Author Topic: pengajaran-pengajaran Kristen  (Read 3942 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

August 31, 2009, 09:37:49 AM
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 2509
  • Gender: Female
  • ai shi heng jiu ren nai you you en ci
Kekristenan dan Ilmu-ilmu Alam

oleh: Ev. R. B. G. Steve Hendra, S.T., M.Div.
Banyak orang berkata dewasa ini, bahwa ada suatu jurang raksasa antara Agama dan Ilmu Pengetahuan, yang tidak mungkin dijembatani oleh siapa pun. Jurang ini menurut mereka sangat besar, khususnya jika kita berbicara tentang ilmu-ilmu alam. Dibandingkan Agama semua yang ada dalam ilmu-ilmu alam nampak begitu jelas dan tertentu. Maka jika semua sudah begitu pasti, apa perbedaan yang dapat kita buat dengan Kekristenan? Apakah kita Kristen, Islam, Buddha atau bahkan Ateis, hal itu tidak ada pengaruhnya dalam ilmu-ilmu alam. Air di tempat yang rata akan cenderung mengalir ke tempat yang lebih rendah, tidak tergantung apakah kita seorang Kristen atau bukan. Tetapi apakah benar, bahwa Agama tidak ada perannya dalam ilmu-ilmu alam? (Pada tulisan ini saya membatasi diri hanya pada Kekristenan, khususnya pada Theologi Reformed, yang saya dalami. Alasannya adalah ada banyak agama dan theologi yang saya tidak di dalamnya)

Di sini kita harus pertama-tama menjelaskan arti dari beberapa ungkapan, sebelum saya dapat menunjukkan posisi saya dan menjawab pertanyaan tersebut. Setelah saya memberikan jawaban saya, saya akan menyatakan ide integrasi saya antara Kekristenan dan ilmu-ilmu alam.

Sebelum saya mulai, ijinkan saya mengajukan pertanyaan yang bagi saya mengganggu. Pertanyaanya adalah sebagai berikut: Jika memang benar bahwa agama tidak mempunyai peran dalam ilmu-ilmu alam, mengapa banyak ilmuwan yang ateist mengambil posisi religius sebagai Ateist? Dan mengapa mereka harus memperjuangkan posisi religiusnya dalam ilmu-ilmu alam? Jika tidak ada relasi antara keduanya, mengapa mereka melakukannya? Di sini saya cuma mencoba menunjukkan bahwa anggapan tersebut adalah suatu kesalahan. Ada suatu relasi yang penting diantara keduanya. Tapi relasi seperti apa? Kita akan membicarakannya dan saya menyumbangkan ide saya untuk menyelesaikan masalah ini.

I.  Penjelasan dari Ungkapan-ungkapan

Ilmu Pengetahuan. Ilmu pengetahuan kita mengerti sebagai suatu Disiplin, yang mengandung banyak data dan memahaminya dalam suatu relasi tertentu, untuk menjelaskan realitas. Untuk tujuan ini orang menggunakan di dalamnya banyak anggapan, teori, paradigma, dll. Ilmu pengetahuan berkembang melalui suatu prosedur tertentu, yang disebut metode ilmiah. Ilmu pengetahuan membatasi diri pada bidangnya. Karena pengertian-pengerti an ini orang dapat mengatakan bahwa suatu teori dalam suatu ilmu pengetahuan lebih baik, (1) jika dia dapat menjelaskan banyak kejadian, (2) jika dia dapat meramalkan banyak kejadian yang akan terjadi di masa datang, dan (3) jika dia dapat dikembangkan.

Teori. Teori adalah suatu formulasi penjelasan terhadap suatu kenyataan tertentu yang dibangun secara sengaja dalam ilmu pengetahuan. Suatu teori mengaju pada suatu tahap penjelasan tertentu, yang kebenarannya sudah diuji melalui cara tertentu, yaitu Metode Ilmiah. Jika Axioma karena mengacu pada suatu kenyataan sederhana yang bersifat teruji dengan sendirinya, sebaliknya untuk menjelaskan kenyataan yang rumit orang harus memformulasikan teori dan mengujinya. Untuk membangun teori, orang tidak dapat berurusan dengan data-data saja, melainkan logika, worldview dan semangat zaman memainkan peranan penting di dalamnya. Suatu teori lebih pasti daripada hipotesa tetapi kurang pasti jika dibandingkan hukum atau axioma.

Paradigma. Suatu teori, yang dibangun dan diterima, tergantung juga pada paradigma-pradigma yang berlaku dalam ilmu pengetahuan tersebut. Paradigma pada dasarnya juga adalah teori, yang kebenarannya sudah diterima secara luas.

Alam. Alam dimengerti para ilmuwan sebagai suatu kombinasi dari hukum-hukum, yang sudah pasti dan berlaku untuk menata semua kenyataan dalam alam semesta. Tetapi jika mereka mendapati sesuatu yang tidak taat kepada hukum tadi, mereka menyebutnya “kenyataan.” Di sini jelas bagi kita, bahwa kenyataan dan alam di kalangan ilmuwan berbeda, dan arti dari kata “kenyataan” lebih luas daripada arti dari kata “alam.” Hal ini perlu diperhatikan di sini.
Agama. Agama bagi saya adalah kata yang mempunyai beberapa arti. “Agama” dapat mengacu pada Institusi yang memiliki kitab suci, nabi, pengikut yang percaya, dll. Pengertian lain dari kata tersebut adalah suatu iman yang dipegang kuat dan menurutnya seseorang mengarahkan hidupnya. Ateisme termasuk juga dalam pengertian yang kedua. Jika saya mengatakan bahwa saya adalah seorang Kristen, maka kalimat saya mengacu pada pengertian kedua dari kata “agama.” (Saya juga mengerti disini, bahwa jika saya seorang Kristen, maka saya termasuk dalam bagian dari Kekristenan sebagai suatu Institusi.) Iman kepercayaan tersebut bagi theologi Reformed berasal dari sense of divinity, yang dimiliki semua manusia sebagai ciptaan yang dicipta menurut gambar Allah. Tidak ada orang yang dapat hidup tanpa kepercayaan seperti itu.

II.     Jawaban dari Pertanyaan

Pertanyaannya di sini berbunyi, Apakah ada suatu relasi antara agama dan ilmu alam. Untuk menjawab pertanyaan ini saya akan membatasi diri pada pengertian kedua dari kata “Agama.” (Saya akan membicarakan tentang pengertian yang pertama pada edisi yang lain).

