Author Topic: Menuju dialog theologis : Kristen - Islam (Bagian Satu)  (Read 9678 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

January 18, 2010, 11:49:18 AM
  • FK Friend
  • FK - Hero
  • ******
  • Posts: 2738
  • me , just moe without 'o'
Tulisan ini saya ambil dari buku Menuju Dialog Theologis Kristen - Islam karangan Dr. Bambang Noorsena yang diterbitkan oleh penerbit Andi, cetakan ke-7 November 2008.

Thread ini saya lock karena saya tujukan untuk bahan rujukan saja dan bukan untuk diperdebatkan disini.

Bila mau mengkritisi, silakan dibuka thread terpisah

Salam
________________________________________________________________________
Bagian Satu

Dari Barat kembali ke Timur

Kekristenan Syria - dalam dialog Kristen - Islam


________________________________________________________________________

Hubungan Kristen~Islam di Indonesia, pada salah satu aspeknya mewarisi "beban sejarah" dari para pendahulunya, yaitu pembawa kedua agama : Islam hampir identik dengan Arab (Timur Tengah) dan Kristen dengan Barat. Tidak adanya sebuah Kekristenan Timur dengan wacana budaya aslinya dimana Kekristenan berkembang (oriental churches -- sbg vs oxidental/barat churches -- tambahan dari saya), telah memperkuat kesan "salah kaprah" tersebut.

Oleh karena itu, konflik Kristen~Islam, sekalipun tidak disangkal ada aspek theologisnya, tetapi tidak pernah "telanjang" sebagai konflik theologis saja. Konflik itu lebih dominan dilatarbelakangi oleh pertentangan dua pola budaya. terlebih lagi, Barat~Timur di kebanyakan negara-negara ketiga (seperti Indonesai) sering dipahami sebagai relasi "yang menjajah dan yang terjajah".

Berangkat dari pergumulan seperti itulah, lahir visi saya untuk menghadirkan Kekristenan Timur Tengah  sebagai wacana (bukan sebagai gereja) dalam rangka "menjembatani" kesenjangan yang cukup tajam antara Kristen~Islam di Indonesia. Suatu Kesenjangan yang cukup lebar dan dalam, baik pada dimensi theoligis (akidah, termasuk dalam "bahasa theologis") maupun budaya , yakni dimensi ritus dan liturgisnya. Maksud saya dengan gereja-gereja oriental orthodoks (ortho - lurus/benar, doxa - ajaran , catatan dari saya) : Koptik, Syria, Maronit, dan Assyiria/Syria Timur, yang berbasis budaya dan bahasa Semitik (Syriac/Aram dan Arab).

Dari gereja-gereja oriental ini, saya masih mengkhususkan pilihan lagi, yaitu Kekristenan Syria, khususnya Gere
ja Orthodoks Syria Anthiokia (Kanisat al-Anthakiyat al-Suryaniyat al-Orthodoksiyat). Kekristenan tersebut kini berpusat di Damascus, Suriyah. Mengapa? Sebab dari kajian sejarah dan budaya gereja-gereja Arab yang saya lakukan di Timur Tengah, khususnya Gereja Orthodoks Syria yang berpusat di Bab Touma, Damascus, saya menemukan banyak "meeting point" dengan Islam yang dapat di agendakan dalam dialog kedua iman. Baik dari sudut pandang historis, kultural maupun theologis.

Secara historis dan kultural, saya menemukan banyak paralel dengan Islam. Seperti dibuktikan oleh Arthur Jeffrey, dalam The Foreign Vocabulary of the Qu'ran, bahwa "one fact seems certain, namely that such Christianity as was knowns among the Arabs in pre-Islamic times was largely of the Syriac type" 1). dari sudut pandang penelitian filologis adanya ungkapan-ungkapan asing yang masuk dalam Alquran sebelumnya sudah dirintis oleh ulama Islam dari Mesir, yaitu Syeikh Jalal al-Din 'abd ar-Rahman as-Suyuthi dalam kitabnya : Al-Itqan fii 'Ulum al-Qur'an. 2)

Kitab ini juga banyak dirujuk Jeffrey dalam penelitiannya. Diantara kata-kata dan nama-nama Arab klasik Alquran yang berasal dari bahasa Suryani/Syriac itu, antara lain :

Allah
Sholat
'Isa
al-Masih ad-dajjal (anti KRISTUS)
Tahlil
Subhanallah

Yang ternyata paralel dengan bentuk Suryani :

Alaha
tselota
'Isha
Meshih daggala,
Tehila
Subh Alaha

Yang semuanya juga merupakan term-term (istilah-islah ,  dari saya) keagamaan resmi Kekristenan Syria hingga sekarang.

Selama ini, dilatarbelakangi oleh "dua pola budaya" yang berbeda, Kristen dan Islam secara theologis tak pernah bertegur sapa karena dipisahkan oleh tembok-tembok yang dibatasi oleh paradigma dan religious language (bahasa agama) yang berbeda. Padahal, formula theologis sebuah agama sangat ditentukan oleh latar belakang sosiologis/kulturalnya. Setelah lebih dari seribu tahun mengalami proses westernisasi, Kristen Barat menjadi agak tercabut dengan "akar budaya Timur Tengahnya" semula.

Berangkat dari kesamaan akar inilah, menurut saya, terletak relevansi Kekristenan Timur Tengah (khususnya Syria) dalam dialog theologis Kristen~Islam yang lebih mendalam.

Secara konkret, dibawah ini saya akan mengemukakan contoh-contoh paralelisasi antara Islam dan gereja-gereja Arab, khususnya Kekristenan Syria. Pertama-tama dari sudut theologis ('akidah). Selanjutnya, dari sudut ritus atau pola peribadatannya ('ubudiyyah) sebagai berikut :


Paralelisasi Dalam aspek 'Akidah (Bahasa Theologis)

Harus dicatat bahwa reaksi Alquran yang kerap kali kritis terhadap berbagai bentuk akidah Kristen, tidak semua didasarkan atas sebuah Kekristenan yang orthodoks. Akan tetapi lebih diarahkan pada praktek-praktek populer penganut sekte-sekte bid'ah (heresy) Kristen Mekah.

Hampir semua penilaian Islam tentang Kekristenan tidak didasarkan atas Kekristenan yang lurus dan benar, tetapi atas sekte-sekte heterodoks (sesat, menyimpang). Yang bersamaan dengan ditolak pula oleh iman Kristen sejati. Misalnya, tanggapan Alquran tentang keilahian YESUS. Ternyata Alquran menolak semacam bentuk aliran mujjasimah (antropomorfisme) Kristen, yang meyakini bahwa Allah identik dengan kemanusiaan al-Masih: "Laqad  kafaral ladzina qalu inna-llaha huwal Masihu bnu Maryam". Kafirlah orang yang mengatakan bahwa Allah adalah al-Masih Putera Maryam (Q.s. al-Maidah 5:72).

