Author Topic: Kenapa Kok Banyak Gereja Dijual Di Eropa dan Amerika?  (Read 4974 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

September 13, 2011, 01:36:50 PM
  • FK - Senior
  • ****
  • Posts: 293
  • Denominasi: Kristen
Dear All,

Masjid-Masjid Lain di Eropa dan Amerika
Yang Dulunya Gereja



Di saat umat Kristen Inggris “lari” dari gereja, umat Islam ambil alih tempat mereka untuk dijadikan masjid. Di Peace Street 20 Bolton, berdiri sebuah gedung besar berkubah yang amat berwibawa, yang lengkap dengan menara. Tempat itu ramai dikunjungi warga Bolton, terutama yang memeluk Islam, bahkan tiap pekannya, ribuan umat Islam hadir di tempat ini, guna melaksanakan shalat Jumat. Gedung itu tidak lain adalah Masjid Zakariyya.

Sejarah berdirinya masjid itu, bukanlah kisah yang singkat. Kala itu antara tahun 1965 hingga 1967 umat Islam Bolton dan Balckburn belum memiliki tempat permanen untuk melaksanakan shalat. Untuk melakukan shalat Jumat saja, mereka melaksanakannya di The Aspinal, sebuah diskotik dan tempat dansa yang digunakan di malam hari, sedang siangnya di hari Jumat tempat itu dibersihkan para relawan guna dijadikan sebagai tempat melaksanakan shalat Jumat.

Karena jumlah jama’ah semakin bertambah, maka diperlukan tempat besar yang permanen. Dan dimulailah pencarian bangunan yang bisa digunakan sebagai masjid sekaligus islamic center. Pada tahun 1967, ada penawaran pembelian gedung bekas gereja komunitas Metodis, yang terpaksa dijual karena terbakar. Dengan dana sebesar 2750 pound sterling dari komunitas Muslim lokal, akhirnya bangunan itu menjadi milik umat Islam. Bangunan itulah yang kini disebut Masjid Zakariyya itu.

Tidak hanya Masjid Zakariyya, beberapa masjid Inggris pun memiliki kisah yang hampir sama dengan kisah masjid kebanggan Muslim Bolton itu, yakni sama-sama berasal dari gereja yang dijual, baik karena kehilangan pengikut, atau karena sebab lainnya. Berikut ini masjid-masjid yang dulunya merupakan gereja:

Masjid Jami’ London



Tempat ibadah ini juga dikenal dengan sebutan masjid Brick Lane, karena posisinya di Brick Lane 52. Bangunan berdinding bata merah itu, merupakan masjid terbesar di London, yang mampu menampung 4000 jama’ah. Walau demikian luas, masjid ini belum bisa menampung seluruh anggota jama’ah shalat Jumat, hingga sering kali jama’ah meluber ke jalan raya. Mayoritas anggota jama’ah merupakan keturunan Banglades, hingga wilayah tersebut disebut Banglatow.

Masjid ini memiliki sejarah yang sangat unik dan panjang. Awalnya, bangunan yang didirikan sejak tahun 1743 ini adalah gereja Protestan. Dibangun oleh komunitas Huguenot, atau para pemeluk Protestan yang lari dari Prancis untuk menghindari kekejaman penganut Katolik. Akan tetapi, karena jama’ahnya menurun, maka gereja ini dijual.

Di tahun 1809, bangunan ini digunakan masyarakat London untuk mempromosikan Kristen kepada para pemeluk Yahudi, dengan cara mengajarkan Kristen dengan akar ajaran Yahudi. Tapi, program ini juga gagal. Dan bangunan diambil oleh komunitas Metodis pada tahun 1819.

Komunitas Metodis cukup lama “memegang” gereja ini. Walau demikian, pada tahun 1897, tempat ini diambil oleh komunitas Ortodok Independen dan berbagi dengan Federasi Sinagog yang menempati lantai dua.

Tapi tahun 1960-an komunitas Yahudi menyusut, karena mereka pindah ke wilayah utara London, seperti Golders Green dan Hendon, sehingga bangunan ditutup sementara, dan hal itu berlanjut hingga tahun 1976. Setelah itu gedung itu dibuka kembali, dengan nama barunya, Masjid Jami’ London.

Masjid Didsbury



Masjid ini terletak di Burton Road, Didsbury Barat, Manchester. Gedung yang digunakan sebelumnya merupakan bekas gereja komunitas Metodis, yang bernama Albert Park. Gedung ini tergolong bangunan kuno, karena telah beroprasi sejak tahun 1883. Akan tetapi, pada tahun 1962 gereja ditutup, dan beralih menjadi masjid dan islamic center. Masjid ini, kini mampu menampung 100 jama’ah, dan yang bertanggung jawab sebagai imam dan khatib hingga kini adalah Syeikh Salim As Syaikhi.

