Author Topic: Sejarah Pantekosta di Indonesia  (Read 2648 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

April 06, 2011, 11:22:35 AM
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 553
  • Denominasi: from Pantekosta to Catholic
Sejarah Perjalanan Pelayanan GPdI 1920-1930
Pada tanggal 4 Januari 1921, empat orang mantan perwira Bala Keselamatan, yaitu Richard Dick, Christine Van Klaverans dan Cornelius Groesbeck beserta putri-putri mereka Jennie (12,5 tahun) dan Corie Groesbeek (6 tahun), warga negara Amerika keturunan Belanda berangkat dari Seattle ke Indonesia dengan kapal laut Suamaru ke Yokohama, Osaka, singgah di China, lalu ke Pulau Jawa.  
Tanggal 23 Pebruari 1921, mereka tiba di Batavia (Jakarta), lalu dari Jakarta melalui Mojokerto, Surabaya, Banyuwangi, dan dengan kapal Varkenboot mereka tiba di Singaraja (Bali) pada bulan Maret 1921, kemudian menetap di Denpasar dalam sebuah gedung kopra dengan lantai batu bata yang telah hancur dan atap terbuat dari rumbia.  
Letak gudang ini berada pada suatu Taman yang berseberangan dengan pura Hindu. Gudangnya hanya sebuah ruangan empat persegi dimana sebagian ruangan disekat untuk dijadikan 3 kamar tidur. Satu untuk suami isteri Groesbeck, satu untuk keluarga Van Klaveren dan satu lagi untuk Jennie dan Corrie. Sisanya merupakan sebuah ruangan besar yang luas, yang berfungsi baik sebagai ruang tinggal (Living Room), ruang makan maupun sebagai dapur, juga terdapat sebuah kamar mandi.  
  Dengan penuh kesulitan mereka mulai menabur benih Injil Sepenuh dari rumah ke rumah. Mereka dengan sepeda mengunjungi desa-desa, berhenti untuk bercakap-cakap dengan penduduk dan menanyakan apakah ada yang sakit. Bila ada, mereka didoakan, dan Tuhan menyembuhkan mereka. Mula-mula Tuhan bekerja dengan cara demikian. Orang-orang yang beragama Protestan belum pernah mendengar penyembuhan dengan cara ini atau tentang baptisan air dan kepenuhan ROH KUDUS.
Banyak orang-orang yang mempunyai luka bernanah, datang ke rumah mereka, mereka menyobek seprei-seprei lama menjadi semacam perban untuk membalut luka-luka mereka. Baru dikemudian hari diketahui bahwa mereka menderita penyakit kusta. Mereka semua didoakan. Karena begitu banyak orang yang datang ke rumah untuk mohon didoakan dan menerima kesembuhan, maka penduduk setempat bermaksud jahat terhadap mereka.  
Di depan rumah tersebut terdapat sebuah pagar kecil dan selokan sepanjang jalan. Diatas selokan terdapat sebuah jembatan kecil yang menuju rumah. Hari berikutnya penduduk Bali menceritakan tentang rencana jahat itu terhadap mereka. Mereka tidak dapat melaksanákan rencana tersebut karena mereka melihat malaikat-malaikat yang berdiri di pintu gerbang rumah. Tuhan telah membela mereka.
Apa yang mereka kerjakan di sana juga telah mengundang reaksi keras imam-imam Hindu. Hal ini mendorong Pemerintah Belanda melarang hamba Tuhan ini menetap dan menginjil di Bali dengan alasan takut merusak kebudayaan asli penduduk Bali. Seringkali mereka mengirim agen-agen dari dinas rahasia untuk memata-matai selama kebaktian berlangsung, karena mereka menyangka bahwa mereka adalah orang Bolsjewik. Mereka senang bahwa dengan jalan demikian mereka dapat mendengarkan kabar Injil.  
Keluarga Van Klaverens harus meninggalkan Bali dalam waktu 3 hari. Karenanya, setelah sekitar 21 bulan berada di Bali, ketika menjelang Natal tahun 1922, kedua keluarga ini berangkat ke Surabaya, kemudian keluarga Rev. Richard van Klaverans menuju ke Batavia. Di Surabaya, Rev. Cornelius E.Groesbeek berkenalan dengan Ny.Wijnen yang memunyai seorang keponakan yang bekerja di BPM Cepu (Shell), yaitu Sdr. F.G.Van Gessel. Dengan perantaraan Ny.Wijnen yang telah menerima kesembuhan Illahi lewat pelayanan Rev. Cornelius E.Groesbeek, maka Sdr.Van Gessel dapat berjumpa dan berkenalan dengan beliau.  
Sdr.Van Gessel menyambut hangat Rev. Groesbeck karena memang telah lama dia ingin lebih mengerti dan mendalami Injil yang selama ini dibacanya. Berita Pantekosta disambutnya dengan penuh sukacita, lalu pada bulan Januari 1923 dimulailah kebaktian Pantekosta yang pertama di Deterdink Boulevard, Cepu. F.G.Van Gessel dengan istri, pegawai tinggi BPM bergaji F.800 (800 Gulden), bertobat dan menerima Injil Sepenuh. Kebaktian itu berlangsung terus dengan baik dan jumlah pengunjung bertambah hingga mencapai 50 orang.

