Author Topic: Rehobot Literature Ministries  (Read 115296 times)

0 Members and 2 Guests are viewing this topic.

January 01, 2019, 06:06:46 AM
Reply #2310
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22603
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2018/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17809/0/01-JANUARI-2019-HIDUP-YANG-TRAGIS.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17809/1/01-JANUARI-2019-HIDUP-YANG-TRAGIS.amr

Kehidupan manusia yang tidak lagi sesuai dengan rancangan Allah adalah kehidupan yang tragis. Mengapa demikian? Pertama,karena manusia harus mengalami kematian. Apa pun prestasi yang dapat dicapai oleh manusia akhirnya akanada ujungnya atau berakhir.Berapapun kekayaan yang dimiliki seseorang juga akan lenyap. Kecantikan maupun penampilan gagah bagaimanapun ada ujung akhirnya. Cinta persaudaraan antar sesama, persahabatan, ikatan keluarga juga akan berakhir. Kedua, karena karakter manusia yang rusak tidak memungkinkan manusia dapat menikmati ciptaan Tuhan secara proporsional atau secara maksimal. Ketiga, segala sesuatu akan berakhir.Inilah yang membuat hidup menjadi tragis.Itulah sebabnya Tuhan menuntun orang percaya di jalan kebenaran agar dapat memiliki kehidupan di dunia lain yang sempurna, yaitu di langit baru dan bumi yang baru. Dunia yang tidak sama dengan dunia yang dihuni manusia hari ini.

Oleh sebab itu, hendaknya orang percaya tidak berupaya membangun Firdaus di bumi ini. Kalau seseorang masih berkeras hati membangun Firdaus di bumi ini, maka pasti tidak akan pernah dapat mengikuti jalan Tuhan yang diajarkan oleh Tuhan di dalam Injil. Segala sesuatu yang diajarkan oleh Tuhan di dalam Injil mempersiapkan umat pilihan untuk mewarisi Kerajaan yang akan datang, Kerajaan di mana Tuhan Yesus Kristus menjadi Rajanya. Orang percaya harus bertumbuh menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus, serta menderita bersama-sama dengan Yesus agar dilayakkan mewarisi Kerajaan tersebut bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Sesungguhnya inilah sebenarnya isi Kekristenan.

Kekristenan sama sekali tidak mengarahkan manusia kepada pemenuhan kebutuhan jasmani. Kekristenan sama sekali tidak mengarahkan manusia untuk menikmati hidup dibumi ini seperti manusia pada umumnya. Kekristenan mengarahkan setiap individu yang menerima Yesus sebagai Tuhan untuk mengalami perubahan cara berpikir dan perubahan gaya hidup, dimana target yang harus dicapai adalah sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Sehingga orang percaya dapat dimuliakan bersama sama denganTuhan Yesusdi dalam Kerajaan yang akan datang nanti, yaitu Kerajaan yang Allah Bapa telah sediakan baik bagi Yesus Tuhan maupun bagi orang percaya yang menderita bersama-sama dengan Dia.Jadi, betapa rusaknya Kekristenan seseorang kalau Kekristenan dijadikan sarana untuk pemenuhan kebutuhan Jasmani.

Kalau melihat kehidupan bangsa Israel, jelas sekali orientasi hidup mereka adalah berkat jasmani. Orientasi hidup bangsa Israel adalah perkara-perkara yang bersifat materi; seperti tanah yang subur, negeri yang berlimpah susu dan madu, kejayaan lahiriah, kemuliaan duniawi. Nuansa seperti ini tidak boleh dihadirkan dalam kehidupan orang percaya. Kekristenan tidaklah demikian. Kekristenan mengarahkan orang percaya untuk mencapai kesempurnaan hidup seperti Bapa atau keserupaan dengan Yesus. Semua itu dimaksudkan agar orang percaya dilayakkan menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga.

Hidup ini benar-benar tragis sebab pada akhirnya semua yang dicapai manusia di dalam hidup ini harus dilepaskan. Orang-orang yang dikasihi dan yang mengasihi harus ditinggalkan atau meninggalkan. Betapa menyedihkan pada waktu seseorang harus melepaskan orang yang dia cintai, yaitu ketika masuk ke dalam peti mati atau masuk ke dalam liang kubur. Benar-benar sangat tragis. Semua kepuasan hidup dan semua kesenangan akan lenyap seperti uap, dan pasti akan layu seperti bunga rumput pagi yang pada pagi hari merekah indah dan elok, tetapi pada sore harinya telah layu dan dibuang.

Kalau datang ke sebuah kuburan atau tempat pemakaman, maka dapat dihayati betapa fananya hidup manusia. Membaca nama-nama orang yang telah meninggal, yang selagi masih hidup adalah orang-orang hebat, sekarang menjadi tidak ada artinya sama sekali. Betapa menyedihkan. Orang percaya bisa bersyukur karena mengenal jalan Tuhan yang mempersiapkan orang percaya memasuki kehidupan yang lebih baik, yaitu kehidupan kekal di langit baru bumi baru. Oleh sebab itu sesuai dengan Firman Tuhan dalam Kolose 3:1-4 orang percaya harus mencari perkara-perkara yang di atas, bukan yang dibumi. Pikiran harus ditujukan kepada perkara-perkara yang di atas, bukan yang dibumi.