Penolakan Alquran atas keilahian YESUS karena bersama Maryam ia melakukan kegiatan jasmani , "kana ya'kullanith tha'am" (Q.s al-Maidah 5:75), "keduanya biasa makan makanan". Padahal disamping konsep kristologi resmi gereja, baik Kalsedonia (gereja Orthodoks Yunani, roma Katholik, dan gereja-gereja Reformis/Protestan) maupun kristologi non-Kalsedonia (Gereja Orthodoks Syria, Koptik, Armenian dan Mar Touma) dan Ethiopia/Abysinia) memberi tempat yang wajar dan tidak menyangkal fakta kemanusiaan 'isa al-Masih. Juga, dalam ajaran gereja penekanan keilahian YESUS dan kesatuannya dengan Allah sama sekali tidak menunjuk pada kemanusiaanNya, tetapi menunjuk  pada kodrat Firman Allah yang "kekal  (qadim) bersama Dzat Allkah" (kana hdza qadiman 'indallah), 3) sebagaimana umat Islam meyakini kekadiman Alquran sebagai kalam (firman) Allah.

Demikian pula bantahan Alquran tentang bentuk pseudo-trinity (Arab : "wa la taqulu tsalatsah", Q.s. An-Nisa' 4:171; "Innallaha tsalitsu tsalitsah", Q.s. Ali Imran 5:73) yang terdiri dari Allah, 'Isa (YESUS) dan Maryam (Q.s al-Maidah 5:116). Justru karena itu, dijaman kemudian kontak dengan pemikiran filsafat yang boleh disebut terlambat itu akhirnya membuahkan suatu pandangan theologis ('ilm al-Kalam) yang paralel dengan Kekristenan. Misalnya, ajaran resmi Ahl as-Sunnah wa al-Jama'ah mengenai nisbah antara Allah dan sifat-sifatNya : "ash Shifatu laisat al-dzat wa laa hiya ghayruha" (Sifat-sifat Allah itu tidak identik, tetapi tidak pula berbeda dengan Dzat Allah). Ajaran tersebut justru mempertahankan sifat-sifat Allah sebagai hypostasis (gerika/yunani -- saya) Allah disamping DzatNya (ousia -- yunani) - yang tidak identik, tetapi serempak tidak berbeda dengan Allah -- adalah sejajar dengan akidah Kristen mengenai ketritunggalan Ilahi. Para theolog Kristen berbahasa Arab sering menerjemahkan padanan istilah Bapa dan Putera dan Ruh Kudus sebagai : al-wujud, al-ilmu dan al-hayat (bandingkan Injil Yoh 1:1; 8:42; 15:16; 1 Kor 2:10-11)

(catatan dari saya : Sifat2 atau hypostatis adalah Bapa - Putera - ROH KUDUS, Dzat/ousia adalah Allah)

Perdebatan yang berkepanjangan soal keabadian Alquran sebagai kalam Allah (Firman Allah) yang tidak diciptakan (ghayr al-makhluq) adalah pementasan ulang perbedabatan gereja dengan bid'ah Arian yang menyangkal keabadian Putera (Kalam/Firman) Allah, yang kemudian ditegaskan dalam Konisli Nikea (325 M) bahwa al-Masih sebgai Firman Allah: "dilahirkan dan tidak diciptakan " ( teks Yunani --gennethenta ou poiethenta, teks Arab :"al-Mauludin, ghayr al-makhluq").

Demikianlah, kedua tabiat 'Isa al-Masih yang sepenuhnya insani (kamala bi al-lahut wa kamala bi an-nasut). YESUS, sebagai Firman Allah satu dengan Allah sebab Ia adalah "terang yang keluar dari (sumber) terang, (Firman) Allah sejati yang keluar dari (Wujud) Allah sejati (phos ek phos, Theou alethinou ek Theou alethinou)4).

Firman allah itu, selanjutnya : "nazala minas sama'i wa tajjasad bi ar-ruh al-quddus, wa min maryam al-adzra'i wa ta'anas" (telah turun dari surga, dan menjelma oleh Ruh Kudus, menjadi manusia dari Perawan Maria). Penegasan kedua tabiat al-Masih ini bergema kembali dalam ilmu Kalam Islam yang menegaskan tentang Alquran sebagai Kalam nafsiy (Kalam Allah yang kekal) yang bukan makhluk, dan dalam aspek nuzulnya sebagai Kalam lafdziy (Firman tertulis) yang bersifat temporal dan tidak kekal.

(catatan dari saya : YESUS -- sebagai Sang Putera adalah Kalam/Firman/Logos/Akal/Ilmu yang kekal DzatNya bersama Bapa (Wujud) -- yang nuzulNya/turun/inkarnasi dalam rupa Anak Manusia yang berFirman/Kalam/Logos/Ilmu yang bersifat temporal atau tidak kekal di bumi)

Perlu dicatat pula, ilmu Kalam Islam juga mengambil istilah-istilah metafisik yang baru muncul sekitar 150 tahun setelah Alquran, yang sebelumnya sudah dipakai para theolog Kristen untuk merumuskan 'akidah keTritunggalan Mahakudus, antara lain : ousia (jauhar, dzat6)) dan hypostasis (uqnum, shifat). Istilah dzat dan shifat sampai hari ini dilestarikan dan digunakan dalam theologi Kalam Islam



Paralelisme Dalam Aspek 'Ubudiyyah (Ritus atau Pola Ibadah)

Secara historis, Islam, sebagaimana agama-agama Semitik sebelum muncul dalam konteks Timur Tengah. Oleh karena itu, sudah tentu tidak mungkin  mencari paralel pola ibadah Islam dengan Kristen Barat, tetapi harus melihat konteks gereja-gereja Timur Tengah.

Hampir 90% ibadah Islam melestarikannya dari agama-agama Semitik sebelumnya. Khususnya Kekristenan Syria yang masih mempertahankan ritusnya dari zaman rasuli (mula-mula). Banyak ahli sepakat, paralel paling dekat dengan ibadah Islam (baik dimensi ritus maupun bahasa theologis) berasal dari Kekristenan Syria. Pola-pola peribadatan itu secara kerangka luarnya dilestarikan secara utuh. Akan tetapi , diberikan makna theologis secara baru yang berbeda dari makna yang diberikan oleh Kekristenan mula-mula yang berbasis budaya Semitik.

Dalam makalah ini akan dibatasi pada satu contoh saja : yaitu salat lima waktu yang sejajar dengan salah tujuh waktu (as sab'ush shalawat) dalam gereja mula-mula. Gereja mula-mula yang dimaksud disini adalah gereja Kristen sebelum scisma (perpecahan) pertama tahun 451 antara gereja berhaluan Kalsedonia (yang menerima Konsili Kalsedon, yaitu gereja Roma dan gereja Konstantinopel) dengan gereja berhaluan non-Kalsedonia (yang menolak Konsili Kalsedon, yaitu gereja Antiokhia/Syria dan gereja Koptik Mesir), schisma kedua tahun 1054 antara gereja Barat yaitu Roma (Gereja Roma Katholik) dan Konsatntinopel (Gereja Orthodoks Yunani), maupun reformasi Protestan tahun  1517 yang ditujukan kepada Gereja Roma Katholik. Setelah kegagalan konsili Kalsedon, pihak gereja Orthodoks Yunani melalui tangan kaisar menempatkan "patriarkh-patriarkh boneka" di yerusalem, Antiokhia dan Alexandria. Begitu juga Gereja Roma Katholik menempatkan partiarkh-patriarkh Latin mereka yang tunduk kepada Sri Paus di Roma. Dengan demikian , gereja mula-mula adalah gereja yang kudus, semesta dan rasul sebelum perpecahan tahun 451, 1054, 1517 yang diuraikan diatas.

