Author Topic: Renungan Harian®  (Read 110885 times)

0 Members and 3 Guests are viewing this topic.

April 17, 2019, 09:45:56 AM
Reply #2100
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22907
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2019/116-april.html

 TAKUT KEPADA ALLAH
1
2
3
4
5
Rating 4.89 (9 Votes)

    Diterbitkan hari Rabu, 17 April 2019 00:00
    Ditulis oleh Endang B. Lestari   
    Dibaca: 2058 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Nehemia 5:14-19

Tetapi para bupati yang sebelumnya, yang mendahului aku, sangat memberatkan beban rakyat. Bupati-bupati itu mengambil dari mereka empat puluh syikal perak sehari untuk bahan makanan dan anggur. Bahkan anak buah mereka merajalela atas rakyat. Tetapi aku tidak berbuat demikian karena takut akan Allah. (Nehemia 5:15)


Bacaan Alkitab Setahun:
2 Samuel 17-18



Terpilih menjadi seorang pemimpin tidak selalu menjadikan seseorang berani memimpin dalam kebenaran. Alasannya, bisa jadi takut terhadap pejabat yang lebih tinggi, takut merugi atau takut kehilangan jabatan. Terhadap aturan yang sudah telanjur menjadi budaya misalnya, orang lebih memilih untuk mengatakan: “Wah, sudah sejak lama tradisinya seperti itu, rasanya sulit untuk mengubahnya. Saya hanya melanjutkan saja!” Terlebih jika aturan itu memberi keuntungan secara pribadi.

Tidak demikian yang dilakukan Nehemia saat menjabat sebagai bupati di tanah Yehuda. Nehemia tidak memperlakukan rakyat seperti yang dilakukan oleh para bupati sebelumnya. Bupati-bupati sebelum Nehemia memaksa setiap orang membayar 40 syikal perak per hari. Pejabat di bawah bupati itu juga berkuasa atas rakyat sehingga mempersulit hidup mereka. Namun Nehemia tidak memakai kekuasaannya untuk mengambil keuntungan dari rakyat. Meski harus menjamu setidaknya 150 orang setiap harinya, Nehemia rela merugi. Semua itu dilakukannya karena ia menghormati Allah.

Tidak hanya berlaku bagi para pemimpin seperti Nehemia, rasa takut kepada Allah juga harus hidup dalam diri orang percaya. Menaruh hormat kepada Allah memampukan orang percaya mendobrak tradisi dosa meski menurut dunia dipandang sebagai sebuah kerugian. Setia menyatakan kasih meski harus banyak berkorban. Rela melepaskan pengampunan meski berulang kali disakiti. Bahkan menganggap kematian sebagai keuntungan.

—EBL/www.renunganharian.net


ORANG PERCAYA MENINGGALKAN KEBIASAAN DOSA
UNTUK SATU ALASAN: TAKUT AKAN ALLAH



April 18, 2019, 05:45:21 AM
Reply #2101
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22907
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2019/116-april.html

 DENGAN SEGENAP AKAL BUDI
1
2
3
4
5
Rating 4.29 (7 Votes)

    Diterbitkan hari Kamis, 18 April 2019 00:00
    Ditulis oleh Eko Elliarso   
    Dibaca: 912 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Matius 22:34-40

Jawab Yesus kepadanya, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” (Matius 22:37)


Bacaan Alkitab Setahun:
2 Samuel 19-20



“Maaf, Pak. Apakah sikap rasional tidak bertentangan dengan iman?”, tanya seorang siswa kelas III IPA pagi itu.

“Ke mana kamu setelah SMA, ‘Nak?”

“Teknik Sipil, Pak”, jawabnya sopan.

“Bagus! Bayangkan, kamu sudah menjadi insinyur terkenal. Gereja memintamu membangun gedung serbaguna tiga lantai yang besar. Sebagai orang beriman, perlukah kamu menghitung berat bangunan, beban yang dipikul oleh tiap pilar dan fondasi, dengan penuh perhitungan merancang konstruksi yang sesuai, merancang.…”

“Saya mengerti, Pak. Saya mengerti”, sahutnya antusias sebelum habis pertanyaan saya.

Dalam hidup beriman, kita juga perlu bersikap rasional. Ketika bertitah "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu”, Tuhan tidak berkata “dan buanglah akal budimu”. Tetapi, Dia bersabda, "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu” (ay. 37). Anda lihat? Dengan segenap akal budi!

