Author Topic: Rehobot Literature Ministries  (Read 103274 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

October 11, 2018, 05:15:28 AM
Reply #2230
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20136
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2018/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17528/0/11-OKTOBER-2018-PENEMUAN-TERBESAR.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17528/1/11-OKTOBER-2018-PENEMUAN-TERBESAR.amr

11. PENEMUAN TERBESAR
 

Membahas mengenai Alkitab, kita tidak boleh melupakan peristiwa besar yang pernah terjadi, yaitu penemuan naskah di sekitar Laut mati. Dalam dunia Kekristenan dan agama Yahudi ini adalah penemuan terbesar yang membuktikan kebenaran Alkitab; sehingga mestinya tuduhan bahwa Alkitab telah dipalsukan adalah tuduhan yang sembarangan dan gegabah, tidak berdasar sama sekali. Penemuan naskah di sekitar Laut Mati menunjukkan tindakan Allah yang luar biasa untuk membuktikan kebenaran dan keaslian Alkitab.

Naskah Laut Mati, disebut juga gulungan Laut Mati. Gulungan Laut Mati adalah manuskrip Yahudi kuno, yang kebanyakan ditulis dalam bahasa Ibrani, beberapa dalam bahasa Aramaik, dan sedikit dalam bahasa Yunani. Banyak gulungan dan fragmen ini berusia lebih dari 2.000 tahun, yang berarti dibuat pada masa sebelum kelahiran Yesus. Di antara gulungan-gulungan pertama yang diperoleh dari orang-orang Badawi terdapat tujuh manuskrip panjang dengan berbagai tahap kerusakan.

Naskah Laut Mati dalam arti sempit adalah naskah-naskah yang ditemukan di gua-gua Qumran, maka sering disebut sebagai naskah Gua Qumran atau naskah Qumran. Naskah Qumran adalah suatu kumpulan naskah sebanyak 981 buah. Selain ini, terdapat naskah yang berbeda yang ditemukan sekitar tahun 1946 sampai 1956 dalam 11 gua di sekitar pemukiman kuno di wilayah Khirbet Qumran di tepi barat. Penemuan naskah yang berusia ribuan tahun terjadi ketika gembala-gembala domba Badawi berteduh di sekitar gua, ada juga yang mengisahkan bahwa mereka sedang mencari domba yang hilang. Ketika mereka ada di gua-gua tersebut, mereka menemukan guci-guci yang mereka pikir berisi harta karun berupa uang, tetapi ternyata gulungan-gulungan naskah asli (autograf) dari kitab Perjanjian Lama. Tentu saja nilai penemuan tersebut lebih dari jumlah uang seberapa pun.

Kalau dipersoalkan dari manakah asal usul naskah tersebut, maka banyak pandangan mengenai hal ini. Ada beberapa pendapat yang menyebabkan banyak perdebatan mengenai asal usul gulungan naskah Laut Mati ini. Pendapat yang paling kuat atau paling dominan adalah bahwa naskah-naskah tersebut merupakan buatan suatu komunitas -salah satu sekte Yahudi yang tinggal dekat Qumran- yang disebut kaum Eseni. Mereka berpendapat bahwa kelompok Eseni inilah yang menulis atau menyalin naskah-naskah Perjanjian Lama tersebut bersama dengan kelompok sektarian Yahudi lainnya di sekitar Khirbet Qumran. Komunitas ini berusaha untuk menulis atau menyalin naskah-naskah Alkitab Perjanjian Lama, kemudian menyembunyikan dalam gua-gua tersebut. Ketika terjadi pemberontakan bangsa Yahudi pada kekaisaran Roma menjelang tahun 70, komunitas ini dihancurkan kekuatan Roma, sejak saat itu naskah-naskah tidak diketahui oleh masyarakat Yahudi dan dunia.

Ada juga yang berpandangan bahwa gulungan-gulungan naskah tersebut merupakan hasil karya kaum Yahudi yang tinggal di Yerusalem, yang menyembunyikan gulungan-gulungan tersebut dalam gua-gua dekat Qumran. Pada saat melarikan diri dari tentara Roma -pada waktu Yerusalem dihancurkan (sekitar tahun 70M)- mereka menyembunyikan gulungan-gulungan naskah tersebut di sekitar Laut Mati tersebut.

Tulisan-tulisan Qumran menunjukkan bahwa
Alkitab Perjanjian Lama benar adanya.

Tulisan dalam naskah Qumran juga menyingkapkan adanya peraturan Sabat yang sangat ketat yang dikenakan bagi orang-orang Yahudi dalam komunitas mereka, serta perhatian yang ekstrem terhadap kemurnian keagamaan Yudaism yang lebih bersifat seremonial. Selain itu, tersingkap pula penjelasan mengenai kehidupan komunitas kaum Eseni yang terasing dari masyarakat. Kelompok ini mempertahankan kesucian menurut pola mereka. Tetapi yang paling harus dihargai adalah perjuangan mereka menyalin kitab Perjanjian Lama untuk membuktikan kebenaran Alkitab.

Dengan ditemukan naskah Laut Mati, maka sangat jelas terbukti bahwa Alkitab Perjanjian Lama di tangan orang percaya hari ini adalah benar-benar orisinal, tidak palsu. Kisah-kisah mengenai penciptaan langit dan bumi, Adam dan Hawa, Nabi Nuh dengan air bahnya, Abraham sahabat Allah yang mempersembahkan anak sahnya yaitu Ishak di bukit Moria adalah data dan informasi historis yang benar dan orisinal. Oleh sebab itu orang percaya tidak perlu menyangsikan apa yang tertulis di dalam Alkitab.


October 12, 2018, 05:08:38 AM
Reply #2231
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20136
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2018/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17530/0/12-OKTOBER-2018-NASKAH-ASLI-PERJANJIAN-BARU.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17530/1/12-OKTOBER-2018-NASKAH-ASLI-PERJANJIAN-BARU.amr

12. NASKAH ASLI PERJANJIAN BARU

All that is told by the Gospel, originated from oral tradition which was taught by the first disciples of Jesus to congregations,and was not yet in the form of written document. Over the course of time, the followers of the Lord Jesus, considered that it was very necessary and important to write down all that was seen and heard by the first disciples of Jesus. That is why, the Gospel began to be written by the first disciples of Jesus, also using the services of others to write it; like Peter who used Mark’s services to write the Gospel of the Lord Jesus. It is understandable that Mark’s Gospel can also be as called the Gospel of Peter.

