Author Topic: TUJUH UCAPAN YESUS DI KAYU SALIB  (Read 4282 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

April 28, 2008, 04:55:56 PM
  • FK - Senior
  • ****
  • Posts: 252
  • Gender: Male
    • gets money
 TUJUH UCAPAN YESUS DI KAYU SALIB

UCAPAN PERTAMA
 “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”
(Lukas 23:34)
Ketika berdoa di Taman Getsemani, murid-Nya tidak mampu turut berdoa. Mereka tertidur karena letih. Siapakah Yesus saat itu? Ia adalah Anak Allah yang mengenakan kemanusiaan kita secara utuh. Ia juga letih, bahkan lebih letih dari pada para murid. Ternyata, keletihan itu barulah permulaan dari kesakitan yang berkepanjangan yang harus ditanggung-Nya, sebelum tubuh-Nya yang sakit itu dinaikkan ke kayu salib.
Yesus tahu, bahwa paku-paku besar akan segera menembus daging tangan-Nya. Sementara tergantung antara langit dan bumi, seluruh berat tubuh-Nya hanya bertumpu pada kedua tangan dan kedua kaki-Nya yang dipakukan. Daging dibagian itu akan robek. Dan kesakitan yang sangat dahsyat pasti akan dirasakan-Nya. Waktu itu pasti terasa berjalan sangat lamban bagi Yesus. Mendadak dihadapan-Nya, sebelum penyaliban berlangsung, tampak secawan anggur ditawarkan. Kehausan mendorong Yesus untuk segera meminumnya. Namun setelah mengecapnya, Yesus tidak mau meminumnya (Mat 27:34b), Ia menolaknya (Mrk 15:23). Padahal minuman itu ialah minuman yang biasa diberikan sebelum penyaliban, untuk mematikan syaraf secara perlahan-lahan, mengurangi rasa sakit, dan mempercepat kematian.
Yesus menolak untuk menjalani penderitaan yang maha dahsyat dalam keadaan dibius. Yesus rela secara sadar menanggung siksaan yang paling mengerikan bagi kita semua, untuk menggantikan kita semua menerima hukuman ilahi atas dosa. Penderitaan kita, betapapun mengerikan, tidak akan pernah melampaui penderitaan yang dialami oleh Yesus bagi kita.
Pada saat yang paling menyengsarakan dalam hidup-Nya itu, Yesus berkata, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”. Ucapan ini menunjukkan keagungan jiwa-Nya. Dari mulut bibir-Nya, keluar doa syafaat yang sangat manis bagi mereka yang menyalibkan-Nya. Setidaknya ada tiga hal yang ditunjukkan dalam diri Yesus melalui ucapan ini.
Yesus mengawali ucapan-Nya  dengan menyapa Bapa ditengah situasi  tersebut. Tuhan Yesus menyadari bahwa relasi-Nya dengan Bapa-Nya sama sekali tidak terpengaruh, terganggu, apalagi terguncang oleh pengalaman yang sangat menyengsarakan tersebut. Kenyataan ini membedakan Yesus dari manusia lainnya yang seringkali berkata, “Kalau Engkau benar-benar Allah dan peduli kepada saya, bukalah jalan bagi saya”!
Disini kita berjumpa dengan rahasia kemenangan iman sejati yang dinyatakan dengan kenyataan taat tidaknya seseorang kepada kehendak Allah, serta terpelihara tidaknya relasi dengan Allah ditengah situasi terburuk sekalipun yang melanda hidupnya. Bagaimana Yesus bisa mengetahui bahwa penderitaan dan kematian di kayu salib ialah kehendak Bapa-Nya? Jawabannya hanya satu, yaitu senantiasa bersekutu dengan Bapa-Nya. Jadi, bersekutu dengan Bapa dan ketaatan kepada kehendak Bapa ialah rahasia kemenangan iman sejati.
1.   Cinta-Nya Yang Tak Tergoyahkan Bagi Musuh-Musuh-Nya
Sampai di kayu salib, Yesus tetap taat kepada kehendak Bapa-Nya dan cinta kasih ilahi kepada mereka yang memusuhi dan membunuh-Nya, masih dipraktekkan-Nya. Yesus tidak memohon agar Allah menghukum mereka. Sungguh suatu keajaiban yang terjadi di Golgota saat itu ialah kenyataan bahwa Allah tidak mengirimkan api dari langit atau mendatangkan pasukan malaikat untuk membinasakan orang-orang yang terlibat dalam penyaliban Yesus. Itu karena Yesus memohon, “Ampunilah mereka”. Inilah ucapan yang mengungkapkan cinta di atas segala cinta yang tak akan pernah berubah dan tiada duanya.  Tidak ada seorang pun yang mau berkorban bagi orang yang jahat, kecuali Yesus. Sungguh cinta yang sangat mengherankan dan tak tergoyahkan, bahkan di tengah-tengah kebiadaban mereka yang paling keji!