January 02, 2019, 06:02:13 AM
Reply #2311
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22603
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2019/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17811/0/02-JANUARI-2019-AKHIR-PERJALANAN-HIDUP.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17811/1/02-JANUARI-2019-AKHIR-PERJALANAN-HIDUP.amr

02. AKHIR PERJALANAN HIDUP
  1 January 2019 | Renungan Harian
AKHIR-PERJALANAN-HIDUP Download (35)
AKHIR-PERJALANAN-HIDUP Download (17)

Banyak orang lupa bahwa suatu saat jantungnya akan berhenti berdetak, nadinya akan berhenti berdenyut. Suatu hari setiap insan tidak akan lagi dapat menikmati fajar pagi yang merekah di ufuk timur. Suatu saat setiap insan tidak akan dapat lagi menikmati manisnya madu dibumi ini, indahnya pemandangan alam, lezatnya makanan, dan lain sebagainya. Hal ini merupakan fakta kehidupan yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun. Banyak orang melupakan realitas ini, sehingga mereka berperilaku seakan-akan masih akan dapat hidup seribu tahun atau bahkan lebih. Mereka berperilaku seakan-akan tidak akan pernah mengalami kematian. Orang-orang seperti ini tidak memiliki sikap berjaga-jaga untuk menghadapi pengadilan Tuhan.

Harus diingat bahwa bagaimanapun, setiap kata yang diucapkan, setiap keputusan dan pilihan, serta segala tindakan harus diperhadapkan dihadapan pengadilan Kristus (2Kor. 5:10). Kebenaran ini harus digoreskan didalam jiwa dan pikiran setiap orang percaya bahwa setiap insan pasti akan sampai pada ujung perjalanan hidup ini. Tidak ada seorangpun tahu kapan akhir perjalanan hidupnya;bisa kapan saja. Bukan tidak mungkin tinggal beberapa jam ke depan. Pastinya, tidak seorangpun tahu kapan ujung hari hidup masing-masing.

Baru-baru di berbagai media media cetak dan media elektronik memuat berita mengenai kecelakaan pesawat komersial dengan hampir 200 korban jiwa melayang. Mereka yangada di dalam pesawat tersebut, pasti tidak pernah memikirkan atau membayangkan bahwa perjalanan mereka kali itu adalah perjalanan yang terakhir. Biasanya yang mereka pikirkan dan bayangkan adalah perjalanan yang menyenangkan dan mereka dapat selamat sampai tempat tujuan. Tetapi ternyata mereka tidak pernah sampai tempat tujuan, bahkan sebagian jasad mereka belum ditemukan atau tidak akan pernah ditemukan.

Harus disadari bahwa tempat pembaringan terakhir dimana seseorang mengakhiri hidupnya berbeda-beda. Tempat pembaringan terakhir bisa ada di rumah, bisa ada di kursi pesawat,bisa di aspal jalanan, di rumah sakit, dan lain sebagainya. Tidak seorangpun tahu dimana tempat akhir seseorang menghembuskan nafas. Tidak ada orang yang dapat memilih pembaringan terakhirnya, kecuali mereka yang bunuh diri.

Tetapi sebenarnya, tempat akhir perjalanan hidup seseorang bukanlah di pembaringan di tempat tidur rumah, bukan di kursi pesawat, juga bukan di aspal jalanan, juga bukan di rumah sakit. Pembaringan terakhir tersebut hanya akhir perjalanan fisik tubuh jasmani. Kehidupan dan kesadaran seseorang tidak berakhir di kuburan di bumi ini, tetapi sejatinya ada kelanjutan kehidupan di balik kubur. Tempat akhir perjalanan hidup seseorang adalah surga kekal atau neraka kekal.

Kalau seseorang menyadari bahwa perjalanan hidup ini ada ujungnya, maka ia akan mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk menyongsong kekekalannya. Oleh sebab itu selagi masih hidup di bumi, hendaknya orang percaya berusaha hidup berkenan di hadapan-Nya. Sehingga ketika menghadaptakhta pengadilan Kristus, iadapat dilayakkan masuk ke dalam keluarga Kerajaan Surga; di mana orang percaya memperoleh kebahagiaan abadi yang tiada dapat dibayangkan sekarang. Kalau seseorang tidak menghayati bahwa perjalanan hidup ini ada ujungnya, kemudian semena-mena dalam menjalani hidup ini; sombong, serakah, dan melakukan berbagai kejahatan tanpa memiliki perasaan takut kepada Tuhan yang hidup, tentu saja akan terbuang ke dalam api kekal. Orang yang tidak menghayati bahwa perjalanan hidup ini ada ujungnya, pasti tidak akan mempersiapkan diri dengan baik untuk kekekalannya.



