Author Topic: Renungan Harian®  (Read 128924 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

September 18, 2020, 06:27:17 AM
Reply #2590
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 27414
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://www.renunganharian.net/2020/134-september.html

http://www.renunganharian.net/2020/134-september/3420-tunduk-pada-otoritas-nya.html

 TUNDUK PADA OTORITAS-NYA
1
2
3
4
5
Rating 4.29 (7 Votes)

    Diterbitkan hari Jum'at, 18 September 2020 00:00
    Ditulis oleh Samuel Yudi Susanto   
    Dibaca: 1587 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Yosua 1:1-6

“Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkaulah yang akan memimpin bangsa ini memiliki negeri yang Kujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka....” (Yosua 1:6)


Bacaan Alkitab Setahun:
Daniel 10-12



Bertahun-tahun Yosua belajar tentang seluk-beluk kepemimpinan dari Musa. Bisa jadi secara fisik dan pengetahuan, Yosua adalah orang yang ideal dan siap menjadi pemimpin. Namun Yosua menyadari bahwa semua itu tidaklah cukup memberi jaminan bahwa dirinya akan mampu memimpin umat Allah yang demikian besar banyaknya.

Kita kerap terkesima dengan seorang pemimpin yang berkarisma, berpengetahuan baik, atau penampilannya yang menarik. Secara intelektual, Yosua memang memiliki pengetahuan yang baik tentang kepemimpinan. Namun, dalam pemandangan Allah, memiliki pengetahuan dan tampilan yang menarik, tidaklah cukup. Jika Yosua dipilih, itu disebabkan karena Allah mengenal hatinya yang taat, rendah hati, dan tunduk kepada otoritas-Nya.

Yosua berhasil dalam kepemimpinannya karena ia setia mengikuti kehendak Allah. Samuel Logan Brengle dalam sebuah tulisannya berkata: “Kepemimpinan bukan dimenangkan dengan promosi, melainkan dengan banyak doa dan air mata. Itu diraih dengan pengakuan dosa, senantiasa menyelidiki hati dan merendahkan diri di hadapan-Nya; dengan menyerahkan diri, menyingkirkan semua berhala dengan berani, merangkul salib tanpa gentar, tanpa berkesudahan, tanpa kompromi dan tanpa mengeluh; dengan terus memandang tanpa terkoyakkan pada Yesus yang tersalib.” Jika kita dipercaya untuk mengemban sebuah tugas, bahkan dipercaya menjadi seorang pemimpin, biarlah semua itu bukan semata didasari karena hebatnya kemampuan kepemimpinan kita, tetapi karena sikap kerendahan hati untuk selalu tunduk kepada kehendak Allah.

—SYS/www.renunganharian.net


SEORANG PEMIMPIN Kristen AKAN MENEMPATKAN KEHENDAK ALLAH
DI TEMPAT UTAMA LEBIH DARI SEMUA KEMAMPUANNYA








September 19, 2020, 04:59:48 AM
Reply #2591
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 27414
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16



http://www.renunganharian.net/2020/134-september.html

http://www.renunganharian.net/2020/134-september/3421-keluarga-yang-diberkati.html

 KELUARGA YANG DIBERKATI
1
2
3
4
5
Rating 4.83 (6 Votes)

    Diterbitkan hari Sabtu, 19 September 2020 00:00
    Ditulis oleh Ludia Lembang   
    Dibaca: 552 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Mazmur 128

Sesungguhnya demikianlah akan diberkati orang laki-laki yang takut akan TUHAN. (Mazmur 128:4)


Bacaan Alkitab Setahun:
Hosea 1-6



Keluarga bahagia dan diberkati Tuhan adalah dambaan semua orang. Keluarga di mana semua anggotanya saling mengasihi, menghargai dan bertanggung jawab satu sama lain. Bisa menyelesaikan masalah sesuai dengan kehendak Tuhan. Namun tak semua keluarga demikian.