Istilah shalat, berbeda dengan du'a, dalam bahasa Arab menunjukkan doa dalam tertib dan waktu tertentu. Dalam tradisi liturgis, sejajar dengan istilah Yunani : [i[prosekee[/i]. Arthusr Jeffrey, membuktikan  bawa kata Arab salat berasal dari sumber Arami/Suryani tselota7).

Istilah tselota ini hingga sekarang dilestarikan gereja-gereja yang masih melestarikan bahasa Suryani (Gereja Orthodoks Syria, Gereja Assyria/Syria Timur, Gereja  Katholik Maronit di Libanon dan Gereja Katholik Kaldea Kesatuan/Uniate-Chaldean di Irak). Sedangkan kata Arab yang seakar dalam bahasa Ibrani, misalnya :Shalu Shalom Yerusalayim (Maz. 122:6, "Berdoalah untuk kesejahteraan Yerusalem").

Salat adalah doa-doa harian pribadi nonsakramental yang dibedakan dengan ibadah sakramental atau ibadah kurban (ekaristi) :"and they continued steadfastly in apostles' doctrine and fellowship, in the breaking bread dan in prayers" (Kis 2:42, Rsv/Revised Standard Version). Perhatikan bentuk jamak prayesr yang menerjemahkan kata Yunani prosekukais (Arab : "Shalawat".

Sebelum kedua model ibadah gereja purba ini berakar dari dua corak ibadah Yahudi :

siddur (tiga waktu ibadah harian pribadi) dan

mahzor (tiga ibadah kurban/hag --
yang paralel dengan istilah Arab hajj) yang dirayakan bersama-sama di kota suci Yerusalem : Paskah  (hag ha Pesah), Pondok Daun (hag hassukot) dan Pentakosta hag ha savuot).
Selanjutnya, mazmur 55:18 menyebut tiga waktu ibadah sehari-hari Yahudi : erev we bokir we tsohorayimwaktu petang, pagi, dan tengah hari). ' Istilah (ma)erev dan tsohorayim bisa dibandingkan dengan kata Arab "maghrib" dan "dhuhur".

Rujukan tertua tentang ibadah harian gereja dibaca dalam buku Didache yang ditulis sejaman dengan Injil Yohanes (sekitar tahun 90-95). Buku tersebut mengikuti pola Yahudi yang menganjurkan tiga kali sembahyang. Umat Kristen juga melestarikan jam-jam doa menurut hitungan Yahudi, misalnya :Kisah Para Rasul 10:9 hora ekten jam ke enam yang sejajar dengan pukul 12 siang (dhuhur); Kisah Para Rasul 3:1 san 10:30, hora enaten jam kesembilan yang sejajar dengan pukul 3 petang 'asyar). Justru perlu direnungkan , mengapa Injil mencatat penderitaan YESUS terjadi pada jam-jam salat itu (Markus 13:33-34).

Karena itu, berdasrkan perenungan-pereungan yang mendalam atas misteri jalan sengsara (thariqul 'alalam) al-Masih, dan jam-jam lain yang terkait dengan paripurnanya karya keselamatan (misalnya : nuzulnya Ruh Kudus, hora trite jam ketiga, waktu 'dhuha yang sejajar pukul sembilan pagi), dan kebiasaan para nabi dan para rasul berdoa ditengah malam (Mazmur 119:62; Kisah 16:25), maka gereja purba mengembangkan ketujuh waktu salat. rujukan paling lengkap tentang hal ini, termuat dalam dokumen Konstitusi Rasuli (tahun 380) dan Mar Basilius Agung (tahun 330-379) dalam Regulae fusius Tractate

Hampir semua Bapa Gereja menulis tentang tradisi salat ini, baik di Timur seperti Mar yuhanna Dahabi al_fam/Yohanes Chrysostomos (tahun 354-407), maupun di barat seperti St. Hieronymus/Yerome (tahun 340-420). Ketujuh salat ini sama persis dengan salat-salat Islam, yaitu kelima salat wajib :subuh, dhuhur, 'asyar, maghrib dan 'isya ditambah salat sunnah : dhuha (pukul sembilan pagi) dan tahajjud (pukul dua belas malam). Tradisi salat tujuh waktu (sab'u ash-shalawat) dipelihara secara utuh oleh gereja-gereja Timur, yaitu gereja-gereja orthodoks non-Kalsedonia maupun Kalsedonia 8), dipraktekkan dengan sedikit revisi dalam gereja Roma Katholik (khususnya untuk para klerus). Martin Luther, dalam bukunya The Small Catechism Vol VII,1) juga masih melestarikan dua waktu salat (brevis), yaitu Loudes (morning prayer) dan Verper (evening prayer), yang ternyata masih dikenal dalam gereja-gereja Lutheran awal.9).


--gambar postur tubuh Yahudi ketika sedang salat -- yang sama atau mirip dg postur tubuh muslim ketika sedang salat -- perlu scanning [sumber : The Unger Bible Dictionary] --


Dalam Gereja Katholik Roma, waktu-waktu salat yang disebut dengan bahasa Latin : Liturgia Horanum (Liturgi jam-jam tertentu) masih dipelihara menurut perhitungan Yahudi. Dalam terjemahan Latin : hora tertia (salat sa'at ats-tsalitsah, jam ketiga). hora sexta (salat sa'at as-sadis, jam ke enam), hora nona (salat sa'at at-tasi'ah, jam kesembilan). Subuh dan maghrib disebut dengan istilah Latin Loudes dan Verper.

Pada abad ke-13 Masehi - mengikuti corak kebebasan Ordo Fransiskan dan Dominikan, seiring dengan munculnya "rahib gaya baru" yang tidak terlalu terikat oleh waktu-waktu berkumpul di biara - jam-jam salat dan doa-doanya disederhanakan, Akhirnya tinggal Loudes dan Verper (pagi dan sore) yang diringkas dalam buku singkat disebut Breviarium (ikhtisar singkat, brevisr) dan lebih menjadi doa klerus (rohaniawan). sedangkan bagi bruder, suster dan kaum awam yang berminat salat disediakan brevur kecil. Bahkan doa Rosario diperkenalkan sebagai brevir umat, sebagai pengganti salat-salat pribadi harian gereja mula-mula. Akhirnya , Konsili Vatikan II kembali menginstruksikan doa-doa harian itu sebagai doa umat, bukan doa imam saja .10)

Dalam gereja-gereja Timur, banyak sekali adab ibadah yang kini juga dilestarikan Islam. Misalnya : pembacaan Alkitab dengan tilawat (dengan cara tartil, dingajikan), bahkan juga seni kaligrafi yang telah berkembang diwilayah Syria sebelum zaman Islam. Hal yang disebut terakhir ini, antara lain diperkuat oleh fakta bahwa inskripsi-inskripsi Arab etrtua semua berasal dari Kekristenan Syria. 11)

Dengan mengedepankan Kekristenan Syiria di Indonesia (yang di beberapa media massa sering disebut Kristen 'Santri') sebagai wacana, diharapkan umat Kristiani maupun Islam bisa menarik akar bersama, sehingga dapat lebih ditingkatkan kesaling-pahaman kedua umat, karena asal-usul dan warisan bersama sebagasi sesama agama 'rumpun Ibrahim' (the Abrahamaic Religions). Minimal, dalam konteks di Indonesia, dapat dihindari penghadapan-penghadapan simbol-simbol kedua agama secara over simplicity sebagai 'Barat-Timur' selama ini. Khususnya pada dimensi ritual, Alquran menyaksikan kaum Ahl al-kitab (Yahudi dan Kristen) yang benar :

Alladzina atainaahum al-kitaba yatluna haqqatilawatihi

Orang-orang yang kami berikan Alkitab kepada mereka, dan mereka men-tilawat-kan dengan tilawat yang benar

(Q.s. al-Baqarah/ 2:221)

Laisu sawa'an min Ahlil Kitabi umatun qaimatu yatluna ayyatillahi ana-alaili wa hum yasjudun.

