Author Topic: Rehobot Literature Ministries  (Read 117711 times)

0 Members and 3 Guests are viewing this topic.

October 21, 2018, 12:07:44 PM
Reply #2240
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2018/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17554/0/21-OKTOBER-2018-ALKITAB-TIDAK-BISA-BERSALAH.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17554/1/21-OKTOBER-2018-ALKITAB-TIDAK-BISA-BERSALAH.amr

21. ALKITAB TIDAK BISA BERSALAH

Dalam bab ini kita perlu meninjau sifat-sifat Alkitab yang sekaligus menunjukkan kepiawaian Alkitab yang tak tertandingi dibanding dengan kitab-kitab dalam dunia ini. Pertama, Alkitab tidak mungkin salah.

Ketidakbersalahan di sini bukan menyangkut penulisan secara hurufiah
dan data-data yang mungkin bisa meleset oleh karena keterbatasan pola pikir manusia pada zamannya, tetapi ketidakbersalahan di sini adalah
menyangkut jiwa kebenaran yang terkandung di dalam Alkitab.

Setiap ide yang dipaparkan Alkitab adalah kebenaran yang memiliki nilai akurasi sempurna. Inilah yang juga disebut sebagai infalibilitas Alkitab. Oleh sebab Alkitab tidak mungkin salah, maka Alkitab dapat menjadi syarat mutlak (neccesitas) yang tidak dapat ditawar. Segala kebenaran yang ditawarkan apabila tidak sesuai dengan kebenaran Alkitab, maka ia bukanlah kebenaran tetapi dusta yang harus tegas ditolak.

Ketepatan Alkitab teruji dalam hal kegenapan setiap nubuat-nubuatnya. Bila kita mempelajari mengenai nubuat-nubuat Alkitab, maka semua nubuat yang tertulis dalam Alkitab digenapi dengan sempurna. Salah satu contoh adalah nubuat yang ditafsirkan oleh Daniel dari mimpi raja Nebukadnezar mengenai patung besar yang melambangkan perjalanan sejarah dunia. Nubuatan-nubuatan Daniel lebih banyak berbicara mengenai dunia pada waktu itu, tahun-tahun atau abad-abad setelah Daniel hidup, lebih dari keadaan dunia zaman kita. Kepala emas melambangkan negara Babel tahun 606 SM. Dada dan lengan dari perak menggambarkan Kerajaan Persia tahun 539 SM. Perut dan pinggang dari tembaga menggambarkan Kerajaan Yunani tahun 331 SM. Paha dari besi menggambarkan Kerajaan Romawi Barat dan Timur tahun 64 SM. Kaki dan jari-jari sebagian besi dan tanah liat menggambarkan negara-negara di dunia ini, yaitu adanya negara yang kuat dan lemah. Ini baru salah satu nubuat Alkitab yang digenapi dengan tepat. Masih banyak nubuat lain yang digenapi dengan sangat tepat dan sempurna. Hal ini membuktikan bahwa Alkitab tidak mungkin salah.

Ketidakbersalahan Alkitab bukan terletak pada penulisannya secara harafiah dan data-data minor yang tidak penting. Tetapi ketidakbersalahan Alkitab terletak pada maksud keselamatan yang diberikan oleh Allah. Dalam hal ini yang penting dari Alkitab adalah penjelasan atau keterangan mengenai rencana Allah menyelamatkan dunia ini, yaitu bagaimana mengubah manusia-manusia yang terpilih sebagai umat pilihan Perjanjian Baru. Perubahan itu adalah perubahan dari kodrat manusia dengan kodrat dosanya (sinful nature), menjadi seorang yang berkodrat Ilahi (devine nature). Ini berarti perubahan tersebut bukan hanya dari orang jahat menjadi orang baik, tetapi dari manusia berdosa kemudian menjadi baik, dan akhirnya menjadi sempurna. Target yang harus dicapai adalah sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus.

Perubahan kodrat dalam kehidupan manusia tidak membutuhkan hukum-hukum seperti hukum-hukum agama samawi pada umumnya. Tetapi yang dibutuhkan adalah pengertian mengenai kebenaran yang dapat mencerdaskan pikiran sehingga orang percaya dapat mengerti kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna. Itulah sebabnya pikiran orang percaya bukanlah pikiran hukum, tetapi pikiran Tuhan. Terkait dengan hal ini orang percaya dikehendaki oleh Allah untuk memiliki pikiran dan perasaan Kristus (Flp. 2:5-7). Dengan hal ini kita bisa menghayati bahwa Kekristenan bukan jalan hukum, tetapi jalan hidup. Hidup yang harus dijalani adalah hidupnya Tuhan Yesus. Untuk memiliki hidup seperti yang pernah dijalani Yesus, orang percaya harus memiliki pikiran dan perasaan-Nya.

Dengan demikian, untuk dapat membedakan apakah seseorang mengerti Alkitab atau tidak, bukanlah ditentukan oleh cakapnya berbicara mengenai teologi, bukan pula pada jenjang pendidikan teologi, tetapi apakah seseorang memiliki kehidupan Yesus yang diperagakan secara konkrit. Peragaan tersebut pasti sangat nyata dari setiap kata yang diucapkan atau tulisan melalui media sosial dan seluruh kelakuannya. Hal ini juga dapat diteguhkan oleh buah-buah kehidupan yang dijalani. Bagi seorang hamba Tuhan, buah kehidupannya bukan sekadar besarnya gereja -baik dalam jumlah anggota gereja, aset dan gedung gerejanya- tetapi pada kenyataan apakah melalui pelayanan yang diselenggarakan, banyak orang diubah menjadi manusia Allah.



October 22, 2018, 05:33:09 AM
Reply #2241
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2018/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17556/0/22-OKTOBER-2018-ALKITAB-CUKUP-DAN-LENGKAP.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17556/1/22-OKTOBER-2018-ALKITAB-CUKUP-DAN-LENGKAP.amr

22. ALKITAB CUKUP DAN LENGKAP

Salah satu sifat Alkitab yang kedua adalah cukup dan lengkap. Cukup artinya tidak perlu lagi ditambahi dengan kitab-kitab lain, dan tidak boleh mengurangi kitab-kitab yang sudah diakui sebagai kitab-kitab yang memuat kebenaran. Salah seorang reformator pada abad ke-15 pernah mengatakan bvahwa kitab Yakobus adalah kitab yang dapat digambarkan sebagai “jerami kering”. Hal ini dimaksudkan bahwa kitab Yakobus tidak memberi manfaat yang cukup. Pernyataan ini muncul berhubung gelombang gerakan yang menyerukan bahwa keselamatan hanya oleh anugerah (sola gratia) dan hanya oleh iman (sola fide). Kitab Yakobus dipandang mengganggu atau paling tidak mengurangi ketajaman pengajaran sola gratia dan sola fide tersebut. Padahal sebenarnya tidak. Kalau keselamatan hanya oleh iman dalam tulisan Roma (Rm. 6-8), maka bisa membangkitkan asumsi bahwa untuk memperoleh dan mengalami keselamatan respon manusia tidak dibutuhkan sama sekali. Tetapi Yakobus menyatakan bahwa iman bekerja sama dengan perbuatan, oleh karena perbuatannya maka imannya menjadi sempurna (Yak. 2).

