Author Topic: Renungan Harian®  (Read 132186 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

December 19, 2020, 06:34:26 AM
Reply #2680
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28464
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


http://www.renunganharian.net/2020/137-desember.html

http://www.renunganharian.net/2020/137-desember/3515-urusan-perut.html

 URUSAN PERUT
1
2
3
4
5
Rating 3.92 (13 Votes)

    Diterbitkan hari Sabtu, 19 Desember 2020 00:00
    Ditulis oleh Endang B. Lestari   
    Dibaca: 1268 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Bilangan 11:4-9

Orang-orang bajingan yang ada di antara mereka kemasukan nafsu rakus; dan orang Israel pun menangislah pula serta berkata: “Siapakah yang akan memberi kita makan daging?” (Bilangan 11:4)


Bacaan Alkitab Setahun:
2 Petrus 1-3



Menjadi bangsa merdeka merupakan sukacita tersendiri. Jika tidak, mana mungkin para pendahulu kita rela bertaruh nyawa demi memerdekakan bangsa ini! Seenak-enaknya hidup dalam penjajahan, pasti jauh lebih enak menjadi bangsa merdeka.

Tuhan menuntun umat Israel keluar dari Mesir. Anugerah besar Tuhan berikan bagi Israel: kebebasan dari perbudakan. Namun di tengah perjalanan menuju tanah perjanjian, umat Israel banyak menggerutu. Sekalipun Tuhan mencukupkan segala yang mereka perlu, ada saja yang mereka keluhkan. Benar bahwa perjalanan panjang yang harus mereka tempuh tidaklah mudah. Tetapi mereka bersungut-sungut karena hal yang terlalu remeh dibandingkan dengan anugerah kemerdekaan yang luar biasa itu: urusan perut.

Alih-alih mensyukuri kebebasannya, umat Israel justru merindukan kehidupan mereka sebagai budak di Mesir. Sedikit aneh memang, bangsa yang telah merdeka rindu hidup dalam penjajahan! Ini terjadi karena mereka rindu makan daging. Mereka berbicara tentang murahnya makanan enak di Mesir karena mereka mendapatkannya dengan gratis. Mereka lupa bahwa untuk memperoleh semuanya itu mereka harus membayar mahal dengan hidup diperbudak. Nafsu rakus tidak hanya menjadikan mereka kehilangan akal sehat, melainkan juga rasa takut akan Tuhan.

Belajar dari Israel, kita patut waspada supaya tidak mudah tergoda. Ketika pikiran kita dipenuhi nafsu duniawi, besar kemungkinan kita merasa sengsara oleh ketidakpuasan terhadap pemberian Tuhan yang semestinya membuat kita dipenuhi sukacita besar.

—EBL/www.renunganharian.net


HAMBA DOSA MENGGERUTU KETIKA HARUS TAAT KEPADA TUHAN,
ORANG PERCAYA BERSUKACITA MENYADARI BERKAT-NYA







December 20, 2020, 05:26:58 AM
Reply #2681
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28464
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16



http://www.renunganharian.net/2020/137-desember.html

http://www.renunganharian.net/2020/137-desember/3516-dibonceng-sepeda-motor.html

 DIBONCENG SEPEDA MOTOR
1
2
3
4
5
Rating 5.00 (4 Votes)

    Diterbitkan hari Minggu, 20 Desember 2020 00:00
    Ditulis oleh Pipi Agus Dhali   
    Dibaca: 624 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Keluaran 13:17-22

TUHAN berjalan di depan mereka, pada siang hari dalam tiang awan untuk menuntun mereka di jalan, dan pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka, sehingga mereka dapat berjalan siang dan malam. (Keluaran 13:21)


Bacaan Alkitab Setahun:
1 Yohanes 1-3



Gambar atau foto itu membuat saya tersenyum. Bernada jenaka sekaligus menyapa. Khususnya di hari-hari tatkala semua orang mengajukan pertanyaan— entah terucap atau hanya terbisik dalam desah lirih—“Sampai kapan badai ini berlalu?” “Sampai kapan bencana wabah ini berakhir?”

