Author Topic: Renungan Harian®  (Read 132185 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

December 29, 2020, 06:41:27 AM
Reply #2690
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28464
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16



http://www.renunganharian.net/2020/137-desember.html

SANKSI ATAU SOLUSI
https://youtu.be/iKpwKEPY9ug?list=PLMmufoKce4xEUwBnftgPS8HxKI0V-2BKc


http://www.renunganharian.net/2020/137-desember.html

 TAK KUASA MELAWAN MAUT
1
2
3
4
5
Rating 4.22 (9 Votes)

    Diterbitkan hari Selasa, 29 Desember 2020 00:00
    Ditulis oleh Go Hok Jin   
    Dibaca: 1361 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Pengkhotbah 3:1-11

Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam. (Pengkhotbah 3:2)


Bacaan Alkitab Setahun:
Wahyu 17-18



Kabarnya, mendiang Michael Jackson ingin hidup hingga 150 tahun. Berbagai upaya pun dilakukan untuk mewujudkan niat itu, mulai dari memiliki tempat tidur khusus dengan serapan oksigen murni, menugaskan dokter pribadi guna mengawasi kesehatan dan aktivitas hariannya, hingga asupan makanan yang masuk ke dalam tubuhnya. Namun, upaya Jackson menantang maut kandas, tepatnya pada 25 Juni 2009. Ia meninggal karena penyakit jantung dan harus meninggalkan dunia ini pada usia 50 tahun.

Pengkhotbah berkata bahwa segala sesuatu di bawah langit ada masanya. Kematian adalah salah satunya, yang tak dapat dihindari oleh siapa pun karena masa hidup manusia memang dibatasi oleh Tuhan. Sehebat apa pun seseorang, sebanyak apa pun hartanya, bahkan sekuat apa pun usahanya memproteksi diri, suatu saat maut akan menjemputnya. Hal ini tentu tidak meniadakan perlunya menjaga kesehatan dan menjaga diri dari hal-hal yang dapat mencelakakan jiwa kita. Namun, kita juga perlu mengarahkan diri pada hal-hal yang bersifat kekal (Kol. 3:1-2), terutama kepastian keselamatan di dalam Kristus dengan memastikan kita mengalami kelahiran baru (Yoh. 3:3).

Orang dunia terkadang ingin melawan maut, tetapi kita orang percaya hendaknya lebih menaruh perhatian pada mempersiapkan diri menghadapi maut—karena ajal cepat atau lambat akan menjemput. Bedanya kita dengan orang dunia adalah keyakinan kita mengenai kepastian keselamatan dan kehidupan kekal di dalam Kristus, yang seharusnya membuat kita tak pernah lari atau gentar menghadapi maut.

—GHJ/www.renunganharian.net


DALAM KRISTUS, MAUT DAPAT DISAMBUT DENGAN KEYAKINAN PENUH
KARENA MEYAKINI KESELAMATAN DALAM KRISTUS








December 30, 2020, 05:40:51 AM
Reply #2691
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28464
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


http://www.renunganharian.net/2020

http://www.renunganharian.net/2020/137-desember.html

 MENAHAN GODAAN BERDOSA
1
2
3
4
5
Rating 4.83 (6 Votes)

    Diterbitkan hari Rabu, 30 Desember 2020 00:00
    Ditulis oleh Heman Elia   
    Dibaca: 805 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: Kejadian 4

“Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.” (Kejadian 4:7)


Bacaan Alkitab Setahun:
Wahyu 19-20



Banyak pesohor tertangkap bersama dengan barang bukti pelanggarannya. Ada yang digerebek ketika menikmati narkoba. Yang lain ditangkap ketika melakukan prostitusi. Pejabat banyak tertangkap tangan bersama uang kejahatan mereka. Yang mengherankan, pemberitaan luas tertangkapnya orang-orang terkenal tidak membuat orang jera. Banyak yang merasa diri mereka tidak terawasi dan dapat lolos dari jerat aparat hukum.

