Author Topic: Renungan Harian®  (Read 113127 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

September 10, 2019, 04:25:16 PM
Reply #2240
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23498
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://www.renunganharian.net/2019/121-september.html

 GURU MARAH BESAR
1
2
3
4
5
Rating 4.56 (25 Votes)

    Diterbitkan hari Selasa, 10 September 2019 00:00
    Ditulis oleh Pipi Agus Dhali   
    Dibaca: 4098 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: 1 Raja-raja 18:16-19

Jawab Elia kepadanya: “Bukan aku yang mencelakakan Israel, melainkan engkau ini .…” (1 Raja-raja 18:18)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yehezkiel 33-36



Pak Marto, guru kala saya masih SMP. Beliau selalu marah besar terhadap murid yang ketika bersalah dan ditegur malah berusaha membenarkan diri dengan cara menudingkan kesalahan serupa pada teman yang lain. Dulu saya tidak paham mengapa beliau marah sedahsyat itu. Setelah dewasa, saya mengerti, guru kami itu sedang mengajarkan sesuatu yang serius kepada kami.

Israel sedang dilanda tahun-tahun kekeringan yang dahsyat (1Raj. 17:1). Berikutnya, akibat kegagalan cocok tanam, kelaparan pun menyerbu dengan ganasnya (1Raj. 18:2). Penyebabnya adalah rentetan tindakan Raja Ahab yang menimbulkan sakit hati Tuhan (1Raj. 16:30-33). Celakanya, ia tidak merasa bertanggung jawab malahan mencari dan menudingkan jarinya kepada Elia seraya menganggapnya sebagai sumber petaka bangsa (ay. 17). Dapat dipahami kenapa Tuhan mengutus Elia untuk menegur langsung dengan keras raja yang tidak tahu diri itu (ay. 18).

Sejujurnya mengakui andil kesalahan kita bukanlah perkara mudah. Betapa seringnya alih-alih mawas diri, kita ini gencar mencari pembenaran dengan menyalahkan pihak tertentu. Sepertinya, sumber masalah pasti selalu ada pada “kamu”, “dia”, dan “mereka”. Jari telunjuk kita menuding ke arah seberang. Padahal persoalannya terpulang pada kesediaan untuk mengakui kesalahan sendiri dan berbenah diri. Masihkah keterbukaan untuk bersikap jantan ada pada diri kita?

—PAD/www.renunganharian.net


JIKA KAU SENANTIASA BERPIKIR MASALAHNYA ADA DI LUAR SANA,
MAKA PADA PIKIRAN ITULAH TERLETAK MASALAHMU.—Stephen R. Covey


September 11, 2019, 06:57:48 AM
Reply #2241
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23498
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://www.renunganharian.net/2019/121-september.html

 DITOLAK MANUSIA, DITERIMA ALLAH
1
2
3
4
5
Rating 4.46 (13 Votes)

    Diterbitkan hari Rabu, 11 September 2019 00:00
    Ditulis oleh Samuel Yudi Susanto   
    Dibaca: 2027 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Kejadian 16:1-16

Selanjutnya kata Malaikat TUHAN itu kepadanya: “Engkau mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan akan menamainya Ismael, sebab TUHAN telah mendengar tentang penindasan atasmu itu.” (Kejadian 16:11)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yehezkiel 37-39



Secara status, Hagar hanyalah seorang hamba, orang asing yang tidak masuk hitungan. Keraguan Sara akan janji Allah membuatnya mengambil keputusan menawarkan Hagar kepada suaminya. Hagar mengandung bayi Abraham dan rupanya hal ini menimbulkan masalah di tengah keluarga Abraham. Sara pun menindas Hagar hingga Hagar harus pergi meninggalkan rumah tuannya itu.

Hagar pun melarikan diri hingga ke padang gurun. Ia benar-benar menjadi orang asing, tertolak dan terbuang. Ketika tak seorang pun peduli kepadanya, masih adakah harapan dari seseorang yang peduli kepadanya? Ya, nyatanya Tuhan peduli kepadanya. Sekalipun bayi yang dikandungnya bukanlah anak yang dijanjikan Tuhan untuk Abraham, namun hal itu bukan menjadi penghalang bagi Tuhan untuk tetap menunjukkan kasih karunia dan berkat-Nya. Di tengah-tengah deritanya itu ia menerima sebuah pesan yang menenangkan hatinya, "Aku akan membuat sangat banyak keturunanmu, sehingga tidak dapat dihitung karena banyaknya” (ay. 10).

