ForumKristen.com

Iman Kristen => Ajaran Kristen => Started by: melangkahpasti on September 25, 2018, 06:05:28 PM

Title: Mencabut dan Melepas Hak Ke-anak-an - Pelajaran dari Perumpamaan Perginya Anak
Post by: melangkahpasti on September 25, 2018, 06:05:28 PM
Sebelumnya, saya mau sampaikan bahwa saya tahu bisa saja saya salah artikan mengenai perikob Anak yang Pergi.  Oleh karena itu, saya menerima masukan atas apa yang saya sampaikan.  Tapi mohon jangan off topic.  Topik ini khusus untuk membahas apakah hak ke-anak-an orang percaya dapat dicabut dan apakah hak ke-anak-an orang percaya dapat dilepas.

Mari kita berdiskusi dengan sehat.

Pelajaran dari Perumpamaan Perginya Sang Anak (Lukas 15:11-32)

Yohanes 1:12 – “Tetapi semua orang yang menerimaNya diberiNya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam namaNya.”

•   Apakah Anak perlu takut (kalau dia nakal) Bapa akan mencabut hak ke-anak-annya?  Tidak.  Selama dia berada bersama Bapa, dia aman.
•   Apakah perginya anak karena hak ke-anak-an dicabut Bapa?  Tidak. 
•   Apakah perginya anak karena hak ke-anak-an dilepas Anak? Iya. Anak yang pergi melepaskan hak warisnya.  Dia ambil dan setelah itu dia tidak ada hak lagi.
•   Apakah Bapa mencari Anak yang pergi ?  Tidak, anak pergi atas kehendak bebasnya untuk memilih pergi; dengan demikian, Bapa tidak dapat memaksanya pulang ke rumah.  Pada kedua perumpamaan sebelumnya, yang hilang dicari sampai ketemu (domba hilang dicari sampai dapat Lukas 15:4; dirham hilang dicari sampai ketemu Lukas 15:8). 
•   Apakah Bapa sudah tidak mau menerima kembali Anak yang pergi, jika dia mau kembali?  Tidak.  Bapa masih mau menerimanya kembali dengan sepenuh hati, bahkan Bapanya pergi lari mendapatkan dia, dst.nya.
•   Apakah Anak dapat menerima kembali hak-nya setelah ia kembali?  Iya, dapat.
•   Apakah Anak dapat memilih untuk tidak kembali?  Iya.  Ada anak yang kembali, ada yang tidak mau kembali.  Perumpamaan ini menjelaskan apa yang terjadi kalau anak kembali.
•   Pembelajarannya : kembali, hai anak-anak yang pergi.
Title: Re: Mencabut dan Melepas Hak Ke-anak-an - Pelajaran dari Perumpamaan Perginya Anak
Post by: melangkahpasti on September 26, 2018, 07:24:09 AM
Menjawab pertanyaan mengapa. 

Mengapa dikatakan bahwa Anak yang pergi telah melepaskan hak ke-anak-annya?  Jawaban : karena dia telah melepaskan hak waris-nya dan meninggalkan Bapa-nya.  Selama dia berada di luar, walaupun Bapanya mengasihi dia, Bapa sudah menganggap dia "mati" dan "hilang".  Ayat 32 -  kita patus bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.

Salam
Title: Re: Mencabut dan Melepas Hak Ke-anak-an - Pelajaran dari Perumpamaan Perginya Anak
Post by: HenHen on September 26, 2018, 08:11:14 AM
:)

sy tahu kira2 osas mau jawab apa

well, observe dulu ah

hahaha
Title: Re: Mencabut dan Melepas Hak Ke-anak-an - Pelajaran dari Perumpamaan Perginya Anak
Post by: alephtav on September 26, 2018, 10:51:46 AM
Maksudnya anda mau menjadikan perikop ini sebagai dasar ajaran keselamatan bisa hilang?
Title: Re: Mencabut dan Melepas Hak Ke-anak-an - Pelajaran dari Perumpamaan Perginya Anak
Post by: HenHen on September 26, 2018, 11:26:07 AM
barusan disebelah dia ngomong, kalo baca Alkitab dengan jujur.... dan blah blah blah

ini orang lg baca jujur

kalo menurut nalar kamu gak jujur
tunjukkanlah dimana ketidak jujuran dia
atau tunjukkan nalarmu gitu loh

bukannya malah ngasih pertanyaan gak mutu ;D

kalo emang ujung2nya bukan nalar tp percaya, ya udah gak perlu didiskusiin lg ;D
Title: Re: Mencabut dan Melepas Hak Ke-anak-an - Pelajaran dari Perumpamaan Perginya Anak
Post by: melangkahpasti on September 26, 2018, 12:09:55 PM
Maksudnya anda mau menjadikan perikop ini sebagai dasar ajaran keselamatan bisa hilang?

Hi Bro, kita lagi membahas perikob, bukan membahas dasar ajaran keselamatan.  Dasar ajaran tidak ditentukan oleh satu ayat atau satu perikob.   

Sekarang kita membahas perikob ini. 

Karena kita membahas perikob ini, tidak mengurangi nilai ayat-2 assurance of salvation.  Justru mereka saling berkaitan untuk memberikan suatu gambaran indah bagi kita - bahwa memang Yesus datang untuk memberitakan Kabar Baik yang sungguh-sungguh baik.

Salam

 
Title: Re: Mencabut dan Melepas Hak Ke-anak-an - Pelajaran dari Perumpamaan Perginya Anak
Post by: alephtav on September 26, 2018, 12:56:37 PM
Hi Bro, kita lagi membahas perikob, bukan membahas dasar ajaran keselamatan.  Dasar ajaran tidak ditentukan oleh satu ayat atau satu perikob.   

Sekarang kita membahas perikob ini. 

Karena kita membahas perikob ini, tidak mengurangi nilai ayat-2 assurance of salvation.  Justru mereka saling berkaitan untuk memberikan suatu gambaran indah bagi kita - bahwa memang Yesus datang untuk memberitakan Kabar Baik yang sungguh-sungguh baik.

Salam
Saya bertanya demikian karena anda menghubungkan perikop ini dengan Yoh 1:12.
Menurut saya perikop ini bukan tentang menjadi/tidak menjadi anak Allah.
Perikop ini adalah rangkaian dari 3 perumpamaan oleh Yesus mengenai sukacita Tuhan apabila seorang pendosa diketemukan.

Anda menghubungkan perikop ini dengan Yoh 1:12, menjadi seolah-olah kita bisa melepaskan diri untuk tidak lagi menjadi Anak Allah. Menurut Yohanes, menjadi anak Allah itu bukan sekedar punya hak waris, seperti di perumpamaan prodigal son. Menjadi anak Allah itu berarti diperanakan kembali (Yoh 1:13) dan orang itu mengalami proses dilahirkan kembali (Yoh 3:5).

Mengenai assurance of salvation, kalau ada sedikit aja aspek dari salvation yang bergantung pada manusia, maka tidak mungkin menjadikan salvation itu secure.

Demikian pandangan saya.

Title: Re: Mencabut dan Melepas Hak Ke-anak-an - Pelajaran dari Perumpamaan Perginya Anak
Post by: Sotardugur Parreva on September 26, 2018, 01:15:40 PM
Menjawab pertanyaan mengapa. 

Mengapa dikatakan bahwa Anak yang pergi telah melepaskan hak ke-anak-annya?  Jawaban : karena dia telah melepaskan hak waris-nya dan meninggalkan Bapa-nya.  Selama dia berada di luar, walaupun Bapanya mengasihi dia, Bapa sudah menganggap dia "mati" dan "hilang".  Ayat 32 -  kita patus bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.

Salam
Sebelum masuk ke respon terhadap pertanyaan @melangkahpasti, kalo menurut https://www.jesoes.com/index.php?hal=lihatPasal&injil=42&pasal=15&ayat=16#16, (https://www.jesoes.com/index.php?hal=lihatPasal&injil=42&pasal=15&ayat=16#16,) judul perikopnya ialah Perumpamaan tentang anak yang hilang, dan ayatnya ialah Luk 15:11-32. Judul perikopnya bukan Perumpamaan Perginya Anak.

Menurut pendapatku,  berdasar perikop Luk 15:11-32, jika dikatakan Anak yang pergi telah melepaskan hak ke-anak-annya, kukira kurang tepat. Justru, anak bungsu itu menggunakan hak keanakannya untuk memperoleh warisan, bukan melepas. Sifat keanakannya tidak lepas, walaupun dari ayat 19 aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa, ketahuan bahwa si anak itu merasa tidak layak disebut sebagai anak. Ayahnya sendiri memberi warisan yang menjadi hak anak bungsunya namun tidak melepas sifat keanakannya. Anak bungsu itu tetap anak sang ayah, walaupun dianggap sudah mati atau hilang.

Salam damai.
Title: Re: Mencabut dan Melepas Hak Ke-anak-an - Pelajaran dari Perumpamaan Perginya Anak
Post by: melangkahpasti on September 26, 2018, 01:31:49 PM
Hi Bro,

Apakah mungkin pandangan Bro dalam melihat perikob ini sebagaimana adanya perikob ini dipengaruhi oleh pandanga once saved always saved.  Just a thought, bukan accusation. 

Tapi ini tanggapan saya kenapa Prodigal Son adalah Orang Percaya

1. Bapa dalam perikob ini adalah Allah.  Prodigal Son hanya sah kalau dia adalah Anak.  Yohanes 1:12.  Bapa tidak memanggil non-believers sebagai Anaknya.
2. Jelas dalam Alkitab pemanggilan believers sebagai anak-anak Allah dan non-believers sebagai anak-anak iblis (1 Yohanes 3:10)
3. Prodigal Son hanya dapat menerima hak warisnya yang sah sebagai anak.  Pembantu, anak orang lain (apa saja namanya, anak tetangga, anak iblis), budak, budak orang lain, tidak mendapat warisan.
4. Keberadaan orang yang dipanggil Anak dalam rumah Bapanya adalah keberadaan yang benar-benar layaknya seorang anak.
3. Harus dipertanyakan kenapa dalam 2 perumpamaan sebelumnya, yang hilang dicari sampai ketemu, tapi disini yang pergi, dibiarkan pergi.  Konsekuensinya adalah yang pergi, pergi atas kehendaknya sendiri, tidak dapat dipaksakan untuk kembali. Kalau dicari atau dipaksa untuk kembali, Bapa akan mencari atau menyuruh orang suruhannya untuk mencari.
4. Keadaannya Anak yang pergi, kemudian kembali, DIPULIHKAN seperti SEMULA sewaktu dia Anak.  Tidak ada posisi awal non-believers sebagai Anak.

Itu adalah konsekuensi logis, dari sudut pandang saya.l

Salam.

Saya bertanya demikian karena anda menghubungkan perikop ini dengan Yoh 1:12.
Menurut saya perikop ini bukan tentang menjadi/tidak menjadi anak Allah.
Perikop ini adalah rangkaian dari 3 perumpamaan oleh Yesus mengenai sukacita Tuhan apabila seorang pendosa diketemukan.

Anda menghubungkan perikop ini dengan Yoh 1:12, menjadi seolah-olah kita bisa melepaskan diri untuk tidak lagi menjadi Anak Allah. Menurut Yohanes, menjadi anak Allah itu bukan sekedar punya hak waris, seperti di perumpamaan prodigal son. Menjadi anak Allah itu berarti diperanakan kembali (Yoh 1:13) dan orang itu mengalami proses dilahirkan kembali (Yoh 3:5).

Mengenai assurance of salvation, kalau ada sedikit aja aspek dari salvation yang bergantung pada manusia, maka tidak mungkin menjadikan salvation itu secure.

Demikian pandangan saya.
Title: Re: Mencabut dan Melepas Hak Ke-anak-an - Pelajaran dari Perumpamaan Perginya Anak
Post by: Sotardugur Parreva on September 26, 2018, 01:34:30 PM
Ijin nimbrung.
...
Anda menghubungkan perikop ini dengan Yoh 1:12, menjadi seolah-olah kita bisa melepaskan diri untuk tidak lagi menjadi Anak Allah. Menurut Yohanes, menjadi anak Allah itu bukan sekedar punya hak waris, seperti di perumpamaan prodigal son. Menjadi anak Allah itu berarti diperanakan kembali (Yoh 1:13) dan orang itu mengalami proses dilahirkan kembali (Yoh 3:5).