Masjid Brent



Terletak di Chichele Road, London NW2, dengan kapasitas 450 orang, dan dipimpin oleh Syeikh Muhammad Sadeez. Awalnya, bangunan itu merupakan gereja. Hingga kini ciri bentuknya tidak banyak berubah. Hanya ditambah kubah kecil berwarna hijau di beberapa bagian bangunan dan puncak menara.

Masjid New Peckham



Didirikan oleh Syeikh Nadzim Al Kibrisi. Terletak di dekat Burgess Park, tepatnya di London Selatan SE5. Kini masjid ini berada di bawah pengawasan Imam Muharrim Atlig dan Imam Hasan Bashri. Sebelumnya, gedung masjid ini merupakan bekas gereja St Marks Cathedral.

Masjid Sentral Wembley



Masjid ini terletak di jantung kota Wembley, dekat dengan Wembley Park Station. Daerah ini memiliki komunitas Muslim besar dan banyak toko Muslim yang berada di sekitarnya. Gedung masjid ini sebelumnya juga merupakan bekas gereja. Walau sudah terpasang kubah di puncak menaranya, tapi kekhasan bangunan gereja masih nampak jelas. Dengan demikian,siapa saja yang melihatnya, akan mengetahui bahwa bangunan itu dulunya adalah gereja.

Selian masjid-masjid di atas, sebuah gereja bersejarah di Southend juga sudah dibeli oleh Masjid Jami’ Essex dengan harga 850 ribu pound sterling. Gereja dijual, karena jama’ah berkurang, sehingga kegiatan peribadatan dipusatkan di Bournemouth Park Road. Konseskwensinya, gereja ini sudah tidak beroprasi sejak tahun 2006 lalu. Rancananya gereja akan dijadikan apartemen, tapi gagasan itu ditolak oleh Dewan Southend. Akhirnya, gereja kosong itu dibeli oleh komunitas Muslim yang tinggal di kota itu, yang juga sedang membutuhkan tempat untuk melaksanakan ibadah.

Saat itu jumlah komunitas ini mencapai 250 orang, “gereja bekas” itu merupakan tempat yang sesuai, karena mampu menampung 300 jama’ah. Tidak banyak dilakukan perubahan pada bentuk bangunan yang telah berumur 100 tahun lebih itu, hanya perlu menambah tempat untuk berwudhu dan sebuah menara.


Sumber : cahyaiman.wordpress.com tanggal 30 agustus 2010


Salam,
BP
September 13, 2011, 01:52:50 PM
Reply #1
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 2025
  • Gender: Female
  • Pujilah YAHWEH, hai jiwaku. Haleluyah
  • Denominasi: Penyembah YHWH & Mesianik
Makanya ditawarkan aliran Yudaisme Mesianik, bukankah banyak yang senang sholatnya pakai jongkok, berlutut dan cium tanah.

Sayangnya banyak yang menuduh aliran ini sesat, repotnya Kekristenan ini saling serang sendiri, lebih baik masing-masing aliran pergi dan beritankanlah Injil dan Jadikanlah semua bangsa muridKu.

Tuh lihat banyak Gereja yang dijual dijadikan Mesjid, benarkan pendapat saya bahwa nanti Eropa & Amerika akan menjadi pengikut Antikris.
Dan bangsa-bangsa itu akan mengetahui bahwa Akulah YAHWEH, demikianlah Firman Tuhan YAHWEH
September 13, 2011, 03:57:09 PM
Reply #2
  • FK - Senior
  • ****
  • Posts: 293
  • Denominasi: Kristen
Membeli Gereja Untuk Dijadikan Masjid
oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada 03 April 2011 jam 21:11

Di Selandia Baru, banyak gereja yang dijual. Sebagian dibeli oleh warga muslim dan dijadikan sebagai masjid. Sebagai minoritas, semangat mereka justru bergelora di tengah kejenuhan mayoritas pemeluk agama. Berikut kisah menariknya.
 
September 2009, Dr H Asrorun Niam Sholeh, MA berkesempatan melakukan penelitian di Selandia Baru atau New Zealand. Di negara yang berada di arah tenggara Benua Australia itu, Niam—sapaan akrabnya—menjumpai fenomena menarik terkait dengan sikap beragama warga setempat. melihat ada gejala kejenuhan mayoritas yang bersamaan dengan bergairahnya semangat minoritas pemeluk agama.
 
Niam adalah pria kelahiran Nganjuk 31 Mei 1976 yang kini aktif sebagai Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI Pusat dan dosen di Fakultas Syariah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sebelumnya, Niam pernah menjabat sebagai Ketua IPNU Pusat dan saat ini dipercaya sebagai Sekjend Majelis Alumni IPNU Pusat.
 
