Author Topic: Renungan Harian®  (Read 114545 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

September 05, 2018, 04:28:12 AM
Reply #1880
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23781
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/108-september.html

 BERJUANG DEMI BERKAT ALLAH
1
2
3
4
5
Rating 5.00 (4 Votes)

    Diterbitkan hari Rabu, 05 September 2018 00:00
    Ditulis oleh Eddy Nugroho   
    Dibaca: 470 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Kejadian 32:22-32

Lalu kata orang itu: "Biarkanlah aku pergi, karena fajar telah menyingsing." Sahut Yakub: "Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku." (Kejadian 32:26)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yehezkiel 17-19



Kita percaya Allah memelihara kehidupan kita. Tetapi kepercayaan kita bukanlah kepercayaan yang pasif, melainkan percaya yang aktif. Pemeliharaan Tuhan harus kita perjuangkan melalui karya kita. Berkat Tuhan tidak sekonyong-konyong turun dari langit. Manusia diberi akal dan kekuatan untuk memperjuangkan berkatnya. Tuhan sendiri yang akan menghargai perjuangan kita dengan menurunkan berkat-Nya.

Yakub bergumul dengan seorang pria hingga fajar menyingsing. Pertarungan yang sengit dan menguras tenaga. Dari pertarungan ini Yakub memperoleh tiga hal: nama baru, pangkal paha yang sakit, dan sebuah kemenangan. Kitab Hosea mengatakan bahwa Yakub dapat menang dalam pergumulannya dengan Allah bukan melalui kekuatan yang dimilikinya, tetapi dengan menangis dan memohon belas kasihan. Inilah kunci dari kemenangan Yakub dalam pergumulannya dengan Allah. Dari pergumulan sengit dan keinginan kuat untuk memohon berkat dari Tuhanlah Yakub mendapatkan nama barunya, Israel.

Sama seperti kita, Yakub bukanlah manusia sempurna. Ia bahkan merupakan karakter yang memiliki cukup banyak kelemahan. Kehidupan Yakub terasa begitu lekat dengan persoalan tipu menipu. Namun, dibalik segala kelemahan itu Yakub memiliki iman yang sangat kuat, yaitu iman yang percaya dan berjuang untuk mendapatkan berkat Allah, sampai akhirnya ia mendapatkan berkat yang dibutuhkannya. Kita perlu belajar untuk memiliki iman seperti itu, yang percaya penuh akan kuasa Tuhan dan mau berjuang keras supaya Tuhan memberkati kita.

—ENO/www.renunganharian.net


TUHAN AKAN MEMBERKATI UMAT-NYA YANG BERJUANG
UNTUK MENGEJAR BERKAT-NYA



September 06, 2018, 05:33:05 AM
Reply #1881
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23781
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
PENGHARGAAN BAGI TUHAN
1
2
3
4
5
Rating 5.00 (2 Votes)

    Diterbitkan hari Kamis, 06 September 2018 00:00
    Ditulis oleh Arie Saptaji   
    Dibaca: 948 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: 2 Korintus 3:1-6

Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah. (2 Korintus 3:5)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yehezkiel 20-21



Penemu telegraf, Samuel F.B. Morse, suatu ketika ditanyai oleh sahabatnya, “Profesor Morse, saat Anda melakukan percobaan di laboratorium Anda di universitas, pernahkah Anda mengalami jalan buntu, tidak tahu lagi apa yang mesti dilakukan selanjutnya?”

“O, tentu, dan bukan hanya satu kali.”

“Pada saat-saat seperti itu, apa yang kemudian Anda lakukan?”

“Setiap kali saya tidak bisa melihat dengan jelas jalan yang harus saya tempuh, saya berdoa meminta Tuhan menyinarkan cahaya yang lebih terang.”

“Dan cahaya itu biasanya muncul?”

“Ya. Dan saya ingin memberi tahu Anda, ketika sanjungan dan penghargaan diberikan atas penemuan saya, saya merasa tidak patut untuk menerimanya. Saya dapat menemukan penggunaan listrik secara bermanfaat bukan karena saya lebih hebat dari orang lain. Hal itu semata-mata karena Tuhan, yang hendak memberkati manusia, harus menyatakannya kepada seseorang, dan Ia berkenan untuk menyatakannya kepada saya.”

