Author Topic: Siapa tahu kitapun salah memahami Tuhan…  (Read 1103 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

September 21, 2009, 07:54:01 AM
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 1391
  • Gender: Female
  • Si Kupluk
Siapa tahu kitapun salah memahami Tuhan…  

"Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, diberkatilah Kerajaan yang datang, Kerajaan bapak kita Daud, hosana di tempat yang maha tinggi!" (Markus 11:9-10)

…Namun mereka makin keras berteriak: "Salibkanlah Dia!" (Markus 15:14)


Keempat Injil mencatat Tuhan Yesus masuk ke Yerusalem dengan sambutan meriah sebagai Raja. Namun kisah ini mengawali perjalanan sengsara yang akan ditempuh oleh Yesus. Ia tidak datang dengan kuda yang merupakan simbol dari seorang Raja/ Panglima Perang yang memasuki kota yang berhasil direbutnya. Tetapi Yesus memasuki kota Yerusalem dengan cara yang unik ia menunggang keledai muda yang belum pernah mengangkat beban. Mungkin para murid berpikir, kok aneh Yesus memilih naik keledai ?, ya daripada tidak sama-sekali para murid menurutiNya juga. Para Murid menolong Yesus naik keledai dan menghamparkan jubah mereka di jalan yang dilalui Yesus. Perbuatan ini adalah simbol dari penyerahan diri kepada sang Raja. Para murid menyambut gembira perbuatan Yesus, mereka merasa moment itu adalah awal dari pernyataan Guru mereka setelah mengadakan banyak sekali mujizat dan kesembuhan, saatnya telah tiba bahwa Guru mereka menyatakan diriNya sebagai Raja Mesias dan juga Raja Politis yang segera akan membebaskan mereka dari jajahan Romawi. Peristiwa ini adalah pemenuhan nubuat nabi Zakharia yang berkata: "Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; Ia adil dan jaya. Ia lemah-lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda" (Zakharia 9:9). Dengan menggunakan keledai beban yang muda, Tuhan Yesus menyatakan diriNya di depan khalayak ramai bahwa kedatanganNya semata-mata untuk menciptakan damai-sejahtera (Kerajaan Shalom). Dia adalah Raja Damai; Raja yang bukan datang dengan kendaraan perang siap bertempur, tetapi datang dengan damai sejahtera.

Para murid bergembira dengan peristiwa itu, namun kalau saja mereka mengingat apa yang dikatakan Yesus seperti misalnya yang dicatat dalam Lukas 18:31-33 dimana Yesus telah menubuatkan masa sengsara yang segera akan dilaluiNya, mereka seharusnya tidak gembira. Dan benar kita melihat perubahan drastis setelah peristiwa dielu-elukannya Yesus Kristus di Yerusalem. Dua kutipan ayat diatas sangat berlawanan, setelah orang-orang Israel mengelu-elukan Yesus sebagai Raja dengan berteriak "Hosanna!" (Markus 11:9-10) tak lama kemudian mereka berteriak "Salibkan Dia!" (Markus 15:14). Bagaimana hal ini bisa terjadi? Karena mereka salah memahami Yesus.

Yesus memang Mesias tetapi Ia bukan raja politis, sedangkan orang-orang Yahudi termasuk murid-muridNya sendiri berharap Yesus akan melakukan mujizat/ kuasa yang heboh dan mengusir penindasan Romawi secara politis. Khayalak ramai telah mengenal Yesus dari mujizat-mujizatnya; lima roti dan dua ikan "dengan mujizat" cukup memberi makan 5000 orang laki-laki belum termasuk anak-anak dan para wanita. Orang sakit disembuhkan, orang cacat menjadi normal. Nah Yesus memenuhi harapan-harapan mereka sebagai "Sang Pembuat Mujizat". Yesus Kristus punya nama besar, punya massa, punya pengagum. Orang-orang sebangsanya sudah mengenal-Nya, mengakui kharisma-Nya, menghormati-Nya. Tentu akan mudah bagiNya untuk memimpin massa dengan kuasaNya sebagai seorang Raja yang dapat melindungi rakyat secara politis. Mereka salah memahami Yesus, dan menganggap Yesus tidak juga tergerak untuk melakukan sesuatu bagi bangsa-Nya yaitu membebaskan bangsa-Nya, mereka kecewa.

Murid-murid juga salah memahami, mereka mungkin mengenal Yesus sebatas sebagai rabbi atau nabi, sehingga merekapun kaget ketika kubur Yesus itu kosong. Padahal berita tentang kematian dan kebangkitanNya sudah diberikan lebih dahulu kepada mereka.

