Author Topic: Sukacita Dalam Penderitaan (Pdt. Bigman Sirait)  (Read 2879 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

August 09, 2008, 08:40:46 AM
  • FK - Full Member
  • ***
  • Posts: 177
  • Gender: Male
  • Sola Scriptura!
    • Fides quaraens intellectum!
Sukacita Dalam Penderitaan

oleh: Pdt. Bigman Sirait
(Pemimpin Umum Tabloid Reformata yang sedang studi theologi di Sekolah Tinggi Theologi Reformed Injili Indonesia-STTRII, Jakarta)




Mampukah kita menghayati penderitaan sebagai peristiwa sukacita?

Barangkali hal ini mustahil bagi manusia zaman kini, tapi bukan bagi pengikut Kristus.
Hanya ada satu syarat yang harus kita penuhi: memiliki pemahaman yang benar dan utuh tentang Firman Tuhan.

Pemahaman yang benar dan utuh itulah yang bisa memberikan kekuatan bagi kita untuk menikmati sukacita dalam penderitaan karena Kristus. Karena itu kita harus mengembangkan kesukaan untuk membaca alkitab. Dengan membaca dan merenungkannya secara pribadi, kita dapat memahami dan mengalami sendiri kasih dan cinta Tuhan atas kita.

Pengalaman penderitaan Paulus adalah sebuah pengalaman yang nyata.
Begitupun pengalaman sukacitanya. Ia sungguh-sunguh merasa bersuka cita karena penderitaan yang dialaminya. Mengapa ia sanggup bersuka cita betapapun yang dihadapinya itu adalah penderitaan?

Paulus bersukacita karena ia boleh menderita untuk jemaat, yaitu jemaat di Kolose. (Kolose 1:24-29). Ia bersukacita karena melalui penderitaannya, ia telah menyukakan hati Tuhan.

Tujuan pelayanan Paulus, dan juga kita, adalah menyukacitakan hati Tuhan karena membawa jemaat boleh mengenal Tuhan. Mengantar kepada pengenalan yang utuh akan Tuhan sungguh mendatangkan suka cita yang tak ada taranya. Tapi ini merupakan tugas yang sangat berat. Tantangan dan penderitaan niscaya akan datang, dan Paulus menanggungnya dengan penuh sukacita.

Selain karena membawa jemaat pada Yesus, Paulus juga bersukacita karena boleh menderita untuk meneruskan penderitaan Kristus. Penderitaan Kristus memang sudah sempurna. Tapi rasul Paulus menekankan bahwa dia boleh meneruskan apa yang telah Tuhan buat bagi gerejanya. Artinya dia boleh memikul salib yang dulu pernah dipikul oleh Kristus. Seperti gurunya, Paulus akan berbahagia bila ia diperkenankan menderita.

Sama seperti Paulus, kita juga mesti bersyukur pada Tuhan bila diperkenankan untuk turut menderita demi dia. Seperti Paulus, kita pun bersukacita karena boleh menderita sebagai rasul yang telah dipilih oleh Kristus. Tapi sukacita karena penderitaan itu baru kita pahami dan alami bila kita memahami dengan sungguh anugerah yang telah kita terima dari Tuhan.


Melayani Secara Total
Sukacita Paulus menampak ketika ia menghayati panggilannya sebagai murid Kristus. Pertama, ia bersukacita karena kesadarannya sebagai pelayan atau hamba Allah. Melayani berarti bekerja. Melayani berarti mencintai. Melayani identik dengan menderita demi kebenaran.

Sebagai hamba Allah, Paulus sadari bahwa dia bukanlah bos yang harus dilayani. Dia sadar bahwa dia harus menanggung banyak beban dan harus pula menanggung derita. Dia juga sadar bahwa sukacita di dalam penderitaan itu hanya mungkin karena dia memahami firman yang hidup. Dia sadar bahwa sukacita dalam penderitaan itu merupakan rahasia allah yang hidup yang secara khusus dianugerahkan kepada orang-orang kudus sehingga mereka memiliki pengharapan, pengertian dan kekuatan di dalam Kristus.

Rahasia itu adalah bahwa ia telah diterima secara cuma-cuma dan privat. Itulah yang disebut sebagai anugerah istimewa (special grace), yaitu anugerah khusus yang diterima karena boleh mengenal dan menerima serta selamat dalam Kristus. Anugerah umum berbeda dengan anugerah istimewa. Bila anugerah umum bisa diraih oleh semua manusia karena dibekali kemampuan untuk mengerti kebenaran tentang alam semesta, maka anugerah istimewa adalah ketika kita dibawa kepada Kristus.