Kita tentunya haus akan penghargaan orang atas pencapaian kita. Namun, orang-orang yang berjiwa besar seperti Morse justru memberikan teladan kerendahan hati yang sangat menyentuh. Seperti Paulus, mereka mengakui dan mengucap syukur atas anugerah dan kekuatan Tuhan yang memampukan mereka melahirkan karya-karya yang memberkati umat manusia.

Saat kita mencetak suatu prestasi adalah kesempatan yang bagus untuk mengembangkan kerendahan hati. Apakah kita secara egois “menelan” pujian atas prestasi itu bagi diri sendiri? Atau, kita menggunakannya untuk memuliakan Tuhan?

—ARS/www.renunganharian.net


KITA DAPAT MENGGUNAKAN PENCAPAIAN HEBAT
UNTUK MEMEGAHKAN DIRI ATAU UNTUK MEMULIAKAN TUHAN

Anda diberkati melalui Renungan Harian?
Jadilah berkat dengan mendukung pelayanan kami.
Rek. Renungan Harian BCA No. 456 500 8880 a.n. Yayasan Gloria


September 07, 2018, 04:57:30 AM
Reply #1882
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23781
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/108-september.html

 BENIH YANG BERTUMBUH
1
2
3
4
5
Rating 4.25 (4 Votes)

    Diterbitkan hari Jum'at, 07 September 2018 00:00
    Ditulis oleh Samuel Yudi Susanto   
    Dibaca: 651 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Markus 4:26-29

“Lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu bertunas dan tumbuh, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu.” (Markus 4:27)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yehezkiel 22-24



Setiap petani pasti berharap agar setiap benih yang ditabur tumbuh dengan subur dan menghasilkan buah terbaik. Karena itu ia menyiapkan benih terbaik, menyuburkan tanahnya, dan mencari musim paling tepat, serta menunggu benih itu akan bertunas dan terus bertumbuh. Tetapi si petani tidak akan pernah tahu bagaimana benih itu akan berproses dalam tanah hingga kemudian bertunas. Ia tidak pernah mengetahuinya! Benih yang unggul, tanah yang subur, musim yang tepat, memang akan memengaruhi pertumbuhan tetapi Tuhanlah yang menumbuhkannya tepat pada waktunya.

Yesus menggunakan perumpamaan tentang benih ini untuk mengajar para murid-Nya bahwa setiap benih firman yang diberitakan suatu saat akan bertunas, bertumbuh, dan berbuah. Seperti seorang petani yang tidak pernah tahu bagaimana benih yang ditanamnya bertumbuh, demikianlah benih firman itu bekerja secara tersembunyi dan rahasia, tidak terlihat oleh mata (ay. 27). Tuhan telah bekerja dengan cara-Nya untuk menumbuhkan benih firman yang didengar seseorang dan bagaimana terjadinya, tidak seorang pun mengetahuinya. Tuhan pasti menumbuhkan benih firman itu dalam hati seseorang menurut waktu-Nya yang tepat.

Ketika kita dipercaya Tuhan untuk memberitakan firman-Nya, kita tidak perlu mengkhawatirkan seperti apa pengaruh firman itu pada orang-orang yang mendengarnya atau seperti apa hasilnya. Serahkan saja semuanya kepada Tuhan yang berkuasa menumbuhkan benih itu. Bagian kita adalah percaya bahwa benih firman- Nya tidak akan kembali dengan sia-sia melainkan akan selalu mencapai maksud-Nya (Yes. 55:11).

—SYS/www.renunganharian.net


TAK SATU PUN TAHU BAGAIMANA SEBUTIR BENIH AKAN TUMBUH,
DEMIKIANLAH TUHAN MENUMBUHKAN BENIH FIRMAN DAN MENGUBAH HIDUP ORANG

Anda diberkati melalui Renungan Harian?
Jadilah berkat dengan mendukung pelayanan kami.
Rek. Renungan Harian BCA No. 456 500 8880 a.n. Yayasan Gloria



September 08, 2018, 05:24:32 AM
Reply #1883
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23781
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/108-september.html

 PEDANG KEBENARAN
1
2
3
4
5
Rating 5.00 (1 Vote)

    Diterbitkan hari Sabtu, 08 September 2018 00:00
    Ditulis oleh May Lan   
    Dibaca: 637 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Efesus 6:10-20

Dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah. (Efesus 6:17)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yehezkiel 25-28



Pedang merupakan salah satu senjata andalan yang kerap digunakan oleh para pendekar dalam cerita-cerita silat. Senjata ini menjadi alat yang ampuh bagi mereka ketika berhadapan dengan musuh-musuh yang menciptakan kekacauan dalam dunia persilatan. Konon, akhir dari perjuangan seorang pendekar terletak di mata pedangnya, ujung yang mematikan apabila tepat menghujam bagian vital tubuh lawannya.

