Author Topic: Rehobot Literature Ministries  (Read 108414 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

January 12, 2019, 05:23:55 AM
Reply #2330
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 21268
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

.......

Orang yang berjalan dengan Yesus tidak bisa lagi hidup sesukanya sendiri, tetapi harus berprinsip “makananku melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” Dengan mengikuti Yesus orang percaya harus melepaskan semua hak-haknya. Hal melepaskan semua hak, telah dilakukan oleh Tuhan Yesus sendiri. Dalam tulisannya Paulus menyatakan: yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib (Flp. 2:6-8). Dengan demikian berjalan dengan Tuhan berarti hanya hidup guna melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.


January 13, 2019, 04:42:32 AM
Reply #2331
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 21268
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2019/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17834/0/13-JANUARI-2019-HIDUP-DI-HADAPAN-TUHAN.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17834/1/13-JANUARI-2019-HIDUP-DI-HADAPAN-TUHAN.amr

13. HIDUP DI HADAPAN TUHAN
  12 January 2019 | Renungan Harian
HIDUP-DI-HADAPAN-TUHAN Download (19)
HIDUP-DI-HADAPAN-TUHAN Download (13)

Ada satu langkah penting untuk hidup di hadapan Tuhan, sebagai persiapan sebelum pulang ke rumah abadi. Selalu menghayati dan benar-benar berpikir mata Allah ada di depan kita. Pernyataan ini sekilas kekanak-kanakan, tetapi sesungguhnya hal ini harus dilakukan dan dilatih terus sehingga seluruh syaraf perasa kita, pikiran dan perasaan kita selalu dalam kesadaran penuh bahwa Allah hadir dan mengawasi seluruh perilaku kita, termasuk gerak pikiran dan perasaan kita. Pembiasaan ini akan melahirkan keyakinan terhadap Allah yang hidup dan Mahahadir. Tanpa pembiasaan ini seseorang tidak akan pernah menghayati kenyataan Allah yang hidup dan Mahahadir.

Bagi mereka yang dibesarkan dalam lingkungan orang beragama yang sudah terbiasa meyakini bahwa Allah itu ada, sudah merasa bahwa dirinya percaya bahwa Allah itu ada. Keyakinan seperti di atas diturunkan dari generasi ke generasi secara otomatis. Masyarakat seperti ini sering hanya memandang Allah sekadar sebagai simbol keagungan orang beragama, tanpa memahami keyakinannya dengan baik serta mengamalkan ajarannya secara konsekuen dan konsisten. Situasi seperti ini juga ada pada lingkungan masyarakat yang mayoritasnya orang Kristen. Mereka melestarikan agama Kristen dan melakukan ibadah liturgi rutin dengan setia, tetapi mereka tidak melakukan usaha untuk mengenal Allah dengan menggali kebenaran Firman Tuhan secara memadai dan berusaha melakukannya. Tidak heran jika di masyarakat Kristen tersebut berbagai pelanggaran moral yang memalukan juga banyak dilakukan.Sebenarnya orang-orang Kristen seperti itu termasuk kelompok pengejek-pengejek terhadap Tuhan seperti yang dikemukakan oleh Petrus (2Ptr. 3:1-3).

Inilah kenyataan keadaan manusia yang hidup di dunia yang semakin fasik. Sebenarnya di kedalaman hati mereka terdapat suara bahwa manusia dapat hidup tanpa Tuhan. Tuhan bukanlah jaminan dapat memiliki kehidupan yang bahagia menurut versi mereka, bahkan ada yang mulai curiga dan merasa terancam dengan kehadiran Tuhan dalam hidup mereka. Menurut mereka yang dapat memberi kebahagiaan dan kepuasan hidup adalah materi dan segala hiburan dunia ini. Tuhan dianggap bisa mengganggu ketenangan mereka.

