Author Topic: Kitab Roma: Introduction  (Read 5588 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

May 24, 2008, 05:07:46 AM
  • FK Friend
  • FK - Senior
  • ******
  • Posts: 314
  • Gender: Male

Kitab Roma merupakan salah satu kitab terpenting dalam Alkitab, dimana kitab ini dengan secara jelas dan sistematis menjelaskan mengenai Injil Yesus Kristus. Hal ini juga didukung dari kenyataan bahwa kitab Roma merupakan kitab pertama diantara kitab lainnya di Perjanjian Baru setelah keempat Injil dan kitab Kisah Para Rasul. Roma memberikan penjelasan yang sangat luas dan dalam mengenai isi pesan Injil, yaitu bahwa keselamatan adalah suatu kasih karunia Allah yang hanya bisa diperoleh lewat iman kepada Yesus Kristus.

Background.

Kitab Roma ditujukan kepada jemaat Allah di kota Roma, yang saat itu merupakan ibukota dari kerajaan Romawi. Paulus merupakan penulis kitab ini, dan para ahli Alkitab, baik liberal maupun konservatif, pun tidak ada menyangkali hal ini, sebab dalam kitab Roma kita bisa temukan ciri-ciri khas tulisan Paulus yang sangat unik.

Paulus menulis surat Roma saat ia hampir mengakhiri perjalanan missionarisnya yang terakhir (yang ketiga), yaitu ketika ia sedang bersiap untuk pergi ke Palestina untuk memberikan suatu persembahan kepada jemaat-jemaat yang miskin di Yerusalem (Roma 15:25). Dia menulis surat ini di kota Korintus, disekitar tahun 56 AD.

Dijaman Paulus hidup, Roma adalah kota terpenting dari kerajaan Romawi. Didirikan di tahun 753 BC, kota ini mempunyai penduduk sebanyak lebih dari 1 juta penduduk dijaman Perjanjian Baru. Kebanyakan dari mereka yang berada disana adalah budak-budak yang diperjual-belikan. Di sekitar kota ini juga, menurut tradisi, Paulus menjadi martir ketika Roma dibawah pemerintahan Kaisar kejam Nero (54-68AD).

Ada kemungkinan bahwa sebagian dari mereka yang bertobat saat hari Pentakosta (Kisah Rasul 2) berasal dari kota ini, dan merintis awalnya gereja di Roma saat mereka kembali. Paulus berkali-kali menyatakan keinginannya untuk menjenguk jemaat di Roma, tetapi selalu berhalangan. Tapi oleh providensia Allah, Paulus walaupun tidak bisa pergi kesana saat itu, menulis surat kepada jemaat Roma, dan lahirlah surat Roma yang masterpiece ini yang diinspirasi oleh ROH KUDUS sendiri.

For I determined not to know anything ... except Jesus Christ and Him crucified.
May 24, 2008, 05:41:59 AM
Reply #1
  • FK Friend
  • FK - Senior
  • ******
  • Posts: 314
  • Gender: Male

Isi Dan Tema

Tujuan utama dari surat Paulus kepada jemaat di Roma adalah untuk mengajar kebenaran Injil kasih karunia kepada mereka yang baru percaya, tetapi yang tidak pernah menerima pengajaran apostolik sebelumnya. Selain ingin memperkenalkan dirinya sebagai rasul Kristus, dia menulis untuk supaya jemaat diRoma bisa dibangun imannya (1:11), untuk memberikan pesan Injil yang sebenarnya (1:15), untuk meminta dukungan dalam doa (15:30) dan untuk meminta pertolongan jemaat Roma saat ia tiba kesana dalam pelayanannya menuju ke Spanyol.

Tema dari Injil yang diberitakan Paulus adalah bahwa kebenaran (justification) hanya bisa diperoleh oleh kasih karunia Allah semata (grace alone) lewat iman saja (faith alone) didalam Kristus saja (Christ alone). Kebenaran yang bisa manusia berdosa terima adalah kebenaran yang merupakan milik Yesus Kristus, yang diberikan Allah kepada kita, oleh karena Yesus telah mengorbankan diriNya untuk menggantikan kita yang berdosa dikayu salib. Oleh karena apa yang Kristus telah lakukan maka jemaat Allah diberikan "jubah" kebenaran ini, sebagai penggenapan Yesaya 61:10 dimana dikatakan
Quote
Aku bersukaria di dalam TUHAN, jiwaku bersorak-sorai di dalam Allahku, sebab Ia mengenakan pakaian keselamatan kepadaku dan menyelubungi aku dengan jubah kebenaran, seperti pengantin laki-laki yang mengenakan perhiasan kepala dan seperti pengantin perempuan yang memakai perhiasannya.