In the beginning, the New Testament was written in a media called papyrus. And it had become written documents since the year 140 AD. At that time, the four Gospels has been unified and perceived as complete, and many Christian figures in church – which are also apostles- tried to compile the epistles to a complete form of the Bible. The expert Christian archaeologists and congregation’s servants succeed to reconstruct the ancient manuscripts of the New Testament. They can prove the similarities between the ancient manuscripts with the Bible which Christians have today. As the proof, in the later days, the older ancient scripts of the New Testament found, such as some of Paul’s letters in a form of papyrus which is from 1st-2nd century, and the content is the same as the New Testament we have today.

Based on research, the New Testament was initially written and compiled completely in the 2nd century. At that time it was also translated to Latin which called Vetera Antiqua. This is a Coptic language which commonly found within the societies around Egypt, Ethiopia and Syria. Later, the Bible in Latin, was revised by Hironimus at 4th century, and It was called vulgate, which later became the official translation of the Bible at that time. Because the Christians at that time mostly used Latin. That’s why later, it can be seen that many churches in Europe used Latin in their liturgy.

The oldest and most complete manuscripts of the New Testament is from the 4th century, namely codex Vaticanus, codex Sinaiticus, etc. If we observe more, there are two groups in the New Testament manuscripts. The first group is the manuscripts that came from early days or earlier. These manuscripts are surely the closest to the time of its writing. At that time, the New Testament was written all with capital letters, called uncials. There’s also the second group of manuscripts which written in small letters and looked more cursive, and it’s called cursives or minuscule. This minuscule existed and appeared in 9th century.

Today, we have found more than 5.800 manuscripts of the New Testament. Certainly, not all of those have it in complete form like what we have today. By that,

Those New Testament manuscripts are ancient historical documents
which could be a better witness of the truth of the Bible.

Within those 5.800 manuscripts, most of it are minuscule which came from 9th – 16th century. All uncial manuscripts came from around the year 650AD.

In the beginning, the copyist of the ancient books wrote it in Greek without spacing between the word or sentence. It’s hard for today’s Christian to understand. This kind of writing in Theology is called scriptio continua. That kind of practice took place up to 8th century. After that time onwards, the scripts of the New Testament used punctuation in some places. There’s a big possibility that the manuscripts of the New Testaments was written in the form of uncial or cursives, and some letters were dictated to be written. Reading these verses might confirm the truth above (Rm. 16:22; 1 Ptr. 5:12; Gal. 6:11).



October 12, 2018, 05:15:13 AM
Reply #2232
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20136
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2018/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17530/0/12-OKTOBER-2018-NASKAH-ASLI-PERJANJIAN-BARU.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17530/1/12-OKTOBER-2018-NASKAH-ASLI-PERJANJIAN-BARU.amr

12. NASKAH ASLI PERJANJIAN BARU

All that is told by the Gospel, originated from oral tradition which was taught by the first disciples of Jesus to congregations,and was not yet in the form of written document. Over the course of time, the followers of the Lord Jesus, considered that it was very necessary and important to write down all that was seen and heard by the first disciples of Jesus. That is why, the Gospel began to be written by the first disciples of Jesus, also using the services of others to write it; like Peter who used Mark’s services to write the Gospel of the Lord Jesus. It is understandable that Mark’s Gospel can also be as called the Gospel of Peter.

In the beginning, the New Testament was written in a media called papyrus. And it had become written documents since the year 140 AD. At that time, the four Gospels has been unified and perceived as complete, and many Christian figures in church – which are also apostles- tried to compile the epistles to a complete form of the Bible. The expert Christian archaeologists and congregation’s servants succeed to reconstruct the ancient manuscripts of the New Testament. They can prove the similarities between the ancient manuscripts with the Bible which Christians have today. As the proof, in the later days, the older ancient scripts of the New Testament found, such as some of Paul’s letters in a form of papyrus which is from 1st-2nd century, and the content is the same as the New Testament we have today.

Based on research, the New Testament was initially written and compiled completely in the 2nd century. At that time it was also translated to Latin which called Vetera Antiqua. This is a Coptic language which commonly found within the societies around Egypt, Ethiopia and Syria. Later, the Bible in Latin, was revised by Hironimus at 4th century, and It was called vulgate, which later became the official translation of the Bible at that time. Because the Christians at that time mostly used Latin. That’s why later, it can be seen that many churches in Europe used Latin in their liturgy.

The oldest and most complete manuscripts of the New Testament is from the 4th century, namely codex Vaticanus, codex Sinaiticus, etc. If we observe more, there are two groups in the New Testament manuscripts. The first group is the manuscripts that came from early days or earlier. These manuscripts are surely the closest to the time of its writing. At that time, the New Testament was written all with capital letters, called uncials. There’s also the second group of manuscripts which written in small letters and looked more cursive, and it’s called cursives or minuscule. This minuscule existed and appeared in 9th century.

Today, we have found more than 5.800 manuscripts of the New Testament. Certainly, not all of those have it in complete form like what we have today. By that,

Those New Testament manuscripts are ancient historical documents
which could be a better witness of the truth of the Bible.

Within those 5.800 manuscripts, most of it are minuscule which came from 9th – 16th century. All uncial manuscripts came from around the year 650AD.

In the beginning, the copyist of the ancient books wrote it in Greek without spacing between the word or sentence. It’s hard for today’s Christian to understand. This kind of writing in Theology is called scriptio continua. That kind of practice took place up to 8th century. After that time onwards, the scripts of the New Testament used punctuation in some places. There’s a big possibility that the manuscripts of the New Testaments was written in the form of uncial or cursives, and some letters were dictated to be written. Reading these verses might confirm the truth above (Rm. 16:22; 1 Ptr. 5:12; Gal. 6:11).



