Author Topic: Renungan Harian®  (Read 128928 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

August 09, 2020, 12:07:11 PM
Reply #2550
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 27414
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://www.renunganharian.net/2020/133-agustus.html

http://www.renunganharian.net/2020/133-agustus/3378-awet-muda.html

 AWET MUDA?
1
2
3
4
5
Rating 4.30 (20 Votes)

    Diterbitkan hari Minggu, 09 Agustus 2020 00:00
    Ditulis oleh Pipi Agus Dhali   
    Dibaca: 2009 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: 2 Timotius 4:9-18

Jika engkau kemari bawa juga jubah yang kutinggalkan di Troas di rumah Karpus dan juga kitab-kitabku, terutama yang terbuat dari kulit. (2 Timotius 4:13)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yesaya 43-46



Presiden ke-33 Amerika Serikat, Harry S. Truman, pernah berkata, “Tidak semua orang yang gemar membaca adalah seorang pemimpin, tetapi seorang pemimpin sudah pasti orang yang gemar membaca.” Kebenaran dari pernyataannya ini pertama-tama sangat berlaku atas dirinya. Berbeda dengan pendahulunya yang memang bergelar akademis, dirinya ialah seorang autodidak yang tekun—kutu buku tulen yang tak pernah berhenti belajar.

Untuk seorang penginjil pada zamannya, Paulus terbilang cendekia. Pengetahuannya tentang agama Yahudi tak perlu diragukan. Pengenalannya akan filsafat Yunani mengesankan. Pemahamannya akan Kekristenan amat mendalam. Tetapi dirinya tak pernah berhenti belajar. Membaca sudah menjadi bagian yang menyatu dengan aliran darahnya. Bahkan ketika ia sadar akan ajalnya yang kian mendekat dalam penjara kota Roma, kerinduannya untuk membaca—terutama gulungan Kitab Suci tertulis di atas kulit binatang (perkamen)—tak pernah pupus (ay. 13). Ia terus menulis sebab ia juga tak henti-hentinya membaca— hingga menjelang akhir hidupnya.

Telah banyak dibuktikan, bahwa orang yang tidak berhenti untuk belajar hidupnya lebih bergairah. Pikirannya tetap jalan, daya ingatnya tak mudah menurun. Kreativitasnya tidak terhentikan. Wawasannya kian luas. Lebih luwes bergaul karena tak ketinggalan jaman. Imannya pun bertumbuh sehat, jauh dari sekedar fanatisme buta belaka. Bukankah tugas seorang murid Kristus ialah belajar? Jadi, teruslah belajar dan membaca! Kita akan dicengangkan oleh manfaatnya.

—PAD/www.renunganharian.net


BARANG SIAPA BERHENTI BELAJAR IA SUDAH TUA, TAK PEDULI IA BERUSIA 20 ATAU 80.
JIKA SESEORANG TERUS BELAJAR IA AWET MUDA.—Henry Ford








August 10, 2020, 07:12:56 AM
Reply #2551
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 27414
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://www.renunganharian.net/2020/133-agustus.html

http://www.renunganharian.net/2020/133-agustus/3379-tidak-tawar-hati.html

 TIDAK TAWAR HATI
1
2
3
4
5
Rating 4.13 (15 Votes)

    Diterbitkan hari Senin, 10 Agustus 2020 00:00
    Ditulis oleh Adama Sihite   
    Dibaca: 2139 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: 2 Korintus 4:1-15

Oleh rahmat Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu, kami tidak tawar hati. (2 Korintus 4:1)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yesaya 47-51



Makanan tawar itu tidak enak. Tidak ada rasa. Tidak asin, tidak manis, tidak asam bahkan tidak juga pahit. Hambar. Kita sering kehilangan “rasa” di dalam pelayanan. Kehilangan passion. Ada banyak penyebabnya. Rutinitas yang menghasilkan kebosanan dan kejenuhan. Kekecewaan karena harapan-harapan yang tidak tercapai. Tidak lagi antusias, tidak lagi bersemangat dan tidak lagi punya gereget.