Mengenai assurance of salvation, kalau ada sedikit aja aspek dari salvation yang bergantung pada manusia, maka tidak mungkin menjadikan salvation itu secure.

Demikian pandangan saya.
Menurut pendapat dan pengimananku, keselamatan memang bisa hilang. Contohnya, Yudas Iskariot yang termasuk sebagai orang yang dipilih menjadi seorang dari 12 rasul.
Dengan terpilih sebagai seorang dari 12 rasul, kumaknai bahwa Yudas Iskariot memperoleh keselamatan, sebab dia senantiasa bersama jalan, kebenaran, dan hidup. Namun, dari Mat 26:24 "Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan" kumaknai bahwa Yudas Iskariot celaka (tidak selamat) karena Yudas Iskariot menyerahkan Yesus Kristus.

Salam damai.
Title: Re: Mencabut dan Melepas Hak Ke-anak-an - Pelajaran dari Perumpamaan Perginya Anak
Post by: melangkahpasti on September 26, 2018, 01:38:34 PM
Hi Bro, saya orang baru, baru semingguan.  Pernah sekali-2 masuk kemari, tapi jarang.  Thanks atas penyampaian pandangannya.  Inputan Bro bertolak belakang ya dengan pandangan Bro Alephtav. 

Kalau mengenai Perumpaan Anak Yang Hilang itu tidak ada Bro dalam Alkitab.  Itu tulisan itu tambahan untuk mempermudah orang mengerti perikobnya dalam membacanya.  Itu bukan ayat Alkitab.  Kalau saya mengatakan itu adalah Perumpamaan Anak Yang Pergi, saya tidak sedang melanggar apa yang Alkitab katakan.

Kalau menjawab pertanyaan Bro, adalah ayat 32.  Bapanya menganggap anaknya SUDAH MATI.

Salam

Sebelum masuk ke respon terhadap pertanyaan @melangkahpasti, kalo menurut https://www.jesoes.com/index.php?hal=lihatPasal&injil=42&pasal=15&ayat=16#16, (https://www.jesoes.com/index.php?hal=lihatPasal&injil=42&pasal=15&ayat=16#16,) judul perikopnya ialah Perumpamaan tentang anak yang hilang, dan ayatnya ialah Luk 15:11-32. Judul perikopnya bukan Perumpamaan Perginya Anak.

Menurut pendapatku,  berdasar perikop Luk 15:11-32, jika dikatakan Anak yang pergi telah melepaskan hak ke-anak-annya, kukira kurang tepat. Justru, anak bungsu itu menggunakan hak keanakannya untuk memperoleh warisan, bukan melepas. Sifat keanakannya tidak lepas, walaupun dari ayat 19 aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa, ketahuan bahwa si anak itu merasa tidak layak disebut sebagai anak. Ayahnya sendiri memberi warisan yang menjadi hak anak bungsunya namun tidak melepas sifat keanakannya. Anak bungsu itu tetap anak sang ayah, walaupun dianggap sudah mati atau hilang.

Salam damai.
Title: Re: Mencabut dan Melepas Hak Ke-anak-an - Pelajaran dari Perumpamaan Perginya Anak
Post by: melangkahpasti on September 26, 2018, 01:42:22 PM
Saya lanjutkan lagi penjelasan saya.

Ketika Anak pergi dari rumah Bapanya, dia tidak lagi menerima proteksi atas haknya sebagai anak dan dia tidak ada lagi tanggung jawabnya sebagai anak kepada Bapanya. 

Kalau dia ada di rumah adalah tanggung jawab Bapanya untuk memberikan perlindungan, makakanan, dsb. kepada dia.  Pada saat dia keluar, hak itu lepas.

Kalau dia ada di rumah adalah hak Bapanya untuk mendislin dia.  Pada saat dia keluar, pendisiplinan itu tidak ada. 

Salam

Hi Bro, saya orang baru, baru semingguan.  Pernah sekali-2 masuk kemari, tapi jarang.  Thanks atas penyampaian pandangannya.  Inputan Bro bertolak belakang ya dengan pandangan Bro Alephtav. 

Kalau mengenai Perumpaan Anak Yang Hilang itu tidak ada Bro dalam Alkitab.  Itu tulisan itu tambahan untuk mempermudah orang mengerti perikobnya dalam membacanya.  Itu bukan ayat Alkitab.  Kalau saya mengatakan itu adalah Perumpamaan Anak Yang Pergi, saya tidak sedang melanggar apa yang Alkitab katakan.

Kalau menjawab pertanyaan Bro, adalah ayat 32.  Bapanya menganggap anaknya SUDAH MATI.

Salam
Title: Re: Mencabut dan Melepas Hak Ke-anak-an - Pelajaran dari Perumpamaan Perginya Anak
Post by: alephtav on September 26, 2018, 01:46:28 PM
Hi Bro,

Apakah mungkin pandangan Bro dalam melihat perikob ini sebagaimana adanya perikob ini dipengaruhi oleh pandanga once saved always saved.  Just a thought, bukan accusation. 

Tapi ini tanggapan saya kenapa Prodigal Son adalah Orang Percaya

1. Bapa dalam perikob ini adalah Allah.  Prodigal Son hanya sah kalau dia adalah Anak.  Yohanes 1:12.  Bapa tidak memanggil non-believers sebagai Anaknya.
2. Jelas dalam Alkitab pemanggilan believers sebagai anak-anak Allah dan non-believers sebagai anak-anak iblis (1 Yohanes 3:10)
3. Prodigal Son hanya dapat menerima hak warisnya yang sah sebagai anak.  Pembantu, anak orang lain (apa saja namanya, anak tetangga, anak iblis), budak, budak orang lain, tidak mendapat warisan.
4. Keberadaan orang yang dipanggil Anak dalam rumah Bapanya adalah keberadaan yang benar-benar layaknya seorang anak.
3. Harus dipertanyakan kenapa dalam 2 perumpamaan sebelumnya, yang hilang dicari sampai ketemu, tapi disini yang pergi, dibiarkan pergi.  Konsekuensinya adalah yang pergi, pergi atas kehendaknya sendiri, tidak dapat dipaksakan untuk kembali. Kalau dicari atau dipaksa untuk kembali, Bapa akan mencari atau menyuruh orang suruhannya untuk mencari.
4. Keadaannya Anak yang pergi, kemudian kembali, DIPULIHKAN seperti SEMULA sewaktu dia Anak.  Tidak ada posisi awal non-believers sebagai Anak.

Itu adalah konsekuensi logis, dari sudut pandang saya.l

Salam.
Iya, mungkin juga.
Saya menghubungkan bahasan ini kepada keselamatan karena anda menghubungkan perikop ini dengan Yoh 1:12.

Saya melihat anda fokus kepada hak ke-anak-an yang tercabut.
Mungkin perlu diklarifikasi, menurut anda, apakah 'hak ke-anak-an' itu?

Kalau menurut saya kisah ini tidak ada fokus kepada hak ke-anak-an.

Saya lanjutkan lagi penjelasan saya.

Ketika Anak pergi dari rumah Bapanya, dia tidak lagi menerima proteksi atas haknya sebagai anak dan dia tidak ada lagi tanggung jawabnya sebagai anak kepada Bapanya. 

Kalau dia ada di rumah adalah tanggung jawab Bapanya untuk memberikan perlindungan, makakanan, dsb. kepada dia.  Pada saat dia keluar, hak itu lepas.

Kalau dia ada di rumah adalah hak Bapanya untuk mendislin dia.  Pada saat dia keluar, pendisiplinan itu tidak ada. 

Salam

Ya, saya setuju dengan penjabaran anda yang ini.
Title: Re: Mencabut dan Melepas Hak Ke-anak-an - Pelajaran dari Perumpamaan Perginya Anak
Post by: melangkahpasti on September 26, 2018, 01:55:34 PM
Hi Bro,

Terima kasih sudah menjawab dengan jujur. 

Mengenai hak ke-anak-an mungkin yang lain bisa bantu kasih inputan.   Saya mau belajar kok.

Saya juga kalau membaca ayat-ayat kepastian selamat, saya juga yakin ayat-ayat itu benar dan amin.  Makanya iman kita adalah suatu misteri.  Kita semua sedang sama-sama belajar. 

Salam



Iya, mungkin juga.
Saya menghubungkan bahasan ini kepada keselamatan karena anda menghubungkan perikop ini dengan Yoh 1:12.

Saya melihat anda fokus kepada hak ke-anak-an yang tercabut.
Mungkin perlu diklarifikasi, menurut anda, apakah 'hak ke-anak-an' itu?

Kalau menurut saya kisah ini tidak ada fokus kepada hak ke-anak-an.
Ya, saya setuju dengan penjabaran anda yang ini.
Title: Re: Mencabut dan Melepas Hak Ke-anak-an - Pelajaran dari Perumpamaan Perginya Anak
Post by: HenHen on September 26, 2018, 02:14:09 PM
hak anak termasuk apa saja?

mungkin ayat ini bisa membantu menjelaskan :

Roma 8
17. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.

so kalau dikatakan dari perumpamaan itu
sang anak telah melepas ahli warisnya, pergi keluar dari rumah Bapanya

maka tepatlah dikatakan : anak itu gak berhak lagi menerima janji-janji Allah

ini sesuai dengan apa yang dikatakan bro melangkahpasti sebelumnya, bahwa anak itu gak menerima "proteksi" lagi atas haknya

nah, tinggal di bedah lagi nih janji-janji Allah itu apa aja sih?
ada berkat, perlindungan, penyertaan, dll

dan tentunya keselamatan itu termasuk janji Allah bukan? :)
(biar cepet aja diskusinya nih sy langsung to the point)

Mazmur 119

41. Kiranya kasih setia-Mu mendatangi aku, ya TUHAN, keselamatan dari pada-Mu itu sesuai dengan janji-Mu,

hemat saya termasuk

nah silahkan kalo ada yang mau berargumen keselamatan itu bukan janji Allah :)
Title: Re: Mencabut dan Melepas Hak Ke-anak-an - Pelajaran dari Perumpamaan Perginya Anak
Post by: Sotardugur Parreva on September 26, 2018, 03:03:49 PM
Hi Bro, saya orang baru, baru semingguan.  Pernah sekali-2 masuk kemari, tapi jarang.  Thanks atas penyampaian pandangannya.  Inputan Bro bertolak belakang ya dengan pandangan Bro Alephtav.
Terima kasih.
Yup.
Pada poin tentang kehilangan keselamatan, memang pandangan saya berbeda dari pandangan @alephtav. Menurut pandanganku, keselamatan seseorang bisa hilang bilamana orang itu menentang perintah Tuhan walalupun orang itu sudah pernah dibaptis. Sementara menurut @alephtav, sejauh yang saya tangkap, sekali beroleh keselamatan, apapun yang dilakukan oleh orang itu, dia tetap selamat.

Kalau mengenai Perumpaan Anak Yang Hilang itu tidak ada Bro dalam Alkitab.  Itu tulisan itu tambahan untuk mempermudah orang mengerti perikobnya dalam membacanya.  Itu bukan ayat Alkitab.
Ough, begitukah?
Kalo dari sini: https://www.jesoes.com/index.php?hal=lihatPasal&injil=42&pasal=15#1 (https://www.jesoes.com/index.php?hal=lihatPasal&injil=42&pasal=15#1) ditampilkan bahwa pada Likas 15 terdapat tiga perikop yaitu Perumpamaan tentang domba yang hilang (Luk 15:1-7); Perumpamaan tentang dirham yang hilang (Luk 15:8-10); dan Perumpamaan tentang anak yang hilang (Luk 15:11-32).
Jika menurut @melangkahpasti Perumpaan Anak Yang Hilang itu tidak ada dalam Alkitab boleh tahu bagaimana landasan pikirnya?