October 13, 2018, 05:17:16 AM
Reply #2233
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20136
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2018/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17533/0/13-OKTOBER-2018-MEDIA-KITAB-PERJANJIAN-BARU-KUNO.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17533/1/13-OKTOBER-2018-MEDIA-KITAB-PERJANJIAN-BARU-KUNO.amr

13. MEDIA KITAB PERJANJIAN BARU KUNO

Perlu juga di dalam bab ini kita membahas mengenai media yang digunakan untuk menulis Kitab Perjanjian Baru. Hal ini dimaksudkan agar orang percaya dapat meyakini bahwa Kitab Perjanjian Baru di tangan kita hari ini -yang merupakan pusat atau episentrum kebenaran- adalah Perjanjian Baru yang asli seperti yang dimiliki orang-orang percaya dari gereja mula-mula, yaitu sejak gereja-gereja pada abad satu.

Perjanjian Baru ditulis setelah manusia menemukan papirus sebagai alat tulis.

Papirus adalah serat dari tumbuh-tumbuhan yang dapat dijadikan sarana menulis suatu data. Penggunaan papirus lebih umum digunakan sampai abad ke-4 M. Ini adalah abad dimana Kekristenan telah menjadi agama negara oleh kaisar Theodosius Agung sekitar tahun 380. Pada masa itu ditemukan media untuk menulis lebih kuat dari papirus, yaitu perkamen. Tentu saja perkamen memiliki daya tahan atau lebih kuat dari papirus.

Sejak ditemukannya atau digunakannya perkamen, maka sebagian besar manuskrip kuno Perjanjian Baru bisa bertahan sampai hari ini sebagai warisan kitab Perjanjian Baru yang tidak ternilai harganya. Di antara kitab Perjanjian Baru, ada yang berasal dari abad 4 dan abad 5 dan ditulis di atas perkamen. Jenis kulit perkamen yang diolah khusus sehingga mempunyai kualitas yang lebih baik, halus dan kuat disebut vellum. Namun demikian harus diakui bahwa naskah asli (autograf) yang asli sudah tidak ada atau dalam keadaan rusak. Tetapi salinannya masih ada. Seperti kitab Wahyu yang dipandang sebagai kitab termuda dalam Perjanjian Baru yang ditulis oleh Yohanes di pulau Patmos pada akhir abad ke-1 Masehi, tidak pernah ditemukan kembali. Sangat mungkin Yohanes menggunakan papirus yang mudah rusak dalam menulis suratnya. Jadi, bisa dimengerti kalau surat Yohanes di pulau Patmos sudah tidak ada. Walau naskah asli (autograf) tidak ada lagi, tetapi salinannya dalam jumlah besar masih dapat ditemukan untuk membuktikan kebenaran keaslian kitab Perjanjian Baru.

Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa perkamen lebih tahan atau lebih kuat dibandingkan dengan Papirus, maka sejak abad ke-4 manuskrip Perjanjian Baru yang masih bertahan sampai hari ini ditulis di atas perkamen. Pada saat itu itulah kodeks Vatikanus dan kodeks Sinaitikus ditulis dengan perkamen. Kodeks adalah perkamen yang memuat kitab Perjanjian Baru. Dari seluruh media penulisan kuno ini, yang paling menjadi perhatian serius dalam kaitannya dengan Alkitab adalah papirus dan perkamen (vellum). Penemuan-penemuan manuskrip Perjanjian Baru menunjukkan bahwa dua bahan ini yang dipakai untuk menyalin Kitab Suci, yaitu memakai papirus dan perkamen. Pada zaman itu, penggunaan bahan papirus dan kulit binatang selama berabad-abad berbentuk gulungan. Keterbatasan dari gulungan papirus ini adalah panjangnya tertentu, dan relatif tidak panjang. Jika tidak dibatasi, maka gulungan akan terlalu panjang dan berat, dan juga membukanya akan sangat merepotkan.

Ketika penggunaan papirus sudah digantikan dengan perkamen, maka bentuk manuskripnya berubah menjadi kodeks, yaitu bentuk buku yang terdiri dari halaman-halaman yang terbuat dari perkamen. Bentuk kodeks ini jauh lebih baik, yaitu lebih mudah dibaca, dibawa, dan dapat ditulis pada kedua sisinya atau bolak balik. Tentu juga lebih mudah dibawa. Pada mulanya kodeks dibuat dari papirus, tetapi kemudian digantikan dengan perkamen. Teks Perjanjian Baru paling awal yang ada sekarang ditulis dalam bentuk kodeks. Jadi naskah asli atau autograf Perjanjian Baru ternyata berbentuk kodeks. Faktanya, salinan-salinan dari naskah asli atau autograf, yaitu manuskrip-manuskrip yang ditemukan pada umumnya berbentuk kodeks, dan hanya sebagian saja yang berbentuk gulungan. Dari 172 manuskrip atau fragmen yang ditulis sebelum abad 4, ternyata 158 berbentuk kodeks, dan hanya 14 yang berbentuk gulungan. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan kodeks menggantikan gulungan dari abad ke-1 M sampai abad ke-5 M.



October 15, 2018, 05:45:50 AM
Reply #2234
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20136
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2018/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17537/0/15-OKTOBER-2018-KANONISASI.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17537/1/15-OKTOBER-2018-KANONISASI.amr

15. KANONISASI

Kata kanon berasal dari bahasa Yunani, kanon (κανών); sedangkan dalam Bahasa Ibrani yang maknanya tidak berbeda jauh adalah qanah ( קָנֶה). Pada dasarnya pengertian kata ini adalah ukuran atau alat untuk mengukur. Kata itu sendiri sebenarnya berarti ukuran yang biasa dikenakan untuk mengukur kehidupan, asas atau undang-undang kepercayaan. Mula-mula kata kanon artinya daftar kitab-kitab yang disahkan oleh jemaat yang mula-mula. Kanonisasi (canonicitas) adalah proses menyusun kitab-kitab dalam Alkitab untuk diakui sebagai Firman Allah yang dapat menjadi pedoman bagi kehidupan manusia secara universal. Hal ini terjadi sebab Alkitab bukanlah kitab yang turun dari langit. Tetapi Alkitab ditulis oleh banyak orang yang oleh karenanya harus digumuli manakah kitab yang sungguh-sungguh merupakan ilham ROH KUDUS dan diakui sebagai Firman Allah.