Kedatangan alumnus MAPK Jemebr ini ke New Zealand adalah sebagai wakil dari LP POM MUI untuk melakukan penelitian terhadap kualitas ekspor dan impor daging, teruatam terkait dengan jaminan halal proses penyembelihan dan pengepakan daging. New Zealand dipilih karena Indonesia menjadi salah satu negara pengimpor daging dari negara kepulauan itu. Dalam penelitiannya, ayah dua anak ini menemukan kepastian bahwa danging yang diekspor ke Indonesia adalah daging-daging sapi yang disembelih secara halal.
 
Konversi Rumah Ibadah
 
Menemukan masjid di New Zealand tidak sulit. Dan setiap kali Niam mengikuti jamaah, jamaahnya selalu dalam jumlah banyak. Pengalaman yang sangat membekas bagi Niam adalah ketika pada 26 September 2009, Niam singgah di Masjid El Umar di tengah kota Auckland. Secara fisik, bangunannya megah berlantai dua. Dari arsitekturnya, Niam membatin bahwa bangunan ini mirip gereja. Tampak dalam foto di samping, Niam (kanan) berfoto di depan gedung Masjid El-Umar bersama warga New Zealand keturunan Syiria, Mahmud.
 
Rasa penasaran itu kahirnya terjawab ketika Mahmud menjelaskan bahwa bangunan tersebut memang dulunya adalah gereja yang, entah mengapa, dijual. Akhirnya, gereja itu dibeli oleh muslim India dengan harga 400 ribu dolar. Ia pun akhirnya tinggal di bangunan yang menempel dengan masjid, mirip pondokan pesantren. Ia menjadi semacam kiai masjid tersebut dengan jumlah jamaah yang cukup banyak, didominasi oleh imigran Afrika dan Timur Tengah.
 
Di masjid itu, Niam berjalan mengelilingi masjid. Ayah dua anak ini melihat terdapat pengumuman yang ditempel di dinding masjid. Isinya ada beberapa warga asli New Zealand yang masuk daftar muallaf. Ada juga pengumuman yang terasa aneh; “Gereja Dijual”, lengkap dengan foto gereja dan denah lokasi. Di bawahnya ada himbauan partisipasi donasi untuk “membebaskan” gereja yang kemudian akan dijadikan masjid. Dan hebatnya, bangunan tersebut sudah di-”DP”. Karena begitu optimisnya gereja itu pasti “terbeli”, panitia bahkan memberikan pengumuman bahwa peresmian masjid tersebut akan dilakukan pada hari Jumat, 25 Desember 2009, untuk shalat Jumat perdana, tepat di Hari Natal.
 
Menurut Mahmud, fenomena keberagamaan dan fenomena konversi gereja ke masjid (tentu juga konversi orang kristiani ke Islam) di New Zealand belakangan ini memang meningkat. Pengusaha ekspor-impor yang sejak remaja tinggal di New Zealand itu menjelaskan pemberitaan media massa yang sistematis tentang terorisme yang terkaitkan dengan Islam mungkin justru menjadi berkah tersendiri dalam publikasi Islam dan ajarannya. Berita yang mendeskreditkan umat Islam, bagi umat Islam di New Zealand (dan mungkin di belahan negara yang lain) justru semakin memperkokoh solidaritas sosial sesama umat Islam (ukhuwwah Islamiyyah). Di sisi lain, pemberitaan tersebut memiliki daya tarik bagi kaum terpelajar non-muslim untuk mengetahui lebih banyak tentang Islam. Di sinilah berkah pemberitaan tentang terorisme yan dikaitkan dengan Islam menemu-kan relevansinya.
 
Selain itu, masih menurut pimpinan lembaga filantropi Islam al-Kautsar itu, warga New Zealand yang mayoritas kristiani sudah tidak begitu tertarik dengan ritus keagamaan mereka. Mungkin jika diistilahkan dalam bahasa yang ada di masyarakat Indonesia, mayoritas dari mereka adalah Kristen KTP. Gereja sepi peminat dan bahkan banyak yang gulung tikar sehingga harus dijual.
 
Menyaksikan fenomena itu, batin Niam bergumam; seakan sudah menjadi sunnatullah bahwa minoritas cenderung memiliki fighting spirit untuk eksis dan berkembang. Sementara mayoritas yang merasa sudah “mapan” cenderung “jenuh” untuk istiqamah merawat akar tradisinya mencoba “tantangan” baru.
 