Kalau saya mengatakan itu adalah Perumpamaan Anak Yang Pergi, saya tidak sedang melanggar apa yang Alkitab katakan.
Tentang hubungan @melangkahpasti dengan Alkitab, itu urusan @melangkahpasti. @Sotardugur Parreva hanya memberitahu apa yang kubaca dan kusalin dari jesoes.com=>Alkitab Online Bahasa Indonesia - Isi Alkitab Lengkap Bahasa ...

Kalau menjawab pertanyaan Bro, adalah ayat 32.  Bapanya menganggap anaknya SUDAH MATI.
Lhoh, seingatku, @Sotardugur Parreva tidak bertanya, kok.
@Sotardugur Parreva justru merespon pertanyaan @melangkahpasti.

Salam damai.
Title: Re: Mencabut dan Melepas Hak Ke-anak-an - Pelajaran dari Perumpamaan Perginya Anak
Post by: Sotardugur Parreva on September 26, 2018, 03:18:58 PM
Saya lanjutkan lagi penjelasan saya.

Ketika Anak pergi dari rumah Bapanya, dia tidak lagi menerima proteksi atas haknya sebagai anak dan dia tidak ada lagi tanggung jawabnya sebagai anak kepada Bapanya.
Yup. Berterima dari sudut pandang si anak. Tetapi ayahnya, senantiasa memandang anak bungsu itu tetap anaknya, walaupun anak bungsu itu menjauh dari ayahnya. 

Kalau dia ada di rumah adalah tanggung jawab Bapanya untuk memberikan perlindungan, makakanan, dsb. kepada dia.  Pada saat dia keluar, hak itu lepas.
Nah, jika @melangkahpasti membaca mulai dari ayat 11, maka pada ayat 13 @melangkahpasti menemukan pengertian bahwa anak bungsu itu menjual semua harta warisan dari ayahnya, lalu si anak bungsu pergi ke negeri yang jauh dari ayahnya. Maksudku, menurut penangkapanku, walaupun anak bungsu itu pergi meninggalkan ayahnya, apabila dia masih dalam jangkauan ayahnya, sang ayah akan tetap memelihara hidup anak bungsu. Tetapi karena anak bungsu pergi ke negeri yang jauh dari ayahnya, sang ayah tidak lagi mencukupi kebutuhan si anak bungsu.

Kalau dia ada di rumah adalah hak Bapanya untuk mendislin dia.  Pada saat dia keluar, pendisiplinan itu tidak ada.
Tidak kutangkap keterkaitan kisah itu dengan disiplin-mendisiplinkan.
Berkenankah @melangkahpasti menunjukkan sumber informasi disiplin-mendisiplinkan?

Salam damai.
Title: Re: Mencabut dan Melepas Hak Ke-anak-an - Pelajaran dari Perumpamaan Perginya Anak
Post by: melangkahpasti on September 26, 2018, 03:24:49 PM
Menjawab Bro Sotardugur Parreva


Terima kasih.
Yup.
Pada poin tentang kehilangan keselamatan, memang pandangan saya berbeda dari pandangan @alephtav. Menurut pandanganku, keselamatan seseorang bisa hilang bilamana orang itu menentang perintah Tuhan walalupun orang itu sudah pernah dibaptis. Sementara menurut @alephtav, sejauh yang saya tangkap, sekali beroleh keselamatan, apapun yang dilakukan oleh orang itu, dia tetap selamat.  Jawaban : noted.

Ough, begitukah?
Kalo dari sini: https://www.jesoes.com/index.php?hal=lihatPasal&injil=42&pasal=15#1 (https://www.jesoes.com/index.php?hal=lihatPasal&injil=42&pasal=15#1) ditampilkan bahwa pada Likas 15 terdapat tiga perikop yaitu Perumpamaan tentang domba yang hilang (Luk 15:1-7); Perumpamaan tentang dirham yang hilang (Luk 15:8-10); dan Perumpamaan tentang anak yang hilang (Luk 15:11-32).
Jika menurut @melangkahpasti Perumpaan Anak Yang Hilang itu tidak ada dalam Alkitab boleh tahu bagaimana landasan pikirnya?
Tentang hubungan @melangkahpasti dengan Alkitab, itu urusan @melangkahpasti. @Sotardugur Parreva hanya memberitahu apa yang kubaca dan kusalin dari jesoes.com=>Alkitab Online Bahasa Indonesia - Isi Alkitab Lengkap Bahasa ...  Jawaban : Bro, naskah aslinya tidak ada nomor halaman, tidak ada nomor ayat, tidak ada nomor pasal, tidak ada tajuk perikob.  Itu semua tidak tertulis pada naskah aslinya.  Kalau Bro coba lihat Alkitab di internet, silahkan download esword, ebible atau yang lain, dan ambil versi bahasa Indonesianya.  Disitu tidak ada kata-kata "Perumpamaan Anak Yang Hilang"

Ada atau tidaknya tulisan "Perumpaan Anak Yang Hilang" tidak memiliki pengaruh sama sekali terhadap Alkitab.  Karena penulis naskah aslinya tidak menulis kata-kata itu.  Waktu saya menulisnya "Perumpamaan Anak Yang Pergi", saya tidak melanggar Alkitab dalam naskah aslinya.  Kalau Anda beli Alkitab cetak dalam bahasa Inggris atau bahasa lain cetak, maka Anda akan temukan tidak ada Judul-judul itu apapun. 

Lhoh, seingatku, @Sotardugur Parreva tidak bertanya, kok.
@Sotardugur Parreva justru merespon pertanyaan @melangkahpasti.  Jawaban : Noted.  Tapi saya juga tidak sedang bertanya Bro di post-post sebelumnya.  Saya sedang penjelasan menjawab pertanyaan mengapa. 

Salam juga
Title: Re: Mencabut dan Melepas Hak Ke-anak-an - Pelajaran dari Perumpamaan Perginya Anak
Post by: melangkahpasti on September 26, 2018, 03:40:28 PM
Asik bisa berdikusi  :afro:

Menjawab Bro Sotardugur Parreva


Yup. Berterima dari sudut pandang si anak. Tetapi ayahnya, senantiasa memandang anak bungsu itu tetap anaknya, walaupun anak bungsu itu menjauh dari ayahnya.  Jawaban : memang, pandangan kita tidak berbeda.


Nah, jika @melangkahpasti membaca mulai dari ayat 11, maka pada ayat 13 @melangkahpasti menemukan pengertian bahwa anak bungsu itu menjual semua harta warisan dari ayahnya, lalu si anak bungsu pergi ke negeri yang jauh dari ayahnya. Maksudku, menurut penangkapanku, walaupun anak bungsu itu pergi meninggalkan ayahnya, apabila dia masih dalam jangkauan ayahnya, sang ayah akan tetap memelihara hidup anak bungsu. Tetapi karena anak bungsu pergi ke negeri yang jauh dari ayahnya, sang ayah tidak lagi mencukupi kebutuhan si anak bungsu.  Jawaban : kalau di dua perumpamaan sebelumnya, gembala pergi mencari domba sampai ketemu, tidak ada batas waktunya, bisa sehari, seminggu, setahun, 10 tahun.  kalau dinar, dia mencari sampai dapat.   

Kalau di perumpamaan Anak yang Pergi, Bapa tidak pergi mencari anaknya (sampai dapat).  Kalau dia terlalu capek, dia dapat menyuruh orang suruhannya untuk mencari anaknya (sampai dapat), tidak ada indikasi sama sekali di perikob ini, sehingga logisnya kita harus bertanya, kenapa berbeda dengan dua perumpamaan sebelumnya.
 

Tidak kutangkap keterkaitan kisah itu dengan disiplin-mendisiplinkan.
Berkenankah @melangkahpasti menunjukkan sumber informasi disiplin-mendisiplinkan?  Jawaban : adalah hak seorang Bapa mendisplin Anaknya (Ibrani 12:4-6).  Di perumpamaan Anak Yang Pergi, Bapa mendisiplin Anaknya. Bapanya mendisiplin artinya to disciple (memuridkan), kata yang sama dipakai di Ibrani 12:5 dan Wahyu 3:19 sebagai contoh.  Anak sulung berada di dalam rumah, dan Anak sulung didisplin oleh Bapanya (dimuridkan, diajar) ayat 31 dan 32.

Salam
Title: Re: Mencabut dan Melepas Hak Ke-anak-an - Pelajaran dari Perumpamaan Perginya Anak
Post by: Sotardugur Parreva on September 26, 2018, 04:02:33 PM
Menjawab Bro Sotardugur Parreva


Terima kasih.
Yup.
Pada poin tentang kehilangan keselamatan, memang pandangan saya berbeda dari pandangan @alephtav. Menurut pandanganku, keselamatan seseorang bisa hilang bilamana orang itu menentang perintah Tuhan walalupun orang itu sudah pernah dibaptis. Sementara menurut @alephtav, sejauh yang saya tangkap, sekali beroleh keselamatan, apapun yang dilakukan oleh orang itu, dia tetap selamat.  Jawaban : noted.
Terima kasih.

Ough, begitukah?
Kalo dari sini: https://www.jesoes.com/index.php?hal=lihatPasal&injil=42&pasal=15#1 (https://www.jesoes.com/index.php?hal=lihatPasal&injil=42&pasal=15#1) ditampilkan bahwa pada Lukas 15 terdapat tiga perikop yaitu Perumpamaan tentang domba yang hilang (Luk 15:1-7); Perumpamaan tentang dirham yang hilang (Luk 15:8-10); dan Perumpamaan tentang anak yang hilang (Luk 15:11-32).
Jika menurut @melangkahpasti Perumpaan Anak Yang Hilang itu tidak ada dalam Alkitab boleh tahu bagaimana landasan pikirnya?
Tentang hubungan @melangkahpasti dengan Alkitab, itu urusan @melangkahpasti. @Sotardugur Parreva hanya memberitahu apa yang kubaca dan kusalin dari jesoes.com=>Alkitab Online Bahasa Indonesia - Isi Alkitab Lengkap Bahasa ...  Jawaban : Bro, naskah aslinya tidak ada perikob, tidak ada nomor halaman, tidak ada nomor ayat, tidak ada nomor pasal, tidak ada tajuk perikob.  Itu semua tidak tertulis pada naskah aslinya.  Kalau Bro coba lihat Alkitab di internet, silahkan download esword, ebible atau yang lain, dan ambil versi bahasa Indonesianya.  Disitu tidak ada kata-kata "Perumpamaan Anak Yang Hilang"
Seingatku, yang kita bicarakan ialah Alkitab, bukan naskah Asli Alkitab. Di Amerika saja meski bukan naskah asli, namanya bukan Alkitab. Bahkan situs-situs yang Anda referensikan itu tidak satupun bernama Alkitab.

Ada atau tidaknya tulisan "Perumpaan Anak Yang Hilang" tidak memiliki pengaruh sama sekali terhadap Alkitab.  Karena penulis naskah aslinya, tidak ada kata-kata itu.  Waktu saya menulisnya "Perumpamaan Anak Yang Pergi", saya tidak melanggar Alkitab dalam naskah aslinya.  Kalau Anda beli Alkitab cetak dalam bahasa Inggris atau bahasa lain cetak, maka Anda akan temukan tidak ada Judul-judul itu apapun. 
Menurut dugaanku, jika @melangkahpasti cermat pada hubungan pengertian antar ayat di Lukas 15 itu, maka @melangkah pasti tidak merubah perikop yang ada dari ayat 11 ke ayat 32 menjadi dari ayat 16 ke ayat 32.

Lhoh, seingatku, @Sotardugur Parreva tidak bertanya, kok.
@Sotardugur Parreva justru merespon pertanyaan @melangkahpasti.  Jawaban : Noted.  Tapi saya juga tidak sedang bertanya Bro di post-post sebelumnya.  Saya sedang penjelasan menjawab pertanyaan mengapa. 
Salam juga
Ooo... begitu.
Maafkan, saya salah menangkap.

Dari yang kuungukan ini:
Menjawab pertanyaan mengapa. 