Dalam hal ini kita percaya bahwa Tuhan menuntun gereja-Nya untuk menemukan kitab-kitab yang memang berisi kebenaran Allah yang harus diakui sebagai Firman Allah. Proses kanonisasi Perjanjian Lama sukar sekali ditemukan waktunya. Menurut catatan, sebelum Masehi proses kanonisasi sudah berlangsung. Tetapi menurut salah satu sumber, pada tahun 90 guru-guru agama Yahudi di bawah pimpinan Johannan ben Zakkai mengadakan sidang Jamnia. Mereka menimbang tulisan-tulisan itu dan membakukan Kitab Suci Perjanjian Lama sejumlah 39 kitab. Dari sinilah jumlah kitab Perjanjian Lama terbentuk permanen.

Pada mulanya, jemaat Kristen dalam kebaktian atau pertemuan bersama membaca kitab Perjanjian Lama saja. Kemudian ditambahkan beberapa surat rasul-rasul yang dianggap memiliki kewibawaan seperti kitab Perjanjian Lama. Uskup pertama yang menyusun daftar kitab kanon adalah uskup Athanasius Aleksandria. Dalam proses kanonisasi ini, ditetapkan kitab-kitab manakah yang diakui sebagai orisinal kebenaran Allah dan nara sumber yang dapat dipercaya. Hal kanonisasi, sejarah gereja mencatat bahwa pada konsili di Khartago tahun 397 dinyatakan bahwa selain kitab-kitab yang dikanonisasi tidak boleh ada kitab yang diakui sebagai Firman Tuhan.

Dalam iman Kristen, kita percaya bahwa proses kanonisasi Alkitab
adalah karya ROH KUDUS, bukan karya manusia yang memiliki otoritas untuk
mengesahkan apakah suatu kitab adalah Firman Tuhan atau tidak.
Tetapi Alkitab sendiri yang mengesahkan Diri-Nya sebagai Firman Allah
di hati orang percaya (testimonium spiritussancti internum).

Setelah melalui proses kanonisasi dalam gereja-gereja Protestan ditetapkan 66 kitab dalam Alkitab sebagai kitab yang dapat menjadi dasar pedoman kehidupan orang percaya. Kitab-kitab ini diterima dan diakui sebagai Firman Tuhan. Dalam gereja Roma Katolik -selain 66 kitab yang diakui oleh gereja aliran protestan sebagai Firman Tuhan- mereka memiliki 15 kitab lain yang juga diakui sebagai Firman Tuhan. Kitab-kitab tersebut disebut kitab Apokripha, yang juga disebut sebagai deoterokanonika, dan diterima sebagai Firman Tuhan pada Konsili di Trente tahun 1546.

Dalam proses kanonisasi tersebut ada beberapa kriteria yang harus diperhatikan (criterium canonicitatis). Untuk pengakanonan Alkitab Perjanjian Lama harus memenuhi kriteria antara lain:
Pertama, ditulis seorang nabi Tuhan yang dinyatakan Alkitab sebagai nabi yang benar, seorang nabi yang memiliki karunia khusus.
Kedua, merupakan kitab yang selalu dibaca pada pertemuan-pertemuan ibadah bangsa Yahudi.
Ketiga, sudah terbukti digunakan Tuhan Yesus sebagai referensi dalam khotbah-Nya atau menerimanya sebagai Firman Tuhan (Mat. 5:18; 8:17; 12:39,40; Luk. 4:17-18; 11:29; 24:27,44 dll).

Untuk pengkanonan Alkitab Perjanjian Baru, kitab-kitab tersebut harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
Pertama, ditulis oleh rasul-rasul Tuhan atau yang menjadi saksi mata langsung.
Kedua, tidak bertentangan dengan wahyu Allah dalam Perjanjian Lama.
Ketiga, diterima oleh masyarakat Kristen, memiliki sifat-sifat rohaniah, berpusat kepada Kristus dan diilhami oleh ROH KUDUS.
Jika tidak memenuhi syarat ini, maka tidak dapat dimasukkan ke dalam Alkitab dan diakui sebagai Firman Tuhan.

Akhirnya ditetapkan bahwa Alkitab berisi 66 kitab, yang terdiri dari dua bagian besar, yaitu Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Perjanjian Lama terdiri dari 39 kitab dan Perjanjian Baru terdiri dari 27 kitab. Teks asli Perjanjian Lama ditulis dalam bahasa Ibrani; sedangkan Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani Koine atau Yunani klasik. Alkitab ditulis oleh lebih kurang 40 penulis dalam kurun waktu sekitar 1.500 tahun.


October 16, 2018, 05:26:57 AM
Reply #2235
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20136
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2018/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17540/0/16-OKTOBER-2018-TUHAN-MENYISAKAN-DOKUMEN-NYA.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17540/1/16-OKTOBER-2018-TUHAN-MENYISAKAN-DOKUMEN-NYA.amr

16. TUHAN MENYISAKAN DOKUMEN-NYA


Satu hal yang sangat luar biasa, Tuhan membuktikan bahwa Alkitab adalah ilham atau pewahyuan dari Allah yang masih orisinal. Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa Alkitab dipalsukan. Hal ini terbukti dengan naskah asli Alkitab atau autograf yang masih dilestarikan oleh Allah. Salinan-salinan Alkitab baik dalam Bahasa Ibrani, Aram dan Yunani memiliki ketepatan dengan Alkitab yang orang percaya miliki hari ini. Hal ini sungguh-sungguh sangat luar biasa, sebab semua ini bisa terjadi karena adanya orang-orang yang mendedikasikan hidupnya secara penuh dengan segala pengorbanan menyalin Kitab Suci dan mempertahankan keberadaan atau kelestariannya dengan darah dan nyawa mereka. Selanjutnya dari naskah asli tersebut diterjemahkan ke banyak bahasa di seluruh dunia.

Kita bersyukur, banyak sarjana-sarjana arkeologi Alkitab yang berusaha melakukan eksplorasi dan perjalanan berat untuk menemukan naskah asli Alkitab. Setelah mereka menemukan potongan-potongan dari berbagai naskah asli, maka mereka melakuan konstruksi ulang seperti sebuah puzzle yang sangat rumit. Tetapi berkat pertolongan Tuhan, mereka bisa mengkrontruksi potongan-potongan tersebut sehingga dapat menjadi bentuk utuh yang membuktikan kebenaran, keaslian atau orisinalitas Alkitab.

