Author Topic: Renungan Harian®  (Read 110896 times)

0 Members and 3 Guests are viewing this topic.

July 17, 2019, 05:40:44 AM
Reply #2190
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2019/119-juli.html

 KONSEKUENSI DOSA
1
2
3
4
5
Rating 4.38 (8 Votes)

    Diterbitkan hari Rabu, 17 Juli 2019 00:00
    Ditulis oleh Go Hok Jin   
    Dibaca: 1030 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Roma 6:15-23

Sebab upah dosa ialah maut, tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. (Roma 6:23)


Bacaan Alkitab Setahun:
Mazmur 132-138



Saya hanya tersenyum mendengar seorang kerabat mengaku tidak tahu kalau pajak STNK sepeda motornya harus dibayar setiap tahun. Ia pun baru tahu pada tahun ketiga sejak sepeda motor itu dibeli dan dipakai untuk aktivitas sehari-hari. Kini ia harus bersiap membayar pajak yang tertunggak beserta dendanya, bisa membuat “dompet jebol” karena pengeluaran yang membengkak!

Ketidaktahuan seseorang mengenai kewajiban membayar pajak, tidak otomatis menghapus peraturan atau membebaskan orang itu dari denda. Prinsip yang sama berlaku pada dosa. Orang yang mengaku "tidak tahu" selama berbuat dosa akan tetap terkena "peraturan Allah" sesuai dengan firman-Nya, yakni hilangnya kemuliaan Allah dan kehidupan yang berujung maut (Rm. 3:23; 6:23). Maut juga bisa diartikan sebagai keadaan yang mengarah pada kerusakan hidup, keburukan, dan kematian secara fisik. Pemahaman akan Firman Tuhan membuat kita lebih memahami bahwa kehidupan ini memang tak bisa dijalani seenaknya. Salomo pun pernah mengingatkan bahwa setiap perbuatan manusia selama di dunia, kelak harus dipertanggungjawabkan di hadapan takhta pengadilan Allah (Pkh. 11:9).

Dosa selalu merugikan kehidupan manusia, tetapi terkadang "kemasan" yang menarik membuat umat Tuhan menjadi kurang waspada. Maka, waspadalah selalu terhadap pikatan dosa, dan jangan pernah menghambakan diri padanya. Jika kita terjatuh dalam dosa, pertobatan adalah cara terbaik untuk menerima pengampunan dan pemulihan dari Allah.

—GHJ/www.renunganharian.net


DOSA TETAPLAH DOSA. ADA KONSEKUENSI
YANG HARUS DITANGGUNG OLEH PELAKUNYA


July 18, 2019, 05:41:26 AM
Reply #2191
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://www.renunganharian.net/2019/119-juli.html

 DALIH
1
2
3
4
5
Rating 3.36 (22 Votes)

    Diterbitkan hari Kamis, 18 Juli 2019 00:00
    Ditulis oleh Lim Ivenina Natasya   
    Dibaca: 1027 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Kisah Pr. Rasul 5:1-11

“Dan engkau, anakku Salomo, kenallah Allahnya ayahmu dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan dengan rela hati, sebab TUHAN menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita.” (1 Tawarikh 28:9)


Bacaan Alkitab Setahun:
Mazmur 139-143



Seorang hamba Tuhan membatalkan pelayanan firman dengan dalih ia harus merawat dan mendampingi istrinya yang terkena kanker. Padahal, alasan yang sesungguhnya karena ia marah dan kecewa pada Tuhan. Ia memberikan dalih yang tampak rohani dan baik, padahal tidak demikian alasan yang sesungguhnya.

Ananias dan Safira menjual sebidang tanah. Mereka menahan sebagian dari hasil penjualan itu dan sebagian lain dibawa dan diletakkan di depan kaki para rasul. Mereka ingin mendapat citra “murah hati” di hadapan manusia. Petrus menegor Ananias, “Mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai ROH KUDUS dan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah itu? Selama tanah itu tidak dijual, itu tetap kepunyaanmu dan setelah dijual hasilnya tetap dalam kuasamu? Engkau bukan mendustai manusia tetapi mendustai Allah.” (ay. 2-4).

Kita kadang malu mengakui alasan yang tidak baik dan tidak mulia dari tindakan kita. Kita mencari dalih yang tampak rohani, agar mendapatkan penghormatan manusia. Kita bisa mengelabui manusia tetapi kita tidak bisa mengelabui Tuhan. Dia tahu hati dan motivasi yang sesungguhnya.

