Author Topic: Renungan Harian®  (Read 125528 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

August 16, 2018, 05:23:10 AM
Reply #1860
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/107-agustus.html

 BALLY TAK TERBELI
1
2
3
4
5
Rating 4.83 (6 Votes)

    Diterbitkan hari Kamis, 16 Agustus 2018 00:00
    Ditulis oleh Arie Saptaji   
    Dibaca: 883 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: 2 Korintus 12:11-15

Karena itu aku suka mengorbankan milikku, bahkan mengorbankan diriku untuk kamu. (2 Korintus 12:15)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yeremia 7-10



Pada 1950-an, Bally adalah merek sepatu mewah. Bung Hatta, yang waktu itu seorang wakil presiden, berniat membelinya. Ia menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya. Kemudian ia menabung untuk mewujudkan keinginannya. Nyatanya, tabungannya tidak pernah cukup untuk membeli sepatu idaman. Uang itu tergerus oleh keperluan rumah tangga atau untuk membantu orang-orang yang datang kepadanya guna meminta bantuan. Keinginan Bung Hatta membeli sepasang sepatu Bally tak pernah terwujud hingga akhir hayatnya. Guntingan iklan itu saja yang masih tersimpan dengan baik.

Pengurbanan Bung Hatta mengingatkan pada sikap Rasul Paulus pada jemaat di Korintus. Rasul Paulus mewakili sosok pelayan Injil yang setia, terlihat dari ketulusan dan kebesaran hatinya. Ia bertekad tidak membebani jemaat baik pada masa lalu maupun pada masa yang akan datang. Ia tidak mengincar isi dompet mereka, mengambil keuntungan dari mereka demi memperkaya diri, melainkan mengupayakan keselamatan jiwa mereka dengan memenangkan mereka bagi Kristus. Ia menjadi orangtua bagi mereka, mengutamakan kesejahteraan mereka. Untuk itu, ia sukarela menanggung kerugian, mengurbankan waktu, energi, dan kepentingannya untuk melayani mereka. Ia mengasihi mereka meskipun mereka tidak membalas kasihnya dengan semestinya.

Ada waktu-waktu ketika kita dipanggil untuk mengurbankan ambisi dan kepentingan pribadi demi mengutamakan kesejahteraan keluarga dan sesama. Bersediakah kita?

—ARS/www.renunganharian.net


KASIH ITU SEPERTI LILIN YANG MEMBIARKAN DIRINYA TERBAKAR
DEMI MENERANGI LINGKUNGAN SEKITARNYA



August 17, 2018, 05:22:10 AM
Reply #1861
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/107-agustus.html

 BEBAS DAN BERTANGGUNG JAWAB
1
2
3
4
5
Rating 5.00 (5 Votes)

    Diterbitkan hari Jum'at, 17 Agustus 2018 00:00
    Ditulis oleh May Lan   
    Dibaca: 637 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Galatia 5:1-15

Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa .... (Galatia 5:13)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yeremia 11-14



Salah satu pilar demokrasi adalah kebebasan yang bertanggung jawab. Prinsip ini mempertimbangkan pemahaman bahwa kebebasan itu tidak pernah absolut. Batas dari kebebasan adalah tanggung jawab itu sendiri. Selama berpegang pada prinsip tersebut, kemerdekaan tidak akan berubah menjadi sikap semaunya sendiri.

Kebebasan selalu satu paket dengan tanggung jawab. Kekristenan pun berpegang pada prinsip tersebut. Kebebasan, dalam Kekristenan, merujuk pada kemerdekaan yang sejati, karena Kristus telah memerdekakan (ay. 1). Kemerdekaan ini tidak lain merujuk pada kondisi orang percaya yang terlepas dari perangkap dosa. Ia merupakan anugerah terbesar yang tidak boleh dipandang sebelah mata.

Sebagai penerima anugerah yang begitu mulia, orang percaya punya tanggung jawab supaya tidak menggunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa (ay. 13). Tanggung jawab tersebut akan selalu mempertimbangkan dua hal, yaitu berguna dan membangun (1Kor. 10:23), sebagai acuan dalam mempergunakan kemerdekaan secara bijak. Hal ini menjadi penting lantaran kelak orang percaya harus mempertanggungjawabkan kebebasannya di hadapan Tuhan.

