Author Topic: Baptisan Selam Mutlak!?  (Read 6684 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

April 27, 2014, 03:41:57 PM
Reply #20
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 13019
Di topik ini saya berusaha menyampaikan pembaptisan yang benar Alkitabiah: diselam, bukan cara lain.

Dan anda mengalihkan topik pembaptisan dalam Tritunggal, sedangkan saya bicara baptisan selam bukan baptisan dalam nama siapa.

Dan anda berlanjut tidak peduli mau cara apa asalkan dalam nama Tritunggal.

Semakin menjauh aja nih Bro dari ajaran Alkitab.

salam.


Kan sudah saya katakan, selama dibaptis dengan format Allah Tritunggal, maka sah.
Tetapi, kalau dibaptis BUKAN dengan Nama Allah Tritunggal, maka apapun cara baptisnya TIDAK SAH.

Apa masih gak paham juga?

Sekarang mau membawa diskusi ke arah jauh jauhan dari Alkitab?

Gimana sih anda ini, brur?
April 27, 2014, 03:43:59 PM
Reply #21
  • FK - Full Member
  • ***
  • Posts: 117
  • Denominasi: bukan denominasi
Lhoh, kalau anda sendiri yang sudah menyerah ya monggo mundur saja, atau minta tutup lapak.

Silahkan anda intropeksi,

anda yang mengalihkan topik, bilang saya mengalihkan topik,

anda yang tidak fokus, bilang saya yang tidak fokus.

saya sih tidak mau berkeras siapa yang benar, namun hanya meluruskan diskusi saja supaya tidak melenceng.

Memang sudah jelas kok, mau ditutup juga tidak apa2. Karena tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan.

Topik saya jarang ada melantur ngarol ngidul satu topik bisa oot aneka ria topik oot.

salam.
April 27, 2014, 03:47:00 PM
Reply #22
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 13019
Silahkan anda intropeksi,

anda yang mengalihkan topik, bilang saya mengalihkan topik,

anda yang tidak fokus, bilang saya yang tidak fokus.

saya sih tidak mau berkeras siapa yang benar, namun hanya meluruskan diskusi saja supaya tidak melenceng.

Memang sudah jelas kok, mau ditutup juga tidak apa2. Karena tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan.

Topik saya jarang ada melantur ngarol ngidul satu topik bisa oot aneka ria topik oot.

salam.

Malah curcol, brur?

Pertanyaan anda sesuai judul topik sudah saya jawab, ini entah yang keberapa kalinya.

Kan sudah saya katakan, selama dibaptis dengan format Allah Tritunggal, maka sah.
Tetapi, kalau dibaptis BUKAN dengan Nama Allah Tritunggal, maka apapun cara baptisnya TIDAK SAH.

April 27, 2014, 03:49:05 PM
Reply #23
  • FK - Full Member
  • ***
  • Posts: 117
  • Denominasi: bukan denominasi
Saya lebih memilih diskusi dengan members lain yang lebih fokus,

apa yang sudah jelas tinggal anda terima saja, tidak perlu debat ngarol ngidul gak tentu arah.

salam.
April 27, 2014, 03:52:48 PM
Reply #24
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 13019
Saya lebih memilih diskusi dengan members lain yang lebih fokus,

apa yang sudah jelas tinggal anda terima saja, tidak perlu debat ngarol ngidul gak tentu arah.

salam.


Sudah saya katakan, anda TIDAK PUNYA HAK SEDIKITPUN untuk melarang saya mereply post anda.
Anda BOLEH tidak menjawab reply saya untuk post anda jika anda tidak mampu.

Tetapi kalau anda tidak mampu menjawab, dan mengatakan saya yang ngalor ngidul, itu jelas anda melakukan ad hominem

Paham cara berforum, brur?

 :coolsmiley:
April 28, 2014, 05:20:29 AM
Reply #25
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 1046
  • Denominasi: Umum
Saya hanya sharing sedikit tulisan dari seorang theolog yaitu Ps Bobby MTh, barangkali bermanfaat  :afro:

Quote
ASAL MULA BAPTISAN PERCIK
Penulis: Ps Bobby MTh


Dalam tulisan ini, sebagai pembelajar sejarah gereja saya ingin menggali mengenai asal mula baptisan secara percik. Pendekatan yang dilakukan tentu saja pendekatan Akademis Historis (sejarah). Saya tidak membahas secara teologis – dogmatis karena tentunya setiap gereja yang melakukan baptisan percik mempunyai alasan teologis – dogmatis tersendiri yang saya hormati.
Saya berusaha mencari jawaban yang obyektif dari sisi sejarah/historisitas mengenai asal mula berkembangnya tradisi baptisan percik dalam gereja. Dari hasil penelitian sejarah ada 5 faktor yang dapat ditulis:

Pertama: Kitab Didache (diperkirakan ditulis sekitar tahun 100-120) yg ditemukan pada tahun 1873 oleh Philotheos Bryennios, Direktur Sekolah Tinggi Teologi Yunani di Konstantinopel dan dipublikasikan pada 1883, memuat cara baptis secara percik sebagai pengganti cara baptis selam, jika jumlah air yang dibutuhkan tidak memadai.
Berikut teksnya, “Concerning Baptism. And concerning baptism, baptize this way: Having first said all these things, baptize into the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Spirit, in living water. But if you have no living water, baptize into other water; and if you cannot do so in cold water, do so in warm. But if you have neither, pour out water three times upon the head into the name of Father and Son and Holy Spirit. But before the baptism let the baptizer fast, and the baptized, and whoever else can; but you shall order the baptized to fast one or two days before.“
Terjemahannya sbb: Mengenai Pembabtisan. Dan mengenai pembabtisan, babtislah dengan cara ini: Pertama tama, babtislah dalam nama Bapa, dan Putera dan ROH KUDUS, dengan air kehidupan. Tapi jika tidak ada padamu air kehidupan, baptislah kedalam air yang lain, dan kalau kamu tidak dapat melakukannya dalam air dingin, lakukanlah dengan yang hangat. Tapi kalau kamu tidak juga punya semua itu, curahkanlah air tiga kali diatas kepala dalam nama Bapa dan Putera dan ROH KUDUS. Namun sebelum pembabtisan hendaknya pembabtis berpuasa, dan yang dibabtis, dan siapapun yang dapat melakukannya, tapi kamu harus meminta orang yang akan dibabtis untuk berpuasa sehari atau dua hari sebelumnya.
Perlu dicatat juga bahwa tidak diketahui secara pasti, apakah kitab “Didache” itu telah tersebar scara universal ke seluruh gereja pada waktu itu (abad 2 ) atau hanya digunakan jemaat setempat. Penemuan kitab itu pada tahun 1873 hanya seputar teks dalam kitab tersebut.

Kedua: dalam buku History of the Christian Church, Volume II, karangan Philip Schaff, pada halaman 191, ditulis bahwa baptisan percik mulai dilakukan gereja Katolik pada awalnya terhadap orang yang sakit (orang yang bertobat tersebut menderita sakit, sehingga tidak mungkin dilakukan baptisan selam) di tempat tidurnya. Kondisi “sakit berat” merupakan alasan bagi dilakukannya baptisan secara percik pada waktu itu.
Eusebius dari Caesarea (263 – 339), yang dikenal sebagai bapak sejarah gereja perdana (karena dialah yang pertama kali menulis buku sejarah gereja yan lengkap)  menulis bahwa Novatian (250) pernah dilarang untuk menjadi pejabat gereja, karena dahulunya ia dibaptis secara percik (saat itu ia sedang sakit keras).  Selengkapnya: The first specifically documented case of sprinkling involved a man by the name of Novatian (cir. A.D. 250), who lived in Rome. Novatian was believed to be at the point of death, and so was sprinkled in his sick bed. However, the case was very unusual. Eusebius of Caesarea (cir. A.D. 263-339), known as the father of church history, described the incident. He wrote that Novatian thereafter was restricted from being appointed as a church officer. Why was this? Because it was not deemed “lawful” that one administered “baptism” by “aspersion” (percik), as he was, should be promoted to the order of the clergy” (Eusebius: Ecclesiastical History, VI.XLIII).

Ketiga: Cyprian adalah tokoh gereja yang pertama kali “mengijinkan” penggunaan baptisan percik sebagai substitusi dari baptisan selam apabila ada kebutuhan yang mendesak, misalnya dalam kasus orang yang akan menjadi Kristen dan dibaptis itu sedang sakit keras. (The first defense of sprinkling was offered by Cyprian (cir. A.D. 200-258), a writer in Carthage, who allowed sprinkling as a substitute for immersion, but only when “necessity compels” — as in the case of acute sickness (Epistle lxxv).