Seharusnya orang Kristen sadar bahwa keyakinan kepada Allah tidak cukup sebuah pengakuan bibir saja. Pengakuan tersebut haruslah diterjemahkan secara konkret dalam kehidupan. Orang Kristen yang percaya adanya Tuhan haruslah menunjukkan keyakinannya itu dalam bentuk perbuatan nyata. Dalam hal ini kita mengerti mengapa Yakobus berkata bahwa iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati (Yak. 2:14-26). Harus disadari bahwa perbuatan seseoranglah yang menghidupi imannya atau imannya dapat tampil. Dalam hal ini, orang Kristen harus terus berusaha untuk belajar memperlakukan Allah sebagai Pribadi yang hidup dan nyata. Orang percaya juga harus menghayati bahwa Allah adalah Pribadi yang mengamati semua perbuatan manusia. Pada kenyataanya, banyak orang Kristen yang mengaku percaya kepada Tuhan dan pergi ke gereja dengan rajin, tetapi tidak memperlakukan Dia sebagai Pribadi yang hidup. Hal ini yang menyebabkan banyak orang Kristen yang kehidupannya tidak berbeda dengan orang non-Kristen, bahkan tidak sedikit yang lebih buruk atau lebih jahat dari orang non-Kristen.

Sebenarnya, faktanya banyak orang Kristen tidak memedulikan Allah secara benar. Dari bibirnya bisa saja mengaku percaya adanya Tuhan, tetapi dalam kelakuannya sehari- hari tidak menunjukkan bahwa ia percaya bahwa Tuhan itu ada. Inilah yang disebut ateis praktis. Karena Allah tidak kelihatan, tidak dapat dijamah dan tidak dilihat dengan mata jasmani, maka banyak orang memperlakukan Tuhan secara tidak hormat, bahkan sebenarnya menganggap Tuhan seakan-akan tidak ada. Terkait dengan hal iniTuhan Yesus berkata: “Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya” (Yoh. 20:29). Dengan pernyataan Tuhan Yesus ini, diajarkan bahwa untuk mengakui bahwa Allah itu ada dan melakukan kehendak-Nya, tidak harus ada bukti kehadiran-Nya secara fisik.

.......

.......




January 13, 2019, 04:42:57 AM
Reply #2332
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 21268
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

.......

Demikian pula dengan keadaan banyak orang Kristen hari ini. Mereka ke gereja setiap hari Minggu mengikuti liturgi bahkan mengambil bagian dalam kegiatan gereja, tetapi kehidupan setiap harinya tidak menunjukkan bahwa mereka percaya Tuhan. Diantara mereka yang melakukan praktik-praktik di atas adalah juga orang-orang Kristen. Kalaupun tidak melakukan praktik di atas secara terang-terangan, mereka tidak hidup seperti Yesus yang menjadi teladannya. Mereka lebih diwarnai oleh dunia, sehingga wajah Yesus tidak terbentuk di dalam batin mereka. Wajah batin mereka adalah wajah dunia ini. Sudah tentu mereka akan ditolak untuk menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah, sebab yang menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah adalah merekayang benar-benar serupa dengan Yesus.

Mencermati hal ini, orang percaya harus mulai membenahi diri untuk membangun wajah Yesus di dalam batinnya. Kesempatan berjalan dengan Tuhan di hari-hari terakhir ini harus digunakan dengan sebaik-baiknya. Kalau kesempatan ini berlalu, maka tidak akanada lagi kesempatan berikut. Tuhan menantikan orang percaya untuk memberi diri berjalan dengan Tuhan guna mengalami pembentukan-Nya. Inilah kasih karunia yang tidak terbeli, oleh sebab itu orang percaya tidak boleh menyia-nyiakannya.




