Author Topic: Skizofrenia - dan indikasi penderitanya  (Read 18773 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

September 11, 2014, 08:56:26 AM
Reply #100
  • Global Moderator
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 9805
  • ForumKristen.com
Kesalahan-kesalahan dalam Kesaksian Meiga Fitri
Pancasila bukan Jimat, oleh Franz Magnis Suseno
Ahok Diwawancara CCTV
September 11, 2014, 11:30:06 AM
Reply #101
  • FK Friend
  • FK - Hero
  • ******
  • Posts: 6474
  • Mistery
  • Denominasi: Karismatik
Kl dari prinsip rohani Kristen,
Kita kudu tetap sadar dan mmegang kendali atas pikiran dan tindakan kita.
Ktika sso dhipnotis, dia mbuka diri utk mngalami penurunan tingkat ksadaran. Hal ini tentu mengundang konsekuensi ttentu yg tidak selalu positif.

Kl dari prinsip psikologi,
Kalangan psikologi sndiri terbagi 2 sikapnya thd hipnosis.
Ada yg mdukung dan mnerapkan, ada jg yg skeptis dan menolak.
Mngapa ada yg skeptis dan mnolak? Krn metode hipnosis tidak dapat dibuktikan akurasinya scr empirik.
Saya tidak mjelaskan panjang lebar mngenai ketidak-empiris-an hipnosis ya krn nanti bs mbosankan.
Intinya, tidak ada apapun yg dapat mbuktikan dan mverifikasikan bhw yg 'diakui' ditemukan/tergali oleh hipnoterapis di alam bawah sadar hipnotee adalah benar adanya.

Itu yg ptama.
Yg kedua, proses hipnosis rentan mlibatkan sugesti, yaitu sugesti yg scr sadar/tidak sadar dtanamkan oleh hipnoterapis.

Sugesti yg dtanamkan ke alam bawah sadar (ingat ya, alam bawah sadar) slalu bsifat pedang bermata dua.

Misal,
Hipnoterapis mnanamkan sugesti 'kamu tidak suka bau dan aroma rokok krn kamu tau bhw rokok mnimbulkan kanker'.
Nah, alam bawah sadar akan mnerjemahkan sugesti ini mjd:
- Saya ngga suka, mual dan segera mhindari bau dan aroma rokok
- Ktika kena bau dan aroma rokok, maka kanker timbul
Sugesti yg kedua itu bsifat negatif dan backfired pd si hipnotee. Ini adalah hasil karya hipnoterapis yg tidak mmahami risiko dari sugesti yg ia tanamkan.

Yg ketiga,
Praktek hipnosis yg kita temukan blakangan di acara-acara sminar sbenarnya bukanlah hipnosis.
Mgkn saya lebih suka sebut sbg semi-hipnosis.
Prinsipnya tidak jauh beda dg orang yg nonton tv lalu disuguhkan iklan berulang-ulang akan produk ttentu dg endorser atraktif, klaim bombastis dan konten menarik.

----------

Ngomonk-ngomonk, hipnosis beda lagi dari gendam yach...
Tetapi siapa yang termasuk orang hidup mempunyai harapan, karena anjing yang hidup lebih baik dari pada singa yang mati (Pkh 9:4)

https://manusia-biasa-saja.blogspot.com
September 11, 2014, 11:32:46 AM
Reply #102
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 13019
Kalau gendam itu bagaimana, om?

September 11, 2014, 02:27:57 PM
Reply #103
  • FK Friend
  • FK - Hero
  • ******
  • Posts: 6474
  • Mistery
  • Denominasi: Karismatik
Gendam itu cocoknya di topik lain, Ooomm
Tetapi siapa yang termasuk orang hidup mempunyai harapan, karena anjing yang hidup lebih baik dari pada singa yang mati (Pkh 9:4)

https://manusia-biasa-saja.blogspot.com
September 11, 2014, 07:12:31 PM
Reply #104
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 13019
Gendam itu cocoknya di topik lain, Ooomm

Oke, deh, saya tanya di thread lain. Sekedar bantuan untuk penempatan, apakah gendam ada hubungannya dengan roh kegelapan atau tidak?

September 11, 2014, 08:24:42 PM
Reply #105
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 9654
  • Gender: Male
  • You are free to choose
    • Living Testimony (LiTe)
  • Denominasi: Pentakosta Karismatik
Saya background pendidikan psikologi, Bro........

Dulu mama saya ditangani oleh dokter jiwa, ga pernah ke psikolog

Jadi itu menurun?
September 12, 2014, 08:38:46 AM
Reply #106
  • FK Friend
  • FK - Hero
  • ******
  • Posts: 6474
  • Mistery
  • Denominasi: Karismatik
Dulu mama saya ditangani oleh dokter jiwa, ga pernah ke psikolog

Jadi itu menurun?

Ada schizophrenia yg timbul semata krn faktor lingkungan. Utk yg ini tidak menurun.
Ada jg schizophrenia yg timbul krn faktor lingkungan dan kerentanan fisiologis. Utk yg ini menurun krn faktor fisiologis terlibat.

Maka itu ptanyaan krusialnya adalah apakah ada riwayat keluarga yg mderita ini.
Jika tidak pernah ada, saringan pertama sudah lolos.
Brikutnya adalah pasien dan kturunannya di cek fisiologis otaknya. Jika normal, maka saringan kedua juga lolos.