Daud berpesan agar Salomo mengenal Allah dan beribadah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan rela hati sebab Tuhan menyelidiki hati dan mengerti segala niat dan cita-cita (1Taw. 28:9). Kitab Amsal menegaskan, masakan Dia yang menguji hati tidak tahu yang sebenarnya dan Dia yang menjaga jiwa tidak mengetahuinya dan membalas manusia menurut perbuatannya (Ams. 24:12).

—IN/www.renunganharian.net


KITA TIDAK BISA MENGELABUI TUHAN;
DIA TAHU MOTIVASI KITA YANG SESUNGGUHNYA

July 19, 2019, 05:24:07 AM
Reply #2192
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://www.renunganharian.net/2019/119-juli.html

 BERSERAH DAN BEKERJA
1
2
3
4
5
Rating 5.00 (6 Votes)

    Diterbitkan hari Jum'at, 19 Juli 2019 00:00
    Ditulis oleh Antok Setyo Wibowo   
    Dibaca: 853 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Nehemia 4:1-6

Ya, Allah kami, dengarlah bagaimana kami dihina. (Nehemia 4:4a)


Bacaan Alkitab Setahun:
Mazmur 144-150



Ada perkataan bahwa hidup itu penuh dengan masalah; kalau tidak ada masalah, berarti kita sudah mati. Ada benarnya. Bahkan saat melakukan sesuatu hal yang baik dan berguna bagi sesama pun pasti ada masalah yang menghadang.

Nehemia dan orang-orang Yahudi baru saja memulai pembangunan kembali tembok Yerusalem. Sebelum itu, Sanbalat dan Tobia telah mengolok-olok dan menghina rencana mereka (Neh. 2:19-20), dan mereka kembali mengolok-olok ketika pembangunan telah dimulai. Mereka berusaha menggagalkan pembangunan dan melemahkan semangat para pekerja. Mereka menyebut orang Yahudi itu lemah dan tidak mungkin menyelesaikan pembangunan, dan hasil kerja mereka pasti mudah runtuh. Menanggapi hinaan ini, orang-orang Yahudi berdoa dan menyerahkan Sanbalat dan Tobia ke tangan Allah karena sesungguhnya mereka telah menghina Dia. Mereka tetap bekerja keras melanjutkan pembangunan dengan segenap hati (ay. 6). Mereka mengerti bahwa bagian mereka adalah bekerja keras, sedangkan bagian Tuhan adalah memberikan perlindungan dan kekuatan.

Sebagai orang percaya yang taat mengerjakan panggilan Tuhan sebagai garam dan terang dunia, hinaan dan olok-olok adalah hal yang lazim. Hinaan di lingkungan masyarakat, tempat kerja, atau kampus sering membuat kita takut dan mundur dari panggilan Tuhan atau hanya diam. Marilah kita terus maju mengerjakan panggilan Tuhan dan tetap berserah kepada Dia yang berkuasa dan menyertai sampai selama-lamanya.

—ANT/www.renunganharian.net


BERSERAH DAN TERUS MENGERJAKAN PANGGILAN SELALU BERJALAN
BERIRINGAN DI DALAM KEHIDUPAN ANAK-ANAK TUHAN

July 20, 2019, 05:34:41 AM
Reply #2193
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://www.renunganharian.net/2019/119-juli.html

 MANUSIA BIASA
1
2
3
4
5
Rating 4.25 (8 Votes)

    Diterbitkan hari Sabtu, 20 Juli 2019 00:00
    Ditulis oleh Pipi Agus Dhali   
    Dibaca: 673 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Kisah Pr. Rasul 14:8-20

“Hai kamu sekalian, mengapa kamu berbuat demikian? Kami ini manusia biasa sama seperti kamu.” (Kisah Pr. Rasul 14:15)


Bacaan Alkitab Setahun:
Amsal 1-5



Ketika Tuhan sedang meneguhkan berita Injil dengan mukjizat kesembuhan ilahi, manusia sering keliru menanggapinya. Yang dikagumi, disanjung, dan dicari-cari adalah orang yang pada saat itu sedang dipakai Tuhan. Seakan-akan sedang ada “orang istimewa” di antara kebanyakan orang. Dirinya menjadi tenar, dipuja-puja dan diperlakukan istimewa. Siapa tidak tergoda menikmati perlakuan istimewa itu?

