Author Topic: Orang-orang yg Dipuji Tuhan (Pdt. Effendi Susanto, S.Th.)  (Read 2292 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

October 24, 2008, 10:08:58 AM
  • FK - Full Member
  • ***
  • Posts: 177
  • Gender: Male
  • Sola Scriptura!
    • Fides quaraens intellectum!
ORANG-ORANG YANG DIPUJI TUHAN

oleh: Pdt. Effendi Susanto, S.Th.




Nats: Yoh. 1:45-51; Luk. 7:1-10; 21:1-4




Perwira ini bukan orang Yahudi. Orang-orang Yahudi kadang-kadang menghina orang non Yahudi sebagai orang yang barbaric, orang yang tidak terpelajar, orang yang tidak mengenal Tuhan. Tetapi justru di awal pelayanan Tuhan Yesus, Dia menyatakan satu pujian yang pertama untuk memuji orang non Yahudi. Perwira ini mempunyai banyak kualitas hidup yang layak kita puji. Paling tidak, perwira ini adalah seorang yang sangat mencintai dan menghargai budaknya. Di dalam catatan para sejarahwan memperlihatkan kepada kita budak adalah barang dagangan yang diperdagangkan, yang dibeli karena kekuatan dan manfaat dan usefulness. Saat dia tua atau saat dia sakit, dia boleh diusir dari rumah tuannya, atau dibuang begitu saja, karena tidak bisa lagi diperdagangkan di pasar budak. Tetapi cerita 2000 tahun yang lalu ini memperlihatkan kepada kita satu orang dicatat di sini luar biasa, dia bisa kita puji sebab dia mencintai barang dagangan pada waktu itu sebagai manusia yang dihargai. Kita patut mengucap syukur untuk orang seperti ini. Yang kedua, dia layak dipuji dan orang-orang juga memberi rekomendasi kepada Tuhan untuk menolong dia, karena orang ini membantu memberi dana pembangunan sinagoge mereka. Seorang yang generous, seorang yang murah hati, seorang yang memberikan keuangannya untuk membangun rumah ibadah bangsa lain.

Sering kali justru terbalik di dalam kehidupan orang yang sudah lama mengikuti Tuhan. Terlalu sering kita baru menyatakan penaklukan diri iman yang sungguh kepada Tuhan kalau Tuhan melakukan sesuatu dalam hidupku. If You terlebih dahulu membuktikan Engkau adalah Allah yang hidup, Allah yang memelihara dan menyertai hidupku, maka saya baru percaya Engkau. Berapa sering Firman Tuhan juga datang ke dalam hidup kita, bisakah kita menyaksikan dan menghargai firman itu sebagai firman yang berotoritatif, tidak perlu saya buktikan janji Tuhan tergenapi dulu baru saya percaya janji-Nya? Tidak perlu saya buktikan kalimat Dia akan menyertai hidupku terlebih dahulu, baru saya mau percaya akan penyertaan-Nya. Karena saya tahu betapa berkuasanya firman itu dalam hidupku. Yang dia tuntut cuma satu, saya datang merendahkan diri dan menaklukkan diri. Adakah hidup engkau dan saya seperti itu? Kalau engkau dan saya memiliki iman seperti itu, saya percaya Tuhan akan berkata, “Engkau adalah orang-orang yang memiliki iman yang luar biasa besar. Engkau beriman sekalipun engkau tidak melihat campur tangan, kuasa dan kehadiran Tuhan di dalam hidupmu

Apa yang sedang terjadi di bawah pohon ara, sampai itu menjadi point yang penting? Di situ Natanael bukan melamun, Natanael bukan tidur-tiduran di bawah pohon ara. Dia sedang membaca Alkitab, dia sedang bergumul, dia sedang bertanya, dia sedang menggali Firman Tuhan, ingin tahu kapan hari keselamatan Tuhan, kapan Mesias itu datang. Apa yang dia doakan, apa yang dia rindukan, apa yang sedang dia gali, apa yang dia begitu ingin pengharapan itu terjadi, sebagai seorang pemuda yang saleh di tengah-tengah penjajahan Romawi, saya percaya anak muda ini luar biasa. Mana ada anak muda yang begitu concern dengan the welfare of the nation? Mana ada anak muda yang concern terhadap perlunya dipulihkan kehadiran Mesias Juruselamat? Tidak ada. Yang ada dia main kelereng dan main layangan. Hanya anak muda ini satu-satunya, di tengah perasaan yang sedang menanti itu, hari ini dia bertemu dengan Mesias, terjawab sudah. Itu sebab dia tunduk dan takluk kepada Yesus. Hanya karena kalimat itu, “Aku sudah melihat engkau di bawah pohon ara.” Secara implisit itu berarti, Natanael, apa yang kamu harapkan, apa yang kamu doakan di bawah pohon ara, apa yang engkau nantikan mengenai juruselamat akan datang, sekarang engkau sudah lihat Dia. Itu sebab begitu dengar itu, bukan saja dia tahu tetapi inilah jawaban dari pengharapan hidupku. Maka dia tunduk, dia berlutut, dia mengaku Tuhan. Pengharapan itu is a long way. Kapan Tuhan datang, kapan Tuhan bekerja? Kadang-kadang pengharapan itu bisa memudarkan hidup kita, ketika apa yang kita harapkan tidak terjadi. Tetapi anak muda ini seorang anak muda yang terus menanti berharap, Tuhan, kapan engkau tiba? Anak muda ini menjalankan seluruh yang diharapkan dengan sungguh dan jujur, seluruh firman itu dia taati. Karena someday Mesias itu akan datang dan saya tidak akan kehilangan moment itu. That’s why pada waktu Yesus bertemu dengan anak muda ini, Yesus berkata, “Natanael, you are the true Israel.” Artinya apa? You are the only young man who preserve the true spirit of true Israel, you never give up. You terus berdoa. You terus menantikan pengharapan janji Tuhan, dan sekarang you see Me. Karena itu you percaya? Someday you akan melihat hal-hal yang lebih besar daripada ini. Never lose hope in your life.

