Author Topic: Mariologi --- Ada yang komplain nggak???  (Read 17131 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

January 03, 2010, 10:20:24 AM
Reply #20
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 2949
  • Gender: Male
Berikut ini isi dari Mariologi: (Nama; Definisi Magisterium Pertama; Isi Dogma)

1. Keperawanan Selamanya
Simbol pembaptisan semenjak abad ketiga   
'Keperawanan Maria Selamanya' berarti Maria adalah seorang perawan sebelum, selama dan sesudah melahirkan.

2. Bunda Allah   
Konsili Efesus (431)   
Maria adalah benar-benar Bunda Allah karena kesatuannya dengan Kristus, Putra Allah.

3. Pembuahan Suci
Paus Pius IX (1854)   
Maria, pada saat dirinya diciptakan, dijaga kesuciannya dari dosa asal.

4. Pengangkatan Tubuh ke Surga   
Paus Pius XII (1950)   
Maria, setelah menyelesaikan jalan hidupnya di bumi, diangkat tubuh dan jiwanya ke keagungan surga.

@Bro. Deogratia
Silahkan lengkapi dengan ayat Alkitab yang mendukung.
2 Tim 4:3-4 Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng. -"Makanya ada POST yang DIHAPUS"
January 03, 2010, 10:24:11 AM
Reply #21
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 2949
  • Gender: Male
nah jika memang konsisten dgn dasar tsb, maka sebaiknya mereka itupun jangan beribadah di gedung yg ber-AC, di hotel2 mewah, menyanyi diiringi full-band yg berisik, bertepuk-tangan di dalam/sela2 ibadah, atau bahkan jangan disediakan kursi tempat mereka duduk selama ber-ibadah karena para Rasul-pun tidak melakukan hal2 itu, apalagi mengajarkannya ...!

kira2 begitu, bro !

Kebenaran bukannya harus tetap tidak boleh berubah.
Tata cara ibadah bisa berubah, namun kebenaran harus tetap sama.

Mariologi bukan bicara tentang tata cara ibadah melainkan di sisi kebenaran.
Tolong bisa dibedakan...

Bila kebenaran boleh diubah.
Setiap tahun berubah sedikit, lama lama akan bias semakin jauh. Dengan demikian bukan lagi menjadi kebenaran.
2 Tim 4:3-4 Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng. -"Makanya ada POST yang DIHAPUS"
January 03, 2010, 10:33:56 AM
Reply #22
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 2949
  • Gender: Male
2 Tim 4:3-4 Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng. -"Makanya ada POST yang DIHAPUS"
January 04, 2010, 09:57:51 PM
Reply #23
  • FK - Senior
  • ****
  • Posts: 252
Berikut ini isi dari Mariologi: (Nama; Definisi Magisterium Pertama; Isi Dogma)

1. Keperawanan Selamanya
Simbol pembaptisan semenjak abad ketiga   
'Keperawanan Maria Selamanya' berarti Maria adalah seorang perawan sebelum, selama dan sesudah melahirkan.

2. Bunda Allah   
Konsili Efesus (431)   
Maria adalah benar-benar Bunda Allah karena kesatuannya dengan KRISTUS, Putra Allah.

3. Pembuahan Suci
Paus Pius IX (1854)   
Maria, pada saat dirinya diciptakan, dijaga kesuciannya dari dosa asal.

4. Pengangkatan Tubuh ke Surga   
Paus Pius XII (1950)   
Maria, setelah menyelesaikan jalan hidupnya di bumi, diangkat tubuh dan jiwanya ke keagungan surga.

@Bro. Deogratia
Silahkan lengkapi dengan ayat Alkitab yang mendukung.


