Author Topic: Renungan Harian®  (Read 109622 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

December 07, 2018, 06:16:05 AM
Reply #1970
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22592
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/111-desember.html

 BANJIR INFORMASI
1
2
3
4
5
Rating 4.50 (6 Votes)

    Diterbitkan hari Jum'at, 07 Desember 2018 00:00
    Ditulis oleh Antok Setyo Wibowo   
    Dibaca: 1477 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Filipi 4:2-9

… semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. (Filipi 4:8)


Bacaan Alkitab Setahun:
1 Tesalonika 1-5



Bila dahulu informasi hanya didapat melalui koran harian dan radio serta televisi yang menyajikan berita setiap beberapa jam sekali, maka sekarang informasi mengalir deras ke dalam pikiran kita dalam hitungan menit bahkan detik. Aliran deras informasi entah yang baik maupun yang buruk itu seolah seperti banjir informasi yang menghantam dan memengaruhi hidup kita. Mungkinkah kita dapat lolos dari banjir itu?

Kehidupan jemaat Filipi tenyata tidak lepas dari pergumulan dan masalah. Hati dan pikiran ternyata menjadi salah satu sumber masalah di dalam jemaat. Ada perselisihan di sana karena tidak sehati sepikir, ada tekanan kesulitan, dan ada kekhawatiran, karena itu Paulus menasihati mereka untuk sehati sepikir, bersukacita, dan tidak khawatir. Ia juga mendoakan agar hati dan pikiran jemaat dipenuhi oleh damai sejahtera Kristus yang melampaui segala akal sehingga pikiran jemaat hanya memikirkan hal-hal yang benar, mulia, adil, suci, manis, sedap didengar dan hal-hal yang disebut kebajikan dan patut dipuji. Itulah pikiran yang berkenan kepada Allah.

Biarpun kapasitas penyimpanan data di dalam otak manusia amat sangat besar, tetapi rasanya sayang sekali bila diisi dengan hal-hal yang merusak, tidak berguna dan tidak membangun. Pikiran anak-anak Tuhan seharusnya sejalan dengan pikiran Tuhan yang adalah baik. Marilah pikiran kita tidak tenggelam dalam banjir informasi karena kita bisa memilih sebagian informasi saja, yaitu yang baik, berguna dan memuliakan Tuhan.

—ANT/www.renunganharian.net


BUAT APA MENGISI PIKIRAN KITA DENGAN SEMUA INFORMASI
KALAU KITA SEBENARNYA HANYA PERLU SEBAGIAN SAJA



December 08, 2018, 06:39:24 AM
Reply #1971
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22592
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/111-desember.html

 MEMBELAH SECARA PAS
1
2
3
4
5
Rating 5.00 (5 Votes)

    Diterbitkan hari Sabtu, 08 Desember 2018 00:00
    Ditulis oleh Hembang Tambun   
    Dibaca: 1061 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: 2 Timotius 2:14-26

Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu. (2 Timotius 2:15)


Bacaan Alkitab Setahun:
2 Tesalonika 1-3



Sebagai pendeta, saya sering berkhotbah. Mendengarkan khotbah orang lain juga menjadi kesempatan belajar sabda-Nya dan cara menyampaikannya. Namun sejatinya berkhotbah bukan hanya tugas segelintir orang Kristen, melainkan semua orang percaya. Tidak harus dari mimbar dalam kebaktian, namun juga dalam percakapan pribadi dan informal. Semua orang dapat menyampaikan khotbah. Masalahnya, tidak semua orang menyampaikannya dengan benar.

Berkhotbah adalah memberitakan kebenaran firman Allah secara cermat dan tepat. Ini yang ditegaskan oleh Paulus kepada Timotius. Dalam terjemahan LAI, Paulus mendorongnya agar “berterus terang” memberitakan kebenaran, namun dalam bahasa aslinya, ia menekankan agar Timotius melakukannya dengan cermat dan tepat. Paulus memakai kata orthotomounta, artinya “membelah secara tepat”. Ini metafora tentang tukang batu yang membelah batu sedemikian rupa sehingga belahan itu bisa dipasang pada celah bangunan secara pas. Jadi arti harfiahnya, berkhotbah adalah “membelah secara tepat sabda kebenaran” sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan pendengarnya.