Pengertian perbuatan dalam kitab Roma adalah perbuatan berdasarkan hukum, sedangkan perbuatan yang dimaksud oleh Yakobus adalah perbuatan berdasarkan penurutan terhadap kehendak Allah, yaitu pikiran dan perasaan Allah. Sangat jelas sekali bahwa tidak ada orang yang dibenarkan karena perbuatan berdasarkan hukum, tetapi dibenarkan karena perbuatan berdasarkan penurutan terhadap kehendak Allah. Iman adalah penurutan terhadap kehendak Allah. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengatakan bahwa orang yang tidak melakukan kehendak Bapa tidak masuk ke dalam Kerajaan Surga (Mat. 7:21-23). Kalau kitab Yakobus dihilangkan dari Alkitab, maka konsep keselamatan menjadi kacau. Pernyataan Tuhan Yesus bahwa orang yang diselamatkan harus berjuang seperti masuk pintu sempit tidak akan dipahami sebab dengan pikiran atau nalar yang “percaya” maka seseorang sudah selamat. Keselamatan adalah perjuangan bagaimana meresponi penggarapan Allah untuk menjadi serupa dengan gambar dan rupa Allah, yaitu sesuai dengan rancangan semula.

Pengertian bahwa Alkitab sudah lengkap artinya tidak boleh ditambahi dengan kitab-kitab lain. Kebenaran yang terdapat dalam Alkitab sudah cukup, lengkap dan sempurna artinya apa yang sudah tertulis di dalam Alkitab sesuai dengan hasil proses kanonisasi. Jadi Alkitab yang berisi 66 kitab, yaitu 39 Perjanjian Lama dan 27 Perjanjian Baru sudah cukup dan lengkap. Adapun kalau ada kitab-kitab lain yang diakui oleh gereja tertentu, hal itu menjadi hak dan tanggung jawab mereka. Dengan 66 kitab tersebut, maka sebenarnya kebenaran yang Allah kehendaki untuk dipahami orang percaya sudah cukup.

Mengurangi jumlah tersebut akan membuat tidak lengkapnya kebenaran yang harus dipahami orang percaya, tetapi sebaliknya penambahan atas 66 kitab tersebut
akan mengacau kebenaran yang seharusnya dipahami oleh orang percaya.

Apakah Alkitab yang benar berjumlah 66 atau dengan jumlah yang lain, dapat dibuktikan dengan kualitas anggota gereja mereka? Kualitas anggota gereja yang meyakini Alkitab cukup sejumlah 66 kitab dengan mereka yang menambahi atau mengurangi jumlah kitab, dapat dibuktikan kualitas hidup masing-masing. Aspek lain yang harus diperhatikan, sekalipun Alkitabnya benar, tetapi kalau tidak memahami isinya pasti juga melahirkan anggota gereja yang tidak sesuai dengan standar kesucian Allah. Dengan demikian, harus dipahami, kalau Alkitabnya saja benar, tetapi kalau tidak mengerti isinya dengan benar akan rusak juga, apalagi kalau Alkitabnya salah.

Alkitab cukup dan lengkap, sehingga sama sekali tidak perlu ditambah oleh kitab-kitab lain sebagai pelengkap atau penyempurnanya. Dewasa ini terdapat aliran Kristen yang menganggap perlu menambah Alkitab dengan kitab lain yang diakui sebagai ilham dari Allah. Ajaran ini harus ditolak tegas. Alkitab sudah cukup (sufficientia). Demikian pula dengan tradisi yang juga dinormir (dijadikan ukuran etika atau norma) sebagai kebenaran Firman Allah, harus ditolak tegas. Dengan isi yang cukup dan lengkap tersebut Alkitab dapat mencapai maksudnya (efficak), yaitu kehendak Allah dapat dimengerti secara penuh oleh manusia dan keselamatan yang tersedia di dalam wahyu-Nya dapat dinikmati oleh manusia yang menjadi obyek karya keselamatan Allah. Oleh lengkap dan cukupnya Alkitab maka tidak perlu ada buku lain yang ditambahkan guna menjelaskan agar kebenaran yang terdapat Alkitab menjadi lebih terang, dalam hal ini jelas bahwa Alkitab sudah terang (perspicuitas). Dalam pernyataan-Nya Allah menampilkan Diri dengan bahasa dan penampilan yang manusia mampu memahaminya (anthropomofisme).



October 23, 2018, 06:46:37 AM
Reply #2242
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2018/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17558/0/23-OKTOBER-2018-ALKITAB-BERKUASA.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17558/1/23-OKTOBER-2018-ALKITAB-BERKUASA.amr

23. ALKITAB BERKUASA

Salah satu ciri Alkitab yang ketiga adalah bahwa Alkitab berkuasa. Berkuasa di sini artinya membawa dampak yang sangat kuat dan besar. Kalau seseorang benar-benar mengerti isi Alkitab dan mengenakannya di dalam hidupnya, maka kehidupan orang tersebut pasti terus menerus diubah. Kehidupan seseorang yang diubah sesuai dengan maksud dan tujuan keselamatan, maka kehidupan orang tersebut pasti menjadi sangat luar biasa. Kehidupan yang luar biasa yang mengacu pada Pribadi Kristus yang dapat digambarkan sebagai lampu yang memiliki kekuatan watt yang tinggi dengan terang yang menakjubkan (1Ptr. 2:9). Dalam hal ini “berkuasanya” Alkitab dapat terbukti.

Terkait dengan Alkitab yang berkuasa, ada beberapa pernyataan Alkitab yang luar biasa. Yesus berkata bahwa Firman Tuhan adalah kebenaran yang menguduskan (Yoh. 17:17). Menguduskan di sini berarti mengubah karakter. Kalau darah Yesus mengangkat dosa yang dilakukan, tetapi Firman Allah di dalam Alkitab mengangkat karakter dosa yang berpotensi untuk dilakukan. Kebenaran Firman Tuhan yang tertulis di dalam Alkitab berpotensi membuat seseorang bukan saja tidak berbuat dosa lagi, tetapi tidak bisa berbuat dosa lagi. Rasul Paulus dalam suratnya menyatakan: Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman.” (Rm.1:16-17). Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Alkitab berkuasa.

