Author Topic: Tiga Ranah Debat Sains dan Agama  (Read 2451 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

October 16, 2011, 09:21:14 AM
  • FK - Newbie
  • *
  • Posts: 10
  • Gender: Female
    • IMPCI
  • Denominasi: Islam Messianic
 
 :angel: :coolsmiley:
oleh Ioanes Rakhmat([img]) pada 23 Juni 2011 jam 15:13

Tulisan ini menyoroti tiga ranah debat antara sains dan agama: pertama, ranah moralitas; kedua, ranah sains dan wahyu skriptural; dan ketiga, ranah filosofis eksistensi Allah dan hakikat manusia.
 
Buddha dan Einstein... suatu konvergensi agama dan sains?
Moralitas Tentu nilai-nilai altruistik yang umum ditawarkan agama-agama kuno, yang mendorong manusia mau berkorban demi kebaikan manusia lainnya, tetap relevan. Tetapi banyak moralitas yang ditawarkan agama-agama kuno tak cocok lagi sekarang ini.
 
Semua kitab suci agama kuno ditulis dalam suatu kebudayaan patriarkal yang merendahkan kaum perempuan. Patriarkalisme ini berbenturan dengan moralitas modern yang membela kemitraan sejajar perempuan dan lelaki dalam semua aspek kehidupan. Begitu juga, sementara orang modern menerima kesetaraan kalangan LGBT di semua bidang kehidupan, kalangan skripturalis kebanyakan agama membenci mereka. Agama-agama teistik kuno, termasuk Yesus dan Kekristenan perdana, membela teokratisme, yang kalau diterapkan sekarang akan berbenturan dengan banyak nilai moral yang dibela sistem demokrasi modern. Dalam dunia kuno, genosida dipraktekkan atas nama suatu allah, sementara kini dipandang sebagai satu musuh umat manusia. Dalam zaman modern, pemikiran bebas didorong dan dijamin oleh UUD suatu negara, tapi para agamawan berbagai agama memakai kitab suci untuk memberangus pemikiran yang tak sejalan dengan isi kitab suci. Moralitas yang ditarik dari teks-teks legal dalam kitab-kitab suci kuno banyak bertabrakan dengan moralitas yang manusia modern susun dengan terutama memperhitungkan konteks sosio-historis suatu tindakan.
 
Pendek kata, ada banyak nilai moral yang ditawarkan kitab-kitab suci kuno, yang tak kena lagi untuk zaman sekarang. Akibatnya, fungsi agama sebagai satu sumber terpenting ajaran moral bagi kehidupan modern dipertanyakan. Adakah pengganti agama untuk manusia dapat membangun suatu sistem moralitas? Ada!
 
Sam Harris, dalam buku terbarunya, The Moral Landscape: How Science Can Determine Human Values (2010), menunjukkan bahwa sains modern, khususnya neurosains (= sains tentang sifat, kapasitas dan cara kerja neuron-neuron yang membentuk organ otak manusia), dapat menjadi satu sumber nilai-nilai moral yang dibangun berdasarkan suatu kesadaran bahwa semua manusia membutuhkan well-being, kesejahteraan, bagi dirinya sendiri dan bagi masyarakatnya. Karena otak melahirkan sains, dan sains memunculkan teknologi, dan keduanya digunakan untuk kesejahteraan manusia dan ketahanan semua bentuk kehidupan, maka otak juga akan sanggup, tanpa agama sekalipun, untuk menggariskan nilai-nilai moral sekuler, yang mengarahkan tindakan manusia ke suatu tujuan pamungkas, yakni  menghasilkan, mempertahankan dan meningkatkan kesejahteraan untuk semua insan.
 
Sebuah buku lainnya yang lebih mutakhir, yang mengulas hal yang sama, adalah buku Patricia S. Churchland, Braintrust: What Neuroscience Tells Us about Morality (Princeton, New Jersey: Princeton University Press, 2011). Churchland menunjukkan bahwa nilai-nilai moral diproduksi oleh otak manusia (yang disebutnya brain-based values); karena itu moralitas dapat dibangun secara saintifik lewat neurosains, sebuah disiplin ilmu yang menempatkan kerja neuron-neuron otak manusia dalam suatu jejaring yang melibatkan gen dan perilaku manusia. Dari jejaring organik dan psikologis ini manusia sanggup melahirkan nilai-nilai moral seperti kepedulian pada diri sendiri dan pada orang lain, kemampuan bekerja sama dan mempercayai orang lain sehingga terbentuk kehidupan sosial yang bermanfaat bagi ketahanan spesies. Kemampuan ini sudah ada dalam gen manusia jauh sebelum agama-agama muncul dalam dunia ini; dan sejauh agama-agama makin meningkatkan kemampuan moral ini, agama-agama masih berguna. Pada pihak lain, kemampuan bawaan genetik untuk bertahan hidup oleh nenek moyang manusia dieksternalisasi dan diverbalisasi dalam ajaran-ajaran moral, salah satunya ajaran moral dalam agama-agama.
 
Sains modern sudah lama menunjukkan bahwa manusia memiliki suatu kemampuan genetik untuk mempertahankan kehidupan mereka, baik lewat "selfish gene" (Richard Dawkins) maupun lewat "altruistic gene", dan lewat suatu mekanisme sosio-biologis "survival of the fittest" (Charles Darwin) yang bekerja dalam proses evolusi biologis, sosial dan kosmologis yang tak pernah selesai. Dalam diri spesies homo sapiens, manusia cerdas, yang memiliki "self consciousness"  (kesadaran diri), dorongan mempertahankan kehidupan tak lagi bersifat naluriah, melainkan dipikirkan, diprogram, dan dievaluasi oleh otak manusia, dan dijalankan dalam tindakan dan perilaku. Dalam rangka inilah otak manusia, yang diperintah oleh gen, menunjukkan suatu kemampuan untuk melahirkan nilai-nilai moral, lewat sains, lewat kesadaran yang tertanam dalam otak, dan lewat kemampuan berpikir retroaktif dan antisipatif yang menembus ruang dan waktu, ke belakang maupun ke depan.
 
Sains dan Wahyu Skriptural
Pengetahuan modern dan cara menganalisis objek-objek secara saintifik baru muncul abad 16 atau abad 17 lewat kegiatan penelitian Galileo Galilei (1564-1642), yang kini diakui sebagai Bapak sains modern, dan lewat analisis filosofis rasionalis René Descartes (1596-1650) yang diakui sebagai Bapak filsafat modern dan dikenal luas lewat sebuah pernyataannya "Cogito, ergo sum", "Aku berpikir, maka aku ada."
 
Karena semua kitab suci ditulis pada masa pramodern, ketika orang belum mampu berpikir, mengobservasi dan menganalisis secara saintifik, jelas mustahil jika orang mau menemukan sains modern dalam kitab-kitab suci kuno. Jika kitab-kitab suci kuno benar memuat sains, mustinya sejak dulu para ahli kitab suci bisa menjadi para penemu sains. Faktanya tak demikian.
 
Sains modern lahir bukan dari kegiatan mengkaji kitab suci apapun, tetapi dari eksperimentasi, dari observasi atas segala fenomena alam, dan dari kegiatan berpikir yang logis, mendasar, runtut, analitis, konsisten dan koheren, dan dari bukti-bukti empiris objektif. Kitab-kitab suci disusun berdasarkan suatu iman pada keberadaan makhluk-makhluk adikodrati (Allah, misalnya), tanpa suatu bukti empiris apapun yang membenarkan klaim imaniah ini.
 
