Author Topic: Renungan Harian®  (Read 132188 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

November 28, 2020, 06:11:46 AM
Reply #2660
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28464
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


http://www.renunganharian.net/2020/136-november.html

http://www.renunganharian.net/2020/136-november/3493-pencitraan.html

 PENCITRAAN
1
2
3
4
5
Rating 4.33 (9 Votes)

    Diterbitkan hari Sabtu, 28 November 2020 00:00
    Ditulis oleh Heman Elia   
    Dibaca: 1088 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Daniel 6

Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya. (Daniel 6:11)


Bacaan Alkitab Setahun:
2 Korintus 1-4



Pencitraan. Label ini sebisa mungkin saya hindari. Saya tidak suka dianggap munafik. Juga enggan dinilai sok suci atau sok baik. Saya lebih senang dinilai biasa-biasa saja. Disorot orang, apalagi dikaitkan dengan label negatif, sangatlah tidak enak. Tapi, bagaimanakah mungkin kita terhindar dari sorotan dan penilaian orang? Bukankah Yesus mengatakan bahwa kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi (Mat. 5:14)?

Menjadi sorotan dialami oleh Daniel. Ia diamati tajam dan dinilai dari berbagai sisi, baik oleh istana maupun oleh orang-orang yang tidak menyukainya. Raja Darius bermaksud mengangkatnya menjadi salah seorang di antara tiga pemimpin tertinggi kerajaan karena hikmat dan kemampuan yang dimiliki Daniel. Namun hal ini membuat para pejabat tinggi iri kepadanya. Segenap sisi kehidupan Daniel pun dikuliti untuk ditemukan kesalahannya. Hebatnya Daniel. Lawannya hanya memperoleh satu-satunya alasan yang mungkin dapat dipersalahkan, yaitu ibadahnya kepada Tuhan. Ketika peraturan raja ditetapkan, Daniel tetap melakukan ibadahnya secara terbuka. Perbuatan ini bukan sebagai pencitraan, melainkan sebagai kebiasaan yang terus berlangsung.

Sebagaimana Allah peduli akan ibadah dan doa permohonan Daniel, Tuhan juga memperhatikan ketulusan hati kita tatkala menyembah-Nya. Tidaklah perlu merisaukan pandangan negatif orang lain. Allah niscaya menjadi pembela kita apabila kita berelasi erat dengan-Nya dalam kasih dan kekudusan.

—HEM/www.renunganharian.net


TIDAK PERLU RISAU TERHADAP PENILAIAN ORANG,
SEBAB HANYA TUHAN YANG MENILAI SECARA ADIL DAN MEMBELA KITA







November 30, 2020, 06:31:01 AM
Reply #2661
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28464
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


http://www.renunganharian.net/2020/136-november.html

http://www.renunganharian.net/2020/136-november/3495-menghitung-pengampunan.html

 MENGHITUNG PENGAMPUNAN?
1
2
3
4
5
Rating 4.89 (9 Votes)

    Diterbitkan hari Senin, 30 November 2020 00:00
    Ditulis oleh Go Hok Jin   
    Dibaca: 1654 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Matius 18:21-35

Yesus berkata kepadanya, “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” (Matius 18:22)


Bacaan Alkitab Setahun:
2 Korintus 9-13



Ajaran tentang pengampunan rasanya takkan ada habisnya untuk dibahas. Sepanjang kehidupan manusia berlangsung, dengan potensi konflik dan masalah yang sangat mungkin terjadi dalam berbagai bidang kehidupan, kebutuhan untuk pengampunan akan tetap ada. Termasuk dalam relasi di antara sesama orang percaya maupun dalam kehidupan berkeluarga, yang notabene seharusnya diwarnai kehidupan yang penuh kasih dan saling mengampuni.