Mengapa dikatakan bahwa Anak yang pergi telah melepaskan hak ke-anak-annya?  Jawaban : karena dia telah melepaskan hak waris-nya dan meninggalkan Bapa-nya.  Selama dia berada di luar, walaupun Bapanya mengasihi dia, Bapa sudah menganggap dia "mati" dan "hilang".  Ayat 32 -  kita patus bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.

Salam
Kupikir, cukup membuka ruang untuk pendapat berbeda.

Salam damai.
Title: Re: Mencabut dan Melepas Hak Ke-anak-an - Pelajaran dari Perumpamaan Perginya Anak
Post by: melangkahpasti on September 26, 2018, 04:27:54 PM
Menjawab Bro Sotardugur Parreva

Seingatku, yang kita bicarakan ialah Alkitab, bukan naskah Asli Alkitab. Di Amerika saja meski bukan naskah asli, namanya bukan Alkitab. Bahkan situs-situs yang Anda referensikan itu tidak satupun bernama Alkitab.  Jawaban : mohon maaf, saya tidak tahu bro mau bawa kemana diskusi ini.  Coba lihat disini, disitu ada tulisan Alkitab http://www.sabda.org/sabdaweb/bible/chapter/?b=42&version=bis (http://www.sabda.org/sabdaweb/bible/chapter/?b=42&version=bis) . Ada gak tajuknya?  Gak ada.  Setelah anda menjawab, saya sudah tidak akan respon lagi, khusus untuk penjelasan ini.  Saya pikir sudah cukup.

Menurut dugaanku, jika @melangkahpasti cermat pada hubungan pengertian antar ayat di Lukas 15 itu, maka @melangkah pasti tidak merubah perikop yang ada dari ayat 11 ke ayat 32 menjadi dari ayat 16 ke ayat 32. Jawaban : tanya dong, memang saya salah ketik Bro, jangan bilang saya ubah dong (malu  :ashamed0002:).  Saya salah ketik.  Tuh sudah saya ubah. ;D

Ooo... begitu.
Maafkan, saya salah menangkap.  Jawaban : noted. 

Salam
Title: Re: Mencabut dan Melepas Hak Ke-anak-an - Pelajaran dari Perumpamaan Perginya Anak
Post by: alephtav on September 26, 2018, 04:45:29 PM
Hi Bro,

Terima kasih sudah menjawab dengan jujur. 

Mengenai hak ke-anak-an mungkin yang lain bisa bantu kasih inputan.   Saya mau belajar kok.

Saya juga kalau membaca ayat-ayat kepastian selamat, saya juga yakin ayat-ayat itu benar dan amin.  Makanya iman kita adalah suatu misteri.  Kita semua sedang sama-sama belajar. 

Salam
Maaf, saya tidak mengerti pembahasannya mau dibawa kemana.
Pertama saya kira arahnya ke keselamatan, ternyata bukan.
Kemudian saya kira anda fokus kepada tercabutnya hak ke-anak-an. Ternyata bukan juga.

ok, saya baru akan nimbrung lagi kalau sudah jelas arahnya.

Title: Re: Mencabut dan Melepas Hak Ke-anak-an - Pelajaran dari Perumpamaan Perginya Anak
Post by: Siip on September 26, 2018, 08:53:42 PM
Bro Melangkah Pasti ini punya ritme dan aturannya sendiri dlm diskusi,
Dia bebas membawa kmanapun arah diskusi sesuai maksud dia sendiri,
Namun kl pihak lain mbawa arah diskusi ke arah yg tdk sesuai keinginannya, dia tdk mau ikut.
Scr sepihak dia akan mngatakan arahnya melenceng.

Gaya diskusinya spt penari yg handal.
Title: Re: Mencabut dan Melepas Hak Ke-anak-an - Pelajaran dari Perumpamaan Perginya Anak
Post by: melangkahpasti on September 26, 2018, 09:40:40 PM
Hi Bro Siip. Thank you for your opinion. Saya akan menyetop pembicaraan kalau hal ini berlaku :
1. Pembicaraan sudah keluar topic. Kalau thread subjectnya saya yang buat; saya sudah bahas ayat atau perikob atau topik. Kalau topik bisa saja bahas luas tapi kalau terlalu luas, the true meaning is lost (sama seperti yang Bro Siip tulis di Thread Erastus Sabdono untuk menyudahi yang off topic); kalau ayat dan perikob harus fokus karena kalau sudah terlalu banyak ayat kesana kemari, yang baca kebanjiran ayat.Kalau threadnya orang lain buat, ya terserah mereka, tapi bolak baliknya, jadinya argue for the sake of arguing.
2. Tujuan saya ikut diskusi adalah to reason together, bukan masuk dalam heated debate. Kalau nadanya sudah heated debate, lebih baik saya mundur karena beretika dalam heated debate itu susah, yang keluar hanya personal judgment.
3. Kalau opini saya sudah saya sampaikan, terus lawan bicaranya terus cecerin, padahal sudah saya sampaikan, saya rasa sudah cukup. Saya tidak mau teruskan dengan pernyataan yang sama atau banyak tambahan lagi, jadi tidak ada habisnya.
4. Pada akhirnya walaupun saya tidak sependapat dengan orang lain, saya menghargai opini orang. Baca saja, saya baru semingguan disini, saya sudah bilang saya salah, saya malu, maaf, saya mengerti tapi tidak sependapat, ada penjelasan tambahan (tentang yahudi dan nonyahudi di topik Hukum Taurat) yang saya gak ngeh, saya terima dengan baik.

Salam
Title: Re: Mencabut dan Melepas Hak Ke-anak-an - Pelajaran dari Perumpamaan Perginya Anak
Post by: melangkahpasti on September 26, 2018, 10:00:40 PM
Hi Bro, saya gak mau bawa kemana2.  Saya hanya membahas perikob, memberikan pendapat saya, mengakui kalau saya bisa salah dan untuk itu saya menerima masukan terhadap pendapat saya.  Saya tahu bahwa pemikiran saya tidak sempurna, so challenge me. 

Mohon refer ke penjelasan awal saya.

Salam
Maaf, saya tidak mengerti pembahasannya mau dibawa kemana.
Pertama saya kira arahnya ke keselamatan, ternyata bukan.
Kemudian saya kira anda fokus kepada tercabutnya hak ke-anak-an. Ternyata bukan juga.

ok, saya baru akan nimbrung lagi kalau sudah jelas arahnya.
Title: Re: Mencabut dan Melepas Hak Ke-anak-an - Pelajaran dari Perumpamaan Perginya Anak
Post by: Sotardugur Parreva on September 26, 2018, 10:06:30 PM
Bro Melangkah Pasti ini punya ritme dan aturannya sendiri dlm diskusi,
Dia bebas membawa kmanapun arah diskusi sesuai maksud dia sendiri,
Namun kl pihak lain mbawa arah diskusi ke arah yg tdk sesuai keinginannya, dia tdk mau ikut.
Scr sepihak dia akan mngatakan arahnya melenceng.

Gaya diskusinya spt penari yg handal.
Betul.

1. Tanpa sungkan @melangkahpasti mengutip Luk 15:16-32 dan memberi nama perikop Perumpamaan Perginya Anak. Ketika kusampaikan bahwa Luk 15 terdiri dari 3 perikop, dan kutipannya (Luk 15:16-32) adalah bagian dari perikop Perumpamaan tentang anak yang hilang, @melangkahpasti berargumen bahwa naskah asli Alkitab tidak mengenal nomor ayat, tidak mengenal perikop.
Aneh, dia mengutip Luk 15:16-32 dan menamainya sebagai perikop Perumpamaan Perginya Anak, menampilkan dirinya seolah cukup piawai membagi ayat-ayat Alkitab menjadi perikop sendiri sesuai seleranya.

2. Aneh juga, @melangkahpasti memberi kesan bahwa dia mendasari sikapnya kepada naskah asli Alkitab yang tidak bernomor ayat dan tidak berperikop, sementara dia mengutip ayat bernomor 16 - 32 dan menamainya sebagai perikop. Menurut pendapatku, jika dia sungguh menitikberatkan pengutipannya pada naskah asli Alkitab, pastinya, dia tidak mengenal istilah perikop yang ditulisnya sebagai"perikob" dan juga tidak mengetahui ayat ke berapa sampai ayat berapa yang dikutipnya. 
Hi Bro, kita lagi membahas perikob, bukan membahas dasar ajaran keselamatan.  Dasar ajaran tidak ditentukan oleh satu ayat atau satu perikob. ...


3. Menurut pendapatku, selaku TS, @melangkahpasti justru aneh, mengharapkan partisipan lain menentukan arah diskusi.
...Jawaban : mohon maaf, saya tidak tahu bro mau bawa kemana diskusi ini.  Coba lihat disini, disitu ada tulisan Alkitab [url]http://www.sabda.org/sabdaweb/bible/chapter/?b=42&version=bis[/url] ([url]http://www.sabda.org/sabdaweb/bible/chapter/?b=42&version=bis[/url]) . Ada gak tajuknya?  Gak ada.  Setelah anda menjawab, saya sudah tidak akan respon lagi, khusus untuk penjelasan ini.  Saya pikir sudah cukup....


Dari ketiga poin kenaehan itu, @Sotardugur Parreva juga tidak akan berpartisipasi di trit ini sebelum mengteahui ke mana arah diskusi trit ini hendak dibangun.

Salam damai.
Title: Re: Mencabut dan Melepas Hak Ke-anak-an - Pelajaran dari Perumpamaan Perginya Anak
Post by: melangkahpasti on September 26, 2018, 10:13:13 PM
Betul.

1. Tanpa sungkan @melangkahpasti mengutip Luk 15:16-32 dan memberi nama perikop Perumpamaan Perginya Anak. Ketika kusampaikan bahwa Luk 15 terdiri dari 3 perikop, dan kutipannya (Luk 15:16-32) adalah bagian dari perikop Perumpamaan tentang anak yang hilang, @melangkahpasti berargumen bahwa naskah asli Alkitab tidak mengenal nomor ayat, tidak mengenal perikop.
Aneh, dia mengutip Luk 15:16-32 dan menamainya sebagai perikop Perumpamaan Perginya Anak, menampilkan dirinya seolah cukup piawai membagi ayat-ayat Alkitab menjadi perikop sendiri sesuai seleranya.

2. Aneh juga, @melangkahpasti memberi kesan bahwa dia mendasari sikapnya kepada naskah asli Alkitab yang tidak bernomor ayat dan tidak berperikop, sementara dia mengutip ayat bernomor 16 - 32 dan menamainya sebagai perikop. Menurut pendapatku, jika dia sungguh menitikberatkan pengutipannya pada naskah asli Alkitab, pastinya, dia tidak mengenal istilah perikop yang ditulisnya sebagai"perikob" dan juga tidak mengetahui ayat ke berapa sampai ayat berapa yang dikutipnya. 
3. Menurut pendapatku, selaku TS, @melangkahpasti justru aneh, mengharapkan partisipan lain menentukan arah diskusi.
Dari ketiga poin kenaehan itu, @Sotardugur Parreva juga tidak akan berpartisipasi di trit ini sebelum mengteahui ke mana arah diskusi trit ini hendak dibangun.

Salam damai.

Hi Bro, anda salah mengerti apa yang saya katakan mengenai Lukas 15:16-32.  Itu ayat 16 saya salah tulis dan sudah saya ubah.  Saya sidah tulis sebelumnya di penjelasan saya kepada anda bahwa saya malu :ashamed0002: karena salah ketik. Nih, saya minta maaf : dengan ini saya mohon maaf atas keteledoram saya dalam salah mengetik.

Kalau hal mengenai tujuan, lihat saja penjelasan saya sebelum ini di atas kepada Bro Alephtav.  Kalau penjelasan menfenai penggunaan nama, saya tetap berkesimpulan.  bahwa perikob itu tentang perginya anak. 

Kalau masalah penamaan tajuk perikob, saya sudah kasih reference Alkitab yang tidak ada tajuknya. 

