dengan sebuah hidup yang kekal? Itu tentu sebuah pilihan yang sangat bodoh.

Dunia memang semakin lama semakin buruk, tetapi kita orang percaya tidak boleh ikut-ikutan seperti itu. Dunia semakin kekurangan orang-orang yang tulus dan jujur, kita harus menunjukkan bahwa umatNya yang ada di dunia ini bisa tampil beda dengan ketulusan dan kejujuran sebagai bagian dari kehidupan Kekristenan yang sebenarnya. Oleh karena itu jagalah agar kita bisa memiliki ketulusan hati dan kejujuran. Apapun alasannya, apapun resikonya,  Belajarlah untuk senantiasa mempercayai Tuhan, mengasihiNya dan hidup sesuai kehendakNya. Tuhan menyediakan berkat-berkat bagi orang yang hidup dengan ketulusan, kejujuran dan kemurnian hati. "Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah." (Matius 5:8). Ini janji Tuhan sendiri. "Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya." (Mazmur 73:1). Dunia boleh saja memandang anda dengan sinis, melihat anda sebagai mahluk aneh, mengolok-olok atau menertawakan kejujuran dan ketulusan sebagai suatu hal yang bodoh. Biarkanlah. Bukan apa kata manusia yang penting, tapi bagaimana Tuhan memandang hidup kita itulah yang penting. Tuhan menjanjikan berkat dan keadilan bagi orang-orang yang hidup dengan tangan yang bersih dan hati yang murni. Nikmati kebaikan Tuhan lewat hidup yang kudus dimana ketulusan dan kejujuran berperan didalamnya. Keduanya merupakan bagian dari integritas yang wajib dimiliki anak-anak Tuhan. Tuhan sanggup memberkati anda berlimpah-limpah dan melindungi hidup setiap orang yang berjalan seturut kehendakNya tanpa anda harus menipu dan melakukan kejahatan untuk sukses.

Kejujuran dan ketulusan merupakan bagian dari integritas yang harus dihidupi anak-anak Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho (http://twitter.com/dailyrho)
http://www.renunganharianonline.com/ (http://www.renunganharianonline.com/)
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on November 19, 2013, 07:29:08 AM
http://www.renunganharianonline.com/

 Monday, November 18, 2013
Jujur itu Sulit?

Ayat bacaan: Mazmur 64:11
==================
"Orang benar akan bersukacita karena TUHAN dan berlindung pada-Nya; semua orang yang jujur akan bermegah."

Susahkah hidup jujur? Secara teori mudah bagi kita untuk mengatakan tidak, tetapi pada prakteknya itu sulit. Orang yang jujur akan kehilangan banyak kesempatan karena tidak bisa mengikuti arus ditempatnya bekerja. Ada seorang teman yang karirnya mandek hanya gara-gara memilih hidup jujur. Ia menolak untuk ikut-ikutan menikmati sisa dana anggaran di sebuah instansi pemerintah. Masih mending kalau memang sisa, tapi sepanjang tahun mereka mempergunakan anggaran sekecil mungkin agar sisanya besar. Karena menolak ikut, ia pun dipinggirkan oleh rekan-rekan dan pimpinannya. Ini baru satu contoh kecil saja dari pola pikir tidak jujur yang terjadi dimana-mana. Kita harus pintar mengikuti arus agar bisa bertahan pada posisi dalam karir, berbohong, menutupi kebenaran atau ikut melakukan penyelewengan. Semakin lama kejujuran semakin menjadi barang langka yang meski selalu diajarkan dimana-mana tetapi pada kenyataannya semakin dipinggirkan. Di mata dunia mungkin seperti itu, tetapi ingatlah bahwa kejujuran yang sekecil apapun memiliki nilai yang sangat tinggi di mata Tuhan.

Dalam konteks Kekristenan, kejujuran adalah sesuatu yang harus dilakukan oleh orang percaya. Imbalan yang disediakan Tuhan bagi orang jujur bukan main besarnya. Lihatlah ayat ini: "Orang yang hidup dalam kebenaran, yang berbicara dengan jujur, yang menolak untung hasil pemerasan, yang mengebaskan tangannya, supaya jangan menerima suap, yang menutup telinganya, supaya jangan mendengarkan rencana penumpahan darah, yang menutup matanya, supaya jangan melihat kejahatan, dialah seperti orang yang tinggal aman di tempat-tempat tinggi, bentengnya ialah kubu di atas bukit batu; rotinya disediakan air minumnya terjamin." (Yesaya 33:15-16). Lihatlah betapa besar nilai kejujuran di mata Tuhan. Mungkin di dunia ini kita bisa mengalami kerugian atau bahkan malah mendapat masalah karena memutuskan untuk berlaku jujur. Tetapi itu bukanlah masalah karena kelak dalam kehidupan selanjutnya yang kekal semua itu akan diperhitungkan sebagai kebenaran yang berkenan di hadapan Allah. Dalam Mazmur dikatakan: "Orang benar akan bersukacita karena TUHAN dan berlindung pada-Nya; semua orang yang jujur akan bermegah." (Mazmur 64:11). Pada saat ini mungkin kita rugi akibat memutuskan untuk jujur, tetapi kelak pada saatnya kita akan bermegah dan bersyukur karena telah mengambil keputusan yang benar.

Bagaimana kalau kita harus menerima konsekuensi diperlakukan tak adil jika memilih jujur? Anggaplah itu sebuah ujian. Seperti layaknya ujian, untuk menghadapinya memang bisa jadi berat. Tetapi keseriusan dan ketekunan kita dalam menghadapinya akan menentukan hasil akhir. Akan halnya ujian kejujuran, ada saat-saat dimana anda merasa diperlakukan tidak adil, sudah jujur malah disalahkan dan dirugikan. Hadapi ujian dengan tegar, tetap fokuskan pandangan jauh ke depan, kepada sebuah kehidupan abadi yang akan anda jalani kelak. Bukan apa yang fana di dunia ini yang penting melainkan seperti apa anda nantinya dalam penghakiman Tuhan.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on November 19, 2013, 07:29:49 AM
Yakobus berkata: "Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun." (Yakobus 1:2-4). Ujian akan menumbuhkan ketekunan, dan dari sana kita bisa menghasilkan buah-buah yang matang. Karakter kita akan disempurnakan lewat ujian-ujian itu. Ujian adalah kesempatan bagi kita untuk naik ke tingkatan yang lebih tinggi, dan karena itu seharusnya kita berbahagia ketika mendapat kesempatan untuk ujian. Buat sesaat kecurangan mungkin bisa memberi banyak keuntungan, tetapi itu semua hanyalah sesaat dan fana. Untuk sebuah hidup yang kekal, kecurangan tidak akan pernah membawa keuntungan malah mendatangkan kerugian. Jangan lupa bahwa Tuhan sudah berkata bahwa Dia tidak akan menutup mata dari apapun yang kita lakukan dalam hidup kita. "Malah Ia mengganjar manusia sesuai perbuatannya, dan membuat setiap orang mengalami sesuai kelakuannya." (Ayub 34:11). Baik atau tidak akan membawa ganjaran atau konsekuensinya sendiri. Baik atau tidak ganjaran yang kita terima akan tergantung dari bagaimana cara kita hidup.

Kalau jujur membuat anda menderita saat ini, bertahanlah. Firman Tuhan berpesan: "Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan" (Filipi 2:14). Ini termasuk pula komitmen kita untuk tetap mempertahankan kejujuran dan kesetiaan dengan tidak mengeluh terhadap konsekuensi apapun yang kita alami di dunia ini. Mengapa demikian? Sebab Firman Tuhan kemudian berkata: "supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia." (ay 15). Sebagai anak-anak Allah dan bukan anak-anak dunia sudah seharusnya kita menunjukkan kebenaran dan berani tampil beda. Kita tidak boleh ikut-ikutan arus sesat dari angkatan yang bengkok hatinya karena kita menyandang status sebagai anak-anak Tuhan. Pada akhirnya kita akan melihat bahwa perjuangan kita terhadap kejujuran tidak akan sia-sia. Muda atau tua, siapapun kita, peganglah prinsip kejujuran setinggi mungkin dan jangan gadaikan itu untuk alasan apapun.

Kepada anda yang masih muda, hal kejujuran pun sama pentingnya untuk dijalankan. Lihatlah pesan Paulus Kepada Timotius: "Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu." (1 Timotius 4:12). Walaupun masih muda kita tetap dituntut untuk bisa menjadi teladan dalam segala hal.

Kita hidup di dalam masyarakat yang mau menghalalkan segala cara, yang hidup dengan standar-standar ganda dan yang tidak lagi menghargai kebenaran dan kejujuran. Meski anda masih muda, mulailah menunjukkan nilai-nilai kejujuran dan kebenaran, jangan tukarkan itu dengan apapun, dan lihatlah pada saatnya nanti setiap orang jujur akan bersukacita memetik buahnya.

Dunia boleh saja menolak kejujuran, di mata Tuhan sekecil apapun itu akan sangat berharga

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho (http://twitter.com/dailyrho)
http://www.renunganharianonline.com/ (http://www.renunganharianonline.com/)
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on November 22, 2013, 12:33:25 PM
http://www.renunganharianonline.com/
 Thursday, November 21, 2013
Penggelembungan Uang

Ayat bacaan: Lukas 3:13
===================
"Jawabnya: "Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu."

Saya masih ingin melanjutkan soal kecurangan dari sisi lain yang seringkali dianggap orang sebagai hal yang wajar, yaitu penggelembungan dana. Banyak orang yang menganggap perbuatan ini bukan korupsi tetapi sebuah kewajaran. Melebihkan dari tagihan yang sebenarnya, yang bisa tidak terlihat karena tulisan di bon atau nota yang sudah disesuaikan dengan penjual. Pada suatu kali saya memerlukan bon ketika mengisi bensin karena ingin mencatat pengeluaran bulanan secara lebih jelas. Sebelum mencantumkan angka, petugasnya bertanya: "Mau ditulis berapa pak?" Dia malah merasa aneh ketika saya minta mengisi angka tepat seperti yang dibayarkan. Kalau dalam hal kecil seperti itu saja orang sudah terpikir untuk menggelembungkan uang, bisa dibayangkan apa jadinya pada proyek-proyek yang jauh lebih besar yang membutuhkan dana milyaran. Ketika penggelembungan dana dilakukan disana, berapa besar uang rakyat yang seharusnya dikembalikan kepada masyarakat lewat pendidikan, pembangunan dan kesejahteraan lainnya tapi masuk ke kantong pribadi atau golongan? Ada pula yang menagih lebih besar supaya ada sebagian yang masuk ke kantong pribadi. Hal-hal seperti ini dianggap wajar karena kita terbiasa dengan yang namanya uang jasa yang sangat relatif dan tidak pernah dirasa cukup. Atas sesuatu yang dilakukan harus ada imbalan, jadi wajar kalau angkanya dinaikkan sedikit. Semakin banyak yang minta jatah semakin besar pula kenaikan angkanya. Maka kita melihat perbuatan ini dilakukan mulai dari masyarakat bawah hingga pejabat dengan nilai uang yang jaraknya sangat besar. Dari ribuan rupiah, puluh-ribu, ratus ribu, juta sampai milyar bahkan triliunan.

Perbuatan ini mungkin wajar bagi sebagian orang terutama yang terbiasa melakukan, tetapi sebenarnya Alkitab dengan tegas melarang kita untuk melakukan seperti itu. Ada kisah mengenai hal ini dalam Alkitab yaitu pada masa Yohanes Pembaptis.  Ketika Yohanes datang ke sungai Yordan untuk membaptis, datanglah beberapa pemungut cukai alias penagih pajak. Mereka mengajukan pertanyaan kepada Yohanes. "Ada datang juga pemungut-pemungut cukai untuk dibaptis dan mereka bertanya kepadanya: "Guru, apakah yang harus kami perbuat?" (Lukas 3:12). Yohanes pun menjawab: "Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu." (ay 13). Dari jawaban Yohanes, kita bisa melihat bahwa pada saat itu pun sebenarnya korupsi dengan cara menggelembungkan uang sudah terjadi. Tampaknya para pemungut cukai waktu itu sudah memiliki kebiasaan untuk memungut lebih dari yang seharusnya demi keuntungan pribadi. Oleh sebab itu tidaklah mengherankan ada banyak kisah mengenai pemungut cukai dalam Alkitab yang menunjukkan mereka sebagai orang-orang dengan profesi yang dibenci sesamanya. Mereka sering disamakan dengan orang berdosa (Matius 9:11), orang yang tidak mengenal Allah (Matius 18:17) dan sebagainya. Para pemungut cukai atau pajak di jaman sekarang pun banyak yang masih melakukannya bukan? Ternyata ini bukanlah masalah baru melainkan sudah terjadi sejak ribuan tahun lalu.

