Author Topic: Mutiara di Balik Pengalaman Pahit (Pdt. Manati I. Zega, S.Th.)  (Read 1925 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

September 19, 2008, 09:32:25 AM
  • FK - Full Member
  • ***
  • Posts: 177
  • Gender: Male
  • Sola Scriptura!
    • Fides quaraens intellectum!
MUTIARA DI BALIK PENGALAMAN PAHIT

oleh: Pdt. Manati Immanuel Zega, S.Th.
(Pendeta di Gereja Utusan Pentakosta di Indonesia–GUPdI Pasar Legi, Solo)




Nats: Kejadian 39:1-23





Perjalanan hidup manusia merupakan sebuah misteri. Misteri yang saya maksudkan, bukanlah seperti yang kita saksikan akhir-akhir ini di media TV, yakni sesuatu yang horor, menakutkan dan membahayakan. Misteri yang dimaksud adalah sesuatu yang rahasia, belum kita tahu persis apa yang bakal terjadi di hadapan kita. Setengah jam mendatang, kita tidak tahu dengan tepat apa yang akan melanda hidup kita.

Dalam menjalani hidup yang misteri ini, seringkali kita mendapatkan berbagai pengalaman. Pengalaman tersebut bisa berupa pengalaman pahit, atau bisa juga pengalaman manis dan menyenangkan. Berbicara mengenai pengalaman, maka harapan kebanyakan orang adalah mendapatkan pengalaman manis dan menyenangkan. Tidak ada orang yang merindukan pengalaman-pengalaman pahit. Mengapa? Karena pada dasarnya, orang lebih suka yang menyenangkan daripada yang pahit.

Atau, hal lain banyak orang Kristen yang salah mengerti, karena pikirnya pengalaman-pengalaman pahit, disebabkan Tuhan tidak mengasihinya atau Tuhan telah jauh dari hidupnya. Oleh karenanya, kalau bisa pengalaman pahit ditolak dan tidak usah terjadi dalam hidup ini.

Tetapi sebagai anak Tuhan, sebagai orang percaya, pertanyaan yang harus kita gumulkan adalah apakah semua pengalaman pahit merupakan indikasi bahwa Tuhan tidak menyertai umat-Nya? Apakah benar bahwa pengalaman pahit merupakan sesuatu yang sangat negatif sehingga kita harus menolaknya?

Dari pembacaan Firman Tuhan tersebut di atas, marilah kita belajar bahwa pengalaman-pengalaman hidup yang pahit sesungguhnya ada manfaatnya agar kita dapat mengenal dengan lebih baik Tuhan yang kita ikuti.

Dalam perjalanan hidupnya, Yusuf diizinkan Tuhan untuk mengalami berbagai pengalaman pahit, pengalaman yang secara manusiawi tidak menyenangkan atau tidak disukai. Pengalaman apa itu?
•    Pengalaman ditolak oleh saudara sendiri.
Alkitab memberikan informasi bahwa ketika Yusuf berusia 17 tahun, dia bersama saudara-saudaranya menggembalakan domba. Ketika mereka menggembalakan domba, Yusuf menyaksikan saudara-saudaranya melakukan kejahatan. Lalu, sebagai seorang yang mengasihi Tuhan dan saudara-saudaranya, Yusuf memberitahukan kejahatan tersebut kepada ayahnya, dengan harapan mereka tidak terlalu jauh masuk ke dalam kejahatan-kejahatan berikutnya. Bagaimana respon saudara-saudaranya? Apakah mereka terima dengan senyum dan berkata: “terima kasih ya.” Alkitab memberitahukan, mereka justru sangat membenci Yusuf. (Kej. 37:2)

•    Pengalaman tidak disapa dengan ramah oleh saudara sendiri.
Mengapa? Karena kasih sayang ayahnya lebih besar kepada Yusuf dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain. Akibatnya, Yusuf semakin dibenci. (Kej. 37:4)

