Author Topic: Renungan Harian®  (Read 114491 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

September 21, 2019, 05:47:42 AM
Reply #2250
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23770
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://www.renunganharian.net/2019/121-september.html

  MENINGGALKAN KELAMBANAN
1
2
3
4
5
Rating 4.56 (9 Votes)

    Diterbitkan hari Sabtu, 21 September 2019 00:00
    Ditulis oleh Go Hok Jin   
    Dibaca: 728 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Amsal 10:4

Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya. (Amsal 10:4)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yoel 1-3



Saya termasuk orang yang cenderung kurang sabar berurusan dengan orang yang lamban, mulai dari urusan kerja, pelayanan, rumah tangga, hingga hal-hal sepele. Seseorang seharusnya dapat mengerjakan sesuatu dengan cepat, tetapi terbiasa berlambat-lambat, sebenarnya sedang membuang waktu untuk hal yang sia-sia. Tak hanya itu, kelambanan juga dapat membuat seseorang kehilangan peluang untuk memperoleh sesuatu karena orang yang lebih cepat (rajin) sudah lebih dahulu menyambar peluang itu.

Menurut nas renungan hari ini, tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin—bisa pula diartikan: terbiasa mengerjakan sesuatu dengan cepat, dapat menjadi kaya. Kata “kaya” di sini tak hanya diartikan sebagai kesempatan mendapatkan harta atau materi dengan berlebih, tetapi bisa pula berarti kesigapan menangkap peluang untuk hal-hal yang menguntungkan atau bermanfaat bagi kita. Seseorang yang bergegas bangun untuk memulai hari setiap pagi, bisa pula dikategorikan sebagai orang rajin yang berpeluang untuk berhasil dalam hidupnya. Sebaliknya, orang yang lamban akan lebih dekat dengan kegagalan.

Sampai hari ini, adakah kesempatan yang hilang dan masih kita sesali hanya karena kurang cepat merespons kesempatan itu? Bagaimana dengan “kecepatan” kita dalam menyambut datangnya pagi? Apakah kita cenderung bergegas atau berlambat-lambat untuk bangun? Kiranya nas renungan hari ini mendorong kita untuk menjadi pribadi yang rajin. Tanggalkan kebiasaan lamban atau berlambat-lambat karena hal itu hanya akan merugikan.

—GHJ/www.renunganharian.net


ORANG YANG LAMBAN TAK HANYA MEMBUANG WAKTU,
TETAPI JUGA MEMBIARKAN PELUANG HILANG AKIBAT DISAMBAR ORANG LAIN





September 22, 2019, 03:35:57 AM
Reply #2251
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23770
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://www.renunganharian.net/2019/121-september.html

 PERSEMBAHAN YANG BERKENAN
1
2
3
4
5
Rating 5.00 (2 Votes)

    Diterbitkan hari Minggu, 22 September 2019 00:00
    Ditulis oleh Endang B. Lestari   
    Dibaca: 227 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Amos 4:4-13

“Bakarlah korban syukur dari roti yang beragi dan maklumkanlah persembahan-persembahan sukarela; siarkanlah itu! Sebab bukankah yang demikian kamu sukai, hai orang Israel?” demikianlah Firman Tuhan ALLAH. (Amos 4:5)


Bacaan Alkitab Setahun:
Amos 1-5



Sementara tetap hidup dalam kebiasaan dosa dengan gemerlap kemewahan, gemar melakukan pesta-pesta mahal, memiliki kebiasaan minum-minum dan mendapatkan uang dengan cara mengeksploitasi orang miskin, orang Israel tetap pergi menyembah dan memberi korban persepuluhan kepada Tuhan. Mungkinkah mereka berpikir bahwa ibadah, pelayanan dan persembahan mereka dapat menghapus dosa yang mereka lakukan?

Nabi Amos mencela sikap hidup umat Israel yang menjalankan tugas keagamaan namun terus hidup dalam kemewahan dan mengabaikan seruan Tuhan. Ibadah yang dipenuhi simbol dan ritus kesalehan serta pemberian persembahan itu mereka lakukan sebatas formalitas semata. Ibadah yang mereka lakukan hanya topeng penutup dosa. Mereka membuang esensi kehidupan kudus yang semestinya dinyatakan oleh setiap umat Tuhan dalam praktik di seluruh aspek hidupnya. Bahkan, mereka kehilangan kepekaan sekalipun Tuhan telah menegurnya.