Gereja Katolik mengajarkan tiga pilar kebenaran: Alkitab, Tradisi Suci, dan Magisterium ini yg membedakannya dengan Protestan.
January 04, 2010, 10:18:45 PM
Reply #24
  • FK - Senior
  • ****
  • Posts: 252
Berikut ini isi dari Mariologi: (Nama; Definisi Magisterium Pertama; Isi Dogma)

1. Keperawanan Selamanya
Simbol pembaptisan semenjak abad ketiga   
'Keperawanan Maria Selamanya' berarti Maria adalah seorang perawan sebelum, selama dan sesudah melahirkan.

Kemurnian amatlah penting artinya bagi Bunda Maria. St. Yosef juga menghormati prinsip Maria tersebut sepanjang hidup berkeluarga dengan Maria. St. Maria dan St. Yosef hidup dalam cinta kasih yang tulus suci sebagai saudara. Keduanya adalah teladan kesucian dan kemurnian yang mengagumkan.

Pengajaran Bapa Gereja

Para Bapa Gereja secara konsisten mengajarkan Maria tetap Perawan (Perpetual Virginity of Mary). Sejarah membuktikan bahwa pengajaran tentang keperawanan Maria ini telah berakar dari sejak Gereja awal, seperti pengajaran dari:

1. Ignatius dari Antiokhia (meninggal tahun 110), Origen (233), Hilarius dari Poiters (m. 367) dan Gregorius Nissa.

2. St. Athanasius (293-373) menyebutkan Maria sebagai Perawan selamanya (Ever Virgin) dalam bukunya Discourses Against the Arians.

3. St. Jerome (347- 420) tidak hanya menyebutkan keperawanan Maria, tetapi juga keperawanan Yusuf. Ia menulis, “…You say that Mary did nor continue a virgin: I claim still more, that Joseph himself on account of Mary was (also) a virgin, so that from wedlock a virgin son was born.”

4. St. Agustinus dan St. Ambrosius (akhir abad ke- 4), mengajarkan keperawanan Maria sebelum, pada saat dan sesudah melahirkan Yesus Kristus, sehingga Maria adalah perawan selamanya. Dengan kuasa ROH KUDUS yang sama, Yesus lahir tanpa merusak keperawanan Bunda Maria, seperti halnya setelah kebangkitan-Nya, Dia dapat datang ke dalam ruang tempat para murid-Nya berdoa, tanpa merusak semua pintu yang terkunci (Lih. Yoh 20:26).ROH KUDUS yang  membangkitkan Yesus dari mati adalah ROH KUDUS yang sama yang membentuk Yesus dalam rahim Bunda Maria. Maka kelahiran Yesus dan kebangkitan-Nya merupakan peristiwa yang ajaib: kelahirannya tidak merusak keperawanan Maria, seperti kebangkitan-Nya tidak merusak pintu yang terkunci.

St. Agustinus mengajarkan, “It is not right that He who came to heal corruption should by His advent violate integrity.” (Adalah tidak mungkin bahwa Ia yang datang untuk menyembuhkan korupsi/kerusakan, malah merusak keutuhan.”

4. St. Petrus Kristologus (406- 450), St. Paus Leo Agung (440-461)dan St. Yohanes Damaskus (676- 749) juga mengatakan hal yang sama.

5. Konsili Konstantinopel II (553) menyebutkan Bunda Maria sebagai, “kudus, mulia, dan tetap-Perawan Maria”.

Pengajaran Magisterium Gereja Katolik

Doktrin dari keperawanan Maria, sebelum, pada saat dan sesudah kelahiran Yesus dinyatakan secara defintif oleh Paus St. Martin I di Sinode Lateran tahun 649, yang berbunyi:Maria yang tetap perawan dan tak bernoda yang terberkati, mengandung tanpa benih manusia, oleh ROH KUDUS, dan tanpa kehilangan keutuhan melahirkan Dia dan sesudahnya tetap perawan.

Maka, seperti Kritus yang bangkit dengan tubuh-Nya dapat menembus pintu-pintu rumah yang terkunci (lihat Yoh 20: 26), maka pada saat kelahiran-Nya, Ia pun lahir dengan tidak merusak keperawanan ibu-Nya, yaitu Bunda Maria.