Bersikap rasional adalah secara jernih mendayagunakan akal budi anugerah Tuhan untuk mencermati, menimbang, memutuskan, dan bertindak. Sikap itu diperlukan untuk hampir semua urusan. Belajar, bekerja, mendidik anak, bermasyarakat, dll.—bahkan, memilih tindakan untuk mewujudkan kasih kepada Tuhan pun—memerlukan sikap rasional, dengan segenap akal budi. Demikianlah. Dalam hidup beriman, kita juga perlu bersikap rasional.

—EE/www.renunganharian.net


MEMILIH DAN MEREALISASIKAN TINDAKAN-TINDAKAN SEBAGAI WUJUD
KASIH KEPADA TUHAN PUN MEMERLUKAN SIKAP RASIONAL

http://www.renunganharian.net/templates/beez5/images/fruits.jpg


April 19, 2019, 06:51:12 AM
Reply #2102
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22907
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2019/116-april.html

 PENGAMPUNAN YANG DITAHAN
1
2
3
4
5
Rating 5.00 (4 Votes)

    Diterbitkan hari Jum'at, 19 April 2019 00:00
    Ditulis oleh Go Hok Jin   
    Dibaca: 1151 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Lukas 23:33-43

Yesus berkata, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Lalu mereka membuang undi untuk membagi pakaian-Nya. (Lukas 23:34)


Bacaan Alkitab Setahun:
2 Samuel 21-22



Ada suasana canggung di ruang kerja Cindy ketika rekan-rekan kerjanya merayakan ulang tahunnya, terutama dengan kehadiran Rani. Sudah tiga bulan mereka tak bertegur sapa karena ada konflik yang belum terselesaikan. Rani sebenarnya telah meminta maaf, tetapi Cindy belum bisa menerima. Namun, semuanya berubah ketika Rani diminta mendoakan Cindy pada perayaan itu. Ada ketulusan yang dirasakan olehnya. Setelah membuka mata, Cindy lantas menghampiri Rani untuk meminta maaf atas keegoisannya. Rani pun dapat menerima permintaan maaf Cindy karena ia memang sudah mengampuni rekannya itu.

Bagi orang percaya, pengajaran tentang pengampunan bukanlah sesuatu yang asing. Dalam Alkitab juga ada banyak kisah terkait pengampunan beserta dampak yang terjadi saat perintah Tuhan itu dilakukan. Begitu pula ada risiko yang harus diambil oleh mereka yang menolak atau menahan pengampunan itu. Tuhan Yesus sendiri telah mengajarkan dan meneladankan hal itu saat tergantung di kayu salib. Sebelumnya, Yesus mengalami penderitaan jiwani dan fisik saat menerima ejekan, hinaan, sampai cambukan yang membuat tubuh-Nya remuk. Dalam kondisi yang buruk itulah Yesus berseru agar Bapa mengampuni orang-orang yang melakukan semua itu. Hal yang luar biasa bukan?

Bagi orang percaya, pengampunan lebih bersifat perintah daripada pilihan. Bagi mereka yang menolak, tentu akan ada konsekuensi yang harus ditanggung. Begitu pula akan ada berkat ketika perintah untuk mengampuni dilakukan dengan segenap hati. Manakah yang kita pilih?

—GHJ/www.renunganharian.net


TANPA PENGAMPUNAN, DUNIA AKAN MENJADI
JAUH LEBIH BURUK KARENA ADA BANYAK RELASI YANG RUSAK


April 20, 2019, 05:37:39 AM
Reply #2103
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22907
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2019/116-april.html

 SULIT MENGAMPUNI?
1
2
3
4
5
Rating 4.33 (6 Votes)

    Diterbitkan hari Sabtu, 20 April 2019 00:00
    Ditulis oleh Samuel Yudi Susanto   
    Dibaca: 672 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Matius 18:21-35

Yesus berkata kepadanya, “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” (Matius 18:22)


Bacaan Alkitab Setahun:
2 Samuel 23-24



Pengampunan memang menjadi kata yang kerap dibicarakan. Tetapi apakah hati untuk mengampuni itu juga terefleksi dalam hidup sehari-hari? Pada kenyataannya, membicarakan pengampunan jauh lebih mudah daripada melakukannya. Mengapa mengampuni itu sulit dilakukan? Apa saja yang menyulitkan kita untuk mengampuni seseorang?

