Author Topic: Renungan Harian®  (Read 114536 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

August 29, 2019, 08:26:26 AM
Reply #2230
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23781
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.renunganharian.net/2019/120-agustus.html

 GOD’S LIST
1
2
3
4
5
Rating 3.86 (28 Votes)

    Diterbitkan hari Kamis, 29 Agustus 2019 00:00
    Ditulis oleh May Lan   
    Dibaca: 2867 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Wahyu 21:9-27

… melainkan hanya mereka yang namanya tertulis di dalam kitab kehidupan Anak Domba itu. (Wahyu 21:27)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yeremia 51-52



Film Schindler’s List, berangkat dari novel dengan judul Schindler’s Ark buah karya Thomas Keneally, menceritakan daftar nama yang dibuat oleh Oskar Schindler untuk membebaskan lebih dari 1.000 orang Yahudi dari kekejaman tentara Nazi pada Perang Dunia II. Setelah melalui serangkaian perjuangan panjang, Schindler berhasil menyelamatkan nyawa orang-orang yang tercatat dalam daftar miliknya.

Daftar yang dibuat oleh Schindler adalah kehidupan bagi orang-orang Yahudi yang namanya termaktub di dalamnya. Demikian pula halnya dengan nama setiap orang yang tercatat dalam God’s List, yaitu kitab kehidupan. Ia akan merasakan sukacita besar ketika namanya terdaftar di surga (Luk. 10:20), karena itu berarti kehidupan kekal menjadi miliknya. Kesempatan untuk menikmati keindahan kota yang dipenuhi oleh kemuliaan Allah (ay. 10), yaitu Yerusalem yang baru, pun terbuka lebar bagi dirinya.

Kesempatan emas tersebut adalah anugerah terindah bagi setiap orang percaya. Kelak ia juga akan mendapat kehormatan untuk diakui oleh Kristus di hadapan Bapa dan malaikat-malaikat-Nya (Why. 3:5). Suatu kehormatan yang menuntut hidup yang berkenan di hadapan-Nya (ay. 27). Hidup semacam itu berharga di mata Tuhan. Itulah yang menjadi alasan utama agar namanya tidak terhapus dari kitab kehidupan.

Hidup kekal hanya berlaku bagi orang yang namanya tercatat dalam daftar nama milik Tuhan. Percaya kepada Yesus adalah jaminan bagi namanya termasuk di dalam daftar tersebut.

—EML/www.renunganharian.net


PERCAYA KEPADA YESUS KRISTUS MERUPAKAN KESEMPATAN
YANG BERHARGA UNTUK MASUK DALAM GOD’S LIST


September 01, 2019, 04:30:15 AM
Reply #2231
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23781
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://www.renunganharian.net/2019/121-september.html

 HATI NURANI SEBAGAI ALARM
1
2
3
4
5
Rating 0 (0 Votes)

    Diterbitkan hari Minggu, 01 September 2019 00:00
    Ditulis oleh Eddy Nugroho   
    Dibaca: 277 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: 1 Samuel 24:1-23

“Telah tiba hari yang dikatakan TUHAN kepadamu: Sesungguhnya, Aku menyerahkan musuhmu ke dalam tanganmu, maka perbuatlah kepadanya apa yang kaupandang baik.” (1 Samuel 24:5)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yehezkiel 1-4



Manusia dianugerahi Tuhan hati nurani. Jika kita akan melakukan dosa, hati nurani akan mengingatkan. Seolah-olah ia berkata, “Jangan lakukan itu!” Akan tetapi kalau peringatan hati nurani ini selalu kita tepis dan kita tetap melakukan dosa, maka lama kelamaan suara hati nurani ini akan semakin tidak terdengar. Hati-hati, itulah jerat dosa!

Kesempatan Daud untuk menyingkirkan Saul yang ingin membunuhnya, tanpa disangka-sangka terbuka. Teman-teman Daud mendorongnya untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Bukankah Daud berhak membela dirinya dengan menyingkirkan orang yang mengancamnya? Apalagi Tuhan pun sudah mempersilakan Daud untuk berbuat sesuatu yang dipandang baik olehnya. Tetapi Daud tidak menggunakan kesempatan itu. Mengapa? Karena Daud mendengarkan hati nuraninya, maka ia memilih tidak membunuh Saul. Ia merasa tidak berhak menghukum Saul, karena Saul adalah raja yang diurapi Tuhan. Hanya Tuhan yang berhak menghukumnya. Daud tidak berhak menjamahnya.