Menurut pemazmur keluarga akan berbahagia jika kepala keluarga takut akan Tuhan. Kepala keluarga hidup menurut jalan Tuhan, bukan berdasarkan keinginannya sendiri atau pun menurut nasihat orang fasik. Ungkapan “berbahagialah” dalam ayat 1, diterjemahkan dari kata “esher”, yang dalam bahasa aslinya berarti “diberkatilah”. Pemazmur menyebutkan bahwa kepala keluarga yang takut Tuhan, keluarganya akan mendapat jaminan berkat. Apa saja yang dikerjakannya akan diberkati Tuhan sehingga ia dapat menikmati hasil keringatnya itu dengan penuh sukacita (ay. 2). Kiasan “seorang istri seperti pohon anggur yang subur” menggambarkan bahwa istrinya akan memberikan kesegaran, sukacita serta menjamin kesejahteraan seluruh anggota keluarga (ay. 3). Sementara, ungkapan “anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun di sekeliling mejamu” bermakna bahwa anak-anak kelak akan tumbuh kokoh, kuat serta memiliki kedekatan dengan orang tuanya. Anak-anak akan berbakti kepada orang tua. Kelak menjadi pengganti memberi perlindungan kepada orang tua (ay. 3).

Jadi ungkapan keluargaku surgaku bukanlah isapan jempol semata. Hal itu bisa terwujud dimulai dari kepala keluarga. Sebab kepala keluarga ibarat kemudi dalam perahu. Ketika kepala keluarga memberi hidupnya dikendalikan oleh Tuhan maka jaminan kebahagiaan dalam rumah tangga akan terwujud.

—LL/www.renunganharian.net


KETIKA KELUARGA DIBANGUN DI ATAS DASAR TAKUT AKAN TUHAN
MAKA AKAN TERCIPTA “KELUARGAKU SURGAKU”






September 21, 2020, 05:51:56 AM
Reply #2592
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 27414
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16



http://www.renunganharian.net/2020/134-september.html

http://www.renunganharian.net/2020/134-september/3422-upah-yang-diubah.html

 UPAH YANG DIUBAH
1
2
3
4
5
Rating 4.17 (36 Votes)

    Diterbitkan hari Minggu, 20 September 2020 00:00
    Ditulis oleh Go Hok Jin   
    Dibaca: 3463 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Kejadian 31:1-55

“Selama dua puluh tahun ini aku di rumahmu; aku telah bekerja padamu empat belas tahun lamanya untuk mendapat kedua anakmu dan enam tahun untuk mendapat ternakmu, dan engkau telah sepuluh kali mengubah upahku.” (Kejadian 31:41)


Bacaan Alkitab Setahun:
Hosea 7-14



Bekerja keras selama sebulan penuh tetapi upah yang diberikan tak sesuai perjanjian atau kesepakatan sungguh mengesalkan hati. Saya pernah mengalaminya ketika bekerja di sebuah lembaga, dengan memori yang masih jelas sampai sekarang. Meski saat itu saya tak bisa menyampaikan protes secara terbuka, tetapi perlakuan semacam itu sempat menorehkan luka hati dan mengurangi kesungguhan dalam bekerja. Maklum, nominal dari pengubahan upah terbilang cukup signifikan bagi ukuran kantong saya waktu itu. Untunglah perasaan negatif itu tidak bertahan lama karena saya segera membereskannya.

Yakub sempat mengalami hal yang lebih mengesalkan. Selama 14 tahun ia bekerja di rumah Laban, sepuluh kali mertuanya itu mengubah upah yang semula dijanjikannya kepada Yakub. Tak hanya itu, saudara Esau ini juga sempat ditipu oleh Laban terkait niatnya untuk menikahi Rahel, anak bungsu Laban. Jika semula Yakub dijanjikan akan mendapat Rahel setelah 7 tahun bekerja, tetapi faktanya ia harus menambah 7 tahun lagi demi mendapatkan wanita yang dicintainya. Namun, untunglah Yakub disertai oleh Allah, sehingga ia tidak meninggalkan Laban dengan tangan hampa karena Allah memberkatinya dengan luar biasa.