Apalah artinya memberikan persembahan jika sekadar menyisihkan sebagian harta yang kita miliki untuk Tuhan? Apalagi jika tujuannya adalah untuk membeli keselamatan! Tuhan yang Mahakaya tidak membutuhkan pemberian kita. Tuhan tidak dapat disuap dengan harta. Karena itu persembahan harus dihayati sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan atas setiap pemeliharaan kehidupan dari-Nya. Pemeliharaan Tuhan dinyatakan-Nya kepada umat melalui pekerjaan dalam kebenaran dan kekudusan. Hanya ungkapan syukur yang kudus, yang lahir dari pribadi yang bersih hatinyalah yang diperkenan-Nya.

—EBL/www.renunganharian.net


MEMBERI PERSEMBAHAN TIDAK DAPAT MENGGANTIKAN
PENTINGNYA MENJAGA HIDUP DALAM KESALEHAN SEJATI




September 23, 2019, 07:50:48 AM
Reply #2252
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23770
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://www.renunganharian.net/2019/121-september.html

 BERTEKUN DALAM KASIH KARUNIA-NYA
1
2
3
4
5
Rating 4.52 (21 Votes)

    Diterbitkan hari Senin, 23 September 2019 00:00
    Ditulis oleh Go Hok Jin   
    Dibaca: 2737 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Kejadian 21:1-7

Maka mengandunglah Sara, lalu ia melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abraham dalam masa tuanya, pada waktu yang telah ditetapkan, sesuai dengan firman Allah kepadanya. (Kejadian 21:2)


Bacaan Alkitab Setahun:
Amos 6 - Obaja 1



Seorang wanita yang berprofesi sebagai penjual bunga untuk keperluan ziarah, mengumpulkan uang selama 30 tahun supaya dapat mewujudkan keinginannya untuk beribadah ke suatu tempat. Menariknya, wanita ini mulai menabung saat berusia 65 tahun, dengan menyisihkan sebagian dari hasil jualannya. “Setelah tanggung jawab saya selesai, barulah saya berpikir bahwa ini saatnya untuk fokus beribadah sekalipun saya harus menabung selama 30 tahun,” ucap wanita lansia tersebut menjelaskan alasannya menunda waktu untuk mulai menabung.

Bertekun dalam melakukan sesuatu, apalagi selama puluhan tahun, cenderung tak disukai oleh manusia zaman sekarang. Kalau bisa, sekarang ingin sesuatu, detik berikutnya terpenuhi. Padahal faktanya, ada banyak hal dalam kehidupan ini yang tak dapat dipercepat sekehendak hati kita. Misalnya, bertambahnya usia dan terbit terbenamnya matahari, keduanya tak dapat dipercepat. Masa penantian akan janji Tuhan juga bekerja menurut waktu dan cara Tuhan. Itulah yang dialami pasangan Abraham dan Sara. Mereka harus bertekun dalam menantikan penggenapan janji Allah, hingga akhirnya Ishak dilahirkan pada masa tua mereka—di mana secara logika sudah mustahil untuk melahirkan anak.

Dalam hidup ini, ketekunan tak memiliki batasan waktu. Bisa sebentar, tetapi bisa juga cukup lama. Namun, dalam ketekunan kita mengiring Tuhan dan menantikan penggenapan firman-Nya, yakinlah bahwa penantian kita takkan berakhir dengan kekecewaan (bdk. Rm. 3:3-5). Tetaplah bertekun di dalam kasih karunia-Nya!

—GHJ/www.renunganharian.net


KASIH KARUNIA MEMBUAT KETEKUNAN DAN
PENANTIAN AKAN MEMUNGKINKAN UNTUK DIJALANI


September 24, 2019, 06:53:14 AM
Reply #2253
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23770
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://www.renunganharian.net/2019/121-september.html

 TAKUT AKAN TUHAN
1
2
3
4
5
Rating 4.67 (18 Votes)

    Diterbitkan hari Selasa, 24 September 2019 00:00
    Ditulis oleh Samuel Yudi Susanto   
    Dibaca: 2194 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Keluaran 1:15-21

Tetapi bidan-bidan itu takut akan Allah dan tidak melakukan seperti yang dikatakan raja Mesir kepada mereka, dan membiarkan bayi-bayi itu hidup. (Keluaran 1:17)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yunus 1-4



Seorang wanita yang bekerja di bagian keuangan gelisah karena pemimpinnya memaksanya untuk mengubah “sedikit” laporan keuangan perusahaan. Kalau tidak mau, ia akan dipecat! Hatinya sempat tergoda ketika menyaksikan beberapa rekannya yang menuruti perintah itu diganjar gaji besar. Toh tidak seorang pun tahu kalau ia melakukan; ia bisa tetap langgeng bekerja bahkan gajinya akan bertambah. Tetapi ia juga tahu kalau perintah itu tidak sejalan dengan kehendak Tuhan. Mana yang akan dipilihnya?