Apakah kita boleh menggelembungkan nilai uang untuk keuntungan pribadi? Apakah kita memang harus melakukan demikian agar bisa berkecukupan? Apakah tanpa melakukan kecurangan dan memilih kejujuran kita pasti miskin dan susah? Itu bukanlah pemahaman yang benar dalam Kekristenan. Tuhan tidak pernah menginginkan kita untuk berbuat curang, walau sekecil apapun. Berkat bukan berasal dari dunia melainkan dari Tuhan, dan kita harus tahu dan percaya bahwa Dia sanggup memberkati kita lebih dari apapun. Itu justru akan Dia berikan apabila kita hidup jujur, bersih dalam ketaatan sepenuhnya kepadaNya.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on November 22, 2013, 12:34:01 PM
Apa yang terjadi ketika kita melakukan kecurangan seperti itu adalah kita hanya mendapat sedikit 'remah-remah' tapi kehilangan hak-hak kesulungan kita. Bandingkan dengan berbuat jujur dan menerima berkat dari Tuhan secara penuh bahkan melimpah tanpa kehilangan hak-hak sulung, itu tentu sangat tidak sebanding. Perhatikan Firman Tuhan berkata "Orang benar makan sekenyang-kenyangnya, tetapi perut orang fasik menderita kekurangan." (Amsal 13:25). Tuhan sudah memberi janji bagi orang benar bahwa mereka akan dicukupkan, bahkan bukan sekedar cukup tapi bisa makan sekenyang-kenyangnya. Di lain pihak orang yang terus berlaku curang bukannya untung tapi kelak malah buntung. Selain hukuman di dunia jika ketahuan, penghakiman Tuhan pun akan menjadi sesuatu yang nanti harus dipikul.

Penggelembungan harga atau uang sebagai salah satu bentuk korupsi mungkin sepintas terlihat menjanjikan keuntungan instan, tetapi akan membawa konsekuensi berat. Ada begitu banyak pejabat yang sekarang harus meringkuk di dalam penjara karena kejahatannya terbongkar lalu istri dan anak-anaknya pun tidak lagi bisa hidup tenang. Kalau di dunia saja Kita sudah harus menanggung konsekuensi akibat tindakan itu, bagaimana dengan keselamatan dalam hidup yang kekal kelak? Bukankah sebuah kebodohan jika kita sibuk mengejar kepentingan sesaat lalu membuang segala janji Tuhan kepada anak-anakNya yang hidup benar sesuai ketetapanNya?

Kalaupun orang dunia masih banyak yang menganggap hal ini sebagai sebuah kewajaran, kita tidak perlu ikut-ikutan melakukan itu. Lewat janji-janji Tuhan kita tahu bahwa Dia siap untuk memberkati kita berkelimpahan. Tuhan akan selalu punya jalan untuk memberkati orang-orang yang memilih hidup jujur dan benar. Perhatikan ayat berikut ini: "Orang yang hidup dalam kebenaran, yang berbicara dengan jujur, yang menolak untung hasil pemerasan, yang mengebaskan tangannya, supaya jangan menerima suap, yang menutup telinganya, supaya jangan mendengarkan rencana penumpahan darah, yang menutup matanya, supaya jangan melihat kejahatan, dialah seperti orang yang tinggal aman di tempat-tempat tinggi, bentengnya ialah kubu di atas bukit batu; rotinya disediakan air minumnya terjamin." (Yesaya 33:15-16).

Mulailah dari diri kita sendiri untuk menghindari berbagai bentuk penyelewengan atau kecurangan dalam bekerja. Mulailah mengambil langkah sederhana dengan tidak memberi toleransi pada korupsi sekecil apapun. Hindari pikiran-pikiran untuk berbuat curang, termasuk menggelembungkan uang untuk kepentingan pribadi atau golongan. Sekali lagi, Tuhan tidak akan pernah kekurangan jalan untuk memberkati kita dengan berlimpah.

Kecil atau besar, korupsi akan selalu merupakan perbuatan yang dibenci Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho (http://twitter.com/dailyrho)
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on November 26, 2013, 07:24:11 AM
http://www.renunganharianonline.com/
 Monday, November 25, 2013
Perhentian

Ayat bacaan: Ibrani 4:1
=================
"Sebab itu, baiklah kita waspada, supaya jangan ada seorang di antara kamu yang dianggap ketinggalan, sekalipun janji akan masuk ke dalam perhentian-Nya masih berlaku."

Seandainya diminta membayangkan sebuah suasana yang paling nyaman buat anda, apa yang muncul dibenak anda? Saya membayangkan sebuah tempat di pinggir pantai, angin sejuk berhembus sepoi-sepoi menerpa lembut saya yang tengah duduk dibawah pohon kelapa, menikmati suasana penuh kedamaian tanpa ada beban pikiran, tanpa tugas-tugas, tanpa ada masalah yang harus diselesaikan, tanpa kekurangan apapun. Itu adalah suasana yang paling nyaman yang akan langsung terbayang jika pertanyaan itu diberikan pada saya. Masing-masing orang tentu punya suasana favorit untuk refreshing. Mungkin anda membayangkan suasana pegunungan, ada yang berjalan-jalan dan hang out bersama sahabat di mal, pergi ke tempat-tempat rekreasi, atau mungkin juga yang paling nyaman adalah bisa menonton dvd di rumah sambil rebahan tanpa gangguan. Apapun yang anda bayangkan, tentu saja faktor yang akan selalu ada adalah situasi dimana tidak lagi ada kesulitan, beban hidup, masalah, kesedihan dan hal-hal berat lainnya yang menyita pikiran dan perasaan. Dan yang juga pasti, setelah anda bekerja keras selama beberapa waktu, sebuah perhentian, sebuah masa jeda, masa istirahat akan terasa sangat indah bahkan mewah bagi kita.

Sudahkah kita sadar bahwa Tuhan sudah menyediakan sebuah tempat sebagai perhentian kita, sebuah  tempat dimana kita tidak lagi harus setengah mati bekerja, tidak lagi harus mengalami penderitaan hidup?,dimana tidak ada lagi ratap tangis dan sakit. Ini jelas sebuah tempat yang luar biasa nyaman, lebih dari tempat liburan terindah manapun yang pernah anda datangi di dunia ini, dari apapun yang sanggup anda bayangkan. Perhatikan cara Alkitab menggambarkannya. "Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka. Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu." (Wahyu 21:3-4). That's a place where all the problems and sadness no longer disturb us. Dan itu bukan hanya impian, tapi merupakan sesuatu yang sudah disediakan bagi kita, tapi perhatikan bahwa tidak semuanya akan berhasil mencapai tempat perhentian itu dan masuk di dalamnya.

Kitab Ibrani menjelaskan panjang lebar mengenai tempat perhentian ini dan bagaimana agar kita tidak ketinggalan untuk mendapat bagian di dalamnya. Disana dikatakan "Sebab itu, baiklah kita waspada, supaya jangan ada seorang di antara kamu yang dianggap ketinggalan, sekalipun janji akan masuk ke dalam perhentian-Nya masih berlaku." (Ibrani 4:1). Perhentian itu masih berlaku dan tetap akan berlaku bagi orang percaya. Apa yang harus kita lakukan adalah terus waspada, terus menjalani hidup dengan ketaatan yang sungguh-sungguh agar kita tidak sampai ketinggalan kereta untuk mencapai tempat yang penuh sukacita dan damai sejahtera itu.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on November 26, 2013, 07:24:57 AM
Kitab Ibrani juga mengingatkan kita agar jangan sampai melakukan kesalahan fatal seperti halnya bangsa Israel yang gagal mencapai tempat perhentian mereka, sebuah tanah terjanji yang berlimpah susu dan madunya. Bacalah Ibrani 3:7-19 untuk mendapatkan gambaran jelas. 40 tahun lamanya mereka ditempa dalam perjalanan memasuki sebuah tempat perhentian yang indah, namun mereka tidak mampu memanfaatkan kesempatan yang ada. Mereka terus saja menyakiti hati Tuhan, melakukan berbagai kesalahan dan pada akhirnya mereka pun luput dari tempat itu. "..nenek moyangmu mencobai Aku dengan jalan menguji Aku, sekalipun mereka melihat perbuatan-perbuatan-Ku, empat puluh tahun lamanya. Itulah sebabnya Aku murka kepada angkatan itu, dan berkata: Selalu mereka sesat hati, dan mereka tidak mengenal jalan-Ku, sehingga Aku bersumpah dalam murka-Ku: Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku." (ay 9-11). Belajarlah dari kegagalan bangsa Israel pada jaman itu agar kita tidak ikut-ikutan terperosok dan kehilangan kesempatan untuk masuk ke tempat perhentian yang sudah disediakan Tuhan itu. Janji itu tetap sama berlaku, "Karena kita telah beroleh bagian di dalam Kristus, asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula." (ay 14).

Apa yang dapat membuat kita gagal memperoleh tempat perhentian ini? "Waspadalah, hai saudara-saudara, supaya di antara kamu jangan terdapat seorang yang hatinya jahat dan yang tidak percaya oleh karena ia murtad dari Allah yang hidup." (ay 12). Murtad dari Tuhan, memiliki hati yang jahat dan tidak percaya. Itu hal yang akan merintangi kita dan membuat kita melenceng, dimana masalah tidak saja terus berlangsung, tapi intensitasnya akan semakin tinggi. Dalam ayat 14 yang sudah saya kutip di atas kita melihat pula bahwa kita harus terus berpegang teguh kepada iman kita. Memulainya sudah baik, jangan sampai kita terjatuh di tengah jalan. Adalah penting bagi kita untuk terus berpegang kepada iman, sebentuk iman yang kuat, iman yang teguh, iman yang percaya penuh, iman yang penuh pengharapan, iman yang mampu melemparkan gunung ke laut. Secara jelas Penulis Ibrani juga menyebutkan kategori orang yang akan tidak akan diikutsertakan untuk masuk ke dalam tempat perhentianNya. "Dan siapakah yang telah Ia sumpahi, bahwa mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Nya? Bukankah mereka yang tidak taat? Demikianlah kita lihat, bahwa mereka tidak dapat masuk oleh karena ketidakpercayaan mereka." (ay 18-19).

Bagi semua orang tempat ini disediakan. Kepada semua orang pula telah diberitakan kabar gembira seperti halnya kepada kita. Tapi bagi sebagian orang berita itu dibiarkan berlalu sia-sia, sehingga bagi mereka kesempatan untuk beroleh tempat itu akan berlalu di depan mata. "Karena kepada kita diberitakan juga kabar kesukaan sama seperti kepada mereka, tetapi firman pemberitaan itu tidak berguna bagi mereka, karena tidak bertumbuh bersama-sama oleh iman dengan mereka yang mendengarnya." (Ibrani 14:2). Dikalangan orang percaya sekalipun, jika hidup tidak dengan iman yang taat dan percaya, mereka tidak akan bisa mencapainya. (ay 6). Bagaimana cara kita hidup saat ini akan sangat menentukan kemana kita akan masuk nanti. Apakah ke tempat perhentian yang penuh damai sukacita tanpa ratap tangis penderitaan, sakit penyakit dan sebagainya, atau ke tempat dimana penderitaan akan milyaran kali lipat lebih parah selama-lamanya. Oleh karena itu Penulis Ibrani mengingatkan: "Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu!" (ay 7)
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on November 26, 2013, 07:25:39 AM
empat perhentian telah disediakan bagi kita. Apa yang penting diingat adalah agar kita jangan sampai ketinggalan sehingga gagal menerimanya. Jika hidup ini diibaratkan sebagai perlombaan, mari kita semua berlomba dengan baik untuk mencapai garis akhir sebagai pemenang (Ibrani 12:1). Anda rindu tempat peristirahatan seperti tempat rekreasi/wisata yang penuh nyiur melambai, angin sepoi-sepoi, langit biru berawan dan lautan yang jernih seperti kaca, yang bisa anda nikmati tanpa harus memikirkan hal-hal sulit apapun? Apa yang disediakan Tuhan jauh lebih indah dari itu, bahkan kekal sifatnya. Hiduplah dengan iman dan ketaatan penuh hingga akhir, agar tempat perhentian itu bisa menjadi milik anda.

Tuhan menyediakan tempat perhentian yang penuh sukacita kepada orang percaya yang beriman


Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho (http://twitter.com/dailyrho)
http://www.renunganharianonline.com/ (http://www.renunganharianonline.com/)
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on November 27, 2013, 07:07:31 AM
http://www.renunganharianonline.com/
 Tuesday, November 26, 2013
Membiarkan Rumah Tuhan Menjadi Reruntuhan

Ayat bacaan: Hagai 1:9b
===================
"Oleh karena rumah-Ku yang tetap menjadi reruntuhan, sedang kamu masing-masing sibuk dengan urusan rumahnya sendiri."

