Author Topic: Kumpulan Thread yg berhubungan dengan Per10an  (Read 41821 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

August 30, 2011, 01:16:16 PM
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 3009
situs gereja GPK - Gereja Pergerakan KRISTUS:
http://gpknl.com/index_indo.html

Quote
Salam buat teman-teman di GPK yaitu

Ibu Maria, Bang Guntur, Bpk. Tony, Bpk. Untoro, Bpk. Domarthin, Bpk. Noldy
dan kawan-kawan lainnya yang tidak sempat saya sebutkan satu persatu.

Maju terus di dalam pergerakan.
Bukan untuk GPK, juga bukan untuk pergerakan itu sendiri,
melainkan untuk Tuhan.



Salam juga buat rekan-rekan pendahulu seperti

Daniel Alexander, Jonathan Pattiasina, Cornelius Wing, Samuel Saputra, Rubin Ong,
dan saudara-saudara lainnya.

Kita semua adalah kawan sekerja Allah (1 Kor 3:9).



cukup menggembirakan melihat daftar nama diatas,
soalnya beberapa dari mereka bisa dikatakan berasal dari golongan pentakosta-karismatik

namun mereka menyerukan bahwa per10an sudah tidak wajib bagi orang Kristen






situs pengajaran per10an-tidak-wajib diambil dari

http://gpknl.com/training/dasar/persepuluhan.html


MAKNA PERSEPULUHAN

“Bolehkah manusia menipu Allah?
Namun kamu menipu Aku.
Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami menipu Engkau?"
Mengenai persembahan persepuluhan dan persembahan khusus!
Kamu telah kena kutuk, tetapi kamu masih menipu Aku, ya kamu seluruh bangsa!
Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan,
supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, Firman Tuhan semesta alam,
apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan
mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.
Aku akan menghardik bagimu belalang pelahap,
supaya jangan dihabisinya hasil tanahmu dan
supaya jangan pohon anggur di padang tidak berbuah bagimu, Firman Tuhan semesta alam.
Maka segala bangsa akan menyebut kamu berbahagia,
sebab kamu ini akan menjadi negeri kesukaan, Firman Tuhan semesta alam.”
(Maleakhi 3:8-12)






PENDAHULUAN

Tidak salah lagi, inilah ayat favorit yang paling sering digunakan oleh para pendeta untuk ancam jemaatnya agar mereka membayar persepuluhan.

Pada umumnya mereka (pendeta) berkata bahwa siapa saja yang tidak memberikan persepuluhan adalah para penipu (maling) yang telah merampok uang Allah.

Namun yang paling menggelikan dari semuanya adalah para pendeta yang menyatakan bahwa orang-orang yang tidak memberikan persepuluhan tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.
Mereka berpendapat bahwa tidak mungkin seorang maling diterima di sana.

Tetapi mungkin mereka lupa bahwa seorang pemungut cukai
– yg bukan saja tidak memberikan persepuluhan, tetapi memeras uang rakyat –
dibenarkan oleh Allah,

sementara
orang Farisi yang rajin berpuasa dan memberikan persepuluhan,
nyatanya ditolak oleh Allah (Luk 18:9-14).


Apapun bentuk “ancaman” yang mereka berikan, pada dasarnya semua pendeta tsb sepakat:
“Bayarlah persepuluhan maka engkau akan diberkati,
tolaklah persepuluhan maka engkau akan dikutuk”






Benarkah orang-orang yang membayar persepuluhan akan diberkati oleh Allah?

Sayang sekali bahwa Alkitab Perjanjian Baru sama sekali tidak mendukung teori ini. YESUS berkata:

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi
yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu:
keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan.
Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.” (Mat 23:23)


Perhatikan bahwa orang-orang Farisi membayar persepuluhan mereka dengan setia, tetapi apa yang mereka terima bukanlah berkat dari Allah, melainkan kutuk dari Tuhan YESUS. Sebaliknya, Tuhan YESUS malah menegaskan tentang 3 bagian terpenting dalam hukum Taurat (sehubungan dengan masalah pemberian), yaitu: KEADILAN, BELAS KASIHAN dan KESETIAAN, yang tidak lain adalah INTI dari MAKNA PERSEPULUHAN, yakni 3 alasan utama mengapa Allah memerintahkan persepuluhan di dalam Perjanjian Lama.





Apakah persepuluhan Alkitabiah?

Ya, persepuluhan adalah Alkitabiah karena konsep persepuluhan memang tertulis di dalam Alkitab,
tetapi kita harus melangkah lebih jauh dengan menyatakan bahwa
persepuluhan bukanlah doktrin dan praktek yang diajarkan oleh Perjanjian Baru.
Secara singkat dapat dikatakan bahwa persepuluhan adalah milik orang Israel, sebagaimana yang tertulis di dalam hukum Taurat, bukan milik orang Kristen. Buktinya, di dalam Perjanjian Baru hanya ada 4 ayat yang menuliskan tentang persepuluhan. Dua ayat menceritakan tentang kecaman Tuhan YESUS terhadap orang Farisi (Mat 23:23 & Luk 11:42), satu ayat menceritakan tentang ketinggian hati orang Farisi (Luk 18:12), dan satu ayat lagi menceritakan tentang persembahan Abraham kepada Melkisedek (Ibrani 7:1-9).





Bukankah YESUS berkata “Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan ditinggalkan”?

Ya, tetapi kita harus melihat pada konteksnya secara keseluruhan, bukan hanya mencomot satu-dua perkataan Tuhan YESUS dan kemudian bermain dengan kata-kata.

Pada saat itu YESUS sedang menjelaskan kepada orang Farisi perihal makna persepuluhan ditinjau dari sudut pandang hukum Taurat, di mana prinsip dari hukum Taurat adalah: Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat (Gal 3:10), yang kemudian disimpulkan dengan istilah “Melanggar satu berarti melanggar semua” (Yak 2:10).