January 03, 2019, 05:39:34 AM
Reply #2312
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22603
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2019/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17814/0/03-JANUARI-2019-BUKAN-HANYA-DISINI.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17814/1/03-JANUARI-2019-BUKAN-HANYA-DISINI.amr

03. BUKAN HANYA DISINI
  2 January 2019 | Renungan Harian
BUKAN-HANYA-DISINI Download (31)
BUKAN-HANYA-DISINI Download (24)

Hampir semua orang berpikir dalam penghayatan yang penuh bahwa hidup manusia hanya dimiliki dibumi ini. Seakan-akan tidak akan ada dunia lain atau kehidupan lain selain dibumi ini. Mereka berpikir bahwa hidup di bumi ini adalah satu-satunya kehidupan atau satu-satunya kesempatan untuk menikmati kehidupan dengan segala fasilitasnya.Inilah pikiran orang orang yang sesat dan hampir semua orang dalam hal ini menjadi sesat. Sehingga filosofi hidup yang dikenakan oleh mereka adalah “marilah kita makan dan minum sebab besok kita mati”.Dengan filosofi tersebut manusia menjadi seperti hewan, yang hari ini hidup dan jika besok mati, semua sudah selesai.

Sejatinya, hidup yang sesungguhnya justru bukan di sini -yaitu sekarang di bumi ini- tetapi hidup yang sesungguhnya adalah nanti di dunia yang akan datang. Dunia yang dihuni manusia hari ini adalah dunia atau hunian yang telah rusak; sebuah produk yang gagal. Sesembahan yang benar, Allah semesta alam yang menciptakan langit dan bumi -ELOHIM Yahweh- tidak merancang dunia seperti ini; dunia di mana ada perang, sakit penyakit, penindasan, kemiskinan, berbagai bencana dan krisis, serta yang paling tragis adalah kematian. Dunia seperti ini bukanlah dunia yang dirancang dan dikehendaki oleh Allah Tritunggal yang Mahaagung.

Kerusakan bumi ini disebabkan oleh manusia memberontak kepada Penciptanya. Sebagai akibatnya, bumi ini tidak lagi dapat menjadi hunian yang ideal. Itulah sebabnya Tuhan semesta alam yang penuh kasih berkenan merancang dunia lain yang lebih baik; dunia lain yang sempurna, yang karenanya Tuhan Yesus berkata bahwa Dia pergi menyediakan tempat bagi orang percaya. Kalau Tuhan Yesus sudah pergi menyediakan tempat,maka Ia akan datang kembali, supaya ditempati dimana Dia ada orang percaya juga ada (Yoh. 14:1-3). Itulah dunia yang sempurna, hunian sempurna yang disediakan oleh Tuhan Yesus. Oleh sebab itu orang percaya harus menyadari bahwa dunia ini bukan rumahnya.

Terkait dengan hal di atas, Tuhan Yesus berkata bahwa orang percaya bukan berasal atau bukan bagian dari dunia ini (Yoh. 17:16).Dengan pernyataan ini dimaksudkan agar orang percaya tidak terjebak seperti manusia pada umumnya, yaitu membangun kenikmatan kenyamanan atau Firdaus dibumi. Orang percaya harus mempersiapkan diri hanya untuk menyongsong kedatangan Tuhan Yesus yang akan membawanya ke Kerajaan-Nya. Bagi orang percaya yang secara finansial lemah atau kurang, hendaknya tidak merasa miskin kemudian menjadi rendah diri. Sebaliknya orang percaya yang secara finansial lebih atau tergolong kaya, hendaknya tidak merasa lebih mulia dan berharga dibanding mereka yang dipandang dunia sebagai “miskin”.

Sebenarnya ukuran atau parameter terhadap pengertian kaya atau miskin bukan materi, tetapi keadaan batin. Keadaan batin seseorang yang indah seperti atau serupa dengan Yesus sangat berharga dimata Allah Bapa (Theos). Rasul Petrus mengatakan bahwa perhiasan yang berharga dimata Allah -yang juga sebagai perhiasan abadi yang akan dibawa sampai kekekalan- adalah manusia batiniah kita. (Tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah – 1Ptr. 3:4).

Diingatkan kepada orang-orang kaya secara materi bahwa setelah menjadi anak bagi Bapa di surga, maka segala sesuatu yang dimiliki adalah milik Tuhan. Orang percaya bukan milik mereka sendiri. Setelah menjadi anak tebusan, maka orang percaya menjadi lebih miskin daripada orang miskin; karena semiskin-miskinnya seseorang, ia masih merasa memiliki hak, sekecil apa pun hak tersebut. Tetapi kalau seseorang ditebus oleh Tuhan Yesus Kristus, maka segala sesuatu yang dimilikinya menjadi milik Tuhan. Dengan demikian orang percaya dalam menggunakan kekayaannya tidak hidup sesuka sendiri, tetapi menggunakan semuanya bagi kepentingan Kerajaan Allah. Kalau ia melepaskan harta yang ada padanya, ia tidak merasa memberi sebab semua adalah milik Tuhan. Orang percaya harus menyadari dan menerima bahwa dirinya bukan lagi “pemilik” (the owner), tetapi hanya seorang “pengelola” (manager).