Suatu klaim saintifik hanya diterima benar jika ada bukti-bukti empiris (empirical evidence) yang mendukungnya; ini yang disebut sebagai epistemologi evidensialis. Kitab-kitab suci mengklaim kebenaran imaniah yang berlaku absolut dan diyakini tak bisa salah karena dipercaya datang sebagai wahyu (revelation); ini yang disebut sebagai epistemologi revelatif, yang bertabrakan dengan epistemologi evidensialis dalam dunia sains. Sains tak bisa diabsolutkan, tak bisa diilahikan, meskipun tentu saja ada berbagai posisi saintifik yang sudah teruji dan sudah mapan. Sains juga tidak bisa diklaim tidak bisa salah, tetapi selalu terbuka pada falsifikasi saintifik dan reformulasi.
 
Banyak agamawan mengklaim bahwa kebenaran-kebenaran yang diberitakan dan dipertahankan dalam kitab suci (mereka) adalah kebenaran-kebenaran mutlak yang serba pasti, tak bisa salah dalam segala hal, karena dipercaya diberitahukan atau diwahyukan oleh Allah yang tak bisa salah, sehingga terjamin kebenarannya, dan berlaku kekal, tak pernah usang. Klaim ini sebetulnya salah sama sekali; lagi pula sangat merugikan.
 
Mengapa sangat merugikan? Sebab jika seseorang memperlakukan agamanya sebagai kebenaran mutlak yang tak bisa salah, seperti kebenaran-kebenaran dalam ilmu pasti matematika dan aritmetika, sehingga tak ada ruang ketidakpastian di dalam agamanya, si agamawan ini umumnya cenderung akan menjadi seorang agamawan yang bertemperamen keras dan menyukai kekerasan demi, disadari atau tidak olehnya, mempertahankan kepastian mutlak agamanya, suatu beban psikologis berat yang membuatnya stres setiap hari.
 
Si agamawan yang semacam ini mudah terkena stres berat juga dikarenakan dia sungguh tahu bahwa ada banyak segi dalam bangunan agamanya yang kalau ditelaah secara saintifik, akan terlihat kekeliruan dan kesalahannya oleh para pengamat netral yang mampu berpikir saintifik! Seorang agamawan yang semula yakin agamanya memberi kepastian mutlak dalam segala hal, akan merasa Bumi dan langit di atasnya gonjang-ganjing dan runtuh menimpanya tanpa ampun ketika diperlihatkan kepadanya bahwa ada banyak sekali ketidakpastian dalam agamanya. Kajian-kajian historis kritis yang dikenal sebagai historical criticism, ketika dilakukan terhadap kitab-kitab suci kuno, suatu kegiatan akademik yang sudah berlangsung lebih dari dua abad di Barat, berhasil memperlihatkan bahwa semua kitab suci adalah produk kebudayaan manusia di dalam suatu konteks sosio-historis tertentu, sehingga selalu memiliki keterbatasan-keterbatasan tertentu yang serius.
 
Selanjutnya saya ingin menegaskan, justru kebenaran-kebenaran yang diwartakan agama-agama adalah kebenaran-kebenaran yang paling tidak pasti, paling relatif, sebab hal-hal yang diklaim sebagai kebenaran dalam agama-agama tidak berpijak pada bukti-bukti empiris objektif yang dapat diobservasi oleh indra atau oleh peralatan teknologis, melainkan hanya dipercaya saja secara subjektif. Jika si agamawan memandang agamanya berisi banyak ketidakpastian, maka dia akan tak berkeberatan jika agamanya diusulkan untuk dipandang sebagai art and humor, seni dan banyolan, yang dapat mengobati penyakit stres yang diidap banyak manusia modern, termasuk dirinya sendiri.
 
Sebaliknya, kebenaran-kebenaran saintifik jauh lebih pasti ketimbang kebenaran-kebenaran yang diberitakan agama-agama, sebab semua kebenaran sains diklaim benar dengan berdasar bukti-bukti empiris objektif yang bisa diobservasi oleh indra dan oleh peralatan teknologis. Bahkan ada banyak kebenaran saintifik yang kebenarannya sudah mencapai status kebenaran mutlak, sebagai kebenaran-kebenaran saintifik yang sudah mapan, misalnya hukum-hukum besi fisika yang tak bisa salah, dan berlaku universal, di muka Bumi maupun di seluruh jagat raya.
 
Jangan menganggap setiap saintis akan bertemperamen keras dan suka kekerasan berhubung dia selalu bergelut dalam dunia sains yang eksak, yang konon bisa membuatnya stres berat. Justru sebaliknya, hal-hal yang eksak lebih membahagiakan hati semua saintis material ketimbang hal-hal yang spekulatif. Selain itu, umumnya kalangan saintis sangat menyukai art and humor, seni dan dagelan, sehingga emosi mereka bisa terjaga dalam keseimbangan, antara hal-hal yang eksak dan hal-hal yang non-eksak, antara Hypatia dan Celine Dion, antara Galileo Galilei dan Van Gogh, antara Einstein dan Mozart, antara Michio Kaku dan Kitaro, antara Feynman dan Mr Bean. Pada sisi lain, jika seorang saintis memakai kekerasan dan kekuasaan untuk membela dan mempertahankan pandangan saintifiknya, bukan memakai argumen saintifik lewat debat terbuka, dingin dan terhormat, maka dengan sendirinya reputasi dan kredibilitasnya sebagai saintis akan hancur lebur.
 
Banyak agamawan mengklaim bahwa kitab suci mereka sejalan dengan sains modern. Tetapi sebetulnya mereka hanya dengan paksa mencocok-cocokkan sains modern dengan kitab suci. Jika sains yang semula diklaim sejalan dengan kitab suci berubah, mereka pasti akan mencari teks skriptural lain untuk dipaksa sejalan dengan sains modern. Kalaupun sejumlah agamawan bisa dengan jujur mempertemukan sains modern dengan keyakinan religius mereka, ternyata keyakinan religius mereka sudah sangat tidak ortodoks lagi.
 
Kini banyak agamawan dari berbagai agama mengklaim bahwa pemikiran keagamaan mereka, dan khususnya yang terekam dalam kitab-kitab suci mereka, sejalan dengan fisika quantum. Tetapi fisikawan Victor J. Stenger menunjukkan bahwa klaim-klaim semacam ini diajukan karena para agamawan itu salah memahami berbagai dimensi fisika quantum; tentang ini, lihat bukunya Quantum Gods: Creation, Chaos, and the Search for Cosmic Consciousness (Amherst, New York: Prometheus Books, 2009).
 
Kalaupun para agamawan dapat memasukkan Allah sebagai suatu faktor dalam sains, Allah semacam ini hanya berfungsi sebagai "god of the gaps", Allah pengisi "celah-celah" yang masih belum bisa diisi oleh sains. Ketika celah-celah ini suatu saat berhasil ditutup oleh data serta bukti saintifik, Allah semacam ini akan menganggur, tak lagi aktif mengisi celah-celah sains. Tempat Allah semacam ini dalam dunia ditentukan oleh para agamawan, dan merekalah yang memberi tugas pada Allah ini, bukan sebaliknya. Aneh juga ada Allah yang semacam ini.
 