Bebas dan bertanggung jawab bagaikan dua sisi dari sekeping uang logam. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Kebebasan yang melekat pada diri orang percaya tidak dapat dilepaskan dari tanggung jawab untuk menjaga kekudusan dalam hidupnya. Anugerah Tuhanlah yang menjadi alasannya.

—EML/www.renunganharian.net


TANGGUNG JAWAB ORANG PERCAYA DITUNJUKKAN MELALUI KEBEBASANNYA
YANG MENOLAK SECARA TEGAS UNTUK BERSENTUHAN DENGAN DOSA



August 18, 2018, 05:32:21 AM
Reply #1862
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/107-agustus.html

 DEKLARASI IMAN
1
2
3
4
5
Rating 5.00 (3 Votes)

    Diterbitkan hari Sabtu, 18 Agustus 2018 00:00
    Ditulis oleh Go Hok Jin   
    Dibaca: 584 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Daniel 3:13-18

“Tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” (Daniel 3:18)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yeremia 15-18



Sejak bertobat dan mengenal Kristus, saya belum pernah mengalami ujian iman ekstrem, yang dapat mengancam keluarga, karier, apalagi nyawa. Seingat saya, saya hanya pernah diolok-olok karena menjadi Kristen dan sedikit ditakut-takuti, “Nanti kalau mati kamu akan disalib seperti Yesus.” Perlakuan diskriminatif juga jarang saya alami, termasuk ketika mengenyam pendidikan di sekolah negeri sampai lulus perguruan tinggi.

Itulah sebabnya, bagi saya deklarasi iman dari Sadrakh, Mesakh, dan Abednego adalah tindakan luar biasa. Ingat, mereka mengucapkannya di hadapan Raja Nebukadnezar. Penguasa yang dapat melakukan apa pun kepada mereka. Apalagi raja sedang marah akibat hasutan dari komplotan orang Kasdim yang membenci Sadrakh, Mesakh, dan Abednego (ay. 8-12). Penolakan dari ketiga orang muda Yahudi itu pun membuat kemarahan Raja Nebukadnezar semakin memuncak, sehingga memerintahkan agar dapur perapian itu dibuat tujuh kali lebih panas (ay. 19). Namun, Allah menyelamatkan mereka dan melalui titah raja, sejak itu semua orang di seluruh kerajaan Babel harus menghormati Allah yang disembah oleh ketiga sahabat Daniel itu (ay. 28-29).

Ketetapan Allah agar kita hanya menyembah Dia sejak dulu hingga kini tidak berubah. Setiap orang percaya diharapkan senantiasa siap sedia manakala tantangan atau ujian iman datang, dengan tingkatan yang berbeda untuk masing-masing orang. Kiranya komitmen Sadrakh, Mesakh, dan Abednego dapat meneguhkan iman kita untuk tetap setia kepada-Nya, hingga akhir hayat kita.

—GHJ/www.renunganharian.net


TANTANGAN IMAN HANYA DAPAT DIHADAPI
DENGAN KETEGUHAN HATI DAN KOMITMEN KEPADA KRISTUS



August 19, 2018, 04:43:57 AM
Reply #1863
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/107-agustus.html

 JADILAH SAKSI ASLI!
1
2
3
4
5
Rating 5.00 (1 Vote)

    Diterbitkan hari Minggu, 19 Agustus 2018 00:00
    Ditulis oleh Yuniar Dwi S   
    Dibaca: 294 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: 1 Yohanes 1:1-4

Apa yang telah kami lihat dan telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus. (1 Yohanes 1:3)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yeremia 19-22



Saksi biasanya dihadirkan dalam persidangan untuk memperkuat pembuktian perkara. Ia diundang untuk menceritakan apa yang dilihat, didengar, diperhatikan, atau dialaminya sendiri. Sayangnya, kadang-kadang ada saksi palsu yang tidak dapat menceritakan kejadian yang sebenarnya. Bisa jadi ia takut jika ia bersaksi secara jujur, ia akan dianiaya atau hidupnya tidak aman. Ada juga saksi palsu yang rela disuap karena ia membutuhkan uang.