bersambung
Perbuatan sekecil apapun tetapi disertai Kasih , akan bermakna bagi sesama kita.
April 06, 2011, 11:24:09 AM
Reply #1
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 553
  • Denominasi: from Pantekosta to Catholic
Kebaktian di Cepu ini mengalami tantangan keras. Mereka diejek, diolok, dan dituduh sebagai aliran yang menyesatkan. Ds.Hoekendijk menegaskan bahwa kebaktian Pantekosta yang di Cepu dan mujizat yang terjadi di dalamnya berasal dari Setan. Namun demikian, Tuhan bekerja luar biasa. Tiga bulan kemudian pada 30 Maret 1923 terjadi suatu peristiwa penting yang menjadi salah satu tonggak sejarah Gereja Pantekosta di Indonesia. Benih Injil Sepenuh yang ditabur dengan linangan air mata sejak Maret 1921 di Bali, mengeluarkan buah pertama dengan diadakannya baptisan air di Pasar Sore Cepu bagi 13 orang. Baptisan ini dilakukan oleh Rev. Cornelius E.Groesbeck dan dibantu oleh Rev. J. Thiessen, seorang misionaris dari Belanda. Di antara 13 orang itu terdapat suami istri F.G.Van Gessel, suami istri S.I.P. Lumoindong dan Sdr.Agust Kops.
Antara tahun 1923-1928 jemaat di Cepu menghasilkan tidak kurang dari 16 hamba Tuhan yang menjadi pioner-pioner Gereja Pantekosta di Indonesia  dan menyebar ke Sumatra, Jawa, Sulawesi dan Maluku. Diantara meraka adalah: F.G Van Gessel, S.I.P Lumoindong, W.Mamahit, Hessel Nogi  Runkat, Effraim Lesnussa, Frans Silooy, R.O.Mangindaan, Arie Elnadus Siwi, Julianus Repi, Alexius Tambuwun, G.A.Yokom dan J.Lumenta.
Pada tanggal 19 Maret 1923 berdirilah Vereeniging De Pinkstergemeente in Nederlandsch Oost Indie yang berkedudukan di Bandung dengan susunan pengurus sebagai berikut: Ketua: Pdt. D.H.W.Weenink, Van Loon, Sekretaris: Pdt.Paulus, Bendahara: Pdt.G.Droop. Dan pada tanggal 30 Maret 1923, badan tersebut mendapat SK Gubernur Hindia Belanda dengan Badan Hukum No. 2924, tertanggal 4 Juni 1924 di Cipanas, Jawa Barat, serta diakui sebagai Kerkgenootscap (Badan Gereja) dengan Beslit No. 33, Staatblad No. 368. Perkembangan selanjutnya, gerakan ini dengan cepat menyebar dari Surabaya ke seluruh Jawa Timur, Sumatera Utara, Minahasa, Maluku dan Irian.
Disamping Pengurus di atas yang bertanggung jawab terhadap Pemerintah, maka diadakan pula suatu Convent hamba-hamba Tuhan yang tua terdiri dari: Pdt. F.G.Van Gessel, Pdt. Weenink Van Loon, Pdt. Van Abkoude, Pdt..D.Van Klaverans & Istri, Pdt. H.Horstman, Pdt. M.A. Alt. 
Pada tahun 1924 Gereja Bethel Temple mengirim sebuah tenda besar yang dapat dipasang untuk kebaktian. Rev.Groesbeck berkhotbah dalam bahasa Belanda dan ada orang yang mènterjemahkan. Dan ternyata ada banyak jiwa diselamatkan dan dipenuhi dengan ROH KUDUS. Saat itu juga mereka mulai belajar bahasa Indonesia. Sewaktu di Bali-pun Tuhan sungguh heran dan Tuhan menyediakan orang yang menterjemahkan bila Rev.Groesbeck berkhotbah. Jennie kemudian juga belajar untuk berbahasa Jawa.
Di tahun 1926 Sdr.Nanlohy mulai memberitakan Injil sepenuh di Amahasa dengan mengalami banyak tantangan. Mayoritas penduduk kepulauan Maluku adalah beragama Kristen, namun kehidupan Kekristenan didaerah ini adalah agama nenek moyang. Kemudian datang Sdr.Kipur, Sdr.Tumbel disusul Sdr.Yocom, Sdr.Yoop Seloey dan Sdr.Rikihena. Dengan demikian Injil sepenuh menjalar keberbagai pelosok Maluku.