Alkitab berisi Firman Tuhan, oleh sebab itu kekuasaan yang terdapat di dalamnya
adalah kekuasaan Allah yang tertinggi.

Otoritas yang dimiliki Alkitab adalah otoritas dari tempat yang Mahatinggi. Alkitab tidak boleh dan tidak bisa dibawahi oleh lembaga apa pun. Sebab tidak ada lembaga dalam dunia yang lebih dari Allah. Oleh karena Alkitab memiliki otoritas dari Allah sebagai lembaga tertinggi, maka gereja dan orang percaya harus tunduk kepada Firman Tuhan sebagai pedoman dan pengatur kehidupan. Kuasa yang terdapat dalam Alkitab akan terbukti nyata dalam kehidupan manusia yang memercayai dan menghidupi kebenaran Alkitab.

Oleh karena Alkitab berkuasa, maka gereja harus mengakui kewibawaan Alkitab di atas segalanya, artinya doktrin yang dirumuskan gereja tidak boleh dianggap sejajar dengan Alkitab, apalagi dianggap lebih tinggi. Doktrin yang disusun oleh sebuah sinode gereja dalam bentuk Pengakuan Iman dan pengajaran tidak boleh dianggap sebagai harga mati, artinya tidak boleh dipandang sebagai permanen yang tidak boleh diganggu gugat atau diubah. Kita harus selalu membuka ruangan untuk mengoreksi kembali segala sesuatu yang diajarkan oleh gereja dan sudah diyakini sebagai kebenaran.

Gereja juga tidak boleh takut dan ragu-ragu untuk mengoreksi kembali ajaran dari para tokoh teolog masa lalu yang sangat hebat pada zamannya, bahkan mereka yang menjadi pendiri dari sebuah denominasi gereja. Mereka memang dipakai oleh Tuhan secara luar biasa pada zamannya, tetapi sekarang zaman sudah sangat berubah. Pengajaran yang sangat efektif pada zamannya belum tentu efektif untuk dunia kita hari ini. Pengeksplorasian terhadap Alkitab tidak boleh berhenti guna menemukan kebenaran-kebenaran yang efektif pada zamannya. Apa yang pernah dirumuskan oleh para tokoh gereja dan teolog masa lalu tidak boleh disejajarkan dengan kewibawaaan Alkitab.

Alkitab juga teruji kuasanya dalam hal ketahanannya menghadapi segala serbuan yang memandang Alkitab sebagai buku biasa. Ternyata Alkitab telah tercetak lebih dari 240 bahasa secara lengkap dan bagian tertentu telah diterjemahkan lebih dari 1800 bahasa. Dalam membela dan mempertahankan Alkitab, orang percaya tidak menggunakan kekerasan atau pedang. Tuhan mengajarkan agar orang percaya mengasihi musuh-musuhnya. Bila ditampar pipi kanan, harus memberikan pipi kirinya. Walau Alkitab tidak dibela dan dipertahankan dengan pedang, tetapi Alkitab tetap eksis sampai hari ini yang menunjukkan keperkasaannya.



October 24, 2018, 05:54:38 AM
Reply #2243
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2018/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17560/0/24-OKTOBER-2018-ALKITAB-UNITAS.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17560/1/24-OKTOBER-2018-ALKITAB-UNITAS.amr


24. ALKITAB UNITAS

Sifat Alkitab yang lain adalah bahwa Alkitab berisi kebenaran yang unitas. Unitas artinya menunjuk kepada satu kesatuan yang di dalamnya terdapat beberapa atau banyak elemen keterangan dan penjelasan yang inti atau esensinya tidak saling berbenturan atau konflik. Dalam hal ini yang tidak berbenturan bukan data-data secara minor, sebab memang Alkitab seperti kumpulan tulisan-tulisan dari para penulis dengan segala keberadaan yang terbatas. Alkitab tidak ditulis secara mekanis dimana penulis menulis tanpa kesadaran. Alkitab ditulis dalam kesadaran dan keterbatasan manusia, seperti seorang wartawan yang mengamati sesuatu dan menulisnya. Secara akurasi data yang minor belum tepat benar, masih perlu pengujian, tetapi mengenai kebenaran yang termuat di dalamnya pasti tepat sempurna. Dalam hal ini kebenaran bukan terletak pada susunan hurufnya, tetapi pengertiannya. Dalam hal ini yang dipentingkan adalah kebenaran yang bisa ditulis dari tulisannya. Untuk ini ROH KUDUS pasti menuntun setiap penulisnya.

Alkitab berisi kebenaran yang unitas maksudnya adalah bahwa di dalam Alkitab tidak ada benturan pandangan atau konsep pemikiran dari para penulisnya. Walau Alkitab ditulis oleh sekitar 40 orang dalam kurun waktu sekitar 1.500 tahun, tetapi Alkitab berisi kebenaran-kebenaran yang saling menunjang, melengkapi dan meneguhkan. Masing-masing penulis tidak kenal dan hidup di zaman yang berbeda, dan tempat yang berbeda serta situasi kehidupan yang berbeda, tetapi mereka dapat menulis sebuah tulisan yang tidak saling bertentangan. Mengapa hal ini bisa terjadi? Sebab mereka menerima pimpinan ROH KUDUS. Jadi, sangatlah wajar kalau apa yang mereka tulis tidak saling berbenturan, sebab semua menuju kepada karya Allah dalam Yesus Kristus, yaitu keselamatan umat manusia.

Kalau ada orang-orang yang sengaja membuat benturan antara satu ayat dengan ayat yang lain di dalam Alkitab dan menuduh Alkitab tidak unitas, sebenarnya ini adalah usaha mereka hendak merusak kewibawaan Alkitab, hal itu tidak perlu kita tanggapi sama sekali. Biasanya hal tersebut datang dari orang-orang yang tidak mengakui bahwa Yesus adalah Juruselamat. Serangan terhadap Alkitab sesungguhnya hanya untuk menentang adanya pengajaran bahwa hanya ada satu-satunya jalan keselamatan di dunia ini, yaitu Tuhan Yesus kristus (Kis. 4:12, Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” Yoh. 14:6, Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.)

Kalau kita menanggapi serangan-serangan dari berbagai pihak di luar gereja, maka hal tersebut membuat kita sendiri menjadi bodoh. Karena mereka melihat Alkitab dengan perspektifnya sendiri, yang tidak sesuai dengan cara yang benar dalam memandang Alkitab. Jika seseorang memandang Alkitab dengan cara demikian, maka mereka akan selalu menemukan data-data dan penjelasan yang seakan-akan bertentangan. Padahal jika seseorang memperhatikan dan menemukan inti atau esensi isinya -yaitu kebenaran yang harus dipahami- maka dapat terbangun pengertian kebenaran yang unitas dalam Alkitab yang sangat menakjubkan.