2Tim. 2:14-26 menyoroti sikap yang salah: bersilat kata (ay. 14), omong kosong (ay. 16), soal yang dicari-cari (ay. 23). Perkataan-perkataan ini menjadi jerat Iblis (ay. 26), baik bagi si pembicara, maupun pendengar. Karena itu, kita perlu belajar dan memahami firman Allah dengan sungguh-sungguh, sehingga kita dapat menyampaikannya dengan cermat dan tepat. Dengan begitu, kita akan menjadi murid Kristus yang tidak perlu malu.

—HT/www.renunganharian.net


MENYAMPAIKAN SABDA ALLAH SECARA CERMAT DAN TEPAT
AKAN MEMBUAT PENDENGARNYA MENDAPAT BERKAT




December 09, 2018, 04:29:04 AM
Reply #1972
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22592
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/111-desember.html

 BERJALAN BERSAMA TUHAN
1
2
3
4
5
Rating 5.00 (3 Votes)

    Diterbitkan hari Minggu, 09 Desember 2018 00:00
    Ditulis oleh Samuel Yudi Susanto   
    Dibaca: 318 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Bilangan 10:11-36

Lalu berangkatlah mereka dari gunung TUHAN dan berjalan tiga hari perjalanan jauhnya, sedang tabut perjanjian TUHAN berangkat di depan mereka dan berjalan tiga hari perjalanan jauhnya untuk mencari tempat perhentian bagi mereka. (Bilangan 10:33)


Bacaan Alkitab Setahun:
1 Timotius 1-6



Putri saya yang masih berusia enam tahun, suka sekali meniru cara saya berjalan. Ketika saya melangkah dengan kaki kanan, ia pun melangkahkan kaki kanannya. Saat saya melompat kecil, ia mengikutinya. Jika saya berhenti, ia pun berhenti. Ketika kami berjalan bersama, saya selalu berusaha berjalan beriringan dengannya. Saya tidak ingin meninggalkannya di belakang saya karena langkahnya yang kecil. Saya ingin memastikan bahwa dirinya aman. Saya bisa melihat kebahagiaan terpancar dari tawanya.

Alkitab menulis tentang orang-orang Israel: Itulah pertama kali mereka berangkat menurut titah TUHAN dengan perantaraan Musa (ay. 13). Ya, saat itu di Sinai, mereka telah berkomitmen untuk berjalan bersama Tuhan. Dengan penuh ketaatan, mereka mulai berjalan tiga hari lamanya sedang tabut Tuhan berangkat di depan mereka. Komitmen bangsa Israel untuk menempatkan Tabut Tuhan di depan mereka menjadi tanda bahwa mereka bersedia untuk dipimpin dan mengikuti titah-titah Tuhan. Mereka berjalan bersama dan beriringan dengan Tuhan.

Kebahagiaan yang ditunjukkan putri kecil saya lebih kepada perasaan aman dan keyakinan bahwa dirinya tidak akan pernah ditinggalkan. Jaminan yang sama dirasakan bangsa Israel ketika mereka bersedia berjalan mengikuti dan bersama Tuhan. Berjalan bersama Tuhan berarti kita bersedia mengikuti apa yang Tuhan katakan, apa yang Tuhan tunjukkan. Saat kita berjalan bersama Tuhan, perjalanan seberat apa pun tidak lagi menakutkan karena Ia tidak pernah selangkah pun membiarkan diri kita jauh dari-Nya.

—SYS/www.renunganharian.net


TUHAN ADALAH GEMBALA YANG BAIK, MENGIKUTI-NYA DAN BERJALAN BERSAMA-NYA
MEMBERI JAMINAN BAHWA KITA TIDAK AKAN PERNAH SALAH JALAN



December 10, 2018, 05:58:12 AM
Reply #1973
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22592
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/111-desember.html

 MEMIMPIN TANPA ANCAMAN
1
2
3
4
5
Rating 3.88 (8 Votes)

    Diterbitkan hari Senin, 10 Desember 2018 00:00
    Ditulis oleh Go Hok Jin   
    Dibaca: 1121 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Efesus 6:5-9

Dan kamu tuan-tuan, perbuatlah demikian juga terhadap mereka dan jauhkanlah ancaman. Ingatlah bahwa Tuhan mereka dan Tuhan kamu ada di surga dan Ia tidak memandang muka. (Efesus 6:9)


Bacaan Alkitab Setahun:
2 Timotius 1-4



Suatu ketika, puluhan karyawan rumah sakit diminta menghadap ke ruangan direktur utama, karena mereka kedapatan merokok di lingkungan rumah sakit. Menariknya, sang direktur tidak memarahi atau mengancam akan memecat mereka. Sebaliknya, dibuatlah kesepakatan bahwa jika pelanggaran ini diulang, maka keluarga mereka akan dipanggil untuk berbincang bersama. Jika masih tidak berubah, barulah ada tindakan lebih tegas lagi dari manajemen. Pendekatan yang halus tetapi tegas itu berdampak positif. Jumlah karyawan yang merokok menurun drastis!

