Author Topic: Perihal ajaran Kristen Protestan  (Read 3834 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

November 17, 2010, 08:27:58 AM
Reply #40
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 693
  • Gender: Female
  • Jesus is always inside of me
Kenapa ya waktu itu Martin Luther membuat thesis tsb kalo alasannya bukan pncetakan Alkitab di mana secara tdk lgsg smua org dpt mengetahui isi Alkitab itu sndiri?
Stlh tercetaknya Alkitab tsb dan menyebar, pasti trjadi byk pandangan, pro dan kontra bukan?
Apa ada pemicu knp thesis tsb bs muncul?

Mohon dibantu bee :)

Reformasi Protestan lahir sebagai sebuah upaya untuk mereformasi Gereja Katolik, diprakarsai oleh umat Katolik Eropa Barat yang menentang hal-hal yang menurut anggapan mereka adalah doktrin-doktrin palsu dan malapraktek gerejawi — khususnya ajaran dan penjualan indulgensi, serta simoni, jual-beli jabatan rohaniwan — yang menurut para reformator merupakan bukti kerusakan sistemik hirarki Gereja, termasuk Sri Paus.

Para pendahulu Martin Luther mencakup John Wycliffe dan Jan Hus, yang juga mencoba mereformasi Gereja Katolik. Reformasi Protestan berawal pada 31 Oktober 1517, di Wittenberg, Saxonia, tatkala Martin Luther memakukan Sembilan Puluh Lima Tesis mengenai Kuasa dan Efikasi Indulgensi pada daun pintu Gereja Semua Orang Kudus (yang berfungsi sebagai papan-pengumuman universitas di masa itu),[1] tesis-tesis tersebut memperdebatkan dan mengkritisi Gereja dan Sri Paus, tetapi berkonsentrasi pada penjualan indulgensi-indulgensi dan kebijakan-kebijakan doktrinal mengenai Purgatorium, Pengadilan Partikular, Mariologi (devosi pada Maria, ibunda Yesus), perantaraan-doa dan devosi pada Orang-Orang Kudus, sebagian besar sakramen, keharusan selibat bagi rohaniwan, termasuk monastisisme, dan otoritas Sri Paus. Reformator-reformator lain, seperti Ulrich Zwingli, segera mengikuti teladan Martin Luther.

Akan tetapi selanjutnya para reformator berselisih faham dan memecah-belah pergerakan mereka menurut perbedaan-perbedaan doktrinal — pertama-tama antara Luther dan Zwingli, kemudian antara Luther dan John Calvin — akibatnya terbentuklah denominasi-denominasi Protestan yang berbeda-beda dan saling bersaing, seperti Lutheran, Reformed, Puritan, dan Presbiterian. Sebab, proses, dan akibat reformasi agama berbeda-beda di tempat-tempat lain; Anglikanisme muncul di Inggris dengan Reformasi Inggris, dan banyak denominasi Protestan yang muncul dari denominasi-denominasi Jerman. Para reformator turut mempercepat laju Kontra Reformasi dari Gereja Katolik. Reformasi Protestan disebut pula Reformasi Jerman atau Revolusi Protestan.
November 17, 2010, 08:33:58 AM
Reply #41
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 693
  • Gender: Female
  • Jesus is always inside of me
@bee:
oh gt ya..
Btw Alkitab yg dicetak pertama kali dgn yg skrg mngalami perubahan ga ya? Dan itu Alkitab yg dipakai umat Katolik atau Protestan ya?, sebab sepengetahuan saya Alkitab Katolik dan Protestan ada perbedaan pd beberapa bab.
ni fakta2 mengenai alkitab...silakan di baca... ^_^
Fakta-Fakta Alkitab
1. Alkitab adalah buku paling laris di dunia.
2. Sekitar 50 buku Alkitab terjual setiap menit.

3.Di RRC dalam seratus tahun terakhir Alkitab terjual sebanyak 350 juta jilid.

4. Alkitab ditulis oleh lebih dari 40 orang yang berbeda dengan berbagai profesi.

5. Alkitab ditulis dari tiga benua, Asia, Afrika dan Eropa.
6. Alkitab ditulis dalam jangka waktu 1500 tahun.

7. Kata “Bible” berasal dari bahasa Yunani “Biblia” yang artinya buku-buku. Tentu saja, karena alkitab sendiri terdiri dari gabungan buku-buku.

8. Alkitab terdiri dari 66 kitab. 39 Perjanjian lama dan 27 Perjanjian baru.
9. Alkitab terdiri dari 773.692 kata dan membutuhkan waktu 70 jam untuk membacanya sampai habis.

10. Alkitab terdiri dari 1.189 pasal dan 30.861 ayat. Perjanjian lama ada 929 pasal dan 23.203 ayat, sedangkan perjanjian baru ada 260 pasal dan 7659 ayat.

