Author Topic: SILENCE (movie), seorang Pendeta yang tidak rela masuk neraka ?  (Read 2098 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

December 18, 2018, 04:59:59 PM
Reply #80
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 559
Ga gitu ngerti saya terkait bold. Apakah maksud 888, manusia bisa memproduksi iman ya? Please CMIIW.
Bener, manusia yg memproduksi imannya, artinya: Manusialah yg “memutuskan” untu percaya (beriman) atau tidak percaya (tidak beriman).

Begini Oda, didalam Kristen .. sejak penyaliban Yesus, maka semua dosa dari Adam - penyaliban, sudah diampunkan, inilah yg dimaksut dgn “karunia keselamatan” dan anugerah keselamatan ini, berlaku untuk semua manusia tanpa terkecuali (sejak Adam - penyaliban).

Kemudian, anugerah keselamatan itu juga, tetap berlaku sampai akhir jaman, dengan catatan, manusia harus percaya pada anugerah tsb, jika manusia tidak percaya pada anugerah tsb, maka anugerah itu akan menjadi sia-sia.

Nah, anugerah keselamatan itu, berbeda dengan iman percaya, sebab iman percaya itu adalah “keputusan manusia”, contoh : diberitakan kepada saya tentang Injil Kristus, lalu saya “memutuskan” untuk percaya, nah .. sejak “keputusan” yg saya ambil tsb, sejak itulah saya mulai beriman pada Kristus.

Quote from:
Kayaknya ada perbedaan definisi dari [apa itu iman] antara kita berdua  :D.

faith is the assurance of things hoped for, the conviction of things not seen
Nah Oda, keyakinan yg lahir, pasti tidak serta merta muncul dalam diri manusia, mungkin keyakinan itu melalui pengajaran, melalui pengalaman ataupun melalui faktor2 lain. Nah, semua hal yg menyebabkan “lahirnya keyakinan itu”, adalah akibat “keputusan akal”, apapun pengalaman dan pengajaran yg diberikan ke kita, jika akal “menolak”, maka tidak akan pernah lahir iman percaya disana.

Jadi, iman itu adalah “keputusan manusia”, untuk memperoleh keselamatan yg telah di anugerahkan tsb.

Jadi, seperti pernyataan dalam kitab wahyu tsb.. barang siapa mendengarkan suara ketukan ku, dan “membuka kan pintu” bagi ku .. nah, perkataan “membuka kan pintu disana” adalah “keputusan akal”, artinya: keputusan akal dapat membuka dan menolak.

Jadi, keselamatan itu adalah anugerah dan iman percaya itu adalah “keputusan”.

Jbu
December 18, 2018, 07:02:52 PM
Reply #81
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 12650
    • fossil coral cantik
Bener, manusia yg memproduksi imannya, artinya: Manusialah yg “memutuskan” untu percaya (beriman) atau tidak percaya (tidak beriman).
Kalo secara versi saya, itu bukan perihal "keputusan", 888.

versi saya :
Iman nggak diproduksi oleh manusia, melainkan oleh Allah.
Dengan adanya Iman, ya otomatis ada itu perihal [percaya bla3x --VS-- nggak percaya blo3x].

[Keputusan] itu baru ada berangkat dari sikon dimana orang ybs mengetahui perihal-A dan perihal-B (dua perihal atau lebih). Barulah disitu bisa tersangkut-paut dgn [keputusan]. Misal orang ybs memutuskan utk berkeyakinan pada perihal-B bukan yang perihal-A.

Misal ilustrasi :
Hanya ada satu warna topi di sebuah toko , warna biru.
Seorang calon pembeli ke toko tsb, maka (versi saya) disini nggak diperihal :
memutuskan membeli topi biru ---VS--- memutuskan tidak membeli topi biru.

