Author Topic: Renungan Harian®  (Read 111834 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

December 17, 2018, 05:19:45 AM
Reply #1980
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23128
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/111-desember.html

 BUKAN PUASANYA
1
2
3
4
5
Rating 5.00 (4 Votes)

    Diterbitkan hari Senin, 17 Desember 2018 00:00
    Ditulis oleh Yessica Kansil   
    Dibaca: 671 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Yesaya 58:1-12

TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering.... (Yesaya 58:11a)


Bacaan Alkitab Setahun:
1 Petrus 1-2



Saran untuk melakukan doa dan puasa memicu perdebatan di suatu gereja. Beberapa orang berpendapat bahwa puasa adalah hal yang tidak perlu dilakukan oleh orang percaya. Mereka beranggapan bahwa berpuasa itu sama dengan memaksa Allah untuk mengabulkan sesuatu. Sementara sebagian lainnya percaya, walaupun sebagai orang percaya kita sudah ditebus, puasa adalah jalan untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Saat berpuasa, kita menjauhkan diri untuk sementara dari hal-hal jasmani yang selama ini mencuri waktu bersama Tuhan. Manakah pandangan yang tepat?

Dalam kitab Yesaya, Tuhan sendiri menentang puasa yang selama ini dilakukan oleh umat-Nya karena mereka melakukannya tidak dengan tulus. Mereka tetap menindas yang lemah (ay. 3), mereka tetap berselisih paham dan berkelahi (ay. 4). Tentu saja bukanlah hal demikian yang dikehendaki Allah. Apa gunanya berpuasa sambil tetap melakukan hal-hal tercela! Allah tidak melihat puasa kita, namun niat di baliknya. Apakah ada roti bagi yang lapar, kemerdekaan bagi yang terjajah, dan pakaian bagi yang telanjang?

Tidak ada yang salah dengan keinginan untuk berpuasa. Bahkan Yesus sendiri pun melakukan puasa untuk lebih memahami kehendak Allah. Dan tujuan yang benar tersebut memampukan-Nya untuk melawan Iblis yang menggoda. Hendaknya keputusan kita untuk melakukan puasa didasarkan pada kerinduan untuk menjadi semakin dekat dengan Dia yang kita kasihi, tanpa ada maksud bengkok yang mengiringi.

—YES/www.renunganharian.net


PUASA ADALAH KESEMPATAN UNTUK MEMAHAMI KEHENDAK ALLAH,
BUKAN KESEMPATAN UNTUK MEMAKSAKAN KEHENDAK KEPADA-NYA



December 18, 2018, 05:04:02 AM
Reply #1981
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23128
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/111-desember.html

 PENGUKUR ATAU PENGATUR SUHU?
1
2
3
4
5
Rating 5.00 (2 Votes)

    Diterbitkan hari Selasa, 18 Desember 2018 00:00
    Ditulis oleh Pipi Agus Dhali   
    Dibaca: 559 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Yeremia 20:1-6

Lalu Pasyhur memukul nabi Yeremia dan memasungkan dia di pintu gerbang Benyamin yang ada di atas rumah TUHAN. (Yeremia 20:2)


Bacaan Alkitab Setahun:
1 Petrus 3-5



Dalam hal suhu udara, kita mengenal dua macam alat. Pertama, termometer, yaitu pengukur suhu, yang memunculkan angka derajat “apa adanya”. Kedua, termostat, yaitu alat yang dilengkapi dengan sensor dan sistem pengontrol untuk mengatur suhu seperti yang dikehendaki. Pengatur suhu. Derajat angkanya ialah “apa yang seharusnya”.

Pada era Yeremia, sangat banyak nabi palsu. Misalnya, Pasyhur bin Imer, seorang imam kepala di Bait Allah (ay. 1,6). Mereka ini eksis karena mereka tidak berbuat sesuatu untuk mengubah keadaan yang kacau (ps. 4:23). Demi keuntungan pribadi, mereka menyesuaikan diri dengan situasi (ps. 8:10). Ucapan nubuat mereka ialah rekaan sendiri untuk menyenangkan orang (ps. 5:31; 14:14; 23:16-17). Sebaliknya, Yeremia menyampaikan Firman Tuhan supaya keadaan berubah melalui pertobatan (ps. 22:1-5). Ia ditentang dan dibenci sebab mereka anti perubahan (ps. 5:3; 9:5; 11:21). Kelompok Pasyhur cuma menyesuaikan “angka” situasi apa adanya. Sedangkan Yeremia ingin memberi “angka” yang seharusnya pada situasi bangsanya.