Kehidupan ini banyak bersesuaian dengan perjalanan Israel di gurun sesudah meninggalkan Mesir. Menyimpan segudang rahasia yang mengundang seribu tanya. Bahkan tak jarang lintasannya tak seperti yang kita sangka. Berdasarkan hikmat-Nya, Tuhan membuat kita layaknya menempuh jalan berputar (ay. 18). Serasa tak kunjung tiba menemui ujungnya. Tetapi, berita baiknya ialah Tuhan berjalan bersama, bahkan di depan kita. Bahkan, pimpinan-Nya itu berlangsung harian. Melalui “tiang awan” dan “tiang api” sebagai tanda penyertaan-Nya siang dan malam (ay. 21). Sehari ke sehari. Supaya umat-Nya belajar untuk percaya dan bersandar pada pimpinan-Nya.

Gambar tadi melukiskan sisi belakang dari seorang anak kecil sedang dibonceng ayahnya dengan sepeda motor. Masalahnya, ayahnya berbadan amat besar. Punggung lebarnya membuat pandangan anak itu ke depan tertutup sama sekali. Terpampang tulisan di situ, “Walau kau tak melihat yang di depan, percaya saja pada si pengemudi.” Pesannya sungguh benar! Kendati kita belum tahu segala yang terjadi di depan—kapan berakhirnya jalan sukar dan berliku ini—syukurlah itu bukan perkara utama. Sebab, yang utama ialah siapa Pengemudi hidup kita! Percayalah pada-Nya!

—PAD/www.renunganharian.net


DALAM TUHAN, PIMPINAN-NYA SETIAP HARI ITU CUKUP BAGI KITA







December 21, 2020, 05:54:27 AM
Reply #2682
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28464
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


http://www.renunganharian.net/2020/137-desember.html

http://www.renunganharian.net/2020/137-desember/3517-bersorak-seperti-habakuk.html

 BERSORAK SEPERTI HABAKUK
1
2
3
4
5
Rating 4.86 (7 Votes)

    Diterbitkan hari Senin, 21 Desember 2020 00:00
    Ditulis oleh Go Hok Jin   
    Dibaca: 1028 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Habakuk 3:17-19

Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan ... namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. (Habakuk 3:17-18)


Bacaan Alkitab Setahun:
1 Yohanes 4-5



Mengawali 2020, daerah Jabodetabek dilanda banjir yang cukup parah. Puluhan ribu warga terpaksa mengungsi karena rumahnya kebanjiran. Namun menariknya, ada berbagai laporan mengenai warga yang tetap mampu tersenyum dan menghibur diri meski mereka menjadi korban banjir. Ada yang berswafoto, memancing, berenang, hingga membuat kopi di tengah banjir. Benar-benar respons yang menarik!

Membaca pesan Firman Tuhan lewat nabi Habakuk ini, spontan mungkin ada pertanyaan, “Kok bisa ya tetap bersorak-sorai dalam kondisi begitu?” Normalnya, orang yang mengalami beberapa hal buruk seperti diuraikan oleh Habakuk akan cenderung bersungut-sungut, bahkan mungkin memprotes Tuhan karena dianggap tidak memberkati. Namun, Habakuk juga membagikan kunci dari respons yang “tak biasa” dalam masa-masa sukar, yakni karena kekuatan dari Tuhan (ay. 19). Hal yang ditegaskan pula dalam kitab Filipi, “Segala hal dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Flp. 4:13). Ya, tanpa Tuhan bekerja dalam diri Habakuk, mustahil untuk merespons keadaan buruk dengan positif, apalagi sampai bersorak-sorai.

Saya sendiri meyakini bahwa dalam kondisi apa pun, jika kita dapat melihat sisi positifnya, kita masih tetap dapat bersukacita dan memuliakan Tuhan. Hidup kita pun dapat menjadi inspirasi dan kesaksian bagi orang lain, karena mereka melihat respons kita berbeda dari respons yang sering muncul. Syaratnya, kita tetap bersandar pada kekuatan dan kasih karunia-Nya, yang selalu tersedia ketika kita membutuhkan.