Kekristenan pada dasarnya juga bertutur tentang kisah para pendekar Kerajaan Allah dengan pedang Roh di tangan mereka. Pedang ini jauh lebih kuat dan lebih tajam daripada pedang bermata dua mana pun (Ibr. 4:12). Pedang Roh adalah pedang kebenaran, karena ia berbicara tentang firman Allah (ay. 17). Ia merupakan senjata dahsyat yang tidak bisa dilepaskan dari kebenaran yang melekat pada dirinya.

Kedahsyatan pedang Roh dibutuhkan untuk mengatasi iblis dan antek-anteknya, para musuh yang tidak terdiri atas darah dan daging (ay. 11, 12). Selain itu, ia juga diperlukan dalam proses pembentukan karakter ilahi para pendekar-Nya. Inilah yang sekaligus menandai keistimewaannya sebagai pedang bermata dua: sebagai pembentuk karakter diri dan sebagai senjata melawan musuh.

Kedigdayaan seorang pendekar Kerajaan Allah ditentukan oleh kepiawaiannya mengayunkan pedang kebenaran sepanjang hidupnya. Ujung pedang itu akan selalu diarahkan kepada intimidasi penguasa kegelapan dan ke-aku-an diri. Ya, kebenaran memerdekakan kita dari musuh, dari luar dan dari dalam.

—EML/www.renunganharian.net


PADA AKHIRNYA KEBENARAN AKAN MENANG,
BILA BERSUMBER PADA Firman Tuhan


September 09, 2018, 04:51:00 AM
Reply #1884
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23781
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/108-september.html

 MENU KEBENARAN
1
2
3
4
5
Rating 3.00 (2 Votes)

    Diterbitkan hari Minggu, 09 September 2018 00:00
    Ditulis oleh Go Hok Jin   
    Dibaca: 378 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Markus 2:13-17

Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Markus 2:17)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yehezkiel 29-32



Sewaktu masih aktif di komisi pemuda gereja, momen yang saya sukai adalah makan bersama teman-teman gereja. Mengapa? Karena momen itu tak hanya kami habiskan untuk sekadar makan-minum lalu kami kembali ke rumah kos masing-masing. Sering kali kami menggunakan waktu bersama itu untuk membahas Firman Tuhan beserta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Tak jarang, kami berdoa bersama atau saling mendoakan ketika ada yang berulang tahun.

Suasana makan memang terkesan lebih santai, sehingga banyak orang menikmatinya. Banyak hal bisa dilakukan sembari menikmati makanan, lebih dari sekadar acara makan minum biasa. Salah satunya adalah membicarakan dan mengajarkan tentang kebenaran Firman Tuhan. Yesus memanfaatkan kesempatan ini ketika makan bersama para pemungut cukai dan orang-orang yang dianggap berdosa. Hari itu, Yesus sedang bertindak seperti seorang tabib yang berada di kumpulan orang-orang sakit. Cemoohan dari para ahli agama pun dijadikan titik tolak oleh Yesus untuk mengajarkan prinsip kebenaran, yakni Yesus datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan memanggil orang berdosa.

Bagaimana dengan suasana di meja makan kita selama ini? Apakah kita pernah menjadikan momen tersebut untuk membicarakan dan mengajarkan kebenaran? Yesus sudah mencontohkan dan kita hanya perlu mengikuti teladan-Nya. Mulai hari ini, mari tambahkan “menu kebenaran” setiap kali kita menikmati hidangan. Jika memungkinkan, kita kenalkan Yesus kepada orang-orang yang belum mengenal Tuhan, supaya mereka boleh mengenal-Nya.