Pasal 1-11, menjelaskan secara detail mengenai doktrin keselamatan ini, dan pasal 12-16 membahas apa yang seharusnya kita praktekkan dalam hidup kita jika kita sudah menerima kebenaran dari doktrin ini, baik secara individu, maupun secara bersama-sama.

Topik-topik teologi yang dibahas Paulus di dalam Roma menyangkut beberapa hal, termasuk:

1. Condemnation. Hukuman yang sudah disediakan oleh Allah terhadap manusia berdosa dan kebutuhan manusia akan adanya status diri yang benar dihadapan Allah (Pasal 1-3)

2. Justification. Kebenaran ilahi yang disediakan Allah, dan bagaimana Kristus merupakan sumber kebenaran itu sendiri dan bagaimana kita bisa mendapatkan kebenaran itu beserta berkat dan implikasinya(Pasal 3-5)

3. Sanctification. Bagaimana seseorang yang sudah menerima justification tersebut akan hidup kudus oleh karena kuasa Allah ROH KUDUS yang ada dalam dirinya (Pasal 6-8)

4. Restoration. Restorasi bangsa Israel saat mereka menerima isi pesan Injil bahwa Yesus adalah Mesias dan Tuhan (Pasal 9-11)

5. Application. Bagaimana umat Allah harus hidup selanjutnya akibat dari keselamatan yang mereka terima (Pasal 12-15)

6. Conclusion. Salam dan berkat yang diberikan Paulus kepada jemaat di Roma (Pasal 15-16)
For I determined not to know anything ... except Jesus Christ and Him crucified.
June 02, 2008, 05:48:43 PM
Reply #2
  • FK Friend
  • FK - Senior
  • ******
  • Posts: 314
  • Gender: Male
Influence Dari Kitab Roma


1. Pada suatu hari musim panas di tahun 386 AD, seorang professor terkenal di kota Milan duduk menangis dibawah pohon disuatu taman. Dia sedih karena dia ingin memulai kehidupan baru dimana dia tidak lagi hidup dalam cengkeraman dosa-dosanya. Tapi ia merasa tidak mampu dan terikat.


Tiba-tiba dia mendengar nyanyian seorang anak kecil di daerah sekitar taman tersebut. Anak itu bernyanyi “tolle lege, tolle lege” yang berarti “ambillah dan bacalah, ambillah dan bacalah!”. Saat ia mendengar nyanyian tersebut, matanya tertuju kepada Alkitab yang terletak didekatnya. Dia mulai mengambil buku tersebut dan membukanya, dan ayat pertama yg temuinya adalah Roma 13:13-14 yang berbunyi:


“Let us behave decently, as in the daytime, not in orgies and drunkenness, not in sexual immorality and debauchery, not in dissension and jealousy. Rather, clothe yourselves with the Lord Jesus Christ, and do not think about how to gratify the desires of the sinful nature.”


Apa yang terjadi kemudian saat ia membaca ayat-ayat tersebut dapat kita baca dari kesaksian dirinya sendiri. Dia menulis, “No further would I read, nor had I any need, instantly at the end of this sentence, a clear light flooded my heart and all the darkness of doubt vanished away” (The Confessions 8:29)


Demikianlah terjadi suatu spiritual transformation dalam diri St Augustine saat ia membaca kitab Roma. The great sinner would later on became the great saint and theologian. Tidak ada estimasi yang cukup yang bisa diberikan kepada dia akan apa yang telah dia kontribusikan kepada Gereja, khususnya dalam hal teologi dan filosofi Kristen.  Efek ajaran dia masih sangat terasa sampai hari ini, baik dikalangan Roma Katolik maupun Protestant.


2. Di bulan Augustus tahun 1553, seorang biarawan Jerman, yang juga seorang professor teologi di Wittenberg, Jerman, mulai mengajarkan suatu lecture mengenai kitab Mazmur. Namun sebenarnya saat itu dia sedang mengalami suatu krisis iman,

Dia takut akan hukuman Allah yang siap menimpa dirinya oleh karena dosa-dosanya. Dia berkali-kali menyiksa dirinya sendiri untuk memperoleh keselamatan kekal seperti yang banyak dilakukan oleh para biarawan pada masa itu, tapi semuanya itu tidak memberikan kedamaian dalam hatinya.