Mari kita lihat dalam kasus ini bahwa murid-pengkianat itupun juga mencoba memancing reaksi Yesus secara politis. Yudas Iskariot menerima 30 keping uang perak bukan karena 'mata-duitan' (saja) namun ia mempunyai rencana yang lebih dari itu. Sebagai orang Yahudi, sama dengan kerinduan orang-orang lainnya, ia merindukan kemerdekaan dari penguasaan Romawi, Yudas menaruh harapan besar pada Yesus. Dan kita juga menemukan perubahan hati Yudas, apa yang menyebabkan Yudas menjadi seorang 'pengkhianat'? Jawabannya sama dengan orang kebanyakan itu… karena iapun kecewa.

Rasa kecewa ini terjadi karena mereka tidak mengenalNya secara benar, karena tidak memahami Yesus. Rasa kecewa membuat mereka berubah secara drastis dalam memandang Yesus, sehingga dengan mudah kata "hosana" itu secara singkat berubah menjadi "salibkan Dia!". Demikianlah dalam kehidupan kita masa sekarang, apa yang menjangkiti umat di masa lalu, bisa juga menjangkiti umat masa sekarang.

Kita-kitapun berfikir bahwa Allah itu bermujizat, penyembuh, pemberi sukses, pemberi berkat, penolong, dan konsep-konsep ini kita terapkan bahwa didalam Dia tidak seharusnya ada sakit-penyakit, pasti selalu ada kesuksesan, karena menganggap Tuhan "pasti begini atau pasti begitu". Kita hanya mencari Tuhan karena berkat (Yohanes 6:26).
Dan kitapun bahkan "memancing" berkatnya dengan persembahan yang kita berikan dengan "maksud" persembahan itu pasti kembali dengan berlipat-lipat kali ganda.

Allah sumber berkat dan mujizat!
Ya, memang Dia sumber berkat dan mujizat, tetapi kita perlu mengenalnya lebih dari sekedar "Pemberi berkat dan mujizat". Kita telah melihat contoh akibat pengenalan konsep ini, orang dengan mudah mengutuki Yesus ketika mereka menganggap Yesus tak melakukan apa-apa sesuai mau mereka. Pengenalan akan Tuhan sebatas Dia sebagai penyedia berkat dan mujizat itu sangat berbahaya. Kita melihat betapa mudahnya orang-orang Yahudi yang sebelumnya mengelu-elukan Yesus bagai raja, kemudian dalam beberapa hari saja mudah terhasut imam-iman dan ahli Taurat dan menjadi 'murtad' (berbalik dan memusuhi) dan mengutuki Yesus.

Pengenalan kepada Tuhan semacam itu menyebabkan kita salah dalam memahami Tuhan. Dan apabila kita tidak dikenal oleh Tuhan, itu juga lebih berbahaya lagi. Ada orang yang 'pekerjaannya' membuat mujizat dalam nama Tuhan, tetapi kemudian Yesus berkata "Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" (Matius 7:21-23). Dalam keadaan seperti ini, jelas neraka ada didepan mata, dan ini adalah akibat yang sangat mengerikan dari pengenalan dan pemahaman yang salah akan Tuhan.

Ketika Musa ingin mengenal Allah, ia menanyakan namaNya, TUHAN Allah menjawab, bahwa nama-Nya adalah: "AKU ADALAH AKU", yang dalam bahasa Ibrani ditulis dengan "'EHEYEH 'ASHER 'EHEYEH" (Keluaran 3:14).

'EHEYEH itulah nama-Nya yang pertama kali diucapkan kepada Musa. Kata 'EHEYEH, yang berarti AKU AKAN ADA berasal dari kata "HAYAH", yang menurut para ahli mewujudkan rangkuman dari kata-kata: berada, menjadi dan bekerja (to be, to become dan to work). Hakekat TUHAN Allah adalah 'ADA'. Namun sifat 'ADA'-nya Allah itu jauh berada diluar jangkauan analisis filosofis manusia. Sehingga manusia 'bisa salah' memahamiNya.
Namun yang harus diperhatikan dalam jawaban tentang namaNya itu ialah, bahwa nama TUHAN Allah diungkapkan dengan bentuk 'kata-kerja', kata yang hidup, bukan dengan kata-nama-benda, atau kata benda yang mati. Menurut beberapa ahli, secara bebas ungkapan ini dapat diterjemahkan dengan, "Aku akan hadir, berbuat", atau "Aku akan hadir dengan berbuat". Kehadiran TUHAN Allah bagi Israel bukan seperti kehadiran barang yang mati (batu, meja, kursi, dan sebagainya), melainkan suatu kehadiran yang di dalam perbuatan-Nya, umat akan mengenal Tuhan Allah dari perbuatan-perbuatan atau karya-karyaNya, yang ditujukan kepada kepentingan umat-Nya. TUHAN Allah bagi bukanlah TUHAN Allah yang tidak bergerak, bukanlah TUHAN Allah yang mati, melainkan TUHAN Allah yang hidup, yang bekerja, yang penuh dengan dinamika.