Apakah ada di antara kita juga sedang mengalami sebuah situasi di mana ketidakadilan, penindasan dan penolakan menghantam hidup kita? Mungkin kita merasa hidup bagaikan “orang asing” dan tidak ada seorang pun peduli dengan keadaan kita. Tapi syukur kepada Allah yang tetap menunjukkan kesetiaan-Nya kepada kita. Sekalipun hidup kita ditolak manusia, namun sekali-kali Allah tidak akan sedetik pun meninggalkan kita. Ia mendengar seruan doa-doa kita dan tangan-Nya pun terulur untuk menopang hidup kita dengan janji-janji-Nya yang menyejukkan hati kita.

—SYS/www.renunganharian.net


DI TENGAH KETIDAKADILAN YANG KITA ALAMI,
ALLAH HADIR UNTUK MEMBERI KELEGAAN BAGI HIDUP KITA



September 12, 2019, 02:04:28 PM
Reply #2242
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23498
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://www.renunganharian.net/2019/121-september.html

 BERTELUT MENUNDUKKAN HATI
1
2
3
4
5
Rating 4.74 (23 Votes)

    Diterbitkan hari Kamis, 12 September 2019 00:00
    Ditulis oleh Eddy Nugroho   
    Dibaca: 3645 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Yesaya 16:6-14

Maka sekalipun Moab pergi beribadah dan bersusah payah di atas bukit pengorbanan dan masuk ke tempat kudusnya untuk berdoa, ia tidak akan mencapai apa-apa. (Yesaya 16:12)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yehezkiel 40-42



Ketika orang mengalami masalah yang tidak terpecahkan dan terdesak oleh tenggang waktu yang ada maka tidak ada pilihan lain selain meminta bantuan orang lain. Namun banyak orang akan mengalami kesulitan untuk meminta bantuan orang lain jika masalah itu berhubungan dengan harga dirinya. Harga diri seolah harga mati yang tidak bisa dikorbankan, walau demi sesuatu yang sebetulnya lebih penting yaitu keselamatan. Keangkuhan membatasi cara pertolongan.

Keangkuhan Moab adalah penyebab kehancuran mereka. Mereka membutuhkan, tetapi justru mau mengatur bagaimana mereka seharusnya ditolong, yaitu dengan bayaran anak domba. Padahal seharusnya mereka takluk lebih dulu kepada Allah. Tak heran bila keangkuhan itu menjadi penyebab kebinasaan mereka. Umur Moab telah ditentukan dan kehancurannya hanya tinggal menunggu waktu. Sekalipun Moab bersusah payah beribadah dan berdoa, tidak menghasilkan apa-apa. Namun, bukan berarti Allah menyukai kehancuran mereka. Allah bersedih akan keadaan Moab yang merana akibat keangkuhan.

Kita seringkali tidak menyadari betapa besar kuasa Tuhan dapat menolong kita. Walau kita percaya kepada Tuhan Yesus, tetapi kita ingin menyelesaikan masalah kita sendiri. Kalaupun kita datang kepada Tuhan maka seringkali bukan untuk mencari kehendak-Nya, tetapi hanya memberitahu dan meminta kuasa-Nya untuk melakukan apa yang kita kehendaki. Kita mengangkat tangan dan menengadahkan kepala, tetapi tidak menundukkan hati kita. Tuhan mengingatkan kita untuk mencari pertolongan-Nya dengan penuh kerendahan hati.

—ENO/www.renunganharian.net


KERENDAHAN HATI SERING KALI MENJADI
PINTU MASUK DATANGNYA PERTOLONGAN


September 13, 2019, 06:35:09 AM
Reply #2243
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23498
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://www.renunganharian.net/2019/121-september.html

 KETIKA SESUATU MELESET
1
2
3
4
5
Rating 4.69 (16 Votes)

    Diterbitkan hari Jum'at, 13 September 2019 00:00
    Ditulis oleh Eko Elliarso   
    Dibaca: 1683 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Kejadian 50:15-21

“Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan .…” (Kejadian 50:20)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yehezkiel 43-45



Seperti kita, Yusuf mengharapkan hal-hal yang baik. Namun, harapannya meleset. Dia dimasukkan ke dalam sumur, dijadikan budak, dan dipenjarakan. Tetapi, lihat! Dijadikan budak membuatnya menjadi tangan kanan Potifar. Dijebloskan ke penjara malah mengantarnya menjadi penguasa Mesir, menjadi penolong banyak orang. Sebab itu, Yusuf berkata kepada kerabatnya, “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan …” (ay. 20).