Pada bulan Maret 1927 Sdr.Groeneveld seorang pegawai doane di Balikpapan (Kalimantan Timur) mulai mengadakan persekutuan doa/kebaktian rumah tangga. Pada tahun 1930 Pdt. Debur datang dan memberitakan Injil di kota ini juga. Kèmudian disusul Pdt. Pattirajawane lalu datang pula Rev. Wassel. 
Pelopor Injil Sepenuh yang patut dicatat untuk daerah Kalimantan Selatan adalah sdr.Pattirajawane, disusul sdr.Graaftal, kemudian sdr. J.J. Walewangko pegawai BPM, disusul pula sdr.Liem Hwa Seng. Sdr.Yonathan Itar adalah pelopor Injil sepenuh di pulau Irian Jaya yang luas ini. Perjuangan beliau sangat berhasil, sehingga saat ini telah ada lebih dari 350 gereja Pantekosta di Irian Jaya. Ditempat ini juga ada Sekolah Alkitab untuk mendidik calon-calon hamba Tuhan. 
 Daerah Istimewa Yogyakarta yang diperintah oleh Sri Sultan, kota yang dijuluki sebagai kota “gudeg” dan ‘kota mahasiswa/pelajar.” mendapat lawatan Tuhan. Gereja Pantekosta di Indonesia Yogyakarta mulai diperkenalkan ketika Pendeta S.I.P. Lumoindong membuka kebaktian pertama tahun 1928 di Jalan Ngupasan. Kemudian antara tahun 1928-1930 tempat kebaktian dipindahkan ke jalan Góndomanan dan jalan Yudonegaran, dipimpin pendeta Abkoede dibantu Pdt.Jóhan Van Der Lip dan adiknya Pdt.Piet Van Der Lip.
 Kemudian dengan memakai nama ‘De Pinkster Gemeente’ mereka berpindah lagi ke Ngadiwinatan dan empat tahun kemudian pindah ke Poncowinatan dilayani oleh Pdt.Theunis Andriesse. Ternyata di tempat baru itu mereka hanya bertahan beberapa bulan dan kemudian dipindah lagi ke Ronodigdayan menempati rumah kecil yang sangat sederhana. Beberapa waktu kemudian Ny. Smith membuka sendiri kebaktian De Pinkster Gemeente di jalan Sindunegaran, Bumijo, dan seorang pengusaha Go Djoen Bok mengusahakan rumah yang lebih strategis di jalan Tugu Kulon (sekarang Jl.P.Diponegoro) no. 28 hingga sekarang. Sedang tempat kebaktian di Ronodigdayan karena keuangan gereja lebih lemah dibanding dengan gereja di Tugu Kulon kemudian dipindahkan ke Bausasran Kidul dibawah pimpinan Pdt.Christ Van Thiel. Kemudian dibuka lagi dua gereja masing-masing oleh Pdt.Johan Van Der Lip dengan nama Pinkstervreugd di jalan Ngupasan dan Pdt.Piet Van Der Lip dengan nama Pinksterzending di Sosrowijayan. De Pinkstergemeente Bausasran semakin berkembang sehingga tempat kébaktian tidak bisa menampung jemaat yang ada sehingga mereka dipindahkan ke jalan Lempuyangan 15 (sekarang Jl.Hayam Wuruk). Pembantu pendeta pada waktu itu ada 5 orang, salah seorang diantaranya adalah Sdr.The Kiem Koei (Raden Gideon Sutrisno).
Pada tanggal 13 Maret 1929 dua orang pemuda utusan Injil bernama A.Tambuwun dan J.Repi mendarat di pelabuhan Menado dengan meñumpang kapal motor “Van Dér Hagen”.Propinsi Sulawesi Utara adalah daerah Kristen, karena mayoritas penduduknya beragama Kristen. Gereja Masehi Injili Minahasa (GMIM) adalah gereja yang tersebar diseluruh pelosok Minahasa. Namun Injil sepenuh melalui Pinksterkerk (sekarang GPdI) kemudian masuk menembus pelayanan di daerah ini. Kedatangan mereka telah diketahui terlebih dahulu oleh beberapa anak Tuhan karena Tuhan telah memberitahukan kedatangan mereka melalui nubuat yang diucapkan oleh Sdr. D. Kalangi. Tanggal 14 Maret 1929 mereka tiba di Langowan dan diterima dengan sukacita oleh Keluarga W. Saerang.