Dari perjuangan para arkeolog Alkitab, telah ditemukan banyak manuskrip yang sampai sekarang masih tersimpan di beberapa tempat, khususnya di beberapa museum di negara-negara Barat, Israel, Mesir dan beberapa negara lain. Manuskrip-manuskrip tersebut sebagian sudah menjadi rusak karena berbagai kausalitas. Manuskrip Perjanjian Lama yang sempat ada -tetapi sudah rusak- adalah Kodeks Aleppo. Manuskrip ini sebenarnya berasal dari abad 9-10. Kodeks ini tersimpan di salah satu sinagoge orang Yahudi yang bernama Mustaribah dan sudah berusia 1500 tahun lebih.

Sebenarnya Kodeks Aleppo adalah sebuah manuskrip Ibrani lengkap terbaik dari Siria, karena merupakan kodeks Perjanjian Lama yang lengkap yang berasal dari abad ke-10 M, sekitar tahun 930 M. Lebih dari seribu tahun manuskrip ini bertahan keutuhannya. Tetapi sayangnya, sekitar seperempatnya hancur pada kerusuhan melawan Yahudi di Arab pada 2 Desember 1947, empat hari setelah Perserikatan Bangsa Bangsa memutuskan untuk membagi Palestina menjadi negara Israel dan negara Arab. Dalam kerusuhan itu seluruh sinagoga dibakar, termasuk Sinagoga Mustaribah yang berumur 1500 tahun. Kodeks Aleppo ditemukan dalam tumpukan abu dengan seperempat bagiannya sudah terbakar.

Selanjutnya, ada beberapa kodeks yang perlu diketahui untuk membuktikan bahwa Alkitab orang percaya tidak dipalsukan. Kodeks tersebut antara lain: Kodeks Leningrad yang merupakan manuskrip tertua dan lengkap dari manuskrip Ibrani yang ada saat ini. Kodeks ini ditulis di Kairo sekitar tahun 1010 M. Kodeks Kairo adalah manuskrip yang berisi tulisan nabi-nabi oleh Moses ben Asher pada tahun 895 M. Kodeks Leningrad yang ditulis pada tahun 916 M, hanya berisi kitab Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, dan Nabi-nabi kecil. Kodeks Pentateukh yang sekarang tersimpan di British Library berasal dari sekitar abad 9 M dan 10 SM, berisikan sebagian besar Pentateukh. Selain kodeks-kodeks di atas masih banyak kodeks yang lain

Apa yang terjadi dengan manuskrip-manuskrip Perjanjian Lama berbeda dengan manuskrip-manuskrip Perjanjian Baru. Pada kasus ini, salinan yang ada atau manuskrip yang ada hampir semuanya relatif lebih muda, bahkan jika dibandingkan dengan manuskrip Perjanjian Baru. Hal ini bisa dimengerti, sebab dari sudut pandang orang Yahudi, setelah suatu salinan tua disalin dengan tepat, maka salinan yang lebih muda justru lebih disukai. Setiap salinan yang salah atau yang sudah disalin justru akan dikuburkan melalui suatu upacara khusus, tetapi sebelumnya disimpan dahulu di suatu tempat penyimpanan yang disebut dengan genizah. Dengan niat baik ini, yaitu untuk melestarikan suatu salinan, justru mengakibatkan tidak ditemukannya manuskrip Ibrani yang lebih awal atau lebih kuno.

Penemuan yang paling mencengangkan dan yang paling membuktikan
kebenaran Alkitab Perjanjian Lama adalah ditemukannya
gulungan-gulungan Alkitab Perjanjian Lama di Qumran.



October 17, 2018, 05:17:11 AM
Reply #2236
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20136
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2018/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17545/0/17-OKTOBER-2018-APAKAH-YANG-DIMAKSUD-DENGAN-KEBENARAN-ITU.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17545/1/17-OKTOBER-2018-APAKAH-YANG-DIMAKSUD-DENGAN-KEBENARAN-ITU.amr

17. APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN KEBENARAN ITU?


Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan kebenaran itu? Bila ditinjau dari pengertian umum, kebenaran adalah keadaan yang sesuai dengan nilai esensialnya atau keadaan yang dianggap sebagai sebenarnya atau yang orisinal. Kebenaran bisa berarti keadaan tidak bersalah, suatu ketepatan bertalian dengan pandangan, sikap dan filosofi serta perilaku. Berbicara mengenai kebenaran, hal ini benar-benar bersifat sangat subyektif, artinya tergantung dari sudut pandang masing-masing individu. Setiap orang bisa menyatakan sesuatu itu sebagai kebenaran, sementara yang lain mengatakan bukan. Jadi apakah kebenaran itu? Tentu tergantung masing-masing individu berfilosofi, dan hal itu sangat ditentukan oleh bangunan berpikir yang dimiliki setiap orang.

Salah satu pernyataan penting Tuhan Yesus dalam Alkitab yang tertulis di dalam Yohanes 14:6 adalah: Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Kata kebenaran dalam ayat ini, teks aslinya adalah alitheia (ἀλήθεια), yang berarti pengertian mengenai apa yang sepatutnya atau sebenarnya dipahami manusia untuk dikenakan dalam kehidupan.

Jadi kalau Tuhan Yesus mengatakan bahwa Diri-Nya adalah kebenaran
artinya bahwa segala sesuatu yang dikatakan atau diajarkan dan cara berpikir
serta seluruh gaya hidup-Nya adalah standar yang harus dikenakan manusia.

Dengan memahami segala sesuatu yang diajarkan oleh Tuhan Yesus dan mengenakannya dalam kehidupan konkret, maka berarti seseorang hidup di dalam kebenaran.

Kebenaran hidup dalam kehidupan orang percaya bukanlah perilaku hidup berdasarkan hukum, tetapi berdasarkan cara berpikir Tuhan yang oleh karenanya harus memiliki pikiran dan perasaan Kristus, sehingga memiliki hidup seperti hidup yang dijalani oleh Yesus dua ribu tahun yang lalu. Dengan demikian orang percaya dapat berkata: … namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku (Gal. 2:20). Inilah standar hidup yang harus dikenakan oleh setiap orang percaya. Orang yang memahami kebenaran dan memiliki integritas untuk mengenakannya, pasti hidupnya dibentuk oleh kebenaran isi Alkitab, sehingga hidupnya menjadi kebenaran Alkitab yang diperagakan.