Banyak kemelesetan dialami Yusuf. Tetapi, akhirnya, dia mendapatkan hal yang sangat baik: bagi Yusuf, bagi keturunan Yakub, juga bagi Mesir. Alkitab tak hendak mengatakan bahwa semua kemelesetan pasti berbuah kebaikan. Pengalaman Yusuf pun bukan hal yang dapat berlaku umum. Meski begitu, ada pesan penting di sana.

Kala hidup meleset dari harapan, jangan mudah menyimpulkan bahwa ujungnya pasti buruk. Bisa saja, kemelesetan dipakai Tuhan untuk menjauhkan kita dari hal buruk. Boleh jadi, kemelesetan adalah tikungan dalam hidup, yang mengajak kita melihat hal-hal lain yang selama ini terabaikan. Sangat mungkin, kemelesetan itu akar melintang yang membelit kaki kita, yang memaksa kita berhenti sejenak untuk mengevaluasi langkah dan tujuan kita. Atau, dengan perkenan Tuhan, kemelesetan hanya menunda kita dari mendapatkan yang baik atau lebih baik.

Di atas segalanya, kita selalu ada di Tangan Allah Sang Mahatahu yang sangat mengasihi kita. Maka, tetaplah menyimpan harapan, juga ketika sesuatu meleset.

—EE/www.renunganharian.net


KETIKA SESUATU MELESET DARI RENCANA, DAN HIDUP TAK BERJALAN SESUAI HARAPAN,
JANGAN MUDAH MENYIMPULKAN BAHWA UJUNGNYA PASTI BURUK


September 14, 2019, 05:16:11 AM
Reply #2244
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23498
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://www.renunganharian.net/2019/121-september.html

 LELAH BERGANTI SUKACITA
1
2
3
4
5
Rating 5.00 (3 Votes)

    Diterbitkan hari Sabtu, 14 September 2019 00:00
    Ditulis oleh Samuel Yudi Susanto   
    Dibaca: 564 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Markus 1:29-39

Jawab-Nya, “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota sekitar ini, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.” (Markus 1:38)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yehezkiel 46-48



Bayangkan apa yang dilakukan Yesus sepanjang hari ini. Pasti Yesus merasa lelah. Dimulai dari mengajar di rumah ibadat, mengadakan kunjungan dari rumah ke rumah, dan mengunjungi ibu mertua Petrus yang sakit demam. Baru istirahat sebentar, ketika malam tiba, banyak orang datang kepada-Nya dengan membawa orang-orang sakit dan kerasukan setan. Yesus pun tetap menerima kehadiran mereka dan melayani mereka dengan baik. Baru setelah itu, Yesus bisa sedikit beristirahat dan pagi-pagi buta Ia sudah bangun untuk mencari tempat yang sunyi untuk berdoa.

Hening sejenak, tiba-tiba beberapa murid-Nya menyusul untuk memberitahukan jika banyak orang mencari Dia. Yesus tetap mengerjakan semua tugas itu dengan tuntas. Tak berhenti di situ, Yesus dan murid-murid-Nya kemudian berjalan ke seluruh Galilea untuk memberitakan Injil. Sungguh pekerjaan yang sangat melelahkan! Apakah Yesus tidak merasa lelah? Fisik-Nya pastilah lelah. Tapi Yesus merasa puas dengan semua yang telah dikerjakan-Nya, karena Ia ingin menyelesaikan kehendak Bapa-Nya.

Bertumpuk-tumpuknya pekerjaan, tanggung jawab dan tugas tak terduga lain mungkin membuat lelah bukan hanya tubuh, tapi juga emosi kita. Dan Yesus memberi teladan bagi kita bagaimana cara mengatasinya: Kerjakan satu per satu, pasti akan selesai juga. Bekerjalah seperti kita melakukannya untuk Tuhan, kerjakan dan layani saja dengan baik. Ketika kita bekerja dan melayani dengan kasih, maka kelelahan kita akan terobati dengan kepuasan karena telah menyelesaikan apa yang Tuhan percayakan.