January 04, 2019, 05:24:42 AM
Reply #2313
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22603
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2019/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17816/0/04-JANUARI-2019-KESIAPAN-DIRI.mp3
http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17816/1/04-JANUARI-2019-KESIAPAN-DIRI.amr

04. KESIAPAN DIRI

Kalau seseorang tidak menerima kenyataan bahwa hidup di bumi ini bukan satu-satunya kesempatan hidup, maka ia akan berusaha membuat hidupnya berbunga-bunga seindah-indahnya. Mengapa demikian? Sebab ia merasa bahwa dunia ini adalah satu-satunya kesempatan untuk dinikmati sebanyak-banyaknya. Orang yang tidak mau menerima bahwa hidup ini bukan satu-satunya kesempatan hidup, akan berusaha bagaimana meraih sebanyak-banyaknya yang disediakan dunia untuk dinikmati dan dimiliki. Ia tidak mau kehilangan kesempatan untuk menikmati dan memiliki segala kesenangan yang ada di bumi ini. Biasanya istilah yang digunakan menggambarkan filosofi hidup mereka adalah “mumpung masih hidup di bumi, mumpung masih bernafas, mumpung masih memiliki kesempatan”, padahal hidup di bumi sekarang ini hanya kurang lebih 70 tahun. Waktu ini seharusnya dijadikan kesempatan satu-satunya untuk persiapan menyongsong kehidupan yang sesungguhnya yang akan diberikan oleh Tuhan kepada orang percaya setelah pengembaraan di bumi.

Karena berpikir dan merasa bahwa hidup di bumi ini adalah satu-satunya kesempatan hidup, maka banyak orang tidak memedulikan kehidupan di dunia lain yang akan datang. Tentu saja mereka sama sekali tidak memperhatikan bagaimana seharusnya memiliki kesiapan diri menghadapi kehidupan yang akan datang, yaitu kekekalan. Inilah yang terjadi dalam kehidupan hampir semua orang. Mereka hidup sesukanya sendiri, melakukan apa yang mereka pandang baik, menguntungkan, menyenangkan, dan membahagiakan diri sendiri. Tetapi mereka tidak mempersoalkan apakah segala tindakan tersebut menyenangkan hati Penciptanya atau melukai-Nya.Inilah orang orang yang sebenarnya memiliki standar hidup yang tidak berbeda dengan hewan.

Berbeda dengan hewan, makhluk manusia tidaklah demikian.Hewan tidak memiliki unsur kekekalan, sebab kalau hewan hidup hari ini kemudian kalau besok mati, maka sudah selesai. Manusia yang hari ini hidup, kalau besok meninggal dunia, sebenarnya masih memiliki kesadaran, dan kesadaran yang dimiliki adalah kesadaran kekal. Orang yang tidak mau menerima kenyataan ini akan merasa bahwa hidup dibumi ini boleh “suka-suka” sendiri, bahkan ketika berurusan dengan Tuhan pun hanya karena mau memanfaatkan Tuhan supaya bisa menikmati dunia ini sebagai Firdaus. Banyak orang-orang Kristen memperlakukan Yesus sebagai Juruselamat urusan bisnis, urusan kesehatan, urusan ekonomi, dan lain sebagainya. Padahal Tuhan Yesus datang untuk menyelesaikan masalah yang paling prinsip, yaitu keselamatan kekal.

Banyak orang Kristen yang tidak mempersiapkan diri guna hidup kekalnya. Bila berurusan dengan Tuhan, fokusnya adalah pemenuhan kebutuhan jasmani. Mereka berurusan dengan Tuhan dengan harapan Tuhan memberi pertolongan atau jalan keluar bagi persoalan mereka. Mereka tidak melihat bahwa di balik persoalan-persoalan yang mereka hadapi, juga di balik berbagai kesulitan-kesulitan yang mereka alami, sesungguhnya ada pelajaran-pelajaran rohani yang Tuhan berikan agar mereka menjadi dewasa. Sebagai analoginya, bangsa Israel dalam perjalanan dari Mesir ke Kanaan, harus mengalami begitu banyak rintangan, berbagai masalah dan beban. Hal tersebut diizinkan oleh Tuhan, agar melalui kenyataan hidup yang mereka alami, mereka menjadi dewasa.