Pertama, kita sulit mengampuni karena berpikir bahwa orang tersebut tidak layak untuk diampuni, dan kita merasa tidak adil bila orang tersebut diampuni. “Kesalahannya terlalu besar, ia tidak layak diampuni!” pikir kita. Kedua, kita sulit mengampuni karena kita tidak bisa menerima perlakuan buruk yang telah dilakukannya kepada kita. Ketiga, kita sulit mengampuni karena kita berpikir bahwa orang itu memang sepantasnya mendapatkan balasan setimpal dari kejahatannya.

Ketika kita merasa sulit untuk mengampuni, ingatlah bahwa kesalahan kita di hadapan Tuhan sesungguhnya tidaklah terampuni. Tapi Tuhan selalu bersedia mengampuni kita. Bagaimana jadinya jika Ia tidak bisa melupakan pelanggaran kita? Mengampuni memang bukan tindakan keadilan, namun tindakan kasih dan kemurahan. Seperti kita, yang tidak layak untuk diampuni, bahkan tidak adil bila dibebaskan dari hukuman dosa, tetapi Tuhan tetap mau mengampuni kita. Mengampuni tidaklah sama dengan melupakan. Apa yang sudah terekam dalam ingatan kita akan tetap ada dalam ingatan kita, tetapi mengampuni berarti, ketika ingatan itu muncul kembali, “sengatnya” tidak lagi membuat hati kita terluka. Kiranya kita bersedia belajar mengampuni orang-orang yang bersalah kepada kita, seburuk apa pun yang dilakukannya.

—SYS/www.renunganharian.net


KASIH KARUNIA TUHAN MENDORONG DAN MENOLONG KITA MEMAAFKAN KESALAHAN ORANG,
BUKAN MENYIMPAN KEBENCIAN ATAU MEMBALASNYA



April 21, 2019, 04:53:32 AM
Reply #2104
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22907
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2019/116-april.html

 PERCAYA SINAR MATAHARI
1
2
3
4
5
Rating 5.00 (2 Votes)

    Diterbitkan hari Minggu, 21 April 2019 00:00
    Ditulis oleh Pipi Agus Dhali   
    Dibaca: 468 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Lukas 24:30-35

Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia.… (Lukas 24:31)


Bacaan Alkitab Setahun:
1 Raja-raja 1-2:25



Sastrawan dan teolog awam dari Inggris, C.S. Lewis berkata, “Aku memercayai Kekristenan sama seperti kepercayaanku pada matahari yang telah terbit, yaitu bukan hanya karena aku telah melihatnya melainkan juga karena melalui sinarnya aku bisa melihat segala sesuatu.” Lewis hendak menegaskan, bahwa iman dan pengenalannya akan Kristus menentukan pandangannya terhadap segala sesuatu dalam kehidupan ini.

Perjumpaan Kleopas dan temannya dengan Yesus yang bangkit sungguh indah melukiskan Kekristenan. Perjumpaan itu membuahkan perbedaan besar, yaitu pada penglihatan mereka (ay. 31a). Maksudnya, mata dan hati mereka menjadi terbuka untuk melihat bukan hanya Yesus— itu sebabnya Yesus sendiri segera menghilang dari pandangan (ay. 31b)—melainkan melalui pengenalan akan Yesus yang bangkit itu mereka pun diajak memandang kehidupan ini seluruhnya dengan mata, gairah, nilai, dan pemaknaan yang baru.

Mengapa atas masalah serupa orang bisa berbeda tanggapan? Mengapa atas masalah serupa sikap saya berbeda antara sekarang dan tujuh tahun yang silam? Jawabannya terletak pada cara pandang atas masalah itu. Sudahkah Kekristenan kita memberi pandangan baru yang secara positif memengaruhi sikap kita terhadap pernikahan, pekerjaan, uang atau harta, teknologi, perkawanan, seks, tanggung jawab sosial—bahkan seluruh aspek kehidupan kita?

—PAD/www.renunganharian.net


KRISTUS YANG BANGKIT ADALAH TUHAN,
SUDAHKAH DIA MENJADI TUHAN ATAS SELURUH ASPEK HIDUP KITA?