Sejujurnya kondisi di masyarakat kita derajat keluhurannya terus merosot. Kecurangan, kepalsuan dan kebencian terus menebarkan racun polusinya. Standar moral dan kesantunan terjun bebas. Disiplin ambruk. Hangatnya kepedulian lenyap. Kasih menjadi dingin. Apakah kita hanya menyesuaikan diri dengannya? Ikut terhanyut bersamanya? Atau masihkah kita berjuang memberi sumbangsih dan pengaruh positif? Orang Kristen jenis manakah kita: termometer atau termostat?

—PAD/www.renunganharian.net


KALAU TIDAK UNTUK MENJADI TERANG DI DUNIA,
TUHAN TIDAK AKAN MENGUTUS KITA KE DALAM DUNIA



December 19, 2018, 06:28:31 AM
Reply #1982
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23128
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/111-desember.html

 KADO SPESIAL
1
2
3
4
5
Rating 4.44 (9 Votes)

    Diterbitkan hari Rabu, 19 Desember 2018 00:00
    Ditulis oleh Yuniar Dwi S   
    Dibaca: 1356 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: 1 Tesalonika 2:13-20

Sebab siapa pengharapan kami atau sukacita kami atau mahkota kemegahan kami di hadapan Yesus, Tuhan kita, pada waktu kedatangan-Nya, kalau bukan kamu? (1 Tesalonika 2:19)


Bacaan Alkitab Setahun:
2 Petrus 1-3



Saya menjalin hubungan pacaran jarak jauh kurang lebih setahun. Tak mudah menjalaninya. Komunikasi terbatas melalui telepon dan media sosial, selebihnya harus sering menahan rindu dan berharap segera bertemu pada waktu libur Natal. Kerinduan itu mendorong saya mempersiapkan kado spesial untuk saya berikan ketika bertemu dengannya. Hubungan yang dekat membuat saya bersukacita mempersiapkan kado spesial dan rela menabung selama beberapa bulan untuk membeli tiket pesawat.

Sukacita Paulus terhadap jemaat di Tesalonika juga tampak jelas dalam teks ini. Jemaat di Tesalonika tidak hanya mendengar pemberitaan Injil yang disampaikan Paulus, tetapi mereka mau serius menaati setiap firman dan rela menderita (ay. 13-14). Kerinduan Paulus ini dibuktikannya pada keinginannya untuk mengunjungi mereka. Rupanya hubungan antara Paulus dan jemaat Tesalonika sangat dekat sampai ia sendiri menyatakan bahwa mereka adalah pengharapan, sukacita, mahkota kemegahan dan kemuliaan saat Yesus datang kembali untuk kedua kalinya (ay. 19-20).

Kita dan Yesus Kristus juga memiliki hubungan sejak kita pertama kali menerima Dia sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Pertanyaannya: Apakah hubungan kita dengan Dia semakin dekat? Jika ya, apakah kita sudah mempersiapkan kado spesial untuk dipersembahkan kelak saat kita bertemu dengan Dia dalam kekekalan? Paulus sendiri akan mempersembahkan buah-buah pemberitaan Injilnya. Lalu, apakah persembahan Anda bagi Dia?

—YDS/www.renunganharian.net


TANPA KITA MEMILIKI HUBUNGAN YANG DEKAT DENGAN TUHAN,
KADO KITA SIFATNYA BIASA


December 20, 2018, 05:13:35 AM
Reply #1983
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23128
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/111-desember.html

 SELAMAT ULANG TAHUN
1
2
3
4
5
Rating 5.00 (2 Votes)

    Diterbitkan hari Kamis, 20 Desember 2018 00:00
    Ditulis oleh Lim Ivenina Natasya   
    Dibaca: 630 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Ayub 14:1-22

Kalau manusia mati, dapatkah ia hidup lagi? Maka aku akan menaruh harap selama hari-hari pergumulanku, sampai tiba giliranku. (Ayub 14:14)


Bacaan Alkitab Setahun:
1 Yohanes 1-3



Pada hari ulang tahun, saya menerima banyak ucapan selamat dari saudara dan sahabat. Seharian saya sibuk membalas pesan mereka, mengucapkan terima kasih atas perhatian dan doa mereka. Tentu saja, saya juga diingatkan betapa saya patut berterima kasih kepada Tuhan atas pemeliharaan-Nya. Dua tahun sebelumnya saya terkena kanker, tetapi Tuhan masih mengaruniakan kehidupan kepada saya.

