Author Topic: Renungan Harian®  (Read 97817 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

October 07, 2018, 04:30:14 AM
Reply #1910
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/109-oktober.html

 MELIPAT KEPAHITAN
1
2
3
4
5
Rating 5.00 (2 Votes)

    Diterbitkan hari Minggu, 07 Oktober 2018 00:00
    Ditulis oleh May Lan   
    Dibaca: 296 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Kejadian 45

“Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu.” (Kejadian 45:5)


Bacaan Alkitab Setahun:
Matius 15-17



Seni melipat kertas dari Jepang, origami, telah kita kenal sejak duduk di bangku Taman Kanak-kanak. Origami mensyaratkan pengetahuan dan keterampilan dalam melipat kertas supaya dapat menghasilkan suatu karya yang indah. Tanpa pengetahuan yang benar dan keterampilan yang memadai, kita tidak akan bisa menciptakan lipatan-lipatan kertas menjadi bentuk yang kita inginkan. Bentuk-bentuk yang unik dan indah.

Kisah Yusuf merupakan cerita sukses seorang anak manusia dalam melipat seluruh kepahitan yang terjadi dalam hidupnya. Kesuksesan hidup diraih Yusuf lantaran ia memiliki pengetahuan yang benar akan rencana Tuhan dalam hidupnya (ay. 5). Mimpi-mimpi pada masa mudanya bukanlah mimpi tanpa visi. Yusuf memandang mimpi sebagai pengetahuan yang memampukan dirinya untuk melihat masa depan keberlangsungan bangsanya.

Berbekal pengetahuan tersebut, Yusuf terampil dalam melipat seluruh pengalaman hidupnya yang tidak menyenangkan. Perlakuan buruk dari saudara-saudaranya hingga mendekam di penjara Mesir merupakan rangkaian kepahitan yang harus dilaluinya supaya dapat menyelamatkan ayah dan saudara-saudaranya dari bahaya kelaparan. Keselamatan Yakub dan keluarganya menandai keindahan rencana Tuhan melalui hidup Yusuf.

Kepahitan hidup yang berhasil diatasi oleh Yusuf laksana lipatan-lipatan ilahi yang menghasilkan satu bentuk keindahan di tangan Sang Maestro Agung. Hidup Yusuf adalah bukti yang tak terbantahkan.

—EML/www.renunganharian.net


KARYA KEHIDUPAN YANG INDAH DI MATA TUHAN BEKERJA MELALUI PENGETAHUAN
DAN KETERAMPILAN KITA DALAM MELIPAT SELURUH KEPAHITAN HIDUP

Anda diberkati melalui Renungan Harian?
Jadilah berkat dengan mendukung pelayanan kami.
Rek. Renungan Harian BCA No. 456 500 8880 a.n. Yayasan Gloria



October 08, 2018, 06:00:51 AM
Reply #1911
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/109-oktober.html

 MENYIAPKAN DIRI
1
2
3
4
5
Rating 4.11 (9 Votes)

    Diterbitkan hari Senin, 08 Oktober 2018 00:00
    Ditulis oleh Richard Tri Gunadi   
    Dibaca: 1338 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Lukas 12:35-48

Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah dengan mengucap syukur. (Kolose 4:2)


Bacaan Alkitab Setahun:
Matius 18-20



Selain menunggu, berjaga-jaga adalah pekerjaan yang membosankan. Sebuah perusahaan suatu ketika kecurian. Berdasarkan rekaman CCTV, para maling beraksi pada pukul 2 dini hari. Meski ada beberapa satpam, mereka leluasa mencuri barang berharga karena semua satpam tertidur. Sebelum beraksi, mereka sudah melakukan pengamatan sehingga tahu kapan para satpam siaga dan kapan mereka tidur nyenyak.

Kristus mau kita selalu berjaga-jaga. Merasa aman membuat seseorang tak berjaga-jaga. Akibatnya, orang itu menjadi lemah imannya dan akhirnya suam-suam secara rohani.

Berjaga-jaga adalah tindakan menunggu atau menjaga sesuatu yang berharga. Apa yang kita tunggu sebagai orang Kristen? Kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali, yang tidak kita ketahui waktunya. Kita adalah hamba yang baik saat selalu setia mengerjakan segala perintah Yesus. Kita bertindak seperti hamba yang selalu berjaga menunggu tuannya datang dari pesta perkawinan.