Jika seandainya dalam ilmu-ilmu alam hanya mengenai axioma-axioma, mungkin akan tidak ada perbedaan apakah kita Kristen atau bukan. Air di tempat yang rata akan cenderung mengalir ke tempat yang lebih rendah, apakah kita Kristen atau bukan. Tetapi dalam kenyataannya ilmu pengetahuan tidak hanya berkenaan dengan axioma, tetapi juga teori-teori, paradigma-paradigma , dll, untuk menjelaskan realitas. Saya sudah mengatakan di atas, bahwa pembangunannya tidak netral, melainkan berpihak pada berbagai aspek, yang terdiri dari iman kepercayaan, worldview, tujuan, dll. Di sini para ilmuwan tidak hidup dalam Getto, melainkan dalam suatu masyarakat, yang di dalamnya mereka saling bertukar hal-hal tersebut dengan anggota masyarakat yang lain.
Sebenarnya sudah jelas, bahwa ilmu-ilmu alam hanya dapat memberikan penjelasan dari kenyataan-kenyataan menurut bidangnya masing-masing. Maka penjelasan mereka tidak pernah sama kuatnya dengan kenyataan-kenyataan tersebut, maka orang membutuhkan penerapan dari semua ilmu supaya berfungsi dengan baik dalam kehidupan kita. Selanjutnya kita juga harus menyadari bahwa ilmu pengetahuan tidak dapat menjawab pertanyaan tentang arti dari hidup, moralitas, atau semua pertanyaan metafisik, misalnya mengapa ada suatu aturan demikian dalam alam semesta?, dll. Pertanyaan-pertanya an ini terkait erat dengan kemanusiaan (sebagai ciptaan menurut gambar Allah, yang dilengkapi dengan karakter “makna” – menurut theologi Reformed) dan religiusitas kita. Jika sejarah ilmu pengetahuan alam diamati dengan seksama, sebenarnya orang dapat melihatnya. Untuk itu saya akan memberikan beberapa contoh di sini:
1.            Pada zaman dahulu manusia mengembangkan ilmu-ilmu alam menurut kebutuhan masyarakat. Baik untuk penggunaan praktis maupun religius orang melakukan penelitian, penemuan dalam ilmu pengetahuan. Mereka melakukannya dengan asumsi yang berlaku saat itu, yang oleh kebanyakan dari kita dipandang sebagai Mitos, misalnya, walaupun mereka sudah mengetahui bahwa bumi berbentuk bola orang Yunani tetap berpikir, bahwa ada seorang raksasa yang menopangnya dan dewa-dewa lainnya, sehingga manusia harus bertingkah menurut cara tertentu. Apa yang dapat kita saksikan di sini adalah kenyataan, (1) bahwa ilmu-ilmu alam sejak dari mula tidak dikembangkan dalam Getto, (2) bahwa manusia tidak hanya puas dengan hasil-hasil keilmuan, yang dapat menjelaskan kenyataan-kenyataan secara satuan, melainkan mereka berusaha juga untuk menjelaskan seluruh realitas, walaupun untuk itu mereka harus berspekulasi dengan penjelasan-penjelas an metafisis. (Banyak ilmuwan ateis pun setuju akan hal ini, walaupun mereka juga mengatakan bahwa penjelasan-penjelas an metafisis tersebut harus ditukar dengan penjelasan-penjelas an keilmuan.), (3) bahwa orang menentukan bidang-bidang lain dalam kehidupan manusia, misalnya Etika, Estetika dll., melalui suatu worldview yang merupakan pemahaman terhadap realitas yang utuh.
2. Dalam dunia modern, dimana dapat dikatakan, bahwa banyak mitos yang sudah ditukar dengan penjelasan-penjelas an keilmuan, toh muncul melaluinya banyak mitos baru, misalnya: Keutamaan rasio, alam yang bersifat mekanis, ateisme, dll. Kita dapat melihat bahwa tiga kenyataan tersebut sebenarnya tidak berubah. Tanpa konsep metafisik orang tidak dapat memahami seluruh kenyataan dalam realitas. Untuk hidup manusia membutuhkan bukan hanya memahami alam, melainkan juga kenyataan, supaya mengetahui apa yang harus dilakukannya dalam hidupnya. Mitos-mitos modern yang baru tersebut memainkan peranan yang besar dalam worldview modern, dan menyebabkan munculnya etika modern, perang modern, eksistensialisme hingga postmodernisme. Saya telah memberikan 2 contoh dari sisi masyarakat, sekarang saya ingin juga memberikan suatu contoh dari seorang ilmuwan.
3. Einstein adalah seorang Ilmuwan modern, yang teorinya menyebabkan lahirnya teori baru yang berkontradiksi dengan worldviewnya yang modern. Dengan pernyataannya “Allah tidak bermain dadu” (1926) dia mempertahankan asumsi-asumsinya terhadap kemunculan teori Kuantum, bahwa alam semesta bersifat panteis dan determinis dan bahwa teori bukan hanya suatu penafsiran dan model dari realitas, melainkan suautu penjelasan yang sejati yang sekuat dan sama dengan hukum-hukum yang berlaku di dalam alam. Asumsi-asumsinya ini dapat ditelusuri dari worldview modern yang berasal dari pembacaan modern1 dari buku “Discours de la Methode” dari Rene Descartes. Untuk memahami konsep Einstein tentang alam secara lebih baik kita juga harus memahami buku “Ethik in geometrischer Ordnung dargestellt” dari Spinoza, karena Einstein mengembangkan konsepnya tentang Alam menurut jalur Spinoza. Pengakuannya pada tahun 1934 kepada Spinoza: “Keyakinan yang terkait dengan perasaan yang mendalam akan suatu nalar yang dipertimbangkan, yang menyatakan diri dalam dunia yang dapat dialami, membentuk pengertian saya tentang Allah; orang dapat mengatakannya juga dalam pengungkapan yang umum sebagai pantheis (Spinoza).”2 Walaupun Einstein seorang Yahudi, Allah yang tidak bermain dadu bukan Allah Abraham, Ishak dan Yakub, melainkan suatu kesimpulan dari pemikiran filsafat, yang seharusnya menjamin kedapat dipahamian alam, menurut Einstein terutama determinisme kausal. Di sini kita dapat melihat sesuatu, bahwa bagi Einstein pun ilmu pengetahuan alam, terutama fisika, bukan hanya berkenaan dengan axioma-axioma, melainkan juga suatu iman kepercayaan, asumsi-asumsi, dll. Iman kepercayaan dan asumsi-asumsi lain tersebut mengarahkan pemahaman seorang ilmuwan tentang kenyataan dalam realitas. Di sini Einstein mengkuatirkan, bahwa tanpa Allah yang demikian tidak ada jaminan apakah esok matahari masih akan terbit. Tanpa jaminan demikian maka apa yang menjadi jaminan ilmu pengetahuan akan ketepatan teori-teorinya?
Dari contoh-contoh yang diberikan kita dapat memahami mengapa para ilmuwan memperjuangkan posisi religius mereka itu. Apa yang sebenarnya terjadi adalah kenyataan bahwa tanpa asumsi-asumsi religius seperti itu pemahaman akan realitas tidak mungkin. Orang tidak dapat mengkaitkan data-data dan axioma-axioma tanpanya, untuk menghasilkan suatu pemahaman. Pemahaman bukan hanya masalah data dan axioma, melainkan relasi antaranya. Melaluinya manusia mengerti bukan hanya apa makna kehidupan, apa yang harus dilakukan dalam kehidupan, melainkan juga apa yang harus dilakukan dengan ilmu pengetahuan, bagaimana mengembangkannnya lebih lanjut, bagaimana dan di mana manusia menempatkannya dalam kehidupan, dll.
Jika ada suatu relasi yang erat antara ilmu pengetahuan, khususnya ilmu pengetahuan alam dan iman, seperti apa relasi tersebut seharusnya? Tidak dapatkan seseorang sekadar mengambil suatu jenis dari relasi-relasi yang ada? Jika saya mengambil suatu relasi, apakah ada akibat teoritis ataupun praktis dalam kehidupan saya? Jika tidak, maka kita dapat sekadar mengambil suatu jenis relasi, yang kita sukai, Tetapi jika ya, maka kita seharusnya dengan hati-hati memilih di antara yang ada, satu untuk diambil.
Relasi tersebut tergantung pada jenis iman yang dimiliki si ilmuwan. Relasi tersebut berbeda-beda menurut worldview yang digunakan ilmuwan untuk memandang segalanya, misalnya, seorang ilmuwan ilmu alam yang ateis, yang percaya bahwa tidak ada Tuhan, akan berpikir bahwa tidaka da relasi ontologis antara ilmu alam yang dia pelajari dan makna hidupnya. Relasi baginya bersifat praktis, bahwa dia menyukainya dan bekerja dan berkarier. Jika seandainya ada suatu relasi teoritis, alasannya adalah semua manusia melakukannya. Dia akan beranggapan bahwa suatu hukum universal yang berlaku dalam alam dan tugas dari ilmu alam adalah menemukannya. Tetapi darimana hukum itu berasal, mengapa hukum itu demikian, dll., tidak perlu dipertanyakan, Masalah utama yang ada ini menyebabkan dia menjual sifat kesejarahan dari ilmu-ilmu alam. Ilmu-ilmu alam tidak dikembangkan dalam Getto, melainkan dalam suatu konteks sosial. Bagaimana penggunaannya? Apa yang boleh dan seharusnya diteliti?, dll. Pertanyaaan- pertanyaan ini tetap akan menjadi pertanyaan-pertanya an praktis yang tidak mempunyai kekuatan ontologis. Orang harus mentaatinya karena hukum, karena pelanggar akan dihukum. (2) Keutuhan realitas akan tetap tidak terpahami. Walaupun akan selalu ada penemuan ilmu pengetahuan yang baru, toh pertanyaan-pertanya an berikut tetap tidak terjawab, Apakah sebenarnya manusia itu? Apa makna dari hidup seorang manusia? dll., Apa yang dapat dikerjakan adalah mengabaikan pertanyaan-pertanya an tersebut dan mengatakan, bahwa tidak ada pertanyaan seperti itu. (3) Tetapi tanpa pertanyaan seperti itu tidak mudah untuk menyatukan kebenaran-kebenaran estetik, moral, etika, dll., (Mengenai kelemahannya saya tidak membicarakannya di sini.) Tetapi tentu saja dia dapat mengatakan, jika saya harus memikirakn semuanya, maka apa yang harus dikerjakan oleh para Filsuf, Sosiolog, ahli etika dan yang lainnya?

II. Suatu Ide Mengenai Integrasi Filosofis Antara Iman Kristen dan Ilmu-ilmu Alam
Setelah saya memberikan suatu contoh mengenai suatu relasi antara iman percaya dan ilmu-ilmu alam dari worldview ateis, saya akan membicarakan sekarang ide saya sendiri. Seperti yang telah saya katakan dari awal bahwa saya mewakili pandangan Kristen Reformed dan, sejujurnya, bangunan ide saya tentu saja bergantung pada isi iman dan worldview saya. Tetapi hal itu tidak berarti, bahwa saya tidak dapat memberikan pertanggungjawaban secara keilmuan. Mengingat tujuan dari karangan ini saya tidak akan memberikan terlalu banyak penjelasan yang spesifik dan keilmuan.
Alkitab mulai dengan suatu kalimat yang berbunyi, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” dan selalu memaparkan bahwa Allah menjalankan providensi-Nya dalam sejarah manusia dan akan mengakhiri sejarah.
Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Melalui kalimat ini kita dapat memahami, bahwa ada dasar ontologis bagi ilmu-ilmu alam di sini. Karena ciptaan tidak berasal dari probabilitas, melainkan dari rencana Allah, maka tugas dari ilmu alam dapat dipastikan di sini, yaitu menyingkapkan hukum-hukum Allah yang berlaku dalam Alam. Di sini jelas bahwa tugas dan etika dari ilmu-ilmu alam adalah menyingkapkan dan bukan menetapkan hukum-hukum yang berlaku dalam alam.
Karena alam (menurut makna di kalangan ilmuwan) juga direncanakan oleh Tuhan dan sama dengan alam (menurut makna yang normal), maka tidak dibutuhkan pembedaan antara “alam” dan “kenyataan,” seperti yang di mengerti dalam konteks ilmu-ilmu alam.3 (Pada konteks yang lain, tentu saja saya mengerti bahwa, “kenyataan” tidak hanya berarti terbatas pada fenomena-fenomena alam saja.) Apa yang harus diubah di sini adalah asumsi yang ada dibelakang kata tersebut, bahwa alam harus berjalan sesuai dengan hukum yang ditemukan oleh para ilmuwan ilmu alam. Tugas yang jelas ini seharusnya menyebabkan, misalnya, bahwa ilmu alam tidak dapat menolak mukjizat dan ilmuwan tidak perlu mengatakan bahwa “Allah tidak bermain dadu” atau “Allah bermain dadu.” Apa yang saya maksudkan di sini seharusnya di kalangan ilmuwan ada suatu keterbukaan terhadap suatu kenyataan yang baru dan menerimanya sebagai bagian dari alam.
Karena alam dicipta oleh Allah dan Allah, sang Pencipta, adalah Allah yang berpribadi dan tritunggal, maka alam, yang diciptakan, pasti merefleksikan ciri-ciri sang Penciptanya. Maka pertama-tama alam bukan hanya telah-ada (atau ada-begitu-saja) , melainkan ada-untuk,4 tepatnya, alam bukan hanya semata-mata ada, melainkan alam memiliki suatu makna, suatu fungsi, suatu konteks dan suatu tujuan sebagai sifatnya menurut rencana sang Penciptanya. Adalah kesalahan jika seseorang mengerjakan ilmu-ilmu alam seolah-olah mereka ada di dalam Getto. Kedua alam bukan hanya memiliki sifat one-and-many karena sifat one-and many dari sang Pencipta,5 melainkan juga sifat sosial, bahasa, dll. Maka bagaimanapun usahanya para ilmuwan tidak akan dapat menghilangkan ciri ilmu-ilmu alam tersebut, selama ilmu-ilmu alam masih berurusan dengan alam ciptaan Tuhan. Tiap kebenaran berkaitan satu dengan yang lain, dan usaha seperti itu hanya akan mengakibatkan abstraksi dan kontradiksi dari klaim-klaim keilmuan.
Hal ini juga tergantung pada manusia sebagai ciptaan tertinggi menurut gambar Allah. Kepada manusia tugas ini diberikan, untuk melayani dan menjaga alam.6 Karena manusia mirip Allah, manusia tidak dapat bekerja dalam Getto ketika mengembangkan ilmu-ilmu alam, apalagi dia adalah ciptaan yang bersifat sosial. Manusia harus tidak hanya demi kepentingan ilmu-ilmu alam saja menemukan hukum-hukum alam, melainkan juga untuk tujuan masyarakat, kemanusiaan dan tujuan tertinggi mempermuliakan Allah.
Di sini terdapat suatu kemungkinan, relasi dari semua aspekt kehidupan manusia teoritis dan tanpa kontradiksi dibangun dan menempatkan ilmu alam pada posisinya. Di sini terdapat pula kemungkinan untuk menentukan langkah praktis untuk mengembangkan keilmuan tanpa berkontradiksi dan mereduksi aspek-aspek kehidupan yang lainnya.

Dalam iman Kristen dijelaskan pula bahwa manusia telah jatuh di dalam dosa. Kenyataan ini saya mengerti sebagai kenyataan sejarah. Dosa saya mengerti sebagai perlawanan manusia melawan Allah, sang Penciptanya. Sekalipun dosa manusia Allah tetap memelihara ciptaan-Nya. Alam berfungsi menurut hukumnya dan tidak menjadi kacau. Disini masih ada kemungkinan untuk memperkembangkan ilmu pengetahuan dalam dunia yang telah jatuh. Tetapi kemungkinan ini digunakan manusia melalui ilmu-ilmu alam untuk melawan Allah, sang Pencipta dan Penopang. Memang tidak ada yang dapat berbicara tentang etika yang bersifat universal, jika seandainya Allah yang berpribadi tidak ada. Worldview Kristen menceritakan kepada kita bukan hanya apa yang terjadi, melainkan juga tugas dari anak-anak Tuhan yang berurusan dengan ilmu pengetahuan, khususnya ilmu-ilmu alam, yakni, menebus ilmu-ilmu alam demi kepentingan Allah.

 bersambung.....