Ayub mengakui bahwa di dalam tangan-Nya terletak nyawa segala yang hidup dan napas setiap manusia (Ayb. 12:10). Bila manusia mati, tidak berdayalah ia; ia tidak dapat hidup lagi. Ayub tetap berharap selama hari-hari pergumulannya sampai tiba gilirannya (ay. 10,14). Elihu berkata, “Roh Allah telah membuat aku, dan nafas Yang Mahakuasa membuat aku hidup” (Ayb. 33:4). Pemazmur menyatakan, “Hidup dimintanya dari pada-Mu; Engkau memberikannya kepadanya, dan umur panjang untuk seterusnya dan selama-lamanya” (Mzm. 21:5); “Masa hidupku ada dalam tangan-Mu” (Mzm. 31:16). Pemazmur bertekad memuliakan Tuhan selama hidupnya dan bermazmur bagi Allah selagi ia ada (Mzm. 146:2). Sesudah Hizkia sembuh dari sakit, ia berkata, “Dunia orang mati tidak dapat mengucap syukur kepada-Mu, dan maut tidak dapat memuji-muji Engkau. Tetapi hanyalah orang yang hidup, dialah yang mengucap syukur kepada-Mu” (Yes. 38:18-19).

Bila tahun ini Tuhan masih memberi kita kesempatan berulang tahun, mengucap syukurlah kepada Tuhan. Muliakanlah Tuhan dan berharaplah kepada-Nya sampai tiba giliran kita.

—IN/www.renunganharian.net


HARI ULANG TAHUN ADALAH KESEMPATAN KHUSUS UNTUK BERTERIMA KASIH
DAN MENGUCAP SYUKUR KEPADA TUHAN, SANG PEMBERI HIDUP



December 21, 2018, 06:05:05 AM
Reply #1984
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23128
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/111-desember.html

 MEMPERSULIT BERTEMU TUHAN
1
2
3
4
5
Rating 3.83 (6 Votes)

    Diterbitkan hari Jum'at, 21 Desember 2018 00:00
    Ditulis oleh Antok Setyo Wibowo   
    Dibaca: 1009 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Markus 11:15-19

Lalu Ia mengajar mereka, kata-Nya, “Bukankah ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? Tetapi kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun!” (Markus 11:17)


Bacaan Alkitab Setahun:
1 Yohanes 4-5



Saya sering melihat undangan ibadah Natal di persekutuan mahasiswa Kristen di kampus yang menyebutkan dresscode tertentu, entahkah warna pakaian merah atau hijau atau putih. Bila saya mahasiswa, bagaimana perasaan saya bila ternyata saya tidak memiliki pakaian dengan warna yang telah ditentukan? Katanya Natal untuk semua orang, mengapa untuk bertemu dengan Tuhan dalam ibadah Natal menjadi sulit?

Bait Allah adalah rumah doa bagi segala bangsa, baik Yahudi maupun bangsa bukan Yahudi yang percaya kepada Allah. Halaman Bait Allah merupakan tempat ibadah bagi bangsa bukan Yahudi. Dengan dipakainya halaman itu oleh pedagang untuk berjualan, dimana mereka akan beribadah? Dan bagaimana bisa beribadah dengan tenang? Kemungkinan pedagang juga memainkan harga jual binatang kurban dan kurs mata uang Bait Allah. Tuhan Yesus menyebut mereka, orang yang berjualan dan yang mengijinkan berjualan sebagai penyamun atau perampok. Sesungguhnya mereka tidak hanya telah merampok tempat dan uang orang-orang yang beribadah di Bait Allah, tetapi pada intinya mereka mempersulit dan mengganggu orang-orang yang akan beribadah.