Bagaimana caranya agar berjaga-jaga menjadi hal yang menyenangkan? Kita harus selalu mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Kristus, dengan hidup sesuai segala perintah-Nya. Saat berjaga-jaga, kita tidak membiarkan iman kita tercuri oleh berbagai kenikmatan dunia. Apakah setiap hari saya berjaga-jaga? Apakah saya sudah mempersiapkan diri secara pribadi sehingga tidak malu bertemu dengan Kristus saat Dia tiba-tiba datang? Berbahagialah kita jika saat Kristus datang, Dia mendapati kita berjaga-jaga menantikan kedatangan-Nya.

—RTG/www.renunganharian.net


SAAT BERJAGA, KITA MENYIAGAKAN HATI DAN ROH
UNTUK SIAP MENYAMBUT KEDATANGAN-NYA

Anda diberkati melalui Renungan Harian?
Jadilah berkat dengan mendukung pelayanan kami.
Rek. Renungan Harian BCA No. 456 500 8880 a.n. Yayasan Gloria



October 09, 2018, 05:13:04 AM
Reply #1912
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/109-oktober.html

 KESEMPATAN DAN RISIKO
1
2
3
4
5
Rating 4.00 (7 Votes)

    Diterbitkan hari Selasa, 09 Oktober 2018 00:00
    Ditulis oleh Endang B. Lestari   
    Dibaca: 801 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Pengkhotbah 11:1-8

Siapa senantiasa memperhatikan angin tidak akan menabur; dan siapa senantiasa melihat awan tidak akan menuai (Pengkhotbah 11:4)


Bacaan Alkitab Setahun:
Matius 21-22



Seorang perempuan tua bekerja mencari kayu bakar. Ia tidak hanya menafkahi dirinya, tetapi juga cucu dan cicitnya. Penghasilannya tak seberapa, tetapi ia hidup dengan semangat. Ia pun aktif bergereja. Ia tak khawatir acara gereja menyita waktu yang bisa ia pakai untuk mencari nafkah atau keuangannya semakin menipis karena terlalu sering memberi persembahan. “Tuhan selalu mencukupkan kebutuhan saya!” ujarnya.

Secara nalar, rasanya sulit bagi perempuan itu untuk menemukan sukacita dalam hidup. Namun, dalam usia yang semakin tua, fisik yang semakin lemah, tanggung jawab yang berat, kondisi ekonomi yang sulit, ia masih bisa meluangkan waktu untuk Tuhan. Sebuah pengakuannya yang cukup menggelitik, “Apakah saya harus menunggu kaya? Saya lakukan apa yang saya bisa. Kalau tidak begitu, sampai mati saya tidak akan pernah melakukan apa-apa!”

Ketika kita memercayakan hidup pada pemeliharaan Tuhan, kesulitan hidup tidak bakal menjadi hambatan. Optimisme dan rasa syukur membuat kita dipenuhi sukacita dan semangat hidup. Salomo menuliskan bahwa siapa yang senantiasa memperhatikan angin tidak akan menabur; dan siapa senantiasa melihat awan tidak akan menuai (ay. 4). Kita harus berani mengambil kesempatan. Orang harus berani mengambil risiko jika ingin berhasil. Menunggu kondisi menjadi baik, yakni saat kita merasa hidup kita berjalan aman, nyaman, dan mapan tanpa gangguan, kita akan kehilangan kesempatan untuk melakukan banyak hal bagi kemuliaan Tuhan.

