Author Topic: Hakikat Dosa  (Read 3020 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

September 25, 2011, 10:33:48 PM
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 2460
  • Gender: Male
  • Gereja Katolik Roma
    • [b][i]Allah, demi menyatakan DiriNya kepada manusia dalam bentuk yang baru dan utuh, yang memulai era Penebusan, tiada memilih bagi tahta-Nya sebuah bintang di langit, pun istana dari seorang yang berkuasa. Pula Ia tak menghendaki sayap-sayap para malaika
Manusia meragukan Pemberian Allah

Alasan dasar adanya manusia adalah karena ada pihak yang "memberi", yakni Allah sendiri, Sang Pemberi Kehidupan. Karena itu berhadapan dengan Allah, identitas atau tindakan dasar manusia adalah "menerima".

Manusia melakukan kesalahan besar ketika berhadpan dengan Allah ia justru memutuskan untuk tidak lagi sekedar "menerima" melainkan ingin seturut kehendaknya sendiri "mengambil".

Dalam kejadian 3:1-6, dikisahkan ular yang menggoda manusia (perempuan) untuk mengambil buah dari pohon kehidupan. Manusia ingin mengambil sendiri apa yang sebenarnya ingin diberikan oleh TUHAN. Lebih spesifik lagi manusia yang diwakili oleh perempuan itu ingin mengambil sendiri dari TUHAN bagi dirinya. Ini informasi penting yang digali lebih lanjut ujntuk memperlihatkan dosa sebagai sebuah tindakan "mengambil" yang bertentangan dengan tindakan dasar manusia yang "menerima" di hadapan Allah sendiri.

Bila manusia mulai meragukan kesungguhan hati atau keseriusan Allah untuk "memberi" kepada manusia, ia bisa mudah tergoda untuk "mengambil". Maka tindakan mengambil berakar pada KERAGUAN akan KSESUNGGUHAN ALLAH untuk "member.i"



Mengapa Perempuan yang di goda Ular?
( Lelaki sebagai pihak yang "memberi" wanita "menerima")

Pada saat seorang lelaki bersatu menjadi satu daging dengan istrinya, sebagian dari tubuh lelaki itu masuk kedalam tubuh perempuan. Tidak bisa sebaliknya. Sel telur perempuan pun hanya bisa menerima sperma dari lelaki. Tidak bisa sebaliknya. Artinya baik anatomo tubuh maupun proses pembuahan sudah "dirancang" oleh TUHAN sendiri demikian. Dalam hal ini lelaki sebagai pihak yang memberi, perempuan menjadi pihak yang membuka dan menerima. Dengan demikian, disini kita bisa melihat alsan mengapa ular menyerang perempuan. Kisah ini ingin memperlihatkan perempuan itu sebagai sebuah simbolisasi dari sikap kita manusia, baik lelaki maupujn perempuan, berhubungan dengan Allah sendiri.

Dengan mendekati perempuan itu, ular ingin menjungkirbalikan hakikat dasar manusia. kita semua lelaki dan perempuan . Manusia yang pada dasarnya diciptakan sebagai pihak yang "menerima" sekarang digerakan untuk mengambil sendiri. Simbolisasi dengan mengisahkan tokoh permpuan yang "mengambil" mengandung nilai yang sangat tajam, Justru karena secara anatomis dan biologis, tubuh perempuan berada dipihak yang "menerima" dan lelaki yang "memberi". Logika yang bergerak di sini dengan demikian senatiasa bergerak pada penerimaan hakikat diri mansuia sebagai yang "menerima" dan Allah sebagai yang "memberi". Sekali manusia melawan itu, ia melawan hakikat dirinya sendiri, ia melawan hakikat Allah sendiri, itulah yang terjadi dengan dosa.

« Last Edit: September 25, 2011, 10:41:40 PM by CLAY »
Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena Iman didalam YESUS KRISTUS (Galatia 3:25)
October 21, 2011, 08:54:34 PM
Reply #1
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 2460
  • Gender: Male
  • Gereja Katolik Roma
    • [b][i]Allah, demi menyatakan DiriNya kepada manusia dalam bentuk yang baru dan utuh, yang memulai era Penebusan, tiada memilih bagi tahta-Nya sebuah bintang di langit, pun istana dari seorang yang berkuasa. Pula Ia tak menghendaki sayap-sayap para malaika
Malu akan ketelanjangan


Secara khusus  mari kita melihat dan membandingkan dua gambaran yang sungguh berbeda berkaitan dengan tubuh pasangan manusia pertama. Lebih tepat lagi, yang perlu disoroti adalah kaitan antara dosa dan ketelanjangan tubuh manusia. Kita membaca dalam Bap 3 Kitab Kejadian demikian:

   Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.
   Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman.
   Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: "Di manakah engkau?"
   Ia menjawab: "Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi."


Sengaja kata-kata kunci saya cetak miring. Itulah kata-kata kunci yang memperlihatkan dengan tegas apa yang terjadi dengan tubuh manusia telanjang setelah dosa: telanjang, tahu, bersembunyi, takut. Kita akan menyoroti kenyataan manusia sebagai gambar dan citra Allah, lelaki dan perempuan.

Mari kita kembali lagi ke keadaan sebelum adanya dosa. Kita membaca dalam Kitab Kejadian 2:25 “Mereka keduanya telanjang, manusia dan istrinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.” Kita sudah melihat bahwa manusia pada awal mula mengalami “kesendirian asali.” Lelaki menemukan penolong yang sepadan, “tulang dari tulangku, daging dari dagingku.” Ditegaskan oleh Allah sendiri bahwa keduannya akan “menjadi satu daging.” Keduanya menjadi satu tubuh, “bersetubuh.” Kerinduan akan persetubuhan sudah ditanamkan dalam tubuh manusia sejak awal penciptaan karena disanalah manusia sebenarnya mendengar gema kerinduan asali akan adanya persatuan antarpribadi communion personarum. Di dalam situasi itulah kita melihat puka ketelanjangan asal.” Pada awal mula ketelanjangan sama sekali tidak menimbulkan rasa malu. Ketelanjangan menjadi satu bagian tak terpisahkan dari “kesendirian asali dan “kebersatuan asali itu.