11. Di dalam keseluruhan Alkitab terdapat 8.674 kata Ibrani yang berbeda, 5.624 kata Yunani yang berbeda dan 12.143 kata bahasa Inggris yang berbeda.

12. Kitab perjanjian lama ditulis dalam bahasa Ibrani dan Perjanjian baru dalam bahasa Yunani. Namun saat ini telah diterjemahkan kedalam 6000 bahasa lebih.

13. Kitab terpanjang di Alkitab adalah Kitab Mazmur dan kitab terpendek adalah Kitab II Yohanes.

14. Mazmur 118 adalah pasal yang terletak persis di tengah Alkitab.
15. Ada 594 pasal masing-masing sebelum dan sesudah Mazmur 118.
16. Apabila seluruh pasal Alkitab dijumlahkan, diluar Mazmur 118, seluruhnya berjumlah 1188 pasal.

17. Mirip dengan angka 1188, Mazmur pasal 118:8 juga merupakan ayat yang terletak di tengah-tengah alkitab. Bunyinya : "Lebih baik berlindung pada TUHAN dari pada percaya kepada manusia."

18. Sebelum Mazmur 118, Mazmur 117 adalah pasal terpendek dari Alkitab.

19. Setelah Mazmur 118, Mazmur 119 adalah pasal terpanjang di Alkitab.

20. Total janji di dalam Alkitab 1.260, total perintah 6.468, prediksi lebih dari 8.000, Nubuat yang sudah digenapi 3.268, nubuat yang belum digenapi 3.140, jumlah pertanyaan 3.294.

21. Terjemahan Alkitab pertama kali ke bahasa Inggris dipelopori oleh John Wycliffe dan diselesaikan oleh John Purvey pada tahun 1388.

22. Pencetakan alkitab dengan mesin cetak pertama kali dilakukan oleh Johannes Gutenberg pada 15 Agustus 1456.

23. Pemisahan pasal pada alkitab pertama kali dilakukan oleh Stephen Langton pada tahun 1228. Perjanjian lama dipisahkan dengan ayat pertama kali dilakukan oleh R. Nathan pada tahun 1488. Dan perjanjian baru dipisahkan dengan ayat pertama kali dilakukan oleh Robert Stephanus pada tahun 1551.

24. Alkitab pertama yang dicetak dengan pemisahan ayat pada perjanjian lama adalah kitab perjanjian lama Bahasa latin yang dicetak oleh Pagninus pada tahun 1528. Sedangkan alkitab Bahasa Inggris dengan pemisahan pasal dan ayat pertama kali muncul pada Geneva Bible tahun 1560.

25. Kalimat pertama di Alkitab adalah, “Pada Mulanya...”
26. Kata terakhir yang tertulis di Alkitab adalah “Amin”
27. Kalimat “Jangan takut” muncul sebanyak 365 kali di dalam Alkitab. Sama jumlahnya dengan hari dalam setahun. Artinya Tuhan ingin kita menjalani setiap hari tanpa ketakutan.

26. Kata “Kristen” hanya muncul 3 kali di dalam Alkitab.
27. Pada tahun 1631, dua mesin cetak dari London Bible melakukan kesalahan dengan tidak mencetak kata "not' dari perintah Allah ke-7, yang kemudian terbaca "Thou shalt commit adultery" atau berarti "hendaklah kamu berzinah". Alkitab yang salah cetak ini kemudian dikenal sebagai "The Wicked Bible"

28. Tercatat ada 7 kali kasus bunuh diri di Alkitab.
29. Kata “Trinitas” atau “Tritunggal” tidak pernah tercatat di Alkitab.
30. Kata “pujian” dan “sukacita dalam berbagai bentuknya disebut sebanyak 550 kali di dalam Alkitab.

31. Waktu antara pasal 6-7 kitab Ezra, Confusius dan Budha meninggal (516-458 SM)

32. Kitab Ester dan kitab kidung agung adalah kitab yang tidak pernah menyebut kata "TUHAN".

33. Kata terpanjang di alkitab adalah "Mahershalalhashbaz" yang ditemukan di Yesaya 8:1.

34. Dalam 260 pasal Perjanjian Baru, Kedatangan Yesus kedua kali ditulis sebanyak 318 kali. Berarti lebih banyak janji kedatangannya yang kedua kali dibanding jumlah pasal perjanjian baru.

35. Abraham adalah orang pertama di Akitab yang disebut Yahudi.
36. Orang tertua di Alkitab adalah Metusaleh. Dia meninggal pada saat berusia 969 tahun.

37. Ada dua orang yang tidak pernah meninggal di Alkitab, yaitu Henokh dan Elia. Mereka diangkat ke surga.

38. Orang paling bijak di Alkitab adalah Salomo.
39. Orang paling kuat di Alkitab adalah Samson.
40. Prajurit paling hebat adalah Gideon. Dengan bantuan Tuhan ia mengalahkan 135.000 orang midian.