   
イエスはあなたは私の人生を変えて
August 31, 2009, 09:38:05 AM
Reply #1
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 2509
  • Gender: Female
  • ai shi heng jiu ren nai you you en ci
Catatan kaki:

1. Pembacaan modern, yang dewasa ini berlaku di kalangan ilmuwan, sebenarnya sangat berbeda dengan apa yang Rene Descarte maksudkan. Pembacaan modern tidak memperhatikan “Meditationes de Prima Philosophia.” Memang penekanan Descartes pada penggunaan rasio dan teori matematikanya melalui pembacaan modern ini dapat mengakibatkan orang mudah berpikir bahwa sekalipun Allah adalah Pencipta alam semesta, tetapi kuasanya dibatasi oleh hukum-hukum alam, atau lebih kecil daripada hukum-hukum alam tersebut. Berangkat dari sinilah muncul deisme dan konsep-konsep modern yang salah tentang Allah.

2. Dikutip oleh Dieter Hattrup dalam Einstein und der würfelnde Gott: An den Grenzen des Wissens in Naturwissenschaft und Theologie, ( Freiburg : Herder, 2008), hlm. 19, dari Einstein, Albert., Mein Weltbild (1934). diterbitkan. Carl Sellig (Frankfurt u.a.: Ullstein, 1970), hlm. 201, 171.

3. Saya pernah berdiskusi dengan seorang teman tentang hal ini. Dalam perdebatan kami, teman saya mengatakan bahwa itu adalah problem semantik semata yang tidak perlu dipandang serius. Dalam diskusi tersebut saya mengajukan suatu contoh bahwa problem semantik bukan masalah remeh, melainkan suatu penipuan. Jika seseorang membeli daging, dan berkata kepada si penjual bahwa dia ingin membeli daging, lalu si penjual memberikan daging tikus kepadanya. Apakah yang akan dilakukan oleh orang tersebut? Bukankah dia akan merasa dipermainkan dan marah, walaupun daging tikus adalah daging juga. Tetapi dalam hal ini banyak orang senang menikmati penipuan.

4. Perbedaan antara “telah-ada” atau “ada-begitu-saja” (“vorhanden”) dan “ada-untuk” (“zuhanden”) dapat ditelusuri dari konsep dari Heidegger (Sein und Zeit). Tetapi di sini saya membuat suatu perubahan makna dan konteks. Perubahan tersebut adalah, pertama, Konteks dari kata tersebut berubah dari sifat-keduniaan- dunia-di- hadapan-manusia- sebagai-Dasein menjadi Situasi-ontologis- di-hadapan- Tuhan (von der Weltlichkeit der Welt vor den Menchen als Dasein zum ontologischen Zustand vor dem Gott). Catatan khusus bagi edisi Indonesia : ide keduniaan di sini bukan berarti sekuler, apa yang dibicarakan Heidegger tidak ada kaitan sama sekali dengan sakral dan sekuler! Kedua, Maknanya berbicara bahwa pada mulanya tidak ada yang telah-ada di hadapan Tuhan, karena dia adalah Sumber dari segalanya, bukannya ada-perbedaan- tersebut- bagi-manusia.

5. Problem one-and-many dapat diselesaikan oleh para theolog Van Tillian, melalui mereka menelusuri ke Kesempurnaan Allah Tritunggal. Tetapi tetap tinggal pertanyaan bagaimana hal itu seharusnya berfungsi, jika alam ciptaan memang one-and-many?

6. Terjemahan ini berasal dari kata-kata Ibrani “abad” dan “Shamar.” Kata-kata ini dalam penggunaannya oleh Musa menunjukkan kepada kita, bagaimana manusia harus menjalankan jabatannya sebagai mahkota ciptaan, yakni, pemimpin adalah pelayan.

Profil Ev. Steve Hendra:

Ev. Steve Hendra, S.T., M.Div. dilahirkan di Surabaya pada tahun 1976. Menerima Kristus pada tahun 1996 dan mengambil keputusan menjadi hamba Tuhan pada tahun 1997.

Setelah menyelesaikan pendidikan S-1 umum pada tahun 1999, melanjutkan pendidikan di Institut Reformed Jakarta dan mendapatkan gelar Master of Divinity (M.Div.) pada tahun 2003.

Mulai bulan Agustus 2003 melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Surabaya - Andhika serta sebagai dosen di Sekolah Theologi Reformed Injili Indonesia Surabaya (STRIS) Andhika dan International Reformed Evangelical Correspondence Study (IRECS). Saat ini, beliau sedang studi di Jerman.

email

   
イエスはあなたは私の人生を変えて
August 31, 2009, 09:44:48 AM
Reply #2
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 2509
  • Gender: Female
  • ai shi heng jiu ren nai you you en ci
DWI NATUR YESUS-1:

Keilahian dan Kemanusiaan Yesus

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.
Kredo Chalcedon (Chalcedonian Creed, abad 5M)

Inti pengajaran:

1. Yesus pada saat yang sama adalah sempurna dalam keilahian dan sempurna dalam kemanusiaan. Yesus sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia.

2. Dua hakekat/natur Yesus: tanpa percampuran, tanpa perubahan, tanpa perpecahan, tanpa perpisahan, karakteristik dari setiap natur tetap dipertahankan dan bersama-sama membentuk satu pribadi.

Catatan penting tentang pernyataan Kredo Chalcedon:

1) Meskipun keilahian dan kemanusiaan Yesus adalah tanpa perpecahan dan tanpa perpisahan, tetapi dua hakekat tersebut tetap bisa dibedakan.

2)  Masing-masing hakekat tetap memiliki sifat-sifatnya sendiri.

3)  Hakekat ilahi Yesus tidak berubah menjadi hakekat manusiawi Yesus à selama di dunia Yesus tetap Allah sejati.

4) Hakekat manusiawi Yesus tidak berubah menjadi hakekat ilahi Yesus à setelah kenaikan ke surga, Yesus tetap manusia sejati.

5) Dua hakekat Yesus tidak bercampur membentuk pribadi ketiga.

6) Yesus: dua hakekat tetapi satu pribadi (Logos), cf. Tritunggal: satu hakekat tetapi tiga pribadi.

Keilahian Yesus

Bukti-bukti keilahian Yesus:

1. Pernyataan Alkitab secara eksplisit (Yes. 9:5; Yoh. 1:1; Rm. 9:5; Flp. 2:5b-7; Tit. 2:13; Ibr. 1:8; 2Ptr. 1:1; 1Yoh. 5:20).

Isu khusus: Saksi Yehuwah menerjemahkan Yohanes 1:1c “The Word was a god”, karena dalam bahasa Yunani kata “god” (theos) tidak memiliki definite article.

Jawaban:
·  Dalam PB, kata theos tanpa definite article yang merujuk pada Allah Bapa muncul sebanyak 282 kali (mis., Yoh. 1:6, 12, 13, 18; 3:2, 21; 9:16).
·  Dalam konteks monotheisme Yahudi, kata theos sudah pasti merujuk pada satu Allah, sehingga penggunaan definite article tidak bersifat mutlak.
·  Dalam pengakuan Thomas di Yohanes 20:28, kata theos memakai definite article.
·  Struktur kalimat Yohanes 1:1c disebut Predicate Nominative. Dalam susunan seperti ini, definite article pada subjek (ho logos = Firman itu) juga membawahi kata benda yang lain.
· Seandainya kata theos memakai definite article, frase ini berkontradiksi dengan Yohanes 1:1b “Firman itu bersama-sama dengan Allah” (Cat: “Allah” di sini memakai definite article). Ini adalah ajaran sesat yang mengidentikkan Allah Anak dengan Allah (Bapa).
· Tujuan Yohanes menulis adalah membuktikan Yesus sebagai Anak Allah (=Allah), lih. Yoh. 20:30-31 cf. Yoh. 5:8; 10:30.
· Dalam Titus 2:13 dan 2 Petrus 1:1 Yesus disebut sebagai Allah (theos) dengan definite article.

2. Nama ilahi yang dikenakan pada Yesus.

· Yesaya 9:5 “Allah yang perkasa” (El Gibor, bdk. gelar yang sama untuk Yehowah di Yes. 10:21).

· Nama “Yehowah” dikenakan pada Yesus, baik di PL  (Yer. 23:6 dan 33:16 “YHWH tsidqenu”) maupun di PB (Yoh. 1:3; Kol. 1:16; bdk. Yes. 44:24; Yer. 10:11).

· Ibrani 1:8, 10  Allah menyebut Yesus dengan sebutan “Allah”.

3.Yesus mempunyai sifat-sifat ilahi, misalnya kekal (Mi. 5:1b; Yoh. 1:1; 8:58; 17:5; Why. 1:8; 22:13), Mahakuasa (Yoh. 5:21; 10:18; 15:24), mahatahu (Mat. 9:4; 12:25; Yoh. 2:24-25; 6:64), Mahaada (Mat. 18:20; 28:20b), tidak berubah (Ibr. 13:8). 

4. Yesus melakukan perbuatan-perbuatan ilahi, misalnya penciptaan (Yoh. 1:3; Kol. 1:16; Ibr. 1:2, 10), pengampunan dosa (Mat. 9:2-7), pembaruan segala sesuatu (Flp. 3:21; Why. 21:5), penghakiman (Mat. 25:31-32; Yoh. 5:22, 27). 

5. Kesetaraan dengan Allah Bapa (Yoh. 10:30; 14:7-11).

6. Setan mengakui Yesus sebagai Allah (Mat. 8:28-32). 

7. Yesus menerima penyembahan (Mat. 14:33; 28:9, 17; Yoh. 9:38; 20:28; bdk. Mat. 4:10; Kis 10:25-26; Kis. 14:14-18; Why. 19:10; 22:8-9).

8. Secara logis, klaim Yesus sebagai Allah lebih masuk akal, terutama jika dikaitkan dengan corak monotheistik masyarakat Yahudi. Logika: Yesus pendusta, orang to***, orang gila atau benar-benar Allah? (Josh McDowell).

Kemanusiaan Yesus

Bukti-bukti kemanusiaan Yesus:

1. Yesus datang sebagai manusia (Yoh. 1:14; 1Tim. 3:16; Flp. 2:7-8; Ibr. 2:14; 1Yoh 4:2).

2. Yesus memiliki tubuh (Mat. 26:26, 28; Luk. 24:39; Ibr. 2:14) maupun psuche-jiwa/roh (Mat. 26:38; 27:50; Luk. 23:46; Yoh. 11:33; 12:27; 13:21; 1Yoh 3:16).

3. Yesus memiliki pikiran manusia (Mat. 24:36; Luk. 2:40, 52), perasaan manusia (Mat. 8:10; 9:36; 26:37-38; Mar 3:5; 6:6; Luk. 7:9; Yoh. 11:33, 35; 12:27) dan kehendak manusia (Mat. 26:39).