Dosa berisi tindakan dasar manusia yang tidak lagi mau hanya “menerima,” dan mulai ingin “mengambil” bagi dirinya sendiri. Ingat,  bagi perempuan itu, “buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya lagipula pohon itu menarik hati karena member pengertian” (Kejadian 3:6). Setelah itu bisa diduga, tidak hanya sikap antara manusia dan Allah dijungkirbalikkan dan dikacaubalaukan, melainkan juga sikap antara lelaki dan perempuan itu. Ketelanjangan yang semula tidak menimbulkan rasa malu sekarang dilihat secara sangat berbeda. Segera sesudah mereka makan buah itu, “terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu bahwa mereka telanjang” (Kejadian 3:7).

Ketelanjangan sebelumnya mereka hayati sebagai manusia dihadapan Allah. Sebagai manusia yang menerima dihadapan Allah yang member. Allah bukanlah sebuah ancaman. Tidak adanya rasa malu segera diganti dengan rasa takut yang begitu besar sehingga manusia dalam segala keputus-asaannya berusaha bersembunyi dihadapan Allah yang maha tahu itu. Karena manusia sudah melakukan tindakan “mengambil,” cara berpikir mereka pun berubah. Mereka sekarang berhadapan dengan Allah tidak lagi dengan kesadaran penuh bahwa Allah adalah pihak yang “member,” melainkan bagi mereka sekarang Allah adalah pihak yang akan “mengambil.” Kesadaran semacam itu segera berpengaruh pada kesadaran akan ketelanjangan mereka.

Subjek dijadikan Objek

Pasangan manusia pertama itu, lelaki dan perempuan pun sekarang hadir bagi yang lainnya sebagai sebuah kemungkinan ancaman. Ketelanjangan segera harus mereka tutupi, karena ada kekhawatiran yang mendasar kalau-kalau ketelanjangan itu akan menjadi pintu bagi pihak lain untuk tidak lagi memperlakukan dirinya sebagai subjek melainkan objek. Bila sebelumnya, dalam ketelanjangan tanpa malu sebelum dosa, logika yang bergerak antara lelaki dan perempuan pertama itu adalah logika “pemberian diri total” (karena adanya arti nupsial tubuh), sekarang bergerak menjadi sebuah logika yang sangat bertentangan. Manusia merasa takut, baik lelaki terhadap perempuan, maupun perempuan terhadap lelaki, kalau-kalau pihak lain tidak lagi memberikan diri, melainkan merampas dengan paksa. Ingat, informasi bahwa lelaki maupun perempuan segera menutupi ketelanjangan mereka masing-masing sebenarnya memperlihatkan bahwa keduanya merasa terancam. Perempuan bisa juga menjadi ancaman bagi lelaki, sebagaimana halnya lelaki bisa menjadi ancaman bagi perempuan. Lebih tegas lagi, bahkan dalam hubungan antara lelaki dan perempuan yang terikat dalam sebuah perkawinan yang sah pun, keadaan yang sama bisa terjadi.

Dalam sebuah perkawinan, seorang suami bisa merasa bahwa istrinya adalah ancaman bagi dirinya, dan seorang istri bisa memandang suaminya sebagai ancaman. Sekali lagi, kita tahu dari cerita ini bahwa ancaman terbesar adalah kalau-kalau pihak yang lain tidak lagi member diri, melainkan mengambil, merampas, memanfaatkan, menggunakan. Gema dari kenyataan ini masih terdengar, baik hubungan antara suami dan istri yang sah, maupun dalam hubungan antara lelaki dan perempuan, maupun dalam hubungan antarsahabat. Kita mendengar: “Dia hanya memakai saya.” Dan bagi Yohanes Paulus II, lawan kata dari “mencintai,” bukanlah “membenci” melainkan “menggunakan.”


Ini gema yang sudah mulai dikumandangkan sejak pasangan manusia pertama itu berdosa, sejak mereka tahu akan ketelanjangan mereka, karena sejak itu mereka tahu bahwa ketelanjangan itu bisa menjadi pintu bagi pihak lain untuk memperlakukan dirinya tidak lagi sebagai sebuah subjek melainkan sebuah objek yang bisa dipakai dan dibuang begitu saja.

Dalam percakapan popular, dalam kolom-kolom konsultasi seks di banyak majalah, dalam Tanya jawab dengan pakar seks seperti Dokter Naek L. Tobing atau Dokter Boyke, hamper bisa dipastikan selalu ada keluhan entah dari pihak suami atau pun dari istri tentang pasangannya: “Dia ingin menggunakan tubuh saya sepuas-puasnya, dan saya tidak mampu mengimbanginya.” Lebih parah lagi, banyak kolom dalam majalah popular, Cosmopolitan atau Men’s Helath, misalnya, menggunakan justru logika yang sama. Manusia tidak lagi diajak untuk kembali pada logika pemberian diri, melainkan pada sebuah rangkaian strategi praktis dan taktis semata-mata: bagaimana member kepuasan pada pasangan dan bagaimana mencapai kepuasan pasangan dan bagaimana mencapai kepuasan bersama pasangan? Ular yang “cerdik” (arum) sudah berhasil mengacaubalaukan kesadaran manusia dengan menedekati perempuan yang “telanjang” (arom).

Lelaki akan mengatakan “Aku mencintaimu” agar bisa menikmati seks dari tubuh perempuan. Sedangkan perempuan akan rela menyediakan tubuhnya untuk dinikmati oleh lelaki dengan harapan akan mendengar dari lelaki itu ucapan “Aku mencintaimu.” Inilah rangakian logika “saling memakai dan memanfaatkan,” bukan lagi logika “saling member diri.”
Mengapa ini terjadi? Jawabanya jelas: semua berakar pada kondisi “hati” manusia setelah dosa sejak pasangan pertama itu berdosa.