Dalam konteks yang agak berbeda, fenomena keberagamaan di Indonesia juga menemukan fakta yang relatif tidak jauh berbeda. Kaum minoritas (terutama kristiani) cenderung memiliki daya juang yang lebih di banding dengan kaum mayoritas umat Islam yang merasa sudah mapan. Setidaknya, fakta ini dirasakan Niam di kompleks perumahannya di kawasan Depok. Bahkan, sebagian di antaranya justru jenuh merawat akar tradisi keagamaannya dan kemudian mencari sesuatu yang “baru”, meski ia berada di luar pakemnya.
 
Contoh lain juga sering disampaikan oleh Mantan Ketua Umum PBNU KH A Hasyim Muzadi tentang fenomena sikap beragama anak-anak muda. Anak-anak mdua yang kuliah di kampus umum cenderung ofensif untuk melakukan dakwah Islam padahal mereka bukan lulusan lembaga pendidikan Islam. Sedangkan anak-anak muda yang kuliah di kampus berbasis agama dan alumni pesantren justru cenderung jenuh dengan tradisinya dan bangga jika menemukan sesuatu yang baru.
 
Tapi alhamdulillah, meski ada kejenuhan keberagamaan yang ada di komunitas mayoritas muslim Indonesia, belum pernah terdengar ada berita menjual “masjid” untuk “gereja”. Paling banter, yang ada adalah menjual “kuburan” untuk mal. Semoga tidak akan ada berita seperti di New Zealand di negeri kita.
September 13, 2011, 04:02:59 PM
Reply #3
  • FK - Senior
  • ****
  • Posts: 293
  • Denominasi: Kristen
Muslim Indonesia Di Australia Mengubah Gereja Jadi Mesjid

WEDNESDAY, 07 SEPTEMBER 2011 16:29    WI-003    HITS: 90        
wartaislam.com -  Di Leverton, Melbourne terdapat banyak tempat tinggal warga Indonesia yang mayoritas dari Padang Sumatera Barat, sehingga mereka membuat persatuan yang diberi nama: "Sulit Air Sepakat" (SAS). Sebagian profesi mereka adalah pebisnis.

Pebisnis properti asal Indonesia ini dapat membeli sebuah gereja dan pekarangannya dengan harga murah. Bahkan harga pekarangan gereja itu saja setelah diolah dan dijual, hasilnya melebihi dari keseluruhan nilai modal yang dibayarkan. Gereja itu kemudian dijadikan tempat ibadah umat Islam, yang fungsinya persis seperti masjid.

Saat saya berkunjung ke mesjid SAS dan memberi taushiyah saat pelaksanaan shalat tarawih, kemudian saya berbincang-bincang dengan pemilik masjid itu, dia mengatakan bahwa izin rumah ibadah itu telah dirubah menjadi sentral kegiatan Islam. Maklum, kalau hanya izin rumah
ibadah saja bisa dipakai untuk semua agama dan kepercayaan, sehingga untuk mengantisipasi dan agar lebih luas cakupan aktivitasnya maka diubah izinnya. Masjid SAS kini menjadi tempat pusat aktivitas keaagamaan Islam, seperti shalat Jum'at, Tarawih, pendidikan al-Qur'an
(TPQ), teman kanak-kanak (TK), latihan kesenian dan kebudayaan, dan aktivitas perkumpulan Indonesia lainnya.

Di Melbourne mengutamakan keteraturan dari persoalan agama. Sebab tempat ibadah pun jika mengganggu ketertiban dan mengganggu hak orang lain akan di tutup.

Ada dua masjid yang dilarang untuk menyelenggarakan shalat jum'at hanya karena gara-gara parkir mobil jama'ah mengganggu masyarakat sekitar. Pertama masjid The Monash
University. Masjid ini dibeli dan dibangun oleh Kerajaan Saudi Arabia sebagai konpensasi dari donasinya kepada Munash University. Masjid Monash University jauh dari kesan masjid, hanya berupa bentuk bangunan rumah yang digunakan untuk kegiatan ibadah, khususnya shalat.

Di masjid yang kecil inilah diselenggarakan shalat fardhu termasuk shalat Jum'at. Pada suatu saat, jama'ah shalat jum'at memarkir mobil di depan rumah dosen yang menggunggu lalu lintasnya. Kemudian pemilik rumah membuat laporan kepada pemerintah. Nah tindakan pemerintah Australia adalah melarang shalat jum'at di Masjid itu tatapi diperbolehkan untuk
shalat fardhu dan pengajian lainnya. Kemudian, pelaksanaan shalat Juum'at dilaksanakan di lapangan bola Basket dengan cara menyiwa setiap hari Jum'at

Kedua, Masjid komunitas muslim Indonesia di Westall, Australia. Masjid ini dibeli dari hasil sumbangan warga muslim Indonesia di Australi untuk kegiatan keislaman termasuk shalat Jum'at. Pada suatu saat, pelaksanaan shalat jum'at dihadiri tidak hanya warga Indonesia tetapi
juga warga India, Bangladesh dan lainnya sehingga jema'ah mebludak dan memarkir mobil di depan toko yang berada di sebelah masjid Westall.