Kain memiliki pikiran serupa. Ia menganggap seakan-akan TUHAN tidak mengetahui kejahatan yang dirancangnya. Ketika rasa iri menyesakkan hatinya, Kain terdorong menghilangkan nyawa adiknya, Habel. TUHAN segera memperingatkan Kain dengan cara lembut dan positif. Kain diberitahu mengenai bagaimana ia dapat memperoleh sukacita, yaitu dengan berbuat baik. Namun TUHAN juga mengingatkan Kain, bahwa ia menghadapi godaan besar untuk berdosa. Toh akhirnya Kain lebih menuruti dorongan nafsunya. Jawaban Kain kepada TUHAN mengenai keberadaan Habel memperlihatkan bahwa Kain beranggapan seolah TUHAN tidak melihat perbuatan jahatnya.

Ketika muncul dorongan berdosa, hampir selalu kita telah mendapat peringatan Tuhan. Di lain pihak, Tuhan acap kali tidak berusaha menghentikan rencana dan tindakan kita. Kita pun bersikap seolah Tuhan tidak mengetahui jalan pikiran kita dan mencari banyak alasan untuk mendebat-Nya. Padahal kita dapat terhindar dari kejatuhan bila kita peduli akan peringatan-Nya. Godaan berdosa juga berkurang bila pikiran kita dipenuhi oleh rancangan untuk berbuat baik.

—HEM/www.renunganharian.net


MENGHADIRKAN TUHAN, PEDULI AKAN PERINGATAN-NYA,
DAN SELALU MEMIKIRKAN UNTUK BERBUAT BAIK
NISCAYA MENAHAN KITA TERJATUH DALAM DOSA







December 31, 2020, 05:38:32 AM
Reply #2692
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28464
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16



http://www.renunganharian.net/2020

http://www.renunganharian.net/2020/137-desember.html

MENAHAN GODAAN BERDOSA | Renungan Harian® (Audio)

https://youtu.be/M1qLTPJpewA?list=PLMmufoKce4xEUwBnftgPS8HxKI0V-2BKc

http://www.renunganharian.net/2020/137-desember/3527-hidup-terus-berjalan.html

 HIDUP TERUS BERJALAN
1
2
3
4
5
Rating 4.25 (4 Votes)

    Diterbitkan hari Kamis, 31 Desember 2020 00:00
    Ditulis oleh Hembang Tambun   
    Dibaca: 718 kali

AddThis Social Bookmark Button

Baca: 2 Samuel 12:1-25

“Tetapi sekarang ia sudah mati, mengapa aku harus berpuasa? Dapatkah aku mengembalikannya lagi? Aku yang akan pergi kepadanya, tetapi ia tidak akan kembali kepadaku." (2 Samuel 12:23)


Bacaan Alkitab Setahun:
Wahyu 21-22



Setelah Nabi Natan menegurnya atas dosa perzinahannya dengan Batsyeba, Daud mengakui dosanya dan bertobat. Tetapi ia masih harus menanggung akibatnya. Anak yang dilahirkan Batsyeba itu sakit. Lalu Daud berdoa, berpuasa dan semalaman berbaring di tanah memohonkan kesembuhan anaknya. Para penasihatnya berusaha menghibur dan mengajaknya makan, tetapi ia menolaknya. Sepertinya, ia sedang menghukum diri, berkabung, menangis serta memohon ampun dari Tuhan. Hal itu berlangsung selama enam hari. Lalu pada hari ketujuh, anak itu mati. Para pegawainya takut memberitahu kabar itu kepada sang raja. Pikir mereka, Daud bisa mencelakakan dirinya.

Namun ketika Daud mengetahui anaknya telah mati, ia melakukan tindakan yang membuat orang-orang heran. Ia bangun dari lantai, mandi, berurap, berganti pakaian, beribadah ke rumah Tuhan, pulang, dan makan. Alasannya ialah, “Selagi anak itu hidup, aku berpuasa dan menangis, karena pikirku: siapa tahu TUHAN mengasihani aku, sehingga anak itu tetap hidup. Tetapi sekarang ia sudah mati, mengapa aku harus berpuasa? Dapatkah aku mengembalikannya lagi?” (ay. 22-23).

Daud telah melakukan berbagai upaya untuk kesembuhan anaknya. Namun ketika kenyataan berbeda dari harapan, ia tidak larut dalam duka. Ia bangkit, menghibur istrinya, dan melanjutkan hidupnya dalam Tuhan. Memang, ada hal-hal di luar kendali kita. Jika demikian halnya, berserahlah pada Tuhan dan jalanilah hidup kita. Ini merupakan langkah iman yang dapat kita tempuh.