•    Pengalaman dianggap sebagai pembual.
Hal ini, disebabkan adanya mimpi. Dalam mimpi pertamanya, Yusuf menceritakan demikian: “sementara kita di ladang sedang mengikat berkas-berkas gandum, lalu bangkitlah berkasku dan berdiri tegak, lalu berkas-berkasmu datang dan sujud menyembah pada berkasku.” (Kej. 37:7). Akhirnya, mereka marah lagi kepada-Nya. Dalam mimpinya yang kedua, Yusuf menceritakan, tampak matahari, bulan dan sebelas bintang sujud menyembah kepadaku. Lalu, saudara-saudaranya iri hati kepadanya. Bahkan ayahnya sendiri marah dengan mimpi itu. Ayahnya berkata: “bagaimana mungkin aku dan ibu serta sudara-saudaramu menyembah kepadamu sampai ke tanah?” (Kej. 37:9-10)

•    Pengalaman dijual kepada pedagang Midian-orang Ismail.
Kebencian yang sudah ditumpuk sekian lama akhirnya memuncak. Saudara-saudaranya memutuskan untuk memasukkannya ke sumur kosong dan dijual kepada pedagang Midian.

•    Pengalaman dijual dengan berpindah tangan.
Orang Midian – orang Ismael yang membeli Yusuf, menjualnya kembali kepada pegawai istana Firaun, kepala pengawal raja.

•    Pengalaman menjadi narapidana.
Istri tuannya, Potifar menuduhnya telah melakukan pemerkosaan atas dirinya. Karena itu, dia harus dimasukkan penjara. (Kej. 39:20)

Saudara-saudara, kalau dilihat sepintas, mungkin kita akan berkomentar bahwa Yusuf adalah orang yang telah ditinggalkan oleh Tuhan. Mengapa? Karena sebagian orang – masyarakat Kristiani menduga bahwa orang yang terlalu banyak pengalaman pahitnya tidak dibela oleh Tuhan. Benarkah demikian? Bagaimana pengalaman pahit berubah menjadi sebuah mutiara iman yang berharga. Marilah kita belajar dari Yusuf.

Pertama, Penyertaan Tuhan Adalah Segala-galanya (Kej. 39:2, 21)
Di dalam dunia ini, ada sebagian orang yang merasa sangat bangga jika memiliki kenalan, atau sahabat seorang pejabat pemerintah. Bahkan, tidak jarang orang mengaku-ngaku familinya si A yang terkenal itu. Mengapa? Karena, dengan kedekatannya pada pejabat tertentu dapat menolong dia untuk mencapai cita-cita. Atau katakanlah sebagai sarana baginya untuk mencapai keberhasilan. Kalau, saya dekat dengan si A itu, kemungkinan besar dapat memuluskan jalannya usaha yang sedang kubangun ini.

Tetapi, bagaimana kenyataannya? Banyak orang menjadi kecewa karena ternyata orang yang dianggapnya hebat tersebut, ternyata ikut andil menghancurkan usaha yang mati-matian dibangunnya.

Namun, Yusuf berbeda. Yusuf tidak dibela oleh pejabat yang hebat, tetapi Yusuf dibela oleh satu pribadi, yakni TUHAN sendiri. Alkitab berkata: Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu. (Kej. 39:2). Di dalam terjemahan Alkitab Bahasa Indonesia sehari-hari, ayat ini berbunyi: “TUHAN menolong Yusuf sehingga ia selalu berhasil dalam semua pekerjaannya. Ia tinggal di rumah tuannya, orang Mesir itu.”

Perhatikan ayat Firman Tuhan ini. Ada hubungan yang sangat erat antara keberhasilan dalam pekerjaan dengan penyertaan Tuhan. Dan, itulah keberhasilan yang sejati. Ada orang yang berkata: usaha ini berhasil karena management yang saya terapkan sangat baik. Atau, mungkin yang lain berkata: usaha ini berhasil karena gaya kepemimpinanku yang sangat berwibawa, sehingga tidak ada karyawan yang berani macam-macam.