January 14, 2019, 05:19:20 AM
Reply #2333
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 21268
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2019/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17836/0/14-JANUARI-2019-MENGHAYATI-KEHADIRAN-ALLAH.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17836/1/14-JANUARI-2019-MENGHAYATI-KEHADIRAN-ALLAH.amr

14. MENGHAYATI KEHADIRAN ALLAH
  13 January 2019 | Renungan Harian
MENGHAYATI-KEHADIRAN-ALLAH Download (38)
MENGHAYATI-KEHADIRAN-ALLAH Download (16)

Allah memang Mahahadir, Ia hadir dimana-mana, tetapi seberapa kuat seseorang menghayati kehadiran-Nya dan bagaimana bersikap terhadap Tuhan, menentukan seberapa benar seseorang hidup di hadapan-Nya. Hidup di hadapan Tuhan artinya bagaimana menjalani hidup sesuai dengan kehendak Tuhan dalam segala hal yang dipikirkan, diucapkan, dan dilakukan. Hidup di hadapan Tuhan juga berarti hidup dalam pemerintahan-Nya. Hal ini sama dengan hidup sebagai anggota keluarga Kerajaan Surga dengan baik sejak hidup di bumi. Dikatakan sebagai anggota keluarga Kerajaan Surga, sebab hubungan orang percaya dengan Allah adalah hubungan Bapa dan anak. Hal ini memenuhi apa yang dikatakan di dalam Doa Bapa Kami: Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga.

Orang yang hidup di hadapan Allah artinya orang yang bersikap hormat kepada Bapa seperti yang dilakukan oleh Yesus. Penghormatan kepada Bapa tidak cukup dengan menyanyikan lagu rohani yang menyanjung nama-Nya atau melakukan penyembahan di dalam liturgi gereja. Penghormatan-Nya kepada Bapa di surga ditunjukkan dengan hidup-Nya yang selalu melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan yang dipercayakan kepada-Nya. Orang yang hidup di hadapan Allah memercayai Dia dengan segenap hati, artinya tidak memiliki perasaan takut terhadap apa pun dan siapa pun. Takut akan Allah menguasai dirinya. Tentu takut akan Allah di sini bukan takut karena ancaman hukuman, seperti penjahat di depan polisi atau hakim, tetapi takut karena menghormati dan mengasihi Dia. Perasaan seperti ini ada pada anak-anak yang menghormati orang tuanya secara pantas. Walaupun orang tuanya lebih miskin, kurang berpendidikan, dan lemah secara fisik, tetapi anak yang menghormati dan mengasihi orang tua merasa takut terhadap orang tua tersebut. Demikianlah sikap kita seharusnya kepada Bapa di surga.

Hampir semua orang Kristen secara akali percaya dan mengakui bahwa Allah itu ada, hidup, danMahahadir, maksudnya hadir dimana-mana. Tetapi pengakuan itu tidak cukup membuat seseorang sungguh-sungguh mengalami Tuhan. Tidak banyak orang yang memiliki pengalaman riil yang diakuinya sebagai pernyataan kehadiran Allah dalam hidupnya secara pribadi. Teologi, pengetahuan tentang Tuhan lebih banyak atau hampir semua didengar dari berbagai sarana dan media. Hanya berupa atau masih dalam tahap teori-teori yang belum terbukti dalam kehidupan secara konkret.

Dalam Alkitab dapat ditemukan kesaksian pribadi-pribadi yang luar biasa yang telah berjalan dengan Tuhan. Itulah hidup yang sesungguhnya, yaitu kehidupan yang tidak terpisah dari Allah. Alkitab tidak pernah mencoba membuktikan bahwa Tuhan itu ada dan membujuk pembacanya untuk memercayai eksistensi-Nya. Hal ini disebabkan karena para penulis Alkitab yakin benar bahwa Allah itu ada, yaitu hasil dari pengalaman nyata. Bagi mereka eksistensi Allah bukan sesuatu yang aneh, tetapi sesuatu yang biasa.

Dunia hari ini adalah dunia yang fasik, kefasikkan dunia makin memperkuat konsep atau keyakinan mereka bahwa Allah itu tidak ada dan tidak perlu ada. Kalaupun ada, tidak perlu memiliki relasional dengan manusia (2Ptr. 3:3-5; Mzm. 14:1-3). Itulah sebabnya Paulus mengingatkan bahwa hari-hari ini adalah jahat (Ef. 5:15-17). Banyak orang berpikir bahwa manusia dapat berdiri sendiri, hidup tanpa Tuhan. Pengaruh semacam ini tanpa terasa telah membentuk jiwa dan kepribadian banyak orang termasuk sejumlah besar orang Kristen. Itulah sebabnya dapat ditemui ada banyak orang Kristen yang hanya bertuhan pada hari Minggu, atau sementara berbakti di gereja. Diluar hari Minggu atau diluar hari kebaktian, mereka hidup kembali seperti anak-anak dunia yang tidak bertuhan.