—GHJ/www.renunganharian.net


BAGI ORANG PERCAYA, SELALU ADA ALASAN UNTUK MEMULIAKAN TUHAN







December 22, 2020, 05:35:07 AM
Reply #2683
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28464
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16



http://www.renunganharian.net/2020/137-desember.html

http://www.renunganharian.net/2020/137-desember/3518-tak-ada-perbedaan.html

 TAK ADA PERBEDAAN
1
2
3
4
5
Rating 4.11 (9 Votes)

    Diterbitkan hari Selasa, 22 Desember 2020 00:00
    Ditulis oleh Piter Randan Bua   
    Dibaca: 861 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Efesus 5:22-33

Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: Kasihilah istrimu seperti dirimu sendiri dan istri hendaklah menghormati suaminya. (Efesus 5:33)


Bacaan Alkitab Setahun:
2 Yohanes, 3 Yohanes, Yudas



Setiap pagi pria Yahudi berdoa demikian, “Saya bersyukur karena Allah tidak menciptakan saya sebagai seorang kafir, seorang budak dan seorang perempuan.” Dalam budaya Yahudi seorang perempuan bukanlah suatu pribadi, melainkan sebuah benda. Perempuan tidak mempunyai hak legal satu pun. Ia milik mutlak suaminya yang boleh memperlakukannya sesuka hati.

Jemaat Efesus sebagian besar berlatar belakang Yahudi. Karena itulah pemahaman-pemahaman Yahudi masih mewarnai relasi di antara jemaat sehari-hari. Termasuk di dalamnya hubungan antara suami istri. Meski mereka telah menjadi Kristen namun pemahaman tentang perempuan lebih inferior dari laki-laki masih memenuhi benak mereka. Bahkan ada yang masih memperlakukan istri mereka menurut pandangan Yahudi.

Paulus yang mendapat informasi tentang hal itu memberikan penggembalaan. Paulus menasihati bahwa adalah benar seorang istri harus tunduk kepada suami seperti jemaat tunduk kepada Allah. Tunduk karena kasih dan bukan karena intimidasi. Tunduk karena ungkapan syukur dan bukan karena perbudakan.

Hal yang sama pentingnya bahwa suami harus mengasihi istrinya seperti Tuhan mengasihi jemaat-Nya. Suami harus melindungi istrinya seperti Tuhan melindungi jemaat-Nya. Suami harus berkorban untuk istrinya seperti Tuhan berkorban untuk jemaat-Nya. Suami harus memenuhi kebutuhan istrinya seperti Tuhan menjamin segala kebutuhan jemaat-Nya. Demikianlah hubungan Tuhan dengan jemaat-Nya. Karena itu sebagai suami istri berlakulah demikian!

—PRB/www.renunganharian.net


DARI SEMULA ALLAH MENCIPTAKAN LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN SERUPA DENGAN GAMBAR-NYA.
SALING MERENDAHKAN BERARTI TAK MENGHARGAI-NYA.






December 23, 2020, 06:34:03 AM
Reply #2684
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28464
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16



https://youtu.be/YBKuq0TxJOI?list=PLMmufoKce4xEUwBnftgPS8HxKI0V-2BKc

http://www.renunganharian.net/2020/137-desember.html

http://www.renunganharian.net/2020/137-desember/3519-diam.html

 DIAM
1
2
3
4
5
Rating 3.94 (35 Votes)

    Diterbitkan hari Rabu, 23 Desember 2020 00:00
    Ditulis oleh Endang B. Lestari   
    Dibaca: 1471 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Mazmur 4:1-9

Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa; berkata-katalah dalam hatimu di tempat tidurmu, tetapi tetaplah diam. (Mazmur 4:5)


Bacaan Alkitab Setahun:
Wahyu 1-2



Kemarahan dapat menghinggapi siapa saja. Pemicunya pun dapat dari mana saja. Mulai dari masalah diri sendiri, sampai pada fitnah yang keluar dari mulut orang-orang yang dengki. Di tengah kemarahan tak jarang muncul keinginan untuk segera memuaskan hati dengan melampiaskannya. Membela diri, mengumpat, mengutuk, membeberkan keburukan orang lain, hingga mengutip ayat dengan maksud menghakimi sesama. Terlebih di masa kini kita dimudahkan dengan sarana yang sangat praktis yakni melalui media sosial.