41. Raja Salomo memiliki 700 istri dan 300 selir. Bayangkan jumlah mertuanya.

42. Orang tertinggi di Alkitab adalah Goliat yang memiliki tinggi 9,5 kaki atau sekitar 3 meter.

43. Sebuah kereta perang pada jaman Salomo membutuhkan biaya sekitar 77.000 USD untuk membuatnya.

salam,
Bee...  :happy0025:
November 17, 2010, 09:56:45 AM
Reply #42
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 13165
  • Gender: Male
  • Gal 5:14-15
    • Pargodungan
  • Denominasi: Lutheran
Mantap bee..
Tapi itu fakta dari Alkitab versi protestan kan??
November 17, 2010, 10:04:53 AM
Reply #43
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 693
  • Gender: Female
  • Jesus is always inside of me
Mantap bee..
Tapi itu fakta dari Alkitab versi protestan kan??


isshhh...bukan la...itu fakta alkitab berdasarkan sejarah....
November 17, 2010, 10:13:39 AM
Reply #44
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 13165
  • Gender: Male
  • Gal 5:14-15
    • Pargodungan
  • Denominasi: Lutheran
@bee Perhatikan baik2 pada nomor 8..
Alkitab terdiri dari 66 kitab..
Alkitab protestan tuh..
Alkitab katolik kan bukan 66..
Ada tambahan deuterokanonika loh..
:o
November 17, 2010, 10:16:41 AM
Reply #45
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 693
  • Gender: Female
  • Jesus is always inside of me
@bee Perhatikan baik2 pada nomor 8..
Alkitab terdiri dari 66 kitab..
Alkitab protestan tuh..
Alkitab katolik kan bukan 66..
Ada tambahan deuterokanonika loh..
:o

ehhh....iya juga ya....
woahhhh...berarti ane kudu demo ni ama guru ane....
November 17, 2010, 10:17:59 AM
Reply #46
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 13165
  • Gender: Male
  • Gal 5:14-15
    • Pargodungan
  • Denominasi: Lutheran
@bee
koq demo??
:bingung
November 17, 2010, 10:20:38 AM
Reply #47
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 693
  • Gender: Female
  • Jesus is always inside of me
@bee
koq demo??
:bingung

abis apa dumz??? pan dia yang ngasi waktu dulu...
November 17, 2010, 10:35:19 AM
Reply #48
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 956
Yesus tidak menulis Kitab Suci

Pernahkah anda bertanya dalam hati: “Mengapa Yesus sendiri tidak menulis Kitab
Suci?” Bukankah hal ini lebih baik, sehingga tidak ada pertanyaan tentang asal usul
Kitab Suci di kemudian hari? Demikianlah, mungkin hingga saat ini banyak orang
mempertanyakannya, bahkan sampai pada titik menolak untuk percaya kepada Kitab Suci
dan kepada pesan Keselamatan yang tertulis di dalamnya; bahwa Yesus, Sang Putera
Allah menjelma menjadi manusia untuk menyelamatkan kita.

Lalu bagaimana seharusnya sikap kita? Mari merenungkan hal ini: Yesus adalah Sang
Sabda Allah yang menjelma menjadi manusia (Yoh 1:14). Pribadi-Nya sendiri adalah
Sabda Allah: Dia-lah “Kitab Suci” yang hidup. Maka dapat dimengerti jika Yesus tidak
menulis Kitab Suci, karena Ia tidak ingin membatasi Diri-Nya hanya pada ajaran dan
peraturan yang tertulis oleh huruf-huruf. Ia tidak menulis Kitab Suci karena Ia
menghendaki semua orang untuk melihat dan membaca Pribadi-Nya yang tak terbatas. Di
sanalah tertulis segala kesempurnaan ajaran, teladan, dan gambaran Allah sendiri.
Bukankah bahkan dalam kehidupan sehari-hari, kita mengetahui bahwa seorang pemimpin,
seniman ataupun guru yang terbesar adalah ia yang berhasil membentuk murid-muridnya
untuk menjadi pemimpin, seniman, ataupun guru yang besar juga? Demikianlah, dalam
kebijaksanaan-Nya, Allah membentuk manusia, untuk mengikuti teladan-Nya untuk
mencapai kehidupan kekal seperti yang ditunjukkan oleh Yesus Kristus. Untuk
mewujudkan rencana-Nya, Allah memilih orang-orang beriman tertentu yang dibimbing
secara khusus oleh ROH KUDUS-Nya, untuk menuliskan rencana Keselamatan-Nya ini.
Asal usul Kitab Suci