Kita perlu tahu lebih dalam siapa Allah, janganlah kita membatasi diriNya dengan pandangan "Tuhan musti begini dan musti begitu". Kita dapat mengenal Allah sejauh Ia menyatakan diriNya kepada kita, dan manusia sangat terbatas sekali pengenalan kepadaNya. Dia lebih misterius daripada yang mampu kita kenal. Hakekat Allah tak cukup dibatasi dengan satu atau dua macam doktrin saja yang mampu dicerna manusia, Ia lebih dari itu! Ada banyak hal-hal tersembunyi tentang Allah (Ulangan 29:29); RancanganNya bukan rancangan kita, jalanNya bukan jalan yang kita tentukan (Yesaya 55:8-9). Jadi kita sama sekali tidak mempunyai hak menentukan "Tuhan musti begini dan musti begitu".


Siapakah Tuhan yang kukenal?

Rasul Paulus memberikan contoh pengenalan akan Tuhan yang tidak dinilai dari berkat dan mujizat secara materi atau yang kasat mata saja, ia menulis "Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, (Filipi 3:10). Paulus menulis surat Filipi dalam keadaan sengsara dipenjara. Tetapi justru dalam surat ini rasul Paulus berbicara banyak mengenai suka-cita untuk itulah Efesus disebut 'The Book of Joy'.

Maka kitapun perlu duduk diam, memeriksa diri kita didepan Tuhan, apakah kita hanya mengenalNya secara terbatas pada berkat dan mujizatNya saja? Siapa tahu kitapun salah dalam memahamiNya?. Jangan sampai karena kurang-kenalnya kita kepadaNya membuat kita mengkianatiNya, membuat kita mudah terhasut, membuat kita mudah kecewa pada keadaan dimana kita merasa Allah tidak berbuat apa-apa untuk kita. Tuhan Yesus selalu ingin kita mengenal Dia lebih dalam, perhatikan ayat ini :


* Wahyu 3:20
LAI TB, Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.
KJV, Behold, I stand at the door, and knock: if any man hear my voice, and open the door, I will come in to him, and will sup with him, and he with me.
TR, ιδου εστηκα επι την θυραν και κρουω εαν τις ακουση της φωνης μου και ανοιξη την θυραν εισελευσομαι προς αυτον και δειπνησω μετ αυτου και αυτος μετ εμου
Translit interlinear, idou {perhatikan} estêka {Aku berdiri} epi {didepan} tên thuran {pintu} kai {dan} krouô {Aku terus mengetuk} ean {jikalau} tis {ada orang} akousê {mendengar} tês phônês {suara} mou {-Ku} kai {dan} anoixê {membuka} tên thuran {pintu} kai {lalu} eiseleusomai {Aku akan datang} pros {kepada} auton {dia} kai {lalu} deipnêsô {Aku akan makan (malam; 'supper')} met {bersama} autou {-nya} kai {dan} autos {ia} met {bersama} emou {Aku}


Ayat diatas ditujukan kepada jemaat Laodikia. Jemaat ini cukup banyak disorot dalam Kitab Wahyu. Kota Laodikia didirikan oleh Antiokhus II dari Siria untuk istrinya, Laodike. Laodikia berkembang menjadi kota yang besar, ramai, dan terkenal. Ada tiga ciri khas kota ini yang membuatnya terkenal dimana-mana yaitu sebagai penghasil bulu domba yang lembut, mengkilap, serta berwarna hitam keungu-unguan, dan Laodikia ini juga tersohor karena mutu sekolah kedokterannya. Dua dokter dari kota ini, Zeuxis dan Aleksander Filalethes dikenal prestasi medis mereka dengan diproduksinya salep mata dan salep telinga. Dan Laodikia ini sangat makmur karena kota ini adalah salah satu pusat kegiatan perbankan. Dengan kehebatan perdagangan dan kemakmurannya, tentu saja kota ini sibuk. Jemaat Laodikia adalah jemaat yang besar, namun kelebihan-kelebihan yang membanggakan ini membuat mereka lupa, jemaat Laodikia adalah gambaran Kristen yang lahiriah (Wahyu 3: 17). Hal ini dapat mengambarkan situasi Gereja pada masa sekarang dimana mereka yang merasa kaya, tidak perlu bersandar kepada Tuhan.