Pertanyaan yang diajukan Petrus tentang pengampunan mendapat tanggapan yang mengejutkan dari Yesus. Jika Petrus merasa bahwa tujuh kali pengampunan sudah cukup, Yesus “melipatgandakan” hingga 70 kali lipat! Tentu yang Yesus maksud bukanlah perhitungan matematis, yakni tujuh puluh kali tujuh. Yesus hendak mengajarkan bahwa dalam mengampuni, sebaiknya kita tidak melakukan hitung-hitungan. Artinya, kapan pun pengampunan dibutuhkan, diharapkan kita dapat memberikannya. Semuanya demi kebaikan kita dan orang yang kita ampuni, supaya relasi dapat kembali terjalin dalam suasana damai sejahtera. Bagi orang yang menolak atau sukar mengampuni, ia melupakan fakta bahwa dirinya juga telah diampuni oleh Tuhan, yang tak pernah hitung-hitungan dalam memberikan pengampunan terhadap setiap dosa dan kesalahan yang diperbuatnya.

Sampai hari ini, kita tentu sudah menerima banyak pengampunan, yang menenteramkan hati, melegakan, dan memberi kita harapan baru untuk berubah ke arah yang lebih baik. Maukah kita mengalirkan berkat yang sama kepada orang yang memerlukan pengampunan kita?

—GHJ/www.renunganharian.net


ORANG YANG MENYADARI DIRINYA DIAMPUNI
AKAN LEBIH MUDAH MEMBERIKAN PENGAMPUNAN








December 01, 2020, 06:45:48 AM
Reply #2662
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28464
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


http://www.renunganharian.net/2020/136-november.html

http://www.renunganharian.net/2020/137-desember.html

 PROFIL YANG TEPAT
1
2
3
4
5
Rating 3.77 (13 Votes)

    Diterbitkan hari Selasa, 01 Desember 2020 00:00
    Ditulis oleh Pipi Agus Dhali   
    Dibaca: 1910 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Matius 1:1-25

“Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka.” (Matius 1:21)


Bacaan Alkitab Setahun:
Galatia 1-3



Dunia ini semakin karib dengan cara kerja profiling—yaitu menentukan identitas seseorang berdasarkan segala ciri yang patut melekat atau berhubungan dengannya. Banyak lembaga menggunakannya untuk mendapatkan orang yang tepat atau dia yang dicari. Misalnya, universitas mencari mahasiswa baru dan perusahaan mencari karyawan baru. Atau kepolisian mencari tersangka pelaku tindak kriminal.

Injil Matius ditulis dengan pendekatan profiling. Profil siapa yang dicermati? Profil dari sosok Pribadi yang sejak semula telah dikabarkan dan dinantikan kedatangannya dalam Kitab Suci. Seluruh persyaratan ciri-ciri-Nya telah tergaris di situ. Dan, ternyata pria dusun Nazaret yang bernama Yesus adalah Pribadi yang tepat memenuhi profil itu, mulai dari lahir sampai dengan kematian-Nya. Bahkan telisik pada silsilah nenek moyang-Nya pun cocok sekali. Dialah Mesias yang memang datang untuk menggenapi tuntutan Kitab Suci demi menjadi penebus dosa (ay. 21, lih. Mat 5:17).

Tuntutan Allah melalui Kitab Suci ialah tuntutan kesempurnaan dalam memenuhi kehendak-Nya. Profil orang benar. Namun, siapa yang sanggup? Kita semua melenceng jauh darinya. Kita ini pendosa belaka di mata-Nya. Syukurlah, ada Yesus mewakili kita. Pada Diri-Nya profil itu telah tergenapi secara sempurna. Akibatnya, Allah tak menuntut kesempurnaan lagi dari kita. Kendati segala kelengahan, kerapuhan, kebodohan, kecerobohan, kelalaian, kebebalan, kesalahan, dan dosa-dosa kita, Allah mengasihi kita. Tak satu perkara pun menghalangi-Nya untuk mencurahkan hujan kasih sayang-Nya kepada kita. Bukankah itu yang dinamai Injil (kabar baik)?