Semua yang tertulis di dalam Alkitab mengarah kepada
karya keselamatan Allah dalam Yesus kristus.

Hal ini tidak mungkin dilakukan manusia. Hanya Allah oleh Roh-Nya yang kudus dan berkuasa yang mampu mengerjakan semuanya. Ini adalah suatu mukjizat besar, sebab tidak ada buku yang memiliki keberadaan yang sangat luar biasa seperti ini, begitu tebal dan memuat banyak kebenaran tetapi mengarah kepada satu berita, yaitu keselamatan dalam Yesus kristus. Dengan jelas Alkitab menunjuk satu klimaks, yaitu karya keselamatan Allah dalam Yesus, tidak ada yang lain. Keselamatan ini dapat diterima dan dimiliki oleh manusia bukan karena memiliki perbuatan yang berdasarkan hukum, tetapi karena iman, dan iman timbul dari pendengaran oleh Injil. Oleh sebab itu untuk mengalami dan memiliki keselamatan seseorang harus mengerti Injil dengan benar.



October 25, 2018, 06:47:41 AM
Reply #2244
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2018/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17562/0/25-OKTOBER-2018-ALKITAB-ADALAH-FIRMAN-TUHAN-ATAU-BERISI-FIRMAN-TUHAN.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17562/1/25-OKTOBER-2018-ALKITAB-ADALAH-FIRMAN-TUHAN-ATAU-BERISI-FIRMAN-TUHAN.amr

25. ALKITAB ADALAH Firman Tuhan ATAU BERISI Firman Tuhan?


Pernah dipersoalkan dengan serius dalam masyarakat Kristen, sesungguhnya yang benar adalah Alkitab adalah Firman Tuhan atau Alkitab berisi Firman Tuhan? Dalam Pengakuan Iman suatu gereja tertulis Alkitab adalah Firman Tuhan. Untuk membedah masalah ini, harus dipersoalkan: Apa sebenarnya yang Firman Tuhan? Bukunya secara fisik? Huruf yang menyusun kata-kata? Kalimat yang menjadi ayat-ayat? Atau penjelasan dari kesimpulan-kesimpulan para penafsir yang juga menjadi rentetan khotbah-khotbah mereka? Hal ini menjadi persoalan yang harus ditanggapi dengan serius.

Kita mengakui bahwa Alkitab adalah Firman Tuhan, tetapi ternyata bidat-bidat atau aliran-aliran sesat dalam lingkungan Kristen juga mengakui demikian. Mereka juga membedah Alkitab dan mengakui bahwa mereka hidup berlandaskan Alkitab yang diakuinya juga sebagai Firman Tuhan.

Tidak dapat disangkal kenyataan bahwa ajaran-ajaran sesat yang merusak iman murni jemaat Kristen juga ajaran yang diakui sebagai dilandaskan kepada Alkitab
yang disebutnya sebagai Firman Tuhan.

Dengan hal ini maka terbuka kemungkinan ajaran-ajaran yang diakuinya sebagai berlandaskan Firman Tuhan, sebenarnya melawan kebenaran. Ini berarti tidak sedikit jumlah “pembicara” atau “nabi Tuhan” yang tanpa sadar melawan kebenaran, yaitu ketika mereka menyampaikan “Firman Tuhan” padahal apa yang dikemukakan bertentangan dengan prinsip kebenaran atau bukan Firman Tuhan.

Masalah penting di sini adalah bagaimana kita dapat menemukan kebenaran dari dalam Alkitab. Sebab ternyata dari dalam Alkitab orang bisa menarik kesimpulan dari apa yang dimengertinya sebagai kebenaran padahal bukan kebenaran. Alkitab adalah buku yang multi tafsir, artinya memiliki potensi untuk ditafsirkan sesuka hati penafsirnya. Sehingga masing-masing penafsir bisa mengklaim bahwa mereka mengajarkan Firman Allah yang murni. Bahkan mereka berani menyatakan bahwa apa yang diajarkan orang lain -yang tidak sesuai dengan apa yang diajarkan oleh mereka- adalah penyesatan. Mereka berani mengklaim sebagai yang paling benar.

Harus dimengerti bahwa Alkitab adalah buku yang ditulis dalam bungkus atau bahasa manusia yang keberadaannya berbeda sekali dengan zaman kita hari ini. Wahyu yang ditulis dalam Alkitab tidak ditulis secara mekanis. Secara mekanis artinya Alkitab ditulis oleh penulis yang hanya berfungsi sebagai mesin yang secara mekanis menulis wahyu atau pengilhaman dari Tuhan. Inisiatif dan keaktifan mutlak ada pada Tuhan. Di sini keterlibatan dan peran manusia hampir tidak ada. Manusia seperti orang “kesurupan” yang menulis secara mekanis dan otomatis segala hal yang Tuhan kehendaki untuk ditulis.

Harus diingat cara penulisan Alkitab tidak sama dengan penulisan kitab-kitab dalam agama-agama tertentu, dimana “wahyu” yang mereka terima diberikan “allah” secara mekanis. Alkitab tidak demikian ini. Seperti misalnya Injil Lukas dan Kisah Rasul ditulis oleh Lukas setelah melalui “penyelidikan” dan kemudian dituliskannya kepada sahabatnya Theofilus. Dalam awal tulisannya ia berkata: Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu (Luk. 1:3). Dalam Injilnya, Lukas dapat menemukan kisah masa kecil Tuhan Yesus, tetapi Injil lain kurang.

Selanjutnya kita menemukan bahwa ternyata kemampuan menulis masing-masing penulis berbeda. Kemampuan menggunakan bahasa, menjelaskan suatu pemikiran, menganalisa sesuatu pun berbeda-beda. Misalnya Paulus sangat cakap menjelaskan hal taurat dan budaya Yahudi, tetapi Petrus tidak menyinggungnya secara mendalam. Bahkan karena Petrus bukan seorang terpelajar seperti Paulus, maka dalam menulis Injilnya ia menggunakan tenaga dan keahlian Markus, salah satu dari pengikut Kristus yang menjadi muridnya.

Dalam meneliti Alkitab, fakta-fakta ini harus diperhitungkan dengan sangat serius, guna memperoleh kebenaran yang terkandung di dalam tulisan mereka. Di sini dibutuhkan sebuah kerja keras untuk menggali Alkitab dengan kaidah-kaidah hermeneutik dan eksegesis (ilmu menafsir) yang baik. Memahami Alkitab seperti melakukan sebuah pekerjaan penyulingan atau mengekstrak sesuatu. Firman Tuhan adalah inti atau ekstrasi dari yang tertulis dalam Alkitab.



