Author Topic: Renungan Harian®  (Read 132187 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

December 09, 2020, 06:26:42 AM
Reply #2670
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28464
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16



http://www.renunganharian.net/2020/137-desember.html

http://www.renunganharian.net/2020/137-desember/3505-apa-bedanya.html

 APA BEDANYA?
1
2
3
4
5
Rating 4.33 (6 Votes)

    Diterbitkan hari Rabu, 09 Desember 2020 00:00
    Ditulis oleh Pipi Agus Dhali   
    Dibaca: 592 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Matius 8:28-34

Mereka pun berteriak, “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah? Apakah Engkau kemari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?” (Matius 8:29)


Bacaan Alkitab Setahun:
1 Timotius 1-6



Cara kerja otak manusia memang unik. Mudah menyerap informasi sebagai pengetahuan. Termasuk pengetahuan yang membutuhkan tindak lanjut perbuatan. Tetapi, jikalau tidak segera ada tindakan, otak kita justru membangun benteng bermacam alasan mengapa kita tidak menindaklanjuti. Contoh, Toni tahu harus belajar tetapi tidak segera melakukannya atau terus menundanya. Akhirnya, ia benar-benar tidak belajar sambil otaknya menemukan seribu alasan untuk membenarkannya. Mekanisme ini patut kita waspadai.

Kejadian pengusiran setan di daerah Gadara didahului oleh penyeberangan melalui Danau Galilea—Yesus meneduhkan angin ribut (Mat. 8:23-27). Adegan itu ditutup dengan sebuah pertanyaan tentang siapakah Yesus itu, Pria yang sanggup membuat angin dan danau tunduk pada-Nya (ay. 27). Murid-murid terheran-heran tak mengerti. Giliran adegan berikut, ternyata muncul jawabannya, Dia itu “Anak Allah”—meluncur dari mulut setan-setan (ay. 29). Jawaban yang benar! Artinya, setan tahu siapa Yesus, tetapi mereka tetap melawan Dia. Begitulah setan, tahu Yesus namun tidak mengikut dan menyembah Dia.

Pengetahuan tanpa segera diikuti respons tindakan memang berbahaya. Berhenti cuma sampai tahu. Nantinya kita justru berpotensi mengerjakan sesuatu yang menentang pengetahuan itu. Termasuk jika kita hanya tahu tentang Tuhan. Tahu banyak serta pintar bicara tentang Tuhan tetapi tidak berlanjut dengan mengenal, mengasihi, menyembah, dan melayani Dia, itu sungguh berbahaya. Tiba waktunya kita malah merasa sah-sah saja melakukan tindakan melawan Tuhan. Kalau begitu, apa bedanya dengan setan?

—PAD/www.renunganharian.net


TAHU TENTANG YESUS TETAPI MEMBENCI DIA IALAH TINDAKAN SATANIS
—D. A. Carson








December 10, 2020, 05:18:01 AM
Reply #2671
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28464
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


http://www.renunganharian.net/2020/137-desember.html

http://www.renunganharian.net/2020/137-desember/3506-pertolongan-yang-terlambat.html

 PERTOLONGAN YANG TERLAMBAT?
1
2
3
4
5
Rating 5.00 (3 Votes)

    Diterbitkan hari Kamis, 10 Desember 2020 00:00
    Ditulis oleh Samuel Yudi Susanto   
    Dibaca: 757 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Yohanes 11:1-44

Lalu kata Marta kepada Yesus, “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.” (Yohanes 11:21)


Bacaan Alkitab Setahun:
2 Timotius 1-4



Yesus mendengar kabar bahwa Lazarus, orang yang dikasihinya itu, jatuh sakit. Tetapi Yesus memilih untuk tidak bersegera mengunjungi Lazarus. Hati siapa yang tidak panik jika Yesus merespons sebuah permintaan dengan cara demikian? Terkesan tidak peduli? Bisa jadi demikian. Yang lebih “mengecewakan” adalah akhirnya Yesus datang di saat Lazarus sudah terkubur empat hari lamanya. Kata-kata Marta itu menjelaskan apa yang ada dalam pikirannya bahwa semuanya sudah terlambat, Lazarus sudah mati, jadi apa yang bisa Yesus lakukan?