Alkitab menaruh perhatian serius terhadap hubungan antara tuan dan hamba. Para hamba tak hanya diminta untuk menaati tuan (majikan) mereka, tetapi para tuan juga dilarang semena-mena kepada para hamba atau anak buah mereka. Salah satu penekanan yang diberikan oleh Firman Tuhan bagi para pemimpin adalah menjauhkan ancaman dalam gaya kepemimpinan mereka. Mengapa? Karena biasanya ancaman tidak menghasilkan ketaatan, pertobatan, perubahan hidup, atau produktivitas kerja yang meningkat, tetapi hanya pura-pura taat, pura-pura berubah, tetapi memendam sakit hati dan ingin membalas perlakuan sang pemimpin.

Dalam relasi kerja, organisasi, maupun dalam keluarga, ketegasan memang diperlukan ketika ada pelanggaran peraturan. Namun, jangan pernah memilih gaya “main ancam” karena Tuhan tidak menyukai hal itu. Yakinlah masih ada cara lain yang dapat kita pakai untuk menegakkan peraturan, tanpa harus membuat orang lain merasa terancam. Selamat mencoba!

—GHJ/www.renunganharian.net


ANCAMAN TAKKAN PERNAH MENGHASILKAN PERUBAHAN YANG SEJATI
DAN TIDAK BERTAHAN DALAM JANGKA PANJANG


December 11, 2018, 05:49:33 AM
Reply #1974
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22592
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/111-desember.html

 SEPATU PENGERTIAN
1
2
3
4
5
Rating 4.50 (4 Votes)

    Diterbitkan hari Selasa, 11 Desember 2018 00:00
    Ditulis oleh Pipi Agus Dhali   
    Dibaca: 1195 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Yohanes 8:2-11

... Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka, “Siapa saja di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” (Yohanes 8:7)


Bacaan Alkitab Setahun:
Titus 1-Filemon 1



Malam kian larut. Antrean masih tiga orang lagi. Dalam hati saya menggerutu, petugas rumah sakit yang mengatur para penjenguk ini lamban sekali. Ketika giliran tiba, petugas–yang ternyata cacat mental–menyambut dengan suara terbata-bata sambil meminta maaf karena itu adalah hari pertamanya bertugas. Kejengkelan saya lenyap berganti perasaan iba. Sekaligus malu. Terbayang bagaimana perasaan petugas itu ditunggu orang dengan wajah mendongkol seperti saya.

Manusia cenderung gagal menempatkan diri pada posisi orang lain, lalu mudah menghakiminya. Tuhan Yesus mengajukan tantangan telak pada orang-orang yang menyeret perempuan yang dipermalukan karena kedapatan berzinah. Dia menantang mereka untuk menempatkan diri pada posisi perempuan itu, “Apakah aku bukan seorang berdosa juga? Lebih sucikah aku daripada dirinya?” Kerumunan itu bubar. Tak satu pun orang segarang beberapa menit sebelumnya. Satu per satu mereka pergi dengan rasa malu.

Bahasa Inggris mengenal ungkapan, “Jikalau kakimu mengenakan sepatuku, apa yang akan kaulakukan?” Betapa sering kita berucap dan bertindak tanpa menghiraukan perasaan orang lain. Kita menilai dan mencelanya tanpa mengerti kenapa ia berlaku begitu. Padahal, di balik semua sikap dan perbuatan manusia tersimpan banyak cerita. Bayangkan wajah kehidupan ini andaikan mendengar dan mengerti mendahului bicara dan sikap gampang menghakimi. Konflik pasti berkurang. Kesalahpahaman diperkecil. Permusuhan pun tak mudah beroleh tempat di antara kita.

