Author Topic: Renungan Harian®  (Read 109402 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

June 16, 2019, 04:51:57 AM
Reply #2160
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22530
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2019/118-juni.html

 TELADAN DAN DOA ORANG TUA
1
2
3
4
5
Rating 5.00 (2 Votes)

    Diterbitkan hari Minggu, 16 Jun 2019 00:00
    Ditulis oleh Eddy Nugroho   
    Dibaca: 349 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Ayub 1:1-5

Setiap kali, apabila hari-hari pesta telah berlalu, ... Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa. (Ayub 1:5)


Bacaan Alkitab Setahun:
Ayub 5-8



Salah satu harapan manusia adalah mencapai kesempurnaan hidup. Ukuran yang umum digunakan adalah: kaya raya, baik hati, dan memiliki anak laki-laki dan perempuan. Anggapan umum juga beranggapan bahwa anak orang kaya biasanya dimanjakan dengan harta dan fasilitas dari orang tuanya. Tetapi kurang perhatian dan waktu dari ayahnya, sehingga membuat mereka nakal. Apakah anggapan ini benar adanya?

Dengan melihat kehidupan Ayub, dapat dikatakan bahwa Ayub telah mencapai kesempurnaan hidup menurut ukuran umum. Malah ia bukan sekadar baik hati, ia juga jujur, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Ayub adalah orang terkaya di wilayah timur. Ayub memiliki tujuh anak laki-laki dan tiga anak perempuan, yang hidup dengan rukun. Sebagai orang kaya, Ayub pastilah sibuk, tetapi dia tidak melupakan tugasnya sebagai seorang ayah. Ia sangat memperhatikan kehidupan anak-anaknya. Maka ketika mereka usai mengadakan pesta, Ayub bertindak sebagai seorang imam yang memohon pengampunan Allah atas dosa-dosa yang mungkin saja mereka lakukan saat berpesta.

Ayub adalah teladan yang sangat baik bagi kita sebagai orang tua, terutama yang memiliki anak yang beranjak dewasa dan melangkah ke dunia luas. Dalam usia seperti itu, anak tidak bisa lagi dinasihati seperti ketika mereka masih kecil. Mereka sudah memiliki keinginan dan pertimbangan sendiri. Maka yang dapat dilakukan orang tua adalah dengan membawa mereka di dalam doa kepada Allah. Mereka mungkin saja berada di luar jangkauan kita, tetapi dengan teladan dan doa kita dapat memercayakan mereka ke dalam tangan Allah yang kuat.

—ENO/www.renunganharian.net


ANAK-ANAK TIDAK BISA MENDENGARKAN ORANG TUA DENGAN BAIK,
NAMUN MEREKA TIDAK PERNAH GAGAL UNTUK MENIRUNYA.—James Baldwin



June 17, 2019, 05:33:52 AM
Reply #2161
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22530
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2019/118-juni.html

 MEMANGGIL-NYA: YA ABBA!
1
2
3
4
5
Rating 4.40 (5 Votes)

    Diterbitkan hari Senin, 17 Jun 2019 00:00
    Ditulis oleh Samuel Yudi Susanto   
    Dibaca: 992 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Roma 8:10-16

Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru, “Ya Abba, ya Bapa!” (Roma 8:15)


Bacaan Alkitab Setahun:
Ayub 9-12



Masih ingatkah Anda saat bayi Anda belajar mengucapkan sebuah kata? Ketika bayi saya berusia sekitar satu tahun, ia mulai menirukan suara yang didengarnya. Beberapa waktu kemudian, ia mulai mengucapkan satu dua kata. Saya ingat kata pertama yang diperdengarkannya adalah “papa, mama”. Sungguh berbahagianya hati ini ketika mendengar suaranya memanggil disertai tawa sukacita.

Fase yang dialami oleh bayi itu, menurut saya adalah sebuah masa yang menyajikan sebuah kualitas keistimewaan yang tidak akan muncul kembali ketika masa itu berlalu. Saat saya memikirkan sikap orang tua kepada seorang anak yang sedang belajar memanggil “papa”, saya belajar menghargai sebuah kenyataan bahwa Allah suka memilih kata “anak-anak” untuk menggambarkan hubungan kita dengan-Nya. Rasul Paulus menyatakan bahwa kita adalah anak-anak Allah dengan segala keistimewaan yang kita terima sebagai ahli waris kerajaan-Nya. Bahkan sebagai anak, kita memiliki hak untuk memanggil Dia, “Ya, Abba, ya Bapa!” Sebuah hubungan kedekatan yang sungguh manis.