Manusia kerap kali dengan mudah mengingkari perjanjian dengan sesamanya, tetapi Allah tak pernah melakukan hal itu. Oleh karenanya, kita dapat mengandalkan Dia dan memegang teguh janji-Nya, sambil mengikuti teladan-Nya dengan menjadi pribadi yang berupaya menepati janji atau kesepakatan yang akan kita buat mulai hari ini.

—GHJ/www.renunganharian.net


HANYA ALLAH YANG TAK PERNAH KELIRU DALAM
MENENTUKAN UPAH DALAM KEHIDUPAN UMAT-NYA





September 21, 2020, 05:53:04 AM
Reply #2593
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 27414
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16





http://www.renunganharian.net/2020/134-september/3423-memancing-di-air-keruh.html

 MEMANCING DI AIR KERUH
1
2
3
4
5
Rating 4.27 (11 Votes)

    Diterbitkan hari Senin, 21 September 2020 00:00
    Ditulis oleh Pipi Agus Dhali   
    Dibaca: 1117 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Bilangan 16:1-50

Korah bin Yizhar bin Kehat bin Lewi, beserta Datan dan Abiram … mengajak orang-orang untuk memberontak melawan Musa.... (Bilangan 16:1-2)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yoel 1-3



Dalam film Titanic—karya James Cameron (1997)—tergambar jelas macam ragam sifat dan sikap manusia tatkala krisis atau bencana sedang melanda. Meskipun mereka semua berada dalam satu kapal, satu tantangan, satu bencana, dan satu nasib, reaksinya begitu beragam. Tak ketinggalan sikap egois manusia. Sinema klasik itu memang hendak menggarisbawahi kenyataan hidup yang sesungguhnya. Persis ketika wabah virus Covid-19 mengguncang kehidupan kita dengan hebatnya.

Eksodus dari Mesir adalah langkah besar dalam sejarah umat Israel. Kitab Bilangan merekam sebagian dari perjalanan itu yakni tatkala rombongan berjalan dari gurun Sinai (Bil. 1:1) sampai ke dataran Moab di tepi sungai Yordan (Bil. 36:13). Sekalipun perjalanan melewati gurun itu berat penuh rintangan, sebagai pemimpin, Musa menata dan mengatur banyak hal—demi kebaikan, keutuhan, dan keselamatan bangsa itu. Tetapi, ada saja pihak yang bukannya bahu-membahu menopang malahan hendak memancing di air keruh. Itulah Korah beserta sekutunya (ay. 1-3). Akhir yang tragis menimpa mereka sendiri ketika Tuhan murka atas pemberontakan itu (ay. 30-33).

Ketika bencana melanda berupa pandemi—wabah mendunia— itu ibarat kita berada dalam satu kapal yang sedang diterpa badai yang sama. Sayangnya, ada saja mereka yang alih-alih merasa senasib lalu ikut berperang bersama melawan penularan wabah beserta segala dampak buruknya, malahan berupaya memetik keuntungan sendiri dari situasi kritis ini. Entah keuntungan ketenaran, finansial, atau politis. Patut disayangkan. Marilah kita hindari sikap-sikap tak terpuji seperti itu. Ingatlah akan Korah!

—PAD/www.renunganharian.net


BARANG SIAPA MENCELAKAKAN SESAMA DALAM PERAHU YANG SAMA
PADA SAAT BADAI, DIA SEDANG MENCELAKAKAN DIRINYA SENDIRI







September 22, 2020, 10:35:00 AM
Reply #2594
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 27414
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


http://www.renunganharian.net/2020/134-september.html

http://www.renunganharian.net/2020/134-september/3424-akibat-sakit-hati.html


 AKIBAT SAKIT HATI
1
2
3
4
5
Rating 4.24 (25 Votes)

    Diterbitkan hari Selasa, 22 September 2020 00:00
    Ditulis oleh Linawati Santoso   
    Dibaca: 3581 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Amsal 3:1-8