April 22, 2019, 06:25:06 AM
Reply #2105
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22907
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2019/116-april.html

 WANITA BERKARYA
1
2
3
4
5
Rating 4.11 (9 Votes)

    Diterbitkan hari Senin, 22 April 2019 00:00
    Ditulis oleh Agustina Wijayani   
    Dibaca: 1581 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Lukas 8:1-3

… beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat dan berbagai penyakit, yaitu Maria … banyak perempuan lain … melayani rombongan itu. (Lukas 8:2,3)


Bacaan Alkitab Setahun:
1 Raja-raja 2:26-4



Selama beberapa tahun terakhir, saya turut melayani bersama sekelompok wanita yang berasal dari beberapa negara. Ada yang menjadi pembicara, ada yang menjadi penerjemah, ada yang menjadi pengawal situs, ada yang menjadi pendoa. Kami jarang bertemu muka, tetapi cukup intens berkomunikasi via surel dan telepon. Oleh bantuan teknologi, kami dapat bekerjasama menyelenggarakan konferensi atau menerbitkan buku bagi para wanita, agar mereka hidup sesuai rancangan Tuhan. Dengan kesanggupan dari Tuhan, kami berusaha bekerja cermat, cepat, dan cerdas. Ya, para wanita kini dapat andil dalam pekerjaan Tuhan, tanpa harus merasa terbatas.

Tak banyak memang kisah Alkitab yang mengangkat peran para wanita. Namun hari ini kita membaca satu bagian yang mencatat bahwa beberapa wanita membantu pelayanan Yesus. Memang akan lebih mudah rasanya membayangkan rombongan yang melakukan perjalanan bersama para wanita. Sebab, ada banyak hal yang mungkin tak terpikir dan tak terurus oleh para pria, akan terbantu oleh pelayanan para wanita. Namun yang lebih indah di sini adalah alasan mengapa para wanita ini begitu rindu mengikut dan melayani Tuhan, yakni karena mereka telah mengalami jamahan- Nya—disembuhkan dari penyakit jasmani, atau rohani.

Kini gereja tak lagi membatasi para wanita untuk ikut melayani. Tuhan memberi hikmat dan kelengkapan yang sama kepada para pria dan wanita yang mau melayani Dia. Wanita, bila kita menyadari sentuhan-Nya di hidup ini, mari layani Dia dengan setiap kesempatan dan kapasitas yang Dia beri.

—AW/www.renunganharian.net


BILA DIA MENJAMAH HIDUP SAYA BEGITU INDAH
MENGAPA SAYA TAK MAU MEMBERI DIRI DAN BERKARYA BUAT DIA?



April 23, 2019, 05:44:00 AM
Reply #2106
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22907
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2019/116-april.html

 MENJUAL KEBENARAN
1
2
3
4
5
Rating 3.43 (7 Votes)

    Diterbitkan hari Selasa, 23 April 2019 00:00
    Ditulis oleh Endang B. Lestari   
    Dibaca: 1071 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Matius 28:11-15

Mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan kepada mereka. Cerita ini tersebar di antara orang Yahudi sampai sekarang. (Matius 28:15)


Bacaan Alkitab Setahun:
1 Raja-raja 5-7



Serdadu-serdadu yang menjaga kubur Yesus turut menyaksikan bagaimana kubur itu terbuka dan kosong karena Yesus telah bangkit. Mereka pun pergi ke kota untuk mengabarkan kepada imam-imam kepala tentang gempa bumi, turunnya seorang malaikat, penggulingan batu besar dari pintu kubur dan keluarnya tubuh Yesus dari dalam kubur dalam keadaan hidup. Alih-alih menjadi percaya kepada Yesus, kesaksian itu mendorong imam-imam kepala merekayasa kebenaran dan menyogok para serdadu dengan banyak uang supaya mereka mau tutup mulut.

Para serdadu patuh saja terhadap perintah imam kepala untuk berbohong dengan mengatakan mayat Yesus dicuri oleh para murid-Nya pada malam hari ketika mereka sedang tidur. Padahal, dalam ketentuan hukum tentara Roma berlaku bahwa jika seorang tentara tertidur saat bertugas maka konsekuensinya adalah hukuman mati. Tapi mereka rela mempertaruhkan harga diri dengan berbohong demi uang.