Paulus menyadari hal-hal tersebut di atas di dalam pelayanannya, termasuk juga penolakan dari orang-orang yang kepada mereka Paulus memberitakan Injil (ay. 3). Juga karena adanya orang-orang yang kesan awalnya tulus memberitakan Injil, tetapi licik dan memalsukan firman untuk kepentingannya sendiri (ay. 2). Hanya saja, Paulus tahu betul dari siapa ia memperoleh kesempatan untuk melayani pemberitaan Injil dan dari mana ia mendapatkan kekuatan untuk terus melanjutkan karya pemberitaan Injil tersebut. Paulus sadar dan tahu betul bahwa ia menerima tanggung jawab memberitakan Injil dari Allah sendiri dan kekuatannya pun datang dari Allah (ay. 1, 5). Hal-hal inilah yang membuat Paulus tidak mudah tawar hati dalam melakukan tanggung jawabnya. Kekuatan dan pertolongan Allah seperti terang yang terbit sehabis gelap. Ada pengharapan di dalam Allah yang meneguhkannya.

Kondisi tawar hati mungkin saja dapat kita alami. Bersandar hanya pada kekuatan dan pertolongan Allah membuat kita dapat tetap memiliki “rasa” dalam melakukan pelayanan dan apa pun yang kita lakukan. Apalagi dengan mengingat bahwa yang kita lakukan adalah semata-mata untuk Allah saja.

—AAS/www.renunganharian.net


TETAP “BERASA” DALAM PELAYANAN OLEH KARENA
SELALU BERSANDAR PADA KASIH ALLAH







August 11, 2020, 07:17:02 AM
Reply #2552
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 27414
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


http://www.renunganharian.net/2020/133-agustus.html

http://www.renunganharian.net/2020/133-agustus/3380-gara-gara-takut.html

 GARA-GARA TAKUT
1
2
3
4
5
Rating 4.50 (14 Votes)

    Diterbitkan hari Selasa, 11 Agustus 2020 00:00
    Ditulis oleh Go Hok Jin   
    Dibaca: 2077 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: 2 Raja-raja 7:1-20

Sebab TUHAN telah membuat tentara Aram itu mendengar bunyi kereta, bunyi kuda, bunyi tentara yang besar, sehingga berkatalah yang seorang kepada yang lain: "Sesungguhnya raja Israel telah mengupah raja-raja orang Het dan raja-raja orang Misraim melawan kita, supaya mereka menyerang kita." (2 Raja-raja 7:6)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yesaya 52-57



Kengerian ternyata tak harus disebabkan oleh sesuatu yang kasat mata. Sejak awal 2020, selama beberapa bulan dunia dibuat khawatir dengan merebaknya Covid-19. Semakin dekat lokasi suspect atau orang yang diduga terinfeksi virus, terlebih jatuhnya korban, akan meningkatkan “atmosfer ketakutan” bagi orang-orang di sekitarnya. Hal yang sempat saya rasakan juga ketika kabar mengenai korban akibat Covid-19 terjadi di lokasi yang berjarak hanya 30 menit dari rumah!

Ada yang tak biasa dalam peperangan yang dialami bangsa Israel pada masa Nabi Elisa. Entah bagaimana awalnya, di perkemahan orang Aram mendadak terdengar bunyi kereta, kuda, dan tentara yang besar sehingga mereka menyangka bahwa akan segera terjadi penyerbuan. Alhasil, dalam ketakutan orang-orang Aram melarikan diri untuk menyelamatkan nyawa. Harta benda dan kumpulan ternak pun mereka tinggalkan, yang kelak menjadi jarahan besar bagi umat pilihan Allah sebagai penggenapan nubuatan yang disampaikan oleh Elisa (ay. 1, 15, 16). Ketakutan besar dari Allah berhasil menyergap bangsa Aram sehingga mereka dapat dikalahkan tanpa terjadi peperangan sedikit pun!