Itulah yang akan menyembuhkan tubuhmu dan menyegarkan tulang-tulangmu. (Amsal 3:8)


Bacaan Alkitab Setahun:
Amos 1-5



Saya mengenal seorang wanita yang kerap mengalami gangguan kesehatan. Baru beberapa saat keluar dari rumah sakit, ia sudah mengeluhkan penyakit baru. Hampir setiap kali saya menanyakan kabar, ia selalu menjawab: “Saya sedang sakit!” Suatu hari saya terkejut mendengar wanita itu berkata: “Sampai kapan pun saya tidak akan memaafkan suami saya.” Ia pun menceritakan betapa buruk perlakuan suaminya. Rupanya selama ini ia memendam sakit hati.

Tidak semua penyakit bersumber dari sakit hati, namun sakit hati dapat menjadi sumber penyakit. Firman Tuhan hari ini menasihatkan agar kita tidak meninggalkan “kasih” dan “setia” (ay. 3a). Saat hati disakiti, alih-alih membenci, mari tetap berbuat kasih dengan bersedia mengampuni. Saat orang lain semena-mena memperlakukan kita, alih-alih membalas setara perbuatan mereka, mari setia berpegang kepada perintah Tuhan untuk tetap memperlakukan mereka dengan baik. Tidak adil? Benar! Namun hal itu lebih berfaedah dari memendam sakit hati. Terus membenci, terus mendendam, hanya akan melukai diri sendiri, sementara orang yang menyakiti kita tidak merasakan apa-apa.

Tidak mudah melepaskan pengampunan setelah hati ini disakiti. Namun ingatlah, tidak mudah bukan berarti tidak akan bisa! Yesus menolong kita mengampuni sebab Dia sendiri sudah menang atas sakit hati. Saat disalibkan, Yesus berdoa memohon pengampunan kepada Bapa atas orang-orang yang menganiaya Diri-Nya (Luk. 23:34). Mari memberi pengampunan karena itu pilihan yang menyembuhkan tubuh kita dan menyegarkan tulang-tulang kita (ay. 8)!

—LIN/www.renunganharian.net


PENGAMPUNAN MEMBUAT HATI MENJADI TENANG,
PIKIRAN MENJADI BEBAS DAN TUBUH MENJADI SEHAT






September 23, 2020, 04:52:17 AM
Reply #2595
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 27414
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16



http://www.renunganharian.net/2020/134-september.html

http://www.renunganharian.net/2020/134-september/3425-respons-yang-berbeda.html

 RESPONS YANG BERBEDA
1
2
3
4
5
Rating 5.00 (2 Votes)

    Diterbitkan hari Rabu, 23 September 2020 00:00
    Ditulis oleh Go Hok Jin   
    Dibaca: 572 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Ayub 1:1-22

Katanya: "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!" (Ayub 1:21)


Bacaan Alkitab Setahun:
Amos 6 - Obaja 1



Ada yang berbeda dengan respons keluarga Ibu Mien ketika lansia 70 tahun itu harus kembali dirawat di rumah sakit. Anak-anaknya merespons dengan lebih tenang, bahkan dapat mendampingi Ibu Mien dengan sangat baik. Respons berbeda mereka tunjukkan dua tahun sebelumnya, ketika Ibu Mien juga dirawat di rumah sakit. Perubahan sikap hati mereka bahkan mampu menularkan semangat dan sukacita bagi para dokter dan perawat setiap kali mendatangi kamar Ibu Mien dirawat. Keluarga ini pun bersyukur karena dapat memakai kesempatan dirawatnya orang tua mereka untuk dapat menjadi berkat bagi orang lain.