24 jam sehari yang diberikan bagi kita, berapa besar porsi Tuhan didalamnya? Manusia semakin lama semakin menjadi individualis-individualis sejati. Untuk bersosialisasi dengan sesama saja sudah tidak sempat lagi, sibuk mengejar target dan pendapatan sebanyak-banyaknya tanpa ada habisnya. Tetangga tidak lagi kenal, pertemanan hanya didasarkan untung rugi, keluarga tidak lagi penting dibandingkan pekerjaan. Jika dalam hubungan dengan sesama saja sudah sulit, apalagi menyediakan waktu untuk Tuhan. Ada yang pernah mengatakan kepada saya dengan bangga bahwa ia membagi tugas dengan istrinya dalam hal ini. "Istri urusannya berdoa, yang rohani-rohani, sedang saya bekerja cari uang. Adil kan?" katanya sambil tertawa. Ia lupa bahwa sebagai suami ia harusnya juga menjalankan role sebagai imam, bukan hanya provider uang untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Banyak orang yang bukan saja melupakan pentingnya membangun hubungan yang erat dengan Tuhan, tapi mereka juga tidak mau melibatkan Tuhan dalam pekerjaan dan hidupnya sehari-hari. Rohani dipisahkan dengan dunia, rohani urusan istri dan urusan dunia itu urusan suami. No, that's not the right concept. Konsep Kekristenan bukanlah seperti itu. Jangan sampai rumah kita dibangun dengan megah, mewah dan indah, tapi rumah/mesbah Tuhan dalam keluarga justru dibiarkan terbengkalai bahkan ambruk tinggal puing-puing saja.

Itulah bentuk peringatan Tuhan yang sangat keras kepada bangsa Israel di jaman Hagai. Pada masa itu dikatakan bahwa bangsa Israel terlalu sibuk mengurusi urusannya masing-masing sehingga membiarkan rumah Tuhan terbengkalai tidak terurus. Mereka terlalu sibuk untuk mempercantik rumah sendiri, hingga rumah Tuhan yang sudah menjadi reruntuhan pun tidak lagi mereka pedulikan. Maka Tuhan pun menegur mereka lewat Hagai. "Apakah sudah tiba waktunya bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang dipapani dengan baik, sedang Rumah ini tetap menjadi reruntuhan?" (Hagai 1:4). Tuhan menegur bangsa Israel dengan mencela secara langsung. "Oleh karena rumah-Ku yang tetap menjadi reruntuhan, sedang kamu masing-masing sibuk dengan urusan rumahnya sendiri." (ay 9b). Tuhan tersinggung dengan sikap seperti ini, sehingga tidak heran jika bangsa Israel pada waktu itu tidak diberkati lewat pekerjaan mereka bahkan terus mengalami kerugian. "Kamu menabur banyak, tetapi membawa pulang hasil sedikit; kamu makan, tetapi tidak sampai kenyang; kamu minum, tetapi tidak sampai puas; kamu berpakaian, tetapi badanmu tidak sampai panas; dan orang yang bekerja untuk upah, ia bekerja untuk upah yang ditaruh dalam pundi-pundi yang berlobang! Kamu mengharapkan banyak, tetapi hasilnya sedikit, dan ketika kamu membawanya ke rumah, Aku menghembuskannya." (ay 6, 9a). Kemarahan Tuhan itu wajar. Bukankah kebaikan dan kesabaran Tuhan telah menyertai mereka sejak dahulu? Tuhan mau mereka mengerti betul mengenai kasih Tuhan, kebaikan dan kesabaranNya, kesetiaanNya. Tuhan mau mereka bisa menghargai sepenuhnya segala berkat-berkat yang telah Dia alirkan ke tengah-tengah mereka. Atas semua yang telah diberikan Tuhan, sudah sewajarnya apabila mereka menghormati Tuhan dengan sungguh-sungguh. Setelah mengalami kuasa mukjizat Tuhan sepanjang perjalanan sejarah bangsa mereka, sudah seharusnya mereka menyadari penyertaan Tuhan dan tidak meninggalkanNya. Tapi ternyata mereka melakukan hal yang sebaliknya, sehingga tidaklah mengherankan apabila Tuhan marah dan menegur mereka dengan keras.

Hal yang sama masih sering dilakukan orang hari ini. Kita terlalu sibuk bekerja, berjuang hidup, sehingga kita sering melewatkan waktu-waktu kita untuk mendatangi dan berdiam di hadiratNya. Ada yang bahkan sering terlalu sibuk melayani, tetapi melupakan saat dimana kita duduk berdiam di kakiNya dan merasakan betapa Tuhan begitu dekat dan begitu mengasihi kita, seperti yang terjadi antara Yesus, Marta dan Maria dalam Lukas 10. Terlalu sibuk bekerja, bahkan terlalu sibuk melayani bisa membuat kita lupa untuk memilih yang terbaik, yaitu duduk diam di kaki Tuhan, merasakan hadiratNya dan mendengar suaraNya. Melanjutkan renungan terdahulu, hari ini lewat Hagai Tuhan menegur agar kita tidak hidup untuk diri sendiri saja, mementingkan diri kita saja, tetapi harus pula memperhatikan rumah Tuhan juga sebagai tanda kasih dan hormat kita kepadaNya.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on November 27, 2013, 07:08:03 AM
Adalah penting bagi kita untuk menarik rem sejenak dari kesibukan kita, pekerjaan bahkan pelayanan. Ada saat-saat dimana kita harus berhati-hati agar jangan sampai kesibukan kita membuat hal-hal penting lainnya dalam keseharian kita. Mengurus keluarga, membagi waktu buat istri/suami dan anak-anak serta keluarga lainnya, bersosialisasi dengan tetangga dan teman-teman, memperhatikan kesehatan kita terlebih menjaga hubungan kita dengan Tuhan. Tidaklah salah jika kita bekerja dengan keras dan serius karena itu memang merupakan keinginan Tuhan atas diri kita, tetapi perhatikan baik-baik agar jangan semua itu merebut hubungan kita dengan sesama terutama dengan Tuhan. Jika anda termasuk orang yang sangat sibuk, ini saatnya bagi kita untuk bersama-sama menelaah kembali sejauh mana kita sudah mengendalikan kesibukan tanpa harus mengorbankan hal-hal penting lainnya. Sangatlah penting untuk memperhatikan urutan prioritas dalam hidup. Jangan salah menetapkan prioritas apalagi mengorbankan hubungan dengan Tuhan, karena itu akan merugikan bahkan menghancurkan kita sendiri. Sudahkah anda membangun mesbah keluarga dengan teratur bersama istri/suami, anak dan anggota keluarga lainnya? Sudahkah anda para suami menjalankan fungsi dan peran sebagai imam dan pemimpin dalam keluarga, dan para istri menjadi tiang penyangga yang kokoh dalam rumah tangga? Jika belum, mulailah hari ini sehingga murka Allah tidak harus turun karena rumahNya dibiarkan hancur berantakan seperti puing reruntuhan.

Atur dan susun prioritas secara benar agar jangan sampai kita menuai murka Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho (http://twitter.com/dailyrho)
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on November 28, 2013, 08:03:04 AM
http://www.renunganharianonline.com/
 Wednesday, November 27, 2013
Duduk di Kaki Tuhan dan MendengarkanNya

Ayat bacaan: Lukas 10:39
=====================
"Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya"

Apa yang akan anda lakukan untuk menyenangkan ayah anda? Ayah saya sangat senang sebuah kebersamaan, pergi bersama anak-anaknya dan bisa ngobrol, tertawa bersama. Berhubung saya tinggal di kota lain, itu jarang bisa terjadi. Tapi saya kerap menelepon dan bercerita tentang hal-hal sehari-hari, dan ia pun demikian. Itu membuat ayah saya tetap bisa merasakan kebersamaan meski tidak bisa sering-sering bertemu secara fisik. Selain punya ayah di dunia, kita juga punya Bapa surgawi. Pernahkah anda berpikir apa yang bisa anda lakukan untuk menyenangkanNya? Ada banyak orang yang salah kaprah mengira bahwa mereka harus sibuk melayani. Semakin terlihat sibuk, semakin baik pula mereka pastinya di mata Allah. Tidak jarang pula orang berpikir untuk menyogok Allah lewat seabreg pelayanan mereka. Lewat kesibukan melayani, mereka pasti akan jauh dari masalah dan Tuhan akan memberikan mereka harta kekayaan di dunia. Ini sebuah konsep yang sangat keliru, karena lewat Yesus sendiri kita bisa melihat bahwa bukan kesibukan melayani yang membuat Tuhan senang, tetapi justru kerinduan kita untuk duduk di kakiNya dan mendengar perkataanNya.

Kesibukan kita bekerja, bermain dan melakukan banyak ativitas sehari-hari seringkali menyita waktu lebih dari yang seharusnya. Kebanyakan orang lebih tertarik untuk mengejar kemakmuran dengan terus memacu diri bekerja sebanyak-banyaknya dan mengabaikan waktu-waktu khusus untuk mendatangi dan berdiam di hadiratNya. Ada juga yang terlalu sibuk melayani, tetapi melupakan saat dimana kita duduk berdiam di kakiNya dan merasakan betapa Tuhan begitu dekat dan begitu mengasihi kita. Melayani jelas sebuah keharusan, tetapi lebih dari itu kita harus tahu kapan kita harus diam, mengambil momen khusus untuk bersekutu denganNya, menikmati hadirat Tuhan yang kudus dan merasakan kedekatan hubungan antara Bapa dan anak bersama Tuhan.

Kita bisa belajar mengenai hal ini lewat kisah saat Yesus berkunjung ke rumah Marta dan Maria. Apa yang anda lakukan jika seorang pemimpin negara datang ke rumah anda? Anda tentu akan segera menyiapkan segala sesuatu untuk melayaninya bukan? Memberi yang terbaik, menyiapkan yang terbaik agar sang pemimpin bisa ada disana senyaman mungkin. Itulah yang ada di pikiran Marta. Mendapat kunjungan dari Yesus, Raja di atas segala raja, Marta langsung sibuk melayani. Ia ingin menunjukkan bahwa ia sangat menghargai kunjungan Yesus lewat cara menyediakan segala hal yang dia anggap akan menyenangkan hati Yesus. Tapi Maria memutuskan untuk melakukan hal yang berbeda. Maria justru memilih untuk terus duduk diam di dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataanNya. Marta menganggap Maria malas dengan tidak membantunya dalam melayani Yesus. Ia bahkan meminta Yesus mengingatkan Maria untuk membantunya. Tapi apa jawab Yesus? Demikian kataNya:  "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara,tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya." (Lukas 10:41-42).
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on November 28, 2013, 08:03:34 AM
Sebuah pelajaran penting bisa kita petik dari kisah sederhana ini, yaitu bahwa lebih dari segala pelayanan yang kita lakukan, Tuhan merindukan saat-saat khusus ketika anda datang kepadaNya dengan telinga yang siap mendengar, dan hati yang siap menerima. Ada kalanya kita harus menarik rem dari kesibukan kita, baik pekerjaan ataupun pelayanan. Ada saatnya kita harus berhenti berkeluh kesah dan meminta tolong atas segala permasalahan kita. Dan pergunakanlah waktu tersebut untuk duduk diam di kaki Tuhan, menyatakan betapa kita mengasihiNya dan bersyukur atas segala yang telah Dia sediakan bagi kita. Disana kita bisa merasakan kasihNya yang begitu damai, mendengar suaraNya menyampaikan hal-hal yang ingin Dia katakan pada kita, menikmati persekutuan pribadi yang indah dengan Bapa. Yesus mengatakan bahwa inilah bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari kita. Tuhan rindu menikmati saat-saat teduh bersama anak-anakNya, Tuhan rindu memeluk anak-anakNya, berbicara dengan kita, dan itu tidak akan terjadi jika kita tidak tahu kapan saatnya menghentikan ritme kesibukan kita sehari-hari. Kita memang tidak dilarang untuk memohon bantuan dari Tuhan lewat doa-doa kita, tapi ada waktu dimana kita mau diam dan mengetahui bahwa Allah berkuasa di atas segalanya. "Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!" (Mazmur 46:11). Ketahuilah bahwa Tuhan tidak pernah terlelap, tidak pernah lengah menjaga kita, dan sangat tahu apa yang kita butuhkan. Dia mengerti segala pergumulan kita dan Dia akan selalu siap menjadi sumber pertolongan. Masalahnya, apakah kita sudah tahu apa yang paling menyenangkan hati Bapa? Apakah kita peduli akan itu, atau masih menganggap Tuhan sebagai bodyguard, provider uang, pertolongan dan sebagainya, yang hanya kita datangi saat kita butuh sesuatu? Apakah kita masih berpikir bahwa jumlah pelayanan akan menentukan posisi kita di mata Tuhan? Saatnya bagi kita untuk duduk diam dan mendengar apa yang hendak Tuhan nyatakan dalam hidup kita. Duduk di kakiNya, memandang wajahNya dan mendengar suaraNya, itulah bagian yang terbaik yang tidak akan diambil dari kita.

