Author Topic: Renungan Harian®  (Read 115384 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

May 27, 2019, 06:16:33 AM
Reply #2140
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24001
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2019/117-mei.html

 SEHAT SAMPAI TUA
1
2
3
4
5
Rating 4.38 (13 Votes)

    Diterbitkan hari Senin, 27 Mei 2019 00:00
    Ditulis oleh Richard Tri Gunadi   
    Dibaca: 1521 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: 2 Samuel 19:31-39

Barzilai itu sudah sangat tua, delapan puluh tahun umurnya. Ia menyediakan makanan bagi raja selama ia tinggal di Mahanaim, sebab ia seorang yang sangat kaya. (2 Samuel 19:32)


Bacaan Alkitab Setahun:
2 Tawarikh 21-24



Usia Om Hin (kami para tetangga biasa memanggilnya) sudah tujuh puluh empat tahun. Tapi orang yang tidak tahu mengira usianya masih enam puluhan. Meski Om Hin dan istrinya bisa menikmati hari tua dengan bersantai, keduanya memilih tetap bekerja membuka toko. “Kalau kami menganggur, hanya menonton TV sambil ngemil, nanti malah sakit dan merepotkan anak,” katanya. Selain tetap membuka toko, mereka aktif terlibat berbagai kegiatan sosial. Karena banyak kegiatan, mereka sehat dan energik untuk ukuran lansia.

Kalau saat ini kita mendapat julukan opa atau oma, pujilah Tuhan karena diberkati umur panjang. Agar di usia tua badan tetap sehat dan pikiran tidak pikun, alangkah baiknya kalau kita tetap aktif melakukan berbagai kegiatan berguna. Alkitab mencatat Barzilai yang menyediakan makanan selama raja Daud tinggal di Mahanaim. Meski sudah sangat tua, Barzilai mengisi masa tuanya dengan melakukan kegiatan berguna, salah satunya menolong raja. Saat Barzilai mendapat tawaran tinggal di Yerusalem, Barzilai menolak. Barzilai tidak mau menjadi beban bagi raja.

Harapan setiap orang tua pasti ingin anak-anaknya hidup dalam takut akan Tuhan dan tidak mau merepotkan anaknya karena sakit. Kalau kebetulan kita masih sehat, marilah jaga kesehatan itu dengan tetap rajin beraktivitas yang positif. Kalau badan mulai sakit-sakitan, mari jaga pola makan dan pola pikir agar bisa sembuh atau minimal sakitnya tidak bertambah parah. Selama kita masih diberi hidup hari ini, mari selalu lakukan kegiatan positif.

—RTG/www.renunganharian.net


MELAKUKAN BERBAGAI KEGIATAN POSITIF
BERGUNA MENOLONG KITA TETAP SEHAT SAMPAI TUA




May 28, 2019, 06:55:35 AM
Reply #2141
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24001
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2019/117-mei.html

 MAHKOTA DAN KEBANGGAAN
1
2
3
4
5
Rating 4.90 (10 Votes)

    Diterbitkan hari Selasa, 28 Mei 2019 00:00
    Ditulis oleh Go Hok Jin   
    Dibaca: 2084 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Amsal 17:1-28

Mahkota orang-orang tua adalah anak cucu dan kehormatan anak-anak ialah nenek moyang mereka. (Amsal 17:6)


Bacaan Alkitab Setahun:
2 Tawarikh 25-27



Suatu hari ketika sedang menunggu servis sepeda motor dan mengobrol dengan pemilik bengkel, saya terkejut karena pemilik bengkel ini mengenal nenek saya. Padahal, radius lokasi bengkel tersebut cukup jauh dari rumah kami. Kebanggaan saya semakin menebal ketika orang itu mulai menceritakan hal-hal yang baik dari nenek saya. Saya bersyukur karena semasa hidupnya, nenek saya meninggalkan “warisan” yang dapat kami banggakan sebagai generasi penerusnya.

Hari ini Firman Tuhan berbicara mengenai hubungan menarik antara dua generasi. Bagi orang-orang tua, kehidupan anak cucu bisa menjadi kebanggaan. Ibarat mahkota yang dengan bangga akan dikenakan dan diceritakan kepada banyak orang. Kita mungkin pernah mendengar seseorang menceritakan anak cucunya dengan mata berbinar. Jangan heran, karena itulah hal yang membanggakan bagi mereka. Sebaliknya, bagi anak-anak, kehidupan generasi pendahulu mereka juga dapat menjadi kehormatan yang luar biasa. Apakah kita tidak merasa terhormat sekaligus bangga ketika ada generasi pendahulu kita yang dikenang dan dipuji banyak orang karena pernah melakukan sesuatu yang hebat semasa hidup mereka?