—HT/www.renunganharian.net


BELAJAR RELA, BERSERAH DAN MELANJUTKAN HIDUP BERSAMA DIA,
KETIKA JALAN HIDUP BERBEDA DENGAN APA YANG KITA HARAPKAN









January 01, 2021, 05:41:52 AM
Reply #2693
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28464
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


HIDUP TERUS BERJALAN | Renungan Harian® (Audio)
https://youtu.be/ZxYvjU7cGrI?list=PLMmufoKce4xEUwBnftgPS8HxKI0V-2BKc

http://www.renunganharian.net/139-2021/januari

http://www.renunganharian.net/139-2021/januari/3528-urgensi.html

 URGENSI
1
2
3
4
5
Rating 3.38 (8 Votes)

    Diterbitkan hari Jum'at, 01 Januari 2021 00:00
    Ditulis oleh Pipi Agus Dhali   
    Dibaca: 574 kali

Baca: MARKUS 1:16-20

Yesus segera memanggil mereka dan mereka meninggalkan ayahnya, Zebedeus, di dalam perahu bersama orang-orang upahannya lalu mengikuti Dia. (Markus 1:20)


Bacaan Alkitab Setahun:
Kejadian 1-3



Jika kita melihat orang sedang bergegas berjalan, apa kesan dan pesan yang kita dapatkan dari bahasa tubuhnya itu? O, pasti ia sedang buru-buru. Atau, pasti ada seseorang yang menunggu. O, ia tak punya banyak waktu. Atau, ia ingin segera tiba di tempat yang dituju. Apa pun itu, yang pasti, ada sesuatu yang penting dan mendesak yang sedang menjadi prioritasnya saat itu. Ia sedang merasakan adanya suatu urgensi.

Sebagai gestur, kata “segera” banyak diulang dalam Injil Markus. Mengapa? Sebab injil ini menggambarkan dan menekankan sebuah urgensi yang meminta perhatian serius. Yaitu datangnya Kerajaan Allah! Yesus bersegera memanggil murid-murid pertama-Nya (ay. 20). Dan mereka pun bersegera menyambutnya (ay. 18). Markus hendak mengatakan, datangnya Kerajaan Allah memang harus dimaknai sebagai sebuah urgensi. Tak boleh diremehkan, apalagi diabaikan. Patut disadari ada kemendesakan untuk ditanggapi secara serius. Ini penting, jangan ditunda-tunda lagi!

Mengikut Yesus itu standar pentingnya berada di urutan teratas. Prioritas puncak. Bukan hal sekunder yang bisa serba dikesampingkan nanti saja. Menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, bertobat, merubah kebiasaan buruk, membangun disiplin beribadah, melayani selagi masih muda dan sehat sungguh bukan perkara yang bisa ditunda-tunda semau kita. Kita tak pernah tahu apakah kesempatannya masih selalu terbuka lebar. Sudahkah kita merasakan urgensinya dan menanggapi? Jika belum, bersegeralah!

—PAD/www.renunganharian.net


TUHAN SELALU MEMANDANG PENTING UNTUK MENDEKATI KITA,
APAKAH KITA MEMANDANG PENTING UNTUK MENDEKAT PADA-NYA?











January 02, 2021, 05:24:52 AM
Reply #2694
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28464
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


http://www.renunganharian.net/139-2021/januari

URGENSI | Renungan Harian® (Audio)
https://youtu.be/Mh9sVj7LIrI?list=PLMmufoKce4xEKGifVqtEeq-glk-Rdwbg2

http://www.renunganharian.net/139-2021/januari/3529-menyelidiki-sendiri.html

 MENYELIDIKI SENDIRI
1
2
3
4
5
Rating 4.60 (5 Votes)

    Diterbitkan hari Sabtu, 02 Januari 2021 00:00
    Ditulis oleh Heman Elia   
    Dibaca: 565 kali

Baca: KIS. PR. RASUL 17:10-15

Orang-orang Yahudi di kota itu lebih terbuka hatinya daripada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian. (Kis. Pr. Rasul 17:11)