—GHJ/www.renunganharian.net


KEBENARAN DAPAT DISAMPAIKAN DI MANA SAJA,
TERMASUK DALAM SUASANA SANTAI


September 10, 2018, 05:10:09 AM
Reply #1885
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23781
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/108-september.html

 MERASA BERSALAH
1
2
3
4
5
Rating 5.00 (4 Votes)

    Diterbitkan hari Senin, 10 September 2018 00:00
    Ditulis oleh Eddy Nugroho   
    Dibaca: 709 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Kejadian 42:18-28

Mereka berkata seorang kepada yang lain: "Betul-betullah kita menanggung akibat dosa kita terhadap adik kita itu: bukankah kita melihat bagaimana sesak hatinya, ketika ia memohon belas kasihan kepada kita, tetapi kita tidak mendengarkan permohonannya. Itulah sebabnya kesesakan ini menimpa kita." (Kejadian 42:21)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yehezkiel 33-36



Sewaktu SMA saya pernah menanggung perasaan bersalah yang sedemikian parah sehingga saya menderita depresi yang cukup berat. Karena merasa tidak mendapatkan jalan keluar, saya memutuskan untuk bunuh diri. Akan tetapi, karena kasih Tuhan semata, usaha bunuh diri tersebut gagal. Sejak saat itu saya berhati-hati dan tidak menganggap sepele rasa bersalah. Saya mendapati hanya penyesalan, pertobatan, dan pengampunanlah yang mampu membebaskan kita dari perasaan bersalah yang menekan itu.

Sebenarnya kakak-kakak Yusuf telah mengalami kasih karunia Yusuf yang tidak mau membalas perbuatan mereka. Ya, jalan keluar serta makanan yang diberikan kepada mereka adalah suatu bentuk kasih karunia, yaitu kebaikan yang mereka peroleh sebagai ganti dari kejahatan pada masa lalu. Namun, mereka hanya memusatkan perhatian pada kejahatan mereka sendiri sehingga mereka begitu takut. Mereka sulit melihat apa yang mereka alami di Mesir itu sebagai jalan Tuhan dalam memelihara kehidupan mereka. Dosa-dosa mereka telah membuat mereka sulit melihat kasih karunia Tuhan melalui Yusuf.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita juga termasuk orang yang sedang dikejar-kejar oleh perasaan bersalah? Janganlah menjauhi Tuhan, melainkan datanglah pada Yesus. Dialah Juru Selamat manusia yang mampu menghapuskan dosa-dosa kita dan menerima kita dengan kasih karunia. Kita hanya perlu menyesali dosa, bertobat, dan menerima Dia sebagai Tuhan dan Juru Selamat kita.

—ENO/www.renunganharian.net


JALAN UNTUK MENGIKIS RASA BERSALAH HANYALAH
DENGAN MEMOHON PENGAMPUNAN DAN BERTOBAT

Anda diberkati melalui Renungan Harian?
Jadilah berkat dengan mendukung pelayanan kami.
Rek. Renungan Harian BCA No. 456 500 8880 a.n. Yayasan Gloria



September 11, 2018, 05:16:04 AM
Reply #1886
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23781
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/108-september.html

 LARI DARI KENYATAAN
1
2
3
4
5
Rating 5.00 (2 Votes)

    Diterbitkan hari Selasa, 11 September 2018 00:00
    Ditulis oleh Pipi Agus Dhali   
    Dibaca: 526 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Yunus 1:1-16

Datanglah nakhoda mendapatkannya sambil berkata: "Bagaimana mungkin engkau tidur begitu nyenyak? Bangunlah...." (Yunus 1:6)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yehezkiel 37-39



Cold Case (Kasus Peti Es). Film serial TV ini mengangkat kisah pembunuhan yang sudah lama dipetieskan. Beberapa dibuka dan diusut kembali. Para pelaku yang sebenarnya pun tertangkap setelah sempat bebas puluhan tahun. Semuanya mengaku, selama itu mereka terus dihantui kejahatan mereka. Meskipun berupaya keras untuk melupakan dan menghindar dari kenyataan itu, mereka gagal. Gelisah. Tidur tak nyenyak. Berkeringat dingin. Mimpi seram. Dan sebagainya. Ongkos lari dari kenyataan sungguh mahal.

Yunus bukan pelaku tindak kriminal. Namun, ia pun lari dari kenyataan. Tuhan mengutusnya pergi ke Niniwe, tetapi ia menghindarinya sekuat tenaga. Naik kapal, pergi ke arah berlawanan. Bahkan ia berusaha menutup mata dengan tidur. Pura-pura tak peduli sekitar. Berhasilkah ia? Sama sekali tidak! Tidurnya terganggu. Semua mata dan telunjuk jari mengarah kepadanya. Bukannya mendarat di pelabuhan Tarsis, ia malah dilempar ke tengah samudera dan ditelan ikan besar. Ongkos mahal harus dibayarnya! Tuhan mau Yunus menghadapi kenyataan.