Dua minggu lalu saya mengkhotbahkan mengenai “The Art of Giving.” Yesus mengatakan kalimat ini, takaran yang kau pakai untuk memberi akan ditakarkan kepadamu. Paulus juga berkata di dalam 2 Korintus, barangsiapa memberi banyak akan mendapat banyak. Siapa yang memberi sedikit akan mendapat sedikit. Sering kali secara separuh di dalam Prosperity “Theology” mengkutip ayat itu lalu mengatakan you memberi banyak, maka Tuhan akan memberi banyak. Tetapi kalau saudara membaca terus bagian dari 2 Korintus itu, saudara akan menemukan kembalinya tidak harus berarti secara finansial. Karena selanjutnya Paulus mengatakan engkau yang memberi banyak akan melahirkan sukacita orang memuji Tuhan. Akan membuat generosity bertambah. Akan membuat orang itu mencintai Tuhan lebih dalam, karena engkau memberi. Waktu Yesus memuji janda miskin ini tidak ada indikasi Yesus mengatakan janda itu pulang mendapat lebih banyak. Lalu apa yang dia dapat setelah dia memberi dua peser itu? Tidak ada yang dia dapat. Yang saya tahu pasti, karena dia memberi dari kekurangannya, dari seluruh pemasukannya, mungkin janda itu pulang, dia tidak makan hari itu. Sekali lagi di zaman itu belum ada social welfare, zaman itu adalah zaman dimana orang tidak punya banyak tabungan, zaman itu adalah zaman dimana orang bekerja hari itu, mendapatkan kehidupan hari itu. Dan hari itu dia hanya punya dua peser uang. Tetapi Yesus mengatakan, ada orang mempunyai seratus, memberi satu. Tetapi ada orang punya sepuluh, memberi satu. Maka nilai pemberian ini lebih besar secara sacrifice. Tetapi ada orang mempunyai dua, lalu memberi satu. Maka nilainya lebih sacrifice daripada pemberian yang punya sepuluh. Maka kenapa janda ini disebutkan memberi lebih banyak? Sebab dia memberi dari kekurangannya.

Tetapi inti ceritanya bukan tentang persembahan dua peser itu. Inti ceritanya adalah bahwa dia memberi lebih banyak daripada kekurangannya. Dia memberi lahir dari satu cintanya yang berkorban. Itu sebab kisah janda ini selama-lamanya menjadi satu kisah yang memberi inspirasi kepada kita bahwa kasih yang berkorban akan menghasilkan nilai yang tidak bisa kita lukiskan. Someday Tuhan akan memberikan ucapan pujian yang indah kepada dia. Engkau dan saya yang masih muda, ada juga di antara kita yang janda, ada di antara kita yang mempunyai kedudukan, ada di antara kita yang terpelajar, ada di antara kita yang sudah tua, berarti segala macam lapisan kita adalah manusia biasa yang hanya menyatakan iman, pengharapan dan kasih kita kepada Tuhan Yesus Kristus. Iman, pengharapan dan kasih kita kiranya menjadi iman, pengharapan dan kasih yang dipuji oleh Tuhan. Karena engkau beriman kepada Dia, sekalipun engkau tidak melihat kuasa-Nya bekerja dalam hidup kita. Kita terus-menerus memiliki pengharapan yang tidak pernah berubah, pengharapan yang tetap percaya Tuhan akan mendatangkan hal yang indah dalam hidup kita, dalam pelayanan kita, dalam segala hal, sekalipun tinggal satu senar dalam hidupku, saya tetap memainkan lagu yang indah melalui senar itu. Dan sekalipun tertinggal satu peser yang tersisa di dalam hidupku, saya tetap ingin memberi syukur persembahan kepada-Nya. Maka ini adalah orang-orang yang dipuji oleh Tuhan Yesus dan saya percaya pada waktu kita bertemu dengan Dia, ada begitu banyak orang yang menerima pujian yang sama. Itulah yang engkau dan saya inginkan juga. (kz)




Sumber:
Ringkasan khotbah Pdt. Effendi Susanto di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Sydney, Australia tanggal 24 Juli 2005.
“… man is never sufficiently touched and affected by the awareness of his lowly state until he has compared himself with God’s majesty.”
(Dr. John Calvin; Institutes of the Christian Religion, I.I.3, p. 39)
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)