Para pendiri Protestan Martin Luther.John Calvin,Ulrich Zwingli dan John Wesley mengakui bahwa Maria tetap perawan.

Pentingnya Keperawanan Maria bagi Gereja

Keperawanan Maria berakibat penting pada Gereja karena Maria adalah ‘model’/ teladan bagi Gereja. Misteri keperawanan Maria dilanjutkan oleh Gereja dalam dua hal. Yang pertama Gereja menjaga kemurnian pengajarannya terhadap ajaran yang menyimpang (”heresy“). Kedua, Gereja memberikan tempat khusus pada penerapan ‘keperawanan’ secara jasmani, sepanjang sejarah Gereja.[20] Keperawanan jasmani ini bukan dimaksudkan untuk merendahkan arti perkawinan, tetapi untuk menunjukkan kesempurnaan sesuai dengan teladan yang dicontohkan oleh Yesus sendiri yang mempersembahkan seluruh tubuh dan jiwa untuk pemenuhan rencana keselamatan Allah.

ROH KUDUS yang bekerja menaungi Bunda Maria untuk mengandung dan melahirkan Yesus itu juga bekerja menaungi kita saat kita menerima Sakramen Pembaptisan. Dengan demikian, Kristus juga menjadikan Gereja-Nya sebagai Perawan, sebagaimana Bunda Maria adalah Perawan.
Kesimpulan

Dari uraian di atas, kita dapat mengetahui bahwa pengajaran Gereja Katolik tentang Bunda Maria yang tetap Perawan memiliki dasar yang kuat. Sebagai orang Katolik kitapun harus meyakini tentang keperawanan Bunda Maria ini, dan mensyukuri teladan kemurniannya. Maka, janganlah kita sampai meragukan keperawanan Maria, hanya karena kita berpikir itu tidaklah mungkin dari kacamata kita sebagai manusia. Karena tiada yang mustahil bagi Allah, apalagi jika itu menyangkut segala pernyataan tentang Diri-Nya yang kudus dan penuh kasih. Dengan perbuatan-Nya menguduskan Maria sedemikian rupa, Ia menunjukkan betapa kasih-Nya yang sempurna tidak meninggalkan sedikitpun cacat dan noda pada kemurnian Bunda Maria. Bunda Maria menjadi teladan bagi Gereja yang menjunjung tinggi nilai kemurnian tubuh dan jiwa dalam mengabdi Tuhan, dan memberi contoh bagi kita bagaimana memberikan diri seutuhnya bagi rencana Keselamatan Allah.

 



January 04, 2010, 10:27:43 PM
Reply #25
  • FK - Senior
  • ****
  • Posts: 252

Berikut ini isi dari Mariologi: (Nama; Definisi Magisterium Pertama; Isi Dogma)

2. Bunda Allah   
Konsili Efesus (431)   
Maria adalah benar-benar Bunda Allah karena kesatuannya dengan KRISTUS, Putra Allah.


Santa Perawan Maria Bunda Allah
oleh: Paus Yohanes Paulus II


1. Renungan akan misteri kelahiran sang Juruselamat telah menghantar umat Kristiani bukan hanya untuk mengenali Santa Perawan sebagai Bunda Yesus, melainkan juga untuk mengenalinya sebagai Bunda Allah. Kebenaran ini telah ditegaskan serta diterima sebagai harta warisan iman Gereja sejak dari abad-abad awal Kekristenan, hingga akhirnya secara resmi dimaklumkan dalam Konsili Efesus pada tahun 431.