Dalam teks ini, ada pengulangan kata “lihat” sebanyak tiga kali (ay. 1-3), kata “dengar” dua kali (ay. 1, 3) dan kata “beritakan” dua kali (ay. 2-3). Hal ini menekankan pada esensi dasar bahwa seorang saksi yang asli perlu mengalami tiga kegiatan ini: melihat, mendengar, kemudian memberitakannya. Kegiatan ini yang membuat para rasul berani menjadi saksi-Nya yang asli. Kesaksian mereka tentang Yesus Kristus tidak dapat digentarkan oleh penganiayaan, bahkan suap sekalipun. Mereka menjadi saksi yang asli dan berharap semua orang memiliki persekutuan yang karib dengan Allah dan sesama (ay. 3).

Di zaman sekarang, menjadi saksi Kristus juga tak lepas dengan tantangan. Tantangan itu terkadang berupa perasaan malas, sungkan, takut jika dianggap mengkristenkan orang lain, dan sebagainya. Jika iman yang kita miliki berdasarkan pengalaman yang nyata bahwa Kristus hidup di dalam kita, dan kita memiliki persekutuan pribadi bersama-Nya, apakah Anda tidak terpanggil untuk menyaksikan iman Anda?

—YDS/www.renunganharian.net


TUHAN INGIN SETIAP MURID-MURID-NYA MENJADI SAKSI ASLI,
BUKAN SAKSI PALSU



August 20, 2018, 05:19:55 AM
Reply #1864
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/107-agustus.html

 SURUH MEREKA PERGI
1
2
3
4
5
Rating 5.00 (4 Votes)

    Diterbitkan hari Senin, 20 Agustus 2018 00:00
    Ditulis oleh Piter Randan Bua   
    Dibaca: 829 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Matius 14:13-21

Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata, “Tempat ini terpencil dan hari mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa.” (Matius 14:15)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yeremia 23-25



Yesus menyingkir setelah mendengar Yohanes dieksekusi oleh Herodes. Dia ingin menyingkir ke tempat sunyi melintasi danau bersama murid-murid-Nya, tetapi orang banyak mendahului-Nya ke seberang. Mereka datang dengan membawa orang sakit. Yesus menyembuhkan mereka. Tujuan awal menyepi gagal karena banyak orang perlu pertolongan. Padahal, tempat itu sunyi dan tak ada makanan. Para murid memberikan solusi logis, yaitu menyuruh mereka pulang dan pergi membeli makanan di desa-desa. Namun, Yesus berkata, “Kamulah yang harus memberi mereka makan.” Mereka pun protes karena yang ada pada mereka hanya dua potong ikan dan lima ketul roti. Mana mungkin cukup?

Tak terhindarkan, pasti ada orang yang akan meminta bantuan kita. Saat situasi mendukung, bukanlah persoalan untuk menolong. Namun, bagaimana jika tidak? Cara gampang dan logis adalah menyuruh orang itu pergi dan membiarkannya mengatasi kesulitan sendiri. Namun, Yesus tidak meneladankan sikap seperti itu. Dia menaruh belas kasihan dengan sepenuh hati. Dia menyelesaikan persoalan dan menolong setiap orang yang datang kepada-Nya meskipun Dia harus mengurbankan kenyamanan pribadi-Nya. Tak seorang pun disuruh-Nya pergi dengan sia-sia.

Jika Dia adalah Guru kita, biarkanlah teladan-Nya tecermin dalam sikap kita. Jangan biarkan orang yang kesusahan pergi tanpa menolongnya. Meski mustahil untuk memenuhinya, kita harus mencari cara semampu kita, sembari berharap datangnya pertolongan dari Tuhan.

—PRB/www.renunganharian.net


BERUSAHA MENOLONG SAAT KONDISI MEMUNGKINKAN ITU BIASA;
BERUSAHA MENOLONG SAAT KEMUSTAHILAN ITU SIKAP MENGANDALKAN ALLAH



August 21, 2018, 05:22:18 AM
Reply #1865
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/107-agustus.html

 MEMBUANG DIRI
1
2
3
4
5
Rating 5.00 (6 Votes)

    Diterbitkan hari Selasa, 21 Agustus 2018 00:00
    Ditulis oleh Go Hok Jin   
    Dibaca: 790 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Amsal 15:32