Dari sini kita dapat melihat bahwa Tuhan YESUS sama sekali tidak bermaksud untuk menegaskan bahwa konsep persepuluhan masih tetap berlaku di masa Perjanjian Baru (walaupun juga tidak menolak), melainkan untuk menegaskan kepada orang Farisi bahwa memberikan persepuluhan tetapi melupakan keadilan, belas kasihan dan kesetiaan, sama artinya dengan tidak memberikan persepuluhan.





Lalu bagaimana dengan persepuluhan Abraham kepada Melkisedek?

Ketika Abraham berjumpa dengan Melkisedek, – yang ditegaskan sebagai tokoh yang lebih besar daripada Abraham, yaitu seorang raja dan imam di kota Salem (Yerusalem kuno), yang adalah gambaran dari Tuhan YESUS sebagai raja dan imam (Ibr 7:1-4) – beliau menyerahkan sepersepuluh dari segala hasil rampasannya setelah ia mengalahkan raja Kedorlaomer dan raja-raja dari timur (Kel 14:1-20). Dari kisah ini kita dapat mengambil 3 buah kesimpulan penting:

1.  Persepuluhan Abraham bersifat SUKARELA, karena pada waktu itu hukum Taurat belum diberikan.

2.  Persepuluhan Abraham berasal dari JARAHAN, bukan dari penghasilannya sebagai peternak kambing-domba.

3.  Persepuluhan Abraham kepada Melkisedek adalah SATU-SATUNYA persepuluhan yang diberikan Abraham seumur hidupnya (setidaknya yang tercatat di dalam Alkitab).

Jadi tidak mungkin mengambil contoh persembahan Abraham kepada Melkisedek sebagai dasar untuk mendukung teori persepuluhan modern yang diajarkan oleh gereja-gereja masa kini.





Apakah Perjanjian Baru menolak konsep persepuluhan?

Tidak! Perhatikan bahwa dasar dari pemberian persepuluhan Abraham kepada Melkisedek adalah berdasarkan KASIH (secara sukarela), bukan berdasarkan PERINTAH. Hal inilah yang sesungguhnya ingin ditegaskan oleh Perjanjian Baru, yaitu bahwa kita harus memberikan seluruh persembahan kita berdasarkan kasih.


------------------------------------------------------------





Salah satu unsur terpenting di dalam hukum penafsiran adalah,

-- kita harus mengetahui rancangan Allah yang semula,

-- selanjutnya mempelajari alasan atau makna di balik perintah-perintah hukum Taurat
    (setelah kejatuhan manusia),

-- baru setelah itu kita memberikan penafsiran atas suatu doktrin atau praktek
   yang tertulis di dalam Perjanjian Baru.

Oleh sebab itu, penting bagi kita untuk mengetahui
alasan-alasan mengapa Allah memerintahkan persepuluhan di dalam Perjanjian Lama.

 

MAKNA PERSEPULUHAN DI DALAM PERJANJIAN LAMA

Di dalam Perjanjian Lama, khususnya melalui kitab Bilangan dan Ulangan, kita akan menemukan bahwa ada 3 macam persepuluhan yang diperintahkan oleh Allah.

Rabi-rabi Israel menamakan 3 macam persepuluhan itu dengan nama:
Ma’aser Rishon (Persepuluhan Pertama),
Ma’aser Sheni (Persepuluhan Kedua), dan
Ma’aser Ani (Persepuluhan Ketiga).




« Last Edit: August 30, 2011, 06:08:33 PM by repento »
Efesus 2:15-a

(TB)
sebab dengan mati-Nya sbg manusia IA telah
membatalkan hukum Taurat dgn SEGALA perintah dan ketentuannya


(BIS)
Hukum agama Yahudi dgn perintah-perintah dan peraturan-peraturannya sudah dihapuskan oleh Kristus
August 30, 2011, 01:18:33 PM
Reply #1
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 3009
MA’ASER RISHON


Mengenai bani Lewi,
sesungguhnya Aku berikan kepada mereka segala persembahan persepuluhan di antara orang Israel sebagai milik pusakanya, untuk membalas pekerjaan yang dilakukan mereka, pekerjaan pada Kemah Pertemuan...

Mereka tidak akan mendapat milik pusaka di tengah-tengah orang Israel, sebab persembahan persepuluhan yang dipersembahkan orang Israel kepada TUHAN sebagai persembahan khusus Kuberikan kepada orang Lewi sebagai milik pusakanya; itulah sebabnya Aku telah berfirman tentang mereka: Mereka tidak akan mendapat milik pusaka di tengah-tengah orang Israel."

TUHAN berfirman kepada Musa:
"Lagi haruslah engkau berbicara kepada orang Lewi dan berkata kepada mereka:

Apabila kamu menerima dari pihak orang Israel persembahan persepuluhan yang Kuberikan kepadamu dari pihak mereka sebagai milik pusakamu, maka haruslah kamu mempersembahkan sebagian dari padanya sebagai persembahan khusus kepada TUHAN, yakni persembahan persepuluhanmu dari persembahan persepuluhan itu, dan
persembahan itu akan diperhitungkan sebagai persembahan khususmu,
sama seperti gandum dari tempat pengirikan dan
sama seperti hasil dari tempat pemerasan anggur.

