Author Topic: TUHAN TIMBUNAN EMASKU  (Read 1320 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

April 29, 2008, 10:23:33 AM
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 1603
  • Gender: Male
    • http://profiles.friendster.com/dergian
TUHAN TIMBUNAN EMASKU

Oleh: Pdt. Dr. Erastus Sabdono

Obsesi untuk menjadi lebih eklusive dibanding yang lainnya telah membudaya dan sekaligus penyakit dilingkungan orang-orang modern. Ini bukan statement angin lalu atau gosip yang merentang panjang tetapi realitas masa kini. Hasrat hati semua orang yang normal di bumi ini tertancap rasa ingin makmur dan jaya. Melimpahnya finansial dan pengakuan eksistensi diri oleh semua orang disekitarnya merupakan kebanggaan tersendiri yang diidam-idamkannya. Ngomong bohong kalau orang tidak ingin kaya tetapi bangga atas kemiskinan dan kekurangannya.
Mayoritas yang ada orang lebih banyak mengeluh karena hutang dan kebutuhan-kebutuhannya yang menggunung tanpa way out yang jelas. Sebaliknya orang sangat bergairah menceritakan akan kesuksesannya dalam karir dan enjoynya menikmati panorama kota-kota dunia yang disinggahinya. Saatnya orang berkata jujur didalam diri sendiri apakah kebanggaannya? Kalau hal diatas tersebut menjadi kenikmatannya maka nilai minus telah diraihnya dimata Tuhan. Penilaian Tuhan bukan seberapa besar harta duniawi yang dimiliki seseorang tetapi ukurannya berasal dari seberapa banyak kekayaan sorga yang mengalir dan dinikmati manusia.
Orang boleh puas untuk segala apa yang Tuhan berikan tetapi tidak untuk didewakan atau diagung-agungkannya. Rasanya ngggak enak kalau tidak naik mobil mewah dan prestise dimata orang lain. Masih juga terselip rasa gelisah kalau masih dalam status ngontrak rumah sementara sahabat lainnya memiliki villa mewah dengan satpam di depan pintu belum mobil built up berderet di garasinya. Bercerita tanah yang berhektar-hektar dan pabrik yang memiliki omset jutaan dolar masih saja menjadi zimat untuk digembar-gemborkan kepada banyak orang. Model Kristen apakah ini?
Ayub dalam kesengsaraannya pasca menjadi orang kelas jet set dan tajir (hartanya banjir) merenungkan harta duniawinya yang sudah terhilang tetapi ia tidak kehilangan harta yang ada dalam jiwa, yakni Tuhannya yang melebihi tumpukan dolar dan balokan emasnya! Nasehat seorang sahabat yang salah alamat dalam menafsirkan penderitaan Ayub ini memang perlu direnungkan oleh semua orang. Kalau nasehat ini gagal untuk orang yang saleh sekelas Ayub tentu bukan untuk orang-orang di zaman modern ini..... dan apabila Yang Mahakuasa menjadi timbunan emasmu, dan kekayaan perakmu, maka sungguh-sungguh engkau akan bersenang-senang karena Yang Mahakuasa, dan akan menengadah kepada Allah ( Ayub 22:25,26).
MEMAYU HAYUNING BAWONO
April 29, 2008, 03:07:11 PM
Reply #1
  • FK - Full Member
  • ***
  • Posts: 159
  • Gender: Female
 :ashamed0002: :ashamed0002: yup betapa kita sering spt itu, lebih memikirkan yg duniawi.
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)