Author Topic: PENTINGNYA FILSAFAT DALAM AGAMA  (Read 15929 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

September 28, 2009, 01:47:53 PM
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 1408
  • Gender: Male
Orang melakukan kegiatan "beragama" dalam rangka menemukan "kebenaran".
Kebenaran yang diperoleh dalam kegitan beragamanya itu adalah kebenaran subyektif, dalam arti menurut dirinya sendiri.

Karena subyektif, maka kebenaran iyang diyakini itu belum tentu berlaku untuk subyek lain sehingga bisa dipahami terdapat banyak perselisihan tanpa ujung yang menyangkut soal keyakinan subyektif itu.
Sekelompok orang yang MERASA pendapat subyektifnya sama, lantas berkumpul sebagai umat agama tertentu sedangkan yang lain-lain membentuk kelompoknya masing masing. Maka terciptalah agama agama yang jumlahnya ribuan, dari kecil sampai besar. Semuanya meyakini kebenaran subyektifnya masing masing.

Manusia lantas galau melihat kenyataan itu. Banyaknya sembahan makin memungkinkan banyaknya pertengkaran untuk mempertahankan kebenaran subyektifnya masing masing. Muncullah tokoh2 dalam sejarah agama mengawali "penyederhanaan jumlah" sembahan itu. Tak kurang dari tokoh yang mengawali agama besar seperti Muhammad dan Jesus "menyarankan" monotheisme. Tapi itupun masih menyisakan pertentangan2. Malah pertentangan karena perbedaan2 subyektif makin memuncak dengan makin besarnya masing-masing kelompok. Pertentangan "dingin sampai panas" terbukti terjadi dalam sejarah, dari dulu sampai saat inipun tak kunjung selesai. Bahkan di forum inipun terbaca.

Kegalauan berlanjut. Manusia merasa perlu menemukan penyelesaian masalah yang diakibatkan oleh subyektifitas masing masing dan tiap tiap kelompok yang berbeda pendapat itu. Lantas dicarilah PERSAMAANnya.
Persamaan-persamaan diharapkan melahirkan peningkatan obyektifitas dari pandangan2 subyektif yang berbeda beda itu. Persamaan itu tak lain adalah AKAL SEHAT, atau rasionalitas.

Tiap-tiap kelompok sebetulnya mempunyai sisi rasionalnya masing masing. Bila menilik sejarah, kita menjumpai nama2 filsuf dari agama-agama besar tsb. Filsuf2 itu mendekati kebenaran bukan dari sisi iman melainkan dari sisi rasio atau akal.
Diharapkan, akal sehat BERLAKU UMUM dan lebih UNIVERSAL, maka filsafat bisa diharapkan menjadi JEMBATAN silaturahmi antar umat beragama.
Ternyata filsafat juga mempunyai tujuan yang sama dengan agama, yaitu mencari kebenaran karena Filsafat - Filos+sofia, berarti mencintai kebijaksanaan.

Kesamaan tujuan dan universalitas dari metode filsafat memungkinkan ia berhasil menjadi "jembatan" tersebut, karena setiap manusia diasumsikan cenderung kepada mencari kebenaran dan memakai akal sehat sebagai syarat untuk memperoleh kemajuan peradaban.

Sampai saat ini telah terbukti bahwa kemajuan beradaban dari sejak jaman batu sampai saat ini, bisa mengandalkan indikator seberapa rasional manusia memakai akalnya untuk menilainya. Teknologi misalnya, nyata merupakan hasil karya manusia yang memajukan peradaban sejak manusia baru bisa membuat api.
Filsafat adalah induk dari segenap ilmu pengetahuan (sains).

Jadi makin jelas, agama sangat memerlukan filsafat untuk menemukan KEBENARAN OBYEKTIF. Dan kebenaran obyektif itu dipakai menjadi tolok ukur apakah suatu kebenaran subyektif masih pada jalurnya atau sudah menyimpang dari tujuan yaitu KEBENARAN itu sendiri.

