Orang melakukan kegiatan "beragama" dalam rangka menemukan "kebenaran".
Kebenaran yang diperoleh dalam kegitan beragamanya itu adalah kebenaran subyektif, dalam arti menurut dirinya sendiri.
Karena subyektif, maka kebenaran iyang diyakini itu belum tentu berlaku untuk subyek lain sehingga bisa dipahami terdapat banyak perselisihan tanpa ujung yang menyangkut soal keyakinan subyektif itu.
Sekelompok orang yang MERASA pendapat subyektifnya sama, lantas berkumpul sebagai umat agama tertentu sedangkan yang lain-lain membentuk kelompoknya masing masing. Maka terciptalah agama agama yang jumlahnya ribuan, dari kecil sampai besar. Semuanya meyakini kebenaran subyektifnya masing masing.
Manusia lantas galau melihat kenyataan itu. Banyaknya sembahan makin memungkinkan banyaknya pertengkaran untuk mempertahankan kebenaran subyektifnya masing masing. Muncullah tokoh2 dalam sejarah agama mengawali "penyederhanaan jumlah" sembahan itu. Tak kurang dari tokoh yang mengawali agama besar seperti Muhammad dan Jesus "menyarankan" monotheisme. Tapi itupun masih menyisakan pertentangan2. Malah pertentangan karena perbedaan2 subyektif makin memuncak dengan makin besarnya masing-masing kelompok. Pertentangan "dingin sampai panas" terbukti terjadi dalam sejarah, dari dulu sampai saat inipun tak kunjung selesai. Bahkan di forum inipun terbaca.
Kegalauan berlanjut. Manusia merasa perlu menemukan penyelesaian masalah yang diakibatkan oleh subyektifitas masing masing dan tiap tiap kelompok yang berbeda pendapat itu. Lantas dicarilah PERSAMAANnya.
Persamaan-persamaan diharapkan melahirkan peningkatan obyektifitas dari pandangan2 subyektif yang berbeda beda itu. Persamaan itu tak lain adalah AKAL SEHAT, atau rasionalitas.
Tiap-tiap kelompok sebetulnya mempunyai sisi rasionalnya masing masing. Bila menilik sejarah, kita menjumpai nama2 filsuf dari agama-agama besar tsb. Filsuf2 itu mendekati kebenaran bukan dari sisi iman melainkan dari sisi rasio atau akal.
Diharapkan, akal sehat BERLAKU UMUM dan lebih UNIVERSAL, maka filsafat bisa diharapkan menjadi JEMBATAN silaturahmi antar umat beragama.
Ternyata filsafat juga mempunyai tujuan yang sama dengan agama, yaitu mencari kebenaran karena Filsafat - Filos+sofia, berarti mencintai kebijaksanaan.
Kesamaan tujuan dan universalitas dari metode filsafat memungkinkan ia berhasil menjadi "jembatan" tersebut, karena setiap manusia diasumsikan cenderung kepada mencari kebenaran dan memakai akal sehat sebagai syarat untuk memperoleh kemajuan peradaban.
Sampai saat ini telah terbukti bahwa kemajuan beradaban dari sejak jaman batu sampai saat ini, bisa mengandalkan indikator seberapa rasional manusia memakai akalnya untuk menilainya. Teknologi misalnya, nyata merupakan hasil karya manusia yang memajukan peradaban sejak manusia baru bisa membuat api.
Filsafat adalah induk dari segenap ilmu pengetahuan (sains).
Jadi makin jelas, agama sangat memerlukan filsafat untuk menemukan KEBENARAN OBYEKTIF. Dan kebenaran obyektif itu dipakai menjadi tolok ukur apakah suatu kebenaran subyektif masih pada jalurnya atau sudah menyimpang dari tujuan yaitu KEBENARAN itu sendiri.
Dalam sejarah, agama Kristen pernah menomor-duakan filsafat terhadap agama. Filsafat disebut "Ancilla Theologiae" atau "pelayannya agama". Kala itu filsafat hanya dipakai sebagai "pembenaran2 atas doktrin2". Tapi tidak lama setelah itu, Filsafat menemukan jalannya sendiri dan bersanding sejajar dengan agama. Fungsi filsafat bukan lagi hanya menjadi "pelayan atau budak" yang membenarkan subyektifitas dengan obyektifitas, melainkan sudah menjadi "tuan yang berdaulat penuh" yang kemudian malah menjalankan fungsi kritik terhadap keyakinan2 subyektif.
Tak ada agama yang "tahan" dihantam kekritisan filsafat. Agama2 akan terpaksa memilih, mau nampak terbelakang dan bodoh karena menolak akal sehat ataukah berjalan bersama filsafat dalam mencari kebenaran sepanjang jaman.
Gereja mempunyai filsuf sekaligus pujangga yang mengutamakan rasionalitas dan akal sehat ini. Ia adalah Thomas Aquinas. Intellectus quaerens fidem atau Akal meneliti Iman menjadi kata kata mutiara dimana fungsi filsafat sudah bukan lagi budak atau dayang dayang baginda Agama melainkan malah jadi CAHAYA bagi hati yang gelap.
Bersyukurlah orang Kristen sekarang, sebab keyakinan yang melenceng karena subyektifitas yang berlebihan bisa dibenahi dan diarahkan kembali pada jalur yang lebih universal, yaitu AKAL. Sampai saat ini, sekolah-sekolah Seminari yang mendidik calon-calon pastur mendapatkan porsi pendidikan filsafat sampai "sangat kenyang" untuk menjaga agar imannya tetap terpelihara pada jalurnya. Iman, bagaimanapun "muluk-muluknya", diukur tingginya oleh rasio. Maka ada adagium, meskipun hati terletak lebih tengah, kepala terletak lebih tinggi dari hati.
Tapi, masih sering terdengar filsafat itu menyesatkan karena mengandalkan akal. Bagaimana tanggapan rekan rekan semua? Silakan diperdebatkan.