Orang yang mengalami kekhawatiran dan ketakutan berlebihan ibarat pasukan yang kalah sebelum perang dimulai. Cara terbaik untuk melawan kekhawatiran dan ketakutan—terkait virus, penyakit, atau masalah dan pergumulan hidup—adalah dengan memutuskan untuk menghadapinya, sambil memohon penyertaan dan pertolongan Allah. Percayalah bahwa kita takkan pernah dibiarkan-Nya sendirian!

—GHJ/www.renunganharian.net


RASA TAKUT TAKKAN PERNAH MENDATANGKAN
KEBAIKAN BAGI ORANG YANG MENGALAMINYA






August 12, 2020, 05:35:39 AM
Reply #2553
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 27414
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16



http://www.renunganharian.net/2020/133-agustus.html

http://www.renunganharian.net/2020/133-agustus/3381-berkat-dalam-tidak-nya.html

 BERKAT DALAM “TIDAK”-NYA
1
2
3
4
5
Rating 3.63 (8 Votes)

    Diterbitkan hari Rabu, 12 Agustus 2020 00:00
    Ditulis oleh Priskila Dewi S.   
    Dibaca: 907 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Kejadian 50:15-21

Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar. (Kejadian 50:20)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yesaya 58-63



Saat diminta untuk bersaksi tentang berkat Tuhan, apa yang kita tuturkan? Kita kerap kali menghubungkan kebaikan Tuhan dengan pemberian-Nya yang baik untuk kita. Misalnya kekayaan, kesehatan, naik jabatan, dan sebagainya. Berkat Tuhan tak selalu identik dengan materi dan hal-hal lain yang kita dapatkan. Ketika doa tak dikabulkan dan orang yang kita kasihi meninggal, kita sering merasa Tuhan tidak mengasihi kita. Kerap kali kita tak menyadari ada berkat dalam “tidak”-Nya.

Kisah hidup Yusuf awalnya merupakan tragedi. Bayangkan saja, Yusuf dijual oleh saudara-saudaranya sendiri, bahkan sebelumnya ia nyaris dibunuh mereka (Kej. 37). Saudara-saudaranya tidak mengasihi Yusuf. Yusuf dibuang, dilupakan, dan disingkirkan. Meskipun demikian, Yusuf tetap merasakan berkat dalam “tidak”-Nya. Semua kejahatan saudara-saudara Yusuf tak membuat Yusuf lupa bahwa Tuhan masih menyertainya dan memakai kejadian buruk ini untuk memelihara hidup Yusuf dan bangsa Israel pada masa kelaparan (ay. 20). Betapa Tuhan mengasihi anak-anak-Nya!

Bagaimana respons kita terhadap jawaban “tidak” dari Tuhan? Masihkah kita memelihara persekutuan pribadi dengan Tuhan atau semakin menjauh dari-Nya? Jangan pernah menyalahkan Tuhan atas semua kejadian buruk yang menimpa kita. Walaupun sulit dipahami, percayalah ada berkat dalam “tidak”-Nya. Berserahlah penuh kepada Tuhan.

—PDS/www.renunganharian.net


TUHAN MASIH MERAJUT RENCANA INDAH DI BALIK SETIAP “TIDAK” YANG KITA ALAMI.
MARI TERUS BELAJAR UNTUK SETIA DAN BERIMAN PENUH KEPADA-NYA.