Orang percaya yang semakin bertumbuh dewasa, selalu berusaha menyenangkan hati Bapa. Adapun fokus hidupnya bukanlah kebutuhan jasmani, mukjizat-mukjizat, dan berkat pertalian dengan kemakmuran jasmani, tetapi pendewasaan untuk sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Gereja yang selalu menjanjikan kepada jemaat pertolongan dari Tuhan atas berbagai masalah hidup fana dunia membuat fokus hidup orang percaya menjadimenyimpang atau meleset. Ini hal sangat berbahaya, sebab biasanya yang menyesatkan jemaat Tuhan bukan orang dari luar gereja, tetapi justru orang-orang yang berdiri di mimbar gereja. Mereka mencoba mengesankan bahwa hidup yang terkait dengan pemenuhan kebutuhan jasmani adalah kehidupan yang rumit, berat, sehingga membutuhkan campur tangan Tuhan sendiri. Dalam hal ini Tuhan dipaksa untuk sibuk dengan urusan perut dan kemuliaan duniawi. Tentu saja dalam integritas-Nya yang sempurna Tuhan Yesus tidak dapat diatur oleh siapa pun, kecuali oleh Bapa di surga.

.......

.......
January 04, 2019, 05:25:05 AM
Reply #2314
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22603
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

.......

Ketika jemaat diarahkan kepada masalah-masalah dunia fana ini, maka mereka menjadi sangat sulit untuk diarahkan agar menjadi sempurna seperti Bapa dan serupa dengan Yesus, sebab potensi diri tidak difokuskan kepada “kesiapan diri menghadapi kematian”. Sejatinya, hidup di dunia ini hanya untuk persiapan menyongsong kehidupan yang sesungguhnya nanti; di langit baru dan bumi yang baru. Hal ini juga mengakibatkan bangunan iman Kristen yang murni tidak pernah terbangun di dalam kehidupan mereka.

Orang percaya harus mengarahkan diri untuk mencari perkara-perkara yang di atas, bukan yang dibumi. Orang percaya harus mengumpulkan harta di surga, bukan harta dibumi. Mengenai kebutuhan jasmani, orang percaya harus belajar bertanggung jawab. Mereka harus memenuhi seluruh tanggungjawabnya dengan baik, sebab apa yang ditabur seseorang itu juga akan dituainya.Kalau orang orang Kristen tidak menabur dengan baik, hendaknya tidak berharap akan menuai sesuatu yang baik pula. Hendaknya orang percaya tidak diarahkan kepada kebutuhan jasmani, tetapi harus diarahkan kepada berkat rohani yang abadi, yaitu karakter yang diubah sesuai dengan rancangan Allah semula.
January 05, 2019, 05:44:22 AM
Reply #2315
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22603
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2019/
http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17818/0/05-JANUARI-2019-PARKIR-DI-BUMI.mp3
http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17818/1/05-JANUARI-2019-PARKIR-DI-BUMI.amr

05. PARKIR DI BUMI
 Banyak orang Kristen yang tidak menyadari, bahwa sebenarnya mereka sedang diparkir oleh kuasa kegelapan dibumi ini dengan cara memberi hidup yang senyaman-nyamannya. Selama ini orang berpikir bahwa Iblis selalu membuat hidup ini tidak bahagia. Iblis selalu membuat hidup ini tidak nyaman. Menurut banyak orang, hidup manusia dibuat oleh Iblis tidak mengalami kemakmuran atau kelimpahan. Tetapi sebenarnya justru sebaliknya, sering Iblis menempatkan banyak orang kepada keadaan nyaman, merasa aman dan bahagia, serta tercukupi dalam segala kebutuhan jasmaninya. Hal itu dimaksudkan agar seseorang tidak membutuhkan dunia lain yang akan datang, tidak membutuhkan siapa pun, bahkan tidak membutuhkan Tuhan sendiri.

Dalam hal tersebut orang percaya harus sangat berhati-hati dan waspada terhadap manuver kuasa kegelapan ini. Iblis dapat membuat dunia ini senyaman-nyamannya untuk dihuni supaya manusia tidak membutuhkan dunia lain, tidak membutuhkan siapa pun, bahkan tidak membutuhkan Tuhan sendiri. Itulah sebabnya didalam kitab Wahyu tertulis mengenai materai yang dibuka oleh Tuhan Yesus, kemudian muncul kuda-kuda dengan beragam warna.Kuda-kuda tersebut tersebut menunjuk kepada pergolakan-pergolakan yang terjadi di bumi ini.Ketika Singa dari Yehuda -yaitu Tuhan Yesus- membuka materai dari gulungan-gulungan kitab, maka berdampak atas dunia ini secara menyeluruh(Why. 6-8).