Apakah kita pernah mempersulit orang lain datang kepada Tuhan? Mungkin bukan masalah dresscode, tetapi terkadang tanpa disadari, sesuatu yang kita pakai, ucapkan dan lakukan telah menjadi batu sandungan dan membuat orang lain tidak mau beribadah kepada Tuhan. Marilah kita bijaksana agar hidup kita tidak mempersulit orang lain datang dan bertemu dengan Tuhan.

—ANT/www.renunganharian.net


BIARLAH SEMUA ORANG DATANG KEPADA TUHAN,
JANGANLAH KITA MENJADI BATU SANDUNGAN
YANG MEMPERSULIT DAN MENGHALANGI MEREKA


December 22, 2018, 04:57:30 AM
Reply #1985
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23128
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/111-desember.html

 PEREMPUAN ITU
1
2
3
4
5
Rating 5.00 (1 Vote)

    Diterbitkan hari Sabtu, 22 Desember 2018 00:00
    Ditulis oleh Pipi Agus Dhali   
    Dibaca: 412 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Hakim-hakim 13:1-25

Lalu perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki dan memberi nama Simson kepadanya. Anak itu menjadi besar dan TUHAN memberkati dia. (Hakim-hakim 13:24)


Bacaan Alkitab Setahun:
2 Yohanes-3 Yohanes, Yudas



Legenda Malin Kundang dari Sumatera Barat menyuarakan betapa besarnya peran seorang ibu. Seberapa pun besar dan jauhnya seseorang berkembang, tak akan pernah lepas dari peran, perjuangan dan pengorbanan sosok sang ibunda. Jangan sampai dilupakan! Melupakannya adalah sebuah kedurhakaan, sebab di balik keberhasilan seseorang terdapat andil luar biasa dari seorang ibu.

Pasal 13 kitab Hakim-hakim mengawali kehidupan seorang pahlawan Israel bernama Simson. Kisah lahirnya pria perkasa itu. Dengan cerdiknya babak ini menggarisbawahi peran sang ibu. Malaikat TUHAN menjadikan dirinya sasaran utama untuk dikunjungi. Di pundaknya tertumpu “tugas” memelihara diri secara khusus selama ia mengandung si “nazir Allah” itu (ay. 4-5 dan 12-13). Namun siapakah namanya? Tak tersebutkan hingga akhir kisah. Berkali-kali dirinya hanya disapa sebagai “perempuan itu”. Namun, justru melalui dirinyalah Simson tumbuh besar dan diberkati.

Dunia kita ini ibarat pentas yang menampilkan banyak peran. Menjadi pemeran penting dan ternama adalah impian banyak orang. Punya nama dan dikenal khalayak menjadi tujuan yang dikejar. Tetapi, jangan lupa, dalam kehidupan Anda dan saya selalu ada pemeran-pemeran belakang layar yang jasanya besar—sekalipun tak banyak orang mengenalnya. Padahal melalui merekalah Tuhan memberkati kita. Siapa sajakah itu? Adalah tugas kita untuk tidak melupakan mereka.

—PAD/www.renunganharian.net


DIA YANG TIDAK TAMPIL MENONJOL NAMUN BERPERAN NYATA,
ITULAH PAHLAWAN SEJATI DALAM HIDUP KITA



December 23, 2018, 04:38:27 AM
Reply #1986
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23128
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/111-desember.html

 SEDANG BERTUGAS
1
2
3
4
5
Rating 5.00 (2 Votes)

    Diterbitkan hari Minggu, 23 Desember 2018 00:00
    Ditulis oleh Hembang Tambun   
    Dibaca: 332 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Lukas 2:8-20

Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. (Lukas 2:8)


Bacaan Alkitab Setahun:
Wahyu 1-2



Sebagian orang berdalih tidak dapat menghadiri persekutuan atau berpartisipasi dalam pelayanan karena tidak punya waktu. Seluruh waktunya tersita untuk bekerja. Padahal, mereka yang terlibat dalam pelayanan dan rajin menghadiri persekutuan bukanlah para penganggur, yang tidak memiliki kesibukan dan berbagai tanggung jawab. Masalahnya terletak pada niat, komitmen dan kesungguhan hati. “Di mana ada kemauan, di situ ada jalan”.