Secara demikian kamupun harus mempersembahkan sebagai persembahan khusus kepada TUHAN sebagian dari segala persembahan persepuluhan yang kamu terima dari pihak orang Israel. Dan yang dipersembahkan dari padanya sebagai persembahan khusus kepada TUHAN haruslah kamu serahkan kepada imam Harun.
(Bilangan 18:21-28)




Dari ayat-ayat ini, kita dapat mengambil beberapa point penting yang akan kita jadikan sebagai bahan perbandingan dengan apa yang dilakukan oleh gereja – yang mengaku – sebagai penerus dari bangsa Israel:

1. 
Persepuluhan adalah persembahan khusus yang diberikan oleh bangsa Israel kepada TUHAN, bukan kepada suku Lewi (ay 19, 24). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa persembahan persepuluhan adalah milik Tuhan. Oleh sebab itu, suku Lewi sama sekali tidak berhak untuk menuntut apalagi mengancam bangsa Israel apabila mereka lalai membayar persepuluhan.

2.   
Suku Lewi menerima persembahan persepuluhan dari Tuhan sebagai upah atas pekerjaan mereka di Kemah Pertemuan (sebelum menjadi Bait Allah), yaitu sebagai pengganti karena mereka tidak menerima tanah pusaka sebagaimana kesebelas suku yang lain. Adapun alasan mengapa mereka tidak menerima tanah pusaka yaitu karena mereka adalah milik pusaka kepunyaan Tuhan sendiri, yakni pengganti dari seluruh anak sulung bangsa Israel sehubungan dengan tulah kematian anak sulung di Mesir (Bil 3:11-12).

3.   
Suku Lewi menerima persembahan persepuluhan dari bangsa Israel dengan
perbandingan 1:11 suku.

4.   
Orang-orang Lewi memberikan persembahan persepuluhan dari persepuluhan yang mereka terima sebagai persembahan khusus kepada Tuhan, dan Tuhan memberian persembahan itu kepada keluarga Harun (imam-imam).

 

Sekarang, marilah kita coba menerapkan konsep persepuluhan pertama (Ma’aser Rishon) di dalam gereja. Sebuah catatan penting harus saya tekankan di sini.

Apabila gereja menganggap bahwa konsep persepuluhan – yang berasal dari Perjanjian Lama – masih tetap berlaku di masa Perjanjian Baru, maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mengikuti semua aturan yang tertulis di dalam hukum Taurat (sebab Perjanjian Baru sama sekali tidak mengatur soal ini).



Pertama,
dengan siapakah kita mau membandingkan para pendeta?
Dengan suku Lewi atau imam-imam?

Seandainya para pendeta kita persamakan dengan orang Lewi,
maka seharusnya mereka tidak boleh melakukan upacara baptisan, pemberian berkat, atau bahkan menyelenggarakan ibadah. Karena hanya para imamlah yang berhak melakukan hal-hal tersebut.

Sebaliknya, apabila kita menganggap bahwa para pendeta adalah imam-imam, maka seharusnya mereka tidak menerima persepuluhan dari jemaat – 10% – melainkan sepersepuluh dari total persepuluhan yang diterima oleh suku Lewi – 1%.

Pertanyaan selanjutnya adalah :Siapakah orang Lewi menurut hukum Taurat?
Berdasarkan kitab Bilangan pasal 4, kita ketahiu bahwa
mereka adalah orang-orang yang ditunjuk secara khusus untuk
mengurus barang-barang maha kudus (bani Kehat, ay 1-20),
mengangkat segala perlengkapan Kemah Suci (bani Gerson, ay 21-28), dan
mengangkat segala perkakas Kemah Suci (bani Merari, ay 29-33).

Secara singkat dapat dikatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang bertanggung-jawab atas segala sesuatu yang berhubungan dengan Kemah Suci, yaitu orang-orang yang diperbantukan kepada keluarga Harun (imam-imam) demi terselenggaranya ibadah orang Israel.

Sekarang yang menjadi permasalahannya adalah,
siapakah orang Lewi menurut versi Perjanjian Baru?
Berdasarkan “job description” yang mereka miliki, maka seharusnya mereka adalah
seluruh full timer gereja yang tidak ditahbiskan menjadi imam (pendeta).
Mereka adalah orang-orang yang berhak untuk menerima persepuluhan dari jemaat
untuk selanjutnya mereka memberikan sepersepuluh dari pendapatan mereka kepada para pendeta.





Kedua,
persembahan persepuluhan dari persepuluhan jemaat (1%) yang diberikan oleh orang Lewi kepada imam-imam,
harus diberikan secara merata kepada semua anggota keluarga Harun.
Alkitab tidak pernah menyatakan bahwa Harun mendapatkan porsi yang lebih besar ketimbang anak-anaknya, Alkitab hanya menyatakan bahwa persembahan orang Lewi diberikan kepada seluruh keluarga Harun.
Dengan demikian,
tidak sepantasnya seorang gembala sidang mendapatkan porsi yang lebih besar ketimbang para pendeta lainnya.




Ketiga, sekaligus point terpenting yang harus kita pahami di sini.
Makna di balik perintah Ma’aser Rishon adalah KEADILAN.
Suku Lewi, termasuk keturunan Harun, sama sekali tidak menerima tanah pusaka.
Oleh sebab itu, sebagai gantinya, sangatlah wajar apabila mereka menerima persembahan persepuluhan dari orang Israel (dengan perbandingan 1:11).
Tujuannya adalah supaya SEMUA ORANG DAPAT MAKAN (secara adil).

Adakah tujuan ini telah tercapai di dalam gereja?
Mengapa terjadi kesenjangan sosial di antara para pendeta, khususnya antara gembala sidang dengan seluruh full timer yang bekerja di sana ?
« Last Edit: August 30, 2011, 01:36:12 PM by repento »
Efesus 2:15-a

(TB)
sebab dengan mati-Nya sbg manusia IA telah
membatalkan hukum Taurat dgn SEGALA perintah dan ketentuannya


(BIS)
Hukum agama Yahudi dgn perintah-perintah dan peraturan-peraturannya sudah dihapuskan oleh Kristus
August 30, 2011, 01:18:53 PM
Reply #2
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 3009

MA’ASER SHENI

Haruslah engkau benar-benar mempersembahkan sepersepuluh dari seluruh hasil benih yang tumbuh di ladangmu, tahun demi tahun.