Apa yang dipandang baik oleh Daud adalah segala sesuatu yang mendatangkan kebaikan bagi semua orang. Akhirnya Saul pun mengakui bahwa dirinya salah dan Daud benar. Saul juga meminta Daud agar kelak setelah berkuasa tidak membalaskan perbuatan jahatnya dengan membinasakan keturunannya. Mari bersyukur kepada Tuhan untuk hati nurani yang Tuhan berikan sebagai alarm sebelum kita melangkahkan kaki melakukan perbuatan dosa. Maka perlengkapi nurani kita dengan kebenaran Firman Tuhan setiap pagi dalam saat teduh, agar ia tetap menyuarakan peringatan kebenaran dari Tuhan.

—ENO/www.renunganharian.net


JALAN DAMAI AKAN JAUH LEBIH INDAH DARIPADA JALAN PERANG

September 02, 2019, 07:19:30 AM
Reply #2232
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23781
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://www.renunganharian.net/2019/121-september.html

 ADA APA DENGAN ELIA?
1
2
3
4
5
Rating 4.21 (14 Votes)

    Diterbitkan hari Senin, 02 September 2019 00:00
    Ditulis oleh Eko Elliarso   
    Dibaca: 2098 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: 1 Raja-raja 19:1-19

Kemudian ia ingin mati, katanya, “Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku .…” (1 Raja-raja 19:4b)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yehezkiel 5-9



Mula-mula, Elia lari karena terancam (ay. 3). Kemudian, dia sendiri ingin mati (ay. 4). Lalu, dia tertidur lelap (ay. 5-7). Ada apa dengan Elia? Takut pada ancaman Izebel? Itu aneh. Sejak awal, Elia menghadapi Ahab dan Izebel dengan berani (1 Raja-raja 17:1; 18:2,15-46).

Terapi dari Tuhan pun aneh. Elia tidak dihibur. Dia diperintahkan untuk makan kenyang (ay. 6, 8a), berjalan jauh (ay. 8b), dan diberi tugas besar: mengurapi Hazael, Yehu, dan Elisa (ay. 15, 16). Hazael memang di luar Israel. Tetapi, Elisa dan Yehu di Israel, tempat kaki tangan Izebel berkeliaran. Namun, tanpa ragu, Elia melakukan tugas besar itu (ay. 19). Ada apa dengan Elia?

Elia tidak ketakutan. Dia putus asa. Sikap Ahab dan Izebel, yang menyeret umat menjauhi Tuhan (ay. 14), membuat Elia merasa pekerjaan dan hidupnya sia-sia. Dia kehilangan keyakinan bahwa hidup dan pekerjaannya punya makna. Sebab itu, Tuhan memberikan tiga tugas besar. Itu membangunkan Elia, dan meyakinkan dia bahwa hidupnya sungguh punya arti dan punya tujuan.

Keyakinan akan kebermaknaan tindakan dan hidup adalah energi yang memampukan kita menjalani hidup. Kehilangan semua itu membuat kita merasa hidup ini sia-sia. Seperti pada Elia, itu melumpuhkan kita, membuat kita lari ke “gurun kehidupan”: alkohol, narkoba, dan lain-lainnya. Elia mengalami kehilangan makna. Bukan karena hidup dan karyanya tak bermakna, melainkan karena dia mengira demikian. Jika nabi sebesar Elia bisa mengalami itu, apalagi kita. Itu alarm siaga untuk kita.

—EE/www.renunganharian.net


KEHILANGAN KEYAKINAN AKAN KEBERMAKNAAN HIDUP
MEMBUAT KITA JUSTRU MEYAKINI BAHWA HIDUP INI SIA-SIA.
DAN, ITU MELUMPUHKAN KITA.