Bacaan Alkitab Setahun:
Kejadian 4-6



Awal mengirim naskah untuk Renungan Harian, saya mendapat kiriman Pedoman Penulisan dari Redaksi. Di sana tercantum salah satu tujuan Renungan Harian, yaitu menolong agar pembaca dapat “membangun hubungan pribadi dengan Tuhan dengan menggunakan Renungan Harian sebagai renungan pendamping (bukan pengganti) waktu teduh”. Tujuan ini menjadi pegangan tulisan saya. Naskah saya usahakan ringkas dan hanya sekadar menjadi pengantar pembaca menjalani saat teduh pribadi. Masalahnya, berapa banyakkah pembaca yang masih berjuang membaca sendiri Alkitab dan menggali kebenarannya?

Orang Yahudi di Berea dipuji oleh Lukas, penulis kitab Kisah Para Rasul. Mereka dihargai karena menerima firman dengan kerelaan hati. Lebih dari itu, mereka menyelidiki sendiri, apakah yang dikatakan oleh Rasul Paulus sungguh sesuai dengan Kitab Suci yang menjadi acuan mereka. Mereka disebut baik hati karena tidak serta merta menolak Paulus dan memusuhinya. Sebaliknya, mereka memiliki hati yang ingin belajar Firman Tuhan dan menyambut hamba Tuhan yang memberitakan kebenaran.

Tidak cukup mengandalkan renungan atau hasil pemikiran orang untuk mengisi saat teduh kita. Tidak juga khotbah bagus. Buku tafsir atau tulisan tokoh Kristen memang sangat perlu kita simak. Namun lebih penting adalah menyelidiki sendiri Kitab Suci. Sebab Alkitab adalah sumber makanan rohani kita. Ketika kita memperoleh penjelasan dari orang lain, kita tetap harus meneliti dan menggalinya sendiri dari sumbernya.

—HEM/www.renunganharian.net


MENYELIDIKI SENDIRI KITAB SUCI MEMBERI KITA PEMAHAMAN AKAN Firman Tuhan
DAN KEMAMPUAN UNTUK MEMBEDAKAN AJARAN YANG BENAR DAN YANG PALSU









January 03, 2021, 05:48:36 AM
Reply #2695
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28464
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


http://www.renunganharian.net/139-2021/januari

MENYELIDIKI SENDIRI | Renungan Harian® (Audio)
https://youtu.be/vhirQbC3Ehc?list=PLMmufoKce4xEKGifVqtEeq-glk-Rdwbg2

http://www.renunganharian.net/139-2021/januari/3530-mengobarkan-karunia.html

 MENGOBARKAN KARUNIA
1
2
3
4
5
Rating 4.43 (7 Votes)

    Diterbitkan hari Minggu, 03 Januari 2021 00:00
    Ditulis oleh Go Hok Jin   
    Dibaca: 620 kali

Baca: 2 TIMOTIUS 1:3-18

Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu melalui penumpangan tanganku atasmu. (2 Timotius 1:6)


Bacaan Alkitab Setahun:
Kejadian 7-9



Pernahkah Anda melihat seorang atlet yang bermain dengan semangat berkobar? Ia mungkin tak memiliki kemampuan spesial dalam olah raga tertentu, tetapi kobaran semangatnya dapat menutupi kelemahannya, bahkan membuatnya bermain dengan luar biasa. Terlebih jika seorang atlet memiliki kemampuan hebat, dengan kobaran semangat luar biasa setiap kali bertanding, maka biasanya atlet tersebut akan mencatat berbagai prestasi hebat selama aktif bermain sebagai atlet profesional!

Rasul Paulus menasihati Timotius agar mengobarkan karunia Allah dalam dirinya, yang diperkuat oleh penumpangan tangan— pertanda adanya penyertaan Allah menaunginya oleh kuasa ROH KUDUS. Sebagai seorang muda, dorongan untuk mengobarkan karunia ini sangat diperlukan untuk menambah keyakinan dirinya, sehingga kehidupan dan pelayanan Timotius akan maksimal sebagai seorang pemimpin jemaat. Kita pun berkesempatan melakukan hal-hal luar biasa, jika kita memahami karunia yang Tuhan berikan kepada kita, lalu kita mengembangkannya dengan kobaran semangat yang membara.