Pemilik toko protes karena pelaksanaan shalat Jum'at mengganggu pelanggannya. Lalu ia melaporkan hal itu ke polisi. Pemerintah Australia kemudian melarang pelaksanaan shalat Jum'at di masjid komunitas muslim Indonesia, meskipun aktifitas lainnya yang tidak
mengganggu ketertiban masih tetap diperbolehkan.

Umat muslim di Albury sangat sedidikit, tetapi mereka semangatnya tinggi untuk menjalankan agamanya. Tidak ada masjid khusus di Albury untuk menjalankan kewajiban shalat Jum'at. Namun semangat itulah yang membuat kreatif. Warga muslim yang menyiwa tempat tinggal di pinggir jalan raya dan bagian depannya memanjang seperti toko merelakan bagian depannya itu digunakn untuk ibadah shalat Jum'at dan shalat tarawih.

Ketika jumlah jema'ah shalat Jum'at melebihi kapasitas ruangan, ia rela membuka sekat pembatas ruangan itu agar lebih besar, bahkan pintu kamarnya sendiri dibuka untuk dipakai aktifitas shalat agar jema'ah tidak meluber keluar ruangan. Jema'ah tempat ibadah ini adalah umat muslim asal dari beberapa negara yang sedang belajar atau bekerja di Albury.***(Tribunnews.com/WI-003)
September 13, 2011, 04:06:44 PM
Reply #4
  • FK - Senior
  • ****
  • Posts: 293
  • Denominasi: Kristen
Sepi Pengunjung, 60 Gereja Dijual Tiap Tahunnya

London, www.alislamu.com -Lebih dari 60 gereja di Inggris ditutup setiap tahun. Ratusan uskup mengatakan, ribuan gereja hanya didatangi 10jamaah atau kurang setiap hari minggunya. Laporan terpisah The Ecclesiological Society, yayasan penjaga gereja, menyebutkan, 4gereja dari 4.000 ribu gereja hanya dihadiri tak lebih dari 20 jamaah. Laporan ini mengingatkan kemungkinan ditutupnya gereja tersebut karena sedikitnya pengunjung.

Yayasan mengatakan, jumlah warga Inggris yang melakukan ritual keagamaan meningkat dari 1 juta menjadi 3,5 % pada tahun 1970 dan 1,9% pada tahun 2001. Tapi, dalam kurun waktu itu, 1.626buah gereja Inggris ditutup, 360 darinya dihancurkan, 341dipertahankan, dan 925 dirubah bentuknya menjadi tempat yang tidak ada kaitannya dengan keagamaan. Yaitu seperti perpustakaan, tempat olah raga, gedung pertunjukan, studio musik, ruang tarian, restoran, dan tempat tinggal.

Mendapatkan Tempat
Umat Islam Inggris terbilang sangat majemuk. Mereka terdiri dari pendatang dan keturunan mereka serta pribumi. Para pendatang juga berasal dari daerah berbeda seperti Asia Selatan (India, Pakistan, Bangladesh, dan Srilanka), Asia Tenggara (Malaysia, Indonesia, Burma, dan Thailand), Timur Tengah (Mesir, Arab Saudi, Palestina, Yaman, Lebanon, Kuwait, Yordania, Iraq, Iran, Turki) dan Afrika (Algeria, Maroko, dan Somalia). Mereka juga menekuni profesi yang beragam seperti dokter, insinyur, akuntan, pegawai toko, pelayan, buruh, pedagang, olahragawan dan sebagainya.

Dalam beberapa waktu terakhir, muslim Inggris telah menggapai banyak perkembangan positif, apalagi dibandingkan 25 tahun lalu. Mereka telah memiliki sekitar 1.000 masjid. Mereka juga sudah berkesempatan untuk mengekspresikan diri setidaknya dalam 135 organisasi Islam semacam Muslim Council of Britain, Hizbut Tahrir, kepengurusan masjid, yayasan, organisasi pemuda atau mahasiswa Muslim. Hak untuk beribadah juga semakin didapatkan, misalnya, persetujuan Ratu Elizabeth II untuk mengizinkan pegawai istana Buckingham ke masjid untuk salat Jumat. Dakwah dan pendidikan Islam juga mulai mencatat perkembangan signifikan.

