Author Topic: Renungan Harian®  (Read 114490 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

August 06, 2018, 05:10:15 AM
Reply #1850
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23770
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/107-agustus.html

 FUNGSI BUKAN POSISI
1
2
3
4
5
Rating 4.80 (5 Votes)

    Diterbitkan hari Senin, 06 Agustus 2018 00:00
    Ditulis oleh Yuniar Dwi S   
    Dibaca: 708 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Lukas 9:46-48

“Siapa saja yang menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan siapa saja yang menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku.” (Lukas 9:48)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yesaya 27-31



Kata blusukan (bahasa Jawa) biasanya mengacu pada aktivitas pemimpin yang mau turun ke bawah, tidak gengsi dengan posisi atau jabatannya, dan mau berinteraksi dengan rakyatnya. Para abdi masyarakat belakangan ini marak diberitakan menjalankan aktivitas blusukan ini. Beberapa orang dari mereka disoroti media ketika membantu tim kebersihan kota menangani sampah yang menyumbat aliran air sungai.

Konsep tentang menjadi yang terkecil sulit dipahami oleh para murid Yesus. Mereka tahu Yesus datang ke dunia sebagai pemimpin atau lebih tepatnya sebagai Mesias bagi Israel. Namun, rupanya para murid memahami kedatangan Yesus sebagai pemimpin politik. Hal itu membuat mereka bangga atau merasa istimewa sehingga saling memperebutkan posisi (ay. 46). Melihat perselisihan ini, Yesus meluruskan pemahaman mereka: Dia secara jelas menyatakan bahwa untuk menjadi yang terbesar, mereka harus mau menjadi terkecil (ay. 48). Seorang pemimpin bersedia melayani, bukan memerintah dan menggunakan posisinya untuk minta dilayani (bdk. Mrk. 9:35). Sungguh berbeda dengan konsep dunia. Yesus ingin murid-murid-Nya memahami bahwa menjadi terbesar itu soal fungsi dan bukan posisi.

Menjadi hamba atau pelayan bagi orang lain tidaklah mudah. Menjadi pelayan menekankan pada sikap hati, yaitu kerelaan untuk tunduk kepada pemimpin, tetapi juga mau bergaul dengan orang yang posisinya lebih rendah dari kita. Siapkah kita memiliki sikap hamba yang demikian tanpa gengsi?

—YDS/www.renunganharian.net


PEMIMPIN VERSI KERAJAAN ALLAH ADALAH PELAYAN BAGI SESAMA



August 07, 2018, 05:15:11 AM
Reply #1851
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23770
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/107-agustus.html

 BUAH YANG MENGECEWAKAN
1
2
3
4
5
Rating 5.00 (5 Votes)

    Diterbitkan hari Selasa, 07 Agustus 2018 00:00
    Ditulis oleh Antok Setyo Wibowo   
    Dibaca: 852 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Yesaya 5:1-7

Apatah lagi yang harus diperbuat untuk kebun anggur-Ku itu, yang belum Kuperbuat kepadanya? Aku menanti supaya dihasilkannya buah anggur yang baik, mengapa yang dihasilkannya hanya buah anggur yang asam? (Yesaya 5:4)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yesaya 32-37



Orangtua mana yang tidak menginginkan anaknya ketika dewasa menjadi orang yang berhasil, takut akan Tuhan, dan hormat pada orangtua? Untuk itulah orangtua berjuang mencukupi kebutuhan dan mendidiknya sedemikian rupa. Tetapi bagaimana perasaan orangtua jika dua puluh lima tahun kemudian ternyata anak itu menjadi anak yang memberontak dan kurang ajar? Pasti mereka akan merasa gagal dan kecewa.

Bangsa Israel adalah seperti pohon anggur yang ditanam pemiliknya yaitu Allah. Sebagai pemilik kebun anggur, Allah telah merawat bangsa Israel milik-Nya dengan melakukan banyak kebaikan. Dia membebaskan bangsa Israel dari tanah Mesir dan menuntun mereka sampai masuk tanah perjanjian. Tetapi di jaman Nabi Yesaya, bangsa Israel telah hidup dalam pemberontakan kepada Allah, hidup dalam kelaliman dan keonaran, dan tidak menjadi contoh yang baik bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Itulah gambaran buah anggur asam yang telah mengecewakan Allah sebagai pemilik kebun anggur sehingga Dia akan menjatuhkan penghukuman bagi mereka.

