Author Topic: Maria MagdaLena  (Read 1393 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

April 11, 2008, 12:29:26 PM
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 518
  • Gender: Female
  • Give thanks to God in every joy and troubles. . .
MARIA MAGDALENA (saat pertama berjumpa dengan Yesus)

Waktu itu bulan juni ketika aku melihatnya pertama kali. Ia berjalan di ladang gandum ketika aku lewat bersama dayang-dayangku. Ia sendirian.
Irama langkah kaki-nya berbeda dengan manusia lain, dan gerakan tubuh-nya belum pernah kulihat pada orang lain.
Manusia tidak melangkahkan kakinya di atas bumi seperti apa yang ia lakukan. Dan bahkan sampai sekarang pun aku tidak tahu apakah ia berjalan cepat atau lambat.
Dayang-dayangku mengangkat telunjuk kepada-Nya sambil berbisik malu-malu satu sama lain. Aku menghentikan langkahku untuk sesaat, dan mengangkat tanganku untuk menyalami-nya. Tetapi ia tidak menoleh dan tidak memandang kepadaku. Aku jadi membenci-nya. Aku jengah, dan menjadi sedingin salju. Aku menggigil.
Malam itu aku melihat-nya dalam mimpi; dan mereka mengatakan padaku kemudian, bahwa aku berteriak ketika tidur dan tampak gelisah.
Pada bulan agustus aku melihat-nya kembali melalui jendela kamarku. Ia duduk di bawah keteduhan pohon cemara di seberang kebunku, dan ia setenang batu, seperti patung-patung di antiokia dan kota-kota lain dari negeri utara.
Salah satu dayangku, seorang dari mesir, datang padaku dan berkata, "laki-laki itu ada di sini lagi. Ia sedang duduk di sana, di seberang kebunmu."
Aku menatap-nya, dan jiwaku bergetar karena ia begitu elok.
Tubuh-nya begitu selaras satu bagian dengan yang lain.
Kemudian aku berdandan dalam pakaian damaskus, bergegas ke luar rumah berjalan menuju ke tempat-nya.
Apakah kesendirianku, atau bau harum-nya, yang menarikku menuju pada-nya ? apakah mataku yang haus akan keelokan-nya atau keindahan-nya yang menerangi mataku?
Bahkan aku tetap tidak tahu sampai sekarang.
Aku berjalan menuju pada-nya dengan baju wangi semerbak dan sandal emasku, pemberian seorang kapten tentara roma beberapa waktu yang lalu. Ketika aku sampai pada-nya, aku berkata, "tuhan memberkatimu!"
Ia menjawab, "tuhan memberkatimu, maria."
Ia menatapku, dan mata-nya yang bagai malam, ketika memandangku, tidak seperti mata laki-laki yang pernah melihat padaku. Tiba-tiba aku merasakan diriku telanjang. Aku malu.
Namun ia hanya mengatakan, "tuhan memberkatimu."
Kemudian aku berkata pada-nya, "maukah engkau singgah ke rumahku?"
"apakah sekarang Aku belum berada di rumahmu?" sahut-nya.
Aku tidak mengerti maksud-nya kala itu, tapi sekarang aku paham.
Aku berkata lagi, "maukah engkau minum anggur dan makan roti bersamaku?"
Ia menjawab, "baik maria, tapi tidak sekarang."
Tidak sekarang, tidak sekarang. Tiba-tiba gemuruh suara lautan pun ada dalam dua kata-kata itu, bersama deru angin dan pepohonan. Ia mengucapkannya padaku seperti kehidupan mengucapkannya pada kematian.
Agar engkau tidak lupa, sahabatku, saat itu aku telah mati. Aku adalah seorang perempuan yang telah menceraikan jiwanya. Aku terpisah dari diri yang tengah engkau saksikan. Aku milik semua laki-laki, dan bukan milik siapa pun. Mereka memanggilku perempuan sundal, dan seorang perempuan yang memelihara tujuh setan. Aku dikutuk, dan aku penuh iri dan dengki.
Tetapi ketika fajar di mata-nya menatap mataku, semua bintang di malam-malamku meredup, dan aku menjadi maria, seorang perempuan yang hilang dari dunia lama yang dikenalnya, dan menemukan diri di tempat yang baru.
Kemudian aku berkata kembali kepada-nya, "datanglah ke rumahku, berbagi roti dan anggur bersamaku."
Ia menjawab, "mengapa engkau menawariKu menjadi tamumu?"
Aku berkata, "aku mohon datanglah ke rumahku." Hanya itulah yang memenuhi kesadaranku, seluruh langit yang ada dalam diriku menyeru-Nya.
Kemudian ia memandangku, dan terik siang di mata-nya menyinariku, ia berkata, "engkau punya banyak kekasih, tapi hanya Akulah yang mencintaimu. Laki-laki lain mencintai diri mereka sendiri dalam kedekatannya padamu. Aku mencintaimu dalam dirimu sendiri. Laki-laki lain melihat kecantikan dalam dirimu yang cepat memudar ketimbang tahun-tahun kehidupan mereka sendiri. Tetapi aku melihat kecantikanmu yang tidak akan memudar, dan di musim gugur dari hari-harimu, kecantikan itu tak akan takut berkaca, dan tidak dicela.
"Aku mencintai yang tak terlihat dalam dirimu."
Kemudian ia berkata, dalam suara rendah, "pergilah sekarang! Kalau pohon cemara ini milikmu dan engkau tidak mengizinkan Aku berteduh di bawah naungannya, aku akan meneruskan perjalanan."
Lalu aku menangis dan berkata padanya, "tuan datanglah ke rumahku. Aku punya dupa yang akan kubakar untuk-mu, dan dalam bejana perak untuk membasuh kaki-mu. Engkau orang asing, tapi bukan orang asing. Aku memohon dengan sangat kepada-mu, datanglah ke rumahku."
Ia berdiri dan memandangku bagai musim-musim memandang ladang, dan Ia tersenyum. Kemudian berkata lagi, "semua laki-laki mencintaimu untuk diri mereka sendiri. Aku mencintaimu untuk diri mu sendiri."
Ia berjalan, menjauh.
Tidak ada manusia yang pernah berjalan seperti jalan-nya. Apakah ini napas yang lahir dari kebunku yang sedang bergerak ke timur? Ataukah ini badai yang sedang menggoncang dasar bumi?
Aku tidak tahu, tapi di hari itu matahari yang tenggelam di mata-nya telah membunuh naga dalam diriku, dan aku menjadi seorang perempuan, aku menjadi Maria. Maria dari magda.

Sumber: Khalil Gibran


So I won't give up.. No, I wont' break down.. Sooner than it seems life turns around.. And I will be strong even if it all goes wrong.. When I'm standing in the dark I'll still believe.. Someone's watching over me :wink:
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)