Di Listra terjadi kesembuhan ilahi atas seorang lumpuh melalui pelayanan Paulus dan Barnabas (ay. 8-10). Serentak masyarakat takjub, terpikat, dan mendatangi kedua penginjil itu sambil membawa kelengkapan kurban bagi dewa sebab mereka dianggap dewa (ay. 11-13). Keteladanan keduanya dalam menanggapi perlakuan istimewa itu sungguh penting. Mereka menolak dan dengan tegas berkata, dirinya adalah manusia biasa (ay. 14-15).

Pengakuan sebagai manusia biasa setara siapa saja adalah disiplin rohani yang utama. Betapa sering, ketika keberuntungan sedang berpihak atau berkat sedang berlimpah, kita tergoda untuk senang diperlakukan istimewa atau menganggap diri istimewa. Tiba-tiba serasa kita ini lebih dibanding sekitar. Lebih hebat. Lebih kaya. Lebih cerdas. Lebih beruntung. Lebih penting. Lebih super. Lebih suci. Padahal semua “kelebihan” yang sedang mengunjungi kita hanyalah pemberian dan titipan Tuhan belaka. Dialah yang hebat, kita semua hanya alat.

—PAD/www.renunganharian.net


TUHAN DAN ANUGERAH BERKAT-NYA MEMANG LUAR BIASA,
TETAPI KITA INI HANYA MANUSIA BIASA


July 21, 2019, 04:37:09 AM
Reply #2194
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://www.renunganharian.net/2019/119-juli.html

 DOA SEBAGAI NAPAS
1
2
3
4
5
Rating 5.00 (3 Votes)

    Diterbitkan hari Minggu, 21 Juli 2019 00:00
    Ditulis oleh Zefanya Duta P.   
    Dibaca: 338 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Daniel 9:17-19

“Ya Tuhan, dengarlah! Ya, Tuhan, ampunilah! Ya Tuhan, perhatikanlah dan bertindaklah dengan tidak bertangguh, oleh karena Engkau sendiri, Allahku, sebab kota-Mu dan umat-Mu disebut dengan nama-Mu!” (Daniel 9:19)


Bacaan Alkitab Setahun:
Amsal 6-10



Atas semua hal yang terjadi dalam hidup kita, sering kali kita datang mengadu kepada Tuhan melalui doa, baik untuk mengucapkan syukur maupun untuk memohon pertolongan atas masalah yang kita hadapi. Karena itu, doa disebut sebagai napas orang beriman. Namun, pernahkah kita melihat masalah orang lain dan membawanya dalam doa kita? Sering kita hanya membawa kepedihan yang kita rasakan, tanpa melihat kepedihan orang lain.

Dalam pembuangan yang membuat bangsa Israel merasakan kepedihan, Daniel memanjatkan doa kepada Allah. Kita bisa melihat beberapa hal yang menarik dari doa Daniel. Ia tidak serta-merta mengajukan permohonan. Sebaliknya, ia bersedia merendahkan diri dan memohon pengampunan atas dosa-dosa bangsa Israel. Ia juga tidak berdoa untuk keselamatan dirinya sendiri, melainkan untuk keselamatan bangsa Israel. Permohonan yang dipanjatkan Daniel juga tidak ditujukan supaya Allah membalas bakti bangsa Israel, atau supaya Allah menunjukkan kemuliaan bangsa Israel, tetapi supaya nama Allah sendirilah yang dimuliakan karena keselamatan yang diberikan-Nya kepada bangsa Israel.

Belajar dari doa Daniel tersebut, kita patut melihat bagaimana kita berdoa selama ini, terlebih karena doa adalah napas hidup beriman kita. Seperti udara yang digunakan untuk bernapas oleh semua makhluk, begitu juga doa yang kita panjatkan seharusnya juga berdampak untuk kebaikan orang lain. Dengan demikian, nama Allah kiranya dipermuliakan.