Laen cerita semisal di toko tersedia dua atau lebih warna topi, biru dan merah.
APABILA :
A. calon pembeli yg datang sudah sejak awalnya berniat membeli topi biru, maka kembali lagi nggak ada itu perihal [keputusan] yg berupa [memutuskan utk membeli topi biru ---VS--- memutuskan tidak membeli topi biru].

B. calon pembeli yg datang niatannya cuma membeli topi, maka di toko ada itu perihal [keputusan] yang berupa [memutuskan membeli topi biru ---VS--- memutuskan membeli topi merah].

Ibarat tuas 3 posisi ---> atas - netral - bawah dimana posisi awal netral.
Ibarat orang berdiri di persimpangan jalan dimana didepan dia ada dua jalan, jalan yg satu mengarah ke kiri dan jalan yg satu lagi mengarah ke kanan.



Yg versi 888, di versi pengertian saya [itu nggak melibatkan perihal keputusan], karena :
yang versi 888 di pov saya "system"nya either Yes or No.
Orang ybs sudah duluan didalam state salah satunya dan pilihannya cuma satu.

Ibarat orang sudah duluan ada di jalur kanan dimana disamping cuma ada jalur kiri.
Yes = pindah dari jalur kanan ke jalur kiri. No = tetep di jalur kanan.



Anyway, saya ngerti kok maksudnya 888....
Karena saya akui, memang bisa dikatakan bahwa : Either Yes or No, itu = keputusan.

Hanya saja yg versi saya itu bisa melibatkan lebih dari dua hal.
Ibarat orang di persimpangan dimana didepannya ada jalan lurus, ada jalan ke arah kiri dan ada jalan ke arah kanan. So, pilihannya ada tiga. Orang ybs memutuskan salah satu dari 3 pilihan tsb.

Sementara yg versi 888, ya gak bisa masuk itu pilihannya ada tiga karena "system"nya versi 888, either Yes or No. Cuma satu pilihan.



Quote
Nah, anugerah keselamatan itu, berbeda dengan iman percaya, sebab iman percaya itu adalah “keputusan manusia”, contoh : diberitakan kepada saya tentang Injil Kristus, lalu saya “memutuskan” untuk percaya
Ya itu dah yg versi 888, either Yes or No, dimana 888 sudah duluan didalam state "tidak percaya / tidak beriman pada Kristus" (jalur kanan). Selanjutnya, setelah berita Injil diberitakan ke 888, keputusannya bisa berupa : tetep tidak percaya (No ---> tetep di jalur kanan) ataukah percaya (Yes ---> pindah dari jalur kanan ke jalur kiri).

Sedangkan yang versi saya, tidak melibatkan HANYA berita Injil (perihal-A).
Namun ada juga perihal-B, perihal-C, dll dll ---> orang "dihadapi" oleh lebih dari satu perihal.
Dari perihal-perihal yg ada tsb, orang memilih/memutuskan utk beriman ke perihal yang mana.

Taroh kata di film silence sikonnya di waktu yang bersamaan di negara Jepang saat itu ada dua perihal, dimana yg satu perihal Kristus dan yg satu lagi perihal bla3x, maka penduduk Jepang yg saat itu taroh kata sudah duluan berada pada keyakinan di perihal blo3x, maka pilihannya jadi ada tiga. Keputusan bisa berupa : Tetep berkeyakinan blo3x ---or--- pindah menjadi berkeyakinan perihal Kristus  ---or--- pindah berkeyakinan perihal bla3x.

bersambung
December 18, 2018, 07:03:03 PM
Reply #82
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 12650
    • fossil coral cantik
Kembali lagi, apabila tinjauannya dari pihak yg mengajukan perihal itu sendiri, ya betul ... pilihannya ya emang either Yes or No. [Berkeyakinan perihal Kristus] or Not. [Berkeyakinan perihal bla3x] or Not. [meninggalkan keyakinan blo3x] or Not.

So, di pov versi saya, Iman BUKAN keputusan.
Adanya iman, menyebabkan jadi ada orang yg berkeyakinan Kristus, ada orang laen lagi yg berkeyakinan bla3x, ada orang lagi yg berkeyakinan blo3x.