Dalam situasi terdesak, kita selalu menuntut Tuhan untuk menyelesaikan masalah kita secepatnya. Tapi kenyataannya? Tuhan justru “sengaja” tinggal 2 hari, 2 bulan, 2 tahun, atau lebih lama lagi dan tidak bersegera menolong kita. Ketika hal itu terjadi, masihkah kita tetap berharap dan percaya kepada-Nya? Saat kita melihat kenyataan bahwa segalanya sudah terlambat, apakah kita masih memercayai-Nya untuk menolong kita?

Belajar dari kisah Maria dan Marta hari ini, kita diajak untuk terus mengingat pesan Yesus: “Sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat percaya” (ay. 15). Jujur saja untuk tetap percaya dan menantikan Tuhan di saat situasi yang bagi kita sudah terlambat itu tidaklah mudah. Namun di situasi terdesak dan seolah terlambat inilah Tuhan sedang menguji kepercayaan kita. Ketika Tuhan sengaja menunda permohonan kita atau bahkan ketika semuanya sudah terlambat, akankah kita terus berharap kepada-Nya dan percaya? Atau sebaliknya, kita mulai kecewa kepada-Nya?

—SYS/www.renunganharian.net


TERKADANG TUHAN SENGAJA TIDAK BERSEGERA
MENOLONG KITA UNTUK MENGUJI KEPERCAYAAN KITA








December 11, 2020, 06:23:45 AM
Reply #2672
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28464
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


http://www.renunganharian.net/2020/137-desember.html

http://www.renunganharian.net/2020/137-desember/3507-selagi-masih-hidup.html

 SELAGI MASIH HIDUP
1
2
3
4
5
Rating 4.00 (11 Votes)

    Diterbitkan hari Jum'at, 11 Desember 2020 00:00
    Ditulis oleh Go Hok Jin   
    Dibaca: 1364 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Ibrani 13:1-7

Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan teladanilah iman mereka. (Ibrani 13:7)


Bacaan Alkitab Setahun:
Titus 1 - Filemon 1



Seorang teman menulis status di akun Facebook-nya: “Penghormatan terakhir untuk orang yang membuatku menyukai Alkitab. Selamat jalan dan sampai jumpa di surga.” Ia menuliskan hal itu mengingat jasa seorang hamba Tuhan yang terbaring di dalam peti yang ada di hadapannya. Rupanya, jasa dari sang hamba Tuhan dalam pertumbuhan rohaninya sukar untuk dihilangkan dari memorinya.

Sungguh baik melepas kepergian seseorang yang berjasa dalam hidup kita, bahkan kita dapat meneladani hal-hal yang baik dari orang tersebut. Hal ini selaras dengan kebenaran Firman Tuhan yang kita renungkan hari ini. Namun, sebagus apa pun hal yang dapat dituliskan atau disampaikan, orang yang dimaksud tentu sudah tak dapat merespons—karena sudah tidak bernyawa lagi. Alangkah lebih baiknya, selagi ada kesempatan saat seseorang masih hidup, kita dapat menyampaikan rasa terima kasih sekiranya kita merasa diberkati, sangat tertolong, atau terinspirasi lewat kehidupan seseorang yang kita kenal. Minimal kita dapat melihat senyuman atau menerima tepukan di bahu, yang dapat menenteramkan hati dan mendatangkan sukacita.

Jadi, adakah orang-orang yang telah berjasa bagi pertumbuhan rohani kita atau dalam bidang kehidupan yang lain? Carilah kesempatan untuk berterima kasih kepada mereka, bisa dengan berkunjung, mengirimkan makanan, atau mengucapkan pesan-pesan yang positif kepada mereka sebagai tanda kita mengingat jasa mereka atas kita. Lakukanlah selagi ada kesempatan, selama mereka masih dapat merespons tindakan kita!