bersambung
Perbuatan sekecil apapun tetapi disertai Kasih , akan bermakna bagi sesama kita.
April 06, 2011, 11:25:21 AM
Reply #2
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 553
  • Denominasi: from Pantekosta to Catholic
Langowan sebuah kota kecamatan mendapat kehormatan Injil sepenuh melalui pemberitaan Pinksterkerk. Kebaktian perdana dihadiri oleh 40 orang. Tuhan bekerja dengan heran. Sdr. W.Saerang mendapat kepercayaan Tuhan karena Injil Pantekosta diberitakan di rumahnya. Pada kesempatan Itu Sdr.Alexius Tambuwun pulang kekampung halamannya di Tambeläng, dan Sdr.Julianus Repi ke Ranomea, maka di masing-masing tempat tersebut mereka juga memberitakan Injil Sepenuh. Pada tanggal 1 Desember 1929 diadakan baptisan air perdana bagi mereka yang telah percaya Kristus sebagai Juru Selamat pribadinya. Baptisan air ini diikuti oleh 42 orang yang terdiri dan 14 orang dari Langowan dan 28 orang dan Ranomea Amurang. 8 Nopember 1929 Keluarga J. Lumenta tiba dari Surabaya dan mendarat di pelabuhan Amurang, dan pada bulan yang sama tiba pula Sdr.E.Lesnussa dan pada awal tahun 1930 datang pula hamba Tuhan Keluarga Albert Jocom. Barisan utusan-utusan Allah untuk pemberitaan Injil di Sulawesi Utara menjadi makin kuat. Mereka menyebar ke berbagai pelosok Minahasa dan memberitakan Injil dalam kuasa dan urapan ROH KUDUS. Tahun 1933 datang pula Pdt. Runtuwailan dan Sdr.L.A. Pandelaki ke Sulawesi Utara untuk memperkuat barisan hamba-hamba Allah.     
Pada tahun 1930, tiga dara dari Seattle memenuhi panggilan Tuhan menjadi penginjil di daerah Jawa dan Kalimantan. Gadis-gadis muda ini adalah Inice Presho, Iris Bowe, dan Eileen English. Setelah beberapa saat di Magelang kemudian mereka melayani kebaktian rumah ke rumah di Solo. Inice Presho kemudian mengadakan pelayanan di Surabaya. Juga ditahun 1931, Louis Johnson dan Arland Wasell berlayar dari Bethel Temple dan melayani di Kalimantan, mereka menyeberangi banyak sungai-sungai besar menuju ke pedalaman dari pulau tersebut melebihi dari penginjil-penginjil lain yang pernah lakukan sebelumnya. Tapi akhirnya mereka terpaksa kembali ke Jawa karena Arland Wassel sakit malaria, dan Inice Presho yang memang juru rawat mengasuhnya. Arland hampir tidak mampu sampai kerumah karena lelahnya perjalanan dengan kereta api dari Surabaya. Louis Johnson ternyata mengadakan hubungan dengan Eileen English dan bertunangan pada hari Valentin di tahun 1933, yang kemudian diteruskan dengan pernikahan di Magelang dan pesta diadakan di Solo. Corrie Groesbeek memainkan piano untuk acara yang berbahagia tersebut. 
Pelayanan keluarga Groesbeck periode ke 2 berlangsung selama 8 tahun, yaitu dari Agustus 1930 sampai Oktober 1938. Keluarga Groesbeck kembali ke rumah mereka pada tahun 1926 dan kembali ke pulau Jawa untuk perjalanan yang kedua mereka ditahun 1930. ."
Perbuatan sekecil apapun tetapi disertai Kasih , akan bermakna bagi sesama kita.
April 06, 2011, 11:26:00 AM
Reply #3
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 553
  • Denominasi: from Pantekosta to Catholic
  SEJARAH GEREJA PENTAKOSTA DI INDONESIA   
