Author Topic: Mengapa Perceraian dilarang dalam iman Kristen?  (Read 9439 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

February 07, 2011, 02:05:55 PM
Reply #160
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 10846
Mengenai perceraian :  Markus 10 :

(1) Dari situ YESUS berangkat ke daerah Yudea dan ke daerah seberang sungai Yordan dan di situpun orang banyak datang mengerumuni Dia; dan seperti biasa Ia mengajar mereka pula.

(2) Maka datanglah orang-orang Farisi, dan untuk mencobai YESUS mereka bertanya kepada-Nya: "Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan isterinya?"

(3) Tetapi jawab-Nya kepada mereka: "Apa perintah Musa kepada kamu?"

(4) Jawab mereka: "Musa memberi izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai."

(5) Lalu kata YESUS kepada mereka: "Justru karena ketegaran hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu.

(6) Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan,

7) sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya,

(8) sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu.

(9) Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."
« Last Edit: February 08, 2011, 09:01:49 AM by cutz »
February 07, 2011, 03:57:58 PM
Reply #161
  • FK - Full Member
  • ***
  • Posts: 154
buat saudara - saudara ku semua ...

Saya memahami semua penjelasan saudara diatas, tetapi yang menjadi permasalahan adalah :

1). semua argumen dan ayat2 yang saudara2 saijikan, adalah: BUKAN untuk perkawinan secara umum, tetapi merupakan Persyaratan bagi seorang "Diaken dan Penatua Jemaat". ==> Silahkan saudara2 baca kembali, dimana sampai saat ini saya berlum menemukan ada ayat di Alkitab yang "melarang berpoligami".

2). Jika pemahaman "Kamu bukan lagi dua, melainkan satu", diartikan dengan arti sempit, hanya dari sudut pandang "Biologis", maka perkawinan itu akan kehilangan makna rohaninya.

3). Jika mengacu pada pemahaman standart point nomor 2 diatas ( pengertian sempit ), maka Firman Tuhan yang mengatakan :"Kita adalah Mempelai Kristus", justru telah membuktikan kalau "Kristus itu berpoligami".

4). Jika didasarkan pada Fakta, sewaktu Yesus dicobai oleh orang2 Farisi, disana tidak ada melarang "berpoligami", melainkan yang Yesus larang adalah : "TIDAK  BOLEH  BERCERAI".

Bagi semua saudara2 sekalian, sekali lagi saya minta maaf, bukan saya menyetujui berpoligami, saya cuma mau mengungkapkan kebenaran Firman Allah, apakah berpoligami itu benar-benar dilarang di Alkitab ?

Mengapa ?

Karena sampai saat ini, saya belum menemukan satu ayat yang tegas, melarang berpoligami, tetapi kalau "Melarang Perceraian", memang "Tegas" dinyatakan dalam Alkitab.

Nah, jika Alkitab melarang berpoligami, bagaimana dengan nabi2 terdahulu dan bagaimana pula terhadap orang2 yang telah menjadi pengikut Kristus, pada masa Yesus dan Para Rasul dahulu ?


Salam ...
February 07, 2011, 05:40:15 PM
Reply #162
  • Local Moderator
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 12103
  • Gender: Female
  • aman dalam perlindungan Tuhan
oh...jadi dulu Tuhan ciptain Adam 1, Hawa-nya > 1

gitu ya  :tongue:
menjadi seseorang yang selalu hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Tuhan dan manusia.
selalu jujur meski kadang jujur itu menyakiti yang lain. Yang penting Tuhan ga sakit.
February 07, 2011, 06:52:13 PM
Reply #163
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 11427
  • Gender: Male
  • Tuus Totus Ego Sum, Et Omnia Mea Tua Sunt
Saudara - saudara semua ...

Apa yang telah saudara paparkan semua diatas, telah saya pahami dengan seksama, tetapi seperti apa yang saya uraikan sebelumnya adalah : Permasalahan perceraian dan Poligami, adalah 2 hal yang berbeda, dimana seperti pada penjelasan saudara2 semua, selalu menyamakan antara perceraian itu dengan berpoligami, pada hal .. setiap orang yang telah melakukan perceraian ataupun yang berniat melaukan perceraian, tidak "Harus" berarti kawin lagi.

tetap saja perceraian itu tidak berkenan dihadapan Tuhan

Nah, saya memahami juga ucapan dari Rasul Paulus, yaitu : Hai suami, kasihilah Isterimu ... namun yang menjadi pertanyaan saya adalah : Paulus tidak mengatakan bahwa Kasihilah Isterimu satu-satunya, sehingga jika Ayat ini kita jadikan "Dalil" untuk menentang berpoligami, menurut saya "Sangat lemah sekali", sebab jika seseorang memiliki isteri lebih dari satu, maka ayat ini dapat juga ditujukan untuk dirinya, yaitu : Agar orang tersebut mengasihi isterinya, artinya : semua isteri-isterinya.

isteri beda dengan isteri-isterinya...jelas sangat BEDA

Tit 1:6  yakni orang-orang yang tak bercacat, yang mempunyai hanya satu isteri, yang anak-anaknya hidup beriman dan tidak dapat dituduh karena hidup tidak senonoh atau hidup tidak tertib.

jadi memang poligami tidak diperkenankan dalam Alkitab

Nah, terhadap Ayat lain yang mengatakan : Kamu bukan lagi dua, melainkan satu ... juga jika kita jadikan "dalil" untuk menentang berpoligami, menurut saya sangat lemah, sebab Arti: Kamu bukan lagi dua, melainkan satu ... dapat juga untuk isteri-isteri yang lain, sebab pernyataan: kamu bukan lagi dua, melainkan satu ... adalah pernyataan bersatunya 2 insan yang berbeda dalam satu-kesatuan rohani dan jasmani yang utuh, sehingga hal ini dapat juga berlaku untuk seseorang yang memiliki isteri lebih dari pada satu.

kalau lebih dari satu, kamu adalah tiga, suami, istri pertama dan istri kedua itu jumlahnya TIGA dan ga bisa bersatu disaat bersamaan, MELAINKAN GILIRAN


Saya memiliki pendapat pribadi dan bukan berarti saya setuju dengan berpoligami, yaitu : "Bagaimana jika Alkitab ternyata tidak menentang poligami, tetapi MENENTANG  Perceraian". Artinya: Siapapun boleh kawin lebih dari satu kali, tetapi tidak boleh bercerai, kecuali diceraikan oleh karena perzinahan dan Kematian.
Salam ...

anda sendiri tidak memahami hakekat pernikahan Kristiani, karna anda bukan seorang Kristen...

hakekat pernikahan Kristiani diibaratkan sebagai jemaat yang adalah Mempelai KRISTUS...artinya pernikahan Kristiani bukan hanya formalitas atau legalitas atau sekedar berketurunan

:)

Koreksi bro, bukan untuk semua, hanya untuk Panatua:

Titus
1:5 Aku telah meninggalkan engkau di Kreta dengan maksud ini, supaya engkau mengatur apa yang masih perlu diatur dan supaya engkau menetapkan penatua-penatua di setiap kota, seperti yang telah kupesankan kepadamu,
1:6 yakni orang-orang yang tak bercacat, yang mempunyai hanya satu isteri, yang anak-anaknya hidup beriman dan tidak dapat dituduh karena hidup tidak senonoh atau hidup tidak tertib.