—ZDP/www.renunganharian.net


SEBAGAI NAPAS ORANG BERIMAN, SEHARUSNYA DOA DIPANJATKAN
UNTUK KEBAIKAN BERSAMA, BUKAN UNTUK KEPENTINGAN DIRI SENDIRI

July 22, 2019, 06:23:23 AM
Reply #2195
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://www.renunganharian.net/2019/119-juli.html

 JEJAK IMAN
1
2
3
4
5
Rating 3.92 (13 Votes)

    Diterbitkan hari Senin, 22 Juli 2019 00:00
    Ditulis oleh May Lan   
    Dibaca: 1545 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Yohanes 17

“Aku telah memuliakan Engkau di bumi dengan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk Kulakukan.” (Yohanes 17:4)


Bacaan Alkitab Setahun:
Amsal 11-14



Berbagai aturan diterapkan Susanna Wesley kepada 10 (dari 19) anaknya untuk mengenal Tuhan sejak mereka masih belia. Ia ingin membentuk mereka menjadi pengikut Kristus yang setia. Sikap Susanna yang konsisten ini berujung manis. Ia menjadi sosok ibu yang mengubah dunia melalui ketaatan hidup anak-anaknya. Jejak imannya dapat ditemukan dalam diri John dan Charles Wesley, tokoh pembaruan gereja di Inggris yang melahirkan gereja Metodis.

Jejak iman seorang pengikut Kristus dapat dilihat dari ketaatannya. Sikap taat merupakan bukti dari konsistensi dirinya dalam menjalankan rencana Tuhan. Yesus pun membuktikan konsistensi diri-Nya melalui tindak ketaatan-Nya kepada kehendak dan rencana Bapa (Yoh. 4:34) serta menyelesaikan pekerjaan yang diberikan kepada-Nya (ay. 4). Bahkan, ketaatan itu Dia lakukan sampai mati di kayu salib (Flp. 2:8).

Ketaatan Yesus merupakan jejak iman yang ditinggalkan bagi orang percaya. Jejak tersebut menuntut tindak ketaatan mereka untuk melakukan segala sesuatu seperti yang telah Dia lakukan selama berada di dalam dunia. Seperti Yesus taat kepada Bapa-Nya, hanya tindakan ketaatan yang dapat membawa orang lain percaya kepada Yesus.

Tanpa ketaatan, jejak Kekristenan tidak akan pernah ada sampai sekarang. Ketaatan kepada Amanat Agung telah meninggalkan jejak iman dalam diri para pengikut Kristus. Susanna pun membuktikan konsistensi ketaatan dirinya sebagai pengikut Kristus dengan meninggalkan jejak iman dalam diri anak-anaknya.

—EML/www.renunganharian.net


JEJAK IMAN DALAM DIRI ORANG PERCAYA DAPAT DITELUSURI DARI
KONSISTENSI SIKAP TAATNYA SEBAGAI PENGIKUT YESUS YANG SETIA



July 23, 2019, 05:56:59 AM
Reply #2196
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2019/119-juli.html

 TANAH YANG BAIK
1
2
3
4
5
Rating 5.00 (7 Votes)

    Diterbitkan hari Selasa, 23 Juli 2019 00:00
    Ditulis oleh Yuniar Dwi S.   
    Dibaca: 1273 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Lukas 8:4-15

“Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang-orang yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.” (Lukas 8:15)


Bacaan Alkitab Setahun:
Amsal 15-19



Methuselah adalah tanaman dari biji hasil penggalian arkeologi di daerah Masada, Israel. Sebuah guci kuno ternyata berisi biji-bijian yang berumur 2000-an tahun. Biji-bijian ini kemudian dibawa ke ahli botanika untuk diteliti, bahkan dicoba ditanam kembali. Meskipun sudah sangat tua, biji ini ternyata dapat tumbuh. Pertumbuhan biji ini rupanya didukung oleh faktor tanah yang baik.

Yesus memakai cerita sehari-hari atau perumpamaan untuk membuat orang banyak paham akan rahasia Kerajaan Allah. Benih itu ialah firman Allah (ay. 11). Ada empat jenis tanah tempat benih itu jatuh: pinggir jalan (ay. 5), tanah berbatu (ay. 6), tanah penuh semak duri (ay. 7) dan tanah yang baik (ay. 8). Hanya jenis tanah baik yang akan membuat benih ini dapat bertumbuh dan berbuah. Orang-orang yang memiliki jenis tanah yang baik ini adalah mereka yang tidak hanya mendengar, tapi menyimpannya dalam hati (NIV, retain it: menahannya). Firman Allah yang ditahan dalam hati atau diendapkan pastilah akan berbuah. Buah-buah kehidupan yang lahir dari firman Allah akan menolong orang percaya menghadapi tantangan yang dapat menyerang kapan saja.