4. Yesus mengalami pertumbuhan/ perkembangan (Luk. 2:40, 52).

5. Yesus mengalami semua pengalaman manusia, misalnya lahir (Luk. 2:7), lapar (Mat. 4:2), haus (Yoh. 4:7; 19:28), letih (Yoh. 4:6), tidur (Mat. 8:24), menderita (Ibr. 2:10, 18; 5:8) dan mati (Yoh. 19:30).

 
bersambung...
 


   
イエスはあなたは私の人生を変えて
August 31, 2009, 09:47:31 AM
Reply #3
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 2509
  • Gender: Female
  • ai shi heng jiu ren nai you you en ci
Pentingnya Dwi-natur Yesus – Cur Deus Homo?

Pentingnya keilahian Kristus:

1. Supaya Yesus bisa taat sempurna kepada Bapa (tanpa dikuasai dosa asal/natur manusia yang rusak – “total depravity”).

2. Supaya kematian-Nya memiliki nilai penebusan yang tidak terbatas (bdk. Mzm. 49:8-9 --- NIV “..no man can redeem the life of another...”).

3. Supaya Allah tetap adil ketika Ia menghukum Yesus sebagai ganti manusia, karena yang dihukum pada dasarnya adalah Allah sendiri.

Pentingnya kemanusiaan Kristus

1. Karena yang berdosa adalah manusia, maka yang menebus juga harus seorang manusia yang dapat mati (Rm. 8:3; Ibr. 2:14-17). Jika Yesus hanyalah Allah saja, maka Dia tidak bisa mati untuk menanggung dosa kita.

2. Supaya bisa menjadi pengantara antara Allah dan manusia (1Tim. 2:5, bdk. imam besar di PL).

3. Supaya Yesus dapat bersimpati terhadap manusia yang menderita atau dicobai (Ibr. 2:17-18; 4:15).

4. Supaya Yesus bisa menjadi teladan bagi manusia (Mat. 11:29; Yoh. 13:14-15; Flp. 2:5-8; Ibr. 12:2-4; 1Ptr. 2:21).
Pertanyaan untuk refleksi:

Ø  Kalau kepribadian Yesus berasal dari Logos, apakah itu berarti bahwa kepribadian manusia tidak turut ditebus?

Ø Mat. 27:46. Siapa meninggalkan siapa?

Sumber:
Profil Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.:

Ev. Yakub Tri Handoko, M.A., Th.M., yang lahir di Semarang, 23 November 1974, adalah gembala sidang Gereja Kristus Rahmani Indonesia (GKRI) Exodus, Surabaya (www.gkri-exodus. org) dan dosen di  Institut Theologi Abdiel Indonesia (ITHASIA) Pacet serta dosen tetap di Sekolah Theologi Awam Reformed (STAR) dari GKRI Exodus, Surabaya. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Theologi (S.Th.) di Sekolah Tinggi Alkitab Surabaya (STAS); Master of Arts (M.A.) in Theological Studies di International Center for Theological Studies (ICTS), Pacet–Mojokerto; dan Master of Theology (Th.M.) di International Theological Seminary, U.S.A. Mulai tahun 2007, beliau sedang mengambil program gelar Doctor of Philosophy (Ph.D.) part time di Evangelische Theologische Faculteit (ETF), Leuven–Belgia.


   
イエスはあなたは私の人生を変えて
August 31, 2009, 09:51:47 AM
Reply #4
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 2509
  • Gender: Female
  • ai shi heng jiu ren nai you you en ci
DWI NATUR YESUS-2:
Hubungan Antar Dua Natur Yesus


Penggunaan Istilah Pribadi dan Natur

Problem: dua istilah ini tidak ada dalam Alkitab; istilah ini juga berasal dari bahasa Latin, sehingga seiring berjalannya waktu bisa mengalami perubahan arti.

Solusi:

· Istilah non-Alkitab tetap diperlukan sepanjang istilah tersebut mampu menjelaskan arti yang sesungguhnya dari ajaran Alkitab. Beberapa istilah lain yang sering dipakai tetapi tidak terdapat dalam Alkitab adalah Tritunggal dan Inerrancy (ketidakbersalahan Alkitab).

· Lebih baik memakai istilah yang sudah umum tetapi disertai penjelasan yang tidak bias daripada menggunakan istilah baru yang sering kali justru tidak tepat dan tidak banyak menolong.

Pengertian: Yesus memiliki dua natur, tetapi satu pribadi (pribadi Allah).

· Natur manusia adalah esensi atau hakekat dari manusia. Dalam hal ini, tidak ada perbedaan antara hakekat manusia yang satu dengan yang lain. Semua memiliki hakekat yang sama. Hakekat ini sudah merupakan seluruh manusia, tidak kurang dan tidak lebih.

· Pribadi manusia adalah hakekat manusia yang sudah dipribadikan, sehingga pribadi masing-masing manusia akan berbeda. Pribadi bukanlah sesuatu yang perlu untuk melengkapi maupun sesuatu yang pokok. Pribadi merupakan terminal (akhir) yang akan dituju hakekat.

·Ilustrasi: tanah liat dan beragam bejana.

Persatuan pribadi (Hypostatical/ personal Union)

1. Yesus sungguh-sungguh manusia dan Allah, tetapi Ia hanya memiliki SATU PRIBADI, yaitu pribadi Allah. Dalam konteks kejamakan pribadi Allah Tritunggal (3 pribadi, satu hakekat), Allah sering kali disebut dengan kata ganti orang jamak (Kej. 1:26), terlibat dalam dalam percakapan antara satu dengan yang lain (Mzm. 2:7), terlibat dalam tindakan mutual (Mat. 3:17; Yoh. 17:23-24). Semua fenomena ini tidak pernah dipakai untuk menggambarkan diri Yesus.

2. Yesus sebelum inkarnasi memiliki hakekat ilahi dan pribadi ilahi. Pada saat inkarnasi Ia mengambil hakekat manusia saja, bukan pribadi manusia. Proses ini harus dilihat sebagai suatu persatuan, bukan percampuran.

3. Hakekat manusiawi tidak pernah terpisah dari pribadi Anak Allah.
 
Akibat dari Persatuan Pribadi

a) Communicatio Idiomatum (pemberian sifat-sifat) .

Pengertian “idiomatum” di sini adalah sifat-sifat dasar yang dimiliki oleh semua manusia, misalnya terbatas, tidak mahatahu, bisa berdosa, bisa mati. Pemarah, sombong, kikir, dll bukanlah sifat dasar manusia, karena tidak semua manusia memiliki sifat-sifat tersebut. Hal ini tidak berarti bahwa sifat dasar hakekat ilahi diberikan kepada hakekat manusiawi maupun sebaliknya. Sifat dasar hakekat ilahi dan hakekat manusiawi diberikan kepada pribadi Anak Allah. Akibat persatuan ini tidak heran Yesus kadangkala digambarkan terbatas pengetahuannya (Mat. 24:36), tetapi Ia juga mahatahu (Mat. 9:4; Mat. 12:25; Yoh. 2:24-25; 6:64).  

b) Communicatio Operationum/ Apostelesmatum (pemberian tindakan-tindakan) .

Pengertian istilah ini adalah “semua tindakan Yesus adalah tindakan yang dilakukan oleh seluruh pribadi Yesus”. Memang ada tindakan ilahi (mencipta, memelihara), tindakan manusiawi (makan, minum) maupun gabungan ilahi-manusiawi (menebus dari dosa), tetapi setiap tindakan adalah tindakan yang dilakukan oleh Kristus.

c) Communicatio Charismatum/ Gratianum (pemberian karunia-karunia) .

Persatuan dua natur ini menyebabkan hakekat manusiawi ditinggikan melebihi semua ciptaan, baik dalam hal intelek, kehendak dan kuasa, sehingga menjadi menjadi objek penyembahan. Salah satu akibat dari proses ini adalah ketidakmampuan Kristus untuk berdosa.

Beberapa ayat yang menunjukkan persatuan dua natur ini antara lain:

1)  Kisah Para Rasul 20:28 “...jemaat Allah yang ia telah beli dengan darah-Nya sendiri...” (Catatan: terjemahan TB, “darah Anak-Nya” tidak tepat, karena kata “Anak” tidak ada dalam teks Yunaninya). Dalam teks ini terlihat ada gelar ilahi (Nya=Allah), tetapi predikatnya merujuk pada kemanusiaan Yesus (darah).

2) 1 Korintus 2:8 “...menyalibkan Tuhan yang mulia...”. Sebutan “Tuhan yang mulia” menunjukkan keilahian Yesus, tetapi predikat “menyalibkan” menunjukkan kemanusiaannya.

Konklusi

Seseorang tidak boleh menggunakan ayat-ayat yang menunjuk pada kemanusiaan Yesus sebagai bukti bahwa Ia bukan Allah, begitu juga sebaliknya.

Pertanyaan untuk refleksi

1) Apakah kemarahan Yesus (Mat. 21:12-13; Mrk. 3:5; Yoh. 2:14-15) membuktikan bahwa Ia sudah berdosa, karena tidak bisa menguasai diri?

2)Yesus dibaptis oleh Yohanes, padahal bapisan itu untuk orang berdosa (Mrk. 1:4). Apakah ini berarti bahwa Yesus juga berdosa?

sumber:
seminar Profil Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.:

Ev. Yakub Tri Handoko, M.A., Th.M., yang lahir di Semarang, 23 November 1974, adalah gembala sidang Gereja Kristus Rahmani Indonesia (GKRI) Exodus, Surabaya (www.gkri-exodus. org) dan dosen di  Institut Theologi Abdiel Indonesia (ITHASIA) Pacet serta dosen tetap di Sekolah Theologi Awam Reformed (STAR) dari GKRI Exodus, Surabaya. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Theologi (S.Th.) di Sekolah Tinggi Alkitab Surabaya (STAS); Master of Arts (M.A.) in Theological Studies di International Center for Theological Studies (ICTS), Pacet–Mojokerto; dan Master of Theology (Th.M.) di International Theological Seminary, U.S.A. Mulai tahun 2007, beliau sedang mengambil program gelar Doctor of Philosophy (Ph.D.) part time di Evangelische Theologische Faculteit (ETF), Leuven–Belgia.

   
イエスはあなたは私の人生を変えて
September 03, 2009, 09:08:56 AM
Reply #5
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 2509
  • Gender: Female
  • ai shi heng jiu ren nai you you en ci
DECISION MAKING IN THE WAY OF WISDOM-2

oleh: Pdt. Effendi Susanto, S.Th.

Nats: Kolose 1:9-14

Dari minggu lalu saya sudah membahas satu topik yang saya percaya merupakan topik yang sangat penting dan sangat esensi bagi kita semua karena ini bicara mengenai decision making di dalam hidup kita. Hari ini saya ingin membahas beberapa dimensi di dalam decision making yang saya harap akan membukakan banyak hal bagi saudara di dalam pergumulan mengambil keputusan penting di dalam hidupmu. Saya sangat senang melihat dan mengamati bagaimana pertumbuhan kerohanian saudara sejak datang berbakti di sini dan saya luar biasa bersukacita melihat ada orang-orang yang mengalami perubahan dan pertumbuhan yang luar biasa. Waktu memulai pelayanan mimbar di kota ini sepuluh tahun yang lalu, saya tidak pernah berpikiran mau menjadikan gereja ini menjadi gereja besar, bahkan jujur saya tidak punya pikiran mau mendirikan satu gereja. Waktu itu pikiran saya hanya satu yaitu saya hanya mau melayani Tuhan dan berkhotbah dengan sebaik-baiknya. Kerinduan saya adalah bagaimana membuat orang Kristen melalui Firman Tuhan, melalui pertumbuhannya di dalam gereja, mereka keluar menjadi terang dan saksi Tuhan bagi dunia ini.