Akibat yang lebih mengerikan kita temukan dalam kejadian 3:16. Allah berkata kepada perempuan pertama: “…engkau akan birahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu.” Persatuan antara lelaki dan perempuan sekarang bahkan ikut terancam. Yohanes Paulus II menggambarkan situasi itu demikian:
Mereka tidak lagi hanya dipanggil kepada kesatuan dan persatuan, tetapi bahkan juga terancam oleh rasa tidak perna puas atas kesatuan dan persatuan itu, yang tidak berhenti memikat lelaki dan perempuan justru karena mereka adalah pribadi-pribadi, yang dipanggil sejak keabadian untuk ada “dalam kesatuan”

Hati yang menuntun pilihan tindakan manusia untuk “menerima” dan “member diri secara total” dikacaukan menjadi hati yang menuntun kita untuk “mengambil” dan “mengambil” dan “mengambil.”

Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena Iman didalam YESUS KRISTUS (Galatia 3:25)
October 29, 2011, 04:23:46 AM
Reply #2
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 1847
Manusia meragukan Pemberian Allah

Alasan dasar adanya manusia adalah karena ada pihak yang "memberi", yakni Allah sendiri, Sang Pemberi Kehidupan. Karena itu berhadapan dengan Allah, identitas atau tindakan dasar manusia adalah "menerima".

Manusia melakukan kesalahan besar ketika berhadpan dengan Allah ia justru memutuskan untuk tidak lagi sekedar "menerima" melainkan ingin seturut kehendaknya sendiri "mengambil".

Dalam kejadian 3:1-6, dikisahkan ular yang menggoda manusia (perempuan) untuk mengambil buah dari pohon kehidupan. Manusia ingin mengambil sendiri apa yang sebenarnya ingin diberikan oleh TUHAN. Lebih spesifik lagi manusia yang diwakili oleh perempuan itu ingin mengambil sendiri dari TUHAN bagi dirinya. Ini informasi penting yang digali lebih lanjut ujntuk memperlihatkan dosa sebagai sebuah tindakan "mengambil" yang bertentangan dengan tindakan dasar manusia yang "menerima" di hadapan Allah sendiri.

Bila manusia mulai meragukan kesungguhan hati atau keseriusan Allah untuk "memberi" kepada manusia, ia bisa mudah tergoda untuk "mengambil". Maka tindakan mengambil berakar pada KERAGUAN akan KSESUNGGUHAN ALLAH untuk "member.i"



Mengapa Perempuan yang di goda Ular?
( Lelaki sebagai pihak yang "memberi" wanita "menerima")

Pada saat seorang lelaki bersatu menjadi satu daging dengan istrinya, sebagian dari tubuh lelaki itu masuk kedalam tubuh perempuan. Tidak bisa sebaliknya. Sel telur perempuan pun hanya bisa menerima sperma dari lelaki. Tidak bisa sebaliknya. Artinya baik anatomo tubuh maupun proses pembuahan sudah "dirancang" oleh TUHAN sendiri demikian. Dalam hal ini lelaki sebagai pihak yang memberi, perempuan menjadi pihak yang membuka dan menerima. Dengan demikian, disini kita bisa melihat alsan mengapa ular menyerang perempuan. Kisah ini ingin memperlihatkan perempuan itu sebagai sebuah simbolisasi dari sikap kita manusia, baik lelaki maupujn perempuan, berhubungan dengan Allah sendiri.

Dengan mendekati perempuan itu, ular ingin menjungkirbalikan hakikat dasar manusia. kita semua lelaki dan perempuan . Manusia yang pada dasarnya diciptakan sebagai pihak yang "menerima" sekarang digerakan untuk mengambil sendiri. Simbolisasi dengan mengisahkan tokoh permpuan yang "mengambil" mengandung nilai yang sangat tajam, Justru karena secara anatomis dan biologis, tubuh perempuan berada dipihak yang "menerima" dan lelaki yang "memberi". Logika yang bergerak di sini dengan demikian senatiasa bergerak pada penerimaan hakikat diri mansuia sebagai yang "menerima" dan Allah sebagai yang "memberi". Sekali manusia melawan itu, ia melawan hakikat dirinya sendiri, ia melawan hakikat Allah sendiri, itulah yang terjadi dengan dosa.



 Saya rasa Dosa awal adam bukanlah soal mengambil sendiri apa yang diinginkannya , tetapi karena melanggar larang an Tuhan.
Adam dan Hawa memang diperbolehkan mengambil sendiri tanpa harus tuhan yang mengambilkannya semua buah yang adam dan hawa ingini (kecuali buah dari kedua pohon itu  tentunya)
Dan apakah yang mendasari penafsiran anda sehingga anda berpikir tuhan juga akan memberi  buah itu nantinya ?
  Juga ada catatan bahwa gambar no 1, bukanlah penggambaran adam dan hawa menurut versi Kristen, karena adam sama sekali tidak tahu menahu soal biujukan iblis terhadap hawa (kalau ia tahu pastilah ia sudah mencegahnya )  dan gambar itu menggambarkan adam tahu ketika hawa akan memetik buah terlarang
selain itu dalam gambar tampaknya adam tertarik untuk memetik buah yang lain.padahal adam belum memakan buah pengetahuan sehingga tentu dia tidak mengetahui hal  ketelanjangan

Tuhan Yesus memberkati
Han
TIDAK SEMUA ISI ALKITAB ADALAH FIRMAN ALLAH DAN TIDAK SEMUA FIRMAN ALLAH TERTULIS DALAM ALKITAB
October 29, 2011, 05:18:46 AM
Reply #3
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 2653
  • Gender: Male
  • RASIO POST MENGHINA thd TOTAL POSTS = ... %
Malu akan ketelanjangan


Secara khusus  mari kita melihat dan membandingkan dua gambaran yang sungguh berbeda berkaitan dengan tubuh pasangan manusia pertama. Lebih tepat lagi, yang perlu disoroti adalah kaitan antara dosa dan ketelanjangan tubuh manusia. Kita membaca dalam Bap 3 Kitab Kejadian demikian:

   Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.
   Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman.
   Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: "Di manakah engkau?"
   Ia menjawab: "Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi."