—GHJ/www.renunganharian.net


BERTERIMA KASIH ADALAH TANDA KITA
MENGHARGAI KEBAIKAN DARI ORANG LAIN







December 12, 2020, 05:43:13 AM
Reply #2673
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28464
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


http://www.renunganharian.net/2020/137-desember.html

http://www.renunganharian.net/2020/137-desember/3508-gagal-berbuat-benar.html

 GAGAL BERBUAT BENAR
1
2
3
4
5
Rating 4.00 (4 Votes)

    Diterbitkan hari Sabtu, 12 Desember 2020 00:00
    Ditulis oleh Samuel Yudi Susanto   
    Dibaca: 759 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Yakobus 4:13-17

Jadi, jika seseorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa. (Yakobus 4:17)


Bacaan Alkitab Setahun:
Ibrani 1-4



Secara terbuka, Eliot Asinof seorang penulis fiksi dan nonfiksi, pernah menulis berbagai peristiwa yang menjadi skandal "Black Sox" yang terkenal pada tahun 1919. Delapan anggota klub bisbol Chicago White Sox dituduh telah menerima suap dari para penjudi sebagai kompensasi agar mengalah dalam sebuah pertandingan. Meski tidak terbukti bersalah di pengadilan, kedelapan pemain itu dilarang bermain bisbol seumur hidup.

Seorang pemainnya, Buck Weaver, mengaku tetap bermain sepenuh hati agar timnya menang meski ia tahu adanya persekongkolan jahat itu. Weaver memang bermain maksimal di lapangan waktu itu, tetapi komisioner bisbol Kenesaw Mountain Landis membuat keputusan bahwa siapa saja yang mengetahui skandal itu, namun tidak mencegahnya, tetap akan dilarang bermain. Weaver tidak dihukum karena berbuat salah, tetapi karena gagal berbuat benar.

Selalu ada risiko terburuk atas tindak kebenaran yang kita lakukan. Ketika kita bekerja di tengah situasi di mana kecurangan dan berbagai tindak kejahatan telah terjadi, apa yang akan kita lakukan? Akankah kita memilih diam, ataukah kita tetap menunjukkan prinsip hidup benar sekalipun berbagai risiko buruk menanti kita? Pesan Firman Tuhan hari ini adalah: Lakukanlah hal yang benar jika kita tahu harus berbuat kebenaran! Ketika kita mengetahui sebuah kebenaran, mari menyatakan kebenaran itu. Kiranya kehidupan kita tetap menyalakan api kebenaran yang sekalipun kecil namun dapat menerangi kegelapan di sekitar kita.

—SYS/www.renunganharian.net


SEKECIL APA PUN NYALA SEBUAH API,
IA AKAN MEMBUAT KEGELAPAN MENJADI SIRNA







December 13, 2020, 02:37:43 PM
Reply #2674
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28464
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16



http://www.renunganharian.net/2020/137-desember.html

http://www.renunganharian.net/2020/137-desember/3509-ingatan-pendek.html

 INGATAN PENDEK
1
2
3
4
5
Rating 4.37 (19 Votes)

    Diterbitkan hari Minggu, 13 Desember 2020 00:00
    Ditulis oleh Linawati Santoso   
    Dibaca: 2119 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Mazmur 103

Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! (Mazmur 103:2)