Allah adalah Allah yang transenden, tetapi sekaligus juga adalah Allah yang imanen; karenanya ia dapat dikenali.Namun pengenalan terhadap Allah adalah pengenalan yang terbatas, sebab Allah yang transenden tidak dipahami secara sempurna atau sepenuh oleh rasio manusia yang terbatas.Allah adalah Allah yang transenden, maksudnya bahwa Allah adalah Allah yang melampaui segala akal dan pengalaman (transempiris). Hikmat dan kebijaksanaan-Nya tidak terduga oleh akal manusia dan tak dapat diselami secara sempurna oleh makhluk manapun. Namun demikian dalam eksistensi-Nya yang transenden tersebut,Ia berkenan menyatakan Diri-Nya sehingga manusia dapat mengenali-Nya. Dengan pengenalan yang ada, manusia dapat berinteraksi dengan Allah.

.......



January 14, 2019, 05:19:52 AM
Reply #2334
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 21268
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

.......

Dalam pernyataan-Nya yang ditulis dalam Alkitab dan terbukti dalam sejarah bahwa Allah adalah Allah yang berpribadi.Dia bukanlah sekumpulan doktrin dan sejumlah penjelasan, Ia bukanlah sekadar tenaga aktif yang secara mekanis bergerak, tetapi Ia adalah Allah yang berpribadi.Maksudnya berpribadi disini adalah bahwa Allah adalah Allah yang memiliki integritas sebagai oknum yang berkehendak, berperasaan, dan berpikir. Ia memiliki kesadaran sebagai Pribadi yang dapat berkomunikasi dengan pribadi lain, dalam hal ini manusia yang diciptakan-Nya. Oleh sebab itu umat harus memperlakukan Allah sebagai Pribadi pula dan benar-benar memiliki pengalamanberinteraksi dengan Dia.



January 15, 2019, 05:17:46 AM
Reply #2335
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 21268
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2019/

15. KETEKUNAN DI AKHIR ZAMAN
http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17838/0/15-JANUARI-2019-KETEKUNAN-DI-AKHIR-ZAMAN.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17838/1/15-JANUARI-2019-KETEKUNAN-DI-AKHIR-ZAMAN.amr

Bisa dibayangkan betapa konyolnya para pengikut Yesus mula-mula -yaitu para murid-Nya dan orang-orang Kristen gereja awal- di mata orang-orang pada zaman itu. Para pengikut Yesus menaruh percaya kepada seorang yang mengaku Anak Allah, yang menurut berita resmi pemerintah sebagai penjahat di mata pemerintah Roma dan dimata bangsa-Nya sendiri sebagai penghujat Allah. Jelas-jelas mati di depan mata semua orang, tetapi kemudian diyakini oleh murid-murid-Nya sebagai telah bangkit. Mereka mempertaruhkan segenap hidup mereka demi menyambut kedatangan Raja mereka yang mereka yakini akan hadir pada zaman itu. Itulah sebabnya mereka tidak takut kehilangan segala sesuatu, aniaya, bahkan kematian.Bahkan mereka memberitakan tentang keselamatan dalam Yesus Kristus dan mengajak orang-orang untuk mengikuti jejak mereka.