Tidak ada dalam Alkitab ayat Anti Polygami, yang ada hanya ayat Anti Perceraian. Tq
« Last Edit: February 07, 2011, 07:00:45 PM by St_Yopi »
Inter Esse Et Non Esse

Cogito Ergo Sum

Non Nobis Domine, Non Nobis, Sed Nomini Tuo Da Gloriam

Extra Ecclesiam Nulla Salus

In Hoc Signo Vinces

With love,

your Yopi
February 07, 2011, 11:15:14 PM
Reply #164
  • FK Friend
  • FK - Hero
  • ******
  • Posts: 3795
  • Gender: Male
buat saudara - saudara ku semua ...

Saya memahami semua penjelasan saudara diatas, tetapi yang menjadi permasalahan adalah :

1). semua argumen dan ayat2 yang saudara2 saijikan, adalah: BUKAN untuk perkawinan secara umum, tetapi merupakan Persyaratan bagi seorang "Diaken dan Penatua Jemaat". ==> Silahkan saudara2 baca kembali, dimana sampai saat ini saya berlum menemukan ada ayat di Alkitab yang "melarang berpoligami".

sampai dengan saat ini juga tidak ada ayat di alkitab yang melarang untuk merokok atau operasi trans-seksual...


2). Jika pemahaman "Kamu bukan lagi dua, melainkan satu", diartikan dengan arti sempit, hanya dari sudut pandang "Biologis", maka perkawinan itu akan kehilangan makna rohaninya.

justru makna rohani itu akan hilang kalau poligami atau polyandri, kalau ada 2 suami untuk satu istri yang jadi imam-nya siapa? dua-duanya?

3). Jika mengacu pada pemahaman standart point nomor 2 diatas ( pengertian sempit ), maka Firman Tuhan yang mengatakan :"Kita adalah Mempelai KRISTUS", justru telah membuktikan kalau "KRISTUS itu berpoligami".

mempelai kristus itu dalam suatu kesatuan (JEMAAT) bukan dalam artian kodrat antara pria dan wanita, kesatuan jemaat itu adalah kesatuan roh

4). Jika didasarkan pada Fakta, sewaktu YESUS dicobai oleh orang2 Farisi, disana tidak ada melarang "berpoligami", melainkan yang YESUS larang adalah : "TIDAK  BOLEH  BERCERAI".

Bagi semua saudara2 sekalian, sekali lagi saya minta maaf, bukan saya menyetujui berpoligami, saya cuma mau mengungkapkan kebenaran Firman Allah, apakah berpoligami itu benar-benar dilarang di Alkitab ?

kenapa hanya Adam dan Hawa yang dicptakan?
bukan Adam beserta Hawa (istri 1), Hiwi (istri ke 2), Huwo (isteri ke 3)
atau Adam (suami 1). Idam (suami ke 2), Adim (suami ke 3) beserta hawa?


Mengapa ?
Karena sampai saat ini, saya belum menemukan satu ayat yang tegas, melarang berpoligami, tetapi kalau "Melarang Perceraian", memang "Tegas" dinyatakan dalam Alkitab.
Nah, jika Alkitab melarang berpoligami, bagaimana dengan nabi2 terdahulu dan bagaimana pula terhadap orang2 yang telah menjadi pengikut KRISTUS, pada masa YESUS dan Para Rasul dahulu ?
Salam ...

memang ada Rasul yg berpoligami?
ga ada

nabi yg berpoligami?

kalau itu ekses dan menimbulkan huru-hara yah buat apa ditiru? Abraham mencoba poligami, akhirnya melahirkan suatu keturunan yg tingkah lakunya mirip keledai liar...

:)
February 09, 2011, 03:11:42 PM
Reply #165
  • FK - Full Member
  • ***
  • Posts: 154
buat saudara ku semua ...

Mungkin sebagian dari kita menganggab bahwa permasalahan yang saya angkat disini, tidak begitu penting, tetapi tahukah saudara bahwa permasalahan ini, "Sangat Penting", karena telah banyak manusia yang tersesat, sebagai akibat dari permasalahan ini.

Memang, hanya ada satu ayat dalam Alkitab yang menegaskan tentang perkawinan di dalam Kristen, agar setiap laki2 mengambil satu orang isteri, dengan maksut untuk mencegah terjadinya percabulan. ( 1 Tesalonika 4 : 3 - 5 ).

Tetapi jika 1 Tesalonika 4 : 3 - 5, kita bandingkan dengan Titus 1 : 16, maka akan kita temukan 2 hal yang berbeda, yaitu :

1). Pada 1 Tesalonika 4 : 3 - 5 , Rasul Paulus menulis surat tersebut, untuk orang-orang yang telah menerima Kristus atau untuk orang2 yang telah terbebas dari tuntutan hukum taurat., Hal ini dapat kita lihat pada penegasan perkataan paulus pada ayat sebelumnya, yaitu : Tesalonika 4 : 1 .. Hal itu telah kamu turuti, tetapi baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi.

2). Sedangkan pada Titus 1 : 6 , Rasul Paulus menuliskan, bahwa kondisi pada masyarakat ditempat tersebut, ada beberapa pengikut Yesus yang "MUNGKIN" memiliki Isteri lebih dari satu orang, sehingga pada suratnya tersebut, ditegaskan oleh Paulus, agar sebagai seorang Diaken atau Penatua Jemaat, maka orang tersebut "Harus" memiliki Isteri "Hanya Satu" orang saja.

Jadi saudara - saudara ku semua, melihat kedua Fakta diatas ( Tesalonika 4: 3 - 5  dan Titus 1 : 6 ), maka sebenarnya telah dapat kita ambil kesimpulan, yaitu :

1). Alkitab "Melarang berpoligami", bagi mereka yang "Benar - benar menjadi Pengikut Kristus atau yang telah terbebas dari Tuntutan Hukum Taurat".

2). Alkitab "Tidak Melarang Berpoligami", bagi mereka yang telah berpoligami sebelum menerima Kristus dan kemudian menjadi Pengikut Kristus, dimana setelah orang tersebut menjadi pengikut Kristus, orang tersebut "Tidak diperbolehkan lagi", untuk kawin lagi dan tidak diperbolehkan pula untuk menceraikan salah satu atau semua isterinya, kalau tidak "Diceraikan karena Zinah dan Kematian".