Sebagai Bapa, Ia juga memperhatikan kehidupan kita yang sering kali dipenuhi ketakutan ketika menjalani kehidupan ini. Tatkala ia merasa dirinya dalam bahaya atau hatinya merasa tidak tenang, ia pun secara spontan memanggil “papa”. Panggilan itu cukup baginya untuk merasa yakin bahwa papanya akan bersegera memeluk, menopang, dan menyelamatkannya. Demikianlah saat kita memanggil-Nya, “Ya Abba, ya Bapa!” Kita pun yakin bahwa hidup kita menerima jaminan ketenangan dari-Nya.

—SYS/www.renunganharian.net


TATKALA KITA MEMANGGIL ALLAH BAPA DI TENGAH KEKALUTAN HIDUP KITA,
KITA PERCAYA BAHWA IA SEDANG MENGGENDONG KITA





June 18, 2019, 05:20:53 AM
Reply #2162
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22530
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2019/118-juni.html

 BERKATA BERULANG-ULANG
1
2
3
4
5
Rating 4.45 (11 Votes)

    Diterbitkan hari Selasa, 18 Jun 2019 00:00
    Ditulis oleh Yuniar Dwi S.   
    Dibaca: 890 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Ulangan 6:1-9

“Haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.” (Ulangan 6:7)


Bacaan Alkitab Setahun:
Ayub 13-16



Berbicara keras berulang-ulang dapat membantu memasukkan kata-kata ke ingatan jangka panjang kita. Colin M. MacLeod, profesor dan ketua Departemen Psikologi di Universitas Waterloo, mengatakan bahwa berbicara berulang-ulang akan secara otomatis menambahkan ukuran aktif atau elemen produksi ke sebuah kata. Kata itu menjadi lebih berbeda dalam ingatan jangka panjang dan lebih berkesan. Bicara berulang-ulang disarankan agar dibudayakan oleh keluarga atau lembaga pendidikan saat mereka belajar suatu topik yang penting.

Tuhan memerintahkan pada keluarga Israel untuk terus mengajarkan kasih kepada Allah secara turun-temurun. Saat mereka hidup dalam takut akan Tuhan, mereka akan baik keadaannya, beroleh panjang umur, dan hidup berlimpah susu dan madu (ay. 2-3). Itulah janji Tuhan pada Israel yang seharusnya dipegang oleh mereka. Tidak hanya disimpan sebagai konsumsi pribadi, tetapi mereka harus mengajarkannya berulang-ulang pada generasi di bawah mereka, dan terus-menerus mengajarkannya di mana pun mereka berada dan beraktivitas (ay. 6-7). Mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, dan mengajarkannya berulang-ulang ini dikenal sebagai Shema Israel.

Selama ini apa yang kita bicarakan saat sedang berada di tengah-tengah keluarga? Apakah pusat pembicaraan kita tentang kasih pada Allah? Jika belum, mari mulai dengan membiasakan diri berbicara berulang-ulang tentang kasih pada Allah. Biarlah pengalaman mengasihi Allah menjadi dasar bagi keluarga kita melakukan segala sesuatu.

—YDS/www.renunganharian.net


KASIH PADA ALLAH BUKANLAH KONSEP SEMATA,
KITA HARUS MENERAPKANNYA




June 19, 2019, 05:46:49 AM
Reply #2163
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22530
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2019/118-juni.html

 TAK MAU MENYAPA
1
2
3
4
5
Rating 4.45 (11 Votes)

    Diterbitkan hari Rabu, 19 Jun 2019 00:00
    Ditulis oleh Go Hok Jin   
    Dibaca: 1177 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Kejadian 37:1-4

Setelah dilihat oleh saudara-saudaranya, bahwa ayahnya lebih mengasihi Yusuf dari semua saudaranya, maka bencilah mereka itu kepadanya dan tidak mau menyapanya dengan ramah. (Kejadian 37:4)


Bacaan Alkitab Setahun:
Ayub 17-20



Sebut saja namanya Dani, ayah dari tiga anak yang beranjak remaja. Sebagai orang tua, Dani ingin ketiga anaknya hidup rukun dan saling mengasihi. Benih sakit hati atau kebencian sedapat mungkin tidak boleh mendapat tempat dalam hati mereka. Setiap masalah atau konflik harus segera diselesaikan. Menariknya, Dani tak hanya cakap mengajarkan teori mengenai hidup rukun dan menyelesaikan konflik, tetapi ia sendiri memberi contoh. Ketika berbuat salah terhadap istri maupun anak-anaknya, Dani tak segan meminta maaf dengan sungguh-sungguh.