Bagaimana dengan kita yang pada saat ini pun telah mendengar kabar kebenaran Kristus? Relakah kita memutarbalikkan kebenaran karena belenggu materialisme? Akankah kita rela menjual kebenaran Kristus demi rasa aman dan kenyamanan yang semu? Manakah yang terasa lebih menakutkan bagi kita: kehilangan gengsi sebagai pribadi yang telah Allah kuduskan, atau kehilangan gengsi karena tidak hidup dengan gaya konsumtif, hedonis, materialis? Jika para imam berani mengorbankan banyak uang demi membungkam kebenaran, seberapa besarkah pengorbanan yang rela kita pertaruhkan demi menyuarakan kebenaran?

—EBL/www.renunganharian.net


SAKSI KEBENARAN TIDAK AKAN PERNAH RELA MENJUAL KEBENARAN




April 24, 2019, 07:05:10 AM
Reply #2107
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22907
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2019/116-april.html

 KETAKUTAN
1
2
3
4
5
Rating 4.42 (19 Votes)

    Diterbitkan hari Rabu, 24 April 2019 00:00
    Ditulis oleh Pipi Agus Dhali   
    Dibaca: 2183 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Matius 28:1-15

Lalu kata Yesus kepada mereka, “Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku.” (Matius 28:10)


Bacaan Alkitab Setahun:
1 Raja-raja 8



Takut sakit. Takut ancaman bahaya. Takut sesuatu yang asing dan memberi ketidakpastian. Ketiganya melahirkan wujud-wujud ketakutan yang tak terbilang dalam kehidupan kita. Ketakutan itu seperti kuman flu di udara. Bisa menjangkiti kita, kemudian kita yang terkena bisa menularkannya ke sekitar. Menghindarinya mustahil. Satu-satunya jalan ialah memperkuat pertahanan tubuh kita. Bagaimana caranya?

Kebangkitan Yesus adalah kebenaran. Menentangnya, menutupinya, dan mencuranginya cuma seperti menyusun rentetan kebohongan yang berkelanjutan (ay. 15). Mengekalkan ketakutan. Malaikat meneguhkan kebenaran Yesus bangkit, untuk diakui dengan jujur (ay. 5-6). Pertama, adalah kejujuran yang membebaskan kita dari ketakutan. Jujur pada kebenaran. Tidak melarikan diri dari kenyataan. Kedua, percaya, yaitu tahap dimana kita berhenti dari meronta dan sibuk dengan diri sendiri. Percaya adalah titik balik yang mengusir ketakutan. Sebab semenjak itu, fokus kita bukan diri sendiri lagi, melainkan Tuhan yang hidup, Pemimpin hidup kita (ay. 10).

Ketakutan sedang menyergap kita? Sepertinya kita sedang berhenti di tempat dan sibuk menyangkali kenyataan sambil terus mengasihani diri sendiri? Enggan melangkah dan takut menatap hari esok? Jika ya, telah tiba saatnya kita kembali dan mulai dari tempat yang benar, yaitu jujur pada kebenaran dan percaya pada pimpinan Tuhan. Ingat, Dia yang bangkit itu sudah menanti untuk berjalan bersama kita.

—PAD/www.renunganharian.net


KEBERANIAN HANYALAH BUAH DARI KETAKUTAN YANG TELAH DIATASI
DENGAN KEJUJURAN DAN KEPERCAYAAN PADA TUHAN


April 25, 2019, 01:11:57 PM
Reply #2108
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22907
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2019/116-april.html

 HADIR DALAM INGATAN
1
2
3
4
5
Rating 4.68 (22 Votes)

    Diterbitkan hari Kamis, 25 April 2019 00:00
    Ditulis oleh May Lan   
    Dibaca: 3646 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Yohanes 14:15-31

“Tetapi Penolong, yaitu ROH KUDUS, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” (Yohanes 14:26)


Bacaan Alkitab Setahun:
1 Raja-raja 9-11



Setiap hadir dalam acara melayat di rumah duka, kita selalu teringat akan berbagai peristiwa yang pernah kita alami bersama dengan orang yang terlebih dulu pergi mendahului kita. Sambil duduk, biasanya kita mulai bertukar cerita dengan pelayat lainnya. Untaian kisah, baik suka maupun duka, bersama dengan orang yang kita beri penghormatan terakhir pun mengalir begitu saja dalam perbincangan.