Dalam komunitas Kristiani yang pertama, sementara para murid semakin menyadari bahwa Yesus adalah Putra Allah, menjadi semakin nyatalah bahwa Bunda Maria adalah Theotokos, Bunda Allah. Inilah gelar yang tidak muncul secara eksplisit dalam ayat-ayat Injil, tetapi dalam ayat-ayat tersebut “Bunda Yesus” disebutkan dan ditegaskan bahwa Yesus adalah Allah (Yoh 20:28; bdk. 5:18; 10:30, 33). Bunda Maria dihadirkan sebagai Bunda Imanuel, yang artinya “Tuhan beserta kita” (bdk. Mat 1:22-23).

Telah sejak dari abad ketiga, seperti dapat disimpulkan dari suatu kesaksian tertulis kuno, umat Kristiani Mesir telah mendaraskan doa ini kepada Bunda Maria, “Kami bergegas datang untuk mohon perlindunganmu, ya Bunda Allah yang kudus, janganlah kiranya engkau mengabaikan permohonan dalam kesesakan kami, tetapi bebaskanlah kami dari segala yang jahat, ya Santa Perawan yang mulia” (dari Buku Ibadat Harian). Istilah Theotokos muncul secara eksplisit untuk pertama kalinya dalam kesaksian kuno ini.

Dalam mitos kafir, seringkali terjadi bahwa seorang dewi tertentu dihadirkan sebagai ibunda dari beberapa dewa. Sebagai contoh, dewa tertinggi, Zeus, memiliki dewi Rhea sebagai ibundanya. Konteks ini mungkin mendorong umat Kristiani untuk mempergunakan gelar “Theotokos”, “Bunda Allah”, bagi Bunda Yesus. Namun demikian, patut dicatat bahwa gelar ini tidak ada sebelumnya, melainkan diciptakan oleh umat Kristiani guna mengungkapkan suatu keyakinan yang tidak ada hubungannya dengan mitos kafir, yaitu keyakinan akan perkandungan Dia, yang senantiasa adalah Sabda Allah yang kekal, dalam rahim Maria yang perawan.

Konsili Efesus memaklumkan Bunda Maria sebagai Bunda Allah

2. Dalam abad keempat, istilah Theotokos biasa dipergunakan baik di Gereja Timur maupun Barat. Devosi dan teologi merujuk lebih dan lebih banyak lagi pada istilah ini, yang sekarang telah menjadi bagian dari warisan iman Gereja.

Oleh karenanya, orang dapat memahami gerakan protes besar yang muncul dalam abad kelima ketika Nestorius menyatakan keraguannya atas kebenaran gelar “Bunda Allah”. Sesungguhnya, berkeyakinan bahwa Bunda Maria hanyalah bunda dari Yesus manusia, ia bersikukuh bahwa “Bunda Kristus” adalah satu-satunya istilah yang benar secara doktrin. Nestorius dihantar pada kesalahan ini karena ketakmampuannya mengakui keutuhan pribadi Kristus dan karena tafsirannya yang salah dalam membuat pemisahan kedua kodrat - kodrat ilahi dan kodrat manusiawi - yang ada dalam Kristus.

Pada tahun 431, Konsili Efesus mengutuk thesisnya dan, dengan menegaskan kodrat ilahi dan kodrat manusiawi dalam satu pribadi Putra, memaklumkan Bunda Maria sebagai Bunda Allah.

3. Sekarang, kesulitan-kesulitan dan keberatan-keberatan yang diajukan oleh Nestorius memberi kita kesempatan untuk melakukan refleksi-refleksi yang berguna demi pemahaman dan penafsiran yang benar atas gelar ini. Istilah Theotokos, yang secara harafiah berarti, “ia yang telah melahirkan Allah,” secara sepintas dapat mengejutkan; sesungguhnya malahan membangkitkan pertanyaan seperti, bagaimana mungkin seorang manusia ciptaan melahirkan Allah. Jawaban atas iman Gereja sangat jelas: Keibuan ilahi Bunda Maria mengacu hanya pada kelahiran Putra Allah sebagai manusia, tetapi bukan pada kelahiran ilahi-Nya. Putra Allah dilahirkan dalam kekekalan oleh Allah Bapa, dan sehakikat dengan-Nya. Bunda Maria, tentu saja tidak ambil bagian dalam kelahiran dalam kekekalan ini. Tetapi, Putra Allah mengambil kodrat manusiawi kita 2000 tahun yang lalu dan dikandung serta dilahirkan oleh Perawan Maria. 

