Author Topic: Kesalahpahaman Mengenai Penjualan Surat Penebusan Dosa di Abad Pertengahan  (Read 1653 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

June 28, 2012, 04:42:42 PM
  • FK - Junior
  • **
  • Posts: 56
  • Gender: Male
  • Sleeping Giant has awaken
    • Knowing and Loving the Church
  • Denominasi: Catholic is not a denomination
Sering sekali dikatakan bahwa Gereja Katolik pernah mengajarkan bahwa pengampunan dosa (indulgensi) dapat dibeli seperti yang pernah terjadi di abad pertengahan, yang akhirnya melahirkan gerakan Protestan.

Tapi apa sih yang sebenarnya terjadi waktu itu?

Silahkan disimak:

Gereja Katolik tidak pernah mengajarkan bahwa indulgensi dapat diperoleh dengan uang. Gereja senantiasa mengajarkan bahwa indulgensi tidak dapat dibeli. Gereja mengajarkan bahwa seseorang mendapatkan indulgensi dengan:
1) perbuatan kasih,
2) perbuatan baik: doa, berpuasa, dan memberikan sedekah.

Semuanya itu harus dilakukan dengan disposisi hati atau motivasi yang benar. Memberikan uang tidak dapat membeli indulgensi, memberi uang dengan dasar kasih membuat seseorang mendapatkan indulgensi. Kita melihat contoh bagaimana Yesus sendiri memuji persembahan janda miskin (Mk 12:41-44; Lk 21:1-4). Yesus memujinya bukan karena janda miskin memberikan uang, namun karena disposisi hatinya.

Semuanya tergantung dari disposisi hati. Kalau diperhatikan, semua indulgensi selalu mencantumkan “disposisi hati yang benar“.

Mari kita lihat prakteknya di abad pertengahan, yang pada waktu itu Gereja sedang membangun Gereja St. Petrus. Memang ada penyalahgunaan penerapan indulgensi dalam prakteknya, namun ini tidak menghapus akan kebenaran bahwa Gereja mempunyai kuasa untuk memberikan indulgensi.

Paus Leo X (1513-1521), memberikan indulgensi kepada orang-orang yang memberikan sumbangan untuk pembangunan Gereja St. Petrus. Namun bukan karena mereka memberi uang, tetapi karena sebagai ungkapan perbuatan baik. Dan bukan itu saja, yang ingin mendapatkan indulgensi harus memenuhi kondisi yang disebutkan diatas, seperti: doa, berpuasa, dan sedekah, yang semuanya harus dilakukan dengan disposisi hati yang benar.

Seorang pengkhotbah Dominikan, bernama Johann Tetzel diutus berkhotbah ke Juterbog, Jerman. Derma (almsgiving) yang selalu menjadi salah satu ungkapan perbuatan kasih (lih. Mat 6:2), menjadi temanya, demi menggalang dana pembangunan basilika, dan ini dikaitkan dengan indulgensi. Sayangnya, memang Tetzel ini  membuat suatu pantun yang memang “salah kaprah”, yang intinya seperti ini, “Begitu terdengar bunyi emas di kotak, bangkitlah jiwa menuju surga.”