—SYS/www.renunganharian.net


BUKANNYA TIDAK MERASA LELAH, TAPI KITA TIDAK MAU
MENJADI LELAH KARENA SUKACITA MELAYANI TUHAN

September 15, 2019, 04:47:23 AM
Reply #2245
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23498
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://www.renunganharian.net/2019/121-september.html

 DIPERDAYA OLEH SELERA
1
2
3
4
5
Rating 5.00 (2 Votes)

    Diterbitkan hari Minggu, 15 September 2019 00:00
    Ditulis oleh Jap Sutedja   
    Dibaca: 370 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Bilangan 11:4-23

“Dari manakah aku mengambil daging untuk diberikan kepada seluruh bangsa ini? Sebab mereka menangis kepadaku dengan berkata: Berilah kami daging untuk dimakan.” (Bilangan 11:13)


Bacaan Alkitab Setahun:
Daniel 1-3



Sebagai penderita gagal ginjal kronis, saya harus membatasi konsumsi air. Jika orang sehat boleh minum dua liter sehari, saya hanya boleh minum maksimal setengah liter. Jika saya nekat minum banyak-banyak, bisa saja nyawa saya melayang. Saya dipaksa mengingat bahwa rasa haus itu hanya di mulut. Saya harus mengikuti kebutuhan tubuh demi menjaga kesehatan, bukan sekadar memuaskan keinginan mulut.

Bangsa Israel mengeluh karena hanya diberi makan manna oleh Tuhan. Mereka ingin memuaskan selera bisa makan daging. Bukannya bersyukur masih dipelihara Tuhan, mereka menuntut untuk makan enak dengan gratis (ay. 5). Hanya makan manna atau roti surga membuat mereka kurus kering (ay. 6). Musa sampai kewalahan sehingga ia mengeluh kepada Tuhan (ay. 11-15). Tuhan pun berjanji akan memenuhi keinginan mereka untuk makan daging selama satu bulan (ay. 18-19), Dia menggenapinya dengan mengirimkan burung-burung puyuh dari sebelah laut (ay. 31).

Seperti bangsa Israel, kita sering diperdaya oleh selera makan. Tidak sedikit orang yang makan demi memuaskan nafsu mulut, bukan mengingat kebutuhan perut. Tidak sedikit pula orang yang mengidap berbagai penyakit akibat pola makan yang tidak sehat ini. Semestinya kita makan dengan berhikmat: tidak membiarkan diri diperdayakan oleh selera mulut, melainkan makan untuk menyambung hidup dan menjaga kesehatan tubuh. Ya, tubuh dan kesehatannya jauh lebih penting daripada mulut dan nafsunya.

—JAP/www.renunganharian.net


HIDUPLAH BERDAYA SELERA MEMULIAKAN TUHAN,
JANGANLAH HIDUP DIPERDAYA UNTUK MEMENUHI SELERA





September 17, 2019, 11:38:33 AM
Reply #2246
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23498
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://www.renunganharian.net/2019/121-september.html

 BELAJAR TAAT
1
2
3
4
5
Rating 4.31 (35 Votes)

    Diterbitkan hari Selasa, 17 September 2019 00:00
    Ditulis oleh Hembang Tambun   
    Dibaca: 3528 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Kejadian 22:1-19

Firman-Nya: "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu." (Kejadian 22:2)


Bacaan Alkitab Setahun:
Daniel 7-9



Melepaskan sesuatu yang diperoleh dengan susah payah biasanya sangat sulit. Akan teringat berbagai perjuangan dan pengorbanan untuk mendapatnya. Namun tidak demikian bagi Abraham. Ketika ia berusia 75 tahun (Kej. 12:4), Allah memintanya meninggalkan negerinya dan berjanji menjadikannya bangsa yang besar, serta olehnya semua kaum di muka bumi akan diberkati. Padahal istrinya mandul dan sudah tua. Janji itu mulai digenapi dengan lahirnya Ishak, saat Abraham berumur 100 tahun (Kej. 21:5).