Dengan memaklumkan Bunda Maria sebagai “Bunda Allah”, Gereja bermaksud untuk menegaskan bahwa ia adalah “Bunda dari Inkarnasi Sabda, yang adalah Allah.” Sebab itu, keibuannya tidak diperluas pada keseluruhan pribadi Tritunggal Mahakudus, melainkan hanya pada Pribadi Kedua, Allah Putra, yang dalam berinkarnasi mengambil kodrat manusiawi-Nya dari Maria.

Keibuan merupakan suatu hubungan dari pribadi ke pribadi: seorang ibu bukanlah sekedar ibu ragawi atau ibu secara fisik belaka dari makhluk yang dilahirkan dari rahimnya, melainkan ibu dari pribadi yang dilahirkannya. Karenanya, dengan melahirkan, menurut kodrat manusiawi-Nya, pribadi Yesus, yang adalah pribadi Allah, Bunda Maria adalah Bunda Allah.

Kesediaan Santa Perawan mengawali Peristiwa Inkarnasi

4. Dalam memaklumkan Bunda Maria sebagai “Bunda Allah”, Gereja dalam satu ungkapan menyatakan imannya akan Putra dan Bunda. Kesatuan ini telah dilihat dalam Konsili Efesus; dalam mendefinisikan keibuan ilahi Bunda Maria, para Bapa Gereja bermaksud menegaskan keyakinan mereka akan keilahian Kristus. Walau menghadapi banyak keberatan, baik dulu maupun sekarang, mengenai tepat atau tidaknya dalam menggelari Bunda Maria dengan gelar ini, umat Kristiani sepanjang jaman, dengan menafsirkan secara tepat makna keibuan ini, telah mengungkapan secara istimewa iman mereka akan keilahian Kristus dan akan kasih mereka kepada Santa Perawan. 

Di satu pihak, Gereja memaklumkan Theotokos sebagai jaminan atas realita Inkarnasi sebab - seperti dinyatakan St Agustinus - “jika Bunda fiktif, maka daging akan juga fiktif … dan merupakan corengan terhadap Kebangkitan” (in evangelium Johannis tractatus, 8, 6-7). Di lain pihak, Gereja juga mengkontemplasikan dengan penuh kekaguman dan merayakannya dengan penghormatan anugerah agung luhur yang dianugerahkan kepada Bunda Maria oleh Ia yang menghendaki untuk menjadi Putranya. Ungkapan “Bunda Allah” juga menunjuk pada Sabda Allah, yang dalam Inkarnasi merendahkan diri dalam rupa manusia guna meninggikan manusia sebagai anak-anak Allah. Tetapi dalam terang martabat luhur yang dianugerahkan kepada Perawan dari Nazaret, gelar ini juga memaklumkan kemuliaan wanita dan panggilannya yang luhur. Sesungguhnya, Tuhan memperlakukan Bunda Maria sebagai pribadi yang bebas dan bertanggung jawab dan tidak mewujud-nyatakan Inkarnasi PutraNya hingga setelah Ia memperoleh kesediaannya.

Mengikuti teladan umat Kristiani perdana dari Mesir, kiranya umat beriman mempercayakan diri kepada dia yang, sebagai Bunda Allah, dapat memperolehkan dari Putra Ilahinya rahmat pembebasan dari yang jahat dan keselamatan kekal.
January 04, 2010, 10:30:02 PM
Reply #26
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 1408
  • Gender: Male
Gereja Katolik mengajarkan tiga pilar kebenaran: Alkitab, Tradisi Suci, dan Magisterium ini yg membedakannya dengan Protestan.