Sengaja kata-kata kunci saya cetak miring. Itulah kata-kata kunci yang memperlihatkan dengan tegas apa yang terjadi dengan tubuh manusia telanjang setelah dosa: telanjang, tahu, bersembunyi, takut. Kita akan menyoroti kenyataan manusia sebagai gambar dan citra Allah, lelaki dan perempuan.

Mari kita kembali lagi ke keadaan sebelum adanya dosa. Kita membaca dalam Kitab Kejadian 2:25 “Mereka keduanya telanjang, manusia dan istrinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.” Kita sudah melihat bahwa manusia pada awal mula mengalami “kesendirian asali.” Lelaki menemukan penolong yang sepadan, “tulang dari tulangku, daging dari dagingku.” Ditegaskan oleh Allah sendiri bahwa keduannya akan “menjadi satu daging.” Keduanya menjadi satu tubuh, “bersetubuh.” Kerinduan akan persetubuhan sudah ditanamkan dalam tubuh manusia sejak awal penciptaan karena disanalah manusia sebenarnya mendengar gema kerinduan asali akan adanya persatuan antarpribadi communion personarum. Di dalam situasi itulah kita melihat puka ketelanjangan asal.” Pada awal mula ketelanjangan sama sekali tidak menimbulkan rasa malu. Ketelanjangan menjadi satu bagian tak terpisahkan dari “kesendirian asali dan “kebersatuan asali itu.

Dosa berisi tindakan dasar manusia yang tidak lagi mau hanya “menerima,” dan mulai ingin “mengambil” bagi dirinya sendiri. Ingat,  bagi perempuan itu, “buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya lagipula pohon itu menarik hati karena member pengertian” (Kejadian 3:6). Setelah itu bisa diduga, tidak hanya sikap antara manusia dan Allah dijungkirbalikkan dan dikacaubalaukan, melainkan juga sikap antara lelaki dan perempuan itu. Ketelanjangan yang semula tidak menimbulkan rasa malu sekarang dilihat secara sangat berbeda. Segera sesudah mereka makan buah itu, “terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu bahwa mereka telanjang” (Kejadian 3:7).

Ketelanjangan sebelumnya mereka hayati sebagai manusia dihadapan Allah. Sebagai manusia yang menerima dihadapan Allah yang member. Allah bukanlah sebuah ancaman. Tidak adanya rasa malu segera diganti dengan rasa takut yang begitu besar sehingga manusia dalam segala keputus-asaannya berusaha bersembunyi dihadapan Allah yang maha tahu itu. Karena manusia sudah melakukan tindakan “mengambil,” cara berpikir mereka pun berubah. Mereka sekarang berhadapan dengan Allah tidak lagi dengan kesadaran penuh bahwa Allah adalah pihak yang “member,” melainkan bagi mereka sekarang Allah adalah pihak yang akan “mengambil.” Kesadaran semacam itu segera berpengaruh pada kesadaran akan ketelanjangan mereka.

Subjek dijadikan Objek

Pasangan manusia pertama itu, lelaki dan perempuan pun sekarang hadir bagi yang lainnya sebagai sebuah kemungkinan ancaman. Ketelanjangan segera harus mereka tutupi, karena ada kekhawatiran yang mendasar kalau-kalau ketelanjangan itu akan menjadi pintu bagi pihak lain untuk tidak lagi memperlakukan dirinya sebagai subjek melainkan objek. Bila sebelumnya, dalam ketelanjangan tanpa malu sebelum dosa, logika yang bergerak antara lelaki dan perempuan pertama itu adalah logika “pemberian diri total” (karena adanya arti nupsial tubuh), sekarang bergerak menjadi sebuah logika yang sangat bertentangan. Manusia merasa takut, baik lelaki terhadap perempuan, maupun perempuan terhadap lelaki, kalau-kalau pihak lain tidak lagi memberikan diri, melainkan merampas dengan paksa. Ingat, informasi bahwa lelaki maupun perempuan segera menutupi ketelanjangan mereka masing-masing sebenarnya memperlihatkan bahwa keduanya merasa terancam. Perempuan bisa juga menjadi ancaman bagi lelaki, sebagaimana halnya lelaki bisa menjadi ancaman bagi perempuan. Lebih tegas lagi, bahkan dalam hubungan antara lelaki dan perempuan yang terikat dalam sebuah perkawinan yang sah pun, keadaan yang sama bisa terjadi.

Dalam sebuah perkawinan, seorang suami bisa merasa bahwa istrinya adalah ancaman bagi dirinya, dan seorang istri bisa memandang suaminya sebagai ancaman. Sekali lagi, kita tahu dari cerita ini bahwa ancaman terbesar adalah kalau-kalau pihak yang lain tidak lagi member diri, melainkan mengambil, merampas, memanfaatkan, menggunakan. Gema dari kenyataan ini masih terdengar, baik hubungan antara suami dan istri yang sah, maupun dalam hubungan antara lelaki dan perempuan, maupun dalam hubungan antarsahabat. Kita mendengar: “Dia hanya memakai saya.” Dan bagi Yohanes Paulus II, lawan kata dari “mencintai,” bukanlah “membenci” melainkan “menggunakan.”


Ini gema yang sudah mulai dikumandangkan sejak pasangan manusia pertama itu berdosa, sejak mereka tahu akan ketelanjangan mereka, karena sejak itu mereka tahu bahwa ketelanjangan itu bisa menjadi pintu bagi pihak lain untuk memperlakukan dirinya tidak lagi sebagai sebuah subjek melainkan sebuah objek yang bisa dipakai dan dibuang begitu saja.

Dalam percakapan popular, dalam kolom-kolom konsultasi seks di banyak majalah, dalam Tanya jawab dengan pakar seks seperti Dokter Naek L. Tobing atau Dokter Boyke, hamper bisa dipastikan selalu ada keluhan entah dari pihak suami atau pun dari istri tentang pasangannya: “Dia ingin menggunakan tubuh saya sepuas-puasnya, dan saya tidak mampu mengimbanginya.” Lebih parah lagi, banyak kolom dalam majalah popular, Cosmopolitan atau Men’s Helath, misalnya, menggunakan justru logika yang sama. Manusia tidak lagi diajak untuk kembali pada logika pemberian diri, melainkan pada sebuah rangkaian strategi praktis dan taktis semata-mata: bagaimana member kepuasan pada pasangan dan bagaimana mencapai kepuasan pasangan dan bagaimana mencapai kepuasan bersama pasangan? Ular yang “cerdik” (arum) sudah berhasil mengacaubalaukan kesadaran manusia dengan menedekati perempuan yang “telanjang” (arom).