Belakangan ini ada berbagai usaha membangun "sains skriptural", misalnya sains Vedik, sains Quranik, atau sains Alkitabiah. Tujuannya antara lain bersifat politis, yakni untuk mengunggulkan kedudukan satu agama dalam suatu negara, dan untuk mengendalikan dan menjinakkan arah gerak progresif sains lewat kekuasaan monster agama, dengan akibat seluruh rakyat negara ini diperbodoh oleh para agamawan. Di kalangan Muslim, misalnya, ada berbagai usaha untuk membangun sains Islam, yang dibuat berkonfrontasi dengan apa yang mereka dengan keliru sebut sains Barat, sains imperialis Amerika! Anehnya, banyak kaum bangsawan di Saudi Arabia malah menyekolahkan putera-puteri mereka di universitas-universitas besar di Amerika Serikat, sebuah negara besar modern yang mereka cap imperialis!
 
Seperti dibentangkan oleh F. A. Hayek dalam buku klasiknya, The Road to Serfdom (London and New York: George Routledge & Sons, 1944; London: Routledge, 2001), bab 11, pada masa rezim tiran Nazi berkuasa di Jerman pada era Perang Dunia II, banyak disiplin sains direkayasa untuk melayani kepentingan agenda perjuangan rezim ini, sehingga lahirlah "ilmu-ilmu sosial Marxis-Leninis", "matematika Nazi", dan "fisika Jerman", suatu keadaan yang dibenarkan hanya oleh orang-orang yang sudah tidak waras.
 
Akhirnya akan pasti tampak bahwa semua "sains skriptural" ini atau sains ideologis apapun hanyalah pseudo-science (atau malah junk science, dalam penilaian para saintis tulen Barat) yang tak memiliki bukti empiris dan dasar teoretis saintifik apapun, sehingga hanya pantas dipandang sebagai doktrin keagamaan, seperti halnya kreasionisme dan intelligent design yang diciptakan Kekristenan Amerika. Karena para agamawan kini sedang membawa agama ke dalam ranah sains dan ranah politik, tentu saja bisa dimengerti mengapa para saintis tulen (Barat) kini melakukan banyak pembedahan atas semua klaim keagamaan dengan memakai pisau-pisau bedah sains.
 
Umumnya para agamawan Kristen mengklaim bahwa tanpa Kekristenan lahir, tumbuh dan berkembang di Eropa  pada masa kekaisaran Romawi, sains modern tak akan pernah muncul. Perhatikan dua penyataan berikut ini.
 
Pernyataan yang pertama: "Sebagaimana suatu generasi baru para sejarawan, sosiolog, filsuf sains telah buktikan, agama alkitabiah bukanlah musuh sains melainkan matriks intelektual yang pertama-tama memungkinkan munculnya sains. Tanpa wawasan-wawasan kunci yang Kekristenan jumpai terpelihara dalam Alkitab dan menyebar ke seluruh Eropa, sains tidak akan pernah ada…. Bukti ini tak dapat diperdebatkan: Ini adalah teologi rasional baik dari Abad Pertengahan Katolik maupun Reformasi Protestan—yang diilhami oleh kebenaran-kebenaran implisit dan eksplisit yang diwahyukan dalam Alkitab Yahudi— yang bermuara pada penemuan-penemuan sains modern." Pernyataan ini ditulis oleh Robert Hutchinson, "The Biblical Origins of Modern Science", dalam The Politically Incorrect Guide to the Bible (Washington, DC: Regnery, 2007) 139.
 
Pernyataan yang kedua: "Kepercayaan pada rasionalitas Allah tidak hanya bermuara pada metode induktif tetapi juga pada kesimpulan bahwa jagat raya ini diatur secara rasional oleh hukum-hukum yang dapat ditemukan. Asumsi ini sangat penting dan vital bagi riset saintifik karena di dalam suatu dunia pagan atau dunia politeistik, yang melihat dewa-dewanya sering terlibat dalam perilaku yang irasional dan cemburuan di dalam suatu dunia yang non-rasional, setiap investigasi sistematis atas dunia yang semacam ini akan tampak sia-sia. Hanya dalam pemikiran Kristen, yang mendalilkan ‘eksistensi suatu Allah tunggal, sang Pencipta dan Pengatur jagat raya, yang berfungsi di dalam suatu cara yang secara normal dan tertata dapat diprediksi,’ adalah mungkin bagi sains untuk ada dan beroperasi." Pernyataan ini berasal dari Alvin Schmidt, "Science: Its Christian Connections" dalam Under the Influence: How Christianity Transformed Civilization (Grand Rapids, MI: Zondervan, 2001) 221.
 
Tetapi Richard Carrier, Ph.D., pakar pengkaji sains dalam dunia kuno dan Kekristenan, telah merontokkan pernyataan-pernyataan di atas yang memandang Kekristenan sebagai satu-satunya pranata keagamaan yang bertanggungjawab bagi kelahiran sains modern. Dalam tulisannya yang berjudul "Christianity Was Not Responsible for Modern Science", dalam John W. Loftus, ed., The Christian Delusion: Why Faith Fails (Amherst, New York: Prometheus Books, 2010) 396-419, Carrier menunjukkan bahwa sains modern justru memiliki pijakan yang kuat di dalam pandangan dunia pagan yang menjadi konteks luas kelahiran Kekristenan perdana, bukan di dalam Kekristenan sendiri. Carrier menulis, "Kekristenan menguasai penuh seluruh dunia Barat dari abad kelima sampai abad kelima belas, namun di dalam jangka waktu seribu tahun itu tidak terjadi Revolusi Saintifik. Suatu penyebab yang gagal menghasilkan akibat yang diprediksikan, meskipun terus-menerus aktif selama seribu tahun, biasanya dipandang sebagai penyebab yang ditolak, bukan dikonfirmasikan."
 
Carrier menyimpulkan, antara lain, bahwa "[N]ilai-nilai yang diperlukan bagi kemajuan sains, yakni merangkul keingintahuan sebagai suatu kebajikan moral, mengangkat empirisisme ke status otoritas tertinggi di dalam semua perdebatan tentang fakta, dan menghargai pengejaran kemajuan" dipegang oleh banyak pagan kuno "dengan sangat kuat dan terus-menerus sehingga mereka semuanya membuat kemajuan-kemajuan yang sinambung di dalam penemuan-penemuan dan metode-metode saintifik. Kontras dengan itu, Kekristenan untuk waktu yang lama tidak pernah menghargai nilai-nilai ini, dan malah dalam banyak kasus mengutuk nilai-nilai ini." Tandas Carrier, "[G]agasan baru ini bahwa Kekristenan bukan hanya bertanggungjawab tetapi juga diperlukan bagi munculnya sains modern pastinya adalah sebuah gagasan delusional. Suatu delusi menjadi patologis ketika kepercayaan ini dipertahankan dengan keyakinan mutlak bahkan di hadapan bukti yang kuat dan meyakinkan yang menyatakan hal sebaliknya."
 
Bahwa Kekristenan memusuhi sains sejak abad-abad pertama kelahirannya, dapat dicontohkan dari kasus pembumihangusan perpustakaan besar Alexandria, Mesir, dan pembunuhan seorang filsuf perempuan, yang juga astronom dan matematikus, yakni Hypatia, yang dilahirkan di kota ini, dalam suatu amuk massa Kristen pengikut Cyrillus, uskup kota ini, pada abad kelima M. Pembunuhan Hypatia dipicu oleh fitnah Cyrillus bahwa Hypatia adalah seorang ateis yang tak mempercayai Allah Kristen, dan seorang penyihir. Sebagaimana dituturkan oleh penulis skenario film AGORA (produksi 2009), Alejandro Amenabar, film yang disutradarai Fernando Bovaira, ketika Hypatia yang non-Kristen pada saat genting ditanyai apa kepercayaannya, dia menjawab, "Aku percaya filsafat!" Kali lain, ketika dalam situasi mendesak Hypatia diminta seorang pejabat penting di Alexandria untuk juga masuk Kristen, Hypatia malah bertanya, "Mengapa engkau tak pernah mempertanyakan kepercayaanmu sendiri?"   
 