Siapa mengabaikan didikan membuang dirinya sendiri, tetapi siapa mendengarkan teguran, memperoleh akal budi. (Amsal 15:32)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yeremia 26-28



Pernahkah kita melihat ada orang yang membuang dirinya? Mungkin secara harfiah, hal itu sangat jarang terjadi. Namun, melalui pengamatan akan kehidupan di sekitar kita dengan mudah kita akan menemukan ada orang-orang yang melakukannya. Ya, secara sadar maupun tidak, mereka seperti membuang diri dengan melakukan hal-hal yang merusak diri sendiri, meresahkan masyarakat, dan hidup berkubang dalam dosa. Mereka mungkin mengerti bahwa perbuatannya salah, tetapi mereka menikmati keadaan tersebut dan tidak berencana untuk keluar dari keadaan itu!

Mengenai hal ini, Alkitab berkata bahwa orang yang mengabaikan didikan, termasuk yang menolak teguran, seperti sedang membuang dirinya. Orang yang demikian sebenarnya tidak sedang mengasihi dirinya karena ia membiarkan dirinya berjalan menuju ke arah yang salah. Mengenai didikan, Firman Tuhan juga berkata, “Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan TUHAN, dan janganlah engkau bosan akan peringatan-Nya. Karena TUHAN memberi hajaran kepada yang dikasihi-Nya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi” (Ams. 3:11-12). Hanya ketika kita membuka hati, maka kita akan memiliki kelembutan hati untuk menerima setiap didikan dan pengajaran dari Allah maupun manusia.

Kehidupan ini terlalu berharga untuk disia-siakan dengan “membuang diri”. Melalui kehidupan yang telah ditebus melalui pengurbanan Kristus, Allah menghendaki agar kita mempergunakan hidup kita sebaik mungkin, bermanfat bagi sesama, dan memuliakan nama-Nya, bukan untuk dibuang atau disia-siakan!

—GHJ/www.renunganharian.net


ORANG YANG MENOLAK DIDIKAN, SEBENARNYA TIDAK MENGASIHI DIRINYA


August 22, 2018, 05:30:09 AM
Reply #1866
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/107-agustus.html

 KEKANAK-KANAKAN
1
2
3
4
5
Rating 5.00 (2 Votes)

    Diterbitkan hari Rabu, 22 Agustus 2018 00:00
    Ditulis oleh Samuel Yudi Susanto   
    Dibaca: 544 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: 1 Korintus 3:1-9

Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan bahwa kamu manusia duniawi dan hidup secara manusiawi? (1 Korintus 3:3)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yeremia 29-31



Kita dapat mengenal kedewasaan seseorang dari cara orang itu saat bereaksi atau berespons pada sebuah peristiwa yang dilihatnya. Kedewasaan seseorang tentulah tidak mutlak ditentukan dari berapa usianya atau fisiknya, tetapi lebih kepada sikap maupun tutur katanya. Dari tindakannya itu saja kita dapat menilai apakah seseorang benar-benar dewasa atau dewasa namun sesungguhnya ia masih kekanak-kanakan.

Dengan tegas Rasul Paulus menyebut bahwa jemaat Korintus adalah manusia duniawi karena mereka masih hidup dalam kedagingan. Atau dengan bahasa yang sedikit merendahkan, mereka disebut Rasul Paulus sebagai kekanak-kanakan. Pernyataan Rasul Paulus bukan tanpa dasar. Sebagai jemaat yang sesungguhnya tahu kebenaran, tetapi mereka masih menunjukkan sikap iri hati dan perselisihan. Mereka hidup dalam pengelompokan-pengelompokan dan merasa diri lebih unggul dari yang lain. Bukankah sikap-sikap demikian menunjukkan bahwa mereka hanyalah dewasa secara fisik namun kekanak-kanakan dalam cara berperilaku?

Teguran Rasul Paulus sesungguhnya mengingatkan kita bahwa semakin bertumbuhnya kedewasaan rohani kita dalam mengenal Kristus, sesungguhnya perilaku kekanak-kanakan seperti iri hati dan perselisihan makin terkikis dari hidup kita. Kiranya kedewasaan diri kita bertumbuh seiring dengan sikap-sikap untuk saling mendukung, bukan saling iri hati. Saling membangun, bukan saling menjatuhkan. Supaya dengan demikian bangunan tubuh Kristus berdiri semakin kuat karena setiap orang kristiani hidup dalam kedewasaannya.