—PAD/www.renunganharian.net


SETIAP KALI MELIHAT KITA, ALLAH MELIHAT YESUS
BERDIRI DI ANTARA KITA DENGAN DIRI-NYA








December 02, 2020, 05:19:23 AM
Reply #2663
December 03, 2020, 06:05:16 AM
Reply #2664
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28464
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16



http://www.renunganharian.net/2020/137-desember.html

http://www.renunganharian.net/2020/137-desember/3498-diberkati-untuk-memberkati.html

 DIBERKATI UNTUK MEMBERKATI
1
2
3
4
5
Rating 4.67 (6 Votes)

    Diterbitkan hari Kamis, 03 Desember 2020 00:00
    Ditulis oleh Samuel Yudi Susanto   
    Dibaca: 1349 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Kisah Pr. Rasul 9:36-43

Kenangan kepada orang benar mendatangkan berkat, tetapi nama orang fasik menjadi busuk. (Amsal 10:7)


Bacaan Alkitab Setahun:
Efesus 1-3



Hancur badan dikandung tanah, budi baik terkenang jua. Secara sederhana, peribahasa itu diartikan bahwa budi pekerti, amal kebaikan, akan selalu dikenang meski seseorang sudah meninggal dunia. Jadi apa pun perbuatan kita, baik atau jahat, itulah yang akan selalu diingat orang.

Tabita atau Dorkas adalah salah seorang murid Tuhan Yesus yang namanya dikenang karena kemurahanhatinya. Alkitab mengabadikan apa yang sudah Dorkas lakukan semasa hidupnya. Ia seorang penjahit yang memanfaatkan keahliannya itu untuk membuat pakaian bagi para janda. Tapi tiba-tiba perempuan yang dikenal sebagai orang yang banyak berbuat baik dan memberi sedekah itu sakit lalu meninggal (ay. 36-37). Kesedihan para janda yang berkumpul sambil menangis membuktikan bahwa apa yang sudah dilakukan oleh Dorkas semasa hidupnya sungguh-sungguh telah menjadi berkat bagi mereka. Dorkas dikenang tidak hanya rasa pedulinya, tetapi juga tindakannya yang nyata.

Kehendak Tuhan dalam hidup kita adalah diberkati untuk menjadi berkat. Tuhan memercayakan sebuah keahlian atau karunia kepada kita supaya melaluinya kita dapat berbagi berkat dengan sesama. Seperti Dorkas yang membantu para janda dengan keahliannya. Bermurah hati adalah masalah hati. Ketika hati kita digerakkan oleh kasih Tuhan, maka kita tidak akan mampu menahan kebaikan bagi orang lain. Tujuannya tentu bukan supaya orang mengingat kebaikan kita, tetapi supaya mereka memuliakan Tuhan.

—SYS/www.renunganharian.net


SEORANG YANG DIGERAKKAN KASIH TUHAN TIDAK AKAN MAMPU
MENAHAN KEBAIKAN UNTUK ORANG LAIN






December 04, 2020, 07:34:39 AM
Reply #2665
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28464
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


http://www.renunganharian.net/2020/137-desember.html

http://www.renunganharian.net/2020/137-desember/3499-dua-paus.html

 DUA PAUS
1
2
3
4
5
Rating 4.24 (21 Votes)

    Diterbitkan hari Jum'at, 04 Desember 2020 00:00
    Ditulis oleh Pipi Agus Dhali   
    Dibaca: 2261 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Yohanes 21:15-19

Petrus pun merasa sedih karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya.... (Yohanes 21:17)


Bacaan Alkitab Setahun:
Efesus 4-6



The Two Popes, film yang patut diacungi jempol. Mengisahkan momentum menjelang alih tugas dan tanggung jawab besar dari Paus Benediktus XVI dari Jerman kepada Kardinal Jorge Bergoglio dari Argentina—yang kemudian disapa sebagai Paus Francis. Perjumpaan dan dialog di antara mereka menyingkap betapa keduanya punya luka masa silam yang membutuhkan pemulihan. Diakhiri dengan adegan indah mereka saling melayankan sakramen pengakuan dosa sebagai tanda ampunan dan pemulihan yang Tuhan anugerahkan—sebelum penobatan Paus Vatikan yang amat bersejarah di abad 21.

Sebenarnya hati Petrus bukan hanya sedih, melainkan perih, sakit—seperti bunyi beberapa terjemahan Alkitab berbahasa Inggris. Kenapa? Sebab ada luka yang disentuh. Luka kegagalan akibat tiga kali menyangkal Tuhan. Namun Yesus bersengaja membimbingnya menuju luka itu. Memang sakit, tetapi harus. Demi sebuah pemulihan. Luka masa silam harus ditemui dengan berani untuk disapa, diberi maaf, diajak berdamai. Supaya si terluka dapat melangkah maju demi menyambut anugerah dan tanggung jawab yang menanti di masa depan. “Gembalakanlah domba-domba-Ku” (ay. 15-17).