Apakah kita rindu mencatat setidaknya satu prestasi luar biasa selama kita menjalani kehidupan ini? Mari kobarkan semangat kita dalam melakukan segala sesuatu, terlebih saat mengembangkan karunia yang Tuhan berikan. Ingatlah, tak ada pencapaian luar biasa dihasilkan oleh seseorang dengan semangat yang redup. Kiranya Roh-Nya menolong kita dalam mengobarkan karunia yang Tuhan berikan, sampai kita dapat melakukan sesuatu yang luar biasa bagi kemuliaan nama Tuhan.

—GHJ/www.renunganharian.net


DALAM SEMANGAT YANG BERKOBAR,
ADA KEKUATAN UNTUK MENGHASILKAN PENCAPAIAN LUAR BIASA












January 04, 2021, 05:29:06 AM
Reply #2696
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28464
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16



http://www.renunganharian.net/139-2021/januari/

MENGOBARKAN KARUNIA | Renungan Harian® (Audio)
https://youtu.be/0dYMTUFeuVY?list=PLMmufoKce4xEKGifVqtEeq-glk-Rdwbg2


http://www.renunganharian.net/139-2021/januari/3531-rajawali-lesu.html

 RAJAWALI LESU?
1
2
3
4
5
Rating 4.71 (7 Votes)

    Diterbitkan hari Senin, 04 Januari 2021 00:00
    Ditulis oleh Pipi Agus Dhali   
    Dibaca: 751 kali

Baca: MAZMUR 103:1-5

Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan, sehingga masa mudamu menjadi baru seperti pada burung rajawali. (Mazmur 103:5)


Bacaan Alkitab Setahun:
Kejadian 10-12



Entah mengapa, burung rajawali memang menonjol sebagai lambang atau kiasan. Pelbagai bangsa serta budaya mengagungkannya. Mulai dari Mesir, Yunani, Romawi Kuno hingga Swedia dan suku Indian. Bahkan Indonesia mengaitkannya dengan sosok mitologis burung Garuda. Konon, banyak yang memandang burung ini sebagai titisan dewa atau utusan surga. Sosok penghubung antara langit dengan bumi.

Berulang kali Alkitab memakai figur burung rajawali sebagai lambang dalam kehidupan kerohanian, termasuk mazmur Daud. Ia mengumpamakan siapa yang menerima dan mengalami belas kasihan Tuhan bagaikan seekor rajawali. Rajawali gemar terbang di ketinggian, punya mata yang tajam untuk mengintai mangsa. Ada siklus saat rajawali mengalami masa “sulit”, ia punya kebiasaan “meremajakan diri” dengan berjemur cahaya matahari hingga bulu-bulunya rontok. Sesudahnya ia terbang lagi dengan kekuatan sekaligus penampilan baru. Agaknya kebiasaan ini menjadi latar belakang dari ayat 5.

Biasanya kita cenderung menyukai simbol rajawali karena kesan perkasa atau kegagahannya. Padahal tak selalu begitu. Ada saatnya rajawali menjadi letih. Hanya, menariknya, burung yang satu ini tahu kemana ia harus pergi tatkala keletihan mengunjunginya. Ia mendekat ke matahari! Akibatnya, ia merasakan peremajaan kekuatan. Sejujurnya, iman kita tak selalu kuat. Tak perlu menutupinya atau berpura-pura senantiasa teguh. Apalagi berlagak jagoan dalam soal iman. Sungguh tidak perlu. Terlebih penting, saat iman kita lesu atau goyah, kita tahu harus mendekat ke mana. Yaitu mendekat kepada Tuhan, sumber segala kekuatan dan kesegaran baru.