Saat Ishak beranjak remaja, ujian besar dihadapi Abraham ketika Allah memintanya mempersembahkan putranya. Abraham taat tanpa protes. Pergumulan 25 tahun untuk memperoleh Ishak tidak membuatnya mengutamakan dirinya atau anaknya lalu menomorduakan Allah. Penulis kitab Ibrani menyatakan bahwa ia melakukannya “karena iman”, sebab ia tahu bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang dari kematian (Ibr. 11:17,19). Jadi ketaatan Abraham berasal dari pengenalannya akan Allah dan relasinya yang intim dengan Dia. Ia belajar taat pada Allah melalui proses yang panjang, disertai jatuh bangun, hingga kemudian ia menjadi “bapa semua orang percaya” (Rm. 4:11).

Jika kita tidak mengenal Allah, tentu saja mustahil menaati Dia. Semakin kita mengenal Dia, semakin kita mengerti bahwa Dia adalah Allah yang menciptakan, mengasihi, dan menebus kita. Kasih-Nya yang sempurna telah dinyatakan melalui pengorbanan Kristus. Dengan demikian, seperti Abraham, kita pun dapat berjalan dalam iman untuk menaati Dia.

—HT/www.renunganharian.net


PENGENALAN YANG BENAR AKAN ALLAH AKAN BERBANDING LURUS
DENGAN KETAATAN KITA MELAKUKAN KEHENDAK-NYA


September 18, 2019, 04:22:53 AM
Reply #2247
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23498
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://www.renunganharian.net/2019/121-september.html

 MERESPONS KECAMAN YESUS
1
2
3
4
5
Rating 4.33 (3 Votes)

    Diterbitkan hari Rabu, 18 September 2019 00:00
    Ditulis oleh Go Hok Jin   
    Dibaca: 160 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Matius 23:1-36

“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi ... sebab kamu sama seperti kuburan yang dicat putih ....” (Matius 23:27)


Bacaan Alkitab Setahun:
Daniel 10-12

Jika ada anggapan bahwa Yesus bukanlah Sosok pemberani, tampaknya hal tersebut kurang tepat. Mengapa? Karena Alkitab, terutama Injil, banyak mencatat kisah dimana Yesus melakukan “konfrontasi” secara terbuka kepada para ahli agama yang dinilai-Nya tidak benar. Salah satu konfrontasi terbuka dari Yesus terdapat pada bacaan yang kita renungkan pada hari ini.

Ada banyak “keberatan” yang dapat kita simak dari kecaman Yesus terhadap ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Diawali dari sorotan Yesus terhadap perilaku para ahli agama yang bertolak belakang dengan pengajaran mereka (ay. 2-4), dilanjutkan dengan membuka motivasi hati mereka yang hanya mencari pujian manusia, bukan perkenan Allah (ay. 5-7). Salah satu kecaman paling keras adalah saat mereka disamakan dengan kuburan yang dicat putih. Sungguh merupakan kecaman yang memerahkan telinga dan dapat mengobarkan amarah dari siapa pun yang menerima kecaman itu! Yesus mengucapkan itu karena mengetahui persis bahwa kondisi hati mereka penuh kemunafikan dan kedurjanaan, tidak sebersih yang terlihat dari luar lewat perilaku agamis mereka.

Kecaman Yesus memang tertuju bagi para ahli agama, tetapi baik juga untuk kita renungkan selaku pengikut Kristus. Dalam kecaman tersebut, saya menangkap adanya harapan bahwa jangan sampai para pengikut Kristus meniru perilaku dari para ahli agama tersebut. Kita perlu menampilkan gaya hidup yang baik, tetapi jauh lebih penting mencari perkenan Allah, yang dimulai dari mengoreksi hati dalam terang Roh Kudusnya.

—GHJ/www.renunganharian.net


MENCARI PERKENAN ALLAH SEHARUSNYA MENJADI
PRIORITAS HIDUP KITA MELEBIHI PERKENAN MANUSIA


September 19, 2019, 06:26:03 AM
Reply #2248
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23498
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://www.renunganharian.net/2019/121-september.html

 MATAHARI UNTUK SEMUA
1
2
3
4
5
Rating 4.58 (12 Votes)

    Diterbitkan hari Kamis, 19 September 2019 00:00
    Ditulis oleh Angga Febriani   
    Dibaca: 1729 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Matius 5:38-48

“Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” (Matius 5:45)


Bacaan Alkitab Setahun:
Hosea 1-6



Menanam secara hidroponik saat ini semakin tren. Kita bisa melakukannya dengan lahan dan sarana terbatas. Untuk perorangan, bisa dilakukan dengan peralatan sederhana, misalnya botol bekas air mineral yang dipotong menjadi dua. Bagian bawah untuk tempat larutan nutrisi, bagian atas untuk tempat tanaman. Nah, botol bagian bawah tersebut harus ditutup sekelilingnya dengan isolasi hitam. Mengapa? Supaya sinar matahari tidak menerobos masuk dan membuat lumut ikut bertumbuh. Kita hanya menginginkan tanamannya, bukan gulmanya. Pemikiran yang manusiawi, bukan?