Maka kesannya seolah-olah orang didorong untuk menyumbang supaya dapat masuk surga. Padahal, jika kita membaca tentang ajaran indulgensi, terlihat bahwa yang dihapuskan dengan indulgensi itu adalah siksa dosa temporal dari dosa-dosa yang sudah diampuni (melalui Sakramen Tobat) dan bukan membebaskan seseorang dari siksa dosa dari dosa yang belum terjadi. Yang mengampuni dosa tetaplah Kristus melalui para imam-Nya, dan sesungguhnya, perbuatan apapun tidak dapat menggantikan peran Kristus untuk mengampuni dan menyelamatkan seseorang.
Temukan jawaban Gereja Katolik untuk pertanyan-pertanyaan yang menantang seputar Iman Katolik: Catholics Come Home, Knowing and Loving the Catholic Church, YeSaYa
June 28, 2012, 04:43:09 PM
Reply #1
  • FK - Junior
  • **
  • Posts: 56
  • Gender: Male
  • Sleeping Giant has awaken
    • Knowing and Loving the Church
  • Denominasi: Catholic is not a denomination
Yang diperoleh dari indulgensi ‘hanyalah’ penghapusan siksa dosa yang harus ditanggung seseorang, dari dosa yang sudah diampuni oleh Tuhan Yesus. Silakan klik di sini (http://katolisitas.org/2009/07/11/indulgensi-harta-kekayaan-gereja/) untuk melihat prinsip ajaran tentang indulgensi ini. Dan memang tampaklah bahwa doktrin Indulgensi ini terkait dengan doktrin Sakramen Tobat, Api Penyucian, dan mendoakan jiwa orang-orang beriman yang sudah meninggal. Doktrin-doktrin inilah yang kemudian ditolak oleh gereja Protestan.

Praktek korupsi yang terjadi sehubungan dengan penerapan ajaran indulgensi inilah yang mengundang protes Martin Luther. Dalam 95 thesis yang diletakkan di pintu gereja tersebut tak lama setelah Tetzel datang. Thesis no.27 Luther memprotes pantun Tetzel, dan thesis no. 50 dan 86 memprotes pembangunan basilika St. Petrus. Namun Luther sendiri sebenarnya tidak menolak prinsip pengajaran tentang indulgensi; ia hanya menentang penerapannya. Thesis no. 49 membuktikan hal ini di mana Luther mengatakan bahwa indulgensi sebenarnya “berguna”. (Sumber: Martin Luther, Disputation of Doctor Martin Luther on the Power and Efficacy of Indulgences, 1517, Project Wittenberg, 2 July 2008).

Dan kemudian beberapa konsili, the Councils of Fourth Lateran [1215], Lyons [1245 and 1274] and Vienne [1311-1312]. Dan di  Konsili Trente [1545-1563], Paus Pius V membatalkan segala peraturan indulgensi yang melibatkan transaksi keuangan. Maka sampai sekarang, derma tidak termasuk dalam perbuatan yang disyaratkan untuk memperoleh indulgensi. Namun demikian, Gereja tetap mempunyai kuasa untuk melepaskan umat dari siksa dosa temporal akibat dari dosa-dosa yang sudah diakui dalam Sakramen Pengakuan Dosa.

Perlu diketahui di sini, bahwa indulgensi tidak pernah diperjualbelikan/ “for sale” seperti yang dituduhkan. Meskipun indulgensi memang waktu itu dapat diperoleh dengan menyumbang, namun kemudian, hati yang bertobat, dan segala persyaratan religius lainnya harus ditepati agar indulgensi tersebut dapat sah diberikan. Jadi bukan semacam membeli surat dan setelah itu dosa diampuni. Bukan demikian, karena sebelum menerima indulgensi, seseorang harus tetap mengaku dosa dan menerima sakramen Tobat terlebih dahulu, dan juga memenuhi persyaratan religius lainnya. Maka, indulgensi bukan untuk menggantikan peran sakramen Pengakuan Dosa maupun silih dosa/ penance yang diberikan kepada umat pada sakramen tersebut oleh imam.

sumber:
http://katolisitas.org/1665/katolik-menyalahgunakan-indulgensi-atau-surat-pengampunan-dosa
Temukan jawaban Gereja Katolik untuk pertanyan-pertanyaan yang menantang seputar Iman Katolik: Catholics Come Home, Knowing and Loving the Catholic Church, YeSaYa
June 28, 2012, 05:26:26 PM
Reply #2
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 4623
Mas blue,

Kalau pendapat saya sih,
Lahirnya gerakan protestanism adalah suatu keniscayaan sosial dan keniscayaan sejarah deh.

Tidak ada yang salah kok dengan Intisari ajaran Catholicism maupun Protestantism.