—PAD/www.renunganharian.net


NILAI SUATU BUKU MENGHENDAKI KITA MEMBACA SELURUH ISINYA;
PAHAMILAH SESEORANG SEUTUHNYA SEBELUM MENGHAKIMINYA






December 12, 2018, 05:42:52 AM
Reply #1975
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22592
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/111-desember.html

 KASIH MENYEMBUHKAN
1
2
3
4
5
Rating 4.00 (3 Votes)

    Diterbitkan hari Rabu, 12 Desember 2018 00:00
    Ditulis oleh Arie Saptaji   
    Dibaca: 1215 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Roma 2:1-10

Apakah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahan- Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati- Nya? Tidak tahukah engkau bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan? (Roma 2:4)


Bacaan Alkitab Setahun:
Ibrani 1-4



Seorang anak panti asuhan biasa mencuri barang dan menyembunyikannya di lacinya. Kepala panti menegurnya, tetapi kebiasaan buruk itu tak juga berhenti. Ia lalu mencoba sejumlah cara mendisiplinkan yang lain. Anak itu tetap saja suka mencuri.

“Mungkin anak itu mencuri sebagai kompensasi karena tidak mengalami kasih sayang orangtua,” kata salah seorang petugas panti. “Mari kita curahkan kasih sayang kita kepadanya.”

Dengan berbagai cara, para petugas panti menyatakan kepada anak itu bahwa mereka sungguh-sungguh menyayanginya. Tidak lama kemudian, perubahan pun terjadi! Anak itu tidak lagi mencuri.

Kasih ternyata berdaya sembuh dan memotivasi seseorang berubah menjadi baik. Paulus menunjukkan prinsip tersebut: bahwa kemurahan Allah, kasih dan kebaikan-Nya, menuntun kita untuk berpaling dari dosa dan berbalik mengikuti Dia. Dosa terjadi ketika manusia meragukan kebaikan Allah (bdk. Kej. 3:1-6). Karena itu, Paulus mendorong jemaat di Roma untuk mengetahui kemurahan-Nya, kesabaran-Nya, dan kelapangan hati-Nya. Mengetahui dengan sungguh-sungguh, tidak meremehkannya. Kebaikan-Nya tidak akan memaksa atau menyeret mereka, melainkan menuntun mereka dengan lemah lembut (bdk. Hos. 11:4; Yer. 31:3), memberi ruang bagi mereka untuk mempertimbangkannya sebelum mengambil keputusan.

Mungkin ada kebiasaan berdosa yang hendak kita tinggalkan? Kita dapat menerapkan resep Paulus: tidak menganggap sepi, tetapi sungguh-sungguh menyadari kebaikan Allah.

—ARS/www.renunganharian.net


KASIH ALLAH YANG KEKAL MAMPU MENDATANGKAN
PERUBAHAN HIDUP YANG KEKAL PULA


December 13, 2018, 05:41:19 AM
Reply #1976
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22592
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/111-desember.html

 KETIKA YESUS DIINTERUPSI
1
2
3
4
5
Rating 4.88 (8 Votes)

    Diterbitkan hari Kamis, 13 Desember 2018 00:00
    Ditulis oleh Go Hok Jin   
    Dibaca: 1011 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Matius 19:13-15

Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tangan- Nya di atas mereka dan mendoakan mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. (Matius 19:13)


Bacaan Alkitab Setahun:
Ibrani 5-7



Dalam ibadah, sementara khotbah sedang berlangsung, mendadak seorang anak kecil berlari menuju ke arah mimbar. Semua mata pun tertuju ke arah mimbar karena penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh gembala gereja tersebut. Jemaat menyangka gembala gereja akan marah, tetapi dugaan mereka meleset. Setelah memberi kode kepada para pengerja gereja agar mereka tetap di tempat, si gembala dengan tenang menghampiri anak kecil itu, mengusap kepalanya, lalu menuntunnya menuju orangtuanya yang terlihat berjalan ke mimbar untuk menjemput anaknya. Setelah keadaan terkendali, barulah si gembala meneruskan khotbahnya, seolah interupsi dari anak kecil tadi tak pernah terjadi.