Sifra dan Pua, bidan-bidan Mesir itu, tentu merasakan kegelisahan yang sama. Pasalnya, Firaun memberi instruksi agar mereka membunuh setiap bayi laki-laki yang terlahir dari ibu-ibu Ibrani. Mereka tahu risiko jika menolak perintah itu. Dan mereka memilih untuk menyelamatkan bayi-bayi itu. Mereka adalah bidan-bidan yang takut akan Tuhan sehingga mereka lebih memilih untuk melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan daripada kehendak rajanya. Firaun tentu murka dengan tindakan mereka, tetapi Tuhan melindungi mereka. Karena iman kedua bidan itu, Tuhan berkenan memberkati mereka!

Mungkin kita berada pada situasi seperti yang dialami Sifra dan Pua. Kita gelisah karena ada orang memaksa kita melakukan manipulasi angka, atau kita berada di tengah lingkungan yang sarat praktik kerja tidak jujur. Semua itu jelas menguji integritas kita. Pilihan kita untuk hidup dalam integritas mungkin akan berdampak buruk bagi hidup kita, namun Tuhan tidak akan berhenti menyatakan pembelaan-Nya bagi orang-orang yang takut akan Dia.

—SYS/www.renunganharian.net


TAKUT AKAN TUHAN ADALAH BERANI UNTUK MEMILIH HIDUP BENAR
DI TENGAH SITUASI YANG TIDAK BENAR APAPUN RISIKONYA



September 25, 2019, 06:18:11 AM
Reply #2254
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23770
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://www.renunganharian.net/2019/121-september.html

 BUAH KESETIAAN
1
2
3
4
5
Rating 4.27 (15 Votes)

    Diterbitkan hari Rabu, 25 September 2019 00:00
    Ditulis oleh Hembang Tambun   
    Dibaca: 1743 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Daniel 6:1-29

“Bersama ini kuberikan perintah, bahwa di seluruh kerajaan yang kukuasai orang harus takut dan gentar kepada Allahnya Daniel ....” (Daniel 6:27)


Bacaan Alkitab Setahun:
Mikha 1-7



Memiliki relasi yang dekat dengan pejabat tinggi dan penguasa dapat membuat seseorang beroleh banyak kemudahan. Namun pada titik tertentu, mereka juga memiliki keterbatasan dan tidak dapat berbuat apa-apa. Pengalaman Daniel menunjukkan hal ini.

Daniel—seorang buangan dari Yehuda—dipercaya oleh Darius, Raja Persia, untuk membawahi wakil-wakil raja, dan kepadanya mereka harus memberi pertanggungjawaban agar raja tidak dirugikan (ay. 3). Integritas Daniel membuat para bawahannya yang korup berusaha menyingkirkannya. Mereka memperdaya raja untuk mengeluarkan undang-undang, yaitu bahwa dalam 30 hari, siapapun tidak diperkenankan untuk berdoa atau memohon kepada dewa atau manusia lain, kecuali kepada raja. Jika melanggar, akan dilemparkan ke gua singa.

Walau Daniel mengetahui undang-undang baru itu, namun ia tetap berdoa kepada Allah, seperti biasa (ay. 11). Akibatnya, Daniel harus dilemparkan ke gua singa. Raja Darius—yang menyadari bahwa ternyata undang-undang itu adalah jebakan untuk menyingkirkan Daniel—berusaha menyelamatkannya, namun tidak bisa, sebab ia terikat kepada peraturan negara yang tak dapat diubah (ay. 15).

Syukurnya, mukjizat Allah terjadi. Daniel selamat dengan cara yang ajaib. Ini menjadi kesaksian tentang Allah yang disembahnya, bukan hanya kepada Darius, namun juga kepada semua orang di wilayah kekuasaan sang raja. Kesetiaannya kepada Allah membuat banyak orang mengenal Allah. Kesetiaan seperti ini jugalah yang hendaknya kita miliki.