Godaan untuk lari dari kenyataan ada di mana-mana dan menyerbu siapa saja. Jalur pelarian pun macam-macam. Mulai dari bermalas-malasan, minuman keras, pornografi, perselingkuhan, sampai dengan penggunaan narkoba. Aktivitas kerja, pelayanan, dan kehidupan rumah tangga yang penuh drama kepalsuan pun bisa menjadi pelarian. Awalnya terasa baik-baik saja, tetapi tagihan ongkosnya pasti menyusul kemudian. Maka, janganlah lari dari kenyataan. Hadapilah! Tuhan beserta kita.

—PAD/www.renunganharian.net


KENYATAAN YANG DIHINDARI SAMA DENGAN UTANG BERTUMPUK
YANG PADA SAATNYA AKAN MENAGIH UNTUK DILUNASI

Anda diberkati melalui Renungan Harian?
Jadilah berkat dengan mendukung pelayanan kami.
Rek. Renungan Harian BCA No. 456 500 8880 a.n. Yayasan Gloria


September 12, 2018, 05:28:03 AM
Reply #1887
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23781
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/108-september.html

 ALASAN DI BALIK PEMBERIAN
1
2
3
4
5
Rating 5.00 (1 Vote)

    Diterbitkan hari Rabu, 12 September 2018 00:00
    Ditulis oleh Linawati Santoso   
    Dibaca: 990 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Matius 6:1-4

“Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu.” (Matius 6:3)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yehezkiel 40-42



Eddo sakit dan dirawat di rumah sakit. Bu Guru lalu mengumumkan agar besok semuanya membawa sumbangan. Lonny, teman Eddo, galau memikirkan berapa uang yang harus ia bawa. Lonny berasal dari keluarga mampu. Sayangnya, ia hanya mau menyumbang banyak jika diadakan pencatatan. Dengan demikian, akan kelihatan siapa menyumbang berapa. Masalahnya, Bu Guru tadi tidak menyebutkan apakah sumbangan mereka bakal dicatat atau langsung dimasukkan ke dalam kotak.

Beberapa orang sering bertindak seperti Lonny. Apabila sumbangan dipungut melalui kantong persembahan, mereka memberikan ala kadarnya. “Asal tanganku ikut memasukkan uang, itu sudah bagus,” pikir mereka. Akan tetapi, ketika dilakukan pencatatan, tiba-tiba mereka jadi sigap memberi lebih banyak. Entah karena gengsi entah karena ingin dipuji. Padahal, Yesus mengingatkan: “Jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu” (ay. 3). Ucapan Yesus ini tentu tidak dapat diartikan secara harfiah. Melalui perkataan-Nya, Yesus menasihatkan agar kita tidak mencari perkenanan manusia ketika memberikan sedekah, persembahan, atau sumbangan.

Kita perlu mengoreksi hati secara pribadi. Apabila di dalam hati kita masih terdapat berbagai motivasi yang keliru ketika memberi, kita perlu segera menyingkirkannya! Percayalah, kita tidak akan pernah kehilangan upah untuk setiap pemberian yang tulus. Mengapa? Karena tidak ada suatu kebaikan yang luput dari pengetahuan Allah.

—LIN/www.renunganharian.net


BUKAN BANYAKNYA PERSEMBAHAN YANG MENYENANGKAN HATI TUHAN,
MELAINKAN KETULUSAN KETIKA MEMBERIKAN PERSEMBAHAN ITU

Anda diberkati melalui Renungan Harian?
Jadilah berkat dengan mendukung pelayanan kami.
Rek. Renungan Harian BCA No. 456 500 8880 a.n. Yayasan Gloria


September 13, 2018, 05:14:32 AM
Reply #1888
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23781
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/108-september.html

 PERINGATAN TUHAN
1
2
3
4
5
Rating 4.67 (3 Votes)

    Diterbitkan hari Kamis, 13 September 2018 00:00
    Ditulis oleh Pipi Agus Dhali   
    Dibaca: 775 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Keluaran 7:14-8:19

Demikianlah nyamuk-nyamuk itu hinggap pada manusia dan pada binatang. (Keluaran 8:18b)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yehezkiel 43-45



Tulah pertama—air menjadi darah— melanda Mesir dengan peringatan lebih dahulu kepada Firaun di saat pagi hari kala pikirannya masih jernih (Kel. 7:15-16). Tulah kedua—katak—menyergap masih dengan peringatan juga walau tanpa keterangan waktu (Kel. 8:1). Tulah ketiga—nyamuk—menyerbu tanpa peringatan lagi. Tulah pertama tak menyentuh badan. Yang kedua melompat ke badan. Berikutnya, ketiga, menggigit badan.