Yesus pun pernah menerima interupsi dari anak-anak kecil, sementara Ia sedang mengajar. Melihat adanya gangguan kepada Guru mereka, para murid segera merespons dengan memarahi orang-orang yang ingin membawa anak-anak kecil itu kepada Yesus. Apakah Yesus juga marah karena merasa terganggu? Ternyata tidak! Yesus dengan sabar menerima anak-anak itu, lalu menumpangkan tangan-Nya untuk memberkati mereka. Yesus pun menghargai upaya orang-orang yang membawa anak-anak kecil itu (ay. 14). Benar-benar sebuah teladan yang luar biasa dari Yesus menanggapi situasi yang tak terduga.

Bagaimana respons kita selama ini ketika ada situasi tak terduga yang menginterupsi aktivitas kita? Apakah kita cenderung marah atau mampu merespons dengan penuh kesabaran? Sebagai pengikut Kristus, hendaknya kita dapat senantiasa mengikuti teladan-Nya.

—GHJ/www.renunganharian.net


INTERUPSI TERKADANG DIPAKAI ALLAH UNTUK MENGUJI
DAN MELATIH PENGUASAAN DIRI DARI UMAT-NYA



December 14, 2018, 05:33:17 AM
Reply #1977
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22592
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/111-desember.html

 PENCAPAIAN TAK BERGUNA
1
2
3
4
5
Rating 5.00 (6 Votes)

    Diterbitkan hari Jum'at, 14 Desember 2018 00:00
    Ditulis oleh Yuniar Dwi S   
    Dibaca: 811 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Mazmur 44:1-8

Sebab bukan kepada panahku aku percaya, dan pedangku pun tidak memberi aku kemenangan. (Mazmur 44:7)


Bacaan Alkitab Setahun:
Ibrani 8-10



Rina menjadi sombong setelah meraih medali emas Olimpiade Fisika SMA tingkat nasional. Lulus dengan nilai terbaik, ia diterima di universitas pilihannya. Saat kuliah, ia berhasil merakit robot yang dipresentasikan ke dalam kontes bergengsi di luar negeri. Sayangnya, kesombongan malah membuatnya menjauh dari Tuhan dan tidak menjaga diri dalam pergaulan. Ia terjebak dengan pergaulan bebas dan penyalahgunaan narkoba yang membuatnya tergolek di panti rehabilitasi.

Mazmur 44 berisi ratapan Israel atas tangan Allah yang menindas mereka. Pemazmur mengingat kesetiaan Allah pada masa lalu (ay. 1-2). Mereka membandingkan bahwa Allah yang dulu tidak sama dengan Allah yang sekarang; Allah yang sekarang seakan-akan membiarkan umat kesayangan-Nya dicelakai bangsa asing (ay. 3). Mereka sadar bahwa sumber kemenangan mereka hanyalah Allah (ay. 6-7), bukan dari pencapaian mereka. Ketidaktaatan ini berawal dari kesombongan mereka yang merasa lebih unggul dari Allah. Penindasan bangsa lain terhadap Israel biasanya dipakai Allah untuk menolong mereka sadar dan kembali mengingat Allah.

Ukuran kesuksesan manusia itu biasa terlihat dari kerja keras, bakat alamiah dan koneksi. Namun, itu semua tidak kekal. Pencapaian itu bisa hilang dan tidak berguna jika kita melupakan Allah. Panah dan pedang, kata pemazmur, tidak bisa membantu kita menang dalam kehidupan. Apakah selama ini kita sadar bahwa bergantung pada kesuksesan itu adalah sia-sia?

—YDS/www.renunganharian.net


BERGANTUNGLAH SEPENUHNYA PADA ALLAH, BUKAN PADA KESUKSESAN



December 15, 2018, 05:32:15 AM
Reply #1978
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22592
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/111-desember.html

 PERUMPAMAAN KEMBAR
1
2
3
4
5
Rating 5.00 (2 Votes)

    Diterbitkan hari Sabtu, 15 Desember 2018 00:00
    Ditulis oleh Pipi Agus Dhali   
    Dibaca: 443 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Matius 13:44-46

“... ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.” (Matius 13:46)


Bacaan Alkitab Setahun:
Ibrani 11-13



Alkisah dua bersaudara. Si sulung penginjil bersahaja di kota kecil. Bukan orang ternama. Meninggal karena sakit sebelum mencapai usia kelima puluh. Si bungsu saudagar yang sukses. Dihormati karena kaya dan murah hati. Ia meninggal dengan tenang ketika sudah uzur. Saat berjumpa Tuhan di surga, keduanya disambut dengan kemuliaan tiada tara. Tuhan bertanya kepada si sulung, “Jika kepadamu diberi kesempatan hidup sekali lagi, ingin menjadi siapa dirimu?” Dengan mantap ia menjawab, “Penginjil.”