Kalau dikatakan bahwa Alkitab mengandung kebenaran, artinya bahwa apa yang tertulis di dalam Alkitab jika dipelajari secara mendalam dengan kaidah-kaidah eksegesis dan hermeneutik yang sehat, maka akan diperoleh kebenaran yang murni. Kebenaran inilah yang dimaksud oleh Tuhan Yesus dapat memerdekakan (Yoh. 8:31-32 – “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku, dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”). Masalahnya kemudian adalah bagaimana dapat menemukan kebenaran dari Alkitab? Harus dipahami bahwa untuk menemukan kebenaran dari Alkitab tidak mudah. Alkitab seperti belantara dimana jalan setapaknya kadang-kadang sulit ditemukan. Oleh sebab itu perlu belajar bagaimana menyusuri belantara Alkitab tersebut sehingga dapat menemukan tujuannya.
Tujuannya tentu adalah kebenaran itu sendiri.

Alkitab adalah buku tebal yang memiliki berpotensi yang sangat besar terjadinya multitafsir, artinya orang dapat menafsirkan sesuka sendiri tanpa batas. Setiap orang yang membedah Alkitab mengaku bahwa yang mereka pahami mengenai Alkitab adalah pemahaman yang paling benar. Tidak heran kalau dari hal ini maka banyak pengajaran yang timbul. Di antara pengajaran-pengajaran tersebut, banyak yang sebenarnya tidak Alkitabiah. Memang pengajaran-pengajaran tersebut sekilas benar karena diambil dari ayat-ayat Alkitab, tetapi sebenarnya tidak dilakukan sesuai dengan kaidah eksegesis dan hermeneutik yang benar. Banyak orang Kristen yang tidak mengerti secara mendalam isi Alkitab, menjadi korban; mereka disesatkan oleh pengajaran yang tidak tepat tersebut. Dengan keadaan ini betapa sulitnya menemukan kebenaran yang murni atau asli dari Alkitab yang dapat memberi pencerahan dan dapat memerdekakan orang percaya. Oleh sebab itu kita harus belajar menggunakan logika yang semaksimal mungkin, hidup suci dan tidak mencintai dunia untuk menerima kebenaran Tuhan yang tertulis dalam Alkitab.



October 18, 2018, 05:15:44 AM
Reply #2237
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20136
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2018/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17547/0/18-OKTOBER-2018-MEMAHAMI-ALKITAB-DENGAN-BENAR.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17547/1/18-OKTOBER-2018-MEMAHAMI-ALKITAB-DENGAN-BENAR.amr

18. MEMAHAMI ALKITAB DENGAN BENAR

Alkitab tidak boleh dipahami secara kontemporer, artinya memasukkan pikiran modern ke dalam ayat-ayat Alkitab. Kita harus ketat dalam memahami bahwa Alkitab harus ditafsirkan sesuai dengan pikiran Alkitab. Pikiran Alkitab maksudnya adalah makna orisinal dari maksud penulisan suatu perikop atau paragraf. Untuk itu seorang peneliti Alkitab harus benar-benar menguasai latar belakang suatu teks; kapan ditulis, oleh siapa penulisnya, di mana ditulis, dalam rangka atau konteks apa, bagaimana pemikiran manusia pada zaman itu, bahasa asli Alkitab (bahasa Yunani dan Ibrani) dan lain sebagainya. Banyak orang salah memahami ayat-ayat Alkitab sebab memaksakan pikiran kontemporer atau pikiran modernnya ke dalam Alkitab. Ini berarti bukan mengangkat isi Alkitab keluar tetapi memasukkan pikirannya sendiri ke dalam Alkitab.

Biasanya praktik di atas tersebut dilakukan oleh mereka yang tidak belajar Alkitab di Sekolah Tinggi Teologi. Mereka tidak mengerti teks asli Alkitab (bahasa Ibrani dan Yunani). Mereka tidak belajar latar belakang Alkitab dan kaidah ilmu menafsir (hermenutik dan eksegesis). Ditambah lagi dengan ambisi pribadi yang tidak kudus, yaitu hanya mencari keuntungan dan kesenangan diri sendiri, maka mereka sesukanya sendiri menafsirkan isi Alkitab. Alkitab memang diam, bisa seperti tidak berdaya, tetapi suatu hari nanti pemilik Alkitab -yaitu Tuhan Yesus- pasti mengadakan perhitungan dengan orang-orang ini, yaitu mereka hamba-hamba Tuhan gadungan. Tetapi orang-orang seperti ini justru memiliki “market” dewasa ini. Mengapa? Sebab mereka berusaha menjawab kebutuhan masyarakat yang orientasinya kepada kemakmuran duniawi. Kemakmuran duniawi inilah yang dibutuhkan dan sangat diminati masyarakat modern yang telah tercandui oleh percintaan dunia.

Memang pada mulanya pelayan-pelayan jemaat tersebut memiliki motif yang baik dalam pelayanan. Mereka juga bisa memiliki kesaksian hidup yang luar biasa; bisa kesembuhan dari sakit, pemulihan ekonomi dan lain sebagainya. Semua itu bisa menjadi modal atau bekal membangun gereja. Bila mampu mengelola dengan baik, maka gereja tersebut bisa maju. Ketika merasakan “kemakmuran” duniawi, maka motif pelayanan mereka menjadi rusak. Berhubung mereka harus tetap eksis dalam pelayanan, maka mereka menyusun doktrin atau pengajaran yang tidak sesuai dengan Alkitab demi kelangsungan “hidup” mereka.

Biasanya orang yang menghubung-hubungkan satu ayat dengan ayat yang lain sesukanya sendiri tanpa melihat konteks setiap ayat, dan didorong untuk mendukung pengertian atau pandangannya sendiri, menafsirkan ayat-ayat Alkitab sembarangan. Mereka melakukan hal tersebut karena mereka tidak mengerti bagaimana membedah isi Alkitab. Mereka menyatakan bahwa pandangannya benar secara Alkitabiah sebab ada ayatnya. Pandangan mereka memang sekilas ayatiah, tetapi sebenarnya tidak Alkitabiah. Bagi jemaat yang tidak mengerti, dengan tulus jemaat menerima saja apa yang disampaikan. Sungguh menyedihkan, banyak jemaat disesatkan. Penyesatan ini tidak membuat jemaat menjadi jahat atau bejat, mereka menjadi orang-orang yang setia di gereja dan bermoral baik, tetapi mereka tidak sampai kepada maksud keselamatan yaitu dikembalikan ke rancangan Allah semula, yaitu sempurna seperti Bapa dan serupa dengan Yesus.