October 26, 2018, 06:51:11 AM
Reply #2245
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2018/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17570/0/26-OKTOBER-2018-MENEMUKAN-INTI-ATAU-EKSTRAKSINYA.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17570/1/26-OKTOBER-2018-MENEMUKAN-INTI-ATAU-EKSTRAKSINYA.amr

26. MENEMUKAN INTI ATAU EKSTRAKSINYA


Alkitab ditulis dengan melibatkan pikiran, perasaan manusia, kemampuannya berinteraksi dengan Tuhan dan lingkungan, budaya dan lingkungan hidup yang semuanya berbeda jauh dengan keadaan kita hari ini. Dengan demikian Alkitab bagai sebuah hutan belantara yang harus dikenali dengan benar jalan-jalannya. Ada beberapa faktor penting yang harus diperhatikan:
Pertama, kita harus belajar sungguh-sungguh memahami pola berpikir para penulis Alkitab. Harus diingat bahwa Alkitab ditulis dalam kurun 1.500 tahun oleh sekitar 40 penulis.
Kedua, budaya dan lingkungan hidup mereka pada waktu wahyu Tuhan tersebut ditulis. Alkitab ditulis dalam bungkus budaya Yahudi purba, karenanya kita harus belajar budaya mereka pada waktu itu.
Ketiga, dalam rangka apa suatu kitab ditulis, apa hubungannya dengan penulis dan manusia lain pada waktu itu dan lain sebagainya.

Seperti misalnya sebuah nubutan ditujukan kepada suatu bangsa, kita tidak boleh mengambil alih nubuatan itu untuk diri kita atau orang lain. Misalnya teks yang berbunyi: Pada waktu itu engkau akan heran melihat dan berseri-seri, engkau akan tercengang dan akan berbesar hati, sebab kelimpahan dari seberang laut akan beralih kepadamu, dan kekayaan bangsa-bangsa akan datang kepadamu (Yes. 60:5). Nubuatan ini ditujukan kepada bangsa Israel, bukan kepada semua orang Kristen. Kalau untuk tempat tertentu dan pada waktu tertentu ayat ini “dipinjam” untuk orang Kristen, mungkin bisa saja. Tetapi kemungkinannya sangat kecil.

Jadi, ayat tersebut tidak berlaku bagi semua orang Kristen dan di sepanjang zaman. Bagi orang Kristen yang hidup di negara dimana Injil diterima seperti di negara-negara Barat, orang Kristen dapat hidup makmur, kekayaan negara-negara jajahan diangkut oleh mereka. Tetapi di banyak tempat di mana Kekristenan ditolak atau masyarakatnya miskin, maka relaisasi ayat ini sangat jauh. Apakah kalau sudah demikian berarti Tuhan tidak konsekuen? Tentu tidak. Yang salah adalah kesalahan tafsir terhadap ayat tersebut. Kesalahan bukan terletak pada Tuhan.

Masing-masing kitab harus ditafsirkan menurut sifatnya, sejarah, nubuat, syair, amsal, Injil, surat dan wahyu. Kitab yang berisi syair yang penuh dengan gaya bahasa simbolis atau figuratif tidak bisa diartikan secara harafiah. Demikian pula dengan wahyu yang sering diungkapkan dengan simbol-simbol tidak boleh diartikan secara hurufiah. Kuda, singa, naga dan lain-lain mengandung makna tertentu, bukan dalam arti hurufiah. Untuk ini kita harus mengartikannya dengan teliti dan hati-hati. Harus diingat bahwa Alkitab bukan teka-teki.

Adalah lebih lengkap lagi bila mengerti bahasa asli yang digunakan menulis Alkitab. Bahasa asli Alkitab bertalian dengan maksud penulis. Misalnya dalam Alkitab bahasa Yunani Koine (bahasa asli Perjanjian Baru) terdapat dua kata yaitu “alitheia” dan “dikaosune” (Yoh. 14:6 dan Mat. 5:20), dua-duanya diterjemahkan “kebenaran”, padahal masing memiliki muatan pengertian yang berbeda. Contoh lain misalnya dalam Alkitab bahasa Yunani Koine terdapat dua kata “dedoulotetai” dan “dedetai” (1Kor. 7:15 dan 1Kor. 7:27,39) dua-duanya diterjemahkan “terikat”. Padahal masing-masing memiliki muatan pengertian yang berbeda, yang satu terikat secara “perbudakan” bukan secara legal, tetapi yang satu terikat secara legal atau secara hukum.

Sebaliknya, dalam Alkitab kita menemukan satu kata yaitu “latreia” tetapi di dalam Alkitab Bahasa Indonesia yang satu diterjemahkan berbakti dan yang lain diterjemahkan ibadah. Dengan demikian jelas dapat dimengerti bahwa Alkitab dipahami sebagai Firman Tuhan tergantung dari “cara menafsir” atau tergantung “mengolahnya”. Bila salah mengolah, maka Alkitab tidak menjadi Firman Tuhan, sebaliknya menjadi alat melawan kebenaran. Hal ini terjadi tanpa disadari oleh jemaat bahkan si “pemberita Firman”. Dalam hal ini yang sangat dibutuhkan ada dua faktor:
Pertama, ROH KUDUS yang membuka pengertian. Untuk ini seorang yang menggali Alkitab harus bergantung kepada pimpinan Roh-Nya.
Kedua, kerja keras belajar menggali kekayaan Alkitab melalui literatur yang tersedia, di dalamnya termasuk mengerti prinsip menafsir yang benar. Akhirnya tidak terlalu dipersoalkan apakah Alkitab berisi Firman Tuhan atau Alkitab adalah Firman Tuhan, yang penting adalah bagaimana mengerti isi Alkitab sehingga ditemukan “butir-butir” kebenaran Firman Tuhan tersebut. Ini adalah usaha menemukan inti atau ekstraksinya.

Firman Tuhan dalam Alkitab adalah intinya atau ekstraksinya.



October 27, 2018, 05:53:08 AM
Reply #2246
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2018/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17572/0/27-OKTOBER-2018-PENGENALAN-AKAN-ALLAH.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17572/1/27-OKTOBER-2018-PENGENALAN-AKAN-ALLAH.amr

27. PENGENALAN AKAN ALLAH

Pemberitaan kebenaran merupakan hal yang utama dan penting dalam pelayanan gereja Tuhan. Hal ini ditunjukkan oleh berita dalam Kisah Rasul 6:1-2. Para rasul Tuhan perlu mengutamakan pelayanan pemberita Firman, karenanya pelayanan diakonia perlu diserahkan kepada orang lain. Hal itu dimaksudkan agar para rasul dapat memberi perhatiannya kepada pemberitaan Firman.