Jadi, jika ada seorang yang telah mengaku menjadi "Pengikut Kristus", lalu memiliki niat ataupun merealisasikan  niatnya, untuk menceraikan isterinya, maka pada dasarnya, orang tersebut "BELUM" mengenal Kristus atau dengan kata lain Kristen KTP, karena jika orang tersebut telah mengenal Kristus, maka "Sudah Pasti" perceraian tidak akan pernah terjadi.

Pertanyaan nya adalah : Bagaimana kita menanggabi  kasus, terhadap Rumah Tangga Kristen yang akan melakukan perceraian ?

Untuk menanggabi hal tersebut diatas, maka sebelum terjadi perceraian itu, Suami atau Isteri "HARUS" dipanggil menghadap "Pendeta atau Pastor atau Hamba Tuhan atau Gembala Sidang atau paling tidak Penatua Jemaat", untuk tujuan "Mempertanyakan Iman Percaya Mereka kepada Kristus", apakah mereka berdua benar-benar telah mempercayai dan menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat-Nya, Jika mereka mengatakan bahwa mereka "Telah menerima Kristus", tetapi tetap akan melakukan perceraian, maka artinya adalah : Mereka telah melakukan Kemurtatan dan tidak ada lagi pengampunan disana. Sebab Firman Tuhan mengatakan, "Setiap orang yang telah mengenal Kebenaran, namun berpaling dari pada Kebenaran itu, maka tidak ada lagi pengampunan atasnya".

Catatan : Untuk hal tersebut diatas, maka yang perlu diperhatikan adalah, para Pastor, Pendeta, Gembala Sidang, Hamba Tuhan ataupun Penatua Jemaat, harus bertanya dengan Detail, sehingga kita dapat mengetahui bahwa pasangan suami isteri tersebut, benar2 telah mengenal Kristus atau Belum.

Kemudian, jika pada saat berdialog dengan pasangan suami isteri yang akan bercerai tersebut, diketahui ternyata mereka "BELUM" mengenal Kristus, maka mereka "DIPERBOLEHKAN" untuk bercerai, dengan "Catatan", setelah perceraian terjadi, maka mereka berdua "HARUS" dididik dengan intensif untuk "Pengenalan Akan Kristus", sebelum perkawinan baru terjadi dan setelah mereka benar2 mengenal Kristus, maka selanjutnya mereka "HARUS" dibabtis kembali, sebab pembabtisan pertama terhadap mereka adalah "TIDAK  SAH". Sebaliknya, jika pasangan suami isteri tersebut, setelah mendapat dididikan dan kemudian menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, dan mereka memutuskan untuk kembali Rujuk, maka tetap saja mereka "HARUS" dibabtis kembali, serta dilakukan Pemberkatan Pernikahan kembali.

Sebaliknya, jika setelah pendidikan intensif dilakukan dan kemudian pasangan suami isteri tersebut, masih saja tetap akan melakukan perceraian, maka setelah mereka dibabtis kembali sehabis pendidikan tersebut, kedua suami isteri tersebut, telah lahir baru dan menjadi orang bebas, serta bebas pula untuk melakukan perkawinan dengan pihak yang lain. ==> Dalam Kasus disini, pada dasarnya perkawinan yang mereka lakukan sebelumnya adalah "Tidak Sah" atau mereka hidup dalam berzinah. ==> Nah, pada kasus disini, jika mereka kawin dengan pihak yang lain, mereka tidak dapat dikategorikan sebagai berpoligami, sekalipun dalam pemahaman dunia, mereka dikatakan berpoligami.

Namun, Jika ternyata Pastor, Pendeta, Gembala Sidang, Hamba Tuhan, ataupun Penatua Jemaat, saat melakukan dialog dengan pasangan suami isteri tersebut, menemukan fakta, bahwa suami isteri tersebut, sebenarnya telah "benar-benar" mengenal Kristus, namun tetap saja akan melakukan perceraian, maka "Harus diingatkan dengan Tegas kepada mereka", bahwa jika mereka melakukan perceraian, artinya : Mereka Meninggalkan Kristus ( Murtat ) dan tidak ada lagi pengampunan bagi mereka.

Nah saudara - saudara ku semua, demikianlah makna dari topik ini saya angkat, sebab telah terjadi banyak kebingungan dikalangan Kristen dalam menghadapi Kasus Rumah tangga yang berujung pada perceraian.

Jadi, berdasarkan penjelasan diatas, maka sekarang dapat diketahui dengan pasti, bahwa Alkitab Melarang Berpoligami dan juga Tidak melarang berpoligami".


Salam ...
February 09, 2011, 03:23:29 PM
Reply #166
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 869
buat saudara ku semua ...

Mungkin sebagian dari kita menganggab bahwa permasalahan yang saya angkat disini, tidak begitu penting, tetapi tahukah saudara bahwa permasalahan ini, "Sangat Penting", karena telah banyak manusia yang tersesat, sebagai akibat dari permasalahan ini.

Memang, hanya ada satu ayat dalam Alkitab yang menegaskan tentang perkawinan di dalam Kristen, agar setiap laki2 mengambil satu orang isteri, dengan maksut untuk mencegah terjadinya percabulan. ( 1 Tesalonika 4 : 3 - 5 ).

Tetapi jika 1 Tesalonika 4 : 3 - 5, kita bandingkan dengan Titus 1 : 16, maka akan kita temukan 2 hal yang berbeda, yaitu :

1). Pada 1 Tesalonika 4 : 3 - 5 , Rasul Paulus menulis surat tersebut, untuk orang-orang yang telah menerima KRISTUS atau untuk orang2 yang telah terbebas dari tuntutan hukum taurat., Hal ini dapat kita lihat pada penegasan perkataan Paulus pada ayat sebelumnya, yaitu : Tesalonika 4 : 1 .. Hal itu telah kamu turuti, tetapi baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi.

2). Sedangkan pada Titus 1 : 6 , Rasul Paulus menuliskan, bahwa kondisi pada masyarakat ditempat tersebut, ada beberapa pengikut YESUS yang "MUNGKIN" memiliki Isteri lebih dari satu orang, sehingga pada suratnya tersebut, ditegaskan oleh Paulus, agar sebagai seorang Diaken atau Penatua Jemaat, maka orang tersebut "Harus" memiliki Isteri "Hanya Satu" orang saja.

Jadi saudara - saudara ku semua, melihat kedua Fakta diatas ( Tesalonika 4: 3 - 5  dan Titus 1 : 6 ), maka sebenarnya telah dapat kita ambil kesimpulan, yaitu :

1). Alkitab "Melarang berpoligami", bagi mereka yang "Benar - benar menjadi Pengikut KRISTUS atau yang telah terbebas dari Tuntutan Hukum Taurat".