 

Doa Paulus di dalam Kolose 1:9-14 ini adalah satu doa yang indah sekali. Setelah Paulus mendengar bagaimana orang-orang di Kolose menjadi percaya dan mengikut Yesus, sekarang mereka sudah menjadi anak-anak Tuhan, maka Paulus berdoa untuk mereka di dalam bagian ini. Paulus berdoa supaya mereka bisa ikut Tuhan makin ikut Dia mereka makin memiliki pengenalan yang benar akan Dia. Paulus berdoa supaya hidup mereka berkenan kepada Tuhan, mengalami pertumbuhan terus-menerus, hidup hari demi hari makin mengenal Tuhan. Ini juga menjadi kerinduan saya, setiap kali saudara berbakti saudara juga mengalami pertumbuhan seperti itu, mengenal Tuhan dengan benar, mengerti Firman Tuhan dengan benar, menjadi orang Kristen yang belajar mengenal kehendak Tuhan dan bertumbuh.

 

Minggu lalu saya sudah mengangkat satu point yang penting sekali, saya berharap pengertian orang Kristen mengerti kehendak Tuhan harus betul-betul menyingkirkan konsep “the sense of Mysticism.” Kita tidak terima orang mengerti kehendak Tuhan dengan dua cara, yaitu yang satu dengan cara seperti “gua mia,” main random buka Alkitab lalu tunjuk dan baca kehendak Tuhan dari situ. Cara yang kedua, kita tidak menerima konsep pengertian bahwa Tuhan memberitahukan kehendak-Nya bagimu secara pribadi dengan subjective. Ini adalah konsep mysticism yang tidak kita terima. Sebaliknya kita pakai prinsip yang penting dari “the way of wisdom” di dalam mengambil keputusan. Di dalam pengalaman kita, saya menemukan pasti ada satu unsur feeling di dalam pengambilan satu keputusan. Maka pertanyaannya adalah: Where is the proper place of feeling in decision making? Banyak orang baru ambil keputusan kalau feelingnya enak, bukan? Namun apakah perasaan “feel good” itu menjadi aspek yang penting di dalam mengambil keputusan? Kita tidak meletakkan feeling sebagai unsur utama di dalam mengenal kehendak Tuhan karena Tuhan tidak pernah mengabaikan proses pikiran yang disucikan oleh kebenaran Firman Tuhan menjadi cara kita mengenal jalan Tuhan di dalam hidup kita. Maka Paulus berdoa supaya spiritual wisdom and understanding kita terus bertambah. Kita tidak mengabaikan pikiran yang Tuhan sudah karuniakan kepada kita untuk berpikir dan mempertimbangkan keputusan kita. Beberapa ayat yang sudah saya angkat minggu lalu memperlihatkan prinsip Paulus yang jelas, prinsip memakai pikiran di dalam mengenali kehendak Tuhan. Pertama, “I thought it best…” pikir apa yang terbaik, selalu pikirkan opsi-opsi yang terbaik. Yang kedua, “I thought it is necessary…” banyak decision making yang mesti kita ambil mungkin tidak bisa kita pegang semuanya sekaligus di dalam waktu yang berbarengan, maka Paulus putuskan mana yang lebih penting, mana yang lebih utama.

 

Sampai di sini, saya mau mundur selangkah dulu. Banyak orang Kristen sudah confused di dalam menggunakan frase mengenai kehendak Allah. Maka saya akan menjelaskan beberapa point mengenai kehendak Allah ini karena umumnya kehendak Allah di dalam Alkitab berbicara di dalam tiga aspek.

1.      God’s Will of Decree

Dalam Efesus 1:5 Paulus bilang, “...dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula untuk menjadi anakNya…” ini adalah salah satu contoh dari God’s will of decree. Di bagian lain, misalnya di dalam Kisah Para Rasul 2:23, Petrus berkata, “Yesus yang kamu salibkan itu adalah Yesus yang kamu bunuh tetapi itu seturut dengan kehendak Allah.” Artinya tindakan menyalibkan dan membunuh Yesus adalah keputusan dan tanggung jawab manusia, tetapi kematian Yesus itu adalah jelas kehendak Allah. Mereka yang membunuh Yesus tidak bisa lepas tangan berpikir karena itu adalah kehendak Tuhan, tetapi sebaliknya tidak boleh berpikir dirimu sebagai aktor yang berperan di situ. Rencana kematian Yesus di atas kayu salib adalah rencana Bapa di surga. Di bagian lain di Alkitab dikatakan, engkau menjadi anak-anak Allah, engkau sudah dipilih dan ditentukan sebelum dunia dijadikan, untuk mendapatkan segala berkat karunia yang begitu bernilai di surga, bukan engkau yang pilih Tuhan tetapi Tuhan yang pilih engkau berdasarkan kerelaan kehendakNya. Tuhan Yesus berkata, Allah Bapa di surga yang mengatur segala sesuatu. Tidak ada hal yang terjadi di atas muka bumi ini tanpa sepengetahuanNya. Rambut di kepalamupun dihitungNya. Lihatlah burung-burung di udara. Tidak ada satu ekorpun yang jatuh di luar pengetahuan dan kehendak Bapa. Di dalam kitab suci kita akan saudara temukan frase “His will” muncul beberapa kali, berarti ayat-ayat itu sedang berbicara mengenai God’s will of decree, kehendak Allah yang bersifat ketetapan. Kehendak Allah yang bersifat ketetapan adalah kehendak Allah yang sudah Ia tetapkan dari kekekalan. Di dalam rencanaNya yang sempurna maka ketetapan itu pasti akan terlaksana. Tidak ada orang yang bisa mencegah dan melawan ketetapan itu. Allah yang menetapkan di dalam penciptaan, Allah yang mengatur dan mengontrol segala sesuatu, semua itu akan terlaksana. Itu adalah ketetapan yang berdaulat, yang tidak pernah akan gagal dilaksanakan atas ciptaan, atas dunia ini dan atas segala bangsa.

 

 

2.      God’s Will of Desire

Maksudnya adalah kehendak Tuhan yang Ia nyatakan kepada kita sebagai hal-hal itu adalah hal-hal yang disukai oleh Tuhan sebab hal-hal itu bersesuaian dengan sifat dan karakter Tuhan. Allah suka engkau menjalankan keadilan, sebab sifat Allah adalah adil adanya. Allah benci dengan segala korban bakaran yang dipersembahkan oleh orang yang hidup di dalam kelaliman dan tangan yang menumpahkan darah. Allah menyukai keadilan, kebenaran dan damai sejahtera. Kehendak Allah yang Ia sukai adalah kehendak yang Ia nyatakan melalui firmanNya terhadap apa yang Allah perintahkan dan apa yang Allah larang. Allah suka dan mau kita kudus, sebab Ia adalah Allah yang kudus adanya. Allah mau kita hidup benar, sebab Ia adalah benar adanya. Ini yang kita sebut sebagai God’s will of desire. 1 Yohanes 2:15-17 berbicara mengenai God’s will of desire ini. Ayat ini langsung mengkontraskan dua hal yang berbeda. Ada “Desire of Flesh” ada “Desire to do His Will”. Kata God’s will di sini jelas bukan berkaitan dengan kehendak Allah di dalam ketetapanNya tetapi kehendak Allah yang bertentangan dengan the desire of flesh yang melawan Tuhan, yang tidak mencintai dan tidak taat kepada kebenaran Firman Tuhan. Pada waktu kita bicara mengenai God’s will of desire, ini berbeda dengan God’s will of decree. God’s will of decree tidak mungkin ditolak oleh manusia sedangkan God’s will of desire bisa ditolak dan bisa dilawan oleh manusia. Allah menginginkan manusia itu kudus, namun manusia berdosa. Allah menginginkan manusia itu hidup setia, namun manusia bisa tidak taat kepadaNya. Maka God’s will of desire sudah Ia berikan di dalam firman-Nya namun kita bisa keluar dari kehendakNya itu dengan memberontak kepada-Nya.

bersambung

   
イエスはあなたは私の人生を変えて
September 03, 2009, 09:09:59 AM
Reply #6
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 2509
  • Gender: Female
  • ai shi heng jiu ren nai you you en ci
3.      God’s Will of Direction

Saya percaya Tuhan menciptakan engkau dan saya itu unik adanya. Engkau dan saya menjadi pribadi-pribadi yang Tuhan hargai. Kita ikut Tuhan sebagai pribadi, maka masing-masing kita memiliki satu hubungan yang unik dan pribadi kepada Tuhan. Tentunya panggilan Tuhan kepada engkau dan saya adalah panggilan yang unik dan berbeda-beda. Sehingga waktu saudara bertanya kepada saya apakah Tuhan memiliki keinginan dan kehendakNya secara pribadi kepada masing-masing kita? Jawabannya adalah “Ya.” Kalau begitu, waktu saya mengambil keputusan untuk hidup saya di depan, masa depan saya, pilihan pekerjaan saya, jodoh, dsb, lalu kita bertanya kepada Tuhan, apakah Tuhan memiliki kehendakNya kepadaku di situ? Jawaban saya, “Ya.” Tetapi perhatikan kesalahan yang selalu muncul di sini ketika orang berbicara mengenai God’s will bagi kita secara pribadi, sering kali menempatkan God’s will di dalam pengertian God’s will of decree. Inilah yang timbul di dalam konsep banyak orang Kristen yang berpikir seperti ini: kita harus mencari kehendak Tuhan dan kehendak Tuhan itu sangat spesifik kepada setiap orang seperti satu blueprint. Seumur hidup saudara harus mencari kehendak Tuhan itu dan kalau saudara “missed” maka seumur hidup saudara tidak berjalan di dalam kehendak Tuhan yang sangat indah dan sempurna bagimu. Ini adalah konsep yang salah namun banyak orang pegang konsep ini. Maka saudara sungguh-sungguh berdoa, di dalam pengertian saudara di dalam kekekalan, Tuhan sudah menetapkan satu orang menjadi suami atau isterimu. Maka tidak boleh sembarangan pilih. Kalau you pilih yang tepat maka seumur hidup engkau akan menjalani satu pernikahan yang bahagia, maka jangan sembarangan dengan hidupmu. Kalau Tuhan sudah tetapkan si A menjadi suamimu tetapi kamu pilih si B, maka seumur hidup pernikahanmu tidak akan bahagia. Maka tidak heran dengan konsep seperti itu ada orang yang sudah menikah 20 tahun karena banyak cekcok lalu berpikir mungkin dia salah pilih. Lalu akhirnya dia konseling dengan istri tetangga yang sangat bersimpati dengan dia, lalu dia merasa kenapa dengan istri tetangga bisa ngobrol lama dan nyaman rasanya. Lalu dia pikir kayaknya ini mungkin pilihan Tuhan cuma saya salah pilih. Akhirnya kita akan jatuh kepada subyektifitas kita, yaitu kalau hidup pernikahan enak dan lancar, kita bilang itu karena kita pilih yang benar. Lalu kalau sudah mulai ribut, kita pikir mungkin bukan. Makin pikir ini bukan kehendak Tuhan, makin mencurigai keputusan yang sudah diambil. Salahnya dimana? Kalau saudara bertanya, apakah Tuhan punya kehendak pribadi bagiku? Jawabnya, Ya. Tetapi apakah Tuhan menaruh itu sebagai satu blueprint yang harus kau cari jawabannya? Tidak. Maka mengerti pimpinan Tuhan di dalam hidupmu, God’s will of direction, Tuhan punya will bukan destination- nya melainkan direction-nya. Saudara tangkap bedanya? Bagi saya tidak ada yang tahu destination itu. Bukan saja tidak tahu, Tuhan juga tidak pernah buka seperti itu. Yang Tuhan sudah tetapkan adalah direction-nya. Artinya kalau saudara jalan di dalam direction itu, pasti destination- nya sampai. Jadi sekali lagi, tidak ada blueprint yang harus kau cari seperti itu.