Lelaki akan mengatakan “Aku mencintaimu” agar bisa menikmati seks dari tubuh perempuan. Sedangkan perempuan akan rela menyediakan tubuhnya untuk dinikmati oleh lelaki dengan harapan akan mendengar dari lelaki itu ucapan “Aku mencintaimu.” Inilah rangakian logika “saling memakai dan memanfaatkan,” bukan lagi logika “saling member diri.”
Mengapa ini terjadi? Jawabanya jelas: semua berakar pada kondisi “hati” manusia setelah dosa sejak pasangan pertama itu berdosa.

Akibat yang lebih mengerikan kita temukan dalam kejadian 3:16. Allah berkata kepada perempuan pertama: “…engkau akan birahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu.” Persatuan antara lelaki dan perempuan sekarang bahkan ikut terancam. Yohanes Paulus II menggambarkan situasi itu demikian:
Mereka tidak lagi hanya dipanggil kepada kesatuan dan persatuan, tetapi bahkan juga terancam oleh rasa tidak perna puas atas kesatuan dan persatuan itu, yang tidak berhenti memikat lelaki dan perempuan justru karena mereka adalah pribadi-pribadi, yang dipanggil sejak keabadian untuk ada “dalam kesatuan”

Hati yang menuntun pilihan tindakan manusia untuk “menerima” dan “member diri secara total” dikacaukan menjadi hati yang menuntun kita untuk “mengambil” dan “mengambil” dan “mengambil.”



Shalom,

Upah pelanggaran ialah MORTAL (jangan kamu makan, ...pastilah engkau mati)

Dosa adalah pelanggaran hukum Allah (1 Yoh 3:4).

1 Yoh 3:4
Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah.


Uraian yg panjang hingga dua post mencoba membuat pengertian dosa yang bertentangan dengan Alkitab.


Untuk menggambarkan hakikat Hawa sbg penerima dan Adam sbg pemberi dgn kejadian/aktiivitas fisik persetubuhan, tidak berlandaskan Alkitab. Bagaimana dengan kejadian/aktivitas non fisik (mengasihi), siapa di anata perempuan dan laki2 yang mempunyai hakikat memberi dan hakikat menerima? Betapa analogi yang absurd.

Juga dalam aktivitas/kejadian fisk dalam persebubuhan, bagaimana kalau laki-laki (sorry) membuat masuk sebagian ujung dari dada peremumpuan? Apakah hakikat si laki2 masih pemberi? Betapa analogi yang absurd.

Allah sebagai pemberi jelas. Ada yang dilarang "jangan kamu makan buahnya...nanti kamu MORTAL". Itu membang tidak diberikan untuk dimakan. Manusia berdosa adalah karena itu dilarang, bukan karena  (itu diberikan lalu) manusia mengambil sendiri.

Kel 20:4 "Jangan membuat patung". Bila ini dilanggar, itu bukan karena ingin mengambil sendiri maka berdosa, tetapi karena melanggar larangan "jangan membuat patung".

Nah bilamana sampai dalam suatu kitab, larangan dalam Kel 20:4 ini tidak ada, maka bila ada yang membuat patung, itu tidak lagi melanggar hukum Allah, berdasarkan kitab itu, bukan karena tidak mengambil sendiri, tetapi karena tidak melanggar hukum, karena dalam kitab itu tidak ada larangan itu.

Sebaliknya, bila dalam satu kita masih tetap ada larangan membuat patung dalam Kel 20:4 yg diilhamkan Allah itu, maka siapa saja membuat patung, ia melanggar larangan Allah dan berdosa.


Alkitab juga berkata: Berdoa kepada Tuhan dalam nama Yesus (Yoh 14:14). Maka bila ada yang berdoa bukan kepada Tuhan dan atau bukan dalam nama Yesus, maka itu melanggar perintah Allah dan itu dosa. itu bukan karena Allah memberi dan manusia menerima.

Alkitab berkata Yesus pengantara yang esa (1 Tim 2:5), maka bila ada yang membuat bagi dirinya pengantara yang lain, itu melanggar Firman Tuhan dan itu dosa.

Allah mengatakan berdoa jangan bertele2. Nah bila ada yang berdoa bertele2 itu melanggar firman Allah dan itulah dosa.

Allah mencela yang mengikuti tradisi (Mrk 7:7-9). Nah yang mengikuti tradisi sesuai dgn celaan dalam ayat itu adalah melanggar kehendak Allah, itulah yang dosa.

Allah mencela pimpinan/tokoh yang menipu oang dalam Mat 23.

Mat 23:13 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk.

Mat 23:15 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat dari pada kamu sendiri.

Nah pimpinan yang seperti ini dicela karena melanggar kehendak Allah, ini yang dosa.

Alkitab berkata bhw yang menjadi penuntun kepada manusia setelah Yesus naik ke sorga ialah ROH KUDUS. Nah menjadikan manusia sebagai wakil Allah, padahal yang menuntun manusia adalah ROH KUDUS, itu melawan kehendak Allah, itu yang dosa.

Masih banyak lagi. Yang jelas DOSA ADALAH PELANGGARAN HUKUM ALLAH.

Demikian, semoga bermanfaat.
Salam, JBU, Jericho, J.






BEBERAPA KALI PERLU KETEKUNAN DAN AMBIL RESIKO MEMBUANG WAKTU
MENGHADAPI DISKUSI YG DICOBA DISERET2 KE
HAL2 DI LUAR ALKITAB DAN KE LOGIKA2 SIA2 SERTA AD-HOMINEM2;

SEBAGAI CERMIN BAGI SIAPA SAJA
YG MAU MENYERET2 DISKUSI ALKITAB KE NON ALKITAB






















'
October 29, 2011, 07:30:14 AM
Reply #4
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 1131
  • Gender: Male
  • Denominasi: Katolik
Adam melanggar perintah = mati

mati = tidak saja menjadi mortal.

tapi juga mati rohani.