Berikan waktu terbaik anda untuk diam di kakiNya, memandang wajahNya dan mendengar suaraNya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho (http://twitter.com/dailyrho)
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on November 29, 2013, 06:17:02 AM
http://www.renunganharianonline.com/
 Thursday, November 28, 2013
Tempat di Rumah Bapa (1)

Ayat bacaan: Yohanes 14:2
======================
"Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu."

Dalam sebuah artikel yang saya baca, kemampuan rata-rata pasangan baru di Indonesia untuk membeli rumah berkisar pada angka 250 juta rupiah. Meski angka ini sudah terbilang besar, harga seperti itu sudah semakin sulit ditemukan terlebih di kota-kota besar. Agar terjangkau, perumahan-perumahan baru pun terus bertumbuh di pinggiran yang jaraknya lumayan jauh dari pusat kota. Lantas ketika pengembangan kota terjadi dengan pertumbuhan pembangunan dan penduduk, harga pun mengalami penyesuaian alias naik. Ketika harga terus naik, orang akan bergeser semakin kepinggir, semakin jauh dari pusat kota. Di kota tempat saya tinggal, untuk menyiasati daya beli pencari rumah maka developer mengambil langkah dengan memangkas ukuran tanah per kapling. Jika 5 tahun lalu rata-rata rumah tipe minimalis ada di kisaran 100 m2, sekarang ukuran tersebut dipangkas menjadi rata-rata 70 m2 an. Kapling semakin kecil, lokasi semakin jauh, daya beli yang semakin menurun, ini membuat orang semakin sulit untuk bisa memiliki rumah yang layak tinggal. Bank-bank menawarkan kredit pemilikan rumah (KPR) dengan janji-janji muluk, kemudahan dan gigi-gigi putih bersih dibalik senyuman dalam iklan-iklan, tapi pada kenyataannya proses tidaklah segampang dan semurah itu. Lantas ketika pada suatu ketika tidak ada lagi lahan yang bisa dipakai, bagaimana manusia akan tinggal? Beberapa kota yang ukurannya kecil tapi padat sudah melakukan pengembangan bukan lagi ke samping (horizontal) tapi ke atas (vertikal). Tapi tetap saja ada batas ketinggian yang tidak boleh dilewati jika tidak mau mendapat masalah.

Tempat di dunia ini punya batas maksimal. Tapi nanti di "rumah masa depan" kita, Tuhan telah menjanjikan bahwa masih ada begitu banyak lahan kosong untuk kita tempati dengan luas yang tidak akan ada habisnya. Rumah Bapa yang menjadi tujuan kita selanjutnya tidaklah terbatas luasnya, tidak akan pernah ditutup karena kepenuhan. Bahkan dalam kondisi ideal seandainya seluruh isi dunia ini bertobat, semuanya pasti akan mendapat tempat disana.

Gambaran ini dikatakan langsung oleh Yesus. "Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu." (Yohanes 14:2). Selanjutnya Dia bersabda: "Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada." (ay 3). Jadi perhatikan rangkaian ayat di atas. Yesus sudah kembali ke sana untuk mempersiapkan tempat bagi orang percaya, dan pada suatu saat nanti Dia akan kembali untuk membawa kita pulang ke rumah Bapa yang telah Dia persiapkan secara khusus untuk kita. Sudah disediakan rumah, dijemput pula. Bukankah itu luar biasa?
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on November 29, 2013, 06:17:49 AM
Rumah Bapa, atau Kerajaan Allah adalah sesuatu yang sifatnya kekal dan tidak tergoncangkan. Dunia boleh saja gonjang ganjing, tetapi Kerajaan Allah adalah sebuah tempat yang tidak akan goyah dalam kondisi apapun. Penulis Ibrani mengingatkan kita mengenai Kerajaan yang tidak tergoncangkan dan bagaimana caranya agar kita bisa mendapat bagian di dalamnya. "Jagalah supaya kamu jangan menolak Dia, yang berfirman. Sebab jikalau mereka, yang menolak Dia yang menyampaikan firman Allah di bumi, tidak luput, apa lagi kita, jika kita berpaling dari Dia yang berbicara dari sorga?" (Ibrani 12:25). Kita tidak boleh menolak Dia dan firmanNya. Kita harus mampu menjaga diri kita agar tetap hidup berkenan di hadapan Tuhan. Sebab jika orang yang tidak mau mendengar saja sudah kehilangan kesempatan, apalagi kita yang sudah mendengar tapi masih bebal? Penulis Ibrani melanjutkan: "Waktu itu suara-Nya menggoncangkan bumi, tetapi sekarang Ia memberikan janji: "Satu kali lagi Aku akan menggoncangkan bukan hanya bumi saja, melainkan langit juga. Ungkapan "Satu kali lagi" menunjuk kepada perubahan pada apa yang dapat digoncangkan, karena ia dijadikan supaya tinggal tetap apa yang tidak tergoncangkan." (ay 26-27). Bumi memang bisa dan akan digoncangkan. Pengayakan akan terjadi, dimana gandum akan dipisahkan dari ilalang. Gandum akan dikumpulkan dan selanjutnya masuk kedalam lumbung, sedangkan lalang akan dilemparkan ke dalam api, terbakar musnah (Matius 13:24-30). Bagi para "gandum", yaitu orang-orang percaya yang taat kepada Tuhan, mereka akan masuk ke dalam lumbung Kristus, Kerajaan Allah, yang tidak akan pernah tergoncangkan. "Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut." (Ibrani 12:28). Apa yang dijanjikan Allah untuk kita terima adalah anugerah yang luar biasa. Sebuah tempat di rumah Bapa yang tidak tergoncangkan, tanpa ratap tangis dan dukacita, tanpa penderitaan,penyakit dan berbagai masalah-masalah lainnya seperti yang ada di dunia ini, telah disediakan Kristus bagi kita yang percaya kepadaNya. Untuk itulah kita sudah lebih dari sepantasnya untuk mengucap syukur dan beribadah kepada Tuhan dengan penuh rasa hormat dan takut.

(bersambung)
http://www.renunganharianonline.com/ (http://www.renunganharianonline.com/)
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on November 30, 2013, 06:38:39 AM
http://www.renunganharianonline.com/
 Friday, November 29, 2013
Tempat di Rumah Bapa (2)

(sambungan)

Selanjutnya mari kita lihat siapa kita sebenarnya di dunia ini lewat Petrus. Petrus mengingatkan bahwa di dunia ini kita hanyalah pendatang atau perantau. Lalu Petrus menyampaikan apa yang harus kita lakukan sesuai dengan status kita sebagai pendatang atau perantau ini. "Saudara-saudaraku yang kekasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa." (1 Petrus 2:11). Kebenaran Firman Tuhan mengatakan bahwa kita bukanlah berasal dari dunia. Kita hanyalah pendatang atau perantau yang hanya akan tinggal sementara saja. Sebagai warga Kerajaan surga, sudah seharusnya kita hidup dengan cara hidup disana, dan bukan mengikuti arus-arus penyesatan di dunia. Kita harus menjauhkan diri dari keinginan daging, itu kalau kita mau selamat pulang ke tempat dimana kita seharusnya kembali, tempat dimana kewargaan kita yang sesungguhnya. Bagi orang percaya yang menerima Yesus sebagai juru selamat, kita adalah warga dari Kerajaan Surga. "Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat" (Filipi 3:20).

Bagi setiap kita yang memegang perintah Kristus dan melakukannya, maka mereka akan dikasihi Tuhan dan juga oleh Kristus sendiri. "Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya." (Yohanes 14:21). Seperti yang sudah kita bahas dalam renungan bagian pertama kemarin, Yesus sudah menyediakan tempat tinggal bagi kita di rumah Bapa di surga dan kelak Dia sendiri pula yang akan menjemput kita untuk pergi dan tinggal bersama-sama denganNya. "Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada. Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ." (Yohanes 14:3-4).

Penulis Ibrani juga mengatakan seperti ini: "Inti segala yang kita bicarakan itu ialah: kita mempunyai Imam Besar yang demikian, yang duduk di sebelah kanan takhta Yang Mahabesar di sorga" (Ibrani 8:1). Di dalam Kerajaan dimana Yesus duduk disamping tahta Allah, Dia telah menyediakan tempat bagi siapapun yang percaya padaNya, yang tidak menolakNya, tidak menentang tapi memegang teguh dan melakukan semua yang Dia firmankan. Tidak ada kuota maksimum, tidak ada pembatasan jumlah, tidak ada biaya selangit yang terus meningkat. Siapapun diundang untuk masuk ke dalam rumah Bapa. Bahkan Yesus pun terus mengetuk pintu hati manusia untuk diselamatkan, agar manusia pun bisa diselamatkan dan masuk ke dalam tempat yang telah Dia sediakan.

Jika saat ini pergumulan, permasalahan dan kesulitan masih mengganggu kita, janganlah gelisah. Betapa indahnya ketika Yesus menyampaikan firmanNya tentang Rumah Bapa, Dia memulai itu dengan perkataan: "Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku." (Yohanes 14:1). Di dalam "tempat perantauan" kita ini kita telah dijanjikan penyertaan Tuhan, dan ada tempat sebenarnya bagi kita yang telah disediakan Kristus sendiri yaitu di Rumah Bapa. Itu adalah sebuah tempat yang nyata, bukan ilusi atau fatamorgana, yang akan menjadi tempat kekal bagi setiap orang percaya yang hidup sungguh-sungguh menjaga kehidupannya sesuai Firman Tuhan. Mari kita terus bertekun agar tempat yang Dia sediakan itu juga tersedia bagi kita.

Jangan biarkan kesempatan untuk beroleh tempat di rumah Bapa melayang akibat kegagalan kita dalammenjalani hidup

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho (http://twitter.com/dailyrho)
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on December 01, 2013, 05:01:13 AM
http://www.renunganharianonline.com/
 Saturday, November 30, 2013
Investasi Ala Kerajaan Surga (1)

Ayat bacaan: Matius 6:19-20
================
"Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya."

Investasi dianggap merupakan sebuah hal yang bisa menjamin masa depan seseorang. Ini berhubungan dengan akumulasi dari suatu bentuk penanaman modal dengan harapan untuk mendapat keuntungan berlipat seiring waktu. Cara orang berinvestasi bermacam-macam. Ada jangka pendek, ada jangka panjang. Bisa dilakukan dengan cara sederhana yaitu menabung, deposito, ada yang memilih pasar uang, saham, berinvestasi dalam bentuk-bentuk fisik seperti emas dan/atau jenis-jenis batu permata, menanamkan modal untuk membangun usaha, investasi tanah/rumah maupun lewat berbagai bentuk asuransi. Itulah beberapa contoh investasi yang dianggap cukup kuat untuk membangun pertahanan di dunia, terutama dari segi finansial atau ekonomi. Yang biasanya menjadi pilihan dalam melakukan investasi adalah kesiapan modal dihubungkan dengan pilihan yang paling menguntungkan dan tentu saja minim resiko. Investasi-investasi yang sudah melalui pemikiran dan perencanaan matang, disesuaikan dengan kemampuan alias tidak mengorbankan sesuatu yang berharga atau hal-hal yang bersifat gambling, tidak melanggar ketetapan Tuhan dan terlebih sudah didoakan terlebih dahulu tentu baik untuk menjadi proteksi masa depan kita dan keluarga. Tapi ingatlah bahwa meski baik, semua itu hanya akan berlaku di dunia dan tidak akan pernah menjadi sebuah investasi yang bisa menjamin kehidupan kekal di rumah Bapa nanti.

Saya tidak menyatakan bahwa berinvestasi itu salah. Saya tidak anti investasi, anti menabung dan anti berusaha. Tapi ingatlah bahwa jika tidak hati-hati maka kita bisa terjebak pada sebuah pusaran yang bersumbu pada uang. Kita bisa tertipu oleh jebakan dunia bahwa kebahagiaan itu tergantung dari jumlah uang atau harta yang ada pada kita. Pada kenyataannya ada begitu banyak orang yang meletakkan harga diri/pride nya pada harta. Mereka terus berpacu siang malam untuk mendapatkan lebih dan lebih banyak lagi. Mereka tidak takut berjudi atas keputusan-keputusan dan tidak ragu mengorbankan sesuatu yang sebenarnya tidak layak untuk dikorbankan.