Yusuf muda sempat mengalami ketidaknyamanan ketika ia dibenci oleh para saudaranya. Perlakuan spesial Yakub kepada Yusuf menjadi pemicunya, sehingga para saudara Yusuf tidak mau menyapanya dengan ramah. Namun sayang, tampaknya Yakub tidak menyadari bahwa prahara dalam rumahnya disebabkan oleh tindakannya. Sekiranya Yakub menyadari lalu melakukan sesuatu untuk mendamaikan hubungan antara anak-anaknya, mungkin kebencian para saudara Yusuf tidak akan semakin menjadi-jadi. Sebagai orang tua, Yakub bukannya memastikan agar keluarga besarnya hidup rukun, tetapi justru menjadi pemicu adanya perselisihan dan kebencian bersemi dalam diri mereka.

Keluarga adalah permulaan seseorang belajar hidup rukun, mengasihi, dan saling mengampuni satu dengan yang lain. Masihkah hal itu diajarkan dan dipraktikkan dalam keluarga kita? Mari belajar dari kesalahan Yakub dan jangan biarkan kondisi yang sama terjadi dalam keluarga kita karena dampaknya akan sangat kita sesali kelak.

—GHJ/www.renunganharian.net


DISHARMONISASI DALAM KELUARGA TAKKAN SELESAI
DENGAN SENDIRINYA, TETAPI HARUS DIBERESKAN




June 20, 2019, 07:31:16 AM
Reply #2164
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22530
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2019/118-juni.html

 BAHAGIA ITU PILIHAN
1
2
3
4
5
Rating 4.47 (17 Votes)

    Diterbitkan hari Kamis, 20 Jun 2019 00:00
    Ditulis oleh Eko Elliarso   
    Dibaca: 2435 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Lukas 15:11-32

“Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku ... Lalu bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya.” (Lukas 15:18,20)


Bacaan Alkitab Setahun:
Ayub 21-24



Sebenarnya, Si Sulung dan Si Bungsu mempunyai kesamaan: keduanya tidak puas dengan apa yang mereka dapatkan di rumah bapa mereka. Tetapi, kemudian, pilihan mereka berbeda. Dan, pilihan itu sungguh menentukan.

Si Sulung—yang merasa diri banyak berjasa kepada bapanya, tetapi merasa bapanya tidak membalas jasanya (ay. 29)—memilih menganggap bapanya tidak mengasihinya, bahkan marah kepada bapanya (ay. 28). Pilihan itu membuat Si Sulung jauh dari kebahagiaan.

Si Bungsu memang sempat hilang. Tetapi, dia akhirnya menyadari bahwa kunci kebahagiaan adalah dekat dengan bapanya. Dia mengambil pilihan yang menentukan: “Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku” (ay. 18). Lalu, dia pulang untuk merealisasikan pilihannya: dekat dengan bapanya (ay. 20). Dan sungguh, dia menemukan kebahagiaan.

Apa makna kisah itu bagi kita? Tuhan menyediakan kebahagiaan. Tetapi, ternyata, pilihan kita ikut menentukan apakah kita berbahagia, atau tidak. Seperti yang tampak pada Si Sulung, persepsi dan sikap kita terhadap hal-hal yang kita miliki dan kita alami ternyata menentukan apakah kita akan berbahagia atau tidak. Dan, seperti yang terlihat pada Si Bungsu, langkah yang kita ambil sungguh menentukan apakah kita akan berbahagia atau tidak. Kita berbahagia jika kita memilih sikap dan langkah yang mengantar kita kepada kebahagiaan, tetapi kita tidak berbahagia jika kita memilih sikap dan langkah yang menjauhkan kita dari kebahagiaan.

Demikianlah ihwalnya: Berbahagia atau tidak berbahagia adalah soal pilihan.