Di hadapan TUHAN, Allahmu, di tempat yang akan dipilih-Nya untuk membuat nama-Nya diam di sana, haruslah engkau memakan persembahan persepuluhan dari gandummu, dari anggurmu dan minyakmu, ataupun dari anak-anak sulung lembu sapimu dan kambing dombamu,

supaya engkau belajar untuk selalu takut akan TUHAN, Allahmu.
Apabila, dalam hal engkau diberkati TUHAN, Allahmu, jalan itu terlalu jauh bagimu, sehingga engkau tidak dapat mengangkutnya, karena tempat yang akan dipilih TUHAN untuk menegakkan nama-Nya di sana terlalu jauh dari tempatmu, maka haruslah engkau menguangkannya dan membawa uang itu dalam bungkusan dan pergi ke tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, dan haruslah engkau membelanjakan uang itu untuk segala yang disukai hatimu, untuk lembu sapi atau kambing domba, untuk anggur atau minuman yang memabukkan, atau apapun yang diingini hatimu, dan haruslah engkau makan di sana di hadapan TUHAN, Allahmu dan bersukaria, engkau dan seisi rumahmu.

Juga orang Lewi yang diam di dalam tempatmu janganlah kauabaikan, sebab ia tidak mendapat bagian milik pusaka bersama-sama engkau.
(Ulangan 14:22-27)





Sekali lagi kita diperhadapkan dengan kenyataan bahwa
gereja tidak konsekuen di dalam menerapkan konsep persepuluhan yang Alkitabiah.

Sampai dengan hari ini, tidak pernah sekalipun saya mendengar ada seorang pendeta yang mengajarkan bahwa di dalam Alkitab terdapat suatu jenis persepuluhan yang boleh dimakan sendiri oleh pembawanya bersama dengan seisi rumahnya.

Saya tidak tahu apakah ada unsur kesengajaan di sini
– maksudnya supaya jemaat tidak mempertanyakan soal ini
– atau memang mereka lupa untuk memberitakannya?

Mungkin salah satu kekuatiran yang timbul dengan mengajarkan adanya
suatu jenis persepuluhan yang boleh dimakan sendiri adalah kecenderungan manusia yang pada akhirnya tidak akan memberi sama sekali.
Tetapi hal itu bukan urusan gereja, apalagi sampai menghakimi mereka yang tidak memberikan persepuluhan.



Adapun makna di balik persepuluhan kedua (Ma’aser Sheni) adalah KESETIAAN.

Bangsa Israel diminta untuk membawa persepuluhan mereka ke Yerusalem (tempat yang kelak dipilih oleh Allah), atau
bila terlalu jauh, mereka harus menguangkan persepuluhan mereka dan membelanjakan uang tersebut di Yerusalem, sesuka hati mereka, dengan tujuan agar mereka makan di hadapan Tuhan bersama-sama dengan seluruh anggota keluarga mereka,

yaitu setahun sekali yang dilaksanakan pada hari raya pesta panen, atau
yang lebih dikenal dengan nama hari raya tujuh minggu,
yang kemudian hari dirayakan oleh orang Kristen sebagai hari raya Pentakosta.


Apa tujuannya?
Tujuannya supaya mereka belajar untuk takut akan Tuhan, Allah mereka (ay 23).

Apa maksudnya?
Maksudnya adalah, mudah sekali bagi bangsa Israel untuk jatuh ke dalam salah satu bentuk penyembahan berhala dengan cara menyembah salah satu dewa/dewi kesuburan di tanah Kanaan (Mis: Asyera, Asytoret, Baal, dll).
Dengan adanya hari raya pesta panen, yang diiringi oleh Ma’aser Sheni,
bangsa Israel senantiasa diingatkan kepada satu-satunya sumber berkat yang harus mereka sembah, yaitu Yahweh (YHWH), Allah Penguasa alam semesta.


Adakah makna kesetiaan seperti ini sudah menjadi bagian dari konsep persepuluhan gereja di masa modern?
Saya meragukannya…

« Last Edit: August 30, 2011, 01:41:09 PM by repento »
Efesus 2:15-a

(TB)
sebab dengan mati-Nya sbg manusia IA telah
membatalkan hukum Taurat dgn SEGALA perintah dan ketentuannya


(BIS)
Hukum agama Yahudi dgn perintah-perintah dan peraturan-peraturannya sudah dihapuskan oleh Kristus
August 30, 2011, 01:19:22 PM
Reply #3
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 3009
MA’ASER ANI


Pada akhir tiga tahun engkau harus
mengeluarkan segala persembahan persepuluhan dari hasil tanahmu dalam tahun itu dan
menaruhnya di dalam kotamu(Sha’ar);

maka

-- orang Lewi, karena ia tidak mendapat bagian milik pusaka
-- bersama-sama engkau, dan
-- orang asing,
-- anak yatim dan
-- janda yang di dalam tempatmu,

akan datang makan dan menjadi kenyang,
supaya TUHAN, Allahmu, memberkati engkau di dalam segala usaha yang dikerjakan tanganmu.
(Ulangan 14:28-29)



Pernahkah saudara menemukan ayat-ayat di dalam Perjanjian Lama yang menyebutkan tentang
adanya persembahan bagi orang-orang miskin atau yang lebih dikenal dengan istilah persembahan diakonia?

Saya yakin tidak, mengapa?
Karena memang tidak ada persembahan seperti itu di dalam PL.

Orang-orang miskin, yaitu janda-janda, anak-anak yatim, dan bahkan orang asing,
mendapat bagian mereka dari :
1. hasil penuaian yang terbuang (umpamanya buah yang jatuh dari pohon, Imamat 19:9-10) dan
2. Ma’aser Ani yang dilakukan setiap tahun ketiga dan keenam
   dalam satu periode tahun sabat (7 tahun).