Kuda putih di mana penunggangnyamemegang busur (bukan anak panah) menunjuk pada kemenangan orang percaya yang berhasil memasehikan atau meng-Kristen-kan seluruh Eropa tanpa senjata. Adapun kuda-kuda yang lain, menunjukkan gerakan-gerakan yang terjadi dibumi; antara lain krisis ekonomi, perang, dan berbagai bencana lainnya. Dengan munculnya kuda-kuda tersebut, keadaan dunia menjadi tidak nyaman lagi untuk dihuni. Semua pergolakan tersebut harus terjadi sebelum zaman baru atau Kerajaan Tuhan Yesus dibangun (Mat. 24:8). Semua pergolakan terjadi atau berlangsung karena Tuhan Yesus yang melegalisir atau mensahkan. Jadi Tuhan Yesus yang memungkinkan semua itu terjadi atau berlangsung.

Demikianlah kenyataannya, bahwa Tuhan Yesus datang membawa pedang dan melemparkan api. Ternyata bukan Iblis yang menyebabkan semua pergolakan di bumi ini terjadi, tetapi Tuhan Yesus sendiri.Secara fisik,Iblis dapat membuat suasana dunia menjadi tenang, tetapi Tuhan Yesuslah yang memulai adanya pergolakan-pergolakan.Jadi, bisa dimengerti kalau Tuhan Yesus mengatakan bahwa Dia datang bukan membawa damai, tetapi pedang dan api.Pedang dan api berbicara mengenai pergolakan-pergolakan yang mendatangkan penderitaan bagi manusia yang menghuni bumi ini.

Dengan pergolakan-pergolakan yang terjadi tersebut, kiranya dapat membuka mata pengertian dan kesadaran manusia terhadap kebutuhan dunia lain yang lebih baik dan melihat kekekalan. Hal tersebut dapat dimaksudkan dapat memicu banyak orang untuk mencari perkara-perkara yang di atas. Hari ini, harus jujur diakui, sedikit sekali -hampir tidak ada- orang yang benar-benar mempersoalkan kekekalan. Hampir semua orang hanya mengupayakan bagaimana menikmati keindahan bumi ini dengan segala kesenangannya.

Tuhan Yesus membuat pergolakan-pergolakan supaya mata pengertian manusia disadarkan bahwa bumi ini bukanlah hunian yang baik. Bumi adalah hunian sementara. Orang percaya harus menyadari bahwa kenyamanan dan ketenangan hidup bisa membahayakan bagi keselamatan kekal. Ini bukan berarti sebuah kesalahan kalau orang percaya tidak mengalami kesulitan hidup. Kalau orang percaya tidak memiliki kesulitan hidup, berarti ia harus mencari kesulitan, yaitu salib yang harus dipikul demi keselamatan sesamanya. Inilah yang diajarkan oleh Tuhan Yesus bahwa Tuhan Yesus datang bukan untuk dilayani, tapi melayani dan menyerahkan Diri untuk korban penghapus dosa manusia. Tuhan Yesus memberi teladan yang sangat jelas mengenai hal ini.Ia datang membuat kesulitan bagi Diri-Nya sendiri demi berkat keselamatan bagi orang lain. Dalam pengakuan-Nya, Tuhan Yesus menyatakan bahwa serigala memiliki liang dan burung mempunyai sarang tetapi Anak Manusia tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya. Dia yang kaya menjadi miskin, supaya manusia yang miskin dapat dijadikan kaya. Tentu hal ini tidak berbicara mengenai materi, tetapi berkat kekekalan, yaitu manusia batiniah yang diubah, dari kodrat dosa ke kodrat Ilahi.

.......
January 05, 2019, 05:44:40 AM
Reply #2316
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22603
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
.......

Menyadari kebenaran di atasini, maka orang percaya harus meneladani hidup Tuhan Yesus sebagai musafir. Petrus dalam suratnya menyatakan bahwa orang percaya adalah orang yang menumpang di bumi (1Ptr. 1:17). Dengan sikap hati dan pengertian yang benar ini orang percayatidak dapat berparkir atau diparkir di bumi. Hatinya dapat dipindahkan ke surga, sebab dimana hati seseorang berada di sana hartanya berada (Mat. 6:21)
January 06, 2019, 04:52:57 AM
Reply #2317
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22603
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2019/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17820/0/06-JANUARI-2019-MENEMBUS-BATAS.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17820/1/06-JANUARI-2019-MENEMBUS-BATAS.amr

06. MENEMBUS BATAS
  5 January 2019 | Renungan Harian
MENEMBUS-BATAS Download (21)
MENEMBUS-BATAS Download (23)

Pada umumnya atau rata-rata orang memiliki jelajah pandang ke depan hanya sampai pada batas kubur. Jika berbicara mengenai hari depan atau hari esok yang penuh harapan, biasanya hanya di dalam area kehidupan sebelum kubur atau kehidupan di dunia ini. Kalau seseorang memiliki jangkauan berpikir hanya secara sempit demikian, maka tidak mungkin ia bisa bersungguh-sungguh secara benar atau serius dengan Tuhan. Sesuai dengan kebenaran Alkitab yang berbicara mengenai hari depan yang penuh harapan, fokus orientasinya harus kehidupan setelah kematian, bukan di bumi sekarang ini (1Ptr. 1:3 untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di surga bagi kamu). Tuhan mengarahkan umat-Nya hanya untuk memikirkan hal-hal yang menembus batas, artinya keluar dari area hidup yang biasanya orang berpikir, yaitu di dunia yang akan datang.

