Author Topic: Kasih Yang Menyatukan dan Menguatkan (Kisah Anak-anak Saung)  (Read 1775 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

March 20, 2010, 11:33:58 PM
  • FK - Junior
  • **
  • Posts: 73
  • Gender: Male
Di sebuah kawasan terpencil dan terkesan kumuh, di daerah Sunter, Jakarta Utara, terdapat sebuah tempat yang dihuni oleh penduduk tingkat ekonomi menengah ke bawah. Di sana tinggalah sekelompok anak-anak yang menamakan dirinya Anak-anak Saung. Meski mereka tinggal di sebuah kawasan yang kurang layak untuk dihuni, namun kebahagiaan terpancar di wajah mereka. Beberapa pemuda sukarelawan yang dengan penuh suka cita dan kerelaan, membaktikan dirinya untuk melayani anak-anak yang berasal dari keluarga kurang mampu tersebut.  Di tempat tersebut, mereka biasa bermain bersama, bertemu dengan teman-temannya untuk bercanda dan bersenda gurau, dan belajar bersama. Sudah banyak sukarelawan atas nama beberapa komunitas sosial, yang hadir di sana untuk membantu para muda-mudi yang sering menginap bahkan menetap, untuk bisa melayani dan menemani anak-anak Saung.

Malam itu, sebuah komunitas dari Gereja St. Fransiskus Xavirius yang bernama KOMPAS (Komunitas Peduli Aksi Sosial), hadir untuk menemani pemuda-pemudi sukarelawan dalam melayani anak-anak Saung. Seorang pemudi berjilbab berteriak dengan keras, “Anak-anak Saung!!!” Tidak lama kemudian terdengarlah beberapa anak kecil yang berteriak dengan lantang dan kompak,”Tetep Asyik!” Begitulah kira-kira salam yang biasa dipakai pada setiap pertemuan anak-anak Saung untuk menunjukkan kekompakan dan keceriaan diantara mereka.

Setelah itu mereka dengan penuh keceriaan menyanyikan sebuah lagu dari Nidji yang berjudul Laskar Pelangi dengan gerakan yang sudah mereka hafal di luar kepala. “Menarilah dan terus tertawa, walau dunia tak seindah surga...” Mungkin itulah bait dari lirik lagu yang paling menggambarkan perasaan mereka. Di tengah kehidupan kota Jakarta yang keras, mereka masih bisa bersyukur dengan menikmati kasih yang tercurah lewat sahabat-sahabat mereka, pemuda-pemudi sukarelawan, dan komunitas-komunitas yang silih berganti hadir untuk menemani mereka dalam bermain dan belajar.

Tidak hanya keindahan karena semangat pelayanan orang muda saja yang terlukis di dalam pertemuan pada malam itu, namun juga terlukis keindahan akan adanya kesatuan hati dalam perbedaan. Karena di sana ada beberapa sukarelawan yang berasal dari suku dan agama yang berbeda-beda, namun mereka mau bersama meluangkan waktu untuk melayani dan berbagi keceriaan bersama anak-anak Saung. (ZP)
April 30, 2010, 03:37:25 PM
Reply #1
  • FK - Newbie
  • *
  • Posts: 34
  • Gender: Male
    • trenzetter
  • Denominasi: Protestan
wow, kisah yang sangat langka ditemukan di era modern sekarang. biasanya orang hanya bisa mengeluh dan menangis saat menderita. saya pernah tinggal di daerah kumuh di pademangan, juga jakarta utara. saat masih kecil ayah saya melayani jemaat di sana, sehingga saya ingat betul gambaran serupa. salam :)

yang menjadi pertanyaan, apa yang membuat mereka tetap demikian? siapa pionir penggerak mereka?
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)