Yang terjadi adalah, fenomena sosial yang memprihatinkan yang disebabkan karena praktik-praktik koruptif yang meng-ATAS NAMA-kan ajaran agama atau Perintah Tuhan.

Akibatnya, pada suatu titik tertentu masyarakat pasti akan melawan, dan menemukan momentumnya pada Gerakan Protestantism ini.

Tapi, kalau mau dilihat secara komprehensif, revolusi ini membawa hikmah lho, bagi banyak pihak:

1. Munculnya alternatif otoritas psikologis (baca: keyakinan)
a. Masa dimonopoli Katolik Roma terus, akibat monopoli ya gitu deh.. manusia mana yang tahan atas godaan kekuasaan yang maha luas para raja, kardinal, paus & sampai ke kepala kepala gereja di kampung-kampung.
b. Maka gerakan antitesis yang muncul bersifat diametral kan? misal:
- pemimpin umat gak kawin ---> jadi boleh kawin
- Kitab suci yang lama: banyak salahnya ---> bikin koreksi
- lambang-lambang di tempat ibadah: perlu diganti biar gak sama --> gak pakai patung, salib polos, dll.
- cara peribadatan: perlu diganti biar gak sama --> tatacara liturgi yang berbeda
- kekuasaan Monopoli & feodal --> jadi lebih egaliter
- dan lain-lain

2. Momentum bersih-bersih organisasi Katolik Roma dari oknum-oknum tadi:
a. Coba kalau gak ada demo mahasiswa 1998, mana mungkin muncul gerakan anti korupsi?
    Polisi / Politikus / Birokrat yang bersih PASTI RAGU-RAGU mau mulai bersih-bersih kalau gak ada momentum
b. Konsolidasi internal organisasi
c. Harapan outputnya: institusi yang lebih bersih, kuat, dan survive, kan?

Gitu dulu deh,
June 28, 2012, 07:26:52 PM
Reply #3
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 1138
  • Denominasi: satu Tuhan satu iman satu baptisan
Mas blue,

Kalau pendapat saya sih,
Lahirnya gerakan protestanism adalah suatu keniscayaan sosial dan keniscayaan sejarah deh.

Tidak ada yang salah kok dengan Intisari ajaran Catholicism maupun Protestantism.

Yang terjadi adalah, fenomena sosial yang memprihatinkan yang disebabkan karena praktik-praktik koruptif yang meng-ATAS NAMA-kan ajaran agama atau Perintah Tuhan.
Dan justru dari situ pulalah bermunculan berbagai ajaran-ajaran koruptif yang nyeleneh, yang keluar dari aslinya dan menyeleweng jauh, yang masih berbekas hingga sekarang.
June 28, 2012, 07:46:17 PM
Reply #4
  • FK - Newbie
  • *
  • Posts: 19
  • Denominasi: interdenominasi
Syalom saudara yang terkasih di dalam Tuhan :)

Walau istilah idulgensia itu salah paham (tidak berhubungan dengan uang).
Namun saya tidak setuju kalau idulgensia itu mempunyai istilah seperti yang disebutkan sbb:

Gereja mengajarkan bahwa seseorang mendapatkan indulgensi dengan:
1) perbuatan kasih,
2) perbuatan baik: doa, berpuasa, dan memberikan sedekah.

perbuatan kasih, perbuatan baik, doa, berpuasa, memberikan sedekah itu "kewajiban" kita sebagai orang yang sudah diampuni oleh Tuhan.Emmm supaya nggak salah paham arti kewajiban di sini itu adalah "sesuatu hal yang sudah sewajarnya kita lakukan".
Cara untuk diampuni oleh Tuhan menurut saya cuman satu yaitu "minta ampun pada Tuhan" alias bertobat.
Omong-omong diampuni bukan berarti "tidak dihukum" ya...