Gereja-gereja Pantekosta di Indonesia berasal dari gerakan Pentakosta yang timbul di Amerika Utara sekitar tahun 1906. Gerakan ini awalnya muncul dalam Gerakan Methodis yang berkeinginan untuk kembali kepada kegairahan dan kesederhanaan yang menekankan kembali kepada pertobatan secara mendadak yang menjadi cita-cita dalam kebangunan Methodis dan kesempurnaan Kristen seperti yang dianjurkan dalam Teologi Wesley. Dalam perkembangnya penganut gerakan ini keluar dari Gereja Methodis dan membentuk organisasi tersendiri. Pada tahun 1900 salah seorang tokoh gerakan tersebut, Ch. F. Parham mengembangkan 3 pokok ajaran yang kemudian hari menjadi ciri gerakan Pentakosta pada umumnya, yaitu tekanan pada eskatologi, pada baptisan dengan Roh dan pada karunia-karunia Roh, khususnya karunia lidah, sebagai tanda seseorang telah menerima baptisan Roh.
  Gerakan ini dengan cepat menyebar ke seluruh wilayah Amerika Serikat dan negara-negara lain. Menurut data, pada tahun 1972 pengikut aliran Pentakosta di seluruh dunia sudah mencapai 20 juta orang. Gereja Pentakosta memunyai ciri-ciri yang sama di seluruh dunia, antara lain: kebaktian yang serba bebas, pemakaian Alkitab secara “spontan”, tak dipertanggungjawabkan secara ilmiah, pembangunan jemaat melalui kegiatan kebangunan rohani yang meliputi dorongan untuk bertobat dan hidup suci, dan anggapan bahwa dalam lingkungan jemaat perlu ada karunia lidah dan karunia kesembuhan sebagai tanda-tanda kesucian.
  Sesuai watak gerakan Pentakosta yang bersifat spontan dan tidak memiliki organisasi yang ketat, gerakan itu secara tidak terencana masuk ke Indonesia dibawa oleh pedagang asal Inggris, J. Barnhard yang kemudian menetap di Temanggung, Jawa Tengah. Dari Temanggung, gerakan ini menyebar ke beberapa kota di Jawa, seperti Cepu dan Surakarta. Mulai tahun 1922, ajaran Pentakosta dibawa ke sana oleh Cornelius E. Groesbeck dan Richard van Klaveren, yang diutus oleh Bethel Temple dari Seatle, Amerika Serikat. Pada tahun 1923, tepatnya pada tanggal 19 Maret 1923 di Cepu berdiri Vereninging De Pinkstergemeente In Nederlandsch Oost Indie (Jemaat Pentakosta di Hindia Timur Belanda). Dan pada tanggal 30 Maret 1923, badan tersebut mendapat SK Gubernur Hindia Belanda dengan Badan Hukum No. 2924, tertanggal 4 Juni 1923 di Cipanas, Jawa Barat, serta diakui sebagai Kerkgenootscap (Badan Gereja) dengan Beslit No. 33, Staatblad No. 368.  Perkembangan selanjutnya, gerakan ini dengan cepat menyebar dari Surabaya ke seluruh Jawa Timur, Sumatera Utara, Minahasa, Maluku dan Irian.
Perbuatan sekecil apapun tetapi disertai Kasih , akan bermakna bagi sesama kita.
April 06, 2011, 11:26:40 AM
Reply #4
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 553
  • Denominasi: from Pantekosta to Catholic
Kronologi Perpecahan
Pada tahun 1937 jemaat tersebut berganti nama menjadi De Pinksterkerk in Nederlands Oost Indie (Gereja Pentakosta di HTB), dan sejak tahun 1942 mulai disebut Gereja Pentakosta di Indonesia (GPdI). Para pemimpin kemudian membentuk Pinksterconvent (Sidang Pentakosta) semacam badan pengurus yang bersifat longgar, sesuai dengan gagasan Pentakosta mengenai organisasi gereja yang berjiwa kongregasionalistis. Seiring dengan kemajuan organisasi tersebut, ketidakcocokan di antara pengurus mulai nampak, dengan pokok persoalannya antara lain:
•   Ajaran JESUS Only yang menganggap Nama YESUS meliputi tiga pribadi Trinitas, sehingga pembaptisan cukup kalau dilakukan dalam nama YESUS saja. Ajaran ini dibawa masuk dari Amerika Serikat oleh van Gessel.
•   Ada tidaknya hak seorang perempuan untuk memegang kedudukan kepemimpinan dalam gereja.
•   Hubungan antara jemaat setempat dengan organisasi pusat, misalnya dalam hal milik gereja.
•   Prestise suku atau individual.
  