Tidaklah semua dari mereka bertabiat buruk, bahkan diantara Ahli Kitab (Yahudi dan Kristen) itu, terdapat juga golonganbyang berlaku lurus yang men-tilawat-kan ayat-ayat Allah pada tengah malam dan mereka juga salat dengan bersujud

(Q.s. Ali Imran /3:113)

Ya Maryam, uqnuti lirobbiki wasjudi warka'i ma'ar roki'in

Wahai Maryam, patuhlah kepada Tuhanmu, sujud dan ruku 'lah bersama-sama orang-orang yang ruku

(Q.s Ali Imran/3:43) 12)


Catatan Akhir

Semua kesaksian Alquran itu tidak bisa dimengerti tanpa melihat latar belakang gereja-gereja Timur, dengan Adab ibadah yang masih utuh dilestraikan hingga sekarang. salat dengan berdiri, ruku' (membungkuk) dan sujud adalah adab doa dalam Alkitab sendiri. Demikian juga pembacaan Alkitab dengan tilawat, yang dikenal baik dikalangan Yahudi, gereja-gereja Timur, maupun Islam hingga sekarang ini. Fakta-fakta ini tidak hanya mengokohkan persaudaraan Kristen-Islam, tetapi sekaligus dengan itu kita hendak meletakkan landasan bagi kontekstualisasi dalam rangka kesaksian kita di Indonesia.
« Last Edit: January 19, 2010, 10:42:57 AM by moe »
[image] of mine  is  God's own [image]

http://rotihidup.blogspot.com/

His crown was of thorns
His throne was a cross
His glory was humiliation

(the wisdom of the desert)
January 18, 2010, 03:21:25 PM
Reply #1
  • FK Friend
  • FK - Hero
  • ******
  • Posts: 2738
  • me , just moe without 'o'
Reformulasi Bahasa Theologis Gereja dalam rangka Dialog Kristen - Islam


In conclusion one cannot refrain from saying that Muslim doctrine of God in philosophical theology is not so far removed from Christian system until the question of the Trinity comes into question (Alfred Guillaume, Islam 1)



Catatan kritis Guillaume diatas, bahwa ajaran ketritunggalan Ilahi dalam Kekristenan ini menjadi salah satu 'batu snadungan' dalam dialog Kristen-Islam, telah melahirkan beberapa pemikiran dari para theolog Kristen untum minimal merekonstruksi. Bahkan ada yang mengusulkan  untuk mendekonstruksikan sama sakelai ajaran itu.

Namun patut dicatat bahwa semua pemikiran para theolog tersebut dilatar belakangi oleh pemahaman para theolog barat yang memahami ajaran ini dari kerangka 'filioque' (catatan dari saya : fili - anak ; que - dan), yang karena dianggap mencederai keesaan Allah (Tawhid), maka ditolak sama sekali oleh gereja-gereja Timur. Baik yang berhaluan Kalsedonia (yang menerima konsili Kalsedon : Gereja Orthodoks Yunani), maupun non-Kalsedonia (yang menolak konsili Kalsedon : Gereja Orthodoks Syria, Koptik, Armenia, Mar Touma).

Gereja-gereja Timur yang disebut terakhir ini tidak menerima sisipan kalimat Latin: Qui Patre Filioque precedit (bahwa Ruh Kudus Allah keluar dari Bapa dan Putera). Justru yang tidak pernah diangkat dalam dialog theologis dengan Islam mengenai tema Tawhid (keesaan Allah), adalaj motif dibalik penolakan gereja-gereja Timur mengenai 'Filioque' yang disisipkan oleh konsili lokal gereja Latin di Toledo (586), sebagai reaksi dari ajaran kristologi Arian.


Makna "Laa Ilaha Ilallah" dan penolakan Gereja-gereja Timur atas formula 'Filioque'

Imam al_gazali, yang dijuluki Hujjat al-Islam (Pembela Islam), dalam bukunya berjudul Ar-radd al-Jamil li Ilahiyat 'Isa bisyarih al_injil 2) mengutip 1 Korintus 8:4-6 untuk membuktikan bahwa ajaran al-Masih dalam Injil berdasarkan Tawhid (keesaan Allah). Menurut al-Gazali, ayat-ayat Injil yang tampaknya meneguhkan keilahian YESUS haris dibaca seacra ta'awil (alegoris). Oleh karena itu ajaran Trinitas harus ditolak. Apalagi ayat diatas secara tegas menekankan bahwa tidak ada ilah selain Allah.

Berdasar ayat yang sama, dalam menjelaskan ajaran ketritunggalan Ilahi, gereja-gereja othodoks Timur mempertahankan bahwa sumber keilahian hanya satu, yaitu wujud Allah (dikiaskan Bapa) : Wa an laa ilaha ilallah al-Ahad ...wa huwa al-Abu lladzi minhu kullu syai'in. Sesungguhnya tidak ada ilah kecuali Allah, Yang Mahaesa, yaitu Bapa yang daripadaNya berasal dari segala sesuatu (1 Kor 8:4-6, teks bahasa Arab).

Dari satu Esensi kekal inilah, Firman Allah keluar sebelum segala Zaman (Divine Birth of Son, Injil Yoh 1:1-3) dan bersamaan dengan itu hayat/Ruh Allah berasal :"...yaitu Ruh Kebenaran yang keluar dari Bapa" (Yoh 12:26, teks Arab :Ruh al-Haqq al-munbasyiqu min al-Ab)

Jadi sesuai dengan  teks Injil sendiri tidak ada sisipan 'dan Putera (tambahan saya - Filioque)'. Mengapa gereja-gereja Timur tanpa kompromi sedikit pun dengan sisipan 'Filioque' tersebut ? Bahkan ketika pihak Barat (Roma) tahun 1439 di Ferrara memaksakan sisipan 'Filioque' itu, sebagai syarat bantuan militer untuk menghadapi tentara Turki, mengapa gereja-gereja Timur tetap menolaknya, hingga mereka berada dalam kekuasaan Islam?

Untuk memahami penolakan gereja-gereja Timur diatas, silakan mengikuti kutipan sebuah dokumen yang sering disebut "Pseudo-Athanasius" (Latin : Quicunque Vult), yang ditimur ditolak sama sekali, baik isi maupun asalnya dari Mar Athanasius : Ruh Kudus adalah dari Bapa dan Putra, tidak dibuat dan tidak diciptakan, tidak diperanakkan, tetapi keluar dari Mereka. 3)

Pemakaian kata ganti diri ketiga jamak ini, dengan jelas telah mengandaikan adanya lebih dari "Satu sumber keilahian". Akibatnya ajaran sifat ketritunggalan Ilahi dalam kerangka pemahaman "Filioque" ini menjadi suatu teka-teki asing yang tidak pernah bisa dijelaskan sama sekali.