Satu hal paling menarik adalah fenomena pindah agama (convert) ke dalam Islam puluhan ribu pribumi berkelas, seperti anak mantan pejabat tinggi, selebriti dan keturunan keluarga terhormat. Sebut saja Yusuf Islam (Cat Stevens), Putra dan putri Lord Justice Scott, Matthew Wilkinson (putra Sir William Wilkinson, mantan Ketua the Nature Concervancy Council), Michael Raines (analis komputer terkenal), Joe Ahmed-Dobson (anak Frank Dobson, mantan menteri kesehatan Inggris), Jonathan Birt (anak Lord Birt, mantan direktur utama BBC), Emma Clark (cicit mantan PM Inggris, Herbert Asquith), The Earl of Yarborough (tuan tanah 28.000 hektare di Lincholnshire) dan sebagainya.

Di antara mereka ada yang ke-Islamannya di awali dengan kekaguman pada spiritualitas Islam. Ada juga yang terinspirasi tulisan Charles Le Gai Eaton. Mantan diplomat Inggris ini menerima surat dari banyak orang yang tidak setuju dengan Kristen yang semakin kontemporer dan mencari agama lain yang tidak begitu berkompromi dengan kehidupan modern. Uniknya, para mualaf ini dikenal lebih taat. Mereka juga sangat serius mendalami Islam sehingga tidak sedikit yang kemudian lebih pandai dari gurunya yang muslim keturunan.

tQ,
bp
September 13, 2011, 04:17:20 PM
Reply #5
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 774
  • Gender: Male
    • Forum Kristen
NGGAK HERAN TUCH KALAU GEREJA JADI MESJID ... MAKIN BANYAK MAKIN BAIK ?!
HARUS TERJADI MURTAD BESAR BRO BER JAMAAH !
" Ikut YESUS bukan berarti tanpa masalah , Tapi Bersama YESUS kita Cakap mengatasi segala Masalah"
September 13, 2011, 06:25:09 PM
Reply #6
  • FK - Senior
  • ****
  • Posts: 293
  • Denominasi: Kristen
Apa yang Sedang Terjadi dengan Gereja-Gereja?

ORANG-ORANG AMERIKA LATIN, dari Meksiko di utara sampai ke Cile di selatan, dalam banyak aspek memiliki kebudayaan yang sama. Orang-orang Amerika Latin yang lebih tua masih mengingat masa manakala pada hakikatnya hanya ada satu agama, yaitu Katolik Roma. Pada abad ke-16, para penakluk dari Spanyol memaksakan hal itu dengan kekuatan senjata. Di Brasil, si penjajah adalah Portugal yang beragama Katolik Roma. Selama 400 tahun, Gereja Katolik mendukung pemerintahan yang berkuasa dengan imbalan dukungan ekonomi dan pengakuan sebagai agama resmi.

Namun, pada tahun 1960-an, beberapa imam Katolik mulai sadar bahwa dengan mendukung golongan elit pemerintah, mereka kehilangan dukungan masyarakat umum. Mereka mulai berkampanye untuk membela si miskin, khususnya dengan menyebarkan apa yang dikenal sebagai teologi pembebasan. Gerakan ini dimulai di Amerika Latin sebagai protes terhadap kemiskinan di kalangan banyak penganut agama Katolik.
Meskipun para klerus sudah melibatkan diri dalam gerakan politik yang populer, jutaan orang telah meninggalkan iman Katolik dan mencoba gereja-gereja lain. Agama-agama yang mengadakan kebaktian yang disertai tepukan tangan dan lagu-lagu pujian yang dinyanyikan dengan bersemangat atau dengan suasana seperti konser rock, berkembang dan berlipat ganda. ”Gerakan Evangelis di Amerika Latin terpecah-pecah menjadi tak terhitung banyaknya Gereja-Gereja yang terpisah,” kata Duncan Green, dalam bukunya Faces of Latin America. ”Sering kali, gereja-gereja itu ada di bawah kendali seorang pastor saja. Sewaktu anggota suatu jemaat bertambah, sering kali jemaat itu akan terpecah menjadi Gereja-Gereja baru.”

Eropa Meninggalkan Gereja-Gereja
Selama lebih dari 1.600 tahun, kebanyakan daerah Eropa dikuasai oleh pemerintahan-pemerintahan yang mengaku Kristen. Seraya kita sekarang memasuki abad ke-21, apakah agama di Eropa berkembang? Pada tahun 2002, seorang sosiolog bernama Steve Bruce, dalam bukunya God is Dead—Secularization in the West (Allah Sudah Mati—Sekularisasi di Barat), berkata mengenai Inggris, ”Pada abad kesembilan belas hampir semua pernikahan disertai upacara keagamaan.” Namun, pada tahun 1971, hanya 60 persen pernikahan di Inggris yang disertai upacara keagamaan. Pada tahun 2000 hanya 31 persen.