—EBL/www.renunganharian.net


MEMUSATKAN HIDUP PADA ALLAH MENGHASILKAN
SIKAP OPTIMISTIS DAN UNGKAPAN SYUKUR

Anda diberkati melalui Renungan Harian?
Jadilah berkat dengan mendukung pelayanan kami.
Rek. Renungan Harian BCA No. 456 500 8880 a.n. Yayasan Gloria



October 10, 2018, 05:20:52 AM
Reply #1913
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/109-oktober.html

 TIDAK HANYA MERATAP
1
2
3
4
5
Rating 4.75 (4 Votes)

    Diterbitkan hari Rabu, 10 Oktober 2018 00:00
    Ditulis oleh Linawati Santoso   
    Dibaca: 835 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Kejadian 39:1-23

Segala miliknya diserahkannya pada kekuasaan Yusuf, dan dengan bantuan Yusuf ia tidak usah lagi mengatur apa-apa pun selain dari makanannya sendiri. (Kejadian 39:6a)


Bacaan Alkitab Setahun:
Matius 23-24



Semasa kecil, saya suka menangis ketika menghadapi masalah. Ayah saya lalu mengatakan: “Berhentilah menangis! Masalah tidak akan selesai hanya dengan menangisinya.”

Menangis atau meratap tidak dapat menyelesaikan masalah atau mengubahkan keadaan. Hal itu disadari betul oleh Yusuf. Sekalipun ia memiliki alasan kuat untuk meratapi nasibnya, Yusuf memilih untuk bangkit. Kehidupan Yusuf yang semula adalah anak kesayangan ayahnya berubah total sewaktu ia dijual oleh saudara-saudaranya sebagai budak di Mesir. Di rumah Potifar, Yusuf bekerja dengan baik dan Tuhan menuntun sehingga Yusuf menjadi pekerja yang sungguh-sungguh dan bisa diandalkan tuannya. Itulah sebabnya Potifar memberikan kuasa atas segala miliknya kepada Yusuf (ay. 2-6). Bahkan ketika Yusuf dipenjara karena fitnah dari istri Potifar, sekali lagi Yusuf tidak membiarkan dirinya larut dalam kesedihan. Ia kembali bekerja dengan giat. Itulah sebabnya kepala penjara memercayakan semua tahanan dan pekerjaan penjara kepada Yusuf (ay. 20-23).

Kita pasti pernah mengalami peristiwa yang menyedihkan. Kita boleh saja bersedih tetapi jangan membiarkan diri kita terlalu lama larut dalam kesedihan. Terus-menerus meratapi keadaan hanya menambah kepedihan hati dan memberatkan langkah ke depan. Daripada terus meratap, lebih tepat apabila kita menyerahkan situasi atau persoalan kita kepada Tuhan di dalam doa. Percayalah bahwa Tuhan sanggup memulihkan kondisi kehidupan kita. Tuhan bahkan akan memberikan kekuatan kepada kita untuk kembali melangkah.

—LIN/www.renunganharian.net


LANGKAH AWAL UNTUK MENGGAPAI KEBERHASILAN YANG TELAH DISEDIAKAN TUHAN
ADALAH BERHENTI MERATAPI KEADAAN

Anda diberkati melalui Renungan Harian?
Jadilah berkat dengan mendukung pelayanan kami.
Rek. Renungan Harian BCA No. 456 500 8880 a.n. Yayasan Gloria



October 11, 2018, 05:06:38 AM
Reply #1914
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/109-oktober.html

 MENGHADAPI TRAUMA
1
2
3
4
5
Rating 3.00 (4 Votes)

    Diterbitkan hari Kamis, 11 Oktober 2018 00:00
    Ditulis oleh Sidik Nugroho   
    Dibaca: 781 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Yeremia 31:1-40

“Masih ada harapan untuk hari depanmu, demikianlah Firman Tuhan: anak-anak akan kembali ke daerah mereka.” (Yeremia 31:17)


Bacaan Alkitab Setahun:
Matius 25-26



Pada bulan-bulan Juni 2006-Juni 2007 adik saya, yang bekerja di Badan Pertanahan Nasional (BPN), mendapat tugas khusus di Aceh. Tugasnya mengembalikan batas tanah milik warga yang terkena tsunami. Saat itu trauma akan tsunami masih kuat: air yang tiba-tiba datang menghantam rumah penduduk, menggulung dan memutarbalikkan kehidupan dalam sekejap.

Trauma bercokol di benak seseorang karena peristiwa tragis yang terus dikenang. Tak ada seorang pun yang pernah mengundang kemalangan, bencana, atau musibah hadir dalam hidupnya—tapi dari situlah trauma berasal. Trauma seperti mimpi buruk: tak diduga datang, tapi terus membayangi kita.