Alkitab berkata bahwa umat-Nya binasa karena tidak mengenal Allah (Hos. 4:6).
Kata “binasa” dalam salah satu terjemahan Alkitab bahasa Inggris diterjemahkan: destroyed. Kata ini teks aslinya dari akar kata “dama” yang dapat diterjemahkan selain “to destroy” juga dapat dimengerti sebagai “be cut down, to be dumb. Kalimat “karena tidak mengenal” dalam teks lain disebutkan “kekurangan dalam mengenal Tuhan” (lack of knowledge). Mereka binasa bukan karena dosa-dosa fisik seperti yang sering disebut-sebut atau dikenal secara umum, tetapi karena tidak atau kurang mengenal Tuhan. Dari pernyataan Hosea ini jelaslah dapat ditemukan peran pengenalan akan Tuhan dalam kehidupan umat yang sangat besar, sebab kurang atau tidaknya pengenalan akan Tuhan dapat membinasakan umat. Pengenalan akan Tuhan merupakan pilar penting bangunan kehidupan iman orang percaya.

Dalam Yohanes 17:3, Tuhan Yesus berujar: Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. Kata “hidup kekal” bukan hanya berbicara mengenai “panjangnya hidup” sebab bukan hanya di surga ada kekalan di neraka pun juga kekal. Tetapi hidup kekal juga berbicara mengenai “dalamnya hidup”, mutu atau kualitas hidup. Dengan demikian jelaslah bahwa pengenalan akan Tuhan menentukan kualitas hidup manusia. Itulah sebabnya Petrus di akhir suratnya berharap dan menghimbau agar orang percaya bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan: Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. BagiNya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya (2Ptr. 3:18). Apa yang menandai kualitas hidup kita ditingkatkan. Untuk mengerti relasional bahwa pengenalan akan Tuhan menentukan kwalitas hidup umat Tuhan, dapat dijelaskan dalam butir-butir berikut:
Pertama, pengenalan akan Tuhan melepaskan beban kehidupan (Mat. 11:28). Terdapat “undangan kelegaan” dari Tuhan Yesus bagi mereka yang berlelah. Undangan kelegaan ini sering dipahami secara miskin sehingga kebenaran ayat ini tidak terwujud dalam kehidupan. Untuk memahami ayat ini hendaknya kita memperhatikan konteksnya, yaitu ayat sebelum dan sesudahnya (Mat. 11:25-27). Ternyata Tuhan Yesus berbicara mengenai pengenalan akan Tuhan.

Hendaknya kita tidak mensimplifikasi kebenaran atau menyederhanakannya
sehingga kehilangan maksud kebenaran ayat tersebut.

“Marilah kepadaKu, …. kamu akan beroleh kelegaan”, kalimat ini simpel atau sederhana sekali. Tetapi di balik kalimat ini ada proses atau mekanismenya. Dari “letih lesu dan berbeban berat” sampai “memperoleh kelegaan” terdapat proses atau mekanisme. Ternyata kunci proses atau mekanisme adalah mengenal Bapa dan Anak.

Bila kita analisa secara jujur dan teliti, ternyata terdapat proses untuk menerima ketenangan jiwa. Kata kelegaan (Yun.anapauso) dalam ayat 28 ternyata juga terdapat dalam ayat 29 yang dalam teks bahasa Indonesia diterjemahkan “ketenangan jiwa”. Proses atau mekanisme itu terletak pada kata “belajar pada-Ku”. Kata belajar harus dikaitkan dengan konteks pembicaraan Tuhan di Matius 11:25-27, perlu dicamkan kalimat “dinyatakan kepada orang kecil”, apa yang dinyatakan? rahasia tentang “pengenalan akan Bapa dan Anak”.

Selama ini banyak orang memahami “terlepas dari beban dan memperoleh kelegaan” dengan pemahaman yang tidak tepat, yaitu cukup memberikan penumpangan tangan maka “everything is running well”, segala sesuatu berjalan dengan baik atau menjadi beres. Pola ini akan mendidik jemaat tidak bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan tidak bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan sampai ia dapat mandiri. Ini bukan berarti praktik penumpangan tangan untuk orang yang terbeban atau dalam masalah merupakan praktik pelayanan yang keliru. Penumpangan tangan berdoa untuk orang yang terbeban atau bermasalah bukanlah penyelesaian fundamental dan permanen. Penumpangan dapat memberikan kelegaan sesaat atau mengawali sebuah pemulihan atau kelegaan, yang pada hakikatnya harus disertai dengan pertumbuhan pengenalan akan Tuhan.


October 29, 2018, 06:23:07 AM
Reply #2247
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2018/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17577/0/29-OKTOBER-2018-PENGERTIAN-INJIL.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17577/1/29-OKTOBER-2018-PENGERTIAN-INJIL.amr

29. PENGERTIAN INJIL


Kata Injil merupakan terjemahan dari bahasa Yunani euanggelion. Kata eu berarti indah dan anggelion berarti berita. Kata euanggelion sebenarnya pada mulanya berarti a reward for good tidings. Dalam perkembangannya kata a reward dihilangkan, menjadi the good news (kabar baik) atau good message. Kata euaggelion bertalian dengan kata kerja euanggelizo, yang berarti to bring or announce glad tidings.

Apa sebenarnya Injil itu? Banyak orang hanya memahami Injil sekadar kabar baik, tanpa memahami maksud kabar baik tersebut. Untuk memahami pengertian Injil secara benar, terlebih dahulu harus memahami maksud kata baik di sini. Harus dipersoalkan baik menurut siapa dan baik yang bagaimana. Tentu pengertian baik harus dari perspektif Tuhan, bukan dari sudut manusia.

Manusia dalam segala keterbatasannya tidak tahu apa yang baik. Apa yang dipandang baik sering ternyata bukan sesuatu yang baik (Pkh. 6:12). Seperti misalnya kebodohan orang-orang Yahudi pada zaman Yesus, memahami apa yang baik, mengakibatkan kegagalan menerima kabar baik dari Sang Mesias. Mereka tidak memahami misi utama kedatangan Yesus Kristus, itulah sebabnya mereka hendak mengangkat Yesus jadi Raja menurut konsep mereka (Yoh. 6:15). Dengan tindakan itu mereka beranggapan akan memperoleh sesuatu yang baik, tetapi ternyata tidak.

Petrus mewakili murid-murid-Nya mencegah Tuhan Yesus pergi ke Yerusalem. Bagi mereka penyaliban Yesus adalah malapetaka, sebagai reaksi-Nya Tuhan Yesus menghardik Petrus dengan kata: Hai iblis, enyahlah dari pada-Ku (Mat. 16:23). Tuhan Yesus menolak apa yang dipandang baik oleh mereka, sebab apa yang dipandang mereka baik sesungguhnya bukan sesuatu yang baik. Sikap seperti ini pun ada di dalam kehidupan orang Kristen hari ini.