2.   Pengertian-Nya Yang Tak Tergoyahkan Akan Kondisi Dasariah Manusia
“Sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”, ucap Yesus. Inilah dasar permohonan Yesus kepada Bapa-Nya untuk mengampuni mereka. Tetapi apakah mereka benar tidak tahu apa yang mereka perbuat? Bukankah mereka 100% sadar, ketika terlibat dalam penyiksaan dan pembunuhan atas Yesus? Kalau begitu, apa maksud ucapan Yesus?
Orang-orang yang menyiksa dan membunuh Yesus menyadari apa yang mereka perbuat, tetapi sesungguhnya tidak menyadari sebab perbuatan mereka dan akibatnya. Mereka menyadari bahwa yang mereka siksa dan bunuh bernama Yesus, tetapi tidak menyadari siapa Yesus sesungguhnya. Pengertian mereka sudah lama sekali digelapkan oleh dosa. Dan anggota tubuh mereka sudah lama sekali digunakan oleh dosa sebagai senjata kejahatan.
Yesus memiliki pengertian, “Kasihanilah mereka, ya Bapa, karena mereka hanya korban dosa”. Namun tidak berarti “mereka tidak berdosa”. Karena sesungguhnya manusialah yang memutuskan secara sadar untuk diperbudak oleh dosa, dengan secara sadar berbuat dosa.

UCAPAN KEDUA
“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga
engkau akan ada bersama-samadengan aku di dalam Firdaus.”
(Lukas 23:43)
Ucapan Yesus yang kedua di kayu salib merupakan tanggapan terhadap ucapan salah seorang penjahat yang turut disalibkan dengan-Nya. Kepada temannya yang menghujat Yesus yang tersalib, ia berkata, “Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah”. Selanjutnya, ia berkata kepada Yesus, “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja” (Luk 23:40-41,42). Betapa mengharukan ucapan ini! Di dalamnya, kita berjumpa dengan tiga kenyataan menakjubkan dalam diri seorang manusia yang paling gelap hidupnya.
Kenyataan menakjubkan yang pertama dalam diri sang penjahat ialah kesadaran akan keberdosaannya dan hukuman ilahi yang menantinya. Arti salib bagi sang penjahat ialah keadilan ditegakkan atas semua perbuatan jahat yang dilakukan. Sementara tubuhnya tersiksa di kayu salib, ia teringat akan kekejiannya dan menyadari bahwa ia sangat berdosa dan pantas dihukum.
Lebih dari pada itu, sang penjahat menyadari bahwa hukuman yang dijatuhkan oleh hakim dunia bukanlah akhir dari segalanya. Ada hukuman lain yang menantinya di balik kematian, yaitu hukuman dari Allah sang Hakim Agung. Hal ini bisa terjadi karena firman yang diucapkan pertama oleh Kristus (Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat) telah menerima hati dan pikirannya. Firman tersebut menyentak batinnya, dan sejak saat itu ia melihat diri dan hidupnya dalam terang kebenaran.
Kenyataan kedua dalam diri sang penjahat ialah kesadaran tentang kebutuhan mutlaknya akan belas kasihan ilahi. Kepada Yesus ia berkata, “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja” (Lukas 23:42). Perhatikan baik-baik. Ia tidak minta diselamatkan. Yang dimohonnya hanyalah agar Yesus mengingatnya. Ia tidak meminta Yesus untuk menyelamatkannya karena ia menyadari sepenuhnya bahwa ia tidak layak memintanya. Ia tidak layak diselamatkan. Arti permintaannya ialah penyerahan dirinya kepada belas kasihan Allah!
Kenyataan ketiga dalam diri sang penjahat ialah keyakinannya akan kemesiasan Yesus. Ia berkata, ”Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja”. Terjemahan yang lebih tepat ialah: “… apabila Engkau masuk ke dalam kerajaan-Mu”. Kita tidak dapat memastikan,  sejauh mana sang penjahat mengerti pribadi dan karya Yesus. Tetapi kata-katanya menunjukkan kesadarannya bahwa kematian bukanlah akhir segalanya bagi Yesus, serta dibalik kematian menanti kerajaan. Kapan Yesus akan masuk ke dalam kerajaan atau kemuliaan-Nya tidak diketatahuinya. Yang pasti, Yesus akan tiba pada saat itu, dan ketika saat itu tiba, ia berharap Yesus mengingat dan mengasihaninya. Ia yakin akan kemesiasan Yesus.
Janji Yesus
Menanggapi permintaan sang penjahat, Yesus berkata, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus”. Betapa indahnya ucapan ini bagi sang penjahat. Yesus memberikan kepadanya jauh melebihi apa yang dimintanya. Ia cuma minta diingat, tetapi Yesus meberikan kepadanya tempat yang istimewa di dalam Firdaus. Ketika mendengar ucapan Yesus tersebut, sang penjahat pasti menangis karena sangat terharu.