 

Dengan mengerti seperti ini maka kita akan terhindar dari banyak kesalahan di dalam memahami God’s will. Kesalahan yang pertama adalah kalau saudara mengatakan bahwa Tuhan memiliki rencana yang khusus dan spesifik yang harus kita cari, kebahayaannya itu berarti saudara memiliki konsep mengenai Allah yang “usil” seperti seorang bapak yang suruh anaknya tebak-tebak mana yang dia sudah tentukan. Kalau ternyata kita salah tebak, hidup jadi susah. Jadi, Tuhan ingin kamu cari kehendak-Nya tetapi Dia sendiri sembunyikan dan minta kamu tebak-tebak, sesudah salah tebak lalu Dia bilang, ‘rasain lu, salah pilih.’ Illustrasi kedua, banyak orang cari kehendak Tuhan untuk pribadinya seperti sedang main “maze” yang ada di tengah, lalu ada banyak jalan masuk yang harus dipilih. Yang bikin maze itu sudah atur ada satu jalan yang akan sampai ke tengah, kalau kita salah pilih maka seumur hidup kita tidak akan sampai ke situ.

 

Kesalahan kedua, mencari kehendak Tuhan seperti itu membuat hidup orang Kristen tidak pernah melangkah dengan iman, tetapi selalu menjadi orang Kristen yang pengecut. Kenapa banyak orang Kristen selalu mau cari dan minta pimpinan Tuhan? Kevin DeYoung mengatakan, di dalam dunia sekarang banyak orang Kristen tidak memakai pikirannya sebelum memutuskan sesuatu. Cepat-cepat memutuskan tanpa pakai pertimbangan dan otak. Tetapi sebaliknya ada banyak orang yang sudah pikir segala sesuatu tetapi tidak mau jalan. Kita terus minta Tuhan menyatakan kehendaknya, minta Tuhan buka jalan dan minta pimpinanNya artinya mau semua jalan itu lancar, bukan? Minta Tuhan selalu kasih yang baik-baik sehingga membuat banyak orang Kristen tidak berani melangkah dengan iman. Justru kadang-kadang jalan susah dan berat tapi kita berani ambil keputusan itu bukan karena ngotot atau tidak mengerti, tetapi dengan prinsip di dalam kondisi apa pun saya tahu Tuhan pimpin dan take control. Jangan terbalik, pikir Tuhan kasih kelancaran, itu berarti jalan dari Tuhan. Kita ingin Tuhan pimpin dan buka jalan di depan supaya kita bisa jalani dengan “safety first”.

 

Kesalahan ketiga kalau mengerti pimpinan Tuhan supaya memberikan hal yang spesifik, bahayanya terlalu banyak orang Kristen salah mencari kehendak Tuhan, terlalu fokus kepada non-moral decision instead of moral decision. Contoh, banyak anak muda doa sampai jungkir balik pilih jodoh tapi missed the point, kita minta pimpinan Tuhan tapi ada lima nama kita ajukan di dalam doa kita lalu minta Tuhan pimpin. Kalau bisa minta pencerahan lewat mimpi, mana yang dari Tuhan karena kita tidak mau menjalani hidup di depan menikah dengan orang yang salah. Ini missed the point di dalam meminta pimpinan Tuhan bagi jodohmu, siapa dia, itu non-moral decision. Tetapi banyak orang tidak berdoa minta apa yang Tuhan mau di dalam menjalani proses pacarannya. Banyak orang doa minta pimpinan Tuhan untuk pilih pekerjaan A atau B, tetapi tidak banyak yang doa bilang Tuhan pekerjaan yang mana saya bisa bekerja dengan benar. Jadi dapat jodoh A atau B, minta pekerjaan A atau B, yang dianggap lebih penting A atau B, bukan kepada aspek moralnya. Kalau saudara memilih pekerjaan A karena di situ ada kebenaran, melalui pekerjaan ini hidup Kristen saya tidak dikompromikan. Itu hal yang lebih penting. Mau memasuki masa pacaran dan menikah, minta Tuhan memberi hati yang sungguh bisa berpacaran memperkenan Tuhan, itu lebih penting daripada doa minta A atau B. Kalau kita minta melalui pacaran kita bisa menjadi pasangan yang mempersiapkan satu keluarga yang mengasihi Tuhan, itu doa lebih penting.

 

Kesalahan keempat, kalau kita bilang kepada Tuhan, biarlah itu menjadi kehendak-Mu yang aku jalani, orang yang suka ngomong seperti ini memiliki satu kesalahan yang subyektif karena Tuhan tidak ada berbicara spesifik seperti itu. Tetapi karena sering pakai kalimat itu, kebahayaannya adalah banyak orang berusaha menghindar dari tanggung jawab pribadi di dalam mengambil keputusan. Ke sana atau ke sini, dua-dua adalah pimpinan Tuhan. Tetapi waktu kita pilih, pegang itu sebagai keputusan yang kau ambil berhubungan dengan Tuhan.

 

Kelima, kalau kita bilang Tuhan punya kehendak-Nya secara spesifik lalu minta engkau cari, kebahayaannya kita bisa jatuh ke dalam subyektifisme. Banyak orang Kristen bilang dia akan jalan kalau Tuhan kasih tanda dengan kelancaran, tidak ada halangan. Kalau itu menjadi syarat kita mengambil keputusan, tidak ada keputusan penting dalam hidup ini yang tidak ada unsur anxiety, unknown aspect di dalamnya. Kalau tunggu semua jalan Tuhan buka, baru hati saya tenang mengambil keputusan, jujur saya katakan kepadamu, tidak ada keputusan yang tidak memiliki faktor seperti itu. Ambil keputusan mau kerja di perusahaan A, apakah tidak ada perasaan takut? Itu adalah satu hal yang wajar karena kita tidak tahu apa yang ada di depan. Maka sekali lagi, bukan destinasinya tetapi direction-nya yang kita cari.

 

Ada dua ayat yang bicara mengenai kesempatan yang Tuhan beri sebagai “open doors” lalu bagaimana Paulus ambil keputusan di situ, 1 Korintus 16:8-9 Paulus memutuskan untuk tinggal di Efesus –ini decision making yang dia ambil- dengan alasan di situ Tuhan buka jalan untuk mengerjakan pekerjaan yang besar dan penting sekalipun banyak penentang. Kalau kita ambil decision waktu jalan lancar dan baik, semua smooth, kita tidak ambil keputusan seperti Paulus karena jelas di situ banyak penentang. Tetapi pointnya adalah ada kesempatan pintu terbuka, lalu Paulus bilang ini hal yang penting di dalam pelayanan sehingga dia make decision untuk tinggal. Dalam 2 Korintus 2:12-13 Paulus memutuskan untuk tidak tinggal di Troas meskipun Tuhan membuka jalan untuk pelayanan di sana , sebaliknya dia pergi mencari Titus. Saya percaya Paulus ambil keputusan dengan pertimbangan yang matang dan bertanggung jawab. Paulus perlu untuk bertemu Titus karena dia membawa satu message yang penting sekali berkaitan dengan kebahayaan yang terjadi di gereja Korintus. Tetapi kalau dia tinggal di Troas , Paulus tidak bisa ketemu dengan Titus. Zaman itu komunikasi tidak gampang. Maka pilihan Paulus memperlihatkan prinsip ini: baik di Efesus maupun di Troas , dua-dua Tuhan buka kesempatan. Jadi bukan unsur “open doors” yang menjadi penting melainkan bagaimana pekerjaan Tuhan lebih penting. Ada tantangan, ada kesulitan, tidak menjadi unsur penting.

 

Maka bagaimana Tuhan pimpin, kita melihat langkahnya benar atau tidak, dua-dua pilihan ini berkenan di hati Tuhan atau tidak. Kalau kita tahu Tuhan berkenan kepada pilihan kita, maka pakai bijaksanamu baik-baik, taruh di dalam doamu, renungkan sebaik-baiknya, kelola dan ambil keputusan. Sesudah ambil keputusan, bersyukur kepada Tuhan dan bilang kepada-Nya ini keputusan yang saudara ambil dari pilihan yang berkenan kepada-Mu. Jalani itu.

Sumber:

http://www.griisydn ey.org/ringkasan -khotbah/ 2009/2009/ 05/17/decision- making-in- the-way-of- wisdom-2/

   
イエスはあなたは私の人生を変えて
September 10, 2009, 01:01:18 PM
Reply #7
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 2509
  • Gender: Female
  • ai shi heng jiu ren nai you you en ci
NEGARA MENURUT PERJANJIAN LAMA DAN HUBUNGANNYA DENGAN GEREJA DALAM KONTEKS INDONESIA

oleh: Pdt. Binsar A. Hutabarat, M.C.S.

MENINJAU SITUASI INDONESIA MASA KINI
Di Indonesia khususnya, ‘politik identitas’ mendapatkan ruang secara hukum, kebebasan dalam membangun partai agama diklaim sebagai perwujudan hak kebebasan yang tidak boleh diberangus. Tetapi jika kebebasan tersebut akhirnya akan membawa Indonesia pada jurang kehancuran, yaitu terciptanya pemerintahan yang absolutis dan membelenggu kebebasan, maka bisa jadi kebebasan tidak lagi menjadi kebebasan, karena ia akan menjerumuskan manusia ke dalam jurang yang jauh dari kebebasan. Dan jika kriteria diatas dipadukan dengan “hegemoni agama” maka akan menjadi suatu ancaman bagi kesatuan suatu bangsa majemuk. Hegemoni agama merupakan sesuatu yang berbahaya bagi demokrasi, sebagaimana terjadi dalam abad pertengahan, ketika agama dan negara mengalami penyatuan dan melahirkan negara yang tunduk kepada gereja, lalu lahirlah ‘pemerintahan despotis.’ Dan jika criteria diatas dipadukan maka akan menjadi suatu ancaman bagi kesatuan bangsa yang majemuk ini.

 

Munculnya partai-partai politik Kristen di era reformasi, di satu sisi menunjukan kegairahan orang Kristen untuk memberikan kontribusinya bagi pembangunan bangsa setelah sekian lama dibelenggu rezim yang otoriter. Di sisi lain munculnya partai-partai Kristen ini adalah mengikuti partai-partai yang bernafaskan Islam yang ingin menunjukan hegemoninya. Kemudian timbullah kekuatiran, bahwa kehadiran partai-partai yang berbasis agama tersebut bisa menjadi kontra produktif bagi pelestarian negara Pancasila yang menghargai keberagaman. Oleh karena itu ‘politik identitas’ yang ditandai munculnya partai-partai bernuansa agama tersebut, dapat juga mengindikasikan adanya penguatan komunalisme agama yang niscaya akan menelan nasionalisme warga negara, serta mengurung Indonesia menuju disintegrasi bangsa.