Maaf kalau ada kata-kata saya yang sedikit kasar ya....
June 28, 2012, 09:29:36 PM
Reply #5
  • FK - Junior
  • **
  • Posts: 56
  • Gender: Male
  • Sleeping Giant has awaken
    • Knowing and Loving the Church
  • Denominasi: Catholic is not a denomination
Mas blue,

Kalau pendapat saya sih,
Lahirnya gerakan protestanism adalah suatu keniscayaan sosial dan keniscayaan sejarah deh.

Tidak ada yang salah kok dengan Intisari ajaran Catholicism maupun Protestantism.

Yang terjadi adalah, fenomena sosial yang memprihatinkan yang disebabkan karena praktik-praktik koruptif yang meng-ATAS NAMA-kan ajaran agama atau Perintah Tuhan.

Akibatnya, pada suatu titik tertentu masyarakat pasti akan melawan, dan menemukan momentumnya pada Gerakan Protestantism ini.

Tapi, kalau mau dilihat secara komprehensif, revolusi ini membawa hikmah lho, bagi banyak pihak:

1. Munculnya alternatif otoritas psikologis (baca: keyakinan)
a. Masa dimonopoli Katolik Roma terus, akibat monopoli ya gitu deh.. manusia mana yang tahan atas godaan kekuasaan yang maha luas para raja, kardinal, paus & sampai ke kepala kepala gereja di kampung-kampung.
b. Maka gerakan antitesis yang muncul bersifat diametral kan? misal:
- pemimpin umat gak kawin ---> jadi boleh kawin
- Kitab suci yang lama: banyak salahnya ---> bikin koreksi
- lambang-lambang di tempat ibadah: perlu diganti biar gak sama --> gak pakai patung, salib polos, dll.
- cara peribadatan: perlu diganti biar gak sama --> tatacara liturgi yang berbeda
- kekuasaan Monopoli & feodal --> jadi lebih egaliter
- dan lain-lain

2. Momentum bersih-bersih organisasi Katolik Roma dari oknum-oknum tadi:
a. Coba kalau gak ada demo mahasiswa 1998, mana mungkin muncul gerakan anti korupsi?
    Polisi / Politikus / Birokrat yang bersih PASTI RAGU-RAGU mau mulai bersih-bersih kalau gak ada momentum
b. Konsolidasi internal organisasi
c. Harapan outputnya: institusi yang lebih bersih, kuat, dan survive, kan?

Gitu dulu deh,

Ada benarnya juga pendapat bang cadangdata bahwa karena adanya gerakan protestan, muncul koreksi2 dalam Gereja Katolik tapi perlu juga diketahui bahwa:

1. kesalahan manusiawi yang diperbuat oleh Gereja Katolik tidak menjadikan ajaran Kristus yang ada di dalamnya ikut salah
2. tidak semua yang diajarkan Gereja Katolik lalu diubah dengan adanya gerakan protestan. contohnya adalah dalam hal Paus sebagai penerus Petrus, selibat para imam, Kitab Suci, salib dengan corpus sebagai lambang keselamatan dan lain-lain. Hal-hal tersebut memiliki dasar yang kuat dalam Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium (dan oleh karena itu terjamin kebenarannya) yang memang menjadi 3 pegangan pokok Gereja Katolik sejak jemaat awal.


Dan justru dari situ pulalah bermunculan berbagai ajaran-ajaran koruptif yang nyeleneh, yang keluar dari aslinya dan menyeleweng jauh, yang masih berbekas hingga sekarang.

Apakah yang Anda maksud Gereja Katolik? Bisa Anda sebutkan ajaran Gereja Katolik mana yang menurut Anda koruptif yang nyeleneh, yang keluar dari aslinya dan menyeleweng jauh? Sedangkan kalau Anda baca sejarah lengkap Gereja Katolik, Anda akan mengetahui siapa yang sebenarnya dipakai Tuhan untuk menentukan mana yang asli dari Tuhan Yesus Kristus dan mana yang tidak.