Dalam Wahyu 3:20 ini jelas bahwa pengenalan akan Tuhan tidak dapat dipisahkan dengan inisiatif untuk membuka pintu hati. Yesus menyatakan ingin masuk ke dalam pintu hati jemaatNya dan disambung dengan kalimat 'Ia akan makan bersama umatNya jika sudah dibukakan'. Kata yang dipakai dalam ayat diatas adalah "makan-malam" (Yunani, "deipneo"), bukan sarapan dan bukan makan siang. Ini tentu saja mempunyai makna sendiri. Zaman dahulu maupun sekarang, orang akan sarapan dan makan siang dengan waktu yang terbatas. Namun, dalam suasana makan-malam itu terdapat persekutuan yang indah karena kita tidak diburu waktu karena banyaknya kegiatan dari pagi hingga sore hari. Orang bisa melakukan makan-malam dengan waktu yang lebih panjang. Persekutuan inilah yang didambakan Yesus Kristus kepada kita. Dan dalam suasana seperti ini kita bisa lebih memahami Dia dan menikmati Dia.

Betapa kita ini seringkali walaupun dimulut mengaku Yesus Kristus adalah Tuhan, tapi hal ini sebatas kata "diakui ada", padahal Tuhan itu kita anggap sebatas pemberi berkat saja, sehingga Tuhan lah yang melayani kita. Belum tentu kita sudah benar-benar menempatkan Dia sebagai Tuan/Lord (Kurios). Betapa kitapun kadang lebih menganggap bisnis sebagai "kurios", entertainment sebagai "kurios", asset sebagai "kurios", berkat sebagai "kurios", mujizat sebagai "kurios", pendeta sebagai "kurios"; orang yang menjabat sebagai 'penguasa' gereja/ 'pemilik' gereja sebagai "kurios" dan ibadah kita dalam Gereja tertuju hal-hal tersebut, bukan kepada Yesus Kristus – Tuhan – Tuan diatas segala tuan, Kurios yang sesungguhnya.

Yesus Kristus, Sang Tuan ini sangat sopan, Ia tak pernah memaksa, Ia mengetuk (dan terus mengetuk) menunggu dibukakan. Ia senantiasa menyediakan waktu bagi kita untuk mengenalNya dalam persekutuan jamuan makan-malam yang akrab. Jikalau kita menyempatkan diri mengenalNya lebih dalam, niscaya kita tak akan mudah kecewa karena kita tak lagi membatasiNya untuk berbuat "musti begini dan musti begitu" dan kita tidak akan mudah kecewa atau bahkan sampai mengutuki Tuhan jikalau kita menghadapi hal-hal yang tidak sesuai kemauan kita. Pengenalan yang benar terhadap Dia, tidak akan membuat kita berubah hati secara drastis dari "Hosanna!" kepada "Salibkan Dia!".

Allah tahu apa yang Ia rencanakan, dan rencanaNya untuk kebaikan kita. Kita telah melihat contoh dimana ada banyak orang kecewa karena kurangnya pengenalan kepada Tuhan dan menganggap Yesus tidak melakukan apa-apa secara politis, menumpas penjajahan Romawi secara ukuran manusia. Tetapi ukuran Allah lebih dari itu, karena Yesus Kristus menumpas penjajahan dosa secara menyeluruh yang membuat manusia dan Allah diperdamaikan dan kita semua menikmati keselamatan yang ditawarkanNya. Gereja Tuhan pun tak perlu lagi menekankan berkat dan mujizat saja sebagai pengenalan akan Tuhan. Kita yang telah menikmati keselamatan yang diberikanNya, hendaklah senantiasa mau mengenal Dia, untuk lebih memahami Dia, dan tunduk terhadap apa yang Ia rancangkan untuk kita. Seperti seorang bapak tahu dan paham kebutuhan anaknya. Demikianlah Allah tahu kapan waktu yang tepat dalam memberi berkat. Kenalilah Dia bukan terbatas pada berkat dan mujizatNya saja. Hosanna senantiasa bagi Tuhan!