 
Eksistensi Allah dan Hakikat Manusia
Sampai kini, faktanya, tak ada satu bukti empiris apapun yang membenarkan klaim agama-agama teistik bahwa Allah itu ada. Penelitian fisikawan Victor J. Stenger, misalnya, malah menghasilkan suatu kesimpulan bahwa Allah itu tidak ada. Dua buku mutakhirnya perlu dibaca, Has Science Found God? The Latest Results in the Search for Purpose in the Universe (2003), dan God: The Failed Hypothesis. How Science Shows That God Does Not Exist (2007).
 
Jesse Bering, dalam bukunya, The Belief Instinct: The Psychology of Souls, Destiny, and the Meaning of Life (New York/London: W.W. Norton and Company, 2011), bertanya (pada halaman 8), "Apakah Allah-allah, jiwa-jiwa, dan nasib akhir manusia, sebenarnya hanyalah seperangkat ilusi yang mempesona, ilusi yang dapat dijelaskan asal-usulnya oleh evolusi luar biasa otak manusia?". Bering menjawab, "Mempersepsi suatu Oknum supernatural bukanlah magis, tetapi sesuatu yang jelas-jelas organik, yakni suatu fungsi otak manusia" (hlm. 8). Bahwa berbagai pengalaman keagamaan, pengalaman spiritual, pengalaman tentang dunia ilahi, tidak mengacu ke dunia adikodrati yang tak kasat mata, melainkan semuanya diproduksi dalam neuron-neuron otak manusia, sudah dibeberkan dengan terang dalam banyak karya bagus kajian-kajian neurosains, di antaranya karya Andrew Newberg & Mark Robert Waldman, How God Changes Your Brain: Breakthrough Findings from a Leading Neuroscientist (New York: Ballantine Books, 2009), dan karya Andrew Newberg, E. D'Aquili, dan V. Rause, Why God Won't Go Away (New York: Ballantine Books, 2011).
 
Para "saintis skriptural" Barat, dengan topangan dana dari The John Templeton Foundation, kini sedang fokus pada berbagai penelitian terhadap mind, pikiran, dengan harapan bahwa mind bisa dibuktikan sebagai suatu zat spiritual, bukan zat material. Alasan mereka: Jika pikiran manusia adalah suatu zat rohani, maka Allah sebagai roh tentu ada. Tapi pertanyaannya adalah: Mengapa pikiran manusia lenyap ketika otak tidak lagi menerima pasokan nutrisi, hormon dan oksigen, ketika tak ada lagi energi elektrokimiawi neurologis yang mengalir dalam otak manusia, ketika manusia mati? Bukankah kalau pikiran manusia itu suatu zat rohani yang independen, tak terikat pada zat material organ otak, pikiran ini akan tetap ada kendatipun otak rusak atau manusia si pemilik otak mati, dan manusia akan dapat tetap hidup hanya dengan roh sekalipun tidak memiliki organ otak? Karena manusia pasti mati ketika otaknya mati atau ketika otaknya dicopot, atau pikiran lenyap ketika otak mati, berarti roh manusia itu tidak ada, dus berarti juga Allah itu, sebagai suatu zat spiritual yang memberi roh kehidupan kepada jasad manusia, tidak ada.
 
Sebuah argumen ilustratif analogis telah diajukan kalangan agamawan untuk menolak kesimpulan dalam alinea di atas, bahwa roh Allah dan roh manusia itu tidak ada. Mereka memakai ilustrasi stasiun pemancar gelombang radio yang menyiarkan gelombang radio ke mana-mana lalu ditangkap oleh sebuah pesawat radio. Dalam ilustrasi ini, pemancar gelombang radio itu surga, dan gelombang radionya adalah roh Allah, dan pesawat penerima gelombang radio adalah otak manusia, yang berfungsi sebagai antena-antena penangkap "gelombang radio ilahi". Kata mereka, kalau pesawat radionya dimatikan (dalam posisi OFF) atau rusak, gelombang radionya dan stasiun pemancar gelombang radionya masih tetap ada, tidak ikut mati atau rusak.
 
Kepada kalangan agamawan yang berargumentasi demikian, hanya perlu diajukan satu permintaan: Tunjukkanlah kepada dunia di mana lokasi geografis stasiun pemancar gelombang radio yang mereka sebut surga, dan tunjukkanlah lewat radar atau lewat pesawat penerima gelombang radio, adanya gelombang radio ilahi yang mereka bayangkan sebagai roh Allah! Permintaan ini sangat serius, sebab kalau organ lunak berwarna putih, yang memiliki massa (satu setengah kilogram), yang objektif ada di dalam tempurung kepala kita, yang kita namakan otak, adalah penerima gelombang radio ilahi, maka gelombang radio ilahi ini juga harus bisa ditunjukkan keberadaannya secara empiris objektif di layar radar atau tertangkap oleh pesawat penerima radio yang biasa kita gunakan, dan lokasi pemancarannya juga harus dapat diidentifikasi—lebih-lebih sekarang ini teknologi radar dan teknologi pemancaran dan penerimaan gelombang radio sudah sangat maju!
 
Saya menantang kalangan agamawan yang percaya bahwa mind, pikiran, adalah zat rohani yang independen dan memiliki kesadaran sendiri untuk menguji apakah kepercayaan mereka benar melalui dua eksperimen berikut. Eksperimen pertama: Karena pikiran anda menurut anda adalah zat rohani yang independen sehingga bisa meninggalkan tubuh anda, atau lebih tepat meninggalkan otak anda, maka silakan pikiran anda keluar dari diri anda lalu masuk ke dalam otak saya yang sedang berpikir, lalu tangkap atau bacalah isi pikiran saya. Saya beri waktu 15 detik. Selanjutnya, kembalilah pikiran anda ke dalam otak anda, lalu beritahu saya apa isi pikiran saya yang anda telah baca tadi. Hasilnya bisa diprediksi: Nol besar!
 
Eksperimen kedua: Carilah sepuluh orang yang berbeda latarbelakang pendidikan dan kesukuan/kebangsaan, yang diakui bisa melakukan "OOBE", out-of-body-experience, keluar dari diri sendiri sebagai roh atau jiwa atau pikiran, lalu pergi melayang ke mana saja mereka mau. Kumpulkanlah sepuluh orang ini di sebuah rumah besar yang mereka belum pernah masuki yang di dalamnya ada sebuah kamar besar rahasia. Tempatkanlah di tengah ruang kamar besar rahasia ini sebuah benda lengkap dengan asesoris lain di sekelilingnya.
 
Lalu di sebuah ruang lain yang jauh dari kamar besar rahasia ini sepuluh orang itu diminta untuk bermeditasi intens lalu jiwa atau roh atau pikiran mereka masing-masing diminta meninggalkan tubuh mereka masing-masing, melayang menuju ruang kamar besar rahasia itu yang mereka harus temukan sendiri. Setelah sekian waktu berlalu, mintalah jiwa atau roh atau pikiran mereka masing-masing kembali ke diri mereka. Selanjutnya mereka masing-masing, dalam keadaan sadar penuh, diminta menuliskan pada selembar kertas hal-hal apa saja yang mereka masing-masing telah saksikan pada waktu mereka OOBE dan berada di ruang kamar besar rahasia itu. Apa hasilnya? Bisa diprediksi: setiap orang yang bisa OOBE itu menulis laporan yang satu sama lain tak sejalan bahkan bertentangan, sebab mereka semua menulis mengikuti kemauan imajinasi masing-masing.
 