Tuhan telah memberikan anugerah, kebaikan, teguran, dan berkat selama kita hidup sampai saat ini. Semuanya itu adalah untuk kebaikan kita agar bertumbuh, dewasa, dan berbuah di dalam Tuhan. Sudahkah kita hidup dalam kebenaran dan keadilan sebagai buah yang baik, yang menjadi berkat bagi sesama dan wujud syukur kita kepada Tuhan?

—ANT/www.renunganharian.net


HIDUP BENAR DAN ADIL ADALAH BUAH YANG BAIK YANG DISUKAI PEMILIKNYA
DAN MENJADI BERKAT BAGI ORANG YANG MENERIMANYA


August 08, 2018, 05:42:28 AM
Reply #1852
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23770
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/107-agustus.html

 BERMENTALITAS KUAT
1
2
3
4
5
Rating 4.64 (11 Votes)

    Diterbitkan hari Rabu, 08 Agustus 2018 00:00
    Ditulis oleh Richard Tri Gunadi   
    Dibaca: 1085 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Bilangan 13:25-33

Kemudian Kaleb mencoba menenteramkan hati bangsa itu di hadapan Musa, katanya: "Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!" (Bilangan 13:30)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yesaya 38-42



Dua pemuda yang baru lulus kuliah hendak melamar bekerja di sebuah bank swasta nasional. Saat teman-teman mereka mengetahuinya, mereka mendorong keduanya mengurungkan niat. “Masuk ke bank itu susah sekali, dulu beberapa kawanku gagal,” kata salah satu teman mereka. Akhirnya, hanya pemuda kedua yang tetap melamar. Memang tidak mudah saat menjalani tes seleksi, ujian, dan akhirnya wawancara, tetapi ia berhasil diterima dan mulai bekerja di bank itu.

Mentalitas menentukan kesuksesan atau kegagalan kita dalam menghadapi persoalan hidup. Kedua belas pengintai melihat negeri yang sama, penduduk yang sama, hasil bumi yang sama. Yang membedakan, sepuluh pengintai bermental lemah, dua pengintai bermental pemenang. Yosua dan Kaleb tahu penduduk negeri itu memang seperti raksasa, kotanya berkubu-kubu, tetapi mereka punya Tuhan yang luar biasa, yang sudah berjanji bahwa negeri itu milik mereka. Akibatnya, sepuluh pengintai itu mati kena tulah (Bil. 14:37), sedangkan Kaleb dan Yosua memasuki dan menduduki tanah Kanaan.

Hidup ini memang kadang-kadang sulit untuk dijalani, tapi menjadi lebih sulit kalau kita bermental lemah. Seorang yang bermental kuat bukan berarti tak pernah kalah. Ia pernah kalah tapi tidak mau menyerah. Ia akan menghadapi setiap kesulitan dan menyelesaikannya sampai tuntas. Ia cepat bangkit dari kekalahannya, belajar dari kesalahannya, dan mencoba lagi. Mari kita miliki mentalitas pemenang sehingga kita berani menghadapi dan menyelesaikan setiap kesulitan hidup.

—RTG/www.renunganharian.net


MENTALITAS KITA SANGAT MENENTUKAN KESUKSESAN
ATAU KEGAGALAN KITA DALAM MENGHADAPI KESULITAN



August 09, 2018, 06:38:35 AM
Reply #1853
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23770
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/107-agustus.html

 Kekristenan BANYAK LARANGAN
1
2
3
4
5
Rating 4.58 (12 Votes)

    Diterbitkan hari Kamis, 09 Agustus 2018 00:00
    Ditulis oleh Go Hok Jin   
    Dibaca: 1695 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: 1 Korintus 10:23-33

“Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi tidak semua berguna. “Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi tidak semua membangun. (1 Korintus 10:23)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yesaya 43-46



Saya pernah mendengar keluhan dari beberapa petobat baru, “Ada banyak larangan dalam agama Kristen. Ini tidak boleh, itu tidak boleh. Saya jadi tidak bebas menjalani hidup.” Ada pula orang yang berkata bahwa sejak ia bersungguh-sungguh dalam imannya, hidupnya tak lagi bebas dan repot. “Berkata-kata kotor atau mengumpat pun tidak boleh, padahal semua orang melakukannya.” Benarkah demikian?