Jadi, berdasarkan keterangan ini, jelaslah bahwa salah satu fungsi dari persepuluhan
di dalam PL adalah menyatakan BELAS KASIHAN,
yaitu agar orang-orang miskin dan orang-orang asing tidak harus mati kelaparan,

karena mereka tahu kemana mereka harus pergi untuk mendapatkan makanan, yaitu pintu gerbang kota (Sha’ar = Pintu Gerbang, KJV = Gates),
dimana orang-orang lewi bertugas untuk mengatur pembagiannya.


« Last Edit: August 30, 2011, 01:34:03 PM by repento »
Efesus 2:15-a

(TB)
sebab dengan mati-Nya sbg manusia IA telah
membatalkan hukum Taurat dgn SEGALA perintah dan ketentuannya


(BIS)
Hukum agama Yahudi dgn perintah-perintah dan peraturan-peraturannya sudah dihapuskan oleh Kristus
August 30, 2011, 01:19:41 PM
Reply #4
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 3009

Kemana persepuluhan itu dibawa?


Banyak pendeta menyatakan bahwa persepuluhan harus di bawa ke gereja karena gereja adalah perwujudan Bait Allah di dalam PB.
Tetapi Maleakhi 3:10 dan ayat-ayat lainnya di dalam PL menyatakan bahwa
persepuluhan orang Israel harus dibawa ke rumah perbendaharaan, bukan ke Bait Allah,
dimana orang-orang Lewi bertugas untuk mengatur pembagian persepuluhan itu,
agar setiap harinya terdapat persediaan makanan di Bait Allah.

Bayangkan seandainya semua orang dari seluruh pelosok negeri Israel membawa sepersepuluh dari panen mereka ke Bait Allah, apakah kira-kira Bait Allah dapat menampungnya?



Selain itu,
secara tegas Tuhan YESUS menyatakan bahwa tidak ada lagi bangunan Bait Allah di masa Pernjanjian Baru,
karena Bait Allah yang sesungguhnya adalah diri kita sendiri, yaitu orang-orang yang percaya kepada-Nya (Yoh 2:19-21, 1 Kor 3:16-17),
yang didirikan bukan oleh tangan manusia,
melainkan oleh Tuhan YESUS sendiri.


Jadi dari mana kita mau mempertahankan ide untuk membawa persembahan persepuluhan ke gereja (Bait Allah)?






Kalau begitu, kemana bangsa Israel membawa persepuluhan mereka?
Tergantung jenis persepuluhannya.


Pertama, mereka membawa Ma’aser Rishon ke kota-kota orang Lewi yang tersebar di seluruh penjuru negeri Israel (Bil 35:1-8, Yos 21:1-42).


Kedua, mereka membawa Ma’aser Sheni ke kota Yerusalem untuk dimakan bersama-sama di dalam perayaan pesta panen (Ul 14:24).


Ketiga, mereka membawa Ma’aser Ani ke pintu gerbang kota masing-masing supaya janda-janda, anak yatim dan orang asing dapat makan dan menjadi kenyang (Ul 14:28).






Konteks Maleakhi 3

Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, Maleakhi 3,
khususnya ayat 6-12, adalah ayat-ayat yang banyak dipergunakan oleh para pendeta sebagai dasar untuk menyerukan persepuluhan.

Tetapi hingga detik ini, jarang sekali ada pendeta yang mau menjelaskan sampai ke akar-akarnya bahwa konteks sejarah kitab Maleakhi adalah

saat di mana bangsa Israel baru saja kembali dari masa pembuangan di Babel dan
mereka masih saja hidup dengan cara yang sama sebagaimana nenek moyang mereka
berdosa terhadap Allah (Maleakhi 1 s/d 4).

Allah marah karena mereka membiarkan orang-orang Lewi lari ke ladangnya (bekerja) untuk penghidupan mereka (Neh 13:10-13).
Dengan perkataan lain, mereka menindas dan mengambil jatah yang seharusnya adalah milik orang Lewi, janda-janda, anak yatim, dan orang asing (Mal 3:4-5).







Bagaimana dengan kondisi gereja pada hari ini?
Apabila gereja tetap mempertahankan konsep tentang persepuluhan menurut Perjanjian Lama,
maka ketentuan yang sama masih tetap berlaku bagi mereka.

Persepuluhan adalah milik
orang Lewi (Ma’aser Rishon),
seluruh anggota keluarga (Ma’aser Sheni),
serta janda-janda, anak yatim dan orang asing (Ma’aser Ani).

Apabila uang persepuluhan diambil oleh para pendeta (imam-imam), khususnya gembala sidang, atau bahkan dipergunakan untuk membeli gedung dan peralatan sound system,
maka
penyelewengan yang dilakukan oleh gereja pada hari ini adalah penyelewengan yang sama yang telah dilakukan oleh bangsa Israel pada masa nabi Maleakhi.

Merekalah (pendeta) yang sesungguhnya pantas disebut sebagai penipu dan maling
Mengapa?

Pertama,
mereka mengambil jatah yang sesungguhnya bukan milik mereka (maling).

Kedua,
mereka selalu menyerukan tentang persepuluhan agar tersedia makanan di rumah Tuhan, tetapi mereka mempergunakannya untuk membeli properti gereja, apa namanya kalau bukan penipuan?






Hati Allah di balik perintah persepuluhan

Sudah jelas kiranya mengapa Allah memerintahkan persepuluhan di dalam PL.

Pertama, supaya terjadi KEADILAN diantara bangsa Isarel, yaitu:
Sebelas suku Israel mendapat tanah pusaka dan suku Lewi menerima sepersepuluh dari masing-masing suku yang kemudian memberikan sepersepuluh dari persepuluhan itu kepada imam-imam.