Keadaan itu sama dengan keadaan ketika Nuh mengajak orang-orang masuk bahtera berhubung akan adanya penghukuman atas manusia yang sudah meleset dari kesucian Allah.Tidak ada yang mau mengikut Nuh, sebab apa yang dikemukakan tidak bisa dimengerti sehingga tidak mudah diterima. Tetapi Nuh dan keluarganya tetap teguh pada keyakinan mereka, sehingga mereka tidak terpengaruhi oleh keadaan masyarakat sekitar mereka. Hal ini yang menyelamatkan mereka. Dari dua contoh keadaan di atas ada satu hal yang harus orang percaya miliki, yaitu ketekunan dalam mempertahankan iman dan integritas sebagai umat pilihan. Terkait dengan hal ini, Tuhan Yesus menyatakan: “… jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” (Luk. 18:8). Dalam terjemahan sehari-hari diterjemahkan: “Tetapi apabila Anak Manusia datang, apakah masih ditemukan orang yang percaya kepada-Nya di bumi ini?” Maksud perkataan ini adalah apakah masih ada orang yang benar-benar setia sebagai orang percaya di mata Allah. Hal ini menunjukkan betapa sulitnya mempertahankan iman yang murni di dunia hari ini yang sangat fasik.

Dalam pikiran banyak orang Kristen hari ini terdapat pandangan bahwa kalau menjadi Kristen yang sejati, maka di mana pun akan selalu mudah diterima orang, sehingga akan sangat mudah beradaptasi dengan lingkungan. Mereka berpikir Tuhan Yesus mengajarkan demikian. Faktanya sebenarnya tidak. Tuhan Yesus mengatakan bahwa musuh orang bisa seisi rumahnya. Jangankan orang lain, seisi rumahnyapun bisa memusuhinya. Mengapa demikian? Sebab pengajaran yang diberikan oleh Tuhan Yesus di dalam Injil banyak yang bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh dunia. Kehidupan Tuhan Yesus sendiri adalah kehidupan yang dianggap bertentangan dengan kehidupan manusia di sekitar-Nya. Dalam suratnya kepada jemaat di Galatia, Paulus menyatakan pernyataan ini: Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus (Gal. 1:10). Orang yang menuruti Injil yang sejati bisa tidak diperkenan manusia.

Dunia yang semakin fasik ini semakin membuat pemisahan, apakah seseorang benar-benar menjadi pengikut Yesus sejati dengan mengikuti jejak-Nya atau memilih dunia dengan segala kesenangan dan keindahannya. Hal ini akan semakin membuat perbedaan yang mencolok antara orang percaya yang benar dengan mereka yang tidak termasuk orang percaya. Hal ini bukan hanya antara orang Kristen dan orang non-Kristen, tetapi orang Kristen yang hidup dalam kebenaran dengan orang Kristen yang tidak mengenal kebenaran, atau orang Kristen yang sebenarnya bukan Kristen. Harus dicatat di sini, bahwa jumlah orang Kristen palsu ternyata lebih banyak daripada yang menjadi pengikut Yesus yang sejati. Dalam hal ini, jumlah tidak boleh menjadi ukuran bahwa mereka yang berjumlah banyak lebih baik dari komunitas yang berjumlah sedikit.

Pengikut Yesus yang sejati pasti memiliki kehidupan yang meneladani kehidupan Tuhan Yesus, tanpa kompromi dengan siapa pun. Dalam hal ini bisa terjadi benturan antara orang percaya yang sungguh-sungguh hendak mengikut jejak Tuhan Yesus dengan orang-orang di sekitarnya, termasuk orang-orang Kristen palsu yangmengikuti jalan dunia. Selalu saja akan ditemukan benturan yang terjadi antara konsep hidup pengikut Yesus sejati dengan pengikut Yesus palsu dan orang-orang di luar Kristen. Tetapi yang paling menyakitkan justru dari orang-orang Kristen yang tidak memahami integritas sebagai pengikut Yesus. Mereka tidak memiliki integritas tersebut disebabkan karena mereka tidak mengenal Yesus yang sejati dan mereka telah terkena tipu daya kekayaan. Sehingga mereka lebih tertarik dunia ini daripada Kerajaan Allah.

...




January 15, 2019, 05:18:13 AM
Reply #2336
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 21268
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

...