Dan kalau Anda hendak menyebutkan contoh ajaran Gereja Katolik yang tidak diajarkan oleh Yesus Kristus, mohon meneliti dahulu apakah itu ajaran Gereja Katolik atau bukan. Contoh: Gereja Katolik menyembah patung, Gereja Katolik menyembah Maria, Gereja Katolik menambah jumlah kitab di Kitab Suci, dll. Semua itu banyak dituduhkan kepada Gereja Katolik. Meskipun banyak orang Katolik yang kurang mengerti dengan baik ajaran Gerejanya, bukan berarti hal itu diajarkan oleh Gereja meskipun Gereja Katolik tetap berusaha mendidik dan memberikan pengertian yang benar kepada umatnya.
Temukan jawaban Gereja Katolik untuk pertanyan-pertanyaan yang menantang seputar Iman Katolik: Catholics Come Home, Knowing and Loving the Catholic Church, YeSaYa
June 28, 2012, 09:30:02 PM
Reply #6
  • FK - Junior
  • **
  • Posts: 56
  • Gender: Male
  • Sleeping Giant has awaken
    • Knowing and Loving the Church
  • Denominasi: Catholic is not a denomination
Syalom saudara yang terkasih di dalam Tuhan :)

Walau istilah idulgensia itu salah paham (tidak berhubungan dengan uang).
Namun saya tidak setuju kalau idulgensia itu mempunyai istilah seperti yang disebutkan sbb:

Gereja mengajarkan bahwa seseorang mendapatkan indulgensi dengan:
1) perbuatan kasih,
2) perbuatan baik: doa, berpuasa, dan memberikan sedekah.

perbuatan kasih, perbuatan baik, doa, berpuasa, memberikan sedekah itu "kewajiban" kita sebagai orang yang sudah diampuni oleh Tuhan.Emmm supaya nggak salah paham arti kewajiban di sini itu adalah "sesuatu hal yang sudah sewajarnya kita lakukan".
Cara untuk diampuni oleh Tuhan menurut saya cuman satu yaitu "minta ampun pada Tuhan" alias bertobat.
Omong-omong diampuni bukan berarti "tidak dihukum" ya...

Maaf kalau ada kata-kata saya yang sedikit kasar ya....


Saya setuju dengan Anda, yang harus kita mintai pengampunan hanya Tuhan dan yang bisa mengampuni juga hanya Tuhan. Saya juga setuju bahwa diampuni bukan berarti tidak dihukum.

Saya rasa Anda juga setuju bahwa hukuman yang benar akan mengarahkan manusia semakin jauh dari keinginan dagingnya dan semakin mendekat ke Tuhan, bukannya semata-mata membalaskan sakit hati pihak yang dilukai.

Dan kalau Anda setuju dengan hal itu, akan Anda juga pasti setuju mengapa perbuatan kasih, doa, puasa dan bersedekah (bila dilakukan dengan hati yang tulus) juga memiliki peran dalam menerima pengampunan Tuhan sebagaimana hukuman yang benar. Mengapa?

Karena berbuat kasih, berdoa untuk orang lain, berpuasa dan bersedekah itu ngga gampang. Melakukan sesuatu untuk orang lain itu ngga mudah mengingat sifat kedagingan manusia yang selalu ingin menyenangkan dirinya sendiri. Efeknya akan sama dengan hukuman yang dilakukan dengan benar.

Apabila manusia yang berdosa itu menyadari kesalahannya, minta ampun kepada Tuhan lalu berdoa-puasa bagi orang-orang lain yang melakukan dosa yang sama dengan dirinya, bukankah manusia tersebut melakukan penyangkalan diri yang lebih besar (sehingga semakin mendekat ke Tuhan) dari pada yang hanya minta ampun lalu diam di kamar?

Satu hal lagi mengenai hak dan kewajiban yang Anda sebutkan diatas bahwa "perbuatan kasih, perbuatan baik, doa, berpuasa, memberikan sedekah itu "kewajiban" kita sebagai orang yang sudah diampuni oleh Tuhan.Emmm supaya nggak salah paham arti kewajiban di sini itu adalah "sesuatu hal yang sudah sewajarnya kita lakukan"."