Kedua, supaya bangsa Israel belajar SETIA kepada Yahweh,
Allah yang memberkati panen mereka.

Ketiga, menyatakan BELAS KASIHAN kepada mereka yang kekurangan.


Bukankah ketiga model persepuluhan itu sejalan dengan perintah yang terutama di dalam Perjanjian Lama? “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, jiwamu, akal budimu, dan dengan segenap kekuatanmu”, dan “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”.

Hati Allah selalu tertuju kepada manusia, yaitu ciptaan-Nya yang serupa dan segambar dengan Diri-Nya. Sebagai Allah, tentunya Ia menghendaki agar semua orang dapat saling mengasihi.

Tetapi sayang, dosa telah menghancurkan tabiat manusia sedemikian rupa sehingga Allah “terpaksa” memberikan perintah persepuluhan (juga perintah-perintah yang lain) agar manusia dipaksa belajar untuk saling memperhatikan dan saling mengasihi.


« Last Edit: August 30, 2011, 01:47:40 PM by repento »
Efesus 2:15-a

(TB)
sebab dengan mati-Nya sbg manusia IA telah
membatalkan hukum Taurat dgn SEGALA perintah dan ketentuannya


(BIS)
Hukum agama Yahudi dgn perintah-perintah dan peraturan-peraturannya sudah dihapuskan oleh Kristus
August 30, 2011, 01:20:10 PM
Reply #5
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 3009


MAKNA PERSEPULUHAN DI DALAM PERJANJIAN BARU


Prinsip dasar yang tidak pernah berubah di dalam menafsirkan Perjanjian Baru adalah: Perjanjian Lama sudah digenapi sekaligus dibatalkan oleh KRISTUS.
Prinsip dasarnya tertulis di dalam Ibrani 8:7-12 (Please dibaca) yang
dikutip dari kitab Yeremia 31:31-34.


Ketika bangsa Israel keluar dari Mesir menuju tanah Kanaan,
Allah memberikan sebuah perjanjian yang disampaikan melalui hamba-Nya, nabi Musa,
yang dimeteraikan dengan darah anak lembu dan domba jantan
(Ibrani 9:19-20, Kel 24:6-8),

tetapi bangsa Israel tidak setia terhadap perjanjian itu.
Namun demikian, Allah tetap setia terhadap perjanjian-Nya.

Oleh sebab itu, Ia mengutus Anak-Nya untuk menggenapi seluruh kebenaran hukum Taurat.
Dan dengan tergenapinya perjanjian yang pertama melalui kehidupan dan pengorbanan Anak-Nya (tanpa dosa dan dikorbankan sebagai Anak Domba)
prinsip kebenaran menurut Taurat adalah:
Hukum Taurat harus dilakukan sepenuhnya tanpa kesalahan sedikitpun (Yak 2:10), dan
Tidak ada pengampunan tanpa penumpahan darah (Ibr 9:22, Im 17:11) –,

maka Allah telah melakukan bagian-Nya di dalam perjanjian yang pertama.
Bersamaan dengan itu, berdasarkan kasih Allah,
Ia mengadakan suatu perjanjian yang baru melalui Anak-Nya, Tuhan YESUS,
yang dimeteraikan dengan darah-Nya sendiri.


Alkitab menyatakan, berdasarkan perjanjian yang kedua,
bahwa Allah akan menaruh hukum-hukum-Nya, yaitu melalui ROH KUDUS,
di dalam hati dan akal budi setiap orang yang percaya kepada-Nya (Ibr 8:10, 2 Kor 3:1-11).

Dengan demikian, perjanjian yang pertama dinyatakan sudah tidak berlaku lagi,
karena semua orang yang hidup di dalam KRISTUS adalah orang-orang yang terhisap ke dalam perjanjian yang baru ((Ibr 8:13, Ef 2:15).




Apa perbedaan antara PL dan PB sehubungan dengan doktrin Persepuluhan?

Perjanjian Baru secara implisit (tersirat) menyatakan bahwa
tidak ada lagi bangunan Bait Allah,
tidak ada lagi kaum Lewi, dan
tidak ada lagi pembagian kasta antara orang awam dengan imam-imam.

Sebaliknya, Alkitab PB secara tegas menyatakan bahwa
semua orang percaya adalah Bait Allah, yaitu tempat kediaman Roh Allah, dan
semua orang percaya adalah imam-imam Perjanjian Baru

Oleh sebab itu, tidak dibutuhkan lagi adanya praktek persepuluhan – terutama Ma’aser Rishon – karena tidak ada lagi bangunan Bait Allah, dimana secara tidak langsung
tidak dibutuhkan lagi adanya kaum Lewi dan imam-imam yang melayani di sana.




Mengapa Allah meniadakan persepuluhan di dalam Perjanjian Baru?

Bukan meniadakan, tetapi mengubah konsepnya secara keseluruhan.
Di dalam PL, 10% adalah milik Allah, tetapi di dalam PB, 100% uang kita adalah kepunyaan Allah.
Bahkan secara ekstrem dapat dikatakan sebagai berikut:
Hidup kita adalah milik Tuhan, apalagi uang kita?
Oleh sebab itu, tanggung jawab kita di dalam pemakaian berkat Allah (uang) jauh lebih berat ketimbang saudara-saudara kita di dalam PL.





Doktrin persepuluhan sama sekali tidak relevan dengan Perjanjian Baru

Misalkan, Bpk. A memiliki penghasilan 2 juta rupiah per bulan.
Maka persepuluhan yang harus Bpk. A berikan adalah 200 ribu rupiah dan
sisanya 1,8 juta dipergunakan untuk kehidupan sehari-hari, wajar bukan?