Yg mengartikan mati = mortal (saja), itu ajaran dukun petojo.
"Deus Lux Mea Est"
October 29, 2011, 09:45:54 AM
Reply #5
  • FK - Full Member
  • ***
  • Posts: 123
  • Denominasi: Pembela Yesus
Efesus 2:1. Dahulu kalian pernah mati secara rohani karena kalian berdosa dan melanggar perintah-perintah Allah.

Kalau dikatakan kata MATIdi ayat itu  itu artinya mati secara MORTAL, jelas itu menyalahi Alkitab
October 29, 2011, 03:09:53 PM
Reply #6
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 2460
  • Gender: Male
  • Gereja Katolik Roma
    • [b][i]Allah, demi menyatakan DiriNya kepada manusia dalam bentuk yang baru dan utuh, yang memulai era Penebusan, tiada memilih bagi tahta-Nya sebuah bintang di langit, pun istana dari seorang yang berkuasa. Pula Ia tak menghendaki sayap-sayap para malaika
Saya rasa Dosa awal adam bukanlah soal mengambil sendiri apa yang diinginkannya , tetapi karena melanggar larang an Tuhan.
Adam dan Hawa memang diperbolehkan mengambil sendiri tanpa harus tuhan yang mengambilkannya semua buah yang adam dan hawa ingini (kecuali buah dari kedua pohon itu  tentunya)
Dan apakah yang mendasari penafsiran anda sehingga anda berpikir tuhan juga akan memberi  buah itu nantinya ?
  Juga ada catatan bahwa gambar no 1, bukanlah penggambaran adam dan hawa menurut versi Kristen, karena adam sama sekali tidak tahu menahu soal biujukan iblis terhadap hawa (kalau ia tahu pastilah ia sudah mencegahnya )  dan gambar itu menggambarkan adam tahu ketika hawa akan memetik buah terlarang
selain itu dalam gambar tampaknya adam tertarik untuk memetik buah yang lain.padahal adam belum memakan buah pengetahuan sehingga tentu dia tidak mengetahui hal  ketelanjangan

Tuhan YESUS memberkati
Han


Saya kira anda tidak paham sama sekali penjelasan saya mengenai Hakikat dosa. Sebab dosa sebagai sebuah tindakan "mengambil" yang bertentangan dengan tindakan dasar manusia yang "menerima" di hadapan Allah sendiri. Sebab hakikat diri manusia sebagai yang "menerima" dan Allah sebagai yang "memberi". Sekali manusia melawan itu, ia melawan hakikat dirinya sendiri, ia melawan hakikat Allah sendiri, itulah yang terjadi dengan dosa.

Bila manusia mulai meragukan kesungguhan hati atau keseriusan Allah untuk "memberi" kepada manusia, ia bisa mudah tergoda untuk "mengambil". Maka tindakan mengambil berakar pada KERAGUAN akan KSESUNGGUHAN ALLAH untuk "memberi"

Kisah adam dan hawa hanyalah sebagian kecil dari tindakan manusia yang selalu menolak pemberian Allah.  Mari kita simak beberapa contoh Dosa berisi tindakan dasar manusia yang tidak lagi mau hanya “menerima,” dan mulai ingin “mengambil” bagi dirinya sendiri.

Pada kisah Abraham, dikisahkan bahwa TUHAN akan memberi seorang anak kepada Abraham, namun abraham oleh kehendaknya sendiri menghampiri hambanya Hagar orang mesir utuk mendapatkan keturunan. Ini adalah tindakan mengambil bagi dirinya sendiri, sementara TUHAN telah menjanjikan akan memberikan keturunan kepada Abraham. Akibat dari tindakan abraham ini adalah "kesusahan" yang ia dapat setelah kelahiran Ismael dimana hambanya Hagar tidak lagi menghormati Sara istrinya.  Banyak kisah dalam Alkitab kita temukan tindakan dasar dari sikap manusia yang meragukan kesungguhan hati atau keseriusan Allah untuk "memberi" kepada manusia, dan manusia mudah tergoda untuk "mengambil". Maka tindakan mengambil berakar pada KERAGUAN akan KSESUNGGUHAN ALLAH untuk "memberi" Inilah Hakikat dosa.

Salah satu contoh lain dari tindakan manusia ingin mengambil bagi dirinya sendiri adalah ketika YESUS datang ke dunia dan telah memberikan kepada kita Gereja-Nya yang dipimpin oleh PETRUS dan para penerusnya, namun pemberian YESUS sendiri ditolak dan manusia ingin mendirikan sendiri gereja, seperti yang pernah saya bahas di sini: Syukur atas GEREJA yang dibangun TUHAN bukan oleh manusia http://forumkristen.com/index.php?topic=42503.msg631860#msg631860

Jika hal sederhana ini tidak anda pahami, tetapi anda lebih ingin memahami berdasarkan pengertian anda sendiri, silahkan saja, saya tidak ingin mendebat pemahaman anda!!
« Last Edit: March 31, 2012, 06:43:04 PM by CLAY »
Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena Iman didalam YESUS KRISTUS (Galatia 3:25)
October 29, 2011, 03:27:14 PM
Reply #7
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 2460
  • Gender: Male
  • Gereja Katolik Roma
    • [b][i]Allah, demi menyatakan DiriNya kepada manusia dalam bentuk yang baru dan utuh, yang memulai era Penebusan, tiada memilih bagi tahta-Nya sebuah bintang di langit, pun istana dari seorang yang berkuasa. Pula Ia tak menghendaki sayap-sayap para malaika

Shalom,


Untuk menggambarkan hakikat Hawa sbg penerima dan Adam sbg pemberi dgn kejadian/aktiivitas fisik persetubuhan, tidak berlandaskan Alkitab. Bagaimana dengan kejadian/aktivitas non fisik (mengasihi), siapa di anata perempuan dan laki2 yang mempunyai hakikat memberi dan hakikat menerima? Betapa analogi yang absurd.