2). Alkitab "Tidak Melarang Berpoligami", bagi mereka yang telah berpoligami sebelum menerima KRISTUS dan kemudian menjadi Pengikut KRISTUS, dimana setelah orang tersebut menjadi pengikut KRISTUS, orang tersebut "Tidak diperbolehkan lagi", untuk kawin lagi dan tidak diperbolehkan pula untuk menceraikan salah satu atau semua isterinya, kalau tidak "Diceraikan karena Zinah dan Kematian".

Jadi, jika ada seorang yang telah mengaku menjadi "Pengikut KRISTUS", lalu memiliki niat ataupun merealisasikan  niatnya, untuk menceraikan isterinya, maka pada dasarnya, orang tersebut "BELUM" mengenal KRISTUS atau dengan kata lain Kristen KTP, karena jika orang tersebut telah mengenal KRISTUS, maka "Sudah Pasti" perceraian tidak akan pernah terjadi.

Pertanyaan nya adalah : Bagaimana kita menanggabi  kasus, terhadap Rumah Tangga Kristen yang akan melakukan perceraian ?

Untuk menanggabi hal tersebut diatas, maka sebelum terjadi perceraian itu, Suami atau Isteri "HARUS" dipanggil menghadap "Pendeta atau Pastor atau Hamba Tuhan atau Gembala Sidang atau paling tidak Penatua Jemaat", untuk tujuan "Mempertanyakan Iman Percaya Mereka kepada KRISTUS", apakah mereka berdua benar-benar telah mempercayai dan menerima KRISTUS sebagai Tuhan dan Juruselamat-Nya, Jika mereka mengatakan bahwa mereka "Telah menerima KRISTUS", tetapi tetap akan melakukan perceraian, maka artinya adalah : Mereka telah melakukan Kemurtatan dan tidak ada lagi pengampunan disana. Sebab Firman Tuhan mengatakan, "Setiap orang yang telah mengenal Kebenaran, namun berpaling dari pada Kebenaran itu, maka tidak ada lagi pengampunan atasnya".

Catatan : Untuk hal tersebut diatas, maka yang perlu diperhatikan adalah, para Pastor, Pendeta, Gembala Sidang, Hamba Tuhan ataupun Penatua Jemaat, harus bertanya dengan Detail, sehingga kita dapat mengetahui bahwa pasangan suami isteri tersebut, benar2 telah mengenal KRISTUS atau Belum.

Kemudian, jika pada saat berdialog dengan pasangan suami isteri yang akan bercerai tersebut, diketahui ternyata mereka "BELUM" mengenal KRISTUS, maka mereka "DIPERBOLEHKAN" untuk bercerai, dengan "Catatan", setelah perceraian terjadi, maka mereka berdua "HARUS" dididik dengan intensif untuk "Pengenalan Akan KRISTUS", sebelum perkawinan baru terjadi dan setelah mereka benar2 mengenal KRISTUS, maka selanjutnya mereka "HARUS" dibabtis kembali, sebab pembabtisan pertama terhadap mereka adalah "TIDAK  SAH". Sebaliknya, jika pasangan suami isteri tersebut, setelah mendapat dididikan dan kemudian menerima YESUS sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, dan mereka memutuskan untuk kembali Rujuk, maka tetap saja mereka "HARUS" dibabtis kembali, serta dilakukan Pemberkatan Pernikahan kembali.

Sebaliknya, jika setelah pendidikan intensif dilakukan dan kemudian pasangan suami isteri tersebut, masih saja tetap akan melakukan perceraian, maka setelah mereka dibabtis kembali sehabis pendidikan tersebut, kedua suami isteri tersebut, telah lahir baru dan menjadi orang bebas, serta bebas pula untuk melakukan perkawinan dengan pihak yang lain. ==> Dalam Kasus disini, pada dasarnya perkawinan yang mereka lakukan sebelumnya adalah "Tidak Sah" atau mereka hidup dalam berzinah. ==> Nah, pada kasus disini, jika mereka kawin dengan pihak yang lain, mereka tidak dapat dikategorikan sebagai berpoligami, sekalipun dalam pemahaman dunia, mereka dikatakan berpoligami.

Namun, Jika ternyata Pastor, Pendeta, Gembala Sidang, Hamba Tuhan, ataupun Penatua Jemaat, saat melakukan dialog dengan pasangan suami isteri tersebut, menemukan fakta, bahwa suami isteri tersebut, sebenarnya telah "benar-benar" mengenal KRISTUS, namun tetap saja akan melakukan perceraian, maka "Harus diingatkan dengan Tegas kepada mereka", bahwa jika mereka melakukan perceraian, artinya : Mereka Meninggalkan KRISTUS ( Murtat ) dan tidak ada lagi pengampunan bagi mereka.

Nah saudara - saudara ku semua, demikianlah makna dari topik ini saya angkat, sebab telah terjadi banyak kebingungan dikalangan Kristen dalam menghadapi Kasus Rumah tangga yang berujung pada perceraian.

Jadi, berdasarkan penjelasan diatas, maka sekarang dapat diketahui dengan pasti, bahwa Alkitab Melarang Berpoligami dan juga Tidak melarang berpoligami".


Salam ...

Pertanyaan saya, anda Kristen atau non Kristen?
Pertanyaan berikutnya:
Bila pasangan yg telah mengenal kristus bercerai, apakah memang 100% murtat dan tidak ada kata maaf lagi? Lalu dimana ajaran kasih itu jika dosanya tidak diampuni lagi, mengapa tidalk diampuni. bukankah semua dosa sudah ditebus TYK?


Salam
February 09, 2011, 04:20:53 PM
Reply #167
  • FK - Full Member
  • ***
  • Posts: 154
buat saudara ku semua ...

Mungkin sebagian dari kita menganggab bahwa permasalahan yang saya angkat disini, tidak begitu penting, tetapi tahukah saudara bahwa permasalahan ini, "Sangat Penting", karena telah banyak manusia yang tersesat, sebagai akibat dari permasalahan ini.

Memang, hanya ada satu ayat dalam Alkitab yang menegaskan tentang perkawinan di dalam Kristen, agar setiap laki2 mengambil satu orang isteri, dengan maksut untuk mencegah terjadinya percabulan. ( 1 Tesalonika 4 : 3 - 5 ).

Tetapi jika 1 Tesalonika 4 : 3 - 5, kita bandingkan dengan Titus 1 : 16, maka akan kita temukan 2 hal yang berbeda, yaitu :

1). Pada 1 Tesalonika 4 : 3 - 5 , Rasul Paulus menulis surat tersebut, untuk orang-orang yang telah menerima KRISTUS atau untuk orang2 yang telah terbebas dari tuntutan hukum taurat., Hal ini dapat kita lihat pada penegasan perkataan Paulus pada ayat sebelumnya, yaitu : Tesalonika 4 : 1 .. Hal itu telah kamu turuti, tetapi baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi.