UCAPAN KETIGA
“, inilah, anakmu!” … “Inilah ibumu!” (Yoh 19:26-27)
Ucapan Yesus yang ketiga di kayu salib dialamatkan pertama-tama kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu”! Terjemahan yang lebih tepat ialah: “Wanita (Yungunai), inilah, anakmu”! Lalu kepada murid-Nya: “Inilah ibumu”! Dalam terjemahan versi LAI, kita menjumpai bentuk jamak, yaitu: “Murid-murid-Nya.” Sebenarnya, bentuk tunggal yang digunakan disini, yaitu “murid-Nya” (Grika: to matete).
Alkitab berkata, “Dekat salib Yesus, berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena” (Yoh 19:25). Dan terlebih lagi ketika Yesus melihat salah seorang murid-Nya, yang sangat dicintaiNya, juga hadir di dekat salib-Nya.
Kehendak Yesus bagi murid-murid-Nya tidak pernah berubah. “Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada” (Yoh 12:26). Bagaimana dengan kita? Apakah saat ini kita sedang mengikuti kehendak Tuhan atau sedang mengikuti kemauan sendiri? Apakah kita sedang berdiri di samping Tuhan atau di samping berhala?
Arti sesungguhnya dari ucapan “Wanita, inilah, anakmu!” … “Inilah ibumu!” ialah tindakan Yesus mempercayakan perawatan ibunya kepada sang murid. Alkitab mencatat tanggapan sang murid: “Dan sejak saat itu, murid itu membawanya ke rumahnya” (ay 27b).
Tetapi, bukan hanya itu arti ucapan Yesus. Perhatikan baik-baik. Perhatian Yesus dalam bagian ini tertuju bukan terutama pada Maria ibu-Nya, tetapi pada sang murid yang berdiri di samping salib Yesus, karena tanggapan yang mengikuti peristiwa ini ialah tanggapan dari sang murid.
Dalam terang kenyataan ini, kita bisa mengajukan tiga pertanyaan. Pertama, mengapa dari semua murid Yesus hanya ada seorang murid yang mau dan berani berdiri disamping salib Yesus? Jawabannya terletak pada sebutan “murid yang dikasihi-Nya”. Mengapa ia selalu disebut atau menyebut dirinya sendiri “murid yang dikasihi-Nya” (Yoh 13:23; 21:20)? Karena ia menyadari, mengenal, dan menghayati betapa besar cinta Yesus kepadanya.
Kedua, apa yang sebenarnya mau Yesus ajarkan kepada sang murid melalui ucapan-Nya? Di dalam Yohanes 17:24 berkata hanya mereka yang benar-benar mengikuti Yesus, yang berada dimana Yesus berada, serta mau dan berani menaati setiap kehendak-Nya, yang akan menyaksikan kemuliaan-Nya sebagai Tuhan yang kekal. Yesus menyebut Maria bukan “ibu”, tetapi “wanita” dalam ucapan-Nya untuk menunjukkan bahwa hubungan utama antara Maria dan diri-Nya bukanlah hubungan antara ibu dan anak, tetapi antara ciptaan dan Pencipta. Dengan demikian, di kayu salib Yesus menunjukkan kemuliaan-Nya kepada sang murid. Dia adalah Tuhan yang kekal!
Ketiga, mengapa tanggapan sang murid terhadap ucapan tersebut demikian positif dan langsung? Karena ia mencintai Yesus. Dan itu berarti ia juga mencintai Bunda Maria yang dicintai Yesus. Alkitab berkata, “Barangsiapa mengasihi Allah, ia juga harus mengasihi saudaranya” (1Yoh 4:21). Bukan hanya itu, sang murid juga menerima-Nya sebagai Tuhan yang berdaulat penuh atas diri dan hidupnya. Jadi, segala ucapan dan perintah-Nya harus diikuti dan ditaati secara penuh dan mutlak.