Maka umat Kristiani percaya bahwa Kitab Suci bukan merupakan kitab yang ‘jatuh’ dari
surga, ataupun kitab yang dituliskan oleh Kristus, melainkan Kitab yang terdiri dari
kitab-kitab yang ditulis oleh orang-orang pilihan Allah yang diilhami ROH KUDUS.
Nah, pertanyaannya, dari mana kita tahu bahwa kitab-kitab tertentu diilhami oleh Roh
Kudus, sedangkan ada banyak kitab lainnya ‘hanya’ merupakan karya manusia? Sejarah
menunjukkan bahwa yang menentukan apakah suatu kitab tertentu diilhami ROH KUDUS
atau tidak adalah Gereja Katolik. Hal ini mungkin karena kita percaya bahwa Gereja
Katolik dipimpin oleh para rasul dan para penerusnya yang dibimbing oleh ROH KUDUS.
Karena ROH KUDUS ini adalah Roh yang sama dengan Roh yang mengilhami penulisan
kitab-kitab itu, maka peneguhan yang ditetapkan oleh Gereja tentang kitab-kitab
tersebut tidak mungkin keliru, karena ROH KUDUS tidak mungkin mempertentangkan
Diri-Nya sendiri.

Jika kita tidak mempercayai hal ini, kita sama saja dengan mempertanyakan janji
Kristus yang mengatakan akan menyertai para rasul-Nya sampai akhir zaman (lih. Mat
28:19-20). Kita tahu, bahwa para rasul semuanya telah wafat, sehingga janji
penyertaan-Nya sampai akhir zaman hanya mungkin diartikan bahwa Yesus akan menyertai
para pengganti rasul- rasul tersebut, dan menjaga mereka dari kesesatan dalam
kapasitasnya memimpin Gereja dan melestarikan ajaran Kristus. Maka, dengan mengimani
janji Kristus itu, kita percaya bahwa para pengganti rasul diilhami oleh ROH KUDUS
untuk meneguhkan kitab-kitab mana yang diilhami ROH KUDUS, yang kemudian membentuk
Kitab Suci.

Wahyu Ilahi diberikan kepada beberapa orang pilihan-Nya untuk dituliskan

Allah memberikan wahyu Ilahi kepada banyak orang pilihan-Nya, tidak hanya kepada
satu orang saja, untuk dituliskan. Justru karena penulisan Alkitab melibatkan banyak
orang selama jangka waktu ribuan tahun, maka secara objektif kita melihat campur
tangan Allah dalam hal ini. Wahyu Ilahi ini diberikan dalam sejarah manusia, yaitu
kepada para nabi dalam Perjanjian Lama, dan selanjutnya diteruskan oleh para rasul
dan para muridnya untuk menyampaikan penggenapan Perjanjian Lama dalam diri Kristus
dalam Perjanjian Baru. Ini adalah karya Allah yang sangat mengagumkan, dan justru
tidak mungkin salah, karena wahyu tersebut tidak tergantung oleh satu orang saja,
namun melibatkan banyak orang dari banyak generasi. Bagaimana naskah- naskah kitab
yang terpisah satu sama lain yang ditulis oleh orang-orang yang bisa saja tidak
saling kenal satu sama lain, karena terpisah oleh jarak dan waktu/ perbedaan
generasi, namun yang memberikan inti pengajaran yang sama, yang pada akhirnya
menunjuk dan membuka jalan bagi kedatangan Kristus, itulah yang seharusnya membuat
kita tertunduk kagum. Betapa indahnya rencana keselamatan Allah yang melibatkan
umat-Nya. Keikutsertaan manusia dalam rencana keselamatan Allah ini tidak mengurangi
kemuliaan-Nya, namun semakin melipat-gandakannya. Ia membuktikan DiriNya Mahakuasa,
karena Ia memampukan manusia yang lemah untuk mengambil bagian dalam rencana
Keselamatan-Nya; baik dalam menuliskan, menyebarluaskan dan melestarikan Kitab Suci,
dan tentu saja, dalam melaksanakannya, jika manusia mau bekerjasama dengan Dia.

Peran Gereja Katolik

Dari bukti sejarah kita melihat adanya banyak kitab yang menceritakan tentang Allah.
Tentu orang berhak bertanya, mana kitab yang benar, mana yang tidak. Semua orang
tentu dapat mempunyai penilaian sendiri-sendiri, namun berbahagialah kita yang
percaya bahwa Allah menyertai Gereja-Nya dengan ROH KUDUS-Nya, sehingga Gereja yang
bertindak atas nama Kristus itulah yang paling berwewenang untuk menentukan kitab
mana yang otentik diilhami ROH KUDUS, dan kitab mana yang tidak. Karena bimbingan
ROH KUDUS pada Gereja Katolik inilah, maka kita percaya bahwa kitab-kitab yang
ditetapkan oleh Gereja adalah sungguh yang ditetapkan oleh Allah sendiri.

Bukti sejarah ini sungguh membuka mata kita bahwa sesungguhnya Kitab Suci yang kita
kenal sekarang ada karena Gereja Katolik, yang menetapkan kanon Kitab Suci. Kata
‘kanon’ sendiri berarti ‘batang pengukur’ atau ‘standar’. Jadi kanon Kitab Suci
adalah daftar kitab-kitab yang diinspirasikan oleh ROH KUDUS yang membentuk Kitab
Suci, yang ditentukan oleh tradisi apostolik Gereja Katolik.