Keempat faktor tersebutlah yang menyebabkan terjadinya rentetan perpecahan sehingga menyebabkan jumlah gereja Pentakosta dari 1 nama gereja menjadi 25 nama gereja. Ini dapat dilihat dari beberapa pendeta yang keluar memisahkan diri dari organisasi gereja Pentakosta dan mendirikan gereja baru, seperti:

a.        J. Thiessen keluar tahun 1923 dan mendirikan Pinksterbeweging atau Gereja Gerakan Pentakosta (GGP).

b.       Zuster M.A. van Alt (Evangelis Wanita) keluar tahun 1931 dan mendirikan De Pinkster Zending atau Gereja Utusan Pentakosta (GUP).

c.        F. van Akoude pada tahun 1931 keluar dan mendirikan Gemeente van God, atau Gereja Sidang Jemaat Allah (GSJA).

d.       Pdt. D. Sinaga pada tahun 1941 keluar dan mendirikan Gereja Pentakosta Sumatera Utara (GPSU) atau GPdI-Sinaga.

e.        Pdt. Tan Hok Tjwan pada tahun 1946 keluar dan mendirikan Sing Ling Kau Hwee atau Gereja Isa Almasih (GIA).

f.        Pdt. Renatua Siburian pada tahun 1948 keluar dan mendirikan Gereja Pentakosta Sumatera Utara atau GPdI Siburian.

g.       Pada tahun 1951 beberapa pendeta keluar dan mendirikan Gereja Sidang Jemaat Pentakosta ( GSJP ).

h.       Pdt. T.G. van Gessel dan Pdt. Ho Liong Seng (Dr. H. L. Senduk), pada tahun 1952 keluar dan mendirikan Gereja Bethel Injil Sepenuh ( GBIS ).

i.         Pada tahun 1957 GBIS pecah dan Pdt. G. Sutupo dan Ing. Yuwono mendirikan Gereja Bethel Tabernakel (GBT).

j.         Pdt. Ishak Lew keluar pada tahun 1959 dan mendirikan Gereja Pentakosta Pusat Surabaya (GPPS).

k.       Pada tahun 1960 GBIS pecah lagi dan Pdt. A. Parera mendirikan Gereja Nazareth Pentakosta (GNP).