Namun demikian, orang-orang Kristen palsu ini masih ke gereja dengan rajin dan giat dalam kegiatan pelayanan gerejani. Biasanya mereka menjadi mangsa empuk para hamba Tuhan yang melayani hanya karena kebesaran nama pribadi, nama gereja, dana, keuntungan materi. Malangnya mereka tidak menyadari keadaan merekayang sangat berbahaya tersebut. Biasanya mereka sudah merasa ada di jalur Kekristenan yang benar. Mereka memuji dan menyembah Tuhan dan merasa sedang menyenangkan hati Tuhan dengan kebaktian-kebaktian yang mereka selenggarakan, padahal yang menyenangkan hati Tuhan adalah kehidupan yang serupa dengan Yesus. Kiranya orang percaya disadarkan dengan memahami kebenaran ini.



January 16, 2019, 04:55:33 AM
Reply #2337
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 21268
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2019/

16. MEMBIASAKAN DIRI MENYENANGKAN TUHAN

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17840/0/16-JANUARI-2019-MEMBIASAKAN-DIRI-MENYENANGKAN-TUHAN.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17840/1/16-JANUARI-2019-MEMBIASAKAN-DIRI-MENYENANGKAN-TUHAN.amr
Menjadi irama hidup setiap insan, yaitu terbiasa hidup hanya untuk menyenangkan diri sendiri dari segala sesuatu yang dilakukan. Sejak pagi hari sampai malam hari, bahkan sampai pagi lagi, biasanya semua hal yang dilakukan hanya untuk kesenangan diri sendiri. Hal ini berlangsung dari jam ke jam, dari hari ke hari, dari minggu ke minggu, dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun sampai kemudian menjadi irama permanen di dalam diri seseorang. Irama hidup seperti ini sudah menjadi kewajaran setiap orang, sehingga mereka yang hidup dengan irama seperti ini merasa tidak bersalah. Padahal irama hidup seperti itu adalah irama hidup yang bertentangan dengan kehidupan sebagai anak tebusan. Ini adalah irama yang salah, irama hidup orang egois yang tidak pernah menjadi seperti anggur tercurah dan roti terpecah.

Kalau kebiasaan hidup dengan irama ini tidak segera diakhiri, maka hidupnya akan tetap terkunci dengan irama menyenangkan diri sendiri tersebut. Sampai pada tahap tidak dapat diubah lagi sampai selamanya. Oleh sebab itu, orang percaya tidak boleh menganggap hal ini sebagai persoalan sepele, sehingga berlarut-larut membiarkan tetap bertengger di dalam jiwanya. Kalau seorang Kristen masih hidup dengan irama hidup yang salah tersebut, maka ia tidak akan pernah dapat melayani perasaan Tuhan, yaitu menyenangkan hati-Nya. Ini berarti hidupnya tidak akan pernah berbuah sama sekali.

Orang percaya harus sadar bahwa sebagai makhluk ciptaan, eksis di bumi ini bukan karena keinginan diri sendiri, tetapi karena Tuhan yang menghendaki. Oleh sebab itu setiap orang percaya harus mempersoalkan, apa yang diinginkan oleh sang Pencipta dengan keberadaan orang percaya di bumi ini. Kalau dulu sebelum mengenal kebenaran, hidup hanya untuk kesenangan diri kita sendiri -dan itu telah menjadi irama hidup yang telah menyatu di dalam kehidupan, menjadi bagian integral yang tidak terpisahkan-, tetapi setelah menjadi menjadi umat tebusan -di mana segenap hidup orang percaya telah dibeli dengan harga yang lunas dibayar-, maka orang percaya tidak lagi boleh hidup untuk diri kita sendiri, tetapi hidup hanya Dia yang telah menciptakan dan menebus orang percaya.