Kitab Suci saja (‘Bible alone’) tidak cukup

Ada kelompok orang-orang yang mengatakan bahwa hanya Kitab Suci yang menjadi sumber
satu-satunya iman Kristen. Namun, pendapat ini tidak dapat menjelaskan bagaimana
kita dapat tahu dengan pasti bahwa kitab-kitab tertentu termasuk dalam Kitab suci
sedangkan kitab yang lainnya tidak. Sebab, kanon Kitab Suci tidak diketahui dari
Kitab Suci itu sendiri. Di dalam Kitab Suci (dari Kejadian sampai Wahyu) tidak
disebutkan bahwa kitab ini dan itu termasuk Kitab Suci, sedang kitab yang lain
tidak. Maka, secara objektif sesungguhnya dapat kita lihat, bahwa berpegang pada
Kitab Suci saja tidaklah cukup. Peran Gereja menjadi sangat penting, karena Gereja
lahir terlebih dahulu dari Kitab Suci. Gereja Katolik yang didirikan oleh
Kristus-lah yang menjadi saksi otoritatif yang dapat menentukan apakah kitab-kitab
tersebut diilhami oleh ROH KUDUS atau tidak. Peran Gereja Katolik ini diakui juga
oleh pendiri gereja Protestan, Martin Luther, yang mengatakan, “Kita diwajibkan
untuk bersandar pada Gereja Katolik- bahwa mereka memiliki Sabda Tuhan yang kita
terima dari mereka, jika tidak, kita tidak dapat mengetahui apapun tentang itu.”

Kanon Kitab Suci menurut Gereja Katolik

Kanon Kitab Suci yang ditetapkan menurut tradisi apostolik Gereja adalah Perjanjian
Lama terdiri dari 46 kitab dan Perjanjian Baru terdiri atas 27 kitab. Mungkin
kita pernah mendengar bahwa Gereja Katolik dikatakan ‘menambahkan’ 7 kitab dalam
Perjanjian Lama, yaitu Kebijaksanaan Salomo, Sirakh, Yudit, Barukh, Tobit, 1 dan 2
Makabe (beserta tambahan Kitab Daniel dan Esther), yang dikenal dengan Kitab
Deuterokanonika. Tetapi sesungguhnya, ketujuh kitab tersebut sudah ada sejak
jemaat awal. Baru sekitar 1500 tahun kemudian, Martin Luther memisahkan ketujuh
kitab ini dari kanon Perjanjian Lama. Kitab-kitab ini digabungkan dengan kitab-kitab
lain yang umum disebut sebagai kitab Apokrif/ “Apocrypha” oleh Gereja Protestan.

Kanon Perjanjian Lama (PL)

Kanon Perjanjian Lama gereja Protestan diambil berdasarkan kanon kaum Yahudi yang
berbahasa Ibrani di Palestina. Sedangkan kanon Perjanjian Lama Gereja Katolik
berdasarkan atas kanon kaum Yahudi yang berbahasa Yunani (Alexandria) di seluruh
Mediterania, termasuk di Palestina. Alexandria adalah kota di Mesir yang mempunyai
perpustakaan terbesar pada jaman itu, di bawah kepemimpinan Raja Ptolemy II
Philadelphus (285-246 BC). Maka keseluruhan Kitab Suci Ibrani diterjemahkan ke dalam
bahasa Yunani oleh 70 atau 72 orang ahli kitab Yahudi. Terjemahan ini selesai pada
tahun 250-125 BC, dan dari sanalah kita mengenal kata “Septuagint” yaitu kata Latin
dari 70 (LXX), sesuai dengan jumlah para penerjemah itu.

Pada jaman Yesus hidup, bahasa Ibrani adalah bahasa yang mati/ tidak digunakan.
Orang-orang Yahudi di Palestina pada saat itu umumnya bicara dengan bahasa Aramaic.
Sedangkan pada waktu itu, bahasa Yunani merupakan bahasa yang umum dipergunakan di
seluruh dunia Mediteranian. Maka tak mengherankan bahwa yang Alkitab yang
dipergunakan oleh Yesus adalah terjemahan Septuagint/ Yunani, dan terjemahan
Septuagint ini pula yang dipergunakan oleh para penulis kitab Perjanjian Baru.

Pengarang Protestan yang bernama Gleason Archer dan G.C. Chirichigno membuat daftar
yang menyatakan bahwa Perjanjian Baru mengutip Septuagint sebanyak 340 kali, dan
hanya mengutip kanon Ibrani sebanyak 33 kali. Dengan demikian, kita ketahui bahwa
dalam Perjanjian Baru, terjemahan Septuagint dikutip sebanyak lebih dari 90%. Jangan
lupa, seluruh kitab Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani.