Juga dalam aktivitas/kejadian fisk dalam persebubuhan, bagaimana kalau laki-laki (sorry) membuat masuk sebagian ujung dari dada peremumpuan? Apakah hakikat si laki2 masih pemberi? Betapa analogi yang absurd.


Anda memang tidak bisa mengerti dan paham tulisan diatas. Saya menjelaskan bahwa Hakikat dasar manusia sebagai yang menerima dari Allah yang memberi, jadi jika  berhadapan dengan Allah, identitas atau tindakan dasar manusia adalah "menerima".Manusia melakukan kesalahan besar ketika berhadpan dengan Allah ia justru memutuskan untuk tidak lagi sekedar "menerima" melainkan ingin seturut kehendaknya sendiri "mengambil".

Pahamilah terlebih dahulu kalimat diatas. Sekarang mari kita melangkah kepada manusia dalam hal ini laki-laki dan perempuan. Laki-laki adalah pihak pemberi dan wanita adalah pihak yang menerima. Tubuh perempuan diciptakan untuk membuka diri, untuk menerima sebagian dari tubuh lelaki. Dalam arti inilah terlihat jelas tubuh perempuan diciptkan untuk menerima tubuh lelaki. Secara anatomi kita tahu bahwa sel trelur perempuan hanya bisa menerima sperma dari lelaki. Tidak bisa sebaliknya. Demikian hasil “rancangan” Tuhan.

Lelaki menjadi pihak yang member, perempuan menjadi pihak yang membuka dan menerima. Dengan demikian, di sini kita bisa melihat alsan mengapa ular menyerang perempuan. Jangan kita cepat2 menyaring kisah ini dan menilai ini sebagai produk sebuah masyarakat yang didominasi oleh lelaki yang ingin dengan sengaja memojokkan perempuan. Penulis kisah ini ingin memperlihatkan perempuan itu sebagai simbolisasi dari sikap kita manusia, baik lelaki maupun perempuan, berhadapan dengan Allah sendiri.

Artinya baik anatomo tubuh maupun proses pembuahan sudah "dirancang" oleh TUHAN sendiri demikian.

Bila manusia memiliki hakikat adanya sebagai pihak yang “menerima” sementara Allah sendiri adalah pihak yang “member,” dengan mendekati perempuan, ular itu ingin menjungkirbalikkan hakikat dasar manusia,kita semua, lelaki dan perempuan. Manusia yang pada dasarnya diciptakan sebagai pihak yang menerima, sekarang digerakkan untuk mengambil sendiri. Simbolisasi dengan mengisahkan tokoh perempuan yang “mengambil” mengandung nilai yang sangat tajam, justru karena secara anatomis dan biologis, tubuh perempuan berada sebagai pihak yang “menerima” dari lelaki yang “memberi.”

Logika yang bergerak di sini dengan demikian senantiasa bergerak pada penerimaan hakikat diri manusia sebagai yang “menerima” dan Allah sebagai yang “memberi.” Sekali manusia melawan itu, ia melawan hakikat dirinya sendiri, ia melawan hakikat Allah sendiri. Itulah yang terjadi dengan dosa.

Tolong jangan OOT dan mengarahkan diskusi ke soal patung dsb!!!

Kalau mau lebih pahami tulisan saya baca ulasannya disini: http://forumkristen.com/index.php?topic=34808.msg415460#msg415460
« Last Edit: October 29, 2011, 03:29:39 PM by CLAY »
Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena Iman didalam YESUS KRISTUS (Galatia 3:25)
October 30, 2011, 12:16:17 PM
Reply #8
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 1847
Saya kira anda tidak paham sama sekali penjelasan saya mengenai Hakikat dosa. Sebab dosa sebagai sebuah tindakan "mengambil" yang bertentangan dengan tindakan dasar manusia yang "menerima" di hadapan Allah sendiri. Sebab hakikat diri manusia sebagai yang "menerima" dan Allah sebagai yang "memberi". Sekali manusia melawan itu, ia melawan hakikat dirinya sendiri, ia melawan hakikat Allah sendiri, itulah yang terjadi dengan dosa.

Bila manusia mulai meragukan kesungguhan hati atau keseriusan Allah untuk "memberi" kepada manusia, ia bisa mudah tergoda untuk "mengambil". Maka tindakan mengambil berakar pada KERAGUAN akan KSESUNGGUHAN ALLAH untuk "memberi"

Kisah adam dan hawa hanyalah sebagian kecil dari tindakan manusia yang selalu menolak pemberian Allah.  Mari kita simak beberapa contoh Dosa berisi tindakan dasar manusia yang tidak lagi mau hanya “menerima,” dan mulai ingin “mengambil” bagi dirinya sendiri.

Pada kisah Abraham, dikisahkan bahwa TUHAN akan memberi seorang anak kepada Abraham, namun abraham oleh kehendaknya sendiri menghampiri hambanya Hagar orang mesir utuk mendapatkan keturunan. Ini adalah tindakan mengambil bagi dirinya sendiri, sementara TUHAN telah menjanjikan akan memberikan keturunan kepada Abraham. Akibat dari tindakan abraham ini adalah "kesusahan" yang ia dapat setelah kelahiran Ismael dimana hambanya Hagar tidak lagi menghormati Sara istrinya.  Banyak kisah dalam Alkitab kita temukan tindakan dasar dari sikap manusia yang meragukan kesungguhan hati atau keseriusan Allah untuk "memberi" kepada manusia, dan manusia mudah tergoda untuk "mengambil". Maka tindakan mengambil berakar pada KERAGUAN akan KSESUNGGUHAN ALLAH untuk "memberi" Inilah Hakikat dosa.