September 03, 2019, 06:13:24 AM
Reply #2233
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23781
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://www.renunganharian.net/2019/121-september.html

 JANGAN PANIK
1
2
3
4
5
Rating 4.38 (16 Votes)

    Diterbitkan hari Selasa, 03 September 2019 00:00
    Ditulis oleh Heman Elia   
    Dibaca: 1504 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Bilangan 14

“Hanya, janganlah memberontak kepada TUHAN, dan janganlah takut kepada bangsa negeri itu, sebab mereka akan kita telan habis. Yang melindungi mereka sudah meninggalkan mereka, sedang TUHAN menyertai kita; janganlah takut kepada mereka.” (Bilangan 14:9)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yehezkiel 10-13



Menghadapi krisis, kita sering langsung panik. Kita tidak lagi dapat menimbang dengan akal sehat. Tidak jarang kita lalu mengambil langkah yang salah sehingga masalah semakin bertambah rumit. Dalam kondisi kalut, kita pun mudah dipengaruhi oleh berita yang tidak benar. Kata-kata yang mengecilkan nyali kita pun cenderung lebih kita percaya dibanding dukungan yang membesarkan hati. Lebih dari itu, kita dapat kehilangan kepercayaan kepada Tuhan.

Kepanikan itulah yang melanda Israel ketika mereka berhadapan dengan wilayah yang harus mereka taklukkan. Tuhan sudah berjanji bahwa tanah Kanaan akan Tuhan berikan kepada Israel. Namun pikiran mereka justru tertuju kepada penduduk kota yang tinggi besar dan bukan kepada Tuhan. Mereka menjadi gaduh dan hendak mengangkat pemimpin lain untuk pulang ke Mesir. Pada dasarnya mereka sebetulnya sedang melawan Tuhan. Musa dan Harun bersujud, ngeri membayangkan murka Tuhan yang bakal melanda. Sedangkan Yosua dan Kaleb berusaha membujuk agar orang Israel tidak merasa kalah sebelum berperang. Sungguh aneh! Umat yang dipimpin dengan penuh keajaiban dan kasih sayang oleh Tuhan sekarang berbalik melawan Tuhan.

Dalam konteks kita saat ini, musuh kita bukanlah manusia, melainkan penghulu dan roh-roh jahat di udara (Ef. 6:12). Kita juga diminta tunduk kepada Allah dan melawan iblis (Yak. 4:7). Kita tidak boleh gentar, kalah oleh pengaruh suara pesimis teman-teman kita. Marilah terus berjuang dengan mengandalkan kuasa Tuhan.

—HEM/www.renunganharian.net


PENYERTAAN TUHAN CUKUP MEMBERI KEKUATAN
KEPADA KITA UNTUK MELAWAN SI JAHAT


September 04, 2019, 05:12:49 PM
Reply #2234
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23781
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://www.renunganharian.net/2019/121-september.html

 MUKJIZAT YANG TERLEWATKAN
1
2
3
4
5
Rating 4.42 (33 Votes)

    Diterbitkan hari Rabu, 04 September 2019 00:00
    Ditulis oleh Pipi Agus Dhali   
    Dibaca: 3919 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Ulangan 4:1-9

“Tetapi waspadalah dan berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan hal-hal yang dilihat oleh matamu sendiri itu, dan supaya jangan semuanya itu hilang dari ingatanmu seumur hidupmu.” (Ulangan 4:9a)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yehezkiel 14-16



Menurut cerita kuno orang Yahudi, waktu bangsa Israel keluar dari Mesir di bawah pimpinan Musa, dalam deretan panjang mereka berjalan dengan tergesa-gesa dan saling berimpitan sehingga mereka tidak melihat mukjizat-mukjizat yang terjadi di depan matanya sendiri. Rupanya cerita kuno ini menjadi cermin yang mengingatkan betapa seringnya mukjizat Tuhan terlewatkan begitu saja karena kita disibukkan oleh perkara yang lain.

Kitab Ulangan berisi pengulangan Hukum Tuhan untuk diterapkan dalam situasi kekinian sang penulis. Tokoh Musa tak jemu-jemunya mengingatkan umat Israel untuk hidup seturut dengan hukum-hukum-Nya (ay. 2). Mengapa? Sebab mereka telah melihat dan mengalami sendiri pekerjaan Tuhan yang besar dalam kehidupannya (ay. 3, 9). Pengalaman keluarnya (dari Mesir) menjadi suatu pengantar yang penting bagi perjalanan iman Israel berikutnya dari generasi ke generasi (ay. 9b). Melupakannya adalah suatu kesalahan dan kelalaian yang amat fatal.