 

Harus diakui, di antara orang-orang Kristen yang ingin memberikan kontribusinya bagi pembangunan bangsa dengan terlibat dalam partai Kristen didorong oleh keinginan luhur untuk menjadi terang atau saksi Kristus. Keinginan untuk membangun negara yang didominasi oleh Kekristenan tersebut bukan lahir dari dorongan untuk menjajah agama-agama lain, tetapi semangat untuk memerdekakan manusia di dalam damai Kristus. Apalagi kemudian, teokrasi Perjanjian Lama (PL) dipakai sebagai pembenaran keharusan adanya partai Kristen, meskipun pengertian tersebut tidak tepat. Dengan dasar itu mereka berkesimpulan, keselamatan Indonesia berada di tangan partai Kristen. Artinya semangat untuk memamerkan dominasi suatu partai Kristen, bisa jadi merupakan semangat yang tulus tanpa berpikir bahwa semangat itu lahir dari eksklusivisme yang berlebihan dan tidak mustahil dapat menimbulkan benturan antar partai-partai yang berbasis agama yang lain.

 

Persoalan di atas tidak perlu terjadi, jika gereja memahami dengan baik, mengenai hubungan yang benar antara negara dan agama dalam PL. Menurut penulis timbulnya keberagaman pandangan pola hubungan agama dan negara tersebut tidak produktif bagi peran Kristen di Indonesia, apalagi jika kemudian menjadi saling bertentangan. Penafsiran

tentang hubungan agama dan negara yang hanya didasarkan atas beberapa ayat Alkitab dalam Perjanjian Baru (PB) bisa sangat berbahaya, apalagi tanpa pemahaman PL yang baik. Di sini pemahaman agama menurut Perjanjian Lama menjadi suatu kebutuhan. dan kemudian menawarkan hubungan yang lebih tepat antara negara dan agama serta bagaimana aplikasinya dalam konteks Indonesia .

bersambung...

   
イエスはあなたは私の人生を変えて
September 10, 2009, 01:13:17 PM
Reply #8
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 2509
  • Gender: Female
  • ai shi heng jiu ren nai you you en ci
KESADARAN BARU DALAM PETUNJUK PERJANJIAN LAMA DAN EKSPLORASINYA

Kenyataan bahwa orang Kristen sekarang hidup dalam Negara tetapi tanpa nasionalisme, bahkan cenderung menjadi kosmopolitanisme, yang menganggap semua manusia adalah sama dan tidak perlu ada negara yang terpecah-pecah, cukup satu negara. Kondisi ini akan membuat kesaksian Kristen menjadi tidak produktif dan tidak menyentuh persoalan-persoalan masyarakat dalam suatu negara. Hal ini sejalan dengan klaim Kristen sebagai “musafir” di bumi, penafsiran secara biblisistis biasanya membuat orang Kristen menjauhi hubungan dengan negara, karena negara mereka bukan di bumi, tetapi di sorga, segala yang berbau keduniaan dianggap tidak lebih mulia dari sorgawi, orang Kristen harus mengarahkan matanya bukan pada pekerjaan pembangunan Negara di bumi, tetapi pembangunan kerajaan sorga.

 

Di sisi lain, pada saat ini terjadi suatu kebangkitan kesadaran baru akan pentingnya dunia politik. Mereka yang mulai menyadari keharusan ini kemudian mencari pembenaran Alkitab. Karena Perjanjian Baru tidak secara detail melaporkan mengenai peran orang Kristen dalam negara, secara khusus dalam pemikiran kaum biblisistis, maka PL menjadi pijakan mereka. Teokrasi PL kemudian diartikan sebagai kekuasaan gereja atas Negara. Semua yang tertulis di dalam Alkitab harus diterapkan dalam negara barulah negara tersebut dapat mencapai tujuan yang dicita-citakan. Pandangan itu tidak diterima oleh semua orang Kristen. Walaupun sebenarnya hubungan agama dan negara bagi orang Kristen sudah tuntas, namun eforia yang membangkitkan kesadaran baru tersebut melahirkan kemajemukan pola hubungan agama dan negara.

 

Pentingnya Konsep Negara dari Perjanjian Lama

Selain pembagian PL dan PB, Alkitab berdasarkan beritanya, dapat dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu perjanjian penciptaan dan perjanjian penebusan. Dua perjanjian tersebut berada dalam Perjanjian lama.1 Tidaklah mengherankan jika tanpa PL dan PB menjadi samar-samar. Bahkan sebenarnya seluruh penjelasan mengenai fase kehidupan manusia, dari penciptaan, kejatuhan, penebusan, sampai, penyempurnaan sudah ada dalam PL. Jika dilihat dari sejarah keselamatan, maka PL memiliki sejarah yang jauh lebih luas dibandingkan PB. Walau dalam hal isi berita PB jauh lebih besar, karena lebih banyak memuat isi berita dibandingkan fakta sejarah, namun isi berita tersebut menjadi samar-samar tanpa pemahaman fakta sejarah dalam PL. Dengan demikian memahami konsep negara menurut pandangan Alkitab. Orang Kristen harus berusaha menggali pemikiran PL tentang Negara agar melahirkan pemahaman yang tepat karena penafsiran yang tidak utuh, bahkan melawan Alkitab.

 

Melihat efek negatif dari pemahaman yang tidak utuh tentang negara yang dihasilkan melalui data yang tidak lengkap, karena hanya dari PB, demikian sebaliknya. Namun karena pembenaran tentang hubungan agama dan negara yang menyertai kesadaran baru dalam peran politik Kristen saat ini adalah PL, maka penulis merasa perlu untuk mengangkat kembali berita PL untuk dapat memberikan dasar-dasar konseptual yang kuat tentang negara menurut Alkitab. Dengan demikian orang Kristen dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam hal keterlibatannya bagi negara, secara khusus di bumi Indonesia yang masih bebenah diri untuk menuntaskan tuntutan reformasi di segala bidang.

 

 

Teokrasi dalam Bangsa Israel

Pada waktu manusia diciptakan kemudian ditempatkan dalam taman Eden , di sana tidak dilaporkan ada negara serta perlunya negara untuk mengatur umat manusia yang niscaya akan mengalami perkembangan. Pada waktu Allah memerintahkan manusia untuk berkembang biak dan memenuhi bumi, Allah tidak memerintahkan manusia untuk membangun negara bila jumlah manusia telah cukup dan membutuhkan suatu negara dalam pengorganisasian manusia. Mengenai keberadaan manusia sebelum jatuh dalam dosa yang tidak memerlukan negara Kuyper menjelaskan seperti berikut ini.

Sebab sesungguhnya tanpa dosa pasti tidak akan ada tatanan penguasa dan negara; tetapi kehidupan politik, dalam keseluruhannya akan berevolusi sendiri, menurut pola patriark, yaitu dari kehidupan keluarga. Tidak ada sistem peradilan, polisi, tentara, angkatan laut, yang perlu diberlakukan dalam dunia yang tanpa dosa; dan dengan demikian, setiap peraturan dan hukum akan ditinggalkan, bahkan semua kendali dan penegasan kekuasaan penguasa akan lenyap, dan kehidupan berkembang dengan sendirinya, secara normal dan tanpa hambatan, dari dorongan organiknya sendiri. Siapa yang perlu mengikat jika tidak ada perpecahan? Siapa yang memerlukan tongkat jika tangan dan kaki bekerja dengan sehat?2

 

Manusia adalah mahkluk sosial, hal tersebut nyata dalam penciptaan manusia yang tak terpisah dengan manusia lainnya, kecuali Adam. Allah memberi mandat kepada manusia untuk hidup dalam kebersamaan, melalui penciptaan manusia yang tak terpisah. Setelah Adam dan hawa diciptakan, Allah memerintahkan mereka untuk berkembang biak, bertambah banyak. Perkembangan manusia terjadi dalam komunitas, dan setiap manusia lahir, dibesarkan dalam komunitas, berarti manusia adalah mahkluk sosial. Kehidupan sosial ini dapat berjalan tanpa negara, karena Allah yang menjadi raja. Allah yang bebas, merdeka, tidak pernah melanggar hukum-hukumnya sendiri pada waktu Allah melaksanakan kebebasannya, demikian juga manusia yang total bergantung kepada Tuhan. Namun sejak kejatuhan, manusia tidak lagi total bergantung dengan Tuhan. Manusia tidak lagi mampu menggunakan kebebasannya tanpa mengganggu hak-hak orang lain, bahkan sering kali membinasakan pesaingnya, khususnya sejak pembunuhan Habel.

 

Manusia terus bertambah jahat. Mengenai kejahatan manusia Alkitab mencatat demikian: “Adapun bumi itu telah rusak di hadapan Allah dan penuh dengan kekerasan. Allah menilik bumi itu dan sungguhlah rusak benar, sebab semua manusia menjalankan hidup yang rusak di bumi.” (Kej. 6:11-12). Setelah air bah Allah membuat perjanjian dengan Nuh; Allah mendelegasikan kepada Nuh kuasa untuk memelihara masyarakat dengan menghukum pelaku kejahatan, “…dari setiap manusia Aku akan menuntut nyawa sesamanya. Siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh manusia, sebab Allah membuat manusia itu menurut gambar-Nya sendiri (Kej. 9:5-6)”. Perintah Allah kepada Nuh ini merupakan ‘pemerintahan manusia’ yang diberikan legitimasi ilahi. Dan perintah ini tidak dibatasi pada Nuh, tetapi juga hingga saat ini, karena perjanjian Allah dengan Nuh ini merupakan perjanjian yang kekal (Kej. 9:16), kebenaran ini harus juga diterapkan oleh orang Kristen pada saat ini, yaitu memberikan hukuman yang sebanding dengan tingkat kejahatan. Implikasinya penegakkan hukum menjadi keharusan yang tidak dapat ditolak oleh pemerintahan negara.

 

Setelah tindakan Allah yang menceraiberaikan manusia, maka Allah melakukan intervensi dalam menciptakan negara untuk pemeliharaan bumi. Dengan diawali pemanggilan Abraham, yang kemudian melahirkan bangsa Israel , yaitu bangsa pilihan. Bangsa Israel yang dipilih Tuhan untuk menjadi negara yang memuliakan Tuhan. Allah menjanjikan Israel sebagai bangsa dan akan memiliki daerah kekuasaan yaitu seluruh tanah Kanaan , Israel harus membaktikan hidupnya kepada Allah untuk menjadi negara yang menjalankan mandat Allah dalam memelihara dunia ciptaan Tuhan. Sebagai negara, Israel telah lengkap karena memiliki: Raja (Tuhan), Rakyat (bangsa Israel , dan wilayah (Kanaan). Pemerintahan Allah atas Israel bertujuan untuk menjadikan bangsa dan/negra Israel sebagai saksi bagi bangsa-bangsa lain, Allah Israel adalah Allah yang hidup, pencipta langit dan Bumi.