Dalam sejarah, agama Kristen pernah menomor-duakan filsafat terhadap agama. Filsafat disebut "Ancilla Theologiae" atau "pelayannya agama". Kala itu filsafat hanya dipakai sebagai "pembenaran2 atas doktrin2". Tapi tidak lama setelah itu, Filsafat menemukan jalannya sendiri dan bersanding sejajar dengan agama. Fungsi filsafat bukan lagi hanya menjadi "pelayan atau budak" yang membenarkan subyektifitas dengan obyektifitas, melainkan sudah menjadi "tuan yang berdaulat penuh" yang kemudian malah menjalankan fungsi kritik terhadap keyakinan2 subyektif.
Tak ada agama yang "tahan" dihantam kekritisan filsafat. Agama2 akan terpaksa memilih, mau nampak terbelakang dan bodoh karena menolak akal sehat ataukah berjalan bersama filsafat dalam mencari kebenaran sepanjang jaman.

Gereja mempunyai filsuf sekaligus pujangga yang mengutamakan rasionalitas dan akal sehat ini. Ia adalah  Thomas Aquinas. Intellectus quaerens fidem atau Akal meneliti Iman menjadi kata kata mutiara dimana fungsi filsafat sudah bukan lagi budak atau dayang dayang baginda Agama melainkan malah jadi CAHAYA bagi hati yang gelap.

Bersyukurlah orang Kristen sekarang, sebab keyakinan yang melenceng karena subyektifitas yang berlebihan bisa dibenahi dan diarahkan kembali pada jalur yang lebih universal, yaitu AKAL. Sampai saat ini, sekolah-sekolah Seminari yang mendidik calon-calon pastur mendapatkan porsi pendidikan filsafat sampai "sangat kenyang" untuk menjaga agar imannya tetap terpelihara pada jalurnya. Iman, bagaimanapun "muluk-muluknya", diukur tingginya oleh rasio. Maka ada adagium, meskipun hati terletak lebih tengah, kepala terletak lebih tinggi dari hati.

Tapi, masih sering terdengar filsafat itu menyesatkan karena mengandalkan akal. Bagaimana tanggapan rekan rekan semua? Silakan diperdebatkan.










Lagi "empet" :(
September 28, 2009, 03:25:31 PM
Reply #1
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 502
  • Spirit is perfect, matter is imperfect
  • Denominasi: Rosae Crucis Indonesia
Pendapat saya, filsafat tidak lain adalah kemampuan kita untuk memberi makna, cuma filsafat ini relatif dalam, holistik, dan mempertimbangkan multifaktor.

Sederhananya, TUHAN menciptakan kita dengan kemampuan untuk memberi makna (baik secara logis maupun emosional) tentu merupakan hal yang baik di mata TUHAN.

TUHAN tampaknya memberi kebebasan kepada kita untuk menggunakan kemampuan tersebut. Bisa saja kita memakai kemampuan tersebut untuk memuliakan Dia.

Untuk saya pribadi, objektivitas adalah sebuah ilusi. Semua itu subjektif, termasuk rasio.
For by these He has granted to us His precious and magnificent promises, so that by them you may become partakers of the divine nature, having escaped the corruption that is in the world by lust. - 2 Pet 1:4 (NASB)

Follow me on Twitter @phantomlogy
September 28, 2009, 04:16:22 PM
Reply #2
  • FK - Senior
  • ****
  • Posts: 264
  • Gender: Male
    • Tjerita-Tjerita Ketjil
Seperti yang dikatakan Phantom, filsafatpun bisa menjadi subjektif misal:
1. Ulama/Agamawan (saya tidak mengatakan rohaniwan karena mereka tidak pernah bergaul dgn 'roh' melainkan emosi2 manusia)
''Saya memfilsafatkan apa yang saya baca di dalam kitab suci'' - maka setiap filsafat agama cenderung saling subjektif.

2. Scientists.  ''Saya memfilsafatkan apa yang saya ukur secara visual.'' - cenderung saling subjektif dengan filsafat keyakinan.