Sibuk. Jadwal kita padat. Janji bertemu berderet antri, susul menyusul. Dering telepon genggam dan pesan singkat dari pelbagai belahan bumi terus menyita perhatian. Semua urusan menanti untuk dibereskan. Janji-janji menagih untuk ditepati. Benak kita dihujani pertanyaan “Sesudah ini apa?”—berorientasi ke hal-hal yang akan datang. Akibatnya, kita kehilangan perhatian dan ketakjuban pada momentum yang sedang berlangsung di depan mata. Padahal di situ Tuhan sedang bekerja, menyapa, dan mencurahkan rahmat-Nya untuk dinikmati, disyukuri, dan dijadikan bekal menyongsong esok hari.

—PAD/www.renunganharian.net


MERANGKUL MOMENTUM SEKARANG ADALAH CARA TERBAIK
UNTUK MENYAMBUT DATANGNYA HARI ESOK



September 05, 2019, 05:04:19 AM
Reply #2235
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23781
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://www.renunganharian.net/2019/121-september.html

 TUAN RUMAH DAN GEMBALAKU
1
2
3
4
5
Rating 4.57 (7 Votes)

    Diterbitkan hari Kamis, 05 September 2019 00:00
    Ditulis oleh Eddy Nugroho   
    Dibaca: 682 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Mazmur 23

Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. (Mazmur 23:5)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yehezkiel 17-19



Kapan terakhir kali kita membaca atau melantunkan Mazmur 23? Apakah untuk acara kebaktian penghiburan atau pemakaman? Atau untuk upacara pernikahan atau ulang tahun? Atau saat menjenguk sahabat atau kerabat yang terbaring sakit, atau justru pendeta yang membacakannya bagi kita, saat kita tergolek karena sakit? Apa pun kondisinya, apakah kita betul-betul menghayati mazmur ini?

Mazmur 23 adalah favorit hampir semua orang, untuk berbagai kesempatan dan situasi. Mari menyimak beberapa keindahan mazmur ini. Pertama, pemazmur menggunakan dua lambang untuk membicarakan Tuhan sebagai pusat hidupnya. Tuhan adalah Gembala sekaligus Tuan Rumah yang menjamu pemazmur. Lambang yang digunakan di sini sangat dekat dengan realitas kehidupan pemazmur. Gembala menuntun dan melindungi domba-domba-Nya sampai tiba dengan selamat di kandang mereka. Sebagai Tuan Rumah, Tuhan memberikan perlindungan yang sempurna dan damai sejahtera yang penuh kepada anak-anak-Nya. Tuhan juga menyediakan hidangan bagi umat-Nya. Tuhan adalah pusat hidup dan sumber segala sesuatu yang dibutuhkan anak-anak-Nya.

Bagaimana arti Mazmur 23 ini bagi kita? Semoga kita diperkaya dengan kesadaran, betapa dekatnya relasi pemazmur dengan Tuhannya. Apakah relasi kita pun menjadi semakin dekat dan akrab dengan Gembala dan Tuan Rumah kita? Kalau kita sudah menyadari bahwa Tuhan adalah Gembala sekaligus Tuan Rumah bagi kita, maka hendaklah hidup kita selalu mendekat ke hadirat-Nya. Menuruti segala tuntunan-Nya dan percaya bahwa Dia akan selalu menyediakan berkat bagi kita.

—ENO/www.renunganharian.net


SEEKOR DOMBA TIDAK BISA JAUH DARI GEMBALANYA
KARENA IA AKAN TERSESAT


September 06, 2019, 05:21:42 AM
Reply #2236
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23781
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://www.renunganharian.net/2019/121-september.html

 KEPEKAAN JIWANI
1
2
3
4
5
Rating 4.45 (11 Votes)

    Diterbitkan hari Jum'at, 06 September 2019 00:00
    Ditulis oleh Eko Elliarso   
    Dibaca: 849 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Matius 13:10-15

“Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun yang ada padanya akan diambil darinya.” (Matius 13:12)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yehezkiel 20-21



Siapa mempunyai, kepadanya akan diberi sampai melimpah. Siapa tidak mempunyai, apa pun yang ada padanya akan diambil. Apa gerangan maksud Tuhan? Itu bukan soal harta. Tuhan berfirman tentang kepekaan jiwani, yang memampukan orang merasakan kehadiran Tuhan dalam situasi yang dihadapi, yang menolong orang menangkap maksud Tuhan, dan memberi respons yang sesuai.