Salah satu contoh lain dari tindakan manusia ingin mengambil bagi dirinya sendiri adalah ketika YESUS datang ke dunia dan telah memberikan kepada kita Gereja-Nya yang dipimpin oleh PETRUS dan para penerusnya, namun pemberian YESUS sendiri ditolak dan manusia ingin mendirikan sendiri gereja, seperti yang pernah saya bahas di sini: PROTESTAN MENOLAK PEMBERIAN ALLAHhttp://forumkristen.com/index.php?topic=39857.msg533276#msg533276

Jika hal sederhana ini tidak anda pahami, tetapi anda lebih ingin memahami berdasarkan pengertian anda sendiri, silahkan saja, saya tidak ingin mendebat pemahaman anda!!


Loh bukan soal debat akan tetaplebih kepada  berdiskusi (tukar pikiran)
Bukankah tuhan juga  telah menjanjikan Keselamatan (hidup kekal ) tetapi kita juga mengambilnya sendiri (mengerjakan keselamatan ) dan itu bukanlah dosa

Tuhan Yesus memberkati
Han
TIDAK SEMUA ISI ALKITAB ADALAH FIRMAN ALLAH DAN TIDAK SEMUA FIRMAN ALLAH TERTULIS DALAM ALKITAB
October 31, 2011, 10:00:13 PM
Reply #9
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 2653
  • Gender: Male
  • RASIO POST MENGHINA thd TOTAL POSTS = ... %
Anda memang tidak bisa mengerti dan paham tulisan diatas. Saya menjelaskan bahwa Hakikat dasar manusia sebagai yang menerima dari Allah yang memberi, jadi jika  berhadapan dengan Allah, identitas atau tindakan dasar manusia adalah "menerima".Manusia melakukan kesalahan besar ketika berhadpan dengan Allah ia justru memutuskan untuk tidak lagi sekedar "menerima" melainkan ingin seturut kehendaknya sendiri "mengambil".

Pahamilah terlebih dahulu kalimat diatas. Sekarang mari kita melangkah kepada manusia dalam hal ini laki-laki dan perempuan. Laki-laki adalah pihak pemberi dan wanita adalah pihak yang menerima. Tubuh perempuan diciptakan untuk membuka diri, untuk menerima sebagian dari tubuh lelaki. Dalam arti inilah terlihat jelas tubuh perempuan diciptkan untuk menerima tubuh lelaki. Secara anatomi kita tahu bahwa sel trelur perempuan hanya bisa menerima sperma dari lelaki. Tidak bisa sebaliknya. Demikian hasil “rancangan” Tuhan.

Lelaki menjadi pihak yang member, perempuan menjadi pihak yang membuka dan menerima. Dengan demikian, di sini kita bisa melihat alsan mengapa ular menyerang perempuan. Jangan kita cepat2 menyaring kisah ini dan menilai ini sebagai produk sebuah masyarakat yang didominasi oleh lelaki yang ingin dengan sengaja memojokkan perempuan. Penulis kisah ini ingin memperlihatkan perempuan itu sebagai simbolisasi dari sikap kita manusia, baik lelaki maupun perempuan, berhadapan dengan Allah sendiri.

Artinya baik anatomo tubuh maupun proses pembuahan sudah "dirancang" oleh TUHAN sendiri demikian.

Bila manusia memiliki hakikat adanya sebagai pihak yang “menerima” sementara Allah sendiri adalah pihak yang “member,” dengan mendekati perempuan, ular itu ingin menjungkirbalikkan hakikat dasar manusia,kita semua, lelaki dan perempuan. Manusia yang pada dasarnya diciptakan sebagai pihak yang menerima, sekarang digerakkan untuk mengambil sendiri. Simbolisasi dengan mengisahkan tokoh perempuan yang “mengambil” mengandung nilai yang sangat tajam, justru karena secara anatomis dan biologis, tubuh perempuan berada sebagai pihak yang “menerima” dari lelaki yang “memberi.”

Logika yang bergerak di sini dengan demikian senantiasa bergerak pada penerimaan hakikat diri manusia sebagai yang “menerima” dan Allah sebagai yang “memberi.” Sekali manusia melawan itu, ia melawan hakikat dirinya sendiri, ia melawan hakikat Allah sendiri. Itulah yang terjadi dengan dosa.

Tolong jangan OOT dan mengarahkan diskusi ke soal patung dsb!!!

Kalau mau lebih pahami tulisan saya baca ulasannya disini: http://forumkristen.com/index.php?topic=34808.msg415460#msg415460



Shalom,

Bro Clay, akan lebih baik diskusi bila hanya berisi substansi materi tanpa pernilaian2 seperti "Anda tidak mengerti", dsb. Ibaratnya betapa murninya ajaran bila hanya berlandaskan Alkitab tanpa tradisi2 seperti dikatakan Yesus dlm Mrk 7:7-9, apokripa, dll.

Bro, dalam Alkitab, berjubel ayat yg menunjukkan bhw dosa adalah pelanggaran terhadap hukum/perintah/firman Allah. Dan secara tandas dikatakan dalam 1 Yoh 3:4.

Bro tidak perlu capek2 berinferensi atau berdeduksi sologistis, dsb utk mengerti hakikat dosa. Alkitab telah mengatakan dengan gamblang, dosa ialah pelanggaran hukum Allah.

Pengertian2 apapun dari manusia tidak boleh mengaburkan bahwa dosa adalah pelanggaran thd hukum Allah, termasuk pelanggaran hukum Allah dalam Kel 20:4 yang melarang menyembah patung.

Kel 20:4 itu tidak oot Bro, itu satu contoh pelanggaran terhadap hukum Allah bila membuat patung. Juga dosa bila menjadikan larangan membuat patung itu menjadi tidak ada dalam suatu kitab dan diajarkan kepada manusia.

Demikian, semoga bermanfaat.
Salam, JBU, Jericho, J.






BEBERAPA KALI PERLU KETEKUNAN DAN AMBIL RESIKO MEMBUANG WAKTU
MENGHADAPI DISKUSI YG DICOBA DISERET2 KE
HAL2 DI LUAR ALKITAB DAN KE LOGIKA2 SIA2 SERTA AD-HOMINEM2;

SEBAGAI CERMIN BAGI SIAPA SAJA
YG MAU MENYERET2 DISKUSI ALKITAB KE NON ALKITAB






















'
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)