Jika hari ini kita masih diizinkan hidup, Tuhan sedang memberi kita kesempatan untuk menggenapi nas hari ini. Ya, mari kita jalani kehidupan kita sebaik mungkin, sehingga dapat membanggakan orang tua, keluarga, hingga kerabat kita. Lakukanlah dengan setia, sehingga kelak anak cucu kita dapat mengenang kita dengan penuh kebanggaan, karena mereka berada dalam garis keturunan orang yang luar biasa.

—GHJ/www.renunganharian.net


WARISAN NAMA BAIK ADALAH HAL
YANG MEMBANGGAKAN GENERASI PENERUS



May 29, 2019, 06:22:15 AM
Reply #2142
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24001
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2019/117-mei.html

 TAK PERNAH TERLELAP
1
2
3
4
5
Rating 5.00 (10 Votes)

    Diterbitkan hari Rabu, 29 Mei 2019 00:00
    Ditulis oleh May Lan   
    Dibaca: 1622 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Roma 5:1-11

Di dalam anugerah ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. (Roma 5:2)


Bacaan Alkitab Setahun:
2 Tawarikh 28-30



Satu hal yang patut disimak dari sosok Robert Wolter Mongisidi, pahlawan yang gugur dalam usia muda, adalah semangat pantang menyerah saat berjuang demi kemerdekaan tanah air. Hal itu terungkap melalui pernyataan yang ditulisnya ketika ia jatuh ke tangan penjajah, “Jika jatuh sembilan kali, bangunlah 10 kali, jika tidak bisa bangun berusahalah untuk duduk dan berserah pada Tuhan.”

Pernyataan Mongisidi juga dapat dimaknai sebagai sikap berserah kepada Tuhan. Sikap tersebut berangkat dari keyakinan dirinya, bahwa Tuhan sanggup membebaskan bangsanya dari tangan penjajah. Keyakinan itulah yang melahirkan pengharapan dalam diri Mongisidi, sehingga ia tekun menanggung segala penderitaan. Ia memilih untuk tidak menyerah dan tetap melanjutkan perjuangan hingga rentetan tembakan memungkasi hidupnya.

Kekristenan pada dasarnya juga berbicara tentang totalitas penyerahan hidup yang bertolak dari pengharapan akan menerima kemuliaan Allah (ay. 2). Pengharapan inilah yang menjadikan seorang pengikut Kristus tidak mengenal kata menyerah dalam menjalani hidup. Sebab, pengharapan tersebut menimbulkan ketekunan dalam menanggung penderitaan (ay. 3) dan menjadikan dirinya sebagai pribadi yang tahan uji (ay. 4).

Seorang pengikut Kristus yang tahan uji menjadikan kemuliaan Tuhan sebagai bagian dari pengharapan sepanjang hidupnya. Pengharapan tersebut bagaikan a waking dream, mimpi yang tidak pernah terlelap, seperti yang pernah diungkapkan oleh Aristoteles. Ia menanti hingga kemuliaan Tuhan menjelma menjadi kenyataan dalam hidupnya.

—EML/www.renunganharian.net


MENERIMA KEMULIAAN TUHAN ADALAH HARAPAN
YANG TIDAK PERNAH TERLELAP DALAM DIRI ORANG PERCAYA




May 30, 2019, 05:13:02 AM
Reply #2143
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24001
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2019/117-mei.html

 KEYAKINAN SAAT TERPISAH
1
2
3
4
5
Rating 4.50 (6 Votes)

    Diterbitkan hari Kamis, 30 Mei 2019 00:00
    Ditulis oleh Samuel Yudi Susanto   
    Dibaca: 504 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Kisah Pr. Rasul 20:17-35

“Sekarang aku menyerahkan kamu kepada Tuhan dan kepada firman anugerah- Nya yang berkuasa membangun kamu dan menganugerahkan kepada kamu warisan yang ditentukan bagi semua orang yang telah dikuduskan-Nya.” (Kisah Pr. Rasul 20:32)


Bacaan Alkitab Setahun:
2 Tawarikh 31-33



Berpisah dengan orang-orang yang terkasih kerap menjadi saat yang menyedihkan. Ketika anak-anak memutuskan untuk studi ke luar kota dalam kurun tertentu, itu bisa menjadi saat yang memilukan. Para orang tua tak lagi bisa berkomunikasi serutin sebelumnya. Mereka pun tidak lagi memberi pengawasan secara langsung. Ada rasa cemas. Dalam situasi demikian keyakinan kita kepada Allah yang setia tengah diuji.