Ucapan Keempat
“Eloi, Eloi, lama sabakthani?”
(Mrk 15:34, Mat 27:46)
“Eloi, eloi, lama sabakthani ?” Artinya, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Hal ini merupakan sebuah seruan yang menyayat hati. Ucapan ini mengikuti sebuah peristiwa ajaib. Alkitab berkata, “Pada jam dua belas, kegelapan meliputi seluruh daerah itu dan berlangsung sampai jam tiga” (Markus 15:33). Apa arti peristiwa yang sangat ganjil tersebut?
Amos 8:9 berkata, ”Pada hari itu akan terjadi, demikianlah Firman Tuhan Allah, Aku akan membuat matahari terbenam  di siang hari dan membuat bumi gelap pada hari cerah”. Jadi, kegelapan yang terjadi, ketika Yesus disalibkan ialah tanda tentang hukuman Allah atas dosa. Kegelapan itu merupakan tanggapan ilahi atas segala kekejaman yang diperbuat oleh manusia yang menghina salib dan segala sengsara yang ditanggung oleh Yesus. Karena Alkitab berkata, “Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus DIa” (Yoh 5:23).
Selama tiga jam, kegelapan meliputi seluruh daerah itu. Sebuah tanda tanya besar muncul dalam pikiran orang-orang yang hadir disekitar salib. Sampai akhirnya keluar ucapan keempat dari Yesus yang menanggung hukuman Allah atas segala dosa dan kejahatan manusia, termasuk dosa dan kejahatan yang mereka perbuat terhadap diri-Nya di Golgota.
Mengapa Yesus mau menanggung hukuman ilahi atas segala dosa dan kejahatan manusia? Disini kita berjumpa dengan jantung salib. The heart of the cross, yaitu cinta kasih ilahi yang suci bagi umat manusia yang berdosa. Cinta kasih yang membuat seorang Rasul Paulus pun tidak mampu mengerti dan menjelaskan secara tuntas, sehingga ia hanya dapat berdoa bagi umat Allah disegala abad dan tempat, “supaya dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan” (Efesus 3:18-19).
1.   Cinta Kasih Yang Tuntas
Jika kita mengerti ucapan Yesus yang keempat, kita akan menyadari bahwa dalam ucapan yang menyesakkan itu, terkandung ucapan Allah yang menyejukkan: “Anak-Ku, anak-Ku, Aku tidak akan meninggalkanmu (karena Aku pernah meninggalkan Kristus bagimu).”
2.   Penebusan Yang Tuntas
Dalam ucapan Yesus yang keempat di kayu salib, kita berjumpa dengan penebusan Yesus yang tuntas atas kita. Tidak ada satu dosa pun yang tertinggal. Tinggal anugerah yang tersedia.
3.   Penghiburan Yang Tuntas
Yesus yang pernah menyelami penderitaan sampai titik yang paling ekstrim, mampu menjadi Penolong yang bersimpati dan berempati secara sempurna terhadap penderitaan umat-Nya. “Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai” (Ibr 2:18).