Tetapi bagaimana dengan Bpk. B yang memiliki penghasilan 100 juta rupiah per bulan?
Coba kita hitung, 10 juta rupiah untuk persepuluhan dan 90 juta untuk kehidupan pribadi, wajarkah menurut saudara?
Masih dapatkah kita berkata bahwa Bpk. B mengasihi Allah dan sesamanya?

Sekarang bayangkan bagaimana nasib orang-orang kecil yang memiliki penghasilan kurang dari 500 ribu per bulan,
masihkan Injil dapat dikatakan sebagai kabar baik apabila mereka masih tetap harus menyisihkan 50 ribu untuk gereja?
Saya kira jawabannya sama sekali tidak,
karena tidak mungkin berita Injil mengoyakkan hati nurani manusia,
sebab dasar dari PB adalah KASIH, bukan lagi PERINTAH (PL).




Kembali kepada kehendak Allah yang semula

Sama halnya dengan konsep perceraian dimana
pada mulanya Allah tidak mengijinkan perceraian,
namun karena kedegilan hati manusia, Allah mengijinkan perceraian berdasarkan hukum Taurat,
tetapi pada akhirnya Tuhan YESUS mengembalikan konsep tersebut kepada kehendak Allah yang semula, yaitu tidak boleh bercerai,


maka demikian pula dengan konsep persembahan.
Pada mulanya Allah menghendaki persembahan berdasarkan kasih,
namun karena ketamakan hati manusia, Allah memerintahkan persembahan (termasuk persepuluhan) berdasarkan hukum Taurat,
tetapi kini Tuhan YESUS telah mengembalikan konsep pemberian kepada hukum yang semula,
yaitu hukum Kasih, yang dijabarkan dengan istilah: Keadilan, Belas Kasihan dan Kesetiaan, yang ditandai dengan adanya kerelaan hati dan sukacita (2 Kor 9:7).



« Last Edit: August 30, 2011, 01:53:19 PM by repento »
Efesus 2:15-a

(TB)
sebab dengan mati-Nya sbg manusia IA telah
membatalkan hukum Taurat dgn SEGALA perintah dan ketentuannya


(BIS)
Hukum agama Yahudi dgn perintah-perintah dan peraturan-peraturannya sudah dihapuskan oleh Kristus
August 30, 2011, 01:20:30 PM
Reply #6
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 3009


Dimana letak kesalahan gereja?



Letak kesalahan gereja adalah
ketika gereja, yang adalah organisme, berubah menjadi organisasi .

Gereja adalah jemaat (Ekklesia), yaitu orang-orang yang dipanggil keluar untuk suatu pertemuan. Bukan suatu tempat, bukan suatu institusi, apalagi menjadi suatu gedung pertemuan.

Mungkin ada baiknya apabila kita mengganti kosa kata bahasa Indonesia
“gereja” menjadi “jemaat” sehingga konotasi kita tidak salah sejak semula mendengarnya.



Ketika gereja menjadi suatu institusi dan tempat ibadah,
secara tidak sadar kita telah kembali kepada
pola Perjanjian Lama dengan Bait Allah dan struktur organisasinya.

Kita kembali kepada pola Imam – Awam dengan
mentahbiskan pendeta-pendeta atau pastur-pastur yang secara tidak langsung membuat sebuah kasta baru di dalam Perjanjian Baru dimana
orang-orang awam tidak boleh membaptis, mengucapkan berkat, atau melakukan tugas-tugas keimamatan lainnya,
padahal Alkitab mengajarkan bahwa setiap orang percaya adalah imam Perjanjian Baru.


Dengan berdirinya bait Allah – bait Allah yang baru (Baca: gereja), maka
secara otomatis diperlukan juga orang-orang yang bertugas sebagai imam.
Tentu saja hal ini mengakibatkan timbulnya kebutuhan akan penghidupan dari imam-imam yang bekerja secara full time di gereja tersebut.
Maka tidak perlu heran apabila jalan keluarnya adalah
persepuluhan sebagaimana gereja kembali ke pola institusi dan keimamatan,
yaitu kembali kepada pola Perjanjian Lama.





Kapan gereja kembali kepada pola persepuluhan?

Beberapa sumber menyebutkan bahwa Cyprian pada abad ke-3
mulai memperkenalkan konsep persepuluhan untuk menyokong kehidupan para penginjil,
tetapi konsep ini sama sekali tidak populer karena gereja pada waktu itu masih berbentuk gereja rumah.

Perubahan besar terjadi ketika kaisar Konstantin bertobat pada abad ke-4 dan segera gelombang kristenisasi melanda seluruh eropa. Hasilnya,
gedung-gedung gereja mulai didirikan.
Imam-imam diangkat dan ditahbiskan.
Akhirnya, lahirlah institusi gereja,
yang kemudian menjelaskan asal-muasalnya gaji kependetaan,
yaitu diambil dari persembahan-persembahan jemaat, termasuk persepuluhan.

Baru pada akhirnya pada tahun 800-an, persembahan persepuluhan menjadi semacam kewajiban yang harus dibayarkan oleh jemaat.





Mungkin beberapa pendeta harus menyelami perkataan rasul Paulus berikut ini sehubungan dengan sumber penghidupan mereka:
“Sebab kami tidak sama dengan banyak orang lain yang mencari keuntungan dari firman Allah.
Sebaliknya dalam KRISTUS kami berbicara sebagaimana mestinya dengan maksud-maksud murni atas perintah Allah dan di hadapan-Nya.” (2 Kor 2:17).






Salahkah menerima persembahan (termasuk “persepuluhan”) dari jemaat?