Apabila Hayat(Ruh) Ilahi itu keluar dari Bapa (Wujud Ilahi) dan Putra (Akal, Firman) Ilahi, lalu dimanakah letak keesaan Allah? Sebab disitu ada dua sumber yang mengeluarkan Hayat Ilahi, yaitu Wujud Allah dan "entah bagaimana" Firman-Nya itu berwujud sendiri, hingga bersama-sama mengeluarkan Ruh-Nya. Oleh karena itu , ide ini ditolak keras karena mengaburkna keesaan Allah yang terjadi dalam Wujud-Nya yang serba Esa (wahdaniyah). Yang dalam wujud Dzat-Nya yang satu tersebut berdiam secara qadim(kekal, tanpa permulaan) baik Firman-Nya maupun Ruh-Nya.

Dari sudut pandang inilah, tuduhan Berkhof bahwa gereja-gereja oerthodoks Timur menganut "subordinasi" 4) , yang seolah-olah menempatkan Putra Allah dan Ruh-Nya dibawah Allah sendiri, sama sekali tidak relevan.

Formulasi Pseudo(palsu - saya)-Athanasius bahwa ketiga [i[hypostasis[/i] Ilahi itu : "tiada yang lebih tinggi atau lebih rendah, akan tetapi ketiga oknum semua seabadi dan setaraf5)" sama sekali tidak perlu. Sebab penegasan semacam ini masih berangkat dari kerangka ketigaan yang seolah-olah terpisah satu sama lain, sehingga memerlukan perbandingan tinggi, rendah atau [dulu, kemudian. Konkretnya bila kita memahami dalam kerangka ke-esaan-Nya, sangat tidak relevan mempertanyakan lebih tinggi manakah antara wujud Allah, Firman-Nya atau Ruh-Nya?

Dengan demikian , berbicara tentang 'ilm al-Qadim (The Divine Logos-Davar-Kalam :cat. saya) dan Hayat al-Qadim (the Divine Life-ROH KUDUS :cat saya) dalam Wujud al-Qadim (the Divine Substance - Ousia :  cat. saya), tanpa mengakibatkan ta'atud al-qudama (terbilangnya Yang qadim/kekal), sebenarnya hanya menegaskan aspek-aspek dalam keesaan Allah itu sendiri. Dan karena faktor historis tertentu pada awal perjumpaan Islam dengan Kekristenan Timur, maka akidah yang dipertahankan gereja-gereja Timur tidak jauh berbeda dengan ilmu kalam Islam.

Fakta ini diakui oleh Prof. K.H. Taib Thair Abdul Mu'in dalam bukunya mazhab Wahdah (mengakui keesaan Allah), seperti kita baca dalam kutipan dibawah ini:

Quote
Sebab itu Wujudlah sebab jauhar (pokok atau asal), dan itulah Zat Yang Mahaesa pada hakekatnya. Adapun 'Ilmu dan Hayat keduanya sifat Wujud belaka. dengan begini tidaklah membawa kepada terbilangnya Tuhan dalam hakikatnya. berdasarkan keteranga diatas, maka Allah, Kalimatullah dan Ruh al Qudus, lafafads dan ibarat itu yang terdapat dalam Injil tidaklah berarti menunjukkan kepada Zat yang tiga pada hakikatnya. 6)




Rintangan "Bahasa Theologis" : Upaya mengatasi kesalahpahaman Kristen-Islam


Menurut Dr. K.H Said Aqiel Siradj, 7) perbedaan antara Islam dengan keyakinan Kristen Orthodoks tersebut hanya dalam hal nuzulnya (munculnya - cat. saya) Firman Allah ke dunia. dalam Islam, Firman itu nuzul menjadi Kitab Suci Alquran. Sedangkan dalam keyakinan orthodoks, Firman itu menjadi Manusia (tajjasud). Jadi, kendatipun Islam menolak ide tajjasud ini , tetapi sebagaimana dirintis oleh Sayyed Hussein Nasr dalam Ideals and Realities of islam, 8) umat Islam dapat membandingkan paham kekadiman Logos(Kalimat Allah) dalam iman Kristen dengan paham kekadiman Kalam Allah. Yang keduanya menyita waktu dalam perdebatan panjang dan melelahkan, sebelum kedua tradisi iman menetapkan dalam orthodoksinya masing-masing.

Bahkan, tradisi liturgis Kristen Arab mempunyai istilah-istilah theologis yang snagat berdekatan satu sama lain. Misalnya, dalam ilmu Kalam Islam nisbah antara Allah dan sifat-sifatNya :"...qadiman 'azaliyyatun, laisat hiya dzat wa laa hiya ghairuha" (sama-sama kadim. azali, tidak sama dengan dzat allah, tetapi juga tidakberbeda dengan-Nya)9).

Dalam Kristen Orthodoks, ditegaskan :"al 'Aqal al-Ilahiy al kainu fi adz Dzat al-Ilahiy mundzu 'azaly" (Akal Ilahi berdiam dalam Dzat Ilahi sejak azali atau tanpa permulaan 10)

Juga, karena kekadiman sifat Ilahi itu, maka Alquran sebagai Kalam-Nya ghair al-Makhluq (bukan ciptaan). Apabila dalil kekadiman Alquran itu ditegaskan melawan Muktazilah, maka dalam menghadapi arianisme gereja menegaskan bahwa Logos Ilahi (Kalimatullah) : Al-Mauludu ghair al-Makhluq (dilahirkan, tidak diciptakan). 11) Baik ilmu Kalam Islam maupun Kristplogi gereja (Timur/Tengah) dipakai kata nuzul (turun) untuk Firman Allah.

Dalam Islam, seperti ditegaskan Alquran, Allah telah "nazzala 'alaikal Kitaba bi al-haqq" (Q.s. Ali Imran/3:2, "menurunkan kepadamu, ya Muhammad, Ktab Alquran dengan kebenaran"). Sedangkan dalam Kristen, Firman Allah telah : "naz-zala minas sama'i wa tajjasad bi-ruhil Quddusi wa min Mryama al-Adzra'i wa ta'anas" (turun dari sorga, menjelma oleh kuasa Ruh Kudus, dan menjadi manusia dari Perawan Maryam).

Rincian berikutnya justru lebih menunjukkan kesejajaran mulai dari dua tabiat al-Masih yang kamala bi al-Lahut (sempurna dalam keilahian sebagai Firman Allah), sekaligus kamala bi an-Nasut (sempurna dalam kemanusiaan sebagai anak Maryam), yang paralel dengan Alquran sebagai kalam nafsiy (Firman yang kekal) sekaligus sebagai Kalam Lafdziy (Kalam yang temporal).

Kesejajaran selanjutnya juga bisa dibandingkan antara makna theologis keperawanan Maryam dengan tafsiran orthodoksi Islam tentang pengertian "nabiy al Ummi" (nabi yang buta aksara ) yang diterapkan bagi Muhammad. 12)

Paralelisme banyak kosa kata keagamaan Kekristenan Timur Tengah seperti disebut diatas masih bisa dideretkan panjang. Langkah tersebut pasti sangat membantu upaya reformulasi bahasa pengajaran gereja, yang selama inisangat dominan berwarna Barat, sehingga tak pernah "bertegur sapa" dengan Islam.
« Last Edit: January 20, 2010, 11:45:47 AM by moe »
[image] of mine  is  God's own [image]

http://rotihidup.blogspot.com/

His crown was of thorns
His throne was a cross
His glory was humiliation

(the wisdom of the desert)
January 19, 2010, 10:39:18 AM
Reply #2
  • FK Friend
  • FK - Hero
  • ******
  • Posts: 2738
  • me , just moe without 'o'
"Cur Deus Homo" versus Sentralitas  Kata "Allah" dalam Islam


Ungkapan Latin Cur Deus Homo, berasal dari karya bapa gereja barat St. Anselmus (ditulis tahun 1090), yang berarti :"Mengapa Deus menjadi manusia?" Istilah Deus (sejajar dengan bahas-bahasa Barat : Theos, Dieu, God) adalah kata benda umum yang sejajar dengan kata Arab: Ilah (sembahan). Biasanya uma kristiani Indonesia langsung menerjemahkannya dalam bahasa Indonesia allah. Padahal istilah tersebut dalam bahasa Arab bermakna sangat khusus sehingga tidak bisa dipakai dalam bentuk jamak seperti kata Inggris: God, god atau gods. dalam ketiga makna itulah kata Ibrani ELOHIM diterjemahkan.