Quote
nah .. sejak “keputusan” yg saya ambil tsb, sejak itulah saya mulai beriman pada Kristus.
Iya. Itu karena 888 nggak dihadapi lebih dari satu pilihan. Akibatnya "saya beriman pada Kristus" adalah = [keputusan] di pov 888 karena pilihan 888 itu either [YES, saya beriman pada Kristus] ---or--- [NO, saya tetep tidak beriman pada Kristus]. Nggak ada pilihan lain selain [beriman pada Kristus] or Not.

Quote
Nah Oda, keyakinan yg lahir, pasti tidak serta merta muncul dalam diri manusia, mungkin keyakinan itu melalui pengajaran, melalui pengalaman ataupun melalui faktor2 lain. Nah, semua hal yg menyebabkan “lahirnya keyakinan itu”, adalah akibat “keputusan akal”, apapun pengalaman dan pengajaran yg diberikan ke kita, jika akal “menolak”, maka tidak akan pernah lahir iman percaya disana.
  Bold, ya itu adalah versi 888 karena di pov 888 pilihannya cuma satu.

Versi saya :
["menolak" di perihal bla3x = tidak berkeyakinan perihal bla3x] ini tidak sertamerta artinya tidak ada iman/keputusan. Karena bisa bisa saja orang ybs mengambil keputusan utk beriman/berkeyakinan perihal blo3x.

Makanya saya bilang, kalo diliat dari pov yang ngajuin perihal bla3x itu sendiri, maka di pov pihak bla3x, orang yang beriman/berkeyakinan perihal blo3x = orang yang tidak mengambil keputusan / tidak ada iman percaya.

Sementara padahal kalimat oranye itu kalo di versi pengertian saya, kalimat oranye nya kayak gini:
itu adalah orang yg tidak mengambil keputusan utk beriman di perihal bla3x dimana sikon realitanya, orang tsb mengambil keputusan utk beriman di perihal blo3x. So... ada itu lahir iman percaya pada orang tsb, dimana keputusan dia adalah beriman percaya blo3x.

So (versi saya), iman diberikan Allah.
Beriman ke perihal bla atopun blo atopun ble (dll) adalah keputusan.

ibarat ilustrasi :
tangan diberikan Allah.
Tangan digunakan ke perihal bla atopun blo atopun ble (dll) adalah keputusan.


Quote
Jadi, seperti pernyataan dalam kitab wahyu tsb.. barang siapa mendengarkan suara ketukan ku, dan “membuka kan pintu” bagi ku .. nah, perkataan “membuka kan pintu disana” adalah “keputusan akal”, artinya: keputusan akal dapat membuka dan menolak.
Ya... saya nangkep versi 888 dimana versi 888 "system"nya either Yes or No. Sikon awal [tidak mengetuk], so keputusannya either mengetuk or not. Sikon awal [tidak percaya Kristus, bukan orang percaya Kristus], so keputusannya either percaya Kristus or not (tetep sbg bukan orang percaya Kristus) :happy0062:.
December 20, 2018, 01:12:00 AM
Reply #83
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 559
Kalo secara versi saya, itu bukan perihal "keputusan", 888.

versi saya :
Iman nggak diproduksi oleh manusia, melainkan oleh Allah.
Dengan adanya Iman, ya otomatis ada itu perihal [percaya bla3x --VS-- nggak percaya blo3x].

[Keputusan] itu baru ada berangkat dari sikon dimana orang ybs mengetahui perihal-A dan perihal-B (dua perihal atau lebih). Barulah disitu bisa tersangkut-paut dgn [keputusan]. Misal orang ybs memutuskan utk berkeyakinan pada perihal-B bukan yang perihal-A.

Misal ilustrasi :
Hanya ada satu warna topi di sebuah toko , warna biru.
Seorang calon pembeli ke toko tsb, maka (versi saya) disini nggak diperihal :
memutuskan membeli topi biru ---VS--- memutuskan tidak membeli topi biru.
Membeli atau tidak membeli, itu kan “keputusan akal”.