Selanjutnya harus ditemukan apakah yang baik menurut pandangan Tuhan bagi manusia? Menurut Tuhan yang baik adalah keselamatan. Persoalannya kemudian adalah apakah keselamatan itu? Keselamatan bukan hanya terhindar dari neraka dan diperkenankan masuk surga. Terhindar dari neraka dan diperkenankan masuk surga adalah buah dari keselamatan, bukan keselamatan itu sendiri. Keselamatan adalah usaha Tuhan untuk memulihkan manusia segambar dengan Diri-Nya dan Injil adalah sarananya, sebab Injil adalah kekuatan Allah (Rm. 1:16).

Paulus dalam Galatia 6:1-10, menunjukkan adanya pemberitaan Injil yang sebenarnya bukan Injil, Alkitab menyebutnya “Injil yang lain” (Yun.eis heteron euanggelion; a different gospel). Paulus mengatakan Injil jenis itu “sesungguhnya bukan Injil”. Inilah cara kerja Iblis yang menyesatkan. Dalam 2 Korintus 11:2-4 ditunjukkan kenyataan adanya pikiran jemaat yang disesatkan dari kesetiaan yang sejati kepada Kristus oleh “Injil yang lain” tersebut.

Bagi orang-orang yang baru menjadi Kristen, mereka tidak mampu membedakan manakah Injil yang benar dan yang tidak benar. Demikian pula orang-orang Kristen yang hidup Kekristenannya tidak bertumbuh selama bertahun-tahun, mereka juga tidak mampu mengenali adanya “Injil yang lain” tersebut. Hal ini terbukti dengan berbondong-bondongnya banyak orang Kristen yang sudah lama tertanam di gereja mainstream (gereja yang sudah permanen), pindah ke gereja-gereja yang mengajarkan Injil yang sebenarnya bukan Injil.

Menanggapi adanya “Injil yang sesungguhnya bukan Injil”, orang percaya harus waspada. Dalam 2 Korintus 11:2-4, dikatakan bahwa penyesatan atas orang percaya sama dengan tipuan Iblis kepada Hawa. Keberhasilan Iblis menjatuhkan manusia ternyata dengan menyesatkan pikirannya, yaitu melalui informasi yang bertentangan dengan kebenaran yang disuntikkan ke dalam pikiran manusia, maka tewaslah ia.

Dalam Galatia 1:8-9 dikatakan bahwa kalau ada yang memberitakan Injil yang lain baik malaikat mapun manusia “terkutuklah dia”. Dengan pernyataan ini, menunjukkan betapa berbahayanya “Injil lain”. Injil yang lain inilah yang dapat mengakibatkan orang percaya meleset dari panggilan Allah. Berkaitan dengan hal ini Alkitab tegas memperingatkan: Jangan mengajarkan ajaran lain (1Tim. 1:3). Ajaran lain di sini sama dengan Injil.



October 30, 2018, 05:48:10 AM
Reply #2248
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2018/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17579/0/30-OKTOBER-2018-INJIL-YANG-BENAR.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17579/1/30-OKTOBER-2018-INJIL-YANG-BENAR.amr

30. INJIL YANG BENAR

Bagaimana Injil yang benar itu? Injil yang benar tertulis dalam kitab Matius, Markus, Lukas, Yohanes dan Injil yang telah diberitakan oleh Paulus. Untuk memahami Injil yang diberitakan Paulus, perlulah mendalami surat-surat Paulus yang tertulis dalam Alkitab. Di dalamnya memuat apa yang Tuhan ajarkan kepada mereka yang harus diteruskan kepada orang percaya di sepanjang abad. Jadi bila seorang pembicara salah mengartikan isi Alkitab, itu berarti ia memberitakan Injil yang lain. Injil yang benar adalah semua kebenaran yang termuat dalam Alkitab.

Bagaimana dapat memahami Injil yang benar kalau tidak memahami isi Alkitab? Memang sebelum ada kitab Perjanjian Baru, murid-murid Tuhan Yesus belajar langsung dari Tuhan. Tetapi setelah ada Alkitab orang percaya yang hendak mengenal Injil yang benar harus belajar dari Alkitab. Tidak ada saluran lain yang diajarkan Tuhan selain Alkitab. Hal ini ditegaskan Tuhan Yesus dengan ucapan-Nya: Ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang kuperintahkan kepada-Mu. Jadi bukan Tuhan Yesus sendiri secara langsung, murid-murid-Nyalah yang meneruskan pengajaran-Nya, dan pengajaran Tuhan tersusun dalam Alkitab ini.

Tuhan Yesus Kristus tatkala memberitakan Injil di bumi selama 3,5 tahun, sebagian besar waktu-Nya digunakan untuk mengajar (Mat.4:23; 9:35; 26:55; Luk. 19:47 dll). Paulus pun dalam perjalanan pelayanannya mengajarkan “Injil” di mana-mana dengan mengajar. Mengajarkan Injil artinya menjelaskan kebenaran Allah secara mendalam dan luas. Pengajaran Yesus memiliki jelajah yang luas dan dalam. Jadi misi Injili adalah pemberitaan Injil yang benar dengan mengjajarkan sepenuh isi Alkitab kepada umat manusia.

Memberitakan Injil sama dengan mengajarkan kebenaran Alkitab secara lengkap. Hal ini dibuktikan dengan pernyataan Paulus dalam seluruh tulisannya dan kitab Ibrani. Dalam Ibrani 6:1-2, disebutkan tentang asas-asas pertama dan ajaran tentang Kristus, selanjutnya ada ajaran lanjutan. Oleh sebab itu, kalau mau mengerti ajaran Injil yang benar, orang percaya harus tekun belajar dengan sungguh-sungguh dan membutuhkan waktu panjang. Tentu belajar dari orang yang mengerti ajaran tentang Injil Yesus Kristus tersebut dengan benar.

Selanjutnya, ajaran yang benar akan membuahkan “roh” dalam arti semangat atau gairah (Spirit) hidup yang benar. Injil yang benar akan menciptakan manusia rohani yang hatinya ada di surga (Mat. 6:21-22). Injil artinya kabar baik. Baik yang bagaimana? Kalau baiknya diarahkan kepada hal-hal dunia, maka itu berarti penyesatan. Sebab hal-hal dunia atau fasilitas dunia juga bisa diberikan Iblis (Luk. 4:4-8). Kata “baik” dari kata eu (Yunani) di sini adalah menyangkut “kebenaran”, damai sejahtera dan sukacita oleh ROH KUDUS (Rm. 14:17).

Jemaat harus dilepaskan dari Injil yang sesat (berorientasi kepada pemenuhan kebutuhan jasmani semata-mata) dengan kuasa kebenaran Injil, yaitu kebenaran yang termuat dalam Alkitab secara benar. Inilah yang dimaksud bahwa Firman-Nya menguduskan (Yoh. 17:17). Kenyataan hari ini jemaat lebih diarahkan kepada kepentingan fisik pemenuhan kebutuhan jasmani daripada batiniahnya yang harus terus menerus diperbaharui. Menjadi orang percaya berarti telah dibawa kepada habitat baru, yaitu habitat warga Kerajaan Surga. Dalam hal ini orang percaya harus berani meninggalkan dunia dengan segala konsepnya agar dapat menjadi umat Kerajaan Allah yang baik.