August 13, 2020, 05:35:39 AM
Reply #2554
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 27414
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


http://www.renunganharian.net/2020/133-agustus.html

http://www.renunganharian.net/2020/133-agustus/3382-pelayan-yang-depresi.html

 PELAYAN YANG DEPRESI
1
2
3
4
5
Rating 3.89 (9 Votes)

    Diterbitkan hari Kamis, 13 Agustus 2020 00:00
    Ditulis oleh Ludia Lembang   
    Dibaca: 900 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: 1 Raja-raja 19:1-8

Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: “Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku.” (1 Raja-raja 19:4)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yesaya 64-66



Elia sebagai nabi Tuhan mengalami depresi yang cukup berat sehingga ia harus melarikan diri ke padang gurun. Ia berjalan sehari perjalanan jauhnya dan ia ingin mati saja. Elia mengalami tekanan dan kelelahan secara fisik, mental dan emosi. Padahal sebelumnya ia menjadi pahlawan dengan mengalahkan 450 nabi Baal di gunung Karmel. Karena kepahlawanannya itu ia mendapat ancaman dari Ratu Izebel. Elia pun melarikan diri dalam ketakutan dengan perasaan gagal, kecewa dan hampa.

Ia merasa bahwa apa yang telah ia lakukan sia-sia saja dan tidak membawa perubahan dalam kehidupan umat Israel padahal ia telah berjuang segiat-giatnya. Saat Tuhan bertanya kepadanya, “Apa kerjamu di sini, Elia?” Elia menjawab dengan kemarahan, kekecewaan, keputusasaan, dan kehilangan harapan. Elia menjawab, “Aku bekerja segiat-giatnya bagi Tuhan, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan mata pedang, hanya aku sendiri yang masih hidup dan mereka ingin mencabut nyawaku” (ay. 9-14).

Depresi dapat dialami oleh siapa pun, termasuk hamba Tuhan yang bekerja segiat-giatnya bagi Tuhan. Hal ini menjadi bukti bahwa kita tak bisa melakukan segala sesuatunya dengan kekuatan dan kemampuan sendiri. Kemampuan kita terbatas. Kita tidak bisa melayani Tuhan seorang diri. Berjalan bersama-sama dalam melayani Tuhan akan membebaskan kita dari depresi, kekecewaan dan mengasihani diri berlebihan.

—LL/www.renunganharian.net


MEMILIKI PERASAAN BAHWA SAYA HEBAT MEMBAWA KITA MELAKUKAN SEGALA SESUATUNYA SENDIRI,
TANPA KESADARAN AKAN KETERBATASAN YANG DIMILIKI AKAN MEMBUAT KITA DEPRESI







August 14, 2020, 05:22:39 AM
Reply #2555
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 27414
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


http://www.renunganharian.net/2020/133-agustus.html

http://www.renunganharian.net/2020/133-agustus/3383-mengkritisi.html

 MENGKRITISI
1
2
3
4
5
Rating 4.25 (8 Votes)

    Diterbitkan hari Jum'at, 14 Agustus 2020 00:00
    Ditulis oleh Pipi Agus Dhali   
    Dibaca: 752 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Matius 7:1-5

“… dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Matius 7:2)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yeremia 1-3



Setiap hari kita berurusan dengan hal nilai-menilai. Kita terus memberi penilaian terhadap sesuatu atau seseorang. Tentu saja, hasilnya menentukan pilihan, keputusan, dan sikap kita. Salah menilai dapat berakibat kita salah mengambil keputusan dan salah bersikap pula. Tidak menilai? Tidak mungkin! Kita memang harus bergaul dengannya. Begitulah hidup ini. Yang menjadi persoalan ialah bagaimana prosesnya.

Dalam Injilnya (sejak pasal 5 hingga 7), Matius memuat paket khotbah Tuhan Yesus di atas bukit. Isinya mengenai bagaimana kerajaan surga itu hadir di bumi ini melalui doa dan praktik keseharian hidup murid-murid Yesus. Termasuk dalam hal menilai sesama. Larangan menghakimi bukan dimaksudkan agar kita berhenti menilai (ay. 1), melainkan terfokus pada patokan untuk menilai (ay. 2). Ukurannya harus yang objektif, artinya berlaku untuk semua—termasuk diri si penilai (ay. 3-4). Janganlah nilai buruk kita jatuhkan pada seseorang, sementara kita sendiri meleset dari standar yang berlaku untuk penilaian itu— hanya wujud tindakannya berbeda. Itu namanya kemunafikan (ay. 5).