Tak ada OOBE; yang ada adalah imajinasi dalam organ otak yang dibiarkan melayang-layang tanpa arah! Di sinilah tugas para neurosaintis untuk menjelaskan OOBE yang kerap diklaim sebagai suatu fenomena paranormal. Sebagaimana sudah dilakukan percobaan klinis oleh neurosaintis Michael A. Persinger, yang sudah dibeberkannya dalam karyanya Neuropsychological Bases of God Beliefs (New York: Praeger, 1987), berbagai pengalaman spiritual atau supernatural, antara lain OOBE dan perasaan dihadiri oleh suatu wujud spiritual, Allah atau malaikat misalnya, muncul pada diri seseorang jika pada bagian temporal lobes dari otaknya (wilayah neural yang terletak persis di atas telinga) diberi rangsangan medan elektromagnetik yang menimbulkan apa yang disebut temporal lobe transients, ketika terjadi peningkatan dan ketidakstabilan pola-pola penembakan neuron-neuron otak dalam aktivitas elektrokimiawi pada wilayah temporal lobes ini.
 
Saya perlu juga menyebut tiga buku lainnya pada kesempatan ini, yang ketiganya berisi pembedahan saintifik atas banyak kejadian paranormal, yang dengan kuat memperlihatkan bahwa semua hal yang selama ini dipandang sebagai paranormal ternyata adalah hal-hal yang normal saja, karena semuanya bisa dijelaskan secara ilmiah sebagai kejadian-kejadian yang ditimbulkan oleh aksi dan reaksi neuron-neuron dalam otak kita. Buku pertama, karya Michael Shermer, Why People Believe Weird Things: Pseudoscience, Superstition, and Other Confusions of Our Time (New York: Henry Holt and Company, 1997, 2002); buku kedua juga tulisan Michael Shermer, The Believing Brain: From Ghosts and Gods to Politics and Conspiracies—How We Construct Beliefs and Reinforce Them as Truths (New York: Henry Holt and Company, 2011); dan buku ketiga yang sangat luar biasa, karangan Richard Wiseman, Paranormality: Why We See What Isn't There (MacMillan, U.K., 2011).
 
Sebagai eksperimen pembanding, selanjutnya masing-masing orang yang diklaim sebagai praktisi OOBE itu dipersilakan dalam keadaan sadar penuh bergiliran berjalan kaki menuju ruang kamar besar rahasia itu dengan sebelumnya (tentu saja) secara personal ditunjukkan arahnya, lalu mereka masing-masing harus masuk ke dalamnya. Setiap praktisi yang sudah kembali diminta langsung menuliskan laporan pada selembar kertas mengenai hal-hal apa saja yang mereka telah lihat di dalam ruang kamar besar rahasia itu. Setelah semuanya melakukan hal yang sama, kumpulkan dan bandingkan setiap laporan mereka masing-masing. Apa hasilnya? Bisa diprediksi: 90 persen isi laporan mereka masing-masing boleh dikata serupa atau bahkan sama!
 
Kesimpulan dari eksperimen dengan sepuluh praktisi OOBE ini sangat jelas: roh atau pikiran itu menyatu dengan organ otak; dan hanya dalam kondisi tak terpisah dari organ otak ini, pikiran baru bisa bekerja atau  berfungsi. Tanpa organ otak, tak ada pikiran. Tanpa organ otak, tak ada roh. Tulis Shermer dalam bukunya The Believing Brain, hlm 111, "Pikiran adalah apa yang dikerjakan otak. Tidak ada apa yang disebut 'pikiran' pada dirinya sendiri, di luar aktivitas otak. Pikiran hanyalah sebuah kata yang kita gunakan untuk mendeskripsikan aktivitas neurologis dalam otak. Jika otak tak ada, pikiran juga tak ada. Kita mengetahui ini karena jika suatu bagian dari otak hancur karena stroke atau kanker atau luka atau pembedahan, apapun yang bagian otak yang rusak itu sebelumnya lakukan, kini lenyap sama sekali.... tanpa koneksi-koneksi neural dalam otak, pikiran tidak ada."  Jadi, tak ada zat yang dinamakan roh atau pikiran yang bisa lepas dari tubuh manusia.
 
Kalangan skripturalis teistik bagaimanapun juga akan berkeras bahwa manusia adalah suatu ciptaan unik Allah, yang menjadi hidup karena hembusan roh Allah, dan ada dalam planning Allah sejak awal untuk menjadikannya mahkota termulia dari semua ciptaan lain, untuk berkuasa atas jagat raya. Namun para saintis menegaskan bahwa manusia adalah salah satu bentuk kehidupan yang pada level fundamental tak berbeda dari semua benda material lain dalam jagat raya, yang tersusun dari partikel-partikel subatomik u-quark, d-quark dan elektron.
 
Kita sudah tahu bahwa sains evolusi, dengan didukung bukti-bukti empiris yang makin melimpah, sudah berhasil memperlihatkan bahwa homo sapiens, makhluk cerdas, yang kita beri nama manusia, adalah makhluk yang sungguh-sungguh berasal dari alam dan merupakan bagian dari alam, yang pada awalnya hanya memuat satu bentuk kehidupan bersel tunggal arkhaea. Buku bagus paling mutakhir yang menggambarkan proses evolusi ini dengan bukti-bukti sangat melimpah, adalah buku Richard Dawkins, The Greatest Show on Earth: The Evidence for Evolution (New York: Free Press, 2009). Sebuah buku tentang sains evolusi yang juga ada di rak buku saya, yang isinya sangat terang dan gamblang, adalah buku karya Jerry A. Coyne, Why Evolution Is True (Penguin Books, 2009).
 
Sains evolusi menunjukkan bahwa manusia muncul di Bumi sebagai suatu hasil proses evolusi biologis sangat panjang menurut suatu mekanisme seleksi alamiah, proses evolusi yang terus berlangsung acak, buta, tak bertujuan, tak terencana dan tak terpandu oleh kekuatan eksternal adikodrati apapun. Jadi, "the intelligent designer", sang perancang cerdas, yang mereka namakan Allah, sama sekali tak ada, tak memberi desain apapun atas alam ini dan semua bentuk kehidupan di dalamnya, dan khususnya tak merancang dengan cerdas homo sapiens. Dalam menjelaskan asal-muasal semua bentuk kehidupan, khususnya bentuk kehidupan yang kita namakan homo sapiens, hipotesis bahwa Allah adalah sumber semua bentuk kehidupan ini, sama sekali tidak diperlukan. The supernatural designer is dead!
 
Sains evolusi justru harus membuat kita takjub dan terpesona, sebab sudah dibentangkan di hadapan kita bukti-bukti empiris sangat kuat dan berlimpah bahwa kita, homo sapiens, adalah bagian tak terpisah dari semua organisme yang ada dalam alam. Kita semua bersaudara, baik dengan sesama manusia maupun dengan sesama binatang dan tetumbuhan. Sains evolusi dengan demikian mendorong kita untuk hidup ramah dan bersaudara dengan semua bentuk kehidupan lain, sebagai sesama saudara—ini juga pesan Buddhisme, pesan yang sangat mempesona.
 