Bacaan Alkitab Setahun:
Ibrani 5-7



Saat dihadapkan pada Laut Teberau sementara di belakang tentara Mesir mengejar, bangsa Israel berpikiran buruk tentang apa yang diperbuat Tuhan. Mereka berpikir hendak dikubur di padang gurun (Kel. 14:10-12). Padahal Tuhan baru memunculkan sepuluh tulah untuk mengeluarkan mereka dari perbudakan Mesir! Sampai di Mara, mereka bersungut-sungut karena tidak mendapat air (Kel. 15:23-24). Padahal Tuhan baru “membelah” Laut Teberau di depan mata mereka! Di padang gurun Sin, mereka mengeluh tak ada makanan (Kel. 16:2-3). Padahal Tuhan baru mengubah air di Mara yang pahit menjadi manis! Di Rafidim, mereka marah karena tidak ada air (Kel. 17:1-3). Padahal Tuhan baru menurunkan manna! Ingatan bangsa Israel ternyata pendek!

Kita pun sering dihinggapi ingatan pendek. Kita tidak fokus dan sering mengabaikan pertolongan Tuhan. Daud sadar dirinya pun cenderung mendapat serangan ingatan pendek! Karena itulah Daud mengatakan pada jiwanya untuk tidak melupakan segala kebaikan Tuhan (ay. 2). Banyak hal Tuhan lakukan dalam hidup kita. Dia mengampuni dosa, menyembuhkan penyakit, mencurahkan kasih setia dan rahmat serta mengelilingi kita dengan kebaikan (ay. 3-5). Tuhan adil, Dia pembela, penyayang dan pengasih, pula panjang sabar dan berlimpah kasih setia-Nya (ay. 6-8).

Saat persoalan datang menerpa, alih-alih menjadi kecewa, ingatlah kembali kebaikan Tuhan dalam kehidupan kita. Jika sebelumnya Tuhan menolong, sekarang Dia pasti akan menolong! Tenangkan jiwa kita dan nantikan pertolongan dari Tuhan!

—LIN/www.renunganharian.net


MENGINGAT KEMBALI KEBAIKAN TUHAN AKAN
MEMBUAT DIRI KITA KUAT SAAT MENGHADAPI PERSOALAN






December 14, 2020, 05:59:53 AM
Reply #2675
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28464
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


http://www.renunganharian.net/2020/137-desember.html

http://www.renunganharian.net/2020/137-desember/3510-menganggap-diri-pandai.html

 MENGANGGAP DIRI PANDAI
1
2
3
4
5
Rating 4.75 (4 Votes)

    Diterbitkan hari Senin, 14 Desember 2020 00:00
    Ditulis oleh Go Hok Jin   
    Dibaca: 1177 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Roma 12:16-21

Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan hal-hal yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada hal-hal yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai! (Roma 12:16)


Bacaan Alkitab Setahun:
Ibrani 8-10



Semasa masih sekolah, berbekal nilai matematika yang cenderung bagus, di atas 7, saya pernah merasa cukup pandai. Alhasil, saya lengah dan tidak belajar serius menghadapi ujian nasional saat kelas 3 SMA. Hasilnya, nilai ujian nasional saya jeblok hingga di bawah 5! Ketika itulah, saya baru menyadari kesalahan fatal yang saya perbuat, yang dimulai dari sikap hati yang sepele ... merasa diri pandai. Pelajaran yang sungguh berharga yang sedapat mungkin saya berusaha agar tidak mengulanginya.

Dalam godaan merasa diri pandai, sebenarnya terdapat semacam jebakan. Jika seseorang terkena jebakannya, minimal ada dua hal yang akan dialami: Pertama, perkembangan dalam dirinya akan mulai stagnan, lalu berjalan mundur. Ya, orang yang merasa diri pandai biasanya tak lagi mau belajar, enggan menerima koreksi, bahkan bisa melawan ketika ada yang mengkritik dan memberinya masukan. Kedua, mulai tertinggal dari orang lain. Ketika hidup kita mengalami stagnasi, orang lain akan lebih mudah mengungguli dan menjadi lebih baik. Kita pun akan sukar mengejar ketertinggalan, sebelum berhenti merasa diri pandai, mulai belajar lagi, dan berusaha mengejar ketertinggalan itu.