Alkitab adalah firman Allah yang tertulis. Meskipun banyak diserang oleh para cendekiawan, relevansi Alkitab tetap akurat sampai masa kini. Sudahkah kita membacanya dan menahan setiap perkataan-perkataannya dalam hati kita? Jika kita ingin bertumbuh dan berbuah, kita harus siap membajak hati agar menjadi jenis tanah yang baik.

—YDS/www.renunganharian.net


FIRMAN ALLAH ITU SEBAIKNYA DITAHAN DALAM HATI,
BUKAN DIMUNTAHKAN KE LUAR

July 24, 2019, 04:45:38 AM
Reply #2197
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://www.renunganharian.net/2019/119-juli.html

 MENEGUR GEREJA
1
2
3
4
5
Rating 4.33 (3 Votes)

    Diterbitkan hari Rabu, 24 Juli 2019 00:00
    Ditulis oleh Piter Randan Bua   
    Dibaca: 487 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Wahyu 1:9-20

“Apa yang engkau lihat, tuliskanlah di dalam sebuah kitab dan kirimkanlah kepada ketujuh jemaat ini: ke Efesus, ke Smirna, ke Pergamus, ke Tiatira, ke Sardis, ke Filadelfia dan ke Laodikia.” (Wahyu 1:11)


Bacaan Alkitab Setahun:
Amsal 20-23



Teolog Dietrich Bonhoeffer (1906- 1945) menentang keras saat gereja mulai tidak punya arah, terombang-ambing dan hanya mencari kenyamanan bagi orang yang sudah selamat daripada mencari jiwa yang hilang. Ia juga menentang hukum-hukum tak bermoral Hitler melalui perkuliahan dan artikel-artikel yang dipublikasikan. Namun banyak orang dalam kepemimpinan gereja hanya berdiam diri. Bonhoeffer memarahi gereja karena tidak mengeluarkan seruan demi kepentingan para korban dan menemukan jalan untuk mendapatkan bantuan. Ia berkata, “Gereja membisu saat seharusnya berteriak.”

Menegur gereja bukanlah hal yang tabu. Yohanes dalam segala deritanya karena kerja paksa di Pulau Patmos menegur ketujuh jemaat. Yohanes dengan spesifik menegur ketujuh jemaat itu berdasarkan permasalahan yang diabaikan. Ia juga dengan tegas menyampaikan dampak jika pesan itu diabaikan. Yohanes yang dalam kungkungan pengasingan tak membiarkan hati dan pikirannya terkungkung untuk melihat kemajuan gereja.

Kita hidup di zaman yang berbeda tetapi permasalahan gereja masih terpampang di depan mata. Gereja dalam pandangan penulis Drewes dan Mojau tersandera dengan formalitas dan ritualistik. Sedangkan penginjil Bill Bright menyindir, “Gereja sibuk memperbaiki lukisan di dinding sedangkan rumahnya sedang terbakar hebat.” Masyarakat kita masih banyak yang tersandera oleh hukum-hukum yang tidak bermoral, mereka menunggu seseorang untuk memperjuangkan kepentingan mereka. Gereja dan orang percaya jika mengerti jati dirinya, ia harus hadir memperjuangkannya.

—PRB/www.renunganharian.net


KADANG-KADANG AKIBAT KEINGINANNYA YANG SEJATI UNTUK
MENITIKBERATKAN “KEKUDUSAN”, GEREJA UNDUR DARI DUNIA.—John Stott


July 25, 2019, 04:55:40 AM
Reply #2198
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://www.renunganharian.net/2019/119-juli.html

 MENEGUR GEREJA
1
2
3
4
5
Rating 4.58 (31 Votes)

    Diterbitkan hari Rabu, 24 Juli 2019 00:00
    Ditulis oleh Piter Randan Bua   
    Dibaca: 4960 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Wahyu 1:9-20

“Apa yang engkau lihat, tuliskanlah di dalam sebuah kitab dan kirimkanlah kepada ketujuh jemaat ini: ke Efesus, ke Smirna, ke Pergamus, ke Tiatira, ke Sardis, ke Filadelfia dan ke Laodikia.” (Wahyu 1:11)


Bacaan Alkitab Setahun:
Amsal 20-23



Teolog Dietrich Bonhoeffer (1906- 1945) menentang keras saat gereja mulai tidak punya arah, terombang-ambing dan hanya mencari kenyamanan bagi orang yang sudah selamat daripada mencari jiwa yang hilang. Ia juga menentang hukum-hukum tak bermoral Hitler melalui perkuliahan dan artikel-artikel yang dipublikasikan. Namun banyak orang dalam kepemimpinan gereja hanya berdiam diri. Bonhoeffer memarahi gereja karena tidak mengeluarkan seruan demi kepentingan para korban dan menemukan jalan untuk mendapatkan bantuan. Ia berkata, “Gereja membisu saat seharusnya berteriak.”