—HT/www.renunganharian.net


TELADAN BAIK DARI KITA AKAN MEMBUAT DUNIA MENYAKSIKAN SIAPA ALLAH KITA.
ITULAH TUJUAN ALLAH MENEMPATKAN KITA DI BUMI INI.

September 26, 2019, 07:10:38 AM
Reply #2255
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23770
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://www.renunganharian.net/2019/121-september.html

 AKIBAT TERGESA-GESA
1
2
3
4
5
Rating 4.56 (18 Votes)

    Diterbitkan hari Kamis, 26 September 2019 00:00
    Ditulis oleh Go Hok Jin   
    Dibaca: 2356 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Amsal 19:1-2

... orang yang tergesa-gesa akan salah langkah. (Amsal 19:2)


Bacaan Alkitab Setahun:
Nahum 1 - Habakuk 3



Deane dan Jody terkejut saat petugas pemeriksaan tiket stasiun mengatakan bahwa tiket mereka sudah hangus. “Tiketnya untuk subuh tadi, alias sudah hampir sehari lewat,” ucap sang petugas. Setelah mencermati hari dan jam, ternyata benar bahwa mereka keliru membaca jadwal keberangkatan kereta api yang mereka pesan. Deane pun teringat bahwa pemesanan tiket waktu itu dilakukan dengan tergesa-gesa. Alhasil, dana ekstra harus keluar untuk membeli tiket supaya mereka bisa tetap melanjutkan rencana bepergian.

Ketika Alkitab memperingatkan bahwa orang yang tergesa-gesa akan salah langkah—bisa diartikan pula rentan salah melangkah atau berpotensi keliru membuat keputusan—peringatan ini tak bisa diabaikan begitu saja. Ya, orang yang sedang terburu-buru dalam melakukan apa pun, biasanya cenderung abai atau kurang waspada, sehingga hal yang seharusnya dicermati atau penting, malah luput dari perhatian. Dampaknya, mulai dari salah baca jadwal, mengabaikan rencana penting, salah ambil keputusan, keluar dana ekstra, dan berbagai dampak merugikan lainnya dapat dialami oleh seseorang.

Maka dari itu, jika sampai hari ini kita masih sering terburu-buru, ini waktu yang tepat untuk mulai berubah. Aturlah waktu dengan lebih baik sehingga kita tak harus buru-buru dalam melakukan segala sesuatu, terlebih ketika kita harus mengambil keputusan penting. Jika orang tergesa-gesa berpotensi salah langkah, sebaliknya mereka yang mampu meminimalkan hal tersebut berpotensi melangkah dengan tepat. Mana yang Anda pilih?

—GHJ/www.renunganharian.net


KEBIASAAN TERBURU-BURU DAPAT MEMBUAT KITA
MELEWATKAN HAL YANG PENTING DAN BERNILAI



September 27, 2019, 04:35:09 AM
Reply #2256
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23770
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://www.renunganharian.net/2019/121-september.html

 SADAR AKAN KEMATIAN
1
2
3
4
5
Rating 4.33 (3 Votes)

    Diterbitkan hari Jum'at, 27 September 2019 00:00
    Ditulis oleh Pipi Agus Dhali   
    Dibaca: 270 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Lukas 23:33-39

Salah seorang penjahat yang digantung itu menghujat Dia, katanya, “Bukankah Engkau Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!” (Lukas 23:39)


Bacaan Alkitab Setahun:
Zefanya 1 - Hagai 2



Bahasa Latin mengenal ungkapan Memento mori, artinya: Ingatlah, Anda akan mati! Kenapa mesti diingatkan? Bukankah telah jelas bagi semua orang, dirinya akan mati? Rupanya tidak. Itu sebabnya muncul peringatan ini. Sebab, ternyata banyak orang berlagak seolah-olah dirinya tak akan pernah mati. Hidupnya ceroboh bukan kepalang, segalanya serba kelewat batas, angkuh, egois, dan jahatnya minta ampun—seperti seakan-akan dirinya hidup terus.

Salah seorang penjahat yang disalibkan di dekat Yesus merupakan contoh ekstrem yang mengagetkan. Bagaimana tidak? Palang salib siap merenggut jiwanya. Napasnya tersengal-sengal meregang nyawa. Ajal siap menjemput. Bukit Tengkorak menebar bau kematian yang mencekat di hidungnya. Alih-alih menyadari akan kematiannya ia malah ikut-ikutan menghujat Yesus (ay. 39). Siapa tidak tergoda untuk berkomentar, “Sungguh tidak tahu diri!”