Kecuali untuk perbuatan dosa atau kejahatan, Alkitab membolehkan kita melakukan segala sesuatu. Ukurannya adalah kemampuan untuk menilai apakah yang kita lakukan berguna, membangun, atau sebaliknya, tak berguna dan menghasilkan perilaku destruktif. Jika memang berguna dan membangun—artinya mendatangkan kebaikan bagi diri sendiri dan orang lain, maka orang percaya tidak dilarang apabila melakukannya. Lebih lanjut Paulus menegaskan bahwa apa pun yang kita lakukan, hendaklah dipikirkan juga apakah memuliakan nama Tuhan atau justru memalukan nama-Nya (ay. 31). Kita pun perlu menimbang apakah perbuatan kita dapat berdampak pada keselamatan mereka yang masih di luar Kristus, atau justru membuat mereka “alergi” dan menolak Kristus (ay. 33).

Kekristenan adalah perjalanan iman. Pertumbuhan iman akan menentukan kepekaan kita dalam membedakan antara perbuatan yang berguna, membangun, atau merugikan diri sendiri maupun orang lain. Selain iman, pemahaman kita akan kebenaran firman pun perlu bertumbuh, sehingga kita sedapat mungkin menjauhi perkara yang tak berguna dan tak membangun.

—GHJ/www.renunganharian.net


BAGI ORANG YANG MENGASIHI TUHAN, LARANGAN PUN DAPAT
DIANGGAP SEBAGAI TANDA KASIH DAN KEPEDULIAN ALLAH



August 10, 2018, 06:25:19 AM
Reply #1854
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23770
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/107-agustus.html

 YANG DI BELAKANG KITA
1
2
3
4
5
Rating 4.64 (11 Votes)

    Diterbitkan hari Jum'at, 10 Agustus 2018 00:00
    Ditulis oleh Pipi Agus Dhali   
    Dibaca: 1530 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: 2 Tawarikh 14:2-13

Kemudian Asa berseru kepada TUHAN: “… Tolonglah kami ya TUHAN, Allah kami, karena kepada-Mulah kami bersandar…” (2 Tawarikh 14:11)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yesaya 47-51



Beruang kecil itu berlari. Singa betina mengejarnya. Jarak mereka kian dekat. Si beruang terpojok di tepi hulu sungai. Ia mundur ketakutan, sedangkan singa merangsek maju. Tiba-tiba singa menghentikan langkah, lalu berbalik, dan meninggalkan mangsanya. Mengapa? Pada saat kritis itu, induk beruang berdiri mengaum di belakang anaknya.

Asa, raja Yehuda, dipaksa berlaga di medan tempur oleh Zerah, raja Etiopia. Pertarungan yang tak seimbang. Pasukan musuh menyerang dengan “sejuta orang dan tiga ratus kereta” (ay. 9). Yehuda maju hanya dengan laskar setengahnya, tanpa kereta perang (ay. 8). Asa sadar, posisinya lemah dan terdesak. Musuh di hadapannya lebih kuat. Tetapi, sikapnya sungguh tepat. Ia mencari Tuhan (ay. 4,7). Ia tahu, bukan pihak di depannya yang menentukan kemenangan, melainkan pihak “yang ada di belakangnya”–yaitu Tuhan. Asa berseru dan bersandar pada-Nya (ay. 11). Maka, Tuhan bertindak. Musuh dikalahkan. Yehuda berjaya di medan laga (ay. 12-13).

Kala dihadang masalah besar kita condong berkilah. Menyangkal. Mengabaikan. Menghindar dan mencari pelarian. Intinya takut. Sebab masalah itu terasa besar berbanding kekuatan kita yang kecil. Padahal semakin takut, kita akan jadi mangsa empuk bagi masalah yang mengejar kita. Memang benar, jika kita sendirian, masalah akan melahap kita. Namun, jika di belakang kita ada Tuhan, siapakah musuh kita (Rm. 8:31)? Dia Penyokong kita. Sandaran kita. Penolong kita. Carilah Dia. Serukan nama-Nya. Dia hanya sejauh doa.