Namun demikian sang pemazmur dengan bijak menasihatkan supaya ketika marah, kita tetap diam. Berdiam diri untuk mengambil waktu merenung, menyelidiki hati supaya kita dapat mengoreksi diri sendiri serta bertobat jika ternyata telah melakukan tindakan yang melenceng dari kehendak Tuhan. Mengambil waktu untuk diam juga memberi kesempatan supaya hati kita menjadi lebih tenang. Menghindarkan kita dari emosi yang meledak-ledak serta pengambilan keputusan yang salah, yang dapat semakin memperburuk keadaan. Diam menjadi sarana yang baik untuk menghindari dosa. Menahan diri untuk tidak mengumbar emosi negatif tentu akan membuahkan hasil yang lebih baik daripada sekadar mendapatkan kepuasan sesaat.

Mungkin dengan diam kita tampak lemah, salah dan kalah. Dengan diam kemarahan kita seakan tak tersalurkan. Namun memilih diam akan menjadi lebih bijak daripada membela diri dengan menjatuhkan orang lain. Bukankah Yesus pun memberi teladan demikian? Jika kita merasa harus berbicara, bicara saja pada Tuhan.

—EBL/www.renunganharian.net


DIAM BUKAN BERARTI TIDAK MELAKUKAN APA-APA.
DALAM DIAM KITA BISA SEMAKIN JELAS MENDENGAR SUARA BAPA.








December 24, 2020, 06:11:17 AM
Reply #2685
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28464
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


http://www.renunganharian.net/2020/137-desember.html

http://www.renunganharian.net/2020/137-desember/3520-karakter-seorang-murid.html

 KARAKTER SEORANG MURID
1
2
3
4
5
Rating 4.17 (6 Votes)

    Diterbitkan hari Kamis, 24 Desember 2020 00:00
    Ditulis oleh Samuel Yudi Susanto   
    Dibaca: 974 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Lukas 9:22-27

Kata-Nya kepada mereka semua, “Setiap orang yang mau mengikut Aku harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” (Lukas 9:23)


Bacaan Alkitab Setahun:
Wahyu 3-5



Di masa sekarang, di sekolah, seorang murid hanya akan bertemu dengan gurunya pada jam-jam tertentu. Mereka hanya mendapat pengajaran dalam jam tertentu karena waktu yang terbatas. Wajarlah seorang murid tidak akan mengenal dengan sempurna kehidupan gurunya. Di zaman Yesus, para murid hidup dan tinggal bersama-Nya. Mereka tidak hanya menerima pengajaran Yesus, tetapi mereka juga bisa melihat dan meniru cara hidup gurunya.

Banyak orang memberikan diri untuk melayani Tuhan, namun tidak semua dari mereka memiliki karakter seorang murid. Seorang murid Kristus akan mengalami perubahan karakter yang terjadi dari perubahan pola pikir. Seorang murid Kristus selayaknya melakukan apa yang berkenan atau menyenangkan Tuhan setiap hari. Dan tindakan untuk menyenangkan Tuhan yang dilakukan dalam tindakan nyata secara terus berulang-ulang sampai mati. Ia akan menyangkal dirinya, memikul salib dan mengikuti teladan Kristus.

Seorang hamba berkarakter murid Kristus, tidak hanya sekadar tunduk menerima pengajaran dari Sang Guru Agung, tetapi ia pasti mengikuti juga teladan hidup-Nya. Seorang murid paham betul bahwa untuk mengikut dan melayani Tuhan mengandung sebuah tanggung jawab besar. Ia tidak hanya tahu, fasih, atau pandai mengajar, tetapi ia adalah seorang yang mampu menunjukkan teladan hidup Kristus dalam hidup sehari-hari kepada setiap orang. Penyangkalan diri dan pikul salib akan menumbuhkan karakter Kristus dalam hidup kita.