Setelah bangsa Israel dibuang, nabi Yeremia mengenang kejayaan masa lalu bangsa itu. Bila kita membaca kitab Yeremia dari awal hingga akhir, kita pun akan tahu, bahwa Yeremia dilanda ketakutan dan sering meratap. Namun, di balik ketakutan dan kengerian yang ia tuliskan, ia percaya adanya hari depan yang baik bagi Israel—“Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah Firman Tuhan, bahwa kota itu akan dibangun kembali bagi TUHAN...” (ay. 38).

Kehidupan terus bergulir. Seseorang yang merasakan trauma saat mengenang masa lalunya, bisa bangkit dan merasakan sukacita saat memandang masa depannya. Keadaan kita hari ini adalah proyeksi dari masa lalu kita; dan keadaan hari depan semestinya merupakan proyeksi dari hari ini, bukan melulu masa lalu. Berbeda bukan, bila hari ini kita memercayakan hidup kita pada janji dan penyertaan Tuhan?

—SN/www.renunganharian.net


MASA DEPAN YANG GEMILANG SUNGGUH ADA. KITA PERLU MENATA HATI
SAAT INI DENGAN MENGAMPUNI DAN MELUPAKAN MASA LALU

Anda diberkati melalui Renungan Harian?
Jadilah berkat dengan mendukung pelayanan kami.
Rek. Renungan Harian BCA No. 456 500 8880 a.n. Yayasan Gloria


October 12, 2018, 05:22:26 AM
Reply #1915
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/109-oktober.html

 MEMPERTAHANKAN KENYAMANAN
1
2
3
4
5
Rating 3.88 (8 Votes)

    Diterbitkan hari Jum'at, 12 Oktober 2018 00:00
    Ditulis oleh Heman Elia   
    Dibaca: 850 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Lukas 8:4-15

“Yang jatuh dalam semak duri ialah orang-orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekhawatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang.” (Lukas 8:14)


Bacaan Alkitab Setahun:
Matius 27-28



Ada diskusi menarik setelah beberapa tahun saya bekerja di sebuah instansi. Waktu itu gaji kami baru saja dinaikkan. Standar penghasilan kami memang tidak sebesar mereka yang bekerja di instansi lain, apalagi dibanding di perusahaan. Tak heran, ketidakpuasan pun merebak. Tetapi seorang teman berujar, setengah menertawakan dirinya, bahwa dulu tatkala gaji masih kecil, dirinya merasa cukup. Setelah gaji dinaikkan, dia justru merasa tidak cukup. Harus saya akui, yang dia katakan benar adanya. Naiknya penghasilan ada kalanya justru bisa memperbesar perasaan tidak puas.

Ketika hidup terasa semakin nyaman, kita pun berusaha mempertahankan kenikmatan itu. Tuntutan kita bahkan justru semakin meningkat. Munculnya kekhawatiran menjadi pertanda ketidakrelaan kita kehilangan kenyamanan yang telah kita raih. Masalahnya, rasa khawatir lalu menggerogoti hidup rohani kita. Yesus menggambarkan kekhawatiran dan kenikmatan hidup itu bagaikan tanah yang dipenuhi semak duri. Firman Tuhan tidak lagi menyegarkan jiwa karena tidak mampu bertumbuh subur.

Kesejahteraan jiwa seharusnya kita utamakan. Caranya adalah dengan membaca, merenungkan, dan hidup di dalam firman setiap saat (Mzm. 1:2-3). Namun kita sering berpikir terbalik. Kita menyibukkan diri sedemikian rupa untuk mengejar penghasilan tambahan. Akibatnya, kita kelelahan dan dipenuhi kecemasan. Saatnya kita kembali mengutamakan Firman Tuhan. Agar kita memperoleh kepuasan hidup yang sejati.