Colin J. Humphreys—ilmuwan yang secara serius mendalami sepuluh tulah di Mesir secara ilmiah—yakin bahwa serangga yang menyerbu tanah Mesir, di bulan Oktober dan November, sebagai tulah berikut menyusul keluarnya katak dari Sungai Nil, ialah Culicoides canithorax. Jenis serangga bersayap ini gigitannya menimbulkan berbagai reaksi pada tubuh manusia, termasuk alergi yang amat mengusik. Apalagi jika datang dalam jumlah yang “sebanyak debu di tanah” (Kel. 8:17).

Kendati banyak yang meragukannya, hukuman Tuhan itu ada. Nyata. Yang membuat kita bersyukur, Tuhan tak pernah menghukum semena-mena tanpa alasan. Juga bukannya tanpa peringatan. Hanya, jika dari waktu ke waktu peringatan-Nya terus diabaikan, hukuman itu pasti meningkat. Itu pun sebuah peringatan. Firaun pun diperingatkan, apalagi kita. Bersyukurlah atas kesabaran Tuhan dan belajarlah menjadi peka akan peringatan-peringatan dari-Nya.

—PAD/www.renunganharian.net


YA, PERINGATAN-PERINGATAN-MU MENJADI KEGEMARANKU,
MENJADI PENASIHAT-PENASIHATKU.—Raja Daud, Mazmur 119:24

Anda diberkati melalui Renungan Harian?
Jadilah berkat dengan mendukung pelayanan kami.
Rek. Renungan Harian BCA No. 456 500 8880 a.n. Yayasan Gloria


September 14, 2018, 05:16:59 AM
Reply #1889
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23781
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/108-september.html

 MASALAH DAN HARAPAN
1
2
3
4
5
Rating 5.00 (1 Vote)

    Diterbitkan hari Jum'at, 14 September 2018 00:00
    Ditulis oleh Endang B. Lestari   
    Dibaca: 813 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Roma 5:1-11

Melalui Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman ke dalam anugerah ini. Di dalam anugerah ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. (Roma 5:2)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yehezkiel 46-48



Hidup bebas dari pergumulan dan penderitaan sering dianggap sebagai ciri-ciri orang beriman. Hidup mereka hanya dipenuhi dengan berkat dan pengharapan. Sebaliknya, pergumulan dan penderitaan menunjukkan besarnya dosa seseorang. Semakin besar dosa yang diperbuat, semakin sering dan pelik pergumulan yang dihadapi.

Menyerahkan hidup di dalam Kristus memang membuat kita beroleh damai sejahtera, karena kita beroleh anugerah dan diperdamaikan dengan Allah. Namun di sisi lain, hidup dalam damai sejahtera tidak identik dengan bebas masalah, pergumulan dan penderitaan. Selama hidup di dunia, pergumulan dan penderitaan bisa menghampiri siapa saja, termasuk orang percaya yang beriman teguh. Bedanya, bagi orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, pergumulan dan penderitaan tidak lagi bersifat merusak, melainkan membangun. Menjadikannya semakin tekun, tahan uji dan berpengharapan kepada Tuhan. Bergantung penuh kepada Tuhan sebagai satu-satunya Penolong.

Dengan memandang harapan di dalam Tuhan dan mengandalkan pertolongan ROH KUDUS, orang percaya tidak perlu memandang masalah sebagai kutukan. Malah, kita bersukacita karena penderitaan yang kita alami menjadi sarana pertumbuhan iman dan membuat kita lebih sabar. Terlebih lagi jika kita menyadari bahwa pengharapan hanya menjadi milik orang yang mempunyai masalah! Bukankah jika kita renungkan akan kita pahami bahwa masalah adalah jarak antara harapan dengan kenyataan? Dengan demikian, masalah akan selalu ada selama kita memiliki harapan.

—EBL/www.renunganharian.net


JIKA ADA HARAPAN DI BALIK SETIAP MASALAH,
MENGAPA KITA MEMANDANG MASALAH DENGAN KETAKUTAN?

Anda diberkati melalui Renungan Harian?
Jadilah berkat dengan mendukung pelayanan kami.
Rek. Renungan Harian BCA No. 456 500 8880 a.n. Yayasan Gloria


 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)