Ayatiah berarti hanya sesuai dengan suatu ayat dalam Alkitab. Kemungkinan salah sangat besar, sebab menafsirkan ayat Alkitab harus menghubungkan dengan ayat yang lain di dalam pasal itu (konteks pasal), juga menghubungkannya dengan seluruh konteks kitab. Tidak boleh melepas ayat dari konteksnya. Kalau suatu ayat lepas dari kontkesnya, maka ayat tersebut menjadi liar, artinya bisa ditafsirkan sesukanya sendiri si penafsir. Suatu pandangan teologi atau pengajaran haruslah Alkitabiah. Alkitabiah berarti sesuai dengan pikiran seluruh isi Kitab Suci. Untuk memperoleh pandangan yang Alkitabiah harus dilakukan suatu eksplorasi Akitab yang benar-benar berdasakan eksegesis dan hermeneutik.

Tindakan atau praktik seperti tersebut di atas adalah pemerkosaan teks atau sebuah tindakan sewenang-wenang terhadap Alkitab.

Alkitab harus ditafsirkan dan dipahami oleh dan dengan pikiran Alkitab itu sendiri.

Tetapi mereka memasukkan pikiran mereka ke dalam Alkitab dan menjadikan ayat-ayat Alkitab sebagai “dagangan” untuk kepentingan diri sendiri, khususnya untuk mendapatkan keuntungan materi.


October 19, 2018, 05:59:14 AM
Reply #2238
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20136
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2018/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17549/0/19-OKTOBER-2018-MEMBELA-ALKITAB-SECARA-BERMARTABAT.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17549/1/19-OKTOBER-2018-MEMBELA-ALKITAB-SECARA-BERMARTABAT.amr

19. MEMBELA ALKITAB SECARA BERMARTABAT

Orang percaya tidak perlu merasa kecil hati kalau Kitab Sucinya (Alkitab) dihadirkan dalam kehidupan umat tidak secara mistis dan spektakuler. Seperti misalnya dibawa oleh malaikat secara ajaib dan luar biasa, sudah dalam bentuk buku yang lengkap tanpa koreksi lagi. Alkitab tidak terbentuk atau terjadi secara demikian. Jika Alkitab turun dari langit secara spektakuler, ajaib dan mistis, maka tidak akan ada proses kanonisasi Alkitab, yaitu usaha untuk mengumpulkan dokumen-dokumen yang diakui sebagai kebenaran Firman Tuhan. Kalau orang Kristen beranggapan bahwa Kitab Sucinya turun dari langit secara mistis dan spektakuler, tetapi kemudian mengadakan proses kanonisasi, berarti mereka tidak konsisten. Di satu pihak mereka meyakini Alkitab turun dari surga, tapi di pihak lain mengadakan seleksi atas dokumen-dokumen tersebut. Tetapi orang percaya dalam sejarah gereja tidak melakukan hal tersebut. Orang percaya mengakui Alkitab ditulis oleh manusia dalam tuntunan ROH KUDUS.

Atas dokumen-dokumen yang tidak diakui sebagai Firman Tuhan, orang percaya tidak melakukan pembinasaan atau pemusnahan seperti pembakaran naskah-naskah yang dianggap tidak sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan. Orang percaya membiarkan naskah-naskah yang tidak sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan, seperti misalnya Injil Tomas, Injil Barnabas dan lain sebagainya masih beredar dan eksis. Orang percaya tidak melakukan usaha pemusnahan. Hal ini menunjukkan bahwa sikap orang percaya dari dulu sangat berintegritas, tidak otoriter, memiliki toleransi dan percaya bahwa kebenaran tetap akan tampil sebagai kebenaran. Memang kemudian menjadi masalah bagi orang percaya, ketika naskah-naskah yang tidak dikanonkan atau diakui sebagai Firman Tuhan tersebut dijadikan senjata menyerang orang Kristen oleh pihak luar. Herannya, mereka mencoba menyerang Kekristenan dengan menggunakan naskah yang tidak diakui oleh orang percaya sebagai Firman Tuhan.

Melalui perjalanan waktu dapat dibuktikan bahwa naskah-naskah yang tidak sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan tidak akan dapat secara signifikan mengganggu perjalanan hidup orang percaya. Naskah-naskah tersebut akhirnya nyaris lenyap ditelan waktu, sementara Alkitab yang dikanonkan tetap eksis, diterjemahkan ke hampir semua bahasa manusia dan menjadi buku yang paling banyak digandakan. Hal ini membuktikan bahwa Allah yang disembah oleh orang percaya -yaitu Bapa, dan Tuhan kita Yesus Kristus- adalah Allah yang benar. Tanpa kekuatan manusia Alkitab yang memuat kebenaran Tuhan tetap eksis, sebab Allah melindungi kebenaran-Nya sendiri. Ketika orang percaya membiarkan Allah membela kebenaran-Nya sendiri yang termuat dalam Alkitab, justru dapat membuktikan kebenaran-Nya.

Dari hal ini kita dapat belajar, bahwa kita tidak perlu membela Alkitab dengan cara kasar atau dengan kekerasan. Misalnya kalau suatu hari ada orang yang membakar Alkitab atau mengucapkan kata-kata yang menista Alkitab, kita tidak perlu menjadi marah dan melakukan tindakan pembalasan. Allah yang benar tentu juga Allah yang kuat. Allah yang benar dan kuat tersebut tidak perlu dibela. Allah sanggup membela Diri-Nya sendiri. Kalau kita berusaha untuk membela Alkitab, maka kita akan terjebak dalam kebodohan, tindakan konyol, tidak beradap dan tidak terhormat. Justru pembelaan seperti itu merendahkan martabat Allah yang besar.

Kalau kita berkata “Allah Mahabesar”, berarti kita harus memberi ruangan kepada-Nya untuk membela Diri-Nya sendiri. Firman Tuhan mengatakan bahwa pembalasan adalah hak Tuhan, bukan hak kita (Ibr. 10:30 Sebab kita mengenal Dia yang berkata: “Pembalasan adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan.” Dan lagi: “Tuhan akan menghakimi umat-Nya”).