Sekali lagi Anda juga pasti setuju bahwa manusia tidak dapat berbuat baik dari dirinya sendiri tanpa bantuan Roh Allah (ROH KUDUS) sama sekali. Berbuat baik tentu juga termasuk minta ampun, bukan?

Pertanyaan selanjutnya, diampuni dahulu baru minta ampun atau minta ampun dahulu baru diampuni?
Kalau dalam urusan dunia sudah pasti kebanyakan minta ampun dahulu baru diampuni. Tapi Roh Tuhan ada dalam manusia itu terlebih dahulu sebelum ia minta ampun. Tuhan sudah terlebih dahulu mau tinggal dalam diri orang tersebut baru orang tersebut dimampukan untuk minta ampun. Tuhan mengampuni dan mengasihi orang yang berdosa itu dulu, baru orang tersebut bisa minta ampun.

Sehingga pendapat bahwa kita berbuat baik karena kita sudah diampuni sebenarnya kurang tepat, karena mengesankan bahwa pengampunan itu nilainya sama dengan usaha dan jerih payah manusia. Padahal Anda pasti juga sependapat, bahwa tidak ada usaha manusia yang dapat menyelamatkan dirinya sendiri. :)
Temukan jawaban Gereja Katolik untuk pertanyan-pertanyaan yang menantang seputar Iman Katolik: Catholics Come Home, Knowing and Loving the Catholic Church, YeSaYa
June 28, 2012, 10:34:46 PM
Reply #7
  • FK - Newbie
  • *
  • Posts: 19
  • Denominasi: interdenominasi

Saya setuju dengan Anda, yang harus kita mintai pengampunan hanya Tuhan dan yang bisa mengampuni juga hanya Tuhan. Saya juga setuju bahwa diampuni bukan berarti tidak dihukum.

Saya rasa Anda juga setuju bahwa hukuman yang benar akan mengarahkan manusia semakin jauh dari keinginan dagingnya dan semakin mendekat ke Tuhan, bukannya semata-mata membalaskan sakit hati pihak yang dilukai.

Dan kalau Anda setuju dengan hal itu, akan Anda juga pasti setuju mengapa perbuatan kasih, doa, puasa dan bersedekah (bila dilakukan dengan hati yang tulus) juga memiliki peran dalam menerima pengampunan Tuhan sebagaimana hukuman yang benar. Mengapa?

Karena berbuat kasih, berdoa untuk orang lain, berpuasa dan bersedekah itu ngga gampang. Melakukan sesuatu untuk orang lain itu ngga mudah mengingat sifat kedagingan manusia yang selalu ingin menyenangkan dirinya sendiri. Efeknya akan sama dengan hukuman yang dilakukan dengan benar.

Apabila manusia yang berdosa itu menyadari kesalahannya, minta ampun kepada Tuhan lalu berdoa-puasa bagi orang-orang lain yang melakukan dosa yang sama dengan dirinya, bukankah manusia tersebut melakukan penyangkalan diri yang lebih besar (sehingga semakin mendekat ke Tuhan) dari pada yang hanya minta ampun lalu diam di kamar?

Satu hal lagi mengenai hak dan kewajiban yang Anda sebutkan diatas bahwa "perbuatan kasih, perbuatan baik, doa, berpuasa, memberikan sedekah itu "kewajiban" kita sebagai orang yang sudah diampuni oleh Tuhan.Emmm supaya nggak salah paham arti kewajiban di sini itu adalah "sesuatu hal yang sudah sewajarnya kita lakukan"."

Sekali lagi Anda juga pasti setuju bahwa manusia tidak dapat berbuat baik dari dirinya sendiri tanpa bantuan Roh Allah (ROH KUDUS) sama sekali. Berbuat baik tentu juga termasuk minta ampun, bukan?