Sejatinya manusia perlu terus berkembang dalam banyak hal, supaya grafik hidupnya tidak bergerak mundur dan ia mulai tertinggal oleh laju perubahan dan perkembangan zaman. Merasa diri pandai adalah “cara tercepat” untuk mengawali ketertinggalan dan keterpurukan dalam hidup kita, yang sebaiknya dijauhkan dari dalam diri kita, sampai kapan pun!

—GHJ/www.renunganharian.net


MERASA DIRI PANDAI ADALAH AWAL DARI
KEGAGALAN DAN KEMUNDURAN DALAM HIDUP








December 15, 2020, 06:03:34 AM
Reply #2676
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28464
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16



http://www.renunganharian.net/2020/137-desember.html

http://www.renunganharian.net/2020/137-desember/3511-belanja-online.html

 BELANJA ONLINE
1
2
3
4
5
Rating 4.00 (8 Votes)

    Diterbitkan hari Selasa, 15 Desember 2020 00:00
    Ditulis oleh Pipi Agus Dhali   
    Dibaca: 1251 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: 1 Korintus 13:1-7

Ia menahan segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. (1 Korintus 13:7)


Bacaan Alkitab Setahun:
Ibrani 11-13



Dulu jika hendak berbelanja, kita harus pergi ke toko atau pasar. Sekarang tidak, sebab ada pilihan untuk berbelanja online. Tak perlu pergi kemana-mana, barang belanjaan dikirim ke rumah. Sementara melakukan transaksi pun, di hadapan kita tampil banyak pilihan barang dan penjual. Kita tinggal pilih, manakah yang memberi tawaran terbaik. Kemajuan teknologi memang kian memanjakan manusia dengan pilihan.

Bagi Paulus, bergaul dengan jemaat Korintus bukan perkara mudah. Segala potensi baik dan beragam karunia ada pada jemaat ini. Sekaligus pelbagai macam pertikaian dan perbuatan dosa memalukan berlangsung di situ. Sahabat kental ada, anggota jemaat bandel ada, mereka yang gampang terhasut pun ada. Walaupun hubungan di antara mereka diwarnai pasang surutnya ketegangan, ia adalah “bapa rohani” dari jemaat ini. Ia mengasihi jemaat ini keseluruhannya. Sebab memang itulah kasih! Tidak pilih-pilih. Ia menerima, menghadapi, menegur, dan menggembalakan mereka semua, dalam segala hal. Itulah kandungan makna “segala sesuatu” yang lekat sebagai sifat kasih (ay. 7).

Berkeluarga bukan seperti tingkah berbelanja yang leluasa punya banyak pilihan. Keluarga dibangun dan dibentuk oleh kasih. Kasih yang bagaimana? Kasih yang menampung semua. Sebab kehidupan ini hadir di hadapan kita bagai satu paket. Baik, buruk, berat, ringan, suka, duka, berhasil, gagal, melegakan, menjengkelkan—semuanya jadi satu. Tak mungkin kita memilih hanya bagian, pengalaman, atau sifat-sifat yang kita sukai. Kasih itu merangkul, memikul, menghadapi, dan memperjuangkan semuanya. Ya, semuanya!

—PAD/www.renunganharian.net


KASIH ADALAH WUJUD DARI KELAPANGAN DAN KETETAPAN HATI
UNTUK SALING MENERIMA SEUTUHNYA







December 16, 2020, 05:50:06 AM
Reply #2677
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28464
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://www.renunganharian.net/2020/137-desember.html

http://www.renunganharian.net/2020/137-desember/3512-tidak-menjadi-padam.html

 TIDAK MENJADI PADAM
1
2
3
4
5
Rating 4.00 (9 Votes)

    Diterbitkan hari Rabu, 16 Desember 2020 00:00
    Ditulis oleh Samuel Yudi Susanto   
    Dibaca: 1049 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Ezra 7:1-28a