Mengomentari kecenderungan ini, koresponden agama dari Daily Telegraph London menulis, ”Semua denominasi utama, dari Gereja Anglikan dan Katolik Roma hingga Gereja Metodis dan Persatuan Gereja-Gereja Reformasi, sedang mengalami kemerosotan jangka panjang.” Mengenai sebuah laporan dia berkata, ”Dengan hanya dua persen penduduk yang menghadiri kebaktian hari Minggu, Gereja-Gereja Inggris akan menuju kepunahan pada tahun 2040.” Pernyataan yang sama telah dibuat mengenai agama di Belanda.

”Selama beberapa dekade belakangan ini, negeri kami tampaknya cenderung untuk semakin sekuler,” komentar sebuah laporan dari Kantor Perencanaan Sosial dan Budaya Belanda. Pada tahun 2020, diantisipasi bahwa 72% penduduk tidak lagi mempunyai keterkaitan apa pun dengan agama.” Sebuah narasumber Jerman mengatakan, ”Semakin banyak orang Jerman beralih ke ilmu sihir dan ilmu gaib demi mendapatkan penghiburan yang dahulu mereka peroleh dari gereja-gereja, pekerjaan serta keluarga. . . . Gereja-Gereja di seluruh negeri terpaksa tutup karena kekurangan jemaat.”

Di Eropa, orang-orang yang masih pergi ke gereja biasanya melakukannya bukan karena ingin mengetahui apa yang Allah kehendaki dari mereka. Sebuah laporan dari Italia mengatakan, ”Orang-orang Italia menyesuaikan agama mereka supaya cocok dengan gaya hidup mereka.” Seorang sosiolog di sana mengatakan, ”Kami mengambil dari khotbah paus apa yang cocok untuk kami.” Hal yang sama juga dikatakan mengenai orang Katolik di Spanyol. Di sana, semangat beragama telah digantikan oleh konsumerisme dan pencarian akan surga ekonomi—dalam kehidupan sekarang ini.

Semua tren ini sangat bertentangan dengan Kekristenan yang diajarkan dan dipraktekkan oleh Kristus dan para pengikutnya. Yesus tidak menawarkan agama ”prasmanan”, yang memungkinkan orang bebas memilih apa yang mereka sukai atau menolak apa yang tidak mereka sukai. Dia berkata, ”Jika seseorang ingin mengikuti aku, hendaklah dia menyangkal dirinya sendiri dan mengangkat tiang siksaannya hari demi hari dan terus mengikuti aku.” Yesus mengajarkan bahwa jalan hidup Kristen menuntut pengorbanan dan upaya.—Lukas 9:23.

Memasarkan Agama di Amerika Utara
Tidak seperti di Kanada—yang menurut komentar para pengamat, orang-orang cenderung bersikap skeptis terhadap agama—tren di Amerika Serikat ialah orang-orang menanggapi agama secara serius. Menurut beberapa organisasi jajak pendapat, sedikit-dikitnya 40 persen orang yang ditanya mengaku bahwa mereka pergi ke gereja setiap minggu, meskipun menurut perhitungan hadirin yang sesungguhnya, angka itu lebih mendekati 20 persen. Lebih dari 60 persen mengaku percaya bahwa Alkitab adalah Firman Allah. Namun, antusiasme mereka terhadap gereja tertentu hanya berumur pendek. Banyak pengunjung gereja di Amerika Serikat dengan mudah beralih agama. Jika seorang pendeta kehilangan popularitas atau karisma, dia akan segera kehilangan jemaatnya—dan sekaligus penghasilan yang besar!

Beberapa gereja mempelajari metode bisnis untuk mengetahui cara terbaik ”memasarkan” kebaktian mereka. Jemaat membayar ribuan dolar untuk menyewa perusahaan-perusahaan konsultan. ”Investasi itu pantas dilakukan,” kata seorang pendeta yang merasa puas, demikian laporan tentang perusahaan-perusahaan konsultan tersebut. Gereja-gereja besar, yang jumlah jemaatnya sampai ribuan, sangat berhasil secara keuangan sehingga menarik perhatian publikasi bisnis, seperti The Wall Street Journal dan The Economist. Dalam laporan itu disebutkan bahwa gereja-gereja besar umumnya menawarkan ”’tempat belanja yang lengkap’ untuk tubuh dan jiwa”. Di dalam kompleks gereja bisa ada restoran, kafé, salon kecantikan, sauna, dan berbagai fasilitas olahraga. Sarana atraksi termasuk teater, jumpa selebriti, dan musik kontemporer. Tetapi, apa yang diajarkan oleh para pendeta?