Apakah kita bekerja terlalu keras tanpa menghiraukan kesehatan? Atau sebaliknya bermalas-malasan saja seperti tidak akan menjadi tua? Atau kita terlalu sibuk dan enggan melayani Tuhan seakan-akan kesempatan akan selalu ada? Jika ya, waspadalah! Kita cenderung mengabaikan fakta kematian apabila berkenaan dengan diri sendiri. Padahal ongkosnya terlalu mahal. Yaitu ketidak-siapan menyambut kematian sekaligus untuk menjalani kehidupan dengan baik. Memento mori!

—PAD/www.renunganharian.net


SEBERAPA BAIK DAN BIJAKSANA KITA HIDUP DI DUNIA
DITENTUKAN OLEH SEBERAPA SADAR KITA BAHWA HIDUP INI AKAN BERAKHIR



September 28, 2019, 10:10:17 AM
Reply #2257
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23770
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://www.renunganharian.net/2019/121-september.html

 BANGKIT DENGAN CARA YANG TEPAT
1
2
3
4
5
Rating 4.65 (17 Votes)

    Diterbitkan hari Sabtu, 28 September 2019 00:00
    Ditulis oleh Go Hok Jin   
    Dibaca: 2274 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Amsal 24:16

Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana. (Amsal 24:16)


Bacaan Alkitab Setahun:
Zakharia 1-7



Saya terkejut mendengar pengakuan seorang pengusaha besar bahwa dalam membangun usahanya hingga berhasil seperti sekarang, ia telah melewati kegagalan demi kegagalan. Ditipu orang juga menjadi bagian dari kisah suksesnya, yang membuatnya belajar dan mengevaluasi diri. “Saya orangnya tak mau terlalu bersedih. Setiap kali gagal, ya sudah, tetapi saya segera bangkit. Saya lakukan evaluasi, bertanya sana-sini, lalu membuat rencana baru dan berjuang lagi,” ucapnya mengenang kisah perjuangan dalam bisnisnya.

Nas renungan hari ini juga bicara soal bangkit dari kegagalan. Tentu saja, hal ini tak sekadar berbicara soal tekad dan semangat untuk bangkit, tetapi merespons kegagalan dengan cara yang tepat supaya kegagalan yang ada tidak sampai terulang lagi. Evaluasi diri, belajar dari kesalahan, mendengar nasihat atau petuah dari orang lain, dan tidak lupa membawa rencana ini dan itu kepada Tuhan, adalah beberapa cara yang dapat dilakukan dalam rangka bangkit dari kegagalan atau kejatuhan. Meratapi nasib dan sedih berkepanjangan, apalagi menyalahkan Tuhan, sama sekali bukanlah tindakan yang bijak untuk merespons kegagalan.

Setiap orang pernah gagal dalam hidupnya. Para tokoh hebat di Alkitab pun mengalaminya. Tekad untuk bangkit dan mengerti cara yang tepat merespons kegagalan adalah kombinasi yang pas supaya tak tersandung dan jatuh oleh kegagalan, tetapi mampu bangkit dari setiap kegagalan untuk menatap keberhasilan. Apakah saat ini kita sedang gagal? Mari bangkit dan berjuang kembali dengan cara yang tepat!

—GHJ/www.renunganharian.net


BANGKIT DARI KEGAGALAN MEMERLUKAN STRATEGI
SUPAYA TAK BERUJUNG PADA KEGAGALAN LAINNYA


September 29, 2019, 04:12:16 AM
Reply #2258
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23770
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://www.renunganharian.net/2019/121-september.html

 TULUS TANPA PAMRIH
1
2
3
4
5
Rating 5.00 (1 Vote)

    Diterbitkan hari Minggu, 29 September 2019 00:00
    Ditulis oleh Eddy Nugroho   
    Dibaca: 267 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: 2 Samuel 19:31-43

“Sepotong jalan saja hambamu ini berjalan ke seberang sungai Yordan bersama-sama dengan raja. Mengapa raja memberikan ganjaran yang sedemikian kepadaku?” (2 Samuel 19:36)


Bacaan Alkitab Setahun:
Zakharia 8-14



Di jaman sekarang, sangat susah untuk mencari perbuatan yang tanpa pamrih. Sebagian besar perbuatan dibaliknya mengandung maksud atau pamrih dari perbuatan tersebut. Kalau tersimpan pamrih, dapat dikatakan perbuatan itu tidak tulus dilakukan. Orang mendukung dan menyanjung juga dilandasi interes pribadi. Dukungan itu sebetulnya demi diri sendiri bukan demi yang didukungnya.