Saudara, jangan berbangga dulu. Firman Tuhan berkata: “keberhasilan datang karena penyertaan Tuhan.” Kalau Tuhan tidak sertai usahamu, mungkin sudah lama failit, sudah lama bangkrut. Kalau usahamu berhasil, ingat itu semata-mata karena penyertaan Tuhan. Kalau engkau tidak di PHK, ingat baik-baik semua karena anugerah Tuhan.

Pengalaman apa yang dimiliki oleh Yusuf? Apakah pernah belajar management dari sebuah universitas ternama? Apakah pernah belajar leadership dari universitas terkemuka? Tidak! Tetapi bagaimana mungkin seorang yang selalu disalah mengerti orang, bagaimana mungkin seorang yang tidak punya bekal ilmu yang memadai dapat memanage rumah kepala pengawal raja? Alkitab memberitahukan Tuhan menyertai Yusuf. Penyertaan Tuhanlah yang memungkinkan Yusuf berhasil melakukan semua tugas yang berat itu.


Kedua, Keberhasilan Tanpa Integritas Akan Hancur (Kej. 39:7, 8)
Integritas adalah menyatunya kata dan perbuatan atau menyatunya iman di dalam tindakan nyata. Alkitab berkata: .”..TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya...”

Keberhasilan merupakan anugerah Allah. Tetapi, pada tingkat tertentu keberhasilan menjadi jerat yang membuat dia lupa diri. Karena itu, keberhasilan yang sejati harus disertai dengan integritas yang teruji.

Biasanya, ada tiga hal yang menjadi ujian terhadap integritas yang biasanya orang menyebutnya TIGA TA, yakni TAHTA, HARTA, dan WANITA. Mengapa sebagian orang melakukan KKN? Alasannya sederhana, agar memperoleh harta benda yang banyak. Agar kekayaannya melimpah sebagai jaminan hari tua. Mengapa ada pemimpin yang menghalalkan segala cara, atau “money politic”? Kalau sudah terpilih, tujuannya apa? Jawabannya sederhana, supaya kembali memperoleh TAHTA. Mengapa banyak keluarga berantakan? Salah satunya, menurunnya integritas seseorang dalam hal lawan jenis atau WANITA.

Alkitab memberitahukan kita bahwa Yusuf diuji integitasnya dalam hal WANITA. Yusuf adalah seorang yang tampan, gagah dan bersikap manis. Rupanya, nyonya rumah-istri Potifar sudah lama mengamati hal itu. Dia memandang Yusuf dengan birahi, dengan nafsu seksual yang tinggi dan setiap hari merayu Yusuf agar jatuh ke pelukannya. Itu sebabnya, ketika rumah kosong – dia mengajak Yusuf berselingkuh dengannya.

Sekarang ini, banyak kasus perselingkuhan terjadi di mana-mana. Bahkan, mereka mencoba menghaluskan istilahnya dengan berkata SELINGKUH adalah Selingan Indah Yang Penting Keluarga Utuh. Dunia menganggap bahwa perselingkuhan itu sebagai selingan indah.

Tetapi kita memuji Tuhan karena Yusuf terbukti berintegritas tinggi. Buktinya? Tetapi Yusuf menolak dan berkata kepada istri tuannya itu: “Dengan bantuanku tuanku itu tidak lagi mengatur apa yang ada di rumah ini dan ia telah menyerahkan segala miliknya pada kekuasaanku, bahkan di rumah ini ia tidak lebih besar kuasanya dari padaku, dan tiada yang tidak diserahkannya kepadaku selain dari pada engkau, sebab engkau isterinya. Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?” (Kej. 39:7-8).

Perhatikan kalimat ini, ....berbuat dosa terhadap Allah. Yusuf tidak melakukan tindakan bejat itu karena takut berbuat dosa terhadap Allah. Berbeda dengan orang zaman sekarang, mereka tidak melakukannya karena takut ketahuan dosanya, bukan karena takut terhadap dosa itu sendiri.

Jikalau Tuhan izinkan kita berhasil dalam hidup ini, mari ingat baik-baik bahwa semua itu hanya karena campur tangan Tuhan dan bukan karena kehebatan kita. Karena itu, pegang teguh integritas kita sebagai anak terang yang tidak mau kompromi dengan dosa sedikit pun.