Gereja yang benar adalah gereja yang sungguh-sunguh membawa umat Tuhan
kepada “perkara-perkara yang di atas”.

Inilah yang membedakan orang percaya dengan bangsa Israel secara lahiriah. Mereka berorientasi kepada hal-hal dunia, makan minum, kawin mengawinkan, kesehatan dan lain sebagainya, sehingga mengabaikan hal-hal rohani yang seharusnya menjadi perhatian utama. Dengan uraian ini bukan berarti kita tidak membutuhkan pemenuhan kebutuhan jasmaniah. Orang percaya memang membutuhkannya, tetapi hal-hal tersebut bukanlah tujuan utama kehidupan. Belakangan ini masih dijumpai begitu banyak orang Kristen yang menjadikan hal-hal duniawi tersebut sebagai tujuan utama kehidupan.



October 31, 2018, 06:00:22 AM
Reply #2249
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2018/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17581/0/31-OKTOBER-2018-RHEMA-DAN-LOGOS.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17581/1/31-OKTOBER-2018-RHEMA-DAN-LOGOS.amr

31. RHEMA DAN LOGOS
 

Keselamatan tidak dapat dipisahkan dari Firman Tuhan. Dalam Roma 1:16 ini sangat jelas menunjukkan bahwa Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan. Dikuduskan oleh Firman artinya dengan kuasa Firman Tuhan yang dipahami, maka seseorang dapat didewasakan agar tidak lagi hidup dalam dosa, tetapi hidup sesuai dengan kehendak Allah. Firman Tuhan menguduskan artinya Firman Tuhan menghindarkan manusia dari berbuat jahat (Yoh. 17:14-17). Tentu manusia yang harus tekun belajar kebenaran Firman Tuhan, sebab kalau seseorang tetap dalam Firman barulah ia dapat dimerdekakan (Yoh. 8:31-32). Dimerdekakan di sini maksudnya adalah dibebaskan dari kecenderungan berbuat dosa. Bagaimana proses kemerdekaan itu berlangsung?

Menjawab pernyataan di atas kita harus memahami dan dapat membedakan pengertian Firman dalam arti Logos dan Rhema. Pada waktu seseorang mendengar Firman Tuhan, cara berpikirnya diubah dengan pengajaran yang diajarkan secara penalaran atau kognitif. Dalam hal ini Firman (logos) menjadi pengertian di dalam pikirannya. Logos adalah Firman yang dipahami di dalam pikiran melalui pengajaran yang didengar. Misalnya seseorang mendengar Firman: Kasihilah musuhmu. Ini bukan berarti seseorang sudah bisa mengasihi musuh. Pengertiannya mengenai mengasihi musuh belum tentu dapat diperagakan atau dilakukan. Untuk itu seseorang harus mengalami secara konkret atau riil bagaimana dimusuhi seseorang. Pada waktu dalam pergumulan dimusuhi tersebut, ROH KUDUS akan mengingatkan perkataan Tuhan. Di sini Firman (logos) yang sudah dipahami secara akal pikiran diterjemahkan secara konkret dalam kenyataan hidup. ROH KUDUS akan berbicara kepada orang tersebut. Perkataan Tuhan inilah yang disebut sebagai Rhema.

Dalam kasus-kasus tertentu dan untuk orang-orang tertentu (bagi mereka yang mengasihi Tuhan), Tuhan memroses pengudusan melalui peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan (Rm. 8:28). Semua ini dilakukan oleh Tuhan, khususnya untuk mereka yang merasa perlu dan sungguh-sungguh bersedia menerima didikan atau pukulan dari Allah (Ibr. 12:7-9).

Tidak ada pendewasaan tanpa pengalaman dalam kehidupan nyata setiap hari.

Memang proses ini tidak menyenangkan bahkan tidak jarang yang menyakitkan, tetapi Tuhan melalui segala pengalaman-pengalaman riil tersebut hendak membersihkan karakter dosa kita. Dalam hal ini Bapa mendidik kita melalui Roh-Nya. Inilah yang dimaksud dikuduskan oleh Roh Allah. Oleh pekerjaan atau pimpinan roh seseorang dimungkinkan untuk memiliki ketaatan kepada Bapa. Jadi, bukan dengan kuat dan gagah seseorang daapat melakukan atau mencapai kesucian seperti yang dikehendaki oleh Allah, tetapi oleh Roh Allah yang menolong orang percaya. Roh Allah adalah fasilitas keselamatan yang disediakan guna membawa orang percaya kepada kesempurnaan Allah.

Kalau kata “dikuduskan” ini dihubungkan dengan pernyataan Tuhan Yesus bahwa Ia menguduskan Diri-Nya, supaya orang percaya dikuduskan dalam kebenaran (Yoh. 17:18), maka berarti Tuhan Yesus berusaha untuk taat agar bisa menggenapi rencana Allah. Tuhan Yesus sendiri harus bergumul untuk bisa mencapai kesempurnaan. Ia tidak mencapainya dengan mudah. Ia harus bergumul hebat. Hal itu dilakukan agar setelah ia mencapai kesempurnaan, Ia dapat menjadi teladan bagi orang percaya dan Allah memakai-Nya sebagai alat keselamatan. Demikian pula orang percaya dapat dikuduskan dengan kebenaran supaya bisa dipakai oleh Bapa (Yoh. 17:19). Dalam Ibrani 5:8-9 tertulis: “Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang diderita-Nya, dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya”. Setelah Tuhan Yesus menyelesaikan tugas penyelamatan-Nya, Ia menjadikan manusia untuk dikuduskan dan dipakai oleh Bapa, sebagaimana Diri-Nya sendiri juga telah mengalaminya. Paulus juga dikuduskan untuk ini, yaitu menjadi alat dalam tangan Tuhan untuk menggenapi rencana Allah (Rm. 1:1).

Dalam hal ini jelas sekali bahwa pengudusan Tuhan bukan hanya berhenti dimana orang percaya dipindahkan statusnya dari orang berdosa menjadi anak, juga bukan sekadar diperbaiki karakternya, tetapi juga direncanakan untuk menjadi alat dalam tangan Bapa guna menggenapi rancana-Nya. Rencana Bapa adalah membinasakan pekerjaan Iblis (1Yoh. 3:8). Hal ini sejajar dengan pengertian kudus dalam bahasa Ibrani qadhos, yang artinya dipisahkan dari yang lain untuk digunakan.



 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)