Masalahnya, kita terbiasa tidak peka. Akibatnya: kita tidak merasakan kehadiran Tuhan, tidak menangkap maksud Tuhan dalam situasi di depan kita, dan gagal memberi respons yang sesuai. Contohnya? Melihat sesama dalam kesulitan, orang tidak tergerak membantu. Di tengah sesama yang berkekurangan, orang hidup bermewah-mewah. Orang menjual sesuatu karena terjepit kebutuhan, kita menawar dengan harga rendah. Di tengah kebutuhan yang mendesak, orang menimbun sembako demi keuntungan yang lebih besar.

Memiliki kepekaan jiwani adalah soal pilihan. Jika kita memilih untuk peka dan berusaha selalu peka, makin hari kita akan makin peka. Jika kita memilih untuk tidak peka (dengan menafikan tiap sinyal yang menyentuh hati kita), kita akan makin tumpul, dan akhirnya sama sekali tumpul. “Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya”, begitu Firman Tuhan.

Dunia masih berlangsung. Dalam semua itu, kita harus menentukan diri: memilih untuk menjadi peka dan makin peka, atau memilih untuk menjadi tumpul dan makin tumpul.

—EE/www.renunganharian.net


JIKA KITA SELALU MEMILIH UNTUK TIDAK PEKA,
KITA AKAN SEPENUHNYA TUMPUL

September 07, 2019, 05:33:47 AM
Reply #2237
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23781
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://www.renunganharian.net/2019/120-agustus.html

 EPHESIA GRAMMATA
1
2
3
4
5
Rating 4.78 (9 Votes)

    Diterbitkan hari Sabtu, 07 September 2019 00:00
    Ditulis oleh Pipi Agus Dhali   
    Dibaca: 649 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Kisah Pr. Rasul 19:13-20

Banyak juga di antara mereka, yang pernah melakukan sihir, mengumpulkan kitab-kitabnya lalu membakarnya di hadapan semua orang. (Kisah Pr. Rasul 19:19a)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yehezkiel 22-24



Yang namanya jimat tak pernah surut dimakan zaman. Bentuknya beragam. Kantung abu. Bebatuan. Cincin. Kalung. Gulungan kertas berisi mantra. Dan sebagainya. Mengapa jimat tak pudar dimakan zaman? Sebab jimat ialah ekspresi dari sebuah penyimpangan atas penghayatan iman yang benar. Begitu penghayatan iman rusak dan dangkal, Tuhan tidak lagi disembah melainkan diperalat.

Efesus, kota yang gandrung pada sihir atau hal-hal yang magis. Di situ penghayatan iman akan Allah gampang menyimpang, sehingga seorang imam kepala Yahudi pun tak kuasa menahan pengaruhnya. Sesudah menyaksikan pelayanan Paulus, ketujuh anaknya serentak memperlakukan nama Yesus selaku mantra sihir untuk mengusir roh jahat. Tentu saja mereka gagal (ay. 13-16). Ternyata di kota itu banyak yang memiliki kalung berupa gulungan naskah kecil berisi tulisan mantra demi memenuhi ambisi diri. Jimat berbentuk “kitab mungil”—yang disebut ephesia grammata—itulah yang dibakar setelah nantinya mereka beriman secara benar kepada Tuhan Yesus (ay. 19-20).

Dibalik kehadiran jimat selalu ada penghayatan iman yang dangkal. Orang hanya memanfaatkan segala hal yang disangka berhubungan dengan Tuhan untuk memenuhi keinginannya, tanpa mengenal Tuhan. Tak luput hal-hal yang ada dalam perbendaharaan Kekristenan pun diperlakukan sebagai jimat. Tiada cara lain untuk menangkisnya selain bertobat dan belajar untuk mengenal Tuhan secara benar melalui firman-Nya.

—PAD/www.renunganharian.net







September 08, 2019, 04:31:10 AM
Reply #2238
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23781
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://www.renunganharian.net/2019/121-september.html

 HAMPIR SAJA!
1
2
3
4
5
Rating 5.00 (3 Votes)

    Diterbitkan hari Minggu, 08 September 2019 00:00
    Ditulis oleh Samuel Yudi Susanto   
    Dibaca: 308 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: 1 Samuel 25:1-38

Lalu berkatalah Daud kepada Abigail: "Terpujilah TUHAN, Allah Israel, yang mengutus engkau menemui aku pada hari ini.” (1 Samuel 25:32)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yehezkiel 25-28



Sejujurnya hati kita amatlah rapuh dan rentan untuk berubah. Dalam situasi tertentu, kita mungkin bisa mengampuni kesalahan seseorang, tetapi apakah kita konsisten melakukannya di waktu yang lain? Kepekaan hati kita untuk mengasihi seseorang kadang bisa berubah dalam hitungan menit. Itu sebabnya mengapa kita butuh kehadiran orang-orang yang berani untuk menegur dan mengingatkan kita. Kehadirannya perlu agar kita dapat menjaga hati tetap dalam kehendak Tuhan.