2). Sedangkan pada Titus 1 : 6 , Rasul Paulus menuliskan, bahwa kondisi pada masyarakat ditempat tersebut, ada beberapa pengikut YESUS yang "MUNGKIN" memiliki Isteri lebih dari satu orang, sehingga pada suratnya tersebut, ditegaskan oleh Paulus, agar sebagai seorang Diaken atau Penatua Jemaat, maka orang tersebut "Harus" memiliki Isteri "Hanya Satu" orang saja.

Jadi saudara - saudara ku semua, melihat kedua Fakta diatas ( Tesalonika 4: 3 - 5  dan Titus 1 : 6 ), maka sebenarnya telah dapat kita ambil kesimpulan, yaitu :

1). Alkitab "Melarang berpoligami", bagi mereka yang "Benar - benar menjadi Pengikut KRISTUS atau yang telah terbebas dari Tuntutan Hukum Taurat".

2). Alkitab "Tidak Melarang Berpoligami", bagi mereka yang telah berpoligami sebelum menerima KRISTUS dan kemudian menjadi Pengikut KRISTUS, dimana setelah orang tersebut menjadi pengikut KRISTUS, orang tersebut "Tidak diperbolehkan lagi", untuk kawin lagi dan tidak diperbolehkan pula untuk menceraikan salah satu atau semua isterinya, kalau tidak "Diceraikan karena Zinah dan Kematian".

Jadi, jika ada seorang yang telah mengaku menjadi "Pengikut KRISTUS", lalu memiliki niat ataupun merealisasikan  niatnya, untuk menceraikan isterinya, maka pada dasarnya, orang tersebut "BELUM" mengenal KRISTUS atau dengan kata lain Kristen KTP, karena jika orang tersebut telah mengenal KRISTUS, maka "Sudah Pasti" perceraian tidak akan pernah terjadi.

Pertanyaan nya adalah : Bagaimana kita menanggabi  kasus, terhadap Rumah Tangga Kristen yang akan melakukan perceraian ?

Untuk menanggabi hal tersebut diatas, maka sebelum terjadi perceraian itu, Suami atau Isteri "HARUS" dipanggil menghadap "Pendeta atau Pastor atau Hamba Tuhan atau Gembala Sidang atau paling tidak Penatua Jemaat", untuk tujuan "Mempertanyakan Iman Percaya Mereka kepada KRISTUS", apakah mereka berdua benar-benar telah mempercayai dan menerima KRISTUS sebagai Tuhan dan Juruselamat-Nya, Jika mereka mengatakan bahwa mereka "Telah menerima KRISTUS", tetapi tetap akan melakukan perceraian, maka artinya adalah : Mereka telah melakukan Kemurtatan dan tidak ada lagi pengampunan disana. Sebab Firman Tuhan mengatakan, "Setiap orang yang telah mengenal Kebenaran, namun berpaling dari pada Kebenaran itu, maka tidak ada lagi pengampunan atasnya".

Catatan : Untuk hal tersebut diatas, maka yang perlu diperhatikan adalah, para Pastor, Pendeta, Gembala Sidang, Hamba Tuhan ataupun Penatua Jemaat, harus bertanya dengan Detail, sehingga kita dapat mengetahui bahwa pasangan suami isteri tersebut, benar2 telah mengenal KRISTUS atau Belum.

Kemudian, jika pada saat berdialog dengan pasangan suami isteri yang akan bercerai tersebut, diketahui ternyata mereka "BELUM" mengenal KRISTUS, maka mereka "DIPERBOLEHKAN" untuk bercerai, dengan "Catatan", setelah perceraian terjadi, maka mereka berdua "HARUS" dididik dengan intensif untuk "Pengenalan Akan KRISTUS", sebelum perkawinan baru terjadi dan setelah mereka benar2 mengenal KRISTUS, maka selanjutnya mereka "HARUS" dibabtis kembali, sebab pembabtisan pertama terhadap mereka adalah "TIDAK  SAH". Sebaliknya, jika pasangan suami isteri tersebut, setelah mendapat dididikan dan kemudian menerima YESUS sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, dan mereka memutuskan untuk kembali Rujuk, maka tetap saja mereka "HARUS" dibabtis kembali, serta dilakukan Pemberkatan Pernikahan kembali.

Sebaliknya, jika setelah pendidikan intensif dilakukan dan kemudian pasangan suami isteri tersebut, masih saja tetap akan melakukan perceraian, maka setelah mereka dibabtis kembali sehabis pendidikan tersebut, kedua suami isteri tersebut, telah lahir baru dan menjadi orang bebas, serta bebas pula untuk melakukan perkawinan dengan pihak yang lain. ==> Dalam Kasus disini, pada dasarnya perkawinan yang mereka lakukan sebelumnya adalah "Tidak Sah" atau mereka hidup dalam berzinah. ==> Nah, pada kasus disini, jika mereka kawin dengan pihak yang lain, mereka tidak dapat dikategorikan sebagai berpoligami, sekalipun dalam pemahaman dunia, mereka dikatakan berpoligami.

Namun, Jika ternyata Pastor, Pendeta, Gembala Sidang, Hamba Tuhan, ataupun Penatua Jemaat, saat melakukan dialog dengan pasangan suami isteri tersebut, menemukan fakta, bahwa suami isteri tersebut, sebenarnya telah "benar-benar" mengenal KRISTUS, namun tetap saja akan melakukan perceraian, maka "Harus diingatkan dengan Tegas kepada mereka", bahwa jika mereka melakukan perceraian, artinya : Mereka Meninggalkan KRISTUS ( Murtat ) dan tidak ada lagi pengampunan bagi mereka.

Nah saudara - saudara ku semua, demikianlah makna dari topik ini saya angkat, sebab telah terjadi banyak kebingungan dikalangan Kristen dalam menghadapi Kasus Rumah tangga yang berujung pada perceraian.

Jadi, berdasarkan penjelasan diatas, maka sekarang dapat diketahui dengan pasti, bahwa Alkitab Melarang Berpoligami dan juga Tidak melarang berpoligami".


Salam ...

Pertanyaan saya, anda Kristen atau non Kristen?

Saudara ku, saya adalah Benar-benar seorang Pengikut Kristus yang dikenal orang dengan sebutan Kristen.

Quote from:
Pertanyaan berikutnya:
Bila pasangan yg telah mengenal KRISTUS bercerai, apakah memang 100% murtat dan tidak ada kata maaf lagi?

Berdasarkan Fakta Alkitab, setiap orang yang telah Mengenal Kristus artinya : Telah mengenal Kebenaran atau telah dibebaskan dari semua tuntutan hukum taurat, lalu kembali melakukan dosa atau meninggalkan kebenaran itu atau kembali tunduk pada tuntutan hukum taurat, maka tidak ada lagi pengampunan pada mereka.