Harus diakui, banyak penilaian sebenarnya berlandaskan patokan subjektif belaka. Sejatinya, jauh dalam hati, sekadar tidak suka. Sebabnya beragam: iri hati, sentimen agama, kebencian rasial, atau ikut-ikutan karena terhasut. Lalu manusia seenaknya menghakimi sesama, bahkan tak jarang dengan kejamnya. Sikap ini patut dihindari oleh setiap insan kristiani. Kita boleh bersikap kritis, namun sebelumnya kritislah terhadap diri sendiri—supaya standar yang kita pakai benar dan adil.

—PAD/www.renunganharian.net


KEDEWASAAN IMAN KITA JUGA TERCERMIN
DARI BAGAIMANA KITA MENILAI SESAMA






August 15, 2020, 05:54:38 AM
Reply #2556
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 27414
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16



http://www.renunganharian.net/2020/133-agustus.html

http://www.renunganharian.net/2020/133-agustus/3384-lebih-suka-mengampuni.html

 LEBIH SUKA MENGAMPUNI
1
2
3
4
5
Rating 5.00 (1 Vote)

    Diterbitkan hari Sabtu, 15 Agustus 2020 00:00
    Ditulis oleh Endang B. Lestari   
    Dibaca: 679 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Lukas 15:1-7

“Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di surga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih daripada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.” (Lukas 15:7)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yeremia 4-6



Pengampunan merupakan salah satu wujud nyata kasih. Bagi orang percaya, mestinya hal ini menjadi bagian dari jati diri sebagai anak-anak Allah. Namun demikian fakta menunjukkan bahwa di dalam satu tubuh gereja pun tidak sedikit terjadi perselisihan, persaingan, kemarahan, kebencian, iri dengki, dendam dan berbagai bentuk perseteruan lainnya. Kebersamaan yang terjalin lama tak selalu membuat mereka saling menerima, menghargai, menyadari demi membangun kehidupan bersama, melainkan memunculkan akar-akar kebencian yang semakin lama semakin kuat dan sulit dicabut.

Tuhan Yesus memberikan perumpamaan domba yang hilang untuk menggambarkan betapa berharganya keberadaan satu jiwa. Ia sangat peduli dan mengasihi, sehingga tidak rela jika ada satu saja umat-Nya yang tersesat. Bahkan Ia mengatakan bahwa satu orang berdosa yang bertobat cukup untuk membuat surga bersukacita! Tidak ada manusia yang tidak dipandang berharga di mata-Nya. Karena itu Ia tidak menuntut, melainkan mengampuni, menghapus dosa dan menerima kita kembali.

Tuhan yang Mahakuasa tentu berhak untuk marah, membenci dan menghukum ketika ciptaan-Nya tidak tunduk terhadap-Nya. Namun demikian Dia tidak melakukannya! Manusia diberi-Nya kesempatan untuk bertobat dan dipulihkan. Pernahkah kita bercermin dan menilai diri: siapakah kita di hadapan Tuhan? Bukankah hanya makhluk lemah yang penuh dosa dan kekurangan? Tuhan yang sempurna tanpa cela saja lebih suka mengampuni. Jika demikian, layakkah kita marah, membenci dan menuntut sesama?