—SYS/www.renunganharian.net


SEMAKIN MENGENAL KRISTUS, SEMESTINYA SIFAT-SIFAT KEDAGINGAN
ITU SEMAKIN TIDAK MENDAPAT TEMPAT LAGI DALAM DIRI KITA


August 23, 2018, 05:42:00 AM
Reply #1867
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/107-agustus.html

 MURAL YANG TERNODA
1
2
3
4
5
Rating 3.86 (7 Votes)

    Diterbitkan hari Kamis, 23 Agustus 2018 00:00
    Ditulis oleh Eko Elliarso   
    Dibaca: 1015 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Yesaya 59:1-8

Ke mana saja mereka pergi, mereka meninggalkan kebinasaan dan keruntuhan. Mereka tidak mengenal jalan damai. (Yesaya 59:7,8)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yeremia 32-33



Taksi yang mengantar saya ke Stasiun Tugu melintasi Jalan Affandi, Yogyakarta. Di sisi kanan jalan, pagar tembok panjang sebuah gedung dihiasi sederet mural nan indah. Namun, belum lagi kekaguman itu tuntas terucap, hati saya tercekat oleh mural terakhir. Cat hitam tebal disapukan menyilang menodai lukisan di ujung selatan, menorehkan kegetiran, dan memantik pertanyaan: Mengapa ada kesenangan yang didapat dari merusak keindahan?

Tak tertahankan, pertanyaan saya melebar ke mana-mana: Mengapa ada kegembiraan yang dialaskan pada runtuhnya harmoni? Mengapa ada hati yang puas karena melakukan penghancuran? Bagaimana bisa kita mengerti tentang kebahagiaan yang mempersyaratkan kekacauan nan porak poranda? Bagaimana kita memahami keyakinan yang bersikukuh bahwa kedamaian akan hadir justru ketika ketenteraman tiada?

Hati saya tertekan teringat perkataan Nabi Yesaya, “… ke mana saja mereka pergi, mereka meninggalkan kebinasaan dan keruntuhan. Mereka tidak mengenal jalan damai…” (ay. 7,8). Betapa buruk! Hati saya pepat ketika menyadari bahwa hal yang buruk itu ternyata sungguh ada. Bukankah hal seperti itulah yang menjauhkan bangsa ini dari rahmat Tuhan? Jika demikian ihwalnya, akan seperti apakah masa depan negeri ini? Apa yang akan diwarisi anak cucu kita dari kenyataan buruk macam itu?

Jauh di sudut hati, lirih terdengar senandung Tika Bisono, “Damai, damai, damai! Kapankah datangmu? Aku rindu...!” Ya, Tuhanku, itu juga kerinduan saya. Juga kerinduan bangsa ini.

—EE/www.renunganharian.net


JIKA TERNYATA DEMIKIAN IHWALNYA, ADAKAH YANG BISA
MENGATAKAN KAPAN GERANGAN BUMI MENJADI SURGAWI?



August 24, 2018, 05:33:25 AM
Reply #1868
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/107-agustus.html

 DAMAI ITU MAHAL
1
2
3
4
5
Rating 4.57 (7 Votes)

    Diterbitkan hari Jum'at, 24 Agustus 2018 00:00
    Ditulis oleh Eddy Nugroho   
    Dibaca: 890 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Imamat 14:1-32

“Domba jantan itu harus disembelihnya di tempat orang menyembelih korban penghapus dosa dan korban bakaran, di tempat kudus, karena korban penebus salah, begitu juga korban penghapus dosa, adalah bagian imam; itulah bagian maha kudus.” (Imamat 14:13)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yeremia 34-36



Sering kita lihat spanduk di pinggir jalan bertuliskan “Damai itu indah”. Tetapi judul renungan hari ini adalah “Damai itu mahal”. Apa maksudnya? Dalam bacaan kita tergambar bahwa cara pentahiran bagi orang yang sembuh dari penyakit kusta di jaman Musa ini merupakan salah satu yang paling rumit. Mengikuti dengan membaca saja sungguh rumit, apalagi melakukannya, tidak terbayang repotnya.