Salam
Title: Re: Mencabut dan Melepas Hak Ke-anak-an - Pelajaran dari Perumpamaan Perginya Anak
Post by: Sotardugur Parreva on September 26, 2018, 10:27:04 PM
Hi Bro, saya gak mau bawa kemana2.  Saya hanya membahas perikob, memberikan pendapat saya, mengakui kalau saya bisa salah dan untuk itu saya menerima masukan terhadap pendapat saya.  Saya tahu bahwa pemikiran saya tidak sempurna, so challenge me

Mohon refer ke penjelasan awal saya.

Salam
Ooo... begitu.
Kutangkap, @melangkahpasti ingin menguji pendapat sendiri atas 'perikob' yang dipilihnya.
Begitu, bukan?

Menurut pendapatku:
1. Yang @melangkahpasti sebut 'perikob' itu, hanya menurut pemahaman @melangkahpasti sendiri. Secara umum, perikop yang ada di Luk 15, salah satunya ialah Perumpamaan tentang anak yang hilang (Luk 15:11-32).
Karena hal itu, @Sotardugur Parreva menyimpulkan, tidak perlu menguji pendapatmu itu, karena perikop yang dimaksud umum berbeda dari 'perikob' yang @melangkahpasti maksud. Pemahaman @melangkahpasti itu merupakan anomali. Gunakan saja sendiri.

2. @melangkahpasti berharap agar partisipan trit memberi challenge terhadap pendapat @melangkahpasti. Sayangnya, menulis perikop saja @melangkahpasti masih 'perikob', yang secara tidak langsung sudah kucoba kuminta untuk @melangkahpasti edit, namun tidak @melangkahpasti gubris. Kusimpulkan, @melangkahpasti tidak sungguh-sungguh minta di-challenge.

3. Walaupun @melangkahpasti menuliskan, "Saya bisa salah dan untuk itu saya menerima masukan terhadap pendapat saya", dari beberapa interaksi kita, kusimpulkan bahwa @melangkahpasti tidak membutuhkan masukan dari partisipan trit.

Salam damai.
Title: Re: Mencabut dan Melepas Hak Ke-anak-an - Pelajaran dari Perumpamaan Perginya Anak
Post by: melangkahpasti on September 26, 2018, 10:48:36 PM
Hi Bro, kalau nama perumpamaan, saya tetap berpendapat demikian, anaknya pergi dari rumah Bapanya.  Saya namakan demikian.  Mau bilang Anak Hilang juga saya gak masalah (tidak salah), tapi saya tidak pakai itu.

Saya seumur2 tidak tahu tulisan perikop itu pakai p  :D :D :D.  Ada alasan kenapa saya benar2 tdk tahu (tdk perlu ditulis disini).  Tinggal anda kasih tahu toh saya salah tulis.  Anda bilang anda kasih tahu bahwa saya salah tulis dan perlu saya edit. Dimana?  Bingung saya.

Kalau pendapat bahwa saya tidak perlu masukan, ya itu opini anda, ya sudah.

Salam



Ooo... begitu.
Kutangkap, @melangkahpasti ingin menguji pendapat sendiri atas 'perikob' yang dipilihnya.
Begitu, bukan?

Menurut pendapatku:
1. Yang @melangkahpasti sebut 'perikob' itu, hanya menurut pemahaman @melangkahpasti sendiri. Secara umum, perikop yang ada di Luk 15, salah satunya ialah Perumpamaan tentang anak yang hilang (Luk 15:11-32).
Karena hal itu, @Sotardugur Parreva menyimpulkan, tidak perlu menguji pendapatmu itu, karena perikop yang dimaksud umum berbeda dari 'perikob' yang @melangkahpasti maksud. Pemahaman @melangkahpasti itu merupakan anomali. Gunakan saja sendiri.
2. @melangkahpasti berharap agar partisipan trit memberi challenge terhadap pendapat @melangkahpasti. Sayangnya, menulis perikop saja @melangkahpasti masih 'perikob', yang secara tidak langsung sudah kucoba kuminta untuk @melangkahpasti edit, namun tidak @melangkahpasti gubris. Kusimpulkan, @melangkahpasti tidak sungguh-sungguh minta di-challenge.

3. Walaupun @melangkahpasti menuliskan, "Saya bisa salah dan untuk itu saya menerima masukan terhadap pendapat saya", dari beberapa interaksi kita, kusimpulkan bahwa @melangkahpasti tidak membutuhkan masukan dari partisipan trit.

Salam damai.
Title: Re: Mencabut dan Melepas Hak Ke-anak-an - Pelajaran dari Perumpamaan Perginya Anak
Post by: HenHen on September 27, 2018, 07:27:49 AM
buat Aleph mah sejelas2 apapun topiknya
ketika sudah mengarah ke non OSAS
jd gak jelas buat dia (happened so many times)
apalagi kl dia udah ga bisa jawab ;D

mungkin dia lagi resah juga mikir jawaban nalar vs percaya dia di thread sebelah

wkwkwkwk ;D
Title: Re: Mencabut dan Melepas Hak Ke-anak-an - Pelajaran dari Perumpamaan Perginya Anak
Post by: alephtav on September 27, 2018, 07:52:02 AM
Hi Bro, saya gak mau bawa kemana2.  Saya hanya membahas perikob, memberikan pendapat saya, mengakui kalau saya bisa salah dan untuk itu saya menerima masukan terhadap pendapat saya.  Saya tahu bahwa pemikiran saya tidak sempurna, so challenge me. 

Mohon refer ke penjelasan awal saya.

Salam
Masukan yang bagaimana yang anda harapkan?
Challenge anda mengenai hal apa?
Anda lempar topik, apanya yang mau dibahas?
Saya sudah refer ke penjelasan awal anda.
Saya coba bahas mengenai tercabutnya hak ke-anak-an, ternyata bukan itu maksud anda.
Saya coba bahas mengenai perbandingan prodigal son dengan orang percaya yang dijadikan anak Allah, bukan disitu pula maksud anda.

Jadi apa yang mau dibahas?
Title: Re: Mencabut dan Melepas Hak Ke-anak-an - Pelajaran dari Perumpamaan Perginya Anak
Post by: HenHen on September 27, 2018, 02:13:16 PM
•   Apakah perginya anak karena hak ke-anak-an dilepas Anak? Iya. Anak yang pergi melepaskan hak warisnya.  Dia ambil dan setelah itu dia tidak ada hak lagi.
•   Apakah Bapa mencari Anak yang pergi ?  Tidak, anak pergi atas kehendak bebasnya untuk memilih pergi; dengan demikian, Bapa tidak dapat memaksanya pulang ke rumah.  Pada kedua perumpamaan sebelumnya, yang hilang dicari sampai ketemu (domba hilang dicari sampai dapat Lukas 15:4; dirham hilang dicari sampai ketemu Lukas 15:8). 

Menjawab pertanyaan mengapa. 

Mengapa dikatakan bahwa Anak yang pergi telah melepaskan hak ke-anak-annya?  Jawaban : karena dia telah melepaskan hak waris-nya dan meninggalkan Bapa-nya.  Selama dia berada di luar, walaupun Bapanya mengasihi dia, Bapa sudah menganggap dia "mati" dan "hilang".  Ayat 32 -  kita patus bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.

Salam

bukannya udah sangat jelas point TS :)

kalo ternyata anak itu mati beneran di luar rumah Bapa
dalam keadaan bukan lagi ahli waris janji Bapa
dan janji Bapa itu salah satunya adalah keselamatan
maka....

nah sy udah kasih masukan apa yang termasuk janji2 yang berhak diterima ahli waris itu apa
hemat saya salah satu janji Allah adalah keselamatan, sesuai dengan ayat yang dibaca
kl emang ada sanggahan dipersilahkan kan
toh kita disini mau baca jujur kan? bukannya baca tapi telah dipengaruhi oleh doktrin? :)

ingat nih, yang ngomong anak itu udah mati adalah Bapa sendiri, bukan yang lain :)
dan anak itu hidup kembali ketika dia sudah kembali ke rumah Bapa sendiri, bukan Bapa yang nyari, jangan ubah perumpamaan ini, kl mau bahas perumpamaan tentang Bapa yang nyari ada di domba dan dirham yang hilang

entah kl bgini ga dibilang jelas mah mau diapain lagi deh
Title: Re: Mencabut dan Melepas Hak Ke-anak-an - Pelajaran dari Perumpamaan Perginya Anak
Post by: alephtav on September 27, 2018, 02:59:59 PM
bukannya udah sangat jelas point TS :)

kalo ternyata anak itu mati beneran di luar rumah Bapa
dalam keadaan bukan lagi ahli waris janji Bapa
dan janji Bapa itu salah satunya adalah keselamatan
maka....

nah sy udah kasih masukan apa yang termasuk janji2 yang berhak diterima ahli waris itu apa
hemat saya salah satu janji Allah adalah keselamatan, sesuai dengan ayat yang dibaca
kl emang ada sanggahan dipersilahkan kan
toh kita disini mau baca jujur kan? bukannya baca tapi telah dipengaruhi oleh doktrin? :)

ingat nih, yang ngomong anak itu udah mati adalah Bapa sendiri, bukan yang lain :)
dan anak itu hidup kembali ketika dia sudah kembali ke rumah Bapa sendiri, bukan Bapa yang nyari, jangan ubah perumpamaan ini, kl mau bahas perumpamaan tentang Bapa yang nyari ada di domba dan dirham yang hilang

entah kl bgini ga dibilang jelas mah mau diapain lagi deh
Seperti biasa, Henhen si mulut besar yang sok tau...
Tapi ya udah, silakan bahas deh. Saya coba ikuti.
Title: Re: Mencabut dan Melepas Hak Ke-anak-an - Pelajaran dari Perumpamaan Perginya Anak
Post by: ronny_het on September 27, 2018, 03:57:45 PM
Lieerr euy...Ini bicara mengenai warisan dunia atau warisan surgawi sih...Kok ada kalimat" melepaskan Hak Waris (Definisi dunia dan surgawi berbeda Bro)...
Hendaknya dalam menganalisa Firman Tuhan ga usah pakai ukuran dunia (bisa buat bingung dan perbantahan, contoh nyata : Persepuluhan)...
Cobalah sebelum menelaah FT, berdoa minta Hikmat-Nya dulu dengan kerendahan hati...agar kita dapat dimampukan memahami FT hanya dengan memakai cara pandang Kristus (Surgawi/Sesuai Kehendak-Nya)...

Salam Damai Temans...
Tuhan Memberkati...
Title: Re: Mencabut dan Melepas Hak Ke-anak-an - Pelajaran dari Perumpamaan Perginya Anak
Post by: melangkahpasti on September 28, 2018, 08:32:06 AM
Tinggal para brother yang tidak setuju dengan pandangan saya dalam perikop ini (tuh saya sudah benarkan kata "perikob" yang saya salah tulis selama ini  ;D) menjelaskan apa yang ditangkapnya saat dia membaca dan kita bertukar pikiran.

So far, ada yang setuju, ada yang tidak setuju.

Salam
Title: Re: Mencabut dan Melepas Hak Ke-anak-an - Pelajaran dari Perumpamaan Perginya Anak
Post by: ronny_het on September 28, 2018, 11:46:47 AM
Bedakan pemberian/Grace/Kasih Karunia Tuhan dengan Ajaran Tuhan Yesus yang lain...Yang bisa ditolak adalah Ajaran-Nya selain Grace tadi...
Pemberian Kasih karunia/Grace/Keselamatan/Penebusan Yesus tidak bisa ditolak oleh kita manusia, menurut saya...Sekali Tuhan berkehendak menyelamatkan manusia (Rancangan Penebusan) tidak ada yang bisa menolakNya...
Menurut saya, mengenai maksud, segala proses yang ada di dalam Rancangan Keselamatan/Penebusan tidak bisa diganggu gugat oleh Free Will manusia...Itu sudah Ketetapan Allah dan harus pasti terjadi/sudah (Penyaliban) dan akan(Kehidupan kekal buat kita)...(Grand Design Allah yang spesial/Prerogatif Allah)...

Salam Damai Temans...
Tuhan Memberkati...
Title: Re: Mencabut dan Melepas Hak Ke-anak-an - Pelajaran dari Perumpamaan Perginya Anak
Post by: melangkahpasti on September 28, 2018, 12:27:24 PM
Hi Bro,

Thank you penjelasannya.