Biasanya kita bersikap menghindari atau memendam luka masa lalu. Enggan membicarakannya. Seolah-olah ingin menguburnya. Sikap ini malah mengabadikan luka itu dan membuat kita terjerat dalam kenangan pahit masa silam. Tersendat untuk melangkah maju. Jadi, mintalah Tuhan membimbing kita untuk berani menemui luka itu dan merahmatinya dalam nama Tuhan. Agar kita sembuh, dipulihkan. Siap untuk memandang masa depan dengan hati dan mata yang baru.

—PAD/www.renunganharian.net


BERDAMAI DENGAN LUKA MASA SILAM
ADALAH KUNCI PEMBUKA PINTU GERBANG MASA DEPAN








December 05, 2020, 08:52:04 AM
Reply #2666
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28464
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16



http://www.renunganharian.net/2020/137-desember.html

http://www.renunganharian.net/2020/137-desember/3500-ambil-dan-bayar-sendiri.html

 AMBIL DAN BAYAR SENDIRI
1
2
3
4
5
Rating 4.73 (11 Votes)

    Diterbitkan hari Sabtu, 05 Desember 2020 00:00
    Ditulis oleh Go Hok Jin   
    Dibaca: 2372 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Amsal 20:11

Anak-anak pun sudah dapat dikenal dari pada perbuatannya, apakah bersih dan jujur kelakuannya. (Amsal 20:11)


Bacaan Alkitab Setahun:
Filipi 1-4



Saya terkejut saat hendak membeli minuman di kantin sekolah setingkat SMA, yang terlihat tutup karena sudah sore hari. “Ambil saja Mas, nanti uangnya taruh di kaleng itu,” ujarnya sambil menunjuk kaleng yang dimaksud. Saya pun bergegas menuruti perkataannya, sambil mengambil beberapa botol air mineral, lalu meletakkan uangnya sesuai nominal yang tertera pada daftar harga. Dalam hati saya kagum dengan cara melatih kejujuran yang diterapkan oleh si pemilik kantin. Ia tidak takut merugi dengan menerapkan metode “ambil dan bayar sendiri” seperti itu.

Alkitab menyatakan bahwa perilaku jujur dapat dikenal sejak usia masih kanak-kanak. Artinya, semakin seseorang beranjak dewasa, berarti seharusnya kejujuran dapat semakin terlihat dengan jelas. Namun, fakta menunjukkan hal yang sebaliknya karena sebagian orang dewasa justru piawai dalam berdusta dan enggan berlaku jujur karena alasan tertentu. “Jujur itu berisiko tinggi,” begitu alasan yang kerap muncul. Alasan yang seharusnya tidak menjadi pilihan hidup bagi orang percaya.

Masihkah kejujuran menjadi karakter yang menarik perhatian kita, untuk dijalani dan dihidupi, bukannya dijauhi atau enggan disentuh? Memang memilih untuk jujur akan ada risiko yang harus kita hadapi. Terkadang kita pun harus mengalami ujian ketika hanya kita sendiri yang memilih untuk jujur, sementara yang lain memilih berseberangan dengan kita. Namun, meski tidak mudah dijalani, yakinlah bahwa upah dari kejujuran kita akan sepadan, karena Tuhan menyukai orang yang jujur.