Mengapa PL menurut Septuagint berisi 46 kitab sedangkan kanon Ibrani 39 kitab

Kanon Ibrani ditetapkan oleh para rabi Yahudi di Javneh/Jamnia, Palestina, pada
sekitar tahun 100, yang kemungkinan disebabkan oleh reaksi mereka terhadap Gereja
yang menggunakan kanon Yunani (Alexandria). Alasan mereka tidak memasukkan seluruh
kitab ini ke dalam kanon mereka adalah karena mereka tidak dapat menemukan ke-7
kitab Deuterokanonika tersebut dalam versi Ibrani. Namun Gereja Katolik tidak
mengakui keputusan para rabi Yahudi tersebut. Jangan kita lupa, bahwa mereka (para
rabi Yahudi) tidak pernah menerima Kristus, ajaran Kristiani maupun Perjanjian Baru
yang sudah ada sebelum kanon Ibrani ditetapkan. Bagaimana kita dapat mempercayai
keputusan para rabi Yahudi untuk menentukan kanon Kitab Suci? Atau mengakui bahwa
mereka dipimpin oleh ROH KUDUS, padahal mereka malah telah menolak Kristus?

Memang harus diakui bahwa karena wahyu ilahi diberikan pertama-tama melalui bangsa
Yahudi, maka tak mengherankan jika Alkitab kita mengandung kitab-kitab suci yang
diakui juga oleh kaum agama Yahudi. Menurut The Pontifical Biblical Commision, on
The Jewish People and Their Sacred Scriptures in the Christian Bible, (I, E,
3.Formation of the Christian Canon), disebutkan:

“Di Gereja- gereja Timur pada jaman Origen (185-253) ada usaha untuk menyesuaikan
dengan kanon Ibrani…. [Namun] usaha untuk menyesuaikan teks Ibrani dalam kanon
Ibrani tidak menghalangi para pengarang Kristen di gereja-gereja Timur untuk
menggunakan kitab-kitab yang tidak termasuk dalam kanon Ibrani, atau yang mengikuti
teks Septuagint. Maka pendapat bahwa – kanon Ibrani yang seharusnya dipilih oleh
umat Kristiani- tidak dipilih oleh gereja-gereja Timur, atau setidak-tidaknya tidak
ada kesan yang mendukung ke arah itu. Di gereja-gereja Barat, penggunaan Septuagint
adalah umum dan dipertahankan oleh St. Agustinus (354-430). Ia melandaskan
pandangannya pada praktek yang telah berlangsung lama dalam Gereja.”

Maka berdasarkan penggunaan kitab-kitab yang telah lama berakar di Gereja, Gereja
Katolik menetapkan kanon Kitab Suci pada Konsili di Hippo 393 dan Carthage 397,
yaitu 46 kitab dari kanon Yunani (Septuagint) sebagai kanon Perjanjian Lama/PL dan
27 kitab Perjanjian Baru/ PB termasuk di sini adalah ketujuh kitab di PL yang
disebut sebagai Deuterokanonika. Para Bapa Gereja, baik sejak jaman Kristen abad
pertama, Polycarpus, Irenaeus, Clement dan Cyprian mengutip kitab-kitab
Deuterokononika tersebut dalam pengajaran mereka, sebab mereka menganggap
kitab-kitab tersebut diilhami oleh ROH KUDUS, sama dengan kitab-kitab PL lainnya.
Sejak saat diresmikannya kanon Kitab Suci pada abad ke-4, Septuagint ini diterima
oleh umat Kristiani, kecuali oleh mereka yang kemudian menolaknya pada sekitar tahun
1529 bersamaan dengan pemisahan diri mereka dari kesatuan dengan Gereja Katolik.
Jadi tidak benar bahwa Kitab Deuterokanonika baru ditambahkan pada tahun 1546 pada
Konsili Trente; ini adalah mitos yang sangat keliru!

(bersambung)
November 17, 2010, 10:35:46 AM
Reply #49
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 956
(lanjutan)


PL menurut Martin Luther dan gereja Protestan

Dengan berpegang pada kanon Ibrani berdasarkan Konsili Jamnia dan pendapat St.
Jerome, gereja Protestan menganggap ke- 39 kitab sebagai kanon Perjanjian Lama.
Namun demikian sebenarnya alasan ini tidak cukup kuat, karena walaupun St. Jerome
pernah menyatakan pendapatnya yang menolak status kanonik kitab Yudit, Tobit,
Makabe, Sirakh dan Kebijaksanaan, ia pada akhirnya dengan rendah hati tunduk pada
keputusan Gereja, dengan memasukkan kitab-kitab tersebut ke dalam terjemahan Kitab
Suci berbahasa Latin, “the Vulgate”. Juga penelitian terakhir dari the Dead Sea
Scroll di Qumran menunjukkan ditemukannya copy naskah berbahasa Ibrani dari beberapa
kitab yang dipermasalahkan (yang tidak termasuk kanon Ibrani). Selanjutnya,
penemuan naskah Ibrani pada sebagian besar kitab Sirakh/ Ecclesiaticus di Mesir
memperkuat anggapan para ahli kitab suci bahwa kitab Sirakh tersebut diterjemahkan
ke bahasa Yunani dari bahasa Ibrani.