—EBL/www.renunganharian.net


ALLAH LEBIH SUKA MEMBERI PENGAMPUNAN YANG MEMBAWA KEHIDUPAN
ALIH-ALIH MEMBERI HUKUMAN YANG MEMBINASAKAN




August 16, 2020, 04:24:26 PM
Reply #2557
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 27414
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16




http://www.renunganharian.net/2020/133-agustus.html

http://www.renunganharian.net/2020/133-agustus/3385-orang-bijak-dan-ponsel.html

 ORANG BIJAK DAN PONSEL
1
2
3
4
5
Rating 3.80 (5 Votes)

    Diterbitkan hari Minggu, 16 Agustus 2020 00:00
    Ditulis oleh Go Hok Jin   
    Dibaca: 336 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Efesus 5:15-21

Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif. (Efesus 5:15)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yeremia 7-10



Pada 2008, hasil survei di Amerika Serikat menunjukkan bahwa lebih dari 1.000 orang terluka akibat penggunaan ponsel (telepon seluler) sambil berjalan. Angka itu dua kali lipat dibandingkan dengan temuan 2007. Kini, lebih dari satu dekade berselang dengan semakin masifnya penggunaan ponsel di seluruh dunia, sepertinya temuan tadi jumlahnya semakin meningkat. Apakah Anda pernah mengalami hal yang membahayakan karena terlalu asyik dengan ponsel di tangan ketika berada di jalanan umum?

Ketika Alkitab menasihatkan agar orang-orang percaya mencermati cara hidup mereka, harapannya agar mereka tidak menjadi orang bebal, tetapi menjadi semakin bijaksana. Seseorang dicap bebal ketika ia sudah mengetahui ada hal-hal yang dapat membahayakan dirinya, tetapi tetap saja dilakukan. Penggunaan ponsel sambil berjalan maupun sambil berkendara, bagi saya merupakan tanda dari kebebalan. Buktinya, berbagai peringatan sudah diberikan, juga cukup banyak bukti mengenai dampak buruk dari kebiasaan itu, tetapi masih saja orang nekat melakukannya. Mungkin mereka baru jera ketika sudah terkena akibat dari kebiasaan menggunakan ponsel sambil beraktivitas di luar rumah.

Kehadiran ponsel sejatinya ditujukan untuk mempermudah dan memperlancar proses komunikasi dalam menjalani hidup sehari-hari. Namun, bagi orang bebal kehadiran ponsel tanpa disertai kesadaran diri, dapat berpotensi menjadi alat yang membahayakan jiwa. Bagaimana dengan kebiasaan penggunaan ponsel Anda selama ini? Sudah cukup aman ataukah masih cenderung membahayakan?

—GHJ/www.renunganharian.net


DI TANGAN ORANG BIJAK, PONSEL TAKKAN PERNAH
MENJADI ALAT YANG MEMBAHAYAKAN JIWA





August 17, 2020, 10:10:02 AM
Reply #2558
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 27414
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


http://www.renunganharian.net/2020/133-agustus.html

http://www.renunganharian.net/2020/133-agustus/3386-masih-memiliki-tugas.html

 MASIH MEMILIKI TUGAS
1
2
3
4
5
Rating 4.41 (17 Votes)

    Diterbitkan hari Senin, 17 Agustus 2020 00:00
    Ditulis oleh Linawati Santoso   
    Dibaca: 2340 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Bilangan 33:50-56

“Maka haruslah kamu menghalau semua penduduk negeri itu dari depanmu dan membinasakan segala batu berukir kepunyaan mereka….” (Bilangan 33:52)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yeremia 11-14



Pada 17 Agustus 1945 bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Setelah teks proklamasi dibacakan, bukan berarti tugas kita sebagai rakyat Indonesia selesai. Kita harus tetap mempertahankan negeri ini terhadap ancaman dari dalam maupun dari luar negeri. Selain itu, kita juga harus mengisinya dengan pembangunan dan berbagai hal positif lainnya.

Bagi bangsa Israel, berhasil merebut dan menduduki tanah Kanaan ibarat proklamasi kemerdekaan. Setelah mencapai tujuan itu, mereka mungkin akan kehilangan arah dan berkata, “Apa lagi yang harus kami lakukan?” Agar hal itu tidak terjadi, Tuhan memberi tahu mereka apa saja yang harus dilakukan sesudah tanah Kanaan direbut. Pertama, mereka harus menghalau seluruh penduduk negeri dan membinasakan berhala mereka (ay. 52). Mengapa? Karena semua itu berpotensi menjadi jerat bagi kehidupan mereka dan mendatangkan murka Tuhan (ay. 55-56). Setelah negeri itu dibersihkan, Tuhan meminta mereka melakukan tugas kedua, yakni membagi-bagi negeri itu sebagai milik pusaka (ay. 54).