Rasul Paulus merasakan kesedihan yang sama ketika harus berpisah dengan para pemimpin dan jemaat di kota Efesus. Tiga tahun masa perintisannya membangun gereja dan mengajar orang-orang di Efesus, hubungan itu sudah terjalin begitu dekat dan Paulus menganggap mereka seperti keluarga sendiri. Saat berpisah itulah Paulus memberikan nasihat bahwa meski ia tidak lagi bersama mereka sebagai guru, tetapi mereka tidak akan terabaikan. Paulus menyemangati mereka bahwa Allah akan terus menuntun mereka menjadi pemimpin gereja melalui firman kasih karunia-Nya. Allah akan tetap memelihara mereka!

Kita tidak bisa mengelak jika waktu perpisahan tiba, ketika anak-anak harus meninggalkan kita sesaat lamanya untuk hidup mandiri. Mengucap kata berpisah tidaklah mudah. Kini mereka berada jauh dari diri kita, tak lagi terjangkau. Namun, kita dapat meyakini bahwa Allah selalu menyertai mereka, mereka tidak akan diabaikan. Yakinlah bahwa Allah tetap akan menyertai mereka jauh lebih baik dari apa yang bisa kita pikirkan.

—SYS/www.renunganharian.net


MESKI KITA TIDAK LAGI MAMPU MENGAWASI ORANG YANG KITA KASIHI,
NAMUN ALLAH TIDAK PERNAH MENGABAIKAN MEREKA



May 31, 2019, 05:38:43 AM
Reply #2144
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24001
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2019/117-mei.html

 PEMBERIAN TERAKHIR
1
2
3
4
5
Rating 4.83 (6 Votes)

    Diterbitkan hari Jum'at, 31 Mei 2019 00:00
    Ditulis oleh Go Hok Jin   
    Dibaca: 890 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: 1 Raja-raja 17:7-16

Lalu pergilah perempuan itu dan berbuat seperti yang dikatakan Elia; maka perempuan itu dan dia serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya. (1 Raja-Raja 17:15)


Bacaan Alkitab Setahun:
2 Tawarikh 34-36



Saya tak pernah lupa dengan teladan yang diberikan oleh Franky, seorang pemimpin kelompok sel, ketika kami masih muda. Dalam kondisi uang yang cukup hanya untuk sekali makan, seorang pemuda mengeluh karena uangnya habis. “Tak ada lagi uang buat makan malam, Kak!” ujar pemuda itu. Tanpa banyak berpikir, Franky lalu mengajaknya ke warung tenda, lalu makan berdua dengan lauk sederhana. “Yang penting malam ini kamu makan, besok kita pikirkan solusinya,” ucap Franky.

Kitab Suci mencatat pergumulan yang dialami seorang janda di Sarfat. Dalam kondisi sangat terbatas, dimana tepung dan minyak di rumahnya hanya cukup untuk sekali makan, Elia meminta roti. Janda tersebut bisa beralasan, “Minta saja orang lain, nanti kami tidak bisa makan dengan kenyang kalau sebagian diberikan kepada Anda.” Namun, janda tersebut lebih memercayai perkataan Elia daripada menuruti pertimbangan logikanya. Hasilnya, ia dan anaknya bukan hanya bisa makan kenyang satu kali, melainkan terpelihara selama beberapa waktu. Tepat seperti perkataan Elia, sang janda itu mengalami mukjizat: tepung dan minyak yang tak habis-habis!

Terkadang Tuhan izinkan umat-Nya mengalami kondisi dan situasi seperti janda di Sarfat itu. Dalam kondisi terbatas, bahkan kekurangan, orang cenderung “cari aman” demi kebutuhannya terpenuhi. Namun di hadapan Tuhan, ketika ia melihat ada kerelaan untuk menaati firman-Nya dan mendahulukan kepentingan orang lain, maka Ia takkan segan untuk memberkati kehidupan orang tersebut dengan limpahnya.