Ketika Allah izinkan Ayub mengalami tragedi kehidupan, ia memilih menghadapi semua itu dengan tetap memuji Allah. Dengan kesadaran penuh, yang mungkin datang dari pengenalannya akan Allah, menghasilkan perkataan: “Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!” Respons positif Ayub bahkan terlihat ketika istrinya menyuruhnya mengutuki Allah supaya ia dibinasakan oleh murka Allah, yakni dengan tegas menolak nasihat buruk tersebut (Ayb. 2:10). Sebagai ciptaan sekaligus umat Tuhan, perlu adanya kesediaan untuk menerima segala sesuatu yang Tuhan izinkan terjadi, entahkah untuk hal yang baik atau buruk.

Dua orang dapat mengalami peristiwa yang sama, tetapi respons yang muncul bisa sangat berbeda. Semuanya berpulang pada keputusan kita, yang didasari oleh pemahaman dan pengenalan kita akan Allah. Bagaimana respons kita terhadap hal-hal yang tidak kita inginkan, tetapi Tuhan izinkan terjadi?

—GHJ/www.renunganharian.net


RESPONS TERHADAP PERISTIWA KEHIDUPAN MENUNJUKKAN TINGKAT PENGENALAN KITA AKAN ALLAH






September 24, 2020, 09:30:49 AM
Reply #2596
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 27414
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16



http://www.renunganharian.net/2020/134-september.html

http://www.renunganharian.net/2020/134-september/3426-anggaplah-angin-lalu.html


 ANGGAPLAH ANGIN LALU
1
2
3
4
5
Rating 4.50 (22 Votes)

    Diterbitkan hari Kamis, 24 September 2020 00:00
    Ditulis oleh Endang B. Lestari   
    Dibaca: 3345 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: 1 Raja-raja 19:9-18

Di sana masuklah ia ke dalam sebuah gua dan bermalam di situ. Maka Firman Tuhan datang kepadanya, demikian: “Apakah kerjamu di sini, hai Elia?” (1 Raja-raja 19:9)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yunus 1-4



Mampu beli mobil setelah kerja dua tahun, dicurigai melakukan korupsi. Usaha yang dirintis menuai kesuksesan, dituduh memakai kekuatan kuasa gelap. Mengambil studi lanjut disangka ingin menyaingi atasan. Melakukan pelayanan dicibir sebagai pencitraan. Apa yang akan Anda lakukan jika serangan-serangan semacam ini terjadi pada diri Anda? Bertahan dan terus maju, atau undur dari tengah komunitas karena merasa tidak tahan?

Dalam nama Allah, Elia berhasil mengalahkan empat ratus lima puluh nabi Baal di gunung Karmel dan mereka disembelih di sungai Kison. Tetapi setelah mendengar bahwa Izebel akan membalas dendam, Elia sangat ketakutan hingga meminta Tuhan mengambil nyawanya. Ia juga pergi menyelamatkan nyawanya hingga ke gunung Horeb. Elia masuk ke dalam gua dan bermalam di sana.

Mengapa Elia harus melarikan diri? Bukankah Tuhan yang memampukannya menghabisi nabi Baal sanggup melindunginya dari Izebel? Tampaknya Elia mengalami krisis rohani. Hal yang wajar karena ia harus menghadapi begitu banyak musuh seorang diri. Ia tentu tertekan luar biasa hingga ingin menyerah saja. Tetapi Tuhan berkehendak lain. Ia mau Elia terus melakukan pelayanannya.

Ketika tantangan, cibiran, tuduhan, dan serangan datang menghalangi setiap usaha dan karya kita dalam kebenaran, Tuhan pun rindu kita tetap bertahan. Anggap saja rintangan itu sebagai angin lalu yang mesti kita abaikan. Belajarlah untuk selalu memandang Tuhan sekalipun banyak tantangan. Jangan termakan omongan orang, tetapi bertahanlah, karena Tuhan senantiasa menolong dan menguatkan.