Menegur gereja bukanlah hal yang tabu. Yohanes dalam segala deritanya karena kerja paksa di Pulau Patmos menegur ketujuh jemaat. Yohanes dengan spesifik menegur ketujuh jemaat itu berdasarkan permasalahan yang diabaikan. Ia juga dengan tegas menyampaikan dampak jika pesan itu diabaikan. Yohanes yang dalam kungkungan pengasingan tak membiarkan hati dan pikirannya terkungkung untuk melihat kemajuan gereja.

Kita hidup di zaman yang berbeda tetapi permasalahan gereja masih terpampang di depan mata. Gereja dalam pandangan penulis Drewes dan Mojau tersandera dengan formalitas dan ritualistik. Sedangkan penginjil Bill Bright menyindir, “Gereja sibuk memperbaiki lukisan di dinding sedangkan rumahnya sedang terbakar hebat.” Masyarakat kita masih banyak yang tersandera oleh hukum-hukum yang tidak bermoral, mereka menunggu seseorang untuk memperjuangkan kepentingan mereka. Gereja dan orang percaya jika mengerti jati dirinya, ia harus hadir memperjuangkannya.

—PRB/www.renunganharian.net


KADANG-KADANG AKIBAT KEINGINANNYA YANG SEJATI UNTUK
MENITIKBERATKAN “KEKUDUSAN”, GEREJA UNDUR DARI DUNIA.—John Stott



July 26, 2019, 06:44:18 AM
Reply #2199
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://www.renunganharian.net/2019/119-juli.html

 HIDUP SALING MEMBANGUN
1
2
3
4
5
Rating 5.00 (9 Votes)

    Diterbitkan hari Jum'at, 26 Juli 2019 00:00
    Ditulis oleh Zefanya Duta P.   
    Dibaca: 1592 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: 2 Samuel 12:1-14

Lalu berkatalah Daud kepada Natan: “Aku sudah berdosa kepada TUHAN.” Dan Natan berkata kepada Daud: “TUHAN telah menjauhkan dosamu itu: engkau tidak akan mati.” (2 Samuel 12:13)


Bacaan Alkitab Setahun:
Amsal 28-31



Hubungan persahabatan merupakan relasi yang kuat karena menuntut rasa persaudaraan dan sepenanggungan yang terwujud dalam sikap saling mendukung, saling membangun, saling percaya dan saling mengingatkan. Sikap yang terakhir itu relatif biasanya paling sulit untuk dilakukan karena berpotensi untuk menghancurkan hubungan.

Relasi persahabatan tersebut juga diperlihatkan oleh Daud dan Natan. Dalam bacaan ini, Natan diutus oleh Tuhan untuk memperingatkan Daud atas kesalahan yang telah diperbuatnya setelah Daud memperistri Batsyeba. Yang menarik dari cara Natan memperingatkan Daud adalah bahwa Natan tidak secara terbuka menyalahkan Daud. Ia membuat Daud menyadari kesalahannya terlebih dahulu. Natan menceritakan perumpamaan tentang orang kaya yang mengambil anak domba milik orang miskin, dan Daud memberikan jawaban yang menunjukkan kesalahan yang telah diperbuatnya. Setelah Daud sadar akan kesalahannya, barulah Natan menegurnya, dan Daud menyesali perbuatannya.

Pemberian teguran kepada seseorang sering justru menghasilkan suatu masalah baru. Belajar dari persahabatan Natan dan Daud, teguran yang dilakukan Natan menunjukkan bahwa suatu teguran sebenarnya ditujukan untuk membangun seseorang, dengan membuatnya sadar akan kesalahannya sendiri; bahwa suatu teguran tidak ditujukan untuk melukai seseorang. Tentu saja hal itu dilakukan atas dasar kasih sehingga relasi yang terjalin adalah relasi yang saling membangun.

—ZDP/www.renunganharian.net


PEMBERIAN TEGURAN YANG DILAKUKAN DALAM KASIH
ADALAH BENTUK DUKUNGAN KEPADA HIDUP SESEORANG



 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)