Source: http://portal.sarapanpagi.org/renungan/siapa-tahu-kitapun-salah-memahami-tuhan.html

Makasi utk Oom Sarpag yg mengijinkan aku utk kopas renungan ini dari websitenya :)
"For those who believe, no proof is necessary. For those who don't believe, no proof is possible." - Stuart Chase
September 21, 2009, 09:00:31 AM
Reply #1
  • FK - Senior
  • ****
  • Posts: 264
  • Gender: Male
    • Tjerita-Tjerita Ketjil
Oshana, barekhu dethe bashmo da Moryo, barekhu malkho dethe haw

Kita sering mengumbar kata-kata pujian untuk Tuhan bukan karena rasa syukur, rasa terimakasih namun lebih sebagai ungkapan rayuan kepada Tuhan dengan harapan akan diberi ''mujizat'' lebih banyak lagi, terhindar dari penderitaan, menanggungkan kesulitan kita secara total kepada Tuhan tanpa usaha maksimal memanfaatkan karunia yang sudah pernah dianugerahkan oleh Tuhan.

Sholub lekh

Kita sering me“nyalib”kan Tuhan dengan filsafat-filsafat kita, hingga Tuhan harus menyesuaikan diriNya terhadap “buah pikiran” kita.

Sholub lekh

Kita sering me“nyalib”kan Tuhan dengan menjadikan Beliau sebagai pesuruh dan “office boy”kita dengan berselimut dalam kata-kata “Dia kan mahamampu”, dan jika tidak terkabul kita cenderung merajuk karena “Pesuruh” kita tidak menuruti “perintah”kita.
October 09, 2009, 01:16:18 PM
Reply #2
  • Guest
"Mungkin" ada benarnya ... kita manusia bisa "salah" memahami... Tuhan..
ttp Tuhan tidak pernah salah untuk memahami kita yang "mungkin" salah memahami Dia :wink:
October 14, 2009, 03:43:45 PM
Reply #3
  • FK - Newbie
  • *
  • Posts: 16
    • silabanxli
Bisa kah kita menerangkan dan mengingat semua kesalahan kita saat kita jatuh dan memohon ampun kepada-Nya?
Hinggah kita atusias untuk berbalik ke jalan-Nya ......Bagaimana cerita seorang anak hilang????.....bgm cara kita menyembunyikan dosa yang seharusnya kita mengingat semua kesalahan.??? Bisa kita mempertanggung jawabkan kesalahan kita sementara hidup di dunia sekarang sudah terbukti adanya nabi palsu , bencana alam, penyakit yang sama tertulis dalam Alkitab.........berapa lamakah untuk menebus semua itu sementara kita lupa akan kesalahan sebaliknya hanya ingat akan kebaikan kita di dunia????? Apa tidak sebaiknya kita memperhatikan tindakan awal kita  dr pertobatan dan pertanggung jawaban kita saat menjalankan pertobatan itu sendiri?????? Akan ada hal balik menjadi kesalahan lagi karena jalan beserta-Nya akan menambah masalah/beban berat untuk pencobaan dr hal kecil ampe yang besar sekalipun, untuk membayangi saja sudah berat!!!, apakah itu disebut pertobatan awal atau pertobatan yang bukan sekedar bercerita????Bgaimana menyembunyikan kemunafikan kita toh klo kita masih membayangin kesalahan kita....yang lalu dan awal pertobatan yang menimpa saat pencobaan???????? Apakah seharusnya semua orang menjadi baik dan tidak berpaling????siapa yang akan menjadi biang dan dalangnya???haruskah binatang, tumbuhan maupun hal yang hidup tampa pola pikir manusia ditiadakan pertobatan????Bisa kah kita mempertanggung jawabkan hal demikian biar hidup dalam-Tuhan-???Kenapa harus melakukannya klo kita membicarakan segelintiran kesalahan dan kemunafikan orang disekitar kita yang tidak percaya akan kedatangan ke DUA KALI -Nya. Kurang kita akan memahami Kasih dan kepedulian kepada sesama dan melakukan hal yang baik dalam pikiran dan pola pikir akan kerajaan Allah....untuk sesama baik yang memahami ataupun tidak sama sekali...>>>Just like idea not open your eyes and fill, please .......... utarakan isi hati kita dalam hal yang sebenarnya yang kita inginkan untuk hidup lebih baik........Amieeeennnnnnnnn
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)