Bro tidak menyampaikan apa pendapat Bro mengenai perikop ini, jadi saya tidak tahu.

Yang saya tahu adalah Bro ini berkeyakinan bahwa semua yang pernah hidup, sedang hidup dan akan hidup,  diselamatkan (pada akhirnya).  Betul kan?

Menurut pendapat saya,  kita semua harus dengan berani mempelajari, meneliti  apa yang setiap (ayat, perikop, dsb.nya) maksud, apa adanya, bukan berdasarkan pandangan kita atau pandangan separuh-2 kita (saya tidak mengatakan bahwa ini Bro).   Dan dengan meniliti semuanya, maka kita nanti dapat menyimpulkan gambaran luasnya, bukan sebaliknya.

Perikop ini tidak berdiri sendiri tentunya, perlu ada sinergi dengan perikop maupun ayat-ayat lainnya di tempat lain untuk mengerti maksud dari kehendak Allah sesungguhnya, seperti ayat-2 pamungkas osas (Ibrani 10:10 dan 14) maupun ayat-2 pamungkas keselamatan dapat hilang oleh karena perbuatan (Matius 25:1-13) atau ayat-2 keselamatan bagi seluruh manusia yang pernah, sedang dan bakal hidup (1 Tim 2:3-4; Yoh. 3:16; 2 Pet. 3:9).

Dan sebagai TS, saya buka thread membahas perikop ini dengan memberikan pendapat saya.  Pendapat yang lain seperti apa?  Can we reason together?  Setiap kata yang dipakai untuk menjelaskan maknanya, adalah sangat indah / memiliki tujuan.  Tidak sembarangan kenapa Tuhan menginspirasi penulis untuk memakai kata yang dipakai – agar supaya pengertiannya tepat.   Waktu kita membaca frase atau kata “telah mati” di Lukas 15:32 untuk mendeskripsikan apa yang dimaksud mengenai pendapat Bapa tentang Anaknya sebelum dia kembali, ya memang begitulah maksudnya.

Definisi “telah mati” = G3498 = nekros menurut Strong-Lite adalah

1.   One that has breathed his last, lifeless = yang telah menghembuskan nafas terakhirnya, tak bernyawa
2.   Deceased = almarhum
3.   Without life = tanpa kehidupan
4.   Spiritually dead = mati secara rohani

Itulah kata yang dipakai tentang Anak yang pergi dari Bapanya.

Salam


Bedakan pemberian/Grace/Kasih Karunia Tuhan dengan Ajaran Tuhan Yesus yang lain...Yang bisa ditolak adalah Ajaran-Nya selain Grace tadi...
Pemberian Kasih karunia/Grace/Keselamatan/Penebusan Yesus tidak bisa ditolak oleh kita manusia, menurut saya...Sekali Tuhan berkehendak menyelamatkan manusia (Rancangan Penebusan) tidak ada yang bisa menolakNya...
Menurut saya, mengenai maksud, segala proses yang ada di dalam Rancangan Keselamatan/Penebusan tidak bisa diganggu gugat oleh Free Will manusia...Itu sudah Ketetapan Allah dan harus pasti terjadi/sudah (Penyaliban) dan akan(Kehidupan kekal buat kita)...(Grand Design Allah yang spesial/Prerogatif Allah)...

Salam Damai Temans...
Tuhan Memberkati...
Title: Re: Mencabut dan Melepas Hak Ke-anak-an - Pelajaran dari Perumpamaan Perginya Anak
Post by: Maren Kitatau on September 28, 2018, 04:29:44 PM
Sebelumnya, saya mau sampaikan bahwa saya tahu bisa saja saya salah artikan mengenai perikob Anak yang Pergi.  Oleh karena itu, saya menerima masukan atas apa yang saya sampaikan.  Tapi mohon jangan off topic.  Topik ini khusus untuk membahas apakah hak ke-anak-an orang percaya dapat dicabut dan apakah hak ke-anak-an orang percaya dapat dilepas.

• Apakah Anak perlu takut (kalau dia nakal) Bapa akan mencabut hak ke-anak-annya?  Tidak.  Selama dia berada bersama Bapa, dia aman.
• Apakah perginya anak karena hak ke-anak-an dicabut Bapa?  Tidak. 
• Apakah perginya anak karena hak ke-anak-an dilepas Anak? Iya. Anak yang pergi melepaskan hak warisnya.  Dia ambil dan setelah itu dia tidak ada hak lagi.
• Apakah Bapa mencari Anak yang pergi ?  Tidak, anak pergi atas kehendak bebasnya untuk memilih pergi; dengan demikian, Bapa tidak dapat memaksanya pulang ke rumah.  Pada kedua perumpamaan sebelumnya, yang hilang dicari sampai ketemu (domba hilang dicari sampai dapat Lukas 15:4; dirham hilang dicari sampai ketemu Lukas 15:8). 
• Apakah Bapa sudah tidak mau menerima kembali Anak yang pergi, jika dia mau kembali?  Tidak.  Bapa masih mau menerimanya kembali dengan sepenuh hati, bahkan Bapanya pergi lari mendapatkan dia, dst.nya.
• Apakah Anak dapat menerima kembali hak-nya setelah ia kembali?  Iya, dapat.
• Apakah Anak dapat memilih untuk tidak kembali?  Iya.  Ada anak yang kembali, ada yang tidak mau kembali.  Perumpamaan ini menjelaskan apa yang terjadi kalau anak kembali.
• Pembelajarannya : kembali, hai anak-anak yang pergi.

On topic,
Kita lihat secara sederhana saja dulu
Suatu kejadian anak pergi dr keluarga
Bukan soal hak org dpt dicabut/dilepas

Tanggapanku mungkin memperkaya
Jika tak demikian, ya, kita diskusikan:

• Apakah Anak perlu takut (kalau dia nakal) Bapa akan mencabut hak ke-anak-annya?
Tidak
Sebab anak itu darah-daging-nya.

• Apakah perginya anak karena hak ke-anak-an dicabut Bapa? 
Tidak.
 
• Apakah perginya anak karena hak ke-anak-an dilepas Anak?
Wah, perlu kejelasan pengertian dilepas
Rasaku, dilepas itu dibiarkan begitu saja

Tapi penjelasanmu benar:
Dilepas = Anak pergi membawa hak warisnya. 
Dia ambil dan setelah itu dia rela tidak punya hak lagi.

• Apakah Bapa mencari Anak yang pergi ? 
Tidak,
Sebab anak tahu jalan kembali dan pergi sudah deal
Beda dgn sesuatu yg pergi tidak deal spt ternak, dll.

• Apakah Bapa sudah tidak mau menerima kembali Anak yang pergi, jika dia mau kembali?
Tidak. 
Bapa yg baik tetap terbuka menerimanya kembali
Berharap keluarga tetap bertambah besar sesuai ideal semula

• Apakah Anak dapat menerima kembali hak-nya setelah ia kembali?
Iya, anak tentu dpt menerima hak, jika masih ada.
Beda dgn pertanyaan, apakah anak dpt menuntut hak?
Beda juga dgn, apakah Bapak akan menawarkan hak lagi baginya?

Kurasa anak yg konsekwen tidak berpikiran itu lagi
Sing penting sudah selamat di rumah Bapak-nya
Dan ternyata dia masih dimanusiakan

• Apakah Anak dapat memilih untuk tidak kembali? 
Iya. Bahkan anak dpt memilih utk pergi lagi jika cekcok
[Mat.10:34] tetap berlaku jika abang-nya terus cemburu

Demikian tanggapanku pd pendapatmu, Mel!
Bukan hal pencabutan/pelepasan hak org benar

Salam Damai!
Title: Re: Mencabut dan Melepas Hak Ke-anak-an - Pelajaran dari Perumpamaan Perginya Anak
Post by: Sotardugur Parreva on September 28, 2018, 11:56:16 PM
Sebelumnya, saya mau sampaikan bahwa saya tahu bisa saja saya salah artikan mengenai perikobp Anak yang Pergi.  Oleh karena itu, saya menerima masukan atas apa yang saya sampaikan.  Tapi mohon jangan off topic.  Topik ini khusus untuk membahas apakah hak ke-anak-an orang percaya dapat dicabut dan apakah hak ke-anak-an orang percaya dapat dilepas.

Mari kita berdiskusi dengan sehat.

Pelajaran dari Perumpamaan Perginya Sang Anak (Lukas 15:11-32)

Yohanes 1:12 – “Tetapi semua orang yang menerimaNya diberiNya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam namaNya.”
...
@Sotardugur Parreva ingin menyampaikan hal-hal berikut ini:

1. Kupikir, perikop untuk Luk 15:11-32 berjudul Perumpamaan tentang anak yang hilang, bukan Perumpamaan Perginya Sang Anak.

2. Ayat 11-14 memberi pengertian bahwa si anak bungsu bukan meninggalkan ayahnya pada ayat 15 Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. Ayat 15 ini menceritakan tindakan si anak bungsu setelah dia menjual dan menghabiskan warisannya, yang disusul oleh bencana kelaparan. Ayat 13 dan 14 mengungkapkan: Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan iapun mulai melarat.
Artinya, kepergian si anak bungsu dari rumah ayahnya, bukan terjadi pada ayat 15, melainkan di ayat 13 pun, si anak bungsu sudah meninggalkan rumah ayahnya.

3. Dari segi metoda penyampaian, Injil Lukas itu Injil Sinoptik
Quote from: https://id.wikipedia.org/wiki/Injil_Sinoptik
Injil Sinoptik adalah Injil Perjanjian Baru dalam Alkitab yang ditulis oleh Matius, Markus, dan Lukas. Injil sinoptik seringkali menulis kisah yang sama tentang Yesus, namun dengan penjelasan dan panjang yang berbeda, namun memiliki urutan yang sama dan banyak menggunakan kata yang sama. Kemiripan di antara tiga buku tersebut sangat dekat sehingga banyak peneliti yang menandainya sebagai masalah sinoptik.
Hampir semua isi Injil Markus dapat dijumpai di Injil Matius, dan ada banyak kemiripan Injil Markus dan Injil Lukas. Namun, Injil Matius dan Injil Lukas mempunyai banyak materi yang sama, yang tidak dijumpai dalam Injil Markus.
Injil kanonikal ke-4, Injil Yohanes, berbeda jauh dengan sinoptik dalam Kristologi, pengajaran Yesus, mukjizat, gaya tulisan, dan lainnya.
Sementara Injil Yohanes bukan Injil Sinoptik.
Quote from: https://id.wikipedia.org/wiki/Injil_Yohanes
Injil Yohanes (Injil menurut Yohanes) adalah salah satu kitab yang terdapat di Perjanjian Baru. Kitab yang termasuk dalam rangkaian Injil kanonik ini memiliki gaya dan struktur yang membuatnya unik dan berbeda dengan ketiga Injil yang lain (Injil Markus, Injil Matius, Injil Lukas), meskipun begitu Injil ini tetap memuat wawasan peristiwa yang sama dengan ketiga Injil lainnya. Injil Yohanes menekankan tentang keilahian Yesus Kristus, Anak Allah. Tidak ada Injil lain yang menekankan sifat kemanusiawian sekaligus keilahianNya dengan tegas dan jelas selain Injil ini. Waktu penulisannya diperkirakan terjadi pada tahun 40-140 M. Memang tidak disebutkan dengan jelas siapa yang menulis Injil ini, tetapi Yohanes anak Zebedeus adalah orang yang diperkirakan menulisnya.
Berdasar kedua kutipan di atas, maka meski Luk 15:11-32 menggunakan kosa kata "anak", itu tidak identik sama arti dengan "anak" pada Yoh 1:12.

Bahwa "anak" pada Luk 15:11-32, itu adalah biologis, sementara pada Yoh 1:12 bukan biologis.