Tidak heran, ’injil kemakmuran’ adalah tema yang populer. Kepada orang-orang yang percaya dikatakan bahwa mereka akan kaya dan sehat apabila mereka banyak menyumbang ke gereja mereka. Mengenai moral, Allah sering digambarkan sebagai pribadi yang toleran. Seorang sosiolog mengatakan, ”Gereja-gereja Amerika bersifat menyembuhkan, bukan menghakimi.” Agama-agama yang populer biasanya berfokus pada kiat-kiat untuk kehidupan yang sukses. Semakin banyak orang merasa nyaman dengan gereja-gereja yang tidak terikat pada suatu denominasi, yang hampir tidak pernah menyinggung soal doktrin, karena dianggap sebagai pemecah belah. Namun, soal-soal politik sering dibahas, kerap kali dengan terus terang dan gamblang. Contoh-contoh keterlibatan gereja dalam politik belakangan ini telah sering membuat beberapa pendeta merasa malu.

Apakah ada kebangunan rohani di Amerika Utara? Pada tahun 2005, majalah Newsweek melaporkan tentang populernya ”kebaktian yang disertai teriakan-teriakan, acara pingsan atau kesurupan, gerakan mengentak-entakkan kaki”, dan juga praktek-praktek keagamaan lainnya, tetapi kemudian menyebutkan, ”Apa pun yang sedang terjadi, itu bukanlah ledakan jumlah pengunjung gereja.” Hasil survei memperlihatkan bahwa jumlah orang yang mengaku tidak memiliki keterikatan agama semakin meningkat. Beberapa jemaat berkembang hanya karena di tempat lain ada yang merosot. Konon, orang-orang ”berbondong-bondong” meninggalkan agama-agama tradisional dengan segala upacara, musik organ, dan jubah pendetanya.

Dalam pembahasan singkat ini, kita telah melihat gereja-gereja terpecah-belah di Amerika Latin, kehilangan jemaat mereka di Eropa, dan mempertahankan dukungan di Amerika Serikat dengan menawarkan acara hiburan dan hal-hal yang mendebarkan. Tentu saja, ada banyak perkecualian atas tren yang umum ini, namun gambaran keseluruhan hanya satu, yakni gereja-gereja sedang berjuang mempertahankan popularitasnya. Apakah ini berarti bahwa Kekristenan sedang merosot?

[Kotak/Gambar di hlm. 6]
”PASAR SWALAYAN AGAMA”
  Direktur Dinas Pelayanan Rohani Nasional dari Gereja Katolik Prancis dikutip mengatakan, ”Kita sedang menyaksikan terbentuknya pasar swalayan agama. Orang-orang mengikuti kebaktian, dan jika mereka tidak menemukan yang cocok dengan selera mereka, mereka pergi ke tempat lain.” Dalam sebuah penelitian atas agama di Eropa, Profesor Grace Davie dari Exeter University di Inggris berkata, ”Orang-orang hanya sekadar ’memilih dan mencampur’ berbagai kebaktian agama yang ditawarkan. Agama, sama seperti banyak hal lainnya telah menjadi soal pilihan, gaya hidup dan selera.”

[Gambar di hlm. 4, 5]
Grafiti pada gerbang sebuah gereja di Naples, Italia

[Keterangan]
©Doug Scott/age fotostock

[Gambar di hlm. 4, 5]
Di Meksiko banyak orang telah meninggalkan iman Katolik


Sumber : Majalah Sedarlah Bulan Feb 2007 Halaman 4 - 7.

Tq,
BP
September 14, 2011, 10:54:00 AM
Reply #7
  • FK - Newbie
  • *
  • Posts: 27
wah gue prihatin juga jadinye....

kayaknye di Indonesia bakalan gitu juga kali ye?

tunggu giliran aje....

padahal mendirikan gereja di indonesia kan susah.....

gimane nih?

 jangan pada saling berantem makanye yang mengaku pengikut yesus kristus.
September 14, 2011, 11:08:28 AM
Reply #8
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 5328
  • Gender: Male
benar....
kenapa di eropa seperti itu...??
perlu pertobatan besar2an hamba2 Tuhan di eropa....
September 14, 2011, 11:34:12 AM
Reply #9
  • FK - Newbie
  • *
  • Posts: 27
wah itu beritenye kan udah lama.....

apalagi sekarang ya?

padahal sekarang eropa lagi krisis berat.....

gue baca yunani, irlandia, italia, spanyol, ah banyak lagi negara eropa krisis

wah....gerejanye bakalan banyak lagi nyang dijual

tambah gawat dong


amerika juga krisis tuh.....

wah......kacian ya....

 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)