Tuhan mengajar orang percaya untuk memiliki jelajah berpikir atau pandangan ke depan menembus batas dibalik kubur. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata:Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada (Mat 6:21). Tuhan menyatakan ini ketika Tuhan Yesus berbicara mengenai hal mengumpulkan harta di surga. Mengumpulkan harta di surga adalah usaha bagaimana menjadi manusia sesuai dengan rancangan Allah, yaitu memiliki kodrati Ilahi (2Ptr. 1:3-4) atau memiliki kehidupan yang mengambil bagian dalam kekudusan Allah (Ibr. 12:9-10).

Cara berpikir orang yang tidak menembus batas, area berpikirnya hanya sekitar kehidupan hari ini, ia tidak akan sungguh-sungguh maksimal dalam berurusan dengan Tuhan. Faktanya hari ini banyak orang yang tidak berurusan dengan Tuhan secara benar dan maksimal. Mereka berurusan dengan Tuhan hanya untuk memperoleh kesembuhan dari sakit fisik, hanya supaya memperoleh pemulihan ekonomi, hanya supaya bisa memperoleh sukses di dalam karir dan berbagai jabatan lain. Karena hal ini maka jelajah berpikirnya hanya sebatas kuburan, tidak menembus batas.

Orang percaya harus belajar untuk memiliki cara pandang yang menembus batas, bukan hanya melihat kehidupan sebelum kubur, justru melihat kehidupan setelah tubuh dikubur. Inilah yang dikendaki oleh Tuhan Yesus agar orang percaya mengumpulkan harta di surga, bukan dibumi. Dalam hal ini Paulus menegaskan agar orang percaya memikirkan perkara-perkara yang di atas, bukan yang dibumi (Kol. 3:1-4). Banyak orang Kristen yang berulang-ulang mendengar dan membaca ayat-ayat tersebut, tetapi mereka tidak berani secara konsekuen dan konsisten mengenakannya.

Sebaliknya, pengertian mereka mengenai kehidupan Kristen disesatkan oleh pengajaran yang menekankan pemenuhan kebutuhan jasmani. Pengajar-pengajar yang mengajarkan hal tersebut, memang terkesan Alkitabiah karena mengambil ayat-ayat dalam Alkitab Perjanjian Lama. Hal tersebut menggiring pemahaman yang salah, seakan-akan kehidupan bangsa Israel dapat menjadi pola kehidupan umat Perjanjian Baru. Padahal seharusnya Perjanjian Baru, yaitu apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus dan rasul-rasul-Nya yang menjadi pusat pengajaran atau episentrum kebenaran bagi orang percaya. Apa yang diajarkan Perjanjian Baru tidak membuka ruang sama sekali meraih dunia dan menikmatinya seperti filosofi hidup manusia pada umumnya.

Oleh sebab itu, orang percaya harus memiliki cara pandang yang benar berdasarkan Perjanjian Baru. Prinsip-prinsip yang diajarkan Perjanjian Baru harus menjadi pilar-pilar kehidupan orang percaya. Sehingga pola hidup yang dikenakan adalah pola hidup Tuhan Yesus dan rasul-rasul yang adalah murid-murid pertama Tuhan Yesus, yang dapat menjadi model orang percaya yang dikehendaki oleh Tuhan Yesus sendiri. Kalau pemikiran orang percaya diarahkan kepada pola hidup bangsa Israel yang orientasi berpikirnya masih berkat-berkat jasmani, maka orang percaya dapat menyimpang dari kebenaran Injil. Tetapi ironinya, sekarang ini justru yang lebih digemari dan cocok dengan “selera” jiwa banyak manusia -termasuk banyak orang Kristen- adalah kehidupan yang masih berorientasi pada pemenuhan kebutuhan jasmani seperti bangsa Israel.

.......



January 06, 2019, 04:53:19 AM
Reply #2318
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22603
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

.......

Bila pemikiran orang Kristen masih dilandaskan pada kehidupan umat Perjanjian Lama, maka orang Kristen tersebut tidak melihat kekayaan Kerajaan Surga, yaitu bagaimana diubah menjadi manusia yang berkodrat Ilahi dan tidak menaruh harapan kehidupan yang akan datang.Pola berpikir orang-orang Kristen seperti ini tidak berbeda dengan pola berpikir anak-anak dunia atau manusia pada umumnya. Mereka tidak akan pernah mempersoalkan mengenai kekekalan dan usaha yang serius untuk menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Dengan kehidupan seperti itu, mereka telah dituai oleh dunia. Mereka tidak pernah menjadi seperti perawan suci yang dilayakkan sebagai mempelai Kristus.