—GHJ/www.renunganharian.net


DALAM HATI YANG PEDULI KEPADA SESAMA,
ADA TANGAN YANG TERULUR UNTUK MEMBERI





June 01, 2019, 05:56:02 AM
Reply #2145
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24001
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2019/118-juni.html

 PERGI UNTUK KEMBALI
1
2
3
4
5
Rating 4.20 (5 Votes)

    Diterbitkan hari Sabtu, 01 Jun 2019 00:00
    Ditulis oleh Eddy Nugroho   
    Dibaca: 904 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Kisah Pr. Rasul 1:6-11

“Yesus ini, yang diangkat ke surga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke surga.” (Kisah Pr. Rasul 1:11)


Bacaan Alkitab Setahun:
Ezra 1-2



Lagu ciptaan Minggus Tahitoe, “Pergi untuk Kembali,” menceritakan perpisahan sepasang kekasih. Sang kekasih berjanji untuk kembali lagi setelah ia pergi. Tetapi adakah yang bisa menjamin janji manusia akan ditepati?

Bacaan hari ini mencatat suatu ketika Yesus akan datang kembali. Namun, sebelum kedatangan-Nya kembali, Yesus berjanji akan mengutus ROH KUDUS turun ke atas para murid sehingga mereka memiliki kuasa untuk menjadi saksi-Nya mulai dari Yerusalem hingga ke seluruh Yudea dan Samaria, bahkan sampai ke ujung bumi. Jelas bahwa kunci keberhasilan para murid dalam memenuhi Amanat Agung Tuhan Yesus adalah kuasa dan penyertaan ROH KUDUS. Setelah Yesus naik ke surga dengan disaksikan murid-murid-Nya, tiba-tiba berdirilah dua orang berpakaian putih—perwujudan dari malaikat—yang mengingatkan bahwa Yesus yang terangkat ke surga akan datang kembali dengan cara yang serupa.

Peristiwa Kenaikan Yesus memiliki makna khusus yang berkaitan dengan kedatangan-Nya yang kedua kali. Kenaikan meneguhkan dan menjamin kedatangan-Nya kembali suatu hari nanti. Menurut sebagian penafsir Alkitab, kenaikan Kristus merupakan akhir karya Kristus di bumi, dan sekaligus permulaan sejarah gereja yang berlangsung hingga Kristus datang kembali. Marilah kita selalu mengingat, bersyukur, dan berjaga-jaga menantikan kedatangan Kristus yang kedua kali. Sepanjang penantian itu, kita melaksanakan Amanat Agung, yaitu bersaksi akan karya keselamatan-Nya.

—ENO/www.renunganharian.net


MENANTI KEDATANGAN KEMBALI KRISTUS BUKAN DENGAN PASIF,
MELAINKAN DENGAN CARA AKTIF BERSAKSI TENTANG KARYA KESELAMATAN-NYA





June 02, 2019, 02:47:49 PM
Reply #2146
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24001
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2019/118-juni.html

 AYUNAN LANGKAH PERTAMA
1
2
3
4
5
Rating 4.78 (9 Votes)

    Diterbitkan hari Minggu, 02 Jun 2019 00:00
    Ditulis oleh Pipi Agus Dhali   
    Dibaca: 1941 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Pengkhotbah 11:1-8

Siapa senantiasa memperhatikan angin tidak akan menabur; dan siapa senantiasa melihat awan tidak akan menuai. (Pengkhotbah 11:4)


Bacaan Alkitab Setahun:
Ezra 3-5



“Semua permulaan itu sukar”—demikian nasihat, lebih tepatnya, pengakuan yang lazim kita dengar. Mengapa? Pengalaman saya ketika menulis ialah munculnya harapan bahwa semua gagasan tersimpan jelas dan lengkap dulu di kepala, barulah dituangkan ke dalam tulisan. Namun akibatnya justru saya tak kunjung menulis. Hanya menunggu dan menunda. Layar monitor tetap kosong. Sebaliknya, apabila huruf, kata, dan kalimat pertama segera ditulis—gagasan pun ikut mengalir bersama rentetan kalimat berikutnya.

Kitab Pengkhotbah berbicara tentang hidup “di bawah matahari”—kehidupan manusia yang senantiasa dibayang-bayangi oleh kematian yang terasa misterius. Justru karena fana itu, kita harus berjuang untuk memberi makna pada hidup ini. Salah satunya ialah dengan cara menghidupi momentum dan mengerjakan segala sesuatu pada waktunya. Sebab Tuhan membuat segala sesuatu “indah pada waktunya” (Pkh. 3:11). Termasuk bekerja. Jangan menanti kondisi ideal dan berharap terlalu muluk untuk memulai. Segera menabur saja, menabur dengan rajin (ay. 6).