3. Mistikus.
''Saya memfilsafatkan apa yang saya 'sensing' di luar yang kasat mata.''- cenderung saling subjektif dengan filsafat yakin/taqlid dan filsafat science.
September 28, 2009, 04:26:03 PM
Reply #3
  • FK Friend
  • FK - Hero
  • ******
  • Posts: 6591
  • Gender: Female
  • I have the simplest taste
Quote
Tapi, masih sering terdengar filsafat itu menyesatkan karena mengandalkan akal. Bagaimana tanggapan rekan rekan semua?


sebenernya filsafat itu menyesatkan karna mengandalkan pengetahuan yang berasal dari dunia, dan mengabaikan pendapat Tuhan sebagai Pencipta dunia  :)

Dear God, please lead me to Your path, not my path. My path is fun, but it's suffering. Your path is abstract, but it's safe.
September 28, 2009, 04:37:28 PM
Reply #4
  • FK - Senior
  • ****
  • Posts: 264
  • Gender: Male
    • Tjerita-Tjerita Ketjil
Quote
Tapi, masih sering terdengar filsafat itu menyesatkan karena mengandalkan akal. Bagaimana tanggapan rekan rekan semua?


sebenernya filsafat itu menyesatkan karna mengandalkan pengetahuan yang berasal dari dunia, dan mengabaikan pendapat Tuhan sebagai Pencipta dunia  :)



Persis seperti dugaan saya pada posting #2 point 1.

Pemaknaan atas sesuatu yang dicerap oleh benak, sadar atau tidak sadar telah memasukkannya ke dalam dunia filsafat.

Beberapa orang menyangkal bahwa dia ber'filsafat' ketika melakukan proses berfikir dan lebih nyaman menyebutnya 'dengan-hati-bukan-otak'.
September 28, 2009, 05:15:06 PM
Reply #5
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 1408
  • Gender: Male
Untuk saya pribadi, objektivitas adalah sebuah ilusi. Semua itu subjektif, termasuk rasio.

Itupun sebuah pendekatan kepada kebenaran melalui filsafat. Jadi pada hakekatnya, Phantom menolak filsafat adalah bersfilsafat juga. Begitu pula bila Phantom menolak obyektifitas, adalah berfilsafat pula.

Rasio memang bisa subyektif. Tapi penalaran yang mempergunakan rasio harus obyektif kalau penalarannya benar.
Anak kecil yang takut kepada boneka yang berbentuk harimau, secara rasional ia menganalisa bahwa "binatang" itu berbahaya.
Lagi "empet" :(
September 28, 2009, 05:19:28 PM
Reply #6
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 1408
  • Gender: Male
Seperti yang dikatakan Phantom, filsafatpun bisa menjadi subjektif misal:
1. Ulama/Agamawan (saya tidak mengatakan rohaniwan karena mereka tidak pernah bergaul dgn 'roh' melainkan emosi2 manusia)
''Saya memfilsafatkan apa yang saya baca di dalam kitab suci'' - maka setiap filsafat agama cenderung saling subjektif.

2. Scientists.  ''Saya memfilsafatkan apa yang saya ukur secara visual.'' - cenderung saling subjektif dengan filsafat keyakinan.

3. Mistikus.
''Saya memfilsafatkan apa yang saya 'sensing' di luar yang kasat mata.''- cenderung saling subjektif dengan filsafat yakin/taqlid dan filsafat science.


Memang, sebuah pendakatan filsafati bisa masih subyektif, tergantung seberapa sah penalarannya. Tapi yang membedakan adalah, filsafat adalah usaha merasionalisasi realitas. Bahwa ada yang sangat berhasil sampai kurang berhasil, itu bisa terjadi.

Tahafut Al Falasifa (tolong dibetulin ejaannya, Nimatul :) ), itu bukunya Al Gazali yang menolak filsafat, pada hakekatnya adalah berfilsafat juga.
Lagi "empet" :(
September 28, 2009, 05:26:57 PM
Reply #7
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 1408
  • Gender: Male
Quote
Tapi, masih sering terdengar filsafat itu menyesatkan karena mengandalkan akal. Bagaimana tanggapan rekan rekan semua?


sebenernya filsafat itu menyesatkan karna mengandalkan pengetahuan yang berasal dari dunia, dan mengabaikan pendapat Tuhan sebagai Pencipta dunia  :)



Persis seperti dugaan saya pada posting #2 point 1.

Pemaknaan atas sesuatu yang dicerap oleh benak, sadar atau tidak sadar telah memasukkannya ke dalam dunia filsafat.

Beberapa orang menyangkal bahwa dia ber'filsafat' ketika melakukan proses berfikir dan lebih nyaman menyebutnya 'dengan-hati-bukan-otak'.