—EE/www.renunganharian.net


PILIHAN KITA MENENTUKAN KEBAHAGIAAN ATAU KETAKBAHAGIAAN KITA



June 21, 2019, 05:16:44 AM
Reply #2165
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22530
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2019/118-juni.html

 BIOFILUS
1
2
3
4
5
Rating 3.43 (7 Votes)

    Diterbitkan hari Jum'at, 21 Jun 2019 00:00
    Ditulis oleh May Lan   
    Dibaca: 708 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Yohanes 5:19-47

... Siapa saja yang mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup. (Yohanes 5:24)


Bacaan Alkitab Setahun:
Ayub 25-29



Salah satu karakter sosial masyarakat modern, menurut psikolog sosial Erich Fromm, adalah nekrofilus-biofilus. Nekrofilus merujuk pada karakter orang yang mencintai kematian, sedangkan biofilus menunjukkan karakter sebaliknya. Pada dasarnya biofilus merupakan satu-satunya potensi primer dalam diri manusia. Nekrofilus bersifat sekunder, baru muncul apabila daya hidup dikecewakan.

Yesus adalah sumber kehidupan. Dia menawarkan kehidupan, bahkan hidup yang berkelimpahan (Yoh. 10:10), kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya. Kehidupan yang ditawarkan oleh Yesus berdimensi kini dan masa yang akan datang. Kekinian berbicara tentang kehidupan selama seseorang masih berada di dalam dunia. Masa yang akan datang berkorelasi dengan kehidupan setelah hidup kekinian ini berlalu.

Setiap orang yang mencintai kehidupan pasti tidak akan melewatkan kesempatan untuk datang kepada Sang Sumber Hidup. Kesempatan berharga ini akan memampukan dirinya mengatasi kesulitan dan tantangan yang singgah dalam hidupnya selama berada di dunia. Ia tak akan membiarkan nekrofilus menggantikan kecintaan akan kehidupan lantaran kekekalan hidup bakal menjadi taruhannya.

Sebagai pembawa benih kehidupan, setiap orang percaya adalah pecinta kehidupan, karena Yesus, yang adalah hidup, ada di dalam dirinya. Keberadaan Sang Sumber Hidup dalam hidupnya secara otomatis menggerakkan daya hidup yang sanggup mengatasi ruang dan waktu.

—EML/www.renunganharian.net


PERCAYA KEPADA YESUS MENJAMIN SESEORANG
UNTUK SENANTIASA MENCINTAI KEHIDUPAN



June 22, 2019, 05:35:24 AM
Reply #2166
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22530
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2019/118-juni.html

 MENEMUKAN SABAT
1
2
3
4
5
Rating 5.00 (7 Votes)

    Diterbitkan hari Sabtu, 22 Jun 2019 00:00
    Ditulis oleh Endang B. Lestari   
    Dibaca: 731 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Markus 2:23-28

Lalu kata Yesus kepada mereka, “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat.” (Markus 2:27)


Bacaan Alkitab Setahun:
Ayub 30-33



Homo faber merupakan konsep yang menggambarkan manusia sebagai pekerja. Pekerjaan menjadi hal yang utama dalam kehidupan manusia. Sedangkan dalam konsep homo ludens, hidup manusia tidak mempunyai arti tanpa pekerjaan. Kemampuan manusia diukur berdasar prestasi kerjanya atau apa yang dihasilkannya. Dalam konsep ini, manusia mampu mengenal diri melalui apa yang mereka kerjakan. Manusia menjadi tidak berarti jika tidak mengerjakan sesuatu.

Pada perkembangannya, manusia menjadi workaholic. Mereka menghabiskan waktu untuk bekerja. Bahkan mereka memandang kehidupan sesamanya sebatas pekerjaan. Relasi yang terjalin dengan sesama pun tidak lagi relasi personal atau relasi antar sesama manusia, melainkan relasi manusia kepada benda (obyek) yang dapat diukur dan dikendalikan.

Allah mengajar manusia untuk bekerja, sekaligus menjadikan Sabat sebagai hari perhentian. Ada hari dimana manusia hendaknya berhenti dari pekerjaan supaya tidak menjadi budak atas pekerjaan. Allah bermaksud memanusiakan manusia dengan menjadikan hari Sabat. Di zaman ini, ada pekerjaan yang harus dikerjakan setiap hari. Pekerjaan yang berhubungan dengan jasa kesehatan, transportasi dan pariwisata misalnya. Namun bukan berarti bahwa kita tidak bisa memiliki Sabat untuk bersenang-senang dengan Allah sebagai pemberi hidup. Bisa jadi hari Sabat kita bukan di hari Sabtu atau Minggu karena Sabat bukan sekadar waktu beribadah di gereja. Kita bisa menjadikan hari lain untuk Sabat kita, supaya relasi dengan Tuhan tetap terjaga.