Pertanyaan selanjutnya, diampuni dahulu baru minta ampun atau minta ampun dahulu baru diampuni?
Kalau dalam urusan dunia sudah pasti kebanyakan minta ampun dahulu baru diampuni. Tapi Roh Tuhan ada dalam manusia itu terlebih dahulu sebelum ia minta ampun. Tuhan sudah terlebih dahulu mau tinggal dalam diri orang tersebut baru orang tersebut dimampukan untuk minta ampun. Tuhan mengampuni dan mengasihi orang yang berdosa itu dulu, baru orang tersebut bisa minta ampun.

Sehingga pendapat bahwa kita berbuat baik karena kita sudah diampuni sebenarnya kurang tepat, karena mengesankan bahwa pengampunan itu nilainya sama dengan usaha dan jerih payah manusia. Padahal Anda pasti juga sependapat, bahwa tidak ada usaha manusia yang dapat menyelamatkan dirinya sendiri. :)

Thanks atas jawabannya.

Hmmm.... saya agak takut kalau pernyataan saya tentang perbuatan baik itu menimbulkan pikiran rancu...
Terima kasih atas koreksinya.

Quote
Sehingga pendapat bahwa kita berbuat baik karena kita sudah diampuni sebenarnya kurang tepat, karena mengesankan bahwa pengampunan itu nilainya sama dengan usaha dan jerih payah manusia.

Betul, pendapat ini tidak tepat karena pengampunan itu bukan karena jerih payah manusia(berbuat baik,puasa,doa)dsb.

menurut saya motivasi berbuat baik dsb itu untuk menyenangkan hati Tuhan (yang sebenarnya kita lebih banyak menyakiti hati Tuhan) bukan untuk diampuni atau membayar dosa.
Usaha manusia sama sekali tidak bisa untuk menebus dosa yang telah dilakukan.

Terima kasih, Tuhan Yesus memberkati
June 28, 2012, 10:52:32 PM
Reply #8
  • FK - Junior
  • **
  • Posts: 56
  • Gender: Male
  • Sleeping Giant has awaken
    • Knowing and Loving the Church
  • Denominasi: Catholic is not a denomination
Sama-sama. Tuhan Yesus memberkati...

Sebenarnya ini OOT tapi saya ingin bertanya ke momod. Apakah setiap kata Yesus Kristus dan ROH KUDUS otomatis diganti huruf besar semua?

Terima kasih..
Temukan jawaban Gereja Katolik untuk pertanyan-pertanyaan yang menantang seputar Iman Katolik: Catholics Come Home, Knowing and Loving the Catholic Church, YeSaYa
June 29, 2012, 08:35:16 AM
Reply #9
  • FK - Senior
  • ****
  • Posts: 368
  • Gender: Male
  • Denominasi: Kharismatik


Sekali lagi Anda juga pasti setuju bahwa manusia tidak dapat berbuat baik dari dirinya sendiri tanpa bantuan Roh Allah (ROH KUDUS) sama sekali. Berbuat baik tentu juga termasuk minta ampun, bukan?
ini berbicara mengenai manusia Kristen atau manusia secara universal?

Manusia secara universal bisa saja berbuat baik dari dirinya sendiri tanpa bantuan Roh Allah (ROH KUDUS) sama sekali. Kulo kenal baik dengan kakak kelas beragama Buddha, dia selalu berbuat baik kepada siapapun (kulo alami sendiri), ketika kulo tanya mengapa baik kepada semua orang, jawabannya adalah: Karena itu ajaran agamanya, ada karma, jadi jika dia berbuat baik sekarang, dia akan menerima karma baik di massa hidup sekarang atau reinkarnasi berikutnya. Apakah yang menggerakkan kakak kelas kulo itu adalah ROH KUDUS juga menurut jenengan?
Mari berdiskusi sambil mempelajari Alkitab lebih dalam. Minimal berikan dasar literatur yang bisa dibaca kawan diskusi, jangan gunakan dasar diskusi yang berada dalam isi kepala saja (sebab itu bukan merupakan parameter yang terukur).
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)