Quote from:
Lalu dimana ajaran kasih itu jika dosanya tidak diampuni lagi, mengapa tidalk diampuni. bukankah semua dosa sudah ditebus TYK?

Saudara ku, Ajaran Kasih membebaskan kita untuk memilih, apa yang harus kita putuskan, apakah kita memutuskan untuk memilih jalan kebenaran ataukah tidak, sehingga setiap orang yang telah memutuskan, untuk memilih "jalan kebenaran" maka pada saat itu, orang tersebut telah terbebas dari tuntutan hukum taurat, sebab pada saat keputusan itu terjadi, yaitu keputusan untuk bertobat dan menerima Yesus, maka pada saat itulah Yesus tersalib baginya, namun jika orang yang sudah bertobat tersebut, kembali melakukan "Dosa", maka artinya adalah : Orang tersebut telah berpaling dari kebenaran, atau orang tersebut telah meninggalkan Yesus atau orang tersebut kembali pada tuntutan hukum taurat, nah .. jika orang tersebut kembali kepada tuntutan hukum taurat, maka tidak ada lagi yang dapat menyelamatkannya, sebab Sang Penyelamat tidak datang 2 kali untuk pekerjaan penyelamatan.

Jadi saudara ku, "Dosa yang ditebus oleh Yesus" adalah : setiap dosa yang dilakukan oleh manusia itu, sebelum manusia itu "Bertobat", tetapi jika manusia itu telah bertobat dan kembali melakukan "dosa", maka tidak ada lagi pengampunan kepada mereka, sebab artinya : mereka telah kembali tunduk pada tuntutan hukum taurat. Jadi saudara ku, Yesus itu menebus dosa masa lalu setiap manusia yang sudah bertobat dan "Bukan" menebus dosa yang akan datang atau yang akan diperbuat oleh manusia yang sudah bertobat


Salam
February 09, 2011, 04:32:32 PM
Reply #168
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 11427
  • Gender: Male
  • Tuus Totus Ego Sum, Et Omnia Mea Tua Sunt
buat saudara ku semua ...

Mungkin sebagian dari kita menganggab bahwa permasalahan yang saya angkat disini, tidak begitu penting, tetapi tahukah saudara bahwa permasalahan ini, "Sangat Penting", karena telah banyak manusia yang tersesat, sebagai akibat dari permasalahan ini.

Memang, hanya ada satu ayat dalam Alkitab yang menegaskan tentang perkawinan di dalam Kristen, agar setiap laki2 mengambil satu orang isteri, dengan maksut untuk mencegah terjadinya percabulan. ( 1 Tesalonika 4 : 3 - 5 ).

Tetapi jika 1 Tesalonika 4 : 3 - 5, kita bandingkan dengan Titus 1 : 16, maka akan kita temukan 2 hal yang berbeda, yaitu :

1). Pada 1 Tesalonika 4 : 3 - 5 , Rasul Paulus menulis surat tersebut, untuk orang-orang yang telah menerima KRISTUS atau untuk orang2 yang telah terbebas dari tuntutan hukum taurat., Hal ini dapat kita lihat pada penegasan perkataan Paulus pada ayat sebelumnya, yaitu : Tesalonika 4 : 1 .. Hal itu telah kamu turuti, tetapi baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi.

2). Sedangkan pada Titus 1 : 6 , Rasul Paulus menuliskan, bahwa kondisi pada masyarakat ditempat tersebut, ada beberapa pengikut YESUS yang "MUNGKIN" memiliki Isteri lebih dari satu orang, sehingga pada suratnya tersebut, ditegaskan oleh Paulus, agar sebagai seorang Diaken atau Penatua Jemaat, maka orang tersebut "Harus" memiliki Isteri "Hanya Satu" orang saja.

Jadi saudara - saudara ku semua, melihat kedua Fakta diatas ( Tesalonika 4: 3 - 5  dan Titus 1 : 6 ), maka sebenarnya telah dapat kita ambil kesimpulan, yaitu :

1). Alkitab "Melarang berpoligami", bagi mereka yang "Benar - benar menjadi Pengikut KRISTUS atau yang telah terbebas dari Tuntutan Hukum Taurat".

2). Alkitab "Tidak Melarang Berpoligami", bagi mereka yang telah berpoligami sebelum menerima KRISTUS dan kemudian menjadi Pengikut KRISTUS, dimana setelah orang tersebut menjadi pengikut KRISTUS, orang tersebut "Tidak diperbolehkan lagi", untuk kawin lagi dan tidak diperbolehkan pula untuk menceraikan salah satu atau semua isterinya, kalau tidak "Diceraikan karena Zinah dan Kematian".

Jadi, jika ada seorang yang telah mengaku menjadi "Pengikut KRISTUS", lalu memiliki niat ataupun merealisasikan  niatnya, untuk menceraikan isterinya, maka pada dasarnya, orang tersebut "BELUM" mengenal KRISTUS atau dengan kata lain Kristen KTP, karena jika orang tersebut telah mengenal KRISTUS, maka "Sudah Pasti" perceraian tidak akan pernah terjadi.

Pertanyaan nya adalah : Bagaimana kita menanggabi  kasus, terhadap Rumah Tangga Kristen yang akan melakukan perceraian ?

Untuk menanggabi hal tersebut diatas, maka sebelum terjadi perceraian itu, Suami atau Isteri "HARUS" dipanggil menghadap "Pendeta atau Pastor atau Hamba Tuhan atau Gembala Sidang atau paling tidak Penatua Jemaat", untuk tujuan "Mempertanyakan Iman Percaya Mereka kepada KRISTUS", apakah mereka berdua benar-benar telah mempercayai dan menerima KRISTUS sebagai Tuhan dan Juruselamat-Nya, Jika mereka mengatakan bahwa mereka "Telah menerima KRISTUS", tetapi tetap akan melakukan perceraian, maka artinya adalah : Mereka telah melakukan Kemurtatan dan tidak ada lagi pengampunan disana. Sebab Firman Tuhan mengatakan, "Setiap orang yang telah mengenal Kebenaran, namun berpaling dari pada Kebenaran itu, maka tidak ada lagi pengampunan atasnya".

Catatan : Untuk hal tersebut diatas, maka yang perlu diperhatikan adalah, para Pastor, Pendeta, Gembala Sidang, Hamba Tuhan ataupun Penatua Jemaat, harus bertanya dengan Detail, sehingga kita dapat mengetahui bahwa pasangan suami isteri tersebut, benar2 telah mengenal KRISTUS atau Belum.