Dalam hal bekerja (apa saja) kita ditantang oleh godaan untuk menunggu. Tunggu kalau persyaratan ini dan itu terpenuhi dulu. Tunggu sampai keraguan kita hilang. Tunggu sampai kita punya ini dan itu. Tunggu waktu, tunggu ada tempat, tunggu kalau sudah siap. Serba tunggu. Akhirnya tunggu menjadi tunda dan hasilnya nihil. Asalkan bersama Tuhan, jangan ragu lagi. Ayunkan saja langkah pertama, selebihnya Dia pasti memimpin dan menyertai.

—PAD/www.renunganharian.net


KERJAKAN APA YANG ANDA BISA LAKUKAN DI TEMPAT DIMANA ANDA BERADA
DENGAN BEKAL APA YANG ANDA PUNYA.—Theodore Roosevelt



June 03, 2019, 06:00:33 AM
Reply #2147
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24001
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2019/118-juni.html

 SABAR KARENA MENGAMPUNI
1
2
3
4
5
Rating 4.80 (5 Votes)

    Diterbitkan hari Senin, 03 Jun 2019 00:00
    Ditulis oleh Heman Elia   
    Dibaca: 978 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Kolose 3:1-17

Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain; sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, perbuatlah juga demikian. (Kolose 3:13)


Bacaan Alkitab Setahun:
Ezra 6-7



Saya mengenalnya sebagai orang yang pemarah. Yang sangat saya hargai, ia menerima nasihat dan berjuang keras mengatasi kemarahannya. Dia berdoa secara pribadi, memohon agar memperoleh kesabaran. Sering segera setelah berdoa, dia pun dihadapkan dengan orang yang pernah bertengkar dengannya. Pemulihan hubungan dan saling memaafkan terjadi. Perlahan namun pasti, dia menjadi semakin sabar dan wajahnya acap dihiasi senyuman.

Rasul Paulus dalam nasihatnya kepada jemaat Kolose menempatkan kesabaran sejajar dengan pengampunan. Kita dapat lebih sabar jika kita rela mengampuni. Ketika memandang orang yang menyebalkan dan menyakitkan hati, kita perlu melihatnya dari sudut pandang Tuhan. Tuhan sudah mengampuni kita yang sering menyakiti hati-Nya. Lalu mengapa kita tidak mengampuni teman kita? Kita yang percaya pada Kristus mendapat kebangkitan bersama Kristus (ay. 1). Karena itu, kita harus memikirkan perkara surgawi (ay. 2). Perkara duniawi, termasuk marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor harus menjadi masa lalu dan tidak lagi kita lakukan (ay. 8-10).

Ada banyak cara yang diajarkan orang untuk mengendalikan kemarahan. Namun orang percaya telah memiliki modal untuk bersabar. Kita adalah manusia baru. Yang dituntut dari kita adalah tidak menanggapi hasrat keduniawian (ay. 5). Sebaliknya, kita berjuang untuk terus diperbarui di dalam hidup baru kita. Oleh kasih Kristus, kita dimampukan untuk saling mendahului meminta maaf dan memaafkan.

—HEM/www.renunganharian.net


KESABARAN NISCAYA AKAN KITA MILIKI KETIKA KITA BELAJAR
MENGAMPUNI SEBAGAIMANA KRISTUS TELAH MENGAMPUNI KITA





June 04, 2019, 02:45:15 PM
Reply #2148
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24001
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2019/118-juni.html

 DENDAM MENUTUP PENGAMPUNAN
1
2
3
4
5
Rating 4.65 (17 Votes)

    Diterbitkan hari Selasa, 04 Jun 2019 00:00
    Ditulis oleh Eddy Nugroho   
    Dibaca: 2796 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Lukas 23:33-43

Yesus berkata, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Lukas 23:34a)


Bacaan Alkitab Setahun:
Ezra 8-9



Polisi Korsel di Seoul menangkap Kim, yang berusia 37 tahun, karena dia menikam Song hingga tewas. Song adalah mantan gurunya yang berumur 58 tahun. Ternyata, dua hari sebelum kejadian, Kim mendesak Song untuk minta maaf karena gurunya itu telah salah menghukumnya, ketika dia dituduh menyontek, 20 tahun yang lalu. Namun sang guru menolak untuk minta maaf, maka terjadilah pembunuhan tersebut. Bayangkan! Selama 20 tahun Kim menyimpan dendam terhadap gurunya.