Tentu saja tidak,
sebab rasul Paulus yang menyerukan agar kita semua tidak mencari keuntungan dari firman Allah, adalah orang yang sama yang menyebutkan,
“Tidak tahukah kamu, bahwa mereka yang melayani dalam tempat kudus mendapat penghidupannya dari tempat kudus itu dan bahwa mereka yang melayani mezbah, mendapat bahagian mereka dari mezbah itu? Demikian pula Tuhan telah menetapkan, bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu.” (1 Kor 9:13-14).



Kesalahannya
bukan terletak pada boleh atau tidaknya hidup dari pelayanan, yaitu menerima persembahan dari jemaat (atau PK),
tetapi pada
“kewajiban memberi persembahan” yang ditekankan oleh institusi gereja (atau pendeta), yaitu dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup para full timernya.

Jangan lupa bahwa rasul Paulus, walaupun berhak menerima persembahan dari jemaat – berdasarkan prinsip 1 Kor 9:11 –, tidak mengambil persembahan tersebut,
melainkan memberikan teladan bagi hamba-hamba Tuhan lainnya dengan
cara bekerja membuat tenda (Kis 18:3).

Namun demikian, ada pula saatnya dimana rasul Paulus menerima persembahan dari jemaat sebagai bekalnya untuk memberitakan Injil (Fil 4:15-18). Jadi, dengan perkataan lain, bukan soal menerima persembahan yang salah, melainkan kuk memberi persembahan yang kita taruh kepada jemaat yang salah.
« Last Edit: August 30, 2011, 02:01:21 PM by repento »
Efesus 2:15-a

(TB)
sebab dengan mati-Nya sbg manusia IA telah
membatalkan hukum Taurat dgn SEGALA perintah dan ketentuannya


(BIS)
Hukum agama Yahudi dgn perintah-perintah dan peraturan-peraturannya sudah dihapuskan oleh Kristus
August 30, 2011, 01:20:43 PM
Reply #7
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 3009
KESIMPULAN

Memberi dengan sukacita dan kerelaan hati adalah salah satu tanda dari kedewasaan rohani, yaitu bukti adanya buah roh Kasih.

Tentunya pemberian ini harus diukur berdasarkan motivasi di balik pemberiannya,
bukan hanya sekedar adanya perasaan sukacita dan kerelaan hati.
Motivasi yang paling benar adalah kasih kepada Allah, yaitu kesadaran bahwa Allah telah terlebih dahulu menyatakan kasihnya kepada kita.
Tidak ada motivasi lain yang lebih tinggi nilainya daripada kasih.

Rasul Paulus pernah menekankan bahwa dari ketiga hal ini,
yaitu: iman, pengharapan dan kasih, yang terbesar diantaranya ialah kasih (1 Kor 9:13).

Kebenaran ini sejalan dengan pengajaran Tuhan YESUS perihal hukum yang terutama:
Kasihilah Tuhan Allahmu dan Kasihilah sesamamu manusia.
Standar inilah yang kemudian harus kita terapkan di dalam pelayanan kita


– tertuju kepada para pendeta –
yaitu bagaimana kita menyatakan kasih Allah kepada jemaat.
Tujuannya tidak lain supaya mereka mengenal kasih Allah yang sesungguhnya,

dan sebagai bonusnya (bukan tujuan utama) kita akan mendapatkan kasih dari mereka,
khususnya dalam hal persembahan apabila nyata bahwa
kehidupan kita memang bergantung dari pelayanan.

Jadi, apabila saudara bertanya kepada saya,
bagaimana caranya agar para pendeta dapat mencukupi kebutuhan hidupnya,
maka saya akan menjawab saudara:
“Dewasakanlah kerohanian jemaat, karena ketika mereka menjadi dewasa,
maka secara otomatis mereka akan memberi (sesuai dengan kebutuhan pendetanya).

Bukan untuk menjadikan pendeta mereka kaya raya!
(yang pada akhirnya melenceng dari tujuannya yang semula),
melainkan agar
prinsip Keadilan, Kesetiaan dan Belas Kasihan dapat dinyatakan diantara tubuh KRISTUS”.     



« Last Edit: August 30, 2011, 05:54:52 PM by repento »
Efesus 2:15-a

(TB)
sebab dengan mati-Nya sbg manusia IA telah
membatalkan hukum Taurat dgn SEGALA perintah dan ketentuannya


(BIS)
Hukum agama Yahudi dgn perintah-perintah dan peraturan-peraturannya sudah dihapuskan oleh Kristus
August 30, 2011, 05:55:35 PM
Reply #8
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 3009

Matius 23:23a

Celakalah kamu,
hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi,
hai kamu orang-orang munafik,

sebab
persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar,

tetapi
yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu:


KEADILAN     dan     BELAS KASIHAN     dan     KESETIAAN.


« Last Edit: August 30, 2011, 05:57:51 PM by repento »
Efesus 2:15-a

(TB)
sebab dengan mati-Nya sbg manusia IA telah
membatalkan hukum Taurat dgn SEGALA perintah dan ketentuannya


(BIS)
Hukum agama Yahudi dgn perintah-perintah dan peraturan-peraturannya sudah dihapuskan oleh Kristus
August 30, 2011, 11:05:22 PM
Reply #9
  • FK - Full Member
  • ***
  • Posts: 192
  • Gender: Male
Syalom Bro

Menurut saya perpuluhan itu merupakan ketaatan kita aja kpd TUHAN YESUS KRISTUS...
TUHAN YESUS itu yg memiliki dunia dan alam semesta ini , dia tidak membutuhkan apapun dari kita...
perpuluhan itu , di lihat TUHAN sebagai ketaatan kita..
bukannya setelah anda memberi perpuluhan anda berpikir uang itu akan berbalik kepada anda berkali2 itu ajaran sesat...

kemudian....
Masalah itu duit mau di apain ama gereja , itu urusan gereja ama TUHAN....
Yang penting diri kita dulu , ga usah ngurus gereja...

TUHAN memberkati  :angel:
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)