Kemudian, jika pada saat berdialog dengan pasangan suami isteri yang akan bercerai tersebut, diketahui ternyata mereka "BELUM" mengenal KRISTUS, maka mereka "DIPERBOLEHKAN" untuk bercerai, dengan "Catatan", setelah perceraian terjadi, maka mereka berdua "HARUS" dididik dengan intensif untuk "Pengenalan Akan KRISTUS", sebelum perkawinan baru terjadi dan setelah mereka benar2 mengenal KRISTUS, maka selanjutnya mereka "HARUS" dibabtis kembali, sebab pembabtisan pertama terhadap mereka adalah "TIDAK  SAH". Sebaliknya, jika pasangan suami isteri tersebut, setelah mendapat dididikan dan kemudian menerima YESUS sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, dan mereka memutuskan untuk kembali Rujuk, maka tetap saja mereka "HARUS" dibabtis kembali, serta dilakukan Pemberkatan Pernikahan kembali.

Sebaliknya, jika setelah pendidikan intensif dilakukan dan kemudian pasangan suami isteri tersebut, masih saja tetap akan melakukan perceraian, maka setelah mereka dibabtis kembali sehabis pendidikan tersebut, kedua suami isteri tersebut, telah lahir baru dan menjadi orang bebas, serta bebas pula untuk melakukan perkawinan dengan pihak yang lain. ==> Dalam Kasus disini, pada dasarnya perkawinan yang mereka lakukan sebelumnya adalah "Tidak Sah" atau mereka hidup dalam berzinah. ==> Nah, pada kasus disini, jika mereka kawin dengan pihak yang lain, mereka tidak dapat dikategorikan sebagai berpoligami, sekalipun dalam pemahaman dunia, mereka dikatakan berpoligami.

Namun, Jika ternyata Pastor, Pendeta, Gembala Sidang, Hamba Tuhan, ataupun Penatua Jemaat, saat melakukan dialog dengan pasangan suami isteri tersebut, menemukan fakta, bahwa suami isteri tersebut, sebenarnya telah "benar-benar" mengenal KRISTUS, namun tetap saja akan melakukan perceraian, maka "Harus diingatkan dengan Tegas kepada mereka", bahwa jika mereka melakukan perceraian, artinya : Mereka Meninggalkan KRISTUS ( Murtat ) dan tidak ada lagi pengampunan bagi mereka.

Nah saudara - saudara ku semua, demikianlah makna dari topik ini saya angkat, sebab telah terjadi banyak kebingungan dikalangan Kristen dalam menghadapi Kasus Rumah tangga yang berujung pada perceraian.

Jadi, berdasarkan penjelasan diatas, maka sekarang dapat diketahui dengan pasti, bahwa Alkitab Melarang Berpoligami dan juga Tidak melarang berpoligami".


Salam ...

Untuk Gereja Katolik, semua Sakramen sekali seumur hidup, tidak berulang kali, termasuk untuk Sakramen Baptis dan Sakramen Perkawinan, dan juga Gereja Katolik menolak perceraian karena dalam Alkitab memang dilarang perceraian. Mungkin pertanyaan anda ditujukan untuk pihak Protestan, bagi pihak Protestan silahkan menanggapi. Tq :)
Inter Esse Et Non Esse

Cogito Ergo Sum

Non Nobis Domine, Non Nobis, Sed Nomini Tuo Da Gloriam

Extra Ecclesiam Nulla Salus

In Hoc Signo Vinces

With love,

your Yopi
February 09, 2011, 04:36:49 PM
Reply #169
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 11427
  • Gender: Male
  • Tuus Totus Ego Sum, Et Omnia Mea Tua Sunt
buat saudara ku semua ...

Mungkin sebagian dari kita menganggab bahwa permasalahan yang saya angkat disini, tidak begitu penting, tetapi tahukah saudara bahwa permasalahan ini, "Sangat Penting", karena telah banyak manusia yang tersesat, sebagai akibat dari permasalahan ini.

Memang, hanya ada satu ayat dalam Alkitab yang menegaskan tentang perkawinan di dalam Kristen, agar setiap laki2 mengambil satu orang isteri, dengan maksut untuk mencegah terjadinya percabulan. ( 1 Tesalonika 4 : 3 - 5 ).

Tetapi jika 1 Tesalonika 4 : 3 - 5, kita bandingkan dengan Titus 1 : 16, maka akan kita temukan 2 hal yang berbeda, yaitu :

1). Pada 1 Tesalonika 4 : 3 - 5 , Rasul Paulus menulis surat tersebut, untuk orang-orang yang telah menerima KRISTUS atau untuk orang2 yang telah terbebas dari tuntutan hukum taurat., Hal ini dapat kita lihat pada penegasan perkataan Paulus pada ayat sebelumnya, yaitu : Tesalonika 4 : 1 .. Hal itu telah kamu turuti, tetapi baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi.

2). Sedangkan pada Titus 1 : 6 , Rasul Paulus menuliskan, bahwa kondisi pada masyarakat ditempat tersebut, ada beberapa pengikut YESUS yang "MUNGKIN" memiliki Isteri lebih dari satu orang, sehingga pada suratnya tersebut, ditegaskan oleh Paulus, agar sebagai seorang Diaken atau Penatua Jemaat, maka orang tersebut "Harus" memiliki Isteri "Hanya Satu" orang saja.

Jadi saudara - saudara ku semua, melihat kedua Fakta diatas ( Tesalonika 4: 3 - 5  dan Titus 1 : 6 ), maka sebenarnya telah dapat kita ambil kesimpulan, yaitu :

1). Alkitab "Melarang berpoligami", bagi mereka yang "Benar - benar menjadi Pengikut KRISTUS atau yang telah terbebas dari Tuntutan Hukum Taurat".

2). Alkitab "Tidak Melarang Berpoligami", bagi mereka yang telah berpoligami sebelum menerima KRISTUS dan kemudian menjadi Pengikut KRISTUS, dimana setelah orang tersebut menjadi pengikut KRISTUS, orang tersebut "Tidak diperbolehkan lagi", untuk kawin lagi dan tidak diperbolehkan pula untuk menceraikan salah satu atau semua isterinya, kalau tidak "Diceraikan karena Zinah dan Kematian".

Jadi, jika ada seorang yang telah mengaku menjadi "Pengikut KRISTUS", lalu memiliki niat ataupun merealisasikan  niatnya, untuk menceraikan isterinya, maka pada dasarnya, orang tersebut "BELUM" mengenal KRISTUS atau dengan kata lain Kristen KTP, karena jika orang tersebut telah mengenal KRISTUS, maka "Sudah Pasti" perceraian tidak akan pernah terjadi.

Pertanyaan nya adalah : Bagaimana kita menanggabi  kasus, terhadap Rumah Tangga Kristen yang akan melakukan perceraian ?