Pemikiran seperti ini sesungguhnya bertolak belakang dengan prinsip Kerajaan Allah. Yesus sendirilah yang mengingatkan secara langsung bahwa ada sesuatu yang jauh lebih penting untuk diinvestasikan. Menabung, menanam modal dan sebagainya itu baik, tetapi ternyata itu bukanlah yang terpenting. Sehebat-hebatnya kita mencadangkan harta, atau bahkan menimbun harta sebanyak-banyaknya, semua itu bisa lenyap pada suatu ketika. Bukankah mudah bagi harta kita untuk hilang, berapapun jumlahnya? Satu kali bumi digoncangkan, semua itu bisa musnah dalam sekejap mata. Jika ada yang berpikir bahwa kekuatan dan kehebatannya lah yang menentukan perolehan harta, sedikit masalah dalam kesehatan fisik, mental maupun spiritual bisa membuat anda langsung drop dan kehilangan power alias shut down. Dan yang lebih ironis lagi, sebanyak apapun anda menyedot uang untuk masuk ke dalam pundi-pundi anda, semua itu tidak akan berguna untuk bekal kehidupan selanjutnya jika tidak dipergunakan untuk tujuan-tujuan yang tepat seperti tujuan Allah memberkati anda. No matter what, all can be gone in just a second. Jika demikian, adakah sebuah bentuk investasi yang benar-benar aman, yang mampu membawa anda hidup bahagia di dunia sekaligus menjamin kebahagiaan pada fase yang kekal nanti?
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on December 01, 2013, 05:02:05 AM
Jawabannya ada. Mari kita lihat apa kata Yesus berikut ini. "Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya." (Matius 6:19-20). Ini sebuah seruan penting yang seringkali menjadi sumber kekeliruan kita dalam memandang prioritas dalam hidup. Daripada sibuk mengumpulkan harta di bumi tanpa kepastian dan selalu beresiko, mengapa tidak mengumpulkan harta di tempat yang paling aman, yang akan mampu menjamin kelangsungan dan kelanjutan hidup anda kelak, yaitu di surga? Itulah satu-satunya tempat yang teraman, dan itulah yang akan lebih bermanfaat terutama karena kekal sifatnya karena tidak akan pernah bisa dicuri atau dirusak oleh apapun atau siapapun. Tidak ada ngengat dan karat yang bisa merusaknya, dan tidak ada pencuri yang bisa membongkar atau mencurinya.

Lantas bagaimana kita mengumpulkan harta di surga? Ingatlah bahwa mengumpulkan harta di surga tidak sama dengan di dunia. Jika di dunia kita menimbun dan terus menimbun, atau selalu menerima dan terus menerima, maka untuk mengumpulkan harta di surga yang berlaku justru sebaliknya, yaitu dengan memberi atau menabur. Apakah itu lewat persepuluhan (Maleakhi 3:10-12), memberi kepada kaum yang tidak mampu yang dianggap Tuhan memiutangiNya (Amsal 19:17) dan melakukan sesuatu untuk Tuhan alias doing a favor to God (Matius 25:40), atau menanam investasi dengan harta yang kita miliki terlebih juga hidup kita sendiri untuk mewartakan firman (Markus 10:29-30), semua ini berbicara mengenai kerinduan untuk memberi. Dan itulah yang akan membuat kita terus mengumpulkan harta di surga. Artinya, jika dihubungkan dengan tempat tinggal di rumah Bapa dalam Yohanes 14:1-4 seperti yang kita bahas dalam dua renungan terdahulu, maka bisa diibaratkan setiap kali anda melakukan hal-hal diatas, itu sama seperti menambah satu batu pada tempat tinggal anda disana. Terus dan terus bangun sampai pada akhirnya bangunan itu jadi dan siap anda tempati setelah anda menyelesaikan fase dunia yang sementara ini.

Mengumpulkan harta di surga tidak hanya berbicara mengenai jaminan tempat pada kehidupan kekal. Perhatikan kembali ayat-ayat di atas, kita bisa melihat bahwa setiap kita mengumpulkan harta di surga, maka dengan sendirinya kebutuhan kita di dunia pun dijamin Tuhan secara langsung. Artinya dengan mengumpulkan harta di surga kehidupan kita saat ini pun akan berada dalam pemeliharaan Tuhan. Itu bisa kita nikmati sejak sekarang, dan sanggup membawa kita untuk masuk ke dalam kehidupan kekal kelak. Tidakkah itu merupakan investasi yang jauh lebih penting dan berguna?

(bersambung)
http://www.renunganharianonline.com/ (http://www.renunganharianonline.com/)
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on December 02, 2013, 02:02:29 PM
http://www.renunganharianonline.com/
 Sunday, December 1, 2013
Investasi Ala Kerajaan Surga (2)

(sambungan)

Pada suatu kali Yakobus menegur dengan keras orang-orang kaya yang kikir dan hanya berpikir untuk terus menimbun hartanya tanpa mempedulikan nasib orang lain seperti yang tertulis dalam Yakobus 5:1-6. "Jadi sekarang hai kamu orang-orang kaya, menangislah dan merataplah atas sengsara yang akan menimpa kamu! Kekayaanmu sudah busuk, dan pakaianmu telah dimakan ngengat! Emas dan perakmu sudah berkarat, dan karatnya akan menjadi kesaksian terhadap kamu dan akan memakan dagingmu seperti api. Kamu telah mengumpulkan harta pada hari-hari yang sedang berakhir." (Yakobus 5:1-3). Sungguh mengenaskan. Selanjutnya dikatakan: "Dalam kemewahan kamu telah hidup dan berfoya-foya di bumi, kamu telah memuaskan hatimu sama seperti pada hari penyembelihan" (ay 5). Orang yang berfokus pada menimbun harta dan mengejar kekayaan dikatakan seolah-olah sedang menggemukkan diri untuk hari penyembelihan kelak. Peringatan ini sungguh keras dan karenanya wajib kita perhatikan dengan seksama.

Jika dunia terus mengajarkan kita bahwa dengan mengumpulkan sebanyak-banyaknya hidup akan aman dan terjamin kebahagiaannya, kita tidak perlu ikut-ikutan berpikir seperti itu. Kita tidak perlu merasa khawatir akan kecukupan atau pemenuhan kebutuhan, karena semua itu sesungguhnya bukan terletak di tangan kita melainkan di tangan Tuhan. Yesus sendiri sudah mengingatkan kita agar jangan khawatir terhadap apapun. "Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?" (Matius 6:31) Bukankah ini yang menjadi ketakutan orang-orang dunia yang tidak atau belum mengenal Allah? "Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu." (ay 32). Firman Tuhan dengan tegas mengingatkan kita untuk tidak ikut-ikutan dengan kecenderungan pola pikir dunia. "Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia" (Efesus 4:17). Apa yang harus kita lakukan jelas. Kita harus mulai fokus memikirkan untuk mengumpulkan harta di surga. Dan Yesus pun telah menyatakan sebuah kesimpulan yang harus selalu kita camkan sungguh-sungguh: "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." (Matius 6:33).

Investasi yang kita pilih biasanya adalah sesuatu yang paling menguntungkan. Oleh karena itu, mari kita belajar melihat apa sebenarnya yang paling menguntungkan buat kita, bukan saja buat perjalanan kehidupan kita saat ini, tetapi yang lebih penting lagi buat kehidupan selanjutnya yang kekal. Menimbun harta di surga berbicara mengenai:
- menempatkan Tuhan diatas segalanya dalam urutan prioritas yang benar (God's all in all)
- melakukan kehendakNya di muka bumi sesuai panggilan kita masing-masing
- kerinduan untuk memberkati orang lain dengan segala berkat yang telah dicurahkan Tuhan buat kita
- mengembalikan apa yang menjadi hak Tuhan
- mempersembahkan hidup dan segala yang kita miliki sepenuhnya buat Tuhan.
Itulah bentuk investasi di surga, dimana tidak ada satupun hal yang bisa merusak atau menghilangkannya, baik ngengat, karat maupun pencuri. Berinvestasi lewat penanaman modal usaha, menabung dalam berbagai bentuk, lewat aset-aset kepemilikan dan sebagainya tentu saja boleh dan baik sepanjang tidak melanggar ketetapan Tuhan, sudah dibawa dalam doa dan berasal dari pertimbangan matang serta tidak merugikan orang lain. Tapi perhatikanlah prioritas kemana kita seharusnya berinvestasi yang akan menjamin kehidupan anda saat ini juga kehidupan kekal di surga nanti. Kemana dan untuk apa anda pergunakan modal baik harta, kemampuan, talenta dan lain-lain akan sangat menentukan bagaimana masa depan anda nanti.

Berinvestasi di surga akan memberi jaminan keselamatan yang pasti dan aman bagi masa depan kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho (http://twitter.com/dailyrho)
http://www.renunganharianonline.com/ (http://www.renunganharianonline.com/)
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on December 03, 2013, 10:31:49 AM
http://www.renunganharianonline.com/
 Monday, December 2, 2013
Motivasi Mengikuti Yesus

Ayat bacaan: Yohanes 6:24
================
"Ketika orang banyak melihat, bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus."

Berkembangnya doktrin teologi kemakmuran dalam beberapa tahun terakhir ini cukup memprihatinkan. Di satu sisi kita tahu bahwa Tuhan sanggup memberkati bukan hanya pas-pasan atau ala kadarnya, tetapi berkelimpahan. Tapi di sisi lain dengan pemahaman hanya mencari kemakmuran, kita bisa terjebak pada tipu-tipu kuno iblis untuk menjatuhkan kita kepada motivasi yang salah dalam mengikuti Yesus. Ketika orang mengira bahwa ada jaminan kemakmuran yang datang secara instan begitu mereka mengikuti Yesus, mereka akan kecewa karena yang sering terjadi tidaklah demikian. Seperti yang saya alami dan banyak orang lainnya, Tuhan lebih suka membentuk diri kita terlebih dahulu untuk siap menerima berkat-berkatNya, dan seringkali itu bukan sesuatu yang mudah. Sebuah bentuk pengertian akan kemakmuran dalam konsep keliru bisa menyesatkan kita, terlebih apabila kita belum memahami betul prinsip-prinsip Kerajaan mengenai berkat, keselamatan dan sebagainya. Kepintaran banyak penganut doktrin ini dalam mengolah ayat hingga terlihat seakan mendukung pengajarannya memang hebat, tapi itu tidaklah aneh karena ayat bisa dipelintir dengan mudah ketika dicabut dari konteksnya secara sepihak sebagai dasar pijakan atau legitimasi paham atau pengajaran apapun.

So, what motivate you to follow Jesus? Apa yang menjadi motivasi kita hari ini mengikuti Yesus, apa yang seharusnya menjadi motivasi yang benar? Terlepas dari doktrin-doktrin kemakmuran yang menjamur dimana-mana, kenyataannya ada banyak orang yang motivasinya melenceng dari seharusnya. Banyak orang yang hanya mendasarkan motivasinya untuk hidup makmur berlimpah harta, bisa sembuh dari penyakit, menerima mukjizat-mukjizat dan hal-hal spektakuler lainnya. Banyak orang yang mengikuti Yesus semata-mata hanya berpikir sempit secara dunia yang fana dan justru mengabaikan persiapan menuju kehidupan yang kekal di rumah Bapa kelak. Seperti itulah memang yang terus dipropagandakan oleh dunia. Kita sudah terbiasa di'ajarkan' untuk percaya bahwa kebahagiaan itu diukur lewat uang dan harta kekayaan. Kepemilikan barang-barang mewah, rumah yang berukuran besar dan megah, kendaraan lux, perhiasan, tas, sepatu, baju dan lainnya yang bermerek, itulah yang dianggap menjamin kebahagiaan dalam hidup. Sebuah pemahaman keliru akan konsep atau cara hidup Kerajaan bisa membuat kita secara naif memasukkan frame kebenaran dalam konteks pemikiran dunia. Ketika apa yang diharapkan tidak terjadi, orang akan kecewa dan kemudian pergi mencari alternatif-alternatif lainnya. Disana si jahat sudah menunggu untuk menerkam dan menelan. Alangkah berbahayanya apabila kita tidak memiliki motivasi yang benar dalam mengikut Yesus.

Mari kita lihat sebuah kisah dalam perikop yang singkat pada Injil Yohanes pasal 6 yang perikopnya berjudul "Orang banyak mencari Yesus".

"Pada keesokan harinya orang banyak, yang masih tinggal di seberang, melihat bahwa di situ tidak ada perahu selain dari pada yang satu tadi dan bahwa Yesus tidak turut naik ke perahu itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya, dan bahwa murid-murid-Nya saja yang berangkat. Tetapi sementara itu beberapa perahu lain datang dari Tiberias dekat ke tempat mereka makan roti, sesudah Tuhan mengucapkan syukur atasnya. Ketika orang banyak melihat, bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus." (Yohanes 6:25-29).
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on December 03, 2013, 10:32:50 AM
Pengajaran-pengajaran yang disampaikan Yesus yang disajikan lewat perumpamaan atau ilustrasi-ilustrasi sederhana pada waktu itu mendobrak banyak konsep pemahaman keliru. Yesus juga mengadakan begitu banyak mukjizat yang mengatasi logika orang, sehingga tidaklah mengherankan apabila ada banyak orang yang terpesona dan berharap untuk mendapatkan pertolongan. Kondisi manusia pada saat itu carut marut di timpa begitu banyak masalah sehingga kedatangan Yesus menjadi fenomena luar biasa yang menghebohkan. Banyak orang berusaha untuk mencari, mengejar, menemukan dan mendapatkan sesuatu dariNya. Berbagai motivasi pun pasti muncul pada saat itu diantara banyak orang. Ada yang ingin mendengar pengajaranNya, ada yang ingin menyaksikan perbuatan-perbuatan besarNya, ada yang sekedar ingin menonton dan tentu saja tidak sedikit yang ingin menerima mukjizat langsung. Ingin sembuh baik sakit jasmani maupun rohani, ingin dilepaskan, atau ingin berhenti hidup susah dalam kemiskinan.