Quote from:
Laen cerita semisal di toko tersedia dua atau lebih warna topi, biru dan merah.
APABILA :
A. calon pembeli yg datang sudah sejak awalnya berniat membeli topi biru, maka kembali lagi nggak ada itu perihal [keputusan] yg berupa [memutuskan utk membeli topi biru ---VS--- memutuskan tidak membeli topi biru].

B. calon pembeli yg datang niatannya cuma membeli topi, maka di toko ada itu perihal [keputusan] yang berupa [memutuskan membeli topi biru ---VS--- memutuskan membeli topi merah].
Nah, “niat” itu kan “keputusan akal”.

Quote from:
Ibarat tuas 3 posisi ---> atas - netral - bawah dimana posisi awal netral.
Ibarat orang berdiri di persimpangan jalan dimana didepan dia ada dua jalan, jalan yg satu mengarah ke kiri dan jalan yg satu lagi mengarah ke kanan.
Nah, sudah jelas ada persimpangan, maka “pasti lahir keputusan akal untuk memilih”


Quote from:
Yg versi 888, di versi pengertian saya [itu nggak melibatkan perihal keputusan], karena :
yang versi 888 di pov saya "system"nya either Yes or No.
Orang ybs sudah duluan didalam state salah satunya dan “pilihannya” cuma satu.
Nah, sekalipun “pilihan cuma satu”, tetap saja itu “keputusan akal Oda”.

Quote from:
Ibarat orang sudah duluan ada di jalur kanan dimana disamping cuma ada jalur kiri.
Yes = pindah dari jalur kanan ke jalur kiri. No = tetep di jalur kanan.
Yes or No, adalah keputusan akal Oda..

Quote from:
Anyway, saya ngerti kok maksudnya 888....
Karena saya akui, memang bisa dikatakan bahwa : Either Yes or No, itu = keputusan.

Hanya saja yg versi saya itu bisa melibatkan lebih dari dua hal.
Ibarat orang di persimpangan dimana didepannya ada jalan lurus, ada jalan ke arah kiri dan ada jalan ke arah kanan. So, pilihannya ada tiga. Orang ybs memutuskan salah satu dari 3 pilihan tsb.

Sementara yg versi 888, ya gak bisa masuk itu pilihannya ada tiga karena "system"nya versi 888, either Yes or No. Cuma satu pilihan.
Begini Oda, apapun judulnya, selama “menyajikan” pilihan, maka dibutuhkan “keputusan akal untuk memilih”. Benerkan..

 
Quote from:
Ya itu dah yg versi 888, either Yes or No, dimana 888 sudah duluan didalam state "tidak percaya / tidak beriman pada Kristus" (jalur kanan). Selanjutnya, setelah berita Injil diberitakan ke 888, keputusannya bisa berupa : tetep tidak percaya (No ---> tetep di jalur kanan) ataukah percaya (Yes ---> pindah dari jalur kanan ke jalur kiri).

Sedangkan yang versi saya, tidak melibatkan HANYA berita Injil (perihal-A).
Namun ada juga perihal-B, perihal-C, dll dll ---> orang "dihadapi" oleh lebih dari satu perihal.
Dari perihal-perihal yg ada tsb, orang memilih/memutuskan utk beriman ke perihal yang mana.
Nah, disaat tersedia “pilihan”, maka dibutuhkan “keputusan akal disana”, hehehe..