—GHJ/www.renunganharian.net


KEJUJURAN TAMPAK SEMAKIN SEPI PEMINAT,
TETAPI MASIH SANGAT DIRINDUKAN PADA MASA KINI







December 06, 2020, 01:50:02 PM
Reply #2667
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28464
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://www.renunganharian.net/2020/137-desember.html

http://www.renunganharian.net/2020/137-desember/3502-tertuju-pada-kita.html

 TERTUJU PADA KITA
1
2
3
4
5
Rating 4.33 (18 Votes)

    Diterbitkan hari Minggu, 06 Desember 2020 00:00
    Ditulis oleh Linawati Santoso   
    Dibaca: 2077 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Rut 2:1-23

“... bahkan haruslah kamu dengan sengaja menarik sedikit-sedikit dari onggokan jelai itu untuk dia dan meninggalkannya, supaya dipungutnya; janganlah berlaku kasar terhadap dia.” (Rut 2:16)


Bacaan Alkitab Setahun:
Kolose 1-4



Setelah suami dan kedua anak laki-lakinya mati, Naomi, yang semula tinggal di Moab kembali ke tanah Yehuda. Rut, menantunya, bersikeras untuk ikut (Rut 1:16-17). Sampai kemudian tibalah keduanya di Betlehem. Rut berpikir tidak ada jalan mereka berdua bisa bertahan hidup selain ia menyingsingkan lengan lalu bekerja. Kata Rut pada Naomi: “Biarkanlah aku pergi ke ladang memungut bulir-bulir jelai di belakang orang yang murah hati kepadaku” (ay. 2).

Pada petang hari Rut mengirik jelai yang dipungutnya, ada kira-kira seefa banyaknya (ay. 17). Luar biasa! Jumlah itu ia dapatkan sebab mata Boas, sang pemilik ladang, tertuju padanya. Kepada para pekerjanya Boas berpesan: “… haruslah kamu dengan sengaja menarik sedikit-sedikit dari onggokan jelai itu untuk dia dan meninggalkannya, supaya dipungutnya” (ay. 16). Onggokan jelai yang sengaja ditarik menunjukkan kemurahan. Betapa jauh lebih indah ketika mata Tuhan, Sang Pemilik Kehidupan, tertuju pada kita! Tentu kemurahan-Nya akan dicurahkan kepada kita. Tak lagi kita “memungut” sisa-sisa, tetapi menikmati limpahnya berkat-berkat Tuhan.

Rut dikenal sebagai perempuan yang menunjukkan kasih pada mertuanya (ay. 11). Pula Rut dikatakan sebagai seorang yang giat bekerja (ay. 7) Dua hal inilah yang membuat Boas, sesudah memandang Rut, tidak berpaling darinya. Tuhan menggerakkan hati Boas supaya ia mengupayakan kebaikan baginya (ay. 11-12). Rindukah mata Tuhan tertuju pada kita? Mari senantiasa menunjukkan kasih pada sesama! Juga giat mengerjakan segala hal yang Tuhan percayakan di tangan kita!

—LIN/www.renunganharian.net


SAAT MATA TUHAN TERTUJU PADA KITA,
MAKA YANG ADA DI SEKELILING KITA ADALAH KEMURAHAN









December 07, 2020, 06:56:24 AM
Reply #2668
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28464
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16




http://www.renunganharian.net/2020/137-desember.html

http://www.renunganharian.net/2020/137-desember/3503-kesetiaan-elisabet.html

 KESETIAAN ELISABET
1
2
3
4
5
Rating 4.63 (8 Votes)

    Diterbitkan hari Senin, 07 Desember 2020 00:00
    Ditulis oleh Samuel Yudi Susanto   
    Dibaca: 1924 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Lukas 1:5-25

Keduanya hidup benar di hadapan Allah dan menuruti segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat. (Lukas 1:6)


Bacaan Alkitab Setahun:
1 Tesalonika 1-5



Mencermati hidup Elisabet, kita belajar tentang arti pengharapan, iman, dan kasih kepada Tuhan yang sungguh tidak terpengaruhi oleh situasi menyesakkan. Ia dan Zakharia adalah pasangan pelayan Tuhan yang telah menikah bertahun-tahun lamanya. Mereka sangat setia, hanya saja mereka tidak dikaruniai anak. Elisabet pun disebut seorang wanita mandul.

Divonis mandul di masa itu adalah hal yang sangat menyakitkan. Tetapi Elisabet, meski ia banyak mendengar suara-suara sumbang, ia tidak menjadi lemah iman. Sebaliknya, ia tetap melakukan tugas pelayanannya sebagai istri dari seorang imam. Tuhan pun berkenan kepada keluarga ini dan menetapkan Elisabet menjadi ibu dari seorang nabi besar. Sungguh, jauh dari apa yang dibayangkan keluarga ini, tiba-tiba Tuhan memercayakan anugerah yang demikian besar.