Salam damai.
Title: Re: Mencabut dan Melepas Hak Ke-anak-an - Pelajaran dari Perumpamaan Perginya Anak
Post by: Sotardugur Parreva on September 29, 2018, 12:38:00 AM
...
•   Apakah Anak perlu takut (kalau dia nakal) Bapa akan mencabut hak ke-anak-annya?  Tidak.  Selama dia berada bersama Bapa, dia aman.
Meski pada beberapa sisi "takut" dan "hormat" mempunyai kesamaan, yaitu mengartikan sikap tunduk atau takluk, menurut pendapatku, seorang anak harus hormat pada orang tuanya, bukan takut.
Tapi, sebentar.
Pada Luk 15:11-32, yang tertulis ialah "anak", bukan "Anak" (dengan kapital) kecuali pada awal kalimat, mengapa @melangkahpasti mempertanyakan perihal "Anak" (dengan kapital)? Jadinya ialah melangkah pasti salah. Meski hanya mengubah huruf dari huruf netral menjadi huruf kapital, itu melangkah pasti salah.

•   Apakah perginya anak karena hak ke-anak-an dicabut Bapa?  Tidak.
Pada kisah Luk 15:11-16 tidak kutemukan ayah dari si anak bungsu mencabut hak keanakan si anak bungsu.

•   Apakah perginya anak karena hak ke-anak-an dilepas Anak? Iya. Anak yang pergi melepaskan hak warisnya.  Dia ambil dan setelah itu dia tidak ada hak lagi.
Tidak kutemukan si anak bungsu melepaskan hak warisnya. Justru anak bungsu menggunakan hak warisnya, di mana dia meminta warisan dari si ayah. Kupikir, meski hak warisnya telah digunakan, namun si anak bungsu itu tetap sebagai anak dari ayahnya. Penggunaan hak waris tidak menghapus statusnya sebagai anak.

•   Apakah Bapa mencari Anak yang pergi ?  Tidak, anak pergi atas kehendak bebasnya untuk memilih pergi; dengan demikian, Bapa tidak dapat memaksanya pulang ke rumah.  Pada kedua perumpamaan sebelumnya, yang hilang dicari sampai ketemu (domba hilang dicari sampai dapat Lukas 15:4; dirham hilang dicari sampai ketemu Lukas 15:8).
Yup. @Sotardugur Parreva juga memandang bahwa si ayah tidak mencari anak bungsu yang pergi, sementara dua perumpamaan sebelumnya, yang hilang dicari sampai dapat.
Pencarian dilakukan karena yang hilang tidak mempunyai akal, harus dituntun. Domba tidak mempunyai akal seperti akal manusia, domba adalah hewan. Meski domba punya naluri, rasa lapar, haus, dll, namun domba tetap hewan.
Sementara dirham, adalah benda mati yang dijadikan alat tukar. Dirham tidak dapat bergerak sendiri seperti domba.
Nah, kalo domba yang dapat bergerak sendiri dicari, apalagi dirham yang adalah benda mati. Harus dicari.
Berbeda dengan si anak bungsu yang adalah manusia yang mempunyai akal. Yang punya akal, seharusnya dapat menentukan pilihan, apakah patut memberontak/protes, atau harus bersikap taat.

•   Apakah Bapa sudah tidak mau menerima kembali Anak yang pergi, jika dia mau kembali?  Tidak.  Bapa masih mau menerimanya kembali dengan sepenuh hati, bahkan Bapanya pergi lari mendapatkan dia, dst.nya.
Tidak kutemukan tulisan "Bapa"(dengan kapital) di Luk 15:11-32 kecuali karena awal kalimat, melainkan "bapa".
Sependek penangkapanku, si bapa tidak memutuskan bahwa anak bungsu itu bukan lagi anaknya walaupun anak bungsu itu meminta dibagi warisan. Anak bungsu itu meminta warisan, si bapa memberi tanpa memutuskan hubungan ayah-anak.

•   Apakah Anak dapat menerima kembali hak-nya setelah ia kembali?  Iya, dapat.
Nah, di sini, kupikir, @Sotardugur Parreva harus menanyakan, hak apa lagi yang @melangkahpasti maksudkan?

•   Apakah Anak dapat memilih untuk tidak kembali?  Iya.  Ada anak yang kembali, ada yang tidak mau kembali.  Perumpamaan ini menjelaskan apa yang terjadi kalau anak kembali.
Pada kisah itu, tidak kutemukan anak yang meninggalkan ayahnya selain si anak bungsu. Jika @melangkahpasti menemukan, silahkan kemukakan.

•   Pembelajarannya : kembali, hai anak-anak yang pergi.
Okey, simpulan pelajaran seperti itu berterima di logikaku.

Salam damai.
Title: Re: Mencabut dan Melepas Hak Ke-anak-an - Pelajaran dari Perumpamaan Perginya Anak
Post by: melangkahpasti on September 30, 2018, 09:48:48 AM
Hi Bro Maren Kitatau,

Thank you atas penjelasannya.  Saya mengerti.  Dalam banyak hal (hampir semua) kita sependapat.  Yang terpenting dan utama bahwa dua anak menggambarkan orang percaya.    Saya sudah menjelaskan kenapa saya berpendapat bahwa perikop ini memberi gambaran bahwa hak ke-anak-an dapat dilepas, jadi saya tidak menanggapi pernyataan Bro yang mengatakan tidak demikian,  saya dapat memahami pendapatmu. 

Saya punya dua pertanyaan untuk Bro untuk saya dapat lebih mengerti mengenai pendapat Bro :

Menurut Bro kan : Apakah Anak dapat memilih untuk tidak kembali?  [/b]
Iya. Bahkan anak dpt memilih utk pergi lagi jika cekcok
[Mat.10:34] tetap berlaku jika abang-nya terus cemburu 

Pertanyaan : (a) apa yang terjadi pada anak kalau anak memilih untuk tidak kembali?
(b) bagaimana aplikasi (a) dalam kehidupan rohani sehari-hari orang percaya?

Itu saja sih.  Mari kita berdiskusi dengan damai.  :afro:

Salam
Title: Re: Mencabut dan Melepas Hak Ke-anak-an - Pelajaran dari Perumpamaan Perginya Anak
Post by: melangkahpasti on September 30, 2018, 09:56:50 AM

@Sotardugur Parreva ingin menyampaikan hal-hal berikut ini:

1. Kupikir, perikop untuk Luk 15:11-32 berjudul Perumpamaan tentang anak yang hilang, bukan Perumpamaan Perginya Sang Anak.

2. Ayat 11-14 memberi pengertian bahwa si anak bungsu bukan meninggalkan ayahnya pada ayat 15 Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. Ayat 15 ini menceritakan tindakan si anak bungsu setelah dia menjual dan menghabiskan warisannya, yang disusul oleh bencana kelaparan. Ayat 13 dan 14 mengungkapkan: Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan iapun mulai melarat.
Artinya, kepergian si anak bungsu dari rumah ayahnya, bukan terjadi pada ayat 15, melainkan di ayat 13 pun, si anak bungsu sudah meninggalkan rumah ayahnya.

3. Dari segi metoda penyampaian, Injil Lukas itu Injil SinoptikSementara Injil Yohanes bukan Injil Sinoptik.Berdasar kedua kutipan di atas, maka meski Luk 15:11-32 menggunakan kosa kata "anak", itu tidak identik sama arti dengan "anak" pada Yoh 1:12.

Bahwa "anak" pada Luk 15:11-32, itu adalah biologis, sementara pada Yoh 1:12 bukan biologis.

Salam damai.

Hi Bro Sotardugur,

Sehubungan dengan tanggapanmu, boleh saya bertanya terlebih dahulu, karena saya membaca  tapi tidak jelas dengan penjelasanmu. 

Bapa itu siapa?

Anak (bungsu dan sulung) itu siapa?

Salam

 
Title: Re: Mencabut dan Melepas Hak Ke-anak-an - Pelajaran dari Perumpamaan Perginya Anak
Post by: Sotardugur Parreva on September 30, 2018, 04:00:47 PM
Hi Bro Sotardugur,
Hai juga, @melangkahpasti.

Sehubungan dengan tanggapanmu, boleh saya bertanya terlebih dahulu, karena saya membaca  tapi tidak jelas dengan penjelasanmu. 
Bapa itu siapa?
Oh, kurang tertangkap oleh @melangkahpasti?
Padahal, @sotardugur Parreva sudah berupaya menyajikannya cukup jelas.
Kuduga, @melangkahpasti tidak mengetahui siapa itu ayah pada perikop itu karena @melangkahpasti memenggal perikopnya, yang dimulai seharusnya dari ayat 11, tetapi @melangkahpasti membacanya mulai dari ayat 16. Di ayat 11 tercatat: Yesus berkata lagi: "Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki". Dari ayat 11 itu, pembaca harusnya mengetahui bahwa ayah yang dimaksud ialah seorang laki-laki yang mempunyai dua anak laki-laki. Yesus tidak menyebut nama laki-laki itu. Juga, Yesus tidak menjelaskan apakah ayah itu sudah duda, atau istrinya sedang pergi TKW ke luar negri.

Anak (bungsu dan sulung) itu siapa?
Itu sudah @melangkahpasti jawab, anak-anak di situ ialah anak dari si ayah, mereka itu anak sulung dan anak bungsu. Yesus tidak menyebut nama. Menurut dugaanku, setiap pembaca bebas hendak mengartikan siapa saja kedua anak itu, sepanjang dalam ikatan pertalian yang sesuai, sulung (lahir lebih dahulu) dan bungsu (lahir kemudian).

Salam
Semoga menjadi lebih jelas.
Salam damai.
Title: Re: Mencabut dan Melepas Hak Ke-anak-an - Pelajaran dari Perumpamaan Perginya Anak
Post by: melangkahpasti on September 30, 2018, 04:42:11 PM
Hi Bro, jauh dari jelas, for the benefit of the doubt, saya anggap anda belum ngerti maksud saya.

Setiap perumpamaan dalam Alkitab adalah sebuah object lesson.  Pribadi2 yang ada dalam perumpamaan itu menggambarkan siapa dalam kehidupan (rohani).

Dalam perumpamaan ini :

Bapa menggambarkan siapa?
Anak sulung menggambarkan siapa?
Anak bungsu menggambarkan siapa?


Salam


Hai juga, @melangkahpasti.
Oh, kurang tertangkap oleh @melangkahpasti?
Padahal, @sotardugur Parreva sudah berupaya menyajikannya cukup jelas.
Kuduga, @melangkahpasti tidak mengetahui siapa itu ayah pada perikop itu karena @melangkahpasti memenggal perikopnya, yang dimulai seharusnya dari ayat 11, tetapi @melangkahpasti membacanya mulai dari ayat 16. Di ayat 11 tercatat: Yesus berkata lagi: "Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki". Dari ayat 11 itu, pembaca harusnya mengetahui bahwa ayah yang dimaksud ialah seorang laki-laki yang mempunyai dua anak laki-laki. Yesus tidak menyebut nama laki-laki itu. Juga, Yesus tidak menjelaskan apakah ayah itu sudah duda, atau istrinya sedang pergi TKW ke luar negri.
Itu sudah @melangkahpasti jawab, anak-anak di situ ialah anak dari si ayah, mereka itu anak sulung dan anak bungsu. Yesus tidak menyebut nama. Menurut dugaanku, setiap pembaca bebas hendak mengartikan siapa saja kedua anak itu, sepanjang dalam ikatan pertalian yang sesuai, sulung (lahir lebih dahulu) dan bungsu (lahir kemudian).
Semoga menjadi lebih jelas.
Salam damai.
Title: Re: Mencabut dan Melepas Hak Ke-anak-an - Pelajaran dari Perumpamaan Perginya Anak
Post by: Sotardugur Parreva on September 30, 2018, 09:11:18 PM
Hi Bro, jauh dari jelas, for the benefit of the doubt, saya anggap anda belum ngerti maksud saya.

Setiap perumpamaan dalam Alkitab adalah sebuah object lesson.  Pribadi2 yang ada dalam perumpamaan itu menggambarkan siapa dalam kehidupan (rohani).

Dalam perumpamaan ini :

Bapa menggambarkan siapa?
Anak sulung menggambarkan siapa?
Anak bungsu menggambarkan siapa?