Membela Alkitab secara bermartabat adalah mewujudkan kebenaran Alkitab dalam kehidupan secara nyata. Jika kebenaran Alkitab dikenakan dalam kehidupan secara nyata, yang pasti sebuah kehidupan yang menjadi berkat, keteduhan, ketenangan, kedamaian terhadap sesama. Tidak melukai siapa pun.

Orang percaya dapat dikatakan membela Alkitab secara bermartabat
jika orang percaya menjadi sempurna seperti Bapa,
serupa dengan Yesus atau mengenakan kodrat Ilahi.
Kehidupan yang agung akan membuktikan bahwa Kitab Sucinya benar.



October 20, 2018, 06:57:15 AM
Reply #2239
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20136
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2018/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17551/0/20-OKTOBER-2018-BISA-DIPERCAYAI.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17551/1/20-OKTOBER-2018-BISA-DIPERCAYAI.amr

20. BISA DIPERCAYAI


Dalam sejarah perjalanan Alkitab, tidak jarang serangan bukan datang dari orang di luar Kristen, tetapi juga datang dari orang-orang Kristen sendiri. Dan yang paling menyedihkan, serangan terhadap Alkitab justru datang dari teolog-teolog Kristen sendiri dan orang-orang Kristen yang tidak mengerti kebenaran Alkitab. Mereka studi Alkitab selama bertahun-tahun supaya menjadi cerdas dan membela pekerjaan Tuhan, tetapi malahan sebaliknya, menyerang Alkitab. Tetapi walaupun Alkitab mengalami tantangan dan serangan yang begitu hebat, Alkitab tetap eksis. Seharusnya teolog-teolog Kristen berdiri membela Alkitab sebagai kebenaran yang tidak ada duanya. Tetapi ironisnya, justru mereka mencoba merusak kewibawaan Alkitab. Di antara orang-orang tersebut mengajarkan bahwa tidak semua yang tertulis dalam Injil adalah Firman Tuhan atau ucapan Tuhan. Ada juga yang mengatakan bahwa kebangkitan Yesus adalah peritiwa sumbolis. Mereka mengajarkan bahwa Yesus tidak bangkit. Mereka yang mengatakan bahwa kisah-kisah yang tertulis dalam Alkitab adalah mitos, terutama yang menyangkut mukjizat.

Memang Alkitab ditulis oleh manusia dengan segala keberadaannya, tetapi bukan berarti apa yang mereka tulis boleh diragukan. ROH KUDUS menuntun orang percaya dalam menerima pengilhaman kebenaran. Mereka yang menerima penghilhaman adalah orang-orang pilihan yang “mumpuni” atau berkapasitas untuk menerima pewahyuan; seperti Musa, Daniel, para penulis Injil, Paulus, Petrus, Yohanes dan lain sebagainya. Jadi, bukan orang sembarangan untuk bisa dipercaya menerima pewahyuan atau ilham dari Tuhan, yaitu kebenaran-Nya guna maksud dan rencana penyelamatan umat manusia. Terutama kehidupan moral mereka yang baik, yang patut diteladani, walau mereka tentu tidak atau belum sempurna.

Jadi sangat keliru kalau ada tuduhan bahwa Alkitab ditulis dalam pengaruh keberadaan individu, baik kelemahan-kelemahan, kekurangan-kekurangannya dan lain sebagainya. Aspek negatif yang bisa dimunculkan adalah kemungkinan terjadi kesalahan dalam penulisannya. Jika hal itu terjadi, kita tidak perlu gusar dan meragukan Alkitab. Penulis Alkitab, khususnya Perjanjian Lama, pasti terdapat data-data yang tidak sama. Data-data tersebut tidak bisa dikatakan bertentangan, sebab bukan sesuatu yang bersifat pengajaran. Tetapi hanya data-data seperti jumlah kuda-kuda Salomo, nama-nama orang yang tidak penting dan urutan silsilah dan lain sebagainya. Tetapi bila menyebut nama-nama penting, tidak mungkin salah. Seperti misalnya bahwa Abraham adalah leluhur Israel, bahwa yang dikorbankan adalah Ishak dan lain sebagainya, tidak mungkin salah.

Dalam hal ini nampak sekali unsur kemanusiaan dalam Alkitab, yaitu bahwa penulisnya adalah manusia dengan segala keterbatasannya. Tetapi bagaimanapun, inti berita keselamatan dalam Yesus Kristus yang benang merahnya sudah ada sejak zaman nenek moyang Israel secara khusus dan manusia pada umumnya, tidak mungkin meleset.

Kenyataan bahwa Alkitab ditulis manusia dengan segala keterbatasannya
membuat Alkitab bisa dibaca oleh setiap orang dan dimengerti dengan lebih mudah.

Kita harus memandang bahwa Alkitab ditulis oleh manusia dengan segala keberadaannya seperti para pembacanya, maka Alkitab akan sangat mungkin dipahami secara utuh dan lengkap oleh pembacanya yang juga adalah manusia. Dalam hal ini Firman Tuhan dibungkus dalam budaya manusia, konteksnya adalah budaya Timur Tengah, khususnya bangsa Israel dari zaman sebelum Musa sampai zaman Roma menguasai Palestina pada abad 1.

Alkitab yang memuat data-data yang menyangkut waktu, tempat dan zaman raja-raja tertentu, ternyata dalam penggalian sejarah, data-data tersebut cocok. Seperti misalnya kisah mengenai Firaun yang ditenggelamkan di Laut Tiberau. Hari ini para arkeolog menemukan bangkai kereta-kereta perang dan perlengkapan senjata. Hal ini menunjukkan Alkitab bisa dipercaya. Juga mengenai bahtera Nuh. Kalau ada buku yang mengakui kebenaran data Alkitab, tetapi tidak menerima seluruh kebenaran yang terdapat di dalamnya, berarti sebuah “pembajakan” yang tidak bertanggung jawab. Kalau Allah itu esa, maka kebenaran-Nya juga esa. Hal ini sejajar bahwa satu-satunya jalan keselamatan adalah Yesus Kristus. Dengan hal ini, kita berpendirian pula bahwa satu-satunya Kitab Suci yang benar adalah Alkitab.



 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)