CMIIW, betul gak kausalitasnya begini:

Alkitab dilahirkan oleh Tradisi Suci(>kanonisasi)
Tradisi Suci dijaga oleh Magisterium (>Sistem Hirarki)
Magisterium berdasarkan Alkitab (>Diatas Batu Karang ini....)

Kalau sistem itu terganggu, gereja yang satu menjadi beberapa.
Kalau sistem "perbanyakan" itu didukung, yang beberapa menjadi banyak sampai banyak sekali.

Lagi "empet" :(
January 04, 2010, 10:53:40 PM
Reply #27
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 557
  • Spirit is perfect, matter is imperfect
  • Denominasi: Rosae Crucis
Bro deogratia, apakah manifestasi Marialogi berupa penghormatan terhadap Maria merupakan bagian fundamental? Seandainya, ada komunitas Kristen yang ingin kembali "in communion with Mother Church". Bagian-bagian lain teologi sistematik Katholik sudah diterima, tetapi tentang manifestasi Marialogi ada perbedaan. Apakah Gereja dapat mengeluarkan dispensasi sama seperti yang terjadi dengan Katholik Ritus Timur?



setau saya --juga menurut artikel di wiki yg diberi link-nya kemarin-- Mariologi memang adalah bagian integral dari Kristologi.
setiap orang yg mengaku YESUS adalah Tuhan, rasanya sulit mengelak dari kenyataan bhw Maria adalah benar2 Bunda Tuhan [yg menjelma menjadi manusia!].
pengakuan Maria sbg Theotokos adalah sebuah konsekwensi theologis yg niscaya dari ajaran bhw YESUS adalah inkarnasi Tuhan "yang dilahirkan, bukan dijadikan" [artinya: bukan ciptaan spt mahluk ciptaan yg lain, sebab keberadaan-Nya sehakikat dgn Bapa] spt yg dinyatakan dlm kredo Nicea-Konstantinopoli ...

.......
    Et in unum Dóminum Iesum Christum,
    Fílium Dei Unigénitum,
    Et ex Patre natum ante ómnia sæcula.
    Deum de Deo, lumen de lúmine, Deum verum de Deo vero,
    Génitum, non factum, consubstantiálem Patri:
    Per quem ómnia facta sunt.
    Qui propter nos hómines et propter nostram salútem
    Descéndit de cælis.
    Et incarnátus est de Spíritu Sancto
    Ex María Vírgine, et homo factus est
    .......



  • .......
    And in one Lord JESUS CHRIST,
    the only-begotten Son of God,
    begotten of the Father before all ages;
    Light of Light, true God of true God,
    begotten, not created, of one essence with the Father
    through Whom all things were made.
    Who for us men and for our salvation
    came down from heaven
    and was incarnate of the Holy Spirit
    and the Virgin Mary and became man
    .......


IMO, sso tidak bisa mengatakan dirinya adalah Katholik dan Orthodox tanpa mengakui kredo tsb.

dispensasi bagi Katholik Ritus Timur hanya menyangkut sejauh perbedaan liturgi, dan pembebasan dari disiplin hidup selibat bagi para imam yg memutuskan utk tidak menapak ke jenjang hirarki yg lebih tinggi.
dispensasi itu tidak meliputi hal2 yg berkenaan dgn deposit iman [depositum fidei] mengenai status dan penghormatan thdp Maria.

mengenai "manifestasi perbedaan" ... sejauh perbedaan tsb tidak melanggar depositum fidei, rasanya hal itupun masih dimungkinkan utk dibicarakan lebih lanjut, apa saja yg dimaksud dgn "perbedaan" tsb.

hope this helps, bang!