Kitab-kitab suci agama-agama monoteistik, Alkitab, misalnya malah dengan keliru menempatkan manusia sebagai makhluk tertinggi dan termulia yang diberi mandat untuk berkuasa atas alam, untuk menaklukkan alam, bukan untuk membangun harmoni dengan alam. Sains evolusi justru jauh lebih bermoral dan agung ketimbang Alkitab, sebab sains ini, sekali lagi, menyadarkan kita sungguh-sungguh bahwa kita bersaudara dengan hewan dan dengan tetumbuhan, dan karena itu kita harus hidup harmonis dengan kosmos. Tentu kita harus terus mengembangkan sains dan teknologi untuk mengeksplorasi jagat raya, tetapi usaha-usaha saintifik dan teknologis ini kini dipikul dan dijalankan dengan suatu kesadaran penuh untuk juga mempertahankan dan melestarikan daya dukung alam terhadap semua bentuk kehidupan di muka Bumi.
 
Validitas sains evolusi kini sudah sangat kokoh karena sains genetika, sains biologi molekuler, sains anatomi dan fisiologi komparatif, sains geologi, sains paleontologi, botani, zoologi, biogeografi, kajian fossil, biologi sintetis, berkonvergensi mendukung kebenaran fakta evolusi spesies. Charles Darwin, seorang naturalis kebangsaan Inggris (1809-1882), yang pada 1859 menerbitkan karyanya On the Origin of Species, sekarang tidak berdiri sendiri, tetapi bersanding dengan banyak ilmuwan besar. Selain itu, dewasa ini aplikasi sains evolusi bukan menyusut, malah berkembang sehingga lahirlah psikologi evolusioner, neurosains evolusioner, kosmologi evolusioner, sains kognitif evolusioner, genetika evolusioner, dan sebagainya. Jika para agamawan masih ingin menolak Darwinisme karena alasan-alasan skriptural, mereka harus juga menolak semua disilpin ilmu lainnya ini. Jika ini mereka lakukan, mereka tak bisa lagi hidup dalam dunia modern, melainkan harus pulang ke Taman Eden purbakala yang ada hanya dalam mitos.
 
Tetapi, kalangan agamawan dan "saintis teistik" kini menyerang dari sisi lain. Mereka berkeras bahwa alam semesta kita ini, dan khususnya sistem matahari kita (solar system), telah dengan luar biasa "disetel dengan pas" (fine-tuned) sehingga menghasilkan suatu zona yang cocok untuk munculnya bentuk-bentuk kehidupan dan khususnya spesies manusia di planet Bumi lewat evolusi. Zona yang terbentuk oleh fine-tuning ini dinamakan Goldilocks Zone. Kalangan ilmuwan juga mengajukan sebuah istilah lain, yakni prinsip anthropik dalam teori tentang fine-tuning ini. Prinsip ini menyatakan bahwa karena dalam jagat raya ini kita, manusia (anthropos), dapat hidup, maka semua hukum fisika dalam jagat raya kita haruslah hukum-hukum yang bersahabat dengan bentuk-bentuk kehidupan sehingga dapat memunculkan kehidupan.
 
Salah seorang yang dengan gigih mempertahankan teori tentang fine-tuning adalah seorang saintis yang berpengaruh, yang bernama Francis Collins, direktur National Institute of Health di Amerika Serikat. Collins yang telah berubah haluan dari seorang ateis menjadi seorang teis, telah menulis sebuah buku laris, The Language of God: A Scientist Presents Evidence for Belief (New York: Free Press, 2007), yang di dalamnya si penulisnya ternyata tetap mempertahankan sains evolusi dan memperlihatkan dengan pas bahwa kreasionisme adalah omong kosong. Selain itu, ada sejumlah orang yang melangkah lebih jauh untuk membela teisme, dengan menyatakan bahwa fine-tuning dan Goldilocks Zone tak bisa lain selain buah kreasi suatu Oknum cerdas supernatural yang merancang semua kondisi awal yang tercipta pada saat big bang, yang memungkinkan terciptanya fine-tuning dan zona istimewa semacam ini; lantas mereka mengklaim bahwa "sains telah menemukan Allah". 
 
Tetapi lagi-lagi fisikawan Victor J. Stenger telah menulis sebuah buku mutakhir yang sangat bagus, yang menyajikan analisis-analisis saintifik untuk menunjukkan bahwa fine-tuning adalah sebuah konsep yang salah. Bukunya ini berjudul The Fallacy of Fine-Tuning: Why the Universe Is Not Designed for Us (New York, Amherst: Prometheus Books, 2011).
 
Dalam bukunya itu, Stenger (dan banyak fisikawan lain) menegaskan bahwa jagat raya kita bukanlah satu-satunya jagat raya, melainkan suatu bagian dari banyak jagat raya yang dalam kosmologi mutakhir disebut multiverse, yang berisi jagat raya individual yang jumlahnya tak terbatas, yang membentang ke segala arah tak terbatas dalam ruang tak terbatas, dan untuk jangka waktu tak terbatas di masa lampau dan di masa depan. Secara kebetulan kita hidup dalam suatu jagat raya yang cocok untuk jenis kehidupan kita. Jagat raya tidak disetel dengan pas untuk mempersiapkan kedatangan manusia di dalamnya, melainkan kitalah, manusia, yang telah disetel dengan pas oleh kekuatan-kekuatan alam sehingga kita cocok dengan jagat raya kita khususnya. Tulis Stenger, "Parameter-parameter fisika dan kosmologi tidak secara khusus telah disetel untuk cocok bagi kehidupan, khususnya kehidupan manusia", dan "jagat raya akan tampak sebagaimana seharusnya seandainya pun tidak disetel dengan pas untuk spesies manusia."
 
Tetapi kalangan agamawan teistik, bahkan juga sekian saintis yang tak beragama, menolak konsep multiverse yang digunakan untuk menolak fine-tuning, dengan alasan bahwa solusi multiverse adalah suatu solusi yang "non-saintifik" sebab kita tidak memiliki suatu cara apapun untuk mengobservasi adanya jagat raya paralel di luar jagat raya kita sendiri.
 
Terhadap penolakan ini, Stenger, dalam bukunya itu (halaman 22-23), menulis: "Sesungguhnya suatu multiverse adalah suatu konsep yang lebih saintifik dan lebih hemat ketimbang menghipotesiskan adanya suatu roh pencipta yang tak dapat diobservasi dan konsep adanya hanya satu jagat raya tunggal. Multiverse adalah suatu hipotesis saintifik yang sah, sebab konsep ini sejalan dengan pengetahuan terbaik kita", salah satunya adalah teori dawai (string theory) yang diajukan antara lain oleh Leonard Susskind.
 
Menurut teori dawai, atom-atom fundamental dari jagat raya bukanlah partikel-partikel nol-dimensi, melainkan dawai-dawai (strings) satu-dimensi yang bervibrasi. Menurut teori ini, jagat raya memiliki enam dimensi, bukan hanya 4 dimensi ruang dan waktu. Dalam teori dawai, ada 10 pangkat 500 jagat raya yang masing-masing berbeda, dengan parameter-parameter yang berbeda. Melalui proses quantum natural, terbentuk 10 pangkat 500 jagat raya yang tentunya dari antaranya tidak hanya ada 1 jagat raya yang memiliki parameter seperti yang terdapat dalam jagat raya kita yang cocok untuk kehidupan.
 