—PAD/www.renunganharian.net


IMAN YANG LESU HANYA SEBUAH PENUNJUK ARAH KE MANA KITA PERLU
MENUJU DEMI MENDAPAT KEKUATAN BARU








January 05, 2021, 05:52:21 AM
Reply #2697
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28464
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16



http://www.renunganharian.net/139-2021/januari/

RAJAWALI LESU? | Renungan Harian®
https://youtu.be/blIvWrgFxKQ?list=PLMmufoKce4xEKGifVqtEeq-glk-Rdwbg2



http://www.renunganharian.net/139-2021/januari/3532-gagal-paham.html

 GAGAL PAHAM
1
2
3
4
5
Rating 5.00 (5 Votes)

    Diterbitkan hari Selasa, 05 Januari 2021 00:00
    Ditulis oleh Eko Elliarso   
    Dibaca: 1026 kali

Baca: LUKAS 13:10-17

Tetapi kepala rumah ibadat gusar karena Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat.... (Lukas 13:14a)


Bacaan Alkitab Setahun:
Kejadian 13-15



Pada hari Sabat, di sebuah sinagoge (rumah ibadah Yahudi), Tuhan menyembuhkan seorang wanita yang telah 18 tahun menderita sakit. Tindakan Tuhan itu membuat kepala sinagoge gusar. Teks asli Gerika dari “gusar” (ay. 14a) itu adalah aganakton: sangat marah. Ini aneh! Penyembuhan itu memang dilakukan pada hari Sabat. Tetapi, menyembuhkan yang sakit adalah amanat cinta kasih, iya kan? Jadi mengapa kepala sinagoge itu sangat marah? Dia menilai bahwa penyembuhan di hari Sabat adalah pelecehan atas hukum Sabat. Kok bisa? Rupanya, kepala sinagoge itu tidak paham bahwa jiwa hukum Tuhan adalah cinta kasih. Dia gagal paham.

Ternyata, pemahaman yang benar atas sesuatu adalah hal yang menentukan. Jika kita gagal paham terhadap sesuatu, respons kita terkait sesuatu itu pun akan keliru, seperti kepala sinagoge itu. Masalahnya, kita semua bisa gagal paham, termasuk atas hal-hal yang penting. Entah karena tidak mampu, karena menolak untuk paham, atau karena mengingkari yang benar dan sengaja memilih yang salah, kita bisa gagal paham atas hal-hal yang seharusnya kita pahami. Akibatnya? Tindakan kita jauh dari benar.

Bacaan hari ini adalah isyarat agar kita mau memahami hal-hal yang harus kita pahami, mengoreksi pemahaman yang salah dan lekat di hati, dan menjauhi gagal paham dalam hidup. Untuk itu, kita harus jujur mengakui ketidakpahaman kita, mengakui keengganan kita memahami yang perlu dipahami, jujur mengakui pengingkaran kita atas kebenaran, dan jujur mencari serta menerima pemahaman yang benar.

—EE/www.renunganharian.net


TAK SEORANG PUN DARI KITA BEBAS DARI KEMUNGKINAN UNTUK GAGAL PAHAM,
TERMASUK GAGAL PAHAM ATAS HAL-HAL PENTING DAN MENENTUKAN










January 06, 2021, 07:28:17 AM
Reply #2698
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28464
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16



http://www.renunganharian.net/139-2021/januari/

GAGAL PAHAM | Renungan Harian® (Audio)
https://youtu.be/msUAZ5Tj3Q0?list=PLMmufoKce4xEKGifVqtEeq-glk-Rdwbg2

http://www.renunganharian.net/139-2021/januari/3534-berani-melangkah.html

 BERANI MELANGKAH
1
2
3
4
5
Rating 4.38 (21 Votes)

    Diterbitkan hari Rabu, 06 Januari 2021 00:00
    Ditulis oleh Samuel Yudi Susanto   
    Dibaca: 2224 kali

Baca: MATIUS 14:22-33

“Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.” (Matius 14:28)


Bacaan Alkitab Setahun:
Kejadian 16-18



Ketika saya belajar berenang, seorang teman memberi nasihat begini, "Untuk bisa tetap terapung di air, engkau harus menggerakkan kaki seperti orang mengayuh sepeda. Dan engkau harus melakukannya di kolam yang dalam!” Takut? Ya, semua orang tentu mengalami perasaan ini, dan tentu saja cukup berisiko karena kita dapat saja tenggelam! Tetapi di sini saya belajar satu hal: Tanpa keberanian untuk mencoba, maka sampai kapanpun saya tidak akan pernah bisa berenang.