—EBL/www.renunganharian.net


SETIAP HARI KITA MENIKMATI BERKAT. AMBILAH SATU HARI SEBAGAI SABAT
UNTUK MENIKMATI PERSEKUTUAN DENGAN SANG PEMBERI BERKAT.





June 23, 2019, 05:01:58 AM
Reply #2167
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22530
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2019/118-juni.html

 KENDALIKAN UCAPAN KITA
1
2
3
4
5
Rating 4.67 (3 Votes)

    Diterbitkan hari Minggu, 23 Jun 2019 00:00
    Ditulis oleh Samuel Yudi Susanto   
    Dibaca: 473 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: 1 Samuel 14:24-29

Ketika orang-orang Israel terdesak pada hari itu, Saul menyuruh rakyat mengucapkan kutuk, katanya: "Terkutuklah orang yang memakan sesuatu sebelum matahari terbenam dan sebelum aku membalas dendam terhadap musuhku." Sebab itu tidak ada seorang pun dari rakyat yang memakan sesuatu. (1 Samuel 14:24)


Bacaan Alkitab Setahun:
Ayub 34-37



Dalam keadaan terdesak, Raja Saul menyuruh rakyat Israel mengucapkan kutuk (ay. 24). Kata-kata kutukan itu diucapkan saat perang sedang berlangsung membuat rakyat berperang dalam keadaan letih, lesu, dan lapar. Yonatan yang tidak mendengar sumpah itu melanggar kutukan ayahnya dengan memakan madu di hutan. Nyawa Yonatan pun terancam. Perkataan kutuk yang telah diucapkan itu membuat Tuhan tidak mau berbicara terhadap umat-Nya (ay. 41). Dan bila rakyat tidak membela Yonatan, mungkin Raja Saul telah membunuh anaknya sendiri (ay. 37-45).

Dalam kehidupan sehari-hari, kutukan kadang-kadang bisa terucap bila kita tidak mampu mengendalikan kemarahan. Umumnya, perkataan kutukan yang kita ucapkan itu terlontar secara spontan, tidak dipikirkan masak-masak, tidak rasional, cenderung emosional, dan selalu bertujuan negatif. Siapa sasaran perkataan negatif kita? Bukankah mereka adalah anak-anak atau orang-orang yang ada di sekitar kita?

Tidak ada hal baik yang dihasilkan dari perkataan kita yang buruk. Karena itu dalam situasi yang tersulit sekalipun, belajarlah untuk mengendalikan hati dan perkataan kita. Dalam kondisi emosi yang tidak terkendali, kita acap kali mengucapkan perkataan yang negatif. Sumpah, atau kutukan, tidak hanya terdengar menyakitkan namun juga melemahkan semangat orang yang mendengarnya. Mari berdoa seperti Daud: “Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku!” (Mzm. 141:3).

—SYS/www.renunganharian.net


HIDUP DAN MATI DIKUASAI LIDAH, SIAPA SUKA MENGGEMAKANNYA,
AKAN MEMAKAN BUAHNYA.—Amsal 18:21




June 24, 2019, 05:28:32 AM
Reply #2168
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22530
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2019/118-juni.html

 KASIH DALAM KEBENARAN
1
2
3
4
5
Rating 4.56 (9 Votes)

    Diterbitkan hari Senin, 24 Jun 2019 00:00
    Ditulis oleh Endang B. Lestari   
    Dibaca: 898 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Keluaran 23:1-9

“Janganlah engkau menyebarkan kabar bohong; janganlah engkau membantu orang yang bersalah dengan menjadi saksi yang tidak benar.” (Keluaran 23:1)


Bacaan Alkitab Setahun:
Ayub 38-40



Adolfina Camelli Ortigoza dari Nemby, Paraguay sering mendapatkan perlakuan tidak baik dari suaminya, Pedro Heriberto Galeano. Pedro sering memukulnya lantaran cemburu berat. Menurut pengacara Adolfina, Arnaldo Martinez, Pedro menjadi kejam ketika ada orang yang menyukai foto-foto istrinya di Facebook. Uniknya, orang yang melaporkan kasus ini kepada polisi setempat adalah ayah kandung Pedro.