Banyak orang kehilangan tujuan setelah target mereka tercapai. Puas dengan keberhasilan itu memang bagus. Namun, ingat, di dunia ini masih banyak yang bisa dan perlu kita lakukan, misalnya memberitakan Firman Tuhan. Ketika kita menetapkan target pribadi, jangan lupa menyertakan tujuan ilahi. Bersama Tuhan, kita pasti tidak dibiarkan menganggur. Sebaliknya, kehidupan kita dapat selalu bermakna dan berguna bagi orang lain.

—LIN/www.renunganharian.net


KASIH SEMESTINYA MEMOTIVASI KITA
UNTUK MELAYANI SESAMA DENGAN LEBIH BAIK LAGI







August 18, 2020, 05:03:04 AM
Reply #2559
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 27414
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


http://www.renunganharian.net/2020/133-agustus.html

http://www.renunganharian.net/2020/133-agustus/3387-yang-masih-tersisa.html


 YANG MASIH TERSISA
1
2
3
4
5
Rating 4.75 (4 Votes)

    Diterbitkan hari Selasa, 18 Agustus 2020 00:00
    Ditulis oleh Samuel Yudi Susanto   
    Dibaca: 560 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Roma 9:16-33

Dan Yesaya berseru tentang Israel, “Sekalipun jumlah anak Israel seperti pasir di laut, namun hanya sisanya akan diselamatkan.” (Roma 9:27)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yeremia 15-18



Status orang Israel berubah drastis ketika Allah dengan kuasa-Nya membawa mereka keluar dari Mesir. Mereka yang dulu budak, diangkat Allah menjadi umat pilihan-Nya. Status baru itu pun menandai sebuah hubungan yang begitu dekat antara Allah dan bangsa itu. Allah berinteraksi langsung dengan mereka, memimpin dan memberkati kehidupan mereka, mencukupkan segala kebutuhan mereka dengan cara yang paling tidak terpikirkan. Di dalam relasi anugerah yang sangat khusus itulah, bangsa Israel hidup.

Namun status baru sebagai umat Allah yang dimerdekakan ternyata tidak membuat mereka hidup dalam rasa syukur, sebaliknya berkali-kali mereka memberontak kepada Allah. Pemberontakan berulang kali itulah yang akhirnya membuat Allah harus membinasakan sebagian besar dari mereka dan tidak memperkenan masuk ke dalam negeri yang dijanjikan itu. Sebagian besar dari bangsa itu binasa karena kekerasan hati mereka, tetapi masih ada sebagian lagi yang diselamatkan. Dan mereka yang diselamatkan inilah yang disebut sebagai bagian yang masih tersisa. Sebagian yang masih hidup ini diselamatkan semata-mata karena anugerah Tuhan.

Kisah sebagian orang yang tersisa dan diselamatkan ini mengingatkan kepada kita bahwa orang yang terpilih dan diselamatkan adalah mereka yang hidup dalam rasa syukur atas anugerah Tuhan dan hidup dalam ketaatan firman-Nya. Mendapat anugerah keselamatan bukan berarti kita lepas dari tanggung jawab untuk hidup dalam ketaatan. Kemerdekaan yang Tuhan berikan seharusnya membuat hidup kita semakin rindu untuk menyenangkan hati-Nya.

—SYS/www.renunganharian.net


SEBAGAI BAGIAN UMAT YANG TERSISA, HARGAI ANUGERAH ALLAH
DENGAN HIDUP YANG MAKIN TAAT KEPADA-NYA






 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)