Bukan soal teologinya, tetapi manifestasi teologinya berkaitan dengan penghormatan. Makanya, saya kaitan dengan liturgi karena adanya dispensasi liturgi di Katholik Ritus Timur. Misalkan, apakah boleh sebuah doa yang di dalamnya ada mediasi melalui Maria, tetapi boleh disebutkan juga tanpa mediasi Maria?
For by these He has granted to us His precious and magnificent promises, so that by them you may become partakers of the divine nature, having escaped the corruption that is in the world by lust. - 2 Pet 1:4 (NASB)

Follow me on Twitter @phantomlogy
January 05, 2010, 08:47:36 AM
Reply #28
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 1408
  • Gender: Male
Bukan soal teologinya, tetapi manifestasi teologinya berkaitan dengan penghormatan. Makanya, saya kaitan dengan liturgi karena adanya dispensasi liturgi di Katholik Ritus Timur. Misalkan, apakah boleh sebuah doa yang di dalamnya ada mediasi melalui Maria, tetapi boleh disebutkan juga tanpa mediasi Maria?

Doa orang Katolikpun tidak selalu mengandung mediasi melalui Maria. Bisa juga tanpa menyebut Maria.
Doa Bapa Kami, misalnya. Bisa dilakukan tersendiri dan didalamnya tidak menyebut nama Maria samasekali. Doa Kemuliaan juga sama.
Jadi tentang Maria yang membuat "berbeda" itu seperti begini:

Ada orang (Si A) yang bisa memakai warna apapun untuk bajunya, ada pula yang (Si B) tidak mau memakai satu warna tertentu, misalnya biru muda.
Ketika si A mengetahui si B tidak penah memakai baju biru muda, ia diam saja.
Sebaliknya ketika si B melihat si A memakai warna biru muda, ia mempertanyakannya, buat apa memakai warna biru muda.




Lagi "empet" :(
January 05, 2010, 05:00:31 PM
Reply #29
  • FK - Senior
  • ****
  • Posts: 252

3. Pembuahan Suci
Paus Pius IX (1854)   
Maria, pada saat dirinya diciptakan, dijaga kesuciannya dari dosa asal.

Doktrin tentang Maria "Yang Dikandung Tanpa Dosa" diyakini oleh semua orang beriman Kristen, yang secara dogmatis diprokla­masikan oleh Paus Pius IX pada tanggal 8 Desember 1854, dalam In­effabilis Deus. Dalam bulla ini, Paus Pius memutuskan bahwa Maria dikandung tanpa dosa:

'... dengan privilese clan rahmat yang luar biasa dari Allah Yang Mahakuasa dan karena jasa YESUS KRISTUS, [Maria] dipertahankan bebas dari semua dosa asal."

Keyakinan pada dogma ini sudah terjadi sejak abad ke-8, ketika ibadat Hari Raya Maria Dikandung Tanpa Dosa untuk pertama kalinya dicatat.s Perawan Maria sendiri menegaskan doktrin Gereja tentang Maria Dikandung Tanpa Dosa empat tahun setelah bulla Pius IX, ketika dia menampakkan diri kepada gadis kecil, Bernadette Soubirous, di Lourdes, Perancis, pada tanggal 25 Maret 1858 (tanggal 25 Maret adalah Hari Raya Kabar Sukacita). Setelah Bernadette ber­ulang kali memintanya agar memberitahukan siapa dirinya, Maria mem­beritahukan kepada Bernadette, dan kepada seluruh dunia:

      "Que soy era Immaculado Councepciou!" ("Aku adalah Maria Yang Dikandung Tanpa Dosa").