—HEM/www.renunganharian.net


MARI KITA MENGEJAR KERAJAAN ALLAH DAN KEBENARANNYA,
SEMBARI MEMPERSILAKAN TUHAN MENGURUS SISANYA.—Matius 6:33

Anda diberkati melalui Renungan Harian?
Jadilah berkat dengan mendukung pelayanan kami.
Rek. Renungan Harian BCA No. 456 500 8880 a.n. Yayasan Gloria



October 13, 2018, 05:11:49 AM
Reply #1916
October 15, 2018, 05:50:14 AM
Reply #1917
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/109-oktober.html

 HIDUP DALAM DONGENG
1
2
3
4
5
Rating 3.50 (4 Votes)

    Diterbitkan hari Senin, 15 Oktober 2018 00:00
    Ditulis oleh Hoki Cahyadi   
    Dibaca: 1294 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: 2 Timotius 4:1-8

Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng. (2 Timotius 4:4)


Bacaan Alkitab Setahun:
Markus 6-7



Belum lama ini muncul agama baru bernama “Way of the Future,” yang menjadikan kecerdasan buatan sebagai figur Tuhan. Peristiwa ini membuktikan bahwa pada akhir zaman ini manusia rentan terbuai oleh dongeng, yakni semua hal yang sesuai dengan keinginan telinga tanpa peduli akan kebenaran. Contohnya, manusia dapat menikah dengan robot. Robot dapat diprogram untuk mengiyakan semua keinginan kita tanpa peduli akan esensi kebenarannya. Mengerikan, bukan?

Ayat hari ini mencatat, manusia akan mencari segala sesuatu yang dapat memuaskan mata dan telinga mereka tanpa memandang apakah hal itu benar atau tidak. Lantas, apa yang harus kita lakukan terhadap serbuan kemajuan teknologi yang tidak terhindarkan ini?

Syukurlah Firman Tuhan telah memberikan jalan keluarnya (ay. 2-3). Firman Tuhan dapat dijadikan pegangan dan petunjuk bagi orang beriman sejak saat ditulis sampai pada akhir zaman. Kita harus siap sedia. Artinya, kita harus sudah memiliki dasar firman yang teguh sehingga tidak mudah tergoyahkan oleh ajaran yang tidak sesuai dengan kebenaran.

Kita harus menguasai diri kita dalam segala hal. Kita menyatakan apa yang salah dan menasihati mereka yang keluar dari koridor kebenaran dengan sabar. Dan, kita menunaikan tugas pelayanan, yakni memberitakan kebenaran firman-Nya. Dengan pertolongan ROH KUDUS, kita akan dimampukan untuk tetap berpegang dalam kebenaran Firman Tuhan di tengah dunia yang terbuai dalam dongeng.

—HC/www.renunganharian.net


Firman Tuhan ADALAH KEBENARAN YANG SENANTIASA RELEVAN
UNTUK MENANGKIS DONGENG DAN KEPALSUAN DARI ZAMAN KE ZAMAN

Anda diberkati melalui Renungan Harian?
Jadilah berkat dengan mendukung pelayanan kami.
Rek. Renungan Harian BCA No. 456 500 8880 a.n. Yayasan Gloria


October 16, 2018, 05:21:37 AM
Reply #1918
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/109-oktober.html

 SUARA TUHAN DI BALIK BENCANA
1
2
3
4
5
Rating 4.60 (5 Votes)

    Diterbitkan hari Selasa, 16 Oktober 2018 00:00
    Ditulis oleh Eddy Nugroho   
    Dibaca: 907 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Yoel 1

Ceritakanlah tentang itu kepada anak-anakmu, dan biarlah anak-anakmu menceritakannya kepada anak-anak mereka, dan anak-anak mereka kepada angkatan yang kemudian. (Yoel 1:3)


Bacaan Alkitab Setahun:
Markus 8-9



Hampir setiap hari kita disuguhi berita bencana di layar kaca. Gempa bumi, banjir bandang, tanah longsor, gunung meletus silih berganti menghiasi berita. Apakah bumi yang semakin tua? Atau ulah manusia semakin menggila mengeksploitasi bumi demi uang? Atau Tuhan mulai bosan dengan tingkah polah kita? Semuanya hanya tanya dan jawabnya terdengar sayup-sayup tak jelas. Apa makna terjadinya bencana bagi kita? Apa pula hikmah yang bisa kita petik dari petaka yang terjadi?