Berbeda dengan istilah ELOHIM, Al pada istilah Allah adalah  'definite article' yang disambung dengan kata benda umum Ilah. Jadi, al-ilah (Ibrani : ha ELOHIM , Inggris : the God), atau "Ilah itu". Ilah yang benar, satu-satunya Ilah. Oleh karena itu, pemakaian kata Allah dengan huruf kecil (allah) dengan makna umum, seperti ditunjukkan oelh terjemahan baru Lembaga Alkitab Indonesia (1974), jelas-jelas salah 13)

Demikian juga , penempatan kata ganti milik :ku, mu, kami, mereka dibelakang kata Allah juga tidak bisa dibenarkan sama sekali. Sebab dalam bahasa Arab, kita mengenal kalimat Ilahi, Ilahuna, Ilahukum (Ilahku, Ilahmu, Ilah kami, Ilah kamu sekalian). Jadi , kata Allahku, Allah kami dan allah mereka semestinya tidak boleh dipakai. Karena tidak digubrisnya kata-kata Indonesia bentukan dari bahasa Arab oleh para penerjemah Alkitab bahasa Indonesia, bahkan pemakaian kata Allah secara sembrono sebagai salinan langsung dari istilah :Theos,  Deus, Dieu dan God yang berlatar belakang pagan tersebut, maka bahasa pengajaran Kristen terdengar asing (bahkan maaf, berbau pagan. seperti diterjemahkannya ungkapan Latin: Cur deus Homo (Mengapa Allah menjadi manusia?).

Kata Theos, Deus, Dieu sendiri sebenarnya dapat dilacak dari akar kata yang sama dengan kata Sansekerta :Dewa. Sedangkan untuk ungkapan :God became man, mungkin tak terlalu mengagetkan orang Barat, mengingat pemakaian kata God sangat umum. Selain dalam makna God (Allah), god (Ilah), gods (ilah-ilah), godess (dewi-dewi) maupun god-father (bapa asuh) dan god-mother (ibu asuh).

Kekhususan kata Allah dalam bahasa Arab (khususnya dalam theologi Islam) kira-kira sebanding dengan kata Yahwe dalam masyarakat Yahudi, yang mengeja namaNya saja dilarang. Begitu hormatnya orang Yahudi pada nama itu sehingga setiap menjumpainya dalam Taurat, mereka biasa menggantinya dengan ha-Shem (Sang Nama) atau Adonay (Tuhanku). Karena penekanan kuat pada transendensi-Nya, ungkapan kasar "Allah menjadi manusia", kira-kira sama tidak pantasnya dengan orang Yahudi yang berkata : "Yahwe menjadi manusia".

Ketika gereja muncul dalam konteks keyahudian dimana nama suci Yahwe tersebut tidak dapat dieja sembarangan, maka sebutan Bapa (Arami : Abba), yang sekalipunmenekankan sifatNya sebagai pencipta yang berkenan didekati dengan karib oleh umatNya, tetap mempertahankan transendensi Yahwe. Oleh karena itu, mustahil pula berkata bahwa allah Bapa menjadi manusia. Sebab dengan dmeikian Ia dapat menderita, mati dan disalibkan. Pandangan ini sangat ditekankan oleh Tertulianus ketika menghadapi bidat Monarkianisme, Jadi, kekhususan istilah Allah dalam theologi Islam, kira-kira sebanding dengan Yahwe dalam Yudaisme dan Gelar Bapa (Arami : Abba) dalam theologi Kristen yang menunjuk wujud Allah.

Namun demikian , theologi Yahudi sebelum dan sesudah zaman Kristen, khususnya yang tertulis dalam beberapa Tarqum, mengungkapkan baha Yahwe yang transenden itu mengkomunikasikan diriNya melalui Memra atau FirmanNya kepada umat manusia. Bahkan melalui sejumlah ungkapan tajam Yahudi memuat identifikasi Messiah yang akan datang itu dengan Memra sendiri .14)

Naskah-naskah Qumran (The Dead Sea Scroll) juga mengenai ide pra-exixtensi Messiah. Bahkan mengenai Divine anda Lordship of the Messiah ( Keilahian dan Ketu[h]anan al-Masih), yang ternyata dijumpai dalam pengharapan mesianik Yahudi yang pra Kristen menyiapkan pergumulan gereja mula-mula mengenai siapakah YESUS itu. Selanjutnya, gereja sejak permulaan telah menerapkan kedua makna itu bagi YESUS yang mereka percayai sebagai Messiah yang sudah datang kedunia.

Para ahli masih belum sepakat, sampais ejauh manakah tebalnya Hellenisme dalam perumusan iman gereja. Sejumlah kajian lebih serius akhir-akhir ini justru membuktikan  bahwa Injil tidaklah tenggelam dalam lautan Hellenisme. Satu conytoh saja, gelar Kyrios yang oelh para theolog YESUS sejarah [the Historical JESUS) dilacak tidka berasal dari alam pemikiran Yunani, ternyata ditemukan dalam lapisan Kekristenan paling awal.

Seruan liturgis dalam bahasa Arami : Maranatha (Tuhan kami, datanglah) membuktikan hal itu, yang ternyata paralel dengan penemuan naskah-naskah laut Mati (Qumran). 15). selanjutnya , bahwa gelar Tu[h]an , yang dalam tulisan-tulisan Yahudi selain diterapkan kepada Allah (sebagai bacaan alternatif dari Yahwe), dalam Midrash Tehilim (Mazmur) (110:1) juga diterapkan sebagai gelar Messiah yang akan datang .16)

Demikian pula , mengenai makna praeksistensi gelar Putra Allah (Arami bar Alaha), yang selama ini disangka berasal dari ide "manusia Ilahi dari dunia Yunani yang menunggu dibebankan pada kepercayaan dan peristilahan Injil Yahudi Palestian"17), ternyata justru ditemukan banyak paralel dengan naskah-naskah dari Qumran.

Praeksistensi Messiah digambarkan, misalnya : Bereh d'El, bar Elyon (Putra Allah, Putra yang Mahatinggi), 18) ungkapan yang kemudian dipelihara Lukas 1:35. Bahkan ditemukan juga ungkapan-ungkapan yang paralel dengan kelahiran ilahiNya dari Allah :"'im yolid El et ha Massiah (Allah akan melahirkan MessiahNya)19). Injil keempat (Yohanes), kiranya lebih merupakamn literatur dakwah mengenai hokmah Yahudi dalam suatu "tabligh Hellenisme" ketimbang disangka sebagai Logos Neo-Platonisme yang dicangkokkan dalam pengajaran gereja. Injil keempat tidka pernah berbicara mengenanai Logos yang "is shadowy , unreal and not a person" (bersifat bayangan, tidka nyata dan bukan sosok pribadi), seperti dituduhkan Philo, juga bukan semacam Demiurgos, suatu intermediary being (makhluk perantara) a la neo Platonik, suatu ide yang diawal perkembangan gereja diteruskan oleh kaum Gnostik~Dicetisme dan bidah Arianisme.