Dus, ketimbang menerima hipotesis kaum agamawan bahwa alam semesta ini ada karena telah diciptakan oleh Allah, sains fisika kini mengargumentasikan bahwa jagat raya ini tercipta sendiri dari ketiadaan, karena bekerjanya gaya gravitasi supersimetri, prinsip relativitas, dan terjadinya fluktuasi quantum dalam suatu titik ruang-waktu yang kosong dan acak, yang tak memungkinkan adanya ruang kosong apapun yang tak berisi energi. Fluktuasi quantum ini bermuara pada suatu inflasi atau eskpansi besar yang selanjutnya menimbulkan big bang. Fisikawan besar Stephen Hawking adalah salah seorang saintis yang berargumentasi demikian, dalam bukunya (yang ditulis bersama Leonard Mlodinow), The Grand Design (New York: Bantam Books, 2010).
 
Menyangkut terciptanya kehidupan, sains biologi sintetis di tahun 2010, seperti telah ditunjukkan oleh The J. Craig Venter Institute di Amerika Serikat, telah berhasil membuktikan dalam laboratorium bahwa kehidupan cukup dihasilkan dari zat-zat kimiawi yang mati, yang persenyawaannya dalam sebuah synthesizer berlangsung menurut suatu informasi genetik yang disusun secara digital oleh sebuah komputer.
 
Craig Venter dkk tidak komat-kamit berdoa meminta roh Allah menghidupkan senyawa kimiawi yang mati, tetapi otak mereka bekerja keras dan mata mereka terkonsentrasi pada peralatan teknologis yang sedang bekerja, ketika mereka melakukan uji-coba penciptaan kehidupan ini, yang bermuara pada suatu keberhasilan yang revolusioner gilang-gemilang, keberhasilan yang menghantam habis kepercayaan keagamaan bahwa manusia (atau makhluk hidup apapun)  diciptakan oleh Allah lewat pemberian nafas/roh kehidupan yang dihembuskan oleh Allah ini (tentang revolusi saintifik Craig Venter ini, masuklah ke http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150126200719096).
 
Banyak orang mengkritik dengan naif, asal kritik, bahwa bentuk kehidupan yang dihasilkan Craig Venter dkk hanyalah bentuk kehidupan bersel tunggal, dan bukan makhluk yang namanya manusia, sehingga revolusi saintifik di dunia biologi sintetis oleh Craig Venter ini ditepis begitu saja. Para pengkritik yang asal bunyi ini jelas tak tahu bahwa dalam alam yang kita kenal, kehidupan juga diawali oleh suatu makhluk hidup bersel tunggal yang dinamakan arkhaea, yang setelah melewati proses evolusi biologis natural selama 3,5 milyar tahun memunculkan suatu bentuk kehidupan yang lebih kompleks dan memiliki kecerdasan yang dinamakan homo sapiens. Jadi, kita tinggal menunggu waktu saja sampai para pakar biologi sintetis di masa depan dapat menciptakan bentuk-bentuk kehidupan yang lebih kompleks, dari senyawa-senyawa kimiawi yang mati, dengan memakai informasi-informasi genomik yang sudah bisa disusun.
 
Menutup tulisan ini, ada baiknya sejenak kita tengok Thomas Aquinas (1225-1274). Filsuf Katolik yang punya nama besar ini membangun argumen berikut ini: untuk segala sesuatu yang ada dalam jagat raya ini, pasti ada penyebabnya, dan pada titik paling awal dari semua hal yang ada pasti ada penyebab yang tidak disebabkan oleh penyebab sebelumnya, yang olehnya disebut uncaused cause; dan untuk segala sesuatu yang bergerak dalam jagat raya pasti ada penggeraknya, dan pada titik paling awal dari semua yang bergerak pasti ada pengerak utama yang tak digerakkan oleh apapun sebelumnya, yang olehnya disebut unmoved prime mover. Nah, kata Aquinas, uncaused cause atau unmoved prime mover ini adalah Allah.
 
Jelas, argumen Aquinas ini bukan argumen saintifik, melainkan argumen imaniah. Sebab, kalau orang bergerak dalam jalur argumen saintifik, dia harus masuk ke dalam cause and effect continuum yang tak pernah selesai, baik kontinuumnya bergerak ke belakang, bergerak ke depan, maupun bergerak sirkular. Dilihat dari sudut pandang saintifik, tidak akan ada sesuatu dalam jagat raya ini (effect) yang tidak disebabkan oleh penyebab sebelumnya (cause); tidak akan ada uncaused cause atau unmoved prime mover. Jadi, bagi orang yang berpikir saintifik, Allah juga harus ada penyebab yang membuatnya ada, jika Allah memang dipandang ada. Tetapi jika Allah dipandang ada tanpa penyebab sebelumnya yang menyebabkan Allah ini ada, maka Allah yang semacam ini tidak ada sama sekali, sebab sesuatu apapun dalam jagat raya ini yang tidak ada penyebabnya, sesuatu ini tidak ada. 
 
Penutup
Semua orang beragama tentu ingin agama tetap bisa memandu sains. Kenyataannya, sains bergerak masuk ke wilayah-wilayah yang dulu hanya dikuasai oleh agama, dan merebutnya dari tangan para agamawan. Maka para agamawan tak pelak lagi harus bekerja keras mencari jalan-jalan lain, dengan langkah pertamanya adalah memahami sains secara objektif, dan, sebagai langkah berikutnya, bersedia mengubah dogma dan doktrin keagamaan mereka jika dogma dan doktrin ini tak memiliki landasan saintifik melainkan hanya diterima begitu saja tanpa bukti. Membangun dogma-dogma keagaman tanpa bukti objektif dan kuat dalam dunia nyata, tanpa memiliki suatu landasan saintifik, adalah tindakan memperdaya umat.

October 17, 2011, 05:06:25 PM
Reply #1
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 1757
  • Gender: Male
  • Denominasi: No Thank's
Makanya kl mau belajar dari Alkitab saja langsung, jangan telan bulat2 ajaran manusia siapapun.
Saya beberapa kali diskusi dgnnya, Ioanes Rakhmat menurut saya terlalu premature dalam setiap mengambil kesimpulan dalam pemikiran2nya.

Gelar2 akademis tdklah menjamin perolehan hikmat.


GBU
Janganlah perbedaan berpendapat membuat kita saling memaki dan mencela.....perbedaan itu tidak berarti apa-apa, selama kita tetap ber-iman dalam Yesus Kristus, Tuhan dan juruselamat manusia.
October 18, 2011, 01:09:18 PM
Reply #2
  • FK - Full Member
  • ***
  • Posts: 105
ko sya agak bingung dengan member yang bernama helena calvin ne, dateng cuma naruh tulisan copas terus tinggal, maksudnya pa ya???
ne kan lounge pertanyaan member dari non Kristen,setidaknya ada 1 pertanyaan lah tapi dia keliatan sama sekali tidak ingin bertanya atau berdiskusi, tujuan ne member apa ya???
apakah ini contoh orang2 islam mesianik itu???
October 18, 2011, 01:33:08 PM
Reply #3
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 2064
  • Gender: Male
  • oohh bulan, indah sekali
  • Denominasi: Katolik
Makanya kl mau belajar dari Alkitab saja langsung, jangan telan bulat2 ajaran manusia siapapun.
Saya beberapa kali diskusi dgnnya, Ioanes Rakhmat menurut saya terlalu premature dalam setiap mengambil kesimpulan dalam pemikiran2nya.

Gelar2 akademis tdklah menjamin perolehan hikmat.