Ucapan Kelima, Keenam, & Ketujuh
“Aku haus!”
“Sudah selesai”
“Bapa ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku”
(Yoh 19:28,30 : Luk 23:46)

Saat yang Penuh Kesadaran
Saat Yesus mengucapkan ketiga ucapan-Nya yang terakhir di kayu salib ialah saat yang penuh kesadaran.  Yesus tahu bahwa segala sesuatu telah selesai. Sebuah kesadaran yang luar biasa dalam diri Yesus, sementara menjalani seluruh penderitaan-Nya di kayu salib. Bukan cuma kesadaran bahwa masa penderitaan-Nya sudah berakhir dan saat kematian-Nya sudah dekat. Lebih dari pada itu, Ia menyadari sepenuhnya, bahwa seluruh penderitaan-Nya di kayu salib ialah konsekuensi langsung dan mutlak dari pemenuhan tugas kemesiasan-Nya. Bahwa setiap langkah-Nya sampai saat itu, saat dimana hukuman ilahi atas segala dosa dan kejahatan umat manusia telah ditimpakan secara penuh pada diri-Nya, serta saat dimana kematian-Nya akan segera tiba, selaras penuh dengan kehendak bapa-Nya.
Akhir Hidup Yesus yang Sangat Gemilang
Jauh sebelum menjalani penderitaan di kayu salib, Yesus berkata, “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh 4:34). Ketiga ucapan tersebut  menjawab apakah pada akhirnya Ia berhasil menyelesaikan pekerjaan-Nya?
1.   Ketaatan-Nya Yang Tuntas
Ketaatan Yesus kepada kehendak Bapa sangat menakjubkan. Bahkan ketika kehausan yang menyiksa-Nya sudah mencapai titik klimaks, sehingga Ia harus berteriak, “Aku haus!”, ucapan itu sendiri diucapkan dengan semangat mentaati kehendak Bapa-Nya. seperti yang tertulis di dalam Yohanes 4:34. Dan ternyata, sampai di akhir hidup-Nya, sementara sekarat, makanan-Nya tetap sama, yaitu melakukan kehendak Bapa.
2.   Penyelesaian Tugas-Nya Yang Tuntas
Ucapan Yesus yang keenam di kayu salib ialah: “Tetelestai” (Yoh 19:30). Artinya, “sudah selesai”. Ini merupakan sebuah pekik kemenangan. Dengan berkata demikian, Ia menegaskan, bahwa Ia telah menyelesaikan seluruh tugas kemesiasan–Nya. Bahwa Ia sudah menerima secara penuh hukuman ilahi atas segala dosa dan kejahatan umat manusia. Karena itu, bagi mereka yang percaya kepada Kristus, tidak ada satu dosa pun tersisa untuk dihukum oleh Allah. Ia juga mengajarkan bahwa hidup pada hakekatnya ialah pengabdian kepada Allah sang Pemberi hidup.
3.   
Yesus mengucapkan ucapan terakhir-Nya di kayu salib: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Ku-serahkan nyawa-Ku”. Disini Yesus mengutip Mazmur 31:6, dan dengan demikian menegaskan kembali kesadaran-Nya yang penuh tentang identitas-Nya sebagai sang Mesias Rajani yang Allah janjikan. Hanya saja, dalam ucapan-Nya tersebut, Yesus menambahkan alamat kepada Allah sebagai Bapa, dan dengan demikian menunjukkan hubungan-Nya yang sangat erat dengan Bapa-Nya. Juga, jika pemazmur menyerahkan nyawanya kepada Allah dalam konteks kehidupan, maka Yesus dihadapan kematian. Dengan demikian, ucapan tersebut bersumber dari keyakinan-Nya bahwa melalui kematian, Ia akan datang kepada Bapa.
   


sumber : Majalah Vision Edisi II. Psalm 21 Successful Community Pontianak (artikel rangkuman dari buku 7 kata di kayu salib)
« Last Edit: April 29, 2008, 08:40:14 PM by Shu_H5u »
add YM : shu_5u
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)