April 28, 2014, 05:21:44 AM
Reply #26
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 1046
  • Denominasi: Umum
Quote
Keempat: informasi mengenai asal mula baptisan percik yang saya dengar dari dosen di Institut Teologi Dan Keguruan Indonesia (Seminary Bethel) Petamburan, Jakarta, yaitu Pdt. Thomas Bimo, M.Th pada mata kuliah Teologi Perjanjian Baru. Beliau mengatakan tradisi baptisan percik berawal tatkala seluruh kekaisaran Romawi harus memeluk agama Kristen, karena Kaisar Theodosius di tahun 380 M, mengeluarkan “dekrit/edict Theodosius” yang isinya mengatakan bahwa “Agama kekaisaran Romawi adalah agama Kristen“.
Dampak dari keputusan tersebut, adalah Kristenisasi massal di seluruh wilayah kekaisaran Romawi (Kalau tidak menjadi Kristen, akan berhadapan dengan tentara Romawi dan dihukum). Akibat kristenisasi massal tersebut, maka terjadilah baptisan selam besar-besaran. Situasi yang seperti itu, membuat kolam-kolam dan sungai-sungai menjadi sangat sesak. Akibatnya untuk memudahkan, maka orang-orang tersebut akhirnya dipercik dgn air. Alasan “praktis” yang terjadi karena sikon yang darurat itu, kemudian dijadikan “tradisi” oleh gereja Katolik (ingat saat itu di Barat, tidak ada aliran2 gereja, hanya ada gereja Katolik).
Demikianlah Gereja Katolik kemudian mempraktekkan dua macam baptisan, yaitu “selam = immersion” dan “percik = pouring/sprinkling) dalam kehidupan rohani gereja. Baptis percik dilakukan apabila ada kondisi yang tidak memungkinkan dilakukannya baptisan selam, misalnya orang yang akan dibaptis tersebut sedang sakit keras, ataupun situasi darurat lainnya.
Thomas Aquinas (1225-1274), salah seorang teolog terkemuka gereja katolik, pernah menyatakan bahwa baptisan selam adalah metode yang lebih “aman” meskipun ia juga mengakui baptisan dengan cara percik atau curah. (Thomas Aquinas (cir. A.D. 1225-1274), one of the most prominent Catholic theologians, acknowledged that immersion was the “safer” mode, though he allowed sprinkling or pouring). (Sumber: http://www.newadvent.org/summa/4066.htm)
Penggunaan baptisan percik yang terbatas dalam sikon darurat tsb, dikukuhkan dalam “the Council of Nemours” (A.D. 1284) yang mengeluarkan kebijakan bahwa “limited sprinkling to cases of necessity.”

Kelima: akhirnya di tahun 1311 dalam Konsili Ravenna, Gereja Katolik meresmikan “baptisan percik” sebagai satu-satunya cara baptis yang dilakukan gereja. Alasannya adalah baptisan selam tidak lagi penting sebab cara baru yaitu dengan dipercik adalah cara baptis yang dipakai gereja. (Baptism went for many years without change until the Catholic Church made the distinction that full immersion was no longer necessary in 1311 at the Council of Ravenna. They determined that full immersion was unnecessary and the term ‘pouring’ was the new accepted way of performing the baptism).
Demikianlah baptisan percik menjadi satu-satunya cara membaptis bagi petobat baru yang dipakai oleh Gereja Katolik sejak tahun 1311.
Dalam buku berjudul Historical Exhibition of Administration of Baptism, hlm 306,  seorang imam Gereja Katolik, Brenner, memberikan pernyataan mengenai hal ini “Selama 1300 tahun, baptisan umumnya dan biasanya dilakukan dengan menyelamkan seseorang ke dalam air, dan pada kasus yang luar biasa, percik atau menyiram air dilakukan. Kemudian belakangan ditolak sebagai metode baptisan, bahkan dilarang.” (For thirteen hundred years was baptism generally and regularly an immersion of the person under the water, and only in extraordinary cases a sprinkling or pouring of water; the latter was moreover, disputed as a mode of baptism, nay even forbidden).
Setelah reformasi Protestan yang dimotori Martin Luther pada tahun 1517, aliran-aliran dalam gereja Protestan banyak yang kembali pada baptisan selam (immersion) (Yunani: baptizo) seperti yang tertulis literal di Alkitab dan juga tradisi gereja (kira-kira tahun 30 M – 1311 M), namun ada juga yg tetap mempertahankan tradisi baptisan percik.
April 28, 2014, 07:04:30 AM
Reply #27
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 12813
    • fossil coral cantik
Demikianlah saya melihatnya, bahwa baptisan air diselam adalah mutlak!
Mutlak ?
Penjahat di salib itu gak di baptis, kan ?

April 28, 2014, 08:49:14 AM
Reply #28
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 12359
  • tidak menyimpan kepahitan
Re: Baptisan Selam Mutlak!?

Ibr. 6:1-2   
Sebab itu marilah kita tinggalkan asas-asas pertama dari ajaran tentang Kristus dan beralih kepada perkembangannya yang penuh. Janganlah kita meletakkan lagi dasar pertobatan dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia percaya kepada Θεόν yaitu ajaran tentang pelbagai pembaptisan, penumpangan tangan, kebangkitan orang-orang mati dan hukuman kekal.
April 28, 2014, 12:54:12 PM
Reply #29
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 1526
  • Denominasi: kharismatik
Lhoh, anda mau bahas Tritunggal atau mau bahas Baptis?

Kalau baptis, sudah saya katakan, terserah mau pakai cara apapun, selama tidak dengan format Allah Tritunggal, maka tidak sah. Jadi tidak perlu dimasalahkan celup cebur semprot atau apapun. Topik anda ingin mambahas itu kan?

Coba anda focus pada diskusi anda sendiri, brur.
betul. saya setuju ! sesuai Al-Kitab.

 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)