Imam mulai dengan mengunjungi penderita kusta untuk memastikan kesembuhannya. Imam menyembelih burung di atas belanga tanah berisi air yang mengalir. Lalu burung lainnya dicelupkan hidup-hidup ke dalam darah burung yang disembelih, dan dipercikkan ke orang tersebut, dan burung yang hidup dilepaskan ke padang. Orang tersebut kemudian membersihkan dirinya tuntas. Lalu ia boleh masuk ke perkemahan, tetapi tetap di luar kemahnya sendiri sampai hari ketujuh. Lantas sekali lagi ia membersihkan diri total. Kedua, proses pendamaian dengan serangkaian persembahan kurban. Ada kurban penebus salah dan penghapus dosa untuk mendamaikan orang tersebut pada Allah. Lalu kurban bakaran sebagai tanda bahwa ia sudah diperdamaikan.

Pentahiran yang rumit ini menunjukkan kepada umat Israel betapa mahal harga yang harus dibayar agar mereka dapat didamaikan dengan Allah, walau sifatnya sementara. Sesungguhnya untuk pendamaian yang kekal dengan Allah, harga yang harus dibayar adalah darah dari Anak Allah sendiri. Apakah kita telah menghargai harga yang begitu mahal yang telah dibayar oleh Kristus untuk pendamaian kita dengan Allah? Mari naikkan syukur dan bertekad hidup kudus bagi-Nya.

—ENO/www.renunganharian.net


KITA SUDAH DITEBUS OLEH DARAH KRISTUS YANG KUDUS,
MAKA HIDUPLAH KUDUS


August 25, 2018, 07:25:01 AM
Reply #1869
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/107-agustus.html

 ALLAH SELALU TERLIBAT
1
2
3
4
5
Rating 5.00 (5 Votes)

    Diterbitkan hari Sabtu, 25 Agustus 2018 00:00
    Ditulis oleh Endang B. Lestari   
    Dibaca: 1548 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Zefanya 1:2-18

“Pada waktu itu Aku akan menggeledah Yerusalem dengan memakai obor dan akan menghukum orang-orang yang telah mengental seperti anggur di atas endapannya dan yang berkata dalam hatinya: TUHAN tidak berbuat baik dan tidak berbuat jahat!” (Zefanya 1:12)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yeremia 37-40



Meraih suatu pencapaian yang luar biasa tentu membuat diri merasa bangga. Ada kalanya kegembiraan ini membuat orang lepas kendali dan ingin menceritakannya kepada setiap orang yang dijumpai, juga menuliskannya melalui dinding media sosial. Tujuannya tak lain untuk menunjukkan eksistensi diri, mencari pengakuan bahwa kitalah yang melakukan hal besar dan luar biasa itu.

Jika kita memiliki kebiasaan mengagungkan kemampuan atau pencapaian diri, waspadalah supaya jangan sampai kita memiliki pandangan yang menganggap Allah tidak terlibat secara aktif dalam kehidupan sehari-hari manusia. Padahal, bukankah Tuhan tidak pernah tertidur? Dia tetap memegang kendali. Pada saat-Nya Dia akan menunjukkan kehadiran dan kuasa-Nya, tak segan menghukum setiap manusia yang berani berbuat dosa karena tidak memiliki kepedulian pada keberadaan-Nya.

Anggur yang baik mutunya, yakni jernih dan bebas ampas, didapatkan karena mengalami proses penuangan atau pemindahan dari tempayan satu ke tempayan lain melalui penyaring. Karena itu mari kita perhatikan kehidupan kita, supaya hidup kita tidak mengental seperti anggur di atas endapannya: berpuas diri karena merasa bahwa semua kemampuan dan pencapaian adalah hasil usaha sendiri; bertingkah sesuka hati dan berkubang dalam dosa tanpa perasaan takut kepada Allah layaknya seorang pemabuk yang sedang teler. Orang yang terbuai dalam kenyamanan karena merasa diri hebat tidak akan pernah mengalami proses pemurnian Tuhan.

—EBL/www.renunganharian.net


MEMBUKA HATI DAN MENJADI PEKA MEMBUAT KITA
MERASAKAN KETERLIBATAN ALLAH SECARA AKTIF DALAM KEHIDUPAN KITA



 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)