—PAD/www.renunganharian.net


MASALAH YANG MENGHADANG DI DEPAN
TAK PERNAH SEBESAR TUHAN YANG MENOPANGMU DI BELAKANG


August 11, 2018, 06:35:36 AM
Reply #1855
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23770
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/107-agustus.html

 PATUKAN KETEKUNAN
1
2
3
4
5
Rating 4.50 (10 Votes)

    Diterbitkan hari Sabtu, 11 Agustus 2018 00:00
    Ditulis oleh Arie Saptaji   
    Dibaca: 1226 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Yakobus 1:2-8

Biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tidak kekurangan apa pun. (Yakobus 1:4)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yesaya 52-57



Dalam kehidupan ini ada suatu dorongan yang mengatakan, "Aku harus bertumbuh.” Anak ayam di dalam telur menggambarkan hal ini. Pada suatu titik, ia akan merasa terkungkung oleh kulit telur, dan ia pun mulai mematuk, mematuk, dan mematuk kulit itu. Ia bekerja keras, dan mendapatkan kekuatan dari pergumulannya ini.

Ketangguhan dan ketekunan itu diperlukannya untuk berhadapan dengan lingkungan baru yang segera dihadapinya begitu kulit telur itu retak terbuka. Apa yang terjadi jika ada orang yang berusaha menolongnya dengan meretakkan kulit itu sebelum waktunya? Ia akan membunuh anak ayam itu karena telah melumpuhkan kemampuannya untuk menghadapi lingkungan baru.

Tahap kehidupan yang baru dan pertumbuhan selalu mengandung risiko: risiko atau harga untuk suatu kemerdekaan. Namun, Allah telah mempersiapkan kita menghadapi risiko itu melalui ketekunan dan pergumulan yang memperkuat otot-otot iman kita untuk bertumbuh makin dewasa tahap demi tahap. Kalau kita tidak mau berjuang, kita akan tertahan dan pertumbuhan kita terganggu.

Kenapa kita memerlukan ketekunan? Ujian dalam hidup ini muncul secara tak terduga. Kita ditantang untuk selalu siap. Orang yang tidak siap melihat kesulitan sebagai rintangan, ia akan kalah dan frustrasi. Sebaliknya, orang yang siap melihat kesulitan sebagai peluang, ia akan menggunakannya untuk memperkuat iman dan mengembangkan karakternya.

Tantangan dan pencobaan hidup itu tak terelakkan. Adakah kita siap menghadapinya dalam ketekunan?

—ARS/www.renunganharian.net


KETANGGUHAN MENGHADAPI TANTANGAN HIDUP TIDAK DIPEROLEH DALAM SEKEJAP,
TETAPI DIKEMBANGKAN DENGAN TEKUN TAHAP DEMI TAHAP



August 12, 2018, 04:54:01 AM
Reply #1856
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23770
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/107-agustus.html

 BETAH KARENA CINTA
1
2
3
4
5
Rating 5.00 (2 Votes)

    Diterbitkan hari Minggu, 12 Agustus 2018 00:00
    Ditulis oleh Richard Tri Gunadi   
    Dibaca: 377 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: 1 Korintus 4:6-21

Kami melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar. (1 Korintus 4:12)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yesaya 58-63



Betah atau kerasan menunjukkan bahwa kita nyaman menjalani sesuatu. Ada karyawan yang betah bekerja belasan sampai puluhan tahun di satu perusahaan meskipun ada perusahaan lain yang menawarkan upah, kedudukan, atau fasilitas yang lebih baik. Ada pula orang Kristen yang gigih memberitakan Firman Tuhan meskipun mengalami penganiayaan dan hidup sederhana.

Paulus mengakui bahwa hidup sebagai rasul tidaklah nyaman secara jasmani. Ia berpendapat, Allah telah memberikan kepada para rasul tempat yang paling rendah, sama seperti orang yang telah dijatuhi hukuman mati. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, mereka harus melakukan pekerjaan tangan yang berat. Saat dimaki, mereka memberkati. Saat dianiaya, mereka sabar. Saat difitnah, mereka tetap menjawab dengan ramah. Para rasul bisa betah dan tetap setia sampai mati karena cinta mereka kepada Kristus. Hasilnya, mereka memang lemah, tetapi jemaat kuat. Mereka hina, tapi jemaat mulia. Kita hendaknya bisa mengikuti teladan para rasul, betah melakukan segala pekerjaan yang Tuhan percayakan kepada kita.