Schizophrenia memang lebih tepat di treatment oleh dokter jiwa (psikiater) krn akan diberikan obat-obatan medis utk mringankan gejala.
Tetapi siapa yang termasuk orang hidup mempunyai harapan, karena anjing yang hidup lebih baik dari pada singa yang mati (Pkh 9:4)

https://manusia-biasa-saja.blogspot.com
September 12, 2014, 01:36:27 PM
Reply #107
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 9654
  • Gender: Male
  • You are free to choose
    • Living Testimony (LiTe)
  • Denominasi: Pentakosta Karismatik
Ada schizophrenia yg timbul semata krn faktor lingkungan. Utk yg ini tidak menurun.
Ada jg schizophrenia yg timbul krn faktor lingkungan dan kerentanan fisiologis. Utk yg ini menurun krn faktor fisiologis terlibat.

Maka itu ptanyaan krusialnya adalah apakah ada riwayat keluarga yg mderita ini.
Jika tidak pernah ada, saringan pertama sudah lolos.
Brikutnya adalah pasien dan kturunannya di cek fisiologis otaknya. Jika normal, maka saringan kedua juga lolos.

Schizophrenia memang lebih tepat di treatment oleh dokter jiwa (psikiater) krn akan diberikan obat-obatan medis utk mringankan gejala.

Anggap saja tak menurun deh... repot amir harus cek fisiologis otak segala hohoho

Obatnya itu hanya obat bius, jadi kalo gejalanya kumat karena ada faktor pemicunya, obatnya sebenarnya hanya tidur saja, biarkan pikirannya rileks, besoknya biasanya udah normal lagi.... Disamping itu ada anti depressan
September 12, 2014, 08:13:44 PM
Reply #108
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 13019
Ada artikel baru di Tempo.co

Quote
JUM'AT, 12 SEPTEMBER 2014 | 20:10 WIB
Penderita Skizofrenia Belum Dapat Obat Tepat

TEMPO.CO, Jakarta - Waspadai ketika seseorang mulai menarik diri dari pergaulan, tidak semangat dan tak ada motivasi bergaul. Ini bisa menjadi indikasi seseorang menderita Skizofrenia.

Menurut Dr. A. A. Ayu Agung Kusumawardhani, SpKJ(K), Ketua Seksi Skizofrenia PDSKJI, Skizofrenia merupakan suatu penyakit jiwa berat dan seringkali berlangsung kronis dengan gejala utama berupa gangguan proses pikir.

"Pembicaraan sulit dimengerti, isi pikir yang tidak sesuai realita (delusi atau waham), disertai gangguan persepsi panca indera yaitu halusinasi, dan disertai tingkah laku yang aneh, seperti berbicara atau tertawa sendiri," kata Ayu di sela acara Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2014 di Hotel Luwansa, Kuningan, Jakarta Selatan pada 9 September 2014.(Baca : BPJS Tanggung Pengobatan Penderita Skizofrenia)

Gangguan jiwa ini kerap muncul di usia produktif yaitu 15-25 tahun, sehingga perlu mengenali gejala, serta terapi sedini mungkin, agar dapat meningkatkan probabilitas pemulihan sempurna (recovery).

Konsep recovery saat ini masih dianggap terlalu jauh. Padahal sangat diperlukan untuk kehidupan orang dengan Skizofrenia (ODS) dalam jangka panjang.

Gejala psikotik awal Skizofrenia dapat menyebabkan ODS kesulitan berinteraksi serta menarik diri dari aktivitas sehari-hari dan dunia luar. Hal ini tentunya akan mengganggu produktivitas dan kapasitas bekerja serta bersosialisasi di masyarakat.

Dr. Eka Viora, Sp.KJ, Direktur Bina Kesehatan Jiwa, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, mengatakan, dari data data Riskesdas 2013, prevalensi gangguan jiwa berat (termasuk Skizofrenia) mencapai 1,7 permil atau 1-2 orang dari 1.000 warga
di Indonesia mengalami gangguan kejiwaan berat.

Dari jumlah tersebut, sebagian besar belum berinisiatif atau berkesempatan mendapatkan pengobatan yang tepat, sehingga mengakibatkan kondisi ODS yang masih sulit diterima kembali di masyarakat.

"Prevalensi skizofrenia di Indonesia diprediksi akan bertambah dan jika ODS tidak mencapai recovery maka akan sangat membebani penderita, keluarga dan masyarakat, karena menunda waktu mereka untuk kembali produktif di masyarakat," kata Ayu.(Baca : Pemerintah Ragukan Riset Penderita Skizofrenia)

Sebaiknya, gejala Skizofrenia ditinjau sejak dini dari keluarga. "Ini aspek penting bagi ODS untuk mendapatkan terapi sebaik mungkin, termasuk pengawasan akan kepatuhan dalam mengonsumsi obat," kata Ayu.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bersama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), Komunitas Peduli Skizofrenia (KPSI), dan Johnson & Johnson Indonesia, sebagai wakil pihak swasta yang aktif mendukung program kesehatan jiwa menyelenggarakan rangkaian kegiatan edukatif untuk memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (HKJS) yang jatuh pada tanggal 10 Oktober.

Tahun ini HKJS mengangkat tema “Living with Schizophrenia” yang bertujuan untuk meningkatkan awareness pentingnya terapi dini yang tepat bagi orang dengan Skizofrenia (ODS) serta mengajak masyarakat dunia memberikan dukungan dan menerima ODS kembali aktif dan produktif di tengah masyarakat.

EVIETA FADJAR


http://www.tempo.co/read/news/2014/09/12/060606528/Penderita-Skizofrenia-Belum-Dapat-Obat-Tepat
September 12, 2014, 09:36:43 PM
Reply #109
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 9654
  • Gender: Male
  • You are free to choose
    • Living Testimony (LiTe)
  • Denominasi: Pentakosta Karismatik
Ada artikel baru di Tempo.com

Dari dulu sampai sekarang emang blon ada obatnya.... dan obat yang paling manjur itu adalah jangan stress....

Namun hidup dengan orang schizophrenia itu memungkinkan kok, selama kita mengasihinya
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)