Ketiga, Promosi Datangnya dari Tuhan (Kej. 41:40-41)
Jikalau kita memperhatikan latar belakang Yusuf, maka dengan cepat orang berkata, orang seperti dia tidak bakal menjadi orang yang berguna. Tidak mungkin menjadi orang yang akan menjadi saluran berkat. Mengapa? Karena memang secara kasat mata, tidak ada modal baginya, tidak ada sesuatu yang dapat diandalkan. Orang sering kali tergoda untuk sesuatu yang kelihatan.

Namun Alkitab memberi kesaksian bahwa Yusuf menjadi penguasa di Mesir. Allah memakai cara yang mungkin tidak pernah dipikirkan Yusuf. Allah membuat Firaun bingung dengan mimpinya. Allah memang sengaja melakukan hal itu. Firaun mendapat mimpi demikian. “Ketika Firaun berdiri di tepi sungai Nil, tampaklah dari sungai Nil itu keluar tujuh ekor Lembu yang indah bangunnya dan gemuk badannya; lalu memakan rumput di tepi sungai itu. Kemudian tampak juga tujuh ekor lembu yang lain, yang keluar dari dalam sungai Nil itu, buruk bangunnya dan kurus badannya, lalu berdiri di samping lembu-lembu yang tadi, di tepi sungai itu. Lembu-lembu yang buruk bangunnya dan kurus badannya itu memakan tujuh ekor lembu yang indah bangunnya dan gemuk itu.” Sementara itu, dalam mimpinya yang kedua Firaun mendapat mimpi demikian: “Tampak timbul dari satu tangkai tujuh bulir gandum yang bernas dan baik. Tetapi kemudian, tampaklah juga tumbuh tujuh bulir gandum yang kurus dan layu oleh angin timur. Bulir yang kurus itu menelan ketujuh bulir yang bernas dan berisi tadi.”

Kedua mimpi itu, membuat Firaun gelisah karena tidak tahu apa maksudnya. Dia mencari orang-orang yang dianggapnya pakar, dianggap ahli diseluruh negeri. Namun tidak ada seorangpun yang mampu mengartikan mimpi itu.

Atas informasi dari juru minuman, Yusuf dipanggil untuk mengartikan mimpi itu. Dan ternyata dengan terus terang Yusuf memberitahukan artinya. Yusuf berkata, tujuh ekor lembu yang baik dan tujuh bulir gandum yang baik artinya sama yaitu tujuh tahun. Sementara ketujuh ekor lembu yang kurus dan buruk, juga tujuh bulir gandum yang hampa dan layu artinya adalah tujuh tahun kelaparan (Kej. 41:26-27).

Dari kemampuan yang Tuhan berikan tersebut, akhirnya Yusuf dipakai oleh Tuhan sebagai penguasa di Mesir. Tuhan promosikan Yusuf dengan cara-Nya yang ajaib dengan tujuan untuk menjadi saksi bagi-Nya.

Saudara, saya hendak mengatakan apa yang dianggap hina oleh dunia, justru dipakai Allah untuk mempermalukan dunia. Di tangan Allah, yang hina, dianggap rendah justru alat yang indah untuk menyatakan kebesaran-Nya. Puji Tuhan.

Sebagai anak Tuhan, jangan pernah merasa malu menjadi anak Tuhan. Jangan pernah minder karena status kita sebagai anak Tuhan. Sebaliknya, berbanggalah karena engkau dipanggil untuk menjadi bagi dunia ini.

Kadang-kadang Allah memakai proses-proses menyakitkan dalam hidup kita agar terjadi mutiara iman, demi kemuliaan nama-Nya. Jangan salah mengerti rencana-Nya.


Surakarta, 01 Mei 2004


Sumber: www.glorianet.org
“… man is never sufficiently touched and affected by the awareness of his lowly state until he has compared himself with God’s majesty.”
(Dr. John Calvin; Institutes of the Christian Religion, I.I.3, p. 39)
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)