Cermatilah pemanggilan Allah terhadap orang-orang di dalam Alkitab. Kebanyakan dipanggil ketika mereka sedang bekerja, bukan sedang menganggur. Musa sedang menjaga domba. Gideon sedang mengirik gandum. Daud sedang menggembala. Nehemia sedang melayani raja sebagai juru minum. Lewi bekerja di kantor bea cukai. Petrus dan rekan-rekannya nelayan sedang membersihkan jala-jala. Para gembala dalam Lukas 2 ini pun sedang dinas malam. Mereka bisa saja membuat berbagai dalih untuk tidak menaati Tuhan. Hari masih malam, sebaiknya menunggu hingga esok hari saja. Ternak mereka adalah aset berharga yang bisa hilang jika ditinggalkan. Namun mereka taat pada perkataan malaikat Tuhan. Karenanya, mereka menikmati sukacita yang kudus (ay. 20).

Tidak semua orang dituntut untuk meninggalkan pekerjaannya secara permanen agar dapat melayani Tuhan. Mereka hanya perlu mengelola waktunya dengan bijak agar pelayanan yang ditugaskan Allah dapat dikerjakan dengan baik. Sadarilah bahwa melayani itu adalah sebuah tanggung jawab, namun sekaligus sebuah kehormatan yang diberikan Allah kepada kita.

—HT/www.renunganharian.net


PEKERJAAN ADALAH BERKAT, JANGANLAH MENJADIKANNYA DALIH
ATAU PENGHALANG UNTUK TIDAK MELAYANI TUHAN




December 24, 2018, 05:17:20 AM
Reply #1987
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23128
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/111-desember.html

 KAUS KAKI CHESTERTON
1
2
3
4
5
Rating 4.50 (4 Votes)

    Diterbitkan hari Senin, 24 Desember 2018 00:00
    Ditulis oleh Eko Elliarso   
    Dibaca: 400 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Efesus 4:11-16

… kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus. (Efesus 4:13b)


Bacaan Alkitab Setahun:
Wahyu 3-5



Di malam Natal, anak-anak di banyak negara biasa menyiapkan kaus kaki Natal (berupa kantung berbentuk kaus kaki), dan menggantungkannya di kaki tempat tidur, gantungan baju, atau pohon Natal. Mereka akan sangat bersyukur jika esok pagi, saat mereka bangun, kaus kaki Natal itu telah berisi hadiah-hadiah.

Teringat hal itu, G.K. Chesterton, seorang penulis terkenal dari Inggris, bertanya, “When we were children, we were grateful to those who filled our stockings at Christmas time. Why are we not grateful to God for filling our stockings with legs?” Saat kita kecil, kita berterima kasih kepada mereka yang mengisi kaus kaki Natal kita. Mengapa sekarang kita tidak bersyukur kepada Tuhan yang mengisi kaus kaki kita dengan kaki kita?

Kedewasaan iman ditandai oleh “tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus” (ay. 13). Makin tinggi usia seseorang, makin erat relasinya dengan Tuhan, makin jelas ia melihat karya-Nya, makin besar syukurnya kepada-Nya. Begitulah seharusnya. Tetapi, seperti yang Chesterton lihat, “tingkat pertumbuhan yang sesuai” itu tak selalu terjadi. Apa yang seharusnya terjadi tak selalu sungguh terjadi, karena yang terjadi justru yang tidak seharusnya. Usia kita bertambah, namun sulit mengakui berkat Tuhan. Makin dewasa, namun makin sukar bersyukur. Tumbuh subur secara jasmani, namun kerdil dan gersang secara rohani.

Bagi Chesterton, seperti nyata pada pertanyaannya, itu adalah persoalan yang sangat serius. Adakah kita juga bergumul dengan itu?

—EE/www.renunganharian.net


KITA MAKIN DEWASA, TETAPI KITA MAKIN SUKAR BERSYUKUR.
SECARA JASMANI KITA TUMBUH SUBUR, TETAPI SECARA ROHANI KERDIL DAN GERSANG.



December 25, 2018, 05:11:11 AM
Reply #1988
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23128
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2018/111-desember.html

 BINTANG SEBENARNYA
1
2
3
4
5
Rating 4.67 (3 Votes)

    Diterbitkan hari Selasa, 25 Desember 2018 00:00
    Ditulis oleh Edy Siswoko   
    Dibaca: 395 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Matius 2:1-6

“Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.” (Matius 2:2)


Bacaan Alkitab Setahun:
Wahyu 6-8



Sejak dulu bintang telah menjadi daya tarik bagi manusia. Manusia juga mengamati pergerakan bintang-bintang untuk meramalkan nasib mereka dalam segala hal, seperti asmara, pertemanan, keuangan, karir, usaha, dan kesehatan (Yes. 47:13). Bahkan tidak sedikit yang menyembah bintang-bintang (Am. 5:26).