Sebagian orang masih memahami kasih sebagai sikap toleransi terhadap kesalahan. Memiliki solidaritas yang tinggi antarkelompok, keluarga, kerabat atau suku, tetapi mengabaikan kebenaran. Kita perlu waspada, mengingat kasih yang berkenan di hadapan Tuhan adalah kasih dalam kebenaran. Hanya dengan kebenaran, orang yang lemah dan tersingkir memperoleh hak mereka. Sementara dusta dan pemutarbalikan kebenaran menyebabkan orang benar menjadi kurban ketidakadilan. Tidak ada kebohongan yang dapat ditoleransi dalam kasih yang dilandasi kebenaran. Tujuan baik tidak membuahkan kebaikan jika dilakukan dan dilandaskan pada cara yang keliru.

Allah menurunkan hujan dan panas matahari bagi orang yang baik maupun yang jahat. Allah juga memberikan teladan hidup melalui diri Yesus Kristus. Dari kasih Allah dan kehidupan Yesus kita belajar bahwa integritas anak-anak Tuhan adalah menyatakan kasih kepada semua orang, termasuk musuh, atas dasar kebenaran. ROH KUDUS selalu siap menolong kita menyuarakan kasih dalam kebenaran. Apa lagi alasan kita untuk tidak menyatakan kasih dalam kebenaran Tuhan?

—EBL/www.renunganharian.net


KASIH BUKAN TINDAKAN MEMBELA ORANG TERDEKAT,
MELAINKAN KEPEDULIAN BERDASARKAN KEBENARAN TUHAN YANG MENYELAMATKAN




June 25, 2019, 05:44:10 AM
Reply #2169
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22530
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2019/118-juni.html

 KERJA ADALAH BAKTI
1
2
3
4
5
Rating 4.88 (8 Votes)

    Diterbitkan hari Selasa, 25 Jun 2019 00:00
    Ditulis oleh Piter Randan Bua   
    Dibaca: 1102 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: 1 Korintus 10:27-33

Karena itu, baik kamu makan atau minum, ataupun melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. (1 Korintus 10:31)


Bacaan Alkitab Setahun:
Ayub 41-42



Bill Wallace tiba di RS Stout Memorial, China Selatan, saat sedang terjadi perang antara propinsi Kwangsi melawan pemerintah Chiang Kai-shek. Di saat banyak misionaris meninggalkan daerah itu, Wallace memilih tetap tinggal di sana. Ia melakukan operasi dan berkeliling bersaksi tentang Kristus. Ketika perang antara Jepang dan China meledak, Wallace juga tetap tinggal di sana. Ia merawat yang terluka dan melakukan operasi di tengah-tengah ledakan bom dan desingan peluru. Saat temannya bertanya tentang keputusannya itu ia menjawab, “… aku yakin Tuhan menginginkanku menjadi misionaris medis.”

Karena dituduh sebagai mata-mata oleh Pemerintah Komunis, ia ditangkap, dipenjarakan dan disiksa secara brutal. Di penjara ia tetap berkhotbah dari lubang kecil selnya dan menempelkan ayat-ayat Injil di dinding kamarnya. Ia meninggal akibat siksaan berat yang dialaminya, mayatnya ditempatkan di peti kayu yang murah dan di atas nisannya tertulis, “Bagiku hidup adalah Kristus”.

Kerja adalah bakti. Entah, apa pun pekerjaan kita dari sekian banyaknya profesi, kita harus selalu melihatnya sebagai pelayanan kepada Allah. Kita harus menggunakan pekerjaan kita untuk melayani kebutuhan-kebutuhan manusia, dan membantu mereka memenuhi tujuan-tujuan Allah dalam hidup mereka. Seperti ungkapan Bill Wallace, “Sekecil apa pun pekerjaan kita baik secara langsung atau tidak, harus mendukung terealisasinya tujuan Allah dengan umat manusia (meski ada risiko yang harus ditanggung)”.

—PRB/www.renunganharian.net


SATU-SATUNYA JALAN UNTUK MEMPEROLEH KEPUASAN DIRI DALAM PEKERJAAN
ADALAH MENEMUKAN DIRI SENDIRI DALAM PELAYANAN TERHADAP ORANG LAIN



 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)