GBU
kalau saya baca,para scientis, masih terlihat keangkuhan kalau tidak boleh dibilang "sok tau" ,... contohnya ini :

"yang setelah melewati proses evolusi biologis natural selama 3,5 milyar tahun memunculkan suatu bentuk kehidupan yang lebih kompleks dan memiliki kecerdasan yang dinamakan homo sapiens."

tiga setengah milyar tahun broo.... he he... mau minta dibuktikan juga percuma yahhh :)
begadang jangan begadang
October 18, 2011, 02:55:05 PM
Reply #4
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 5389
WEWEHHHH..puanjang sekali ya...?? sampe belum ketangkep belut nya..nehh..!!
October 18, 2011, 03:18:40 PM
Reply #5
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 5328
  • Gender: Male
waduh..daripada baca postnya ..lebih seru lihat fotonya^^
October 18, 2011, 06:28:02 PM
Reply #6
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 13019
    • fossil coral cantik
yap... spt yg pernah saya sebutkan, IP itu sendiri juga sebagian cuma masih teori2.

Ngomong ttg 3.5 milyar tahun, itu sendiri bukan kepastian mutlak - masih teori.
(ya kecuali mereka udah bisa membuat mesin waktu).

Jauh2 ngomong 3.5 milyar taon....
wong yg skrg didepan mata ttg keberadaan setan aja -
IP masih belum bisa mapan dalam bukti cause&effectnya ... :)

OOBE bukan supranatural. Semua orang juga bisa melakukannya.
Kok ama IP dihubung2kan dgn supranatural ? ya terang aja cause&effect nya ada dan bisa dicanangkan... wong (sekali lagi) OOBE emang bukan supranatural... itu hanyalah sekedar mimpi dalam kondisi "sadar". Semua pernah mengalami mimpi .... ada yg mau latihan OOBE atau yg sdh bisa OOBE ? (lagi pengen belajar nih saya)...:)

salam.
October 20, 2011, 04:41:11 PM
Reply #7
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 1045
@helena
Ya. Apa yang diangkat itu benar....
"Hanya jika, yang membaca dan yang menulis mengabaikan apa yang ditulis oleh alkitab baik PB maupun PL".
Mau bukti?
-5000 tahun yang lalu sebelum ada demokrasi apapun, musa sudah memutuskan banyak hal berdasarkan "suara rakyat" bahkan Yahweh sudah rela mengikuti kemauan rakyat israel padahal Dia berhak menolak. Nah lho.
- 5000 tahun yang lalu, ketika orang mengadili berdasarkan "kemauan sendiri", musa mengadili berdasarkan "peraturan moral yang pasti dan tertulis serta digunakan sampai hari ini". So, mana "taring modern science"? Kenapa gak bisa punya aturan moral yang lebih baik?
- ketika semua manusia masih saling membunuh, ELOHIM atau Yesus sudah menyatakan pembunuhan dilarang
- ketika dendam dan pembalasan masih sangat legal, "bahkan sampai hari ini", Yesus sudah mengajarkan "pengampunan tanpa syarat, kasih tanpa pamrih"...

Nah tiga poin ini saja sudah menggugurkan banyak tuduhan diatas terutama pada Yesus dan alkitab.

So.... Modern science cuman sekedar "peniru" yang congkak dan berusaha menjatuhkan "pencipta asli", but they certainly, surely and are failed.
Tuhan Yahshua, aku hanya pendosa, masih melakukan dosa, belum ada kebenaran didalamku, aku hanya bisa mencoba dalam jatuh bangun usahaku. Selanjutnya aku hanya bisa katakan, "biarlah semua Engkau yang tentukan, arahkan dan tujukan".
October 20, 2011, 04:47:17 PM
Reply #8
  • FK - Newbie
  • *
  • Posts: 4
  • Denominasi: Katolik
hehehehe beneran mau baca panjang kaleee jdi mumet dech.... :cheesy:
October 20, 2011, 07:50:56 PM
Reply #9
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 1045
@helena
Quote:
Jelas, argumen Aquinas ini bukan argumen saintifik, melainkan argumen imaniah. Sebab, kalau orang bergerak dalam jalur argumen saintifik, dia harus masuk ke dalam cause and effect continuum yang tak pernah selesai, baik kontinuumnya bergerak ke belakang, bergerak ke depan, maupun bergerak sirkular. Dilihat dari sudut pandang saintifik, tidak akan ada sesuatu dalam jagat raya ini (effect) yang tidak disebabkan oleh penyebab sebelumnya (cause); tidak akan ada uncaused cause atau unmoved prime mover. Jadi, bagi orang yang berpikir saintifik, Allah juga harus ada penyebab yang membuatnya ada, jika Allah memang dipandang ada. Tetapi jika Allah dipandang ada tanpa penyebab sebelumnya yang menyebabkan Allah ini ada, maka Allah yang semacam ini tidak ada sama sekali, sebab sesuatu apapun dalam jagat raya ini yang tidak ada penyebabnya, sesuatu ini tidak ada.
---------

Benarkah segala sesuatu didunia ada penyebabnya?
Science sendiri tidak dapat menjawab penyebab dari adanya "alam semesta". Teori "terbaik" saat ini adalah teori "big bang", dimana asal muasal dan materi awal yang meledakpun iptek hari ini belum bisa menjelaskan dari mana. Artinya batas iptek itu ada.
- Allah tidak ada yang menyebabkan. Ulasan diatas membahas ciptaan yang dilakukan oleh ciptaan dari sudut pandang ciptaan. Jadi sangat subyektif sekali sehingga iptek hari ini masih belum bisa mengklaim bahwa alkitab salah dan iptek benar dengan dsr sekedar karena "segala sesuatu yang berjalan diantara ciptaan ini ada penyebabnya". Sedangkan pencipta tentu diluar jangkauan ciptaannya. Pencipta alam semesta mampu memahami bahkan menjadi ciptaanNya, tetapi ciptaan tidak akan pernah bisa sampai pada pencipta apalagi menggambarkannya dengan pola pikir ciptaan. Sedangkan reaksi kimia saja tidak dapat dipandang dari sisi akuntansi. Logika yang sangat simple tapi sangat jelas.
Nah, oleh karena itulah iptek harus mendasarkan diri pada alkitab dalam beberapa hal, bukan sebaliknya. Siapapun yang membalik ini maka dia tidak akan bisa kembali dari kesesatan pola pikir. Mencari jalan keluar dari sebuah ruang kaca dengan pola pikir analisa bahasa adalah sebuah kesesatan baik dipandang dari sisi agama maupun dari sisi iptek.

Saya pernah tanyakan ini, masalah 3,5 milyard tahun. Adakah yang belum tahu bahwa intan bisa diproduksi dan di tingkatkan karatnya hanya dalam hitungan "minggu"?? Nah adakah yang belum tahu berapa waktu yang dibutuhkan untuk satu karat penambahan besar intan melalui proses alami dalam hitungan iptek?? Ratusan ribu sampai jutaan tahun. Kalau manusia bisa melakukan "by pass" ini kenapa Tuhan tidak??
Pertanyaannya adalah, Tuhan yang mana? Allah yang mana??
Bagiku jelas. Yahshua Ha Masiakh atau YHWH. Hanya Dia. Tidak ada yang lain. Hanya satu, ESA yaitu YHWH Yahshua HaMasiakh.

Tuhan Yahshua, aku hanya pendosa, masih melakukan dosa, belum ada kebenaran didalamku, aku hanya bisa mencoba dalam jatuh bangun usahaku. Selanjutnya aku hanya bisa katakan, "biarlah semua Engkau yang tentukan, arahkan dan tujukan".
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)