January 07, 2019, 05:17:34 AM
Reply #2319
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22603
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2019/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17822/0/07-JANUARI-2019-IKATAN-SURGAWI-DAN-IKATAN-DUNIAWI.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17822/1/07-JANUARI-2019-IKATAN-SURGAWI-DAN-IKATAN-DUNIAWI.amr

07. IKATAN SURGAWI DAN IKATAN DUNIAWI
  6 January 2019 | Renungan Harian
IKATAN-SURGAWI-DAN-IKATAN-DUNIAWI Download (29)
IKATAN-SURGAWI-DAN-IKATAN-DUNIAWI Download (42)

Sebagai orang percaya, kita harus dapat membedakan antara ikatan surgawi dengan ikatan duniawi.Ikatan surgawi adalah perkara-perkara yang mengarahkan orang percaya selalu tertuju kepada Kerajaan Surga atau dunia yang akan datang. Hal ini terkait dengan kenikmatan terhadap keindahan Tuhan atau perkara-perkara rohani. Sedangkan ikatan duniawi adalah perkara-perkara yang mengarahkan orang percaya selalu tertuju kepada keindahan dunia hari ini. Dalam hal ini orang percaya harus memilih, apakah memberi diri terikat dengan ikatan surgawi atau ikatan duniawi. Seseorang tidak bisa memiliki kedua ikatan tersebut, tetapi harus memilih salah satu. Tuhan Yesus tegas sekali menyatakan: Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon (Mat. 6:24).

Tidaklah mungkin seseorang dapat menikmati keindahan Tuhan atau perkara-perkara rohani, sementara itu juga menikmati keindahan dunia. Ibarat sebuah citarasa lidah, seseorang tidak bisa menikmati dua jenis makanan di lidah dalam waktu yang bersamaan. Orang percaya harus memilih salah satu jenis makanan apa yang dinikmatinya. Tuhan tidak berkenan orang percaya sementara mengikut Tuhan Yesus, juga memiliki gaya hidup seperti anak-anak dunia atau manusia pada umumnya. Tuhan Yesus tidak menolerir hal ini sama sekali. Tetapi faktanya, banyak orang Kristen yang bersikap tidak setia. Mereka menjadikan Tuhan hanya sekadar tambahan, bukan sebagai satu-satunya tujuan hidup dan kesukaannya.

Orang percaya harus hanya menikmati keindahan Tuhan dan perkara-perkara rohani, bukan kenikmatan dari sumber lainnya. Memang hal ini sesuatu yang sulit dijelaskan, sebab Tuhan tidak kelihatan dan perkara-perkara rohani adalah hal-hal yang abstrak. Tetapi kalau umat pilihan percaya bahwa Tuhan adalah Pribadi yang hidup, maka mereka dapat mengalami Tuhan secara konkret. Mereka tidak sedang berfantasi atau hidup dalam dunia mimpi, tetapi berinteraksi dengan realitas Tuhan yang hidup tersebut. Inilah uniknya “hidup dalam iman” seperti yang dikemukakan Paulus dalam suratnya kepada jemaat Korintus: Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal (2Kor. 4:18). Dibagian lain ia juga menulis: … sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat (2Kor. 5:7). Tentu saja orang percaya seperti Paulus ini sulit dimengerti oleh orang lain yang tidak mengenal kebenaran.

Tidak mudah menjadikan keindahan Tuhan dan perkara-perkara rohani sebagai kesukaan hidup, sebab manusia sudah terbiasa memiliki banyak kesukaan. Dari kanak-kanak, seseorang sudah terbiasa memiliki berbagai kesukaan atau kesenangan, dari mainan pada waktu masih kanak-kanak, pada waktu remaja kesukaannya sepeda, menginjak pemuda kesukaannya adalah motor, setelah dewasa kesukaannya berupa mobil, rumah, dan lain sebagainya. Belum lagi ikatan dengan pacar, teman hidup, dan lain sebagainya. Tuhan tidak kelihatan, sementara segala hal diatas nyata dan dapat dinikmati secara riil oleh fisik.

Dengan berbagai kesukaan atau kesenangan tersebut, banyak orang telah memiliki irama hidup yang permanen, yaitu menikmati keindahan dunia ini. Hal ini seperti “candu” yang membelenggu selera jiwa. Karena dalam waktu panjang terikat dengan berbagai kesukaan atau kesenangan tersebut, maka ia sampai pada taraf tidak bisa terlepas lagi. Mereka terikat dengan ikatan duniawi tersebut sampai menutup mata. Irama dan gaya hidup yang salah tersebut menggiring mereka kepada kebinasaan. Tetapi mereka menganggap bahwa itu adalah irama dan gaya hidup yang wajar, tidak menyalahi hukum dan etika. Itulah sebabnya mereka merasa aman dan nyaman saja. Bahkan mereka merasa berhak mengklaim bahwa mereka sebagai orang percaya kepada Yesus dan beragama Kristen yang layak masuk surga.

...



 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)