Kita tidak tahu apa pastinya, tapi melihat begitu banyak orang yang mengejarNya, tentu beragam motivasi muncul disana. Ada yang benar, ada pula yang keliru. Yang pasti berita tentang Yesus pada jaman itu segera menyebar ke mana-mana, menembus batas wilayah, bangsa dan sebagainya. Apabila hal ini terjadi di jaman sekarang, tentu kabar ini akan menyebar pesat ke seluruh dunia lewat berbagai media dan perangkat komunikasi modern. Alangkah berbahaya apabila motivasi yang benar tidak dimiliki ketika kabar ini tersiar. Orang bisa terjebak pada pemahaman-pemahaman keliru, mengira bahwa Yesus tidak lebih dari seorang dokter hebat, paranormal atau bahkan dukun yang bisa memberi segala sesuatu yang hanya berpusat pada pemuasan dunia. Pengajaran-pengajaran yang keliru tentang Yesus akan menjerumuskan dan menyesatkan. Oleh karena itulah bagi kita orang percaya, kita perlu memiliki pemahaman dan motivasi yang benar terlebih dahulu agar bisa menyampaikan kebenaran firman secara tepat pula. Jangan sampai kita menyesatkan banyak orang lewat pemahaman kita yang keliru, apakah secara naif hanya berpikir sempit mengenai kemakmuran duniawi saja, menjanjikan banyak hal tanpa melihat konteks secara utuh dan sebagainya.

Hari ini mari kita periksa secara mendalam iman kita kepada Yesus, motivasi yang mengarahkan kita untuk mengikutiNya. Ada banyak motivasi yang mungkin timbul. Ada yang hanya mencari pemenuhan hal-hal fana, mencari hal-hal spektakuler seperti mukjizat dan keajaiban-keajaiban yang belum pernah dilihat sebelumnya, mencari kesembuhan, kekayaan dan lain-lain, tapi yang terbaik tentu dengan menyadari bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juru selamat. Yesus sudah mengatakan bahwa "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku." (Yohanes 14:6), "Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput." (Yohanes 10:9). Kita harus benar-benar memastikan dan menjaga diri kita terlebih dahulu agar tidak termotivasi oleh keinginan-keinginan yang berasal dari dunia yang fana. Mari cari dan temukan Yesus dengan sebuah kesadaran penuh bahwa kita membutuhkanNya untuk mengampuni dosa-dosa kita, memulihkan dan melepaskan kita dari keterikatan-keterikatan duniawi yang ada, menemukan keselamatan kekal daripadaNya dan menunjukkan bahwa kita mengikutiNya karena kita mengasihiNya, sebagaimana Dia mengasihi kita. Kisah orang banyak yang mencari Yesus di Kapernaum menjadi saksi dari banyaknya motivasi orang untuk menemukanNya, hendaklah kita tergolong pada orang-orang yang didasari motivasi benar dan bukan termasuk orang tersesat yang malah menyesatkan banyak orang.

Pastikan bahwa kita memiliki motivasi yang benar saat mencari dan mengikutiNya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho (http://twitter.com/dailyrho)
http://www.renunganharianonline.com/ (http://www.renunganharianonline.com/)
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on December 04, 2013, 07:11:08 AM
http://www.renunganharianonline.com/
 Tuesday, December 3, 2013
Motivasi Mengikuti Yesus (2)

Ayat bacaan: Yohanes 2:14
=====================
"Dalam Bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ."

Seandainya pasangan anda ditanya alasan ia memilih anda, lantas jawabannya bukan karena cinta tetapi karena kaya, banyak harta, warisan yang besar, karena jabatan yang tinggi, status atau popularitas anda, apa yang anda rasakan? Anda akan merasa sedih atau sakit hati bukan? Anda tentu menginginkan jawaban bahwa pasangan anda memilih anda karena ia mencintai anda, bukan karena motivasi-motivasi lainnya. Tidak satupun dari kita yang menginginkan alasan lain dari orang yang kita cintai dalam menjalin hubungan dengan kita selain karena cinta. Pada kenyataannya, tidak jarang orang memilih pasangan bukan karena cinta tapi justru didasari oleh motivasi-motivasi lain. Ada yang karena harta, status atau popularitas sepeti contoh di atas, ada juga yang karena kasihan. Kita bisa bayangkan seperti apa hubungan apabila didasari oleh motivasi-motivasi seperti itu. Sebuah dasar motivasi yang lemah tidak akan kuat bertahan untuk waktu lama, sebuah motivasi yang salah akan menghasilkan outcome yang salah pula.

Jika dalam menjalin hubungan dengan sesama manusia saja kita perlu memeriksa betul apakah motivasi kita sudah baik dan benar atau belum/tidak, apalagi dalam menjalin hubungan dengan Tuhan, yang menciptakan kita secara istimewa seperti rupa dan gambarNya sendiri. Apabila anda ditanya, mengapa anda mengikuti Yesus, pertanyaan ini mungkin terdengar mudah tetapi pada kenyataannya tidaklah gampang untuk dijawab. Belum tentu orang tahu mengapa ia mengikuti Yesus. Bisa jadi, karena memang sudah turun temurun, bisa jadi karena dilahirkan di lingkungan Kristen, bisa pula karena mengharapkan banyak kemudahan, ingin kaya, makmur, mengharapkan pertolongan dan lain-lain yang sifatnya hanya sementara untuk dunia  yang fana ini. Mengikuti Yesus hanya didasari pada faktor untung rugi, hanya ingin mengeruk keuntungan dan bukan karena kasih, Yang memiliki motivasi seperti ini hanya ingin meminta dan mendapat tanpa mau memberi dengan membangun hubungan satu arah saja. Mereka mencari Yesus karena berharap berkat-berkat duniawi dan mengira bahwa mereka tidak lagi perlu melakukan apa-apa. Jika mereka tidak menerima apa-apa, mereka pun akan kecewa, menjelek-jelekkan Tuhan dan pergi mencari alternatif-alternatif lain. Seorang teman saya mengatakan bahwa ia mengikuti Yesus karena ia mengasihi Yesus. Ia menyadari betul bahwa Tuhan sudah terlebih dahulu mengasihinya dan menganugerahkan begitu banyak karunia termasuk keselamatan yang sebenarnya tidaklah layak ia terima, dan karenanya ia mengikuti Yesus, Tuhan yang menurutnya sangat menyayanginya dan selalu menjaganya. "Meski saya belum atau tidak memperoleh apa yang saya minta, saya akan tetap ikut Yesus. Sederhana saja, karena iman saya percaya bahwa Dia adalah Tuhan dan Juru selamat, didalamnya ada keselamatan, di dalamnya ada harapan, di dalamnya ada kuasa dan kekuatan. Dan tentu saja karena saya mengasihiNya seperti halnya Dia mengasihi saya." Ini jawaban yang luar biasa indah yang akan sangat menyukakan hati Tuhan, tetapi tidak banyak orang yang bisa memberi jawaban seperti itu.

Bagaimana reaksi Tuhan terhadap orang-orang yang mencari keuntungan dariNya, orang-orang yang meletakkan motivasinya pada hal-hal untuk mencari kemakmuran menurut ukuran duniawi? Kita bisa melihat itu dari kisah yang mencatat kemarahan Yesus yang begitu besar di Bait Allah pada sebuah Hari Paskah Yahudi. Pada hari itu Yesus pergi ke Yerusalem dan datang ke Bait Suci. Apa yang Yesus lihat pada waktu itu sungguh buruk. "Dalam Bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ." (Yohanes 2:14). Gereja berubah fungsi menjadi pasar. Bayangkan di Bait Suci itu bukan berisi orang-orang yang ingin menyembah dan memuliakan Tuhan, bukan berisi orang-orang yang rindu untuk bertemu dan mendengar Tuhan, tetapi justru penuh dengan para pedagang beserta hewan dagangannya, ditambah lagi para penukar uang, yang dijaman sekarang dikenal dengan money changer, melakukan bisnisnya disana. Kita bisa membayangkan hiruk pikuknya suasana di Bait Suci yang kudus pada saat itu, selayaknya pasar. Pemandangan seperti itu sangatlah menyakiti hati Yesus. Yesus marah besar. Inilah yang selanjutnya Yesus lakukan: "Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya. Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: "Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan." (ay 15-16).
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on December 04, 2013, 07:11:43 AM
Mari kita kaji lebih jauh. Ketika Yesus dihina, ditinggalkan, difitnah, disiksa dan disalib hingga mati, Yesus tidak menunjukkan kemarahan seperti itu. Ia mendoakan dan mengampuni orang-orang yang menyiksa diriNya sedemikian rupa dengan sangat sadis sampai mati. Secara logika sederhana, itu lebih serius daripada sekedar melihat orang berdagang di rumah dan akan memancing kemarahan lebih besar bukan? Tapi ternyata itu tidak memancing kemarahan Yesus. Yesus tetap tenang menjalani semuanya seperti apa yang dikehendaki Bapa. Tapi melihat orang-orang berdagang di Bait Suci, kemarahan Yesus timbul. Ini adalah satu-satunya hal yang membuat Yesus marah. Jika Yesus yang begitu sabar dan lembut hati hingga bisa marah seperti itu, tentu itu merupakan hal yang sangat serius. Apa yang membuat Yesus marah sedemikian rupa saat itu?

Kemarahan Yesus timbul karena melihat banyaknya orang yang mencari untung dengan memanfaatkan Tuhan. Kita mungkin bisa berkata bahwa kita tidak berdagang sapi atau burung di gereja, tetapi sadarkah kita bahwa ada banyak orang yang mencari Tuhan hanya untuk keuntungan semata? Dalam ayat 21 kita membaca: "Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri." Ini bicara mengenai motivasi dalam mengikuti Yesus. Ada banyak orang yang mau mengikut Yesus agar bisnisnya lancar, bisa mendapat untung besar, ada banyak pula orang yang berharap bisa mendapat jodoh, karirnya naik, sembuh dari penyakit dan sebagainya. Tentu saja Tuhan bisa menyediakan itu semua, itu tidak perlu diragukan. Namun semua itu seharusnya bukan menjadi prioritas utama. Seandainya kita diberitahu bahwa mengikut Yesus berarti harus siap sangkal diri, pikul salib, harus mengalami penderitaan, maka akan ada banyak orang yang mengundurkan diri. Mereka inilah yang meletakkan motivasi yang salah dalam mengikut Yesus.Mereka hanya melihat Tuhan sebagai pemberi berkat sebagai motivasi utama, dan bukan karena mereka mengasihi Tuhan. Ini adalah hal yang ironis dan keterlaluan. Kita harus sadar bahwa Tuhan sudah terlebih dahulu mengasihi kita. Cinta yang dimiliki Tuhan atas kita manusia sungguh teramat sangat besar. Bayangkan Tuhan yang begitu besar mau repot-repot mengurusi manusia di dunia yang sangat kecil di tengah alam semesta yang begitu luas. Dia rela mengambil rupa seorang hamba, disiksa dan mati di atas kayu salib demi menyelamatkan kita semua dari kebinasaan kekal. Ini sebuah misi penyelamatan yang mencengangkan, sebuah bentuk kasih terbesar yang pernah ada, the greatest love of all.