 

Rencana Allah yang mulia kepada Israel , tidak dapat dinikmati oleh Israel , karena kitab Hakim-hakim melaporkan ketidaktaatan Israel . Israel membiarkan rakyat bangsa-bangsa lain tetap tinggal di wilayah kerajaan yang diberikan Allah. Bahkan Israel mengijinkan bangsa-bangsa lain untuk tetap ada dan tunduk pada kerajaan Israel . Akibatnya mereka tidak memiliki kemampuan untuk memiliki otoritas atas wilayah yang diberikan Allah, di mana Allah bertahta di tengah-tengah mereka. Setelah kegagalan Israel mentaati Allah dalam kitab hakim-hakim, maka kitab Samuel dan kitab Raja-raja, melaporkan juga kegagalan Israel tersebut. Pembuangan bangsa Israel merupakan bukti kegagalan Israel sebagai bangsa untuk mentaati Allah.

bersambung...

 

   
イエスはあなたは私の人生を変えて
September 10, 2009, 01:15:15 PM
Reply #9
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 2509
  • Gender: Female
  • ai shi heng jiu ren nai you you en ci
Kegagalan Teokrasi Israel dan Munculnya Negara Sekular

Israel sebagi negara teokrasi telah gagal, Israel adalah “Negara gagal” Israel sebagai negara baru muncul kembali pada abad 20 M, namun negara Israel yang ada sekarang berbeda dengan Israel dalam Perjanjian Lama. Setelah kegagalan Israel , Allah menunjukan

pemeliharaan- Nya pada alam semesta melalui pemerintahn sekuler. Namun tidak berarti sebelum Israel sebagai negara mengalami kegagalan, Allah tidak melakukan pemeliharaan dunia melalui raja-raja di luar Israel . Sebelumnya Allah hanya memfokuskan pada Israel , karena Israel yang akan menyatukan semua bangsa di bumi. Karena kegagalam Israel maka tujuan Allah atas Israel tidak digenapi dalam Israel , tetapi hal ini bukan berarti kegagalan Allah.

 

Perlindungan Allah atas Israel melalui pemerintahan bangsa lain adalah nyata dalam Alkitab. Jadi dalam negara di mana rakyat kerajaan itu tidak mengakui Allah sebagai raja, Allah tetap raja yang berdaulat. Karena ketuhanan Allah tidak bergantung pada pengakuan manusia, Allah tetap Allah yang berdaulat, baik dengan pengakuan maupun tanpa pengakuan. Pemeliharaan Allah terhadap dunia yang diciptakannya dapat juga melalui pemerintahan bangsa non Israel (sekular). Di sini terlihat bahwa Allah juga memakai ‘pemerintahan sekuler.’ Intervensi Allah secara langsung dengan pemerintah yang berasal dari Allah, yaitu bersikap adil terhadap semua individu dalam kerajaannya. Daniel, Sadrak, Mesak, dan Abednego terlibat aktif dalam pemerintahan raja Nebukadnezar. Bahkan sebelum pembuangan Allah memerintahkan Israel melalui Yeremia untuk mengusahakan kesejahteraan daerah di mana umat Allah berada.

 

Dalam pimpinan Ezra, kerajaan Israel berusaha dibangunkan kembali. yaitu kerajaan Israel yang memuliakan Allah. Penulisan kitab Tawarikh menceritakan kegemilangan kerajaan Israel dibuat Ezra untuk menyadarkan Israel tentang pentingnya hidup sebagai bangsa pilihan Allah.3 Usaha Ezra mentransformasikan hukum-hukum Allah dalam peraturan hidup sehari-hari secara lebih rinci merupakan wujud kerinduan Ezra untuk membangun kerajaan Israel yang telah hancur. Namun, sejarah PL melaporkan bahwa Israel adalah negara gagal, dan Negara sekuler dipakai Allah sebagai alat untuk memelihara ciptaan-Nya.

 

 

Sisi Negatif dari Negara

Dalam Perjanjian Lama jelas dilaporkan bahwa negara tidak berada dalam ordo penciptaan, melainkan dalam ordo pemeliharaan. Sebelum kejatuhan tidak ada negara. Pemahaman ini menjadi landasan pemikiran Luther dan Calvin dalam hubungan gereja dan negara walaupun keduanya memiliki perbedaan. Calvin memiliki pandangan yang lebih positif tentang negara dibandingkan Luther. Pada mulanya manusia tidak memerlukan negara, karena semua manusia dapat total bergantung dengan Tuhan dalam menjalankan kebebasannya, namun setelah manusia jatuh ke dalam dosa dan tidak seorangpun manusia yang hidup tanpa dosa, maka negara dibutuhkan untuk menahan kejahatan manusia. Karena itu manusia berdosa harus ditolong oleh hukum-hukum agar dapat memperbaiki kesesatannya.

 

Berdasarkan perjanjian Nuh, di mana Allah memberikan legitimasi kewenangan untuk menghukum manusia yang berbuat kejahatan. Hal itu merupakan ‘gambaran’ pemerintah yang menyandang pedang atau negara. Pemberian sangsi untuk menimbulkan efek jera membutuhkan negara, walaupun negara yang dipimpin oleh manusia yang telah jatuh juga dan cenderung menyeleweng, sebagaimana terjadi dalam sejarah raja-raja Israel . Sebelum Allah mengabulkan permintaan Israel untuk seorang raja yang memimpin Israel , Allah telah mengingatkan bahwa raja yang diharapkan akan menolong mereka akan cenderung menyusahkan mereka (1Sam. 8). Namun tidak berarti bahwa negara tidak diperlukan, karena negara adalah alat Tuhan dalam pemeliharaan dunia. Kemampuan Negara untuk mengurangi kejahatan sebagai hakim antar individu memungkinkan terjaganya hak-hak individu, di sini negara sangat berarti bagi manusia. Keberadaan negara yang berada dalam kelemahan manusia ini karena dosa.

 

Pentingnya negara juga dapat dilihat pada pemberian hukum Tuhan (Taurat). Hukum Tuhan yang berfungsi untuk mengarahkan manusia pada kehendak Tuhan dengan disertai pemberian sangsi hukuman; jadi hokum merupakan alat negara untuk menjalankan kewenangannya. Hukum Allah tidak eksklusif, tetapi ia adalah untuk semua, orang Kristen yang mengerti hukum adalah perintah Allah untuk pemeliharaan dunia, dan hukum ini adalah alat negara untuk menjalankan wewenangnya, akan terlibat mengawal kebijakan negara. Jadi hukum Allah adalah untuk semua, yaitu sebagai perintah Allah untuk pemeliharaan dunia, dan juga adalah alat dari negara untuk menjalankan kewenangannya. Dengan demikian orang Kristen harus terlibat dalam mengawal kebijakan negara.

 

Manusia yang telah jatuh dalam dosa memerlukan hukum, bukan hanya untuk mengarahkan pada kebenaran, namun juga untuk memberikan efek jera ketika manusia melanggar hukum. Pemberian 10 hukum di Sinai sebagai UUD Israel merupakan persiapan lahirnya kerajaan Israel . Hukum yang diterapkan oleh negara/kerajaan yang menjalankan wewenang yang berasal dari Allah akan menekan kejahatan. Karena hukum yang Allah berikan adalah berisi perintah Allah kepada manusia, sehingga semua manusia harus melaksanakannya. Hukum adalah untuk semua, pemerintah yang adalah wakil Allah wajib untuk menegakkan hukum Allah dalam pemerintahan. Negara walaupun dalam kelemahan tetap berguna untuk mengurangi kejahatan. Negara dapat menghindari anarkisme, sebagaimana ditekankan oleh Luther, lebih baik ada pemerintahan tirani dibandingkan dengan anarkisme.

 

Fakta mengenai pentingnya negara terlihat dalam sejarah kerajaan Israel , bahkan dimulai dengan hakim-hakim. Tidak adanya pemimpin yang menegakkan kebenaran membuat individu-individu berbuat sekehendak hatinya. Bahkan fakta pembuangan membuktikan bahwa adanya negara lebih baik dibandingkan tanpa negara. Pemerintahan sekuler tetap merupakan wakil Allah dalam pemeliharaan dunia, intervensi Allah tetap ada secara langsung, menyiratkan bahwa adanya negara, lebih baik bagi orang Israel dalam pembuangan dibanding tanpa negara. Tindakan raja yang menghukum kejahatan adalah memberikan efek jera kepada pembuat kejahatan, sehingga dapat mengurangi kejahatan. Negara sekuler tidak berdasarkan agama tetapi menghargai keberagamaan rakyat, sebagaimana terjadi dalam pemerintahan Nebukadnezar.

 

 

Pemisahan Negara dari Agama

Sebelum raja Saul , Israel dipimpin oleh hakim-hakim, jabatan hakim adalah berbeda dengan jabatan nabi dan imam. Imam hanya dari suku Lewi, tetapi hakim-hakim dari suku-suku lain. Jarang sekali ada individu memegang dua jabatan secara bersamaan yaitu imam dan hakim dan memiliki karunia Nabi, kecuali Musa dan Samuel. Namun dalam pengembangan kerajaan Israel , perbedaan antara agama dan negara menjadi jelas. Raja selalu datang dari suku Yehuda, sedang Imam dari suku Lewi. Raja tidak dapat menjadi Imam demikian juga sebaliknya, Imam tidak dapat menjadi raja. Jika terjadi pelanggaran Allah akan menghukumnya, karena itu berarti pelanggaran wewenang. Dalam Perjanjian Lama Raja cenderung menguasai bidang agama (tugas Imam). Tindakan raja yang melampaui wewenangnya, dilakukan oleh Saul. Pelanggaran yang dilakukannya adalah mempersembahkan korban yang adalah tugas Imam. Atas tindakan Saul tersebut, Allah memutuskan Saul dari garis kerajaan (1 Samuel 13). Pelanggaran yang sama juga dilakukan oleh Uzia. Pelanggaran tersebut lahir karena Uzia sombong dan mencoba untuk melakukan tugas imam (2 Tawarikh 26:16-21) yang bukan menjadi wewenangnya, Uzia dihukum Tuhan dengan penyakit kusta.

 

Kerajaan Israel adalah pemerintahan teokrasi, namun tidak dapat diartikan bahwa PL melegitimasikan gereja untuk menguasai negara. Teokrasi harus diartikan sebagai pemerintahan atau masyarakat yang diatur oleh Tuhan. Perjanjian lama memang tidak melaksanakan pemisahan agama dan negara, namun tidak berarti agama boleh menguasai negara atau sebaliknya. Pada waktu Elia membunuh Imam-Imam Baal (1 Raja-raja 18:40). Elia tidak kuatir tentang hak kebebasannya untuk melaksanakan agamanya.

 

Jadi konsep pemisahan antara agama dan negara berakar dalam Perjanjian Lama.4 Perjanjian Lama jelas memisahkan antara wewenang agama dan negara, walaupun keduanya berasal dari Allah, namun keduanya mempunyai hubungan koordinasi, sebagaiman pemikiran Calvin. Agama tetap bertanggung jawab mengingatkan negara untuk menjalankan wewenangnya dengan baik, namun agama atau gereja tidak boleh menguasai negara, karena bukan wewenang gereja.

bersambung...

   
イエスはあなたは私の人生を変えて
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)