Seperti Paulus, kita juga telah memperoleh anugerah istimewa itu. Nah, bila kita telah memiliki Dia, mengapa kita tidak bersuka cita? Mengapa kita harus takut menderita bila upahnya adalah anugerah istimewa itu? Tidak ada sukacita yang lebih besar dari sukacita karena diselamatkan-Nya! Penderitaan yang kita alami bukan apa-apa karena Kristus sudah menderita bagi kita.

Lakon Kristus itu kita teruskan. Sekarang lakon Kristus untuk menyelamatkan orang berdosa itu harus kita lakukan dan telah ditaruh di pundak kita. Kita menderita karena Kristus sudah menderita bagi kita. Kesadaran akan kenyataan inilah yang membuat kita, sekalipun mendapatkan penolakan, sekalipun mengalami penderitaan, kita tetap bergairah.

Penderitaan demi Kristus adalah penderitaan yang datang bukan karena kesalahan dan kelalaian kita. Bila kita telah memahami bahwa kita telah diberikan anugerah istimewa untuk turut menderita bersama Kristus, kita tidak akan mengkomplain pada Tuhan ketika penderitaan menghampiri kehidupan kita. Sebaliknya kita akan berkata, “Lord, thank You!”

Bila pemahaman semacam ini telah menjadi milik kita, maka di tengah-tengah problema, di tengah-tengah pergumulan hidup, kita akan dengan penuh gairah menyambut kesempatan menderita. Tawa dan sukacita mewarnai setiap langka kita. Kita tidak akan memakai kesempatan menderita itu untuk mengomeli Tuhan. Kita tidak akan berpindah-pindah gereja hanya untuk mencari hiburan palsu sebagai ganti menyelami makna penderitaan yang Tuhan anugerahkan bagi kita.

Perjalanan hidup masih jauh. Tantangan dan penderitaan mungkin akan menghampiri hidup kita. Tapi ingatlah selalu, Tuhan menyertai kita. Kemenangan menanti kita bila kita kuat menanggung semuanya. Kita pasti kuat bila kita bergantung kepada Dia, Tuhan kita!
Hanya ada satu syarat yang harus kita penuhi: memiliki pemahaman yang benar dan utuh tentang Firman Tuhan.

Pemahaman yang benar dan utuh itulah yang bisa memberikan kekuatan bagi kita untuk menikmati sukacita dalam penderitaan karena Kristus. Karena itu kita harus mengembangkan kesukaan untuk membaca alkitab. Dengan membaca dan merenungkannya secara pribadi, kita dapat memahami dan mengalami sendiri kasih dan cinta Tuhan atas kita.

Pengalaman penderitaan Paulus adalah sebuah pengalaman yang nyata. Begitupun pengalaman sukacitanya. Ia sungguh-sunguh merasa bersuka cita karena penderitaan yang dialaminya. Mengapa ia sanggup bersuka cita betapapun yang dihadapinya itu adalah penderitaan?

Paulus bersukacita karena ia boleh menderita untuk jemaat, yaitu jemaat di kolose. (Kolose 1:24-29). Ia bersukacita karena melalui penderitaannya, ia telah menyukakan hati Tuhan. Tujuan pelayanan Paulus, dan juga kita, adalah menyukacitakan hati Tuhan karena membawa jemaat boleh mengenal Tuhan. Mengantar kepada pengenalan yang utuh akan Tuhan sungguh mendatangkan suka cita yang tak ada taranya. Tapi ini merupakan tugas yang sangat berat. Tantangan dan penderitaan niscaya akan datang. Dan Paulus menanggungnya dengan penuh sukacita.

Selain karena membawa jemaat pada Yesus, Paulus juga bersukacita karena boleh menderita untuk meneruskan penderitaan Kristus. Penderitaan Kristus memang sudah sempurna. Tapi rasul Paulus menekankan bahwa dia boleh meneruskan apa yang telah Tuhan buat bagi gereja-nya. Artinya dia boleh memikul salib yang dulu pernah dipikul oleh Kristus. Seperti gurunya, Paulus akan berbahagia bila ia diperkenankan menderita.

Sama seperti Paulus, kita juga mesti bersyukur pada Tuhan bila diperkenankan untuk turut menderita demi dia. Seperti Paulus, kita pun bersukacita karena boleh menderita sebagai rasul yang telah dipilih oleh Kristus. Tapi sukacita karena penderitaan itu baru kita pahami dan alami bila kita memahami dengan sungguh anugerah yang telah kita terima dari Tuhan.

 
Sumber:
Tabloid Reformata online Februari 2004.
“… man is never sufficiently touched and affected by the awareness of his lowly state until he has compared himself with God’s majesty.”
(Dr. John Calvin; Institutes of the Christian Religion, I.I.3, p. 39)
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)