Namun, berbeda dengan Allah. Kendati ia membenci kejahatan, Ia tetap “menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan menurunkan hujan bagi orang yang tidak benar.” Ia tidak menghalangi mereka menikmati kebaikan-Nya. Ia tetap mengasihi semua orang, apa pun tingkah polah mereka.

Sebagai anak-anak-Nya, kita diminta untuk meneladani-Nya: mengasihi musuh-musuh kita dan berdoa bagi mereka. Ini adalah perintah yang “tidak manusiawi.” Karena, sebagai manusia, kita pasti sulit melaksanakannya, daging kita pasti menolak. Sebaliknya, ini adalah perintah ilahi. Kita tidak mampu jika hanya mengandalkan kekuatan sendiri. Dengan bantuan Allah ROH KUDUS sajalah kita sanggup melakukannya. Ia yang akan melembutkan hati kita dan memampukan kita untuk mengampuni dan kemudian mengasihi. Lalu, di mana bagian kita? Mengambil keputusan untuk mau mengasihi dan bersedia mengambil langkah konkret untuk membuktikannya.

—TAF/www.renunganharian.net


SAAT KITA BISA MENGASIHI LAWAN,
SAAT ITULAH KITA MERAIH KEMENANGAN YANG SESUNGGUHNYA

September 20, 2019, 04:57:18 AM
Reply #2249
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23498
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://www.renunganharian.net/2019/121-september.html

 TANAH YANG KUDUS
1
2
3
4
5
Rating 4.67 (3 Votes)

    Diterbitkan hari Jum'at, 20 September 2019 00:00
    Ditulis oleh Eko Elliarso   
    Dibaca: 583 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Keluaran 3:1-5

“Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus.” (Keluaran 3:5)


Bacaan Alkitab Setahun:
Hosea 7-14



Ketika Musa mendekati belukar yang menyala itu, Tuhan bersabda, "Janganlah datang dekat-dekat, tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus" (ay. 5).

“Berdiri tak terlalu dekat” dan “menanggalkan alas kaki” adalah simbol rasa hormat yang dalam. Jadi, “Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu”, adalah titah agar Musa hadir di sana dengan penuh rasa hormat. Mengapa? “Sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus.” Bukan karena Horeb itu keramat, melainkan karena Tuhan hadir di sana. Kehadiran Tuhanlah yang menjadikan tempat itu kudus.

Demikianlah. Kehadiran Tuhan di suatu area kehidupan menjadikan area itu “tanah yang kudus”. Karena Tuhan Mahahadir, semua area kehidupan pun adalah “tanah yang kudus”. Bidang kerohanian, pernikahan, ekonomi, seksualitas, politik, dan semuanya, adalah “tanah yang kudus” karena di sana Tuhan hadir.

Konsekuensinya, semua bidang harus dihidupi dengan penuh hormat kepada Tuhan, dan itu harus mewujud dalam sikap nyata. Maka, misalnya, suami istri harus saling setia, sebab pernikahan adalah “tanah yang kudus”. Para pendidik harus bisa diteladani sebab pendidikan adalah “tanah yang kudus”. Kita harus menjaga kelestarian alam karena lingkungan hidup adalah “tanah yang kudus”. Tanpa hal-hal itu, kita sebenarnya tidak menghormati Tuhan.

Hidup ini adalah “tanah yang kudus”. Kita harus menghidupinya dengan penuh hormat kepada Tuhan, dalam semua makna dan aspeknya.

—EE/www.renunganharian.net


SEMUA BIDANG KEHIDUPAN ADALAH “TANAH YANG KUDUS”
YANG HARUS DIHIDUPI DENGAN RASA HORMAT YANG DALAM KEPADA TUHAN




 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)