Pergumulan dia untuk mendapatkan “the righteousness of God” bagi dirinya membuat dia begitu agonised dan menderita.  Apakah yang dimaksud oleh konsep “the righteousness of God” tersebut? Bukankah yang dimaksud adalah hukuman Allah yang adil yang ditimpakan kepada manusia berdosa seperti dia?

Apa yang dapat melepaskan kita dari hukuman Allah yang adil ini, apalagi jika kita semua memang sudah jatuh dan hidup dalam dosa, dan layak dihukum sesuai keadilan Allah?

Dalam merenungkan dilema ini, dia mulai kembali membaca tulisan Paulus dalam Roma 1:17 dimana dikatakan:

“For in the gospel a righteousness from God is revealed, a righteousness that is by faith from first to last, just as it is written: “The righteous will live by faith.”

Ayat ini begitu melekat kepadanya, sehingga dia mulai bergumul untuk mengerti apa yang dimaksud Paulus. Apa yang terjadi selanjutnya dijelaskannya dalam tulisannya:

“I greatly longed to understand Pauls letter to the Romans, and nothing stood in the way but that one expression, "the righteousness of God", because I took it to mean that righteousness whereby God is righteous and acts righteously in punishing the unrighteous . . . . Night and day I pondered until . . . I grasped the truth that the righteousness of God is that righteousness whereby, through grace and sheer mercy, he justifies us by faith. Thereupon I felt myself to be reborn and to have gone through open doors into paradise. The whole of Scripture took on a new meaning, and whereas before uote the righteousness of God" had filled me with hate, now it became to me inexpressibly sweet in greater love. This message of Paul became to me a gateway into heaven”

Bersama terjadinya kelahiran baru dalam diri biarawan ini, maka terlahirlah pula Reformasi gerakan Protestan. Biarawan ini adalah Martin Luther, hamba Tuhan yang dipakai secara luar biasa untuk yang membawa umat Tuhan kembali kepada Alkitab dan yang mengajarkan keselamatan oleh kasih karunia yang dapat kita terima oleh iman alone kepada Kristus.

3. Disuatu sore hari tanggal 24 Mei 1738, seorang pendeta Anglican yang belum bertobat sungguh-sungguh secara terpaksa pergi ketempat pertemuan pengungsi dari Moravia di London. Pendeta ini adalah anggota dari suatu organisasi Kristen yang dinamakan the Holy Club, dan pernah bertugas sebagai seorang misionaris bagi suku American-Indian di Amerika. Saat pulang dari tugas missionarisnya, ia menjadi sangat putus asa oleh karena keadaan spiritualnya yang penuh dengan ketakutan.

Didalam pertemuan malam itu, ada sesuatu yang terjadi dalam dirinya saat ia membaca Commentary dari Martin Luther akan kitab Roma. Dia menulis dalam journalnya:

 

“ About a quarter before nine, while [the reader] was describing the change wherein God works in the heart through faith in Christ, I felt my heart strangely warmed. I felt I did trust in Christ, Christ alone, for salvation; and an assurance was given that he had taken my sins, even mine; and saved me from the law of sin and death.”

 

Pendeta ini adalah John Wesley, yang kemudian dikenal sebagai pendiri Gereja Methodist. Tuhan memakai dia dengan luar biasa dan bersama George Whitefield, mereka membawa revival terbesar diabad 18. Wesley selama hidupnya berkhotbah lebih dari 40,000 kali, dan berjalan lebih dari seperempat juta miles mengelilingi Inggris dengan kudanya selama pelayanannya.

Dari contoh-contoh biography singkat yang diberikan, dapat kita lihat pengaruh besar kitab Roma bagi Gereja Tuhan. Kita bisa mempelajari dan melihat bagaimana kitab Roma memberikan suatu impact yang dasyat dalam hidup hamba-hamba Tuhan ini, oleh karena itu marilah kita membaca, mempelajari, dan merenungkan isi kitab Roma ini, sebab pesan yang disampaikannya juga bisa mengubah kehidupan kita.

 

Soli Deo Gloria
For I determined not to know anything ... except Jesus Christ and Him crucified.
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)