Menyadari bahwa orang percaya adalah makhluk ciptaan dan umat tebusan, maka orang percaya harus hidup untuk Tuhan yang telah menciptakan semua makhluk dan yang juga telah menebus atau membeli orang percaya dengan harga yang lunas dibayar (1Kor. 6:19-20). Tidak ada toleransi untuk hidup bagi diri sendiri. Sebab seseorang yang hidup untuk diri sendiri, padahal sudah menjadi anak tebusan, berarti memposisikan diri sebagai pemberontak. Sebenarnya banyak orang Kristen berstatus pemberontak kepada Tuhan, tetapi mereka tidak menyadari keadaan itu sama sekali. Di lain pihak memang tidak ada yang memberitahu hal tersebut. Betapa mengerikan kalau suatu hari nanti, ketika menghadap takhta pengadilan Kristus, mereka tertolak karena tidak layak menjadi anggota keluarga Kerajaan, bahkan tidak sedikit yang tidak diperkenan menjadi anggotra masyarakat pula.

Satu hal yang sangat sangat penting untuk dimengerti -lebih penting dari jodoh, lebih penting dari memiliki keturunan, lebih penting dari segala hal- yaitu bagaimana memiliki irama hidup yang selalu menyenangkan hati Tuhan. Irama hidup seperti ini tidak bisa dengan mudah dikenakan dalam hidup orang percaya, sebab orang percaya sudah terbiasa memiliki irama hidup yang salah selama bertahun tahun. Semakin lama irama hidup itu menetap dalam diri seseorang, maka semakin sulit untuk diubah. Oleh sebab itu, kita harus mulai belajar mengubah irama hidup ini. Dengan usaha keras dan perjuangan, maka irama hidup ini bisa diubah. Perubahan irama hidup ini seiring dan simultan dengan perubahan kodrat, dari kodrat manusia berdosa ke kodrat Ilahi. Dengan demikian dapat disimpulkan orang yang masih memiliki irama hidup menyenangkan diri sendiri berarti belum lahir baru, belum memiliki kodrat Ilahi dan belum layak menjadi anak Allah yang sah.

...

...



January 16, 2019, 04:56:06 AM
Reply #2338
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 21268
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

...

Untuk mengubah irama hidup menyenangkan diri sendiri harus dengan perjuangan berat, sebab biasanya irama hidup tersebut sudah menyatu dengan watak dan karakternya. Tetapi dengan memandang Tuhan Yesus yang menjadi teladan, orang percaya dapat mengalami perubahan. Oleh sebab itu orang percaya harus memiliki hati yang mau diubah. Itulah sebabnya mengapa Tuhan Yesus berkata, bahwa kalau seseorang tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil maka tidak masuk ke dalam Kerajaan Surga. Menjadi seperti anak kecil artinya memiliki sikap yang mudah diajar dan dibentuk. Kata anak kecil dalam teks aslinya adalah paidion (παιδίον). Ini menunjukkan usia 7 sampai 14 tahun, usia efektif untuk dididik dan dibentuk. Jika lewat dari usia ini, biasanya akan makin sulit dibentuk. Jadi sesungguhnya, seseorang semakin tua semakin sulit diubah.

Orang percaya harus sedini mungkin mengubah irama hidup menyenangkan diri sendiri menjadi irama hidup menyenangkan hati Tuhan. Itulah sebabnya Firman pun mengatakan: Ingatlah Penciptamu pada masa muda. Pada masa muda artinya sedini mungkin, sedini mungkin mengenal Tuhan dan meneladani irama hidup Anak Tunggal Bapa.



January 17, 2019, 05:16:18 AM
Reply #2339
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 21268
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2019/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17843/0/17-JANUARI-2019-MENIKMATI-PERASAAN-BAPA.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17843/1/17-JANUARI-2019-MENIKMATI-PERASAAN-BAPA.amr

Setiap orang percaya pasti memiliki pengalaman berinteraksi dengan orang atau manusia lain di sekitar. Interaksi tersebut bisa dengan orang tua, dengan saudara kandung, pasangan hidup, dengan keluarga besar, dengan teman, dengan guru, dengan kolega bisnis, dengan atasan, dengan bawahan dan lain sebagainya. Interaksi tersebut terjadi terutama dengan orang-orang dekat, yaitu orang yang dikasihi secara khusus dan yang mengasihi secara khusus. Dalam berinteraksi tersebut -secara khusus dan istimewa- dapat merasakan dan menikmati perasaan orang yang dicintai dan yang mencintai. Khususnya pada waktu bisa saling menyenangkan atau saling membahagiakan.