Kristologi Injil keempat dengan penekanan pada Logos (Firman Allah) yang menjadi Manusia justru memotong sama sekali "jantung" Hellenisme, yang memandang rendah tubuh manusia. bahkan ungkapan Yohanes 1:14 bahwa Firman yang menjadi manusia itu "...tinggal diantara kita " (Yunani :"kai eskenosen en hemin), ternyata sekedar transliterasi harfiah (terjemahan langsung - cat. saya) dari kata Ibrani : Shekinah, artinya "kahadiran Ilahi Yahwe" (bandingkan terjemahan Ibrani modern "we shaken banu, membuktikan bahwa penulis Injil lebih memindahkan saja ide Yahudi tentang Hokmah (Ibrani) dan Memra (Arami), ketimbang Logos dari bahasa Yunani.

Semua rincian fakta ini membuktikan bahwa Kekristenan sejak semula berakar pada mentalitas Semitik yang yusaluna ayatan (teks Arab 1 Kor 1:42, "menghendaki tanda-tanda"), tetapi bersamaan dengan itu juga berusaha keras untuk menjawab akal budi Hellenis yang sophian zetousin (teks Yunani 1 Kor 1:22, "mengejar sophos, kebijaksanaan, filsafat"). Sejak awal sejarahnya yang paling dini, Kekristenan telah berusaha meragikan pesan-pesan injili antara dua pandangan dunia yang cukup berbeda.

Pengalaman pergumulan gereja diatas cukup menarik bila dibandingkan dengan Islam yang baru berjumpa dengan pemikiran filsafat kira-kira setelah 150 tahun sepeningal Nabi Muhammad. Persamaannya, keduanya sama-sama berakar pada sikap mental Semitik. Tetapi perbedaannya, ketika Alquran mengemukakan sifat-sifat Allah, disana belum dijumpai istilah-istilah metafisik yang dikemudian hari tetap dipergunakan baik dalam theologi Kalam Islam maupun Kristen di Timur Tengah, misalnya : dzat, jawhar (Yunani : ousia, "substansi, poko, asal"), shifat (Yunani : hypostasis, "karakter, keberadaan"), yang baru muncul akibat perjumpaan theologisnya dengan Kekristenan Timur. 20)

Alam pikiran sederhana yang melatarbelakangi penolakan Islam tentang ide-ide kasar susunan sektarianisme bidah Kristen yang heterodoks (sesat) disekitar Mekkah ternyata tidak selalu representatif bila diterapkan untuk Kekristenan Orthodoks di Mesir, Syria dan Irak yang telah memiliki tradisi intelektual yang jauh lebih mapan selama ratusan tahun.

Konkretnya , meminja istilah Tafiq Adanan Ammal dan Syamsu Rizal panggabean 21) ketika Alquran menyebutkan sifat-sifat Kalam atau Hayat pada Allah. Misalnya, barangkali belum terbayangkan sama sekali oleh umat Islam pada waktu itu pertanyaan-pertanyaan yang akhirnya menjadi perdebatan di masa-masa kemudian, yaitu : apakah sifat-sifat Allah itu sebagai Makhluq (diciptakan) atau Ghayr al-Makhluq (tidak diciptakan)? Sebaliknya, menjelang dan pada saat lahirnya Kekristenan, alam pikiran Yahudi dan Kristen sudah ditantang untuk merefleksikan iman dalam kategori-kategori "bahasa filsafat".

Ternyata pergumulan kedua tradisi iman dimasa-masa kemudian lebih menunjukkan paralel dan kesejajaran, ketimbang tampak pertentangannya. Sebagaimana yang tampak pada konfrontasi Alquran mula-mula dengan berbagai pandangan bidah Kristen pada zamannya, yang serempak juga ditentang oleh iman Kristen Ortodoks sendiri.

Oleh karena itu, masalahnya kini tinggal "bahasa teologis" antara kedua tradisi iman yang harus diupayakan untuk slaing didekatkan, khususnya di Indonesia.

Kembali pada pemakaian istilah Allah dikalangan umat Kristen Indonesia yang cnederung "terlalu longgar". Umat Kristen Indonesai perlu menyadari bahwa makna theologis yang terkandung dalam asma Allah dalam bahasa Arab, kiranya lebih mengembalikan transendensi Yahwe dalam Yudaisme. Agaknya pada zaman YESUS, akibat dominantnya - kelompok Yahudi Rabbinik dan Yahudi Hellenik - meminjam istilah theolog Yahudi modern David Flusser 22) ketika nama Yahwe diterjemahkan dalam bahasa Yunani Kyrios, disitu tidak terbedakan lagi penggunaanya untuk Yahwe sendiri (sebagai sapaan lisan pengganti tetragramaton tersebut) ataukah untuk Adonay (Tuanku) yang diterapkan untuk YESUS, karena latar belakang pengharapan mesianik Yahudi yang menerapkan gelar ini bagi Messiah yang akan datang (Midrash Tehilim 110:1).

Dan sebagaimana telah saya kemukanan diatas, dalam Perjanjian Baru, transendensi Yahwe akhirnya diambil alih oleh sapaan Bapa, yang juga salah satu sapaan Ilahi dalam Yudaisme 23) dan selanjutnya menjadi terminologi khas Kristen.

Selanjutnya, dalam literatur Kristen Arab Allah (lebih khusus dibandingkan dengan istilah-istilah padanannya : ELOHIM, Theos. Dieu, God) lebih menunjuk kepada Bapa itu sendiri. Karena itu dalam lingkungan Kristen Arab, tidak disebutkan : Allah al-Mutajjasad (Allah menjadi Manusia), tetapi lebih dikenal istilah Ibnullah al-Mutajjasad (Putra Allah menjadi manusia). Maksudnya : wa Kalimatuhu wahuwa nazala minas sama' (yaitu FirmanNya yang telah turun dari surga) [sup24)[/sup] atau wa Kalimatuhu al-Mutajjasad (dan FirmanNya yang menjadi Manusia).25)

Dengan demikian, jelaslah bahwa tawhid Yahudi, yang bersamaan dengan mempertahankan transendensi Allah, memberi ruang bagi MemraNya tetap dijaga dan dipertahankan dalam gereja mula-mula.