Ingatan inilah yang melahirkan kenangan, sehingga menjadikan kematian bukan berarti perpisahan, melainkan keterbatasan. Kematian telah membatasi kita untuk mengalami perjumpaan secara fisik dengan orang-orang terkasih yang telah kembali ke pelukan Bapa di surga, tetapi tak sanggup melenyapkan kenangan dari ingatan kita. Keberadaan mereka akan senantiasa hadir dalam ingatan kita.

Demikian halnya kematian Yesus bagi orang percaya. Kematian-Nya harus dipandang sebagai keterbatasan untuk berjumpa dengan Dia sebagai Anak Manusia. Akan tetapi, karya ROH KUDUS akan mengajarkan segala sesuatu dan mengingatkan akan semua yang telah Dia katakan kepada kita (ay. 26). Ingatan akan kasih dan pengorbanan-Nya selalu hadir dalam hidup kita.

Keterbatasan berjumpa secara fisik dengan Yesus justru menjadikan kita berhak menyandang predikat berbahagia lantaran kita tidak melihat, namun percaya (Yoh. 20:29). Predikat ini meneguhkan bahwa kematian Yesus bukan akhir dari segala-galanya. Kasih dan pengorbanan-Nya justru memberi warna bagi rangkaian kisah hidup kita sebagai pengikut Kristus.

—EML/www.renunganharian.net


ROH KUDUS AKAN SELALU MENGHADIRKAN KASIH DAN PENGORBANAN YESUS
DALAM INGATAN PARA PENGIKUT KRISTUS


April 26, 2019, 06:01:35 AM
Reply #2109
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22907
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2019/116-april.html

 BERANI MENYATAKAN KEBENARAN
1
2
3
4
5
Rating 5.00 (6 Votes)

    Diterbitkan hari Jum'at, 26 April 2019 00:00
    Ditulis oleh Antok Setyo Wibowo   
    Dibaca: 1270 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Kisah Pr. Rasul 4:1-22

Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka.… (Kisah Pr. Rasul 4:13)


Bacaan Alkitab Setahun:
1 Raja-raja 12-13



Murid-murid Yesus adalah orang-orang biasa, di antaranya nelayan, pemungut cukai, dan mereka tidak terpelajar. Bagi mereka, penangkapan dan kematian Yesus begitu mengejutkan walaupun sebenarnya Yesus telah menyampaikan sebelumnya sebanyak tiga kali. Penangkapan dan kematian-Nya itu telah menghancurkan banyak harapan dan menciutkan nyali murid-murid-Nya sehingga mereka akhirnya hanya berkumpul, bersembunyi dengan mengunci rapat pintu rumah, karena ketakutan.

Tetapi mengapa kita menemukan Petrus dan Yohanes menjadi seperti pribadi yang berbeda dalam bagian ini? Mereka menyembuhkan orang lumpuh di Bait Allah dan dengan berani mereka bersaksi mengenai Yesus adalah Mesias secara terbuka (Kis. 3). Bahkan ketika mereka ditangkap, dihadapkan kepada sidang pemimpin Yahudi, tua-tua, dan ahli Taurat, dan mendapatkan ancaman, Petrus yang penuh ROH KUDUS, justru kembali menyaksikan Yesus sebagai satu-satunya Juru Selamat. Mereka penuh dengan ROH KUDUS dan benar-benar telah melihat dan mendengar Yesus sendiri yang telah bangkit dan naik ke surga, itulah yang membuat mereka berani dan tidak bisa untuk tidak memberitakan Yesus.

Mungkin kita juga orang biasa saja, tetapi dunia akan heran jika kita yang biasa saja mempunyai hidup yang luar biasa. Di tengah dunia yang penuh ketidakbenaran, marilah hidup sebagai orang biasa yang memberitakan Yesus, hidup jujur, setia, tanggung jawab, dan penuh kasih. Biarlah iman dan pengharapan di dalam Kristus, serta kekuatan dari ROH KUDUS itulah yang memampukan kita.

—ANT/www.renunganharian.net


ROH KUDUSLAH YANG MEMBERIKAN KEKUATAN DAN KEBERANIAN
UNTUK MEMBERITAKAN YESUS DAN HIDUP DALAM KEBENARAN



 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)