Untuk menanggabi hal tersebut diatas, maka sebelum terjadi perceraian itu, Suami atau Isteri "HARUS" dipanggil menghadap "Pendeta atau Pastor atau Hamba Tuhan atau Gembala Sidang atau paling tidak Penatua Jemaat", untuk tujuan "Mempertanyakan Iman Percaya Mereka kepada KRISTUS", apakah mereka berdua benar-benar telah mempercayai dan menerima KRISTUS sebagai Tuhan dan Juruselamat-Nya, Jika mereka mengatakan bahwa mereka "Telah menerima KRISTUS", tetapi tetap akan melakukan perceraian, maka artinya adalah : Mereka telah melakukan Kemurtatan dan tidak ada lagi pengampunan disana. Sebab Firman Tuhan mengatakan, "Setiap orang yang telah mengenal Kebenaran, namun berpaling dari pada Kebenaran itu, maka tidak ada lagi pengampunan atasnya".

Catatan : Untuk hal tersebut diatas, maka yang perlu diperhatikan adalah, para Pastor, Pendeta, Gembala Sidang, Hamba Tuhan ataupun Penatua Jemaat, harus bertanya dengan Detail, sehingga kita dapat mengetahui bahwa pasangan suami isteri tersebut, benar2 telah mengenal KRISTUS atau Belum.

Kemudian, jika pada saat berdialog dengan pasangan suami isteri yang akan bercerai tersebut, diketahui ternyata mereka "BELUM" mengenal KRISTUS, maka mereka "DIPERBOLEHKAN" untuk bercerai, dengan "Catatan", setelah perceraian terjadi, maka mereka berdua "HARUS" dididik dengan intensif untuk "Pengenalan Akan KRISTUS", sebelum perkawinan baru terjadi dan setelah mereka benar2 mengenal KRISTUS, maka selanjutnya mereka "HARUS" dibabtis kembali, sebab pembabtisan pertama terhadap mereka adalah "TIDAK  SAH". Sebaliknya, jika pasangan suami isteri tersebut, setelah mendapat dididikan dan kemudian menerima YESUS sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, dan mereka memutuskan untuk kembali Rujuk, maka tetap saja mereka "HARUS" dibabtis kembali, serta dilakukan Pemberkatan Pernikahan kembali.

Sebaliknya, jika setelah pendidikan intensif dilakukan dan kemudian pasangan suami isteri tersebut, masih saja tetap akan melakukan perceraian, maka setelah mereka dibabtis kembali sehabis pendidikan tersebut, kedua suami isteri tersebut, telah lahir baru dan menjadi orang bebas, serta bebas pula untuk melakukan perkawinan dengan pihak yang lain. ==> Dalam Kasus disini, pada dasarnya perkawinan yang mereka lakukan sebelumnya adalah "Tidak Sah" atau mereka hidup dalam berzinah. ==> Nah, pada kasus disini, jika mereka kawin dengan pihak yang lain, mereka tidak dapat dikategorikan sebagai berpoligami, sekalipun dalam pemahaman dunia, mereka dikatakan berpoligami.

Namun, Jika ternyata Pastor, Pendeta, Gembala Sidang, Hamba Tuhan, ataupun Penatua Jemaat, saat melakukan dialog dengan pasangan suami isteri tersebut, menemukan fakta, bahwa suami isteri tersebut, sebenarnya telah "benar-benar" mengenal KRISTUS, namun tetap saja akan melakukan perceraian, maka "Harus diingatkan dengan Tegas kepada mereka", bahwa jika mereka melakukan perceraian, artinya : Mereka Meninggalkan KRISTUS ( Murtat ) dan tidak ada lagi pengampunan bagi mereka.

Nah saudara - saudara ku semua, demikianlah makna dari topik ini saya angkat, sebab telah terjadi banyak kebingungan dikalangan Kristen dalam menghadapi Kasus Rumah tangga yang berujung pada perceraian.

Jadi, berdasarkan penjelasan diatas, maka sekarang dapat diketahui dengan pasti, bahwa Alkitab Melarang Berpoligami dan juga Tidak melarang berpoligami".


Salam ...

Pertanyaan saya, anda Kristen atau non Kristen?

Saudara ku, saya adalah Benar-benar seorang Pengikut KRISTUS yang dikenal orang dengan sebutan Kristen.

Quote from:
Pertanyaan berikutnya:
Bila pasangan yg telah mengenal KRISTUS bercerai, apakah memang 100% murtat dan tidak ada kata maaf lagi?

Berdasarkan Fakta Alkitab, setiap orang yang telah Mengenal KRISTUS artinya : Telah mengenal Kebenaran atau telah dibebaskan dari semua tuntutan hukum taurat, lalu kembali melakukan dosa atau meninggalkan kebenaran itu atau kembali tunduk pada tuntutan hukum taurat, maka tidak ada lagi pengampunan pada mereka.

Quote from:
Lalu dimana ajaran kasih itu jika dosanya tidak diampuni lagi, mengapa tidalk diampuni. bukankah semua dosa sudah ditebus TYK?

Saudara ku, Ajaran Kasih membebaskan kita untuk memilih, apa yang harus kita putuskan, apakah kita memutuskan untuk memilih jalan kebenaran ataukah tidak, sehingga setiap orang yang telah memutuskan, untuk memilih "jalan kebenaran" maka pada saat itu, orang tersebut telah terbebas dari tuntutan hukum taurat, sebab pada saat keputusan itu terjadi, yaitu keputusan untuk bertobat dan menerima YESUS, maka pada saat itulah YESUS tersalib baginya, namun jika orang yang sudah bertobat tersebut, kembali melakukan "Dosa", maka artinya adalah : Orang tersebut telah berpaling dari kebenaran, atau orang tersebut telah meninggalkan YESUS atau orang tersebut kembali pada tuntutan hukum taurat, nah .. jika orang tersebut kembali kepada tuntutan hukum taurat, maka tidak ada lagi yang dapat menyelamatkannya, sebab Sang Penyelamat tidak datang 2 kali untuk pekerjaan penyelamatan.

Jadi saudara ku, "Dosa yang ditebus oleh YESUS" adalah : setiap dosa yang dilakukan oleh manusia itu, sebelum manusia itu "Bertobat", tetapi jika manusia itu telah bertobat dan kembali melakukan "dosa", maka tidak ada lagi pengampunan kepada mereka, sebab artinya : mereka telah kembali tunduk pada tuntutan hukum taurat. Jadi saudara ku, YESUS itu menebus dosa masa lalu setiap manusia yang sudah bertobat dan "Bukan" menebus dosa yang akan datang atau yang akan diperbuat oleh manusia yang sudah bertobat


Salam

Penebusan TUHAN YESUS memang untuk kita semua ketika kita dibaptis, namun ketika manusia berdosa lagi tetapi kemudian menyesal dan bertobat, Pintu Pengampunan kembali terbuka. Tq :)
Inter Esse Et Non Esse

Cogito Ergo Sum

Non Nobis Domine, Non Nobis, Sed Nomini Tuo Da Gloriam

Extra Ecclesiam Nulla Salus

In Hoc Signo Vinces

With love,

your Yopi
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)