Bukti-bukti ini sesungguhnya memperkuat bahwa Septuagint adalah terjemahan awal yang
lengkap dan otentik, hanya saja dengan berselangnya waktu, naskah Ibrani dari
beberapa kitab ini tidak dapat ditemukan seluruhnya. Jika suatu saat nanti ditemukan
semua naskah Ibraninya, barangkali semua menjadi lebih jelas. Namun dengan
ditemukannya sebagian saja dari naskah Ibrani kitab tersebut, itu sudah menunjukkan
bahwa alasan mencoret keberadaan kitab Deuterokanonika dari kanon hanya karena tidak
dapat ditemukan naskah Ibrani-nya, sesungguhnya bukan merupakan alasan yang kuat.
Sebab, jika suatu saat dapat ditemukan semua naskah Ibrani-nya, bagaimana
mempertanggungjawabkan pendapat ini?

Juga perlu direnungkan, mengapa gereja Protestan mengambil dasar konsili Jamnia
sebagai dasar penentuan kanon PL, sebab konsili itu tidak umum diketahui oleh kaum
Yahudi dan hasil konsili tersebut tidak diterima oleh segenap kaum Yahudi. Kaum
Saduki dan Samaria tidak menerimanya, bahkan kaum Yahudi di Ethiophia sampai
sekarang mempunyai kitab PL yang sama dengan yang kanon PL Gereja Katolik.

Sekarang mari kita melihat fakta sejarah. Walaupun Luther mempertanyakan
penetapan 46 kitab dalam kanon PL, namun ia sendiri tetap menyertakan Kitab
Deuterokanonika tersebut dalam terjemahan Alkitab pertamanya dalam bahasa Jerman
pada tahun 1530. Kitab Deuterokanonika juga ditemukan dalam edisi pertama King James
Version pada tahun 1611, dan pada saat pertama Alkitab dicetak. Maka kitab
Deuterokanonika memang sudah termasuk dalam semua Alkitab (setidak-tidaknya sebagai
appendix dalam Alkitab Protestan) sampai pada tahun 1825, yaitu saat Komite
Edinburgh dari the British Foreign Bible Society ‘memotongnya’. Maka terlihat bahwa
bukan Gereja Katolik yang menambahkan Kitab Deuterokanonika, melainkan gereja
Protestan yang menguranginya dari keseluruhan Kitab Suci.

Perlu juga diketahui bahwa Luther mempertanyakan keaslian kitab 2 Makabe, dari segi
historis dan karena di kitab tersebut juga berisi dasar doktrin Api Penyucian, yang
bertentangan dengan prinsip-nya “Salvation by faith alone”. Pandangan inilah yang
sering dianggap sebagai alasan mengapa Luther memisahkan kitab Deuterokanonika
sebagai “Apokrif ‘Apocrypha’, yaitu kitab-kitab yang tidak dianggap sama seperti
Kitab Suci lainnya namun sebagai kitab yang berguna dan baik untuk dibaca.”
Sayangnya, setelah jaman Reformasi, arti ‘apocrypha’ –yang terjemahan bebasnya
adalah ‘tersebunyi’ ini memperoleh konotasi negatif, sehingga diartikan sebagai
‘salah/ sesat’.

Kanon PL mana yang kita pilih?

Jika kita memilih untuk berpegang pada Kitab Suci yang mengandung ketujuh kitab
tersebut, artinya, kita mengikuti tradisi para rasul, para penulis kitab Perjanjian
Baru dan para jemaat awal. Namun jika kita berpegang pada Kitab Suci yang tidak
mencantumkan ketujuh kitab itu, artinya kita mengikuti tradisi para rabi Yahudi
non-Kristen yang kemudian diikuti oleh gereja Protestan.

Kanon Perjanjian Baru (PB)

Mengenai hal kanon PB, baik Gereja Katolik maupun Protestan setuju, bahwa terdapat
27 kitab di dalam kitab Perjanjian Baru. Kitab pertama PB dituliskan sekitar tahun
50, yaitu 1 Tesalonika, dan yang terakhir, Wahyu, pada tahun 90-100. Pertanyaannya
sekarang adalah, bagaimana sampai diperoleh Kitab Perjanjian Baru tersebut, jika
pada waktu yang sama dituliskan kitab-kitab lain, yang mengundang perbedaan pendapat
dalam kelompok jemaat mengenai hal ke-otentikan kitab sebagai yang diilhami Roh
Kudus. Misalnya ada yang berpendapat bahwa kitab Ibrani, Yudas, Wahyu dan 2 Petrus
itu tidak diilhami ROH KUDUS, sedangkan sebaliknya ada yang berpendapat bahwa kitab
Hermas, Injil Petrus dan Thomas, surat Barnabas dan Clement adalah tulisan yang
diilhami ROH KUDUS. Gereja memahami situasi ‘kebingungan’ ini maka pada akhir abad
ke- 4 dimulailah suatu konsili dan dekrit yang memutuskan Kanon seluruh Kitab Suci,
sebagai berikut:

 1. Tahun 382, Paus Damasus I, didorong oleh Konsili Roma, menulis dekrit yang
menentukan ke 73 kitab, PL dan PB.

 2. Tahun 393, Konsili Hippo di Afrika Utara menyetujui adanya ke-73 kitab
tersebut dalam kanon Kitab Suci, PL dan PB.

 3. Tahun 397, Konsili Carthage/ Carthago, Afrika Utara, kembali menyetujui kanon
PL dan PB tersebut. Banyak gereja Protestan yang menganggap konsili ini sebagai yang
menentukan secara otoritatif kanon Perjanjian Baru.

 4. Tahun 405, Paus St. Innocentius I (401-417) menulis surat kepada Uskup
Exsuperius dari Toulouse, menetapkan ke 73 kitab seperti yang disetujui oleh Konsili
Hippo dan Carthage.

 5. Tahun 419, Konsili ekumenikal di Florence secara resmi mendefinisikan daftar
ke-73 kitab yang sama tersebut dalam kanon Kitab Suci.

 6. Tahun 1546, Konsili ekumenikal di Trente meneguhkan lagi kanon Kitab Suci yang
terdiri dari ke-73 kitab tersebut.

 7. Tahun 1869, Konsili ekumenikal Vatikan I kembali meneguhkan daftar kitab yang
disebutkan dalam Konsili Trente.

Maka kita ketahui dalam waktu 40 tahun dari tahun 382 sampai 419 diadakan beberapa
konsili dan keputusan Bapa Paus tentang Kanon Kitab Suci sampai akhirnya ke-73 kitab
tersebut diterima secara umum oleh Gereja pada sekitar tahun 450.

Gereja Katolik menggunakan wewenang mengajarnya untuk meneguhkan kanon Kitab Suci
tersebut, dan kita patut bersyukur atas campur tangan ROH KUDUS yang memimpin Gereja
Katolik dalam hal ini. St. Agustinus berkata, “Saya tidak akan percaya pada Injil
seandainya otoritas Gereja Katolik tidak mengarahkan saya untuk itu”. Maka St.
Agustinus mengakui bahwa kepastian akan keaslian kitab tertentu sebagai yang sungguh
diilhami oleh ROH KUDUS adalah dengan menerima ketentuan yang ditetapkan oleh Gereja
Katolik, dan dengan demikian mengakui juga otoritas Gereja Katolik. Suatu
permenungan adalah: jika kita meragukan otoritas Gereja Katolik, maka kita
sesungguhnya juga menentang Para Bapa Gereja, seperti St. Agustinus. Adakah kita
lebih pandai dan lebih diilhami ROH KUDUS daripada mereka?

Kesimpulan

Dari uraian di atas, kita mengetahui bahwa Kitab Suci berkaitan erat dengan Gereja
Katolik. Kitab Perjanjian Lama ditetapkan berdasarkan terjemahan yang diakui oleh
Gereja Katolik. Kitab Perjanjian Baru ditulis, diperbanyak, dikumpulkan dan
dilestarikan oleh Gereja Katolik. Dari kanon yang ditetapkan oleh Gereja Katolik
inilah semua gereja yang lain memperoleh Kitab Suci. Namun bukan berarti bahwa
otoritas Gereja Katolik-lah yang menciptakan Kitab Suci, sebab Roh Kuduslah yang
memberi inspirasi kepada para penulis Kitab Suci. Yang benar adalah, Gereja Katolik
diberi kuasa ilahi oleh Yesus Kristus sendiri untuk secara resmi meneguhkan dan
menentukan secara dogmatis daftar kitab-kitab tertentu sebagai kitab yang
diinspirasikan oleh ROH KUDUS. Penentuan ini tidak mungkin salah, sebab Gereja
dipimpin oleh ROH KUDUS yang tidak mungkin salah. Mari bersama, kita dengan rendah
hati mensyukuri rahmat bimbingan ROH KUDUS terhadap Gereja Katolik yang olehnya kita
memperoleh Kitab Suci. Mari kita tunjukkan ketaatan iman kita kepada Kristus dengan
mempercayai ketentuan yang ditetapkan oleh Gereja yang didirikan-Nya. Dan akhirnya,
mari bersama-sama kita belajar lebih tekun membaca dan merenungkan Kitab Suci, yang
sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Gereja Katolik.


GBU
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)