Kita mengenal Daud sebagai seorang yang penuh pengampunan. Berkali-kali ia berhadapan dengan Raja Saul yang terus mengancam nyawanya, namun sebanyak itu pula Daud tetap mengasihinya. Tetapi apa yang terjadi dengan Daud dalam bacaan hari ini sangatlah mengejutkan. Tidak seperti biasanya, hari itu kemarahan Daud memuncak dan ia berniat menghabisi Nabal hanya karena keinginannya ditolak. Beruntung di tengah situasi itu, Tuhan memakai Abigail untuk mengingatkan Daud, agar menjauhi dosa yang hampir saja dilakukannya.

Ditegur, diingatkan dan dikritik, bagi sebagian orang tentu bukan hal yang menyenangkan. Terkadang kita lupa bahwa teguran justru “menyelamatkan” diri kita dari hal lebih buruk jika kita mau sedikit saja rendah hati untuk mendengar dan menerimanya. Ketika hati sudah tidak terkendali, kiranya Tuhan menghadirkan orang-orang untuk mengingatkan agar kemarahan itu tidak berbuah dosa. Ya, kita “hampir saja” jatuh di lubang yang demikian dalam, namun tangan Tuhan menyelamatkan kita melalui orang-orang yang terus mengingatkan dan menegur kita.

—SYS/www.renunganharian.net


ALLAH ACAP KALI MEMAKAI SESEORANG DAN MENEGUR KITA
UNTUK MENGHENTIKAN NIAT HATI KITA YANG JAHAT


September 09, 2019, 04:42:55 AM
Reply #2239
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23781
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://www.renunganharian.net/2019/121-september.html

 KENDALIKAN DIRIMU!
1
2
3
4
5
Rating 4.80 (5 Votes)

    Diterbitkan hari Senin, 09 September 2019 00:00
    Ditulis oleh Zefanya Duta P.   
    Dibaca: 491 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Markus 6:45-52

Sebab mereka semua melihat Dia dan mereka pun sangat terkejut. Tetapi segera Ia berkata kepada mereka, “Tenanglah! Inilah Aku, jangan takut!” (Markus 6:50)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yehezkiel 29-32



Ketika kita sedang marah atau tertekan karena suatu keadaan, seberapa sering kita dapat berpikir dengan tenang dan mengambil keputusan dengan baik? Lebih sering kita tenggelam dalam rasa marah atau tekanan yang mengimpit tersebut. Selain membuat kita kesulitan dalam melihat suatu permasalahan secara jeli, kita juga dapat kehilangan kendali atas diri kita sehingga merasakan ketakutan yang luar biasa dan putus asa.

Hal ini juga dialami oleh para murid ketika mereka mendahului Tuhan Yesus untuk bertolak ke Betsaida. Permasalahan terjadi ketika di tengah perjalanan perahu yang mereka tumpangi diterpa angin sakal, yaitu angin yang berembus berlawanan dengan arah kapal. Memang sebagian dari para murid adalah nelayan, yang tentunya mengenal dengan baik angin semacam itu. Namun, saat itu mereka justru merasa tertekan. Kekalutan para murid ini terlihat ketika Tuhan Yesus melihat mereka kepayahan dalam mengendalikan perahu. Bahkan mereka juga tidak bisa mengendalikan diri dan tenggelam dalam ketakutan mereka sampai-sampai mereka menyebut Tuhan Yesus sebagai hantu.

Tanpa perlu kita rencanakan, permasalahan pasti datang menghampiri kita. Dalam permasalahan tersebut, Tuhan Yesus mengajar kita untuk tetap tenang. Pertama, karena ketenangan diri ketika menghadapi masalah, membuat kita dapat mengendalikan diri dan juga mengendalikan keadaan. Kedua, karena Tuhan selalu menyertai kita.

—ZDP/www.renunganharian.net


KETENANGAN SANGAT DIPERLUKAN DI DALAM SETIAP SITUASI




 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)