Salam
Oh, terima kasih.
Kupikir, namanya menggambarkan, berarti bukan yang sebenarnya. Di perumpamaan itu tertulis "Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki", tidak kutemukan informasi bahwa itu menggambarkan siapapun. Lhah, selaku penggagas trit, jika di pemahaman @melangkahpasti itu menggambarkan siapa, @melangkahpasti dong yang mengemukakan apa yang @melangkahpasti maksudkan. 
Mengingat trit ini @melangkahpasti yang memulai dengan meminta pandangan partisipan lain, maka kukemukakan pendapatku. @melangkah pasti menanyakan siapa yang digambarkan oleh perumpamaan yang @melangkahpasti ganti judul itu, kukemukakan yang kupahami, dan itu tidak @melangkahpasti tangkap apalagi terima, mau bagaimana lagi?

Ya sudah, ternyata dugaanku semula bahwa @melangkahpasti tidak memerlukan pandangan partisipan lain, memang sudah mendekati hal yang sebenarnya.
Saya undur, silahkan berdiskusi dengan partisipan lain.
Berinteraksi dengan @melangkahpasti menambah kekayaan pemahaman kejiwaan partisipan forum ini.

Salam damai.
Title: Re: Mencabut dan Melepas Hak Ke-anak-an - Pelajaran dari Perumpamaan Perginya Anak
Post by: viruskasih on September 30, 2018, 09:37:53 PM
Hi Bro, jauh dari jelas, for the benefit of the doubt, saya anggap anda belum ngerti maksud saya.

Setiap perumpamaan dalam Alkitab adalah sebuah object lesson.  Pribadi2 yang ada dalam perumpamaan itu menggambarkan siapa dalam kehidupan (rohani).

Dalam perumpamaan ini :

Bapa menggambarkan siapa?
Anak sulung menggambarkan siapa?
Anak bungsu menggambarkan siapa?
Numpang nanya dikit, bray :

Nurut elo, kisah perumpaaman tentang anak yang hilang itu, benaran ada atau hanya karangan (imajinasi) Yesus Kristus doang?

Kalo nurut gue sih, beneran ada, bray.

(11) Yesus berkata lagi: "Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki.
Title: Re: Mencabut dan Melepas Hak Ke-anak-an - Pelajaran dari Perumpamaan Perginya Anak
Post by: melangkahpasti on October 01, 2018, 05:26:26 AM
Hi Bro,

Saya terheran-heran membaca jawaban anda.  Bagaimana anda mengetahui pesan di balik sebuah perumpamaan kalau anda tidak mau tahu tentang object lessonnya?  Penggambaran pribadi dalam suatu object lesson adalah sebuah keniscayaan.  Kalau tidak, kita bisa menggambarkan ayah dalam cerita itu sebagai siapa saja, seperti iblis dan anaknya sebagai siapa saja, seperi malaikat atau manusia.

Saya coba mencari di internet apakah ada jawaban dari perumpamaan Lukas 15:11-32 yang tidak menggambarkan siapapun.  Sejauh ini saya tidak menemukan.  Ini contoh jawaban yang berbeda-beda:

http://gospelhall.org/index.php/faqs/107-questions-about-friends-and-family-relationships/3202-is-the-prodigal-son-a-backsliding-believer-or-a-lost-sinner (http://gospelhall.org/index.php/faqs/107-questions-about-friends-and-family-relationships/3202-is-the-prodigal-son-a-backsliding-believer-or-a-lost-sinner)

http://gospelhall.org/index.php/faqs/107-questions-about-friends-and-family-relationships/3202-is-the-prodigal-son-a-backsliding-believer-or-a-lost-sinner (http://gospelhall.org/index.php/faqs/107-questions-about-friends-and-family-relationships/3202-is-the-prodigal-son-a-backsliding-believer-or-a-lost-sinner)

https://gracegems.org/Pink/prodigal_son.htm (https://gracegems.org/Pink/prodigal_son.htm)

Bagaimana anda menuduh saya mau pemahaman saya harus menjadi pemahamanmu, kamu punya hak atas pemahamanmu kok.  Dari awal kamu masuk dalam pembicaraan dengan kesan menuduh saya kok, jadi memang susah ya mau diskusinya.  Padahal saya hanya mau tahu kamu melihat pribadui2 sebagai siapa untuk memahami pendapatmu.

Salam


Oh, terima kasih.
Kupikir, namanya menggambarkan, berarti bukan yang sebenarnya. Di perumpamaan itu tertulis "Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki", tidak kutemukan informasi bahwa itu menggambarkan siapapun. Lhah, selaku penggagas trit, jika di pemahaman @melangkahpasti itu menggambarkan siapa, @melangkahpasti dong yang mengemukakan apa yang @melangkahpasti maksudkan. 
Mengingat trit ini @melangkahpasti yang memulai dengan meminta pandangan partisipan lain, maka kukemukakan pendapatku. @melangkah pasti menanyakan siapa yang digambarkan oleh perumpamaan yang @melangkahpasti ganti judul itu, kukemukakan yang kupahami, dan itu tidak @melangkahpasti tangkap apalagi terima, mau bagaimana lagi?

Ya sudah, ternyata dugaanku semula bahwa @melangkahpasti tidak memerlukan pandangan partisipan lain, memang sudah mendekati hal yang sebenarnya.
Saya undur, silahkan berdiskusi dengan partisipan lain.
Berinteraksi dengan @melangkahpasti menambah kekayaan pemahaman kejiwaan partisipan forum ini.

Salam damai.
Title: Re: Mencabut dan Melepas Hak Ke-anak-an - Pelajaran dari Perumpamaan Perginya Anak
Post by: melangkahpasti on October 01, 2018, 06:05:55 AM
Hi Bro,

Menurut saya, perumpamaan ke3 sama seperti kedua perumpamaan sebelumnya dalam pasal 15, tidak beneran ada, tapi menggambarkan kasih Bapa Surgawi kepada kita.  Alasan saya ada sbb:

1.  Domba : gembala mana yang mau meninggalkan 99 dombanya untuk mencari 1 sampai dapat.  Kalau hitung2an, nilai satu domba tidak sebanding dengan nilai 99 domba.  99 domba ditinggalin begitu saja.

2. Dirham :setelah menemukan satu dirham yang hilang, dia berpesta dengan teman2 dan tetangganya.  Hitung punya hitung biayanya (kemungkinan) lebih tinggi atau samalah dengan 1 dirham yang ditemukan.  It beats the purpose of looking for the lost coin.

3.  Anak : bagaimana seorang Bapa, tidak memarahi atau menegur anaknya ketika anaknya minta warisannya, malah dikasih dan diperbolehkan pergi.  Bahkan manusia normal merasa bahwa memang anaknya tidak memiliki hak lagi (seperti yang dirasakan oleh anak bungsu ayat 18-19).  Bukan itu saja, sang ayah menerima anaknya tanpa memarahi atau menegur.   Ini menggambarkan kasih seorang ayah yang tidak normal.  Memang kasih Bapa luar biasa.

Begitu pendapat saya.  Kalau pendapat Bro, kenapa Bro mengganggap bahwa itu beneran?

Salam


Numpang nanya dikit, bray :

Nurut elo, kisah perumpaaman tentang anak yang hilang itu, benaran ada atau hanya karangan (imajinasi) Yesus Kristus doang?

Kalo nurut gue sih, beneran ada, bray.

(11) Yesus berkata lagi: "Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki.
Title: Re: Mencabut dan Melepas Hak Ke-anak-an - Pelajaran dari Perumpamaan Perginya Anak
Post by: Sotardugur Parreva on October 01, 2018, 11:04:15 AM
Dari @Sotardugur Parreva untuk trit ini, "Sudah selesai".

Salam damai.
Title: Re: Mencabut dan Melepas Hak Ke-anak-an - Pelajaran dari Perumpamaan Perginya Anak
Post by: Maren Kitatau on October 01, 2018, 05:41:25 PM
Hi Bro Maren Kitatau,
Saya punya dua pertanyaan untuk Bro untuk saya dapat lebih mengerti mengenai pendapat Bro :
Menurut Bro kan : Apakah Anak dapat memilih untuk tidak kembali?  [/b]
Iya. Bahkan anak dpt memilih utk pergi lagi jika cekcok
[Mat.10:34] tetap berlaku jika abang-nya terus cemburu 

Pertanyaan : (a) apa yang terjadi pada anak kalau anak memilih untuk tidak kembali?
(b) bagaimana aplikasi (a) dalam kehidupan rohani sehari-hari orang percaya?

Org percaya.
Kita bandingkan saja dulu anak manja di PL
Dgn anak bungsu di perumpamaan ini, Mel.

Anak bungsu biasanya anak kesayangan bapaknya dan umumnya manja
Spt Yusuf anak no-11, kesayangan Yakub, ia manja tapi mikir hal2 muskil
Maka walau ia jadi budak di Mesir, difitnah, dipenjara, Yusuf tetap berbuah

Anak bungsu yg ini hanya ingin foya2 saja
Tak mampu berkarya di ladang ternak “babi”
Makannya pun maunya yg redi, "ampas", ya, sulit.

Maka dia belum bisa mandiri bersama Tuhan
Dia lebih percaya pd bapaknya utk selamat bisa makan
Dan benar, bapaknya menyambutnya dgn segala kekurangannya

Kalau dia tidak kembali ke rumah bapaknya
Tentu dia tidak selamat dan akan mati kelaparan
Sebab dia hanya tahu makan yg redi dan foya2 saja

Salam Damai!
Title: Re: Mencabut dan Melepas Hak Ke-anak-an - Pelajaran dari Perumpamaan Perginya Anak
Post by: Maren Kitatau on October 01, 2018, 05:44:38 PM
Dari @Sotardugur Parreva untuk trit ini, "Sudah selesai".

Bro, SP!
Di trit "Perumpamaan pokok anggur", kau baru komen.
Aku sudah komenin komenmu
Pls lanjutkan!

Salam Damai!
Title: Re: Mencabut dan Melepas Hak Ke-anak-an - Pelajaran dari Perumpamaan Perginya Anak
Post by: melangkahpasti on October 01, 2018, 08:42:37 PM
Hi Bro,

Saya melihat alur kesimpilanmu atas perikop ini didasari oleh perenungan yang menyeluruh, walaupun mungkin dalam beberapa hal, kita agak berbeda, tapi kesimpulanmu mantap.  Pada akhirnya, kita semua perlu balik ke pelukan Bapa.

Salam

Org percaya.
Kita bandingkan saja dulu anak manja di PL
Dgn anak bungsu di perumpamaan ini, Mel.

Anak bungsu biasanya anak kesayangan bapaknya dan umumnya manja
Spt Yusuf anak no-11, kesayangan Yakub, ia manja tapi mikir hal2 muskil
Maka walau ia jadi budak di Mesir, difitnah, dipenjara, Yusuf tetap berbuah

Anak bungsu yg ini hanya ingin foya2 saja
Tak mampu berkarya di ladang ternak “babi”
Makannya pun maunya yg redi, "ampas", ya, sulit.

Maka dia belum bisa mandiri bersama Tuhan
Dia lebih percaya pd bapaknya utk selamat bisa makan
Dan benar, bapaknya menyambutnya dgn segala kekurangannya

Kalau dia tidak kembali ke rumah bapaknya
Tentu dia tidak selamat dan akan mati kelaparan
Sebab dia hanya tahu makan yg redi dan foya2 saja

Salam Damai!
Title: Re: Mencabut dan Melepas Hak Ke-anak-an - Pelajaran dari Perumpamaan Perginya Anak
Post by: Maren Kitatau on October 02, 2018, 03:36:15 PM
Hi Bro,
Saya melihat alur kesimpilanmu atas perikop ini didasari oleh perenungan yang menyeluruh, walaupun mungkin dalam beberapa hal, kita agak berbeda, tapi kesimpulanmu mantap.  Pada akhirnya, kita semua perlu balik ke pelukan Bapa.

Ya!
Perbedaan itu hrs ada, agar kita terus berpikir
Jika perbedaan itu pantang, kita menggenang
Lalu membusuk karena sudah merasa mapan

Salam Damai!