l.         Pdt. Karel Sianturi dan Pdt. Sianipar pada tahun 1966 keluar dan mendirikan GPSU atau dikenal dengan nama GPdI-Sianturi.

m.      Pdt. Korompis keluar pada tahun 1966 dan mendirikan Gereja Pentakosta  Indonesia (GPI).

n.       Pada tahun 1967 para pemimpin gereja-gereja Pentakosta di Surabaya dan Timor keluar dan mendirikan Gereja Pentakosta Elim (GPE).

o.       Pada tahun 1969 GBIS pecah lagi dan Pdt. H.L. Senduk mendirikan Gereja Bethel Indonesia (GBI) dan Pdt. Jacob Nahuway mendirikan GBI Mawar Saron.

p.       Pada tahun 1970 Gereja Bethel Tarbernakel (GBT) pecah dan Ing. Yuwono mendirikan Gereja Pentakosta Tarbernakel (GPT).

capek deh mau lanjutkan , sebab  banyak banget kalau sampai April  2011

mau lanjut ......  bersambung .....  nanti dolo panjang deh
« Last Edit: April 06, 2011, 11:29:26 AM by breakdance »
Perbuatan sekecil apapun tetapi disertai Kasih , akan bermakna bagi sesama kita.
April 12, 2011, 11:16:49 PM
Reply #5
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 7979
  • Gender: Male
  • Shihonage
  • Denominasi: Sebelum muncul kata "denominasi".
Kalo yang di Jogja gimana bro? Dulu saya dibawah almarhum Pdt.Gideon Sutrisno, alias Om Kiem, yang GPdI Hayam Wuruk. Trus ada lagi Pdt. Petrus Suwondo, sekarang anaknya Samuel Suwondo di Sosrowijayan.

Gereja Majalengka dibahas gak?

Lanjuttttt....
Nantikanlah hari kematianmu setiap pagi... Itulah jembatan yang membawamu kepada Kristus.


7ED3C742
April 13, 2011, 07:18:43 AM
Reply #6
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 2118
  • Gender: Female
  • Every moment with you is the sweetest one
    • my blog>> http://gracelygrace.wordpress.com
mantap... wah ternyata gereja2 yg ada, byk banget ya pecahan Pantekosta... hmm
tonight... we are young... so let set the world on fire... we can burn brighter than the sun....
April 13, 2011, 01:50:57 PM
Reply #7
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 5328
  • Gender: Male
banyak dengan misi masing2^^
Tuhan memberkati semuanya^^
April 16, 2011, 11:01:09 AM
Reply #8
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 553
  • Denominasi: from Pantekosta to Catholic
Ada yang nanggapi aku lanjutkan....