—SYS/www.renunganharian.net


SEORANG MURID SEJATI TIDAK SEKADAR MENERIMA PENGAJARAN,
TAPI IA AKAN MENGIKUTI TELADAN HIDUP GURUNYA








December 25, 2020, 04:56:38 AM
Reply #2686
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28464
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16



http://www.renunganharian.net/2020/137-desember.html

http://www.renunganharian.net/2020/137-desember/3521-persembahan-penyembahan.html

 PERSEMBAHAN PENYEMBAHAN
1
2
3
4
5
Rating 4.00 (5 Votes)

    Diterbitkan hari Jum'at, 25 Desember 2020 00:00
    Ditulis oleh Heman Elia   
    Dibaca: 386 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Matius 2:1-12

Mereka masuk ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, dupa dan mur. (Matius 2:11)


Bacaan Alkitab Setahun:
Wahyu 6-8



Natal identik dengan hadiah. Karyawan menantikan bonus dan penghargaan dari instansi atau perusahaannya. Anak-anak menantikan hadiah dari orang tua atau orang dewasa lainnya. Berbagai diskon belanja juga menjadi tawaran menarik sebagai hadiah Natal dan akhir tahun. Sebagian kita saling mengirim hadiah. Beberapa lainnya menyiapkan dengan serius hadiah untuk orang yang dikasihi atau dihormati. Beberapa orang juga menghadiahi dirinya dengan berbagai hal yang menyenangkan. Namun berbeda dengan itu semua, hadiah yang orang majus persembahkan kepada Kristus memiliki makna yang sangat khusus.

Menempuh perjalanan jauh yang memakan waktu panjang, para majus mempersembahkan emas, dupa, dan mur. Emas adalah persembahan yang biasanya diberikan kepada raja. Adapun dupa digunakan dalam ritual penyembahan kepada Tuhan. Yang unik adalah mur yang sebenarnya digunakan untuk mengawetkan jenazah. Mur melambangkan kematian Yesus, Sang Juru Selamat yang menebus dosa manusia. Inilah persembahan sekaligus penyembahan kepada Kristus!

Ketika aneka hadiah kita peroleh ataupun berikan, adakah Anda mengingat Yesus? Bukankah Natal adalah peringatan akan lahirnya Yesus Kristus, Sang Raja kerajaan surga yang lahir ke dunia? Dialah Tuhan dan Juru Selamat kita. Perayaan Natal seharusnya mengarahkan hati kita kepada Kristus sebagai pusat penyembahan dan persembahan kita. Mari mempersembahkan diri dan milik kita yang paling berharga bagi-Nya.

—HEM/www.renunganharian.net


PERSEMBAHAN YANG BERKENAN KEPADA KRISTUS ADALAH
PENYEMBAHAN KEPADA-NYA SEBAGAI RAJA, TUHAN, DAN JURU SELAMAT






December 26, 2020, 05:44:52 AM
Reply #2687
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28464
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


http://www.renunganharian.net/2020/137-desember.html

http://www.renunganharian.net/2020/137-desember/3522-tak-kurang-kuasa.html

 TAK KURANG KUASA
1
2
3
4
5
Rating 5.00 (5 Votes)

    Diterbitkan hari Sabtu, 26 Desember 2020 00:00
    Ditulis oleh Endang B. Lestari   
    Dibaca: 623 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Bilangan 11:4-23

Tetapi TUHAN menjawab Musa: “Masakan kuasa TUHAN akan kurang untuk melakukan itu? Sekarang engkau akan melihat apakah firman-Ku terjadi kepadamu atau tidak!” (Bilangan 11:23)


Bacaan Alkitab Setahun:
Wahyu 9-11



Salah satu kisah yang sering diceritakan orang tua saya tentang masa kecilnya adalah kesederhanaan mereka dalam hal makan. Daging merupakan makanan yang jarang ditemui. Penghasilan eyang yang pas-pasan membuat daging tak terbeli. Solusinya, eyang memotong ayam piaraannya untuk dimasak supaya bisa sesekali makan daging.