Quote from:
Taroh kata di film silence sikonnya di waktu yang bersamaan di negara Jepang saat itu ada dua perihal, dimana yg satu perihal Kristus dan yg satu lagi perihal bla3x, maka penduduk Jepang yg saat itu taroh kata sudah duluan berada pada keyakinan di perihal blo3x, maka pilihannya jadi ada tiga. Keputusan bisa berupa : Tetep berkeyakinan blo3x ---or--- pindah menjadi berkeyakinan perihal Kristus  ---or--- pindah berkeyakinan perihal bla3x.

bersambung
Saya sudah bilang, selama tersaji “pilihan”, apapun siklonnya, maka dibutuhkan “keputusan akal untuk memilih”.hahaha..
December 20, 2018, 01:27:12 AM
Reply #84
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 559
Nah, begini Oda .. mengapa saya katakan, bahwa iman itu, adalah keputusan manusia untuk “membangunnya” dan “bukan pemberian Tuhan”.

Iman itu, bisa “bertumbuh” dan iman itu “bisa mati”, jadi .. kalau Tuhan yg memberikan iman, maka sudah pasti semua “iman manusia akan sama dan tidak mungkin mati”.

FT katakan .. JIKA engkau punya iman sebesar biji sawi .. artinya disana, ada orang yg tidak punya iman sebesar biji sawi. Mengapa ?? Seperti saya katakan diatas, iman itu bisa tumbuh ataupun mati, tergantung manusia “memproduksinya”.

Nah, produksi iman ini adalah “keputusan akal manusia”.

Keputusan akal manusia untuk “memilih”, menerima ataupun menolak “anugerah keselamatan” itu.

Itulah sebabnya saya katakan.. iman itu adalah keputusan akal manusia, untuk percaya.

Jbu
December 22, 2018, 02:10:07 PM
Reply #85
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 12650
    • fossil coral cantik
Membeli atau tidak membeli, itu kan “keputusan akal”.
Nah, “niat” itu kan “keputusan akal”.
888, di pov versi saya : orang yang percaya adanya setan, malaikat, ufo, being maha, dll semacemnya.... ini bukan keputusan akal.

Karena:
Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.

Cuplis tidak melihat malaikat, yet cuplis percaya malaikat ada.
Unyil gak pernah ngliat setan, yet unyil percaya setan ada.
Usro gak pernah liat ufo, yet usro percaya ufo ada.

Hal demikian kayak diatas, itu karena setiap orang ada iman.

Semakin tebel/kuat orang mempercayai pada apa yang dipercayainya (sementara padahal dirinya sendiri gak bisa membuktikannya corporeally melainkan cuma lewat kata kata saja), semakin naik level percaya orang ybs... sampai di titik level tertentu jadinya disebut keyakinan.

So.. di pov saya, itu bukan keputusan. Entah begimana ujug2 Unyil kok jadi percaya setan itu ada.

Quote
Nah, sudah jelas ada persimpangan, maka “pasti lahir keputusan akal untuk memilih”
A. ada dua jalan yg sejajar... kiri dan kanan. Dirimu ada di jalan yg sebelah kiri. Maka jalan yg di kanan itu BUKAN persimpangan, 888. Kamu tidak sedang berada di persimpangan jalan, karena dirimu sudah duluan berada di jalan yg kiri.

Di pov cabang kanan:
Si 888 ambil gue ato kagak ya?

Di pov mu:
Nybrang ambil yg kanan ato kagak ya?

Beda dengan sikon:
B. Kamu berdiri dimana didepanmu terdapat dua atau lebih cabang jalan... misal ada cabang yg ke kiri, ada yg lurus, ada yg ke kanan. Nah, disini kamu memillih utk ambil jalan yg mana.

Di pov stiap cabang, isinya sama : si 888 ambil gue atau kagak ya?

Tapi di pov mu, kamu nggak spt pov cabang karena ada tiga tahapan:
Ambil yg kiri ato kagak ya?
Ambil lurus aja ato kagak ya?
Ambil yg kanan ato kagak ya?

So... keputusan di model B, beda dengan keputusan di model A.