Apa yang menggerakkan Tuhan untuk itu bukanlah untuk keuntungan diriNya. Perhatikan ayat berikut: "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yohanes 3:16).  Lihatlah bahwa misi penyelamatan yang mencengangkan itu hadir karena didasari cinta kasih yang begitu besar kepada kita. Itulah motivasi Tuhan. Sebuah kasih ternyata bisa menggerakkan Tuhan untuk menyelamatkan kita secara langsung lewat penebusan Kristus. Jika Tuhan begitu mengasihi kita dan menganggap kita yang penuh dosa ini begitu berharga dan layak dicintai, tidakkah keterlaluan jika kita malah berhitung untung rugi untuk menjadi pengikut Yesus? Maka wajarlah jika Yesus pun begitu marah ketika melihat orang-orang yang datang mencari Tuhan untuk mencari keuntungan pribadi.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on December 04, 2013, 07:12:24 AM
Kita sudah diingatkan Yesus bahwa kita tidak akan pernah bisa mengabdi kepada dua tuan. "Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." (Matius 6:24). Dengan demikian prioritas haruslah jelas, motivasi kita pun juga harus benar. Ingatlah bahwa "Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka." (2 Korintus 5:15). Semua itu didasari kasih Bapa yang begitu besar, dan sudah seharusnya kita pun mendasari iman kita kepadaNya atas dasar kasih. Karena kita mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, raga dan roh kita. Karena kita tahu bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juru selamat, didalamNya ada pengharapan, ada kepastian dan jaminan keselamatan. Semua Dia berikan atas dasar kasihNya yang begitu besar pada kita, dan oleh karenanya sudah seharusnya kita pun mengasihiNya tanpa memandang untung rugi tentang hal-hal yang sifatnya fana. Apa yang menjadi motivasi kita hari ini untuk menerima Yesus? Apakah kita masih berpikir untuk mendapatkan laba besar, bisnis lancar, karir meningkat, jodoh datang, sakit disembuhkan, dan sebagainya, atau semata-mata karena kita mengasihi Yesus, yang sudah terlebih dahulu mengasihi kita justru ketika kita masih berlumur dosa? Mari periksa diri kita hari ini. Jika kita masih menemukan motivasi-motivasi untuk mencari keuntungan, berubahlah sekarang sebelum Yesus harus marah kepada kita dan menjungkirbalikkan semuanya.

Dasarkan penyerahan hidup kita kepada Tuhan atas dasar kasih dan bukan untuk mencari keuntungan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho (http://twitter.com/dailyrho)
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on December 05, 2013, 01:07:05 PM
http://www.renunganharianonline.com/
 Wednesday, December 4, 2013
Tanpa Mukjizat, Tidak Masalah

Ayat bacaan: Yohanes 10:41
======================
"Dan banyak orang datang kepada-Nya dan berkata: "Yohanes memang tidak membuat satu tandapun, tetapi semua yang pernah dikatakan Yohanes tentang orang ini adalah benar."

Saya masih ingin melanjutkan sedikit lagi mengenai motivasi mengikuti Yesus seperti dalam beberapa renungan sebelumnya. Selain ada banyak yang mengharapkan harta kekayaan, ada banyak pula yang mendasarkan imannya pada mukjizat. Percaya atau tidak, itu tergantung ada tidaknya mukjizat yang pernah dilihat atau pernah dialami langsung. Tidak jarang pula orang ragu dalam melayani karena merasa tidak bisa mendatangkan mukjizat. Benar, ada banyak hamba Tuhan yang diberkati secara luar biasa dengan menjadi perantara Tuhan dalam melakukan berbagai mukjizat. Lewat mereka Tuhan bekerja memberi kesembuhan, pelepasan dan sebagainya. Ini seharusnya bisa membuka mata kita akan kuasa Tuhan, betapa tidak ada yang mustahil bagi Dia. Yang sangat disayangkan, ada banyak orang mendasarkan keimanannya secara sempit hanya pada mukjizat, keajaiban, hal-hal mustahil yang jadi nyata dan sebagainya. Jika tidak ada mukjizat terjadi, berarti Tuhan tidak ada, minimal sedang dianggap sedang tidak berada ditempat, sedang tidak peduli, atau malah menganggap bahwa mereka mungkin dianggap Tuhan tidak sepenting orang lain. Ada banyak orang juga yang bersikap apatis, merasa bahwa menjalankan amanat agung itu bukanlah tugas mereka karena mereka tidak mampu membuat mukjizat seperti halnya para hamba Tuhan yang dipakai Tuhan untuk hal-hal seperti itu. Hanya mau melayani kalau bisa membuat mukjizat, kalau tidak bisa berarti itu bukan panggilan. Apakah benar seperti itu?

Memang benar, jika kita baca perjalanan banyak tokoh dalam alkitab, kita akan menemukan banyak mukjizat Tuhan yang hadir lewat hamba-hambaNya. Ambil contoh beberapa tokoh seperti Musa, Elia, Yesaya dan sebagainya, semua pernah menjadi perantara Tuhan dalam mendatangkan mukjizat. Setelah Yesus sendiri melakukan banyak mukjizat seperti menyembuhkan banyak orang sakit dan membangkitkan orang mati, para rasul dalam pelayanan mereka setelah kebangkitan Yesus pun berulang kali menunjukkan hal yang sama. Pertanyaannya sekarang, apakah orang hanya bisa percaya dan menerima Tuhan hanya lewat mukjizat semata? Apakah pelayanan harus didasari oleh ada tidaknya mukjizat? Haruskah itu menjadi dasar untuk mengikuti Yesus dan menjalankan AmanatNya yang agung? Apakah cara memberitakan injil hanya bisa dilakukan lewat kuasa kesembuhan dan talenta-talenta yang mendatangkan keajaiban? Tidak juga. Dalam hal ini, kita bisa belajar lewat Yohanes Pembaptis.

Sepanjang masa hidupnya, Yohanes Pembaptis bukanlah tokoh yang tercatat melakukan hal-hal ajaib. Ia tidak pernah melakukan tanda-tanda atau mukjizat apapun. Tapi perhatikan bahwa hal tersebut ternyata tidak membuat dia menjadi tokoh yang dilupakan. Dan yang lebih penting lagi, tanpa kemampuan membuat mukjizat, Yohanes tetap bisa memberitakan tentang Kristus dan menyelamatkan banyak orang. Lalu bagaimana cara yang dilakukan Yohanes? Ia melayani bukan dengan menyembuhkan, melainkan dengan menjadi saksi Kristus. Dalam kesahajaannya ia tampil memberi kesaksian bahwa Yesus adalah Anak domba Allah yang menghapus dosa dunia.

Mari kita baca ayatnya. "Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia." (Yohanes 1:29). Seperti itulah cara Yohanes. Ia mengabarkan berita keselamatan dengan cara yang sangat sederhana, yaitu memperkatakan tentang Yesus, dan ternyata hal tersebut cukup untuk membuat banyak orang percaya dan diselamatkan. Selain memperkatakan dan menjadi saksi Kristus, Yohanes juga memberitakan injil lewat memberi nasihat. Hal ini bisa kita ketahui dari Injil Lukas yang berbunyi: "Dengan banyak nasihat lain Yohanes memberitakan Injil kepada orang banyak." (Lukas 3:18).
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on December 05, 2013, 01:07:39 PM
Adalah benar bahwa sebenarnya kita semua telah diberi kuasa untuk melakukan hal-hal yang sama, bahkan lebih jika kita percaya pada Yesus. Yesus sendiri berkata: "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa;" (Yohanes 14:12), atau dalam kesempatan lain Yesus mengatakan: "Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu." (Lukas 10:19). Tapi kita harus maklum bahwa sebagian besar orang mungkin belum siap untuk itu. Kita butuh waktu untuk mengalami pertumbuhan iman terlebih dahulu untuk sampai kesana, atau mungkin juga karena mereka kurang percaya atau masih terhambat oleh dosa-dosa yang belum dibereskan. Atau mungkin juga memang panggilan kita bukan di bidang itu. Ada 5 jawatan seperti yang disebutkan dalam Efesus 4:11-13, dimana masing-masing punya bagian dan tugasnya sendiri-sendiri dalam menjalankan amanat Tuhan. Tapi ingatlah semua sama pentingnya. Yang pasti, jika kita tidak atau belum dipakai untuk mendatangkan mukjizat Tuhan, bukan berarti bahwa kita lepas dari tanggung jawab kita dalam menjalankan amanat agung seperti yang dipesankan Kristus. Ada tidaknya mukjizat bukan pula berarti kita tidak sanggup menjadi duta-duta Kerajaan Allah. Untuk memberitakan injil kita tidak dituntut untuk mampu membuat KKR, mampu menghidupkan orang mati, mampu menyembuhkan orang sakit, mampu melakukan berbagai mukjizat dan sebagainya, tapi secara sederhana lewat memperkatakan Yesus, mengenalkan siapa Yesus kepada saudara-saudara kita lewat kesaksian-kesaksian hidup kita, itu pun merupakan bentuk menjalankan tanggungjawab yang tidak kalah baiknya. Apa yang kita alami ketika kita berjalan bersama Yesus, dan saat kita telah mengalami Tuhan bisa kita angkat dalam serangkaian kata sebagai kesaksian kita. Di sisi lain, janganlah menggantungkan motivasi untuk mengikuti Yesus hanya karena hal-hal supranatural, karena itu bukanlah esensinya. Tuhan sudah terlebih dahulu mengasihi kita, menciptakan kita dengan sangat istimewa dan memberkati dengan anugrerah-anugerahNya yang sebenarnya tidak layak kita terima, termasuk anugerah keselamatan yang merupakan sebuah janji yang pasti. Dasari alasan mengikuti Yesus dengan motivasi-motivasi yang benar agar kita tidak salah arah dan tersesat dalam arus pemahaman yang keliru.

Mari belajar lewat sosok Yohanes Pembaptis. Ia adalah orang yang tidak membuat satu mukjizat pun, tetapi ia justru dipilih menjadi satu-satunya orang yang mendapat kehormatan untuk membaptis Yesus. Lewat caranya yang sederhana ia mampu membawa banyak orang mendengar kebenaran dan bertobat. Sebuah ayat jelas menggambarkan hal ini."Dan banyak orang datang kepada-Nya dan berkata: "Yohanes memang tidak membuat satu tandapun, tetapi semua yang pernah dikatakan Yohanes tentang orang ini adalah benar." (Yohanes 10:41). Karunia yang disediakan Tuhan bermacam-macam. Apapun karunia yang kita miliki tentu bisa dipakai untuk menjalankan tugas yang agung ini. Bahkan lewat cara hidup kita yang berkenan di hadapan Tuhan kita bisa memberi banyak kesaksian yang bisa menyentuh orang lain, membawa mereka untuk mengenal pribadi Yesus dan menyaksikan langsung bahwa hidup di dalam kebenaran firman akan mendatangkan sebuah bentuk kehidupan yang penuh sukacita. Kita bisa belajar dari Yohanes yang memperkatakan apa yang ia lihat, ia alami dan ia saksikan. Lewat itu, meski tanpa lewat mukjizat ia bisa membawa banyak jiwa untuk selamat. Jadi, ada mukjizat atau tidak, itu bukan alasan untuk tidak menjalankan Amanat Agung. Ada tidaknya mukjizat tidak seharusnya menjadi motivasi untuk mengikuti Yesus. Anda tidak bisa membangkitkan orang mati, belum pernah menyembuhkan lewat doa, atau merasa tidak punya mukjizat yang bisa dijadikan kesaksian untuk membawa orang mengenal Tuhan? Itu tidak masalah, sebab Yohanes Pembaptis sudah membuktikannya.

Bukan hanya melakukan mukjizat, tapi memperkatakan dan menjadi saksi Kristus pun merupakan cara yang tidak kalah baiknya dalam pemberitaan Injil

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho (http://twitter.com/dailyrho)
http://www.renunganharianonline.com/ (http://www.renunganharianonline.com/)
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on December 06, 2013, 02:21:07 PM
http://www.renunganharianonline.com/
 Thursday, December 5, 2013
To Whom Our Hearts Belong?

Ayat bacaan: 1 Petrus 3:15
==================
"Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan!"

Ketika menerangkan tentang hal mengumpul harta dalam Matius 6:19-24, Tuhan Yesus mengingatkan kita agar jangan salah oritentasi dalam mengumpul harta. Bukan harta di bumi yang penting untuk dikumpulkan, tpai di surga. Jika kita salah berpikir dengan menganggap bahwa sebuah hidup yang berpusat pada pengumpulan harta kekayaan bisa menjamin kebahagiaan dan kesempurnaan hidup, kenyataannya seringkali tidak demikian. Ada ngengat, karat dan pencuri yang siap menghabiskan berapapun jumlahnya dalam sekejap mata. Bukankah kita sering melihat hal tersebut, atau mungkin pernah mengalaminya? Saya pernah mengalaminya dan sejak itu mengerti bahwa mementingkan uang dalam hidup adalah sesuatu yang sia-sia dan keliru. Tuhan Yesus mengatakan "Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada." (Matius 6:21). Apa yang dikatakan Yesus itu sangatlah benar. Kita akan menaruh seluruh hati kita kepada apa yang kita anggap paling berharga. Pertanyaannya, dimana kita meletakkan hati kita hari ini? Apakah masih pada hal-hal yang didoktrin oleh dunia sebagai penjamin kebahagiaan atau kepada Penjaga Israel yang tidak terlelap dan tidak tertidur (Mazmur 121:4)? Pertanyaan kedua, jika kita memang meletakkan Yesus pada posisi paling utama, sebagai apa kita menempatkanNya? Apakah sebagai Tuhan atau hanya sebagai provider harta, bodyguard, dokter dan sejenisnya? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan penting yang harus sering-sering kita periksa agar jangan sampai ada motivasi-motivasi yang bergeser dalam hati kita.