Berbeda dengan orang Majus. Saat orang Majus yang ahli dalam perbintangan melihat bintang Betlehem yang spektakuler, mereka tidak menyembah bintang itu. Bintang itu menuntun mereka untuk berjalan jauh guna mencari dan menemukan Bintang sebenarnya. Mereka menemukannya dalam sosok bayi Yesus, dan mereka pun menyembah Dia.

Yesuslah Bintang Timur yang gilang-gemilang itu (Why. 22:16). Dia bintang sebenarnya yang layak disembah oleh seluruh dunia. Bintang memancarkan terang, tetapi terangnya tak dapat menyelamatkan manusia dari kegelapan dan hukuman dosa yang kekal. Sebaliknya, Yesus disebut terang hidup dan terang dunia sebab terang-Nya membebaskan manusia dari kegelapan dosa dan memberikan hidup kekal.

Sepatutnyalah kita tidak percaya lagi pada ramalan bintang. Hal itu termasuk penyembahan berhala. Bukankah jika kita melihat benda yang mengagumkan, kita akan mencari tahu siapa pembuatnya? Begitulah bintang-bintang yang mengagumkan, mereka hanya benda ciptaan yang menuntun manusia agar kagum, percaya dan bergantung pada Tuhan, Sang Pencipta Bintang. Sembahlah Sang Bintang yang sesungguhnya!

—ES/www.renunganharian.net


JANGAN MEMERCAYAI BINTANG, PERCAYA PADA SANG PENCIPTA BINTANG



December 26, 2018, 05:37:10 AM
Reply #1989
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23128
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://www.renunganharian.net/2018/111-desember.html

 RENTAN
1
2
3
4
5
Rating 4.33 (6 Votes)

    Diterbitkan hari Rabu, 26 Desember 2018 00:00
    Ditulis oleh May Lan   
    Dibaca: 580 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Mazmur 51

Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku. (Mazmur 51:7)


Bacaan Alkitab Setahun:
Wahyu 9-11



Penderita AIDS pada dasarnya adalah seseorang yang mengalami serangkaian komplikasi sebagai akibat dari serangan virus HIV. Begitu terinfeksi oleh virus HIV, dalam jangka waktu 5 sampai 10 tahun, sistem kekebalan tubuh akan melemah, sehingga tubuh rentan terhadap serangan berbagai penyakit. Hal inilah yang menyebabkan AIDS menjadi salah satu penyakit mematikan yang begitu ditakuti oleh setiap orang.

Begitu pula halnya dengan dosa. Ia menjadi penyakit paling mematikan dalam hidup manusia karena berujung pada kebinasaan (Rm. 6:23). Tidak ada seorang pun yang steril terhadap dosa. Setiap orang rentan terhadap dosa. Hal inilah yang disadari oleh Raja Daud setelah ia jatuh dalam dosa perzinahan dengan Batsyeba, istri Uria (2Sam. 11). Daud mengakui bahwa dalam kesalahan dirinya diperanakkan, dalam dosa ia dikandung ibunya (ay. 7).

Pengakuan Daud menegaskan bahwa virus dosa telah berada dalam diri seseorang ketika ia terlahir ke dalam dunia. Ia menjadi benih penyakit yang berpotensi mematikan jiwa orang tersebut apabila dibiarkan menguasai hidupnya dan tanpa mendapat penanganan yang tepat. Oleh karenanya, tak ada alasan untuk memandang sebelah mata terhadap dosa.

Dosa adalah masalah terbesar dalam hidup manusia. Kerentanan terhadap dosa merupakan masalah pelik yang dihadapi oleh setiap orang. Hanya melalui pertolongan Yesus, Sang Tabib Agung, sajalah kita dapat melepaskan diri dari jerat dosa dan terhindar dari kebinasaan.

—EML/www.renunganharian.net


RENTAN TERHADAP DOSA MENGUNDANG KEBINASAAN

 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)