Author Topic: Potret Seorang Anak  (Read 948 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

July 16, 2009, 10:23:59 AM
  • FK - Full Member
  • ***
  • Posts: 118
Seorang pria kaya raya, memiliki seorang anak laki-laki yang memiliki hobi yang sama, yaitu mengoleksi karay-karya lukisan dari pelukis ternama. Dari Picaso sampai Rafael, dan setiap sore mereka duduk bersama dan memandang lukisan – lukisan tersebut.
Pada saat pecahnya perang Vietnam, anak lelaki nya pergi berperang. Ia seorang yang gagah berani dan menjadi prajurit yang hebat. Namun, dalam peperangan tersebut anak lelaki tersebut tewas ketika mencoba menyelamatkan rekannya. Banyak penduuk yang ia selamatkan, naas saat menyelamatkan rekannya, ia sendiri yang tidak selamat. Ketika berita kematiannya didengar oleh ayahnya, rasa duka dan kehilangan yang mendalam atas kematian anaknya tidak dapat disembunyikan.
Satu bulan sejak kematian anak lelaki tersebut, tepat sebelum hari Natal tiba, datanglah seorang pria muda ke tempat ayah dari anak laki-laki tersebut. Dengan membawa sebuah bingkisan besar, pria muda itu hendak memberikan sesuatu kepada pria tua tersebut. dan pria muda itu berkata, “Tuan, Anda tidak mengenal saya, tetapi saya adalah seorang tentara yang diselamatkan oleh anak Anda. Dia menyelamatkan banyak orang pada hari itu, dan dia membawa saya ke tempat yang aman dimana pada saat itu sebuah peluru menghantam dia pada jantungnya dan ia langsung meninggal. Dia sering bercerita mengenai Anda, dan cinta Anda akan karya seni”
Pria muda itu memberikan paketnya.
“Saya tahu ini tidak banyak. Saya bukan seorang pelukis yang besar, tetapi saya berpikir anak Anda menginginkan Anda untuk memiliki ini.”
Ayah itu membuka paketnya. Itu adalah potret anak lelakinya, dilukis oleh pria muda tadi. Ayah itu memandang dengan sangat kagum. Tentara muda itu berhasil menggambarkan kepribadian anaknya pada lukisan tersebut. ayah tersebut dangat tertarik dengan mata anak nya pada potret itu sehingga mata nya sendiri dipenuhi dengan air mata. Dia berterima kasih kepada tentara muda yang melukis anak nya dan menawarkan untuk membayar lukisan tersebut.
“Oh, tidak tuan, saya mungkin tidak akan pernah membayar apa yang telah anak Anda lakukan untuk saya. Ini adalah hadiah.”
Ayah tersebut menggnatung potret anak nya.s etiap ada tamu yang dating ke rumahnya untuk melihat potret anak lelakinya sebelum dia menunjukkan karya seni besar lainnya. Pria itu meninggal beberapa bulan kemudian. Lalu diadakan lelang yang besar untuk lukisan-lukisan nya. Banyak orang penting yang datang berkumpul dan sangat antusias untuk melihat karya besar. Dan mereka juga berkesempatan untuk membeli salah satu koleksi tersebut.
Pada panggung dipajang potret anak lelaki nya. Petugas lelang itu memulai lelang yang pertama. Yaitu potret anak lelaki nya.
“Kami akan memulai lelang ini dengan menawarkan potret dari anak laki-lakinya. Siapa yang akan mulai menawar?”
Keadaan menjadi sunyi senyap. Kemudia dari belakang dating suara teriakan, “Kami ingin melihat lukisan-lukisan yang terkenal. Yang ini lewat saja”
Tetapi petugas lelang berkata dengan tegas, “ADakah yang akan menawar lukisan ini? Siapa yang ingin memulai nya? $100, $200?” ada suara lain yang berteriak dengan marah.
“Kami tidak datang untuk melihat lukisan ini. Kami datang untuk melihat lukisan karya Van Goghs, Rembrandts. Mulailah dengan penawaran yang sesungguhnya!”
Tetapi petugas lelang tersebut masih terus berteriak.
“anak lelaki! Anak lelaki! Siapa yang akan mengambil anak lelaki ini?”
Akhirnya ada suara yang datangnya dari ruangan yang paling belakang. Itua dalah tukang kebunyang sudah bekerja sekian tahun dengan pria dan ank nya. “saya member $10untuk lukisan itu.” Sebagai orang miskin, itu adalah semua yang dapat ia berikan.
“Ini ada penawaran $10, siapa yang akan menawar $20?” tetapi orang banyak berteriak, “Berikan kepadanya untuk $10. Mari lihat karya-karya lainnya.” Petugas lelang vberteriak lagi, $10 adalah penawarannya, apakah ada yang mau menawar $20?”
Hadirin mulai marah. Mereka tidak mau potret abak lelaki itu. Mereka hanya mau karya-karya seni yang berharga untuk menambah koleksi mereka. Petugas lelang itu memukulkan palu nya.
“Satu, dua dan terjual dengan harga $10”
Sorang pria yang duduk di baris kedua berteriak, “Sekarang mari kiat teruskan dengan koleksinya!”
Petugas lelang meletakkan palu nya.
“Maafkan saya, pelelangan ini sudah berakahir. Ketika saya dipanggil untuk melaksanakan ini. Saya diberi tahu akan permintaan rahasia di warisah pria itu. Saya tidak boleh membocorkan permintaan rahasia tersebut sampai saat pelelangan berakhir. Hanya lukisan anak lelaki itu yang akan dilelangkan. Siapapun yang membeli lukisan terebut akan mewarisi seluruh kekayaan, termasuk lukisan-lukisan yang lain. Orang yang membeli lukisan anak lelaki itu mendapatkan semuanya!”
Tuhan memberikan anak nya 2000 tahun yang lalu untuk meninggal dengan kejam nya di tasa kayu salib. Seperti kebanyakan dari pelelangan. Pesannya, hari ini adalah “Anak lelaki, anak lelaki, siap yang mau menerima anak lelaki?”

http://sebelah-timur.blogspot.com
adapted from: Buletin cahaya pengharapan vol. 5
-----------

http://Http://bcozjc.info
Selalu temui hal baru di dalam nya ... GBU All
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)