—EBL/www.renunganharian.net


WALAU SERIBU ORANG BERUSAHA MENJATUHKAN,
KEKUATAN TUHAN SENANTIASA MENOPANG





September 25, 2020, 08:16:43 AM
Reply #2597
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 27414
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16



http://www.renunganharian.net/2020/134-september.html

http://www.renunganharian.net/2020/134-september/3427-menjadi-berkat-kala-mendengar.html

 SEMAKIN BANYAK UTANG
1
2
3
4
5
Rating 4.51 (37 Votes)

    Diterbitkan hari Kamis, 03 September 2020 00:00
    Ditulis oleh Endang B. Lestari   
    Dibaca: 6257 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: 2 Korintus 9:6-15

Lagi pula, Allah sanggup melimpahkan segala anugerah kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam berbagai perbuatan baik. (2 Korintus 9:8)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yehezkiel 10-13



“Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak akan menuai banyak juga.” Kutipan ayat ini menjadi motivasi tersendiri bagi orang percaya dalam melakukan kebaikan. Ayat ini mendorong umat untuk melakukan kebaikan lebih banyak lagi dengan harapan berkat Tuhan pun semakin melimpah dalam hidup.

Sekalipun dengan memberi memungkinkan tercurahnya berkat Tuhan, motivasi yang benar dalam memberi bukanlah untuk mencari imbalan apalagi menjadikannya umpan supaya kita beroleh keuntungan besar. Orang percaya harus memberi dengan sukacita dan rela hati, bukan karena terpaksa. Pun tidak perlu merasa khawatir bahwa dengan memberi akan menjadikan berkekurangan.

Satu hal lagi yang perlu untuk diwaspadai adalah kecenderungan untuk mencari kemuliaan diri. Sering kali orang merasa bangga ketika mampu memberi. Untuk mengungkapkan kebanggaannya mereka menceritakannya kepada setiap orang yang dijumpai, membagikan foto dokumentasi atau menuliskan cerita kebaikan yang telah mereka lakukan di media sosial. Mereka puas ketika banyak orang menjadi tahu, memuji atau mengomentarinya.

Orang percaya tidak boleh lupa bahwa semakin banyak hal yang dapat kita lakukan, semakin banyak kita berutang kepada Tuhan. Sebab, bukankah segala sesuatu yang kita bisa dan punya sesungguhnya hanyalah anugerah Tuhan? Jangan lagi menjadi sombong dan lupa diri! Sudah semestinya semua yang ada pada kita, kita persembahkan untuk kemuliaan-Nya sebagai ungkapan syukur dan terima kasih atas karunia-Nya.

—EBL/www.renunganharian.net


KELIMPAHAN ANUGERAH ALLAH ADALAH MILIK MEREKA
YANG MEMPERSEMBAHKAN HIDUPNYA SEBAGAI PELAYAN KASIH






September 26, 2020, 09:26:23 AM
Reply #2598
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 27414
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


http://www.renunganharian.net/2020/134-september.html

http://www.renunganharian.net/2020/134-september/3428-melayani-yang-hina.html

 MELAYANI YANG HINA
1
2
3
4
5
Rating 4.42 (19 Votes)

    Diterbitkan hari Sabtu, 26 September 2020 00:00
    Ditulis oleh Go Hok Jin   
    Dibaca: 2380 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Matius 25:31-46

“Raja itu akan menjawab mereka: Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Matius 25:40)


Bacaan Alkitab Setahun:
Nahum 1 - Habakuk 3



Disa, seorang teman lama, membagikan kisahnya saat menemani seorang bapak yang selama ini dilayani di pondok yang khusus merawat orang-orang dengan gangguan kejiwaan. Terlihat tidak ada raut muka terpaksa atau ketidaksukaan, tetapi sukacita yang jelas terpancar. Panggilan Tuhan yang diterimanya beberapa tahun lalu, kini masih dikerjakannya bersama keluarga intinya. Belas kasihan Tuhan bekerja dalam dirinya, juga kasihnya kepada Tuhanlah yang memampukan Disa untuk bertahan dalam panggilan Allah dalam hidupnya.