Karakteristik GPdI

Organisasi GPdI memiliki sifat yang sangat unik dan sulit dipahami melalui kacamata awam. Namun cara ini telah melekat dan dinilai ”berhasil” maka secara alami terwariskan turun-temurun. Hal ini pula yang sekarang banyak membingungkan dan disalahpahami oleh generasi baru bahkan tidak sedikit terjadi perbedaan pendapat yang tajam. Adapun sifat-sifat unik yang telah melekat tersebut yaitu:
a. Faktor Paternalistis (sangat mengutamakan/menghargai orang tua/senioritas dalam kepemimpinan).
b. Pendekatannya lebih bersifat kekeluargaan/persuasif.
c. Kombinasi organisasi dan organisme.
d. Faktor profesionalisme tidak menjadi utama.
Kondisi-kondisi seperti ini, mengharuskan seorang pemimpin GPdI di dalam segala strata, tidak cukup hanya mengandalkan ”skill” saja, tapi juga memerlukan ”seni” (seni memimpin).
  NAMA GPdI
Jauh sebelum NKRI terbentuk maka para founding fathers telah memilih nama yang cocok bagi organisasi ini ialah ”Gereja Pantekosta di Indonesia”, hal ini menunjukkan betapa mereka memiliki semangat kebangsaan/nasionalisme yang kental dan wawasan nusantara yang tinggi. Berarti GPdI memiliki kontribusi penting untuk pembentukan NKRI jauh sebelum Negara ini terbentuk, sehingga kita bukan ”indekost” dan orang asing di negeri sendiri tetapi juga ”pemilik” negeri ini. Karena nama ”PANTEKOSTA” sudah melekat dalam Badan Hukum sejak sebelum kemerdekaan, maka kita tetap memakai ”Pantekosta” dan bukan ”PENTAKOSTA” yang baru belakangan ini populer karena adanya Alkitab terjemahan baru.
  VISI & MISI GPdI
Pada alinea ke-4 Mukadimah AD/ART GPdI, tersirat Visi & Misi GPdI sbb: GPdI terpanggil mengamalkan Amanat Agung Tuhan YESUS KRISTUS untuk memberitakan Injil Sepenuh yang termaktub dalam Markus 16:15-18 dan Matius 28:19, 20)
Jadi Visi GPdI secara umum ialah : ”Meluaskan Kerajaan Allah”.
Misinya: ”Pergi, Beritakan Injil, Jadikan segala bangsa murid Tuhan, Ajarkan”
  Untuk mewujudkan visi dan Misi tersebut, maka Anggaran Rumah Tangga GPdI Bab I, pasal 1 telah menetapkan upaya-upaya kegiatan pelayanan sebagai berikut:
-Melaksanakan Pekabaran Injil atau Penginjilan
-Membuka Sidang Jemaat/mendirikan bangunan Rumah Ibadah
-Mengerahkan seluruh warga jemaat untuk terlibat aktif dalam pelayanan gerejawi.
-Menyelenggarakan Pendidikan rohani dan pendidikan umum.
-Menyelenggarakan kegiatan diakonia, sosial dan pengentasan kemiskinan.
-Menyelenggarakan usaha penerbitan literature dan bacaan umum
-Melakukan penyiaran kegiatan gereja melalui media massa cetak, elektronik, rekaman, musik, dll
-Melakukan hubungan antar gereja, baik di dalam maupun di luar negeri.
-Melakukan upaya mendapatkan dana dari berbagai sumber yang tidak menyalahi Firman Tuhan.
  
Lembaga-lembaga Pendidikan Alkitab (SA,ST) juga memegang peranan yang sangat penting bagi pencapaian Visi dan Misi GPdI. (ART Bab II pasal 5). GPdI memiliki + 30 lembaga pendidikan Alkitab dan beberapa yang masih sedang dalam proses di MP GPdI.
Perbuatan sekecil apapun tetapi disertai Kasih , akan bermakna bagi sesama kita.
April 16, 2011, 11:03:07 AM
Reply #9
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 553
  • Denominasi: from Pantekosta to Catholic
URUTAN PERATURAN (“PERUNDANG-UNDANGAN”) GPdI

1. Firman Allah -Landasan Idiil
2. AD/ART -Landasan Struktural
3. GBPK -Landasan Operasional
4. Tap-tap MUBES (Ketetapan Mubes)
5. Surat Penetapan/Keputusan Majelis Pusat
6. Surat Keputusan Majelis Daerah, dst

  MEKANISME KEPEMIMPINAN

1. Lembaga tertinggi di GPdI adalah MUBES (4 tahun sekali)
2. Mubes melahirkan personalia MAJELIS PUSAT (MP) periode baru.
3. Majelis Pusat mengangkat KOMISI PUSAT (KP) dari Wadah-wadah Pelayanan untuk tingkat nasional.
4. Pada gilirannya, Majelis Pusat memimpin MUSDA-MUSDA untuk melahirkan MAJELIS DAERAH.
5. Majelis Daerah akan mengangkat KOMISI-KOMISI DAERAH (KD) serta MAJELIS-MAJELIS WILAYAH (MW).
6. Majelis Wilayah mengangkat KOMISI-KOMISI WILAYAH (KW) diwilayahnya.
7. Majelis Daerah juga yang menetapkan GEMBALA-GEMBALA JEMAAT (GJ) sesuai mekanismenya, dan Gembala . Jemaat menetapkan KOMISI-KOMISI JEMAAT (KJ) sebagai lengannya.
8. Dan GEMBALA-GEMBALA yang memilih Majelis Pusat (dgn system perwakilan) pada waktu MUBES.
Perbuatan sekecil apapun tetapi disertai Kasih , akan bermakna bagi sesama kita.
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)