Quote
Nah, sekalipun “pilihan cuma satu”, tetap saja itu “keputusan akal Oda”.
iya... saya ngerti. Tapi terkait perihal percaya, itu bukan keputusan, karena klu semisal kamu percaya bahwa setan itu ada sementara padahal kamu sendiri gak bisa membuktikannya corporeally, maka KALO itu keputusan akal, maka kamu akan bisa mengajukan bekgron logikanya sehingga dirimu memutuskan percaya bhw setan itu ada.

Misal:
Karena gue semalem ngliat ada kuntilanak, makanya gue percaya setan itu ada.

Makanya saya bilang, "bukti" nya yg dari kamu itu sendiri cuma mlalui kata2 saja.

Misal yg lain:
Karena nyokap gue bilang setan itu ada, maka gue percaya setan itu ada.

Nah... yg kayak diatas itu kan berangkatnya bukan ujug2 mendadak dirimu percaya bhw setan itu ada, melainkan : karena 888 percaya ibumu, akibatnya ketika ibumu bilang "888 anakku, setan itu ada" ... dirimu percaya apa kata ibumu. Apakah possible dirimu gak percaya perkataan ibumu tsb? Ya possible... but then you must have a reason apa yg menyebabkan dirimu ga percaya perkataan ibumu bhw setan itu ada.

888:
Yes or No, adalah keputusan akal Oda..

oda:
Iya saya ngerti, 888.
Tapi itu di pov versi saya gak pas dikatakan keputusan karena kamu gak di persimpangan jalan.

Tuas dua posisi, on off
Statenya itu udah duluan either di On or not.

Tuas 3 posisi, on netral off
Sikonnya gak sama karena...
Either di on or not
Either di netral or not
Either di off or not

888:
Begini Oda, apapun judulnya, selama “menyajikan” pilihan, maka dibutuhkan “keputusan akal untuk memilih”. Benerkan..

Oda:
Bener. Namun dg demikian ga bisa dikatakan iman percaya krn ada bekgron alesan kenapa orang memutuskan untuk percaya. Hanya apabila orang itu bilang misal kayak gini: "gak tau juga yah kenapa gue percaya yg kayak gituan" maka baru itu bisa dibilang iman percaya. So... bukan karena itu ibunya yg dia percayai yg bilang,  bukan karena orang yg bilang bhw setan itu ada adalah Tuhan yg bilang, but kalimat2 itu sendirilah yg dia percayai terlepas siapapun itu yg bilang.
December 22, 2018, 02:34:18 PM
Reply #86
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 12650
    • fossil coral cantik
888:
Iman itu, bisa “bertumbuh” dan iman itu “bisa mati”, jadi .. kalau Tuhan yg memberikan iman, maka sudah pasti semua “iman manusia akan sama dan tidak mungkin mati”.

Oda:
Sesuatu yg bisa mati, mesti dimulai didalam state "belum mati", 888.

Sesuatu yg bisa bertumbuh, mesti dimulai didalam state "belum bertumbuh"

Sesuatu yg bisa hidup, mesti dimulai didalam state "belum hidup".

Tuas tiga posisi,
diketika tuas di posisi netral, maka statenya "tidak hidup tidak pula mati" karena posisi atas = hidup, posisi bawah = mati.

Tuas dua posisi,
statenya either mati or hidup. So... klo posisi tuas ada dibawah (mati) maka tuas tidak bisa dikatakan sikonnya "bisa mati"... wong state tuas itu sendiri sudah duluan sedang mati koook... begimana pula dikatakan "bisa mati" ?

888:
FT katakan .. JIKA engkau punya iman sebesar biji sawi .. artinya disana, ada orang yg tidak punya iman sebesar biji sawi.

Oda:
Betul. However orang itu sudah duluan punya iman, sayangnya iman dia tidak sampai sebesar biji sesawi.

888:
Mengapa ?? Seperti saya katakan diatas, iman itu bisa tumbuh ataupun mati, tergantung manusia “memproduksinya”.

Oda:
Iman didalam state mati, begimanapula dikatakan "bisa mati", 888.

888:
Keputusan akal manusia untuk “memilih”, menerima ataupun menolak “anugerah keselamatan” itu.