Sungguh tidak mudah menjalani panggilan pelayanan yang kurang populer seperti Disa. Jika menyangkut bidang pelayanan gereja, biasanya jenis pelayanan yang tidak banyak tampil dan jarang disorot, cenderung sepi peminat. Terlebih jika menyangkut bidang pelayanan jiwa-jiwa yang dipandang hina atau tersingkir dari masyarakat. Belum tentu 3 dari 10 orang yang ditawari akan menganggukkan kepala dan segera terlibat dalam pelayanan. Namun, firman hari ini menegaskan pada akhir zaman nanti, pelayanan atau kebaikan terhadap orang-orang yang dianggap hina—dimana Tuhan sendiri rela “menyamakan” diri-Nya dengan mereka yang hina itu—akan sangat diperhitungkan oleh-Nya.

Jadi, seberapa antusiaskah kita jika mendapat kesempatan untuk berbuat baik atau melayani jiwa-jiwa yang sering dianggap hina, tidak dianggap, atau tersingkir? Dengan pengajaran firman ini, maukah kita merenungkan, lalu merespons dengan tepat ketika panggilan-Nya untuk melayani mereka yang hina bergema dalam hati kita?

—GHJ/www.renunganharian.net


MEREKA YANG DIANGGAP HINA OLEH MANUSIA,
BELUM TENTU DIANGGAP HINA OLEH TUHAN







September 27, 2020, 09:25:25 AM
Reply #2599
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 27414
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


http://www.renunganharian.net/2020/134-september.html

http://www.renunganharian.net/2020/134-september/3429-menjadi-duta-allah.html


 MENJADI DUTA ALLAH
1
2
3
4
5
Rating 4.36 (11 Votes)

    Diterbitkan hari Minggu, 27 September 2020 00:00
    Ditulis oleh Ludia Lembang   
    Dibaca: 1747 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Galatia 1:11-24

Tetapi sewaktu Allah, telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh anugerah-Nya, berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi, sesaat pun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia. (Galatia 1:15-16)


Bacaan Alkitab Setahun:
Zefanya 1 - Hagai 2



Untuk menjadi duta besar yang baik, setidaknya ada 4 syarat, yaitu: paham betul negara tempat ia bertugas, memiliki inisiatif dalam berbagai bidang yang menguntungkan negaranya, memiliki solusi dalam penyelesaian konflik bilateral, dan memiliki konsep dalam menjembatani hubungan negaranya dengan negara di mana ia ditugaskan.

Paulus ketika menerima panggilan sebagai “duta” Allah bukanlah orang yang layak, setidaknya menurut pandangannya sendiri. Ia bukan pembawa damai melainkan seorang yang jahat dan penganiaya. Meski memiliki intelektualitas di atas teman-teman sebayanya dan berpengalaman di kalangan Yahudi namun acap kali ia datang kepada orang-orang yang dilayaninya tanpa pengetahuan apa-apa. Namun demikian sesaat setelah menerima tugas panggilan itu, Paulus yang bereputasi buruk itu langsung berangkat menjelajahi daerah-daerah di luar Yahudi. Ia dikenal sebagai rasul yang paling banyak menderita, namun bisa jadi dialah rasul yang paling berhasil dalam mengemban tugas perutusannya. Ternyata kriteria duta kerajaan Allah agak berbeda jauh dengan kriteria duta kerajaan dunia. Cara Allah memilih “duta”-Nya bukanlah sekadar berdasarkan kemampuan dan rekam jejak setiap orang. Ia memilih dan memanggil orang yang akan dipakai-Nya berdasarkan kasih karunia-Nya.

Jadi jika Tuhan memilih, Ia tahu betul dengan orang yang dipilih- Nya itu, termasuk kelebihan dan kekurangannya. Allah berdaulat memakai siapa pun yang Ia panggil, dan memakai-Nya dengan cara-Nya yang ajaib. Termasuk jika Ia memilih kita.

—LL/www.renunganharian.net


TUHAN MENGENAL DAN MEMAHAMI KELEBIHAN
DAN KEKURANGAN SETIAP ORANG YANG DIPANGGIL-NYA







 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)