Umat Israel merengek minta daging. Mereka bosan makan manna. Allah pun menjanjikan daging selama sebulan bagi bangsa itu. Alih-alih membuat Musa tersenyum bahagia, janji Allah dipandang rendah olehnya. Musa ragu. Ia menyangsikan janji Allah. Orientasi Musa tertuju pada ternak yang mereka miliki dan ikan yang ada di laut. Seandainya segala ternak yang ada pada mereka disembelih dan seluruh ikan di laut mereka tangkap pun rasanya belum cukup untuk memenuhi kebutuhan akan daging bagi bangsa yang berjumlah enam ratus ribu orang itu. Karena itu Musa menganggap mustahil memberi makan daging untuk bangsa Israel (bdk. ay. 21). Di luar dugaan, Allah menggenapi janji-Nya tanpa mengurangi kekayaan ternak bangsa itu seekor pun dengan mendatangkan burung puyuh.

Mengaku dengan lidah bahwa Allah Mahakuasa itu mudah. Membuktikan rasa percaya (iman) melalui praktik kehidupan sehari-hari, itu yang sulit. Mengandalkan kemampuan diri sebagai solusi selalu terlihat lebih masuk akal dibandingkan menuruti kehendak dan ketetapan Tuhan. Namun menyadari keterbatasan kita yang tak mungkin menyelami cara kerja Allah dengan kuasa-Nya yang Mahabesar, rasanya tak pantas kita meragukan-Nya!

—EBL/www.renunganharian.net


SIAPAKAH MANUSIA SEHINGGA
MERASA MAMPU MENYELAMI JALAN TUHAN?








December 27, 2020, 06:29:50 AM
Reply #2688
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28464
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


http://www.renunganharian.net/2020/137-desember.html


https://youtu.be/5R1taDg7jcI?list=PLMmufoKce4xEUwBnftgPS8HxKI0V-2BKc

http://www.renunganharian.net/2020/137-desember/3523-jus-buah.html

 JUS BUAH
1
2
3
4
5
Rating 3.74 (19 Votes)

    Diterbitkan hari Minggu, 27 Desember 2020 00:00
    Ditulis oleh Pipi Agus Dhali   
    Dibaca: 881 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: 2 Timotius 2:14-26

Perkataan mereka menjalar seperti penyakit kanker. Di antara mereka termasuk Himeneus dan Filetus. (2 Timotius 2:17)


Bacaan Alkitab Setahun:
Wahyu 12-13



Saya tergolong penggemar minuman jus buah-buahan. Meski aneka buah boleh dicampur menjadi satu, namun kita tetap harus cakap memilih bahan-bahan campuran tersebut. Bukan asal campur. Mencampurkannya perlu memperhatikan aspek kecocokan rasanya, teksturnya (kadar kecairannya), warnanya serta komposisinya. Supaya diperoleh hasil perpaduan terbaik untuk dinikmati dan didapatkan manfaatnya.

Pergaulan sosial ialah percampuran aneka macam sifat, karakter, dan perilaku manusia. Percampuran antarmanusia itu pun berlangsung dalam kehidupan jemaat. Namun, secara terbuka, Paulus mengakui tidak semua orang merupakan “bahan campur” yang baik. Himeneus dan Filetus adalah orang-orang yang ucapan, ajaran, dan pengaruhnya amat buruk (ay. 17-18). Menularkan “penyakit”. Meracuni. Merusak iman. Jikalau sudah tak mungkin menegur mereka (ay. 24-26), maka jalan satu-satunya ialah menghindarinya (ay. 23). Ada saatnya perlu sikap tegas dalam memilih siapa yang patut diakrabi sebagai kawan bergaul kita (bdk. 1Tim 1:20, Tit. 3:10 dan Mzm. 1:1).