Marilah kita membayangkan kejadian yang menjadi puncak penderitaan Yesus, tatkala Dia disalib di Golgota. Pada saat itu siang hari yang terik. Panas. Pada situasi yang sangat panas, menderita kesakitan, perkataan apa yang keluar dari mulut Yesus? Makian? Kutukan? Erangan? Teriakan? Bukan semuanya. Yang luar biasa adalah keluar suatu doa dari mulut-Nya: “Ya Bapa, ampunilah mereka ….” Di dalam terjemahan bahasa Indonesia, ada satu kalimat pembuka yang hilang: “Pada saat itu Yesus berkata….” Pada saat itu Yesus lelah, menderita dan kesepian. Pada saat demikian Yesus berdoa memohon pengampunan bagi orang-orang yang menyalibkan-Nya.

Kristus telah memberi teladan kepada kita. Dia tidak hanya bisa berbicara tentang pengampunan, tetapi Ia taat terhadap panggilan-Nya untuk turun ke dunia, menderita dan mati di kayu salib untuk mengampuni dosa kita. Itu berarti, pengampunan dosa manusia oleh Tuhan telah dibayar lunas dengan harga yang sangat mahal, melalui darah dan nyawa Tuhan Yesus. Sekarang masalahnya, kalau kita dibebaskan dari hukuman karena dosa kita, kenapa kita sulit untuk mengampuni?

—ENO/www.renunganharian.net


PENGAMPUNAN BUKANLAH MATA PELAJARAN PILIHAN DALAM KEHIDUPAN,
NAMUN PELAJARAN WAJIB, DAN UJIANNYA SELALU SULIT UNTUK DILALUI.—Zig Ziglar


June 05, 2019, 04:42:51 PM
Reply #2149
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24001
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2019/118-juni.html

 MENYEMBUHKAN DALAM KASIH
1
2
3
4
5
Rating 4.57 (21 Votes)

    Diterbitkan hari Rabu, 05 Jun 2019 00:00
    Ditulis oleh Zefanya Duta P   
    Dibaca: 2396 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Yohanes 8:1-11

Jawabnya, “Tidak ada, Tuan.” Lalu kata Yesus, “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan mulai sekarang, jangan berbuat dosa lagi.” (Yohanes 8:11)


Bacaan Alkitab Setahun:
Ezra 10



Apabila seseorang mencuri dan tertangkap, apa yang akan terjadi padanya? Tentu saja, ia akan menerima hukuman. Untuk suatu kesalahan atau permasalahan, sering kali pemberian hukuman dianggap sebagai satu-satunya jalan keluar. Hukuman dianggap memberikan efek jera, supaya pelaku tidak mengulangi perbuatannya. Benarkah hukuman membuat si pelaku jera? Benarkah hukuman benar-benar menyelesaikan masalah yang ada?

Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mempunyai keinginan untuk memberikan hukuman kepada seorang perempuan yang kedapatan tengah melakukan zinah. Mereka hendak melemparinya dengan batu. Namun, cara ini tidak menyelesaikan masalah secara tuntas. Tuhan Yesus, sebaliknya, justru mengatakan bahwa barang siapa yang tidak berdosa, ia boleh melempari perempuan tersebut. Artinya, Tuhan Yesus hendak mengatakan bahwa memang benar setiap orang berdosa, tetapi tidaklah tepat jika kita menggunakan hukuman sebagai cara untuk menghentikan dosa. Bila diibaratkan bahwa dosa itu adalah penyakit, penyakit tersebut tidak akan dapat sembuh melalui hukuman. Hukuman malah akan membuat penyakit itu kian parah.

Pesan Tuhan Yesus di ayat 11 sebenarnya hendak menunjukkan kepada kita bahwa menyadarkan seseorang atas kesalahannya adalah cara terbaik untuk menyembuhkan seseorang, dan menunjukkan hidup yang sesungguhnya. Sikap untuk tidak menghukum tersebut menunjukkan bahwa kasih justru menyembuhkan dan memberikan kehidupan, bukan membunuh kehidupan.

—ZDP/www.renunganharian.net


HUKUMAN SERING TIDAK MEMBERIKAN KESEMBUHAN,
TETAPI JUSTRU MEMBERIKAN KEMATIAN



 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)