Oda:
Ya itu idem dengan orang dapet sms "anda mendapat hadiah 1M", 888. Dimana 888 bilang: "Adalah keputusan akal si penerima sms utk percaya bunyi kalimat sms tsb ato kagak".
December 22, 2018, 03:24:56 PM
Reply #87
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 559
...cut..
Oda:
Betul. However orang itu “sudah duluan punya iman”. sayangnya iman dia tidak sampai sebesar biji sesawi.
Begini Oda, seperti penjelasan2 saya sebelumnya, bahwa iman itu adalah “hasil keputusan akal manusia”, sehingga iman itu.. tidak bisa timbul atau muncul atau lahir atau tumbuh dalam diri manusia, tanpa ada pengaruh “eksternal” yg mengakibatkan “lahirnya keputusan iman”.

Nah, Paulus dalam Roma 10:16-17 mengatakan: tetapi tdk semua orang telah menerima “kabar baik itu”, Yesaya sendiri berkata..Tuhan, siapakah yg percaya pada pemberitaan kami ? JADI iman “timbul dari pendengaran”, dan pendengaran oleh firman Kristus.

Nah Oda, pada FT tsb diatas, Paulus “menyimpulkan”, bahwa iman itu tidak serta merta lahir atau timbul dalam diri manusia, tetapi iman itu TIMBUL karena Pendengaran, artinya: setelah kita mendengarkan atau setelah adanya faktor eksternal, maka “akal kita memutuskan”,  apa kah kita percaya/menerima terhadap apa yg Kita dengar tsb, atau apakah kita percaya/menerima terhadap faktor eksternal tsb.

Lebih lanjut Paulus menegaskan dalam Roma 10:9 .. sebab jika kamu MENGAKU dengan mulutmu .. dan percaya dalam hati mu..

Nah, keputusan akal manusia yg menimbulkan iman, sebagai akibat dari “pendengaran” kita, maka keputusan akal “dituntut” untuk merealisasikannya dalam sebuah “pengakuan mulut dan penerimaan hati”.

Jadi, berdasarkan penjelasan diatas, dapat ditarik kesimpulan, bahwa “iman percaya itu adalah keputusan akal”, seperti penjelasan Paulus diatas.

Jbu
December 22, 2018, 05:59:02 PM
Reply #88
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 12650
    • fossil coral cantik
Begini Oda, seperti penjelasan2 saya sebelumnya, bahwa iman itu adalah “hasil keputusan akal manusia”, sehingga iman itu.. tidak bisa timbul atau muncul atau lahir atau tumbuh dalam diri manusia, tanpa ada pengaruh “eksternal” yg mengakibatkan “lahirnya keputusan iman”.
saya sependapat, 888.

888:
JADI iman “timbul dari pendengaran”, dan pendengaran oleh firman Kristus.

Oda:
Di pov versi saya, percaya ato ga percaya timbul dari PENGETAHUAN, 888. Terserah pengetahuan itu didapetnya mlalui event yg kayak begimana.... mendengar kek, membaca kek, melihat kek, dlsb.

888:
 setelah adanya faktor eksternal, maka “akal kita memutuskan”,  apa kah kita percaya/menerima terhadap apa yg Kita dengar tsb, atau apakah kita percaya/menerima terhadap faktor eksternal tsb.

Oda:
Secara rangkaian kalimat 888 diatas, saya sependapat... namun yg bikin saya "gatel" itu adalah kalimat 888 yg berupa "AKAL kita memutuskan"... hehehe.

Kenapa saya "gatel"...
karena di pov saya, yg disebut AKAL itu ada diperihal logika.

Dgn akal, orang mengolah informasi yg diketahuinya.

888 mendapat sms berbunyi "selamat, anda mendapat hadiah 1M".

888 percaya bunyi sms tsb.

Nah... begimana pula 888 mengatakan bhw percayanya 888 bhw diri 888 dpt hadiah 1M itu adalah keputusan akal?