So, who's ruling inside our heart today? The Kingdom of Myself yang menempatkan semuanya pada diri sendiri, The Kingdom of Evil yang berpusat pada iblis dan segala kejahatannya, atau The Kingdom of God yang menempatkan Tuhan sebagai yang memerintah dan berkuasa dalam diri kita? Dimana hati kita berada hari ini? Sebuah ayat yang dengan tegas menyebutkan apa yang seharusnya kita camkan dalam hati kita. Anggaplah diri kita seperti sebuah lembaga kerajaan, maka siapa yang memimpin akan sangat menentukan seperti apa diri kita. Know that there's a kingdom in our hearts, dan kita harus menentukan siapa yang menjadi pemimpin di dalamnya.

Petrus mengatakan sebuah pesan penting yang berbunyi sangat tegas: "Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan!" (1 Petrus 3:15). Dalam bahasa Inggrisnya dikatakan: "But in your hearts set Christ apart as hold (and acknowledge Him) as Lord." Ada versi lain pula yang mengatakannya dengan "Sanctify the Lord God in your hearts." Dari versi-versi tersebut kita bisa melihat bahwa itu berarti kita harus menguduskan, menjadikan dan mendeklarasikan atau mendedikasikan Yesus sebagai Penguasa tertinggi dalam hidup kita. Dan Petrus secara jelas mengatakan bahwa itu semua di mulai dari hati. Hatilah yang menjadi pusat kerajaan, dan siapa yang berkuasa disana akan sangat menentukan siapa dan bagaimana diri kita hari ini.

Begitu pentingnya hati, maka Alkitab berbicara banyak mengenai pentingnya menjaga hati tersebut. Sebuah ayat dalam Amsal berkata: "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." (Amsal 4:23). Mengapa hati harus dijaga dengan segala kewaspadaan? Lewat Yesus kita bisa mengetahui alasannya. "sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan." (Markus 7:21-22). Ini adalah sebuah daftar yang mengerikan. Dan Dia berkata: "Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang." (ay 23). Jika demikian, adalah sangat penting bagi kita untuk menguduskan hati kita lalu terus mempertahankan dan menjaga kekudusannya. Itu tidak mungkin kita lakukan jika kita membiarkan hal-hal selain Tuhan Yesus untuk menjadi Penguasa di dalamnya. Sebagaimana nasib sebuah negara atau kerajaan akan sangat tergantung dari siapa pemimpin atau rajanya, seperti itu pulalah hidup kita. Dan hati, sebagai pusat dari kehidupan butuh Sosok Pemimpin yang benar.
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on December 06, 2013, 02:21:37 PM
Kembali kepada ayat bacaan kita diatas, seruan penting lainnya bisa kita dapatkan. "sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus." (1 Petrus 1:16). Hal ini harus dicermati dengan sangat serius, "sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan." (Ibrani 12:14). Agar bisa menjadikan Yesus sebagai Raja yang bertahta dalam hati kita, kita harus mematikan segala sesuatu yang bisa merusak atau menggagalkan hal itu. Keinginan daging, hawa nafsu, godaan-godaan, pengaruh-pengaruh buruk dan lain-lain, semua itu haruslah bisa kita matikan. Tanpa itu hati kita tidak akan pernah bisa memperoleh Raja yang tepat. Firman Tuhan berkata "Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu." (Yakobus 4:10).

Sadar atau tidak, ada banyak hal di dalam diri kita masing-masing yang sebenarnya ingin memegang kendali atas hidup kita. Jangan-jangan Tuhan sudah terpinggirkan sejak lama dalam hati kita, hanya menempati sebagian kecil saja disana atau bahkan sudah tidak lagi punya tempat, sementara hal-hal lainnya justru lebih berkuasa atas diri kita. Kita mungkin merasa itulah kebebasan, tetapi sesungguhnya sebuah kebebasan atau kemerdekaan sejati hanya akan datang jika kita mengijinkan Yesus sendiri untuk berkuasa atas hati dan hidup kita. Siapa yang menjadi raja atas diri kita hari ini? Mari periksa hati kita masing-masing, dan tetapkanlah dengan benar, karena itu akan sangat menentukan arah hidup kita.

Hidup yang dipimpin Tuhan akan membawa kita ke dalam jalan keselamatan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho (http://twitter.com/dailyrho)
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on December 07, 2013, 02:57:04 PM
http://www.renunganharianonline.com/
 Friday, December 6, 2013
Menaruh Pikiran dan Perasaan dalam Kristus
webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Filipi 2:5
=================
"Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus"

Tidak terasa kita sudah berada di bulan Desember. Sebentar lagi kita akan merayakan Natal, mengenang dan mensyukuri kelahiran Sang Juru Selamat yang datang ke dunia, atas dasar kasih Allah yang begitu besar kepada kita, sehingga kita tidak lagi harus binasa melainkan beroleh kehidupan yang kekal, seperti yang tertulis dengan sangat jelas pada Yohanes 3:16. Bagaimana anda mengisi Natal tahun ini? Banyak diantara kita yang sudah mulai bersiap-siap untuk liburan, tukar menukar hadiah dengan orang-orang dekat yang kita kasihi dan berbagai perayaan lain. Beberapa pusat perbelanjaan sudah mulai berbenah mendekor dengan tema Natal, lagu-lagu Natal sehingga suasananya sudah sangat terasa. Kelahiran Yesus memang sepantasnya kita sikapi dengan sukacita. Sebagai manusia tentu kita akan merayakannya melalui berbagai kegiatan yang diisi dengan kegembiraan. Tapi kita harus juga berpikir, apakah semangat Natal hanyalah berbicara atau berkaitan dengan pesta dan berbagai perayaan lainnya saja? Jika kegiatan kita hanya berkutat dalam hal-hal tersebut, maka itu tandanya kita belumlah memahami hakekat kedatangan Kristus ke dunia.

Natal adalah saat dimana kita merayakan kelahiran Yesus Kristus ke dunia. Seperti yang saya sebutkan di atas tadi, Natal ada karena kasih Tuhan yang begitu besar atas kita. Tuhan merelakan AnakNya yang tunggal turun ke dunia, mengambil rupa sama seperti kita, menebus dosa-dosa kita semua agar kita tidak binasa, melainkan bisa memperoleh kehidupan yang kekal. Lewat karya penebusan Kristus hubungan kita dengan Tuhan dipulihkan, sehingga hari ini kita bisa "dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia" (Ibrani 4:16). Ini sebuah anugerah luar biasa yang bisa kita nikmati hanya oleh penebusan Kristus.

Hari ini mari kita lihat sebuah pesan Paulus yang sangat penting untuk kita perhatikan. "Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus" (Filipi 2:5). Pertama, lihatlah bahwa Yesus tidak menganggap bahwa kesetaraanNya dengan Allah harus dipertahankan. Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat kita, "yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia." (ay 6-7) Kedua, Yesus mau merendahkan diriNya untuk taat sepenuhnya menjalankan misi yang digariskan Tuhan sampai kepada kematianNya di atas kayu salib. Semua dilakukan demi menyelamatkan kita. "Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib." (ay 8). Ini semua Dia lakukan karena kasih yang begitu besar kepada kita, sehingga anugerah sebesar ini diberikan kepada kita yang sebenarnya tidak layak menerimanya. Lewat anugerah sebesar ini, sudah sepantasnya kita meneladani apa yang telah diperbuat Kristus untuk menjangkau sesama kita pula. Kita menaruh pikiran dan perasaan kita seperti halnya Yesus. We think the way He thinks, we give love the way He loves us. Tuhan Yesus memikirkan nasib manusia, Dia peduli dan mengasihi kita, dan karena itulah Natal ada. Jika Dia mau memikirkan nasib kita, tidakkah itu berarti bahwa kita pun harus merepresentasikan itu dengan mengasihi sesama kita juga?
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on December 07, 2013, 02:57:46 PM
Lewat pertobatan kita meninggalkan kehidupan lama kita yang penuh noda untuk diperbaharui dalam roh dan pikiran,  dan menggantikannya dengan sebentuk hidup sebagai manusia baru yang telah sesuai kehendakNya dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya sesuai kehendak Tuhan. Ayatnya berbunyi sebagai berikut: "yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya." (Efesus 4:22-24). Be constantly renewed in the spirit of your mind. Roh kita sudah diperbaharui, maka pemikiran kita pun seharusnya mengikuti itu. Pikiran dan perasaan adalah ruang-ruang yang harus selalu diisi dengan kebenaran karena keduanya bisa saling meracuni dan saling merusak, sehingga membuat hidup kita kacau apabila tidak diisi dengan kebenaran. Jadi meletakkan pikiran dan perasaan seperti Kristus akan membawa kita kepada sebuah kondisi kehidupan yang dinamis, indah dan penuh sukacita, hidup yang benar dan tentu akan mengarah kepada jaminan keselamatan yang telah dianugerahkan lewat karya penebusanNya.

Alangkah ironis jika kita yang seharusnya sudah diubahkan menjadi manusia baru tapi masih juga belum bisa menanggalkan berbagai pemikiran-pemikiran lama, masih terpusat pada kepentingan dan hal-hal yang menyenangkan atau memuaskan secara pribadi saja, tanpa tergerak sedikitpun untuk memikirkan saudara-saudara kita lainnya yang tengah menghadapi penderitaan.

Ada banyak orang yang tengah menangis memohon belas kasih akibat beratnya beban hidup yang harus mereka tanggung. Ada banyak yang masih membutuhkan pertolongan untuk meringankan beban mereka. Ketika Yesus sudah melakukan itu semua lewat kedatanganNya ke dunia ini, sudahkah kita merepresentasikan semangat Kristus itu bagi sesama kita? Apakah kita mau merendahkan diri kita juga untuk berkorban, melayani dan membantu saudara-saudara kita yang sedang menderita seperti halnya Yesus? Apakah kita meletakkan pikiran dan perasaan kita seperti Kristus, memiliki rasa belas kasih dan kerinduan untuk memberkati banyak orang, menjadi saluran berkat Tuhan kepada sesama?

Alangkah indahnya apabila Natal tahun ini kita isi dengan semangat melayani dan menjadi saluran berkat. Alangkah baiknya jika Natal tahun ini menjadi titik tolak kita untuk menempatkan pikiran dan perasaan kita seperti yang terdapat pula dalam Kristus. Marilah kita lebih peka dan peduli lagi terhadap sesama kita. Tidak akan ada perayaan Natal jika Kristus tidak datang ke dunia untuk menebus kita. Dia telah mengosongkan diri, mengambil rupa seorang hamba dan taat sampai mati di kayu salib sehingga memungkinkan kita untuk menikmati hadirat Tuhan hari ini dan mendapat jaminan keselamatan dalam kehidupan kekal. Demikian pula seharusnya kita bersikap. Semangat Natal sesungguhnya adalah semangat yang meneladani Kristus, dimana kita mau meluangkan waktu, tenaga dan sebagian dari yang kita miliki untuk membantu dan melayani sesama. Mereka pun ada dalam kasih Tuhan, mereka terlukis dalam telapak tanganNya dan tergambar dalam ruang mataNya. Tuhan mengasihi mereka sama seperti Tuhan mengasihi kita. Dan jika Tuhan saja mengasihi mereka, kita pun sudah selayaknya mengasihi mereka juga. Membantu mereka yang kekurangan, membagi sukacita dan berkat kepada mereka, sehingga mereka bisa tersenyum dan dapat merayakan kelahiran Kristus bersama kita tanpa harus menangis lagi. Tidak ada salahnya bagi kita untuk menyambut Natal dengan perayaan-perayaan penuh sukacita, tapi jangan lupakan mereka yang membutuhkan uluran tangan kita. Mari berbuat sesuatu agar merekapun dapat merasakan sukacita surgawi seperti kita dalam menyambut kelahiran Kristus.

Semangat Natal tergambar dari kepedulian terhadap sesama

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho (http://twitter.com/dailyrho)
http://www.renunganharianonline.com/ (http://www.renunganharianonline.com/)
Title: Re: renungan harian online
Post by: who_am_i on December 10, 2013, 07:53:51 AM
http://www.renunganharianonline.com/
 Monday, December 9, 2013
Flame On! (2)
(sambungan)

Ada banyak hal dalam hidup yang bisa menyebabkan kita terpuruk di titik nadir. Beberapa contoh sudah saya sampaikan dalam renungan bagian pertama kemarin. Itu bisa membuat orang menutup diri, bagai meletakkan diri di dalam kotak tertutup atau di bawah tempayan/gantang, tidak lagi mampu melihat potensinya apalagi mempergunakannya, dan akibatnya menjadi gagal bersinar. Karena itulah Firman Tuhan berk