Kalau selama ini kita betah melakukan segala perintah Tuhan, puji Tuhan! Karena itu tanda kita sungguh-sungguh mencintai Kristus. Kalau selama ini kita melakukan Firman Tuhan dengan perasaan terpaksa, itu tandanya kita masih belum sepenuhnya mencintai Dia. Rendahkanlah diri kita di hadapan Tuhan dan jangan menyombongkan diri, kiranya kita betah mengikut Kristus dalam kondisi apa pun. Mengikuti-Nya dengan cinta, bukan karena terpaksa.

—RTG/www.renunganharian.net


KITA BETAH MELAKUKAN SEGALA PERINTAH TUHAN
KARENA MENCINTAI-NYA



August 13, 2018, 05:20:38 AM
Reply #1857
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23770
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/107-agustus.html

 KEBENARAN YANG MENYAKITKAN
1
2
3
4
5
Rating 4.00 (4 Votes)

    Diterbitkan hari Senin, 13 Agustus 2018 00:00
    Ditulis oleh Go Hok Jin   
    Dibaca: 880 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Matius 14:1-12

Karena Yohanes berkali-kali menegurnya, katanya, “Tidak boleh engkau mengambil Herodias!” (Matius 14:4)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yesaya 64-66



Soe Hok Gie, seorang pejuang kemanusiaan pernah berkata, “Umumnya orang tidak suka mendengar kebenaran, karena kebenaran itu sering kali menyakitkan.” Kalimat bijak yang tak hanya diucapkan tanpa bukti, tetapi diperlihatkan oleh Soe Hok Gie selama ia menjadi pejuang kemanusiaan. Perkataan yang mengingatkan kita pada reaksi negatif Herodes, ketika mendengar teguran dari Yohanes Pembaptis.

Sebagai raja yang memiliki wewenang, kuasa, dan wibawa besar, ego Herodes terusik ketika Yohanes Pembaptis menegurnya. Sebagai utusan Allah, Yohanes Pembaptis tanpa ragu menegur Herodes yang memperistri Herodias, istri Filipus, saudaranya. Sebenarnya Herodes ingin membunuh Yohanes Pembaptis karena sakit hati, tetapi ia tak punya nyali melakukannya. Maklum, saat itu nama Yohanes Pembaptis cukup terkenal sebagai seorang nabi yang diurapi Allah. Akhirnya, dendam kesumat Herodes pun terpenuhi ketika momen ulang tahunnya. Namun, apakah Herodes kemudian berubah menjadi raja yang hidup dalam kebenaran? Tak ada catatan mengenai hal tersebut.

Kebenaran memang terkadang tak menyenangkan, sehingga sedikit sekali orang yang berada dalam “kumpulan” tersebut. Namun, orang yang membuka dirinya terhadap kebenaran, dan menerima yang paling menyakitkan sekalipun, kelak akan terbukti bahwa ia berada di tempat yang benar. Bagi orang percaya, hidup dalam kebenaran menjadikan kita orang yang berbahagia. Seberapa siapkah kita menerima kebenaran? Masihkah kita memilih kebenaran, ketika hal itu terasa menyakitkan?

—GHJ/www.renunganharian.net


KEBENARAN SEPERTI PIL PAHIT
YANG MENYEMBUHKAN BANYAK PENYAKIT



August 14, 2018, 05:34:49 AM
Reply #1858
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23770
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/107-agustus.html

 PEMEGANG KUNCI
1
2
3
4
5
Rating 4.86 (7 Votes)

    Diterbitkan hari Selasa, 14 Agustus 2018 00:00
    Ditulis oleh Piter Randan Bua   
    Dibaca: 1034 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Matius 16:13-20

“Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.” (Matius 16:19)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yeremia 1-3



Kunci bait Allah diserahkan kepada para ahli Taurat pada saat ia dilantik. Hal ini memiliki makna bahwa ia bertugas menutup pintu atau mengganjar orang-orang yang melakukan pelanggaran berat dan mengucilkannya dari komunitas “orang-orang suci”. Ia pula membuka pintu bagi orang-orang yang bertobat dan ingin kembali kepada Allah. Ungkapan Tuhan Yesus kepada Petrus yang mengatakan, “Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga” adalah ungkapan kewibawaan yang diberikan Kristus kepada murid-murid-Nya. Kewibawaan itu diberikan sesaat setelah pengakuan, “Engkau adalah Mesias Anak Allah yang hidup.”