Buat saya itu ga masuk akal, but possible. Adalah possible orang percaya pd sebuah sms bhw dirinya dpt hadiah 1M.

So... buat saya itu gak masuk akal... kok bisa ujug2 orang percaya bunyi sms tsb.

Saya juga menerima sms yg sama. Saya gak percaya bunyi sms tsb. Nah disini saya menggunakan akal... misal "ikut undian aja ga pernah, impossible gue ujug2 ketiban duit 1M". Selanjutnya otomatis ya saya gak percaya bunyi sms tsb. Karena saya menggunakan akal, makanya saya gak percaya.

888:
Nah, keputusan akal manusia yg menimbulkan iman, sebagai akibat dari “pendengaran” kita

Oda:
Tetep, keputusan 888 percaya kalimat sms tsb akibat "pendengaran" 888 akan "bunyi" sms tsb, di pov saya gak masuk akal :).

888:
Jadi, berdasarkan penjelasan diatas, dapat ditarik kesimpulan, bahwa “iman percaya itu adalah keputusan akal”.

Oda:
Ya kita berbeda pandangan. Karena buat saya, mengetahui 888 yg ujug2 percaya bunyi sms tsb... di pov saya itu ga masuk akal, walopun possible.

Kenapa possible, ya kembali lagi yg saya ajukan sebelumnya... yakni:  karena setiap orang itu sdh dibekali "iman" oleh Tuhan. Akibatnya, adalah possible hal hal yg ga masuk akal dipercayai oleh seseorang :).

Salam.
December 23, 2018, 06:52:22 AM
Reply #89
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 559
..cut..
Kenapa saya "gatel"...
karena di pov saya, yg disebut AKAL itu ada diperihal logika.

Dgn akal, orang mengolah informasi yg diketahuinya.

888 mendapat sms berbunyi "selamat, anda mendapat hadiah 1M".

888 percaya bunyi sms tsb.

Nah... begimana pula 888 mengatakan bhw percayanya 888 bhw diri 888 dpt hadiah 1M itu adalah keputusan akal?

Buat saya itu ga masuk akal, but possible. Adalah possible orang percaya pd sebuah sms bhw dirinya dpt hadiah 1M.

So... buat saya itu gak masuk akal... kok bisa ujug2 orang percaya bunyi sms tsb.

Saya juga menerima sms yg sama. Saya gak percaya bunyi sms tsb. Nah disini saya menggunakan akal... misal "ikut undian aja ga pernah, impossible gue ujug2 ketiban duit 1M". Selanjutnya otomatis ya saya gak percaya bunyi sms tsb. Karena saya menggunakan akal, makanya saya gak percaya.
Nah, itulah keputusan akal untuk “percaya atau tidak percaya”, sama seperti SMS tsb, jika keputusan akal “menerima untuk percaya”, maka keputusan akal itu melahirkan iman percaya, mengapa ? Nah, Sekalipun kita tidak pernah Pasang undian, namun pada saat kita di SMS memenangkan undian 1 M, lalu kita lakukan cross cek dan ternyata adalah benar, maka keputusan akal akan “mencari berjuta kemungkinan secara sadar atau tidak sadar, untuk membenarkan keputusan tersebut”.

Dalam kasus SMS tsb, kemungkinan akal untuk mencari pembenaran.. akal berbicara.. saya tidak pernah pasang undian, tetapi faktanya saya menang, mungkin ada seseorang yg memasangkan undian atas nama saya ?

Nah, keputusan akal akan terus mencari pembenaran, terhadap sesuatu yg tidak masuk akal, mana kala sesuatu itu kita percaya sebagai suatu kebenaran==> inilah yg dimaksut dengan iman, yaitu .. pengharapan atas bukti yg tidak kita lihat.

Nah, pencarian “pembenaran” yg dilakukan akal tersebutlah yg dimaksudkan dengan “pertumbuhan iman”.

Jbu..
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)