Dua perumpamaan singkat dalam ayat bacaan hari ini memotret perjalanan iman seseorang. Yang satu ringan dan mudah—seperti menemukan “harta terpendam” di lahannya sendiri (ay. 44). Yang lain menempuh jalan yang lebih berat dan sukar–seperti pedagang mencari “mutiara yang indah” (ay. 45). Namun, keduanya sama-sama mempertaruhkan segala miliknya dengan sukacita demi kemuliaan yang diperolehnya (ay. 44,46).

Perjalanan iman sering tampak “tidak adil”. Ada yang ditentang, dihina, bahkan disiksa dan dianiaya karena imannya. Yang lain dikelilingi komunitas beriman dan sarana serta fasilitas serba menunjang. Namun, di dalam Kerajaan Allah, keselamatan dan kemuliaan kekal yang mengiringi perjalanan iman itu jauh melampaui segalanya. Adakah ibu yang menyesal karena melahirkan bayi dengan susah payah setelah melihat temannya melahirkan dengan lebih mudah? Tidak! Sebab sukacita atas kelahiran bayinya melebihi segalanya. Begitulah kira-kira ziarah iman di dunia ini terlihat tatkala kemuliaan-Nya menyambut kita kelak.

—PAD/www.renunganharian.net


IMAN SEJATI MENGARAHKAN SUKACITA KITA
PADA PERKARA-PERKARA YANG BERNILAI KEKAL


December 16, 2018, 04:34:41 AM
Reply #1979
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22592
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/111-desember.html

 TUHAN YANG MENCUKUPKAN
1
2
3
4
5
Rating 5.00 (1 Vote)

    Diterbitkan hari Minggu, 16 Desember 2018 00:00
    Ditulis oleh Samuel Yudi Susanto   
    Dibaca: 341 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Bilangan 21:10-20

Dari sana mereka ke Beer. Inilah sumur di mana TUHAN berfirman kepada Musa: "Kumpulkanlah bangsa itu, maka Aku akan memberikan air kepada mereka." (Bilangan 21:16)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yakobus 1-5



Pernahkah Anda melakukan sebuah perjalanan yang sangat jauh? Saat perjalanan jauh tentunya kita membutuhkan energi baru demi tercukupinya kekuatan untuk tiba di ujung perjalanan. Tanpa terpenuhinya energi baru, maka perjalanan pun dirasa akan sangat berat dan melelahkan.

Atas penentuan Tuhan, bangsa Israel pun harus menempuh perjalanan yang begitu panjang dan melelahkan di bawah kepemimpinan Musa. Tuhan tahu persis tentang apa yang dibutuhkan bangsa pilihan-Nya itu. Mereka butuh air dan makanan yang cukup. Karena itulah Tuhan menjamin ketersediaan kebutuhan bangsa itu dengan berkata, ”Kumpulkanlah bangsa itu, maka Aku akan memberikan air kepada mereka” (ay. 16). Tercukupinya kebutuhan itu oleh Tuhan membuat bangsa itu bersukacita selama perjalanan, setidaknya dalam bagian ini. Ungkapan sukacita itu terlukis dalam pujian mereka, “Berbual-buallah hai sumur! Mari kita bernyanyi-nyanyi berbalas-balasan karena sumur yang digali oleh raja-raja” (ay. 17). Jaminan kecukupan ini membuat bangsa Israel merasa aman dalam pimpinan Tuhan.

Tuhan Allah kita adalah Tuhan yang tidak pernah berubah untuk mencukupi kebutuhan umat-Nya. Tuhan menjamin bahwa setiap orang yang mencari-Nya, tidak akan kekurangan sesuatu pun yang baik (Mzm. 34:11). Bahkan di tengah perjalanan hidup yang berat sekalipun, Ia berjanji akan memenuhi segala keperluan kita menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus (Flp. 4:19). Ketika Tuhan mencukupi kebutuhan kita, kiranya kita dapat semakin mengenal-Nya sebagai Allah pemelihara hidup kita.

—SYS/www.renunganharian.net


TUHAN ADALAH GEMBALAKU, TAKKAN KEKURANGAN AKU.
—Mazmur 23:1


 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)