Begitu pula dalam hal memercayai Tuhan. Tanpa keberanian untuk melangkah dengan taat, dan meninggalkan kenyamanan, mustahil bagi kita untuk membuktikan apa yang dikatakan-Nya. Semua butuh tindakan dan ketaatan sehingga iman kita berbuah. Petrus adalah seorang yang ingin selalu memiliki pengalaman baru. Pengalaman berjalan di atas air adalah buktinya. Ia berani melangkah menghampiri Yesus dalam ketaatan sekalipun ada risiko tenggelam. Dan sekalipun di tengah jalan ia jatuh dan hampir tenggelam, tetapi tangan Tuhan menyelamatkannya. Jika Petrus tidak berani melangkah, ia tidak akan pernah mengalami pengalaman berjalan di atas air!

Dibutuhkan keberanian untuk melangkah jika kita ingin melihat sebuah perubahan. Mengapa kita jauh dari pengalaman bersama Tuhan? Karena kita tidak melakukan apa yang difirmankan-Nya. Mengapa kita tidak melakukan firman-Nya? Karena kita tidak percaya. Kita takut dengan segala risiko buruk jika kita menaati perintah itu. Dan, kita pun gagal menikmati janji Tuhan karena kita tidak melangkah.

—SYS/www.renunganharian.net


BAGAIMANA MUNGKIN KITA MENGALAMI APA YANG DIJANJIKAN TUHAN
SEDANGKAN KITA TIDAK MENGIKUTI APA YANG DIPERINTAHKAN-NYA?







January 07, 2021, 06:00:04 AM
Reply #2699
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28464
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16



http://www.renunganharian.net/139-2021/januari/

BERANI MELANGKAH | Renungan Harian® (Audio)
https://youtu.be/zMC4oBNHFtk?list=PLMmufoKce4xEKGifVqtEeq-glk-Rdwbg2

 TAK MELEKAT PADA MATERI
1
2
3
4
5
Rating 4.38 (8 Votes)

    Diterbitkan hari Kamis, 07 Januari 2021 00:00
    Ditulis oleh Go Hok Jin   
    Dibaca: 1082 kali

Baca: 1 TIMOTIUS 6:6-12

Sebab kita tidak membawa apa pun ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. (1 Timotius 6:7)


Bacaan Alkitab Setahun:
Kejadian 19-21



Setiap kali mendengar atau melantunkan lagu “Hati S’bagai Hamba”, ingatan saya selalu tertuju ke sebuah ruang di rumah sakit. Tepat di hadapan saya terbujur kaku tubuh seorang teman karib yang baru saja meninggal akibat kecelakaan lalu lintas. Lagu itulah yang kami lantunkan untuk melepas kepergian teman kami, yang akan diterbangkan ke daerah asalnya untuk dimakamkan. Lirik lagu tersebut mengingatkan pentingnya memiliki pemahaman yang tepat akan kehidupan yang Tuhan berikan, karena setiap manusia tidak membawa apa-apa saat masuk ke dalam dunia (dilahirkan), juga kelak ketika nanti meninggalkan dunia ini.

Dalam surat berisi nasihat untuk Timotius, Paulus mengingatkan mengenai pentingnya hidup dengan rasa cukup, sebagai bagian dari arti ibadah yang sejati (ay. 6, 8). Seseorang yang mampu menjalani hidup dengan rasa cukup, niscaya takkan membiarkan hatinya melekat pada hal-hal materi atau segala sesuatu yang bersifat fana, karena kelak semua itu tidak akan dibawa ketika ajal menjemput. Hal ini tak berarti menjadi kaya secara materi itu berdosa, tetapi kita diminta berfokus pada hal-hal yang lebih esensi dan berdampak kekal (ay. 9-10).

Allah lebih menghendaki hati kita melekat kepada-Nya, karena Dialah yang menciptakan kita dan kelak kita akan kembali kepada-Nya. Tak ada gunanya kita terobsesi atau melekatkan hati pada hal-hal duniawi atau materi, karena meski kita memerlukan materi untuk menjalani kehidupan di dunia ini, tetapi kelak semua itu tidak akan kita bawa untuk menghadap Dia.

—GHJ/www.renunganharian.net


HATI KITA TAK BISA MELEKAT PADA TUHAN
DAN MATERI PADA WAKTU BERSAMAAN






 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)