Sikap menarik diri dari pergaulan sosial lalu menjadi eksklusif, tentu keliru. Tetapi, itu bukan berarti kita membiarkan saja pergaulan buruk yang tanpa seleksi “meracuni” kita. Sebab pergaulan yang “beracun” akan menghambat pertumbuhan potensi-potensi baik kita. Sampai kapan pun, kita tetap membutuhkan “percampuran” dengan mereka yang justru mendorong tumbuhnya iman, kepribadian, dan perilaku sehat dalam diri kita. Jika mereka berperan sebaliknya? Jangan ragu untuk menyilakan mereka pergi dari kehidupan kita!

—PAD/www.renunganharian.net


KITA PERLU BERHIKMAT UNTUK TAHU SIAPA YANG TANGANNYA
PATUT DIPEGANGI DAN SIAPA YANG SEBAIKNYA DIRELAKAN PERGI








December 28, 2020, 05:54:05 AM
Reply #2689
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28464
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


http://www.renunganharian.net/2020/137-desember.html

JUS BUAH | Renungan Harian®
https://youtu.be/NGirw16_qq0?list=PLMmufoKce4xEUwBnftgPS8HxKI0V-2BKc



http://www.renunganharian.net/2020/137-desember/3524-sanksi-atau-solusi.html

 SANKSI ATAU SOLUSI
1
2
3
4
5
Rating 4.18 (11 Votes)

    Diterbitkan hari Senin, 28 Desember 2020 00:00
    Ditulis oleh Endang B. Lestari   
    Dibaca: 983 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: 1 Korintus 1:4-9

Demikianlah kamu tidak kekurangan dalam karunia apa pun sementara kamu menantikan penyataan Tuhan kita Yesus Kristus. (1 Korintus 1:7)


Bacaan Alkitab Setahun:
Wahyu 14-16



Seorang pencuri padi tertangkap dan diperiksa aparat kepolisian. Namun alih-alih dihukum, pencuri tersebut diganjar sembako dan susu oleh polisi. Bagaimana hal ini terjadi? Krisis ekonomi yang disebabkan oleh pandemi Covid-19 memaksa orang itu mencuri demi memenuhi kebutuhan pangan bagi keluarganya. Alasan ini membuat pihak kepolisian memberikan kebijakan tersebut.

Menjatuhkan hukuman terhadap orang yang melakukan tindak kejahatan atau pelanggaran tentu tidak salah. Bahkan tindakan yang demikian diatur dalam undang-undang yang disahkan pemerintah. Sudah selayaknya seorang pelanggar hukum menerima sanksi. Namun hukuman tidak dapat dijadikan andalan dalam menindak kasus kejahatan. Kadang diperlukan tindakan lain yang dapat menjadi solusi. Memberikan bantuan berupa sembako seperti yang terjadi pada kasus di atas, misalnya. Atau rehabilitasi untuk pecandu narkoba.

Demikian pula yang dilakukan Allah dalam menyikapi dosa manusia. Alih-alih menghukum, Dia memberikan kasih karunia melalui karya keselamatan Tuhan Yesus Kristus. Ditambah dengan memberikan ROH KUDUS sebagai penuntun dalam hati setiap orang percaya. Karunia ini sangat berharga karena setelah dikuduskan dari dosa oleh darah Kristus, ROH KUDUS menuntun dan menguatkan seseorang untuk dapat menjalani kehidupan tak bercacat di hadapan Tuhan. Anugerah ini yang menjadikan umat tidak kekurangan dalam satu karunia pun. Sebagai penerima anugerah luar biasa ini, bagaimana tanggapan kita: berbalik kepada dosa lama atau bersaksi tentang Dia?

—EBL/www.renunganharian.net


KRISTUS MEMANGGIL KITA BUKAN UNTUK MENGHUKUM,
MELAINKAN UNTUK MENGUDUSKAN DAN MEMBERI KITA KASIH KARUNIA









 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)