He he he... anda menunjuk langsung bahwa nyata bedanya antara pendekatan Phantom dengan pendekatan Seren. :)
Lagi "empet" :(
September 28, 2009, 07:31:37 PM
Reply #8
  • FK - Senior
  • ****
  • Posts: 264
  • Gender: Male
    • Tjerita-Tjerita Ketjil
Quote from: ferrywar
Memang, sebuah pendakatan filsafati bisa masih subyektif, tergantung seberapa sah penalarannya.
''SAH ATAS SEBUAH PENALARAN'' itulah kuncinya. Bagaimana kita melakukan suatu penilaian sah tidaknya suatu penalaran jika suatu ''objek'' dipandang dari dua ''pola subjek'' yang berbeda, misalnya pada masa dahulu kala ''objek'' yg disebut sbg bumi dinalarkan sbg 'piring datar' oleh suatu ''pola subjek'' terkemudian muncul ''pola subjek'' baru yg menyatakan bumi 'bulat' perseteruan kedua ''pola subjek'' berlangsung sengit hingga ada suatu peristiwa yang mampu memBUKTIkan SAHnya salah satu penalaran di atas.
Hal semacam ini akan terus berlangsung terhadap filsafat ttg Tuhan ''tiga-adalah-satu'' v.s ''satu-haruslah-satu'' yang ramai di sini, dan sebelum Tuhan memBUKTIkan diriNya kepada secara 'visual' kpd publik maka kedua penalaran adalah SAH seturut masing2 ''pola subjek''
 
Quote from: ferrywar
Tapi yang membedakan adalah, filsafat adalah usaha merasionalisasi realitas. Bahwa ada yang sangat berhasil sampai kurang berhasil, itu bisa terjadi.
Ada juga realitas yang ditolak sebagai realitas tetapi dirasionalisasikan, contohnya realitas supranatural.

Quote from: ferrywar
Tahafut Al Falasifa (tolong dibetulin ejaannya, Nimatul :) ), itu bukunya Al Gazali yang menolak filsafat, pada hakekatnya adalah berfilsafat juga.

Ketika seorang bayi memulai eksplorasi terhadap lingkungannya dia sebenarnya sedang memulai berfilsafat.
September 28, 2009, 07:50:30 PM
Reply #9
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 502
  • Spirit is perfect, matter is imperfect
  • Denominasi: Rosae Crucis Indonesia
Seperti saya bilang, ketika kita sudah memaknai sesuatu, sebenarnya kita sudah berfilsafat. Cuma, istilah filsafat dalam masyarakat kita mengarah kepada sebuah pemikiran mendalam.

Saya berpendapat, filsafat bukan sekedar rasio, emosi juga termasuk bagiannya. Misalnya, ketika kita dipukul. Lalu marah, muncul respon membalas. Sebenarnya ada banyak proses berpikir yang kita seringkali take-it-for-granted dalam peristiwa tersebut. Padahal kalau direnungkan, bisa muncul penjelasan filsafat mengapa kita marah dan membalas.

Hanya manusia-manusia yang "malas" menggunakan anugerah dari TUHAN, yaitu pikiran dan perasaan kita, yang mengatakan filsafat adalah musuh iman.

---

Tentang objektivitas, saya coba bawa langsung ke titik ekstrim. Saya tidak percaya ada objektivitas karena memang pikiran manusia terbatas untuk berpikir dalam pikirannya sendiri. Saya tidak pernah dapat menggunakan pikiran ferry atau nimatullah. Sewaktu saya membaca tulisan ferry atau nimatullah, sebenarnya itu hasil pikiran saya juga. Kalau kita coba skeptis 100%, sebenarnya ferry atau nimatullah ada atau tidak? Forum Kristen ini ada atau tidak? Jangan-jangan hanya hasil pikiran saya saja atau saya sekedar berimajinasi... Akhirnya yang objektif hanyalah saya tahu bahwa saya ada.
For by these He has granted to us His precious and magnificent promises, so that by them you may become partakers of the divine nature, having escaped the corruption that is in the world by lust. - 2 Pet 1:4 (NASB)

Follow me on Twitter @phantomlogy
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)