Bahkan mempertahankan akidah Orthodoks semacam ini, tidaklah sulit dicari paralel maknanya dengan akidah Islam sendiri dalam kekekalan Alquran. Bahkan mempertahankan keyakinan mengenai satu tabuat ganda al-Masih, yangs sekaligus Ilahi (sebagai Kalimatullah) dan insani (dalam wujud nuzulNya sebagai Anak Maryam), dapat dibandingkan dengan keyakinan Islam (Suni) tentang Alquran sendiri, yang mengutip istilah Imam al-Ghazali

Quote
"wa 'an Alqurana muqru-un bi al sinati maktubun fi al-Mashahifi mahfuudun fi al-quluubi, wa annahu ma'a dzalika qa'dimun bi-idzati Ilahi ta'ala, la yuqbalu ilanfishala wa ilaaftarqa bi al-intiqati al-qulubi wa al awraaqi26)


(Sesungguhnya Alquran yang dibaca melalui lidah, tertulis dalam lembaran-lembaran dan bisa dihapalkan. bersamaan dengan itu qadim dan qadimah dalam Dzat Allah tidak menerima perceraian, perpisahan melalui perpindahan ke hati dan ke lembaran)


Catatan Penutup


Melalui pokok-pokok pikiran diatas, tentu masih banyak tema theologi pentinglain yang masih bisa diajukan. Saya ingin menyatakan persetujuan ats Dr. Komaruddin Hidayat bahwa dalam perbincangan hubungan agama-agama, pemikiran theologis sampai saat ini masih dipercaya sebagai kunci untuk membuka pintu hati penganutnya guna memupuk kesadaran dialogis.27.

Memandang konflik antaragama tidak pernah "telanjang bulat" sebagai konflik pandangan theologi. Namun, faktor-faktor theologis sangat potensial dijadikan pemicu yang mengikuti, kalau bukan memperuncing konflik-konflik politis dan faktor-faktor nontheologis lainnya.

Apalagi kepada ahl al-Kitab (Yahudi dan Kristen), Alquran sendiri menyerukan : "ta'alau ila kalimatin sawa'in bainana wa bainakum ala na'buda ilallah" (Q.s. Ali Imran/3:46, "Marilah datang kepada suatu 'common platform'' antara kami dan kami, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah"). Karena itu, menggali dasar yang lebih mendalam dalam hubungan Kriten~Islam bersednikan Tawhid dalam suasana "sharing of religious experience", mendesak dilakukan kedua umat di Indonesia dewasa ini.
« Last Edit: January 20, 2010, 02:33:01 PM by moe »
[image] of mine  is  God's own [image]

http://rotihidup.blogspot.com/

His crown was of thorns
His throne was a cross
His glory was humiliation

(the wisdom of the desert)
January 20, 2010, 03:21:54 PM
Reply #3
  • FK Friend
  • FK - Hero
  • ******
  • Posts: 2738
  • me , just moe without 'o'
Agama Anti Diskriminasi dan Anti Kekerasan



Tatkala politik kekerasan yang berwajah konflik agama menggejala akhir-akhir ini, mesnyusul desakan tokoh agama di Ciganjur untuk menghentikan segala bentuk politisasi agama, Gus Dur mengemukakan pernyataannya bahwa Indonesia harus segera meentukan sikap memilih negara theokrasi (mendasarkan negara pada agama) atau negara sekular (memisahkan negara dari agama).

Istilah "sekuler" sudah sejak lama menimbulkan alergi dan reaksi yang apriori. Tetapi sebenarnya reaksi demikian lebih diarahkan pada penerapan sistem itu, yang sebaliknya terlalu ekstrem di Barat, dimana proses penyelenggaraan negara disterilkan sama sekali dari moral agama.1)

Fenomena ini boleh disebut sekularisme. Padahal istilah sekularisasi (berasal dari kata Latin : seculum , "dunia") justru mula-mula diarahkan untuk menghantam agama totalitas kosmik (ontokrasi) yang mengeramatkan segala yang ada, termasuk pendewaan terhadap raja dan negara. 2)

Dalam kekuasaan-kekuasaan absoulut tersebut, agama acap dijadikan justifikasi untuk merebut dan melangengkan kekuasaan. Justru melalui sekularisasi itu ditempatkan kembali "(kekuasaan) dunia" yang selama ini disakralkan sebagai dunia (saeculum) yang profan belaka. Dalam sejarah agama-agama Semitik, proses ini dimulai dari Israel (agama Musa) :"Here a breaks is made with the everlasting cycle of nature and the timeless presentness of myth" (Di sini diputuslah lingkaran alam yang melilit abadi dan mitos tanpa waktu).


Dengan proses itu, selanjutnya di dunia Barat melalui Renaissance dan Aufklarung, meminjam padanan istilah yang diusulkan Nurcholish Madjid (Cak Nur) - melakukan proses desakralisasi yang menghantam kekuasaan absoulut "droit divin" (kekuasaan ilahi raja) 4) yang dibelahan benua Timur lazim disebut kekuasaan "dewa-raja".

Mengapa catatan ini penting saya kemukakan diawal tulisan ini?
 Pertama, bahwa pilihan terhadap sekularisasi yang memisahkan negara dari agama sama sekali tidak berarti menghapus peran agama sebagai kekuatan moral untuk melandasi penyelenggraan negara. Disini, agama sebagai sumber inspirasi melakukan fungsi kritis dan korektif terhadap realitas empiris. Kedua, justru dengan adanya independensi (agama dan negara menempati posisi dan fungsinya masing-masing) 5) maka agama dapat menjalankan fungsi etis dan interpretatifnya dalam memandang dan mengarahkan kenyataan hidup. Perlu dicatat pula, tindakan kekerasan dengan wajah agama Indonesia akhir-akhir ini dapat dibaca dari sudut pandang terakhir.


Agama dan Kekuasaan : dari "Euforia Konstantin", Agama Negara hingga Kekerasan atas nama Agama



Banyak ahli sepakat adanya kaitan yang sangat erat antarakekuasaan dan kekerasan. ketika agama tersubordinasi di bawah kekuasaan, agama gagal menjalankan fungsi profetis/kenabiannya. Agama kemudian menjelma sebagai "alat legitimasi" kekuasaan untuk meloloskan kemauan-kemauan politik suatu golongan. lebih-lebih bila agama menjadi mayoritas di suatu negara, agama sangat potensial dijadikan legitimasi kekuasaan untuk memaksakan kehendak nya pada umat. Sejarah perkembangan agama-agama besar sendiri telah membuktikannya.


Ketika Konstantin Agung menjadi Kristen pada tahun 313, ia menjadikan Kekristenan sebagai "agama negara". Memang, kekritenan seperti "naik kelas". dari agama rakyat jelata teraniaya yang secara sembunyi-sembunyi beribadah di catacomb (gua-gua) wilayah kekaisaran Roma, menjadi agama negara dengan segala atribut kebanggaannya.

Euforia yang merayakan gegap gempitanya masa transisi dari agama tertindas ke agama negara ini, dalam Gereja Orthodoks Syria digambarkan dalam kisah para penghuni gua Efesus (bandingkan dengan kisah yang sama di dalam Alquran/Hadits -- cat. dari saya).

Kisah itu secara lengkap dijumpai dalam buku berjudul Ahl al-Kahfi fii Mashadir al-Suryaniyat 6)

Dikisahkan tujuh pemuda bersembunyi di sebuah gua pada masa penganiayaan Kaisar Dakeus yang memerintah tahun 249-251. Oleh takdir Ilahi mereka ditidurkan panjang sampai tahun 447, ketika Kaisar Deodeus II yang sudah meenjadi Kristen menjadikan Kristen sebagai agama negara. tetapi, sejak Roma memposisikan dirinya menjadi "pelindung" gereja-gereja Kristen di wilayah kekuasaannya (di Timur Tengah), justru lembar-lembar sejarah berikutnya ditandai dengan pertumpahan darah demi pertumpahan darah.



--lanjut--
[image] of mine  is  God's own [image]

http://rotihidup.blogspot.com/

His crown was of thorns
His throne was a cross
His glory was humiliation

(the wisdom of the desert)
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)