Nubuat apa yang disampaikan nabi Yoel? Serbuan belalang yang mengerikan! Begitu mengerikan karena bencana sehebat itu tidak pernah terjadi sebelumnya. Di ayat 4 ada keterangan tentang empat jenis belalang yang muncul susul-menyusul: belalang pindahan, belalang pengerip, belalang pelompat, dan belalang pelahap. Dapat kita perkirakan betapa besarnya "pasukan" belalang ini. Seluruh dedaunan luluh lantak digunduli dan tanaman dibuat rata dengan tanah. Bagi masyarakat agraris, bencana ini sangat mengerikan.

Kendati bukan berwujud hama belalang, negeri kita akhir-akhir ini tak sepi dari bencana. Seruan Yoel untuk bangun dan meratap mengajak kita untuk memaknai bencana atau krisis dengan doa dan keprihatinan seraya bertanya, "Apa suara Tuhan yang hendak diperdengarkan buat bangsa kita?" Kiranya kita belajar untuk peka mendengar suara Tuhan dari balik bencana yang terjadi. Semoga kita juga diberi keberanian untuk mewartakan suara Tuhan agar bangsa ini dapat belajar dari bencana dan bertobat dari dosa-dosanya.

—ENO/www.renunganharian.net


KITA INI MAKHLUK PEMBELAJAR, JADI BISA BELAJAR
DARI APA SAJA BAHKAN DARI BENCANA SEKALIPUN

Anda diberkati melalui Renungan Harian?
Jadilah berkat dengan mendukung pelayanan kami.
Rek. Renungan Harian BCA No. 456 500 8880 a.n. Yayasan Gloria



October 17, 2018, 05:22:44 AM
Reply #1919
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/109-oktober.html

 PALSU
1
2
3
4
5
Rating 4.50 (6 Votes)

    Diterbitkan hari Rabu, 17 Oktober 2018 00:00
    Ditulis oleh Jacqualine Bunga   
    Dibaca: 978 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Matius 7:15-23

“Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedangkan pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik.” (Matius 7:17)


Bacaan Alkitab Setahun:
Markus 10-11



Saat ini, hampir semua barang sudah dipalsukan. Barang bermerek ada KW-nya. Baju, sepatu, tas, aksesoris, smartphone, lagu, film, sampai obat dan makanan, semua telah dipalsukan. Telur palsu dibuat dari sodium alginate, gelatin dan pewarna kimia. Penjual udang segar palsu juga melakukan trik kotor dengan menambahkan gelatin dan jelly ke dalam badan udang. Kulit udang memang asli, tapi dagingnya palsu. Semua barang palsu tersebut jelas-jelas merugikan konsumen.

Untuk menunjukkan eksistensi diri, orang jaman sekarang melakoni gaya hidup hedonis. Budaya hidup kekinian seakan menjadi sesuatu yang wajib dipamerkan. Rela menunggu berjam-jam agar bisa duduk-duduk di kafe mahal hanya untuk membeli sepotong kue kecil dan minuman yang harganya selangit. Rela berutang hanya agar bisa bergaya dengan tas mewah. Merasa dirinya sangat bergengsi ketika terlihat berada di tempat mewah yang sulit dijangkau masyarakat kelas bawah. Langkah terasa melayang ketika mengenakan sepatu model terbaru dan menenteng tas mahal.

Hati-hatilah dengan segala bentuk kepalsuan. Mencari jati diri tidak perlu harus mendapat pengakuan dari pandangan orang lain terhadap kita. Berusaha mendefinisikan citra diri agar diakui orang lain membuat kita menjadi tidak jujur pada diri sendiri. Hiduplah dalam kejujuran, tak perlu menggadaikan kebenaran. Hidup dalam kepalsuan begitu menyiksa. Jadilah diri sendiri, dan biarlah kehidupan kita menghasilkan buah yang selaras dengan identitas kita sebagai anak Allah.

—JB/www.renunganharian.net


TAK PERLU HIDUP DALAM KEPALSUAN. KITA DIUNDANG UNTUK MENGHASILKAN BUAH
YANG SELARAS DENGAN IDENTITAS KITA SEBAGAI ANAK ALLAH

Anda diberkati melalui Renungan Harian?
Jadilah berkat dengan mendukung pelayanan kami.
Rek. Renungan Harian BCA No. 456 500 8880 a.n. Yayasan Gloria



 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)