Dan raja memberi dia segala yang diingininya, oleh karena tangan TUHAN, Allahnya, melindungi dia. (Ezra 7:6b)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yakobus 1-5



Bagaimana mungkin Ezra, dari seorang buangan menjadi orang kepercayaan raja? Bagaimana mungkin ia dipercaya dan diutus oleh raja Artahsasta untuk membangun Bait Allah di Yerusalem? Mengapa Ezra begitu istimewa di mata Raja Artahsasta? Sebab Ezra memiliki kehidupan yang berbeda, seorang yang mengasihi Tuhan dengan segenap hati. Bahkan orang-orang di seluruh Babel mengenalnya sebagai orang yang ahli dalam hal Taurat Tuhan. Itulah sebabnya, "... raja memberi dia segala yang diingininya, oleh karena tangan TUHAN, Allahnya, melindungi dia" (ay. 6).

Belajar dari keteladanan Ezra, dalam kondisi sulit dan penuh tekanan, justru bertekun meneliti dan merenungkan Taurat Tuhan itu siang malam. Sementara orang-orang buangan lain mungkin sedang merenungi nasib dan mengasihani diri sendiri. Tak berhenti di situ, ia pun tekun mengajarkannya kepada orang-orang buangan di Babel. Kehidupan Ezra benar-benar menjadi kesaksian bagi bangsanya. Karena itu ia dipercaya melaksanakan mandat sang raja. Ya, Ezra tidak hanya mahir tentang Taurat Tuhan secara teori, tapi juga setia melakukan Taurat Tuhan itu dalam kehidupannya sehari-hari.

Ada saat dimana kita dibawa dalam sebuah situasi yang sulit untuk menguji kualitas iman kita. Mungkin kita berada di tengah-tengah begitu banyak orang yang kehilangan harapan. Apakah kita tetap berkomitmen untuk menunjukkan kehidupan yang berbeda? Apa pun situasinya, kiranya roh kita tidak pernah padam untuk tetap berpegang kepada firman-Nya.

—SYS/www.renunganharian.net


PERKENANAN TUHAN AKAN NYATA KEPADA ORANG-ORANG
YANG SETIA BERPEGANG PADA FIRMAN-NYA








December 17, 2020, 05:55:37 AM
Reply #2678
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28464
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


http://www.renunganharian.net/2020/137-desember.html

http://www.renunganharian.net/2020/137-desember/3513-seluruh-hidup-kita.html

 SELURUH HIDUP KITA
1
2
3
4
5
Rating 4.20 (5 Votes)

    Diterbitkan hari Kamis, 17 Desember 2020 00:00
    Ditulis oleh Eko Elliarso   
    Dibaca: 1176 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Matius 5:33-37

“Jika ya, hendaklah kamu katakan: Ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: Tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat.” (Matius 5:37)


Bacaan Alkitab Setahun:
1 Petrus 1-2



Kejujuran sering dipahami sebatas soal pernyataan, yakni: memberi pernyataan tentang sesuatu apa adanya, sesuai dengan kenyataan. Jika orang mengaku bujangan, dan dia memang bujangan, dia telah bersikap jujur.

Tuhan memang bersabda, “Jika ya, hendaklah kamu katakan: Ya; jika tidak, hendaklah kamu katakan: Tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat.” Jadi, memberi pernyataan sesuai dengan fakta memang sebuah sikap jujur. Tetapi, kita tahu, lingkup makna sabda itu tidak hanya sebatas pernyataan, tetapi meliputi segenap hidup kita. Artinya, lingkup kejujuran tidak sebatas kejujuran dalam kata. Ia meliputi hidup kita seutuhnya, dengan atau tanpa kata.