Pada kisah hari ini kita juga dapat melihat orang Israel dan orang Yehuda, yang tadinya telah meninggalkan Daud dan berpihak kepada Absalom, berlomba-lomba untuk mengambil hati Daud yang telah menang dan kembali menjadi raja. Namun, bersyukur juga ada orang yang tulus seperti Barzilai. Barzilai, orang Gilead, yang telah menyediakan makanan bagi Daud dan pengikutnya pada masa Daud di Mahanaim, ketika sebagian besar Yehuda dan Israel meninggalkan Daud. Ia ternyata tidak mau mengikuti Daud ke Yerusalem untuk menerima kemuliaan dan upah. Dengan rendah hati ia mengatakan bahwa dia hanya berjalan sepotong jalan saja ke seberang sungai Yordan bersama-sama dengan raja dan tidak pantas menerima ganjaran dari raja. Ia menolak ganjaran untuk dirinya sendiri, tetapi malah memperjuangkan kepentingan orang lain.

Apa yang dilakukan oleh Israel dan Yehuda merupakan cermin dari apa yang sering terjadi dalam komunitas kita. Kita sering mencari muka kepada atasan untuk kepentingan diri sendiri. Perbuatan kita dipenuhi dengan pamrih. Marilah kita belajar tulus dalam segala sesuatu. Jauhi pamrih jika berbuat sesuatu, karena Tuhan sudah terlebih dulu mengasihi kita tanpa pamrih.

—ENO/www.renunganharian.net


SEPI ING PAMRIH, RAME ING GAWE
(BANYAK BEKERJA, TANPA PAMRIH)


September 30, 2019, 05:39:59 AM
Reply #2259
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23770
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://www.renunganharian.net/2019/121-september.html

 MEMANDANG SEBELAH MATA
1
2
3
4
5
Rating 4.40 (10 Votes)

    Diterbitkan hari Senin, 30 September 2019 00:00
    Ditulis oleh Pipi Agus Dhali   
    Dibaca: 1094 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Kejadian 25:27-34

Demikianlah Esau memandang ringan hak kesulungan itu. (Kejadian 25:34b)


Bacaan Alkitab Setahun:
Maleakhi 1-4



Ada petuah berujar, “Belajarlah untuk menghargai kepunyaanmu sebab selalu ada seseorang di luar sana yang sangat berharap dapat memilikinya seperti dirimu. Jangan sampai kelak engkau dipaksa untuk menghargainya tatkala itu sudah bukan milikmu lagi.” Nasihat ini sungguh mencerminkan apa yang dialami oleh tokoh Alkitab bernama Esau. Kenapa begitu?

Sebagai putra sulung, ia memiliki hak kesulungan yang memberinya keistimewaan berupa berkat anak sulung yang kelak pasti diwariskan oleh sang ayah kepadanya (Kej. 27:1-4). Tetapi, sayangnya, Esau bersikap tak mengacuhkan haknya itu. Sementara Yakub, adik kembarnya, sangat mendambakannya. Sampai dicobanya cara yang menggelikan untuk “merebut” hak itu. Ditukar dengan semangkuk sup kacang merah (ay. 31-34). Konyolnya, Esau setuju dan mengukuhkan “transaksi” itu dengan sumpah! Kelak ketika berkat sulung itu benar-benar direbut darinya dan diberikan kepada Yakub, barulah Esau menangis keras karenanya (Kej. 27:34).

Hidup ini ialah seni sekaligus disiplin untuk menghargai apa yang ada pada kita, yang diijinkan Tuhan menjadi kepunyaan kita. Sebab tak selamanya itu ada pada kita. Jika kita terlalu sibuk mengejar apa yang tidak ada pada kita, akibatnya kita mengabaikannya, tidak melihat potensinya, bahkan memandangnya dengan sebelah mata. Padahal banyak karunia Tuhan tersimpan di situ dan menanti untuk kita hargai, syukuri, dan berdayakan. Jangan sampai pengalaman Esau terulang pada kita.

—PAD/www.renunganharian.net


KETIKA KITA MENGEMBUSKAN SATU NAFAS KELUHAN, ADA ORANG LAIN YANG SEDANG
BERJUANG MENARIK NAFAS TERAKHIRNYA—HARGAILAH APA YANG TUHAN BERI



 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)