Tuhan bekerja menurut waktu-Nya. Jika Tuhan berkenan kepada jalan seseorang, maka Ia mampu menyatakan rencana-Nya yang besar itu jauh dari apa yang bisa dipikirkan. Seperti pengalaman Zakharia dan Elisabet, mungkin harapan yang pernah kita dambakan bertahun-tahun lalu rasanya telah terkubur dalam-dalam. Kita berpikir mustahil untuk terwujud. Tak ada lagi perasaan kecewa, kita menjalani kehidupan dengan ucapan syukur dan terus menunjukkan kesetiaan kita untuk melayani Tuhan sekalipun apa yang kita harapkan belum atau tidak dikabulkan-Nya. Demikianlah kita belajar bagaimana hidup dalam kesetiaan kepada Tuhan dalam segala situasi. Meski seolah tidak ada pertolongan dan tidak ada hal yang baik, namun kita akan tetap setia melayani Tuhan.

—SYS/www.renunganharian.net


KESETIAAN KITA KEPADA TUHAN DIUJI: TATKALA KITA TIDAK MENERIMA
APA YANG KITA HARAPKAN DARI TUHAN, APAKAH KITA TETAP SETIA KEPADA-NYA?





December 08, 2020, 05:48:30 AM
Reply #2669
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28464
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


http://www.renunganharian.net/2020/137-desember.html

http://www.renunganharian.net/2020/137-desember/3504-jejak-kita-di-jalan-itu.html

 JEJAK KITA DI JALAN ITU
1
2
3
4
5
Rating 4.17 (6 Votes)

    Diterbitkan hari Selasa, 08 Desember 2020 00:00
    Ditulis oleh Eko Elliarso   
    Dibaca: 1099 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Amsal 16:31

Rambut putih adalah mahkota yang indah, yang didapat pada jalan kebenaran. (Amsal 16:31)


Bacaan Alkitab Setahun:
2 Tesalonika 1-3



Karena Amsal 16:31 ini, ada saja orang yang menyimpulkan bahwa uban di kepala seorang lansia adalah tanda bahwa lansia itu telah hidup di jalan kebenaran, seolah-olah amsal itu menyatakan bahwa makin tua dan beruban seseorang, makin penuh dia dengan kebenaran: makin penuh hikmat, makin penuh kasih, makin sabar, makin toleran, dan makin baik lainnya.

Begitukah kenyataannya? Ternyata tidak. “Few people know how to be old,” kata François VI, Duc de La Rochefoucauld. “Hanya sedikit orang yang mengerti bagaimana menjadi tua. Lepas dari pendapat Francois, kita tahu betapa memang tidak semua lansia telah menghidupi jalan kebenaran. Kita pun tahu, tak sedikit orang yang makin tua justru makin tertutup, makin otoriter, makin intoleran, makin menafikan kebenaran, dan tak segan melakukan hal-hal yang tidak semestinya. Tuwa tuwas, kata orang Jawa. Menjadi tua yang percuma.

Jadi, apa sebenarnya maksud nas ini?

Amsal 16:31 bukan sebuah pernyataan deskriptif (bahwa para lansia pasti menghidupi jalan kebenaran), melainkan sebuah nasihat tentang kualitas hidup yang seharusnya kita hidupi, yakni hidup di jalan kebenaran, agar—jika kita berusia lanjut—jejak kita di jalan kebenaran itu akan sebanyak uban di kepala kita. Jadi, ketika ayat ini berkata, “Rambut putih adalah mahkota yang indah, yang didapat pada jalan kebenaran,” firman itu sedang menasihati kita semua, “Makin tua seseorang, hendaklah dari dirinya makin terpancar tanda-tanda bahwa ia senantiasa menghidupi jalan kebenaran.”

—EE/www.renunganharian.net


MAKIN TUA SESEORANG, HENDAKLAH DARI DIRINYA MAKIN TERPANCAR
TANDA-TANDA BAHWA IA SENANTIASA MENGHIDUPI JALAN KEBENARAN







 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)