Jika kita jujur, kita akan mengakui talenta dan waktu yang ada pada kita, hingga—misalnya—kita rela melayani di bidang yang kita mampu. Jika kita jujur, kita takkan berlagak mumpuni demi suatu posisi, tetapi mengakui keterbatasan diri dan menyilakan orang lain yang mampu. Jika kita jujur, kita mengakui bahwa yang baik adalah baik, yang jahat adalah jahat, siapa pun yang mengatakan atau melakukannya. Jika kita jujur, kita akan jujur menakar hati kita, dan mengoreksinya jika itu harus. Jika kita jujur, kita akan berusaha memberlakukan apa pun yang kita tahu seharusnya berlaku. Dan, banyak lagi.

Demikianlah, kejujuran itu lebih dari sekadar soal pernyataan. Bersikap jujur adalah mengakui apa pun yang memang harus kita akui—dengan atau tanpa kata—dan menindaklanjutinya dengan tindakan yang sesuai dengan pengakuan itu.

—EE/www.renunganharian.net


LINGKUP KEJUJURAN TIDAK SEKADAR KEJUJURAN DALAM KATA.
IA MELIPUTI HIDUP KITA SEUTUHNYA, DENGAN MAUPUN TANPA KATA







December 18, 2020, 01:57:40 PM
Reply #2679
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28464
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16



http://www.renunganharian.net/2020/137-desember.html

https://youtu.be/vig-TOqlXqE?list=PLMmufoKce4xEUwBnftgPS8HxKI0V-2BKc

http://www.renunganharian.net/2020/137-desember/3514-ganti-kacamata.html

 GANTI KACAMATA
1
2
3
4
5
Rating 4.00 (8 Votes)

    Diterbitkan hari Jum'at, 18 Desember 2020 00:00
    Ditulis oleh Pipi Agus Dhali   
    Dibaca: 1079 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Lukas 16:19-31

“Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur.” (Lukas 16:22)


Bacaan Alkitab Setahun:
1 Petrus 3-5



Menyaksikan fakta kasus-kasus pemakaman sesama atau saudara-saudara kita yang meninggal akibat terjangkit virus Covid-19, bagaimana kita tidak ikut larut dalam kesedihan? Kepergian mereka hanya bisa diratapi dari jauh. Jasad mereka diantar ke peristirahatan terakhir tanpa kehadiran keluarga, kerabat, sahabat dan pelayat. Tak pernah kita bayangkan sebelumnya ada kejadian yang seperti ini, bukan?

Perumpamaan Yesus tentang orang kaya dan Lazarus yang miskin dikemas dalam gaya kontras yang tajam. Setiap aspek pada diri keduanya bertentangan sekali. Termasuk ketika tiba saatnya kematian menjemput. Di manakah perbedaan tajamnya? Pemakaman, bukan? Orang kaya itu dikubur (ay. 23)—tentu dengan segala upacara penghormatan serta protokol pemakamannya. Lazarus? Perumpamaan Yesus membisu tentangnya. Sebaliknya, perumpamaan ini menonjolkan kenyataan bahwa para malaikat membawanya ke pangkuan Abraham (ay. 22). Cerita selanjutnya kita tahu. Keadaan keduanya di kekekalan amat kontras. Lazarus bahagia, orang kaya itu menderita sengsara (ay. 24). Selamanya. Artinya, dalam perspektif keabadian, penguburan bukan sebuah keutamaan.

Tentu bukan maksudnya pemakaman boleh diremehkan. Seluruh rangkaian upacara pemakaman tetap dibutuhkan, berarti, berharga, dan layak diselenggarakan manusia dari kalangan dan kebudayaan mana pun. Tetapi, apabila kondisi khusus tak diharapkan terjadi sehingga tak memungkinkannya terlaksana, kita harus memandangnya dari sisi kekekalan. Yang lebih utama adalah para kekasih yang telah pergi itu berada di rumah Bapa dalam kebahagiaan abadi.

—PAD/www.renunganharian.net


JIKA KEPEDIHAN DUNIA FANA INI MENUTUP MATA KITA UNTUK MELIHAT KEBENARAN,
PAKAILAH KACAMATA KEHIDUPAN YANG KEKAL






 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)