Para murid diberi wawasan dan kemampuan untuk memberitakan Injil sehingga Kerajaan Allah dibukakan bagi mereka yang percaya dan ditutup bagi orang yang menolak. Martin Luther menyebut, “Karena ajaran Injillah yang membuka surga bagi kita”. Selain itu ungkapan Tuhan Yesus itu mengandung kewibawaan bahwa para murid ditugaskan mengganjar para pelanggar kelas berat dan mengucilkannya dari orang percaya lainnya, kemudian diterima kembali setelah bertobat.

Wawasan dan kemampuan yang sama diberikan kepada kita, saat mengakui Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita. Kunci itu yaitu Kabar Baik diserahkan kita. Kita ditugaskan untuk membuka pintu surga bagi mereka yang terbelenggu oleh iblis. Melalui pemberitaan Injil ada orang yang didamaikan dengan Allah oleh iman. Sebuah kehormatan yang dimandatkan Allah kepada kita, melebihi pekerjaan apa pun.

—PRB/www.renunganharian.net


KEHORMATAN TERBESAR ADALAH MENJADI ALAT DALAM TANGAN TUHAN
UNTUK MEMBAWA YANG TERSESAT BERBALIK KEPADA ALLAH.—Henrietta Mears


August 15, 2018, 05:22:25 AM
Reply #1859
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23770
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/107-agustus.html

 DIBIARKAN LAPAR
1
2
3
4
5
Rating 5.00 (4 Votes)

    Diterbitkan hari Rabu, 15 Agustus 2018 00:00
    Ditulis oleh Hoki Cahyadi   
    Dibaca: 838 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Ulangan 8:1-20

Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kaukenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN. (Ulangan 8:3)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yeremia 4-6



Apa reaksi orang ketika menghadapi rasa lapar dan belum menemukan makanan? Untuk sebagian orang, barangkali berkeluh kesah adalah jawabannya. Reaksi itu pula yang dilakukan bangsa Israel setelah Musa memimpin mereka keluar dari tanah Mesir. Mereka mulai mengeluh dan berkata lebih baik mati di Mesir namun perut kenyang karena di sana selalu tersedia daging di kuali dan makan roti sampai kenyang (Kel. 16:3). Yang menarik, dalam nas hari ini tercatat Tuhan “membiarkan” mereka lapar sebelum memberikan manna.

Apa kiranya maksud Tuhan membiarkan bangsa Israel lapar? Pertama, Tuhan ingin merendahkan hati umat-Nya. Ia berharap bangsa Israel akan lebih bersyukur menerima manna setelah mereka mengalami rasa lapar. Kedua, untuk mengajar mereka bahwa Tuhan sanggup memenuhi kebutuhan mereka bukan seperti angan-angan mereka namun sesuai dengan rencana Tuhan. Terakhir, agar mereka belajar lebih mempercayai Tuhan dan memiliki fokus pada-Nya.

Bagaimana dengan kita? Adakah kita tengah “dibiarkan lapar” dengan berbagai masalah yang belum terselesaikan dalam hidup kita? Jika ya, mari belajar rendah hati untuk berdoa memohon jawaban sesuai dengan rencana Tuhan, bukan sesuai dengan keinginan kita. Perbaharui fokus kita pada Tuhan dengan bertekun memahami dan menjalankan Firman Tuhan. Tak lupa mengucap syukur senantiasa sehingga kita dimampukan untuk hidup sesuai dengan firman-Nya.

—HC/www.renunganharian.net


TUHAN TERKADANG MEMBIARKAN KITA LAPAR
AGAR FOKUS KITA TETAP TERTUJU KEPADA-NYA



 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)