Pada waktu seseorang bisa menyenangkan atau membahagiakan orang yang dicintai, maka orang itu dapat menikmati perasaan orang lain dengan merasakan kebahagiaan di dalam perasaannya sendiri. Seperti misalnya kalau seorang ayah membelikan hadiah sepeda untuk anaknya yang naik kelas. Ketika melihat anaknya bersukacita, melompat-lompat, maka orang tua merasakan kebahagiaan anak tersebut di dalam perasaannya sendiri. Demikian pula kalau ada seorang anak bisa membahagiakan hati orang tuanya, maka sang anak akan menikmati kebahagiaan orang tuanya tersebut di dalam perasaannya.

Fenomena seperti ini juga bisa dibangun oleh orang percaya dalam relasinya dengan Bapa dan Tuhan Yesus Kristus. Ketika orang percaya masih kanak-kanak, Bapa di surga sering memberikan segala sesuatu yang dapat menyenangkan hati anak-anak-Nya, tetapi ketika orang percaya sudah mulai dewasa, maka seharusnya orang percaya yang harus berusaha bagaimana dapat menyenangkan hati Bapa dan Tuhan Yesus Kristus. Ketika orang percaya menyenangkan hati Bapa, maka orang percaya bisa merasakan kebahagiaan Bapa di dalam dirinya. Kebahagiaan ini bisa menjadi kenikmatan yang menjadi ikatan dalam jiwa. Sehingga orang percaya selalu ingin mengalami pengalaman tersebut. Bapa di surga pun akan selalu memberi keadaan dimana orang percaya dapat mengalami kenikmatan tersebut.

Keadaan-keadaan tersebut antara lain:
Pertama, pada waktu orang percaya memiliki kesempatan berbuat dosa, orang percaya memilih untuk tidak melakukan kesalahan atau berbuat dosa. Hal tersebut tentu dapat menyenangkan atau membahagiakan hati Bapa.
Kedua, pada waktu orang percaya diperlakukan tidak adil atau disakiti. Bagaimana reaksi orang percaya? Apakah membalas kejahatan dengan kejahatan atau dengan rela mengampuni dan mengasihi musuh? Ketika orang percaya memilih mengasihi musuh, maka hal itu menyukakan, menyenangkan dan membahagiakan hati Bapa.
Ketiga, pada waktu orang percaya dalam situasi sulit, dalam bahaya, kondisi terancam dan berbagai keadaan yang mencenderungkan hati menjadi takut dan khawatir. Dalam situasi tersebut apakah orang percaya tetap menaruh percaya kepada Bapa dan Tuhan Yesus tanpa kekhawatiran? Jika orang percaya menaruh percaya kepada Bapa dan Tuhan Yesus tanpa kekhawatiran, maka hal itu menyenangkan hati Tuhan.
Keempat, pada waktu Tuhan meminta atau menuntut sesuatu yang paling berharga dan paling dicintai dari orang percaya. Seperti Abraham diperintahkan untuk mempersembahkan anak tunggalnya, Ishak. Ketika seseorang berani memberikan yang terbaik, paling berharga dan paling disayangi bagi Tuhan, maka hal. Itu pasti menyenangkan hati-Nya.

Menjadi kebutuhan bagi semua orang yang normal, untuk dapat membahagiakan orang yang disayangi dan yang menyayanginya. Kecuali orang yang jiwanya sakit, ia tidak menginginkan kebahagiaan orang lain, dan tidak dapat menikmati kebahagiaan hati ketika dapat membahagiakan orang lain. Tentu saja ada orang yang memiliki keadaan sakit jiwa seperti ini. Orang seperti ini tidak pernah mau membahagiakan orang lain, dan ketika berhasil tidak membahagiakan orang lain, ia malahan bahagia. Inilah orang-orang yang berkeadaan psikopat, dimana kesukaannya adalah bisa melukai dan menyakiti orang lain.

...


 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)