kebenaran tentang Maria Dikandung Tanpa Dosa ini menjadi pokok perdebatan yang memanas antara oran ­orang Katolik dan orang-orang Protestan. Beberapa orang berusaha menyangkal kebenaran Maria Dikandung Tanpa Dosa dengan mengutip Kitab Suci di luar konteks: "Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah",' atau, "Tak seorang pun yang baik selain daripada Allah saja."' Orang-orang Protestan berpendapat bahwa sejak Maria menyatakan bahwa "Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juru Selamatku" kemudian dia harus menjadi pendosa, dan bukan Tanpa Dosa. Sekali lagi, perdebatan ini diambil dari Kitab Suci di luar konteks. Maria memuliakan Allah, Juru Selamatnya, bukan karena dia berdosa, tetapi karena kerendahan hatinya, kepatuhannya, dan mendahulukan Putranya, YESUS KRISTUS, tanpa seorang pun, tanpa masalah betapa baiknya mereka, dapat masuk surga - bukan Abraham, bukan Ishak, bukan Yakub, bukan Yohanes Pembaptis, bahkan bukan Maria.°
Selanjutnya, dalam Kidung Maria,"' Bunda Yang Terberkati ini mensyaratkan dogma tentang Maria Yang Dikandung Tanpa Dosa de­ngan menegaskan kepada seluruh dunia kepenuhan rahmat dan pilihan ilahi baginya. Dalam kidung ini, yang diinspirasikan ROH KUDUS, Maria menyatakan:

                   "Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah    melakukan perbuatan­perbuatan besar kepadaku ".

Sungguh, Allah telah melakukan perbuatan-perbuatan besar bagi Maria. Dia hanyalah ciptaan yang menerima kepenuhan rahmat dari Allah, maka dia pantas menerima kemuliaan yang paling tinggi. Karena kebenaran, karena pilihan, karena kerendahan hati, dan karena pende­ritaannya," Maria duduk di sisi kanan YESUS KRISTUS di surga sebagai "Ratu Surga",' "Penebus Bersama" (Co-Reedemer)' dan "Pengantara Bersama" (Co-Mediatrix)'4 bagi dunia. (Bagi mereka yang tidak tahu dengan istilah ini, awalan "co-" berarti "bersama" bukan "sederajat".) Sementara itu, seperti yang kita ketahui dari Kitab Suci, hanya YESUS Kristuslah yang menjadi perantara antara Allah dan manusia, Maria, pengantara surgawi, menjadi perantara antara YESUS dan manusia.

Apakah anak, jika dia benar-benar baik, dapat menolak permintaan ibundanya, khususnya jika anak itu adalah Putra Allah? Ingatlah apa yang dilakukan YESUS bagi Maria pada perkawinan di Kana, ketika dia meminta kepada-Nya agar mengadakan mukjizat sebelum saat-Nya tiba untuk mengadakan mukjizat-mukjizat - Dia menuruti permintaan ibunda-Nya.'

Secara tidak adil orang-orang bukan Katolik menuduh orang-orang Katolik Roma menghormati Maria sebagai berhala sebab mereka mem­berikan penghormatan kepadanya dengan gelar "Ratu Surga", "Pengan­tara Bersama", dan "Penebus Bersama". Tidak ada yang jauh dari kebe­naran. Orang-orang Katolik hanya menyembah Allah, dan tidak takut menghormati Maria atau menyebabkan YESUS KRISTUS cemburu kepada ibunda-Nya. Kecemburuan Maria, Perempuan dalam Wahyu 12, bu­kanlah dosa yang ditemukan dalam diri YESUS KRISTUS tetapi dalam diri Satan, Naga Merah?

"Lakukan apa saja yang Dia katakan kepadamu"" Maria mengarahkan kita kepada YESUS, dan YESUS mengarahkan kita ke­pada Allah. Maria mempersiapkan; YESUS memenuhinya. Tanpa Maria ti­dak ada YESUS. Tanpa YESUS tidak ada penebusan. Demi alasan ini, Maria layak dihormati. Doa-doa dan permohonan-permohonan orang Katolik kepada Maria, "Perawan Abadi", tidak mengurangi iman kita kepada YESUS KRISTUS. Malah, semakin memperbesar imanl Gereja
 
« Last Edit: January 05, 2010, 05:21:18 PM by DEBI »
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)